Kajian Reproduksi Ikan Lemuru (Sardinella lemuru

advertisement
TINJAUAN PUSTAKA
Ikan lemuru (Sardinella lemuru Bleeker , 1853)
Karakteristik Ikan Lemuru
Menurut Whitehead (1985), sistematika ikan lemuru adalah:
Famili
: Clupeidae
Sub.famili
: Clupeinae
Genus
: Sardinella
Sub.Genus
: Sardinella
Spesies
: Sardinella lemuru
Gambar 1.
Sardinella lemuru yang tertangkap di pantai timur Pulau Siberut
Sebelumnya terdapat perbedaan sistematika dari ikan lemuru terutama pada
lemuru yang terdapat di Selat Bali. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa
lemuru yang tertangkap di selat tersebut adalah Sardinella longiceps dan
penelitian lainnya menyebut nya sebagai Sardinella lemuru. Hal ini terjadi karena
adanya kemiripan antara dua spesies tersebut. Berdasarkan hasil identifikasi FAO
(Whitehead, 1985) maka ditetapkan bahwa lemuru yang terdapat di Selat Bali dan
di wilayah Indonesia termasuk pada Sardinella lemuru Bleeker 1853 (Gaughan
dkk., 2000). Lemuru memiliki nama yang berbeda di tiap negara yaitu Bali
Sardinella (Inggris), Hwang Tseih (Hong Kong), Hwang Sha-tin (Taiwan).
Sardinella lemuru memiliki bentuk badan yang memanjang dengan bentuk
perut yang membundar. Panjang kepala 25-29% dari panjang baku, dengan tinggi
badan sekitar 27-31%, dan panjang baku maksimum 23 cm. Jari-jari sirip
punggung berjumlah 14; jari-jari sirip anal 13-15; jari- jari sirip dada 16; jari- jari
sirip perut 9; tulang saring insang bagian bawah jumlahnya 146-166, dan ruas
6
tulang belakang 47-48. Pada bagian dalam insang ada bintik keemasan yang
berlanjut dengan warna keemasan pada bagian gurat sisinya disertai adanya bintik
hitam di bagian tutup insang.
Di Laut Hindia bagian timur dan Pasifik bagian barat, lemuru mudah
dibedakan dari semua Clupeid lainnya dengan melihat jumlah jari- jari sirip
pectoral, dan sirip pelvicnya. Hal yang membedakan Sardinella lemuru dengan S.
longicep adalah bagian kepala yang lebih pendek (26 sampai 29% dari panjang
standar; S. longicep 29-35%) dan memiliki selaput insang yang lebih sedikit (77
sampai 188 pada ikan ukuran 6,5 sampai 22 cm; pada S. longiceps 150-253 pada
ukuran 8 – 15.5 cm. Badan S. lemuru berwarna keperakan dengan biru gelap pada
bagian belakang (posterior); tidak terdapat bercak gelap pada dasar sirip
punggung dan pinggiran tepi sirip ekor berwarna gelap (Whitehead,1985).
Tabel 1. Data morfologi dan morfometrik ikan lemuru (Sardinella lemuru Blk.)
di perairan pantai timur Pulau Siberut.
Morfologi
- Tipe mulut terminal
- Ekor homocercal
Morphometrik :
- SL : 16,1 cm
- Panjang sirip pelvic : 1,4 cm
- BDP : 3,7 cm
- Sirip dorsal terpanjang : 2,7 cm
- CPL : 1,6 cm
- Panjang kepala : 4,2 cm
- CPD : 1,3 cm
- Lebar kepala : 1,7 cm
- Panjang sebelum sirip dorsal : 8,2 cm
- Panjang snout : 1,4 cm
- Panjang basis sirip dorsal : 2 cm
- Lebar suborbital : 1,1 cm
- Panjang basis sirip ekor : 1,5 cm
- Orbit - sudut preoperculum : 1,3 cm
- Tinggi sirip dorsal : 1 cm
- Diameter mata : 1 cm
- Tinggi sirip ekor : 3,5 cm
- Panjang maxilla : 1,2 cm
- Panjang sirip dada : 2,8 cm
- Lebar bawah kepala : 1,5 cm
Meristik :
D.18, C.24, P.18, L.l 46, diatas L.l 4, dibawah L.l 3, sisik melintang sepanjang
batang ekor 6, baris branchiostegal 3, ? insang I.3, predorsal 16
7
Karakter morfologi dan morfometri ikan Sardinella yang tertangkap di
Pulau Siberut (Tabel 1.) memiliki mulut yang letaknya tepat ada di bagian depan
kepala (terminal) dengan cabang sirip ekor yang sama bentuk dan panjang
(homocercal). Panjang kepala dan lebar badan sekitar 25-30% dari panjang
seluruh tubuhnya. Jumlah linear lateralis adalah 46 yang letaknya ada diantara
sisik keempat dari bagian atas tubuh dan sisik ketiga dari bagian bawah tubuh
ikan. Jumlah jari-jari sirip punggung berjumlah 18, jari-jari sirip perut 24 dan jarijari sirip dada berjumlah 18.
Habitat Ikan Lemuru
Penyebaran ikan lemuru di dunia banyak terdapat di sekitar Asia Tenggara,
Asia Timur dan Australia Bagian Barat. Di wilayah Samudera Hindia bagian
Timur di sekitar daerah Thailand, Jawa Timur dan Bali dan perairan Australia
Barat dan di Samudera Pasifik berdapat di daerah utara Jawa sampai Filipina,
Hongkong, Taiwan sampai Selatan Jepang (Gambar 2.).
Gambar 2.
Penyebaran lemuru di dunia ( warna merah (Sardinella lemuru),
merah muda (Non S. Lemuru).
Ikan lemuru hidup di sekitar perairan pantai sehingga relatif toleran terhadap
salinitas yang rendah (200 /00 ). Ikan lemuru termasuk pada kelompok ikan pelagis
kecil dan biasanya melakukan migrasi dan bergerombol serta memakan
phytoplankton dan zooplankton (copepoda). Pembentukan kelompok/bergerombol
(schooling) yang besar pada ikan lemuru biasanya pada ukuran ikan yang sama
dengan kepadatannya yang tinggi. Ini dilakukan sebagai salah satu strategi ikan
8
lemuru untuk menghindari predator, mencari lingkungan yang sesuai dan karena
adanya ketersediaan/kelimpahan pakan.
Pada siang hari, kelompok ikan ini dekat dasar perairan sementara ketika
malam hari kelompok ikan ini bergerak mendekati permukaan air dengan
kelompok-kelompok yang terpisah. Terkadang saat siang hari ketika cuaca
mendung ikan ini muncul pula berkelompok di dekat permukaan air. Penangkapan
ikan ini biasanya dilakukan pada saat malam hari ketika mendekati permukaan air
dibantu dengan cahaya lampu. Jumlah yang besar banyak terdapat di perairan
pantai terutama di Selat Bali saat terjadi upwelling di waktu tertentu, banyak
ditemukan di perairan teluk dan laguna (Merta dkk., 1999).
Pemijahan lemuru terjadi di perairan pantai ketika salinitas rendah pada
awal musim penghujan walaupun tempat yang pasti terjadinya pemijahan belum
dapat diketahui. Tipe pemijahan ikan lemuru termasuk pada tipe pemijahan ikan
yang tidak menjaga telurnya (non guard parental) dan eksternal spawning dimana
proses pemijahan terjadi di luar tubuh induknya secara berkelompok. Pada tipe
ikan yang melakukan eksternal spawning biasanya memiliki jumlah telur yang
banyak yang berkaitan dengan strategi dalam menjaga kelangsungan hidup
keturunannya.
Usaha Penangkapan Lemuru
Penangkapan ikan lemuru di Indonesia semakin lama semakin meningkat
dari tahun ke tahun. Berdasarkan pada data FAO (www. FAO.org), pada tahun
1983 jumlah penangkapan ikan lemuru hanya mencapai 59.980 ton kemudian
pada tahun 1999 jumlah penangkapan meningkat mencapai 161.470 ton.
Peningkatan usaha penangkapan lemuru meningkat sebanding dengan
peningkatan usaha pengolahan lemuru dan penggunaan alat tangkap yang
digunakan. Sebagai contoh di Selat Bali dimana saat penggunaan dan
berkembangnya alat tangkap purse seine pada tahun 1974 secara jelas
memperlihatkan adanya usaha penangkapan yang sangat cepat dan diikuti oleh
perkembangan usaha pengalengan ikan dan pembuatan tepung ikan sebagai bahan
pakan. Peningkatan usaha penangkapan ikan yang cepat ternyata mempengaruhi
struktur umur dan ukuran populasi ikan lemuru di Selat Bali. Hal ini
9
menyebabkan di Selat Bali status perikanan lemuru dalam keadaan ya ng lebih
tangkap (overfishing) berdasarkan pada beberapa model yang telah dikembangkan
(Merta, 1999).
Overfishing terjadi bila satu spesies ikan tertangkap lebih cepat
dibandingkan ikan tersebut dapat melakukan pertumbuhan dan reproduksi. Ada
beberapa jenis overfishing yaitu growth overfishing, recruit overfishing, economic
overfishing,
ecosystem
overfishing
dan malthusian overfishing.
Growth
overfishing adalah suatu keadaan dimana ikan ditangkap sebelum mencapai tahap
perkembangan untuk mencapai dewasa. Biasanya terjadi pada ikan yang berumur
panjang dan lambat dalam mencapai matang gonad sedangkan recruitment
overfishing terjadi bila usaha penangkapan yang dilakukan menurunkan jumlah
ikan dewasa (breeding stock) yang dapat menghasilkan larva dan ikan baru
biasanya terjadi pada ikan pelagis yang berukuran kecil dan mengalami
kematangan gonad lebih cepat seperti ikan sarden dan teri. Jenis overfishing yang
lain adalah yang berkaitan dengan nilai ekonomi dari usaha penangkapan yaitu
economic overfishing, yang dapat terjadi bila biaya yang dikeluarkan pada setiap
unit penangkapan melebihi nilai ekonomi dari jumlah ikan yang didapat. Pada
overfishing ecosystem terjadi berkaitan dengan hubungannya antara satu spesies
ikan dengan spesies lain dalam ekosistem secara keseluruhan. Dimana perubahan
komposisi dari satu populasi jenis ikan tertentu akan menyebabkan berubahnya
komposisi spesies lainnya dalam suatu ekosistem secara keseluruhan, karena
berkaitan dengan pola rantai makanan yang terjadi dalam ekosistem tersebut
sedangkan malthusian overfishing biasa terjadi pada suatu daerah dengan jumlah
nelayan dan usaha penangkapan yang tinggi tetapi tidak ada cukup ikan yang
dapat ditangkap. Hal ini mengakibatkan penangkapan ikan dilakukan dengan cara
yang illegal (bom, penggunaan potas atau listrik). Biasanya terjadi pada daerah
yang populasi penduduknya padat, semakin meningkat populasi manusia maka
usaha penangkapan dilakukan lebih tinggi intensitasnya (Fisheries Component,
2001).
Untuk menanggulangi dan mengurangi dampak terjadinya overfishing maka
ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Langkah- langkah tersebut adalah
dengan menurunkan aktivitas usaha penangkapan, pembuatan aturan pengelolaan
10
perikanan dan mengkombinasikan antara kebijakan pasar dengan pengelolaan
perikanan yang berkelanjutan. Penurunan aktivitas usaha penangkapan dilakukan
ketika akan melakukan rehabilitasi stok ikan tertentu yang telah mengalami
overfishing di suatu perairan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan jumlah ikan
yang dewasa sehingga meningkatkan populasi/stok ikan di suatu perairan dan
mengembalikannya pada kondisi yang normal/seimbang. Pembuatan aturan
pengelolaan usaha perikanan dilakukan dengan tujuan untuk membangun kembali
populasi ikan yang overfishing sekaligus memperbaiki kondis i lingkungan
perairan habitat tempat ikan itu hidup. Aturan yang dapat diterapkan misalnya
dengan melakukan penutupan daerah penangkapan ikan dan selektivitas alat
tangkap. Penggunaan alat tangkap yang selektif adalah dengan menggunakan alat
tangkap yang dapat menangkap ikan pada ukuran yang lebih besar sehingga
meningkatkan nilai keberlanjutan populasi ikan. Selektivitas alat tangkap dapat
dilakukan dengan meningkatkan ukuran mata jaring, dan penerapan alat yang
memungkinkan keluarnya ikan kecil yang tertangkap oleh jaring. Penutupan
daerah penangkapan dilakukan berkaitan dengan dibatasinya usaha penangkapan
di suatu daerah atau wilayah tempat terjadinya pemijahan ikan di suatu daerah. Ini
dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada ikan dewasa dalam melakukan
pemijahan dan memberikan kesempatan hidup kepada ikan yang kecil sehingga
rekruitmen terhadap populasi ikan akan bertambah. Hal lain yang dapat dilakukan
untuk mengurangi dampak dari overfishing adalah dengan mengkombinasikan
antara kebijakan pasar dengan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Dimana
kontrol/penerimaan pasar terhadap usaha perdagangan ikan hanya dilakukan
berdasarkan pada ukuran/jenis ikan tertentu yang sesuai dengan ukuran minimal
ikan yang dapat menjamin populasi ikan pada kondisi yang berkelanjutan
(Wallace dan Fletcher, 1996).
Ikan Lemuru di Siberut
Saat ini potensi perikanan secara umum di perairan pantai Pulau Siberut
masih baik, nelayan masih mudah untuk mendapatkan ikan hanya dengan
menggunakan peralatan tradisional. Masyarakat di Pulau Siberut menyebut ikan
lemuru sebagai ikan tamban. Terdapat tiga jenis tamban yang dikenal oleh
11
masyarakat Siberut yaitu tamban duyung (Gambar 1.), tamban keru dan tamban
bakau (Gambar 3.). Tamban duyung terdapat di perairan pantai yang agak dalam,
tamban bakau terdapat di sekitar hutan bakau di tepi pantai dan tamban keru
ditangkap di sekitar muara sungai. Tamban bakau dan keru ditangkap oleh
nelayan setempat pada sore hari atau pagi hari dengan menggunakan jaring
insang. Ikan tamban duyung memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan
dengan tamban keru dan tamban bakau. Selain karena ukurannya relatif lebih
besar juga rasanya lebih enak, tetapi untuk nelayan pemancing biasanya
menggunakan umpan tamban keru atau tamban bakau dibandingkan dengan
tamban duyung karena dagingnya relatif lebih tahan di dalam air.
Nelayan di perairan pantai Siberut biasanya menangkap ikan tamban
duyung (Sardinella lemuru) saat malam hari dengan mempergunakan jala insang
(Gill Net) yang dihanyutkan atau dengan mempergunakan perahu bagan yang
menggunakan jaring angkat (Lift Net) yang dibantu dengan cahaya lampu.
Nelayan yang mempergunakan jaring insang untuk menangkap ikan lemuru
biasanya me nggunakan sampan dengan mesin di bawah 15 PK atau dayung dan
dioperasionalkan tidak lebih dari 2 orang. Daerah penangkapan nelayan ini hanya
terbatas di sekitar pantai. Biasanya nelayan ini mencari gerombolan ikan yang
kemudian menghanyutkan/memasang jaringnya memutari kelompok ikan ini
Gambar 3.
Jenis lain ikan tamban (keru dan bakau) yang tertangkap oleh
nelayan di P. Siberut
Nelayan yang menggunakan perahu bagan memiliki kapasitas kapal yang
cukup besar, biasanya awak kapalnya sekitar 5 orang. Untuk menangkap ikan
12
tamban biasanya digunakan cahaya lampu neon untuk menarik ikan- ikan
berkumpul, setelah ikan terkumpul lampu bagan mulai dimatikan satu persatu
hingga kelompok ikan mengumpul tepat dibawah jaring, kemudian jaring
diangkat ketika jumlah ikan yang mengumpul cukup banyak. Perahu bagan daerah
tangkapannya lebih luas jauh dari pantai dan hanya menetap di satu tempat.
Aktivitas penangkapan ikan oleh kebanyakan nelayan di Siberut biasanya
dilakukan di mulut Teluk Saibi Sarabua yang menghadap ke perairan laut bebas.
Di wilayah ini terdapat satu pulau yang cukup besar yang dinamakan Pulau Bugei
yang memiliki gugusan terumbu karang dan rumput laut serta lamun.
Penangkapan ikan biasanya dilakukan pada malam hari saat matahari mulai
terbenam sampai pagi hari atau dilanjutkan sampai tengah hari, tetapi tergantung
pada keadaan bulan saat itu atau kemunculan kelompok ikan. Nelayan tidak
secara khusus melaut untuk mendapatkan ikan tamban karena tergantung pada
musim dan kemunculan kelompok ikan ini.
Perkembangan Gonad
Perkembangan gonad ikan sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan ikan
sehingga faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan juga
berpengaruh pada perkembangan gonad. Ada dua tahapan perkembangan gonad
yaitu tahap perkembangan gonad ikan menjadi dewasa kelamin (sexually mature)
dan tahapan pematangan gamet (gamet maturation). Pada hewan vertebrata
termasuk ikan, saat terjadinya kematangan gonad adalah merupakan periode
dimana ikan yang muda memiliki kemampuan untuk melakukan reproduksi. Hal
ini terjadi dengan teraktivasinya axis hipotalamus- pituitary- gonad (Amer dkk.,
2001).
Mekanisme pengaturan hormon dalam tahapan gametogenesis pada ikan
diatur oleh hormon Pituitary Gonadotropin (GtH) dan steroid hormon dari gonad.
Kedua hormon tersebut mengatur proses perkembangan gonad dan proses
pematangan gonad. Mekanisme kerja dari hormon tersebut diatur/dipicu oleh
keadaan lingkungan (suhu, cahaya matahari) yang memberikan sinyal lingkungan
kepada sistem syaraf untuk memulai proses pematangan dari gonad. Adanya
sinya l lingkungan tersebut maka efeknya adalah hypotalamus mengeluarkan
13
gonadotropin releasing hormon (GnRH) yang dapat menstimulasi keluarnya
hormon Pituitary Gonadotropin (GtH). Pada ikan struktur dari GtH ada dua
bentuk yaitu GtH I dan GtH 2 dimana memiliki kesamaan struktur dengan FSH
(Folikel Stimulating Hormon) dan LH (Luteinising Hormon) pada mamalia.
Hormon GtH I berperan dalam proses spermatogenesis dan vitelogenesis pada
ikan sedangkan GtH II berperan dalam proses pematangan oosit/spermatid dan
proses ovulasi (Collins dkk., 2001).
Pada saat proses perkembangan dan pematangan gonad ikan maka sebagian
besar energi pertumbuhan akan dialihkan dari perkembangan sel somatis menjadi
pertumbuhan sel gamet. Sehingga pada saat ikan sudah matang gonad bobot
gonad pada ikan betina beratnya dapat mencapai 10-25% dari berat tubuhnya
sedangkan pada ikan jantan antara 5-10% dari berat tubuhnya (Effendi, 1979).
Secara kuantitatif tingkat perkembangan gonad ini dapat dihitung dengan
mengunakan Gonadal Somatic Index (GSI). Semakin tinggi perkembangan gonad
maka perbandingan antara berat tubuh dan gonad semakin besar yang
diperlihatkan dengan nilai GSI yang besar, semakin besar nilai GSI maka dapat
dijadikan indikator semakin dekatnya waktu pemijahan.
Pengaturan sex kelamin pada hewan mama lia dan sebagian besar ikan
ditentukan oleh faktor genetik. Adanya kromosom Y merupakan faktor penyebab
berkembangnya testis, bila tidak ada kromosom Y maka gonad akan berkembang
menjadi ovarium. Sperma secara umum merupakan sel heterozigotik (XY) yang
merupakan pasangan genotip yang berbeda sedangkan telur merupakan sel
homozigotik (XX). Kromosom yang menentukan dalam pembentukan sex dari
keturunan yang dihasilkan ditentukan oleh kromosom dari sperma (Y). Bila
kromosom- X dari sperma yang bertemu dengan kromosom-X dari telur maka
keturunan yang dihasilkan adalah betina, bila yang bertemu adalah kromosom-Y
maka keturunannya adalah jantan (Viveiros dkk., 2001).
Perkembangan Testis
Testis adalah organ tempat terjadinya proses produksi spermatozoa. Pada
ikan golongan teleost, testis terdiri dari sepasang organ yang terletak pada bagian
bawah dari gelembung renang di bagian atas dari usus dan ada di belakang ginjal.
14
Pada induk jantan yang matang anterior testisnya berisi ¾ volume dari sperma.
Pada bagian belakang dari masing- masing testis terbentuk saluran sperma yang
menuju bagian genital papila. Testis terdiri dari seminiferous tubules dan aliran
darah. Pada Teleost ada dua tipe dasar struktur testis yaitu tipe lobular dan tipe
tubular (Nagahama,1983).
Testis terdiri dari banyak lobul yang saling terpisah oleh jaringan
penghubung. Pada tiap lobul diselimuti oleh tunica albuginea dengan lapisan otot
yang halus. Leydig sel tersebar pada lapisan tubulus seminiferus yang merupakan
sel yang memproduksi hormon androgen yang merangsang pertumbuhan karakter
seksual sekunder dan melepaskan spermatozoa pada saat musim pemijahan. Sel
sertoli terletak antara sel spermatogenik dalam tubulus seminiferus yang
merupakan suplai nutrien bagi sperma..
Perkembangan sel dalam testis tidak mengalami perubahan yang berarti,
saat terjadi proses spematogenesis tidak memperlihatkan perubahan yang nyata
dibandingkan pada proses oogenesis di ovarium. Saat spematogenesis sel dalam
testis hanya mengalami perubahan dari bentuk dari sel spermatogonia menjadi
spermatozoa. Peningkatan volume terjadi di dalam testis saat proses pematangan
sel yang berhubungan dengan tubulus seminiferus yang berisi spermatozoa yang
densitasnya meningkat dan biasanya terjadi saat mendekati musim pemijahan.
Spermatogenesis
terbagi
menjadi
dua
tahapan
proses
yaitu
spermatositogenesis dan spermiogenesis. Proses ini terjadi di sepanjang tubulus
dengan berbagai macam tahapan perkembangan. Spermatogenesis terjadi di
lobular atau tubular dalam kista yang berisi sel primer spermatogonia. Kista
tersebut dibentuk oleh sel somatik sertoli yang menempel pada sel primer
spermatogonia. Ketika proses spermatogenesis berkembang, kista membesar dan
akhirnya luluh melepaskan sperma pada lobular lumen dan bergerak ke kantung
sperma. Tahap yang berbeda pada proses spermatogenesis ditentukan dari
karakter struktural dari germ cell dan keadaan inti selnya. Spermatogonia primer
melakukan pembelahan mitosis untuk membentuk spermatogonia sekunder yang
berbentuk sel kista. Spermatogonia sekunder kemudian membentuk spermatosit
primer yang kemudian melakukan pembelahan miosis I untuk membentuk
spermatosit sekunder. Pada tahapan ini terjadi proses spermatositogenesis.
15
Spermatid yang terbentuk dari spermatosit sekunder melalui pembelahan miosis II
kemudian berkembang menjadi spermatozoa melalui proses spermiogenesis. Saat
proses spermiogenesis ini tidak terjadi pembelahan sel hanya terjadi perubahan
struktur sperma sehingga menjadi bagian kepala, leher dan ekor. Pada akhir
spermiogenesis, sel kista luluh dan melepaskan spermatozoa pada lumen lobul
dalam testis (Billard, 1992).
Proses spermatogenesis diatur oleh hormon gonadotropin dan hormon testis
(androgen). Gonadotropin menstimulasi pembentukan androgen oleh Leydig sel
dan kemudian mengkontrol proses spermatogenesis dan spermiasi. Pada
kebanyakan spesies teleost jenis steroid androgennya adalah 11-ketotestosterone,
saat spermatogene sis jumlah hormon androgen ini meningkat sampai pada tahap
akhir proses spermatogenesis dan proses pemijahan (Amer dkk., 2001). Di dalam
testis dan salurannya (seminal vesicle) juga terdapat jenis hormon steroid lain
yang dapat membantu proses pemijahan terjadi yaitu jenis hormon steroid
glucuronides. Hormon ini berperan sebagai sex pheromon yang dapat
menstimulasi
perkembangan
ovarium
pada
ikan
betina,
meningkatkan
responsifitas pemijahan dan membantu terjadinya ovulasi saat terjadinya
pemijahan (Viveiros dkk., 2001)
Perkembangan Ovarium
Pada ikan dewasa, ovarium secara umum berjumlah sepasang
yang
menempel pada rongga tubuh (body cavity). Oosit yang berkembang terletak di
tengah dalam lapisan folikel yang dilindungi oleh suatu lapisan sel yang
memproduksi steroid. Lapisan folikel terdiri dari lapisan dalam yaitu lapisan
granulose dan lapisan luar yang disebut dengan sel theca. Lapisan theca dan sel
granulose dipisahkan oleh membran sel. Di antara lapisan luar oosit dan sel
granulose dipisahkan oleh lapisan yang disebut dengan zona radiata atau lapisan
telur. Selama perkembangan telur, lapisan protein zona radiata dihasilkan dari
plasma darah dan disimpan pada lapisan ini. Saat yang sama maka oosit diisi oleh
protein kuning telur (lipovitellin, phosvitin) yang diturunkan dari vitelogenin
(Vtg). Kedua protein telur yaitu protein zona radiata dan protein vitelogenin
merupakan protein yang penting dalam pembentukan kematangan telur, kedua
16
protein ini disintesa di liver dengan pengaturan dari endokrin melalui axis
hypothalamus-pituitary- gonad- liver (Arukwe dkk., 2003).
Ikan rata-rata memiliki ukuran dan jumlah telur yang besar bila
dibandingkan dengan hewan lain. Hal ini berkaitan dengan strategi ikan dalam
menjaga kelangsungan hidup generasi selanjutnya. Proses pembentukan,
perkembangan dan maturasi dari gamet betina yang disebut sebagai proses
oogenesis merupakan suatu proses yang berkaitan dengan sistem hormon dalam
tubuh yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perkembangan
oosit dalam
ovarium melewati beberapa tahapan, secara umum dalam kelompok ikan teleost
ada 4 tahapan yaitu perkembangan sel primer, cortical alveoli atau pembentukan
kuning telur, proses vitelogenesis dan pematangan.
Oosit dalam tahapan
perkembangan sel primer tidak mengandung kuning telur. Pada tahapan Cortical
alveoli ditandai dengan pembentukan protein telur dalam sitoplasma yang
menandai akan berkembanganya telur pada tahap selanjutnya. Dengan
berkembangan oosit maka cortical alveoli akan berkembang dalam bentuk dan
ukuran dengan melepaskan isinya dalam membran perivitelin di dalam membran
telur selama proses pembentukan telur. Pada ikan yang memiliki lipid globule
juga akan terkumpul pada tahapan ini dalam sitoplasma.
Tahapan vitelogenesis ditandai dengan adanya kuning telur dalam
sitoplasma oosit. Oosit berkembang akibat adanya akumulasi kuning telur dalam
sitoplasma. Vitelogenesis akan berkembang secara penuh dan kemudian
mengalami maturasi dan ovulasi karena adanya pengaruh hormonal. Tahapan
pematangan telur ditandai dengan migrasinya inti sel ke daerah lubang mikrofil
(animal pole). Ketika nukleus telah bermigrasi maka tahapan pembelahan meiotik
pertama terjadi. Tahapan hidrasi akan terjadi saat pematangan akhir ketika
mendekati proses ovulasi yang terjadi dengan adanya uptake cairan oleh oosit.
Setelah terjadi ovulasi maka selanjutnya akan terjadi proses pembelahan meiotik
kedua dan oosit telah menjadi telur secara sempurna dan siap untuk dibuahi
(Murua dan Kraus, 2003).
Secara histologis perkembangan telur mengalami beberapa tahapan yaitu:
1.
Fase previtelogenik dimana pertumbuhan telur berjalan lambat dengan
hanya terjadi sedikit perubahan sitoplasma. Nukleus yang mengandung satu
17
nukleolus
kemudian
berkembang
dan
terbentuk
ribonuklear
yang
mengandung inti dari telur (Balbiani’s vitelline body).
2.
Fase vitelogenik ditandai dengan pertumbuan yang cepat dan terjadinya
penyimpanan sebagian besar kuning telur dalam ooplasma. Saat akhir proses
vitelogenik atau saat awal dari maturasi akhir, germinal vesicle (nukleus)
yang saat awal berada di tengah bergerak ke arah tepi mendekati mikrofil.
Tabel 2.
Beberapa strategi reproduksi pada spesies ikan laut ( Murua dan
Sabarido, 2003).
STRATEGI REPRODUKSI
I. Jumlah Pemijahan
a. Semelparous (memijah sekali kemudian mati)
b. Itoroparous (pemijahan lebih dari satu kali)
II. Tipe Pemijahan
a. Total spawner (telur diovulasi seluruhnya pada
saat musim pemijahan)
b.Partial spawner (telur diovulasi bertahap dalam
satu musim pemijahan)
III.Sistem perkawinan
a.Promiscus (kedua jenis bersamaan dalam satu
musim pemijahan/massal)
b.Polygamus (1 jantan untuk beberapa betina)
IV. Sistem Sex
a.Gonochoristic (tidak pernah berubah sex)
b.Hermaphrodit (sex berubah saat matang gonad)
V. Tempat Pemijahan
a.Tidak ada persiapan
b.Ada persiapan (pembuatan sarang)
VI.Tempat terjadinya
Fertilisasi
VII. Perkembangan Embrio
a.External (di luar tubuh ikan)
b.Internal (di dalam tubuh ikan
a.Ovipar (berkembang di luar tubuh induk)
b.Vivipar (berkembang dalam tubuh induk)
VIII. Parental Care
a.Non parental care (tidak ada penjagaan
telur/embrio/larva oleh induk)
b.Parental care (ada penjagaan telur oleh induk)
Pada spesies ikan jumlah oosit (fekunditas), perkembangan oosit dan tipe
pemijahan yang berbeda-beda antar spesies merupakan strategi reproduksi yang
18
dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan gen. Tiap spesies ikan memiliki strategi
reproduksi yang berbeda-beda (Tabel 2.). Hal ini sangat berhubungan dengan
sistem pemijahan, jumlah partner, habitat dan waktu pemijahan. Strategi
reproduksi yang dilakukan oleh ikan tujuannya adalah untuk memaksimalkan
kelangsungan hidup dari keturunannya yang berhubungan dengan ketersediaan
energi dan umur dari induknya.
Pada kebanyakan spesies ikan yang hidup di laut jenis strategi yang
dikembangkan meliputi tipe pemijahan iteroparous dimana pemijahan dilakukan
lebih dari satu kali ovulasi, gonochoristic yang mengambarkan bahwa antara ikan
jantan dan betina terpisah organ kelaminnya dan proses terjadinya pemijahan di
luar tubuh induknya tanpa adanya penjagaan oleh induk (parental care).
Berdasarkan pada perkembangan diameter telur maka ada beberapa jenis
tipe perkembangan oosit pada ikan, yaitu: (Murua dan Kraus, 2003)
1.
Tipe perkembangan synchronous, semua oosit berkembang dan terovulasi
pada saat yang sama. Biasanya terjadi pada ikan yang memijah satu kali
kemudian mati, contohnya terjadi pada ikan Salmon dan Sidat. Frekuensi
diameter oosit ditandai dengan kurva satu puncak (single bell curve).
2.
Tipe perkembangan
group-synchronous, ditandai dengan adanya dua
populasi oosit pada satu waktu. Satu populasi ukuran oositnya lebih besar
dan homogen dan populasi yang kedua ukurannya lebih lebih heterogen.
Populasi telur dengan diameter yang terbesar akan diovulasi pada saat
musim pemijahan, sedangkan populasinya akan diovulasi pada musim
pemijahan selanjutnya dalam rentang waktu yang cukup lama. Biasanya
terjadi pada ikan yang musim pemijahannya pendek.
3.
Tipe perkembangan asynchronous, oosit dari setiap tahap perkembangan
dan berbagai ukuran diameter ada dalam telur dan tidak ditandai dengan
populasi yang dominan. Ketika proses pematangan terjadi maka akan
tampak adanya perbedaan ukuran diameter telur terutama telur tahap hidrasi
dan pengumpulan kuning telur. Biasanya terjadi pada spesies yang memiliki
musim pemijahan relatif panjang/berlanjut dan proses pematangan dan
ovulasi sangat dipengaruhi oleh ketersediaan makanan di perairan.
19
Keadaan Umum P. Siberut
Pulau Siberut terletak pada 0°80’-2°00’ lintang selatan dan 98°60’-99°40’
lintang timur dengan luas keseluruhan 4.030 km². Pulau ini terletak 150 km dari
pantai barat pulau Sumatera dan terletak di Samudera Hindia yang dipisahkan
oleh Selat Mentawai. Pulau Siberut merupakan pulau terbesar dari gugusan
Kepulauan Mentawai yang masih memiliki potensi flora dan fauna yang masih
baik dibandingkan pulau lainnya. Pulau ini memiliki iklim yang panas dan lembab
dengan temperatur berkisar antara 220 C-310C dan kelembaban sekitar 81-85%.
Sementara kecepatan angin rata-rata 24-34 km per detik dan jumlah sinar matahari
tahunan sebanyak 1290 jam per tahun. Perbedaan musim diakibatkan oleh
monsoon dan perubahan iklim inter-tropikal. Curah hujan yang tinggi terjadi pada
bulan April dan September dengan curah hujan sebesar 643 mm sedangkan curah
hujan yang rendah terjadi pada bulan Juni dengan curah hujan sekitar 111 mm
(LIPI, 1995). Topografi Pulau Siberut memiliki bentuk yang berbeda pada kedua
sisi pantainya. Di bagian pantai timur yang menghadap Pulau Sumatera garis
pantainya tidak beraturan dengan arus/gelombang laut yang tidak terlalu besar
walaupun terkadang mengalami badai dan gelombang yang cukup besar. Di pantai
timur ini banyak terdapat teluk, gugusan terumbu karang dan hampir seluruh
pantai timur ditutupi juga oleh hutan bakau yang luas, sedangkan di bagian pantai
barat yang menghadap Samudera Hindia memiliki gelombang dan arus laut yang
besar, sehingga terbentuk garis pantai yang relatif lurus dengan dinding batu yang
terjal atau pantai yang luas serta sedikit sekali terdapat hutan bakau (WWF, 1980).
Salah satu teluk yang terdapat di bagian timur Pulau Siberut adalah Teluk
Saibi Sarabua yang merupakan bagian dari Kecamatan Siberut Selatan. Perairan
Teluk Saibi termasuk pada bagian dari perairan laut Selat Mentawai. Selat ini
memiliki kedalaman laut sekitar 1,5 km yang terkadang keadaan angin dan
arusnya cukup besar. Luas kawasan teluk ini sekitar 1851 ha dengan dasar
perairan berupa lumpur dengan sedikit patahan karang mati serta patahan ranting
dan buah dari vegetasi bakau. Berdasarkan penelitian Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perikanan Universitas Bung Hatta (1999) kondisi hutan bakau di
Teluk Saibi Sarabua masih cukup baik dengan luas sekitar 698 ha dengan
ketebalan 130 sampai 310 meter dengan tumbuhan dominan Rhizopora
20
mucronata dan Rhozopora apiculata. Spesies plankton yang banyak ditemukan
antara lain dari kelompok diatom, larva crustacea, Cyanophyceae dan
Dinoflagellata.
Di kawasan Teluk Saibi Sarabua juga terdapat koloni terumbu karang jenis
Acrapora, Montipora, Pavona, dan Porites. Rumput laut juga terdapat di perairan
ini terdiri dari tiga kelas yaitu Chlorophyceae (alga hijau) spesies Caulerpa
cupressiodes, Halimeda sp, Bornitella nitida. Kelas Phaeophyceae (alga coklat)
spesies Padina australis dan kelas Phodophyceae (alga merah) spesies Gracilaria
eucheumiodes dan Eucheuma serr.
Tabel 3. Parameter kualitas air di perairan P. Siberut (Puslit Bung Hatta (1999)
Parameter
Stasiun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
DO (ppm)
7,4
7,8
8,2
8,4
7,1
8,2
8,4
7,6
8,2
CO2 (ppm)
2,6
4,4
2,6
2,6
4,4
4,4
1,76
2,6
1,76
pH (unit)
7.5
7.4
7.7
7.7
7.6
7.6
7.7
7.5
7.8
Salinitas (ppt)
32
32
33
34
33
33
33
32
34
Suhu (0 C)
28
30
30
31
29
30
30
29
31
Transparansi(m)
7
7
7.5
8
7
8
8
7
10
Pospat (ppm)
0.45 0.8
0.45
0.35
0.45
0.45
0.45
0.7
2.3
Nitrat (ppm)
6.73
6.34
0.09
7.57
14.2
1.75
0.09
2.58
8.8
Bila dilihat dari parameter pengukuran lingkungan (Tabel 3.) maka dapat
dikatakan bahwa kondisi perairan di Teluk Saibi Sarabua berada pada kondisi
yang normal dan optimal bagi kelangsungan hidup ikan. Batasan kualitas baku air
laut yang dapat digunakan dalam kegiatan pengembangbiakan ikan masingmasing untuk Nitrat, Posfat, DO, CO2, dan pH adalah 0-3 ppm, 0.01-3 ppm, 5-7
ppm, 0-10 ppm dan 6-8 (Swan, 1997). Walaupun salinitas berada pada kisaran
yang cukup tinggi akan tetapi masih pada batas kondisi yang baik, walaupun
terjadinya proses pemijahan tidak terjadi di sekitar perairan ini karena pemijahan
ikan lemuru biasanya terjadi pada salinitas yang rendah (Merta, 1992).
21
Parameter Lingkungan
Oksigen
Oksigen merupakan parameter lingkungan yang paling penting bagi
organisme yang hidup di suatu perairan. Organisme perairan memanfaatkan
oksigen dalam bentuk oksigen yang terlarut dalam air.
Kadar oksigen terlarut
yang rendah atau terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisiologi
pada ikan yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. Konsentrasi oksigen
di perairan berada pada kondisi yang baik bila kandungannya berada pada kisaran
6-8 ppm, pada kondisi oksigen yang kurang dari 3 ppm dapat menyebabkan
kematian pada ikan. Jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh ikan tergantung pada
ukuran ikan, feeding rate, aktivitas ikan dan suhu perairan. Ikan yang kecil (larva)
mengkonsumsi oksigen lebih banyak dibandingkan dengan ikan yang lebih besar
karena tingkat metabolisme larva ikan lebih tinggi (Swan, 1997).
Organisme perairan termasuk ikan menggunakan oksigen terlaruh (O 2 ) yang
masuk ke dalam air melalui proses fotosintesis dan atmosfer. Oksigen dari
atmosfer masuk ke dalam perairan melalui proses difusi, dimana molekul gas
oksigen masuk ke dalam air akibat dari tekanan udara. Alga, plankton dan
tumbuhan air menyediakan oksigen terlarut dalam air melalui proses fotosintesis..
Tumbuhan air tersebut menggunakan cahaya ma tahari dan karbondioksida untuk
menghasilkan energi untuk proses pertumbuhan dan kemudian melepaskan
oksigen dalam perairan. Proses fotosintesis dipengaruhi oleh cahaya matahari
yang masuk ke dalam perairan. Kemampuan cahaya matahari untuk menembus
perairan sangat ditentukan oleh kecerahan badan air tersebut. Turbiditas adalah
suatu nilai yang dapat digunakan untuk mengetahui berapa banyak cahaya
matahari yang dapat menembus lapisan air. Pada suatu perairan yang memiliki
nilai turbiditas yang tinggi memyebabkan kemampuan cahaya matahari untuk
masuk ke dalam air menjadi rendah. Akibatnya proses fotosintesis yang dilakukan
oleh plankton menjadi rendah. Nilai turbiditas yang tinggi tersebut dapat
diakibatkan oleh melimpahnya detritus, jasad renik dan tanah yang terlarut dalam
air (suspended soil).
Konsentrasi Dissolve Oxygen (DO) dalam perairan bervariasi berdasarkan
waktu yang dipengaruhi oleh faktor fisika, biologi dan kimia perairan. Faktor fisik
22
yang mengatur DO adalah suhu, tekanan atmosfer dan salinitas. Ketika suhu dan
salinitas meningkat kemudian tekanan atmosfer menurun maka DO akan
menurun. Ketika suhu perairan meningkat satu derajat celsius maka akan
menurunkan oksigen terlarut sekitar 10%. Pada perairan yang memiliki suhu lebih
tinggi memiliki kandungan oksigen yang lebih rendah dibandingkan dengan
dengan perairan yang suhunya lebih rendah. Bila dihubungan dengan ketinggian
daerah (altitude) maka pada daerah yang lebih tinggi kandungan oksigen dalam
perairan menjadi lebih rendah. Faktor biologi yang mengatur DO adalah dengan
adanya tumbuhan perairan (plankton) yang melakukan proses fotosintesis dan
tumbuhan serta hewan yang melakukan proses respirasi sehingga ketersediaan
oksigen dalam perairan dipengaruhi oleh intensitas cahaya, dan aktivitas dari
organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Michael, 1997).
Pada konsentasi DO yang rendah dibawah 3 ppm (hypoxia) secara langsung
dapat menyebabkan terjadinya gangguan gametogenesis pada ikan. Gangguan
terjadi pada sistem kerja hormon gonad yang tidak bekerja akibat terjadinya
perubahan kondisi lingkungan perairan. Sistem kerja hormon sangat dipengaruhi
oleh kondisi oksigen terlarut sehingga merupakan stressor utama yang mengatur
sistem kerja dari hormon selain itu juga dipengaruhi oleh panas dan luasan dari
habitat ikan itu sendiri. Perubahan konsentrasi DO di suatu perairan dapat
disebabkan oleh proses eutrofikasi yang disatu sisi memberikan suplai nutrisi bagi
plankton tetapi disisi lain menyebabkan perubahan kondisi lingkungan perairan
berupa penurunan DO. Penelitian yang dilakukan pada ikan mas dengan
menempatkannya pada tempat yang memiliki DO 1 mg/L selama dua bulan
menyebabkan hormon estradiol dan testosteron me nurun sebanyak 20%
dibandingan dengan ikan yang ditempatkan pada kondisi normal (DO 7 mg/L).
Gonadal somatic indeks juga mengalami penurunan 50% pada ikan jantan dan
30% pada ikan betina. Demikian juga terjadi gangguan pada perkembangan
sperma dan telur. Telur yang berasal dari induk yang hidup di perairan yang
kurang oksigen memiliki kandungan kuning telur yang lebih sedikit dan
spermanya mengalami penurunan motilitas (Janssen, 2005).
23
Suhu
Suhu merupakan faktor fisik kedua yang penting setelah oksigen. Suhu
mengatur pertumbuhan, reproduksi dan kelangsungan hidup ikan. Setiap spesies
memiliki batasan optimal suhu untuk melakukan pertumbuhan, pada kisaran suhu
yang berfluktuasi terlalu tinggi dapat menyebabkan terjadinya gangguan fisiologis
pada ikan yang dapat menyebabkan kerentanan terhadap penyakit bahkan
kematian.
Suhu perairan mengatur proses metabolisme dari organisme yang hidup di
dalamnya terutama ikan. Hal ini terkait dengan ikan yang merupakan hewan
berdarah dingin dimana proses metabolisme dipengaruhi oleh suhu perairan. Pada
ikan yang hidup di perairan dingin maka proses metabolisme berjalan lebih
lambat dibandingkan dengan ikan yang hidup di perairan yang lebih panas.
Akibatnya proses pertumbuhan dan perkembangan ikan yang hidup di perairan
yang dingin berjalan lebih lambat. Suhu juga dapat menjadi faktor pemicu
terjadinya pemijahan pada ikan akibat teraktivasinya hormon dalam tubuh ikan.
Penentuan tingkat kelarutan gas dalam air juga dipengaruhi oleh suhu dimana
pada suhu yang lebih dingin maka kelarutan gas dalam air akan lebih tinggi.
Suhu perairan dipengaruhi oleh panas yang berasal dari cahaya matahari dan
suhu udara yang ada di sekitar perairan. Suhu perairan lebih stabil dibandingkan
dengan suhu udara, dimana panas lebih lama tertahan dalam air dibandingkan
dengan udara. Densitas air sangat dipengaruhi oleh suhu, dimana pada suhu 40 C
densitas air berada pada nilai maksimum. Pada suhu diatas atau dibawah 40 C
maka densitas air akan berkurang, hal ini menyebabkan di suatu perairan terjadi
stratifikasi suhu.
Di permukaan air saat keadaan cuaca normal suhunya lebih
tinggi dibandingkan denga n suhu di dasar perairan. Adanya stratifikasi suhu
memungkinkan terjadinya proses penggabungan antara dua lapisan perairan.
Peristiwa terjadinya penggabungan/mixing antara lapisan atas dan lapisan bawah
dari suatu perairan disebut dengan peristiwa turn over (pada danau) dan up
welling (di laut).
Peristiwa turnover dan upwelling terjadi karena adanya perubahan suhu
yang cepat di permukaan air yang diakibatkan oleh angin atau hujan sehingga
permukaan air menjadi lebih dingin dibandingkan dengan dasar perairan. Pada
24
kondisi suhu yang dingin maka
kepadatan/densitas air menjadi lebih berat
dibandingkan dengan densitas lapisan air yang ada di dasar perairan. Akibatnya
maka terjadi pergerakan lapisan perairan, lapisan permukaan bergerak ke
bawah/dasar perairan dan air di dasar perairan menuju ke permukaan air (Florida
Lakewatch, 2004).
Akibat dari hal tersebut maka ada beberapa kondisi yang terjadi:
1.
Lapisan dasar perairan yang bergerak ke arah permukaan memiliki
kandungan oksigen terlarut yang kecil. Di perairan danau hal ini dapat
menyebabkan terjadi kematian ikan secara massal akibat dari berubahnya
kandungan oksigen terlarut pada seluruh lapisan permukaan air. Saat terjadi
turn over lapisan dasar perairan juga membawa suspended solid yang
banyak mengandung bahan-bahan non organik yang berbahaya bagi mahluk
hidup di suatu perairan.
2.
Di laut peristiwa terjadi up welling merupakan faktor yang penting bagi
ikan, dimana proses terjadinya up welling memberikan kesuburan bagi
kondisi perairan. Hal ini terjadi karena dasar perairan yang naik menuju
permukaan banyak membawa zat-zat organik yang merupakan bahan yang
dibutuhkan dalam proses fotosintesis oleh plankton. Sehingga pada kondisi
up welling di laut secara langsung juga terjadi peningkatan densitas dari
plankton. Berbeda dengan di perairan danau karena luasan perairan lebih
luas maka proses up welling tidak menyebabkan kematian massal pada ikan.
pH (Derajat Keasaman)
Adalah ukuran keasaman yang terdapat dalam air. Jumlah ion hidrogen (H+)
dalam air akan menentukan apakah air tersebut asam atau basa. Nilai kisaran pH
adalah antara 1 hingga 14. Pada kondisi pH yang normal nilainya adalah 7, pada
kondisi yang asam nilainya dibawah 7 dan kondisi yang basa nilainnya diatas 7.
Kondisi pH yang baik untuk perkembangan ikan antara 6.5 hingga 9. Tingkat pH
dalam air berfluktuasi dipengaruhi oleh perolehan dan pengeluaran CO2 selama
proses fotosintesis dan respirasi. Tingkat keasaman (pH) perairan akan sangat
rendah saat sore hari dan akan tinggi saat tengah hari.
25
Pada kondisi asam (pH 4) merupakan kondisi letal bagi ikan. Pada kondisi
tersebut menyebabkan ikan melakukan proses pengaturan kesetimbangan asam
dalam tubuhnya agar tubuh tetap pada kondisi pH yang normal. Keseimbangan
yang dilakukan oleh ikan adalah dengan mengambil ion bikarbonat (HCO3 ) dari
perairan oleh sel klorida yang ada pada sel insang sehingga ion hidrogen
ternetralisir. Akibatnya pada proses tersebut maka tubuh ikan menjadi kehilangan
ion sodium (Na+) dan Clorida (Cl- ) dan tekanan osmotik dari plasma tubuh juga
menurun sehingga bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan kematian pada
ikan (Ikuta dkk., 2000).
Kerusakan sel yang terjadi pada ikan yang matang gonad ketika kondisi
perairan berada pada kondisi asam adalah terjadinya malformasi dari embrio yang
dihasilkan. Pada level hormon juga terjadi abnormalitas ketika ikan matang gonad
hidup di perairan yang pH nya rendah. Hal ini terkait dengan terganggunya proses
sistem syaraf endokrin pada saat terjadi proses reproduksi.
Beberapa hal yang terjadi pada ikan salmon yang hidup di perairan yang
asam adalah sebagai berikut : (Edward dkk, 2005)
1.
Pada kondis perairan yang pH-nya 6 maka akan terjadi penuruna n proses
terjadinya migrasi, terganggunya pola pemijahan, fungsi kelenjar thyroid
ikan, feeding behaviour dan tingkat pertumbuhan dari ikan.
2.
Pada kondisi sub- letal (pH 5) menyebabkan terjadinya kegagalan dalam
proses ketahanan terhadap penyakit dan reproduksi akibat berubahnya
mekanisme fisiologis ikan dari system hormon. Pada ikan yang dewasa juga
menyebabkan terjadinya gangguan reproduksi akibat dari terganggunya
beberapa proses vitelogenesis selama proses oogenesis. Vitelogenesis yang
terjadi di liver mekanisme kerjanya distimulasi ole h hormon estrogen.
Ketika hormon estrogen menurun maka proses vitelogenesis juga akan
menurun.
3.
Pada kondisi pH 4 menyebabkan terjadinya proses regulasi kesetimbangan
oleh sel klorida yang ada di insang yang mengakibatkan berubahnya
kesetimbangan dan NaCl yang ada dalam tubuh ikan sehingga dapat
menyebabkan kematian.
Download