BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gigi adalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Gigi adalah bagian tubuh yang memiliki peranan penting bagi organ tubuh.
Penting bagi kita untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi. Susunan gigi yang
menumpuk atau tidak rata, merupakan salah satu masalah yang sering dihadapi
banyak orang. Berdasarkan hasil sebuah survei yang dilakukan oleh Departemen
Kesehatan yaitu RISKESDAS (Riset Kesehatan Dasar) pada tahun 2008 , masalah
susunan gigi yang tidak rata di Indonesia sangat tinggi, yakni mencapai 80% dari
jumlah penduduk. Masalah tersebut rentan menimbulkan berbagai masalah pada
kesehatan mulut. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia
yaitu drg. Zaura Rini Anggraeni,MDS memberi penuturan bahwa, susunan gigi
yang tidak rata dapat diperbaiki dengan melakukan pemasangan kawat gigi atau
yang lebih sering dikenal dengan sebutan behel.
Awal mula dari penggunaan kawat gigi adalah untuk mengatasi masalah
susunan gigi yang tidak rata, akan tetapi seiring perkembangan zaman, fungsi ini
sedikit demi sedikit mulai berubah. Tidak hanya memiliki fungsi dari sisi kesehatan
saja, akan tetapi kawat gigi juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai aksesoris yang
kini menjadi trend di kalangan anak muda. Bentuk dari kawat gigi yang unik dan
menarik, menjadikan kawat yang memagari gigi ini menjadi penghias gigi. Trend
penggunaan kawat gigi, membuat sebagian orang begitu tertarik untuk memasang
kawat gigi.
Harga yang ditawarkan untuk pemasangan kawat gigi relatif mahal yaitu
mencapai jutaan. Akan tetapi karena permintaan pasar yang semakin meningkat
akibat beralih fungsi penggunaan kawat gigi karena untuk aksesoris, maka hadirlah
produk kawat gigi yang memiliki harga yang sangat murah yang ditawarkan oleh
jasa pemasangan kawat gigi selain dokter atau dengan kata lain yaitu tukang gigi.
Selain harga yang ditawarkan terjangkau, model kawat gigi yang bervariasi
semakin menambah daya tarik dari kawat gigi yang di pasang melalui jasa tukang
gigi. Masyarakat yang berada di tingkat ekonomi menengah ke bawah lebih
1
2
memilih menggunakan kawat gigi yang mereka pasang melalui jasa tukang gigi
dengan harga yang relatif murah dan memiliki banyak variasi model. Hal inilah
yang dikhawatirkan, karena ingin memasang kawat gigi dengan harga murah
sebagian orang rela mengabaikan kesehatan gigi dan mulutnya.
Menurut penuturan dari drg. Zaura Rini Anggraeni, MDS selaku Ketua Umum
Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), terdapat berbagai macam
dampak negatif bagi kesehatan akibat pemasangan kawat gigi yang dilakukan
bukan pada ahlinya atau dokter spesialis orthodonti, yaitu seperti masalah
pencernaan, membuat gigi semakin berantakan, menyebabkan iritasi pada gusi
karena bahan yang digunakan tidak jelas, menyebabkan pembengkakan pada gusi
kerena kawat gigi palsu bisa menggores gusi yang strukturnya mudah tergores,
menyebabkan fungsi gigi terganggu dan beberapa penyakit yang lebih serius.
Pada umumnya kawat gigi yang dipasang oleh tukang gigi tidak mencantumkan
spesifikasi nama dan asal produknya. Misalnya saja kandungan logam di bracket
gigi yang tidak boleh mengandung nikel. Apabila hal ini terjadi maka bisa saja akan
memicu terjadinya kanker. Seperti yang dikutip dari laman berita Garutexpress.com, salah seorang gadis asal Garut, Jawa Barat menjadi korban
pemasangan kawat gigi oleh pihak non profesional. Gadis tersebut mengalami
pembengkakan di bagian gusi usai memasang kawat gigi di salah satu tempat
pemasangan kawat gigi di Garut. Bahkan, pembenngakan tersebut didiagnosa
adalah sebuah tumor jinak
Menurut dokter Mieke Handayani dokter ahli Orthodonti dari U Smile Clinic
“pemasangan kawat gigi seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang ahli di
bidangnya, yaitu dokter spesialis orthodonti (spesialis kawat gigi)”. Prosedur dalam
pemasangan kawat gigi juga tidak semudah yang kita bayangkan yaitu harus sesuai
dengan prosedur demi kenyamanan dan kesehatan pengguna. Untuk pemasangan
kawat gigi, dokter ahli melakukanya dengan seksama dan sesuai prosedur. Hal ini
bertujuan agar pemasangan kawat gigi bisa memberikan kesehatan yang lebih baik
bagi penggunanya. Banyaknya pengguna dan minimnya pengetahuan masyarakat
mengenai bahaya mengenai pemasangan kawat gigi melalui tukang gigi, membuat
3
sebagian orang tetap memilih memasang di tempat yang tidak semestinya, padahal
banyak sekali dampak negatif yang ditimbulkan bagi kesehatan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dibutuhkan sosialisasi yang lebih
mendalam kepada masyarakat mengenai bahaya pemasangan kawat gigi oleh pihak
non profesional atau tukang gigi yaitu berupa upaya pencegahan agar masyarakat
tidak melakukan pemasangan kawat gigi melalui jasa non profesional melalui
perancangan iklan layanan masyarakat. Dengan tujuan agar masyarakat lebih tahu
apa saja dampak negatif yang ditimbulkan akibat pemasangan kawat gigi oleh
pihak non profesional.
1.2 Rumusan Masalah
Banyaknya pengguna dan minimnya pengetahuan masyarakat mengenai bahaya
pemasangan kawat gigi oleh pihak non profesional membuat sebagian orang tetap
memilih menggunakan jasa pihak non profesional untuk memasang kawat gigi.
Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat umum, agar masyarakat
lebih tahu dampak negatif yang ditimbulkan akibat pemasangan kawat gigi oleh
pihak non profesional bagi kesehatan melalui iklan layanan masyarakat.
1.3 Tujuan Perancangan
Tujuan dari sosialisasi bahaya pemasangan kawat gigi oleh pihak non
profesional bagi kesehatan adalah menghasilkan sebuah konsep komunikasi visual
dalam bentuk perancangan iklan layanan masyarakat yang komunikatif.
1.4 Manfaat Perancangan
1.4.1 Bagi Penulis
Bagi penulis manfaat dari perancangan ini adalah bisa melakukan sosialisasi
tentang bahaya pemasangan kawat gigi melalui pihak non profesional dengan cara
merancang sebuah iklan layanan masyarakat yang komunikatif dan menarik bagi
masyarakat.
4
1.4.2 Bagi Masyarakat
Bagi masyarakat manfaat dari perancangan ini adalah agar masyarakat bisa
lebih tahu dampak negatif apa saja yang bisa ditimbulkan dari pemasangan kawat
gigi oleh pihak non profesional lebih mendalam dari segi kesehatan.
1.4.3 Bagi Klien
Bagi klien manfaat dari perancangan ini adalah dapat mempermudah dalam
sosialisasi atau memberikan informasi mengenai dampak pemasangan kawat gigi
oleh pihak non profesional bagi kesehatan kepada masyarakat, karena dalam
perancangan ini akan dibuat media perancangan yang komunikatif untuk
melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar lebih efektif.
1.4.4 Bagi Universitas
Sebagai referensi yang dapat digunakan untuk bahan pengembangan terutama
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah desain untuk iklan layanan
masyarakat. Selain itu untuk menambah pembedaharaan kepustakaan Universitas
Dian Nuswantoro Semarang sebagai wacana kepustakaan baru mengenai
komunikasi visual, dan sekaligus sebagai acuan terhadap laporan yang
berhubungan dengan masalah terkait, juga sebagai media untuk menambah
pengetahuan bagi rekan-rekan mahasiswa dan pembaca lainnya.
1.5 Batasan Masalah
Isu utama yang dijadikan dasar untuk melakukan sosialisasi ini adalah mengenai
bahaya yang ditimbulkan akibat pemasangan kawat gigi oleh pihak non profesional
bagi kesehatan melalui perancangan iklan layanan masyarakat. Sedangkan untuk
wilayah cakupan untuk sosialisasi ini adalah kota Semarang. Target sasaran
sosialisasi ini meliputi usia 13-23 tahun, yaitu kalangan pelajar dan mahasiswa. Hal
ini didasarkan pada hasil observasi yang telah dilakukan, bahwa masyarakat kota
Semarang banyak yang melakukan pemasangan kawat gigi melalui jasa non
profesional.
5
1.6 Metodologi Penelitian
1.6.1 Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, akan menggunakan metode kualitatif. Didapat beberapa
variabel dari perancangan ini yaitu variabel kawat gigi, kesehatan gigi,
penggunaan kawat gigi di kalangan masyarakat dan bahaya pemasangan kawat
gigi oleh pihak non profesional bagi kesehatan. Sedangkan untuk analisa data
akan menggunakan metode analisa 5W + 1H, yang akan membahas mengenai
masalah bahaya pemasangan kawat gigi oleh pihak non profesional bagi
kesehatan.
Pada perancangan ini dilakukan dengan melakukan wawancara di sebuah
klinik spesialis orthondonti (spesialis kawat gigi) untuk mendapatkan informasi
seputar masalah bahaya pemasangan kawat gigi oleh pihak non profesional bagi
kesehatan, dan melakukan observasi ke beberapa klinik tukang gigi atau jasa non
profesional untuk mengamati seberapa besar minat masyarakat untuk memasang
kawat gigi melalui jasa non profesional, serta faktor apa saja yang membuat
masyarakat lebih memilih memasang kawat gigi melalui jasa non profesional
1.6.2 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan faktor penting dari keberhasilan
penelitian dan terbagi menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder:
1. Data Primer
Data Primer adalah data yang didapat langsung dari lapangan, dikumpulkan
dan diolah oleh peneliti berupa teks hasil wawancara yang diperoleh melalui
wawancara dengan beberapa narasumber
a. Metode Wawancara
Data akan diperoleh melalui metode wawancara dengan dengan dokter
spesialis Orthodonti (spesialis kawat gigi) di sebuah klinik khusus gigi
untuk mengumpulkan berbagai informasi seputar kawat gigi dan dampak
yang
ditimbulkan
dari
penggunaan
kawat
gigi
yang
dilakukan
pemasangannya oleh pihak non profesional bagi kesehatan. Wawancara juga
akan dilakukan dengan beberapa orang yang menggunakan kawat gigi,
6
untuk mengetahui pemahaman mereka mengenai dampak penggunaan
kawat gigi yang dilakukan pemasangannya oleh pihak non profesional.
b. Observasi
Observasi akan dilakukan di beberapa klinik non profesional, yaitu
melakukan pengamatan seberapa besar minat masyarakat untuk memasang
kawat gigi melalui jasa non profesional. Kemudian untuk mengetahui faktor
apa saja yang membuat masyarakat melakukan pemasangan kawat gigi
melalui jasa non profesional. Serta untuk mengetahui tentang kepuasan hasil
yang didapat terhadap masyarakat yang melakukan pemasangan kawat gigi
melalui jasa non profesional.
2. Data Sekunder
Data Sekunder adalah data-data yang sudah tersedia dan dapat diperoleh
secara tidak langsung oleh penulis. Data dapat diperoleh melalui beberapa
metode di antaranya sebagai berikut:
a. Pencarian Lewat Internet
Data akan diperoleh dengan mencari dan mengumpulkan data lewat
internet karena dirasa cukup membantu untuk menambah data dan informasi
yang diperlukan dengan mencari data-data penunjang dari website
kesehatan dan artikel pendukung yang berhubungan dengan kesehatan
lainnya. Pencarian dan pengumpulan data bukan melalui blog-blog yang
memiliki data yang belum tentu kebenarannya dan tidak ada validasinnya.
Sehingga data yang diperoleh merupakan data yang dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya.
b. Kepustakaan
Data akan diperoleh dari kepustakaan melalui buku-buku maupun artikel
yang berhubungan dengan kesehatan mulut dan gigi, bahaya pemasangan
kawat gigi yang dilakukan selain oleh dokter spesialis orthodonti, dan hal
yang berkaitan dengan judul perancangan yaitu sosialisai bahaya
pemasangan kawat gigi oleh pihak non profesional bagi kesehatan.
7
1.6.3 Metode Analisa Data
Metode 5W + 1H (Metode Kipling)(1902) telah digunakan secara luas dan
dianggap sebagai pendekatan yang efektif untuk mengumpulkan dan menyajikan
informasi. Metode 5W + 1H ini juga disebut dengan Metode Kipling (Method
Kipling)
Metode Kipling (5W + 1H) berisi 6 kata pertanyaan dasar untuk mendapatkan
informasi: What (apa yang menjadi masalah utama), Where (dimana
permasalahan itu terjadi),When (kapan permasalahan itu terjadi),Why (mengapa
hal tersebut terjadi), Who (siapa saja target audien, target market, baik yang
primer maupun sekunder), dan How (bagaimana proses terjadinya permasalahan
tersebut) (Quan, 2013).
Sugimoto dan Baek menyatakan bahwa strategi 5W+1H dapat diterapkan
untuk ; (i) mengidentifikasi konteks elemen deskriptif dan menentukan
penyebrangan antara standar, (ii) untuk menjelaskan suatu peristiwa, misalnya
pada berita, dan (iii) mengkategorikan elemen metadata dari setiap standar skema
metadata (Sugimono & Back, dalam Drs. Marjuki, 2014)
Maka dari itu, penulis menggunakan metode 5W+1H (what,who, where, when,
why, how). Sudut pandang yang digunakan yaitu sudut pandang dari klien,
penulis, dan sudut pandang dari masyarakat. Dalam metode analisa 5W+1H akan
dibahas mengenai seputar perancangan iklan layanan masyarakat mengenai
bahaya pemasangan kawat gigi oleh pihak non profesional bagi kesehatan.
Analisis 5W+1H tersebut akan terdiri dari:
a. What ( Apa )
Didalam what akan menanyakan masalah apa yang sedang dihadapi
dalam
perancangan
Iklan
Layanan
Masyarakat
mengenai
Bahaya
Pemasangan Kawat Gigi Oleh Pihak Non Profesional Bagi Kesehatan.
b. Why ( Mengapa )
Didalam why akan menanyakan mengapa perancangan perancangan
Iklan Layanan Masyarakat mengenai Bahaya Pemasangan Kawat Gigi Oleh
Pihak Non Profesional Bagi Kesehatan dibuat
8
c. Who ( Siapa )
Didalam who akan menanyakan siapa yang menjadi sasaran objek
penelitian atas perancangan Iklan Layanan Masyarakat mengenai Bahaya
Pemasangan Kawat Gigi Oleh Pihak Non Profesional Bagi Kesehatan.
d. When ( Kapan )
Didalam when akan menanyakan kapan perancangan Iklan Layanan
Masyarakat mengenai Bahaya Pemasangan Kawat Gigi Oleh Pihak Non
Profesional Bagi Kesehatan akan diselenggarakan.
e. Where ( Dimana )
Didalam where akan menanyakan dimana perancangan Iklan Layanan
Masyarakat mengenai Bahaya Pemasangan Kawat Gigi Oleh Pihak Non
Profesional Bagi Kesehatan akan dipublikasikan.
f. How ( bagaimana )
Didalam how akan menanyakan bagaimana membuat perancangan Iklan
Layanan Masyarakat mengenai Bahaya Pemasangan Kawat Gigi Oleh Pihak
Non Profesional Bagi Kesehatan yang komunikatif.
9
1.6.4 Bagan Alir Penelitian
SOSIALISASI BAHAYA PEMASANGAN KAWAT GIGI OLEH PIHAK NON
PROFESIONAL BAGI KESEHATAN MELALUI PERANCANGAN IKLAN
LAYANAN MASYARAKAT
LATAR BELAKANG MASALAH
Banyak remaja yang melakukan pemasangan kawat gigi melalui pihak non
profesional tanpa memperdulikan bahaya yang ditimbulkan.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana mensosialisasikan bahaya pemasangan kawat gigi kawat gigi melalui
pihak non profesional bagi kesehatan melalui perancangan iklan layanan masyarakat
yang komunikatif?
TUJUAN PERANCANGAN
Memberikan informasi tentang bahaya pemasangankawat gigi kawat gigi melalui
pihak non profesional bagi kesehatan melalui sosialisasi yang dilakukan melalui
perancangan Iklan Layanan Masyarakat.
METODE PENELITIAN
Metode Kualitatif
DATA PERMASALAHAN
Bahaya melakukan pemasangan kawat
gigi melalui jasa non profesional
DATA AUDIENCE
Demografis,
Geografis,Psikografis
DATA KLIEN
Dinas Kesehatan Kota
Semarang
SEGMENTASI AUDIENCE
METODE ANALISA
5W+1H
Remaja usia 13-23 tahun, kelas ekonomi
menengah kebawah
KONSEP
STRATEGI DESAIN
FINAL DESAIN
Gambar 1.1 Bagan Alir Penelitian
Sumber : Penulis
10
1.7 Tinjauan Teori
1.7.1 Teori Seputar Permasalahan
a. Kawat Gigi
Kawat gigi adalah peralatan gigi yang digunakan untuk menyelaraskan
gigi menjadi sejajar, memperbaiki gigi yang berdesakan atau tumbuh bengkok
serta memperbaiki kondisi gigi yang tidak rata pada orang dewasa serta anakanak. Proses dimana masalah gigi ini diperbaiki melalui penggunaan kawat
gigi dikenal dengan nama perawatan orthodontik (Memperbaiki dan
Memperindah Posisi Gigi Anak, Rina J Suryanegara, 2000:38) .
b. Kesehatan Gigi dan Mulut
Gigi dan mulut adalah salah satu organ tubuh penting sebagai media
masuknya makanan ke dalam tubuh. Tanpa gigi yang sehat, kita tidak akan
mampu mengunyah makanan yang menjadi asupan gizi untuk tubuh secara
keseluruhan. Gangguan pada gigi dan mulut bisa menjadi pemicu penyakit
berbahaya. Oleh karena itu kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam
menunjang kesehatan seseorang (Pengenalan dan Perawatan Gigi Anak, Eriska
Riyanti, 2005).
Salah satu masalah kesehatan gigi yang dihadapi sebagian orang adalah
masalah susunan gigi yang tidak rata, hal ini dapat menimbulkan berbagai
macam masalah kesehatan gigi dan mulut. Sulitnya pembersihan sisa makanan
ini diakibatkan karena berjejalnya kondisi gigi, hal ini akan meningkatkan
peradangan gusi dan gigi berlubang. Sisa makanan yang tertinggal akan
menjadikan bakteri berkembang biak, bakteri tersebut menghasilkan toksin
yang akan mengiritasi jaringan gusi sehingga terjadilah peradangan pada gusi.
Untuk memperbaiki susunan gigi yang tidak rata maka dibutuhkan
pemasangan kawat gigi agar terhindar dari berbagai macam masalah kesehatan
gigi yang ditimbulkan dari susunan gigi yang tidak rata. Penggunaan kawat
gigi harus disertai dengaan menjaga kebersihan gigi, kesulitan yang sering
dihadapi yaitu melakukan pembersihan gigi. Kesulitan tersebut dapat diatasi
dengan pemakaian pasta gigi yang tepat sehingga mampu menekan atau
menurunkan terjadinya radang gusi pada pemakai kawat gigi. Pasta gigi non
11
(Sodium Lauryl Sulfat) dengan kandungan enzim Amiloglukosidase, Glukoseoksidase dan Laktoperosidase mempunyai kelebihan menekan peradangan
pada gusi. Sifatnya mempertahankan flora mulut dan secara, mulut terasa licin
dan kesat, keadaan ini menguntungkan bagi pemakai kawat gigi karena akan
membuat gigi menjadi lebih nyaman selain itu kesehatan gigi dan mulut pasti
akan terjaga.
c. Bahaya Pemasangan Kawat Gigi Oleh Pihak Non Medis
Menggunakan kawat gigi atau behel memang bisa membantu
memperbaiki berbagai masalah susunan gigi yang tidak rata yang bisa
menimbulkan berbagai macam masalah pada kesehatan gigi dan mulut, dan
juga untuk mengembalikan fungsi gigi, dari segi estetika penggunaan kawat
gigi juga dapat memperbaiki posisi rahang dan proposi wajah untuk merubah
penampilan. Pengguna kawat gigi yang hanya memandang fungsi kawat gigi
dari segi estetika bukan dari segi kesehatan, biasanya lebih memilih
menggunakan kawat gigi yang dipasangnya melalui pihak non profesional atau
tukang gigi yang harganya jauh dibawah harga kawat gigi yang dipasang oleh
dokter spesialis orthodonti, selain itu pengguna kawat gigi tersebut juga
mengesampingkan kualitas maupun bahan yang digunakan pada kawat gigi
tersebut.
"Kawat gigi kualitas rendah dapat menyebabkan seseorang mengalami
keracunan. Beberapa bahannya tidak aman dan bahkan dapat melukai mulut.
Selain itu, bahan yang tidak aman dapat menyebabkan infeksi di dalam mulut,"
ungkap Dr Sagar Shah, seorang dokter gigi, seperti yang dikutip dari Times of
India, Senin (8/7/2013). Beberapa bagian dari kawat gigi yang ditawarkan oleh
pihak non profesional seringkali cepat longgar, bahan yang longgar dapat
terlepas dan bisa saja tidak sengaja tertelan .
Penggunaan kawat gigi yang sembarangan, dengan harga murah bahkan
kurang memperhatikan kualitas dari bahan yang digunakan bisa menyebabkan
ulserasi. Ulserasi merupakan luka terbuka yang sulit untuk disembuhkan. Pada
saat melakukan pemasangan kawat gigi, ulserasi bisa muncul apabila seringnya
terjadi gesekan antara permukaan bibir dalam dengan kawat gigi. Ruam kulit,
12
infeksi, alergi bahkan pembengkakan pada gusi bisa terjadi akibat pemasangan
kawat gigi yang tidak benar. Memakai kawat gigi palsu dalam jangka waktu
yang cukup lama, dapat menimbulkan resiko kesehatan yang cukup serius.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI)
drg Zaura Rini Anggraeni, MDS menyatakan bahwa “pemasangan kawat gigi
yang tidak benar bukan hanya dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada
mulut dan gigi baik untuk efek samping ringan hingga berat, melainkan juga
dapat menyebabkan pasien tertular penyakit mulai dari hepatitis hingga
HIV/AIDS”.
Terdapat
berbagai
macam
bahaya/resiko
yang ditimbulkan
akibat
pemakaian kawat gigi yang tidak ditangani oleh ahlinya atau dokter spesialis
ortodonti antara lain :
1. Menimbulkan Masalah Pencernaan
Kawat gigi yang dimiliki oleh tukang gigi memiliki kualitas rendah
dikhawatirkan terbuat dari material berbahaya, material tersebut bisa
bereaksi terhadap air liur di dalam mulut, jika terjadi hal demikian maka
reaksi dari material tersebut akan masuk ke dalam sistem pencernaan kita
dan selanjutnya bisa menimbulkan gangguan pada pencernaan.
2. Membuat Gigi semakin Berantakan
Kawat gigi yang digunakan oleh tukang gigi tidak memiliki fungsi
kesehatan apapun dan akan mempengaruhi struktur gigi. Bahkan pemakaian
dalam jangka waktu yang lama akan membuat gigi menjadi semakin
berantakan.
3. Alergi
Kawat gigi logam mengandung berbagai logam, termasuk nikel, tembaga
dan kromium. Sekitar 30% pasien orthodonti dari semua pasien orthodonti
lainnya memiliki alergi terhadap logam ini yang dapat menyebabkan rasa
sakit dan telinga tersumbat.
13
4. Menyebabkan Iritasi Gusi
Penggunaan kawat gigi yang tidak tepat pemasanganya dapat mengiritasi
gusi. Material pembuat kawat gigi yang keras serta tidak memiliki kualitas
yang baik akan menjadikan gusi iritasi.
5. Menyebabkan Kesulitan Makan
Kawat gigi yang digunakan oleh tukang gigi terbuat dari bahan yang
tidak nyaman di mulut akan membuat ketidaknyamanan dimulut. Selain itu
pembuatan kawat gigi yang sembarangan akan membuat pemakai kawat
gigi tersebut tidak nyaman dan kesulitan untuk mengunyah makanan.
6. Menyebabkan Gusi Membengkak
Kualitas kawat gigi yang tidak bagus dapat menggores gusi. Gusi sendiri
memiliki struktur yang sangat mudah tergores. Bahkan goresan kecil oleh
kawat gigi dapat membuat gusi menjadi bengkak.
7. Menyebabkan Fungsi Gigi Terganggu
Kawat gigi palsu yang dipakai terus menerus dan dalam jangka waktu
yang lama dapat mempengaruhi fungsi gigi. Fungsi gigi seperti mengunyah
dapat menjadi terganggu karena kawat gigi yang terpasang pada gigi.
8. Menyebabkan Penyakit Mulut
Penggunaan kawat gigi yang tidak sesuai prosedur secara terus menerus,
secara tidak langsung akan memasukkan bakteri yang kemungkinan
menempel pada kawat gigi. Jika kawat gigi ini dipasang maka bakteri bisa
berada di mulut bahkan masuk kedalam sistem pencernnaan dan dapat
mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit yang lebih serius.
1.7.2 Teori Iklan Layanan Masyarakat
Iklan layanan masyarakat merupakan alat atau media komunikasi yang
digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan pesan sosial kepada
masyarakat. Iklan Layanan Masyarakat dimanfaatkan oleh pemerintah untuk
menyebarluaskan iklan-iklan yang berisi tentang berita-berita maupun pesan
sosial untuk menyadarkan masyarakat (Tinarbuko, 2007:2)
Iklan layanan masyarakat merupakan iklan yang ditujukan kepada
masyarakat untuk membangkitkan kepedulian terhadap masalah-masalah yang
14
terjadi dalam kehidupan sosial terhadap apa yang dikampanyakan oleh iklan
layanan masyarakat itu sendiri serta jenis iklan yang besifat non profit yaitu
tidak mencari keeuntungan semata.
Menurut Brove dan Arens, iklan layanan masyarakat bertujuan untuk
merangsang penelitian atas suatu informasi, merubah kebiasaan aktivitas,
mengurangi pemborosan sumber daya alam, mengkomunikasikan kebijakan
pemerintah, memperbaiki sikap masyarakat, dan menginformasikan jalan
keluar. Dengan begitu penulis dapat merancang sebuah pesan-pesan tentang
bahaya pemasangan kawat gigi oleh jasa non profesional bagi kesehatan
kedalam sebuah iklan layanan masyarakat.
a. Jenis – Jenis Iklan Layanan Masyarakat (Pujiyanto, 2014)
1. Comercial Advertising
Iklan jenis ini bertujuan untuk mendukung kampanye pemasaran suatu
produk atau jasa. Iklan ini terbagi menjadi dua (Lwin & Aitchison. 2005),
yaitu :
a. Iklan Strategis
Digunakan untuk membangun merk. Hal ini dilakukan dengan
mengkomunikasikan nilai merk dan manfaat produk. Perhatian utama
dalam jangka panjang adalah memposisikan merk serta membangun
pangsa pasar. Iklan ini mengundang konsumen untuk menikmati
hubungan dengan merk serta meyakinkan bahwa merk ini ada bagi
pengguna.
b. Iklan Taktis
Memiliki tujuan yang mendesak. Iklan ini dirancang untuk mendorong
konsumen agar segera melakukan kontak dengan merk tertentu. Pada
umumnya iklan ini memberikan penawaran khusus jangka pendek yang
memacu konsumen memberikan respon pada hari yang sama.
2. Corporate Advertising
Iklan ini bertujuan membangun citra suatu perusahaan yang pada
akhirnya diharapkan juga membangun citra positif produk-produk atau
jasa yang diproduksi oleh perusahaan tersebut (Madjadikara,2004). Iklan
15
Corporate akan efektif bila didukung oleh fakta yang kuat dan relevan
dengan masyarakat, mempunyai nilai berita dan biasanya selalu
dikaitkan dengan kegiatan
masyarakat.
Iklan
yang berorientasi
Corporate
merupakan
pada kepentingan
kampanye
untuk
mengkomunikasikan nilai-nilai korporatnya kepada publik.
Iklan corporate sering kali berbicara tentang nilai-niilai warisan
perusahaan, komitmen perusahaan kepada pengawasan mutu, peluncuran
merk dagang atau logo perusahaan yang baru atau mengkomunikasikan
kepedulian perusahaan terhadap lingkungan sekitar.
3. Public Service Advertising
Iklan Laayanan Masyarakat merupaka bagian dari kampanye social
marketing yang bertujan menjual gagasan atau ide untuk kepentingan
umum atau merubah perilaku yang “tidak baik” supaya menjadi lebih
baik (Madjadikara,2004), misalnya masalah kebersihan lingkungan,
mendorong penghargaan terhadap perbedaan pendapat, anti narkoba dan
sebagainya.
b. Pendekatan dalam Penyajian Visual Iklan Layanan Masyarakat
1. Humor
Humor cenderung untuk menangkap perhatian seseorang, terutama untuk
anak-anak dan remaja, akan tetapi pada penyajian visual humor ini bisa saja
masalah yang serius menjadi diremehkan oleh audiens. Akan tetapi dapat
sangat efektif dalam menyampaikan pesan penting.
2. Petuah
Petuah lebih melibatkan individu atau kelompok yang pada dasarnya
memohon pembaca untuk lebih menyadari permasalahan yang serius.
Terdapat sedikit perbedaan antar petuah dan pesan yang sifatnya menggurui.
3. Keterkejutan
Keterkejutan lebih menyajikan realita dari masalah, hal ini dirasa akan
membuat audiens terkejut. Pendekatan dalam penyajian visual dengan
menggunakan keterkejutan lebih jarang digunakan karena dianggap
mungkin terlalu kontroversial bagi beberapa orang.
16
1.7.3 Teori Desain Komunikasi Visual
Menurut Adi Kusrianto (Pengantar Desain Komunikasi Visual, 2009:2),
desain komunikasi visual adalah suatu disiplin ilmu yang bertujuan mempelajari
konsep-konsep komunikasi serta ungkapan kreatif melalui berbagai media untuk
menyampaikan pesan dan gagasan secara visual dengan mengelola elemenelemen grafis yang berupa bentuk dan gambar tatanan huruf serta komposisi
warna serta layout (tata letak perwajahan).
Perkembangan desain grafis semakin pesat hingga merambah ke dunia
multimedia diantaranya video dan audio, sehingga dalam istilah desain grafis
berpindah nama menjadi Desain Komunikasi Visual (DKV) istilah ini memiliki
makna yang lebih luas.
Sementara itu pengetian Desain Grafis menurut beberapa ahli adalah proses
pemikiran yang diwujudkan dalam gambar ( Hendi, 2008:3 ) Desain Grafis adalah
suatu jenis seni yang paling banyak terlihat diantara jenis-jenis seni lainnya,
karena Desain Grafis dapat ditemukan dimanapun dan kapanpun (Resnick,
2003:15).
Ada beberapa elemen-elemen visual yang perlu diketahui dan ditata
sehingga dapat mengasilkan komposisi desain yang harmonis, menarik,serta
komunikatif. Elemen-elemen tersebut terdiri dari:
1. Garis
Garis merupakan unsur dasar dalam merancang suatu bentuk maupun
konstruksi desain yang terjadi terhubung antara suatu tiitik dengan titik
yang lainnya, sehingga membentuk sebuah gambaran garis lurus dan
lengkung (Nirmana, Dasar-Dasar Seni dan Desain”, Sadjiman, 2009:102)
2.
Bentuk
Bentuk adalah segala hal yang memiliki diameter tinggi dan lebar. Bentuk
dasar yang dikenal banyak orang adalah kotak, lingkaran, dan segitiga.
Sementara pada kategori sifatnya, bentuk dapat dikategorikan menjadi
tiga, yaitu:
17
a. Huruf
Dalam buku yang ditulis oleh Danton Sihombing (2001:13), tipografi
merupakan salah satu pengetahuan disiplin seni mengenai huruf. Huruf
merupakan elemen dasar yang tersusun dari struktur bahasa tulis dalam
menciptakan suatu kata ataupun kalimat. Rangkaian huruf mampu
memberikan suatu kesan yang diwujudkan dalam bentuk visual.
Adapun karakteristik huruf dibagi menjadi lima kelompok, yaitu:
1) Oldsyle, pertemuan stem dan serif merupakan sudut lengkung dan
tebal tipis strokenya kontras.
2) Transitional, pertemuan stem dan serif merupakan sudut lengkung
dan tebal tipis strokenya sedikit kontras.
3) Modern, pertemuan stem dan serif merupakan sudut siku dan tebal
tipis strokenya sangat kontras.
4) Egyptian/Slabserif, pertemuan stem dan serif merupakan sudut
lengkung dan umunya sisi sama kedua sisi sama lebar, tebal tipis
strokenya sedikit kontras.
5) Contempory/Sans Serif, tidak memiliki serif dan tebal tipis
strokenya umumnya sama.
b. Simbol ( Symbol )
Simbol merupakan bentuk visual yang dapat mewakili bentuk-bentuk
benda secara sederhana dan mudah dipahami. Simbol dapat dikatakan
juga sebagai lambang untuk mewakili suatu bentuk.
c. Bentuk Nyata ( Form )
Bentuk dapat menggambarkan secara detail kondisi suatu obyek.
Seperti bentuk tubuh hewan, manusia, dan benda-benda lainnya.
“Nirmana, Dasar-Dasar Seni dan Desain”, Sadjiman (2009:120).
3. Warna
Teori lingkaran warna dari Mushell terdiri dari tiga warna dasar yang disebut
dengan warna primer, yaitu merah (magenta), kuning (yellow) dan biru (cyan).
Darmaprawira(2002,56). Menurut Maitlan Graves ( Darmaprawira, 2002,33)
warna dibagi menjadi dua yaitu:
18
a. Warna Hangat atau panas, warna ini memiliki sifat agresif, aktif, dan
positif. Warna yang termasuk dalam warna panas yaitu merah, kuning,
jingga.
b. Warna Dingin atau sejuk, warna ini memiliki sifat negatif, putus asa,
tenang dan aman. Warna yang termasuk dalam warna dingin yaitu warna
hijau, biru, ungu.
Menurut The Prang System (Eko Nugroho, 2008,13) dimensi warna
dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Hue
Hue tergolong dalam kedalam beberapa warna primer, sekunder, dan tersier
yang berkaitan dengan panas dinginnya sebuah warna.
b. Value
Value memiliki kualitas sinar yang direfleksikan sebuah warna untuk
menunjukkan gelap terang. Hal ini dilakukan dengan cara menambahkan
warna putih atau hitam pada warna lain.
c. Intensity
Intensity
merupakan
intensitas
yang
dapat
dicapai
dengan
cara
menambahkan warna-warna asli dengan warna-warna netral seperti, putih,
hitam, abu-abu dan warna komplementer.
4. Ruang
Ruang dapat terjadi akibat terdapat jarak antara bentuk satu dengan bentuk
lainnya. Ruang digolongkan menjadi dua unsur, yaitu obyek (figure) dan latar
belakang (background)
5. Tekstur
Tekstur merupakan tampilan atau corak sebuah benda yang dapat dilihat dan
diraba. Seperti kulit kayu, kain dan karpet.
1.7.4 Teori Ilustrasi
Ilustrasi berasal dari bahasa latin yaitu illustrate yang berarti menerangkan
atau memperlihatkan sesuatu, ilustrasi dapat berupa gambar, simbol, relief, musik,
yang
tujuanya
untuk
mengkomunikasikan
atau
menjelaskan
sesuatu
(Santoso,2002:57). Ilustrasi menurut definisinya adalah seni gambar yang
19
dimanfaatkan untuk memberi penjelasan atas suatu maksud atau tujuan secara
visual ( Kusrianto,2007:110)
Fungi dari ilustrasi adalah untuk menarik perhatian publik guna mendorong
dan mengembangkan gagasan dalam realistis, dapat menumbuhkan suasana
emosional karena ilustrasi lebih mudah di persepsi atau diserap dari tulisan
(Kusmiati,1999:44). Ilustrasi dapat berupa foto, gambar kolase, karikatur, produk
dan lain sebagainya. Ilustrasi dari segi teknik pembuatanya di golongkan menjadi
beberapa jenis yaitu :
1. Ilustrasi Gambar Tangan
Yaitu menggambar ilustrasi dengan menggunakan keterampilan tangan
dan bantuan dari alat bantu seperti pensil, pena, cat, dan tinta. Gambar
tangan terdiri dari beberapa teknik, diantaranya yaitu teknik arsir, teknik
blok, teknik titik-titik, halftone, teknik goresan kering, teknik pengikisan
papan, dan lain-lain.
2. Ilustrasi Fotografi
Yaitu teknik pembuatan ilustrasi dengan menggunakan photo/sinar yang
ditangkap melalui kamera, baik analog maupun digital. Teknik fotografi
menggambarkan keadaan secara nyata (realis). Ilustrasi fotografi memiliki
beberapa kegunaan seperti menggambarkan perbandingan menunjukan
berita, mengabadikan sesuatu, meceritakan suasana hati,menggambarkan
sesuatu yang membangkitkan rasa kemanusiaan (Suryanto, 2004:89)
Adapun alat pendukung teknik fotografi yang umumnya biasa dipakai
yaitu berupa:
a. Kamera
b. Lensa (lensa wide angel, lensa standar, lensa tele, lensa makro, dll)
c. Penerangan (alami : cahaya matahari dan buatan : lampu, flash/blits)
3. Teknik Gabungan
Yaitu ilustrasi dengan struktur visual atau rupa yang terwujud dari
perpaduan antara fotografi/ilustrasi manual dengan teknik drawing di
komputer (Pujiriyanto,2005:41). Teknik ini sangat efektif apabila untuk
20
membuat objek menjadi menarik dan banyak digunakan dengan dukungan
software komputer baik yang berbasis vector atau bitmap.
Relevansinya dengan masalah yang diangkat adalah ilustrasi akan
membantu “perancangan iklan layanan masyarakat
tentang bahaya
pemasangan kawat gigi oleh pihak non profesional” agar ilustrasi yang
tercipta akan lebih bagus dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan
penulis.
1.7.5 Teori Animasi
Kata “animasi” merupakan penyesuaian dari kata “animation” (dalam bahasa
inggris), berasal dari kata dasar “ to animate, yang berarti “ menghidupkan”
(Wojowasito, 1997). Secara umum animasi merupakan suatu kegiatan
menghidupkan atau menggerakan benda mati. Suatu benda mati diberikan
dorongan kekuatan, semangat dan emosi, untuk menjadi hidup dan bergerak, atau
hanya berkesan hidup.
Hal tersebut bisa dicapai dengan menampilkan gambar berturut-turut di atas
kertas, ataupun menggunakan media lain seperti, CGI (Computer Generated
Images) puppet dan clay figures, (G. Djalle, Zaharuddin. 2007. The Making of 3D
Animation Movie. Bandung : Informatika Bandung)
1.7.6 Teori Animasi 2D
Animasi 2D adalah teknik pembuatan animasi dengan menggunakan gambar
bersumbu (axis) dua yaitu X dan Y (Santoso, 2013). Animasi ini lebih dikenal
dengan animasi manual yang prosesnya dimulai dengan menggambar diatas
selembar kertas, kemudian di scan dan baru dipindahkan ke dalam komputer
untuk diubah menjadi file digiital. Namun zaman sekarang animasi 2D bisa
dilakukan semuanya dalam komputer sehingga hasil jadinya dalam bentuk digital.
1.7.7 Teori Animasi Motion Graphic
Menurut Khrisna (2010) dalam sebuah majalah Motion by Design edisi
pertama, dikatakan bahwa motion grafis pada umumnya merupakan gabungan
dari potongan-potongan desain/animasi yang berbasis
media visual yang
menggabungkan bahas film dengan desain grafis. Ini dapat dicapai dengan
21
memasukkan sejumlah elemen yang berbeda seperti 2D/3D, video, film, tipografi,
ilustrasi, fotografi, dan musik.
Sebuah video atau film animasi baru bisa dikatakan sebagai sebuah motion
grafis jika sudah dikombinasikan dengan elemen desain, seperti jenis, bentuk, atau
baris. Ada beberapa karakteristik kunci untuk lebih mendefinisikan sifat . grafis :
Motion grafis 2 dimensi atau 3 dimensi, namun dapat menciptakan ilusi elemen
gerakan 3 dimensi. Motion grafis tidak harus benar berpindah posisi, asalkan ada
sesuatu yang berubah dalam jangka waktu tertentu pada objek tersebut. Misalkan
objek berubah warna meskipun tetap pada posisi diam.
1.7.8 Teori Sound
Musik dan lagu dirasakan melalui indera pendengaran. Dalam iklan yang
dibuat animasi, musik dan lagu sangat endukung penampilan desain yang ada,
memberikan kesan dan pesan yang lebih mendalam. Musik dan lagu mengikuti
alur cerita. Musik yang keras mencerminkan suasana gembira, atau sebaliknya
suasana marah. Suara musik yang mendayu-dayu mencerminkan kehormatan atau
kelembutan yang diarahkan ke suasana sedih. Musik dan lagu memiliki rasa
emosional yang mendalam sehingga muncul karakteristik atau segi orisinilitas
yang membuat karakter pribadi.
Musik juga menjadi komponen yang penting untuk membuat iklan menjadi
hidup, menarik perhatian, membangkitkan rasa emosional, mempengaruhi suasana
hati pendengarnya, menyalurkan pesan iklan, mengkomunikasikan produk,
menguatkan image merk atau membangunkan kepribadian merek (brand
personality)
Untuk membuat musik sebagai pembangun brand personality suatu produk,
maka lagu yang dipilih untuk mendampingi iklan harus disesuaikan dengan lirik,
gaya musik, tempo, penyanyi, grup band, maupun keutuhan lagunya, Dengan
semua itu maka mood terbangun sehingga lagu dapat membantu membantu
penyampaian iklan dengan baik kepada audien. Dengan musik dan lagu informasi
serta pesan yang akan disampaikan diharap lebih cepat dan mudah masuk dan
diterima oleh audien. (Pujianto, 2013: 117-19).
22
1.7.9 Teori Cone Of Learning
Teori Cone Of Learning merupakan teori yang dikemukakan oleh Edgar Dale,
teori ini menampilkan sebuah kerucut pembelajaran yang menjelaskan bahwa
Kerucut Edgar Dale merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar
tentang ketertarikan antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual. Semakin
keatas puncak kerucut semakin abstrak media penyampai pesan itu.
Pemikiran Edgar Dale tentang Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) ini
merupakan upaya awal untuk memberikan alasan atau dasar tentang keterkaitan
antara teori belajar dengan komunikasi audiovisual. Kerucut Pengalaman Dale
telah menyatukan teori pendidikan John Dewey (salah satu tokoh aliran
progresivisme) dengan gagasan – gagasan dalam bidang psikologi yang tengah
populer pada masa itu.
Dale dalam Kerucut Pengalaman Dale (Dale’s Cone Experience) mengatakan:
“hasil belajar seseorang diperoleh melalui pengalaman langsung (kongkrit),
kenyataan yang ada dilingkungan kehidupan seseorang kemudian melalui benda
tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak). Semakin keatas puncak kerucut
semakin abstrak media penyampai pesan itu. Dale berkeyakinan bahwa simbol
dan gagasan yang abstrak dapat lebih mudah dipahami dan diserap manakala
diberikan dalam bentuk pengalaman konkrit. Kerucut pengalaman merupakan
awal untuk memberikan alasan tentang kaitan teori belajar dengan komunikasi
audiovisual. Pengalaman Langsung (Direct Purposeful Experiences)
Dasar dari pengalaman kerucut Dale ini adalah merupakan penggambaran
realitas secara langsung sebagai pengalaman yang kita temui pertama kalinya.
Ibarat ini seperti fondasi dari kerucut pengalaman ini, dimana dalam hal ini masih
sangat konkrit. Dari uraian-uraian yang dikemukakan pada bagian terdahulu,
dapat disimpulkan bahwa berbagai jenis media tersebut pada dasarnya dapat
digolongkan dalam tiga kelompok besar, yaitu media cetak, media elektronik dan
objek nyata atau realita.
1. Media Cetak
Bagi kebanyakan orang, istilah “media cetak”, biasanya diartikan sebagai
bahan yang diproduksi melalui percetakan professional, seperti buku, majalah,
23
dan modul. Sebenarnya, disamping itu masih ada bahan lain yang juga dapat
digolongkan ke dalam istilah “cetak”, seperti tulisan/bagan/gambar yang difoto
kopi ataupun hasil reproduksi sendiri.
Meskipun akhir-akhir ini masyarakat banyak tertarik oleh dunia
elektronik yang lebih modern tampaknya bahan-bahan cetak tidak akan
ditinggalkan sebagai media pengajaran. Artinya, bahan-bahan cetak ini akan
selalu memegang peranan penting dalam prndidikan dan pelatihan.
Kecenderungan yang ada menunjukkan, di masa yang akan datang media cetak
dan media komunikasi lainnnya akan berbagai tugas dalam melayani
kepentingan belajar para siswa di sekolah. Tentu saja dengan diperkenalkan
proses percetakan yang baru, cepat, dan ekonomis, maka mereka yang
berkecimbung dalam program pendidikan lebih mampu mendistribusikan buku
teks yang murah, unit pengajaran terprogram buku kerja dan booklet
bergambar, lebih mudah dari sebelumnya. Bahan cetak dalam berbagai bentuk
dapat dikirim ke tempat terpencil, dan dapat digunakan sebagai bahan belajar
mandiri. Kelebihan media cetak tampaknya semakin menonjol dengan dengan
semakin berkembangnya teknologi reproduksi dewasa ini.
Ada beberapa keuntungan dan kelemahan dalam penggunaan media
cetak ini. Keuntungan dari media cetak ini, disamping relatif murah
pengadaannya, juga lebih mudah dalam penggunaannya, dalam arti tidak
memerlukan peralatan khusus, serta lebih luwes dalam pengertian mudah
digunakan, dibawa atau dipindahkan. Kelemahan dari media ini, terutama jika
kurang dirancang dengan baik, cenderung untuk membosankan. Di samping
itu, media ini kurang dapat memberikan suasana yang “hidup” bagi seseorang.
2. Media Elektronik
Di samping penggunaan media cetak, dalam upaya pengajaran dewasa
ini pula adanya perkembangan yang semakin pesat dalam penggunaan media
elektronik. Ada berbagai macam media elektronik yang lazim dipilih dan
digunakan dalam pengajaran, yaitu berupa perangkat slide atau film bingkai.
Media ini menuntut keterampilan dan perlengkapan tertentu
dalam
pengadaannya. Sekalipun media ini lebih banyak bersifat visual, banyak ahli
24
menyarankan penggunaannya dalam pengajaran. Objek-objek yang ingin
diperlihatkan melalui slide ini dapat ditampilkan dalam warna yang lebih
realistik dan orisinil. Di samping itu, perangkat slide ini mudah disusun
kembali bila perlu,dapat dikombinasikan dengan alat lain (misalnya audiotape) agar lebih efektif, dan dapat disesuaikan dengan kepentingan setiap
individu atau kelompok.
Film Strips, media ini agak sulit pengadaan dan penggunaannya karena
membutuhkan keterampilan khusus. Di samping itu karena susunan filmnya
bersifat permanen, sulit diadakan perubahan bila sewaktu-waktu guru
menghendaki urutan yang berbeda dari penyajian yang telah ada. Namun
demikian, media ini memiliki keuntungan-keuntungan tertentu dalam
penggunaannya. Karena urutannya telah tersusun secara sistematis, hal ini
sangat membantu siswa dalam memahami gejala atau peristiwa yang
diperlihatkan di dalamnya. Di sampingkan itu, film strips ini dapat
dikombinasikan dengan alat lain, misalnya dengan rekaman atau petunjuk
tertentu, dapat digunakan untuk studi individual atau kelompok, serta dapat
dioperasikan dengan bantuan peralatan yang relative sederhana.
Rekaman, media mekaman khususnya audio-tape, dapat digunakan untuk
mengajarkan berbagai hal yang mudah diadaptasikan penggunaannya sesuai
dengan keperluan. Secara teknis, media ini mudah dioperasikan dan cukup
ekonomis. Penggunaannya dalam proses pengajaran dapat dikatakan tidak
mengalami kesulitan, baik untuk pengajaran perorangan/individual maupun
kelompok. Media ini tersedia di mana-mana karena kebanyakan anggota
masyarakat kita memilkinya. Berbagai topik, konsep, prinsip, dan prosedur
dapat disampaikan melalui rekaman yang telah dipersiapkan dengan teliti
sebelumnya.
Overhead Transparancies di samping media-media elekttronik yang
telah dikemukakan di atas, overhead transparancies (OHT), yang disajikan
dengan bantuan overhead projector (OHP), juga sangat dianjurkan
penggunaannya dalam berbagai kegiatan pengajaran. Keuntungan yang
diperoleh melalui penggunaan media ini ialah bahwa penyajian informasi dapat
25
dilakukan
secara
sistematis
berdasarkan
urutan
yang
ditetapkan,
perencanaannya cukup sederhana. Video Tape/Video Cassette, penggunaan
media ini dalam penyajian berbagai materi pembelajaran memberikan banyak
keuntungan. Dengan media ini kebutuhan berbagai program pendidikan dapat
dipenuhi dengan baik, berbagai sumber informasi yang tidak mungkin
diberikan melalui media lainnya dapat disajikan melalui film video. Alat ini
dapat diputar kembali yang memungkinkan terjadinya proses umpan balik
untuk perbaikan dan peningkatan upaya pengajaran. Keuntungan dari media
elektronik ini pada umumnya ialah dapat memberikan suasana yang lebih
“hidup” penampilannya lebih menarik, dan di samping itu dapat pula
digunakan untuk memperlihatkan suatu proses tertentu secara lebih nyata.
Kelemahan media ini, terutama terletak dalam segi teknis dan juga biaya.
Penggunaan media ini memerlukan dukungan sarana dan prasarana tertentu
seperti listrik serta peralatan/bahan-bahan khusus yang tidak selamanya mudah
diperoleh di tempat-tempat tertentu. Di samping itu, pengadaan maupun
pemeliharaannya cenderung menuntut biaya yang mahal.
Kesimpulannya adalah,
50% orang akan mudah menangkap sesuatu
yang disampaikan dengan cara melihat dan mendengar. Maka dari itu media
audio visual merupakan media yang paling mudah untuk ditangkap maksud
dan tujuannya dari apa yang ingin disampakan.
26
Gambar 1.2 Cone Of Learning
Sumber : www.google.co.id
1.7.10 Teori Media
Media yang digunakan sebagai perantara yang dipakai untuk menyebarkan ide
atau gagasan kepada penerima. Dan media yang digunakan dalam kasus ini adalah
untuk menyampaikan informasi mengenai bahaya pemasangan kawat gigi oleh
pihak non profesional bagi kesehatan kepada audien. Pemilihan media dilakukan
secara selektif untuk memudahkan segmentasi (geografis, psikologi, demografis)
dalam pemberian gagasan atau ide ke audien, media akan disesuaikan dengan area
jangkauan sehingga akan lebih tepat sasaran dan efektif.
Download