EFEK LATIHAN JALAN TERHADAP FRAKSI EJEKSI VENTRIKEL

advertisement
 EFEK LATIHAN JALAN TERHADAP
FRAKSI EJEKSI VENTRIKEL KIRI DAN KAPASITAS AEROBIK:
Studi Intervensi Pre dan Post Pada Pasien Pasca Sindroma Koroner Akut
setelah Intervensi Koroner Perkutan
Vanda Mustika1, Deddy Tedjasukmana1, Idrus Alwi2, Retno Asti Werdhani3
1
Departemen Rehabilitasi Medik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
2
Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
3
Departemen Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Latar Belakang: Pasien dengan sindroma koroner akut (SKA) setelah dilakukan intervensi
koroner perkutan (IKP) memerlukan suatu program latihan fisik sebagai bagian dari program
rehabilitasi jantung. Berbagai jenis latihan fisik seperti jalan kaki, latihan dengan sepeda atau
latihan di treadmill dapat memberikan berbagai risiko maupun manfaat baik yang terukur
maupun tidak. Penelitian ini ingin mengetahui gambaran peningkatan fraksi ejeksi ventrikel
kiri dan peningkatan kapasitas aerobik pasien pasca SKA setelah IKP sebelum dan sesudah
terapi latihan jalan.
Metode: Penelitian ini adalah studi intervensi dengan desain pre dan post satu kelompok
pada 22 subjek pasca SKA setelah IKP yang mengikuti program rehabilitasi jantung fase II.
Subjek diberikan latihan jalan dengan intensitas submaksimal 3 kali seminggu, selama 8
minggu dengan jarak yang ditingkatkan setiap latihan. Sebelum memulai dan setelah selesai
program latihan jalan dilakukan pemeriksaan kapasitas aerobik dengan uji jalan 6 menit dan
pemeriksaan echokardiografi untuk menentukan fraksi ejeksi ventrikel kiri.
Hasil: Didapatkan peningkatan fraksi ejeksi ventrikel kiri yang signifikan (p<0,001), dengan
rerata sebelum diberikan latihan jalan 61,49 + 11,94 % dan setelah diberikan latihan jalan
mengalami kenaikan menjadi sebesar 65,85 + 8,68 %. Kapasitas aerobik yang dinilai dengan
uji jalan 6 menit juga memberikan hasil yang bermakna secara statistik, sebelum diberikan
latihan jalan memiliki rerata 16,05 + 3,01 mL/kgBB/menit dan setelah diberikan latihan
rerata kapasitas aerobik mengalami kenaikan menjadi sebesar 19,71 + 2,83 mL/kgBB/menit.
Kesimpulan: Pemberian latihan jalan dalam program rehabilitasi jantung fase II pada pasien
pasca SKA setelah IKP dapat meningkatkan fraksi ejeksi ventrikel kiri dan kapasitas aerobik.
Kata kunci: sindroma koroner akut, intervensi koroner perkutan, latihan jalan, fraksi ejeksi
ventrikel kiri, kapasitas aerobik
ABSTRACT
Background: Patients post Acute Coronary Syndrome (ACS) after Percutaneus Coronary
Intervention (PCI) need physical exercise as a part of cardiac rehabilitation program.
Several types of physical exercises such as walking, cycling or walking on treadmill would
give measurable and unmeasurable risk and benefit. This research want to examine the effect
of walking exercise on left ventricular ejection fraction (LVEF) and aerobic capacity in post
acute coronary syndrome patient after percutaneus coronary intervention.
Methods: This study is an interventional study with one group pre and post design on 22
subjects post ACS patient after PCI in phase II cardiac rehabilitation program. Subjects were
given walking exercise programme with submaximal intensity 3 times a week, for 8 weeks
with increased distance every attendance. Aerobic capacity were measured with 6 Minute
1
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
Universitas Indonesia
2 Walking Test, Ejection Fraction were measured with Echocardiography, both were done
before and after the walking exercise program.
Results: There were significant improvement in left ventricular ejection fraction (p<0,001),
mean LVEF before exercise was 61,49 + 11,94 % and after exercise was 65,85 + 8,68 %.
Aerobic capacity also show a significant improvement (p<0,001), with mean aerobic
capacity before exercise was 16,05 + 3,01 mL/kgbodyweight/minutes and mean after exercise
was 19,71 + 2,83 mL/kgbodyweight/minutes.
Conclusion: Walking exercise in phase II cardiac rehabilitation program in in post ACS
patient after PCI can improve the left ventricular ejection fraction and aerobic capacity.
Keywords: Acute Coronary Syndrome, Percutaneus Coronary Intervention, Walking
Exercise, Left Ventricular Ejection Fraction, Aerobic Capacity
PENDAHULUAN
Penyakit jantung dan pembuluh darah yang meliputi penyakit jantung koroner, penyakit
pembuluh darah otak dan penyakit arteri perifer, saat ini menjadi penyebab kematian pertama
di dunia, terutama pada perempuan. World Health Organization (WHO) menyatakan
penyakit tersebut menjadi penyebab 32% kematian pada perempuan dan 27% kematian lakilaki (WHO, 2008). Di antara kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh darah maka
Penyakit Jantung Koroner merupakan penyebab tersering yaitu sebesar 45% dan 12% dari
seluruh kematian di dunia.1 Infark miokardium paling sering disebabkan oleh plak
aterosklerosis yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke miokardium yang dapat
merusak miokardium dalam waktu singkat. Penatalaksanaannya adalah dengan membuka
kembali pembuluh koroner yang mengalami sumbatan sehingga miokardium dapat
diselamatkan sebelum terjadinya kematian jaringan, salah satunya dengan tindakan intervensi
koroner perkutan.2 Dalam menilai keberhasilan terapi pasca sindrom koroner akut maka
dilakukan suatu uji latih yang akan memberikan gambaran kapasitas fungsional dan juga
dapat menjadi dasar untuk memberian rehabilitasi pada pasien tersebut.2,3
Rehabilitasi jantung merupakan terapi yang telah ditetapkan untuk pasien dengan penyakit
jantung koroner.4 Menurut World Health Organization, rehabilitasi pasien jantung
didefinisikan dengan sejumlah aktivitas yang dibutuhkan untuk memperbaiki penyebab yang
mendasari penyakit, disertai kondisi fisik, mental dan sosial sebaik mungkin, sehingga
dengan usahanya sendiri mereka mampu mempertahankan atau mengembalikan posisinya di
masyarakat. Rehabilitasi tidak dapat berdiri sendiri namun harus terintegrasi dengan seluruh
terapi. Rehabilitasi fisik merupakan komponen utama dari rehabilitasi jantung yang
komprehensif. Berbagai penelitian sebelumnya telah menunjukkan hasil yang signifikan
terhadap beberapa parameter setelah pemberian berbagai program latihan.5
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
3 Latihan jalan dalam program rehabilitasi jantung berdasarkan berbagai penelitian yang ada
dapat memperbaiki kapasitas aerobik pasien pasca sindrom koroner akut setelah intervensi
koroner perkutan serta meningkatkan fraksi ejeksi ventrikel kiri. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui efek latihan jalan yang diberikan pada program rehabilitasi jantung di
Divisi Kardiovaskular Departemen Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo
(RSCM) pada pasien pasca sindroma koroner akut setelah intervensi koroner perkutan
terhadap peningkatan fraksi ejeksi ventrikel kiri dan kapasitas aerobik.
METODE
Disain dan Sampel
Penelitian ini merupakan studi intervensi dengan desain pre dan post satu kelompok. Subjek
penelitian merupakan pasien pasca sindroma koroner akut setelah intervensi koroner perkutan
yang berobat ke RSCM pada bulan Juni 2012 sampai dengan Februari 2013 yang telah
memenuhi kriteria penerimaan dan penolakan. Pengambilan sampel dilakukan secara
consecutive sampling pasien yang berobat ke poliklinik Rehabilitasi Kardiovaskular
Departemen Rehabilitasi Medik dan poliklinik rawat jalan Pelayanan Jantung Terpadu
RSCM, hingga jumlah minimal terpenuhi. Perhitungan besar sampel dengan menggunakan
rumus dua kelompok berpasangan6, untuk parameter kapasitas fungsional dan fraksi ejeksi
ventrikel kiri berdasarkan jurnal sebelumnya, kemudian dipilih jumlah sampel yang lebih
besar, sehingga didapatkan jumlah sampel minimal sebanyak 24 subjek.Penelitian ini juga
telah lolos kaji komisi etik penelitian FKUI/RSCM, dan pernyataan tertulis persetujuan
mengikuti penelitian dari masing-masing subjek.
Subjek yang dapat mengikuti penelitian ini yaitu penderita pasca sindroma koroner akut yang
stabil dan sudah menjalani intervensi koroner perkutan dalam kurun waktu 1-8 minggu
setelah intervensi tersebut, tidak pernah menjalani operasi CABG, berusia antara 40-65 tahun,
memiliki fungsi kognitif yang baik, dapat berjalan tanpa alat bantu dan bersedia mengikuti
penelitian secara sukarela dengan mengisi formulir persetujuan. Sedangkan kriteria
penolakannya adalah adanya gangguan katup jantung yang membutuhkan operasi, hipertensi
dan diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan obat-obatan, aritmia ventrikel yang
menetap, penyakit paru obstruktif kronis, gangguan neuromuskuler seperti stroke, neuropati
perifer, serta gangguan muskuloskeletal, seperti fraktur, amputasi, artritis berat pada sendi
penyangga badan. Subjek akan dikeluarkan dari penelitian jika tidak mengikuti latihan 3 kali
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
4 berturut-turut, mengalami angina tidak stabil dan subjek tidak sanggup lagi melanjutkan
latihan serta ingin berhenti.
Variabel Penelitian
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah terapi latihan jalan. Sedangkan yang menjadi
variabel tergantung adalah fraksi ejeksi ventrikel kiri jantung dan kapasitas aerobik . Variabel
perancu yang dapat mengganggu hasil penelitian adalah kepatuhan subjek, aktivitas seharihari, kondisi psikis, penggunaan obat-obatan.
Latihan Jalan
Dosis latihan jalan diberikan sesuai dengan kemampuan setiap individu, berdasarkan hasil uji
jalan 6 menitnya. Frekuensi latihan diberikan 3 kali dalam seminggu, dengan jarak tempuh
yang dinaikkan setiap kali latihan. Intensitas latihan dipertahankan dalam intensitas
submaksimal dengan frekuensi denyut nadi antara 60-70 % dari target nadi. Setelah jarak
tempuh mencapai 3000 meter, maka dosis latihan dinaikkan dengan meningkatkan kecepatan
jalan.
Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri
Echokardiografi merupakan pemeriksaan standar dalam tatalaksana pasien dengan infark
miokardium akut. Echocardiografi 2 dimensi mampu memvisualisasikan jantung secara
langsung dengan menggunakan ultrasound, memberikan penilaian miokardium, ruang-ruang
jantung, katup, perikardium dan pembuluh darah besar. Echokardiografi doppler mengukur
kecepatan gerakan sel darah merah dan menjadi alternatif yang tidak invasif dari kateterisasi
jantung sebagai evaluasi hemodinamik. Echokardiografi ini merupakan pemeriksaan yang
dipilih untuk memeriksa fraksi ejeksi ventrikel kiri, selain itu dapat pula memeriksa kelainan
lain pada jantung yang berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk, seperti disfungsi
diastolik, keterlibatan ventrikel kanan, peningkatan volume atrium kiri, regurgitasi mitral.
Dapat membantu menilai fungsi ventrikel kiri, abnormalitas gerakan dinding pada sindrom
koroner akut dan juga menilai komplikasi mekanik pada infark miokardium. Untuk menilai
fraksi ejeksi ventrikel kiri, dilakukan penilaian diameter interna ventrikel kiri pada saat
sistolik dan diastolik dengan menggunakan metoda Simpson dan fraksi ejeksi dihitung pada 2
ruang apeks dan 4 ruang lain yang dilihat secara terpisah. Kemudian dilakukan perhitungan
fraksi ejeksi rata-rata. 7,8,9
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
5 Kapasitas Aerobik
Konsumsi oksigen maksimal (VO2max) adalah pengukuran kapasitas tubuh untuk
menggunakan oksigen. Dalam hal ini konsumsi oksigen maksimal dapat juga dikatakan
sebagai jumlah maksimum konsumsi oksigen permenit ketika seseorang telah mencapai
usaha maksimum. Nilai VO2 max dinyatakan dalam satuan mililiter/kgBB/menit. Dengan
demikian ambilan oksigen berbanding lurus dengan besar tubuh seseorang. Untuk ambilan
oksigen seorang laki-laki pada saat istirahat ialah sebesar 3,5 ml/kgBB/menit sedangkan
sebesar 2,7 ml/kgBB/menit pada perempuan. Peningkatan umur dan/atau aktivitas akibat dari
penurunan fungsi kardiorespirasi dan performance otot dapat mengurangi fungsional individu
secara bermakna.10,11
Analisis statistik
Analisis univariat variabel numerik disajikan dalam bentuk nilai tengah, berupa rerata dan
standar deviasi bagi variabel yang memiliki distribusi normal, sedangkan data yang
distribusinya tidak normal disajikan dalam bentuk median dan nilai minimum-maksimum.
Distribusi data dinilai dengan Shapiro Wilk. Data analisis perbedaan kapasitas aerobik dan
fraksi ejeksi sebelum dan sesudah intervensi karena memiliki distribusi normal maka
dilakukan dengan T-test berpasangan.
HASIL PENELITIAN
Jumlah subjek penelitian yang bersedia mengikuti penelitian ini adalah 25 orang. Namun
selama penelitian, tiga subjek menolak melanjutkan latihan. Total subjek penelitian yang
menyelesaikan latihan jalan adalah 22 orang.
Selama penelitian, dalam melaksanakan uji jalan enam menit maupun latihan jalan, tidak
didapatkan efek samping uji latih ataupun latihan jalan pada subjek, seperti keluhan nyeri
dada, sesak yang tak tertahankan, sempoyongan, diaporesis, atau pucat. Demikian juga
dalam pemeriksaan fisik, tidak didapatkan penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan
darah yang berlebihan, atau aritmia setelah uji jalan dan latihan jalan.
Berdasarkan karakteristik usia subjek penelitian, didapatkan nilai usia rerata 55,5 + 7,63
tahun dengan kisaran 41 - 65 tahun. Jenis kelamin laki-laki merupakan subjek terbanyak pada
penelitian ini yaitu sebanyak 77,3%.
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
6 Tabel 1 Karakteristik Dasar Subjek Penelitian
Variabel
n=22
Usia (tahun)
55,5 ± 7,63
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
17 (77,3%)
5 (22,7%)
Jenis Pekerjaan
Pegawai Negeri/TNI
Pegawai Swasta
Wiraswasta
Pensiunan
Tidak bekerja
5 (22,7%)
4 (18,2%)
7 (31,8%)
4 (18,2%)
2 (9,1%)
Pendidikan
Tamat SMP
Tamat SMU/sederajat
Tamat Akademi/Perguruan Tinggi
1 (4,5%)
6 (27,3%)
15 (68,2%)
Berat Badan (kg)
64,64 ± 10,06
Tinggi Badan (cm)
163,14 ± 6,87
IMT:
Normal
Berat badan lebih
Obesitas 1
Obesitas 2
10 (45,5%)
4 (18,2%)
7 (31,8%)
1 (4,5%)
Frekuensi olahraga per minggu
Tidak olahraga
1-3 jam
4-6 jam
>6 jam
13 (59,1%)
4 (18,2%)
4 (18,2%)
1 (4,5%)
Jumlah stent yang terpasang:
1 stent
2 stent
3 stent
> 3 stent
4 (18,2%)
8 (36,4%)
7 (31,8%)
3 (13,6%)
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
7 Berdasarkan jenis pekerjaan, pekerjaan yang paling banyak adalah wiraswasta sebanyak 7
subjek (31,8%), diikuti dengan pegawai negeri sipil (22,7%), pegawai swasta dan pensiunan
(18,2%). Berat badan subjek penelitian mempunyai nilai rerata 64,64 + 10,06 kg, sedangkan
rerata tinggi badan subjek penelitian adalah 163,14 + 6,87 cm. Distribusi indeks massa tubuh
(IMT) subjek penelitian yang terbanyak adalah normal 45,5%. Berdasarkan frekuensi
olahraga, sebagian besar subjek tidak berolahraga sebelum diberikan program latihan
(59,1%).
Berdasarkan jumlah stent yang telah dipasang, baik itu dalam pembuluh darah koroner yang
sama ataupun yang berbeda, maka yang terbanyak adalah subjek yang telah dipasang 2 buah
stent (36,4%), diikuti dengan 3 stent (31,8%). Subjek yang hanya dipasang 1 buah stent
(18,2%) hampir sama dengan yang dipasang lebih dari 3 stent (13,6%).
Tabel 2 menunjukkan ada atau tidaknya faktor risiko penyakit jantung koroner pada subjek
penelitian ini.
Tabel 2. Karakteristik faktor risiko penyakit jantung koroner pada subjek penelitian
Faktor Risiko
Diabetes Mellitus
Tidak
Ya
Riwayat Merokok
Tidak
Ya
Hipertensi
Tidak
Ya
Dislipidemia
Tidak
Ya
Riwayat Keluarga
Tidak
Ya
Olahraga
Tidak
Ya
n (%)
17 (77,3)
5 (22,7)
9 (40,9)
13 (59,1)
9 (40,9)
13 (59,1)
3 (13,6)
19 (86,4)
7 (31,8)
15 (68,2)
13 (59,1)
9 (40,9)
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
8 Fraksi ejeksi ventrikel kiri sebelum diberikan latihan jalan memiliki rerata 61,49 + 11,94 %
dengan nilai terkecil 33% dan terbesar 83%. Setelah diberikan latihan jalan selama 8 minggu
maka rerata fraksi ejeksi ventrikel kiri mengalami kenaikan menjadi sebesar 65,85 + 8,68 %
dengan nilai terkecil 48% dan terbesar 82,6%. Gambaran fraksi ejeksi subjek penelitian
sebelum dan setelah latihan dapat dilihat dalam grafik 1
Grafik 1 Gambaran fraksi ejeksi ventrikel kiri sebelum dan setelah latihan jalan
Kapasitas aerobik yang diperiksa dengan uji jalan 6 menit sebelum diberikan latihan jalan
memiliki rerata 16,05 + 3,01 mL/kgBB/menit dengan nilai terkecil 10,28 mL/kgBB/menit dan
terbesar 22,43 mL/kgBB/menit. Setelah diberikan latihan jalan selama 8 minggu maka rerata
kapasitas aerobik mengalami kenaikan menjadi sebesar 19,71 + 2,83 mL/kgBB /menit dengan
nilai terkecil 14,77 mL/kgBB/menit dan terbesar 25,27 mL/kgBB/menit. Gambaran kapasitas
aerobik subjek penelitian sebelum dan setelah latihan dapat dilihat dalam grafik 2
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
9 Grafik 2 Gambaran kapasitas aerobik sebelum dan setelah latihan jalan
Fraksi ejeksi ventrikel kiri sebelum diberikan latihan jalan memiliki rerata 61,49 + 11,94 %
dengan nilai terkecil 33% dan terbesar 83%. Setelah diberikan latihan jalan selama 8 minggu
maka rerata fraksi ejeksi ventrikel kiri mengalami kenaikan menjadi sebesar 65,85 + 8,68 %
dengan nilai terkecil 48% dan terbesar 82,6%. Dengan menggunakan uji t berpasangan,
secara statistik terdapat perbedaan bermakna pada fraksi ejeksi ventrikel kiri jantung antara
sebelum dan sesudah latihan jalan dengan p<0,001.
Kapasitas aerobik yang diperiksa dengan uji jalan 6 menit sebelum diberikan latihan jalan
memiliki rerata 16,05 + 3,01 mL/kgBB/menit dengan nilai terkecil 10,28 mL/kgBB/menit
dan terbesar 22,43 mL/kgBB/menit. Setelah diberikan latihan jalan selama 8 minggu maka
rerata kapasitas aerobik mengalami kenaikan menjadi sebesar 19,71 + 2,83 mL/kgBB /menit
dengan nilai terkecil 14,77 mL/kgBB/menit dan terbesar 25,27 mL/kgBB/menit. Dengan
menggunakan uji t berpasangan, secara statistik terdapat perbedaan bermakna pada kapasitas
aerobik antara sebelum dan sesudah latihan jalan dimana p < 0,001 dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3 Perbandingan nilai Kapasitas Aerobik dan Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri sebelum dan
sesudah latihan jalan
Variabel
Sebelum (π + SD )
Sesudah (π + SD )
P
Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri
61,49 + 11,94
65,85 + 8,68
<0,001
Kapasitas Aerobik
16,05 + 3,01
19,71 + 2,83
<0,001
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
10 PEMBAHASAN
Penelitian ini menunjukkan rerata usia subjek penelitian sebesar 55,5 + 7,63 tahun dengan
kisaran 41-65 tahun. Delima pada tahun 2009, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2007, menyatakan bahwa risiko menderita penyakit jantung cenderung
meningkat dengan bertambahnya usia. Risiko meningkat sebesar 2,2 kali setelah usia 55 - 64
tahun, dan meningkat sebesar 2,48 kali antara usia 65 - 74 tahun.13
Distribusi jenis kelamin pada penelitian ini didominasi oleh jenis kelamin laki-laki, yaitu
sebesar 77,3%. Hal ini sesuai dengan subjek penelitian Nirwan13 dengan persentase jenis
kelamin sebesar 77,78% dan Yu14 dengan persentase 76%. Laki-laki usia 35-65 memiliki
risiko penyakit jantung koroner lebih tinggi daripada perempuan, karena mereka memiliki
prevalensi faktor risiko yang lebih tinggi serta cenderung untuk terjadinya obesitas sentral
dan sindrom metabolik. Pada perempuan usia 45 sampai 75, timbulnya penyakit jantung
koroner tertunda 10 hingga 15 tahun dibandingkan dengan laki-laki, sehingga sebagian
penyakit jantung koroner terjadi pada perempuan dengan usia di atas 65 tahun. Pada
penelitian ini dari 5 orang subjek perempuan, semuanya memiliki faktor risiko penyakit
jantung koroner lain seperti diabetes mellitus, hipertensi dan dislipidemia.
Berat badan subjek penelitian mempunyai nilai rerata 64,64 + 10,06 kg, sedangkan rerata
tinggi badan subjek penelitian adalah 163,14 + 6,87 cm. Berdasarkan berat badan, maka
sebanyak 45,5 % memiliki berat badan normal, sisanya sebanyak 54,5 % memiliki berat tidak
normal, baik berat badan berlebih, obesitas tingkat I maupun obesitas tingkat II. Hal ini
sesuai dengan teori bahwa obesitas memiliki risiko lebih besar terkena penyakit jantung
koroner apalagi bila disertai adanya faktor risiko lain maka akan makin meningkatkan risiko.
Obesitas dan penyakit jantung koroner saling berhubungan dengan adanya resistensi relatif
dari insulin, di mana setiap kenaikan 10% berat badan terjadi peningkatan terjadi peningkatan
risiko penyakit jantung koroner sebesar 30%. 15
Pada penelitian ini, subjek yang disertai dengan diabetes mellitus sebanyak 22,7%.
Berdasarkan data dari Third National Health and Nutrition Examination Survey sekitar 25%
orang dewasa di Amerika menderita sindrom metabolik dan dari studi Framingham, sindrom
metabolik sendiri diprediksi menjadi 25% dari kasus baru PJK. 15
Sebagian besar (59,1%) subjek penelitian ini memiliki riwayat merokok, tidak dibedakan
apakah subjek masih merokok, baru saja berhenti merokok ataupun sudah berhenti merokok
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
11 dalam waktu lama. Menurut data dari World Health Organization pada tahun 2002, frekuensi
merokok pada laki-laki maupun perempuan sangat bervariasi secara internasional. Beberapa
studi kohort mendapatkan risiko relatif antara merokok dengan PJK sebesar 1,6 – 2 kali.
Risiko relatif ini semakin meningkat dengan usia yang lebih muda dan konsumsi rokok yang
lebih besar. Bila merokok disertai dengan hiperkolesterolemi maka risiko relatif untuk
terjadinya PJK menjadi 8,3. 16
Subjek penelitian ini yang disertai dengan hipertensi sebanyak 59,1%. Sedangkan angka yang
didapat oleh Vasiliauskas yaitu sebesar 58% dan penelitian oleh Soleimani sebesar 53%.
Risiko kejadian kardiovaskular meningkat dua sampai tiga kali pada laki-laki dan perempuan
dengan hipertensi. Diperkirakan terjadi kematian akibat PJK sebesar 14% pada laki-laki dan
12% pada perempuan akibat hipertensi.4,5,17
Sebanyak 86,4% subjek penelitian ini mengalami dislipidemia. Hal ini sesuai dengan analisis
dari studi Framingham yang menunjukkan bahwa pasien dengan trigliserid serum ≥150mg/dl
dan HDL serum <40mg/dL memiliki peningkatan risiko kardiovaskular yang signifikan.
Berdasarkan data yang ada bahwa setiap peningkatan kadar LDL sebesar 30mg/dL maka
risiko relatif untuk terjadinya penyakit jantung koroner meningkat sekitar 30%. 15
Sebanyak 62,8% subjek pada penelitian ini memiliki riwayat keluarga yang menderita
penyakit jantung koroner, keluarga yang dimaksud adalah orang tua ataupun saudara
kandung. Riwayat keluarga tingkat pertama menjadi risiko untuk terjadinya penyakit jantung
koroner atau penyakit aterosklerotik lainnya pada laki-laki sebelum usia 55 tahun atau pada
perempuan sebelum usia 65 tahun. Risiko ini mungkin terjadi akibat faktor genetik ataupun
efek lingkungan yang sama (diet, asap rokok). Riwayat keluarga yang positif akan
meningkatkan risiko sekitar 1,5 kali dan harus dipertimbangkan dalam menilai risiko seorang
individu. Risiko meningkat lebih lanjut jika terdapat lebih dari satu anggota keluarga yang
terkena. Riwayat serangan jantung pada dua atau lebih kerabat tingkat pertama memiliki
risiko tiga kali lipat terkena PJK. 15
Pada penelitian ini dengan pemberian dosis latihan di atas didapatkan peningkatan fraksi
ejeksi ventrikel kiri yang signifikan (p<0,001), dengan rerata sebelum diberikan latihan jalan
61,49 + 11,94% dan setelah diberikan latihan jalan mengalami kenaikan menjadi sebesar
65,85 + 8,68%, yaitu meningkat sebesar 7%. Penelitian lain yang menunjukkan hasil yang
signifikan juga adalah penelitian oleh Haddadzadeh18 dengan peningkatan yang signifikan
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
12 setelah diberikan latihan selama 12 minggu, dan Vasiliauskas17 dengan peningkatan yang
juga signifikan setelah pemberian latihan aerobik selama 6 bulan. Kedua penelitian ini
membuat kelompok kontrol pada penelitiannya, dengan hanya memberikan intervensi berupa
obat-obatan. Ternyata tidak terdapat peningkatan fraksi ejeksi ventrikel kiri yang signifikan
setelah latihan pada kelompok kontrol di kedua penelitian tersebut.
Menurut Vasiliauskas, penelitiannya menunjukkan bahwa latihan aerobik jangka panjang
pada penyakit jantung koroner setelah intervensi koroner perkutan mempunyai efek
antiremodelling, ditunjukkan dengan perbaikan fraksi ejeksi. Perbaikan penyakit jantung
koronernya akibat dari menurunnya indeks gerakan dinding ventrikel kiri.17 Belardinelly
menunjukkan bahwa latihan fisik dapat mengurangi pertumbuhan neointimal setelah
intervensi koroner perkutan. Namun efek ini tidak cukup untuk bisa mengurangi terjadinya
restenosis.19
Penelitian ini menunjukkan bahwa program latihan selama 8 minggu segera setelah tindakan
intervensi koroner perkutan dapat meningkatkan kontraktilitas miokardium dalam bentuk
fraksi ejeksi ventrikel kiri. Namun demikian, data yang menunjukkan efek pemberian latihan
terhadap fraksi ejeksi ventrikel kiri masih terbatas.18 Perbaikan fungsi ventrikel kiri ini
menurut Ndrepepa dipengaruhi oleh 3 faktor utama, yaitu seberapa besar defek perfusi
koroner awal, kondisi fraksi ejeksi ventrikel kiri saat kejadian dan seberapa besar kondisi
miokardium yang masih baik setelah kejadian sindrom koroner akut. Faktor lain yang juga
mendukung adalah adanya penyembuhan fungsional dari miokardium yang hibernasi atau
iskemik setelah aliran koroner kembali mencukupi dengan adanya intervensi koroner
perkutan.20 Smart menyatakan adanya respon pada fungsi sistolik dan diastolik jantung
terhadap program latihan yang diberikan dapat disebabkan karena faktor-faktor di luar faktor
jantung. Faktor-faktor ini meliputi peningkatan kapasitas oksidatif maupun glikolisis
anaerobik dari otot skeletal, peningkatan perbedaan tekanan arteri vena, peningkatan fungsi
pembuluh darah dan menurunnya tahanan arteri perifer. 21
Kapasitas aerobik yang dinilai dengan uji jalan 6 menit juga memberikan hasil yang
bermakna secara statistik, sebelum diberikan latihan jalan memiliki rerata 16,05 + 3,01
mL/kgBB/menit dan setelah diberikan latihan rerata kapasitas aerobik mengalami kenaikan
menjadi sebesar 19,71 + 2,83 mL/kgBB/menit, dengan kenaikan sebesar 22%. Beberapa
penelitian memberikan hasil yang juga bermakna, walaupun jenis latihan dan uji latih yang
dilakukan untuk menentukan kapasitas aerobik ini berbeda. Seperti misalnya Giallauria
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
13 memberikan latihan ergocycle selama 3 bulan pada kelompok intervensi dan kelompok
kontrol, didapatkan hasil kenaikan VO2peak yang signifikan dari rerata 16,3 ± 1,4
mL/kgBB/menit menjadi rerata 20,8 ± 2,4 mL/kgBB/menit setelah latihan, sementara pada
kelompok kontrol tidak didapatkan kenaikan VO2peak.22 Penelitian lain yang juga
memberikan hasil kenaikan kapasitas aerobik yang bermakna (p<0,05) adalah penelitian oleh
Vasiliauskas17, didapatkan peningkatan kapasitas aerobik dari 22,1 + 5,2 mL/kgBB/menit dan
meningkat menjadi 26,4 + 4,8 mL/kgBB/menit dalam evaluasi ulang setelah 12 bulan.
Secara teori terdapat respon fisiologis pada jantung yang terkait dengan latihan, seperti
adanya peningkatan denyut jantung, perubahan isi sekuncup, perubahan distribusi aliran
darah selama latihan dan adanya adaptasi jangka panjang dari pemberian latihan. 23,24
Perubahan isi sekuncup selama latihan dipengaruhi oleh dua mekanisme fisiologis, yang
pertama isi sekuncup meningkat akibat adanya peningkatan aliran balik vena (preload),
diikuti dengan kontraksi yang lebih kuat (mekanisme Frank-Starling). Peningkatan aliran
balik vena pada latihan disebabkan oleh meningkatnya tonus vena dan juga akibat kompresi
otot skeletal. Mekanisme kedua melibatkan pengisian ventrikel normal, tetapi dengan
kontraksi yang lebih kuat akibat pengaruh neurohormonal yang menyebabkan pengosongan
yang lebih komplit (peningkatan inotropik). 23,25
Aktivitas fisik akan mempengaruhi sistem kardiovaskular dan otot skeletal dengan berbagai
cara untuk meningkatkan performa. Respon dari sistem kardiovaskular terhadap latihan rutin
adalah meningkatnya kemampuan untuk mengantarkan oksigen ke otot yang aktif. Latihan
fisik juga meningkatkan kemampuan otot untuk menggunakan oksigen. Latihan fisik teratur
akan dapat meningkatkan konsumsi oksigen maksimum hingga dua sampai tiga kali lipat.
Sekitar setengah dari peningkatan ini disebabkan peningkatan cardiac output dan sisanya
disebabkan oleh adaptasi perifer yang meningkatkan ekstraksi oksigen. 23,24
SIMPULAN
Rerata fraksi ejeksi ventrikel kiri jantung pasien pasca sindrom koroner akut setelah
intervensi koroner perkutan sebelum terapi latihan jalan adalah 61,49 + 11,94 % dan sesudah
terapi latihan jalan adalah 65,85 + 8,68 %, perbedaan ini secara statistik bermakna dengan
p<0,001, dengan peningkatan sebesar 7%. Rerata kapasitas aerobik pasien pasca sindrom
koroner akut setelah intervensi koroner perkutan sebelum terapi latihan jalan adalah 16,05 +
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
14 3,01 mL/kgBB/menit dan sesudah terapi latihan jalan adalah 19,71 + 2,83 mL/kgBB /menit,
perbedaan ini secara statistik bermakna dengan p<0,001 dengan peningkatan sebesar 22%.
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
15 KEPUSTAKAAN
1. Beltrame JF, Dreyer R, Tavella R. Epidemiology of Coronary Artery Disease. In: Gaze D ed.
Coronary Artery Disease - current concepts in epidemiology, pathophysiology, diagnostics and
treatment. InTech. 2012
2. ACC/AHA Guidelines for Percutaneous Coronary Intervention. Cardiology/American Heart
Association Task Force on Practice Guidelines (Committee to revise the 1993 guidelines for
Percutaneus Transluminal Coronary Angioplasty). Journal of the American Heart Association.
2001
3. American Association of Cardiovascular and Pulmonary Rehabilitation. Guidelines for cardiac
rehabilitation and secondary prevention programs. Human Kinetics. 1999
4. Soleimani A, Salarifar M, Kasaian SE, Sadeghian S, Nejatian M, Abbasi A. Effect of completion
of cardiac rehabilitation on heart rate recovery. In: Asian Cardiovascular & Thoracic Annals. Vol.
60. 2008:202-7
5. Perk J, Mathes P, Gohlke H, Monpére C, Hellemans I, McGee H, et al editors. In: Cardiovascular
prevention and rehabilitation. Springer Verlag. London. 2007
6. Madiyono B, Moeslichan S, Sastroasmoro S, Budiman I, Purwanto SH. Perkiraan besar sampel.
In: Sastroasmoro S, Ismael S editor. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. 3rd ed. Sagung Seto.
2010:302-3
7. Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL et al. Harrison’s
principles of internal medicine. 17th ed. New York. Mc Graw Hill. 2008
8. Ather HM. Left ventricular ejection fraction after acute myocardial infarction. Professional Med
J. June 2008:234-9
9. Armstrong WF, Feigenbaum A. Echocardiografi In: Braunwald E, Zipes DP, Libby P. Heart
Disease, a texbook of cardiovascular medicine. 6th ed. WB Saunders Company. 2001
10. Tamin TZ. Prinsip uji latih dan penerapan latihan rekondisi. Dalam: Pelatihan Tin Rehabilitasi
Medik Sport, Perjan RS Cipto Mangunkusumo, 2003
11. Tamin TZ. Model dan efektivitas latihan endurans untuk peningkatan kebugaran penyandang
disabilitas intelektual dengan obesitas. Disertasi. Universitas Indonesia. 2009.
12. Delima, Mihardja L, Siswoyo H. Prevalensi dan faktor determinan penyakit jantung di Indonesia.
Buletin Penelitian Kesehatan. Vol. 37:3. 2009:142-59
13. Nirwan I. Jarak tempuh uji jalan 6 menit pasca sindrom koroner akut pasca intervensi koroner
perkutan pada 1 pembuluh darah. Jakarta. Tesis. Universitas Indonesia. 2010
14. Yu CM, Li LSW, Lam MF, Siu DCW, Miu RKW, Lau CP. Effect of cardiac rehabilitation
program on left ventricular diastolic function and its relationship to exercise capacity in patients
with coronary heart disease: experience from a randomized controlled study. In: American Heart
Journal. May 2004
15. Mittal. Coronary Heart Disease in Clinical Practice. Springer. 2007
16. Best Practice Evidence-Based Guideline: Cardiac Rehabilitation, New Zealand Guidelines Group.
2002
17. Vasiliauskas D, Benetis R, Jasiukeviciene L, Grizas V, Marcinkeviciene J, Navickas R, et al.
Exercise training after coronary angioplasty improves cardiorespiratory function. In:
Scandinavian Cardiovascular Journal. 2007; 41:142-48
18. Haddadzadeh MH, Maiya AG, Padmakumar R, Shad B, Mirbolouk F. Effect of exercise-based
rehabilitation on ejection fraction in coronary artery disease patients: a randomized controlled
trial. In: Heart Views. Vol 12.April-June 2011:51-7.
19. Belardinelli R, Georgiou D, Cianci G. Exercise training improves left ventricular diastolic filling
in patients with dilated cardiomyopathy. Clinical and prognostic implication. In:Circulation. Vol
91.1995:2775-84.
20. Ndrepepa G, Mehilli J, Martinoff S, Schwaiger M, Schomig A, Kastrati A. Evolution of left
ventricular ejection fraction and its relationship to infarct size after acute myocardial infarction.
In: Journal of the American College of Cardiology. 2007; 50: 149-56.
21. Smart N, Haluska B, Jeffriess L and Marwick T. Exercise training in systolic and diastolic
dysfunction: effect on cardiac function, functional capacity and quality of life. In: American Heart
Journal. Vol.153; 4.2007:530-6.
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
16 22. Giallauria F, Lucci R, De Lorenzo A, D’Agostino M, Del Forno D, Vigorito C. Favourable effects
of exercise training on N-terminal pro brain natriuretic peptide plasma levels in elderly patients
after acute myocardial infarction.In:Age and Aging. 2006:601-7
23. Antman EM, Braunwald E. Acute myocardial infarction. In: Braunwald E, Zipes DP, Libby P.
Heart Disease, a texbook of cardiovascular medicine. 6th ed. WB Saunders Company. 2001
24. Levine BD. Exercise physiology for the clinician. In: Thompson PD. Exercise & sports
cardiology. McGraw-Hill International Edition. 2001:3-29
25. Ross RM, Murthy JN, Wollak ID, Jackson AS. The six minute walk test accurately estimates
mean oxygen uptake. In:BMC Pulmonary Medicine. 10:31. 2010.
Universitas
Efek latihan..., Vanda Mustika, FK UI, 2013.
Download