1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Kisah sang penakluk wilayah Thespiae di Boetia yang dianugerahi
ketampanan, Narcissus, Narkissos atau Sang Pemuja Diri Sendiri. Beberapa versi
kisah Narcissus salah satunya oleh Ovid dalam 'Echo'. Narcissus yang sedang
berburu kijang di hutan merasa haus dan mengambil air di sebuah sungai, namun
ia tak bisa menyentuh air itu karena takut merusak bayangan yang ada pada
permukaan air. Narcissus meninggal dengan memandangi bayangannya sendiri
dan tumbuhlah bunga Narcissus di tempat ia meninggal.
Namun Pausanias (seorang ahli geografi dan traveller dari Mesir, hidup
pada abad kedua Masehi) menolak kisah seseorang yang tidak mampu
membedakan manusia nyata dan bayangan, menurutnya Narcissus jatuh cinta
pada saudara kembar perempuannya, yang mengenakan pakaian sama dengan
Narcissus ketika berburu di hutan. Ketika saudara kembarnya meninggal,
Narcissus sangat terpukul dan menganggap bayangan yang ia lihat di permukaan
air itu adalah saudara kembarnya.
Terkadang kita memandang narsisme merupakan hal yang biasa dan tidak
perlu mendapatkan penanganan. Hal ini mungkin ada benarnya bila penderita
narsis tersebut belum tergolong ke dalam tingkat yang parah atau belum
mengganggu kenyamanan orang lain. Namun, ada kalanya tanpa disadari
penyimpangan seperti narsis tersebut mengalami perkembangan ke arah yang
lebih buruk, dan dianggap sudah mengganggu baik bagi orang lain maupun bagi si
penderita itu sendiri. Pada saat seperti itulah penderita narsis perlu segera
ditangani dan diatasi.
Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat
emosional dan perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari
dalam kondisi yang biasanya; kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan.
1
Sedangkan gangguan kepribadian adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut
yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat
kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan
fungsional yang bermakna atau penderitaan subjektif maka dimasukkan sebagai
kelas gangguan kepribadian (1997 : 242).
Ketika seorang penderita narsis sudah terjebak dalam pemikiran bahwa
segalanya harus sempurna (perfect) dan semuanya tidak boleh ada yang salah,
maka hal tersebut bisa menimbulkan masalah bagi kehidupan dan lingkungan
sekitarnya. Dampaknya hubungan di sekolah, tempat kerja, atau hubunganhubungan interaksi yang lain menjadi sangat terganggu.
Jika dibiarkan berlarut-larut, hal ini tentu akan membuat si penderita
menjadi tidak bahagia dan semakin bingung dengan segala bentuk emosi yang
berkecamuk dalam dirinya. Orang-orang di sekitar nya pun pastinya tidak akan
merasa bahagia dan nyaman.
Akibat terburuknya bila si penderita dijauhi, maka si penderita akan
merasa kebutuhan interaksinya dengan manusia lain tidak terpenuhi. Pada saat
seperti inilah si penderita narsis perlu mendapatkan pengobatan melalui
penanganan secara psikologis.
Remaja yang masih mencari jati diri biasanya memang mengalami gejalgejala seperti narsisme. Yang menjadi tidak wajar adalah apabila gejala-gejala
narsisme tersebut terus melekat dalam diri sampai dewasa. Hal ini lah yang
nantinya akan berkembang menjadi suatu kelainan kepribadian.
B.
Tujuan Penulisan
Tujuan Umum: Mengidentifikasi Perilaku narsistik
Tujuan khusus:
1.
Menjelaskan definisi narsistik
2.
Menjelaskan penyebab gangguan kepribadian narsistik
2
3.
Menjelaskan pendekatan teori yang berhubungan dengan kasus
narsistik
4.
Menjelaskan tanda dan gejala gangguan kepribadian narsistik
5.
Menjelaskan onset terjadinya perilaku narsistik
6.
Menjelaskan prevalensi terjadinya perilaku narsistik
7.
Menjelaskan terapi terhadap perilaku narsistik
8.
Menjelaskan prevensi terhadap perilaku narsistik
9.
Menganalisa kasus yang berkaitan dengan perilaku narsistik
C. Rumusan Masalah
1.
Apakah definisi narsistik?
2.
Apakah penyebab gangguan kepribadian narsistik?
3.
Bagaimankah pendekatan teori yang berhubungan dengan kasus
narsistik?
4.
Apasajakah tanda dan gejala gangguan kepribadian narsistik?
5.
Bagaimanakah onset terjadinya perilaku narsistik?
6.
Bagaimanakah prevalensi terjadinya perilaku narsistik?
7.
Bagaimanakah terapi terhadap perilaku narsistik?
8.
Bagaimanakah prevensi terhadap perilaku narsistik?
9.
Bagaimanakh contoh analisa kasus yang berkaitan dengan perilaku
narsistik?
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Definisi
Asal Narcissistic Personality Disorder (NPD) sebagai kategori diagnostik
lebih sulit untuk membangun. Ketentuan seperti neurosis narsis, schizophrenia
dan psikosis sering telah digunakan secara bergantian, mencerminkan awal
keterkaitan erat antara narsisme dan penyakit ini. Dalam teorinya tentang narsistik
dan autoerotic regresi. Freud menjelaskan gejala skizofrenia sebagai libidinal
penarikan dari objek dunia dan regresi ke tahap narsistik. Selain itu, pengamatan
bahwa
kemampuan
untuk
mengembangkan
transferensi
klasik
selama psikoanalisis tidak hadir pada pasien didiagnosis dengan narsisistik
neurosis lebih lanjut narsisisme terhubung ke psikosis dan skizofrenia.
Selain itu, narsisisme dikaitkan dengan paranoia dan bunuh diri. Baru
akhir 1960-an adalah istilah struktur kepribadian narsistik, memperkenalkan
oleh Kernberg, dan gangguan kepribadian narsistik, diusulkan oleh Kohut, yang
digunakan untuk menggambarkan fungsi jangka panjang characterological
terorganisir didefinisikan sebagai gangguan kepribadian. Berdasarkan formulasi
ulang radikal teori psikoanalitik dan teknik, baik Kohut dan Kernberg
didefinisikan NPD dari segi struktur patologis-diri, pengembangan transferensi
atipikal dan strategi untuk perawatan psikoanalitik.
Gangguan kepribadian narsissistik (narcissistic personality disorder) atau
cinta pada diri sendiri digambarkan sebagai orang yang memiliki rasa kepentingan
diri yang melambung (gradiositas) dan dipenuhi khayalan-khayalan sukses
bahkan saat prestasi mereka biasa saja, jatuh cinta pada dirinya sendiri karena
merasa mempunyai diri yang unik, selalu mencari pujian dan perhatian, serta tidak
peka
terhadap
kebutuhan
orang
lain,
malahan
justru
seringkali
mengeksplorasinya. (Atkinson dkk., 1992). Dan mereka juga beranggapan bahwa
dirinya spesial dan berharap mendapatkan perlakuan yang khusus pula. Oleh
karena itu, mereka sangat sulit atau tidak dapat menerima kritik dari orang lain.
4
Mereka selalu ingin mengerjakan sesuatu sesuai dengan cara yang sudah
mereka tentukan dan seringkali ambisius serta mencari ketenaran. Sikap mereka
ini mengakibatkan hubungan yang mereka miliki biasanya rentan (mudah pecah)
dan mereka dapat membuat orang lain sangat marah karena penolakan mereka
untuk mengikuti aturan yang telah ada. Mereka juga tidak mampu untuk
menampilkan empati, kalaupun mereka memberikan empati atau simpati,
biasanya mereka memiliki tujuan tertentu untuk kepentingan diri mereka sendiri,
atau dengan kata lain mereka bersifat self-absorbed.
Kaplan dan Saddock (1997) menyebutkan, bahwa orang dengan gangguan
kepribadian narsistik mungkin memiliki perasaan kebesaran akan pentingnya
dirinya. Mereka menganggap dirinya sendiri sebagai orang yang khusus dan
mengharapkan terapi yang khusus. Mereka menanggapi kritik secara buruk dan
mungkin menjadi marah sekali jika ada orang yang berani mengkritik mereka,
atau mereka mungkin tampak sama sekali acuh tak acuh terhadap kritik. Perasaan
kebesaran nama mereka adalah mencolok. Persahabatan mereka adalah rapuh, dan
mereka dapat menyebabkan orang lain geram karena mereka menolak untuk
mematuhi aturan perilaku konvensional. Mereka tidak mampu menunjukan
empati, dan mereka berpura-pura simpati hanya untuk mencapai kepentingan
mereka sendiri. Memanfaatkan orang lain adalah sering ditemukan. Pasien
memiliki harga diri yang rapuh dan rentan terhadap depresi. Kesulitan
interpersonal, penolakan, kehilangan, dan masalah pekerjaan adalah stres-stres
yang sering dihasilkan oleh orang Narsistik karena perilakunya (stres-stres yang
tidak mampu dihadapi oleh mereka).
Pola pervasif kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan
kebanggaan, dan tidak ada empati, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak
dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukan dibawah ini :
a. Memiliki rasa kepentingan diri yang besar (misalnya, pencapaian dan
bakat yang berlebihan, berharap terkenal sebagai superior tanpa usaha
yang sepadan).
b. Preokupasi
dengan
khayalan
keberhasilan,
kecantikan, atau cinta ideal yang tidak terbatas.
5
kekuatan,
kecerdasan,
c. Yakin bahwa ia adalah “khusus” dan unik serta dapat dimengerti hanya
oleh, atau harus berhubungan dengan, orang lain (atau institusi) yang
khusus atau memiliki status tinggi.
d. Membutuhkan kebanggaan yang berlebihan.
e. Memiliki perasaan bernama besar, yaitu mengambil keuntungan dari orang
lain untuk mencapai tujuannya sendiri.
f. Eksploitatif secara interpersonal, yaitu mengenali atau mengetahui
perasaan dan kebutuhan orang lain.
g. Tidak memiliki empati; tidak mau mengenali atau mengetahui perasaan
dan kebutuhan orang lain.
h. Sering merasa iri kepada orang lain atau yakin bahwa orang lain iri kepada
dirinya.
i. Menunjukan perilaku atau sikap yang congkak dan sombong.
Narcissistic Personality Disoder (NPD) adalah suatu situasi seseorang
yang ia rasakan sebagai sesuatu yang benar-benar nyata adalah tubuhnya sendiri,
kebutuhan, perasaan, pikirannya, benda, dan orang-orang yang masih memiliki
hubungan. Disertai dengan obsesi dan hasrat yang kuat dalam mempertahankan
miliknya tersebut. Narsis menurut ilmu psikologi adalah suatu gangguan
psikologis. Menurut Spencer A Rathus dan Jeffrey S Nevid dalam bukunya,
Abnormal Psychology (2000), mengatakan bahwa seseorang yang narcissistic
adalah
orang
yang
memandang
dirinya
secara
berlebihan.
Senang
menyombongkan diri dan menerima pujian. Dunianya cenderung individual dan
kurang berempati terhadapap orang lain. Seorang narsisme akan memperhatikan
orang itu jika memberikan manfaat yang berarti bagi narsisme.
The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM/Buku
petunjuk Statistik dan Diagnosa dari Penyakit Jiwa) memberi definisi dari
narcissistic personality disorder (NPD/Penyakit kepribadian Narsisistik) sebagai
“sebuah pola penyebaran perasaan hebat (dalam khayalan atau tingkah laku),
kebutuhan untuk dikagumi atau dipuja-puja dan kurangnya empati, biasanya
dimulai dari awal masa dewasa dan ada dalam konteks bermacam-macam.”
6
Gangguan kepribadian borderline, histrionik, dan antisosial seringkali
muncul bersamaan dengan gangguan kepribadian narsistik. Hal ini mempersulit
terapis untuk membedakan keempat gangguan tersebut. Individu dengan
kepribadian narsisitik biasanya lebih rendah tingkat kecemasannya bila
dibandingkan dengan individu borderline. Selain itu, kecenderungan untuk bunuh
diri pun prevalensinya lebih besar pada individu borderline ketimbang narsisitik.
Pada kepribadian antisosial, mereka biasanya memiliki sejarah tingkah
laku yang impulsif berkaitan dengan penggunaan alkohol dan zat-zat terlarang,
serta seringkali mereka memiliki masalah dengan hukum. Sedangkan pada
individu histrionik, mereka memiliki kecenderungan yang sama dengan individu
narsisistik, terutama dalam hal hubungan interpersonal yang manipulatif dan
tingkah laku memamerkan dan menunjukkan kelebihan yang mereka miliki.
Histrionic adalah istilah yang digunakan DSM-III dan IV kepribadian
histeris (HyP) atau (seperti kondisi ini disebut dalam literatur psikoanalitik)
karakter histeris. Gangguan kepribadian histrionik sebelumnya dikenal disebut
kepribadian histerikal, ditegakkan bagi orang-orang yang selalu dramatis dan
mencari perhatian. Mereka sering kali menggunakan ciri-ciri penampilan fisik
yang dapat menarik perhatian orang kepada dirinya, misalnya pakaian yang
mencolok, tata rias, atau warna rambut. Mereka berpusat pada diri sendiri, terlalu
mempedulikan daya tarik fisik mereka, dan merasa tidak nyaman bila tidak
menjadi pusat perhatian. Mereka dapat sangat provokatif dan tidak senonoh secara
seksual tanpa mempedulikan kepantasan serta mudah dipengaruhi orang lain.
Gangguan ini dijelaskan berdasarkan pendekatan psikoanalisa. Perilaku emosional
dan ketidaksenonohan secara seksual didorong oleh ketidaksenonohan orang tua,
terutama ayah terhadap anak perempuannya. Kebutuhan untuk menjadi pusat
perhatian dipandang sebagai cara untuk mempertahankan diri dari perasaan yang
sebenarnya yaitu self-esteem yang rendah. Ciri khas HyP itu (pada wanita) sifat
genit
dalam
kiprah,
pandangannya
dan
pidato,
dipasangkan
dengan
apprehensiveness. Bersama dengan sugesti dan cepat perubahan suasana hati dan
perilaku.
7
Disebut dengan kepribadian ambang (borderline) karena berada di
perbatasan antara gangguan neurotik dan skizofrenia. Ciri-ciri utama gangguan ini
adalah impulsivitas dan ketidakstabilan dalam hubungan dengan orang lain dan
memiliki mood yang selalu berubah-ubah. Contohnya, sikap dan perasaan
terhadap orang lain dapat berubah-ubah secara signifikan dan aneh dalam kurun
waktu yang singkat. Individu yang mengalami gangguan borderline memiliki
karakter argumentatif, mudah tersinggung, sarkastik, cepat menyerang, dan secara
keseluruhan sangat sulit untuk hidup bersama mereka. Perilaku mereka yang tidak
dapat diprediksi dan impulsif, boros, aktivitas seksual yang tidak pandang bulu,
penyalahgunaan zat, dan makan berlebihan, berpotensi merusak diri sendiri.
Mereka tidak tahan berada dalam kesendirian, memiliki rasa takut diabaikan, dan
menuntut perhatian. Mudah mengalami perasaan depresi dan perasaan hampa
yang kronis, mereka sering kali mencoba bunuh diri. Gangguan kepribadian
borderline bermula pada masa remaja atau dewasa awal, dengan prevelensi sekitar
1 persen, dan lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan pada laki-laki.
Kesamaan antara NPD dan BPD termasuk kepekaan terhadap
kritik, ragefulness. Holdwick et al. menemukan bahwa NPD saham dengan BPD
mempengaruhi dysregulation, impulsivitas dan hubungan tidak stabil. Namun,
upaya menemukan relativeness konseptual antara NPD dan BPD sebenarnya
menghasilkan baik empiris dan klinis keterpisahan mereka bukti yang
mendukung. Diskriminator yang paling penting adalah diri meningkat-konsep
NPD
serta
berbagai
manifestasi
kebesaran,
termasuk
dilebih-lebihkan
bakat, fantasi megah, rasa keunikan. Akhtar mengidentifikasi perbedaan struktural
dan fungsional berikut. Sementara NPD memiliki lebih kohesif diri, dengan
kecenderungan lebih sedikit fragmentasi regresif, BPD memiliki lebih kurang
terintegrasi diri, dengan risiko untuk kejadian-negara seperti psikotik. difusi
identitas adalah terwujud dalam BPD, tapi bertopeng di NPD. Karena semakin
tinggi tingkat self-kohesif, NPD dikaitkan dengan toleransi yang lebih besar untuk
kesendirian, dan merekam bekerja lebih baik, impuls kontrol dan toleransi
kecemasan, sementara BPD pasien, karena mereka tingkat yang lebih rendah dari
8
kekompakan, lebih menunjukkan diri-mutilasi dan gigih marah. Orang dengan
NPD yang diam-diam rasa malu-dikuasai dan tidak aman, dan BPD pasien telah
mengalami difusi identitas dan perasaan rendah diri. Sementara pasien narsisistik
kurang terang-terangan merusak diri sendiri dan kurang sibuk dengan
ketergantungan dan kekhawatiran ditinggalkan, mereka menunjukkan lebih
banyak fitur pasif-agresif, dan kesombongan yang lebih besar dan keangkuhan.
Lalu apakah narsis sama dengan “percaya diri. Seseorang yang narsis
memposisikan dirinya sebagai objek, sementara seseorang yang percaya diri
memposisikan dirinya sebagai subjek. Seorang yang percaya diri tidak terlalu
risau dengan ataupun tanpa pujian orang lain karena kelebihan fisik yang dimiliki,
dirasakan sebagai anugerah Tuhan yang selalu disyukuri. Seseorang yang percaya
diri lebih fokus kepada “kompetensi diri” ketimbang penampilan fisik.
Goleman dalam Abnormal Psychology (Rathus dan Nevid-2000)
menjelaskan perbedaan percaya diri yang normal dan narsisme yang
membahayakan. Kita yang percaya diri menghargai pujian, tetapi tidak
menganggap itu sebagai keharusan demi menjaga self esteem. Percaya diri sehat
juga tercermin dari keterbukaan terhadap kritik dan hanya mengalami kekecewaan
yang sebentar kalau dikritik. Meskipun tidak dapat perlakuan istimewa, orang
yang percaya diri tetap fine dan tidak kecewa seperti orang narsis. Kadar percaya
diri kita juga sehat ketika kita masih bisa mengerti dan sensitif pada perasaan
orang lain.
Setidaknya ada dua subkategori utama narsisisme, overt dan covert
narsisisme adalah istilah umum historis. Achievment (overt) dan Attention (covert)
narsisisme mungkin lebih tepat meskipun deskriptor. Achievment (overt) seperti
yang diharapkan lebih fokus pada manfaat eksternal prestasi (banyak uang, pujian
publik, monumen untuk menghormati mereka). Mereka cenderung menjadi
emosional yang stabil sehingga membuat mereka lebih mampu berhasil dalam
suasana profesional. Mereka juga lebih terbuka tentang superioritas mereka.
Dengan mencapai 'hal-hal besar ", mereka akan mendapatkan umpan balik
mengisi kekosongan eksternal yang mereka butuhkan.
9
Attention (covert) cenderung kurang emosional stabil, membuat mereka
kurang mampu berkembang secara profesional. Mereka langsung fokus pada
perhatian sebagai cara untuk mengisi kekosongan mereka. Hubungan dan temanteman dan apa saja yang akan memperkuat kemampuan mereka untuk memiliki
hubungan dan teman-teman adalah tujuan mereka. Sama seperti narsisisme SelfActualism spektrum ada, ada narsisme Achievment / Attention spektrum
narsisisme. Seorang narsisis tidak harus hanya satu atau yang lain, meskipun
mereka cenderung mempertahankan preferensi yang membuat mereka lebih pada
satu sisi atau yang lain. Mungkin ada pergeseran preferensi dalam berbagai tahap
kehidupan mereka. Dalam kasus apapun, Pria lebih cenderung Achievment (overt)
dan Wanita lebih cenderung Attention Narcissism.
Dalam kajian Alexader Lowen, seperti ditulisnya dalam Narcissism,
Denial of The True Self (1997), ada lima tipe narsisme itu, yaitu:
1.
Phallic Narcissistic character: Orang dengan karakter Phallic Narcissitic
menginvestasikan energinya untuk merayu dan menarik perhatian. Cirinya
antara lain: arogan, elastik, menunjukkan kehebatan, dan seringkali sangat
memukau.
2.
Narcissistic character. Orang dengan karakter narsis, dikatakan punya image
hebat dan dasyat tentang dirinya. Meminjam istilah Lowen, they are not just
better, they are the best; they are not just attractive, they are the most
attractive. Dalam kenyataannya, ada kasus-kasus di mana orang berkarakter
narsis ini memang sukses, top, popular dan berprestasi karena dia mampu
"bermain dengan baik" di panggung kehidupan. Tapi biar bagaimana pun
juga, tetap saja image -nya lebih besar dari orang-nya.
3.
Borderline personality. Orang ini tidak nyata-nyata mendemonstrasikan
kesuksesan, kehebatan, yang bisa saja didukung oleh prestasi riil; karena
kekuatan ego nya lebih lemah, malah kerapkali di dominasi rasa minder,
merasa rapuh, tidak mampu, di liputi keraguan yang besar. Perasaan hebat
dan spesial nya di simpan di dalam diri, jadi seperti memutar dan menonton
film sendiri.
10
4.
Psychopathic personality: Orang dengan tipe ini dikatakan extreme lack of
human fellow feeling - atau bahasa gaulnya no heart feeling, karena bisa
mencuri, berbohong, menipu, merusak, bahkan membunuh dengan santai,
tanpa dibebani rasa bersalah, atau takut jika ketahuan.
5.
Paranoid personality. Orang dengan tipe ini merasa dirinya begitu istimewa
sampai-sampai tidak hanya menjadi pusat perhatian, plus jadi sasaran
konspirasi orang-orang yang tidak suka padanya.
B.
Penyebab Gangguan Kepribadian Narsistik
Penyebab gangguan kepribadian narsistik dapat dipandang dari segi
psikoanalisa. Orang yang mengalami gangguan ini dari luar tampak memiliki
perasaan yang luar biasa akan pentingnya dirinya. Namun dipandang dari
psikoanalisa, karakteristik tersbut merupakan topeng bagi self-esteem yang rapuh.
Menurut Heinz Kohut, self muncul pada awal kehidupan sebagai struktur
bipolar dengan immature grandiosity pada satu sisi dan overidealisasi yang
bersifat dependen di sisi lain. Kegagalan mengembangkan self-esteem yang sehat
terjadi bila orang tua tidak merespons dengan baik kompetensi yang ditunjukkan
oleh anak-anaknya. Dengan demikian, anak tidak bernilai bagi harga diri mereka
sendiri, tetapi bernilai sebagai alat untuk meningkatkan self-esteem orang tua.
Dalam Hunningstam (2005) menunjukkan bahwa patologi narsisme
disebabkan oleh faktor genetik dan asal-usul di awal perkembangan. Walaupun
masih belum jelas penyebab pada masa kanak-kanak dan menjadi lebih terangterangan terlihat pada individu dewasa ketika menghadap orang lain dan
mengerjakan tugas dengan cara yang lebih narsistik. Hal ini sejalan dengan dua
penelitian yang menunjukkan tentang pengaruh genetik pada perkembangan
gangguan kepribadian, termasuk gangguan kepribadian narsisitik. Jang, Livesley,
Vernon, dan Jackson (1996) dalam penelitiannya terhadap 483 pasangan kembar
menggunakan skala dimensi pengukuran masalah kepribadian (DAPP-DQ),
menemukan rata-rata 45% kelahiran yang menangkap dimensi dasar narsisme.
11
Sebuah studi lebih baru terhadap lebih dari 200 anak kembar (Torgersen dkk.,
2000) menunjukkan bahwa gen dapat menjelaskan hampir 80% dari variasi dalam
ciri gangguan kepribadian narsistik. Sementara arti dan konsekuensi dari temuan
ini masih menunggu penelitian lebih lanjut. Kita semua mengetahui bahwa
kekhususan penting untuk perkembangan dari gangguan kepribadian narsistik
diwariskan berbagai macam variasi dalam hal hipersensitivitas, dorongan kuat
agresif, toleransi yang rendah terhadap kecemasan atau frustasi, dan kelemahan
dalam mempengaruhi regulasi diri (Schore, 1994 ). Berkowitz, Shapiro, Zinner,
dan Shapiro (1974b) mencatat bahwa sistem keluarga remaja narsisistik
menunjukkan dinamika tertentu di sekitar harapan orang tua dan peran atribusi.
Mitchell JJ dalam bukunya, The Natural Limitations of Youth, ada lima
penyebab kemunculan narsis pada remaja, yaitu mengharapkan perlakuan khusus,
kurang rasa empati terhadap orang lain, sulit memberikan, mengekspresikan kasih
sayang terhadap orang lain, kurang memberikan kontrol moral yang kuat, kurang
bisa berpikir rasional. Kedua aspek inilah yang paling gawat memberikan efek
narsisme.
Namun, kesalahan asuh orang tua juga menjadi penyebab terbesar adanya
penyakit narsisistik ini dalam seorang anak. Contohnya, orang tua yang serba
membolehkan yang memberi pujian berlebih-lebihan pada sang anak, terlalu
menurutkan dan memanjakan sang anak, gagal menerapkan disiplin, dan
mengidealisasi si anak menjadi faktor-faktornya. Hasilnya, orang yang narsis
secara umum merasa tidak siap untuk masa dewasa, setelah dibesarkan dalam
pandangan hidup yang tidak realistik. Sebaliknya, seorang anak yang tidak
menerima dukungan dan dorongan yang cukup bisa juga mengidap penyakit
narsisistik. Hal itu dipercaya disebabkan oleh kegagalan yang berulang-ulang dan
serius pada pihak Objek Primer sang anak (orang tua atau pengasuh).
Jon Mardi
Horowitz, penulis
dari
Stress
Response Syndromes,
menjelaskan: “Ketika kepuasan narsisistik yang jadi kebiasaan karena seringnya
dipuji, diberikan perlakuan khusus dan mengagumi diri sendiri terancam, hasilnya
mungkin adalah depresi, sedih tanpa alasan, gelisah, malu, merusak diri sendiri
atau kemarahan yang diarahkan pada orang yang bisa jadi sasaran kesalahan atas
12
situasi tersebut. Anak-anak bisa belajar untuk menghindari kondisi emosi
menyakitkan ini dengan belajar memproses informasi narsisistik ini.”
C. Pendekatan Teori
1.
Pendekatan psikoanalisis
Sigmund Freud dalam salah satu naskah publikasinya tahub 1914
secara khusus menyebutkan narsisme yang diberi judul, narsime: sebuah
pengantar.
a. Narsisme primer.
Freud menyebutkan bahwa cinta-diri eksklusif mungkin abnormal,
tidak sama seperti cara berpikir sebelumnya, dan bahkan mungkin
menjadi komponen umum dalam jiwa manusia. Dia berargumen
bahwa narsisme "adalah melengkapi libido ke egoisme dari naluri
mempertahankan diri," atau lebih sederhananya, merupakan keinginan
dan energi yang mendorong naluri seseorang untuk bertahan hidup. Ia
menyebut ini sebagai narsisisme primer.
b. Narsisme sekunder.
Menurut Freud, narsisisme sekunder adalah kondisi patologis yang
terjadi ketika libido menarik diri dari objek di luar diri. Freud lebih
lanjut menyatakan bahwa ini adalah bentuk ekstrim narsisme yang
merupakan bagian dari semua orang.
2.
Pendekatan interpersonal
Menurut interpersonalists, narsisisme adalah suatu cara untuk
melindungi diri secara narsis dari sebuah kerapuhan dan luka antarpribadi.
3.
Sudut pandang biosocial learning
Sebagai bagian dari pendekatan menyeluruh dan sistematis teori
kepribadian dan psikopatologi didasarkan pada perspektif pembelajaran
biosocial, Millon (1981, 1996, 1998) menguraikan karakteristik matriks
kepribadian narsisistik klinis yang ditangkap dalam fungsi beberapa
13
domain, baik secara jelas (ekspresif, kognitif, dan interpersonal), atau pun
tersembunyi (citra diri dan fungsi defensif). Dipengaruhi oleh deskripsi
Freud dari jenis dan libidinal narsisistik, kemudian konseptualisasi W.
Reich dari tahap gangguan phalik-narsisistik, Millon secara khusus
menyoroti peningkatan harga diri dan kekaguman dalam diri individuindividu narsisistik; mereka percaya diri, angkuh, dan gaya interpersonal
yang eksploitatif; ekspansif fungsi kognitif mereka dan kecenderungan
mereka untuk merasionalisasi dan kembali ke kompensasi dan
kenyamanan dunia fantasi, di saat berhadapan dengan kegagalan atau
hambatan.
4.
Sudut pandang kognitif
Dari perspektif kognitif, Beck, Freeman, dan rekan (1990)
mengusulkan bahwa gangguan kepribadian narsistik harus dipahami dalam
pengertian disfungsional skema tentang diri, dunia, dan masa depan.
Skema semacam itu mencerminkan keyakinan yang berkembang selama
masa kanak-kanak dan bertahan sepanjang hidup, mempengaruhi
pandangan, reaksi, dan perilaku dalam hubungan, baik kepada orang lain
dan diri sendiri.
D.
Tanda dan Gejala Gangguan Kepribadian Narsistik
Tanda-tanda narsis dari Diagnostics and Statistics Manual, Fourth Edition-
Text Revision (2000) , orang narsis merasa dirinya sangat penting dan ingin sekali
dikenal oleh orang lain karena kelebihannya. Pengidap narsis juga yakin kalau
dirinya unik dan istimewa.
Gejala lain, mereka selalu ingin dipuji dan diperhatikan. Mereka kurang
sensitif terhadap kebutuhan orang lain karena yang ada dalam pikirannya cuma
diri sendiri. Ditambah lagi, adanya rasa percaya orang lain itu berpikiran sama
dengan dirinya. Orang narsis juga sensitif sekali kalau dikritik. Kritikan kecil bisa
berarti sangat besar buat mereka.
14
Edisi ketiga dan keempat dari Diagnostic and Statistic Manual (DSM)
tahun 1980 dan 1994 dan European ICD-10 menjelaskan NPD dalam bahasa yang
identik:
'Sebuah pola penyebaran perasaan hebat (dalam khayalan atau tingkah laku),
kebutuhan utk dikagumi atau dipuja-puja dan kurangnya empati, biasanya dimulai
dari awal masa dewasa dan ada dalam konteks bermacam-macam. Lima (atau
lebih) dari sembilan kriteria berikut harus ada bagi penderita narcissitic:
1. Merasa hebat dan penting (misal, membesar-besarkan prestasi dan bakat
hingga terdengar mustahil/bohong, menuntut dikenali sebagai seorang yang
superior/lebih tinggi meski tanpa prestasi yang pantas).
2. Terobsesi oleh fantasi-fantasi sukses yang tidak ada batasnya, ketenaran,
kekuatan menakutkan atau maha, kepintaran yang tak ada tandingannya
(narsisis cerebral), keindahan tubuh atau kemampuan seks (narsisis
somatic) atau cinta/birahi yang menuntuk taklukan, kekal dan ideal.
3. Benar-benar merasa yakin bahwa dia itu unik dan spesial, hanya dapat
dimengerti oleh, hanya mesti diperlakukan dengan, atau dihubunghubungkan dengan, orang (atau institusi) lain yang juga special, unik atau
punya status tinggi.
4. Membutuhkan
untuk
dikagumi
dengan
berlebihan,
dipuja-puja,
diperhatikan dan diiyakan, jika tidak, ia berharap utk ditakuti dan dikenal
karena kejahatannya (narsisis supply).
5. Merasa berhak. Mengharap utk diprioritaskan dalam hal perlakuan baik
dan spesial atau tidak masuk akal. Menuntut dipenuhi secara otomatis dan
benar-benar sesuai dengan harapannya.
6. Sangat memanfaatkan hubungan antar manusia, yakni, memperalat orang
lain untuk mencapai tujuan-tujuannya.
7. Tidak punya empati. Tak mampu atau tidak rela untuk mengenali atau
mengakui perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhan orang lain.
15
8. Terus menerus cemburu terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain
mempunyai perasaan cemburu yang sama terhadapnya.
9. Sangat arogan, kelakuan atau sikap sombongnya digabung dengan
kemurkaan jika merasa frustasi, ditentang atau dilawan.
Bahasa dalam kriteria diatas didasarkan atau dirangkum dari: American
Psychiatric Association. (1994). Diagnostic and statistical manual of mental
disorders, fourth edition (DSM IV). Washington, DC: American Psychiatric
Association.
E.
Onset
Dalam "Malignant Self Love", Dr Vaknin sebagai pakar nomor satu
tentang narsisisme narsisisme jelas dimulai dari awal masa kecil (sebelum umur 5
tahun). Penderita gangguan kepribadian narsisitik berawal sejak usia dewasa awal
dan nyata dalam pelbagai konteks dengan ciri; kebesaran diri, kebutuhan untuk
dikagumi, fantasi tinggi, kurang mampu dalam berempati yang bersifat pervasif.
F.
Prevalensi
Menurut DSM-IV, perkiraan prevalensi gangguan kepribadian narsistik
terentang antara 2 sampai 16 persen dalam populasi klinis dan kurang dari 1
persen dalam populasi umum. Mungakin terdapat resiko yang lebih tinggi dari
biasanya pada keturunan orang tua dengan gangguan ini yang menanamkan pada
anak-anaknya rasa kemahakuasaan yang tidak relative, kebesaran, kecantikan, dan
bakat. Jumlah kasus yang dilaporkan terus meningkat secara manetap.
Gangguan kepribadian narsistik ditemukan kurang dari
1% dalam
populasi umum (APA, 2000). Walaupun lebih dari setengah orang yang
didiagnosis dengan gangguan ini adalah laki-laki, kita tidak dapat mengatakan
bahwa ada perbedaan gender yang mendasar pada tingkat prevalensi dalam
populasi umum. Derajat tertentu dari narsisme dapat mencerminkan penyesuaian
16
diri yang sehat akan rasa tidak aman, sebuah tameng akan kritik dan kegagalan,
atau motif untuk berprestasi (Goleman, 1988).
G. Terapi
Tritment yang dapat diberikan adalah (Kaplan & Saddock, 1997 : 261):
1. Psikoterapi.
Mengobati gangguan kepribadian narsistik sukar, karena pasien harus
meninggalkan narsismenya jika ingin mendapatkan kemajuan. Dokter
psikiatrik seperti Otto Kernberg dan Heiz Kohut menganjurkan pemakaian
pendekatan psikoanalitik untuk mendapatkan perubahan.
2. Farmakoterapi.
Lithium (Eskalith) digunakan pada pasien yang memiliki pergeseran mood
sebagai bagian dari gambaran klinis. Dan karena rentan terhadap depresi,
maka antidepresan juga dapat digunakan.
Treatment utama untuk penyembuhan gangguan kepribadian narsisistik
berfokus pada psikoterapi, secara medis tidak ada jenis obat sepesifik untuk
pengobatan gangguan ini. Dokter akan menangani gangguan-gangguan lain bila
muncul pada individu secara terpisah dengan disertai simtom-simtom yang ada
seperti kecemasan atau depresi.
Pengobatan penderita gangguan keperibadian narsisistik membutuhkan
waktu yang sangat lama, penyembuhan cepat hanya difokuskan pada
penyembuhan gangguan mood, pelatihan dan peningkatan harga diri. Dalam
psikoterapi diharapkan individu dapat menerima dirinya sendiri dan cara pandang
terhadap dirinya sesuai dengan realitas (a realistic self-image), disamping itu juga
diharapkan individu dapat menyesuaikan diri dan menjalin hubungan dan
menghargai orang lain (intimacy), mengerti perasaan diri dan orang.
Beberapa terapi lain yang bisa digunakan untuk gangguan ini antara lain:
17
1. Cognitive behavioral therapy (CBT), secara umum CBT membantu
individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan
pikiran negatif dan mengembalikannya secara positif.
2. Family therapy, dalam terapi ini anggota keluarga dilibatkan secara
keseluruhan dalam setiap sessi terapi. Setiap anggota keluarga dilatih
untuk mengungkapkan masalah, komunikasi dan pemecahan masalah
untuk
membantu
individu
dalam
menjalin
hubungan
intra
dan
interpersonal.
3. Group therapy, individu berkumpul dengan sekelompok orang yang
mempunyai permasalahan yang sama, dalam terapi ini dilatih untuk saling
mendengarkan orang lain, belajar mengenal perasaan sendiri dan saling
memberi dukung terhadap anggota yang lain
H.
Prevensi
Ganggaun kepribadian Narsistik adalah kronis dan sukar untuk diobati.
Pasien dengan gangguan harus secara terus menerus berhadapan dengan aliran
Narsisisme mereka yang diakibatkan oleh perilaku mereka sendiri atau dari
pengalaman hidup. Gangguan kepribadian narsistik muncul dari kegagalan meniru
empati dari orang tua pada masa perkembangan awal anak. Akibatnya, anak tetap
terfiksasi di tahap perkembangan grandiose. Selain itu, anak (dan kelak setelah
dewasa) menjadi terlibat dalam pencarian, yang tak berkunjung dan tanpa hasil,
figure ideal yang dianggapnya dapat memenuhi kebutuhan empatiknya, yang tak
pernah terpenuhi. Oleh karena itu untuk mencegah harus dimulai dari pola suh
orang tua terhadap anaknya. Orang tua harus mampu memberikan contoh yang
baik bagi anaknya dan mengajarkan bagaimana kebebasan yang bertanggung
jawab agar anak tidak terbuai dalam pujian-pujian yang membuatnya berbangga
hati.
Berbagai tindakan bisa dilakukan dalam upaya mencegah terjadinya bunuh
diri, minimal untuk mengurangi kemungkinannya. Tindakan pencegahan itu bisa
dilakukan baik oleh pihak keluarga, dan lingkungan social.
Pihak Keluarga
18
Berbagai upaya pencegahan narsis bisa dilakukan oleh pihak keluarga.
Upaya pencegahan itu dimaksudkan untuk meningkatkan faktor proteksi.
Beberapa tindakan itu di antaranya:

Mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak,

Membangun hubungan yang positif di dalam rumah dimana rumah
diciptakan sebagai tempat untuk saling berbagi di antara anggota keluarga,
membangun kecerdasan emosional anak,

Menanamkan pendidikan moral dan agama yang sebaik-baiknya.

meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual harus
diperkuat
Lingkungan
Lingkungan jelas merupakan determinan penting dalam upaya prevensi.
Beberapa hal yang semestinya disediakan lingkungan untuk mencegah narsis :

Tidak memberikan secara berlebihan tentang puji-pujian atau sanjungan
agar tidak menjadi candu bagi seseorang.

Menciptakan kegiatan yang positif di dalam lingkungan untuk para remaja.
Kalau melihat clue-nya, narsisme (unhealty narcissism) itu terkait dengan
sedikitnya tiga isu kejiwaan yang sangat mendasar. Pertama, terkait dengan
bagaimana kita meresponi suara penolakan diri atau denial of the self karena tidak
puas terhadap diri sendiri (dissatisfaction).
Sebenarnya, rasa tidak puas terhadap diri sendiri akan positif kalau kita
gunakan untuk memperbaiki diri atau memunculkan dorongan untuk berubah ke
arah yang lebih baik. Inilah yang disebut "learning, growing, improving". Jika
kita sudah kehilangan dorongan untuk berubah, berarti proses learning-nya sudah
berhenti dan ini sangat membahayakan.
19
Tapi akan negatif kalau itu kita gunakan untuk melakukan pertengkaran
dengan diri sendiri (konflik diri) sampai membuat jiwa kita kosong (feeling of
empty), kurang (feeling of lack), dan takut (feeling of fear). Ini semua akan
mendorong kita menempuh modus untuk mengelabuhi diri sendiri supaya bisa
mengelabuhi orang lain dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan
penghormatan dari fantasi yang kita ciptakan.
Kedua, terkait dengan bagaimana kita menutupi kekurangan, entah kurang
kaya, kurang kompeten, kurang keren, kurang mewah, dan seterusnya. Adanya
rasa kurang pun ciptaaan Tuhan. Rasa kurang ini bisa kita gunakan untuk menjadi
orang yang tawadlu (rendah hati), dekat sama Tuhan atau juga bisa kita gunakan
sebaliknya.
Jika rasa kurang itu mendapatkan respon positif, pasti yang akan muncul
adalah motivasi plus, misalnya dorongan untuk penyempurnaan, dorongan untuk
mengakui kehebatan orang lain, dorongan untuk berubah, dan seterusnya. Tapi
bila responnya negatif, akan sangat mungkin memunculkan motivasi minus,
misalnya arogan tanpa alasan, membohongi orang lain untuk menutupi
kekurangan, dan seterusnya.
Ketiga, terkait dengan sejauhmana kita melatih diri dalam mendengarkan
suara naluri universal. Meski teorinya agak sulit membedakan prilaku yang narsis
dan yang bukan, tetapi semua manusia punya naluri universal yang bertugas
menerima kebaikan dan menolak kejelekan, entah dari perbuatan kita sendiri atau
dari perbuatan orang lain. Kesombongan, penjolan diri berlebihan, atau penipuan
diri itu pasti ditolak oleh naluri universal manusia.
Artinya, sejauh kita melatih diri untuk mendengarkan naluri universal kita,
pasti kita akan lebih mudah "mengobati" benih-benih penyakit narsisme di dalam
diri kita. Untuk bisa mendengarkan, syaratnya adalah jangan terlalu lama atau
selalu mendengarkan suara dari luar. Idealnya, kita seimbang dalam
mendengarkan suara dari dalam dan suara dari luar.
20
BAB III
FENOMENA
Kekerasan demi kekerasan terus menerus melanda Bali.
Beragam persoalan menjadi pemicu. Dari yang remeh temeh gara-gara saling
pandang antar pemuda sampai perebutan tanah kuburan. Namun kekerasan tesebut
selalu saja melibatkan kelompok baik antar banjar maupun antar desa adat.
Memang manusia Bali dalam rentang sejarahnya sangat mudah terpancing
melakukan tindakan kekerasan. Korbannya tidak saja harta benda melainkan juga
jiwa manusia. Bahkan manusia Bali menjadi sosok yang bisa sangat kejam
meskipun dengan saudara sekalipun.
Salah satu artikel Buku “The Indonesian Killings, Pembantaian PKI di Jawa dan
Bali 1965-1966” dengan Editor Robert Cribb, menguraikan gambaran betapa
beringasnya manusia Bali dalam melakukan kekerasan. Buku ini memuat
pernyataan Komandan RPKAD Sarwo Edhi, yang pasukannya tiba pada akhir
Desember 1965. “Di Jawa kami harus menghasut penduduk untuk membantai
orang-orang komunis. Di Bali kami harus menahan mereka, untuk memastikan
bahwa mereka tidak bertindak terlalu jauh,” tulis buku itu.
Catatan lain menyebutkan pembantaian manusia komunis di Bali adalah
pembantaian terbesar abad 20. Bahkan tidak ditemukan proporsi lebih tajam dari
pembantaian ini sepanjang sejarah bangsa Indonesia atau bahkan Asia Tenggara.
Proporsi yang meliputi besarnya jumlah korban dalam kecilnya wilayah pulau
Bali dan dalam tempo pembantaian sangat singkat.
Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah korban pembantaian itu, khususnya di
Bali yang memang secara proporsi paling besar. Perkiraan jumlah paling rendah
adalah 40.000 dan tertinggi adalah 100.000. Soe Hok Gie memberikan angka
80.000 sebagai perkiraan paling konservatif. Pembantaian yang begitu besar itu
terjadi hanya dalam kurun waktu minggu saja.
21
Kekerasan yang dilakukan manusia Bali terus berlangsung dan didominasi
konflik-konflik adat. Banyak peneliti mengatakan bahwa sesungguhnya
kekerasan-kekerasan yang berbau politik di Bali juga bersumber dari konflikkonflik adat. Termasuk kekerasan ketika pembantaian manusia komunis yang
disebutkan berakar pada konflik antar Puri-Puri di Bali.
Hingga kini kekerasan-kekerasan di Bali di dominasi kepentingan kelompokkelompok dalam masyarakat adat. Meskipun ada pula yang sebenarnya
merupakan konflik pribadi tetapi tetap menggunakan kendaraan kelompok desa
adat atau banjar adat.
22
BAB IV
PEMBAHASAN
Erich Fromm dalam bukunya “Akar Kekerasan” (2008) menyinggung
adanya agresi dan kaitanya dengan narsisisme. Orang yang mempunyai narsistik
tinggi merasa sangat perlu mempertahankan citra diri. Jika citra diri itu terancam,
mereka akan bereaksi dengan kemarahan amat sangat, dengan atau tanpa
memperlihatkannya atau tanpa menyadarinya.
Adapun pada narsisme kelompok, yang menjadi objek adalah kelompok
tersebut. Dikatakan bahwa narsisme kelompok merupakan salah satu sumber
utama keagresifan manusia. Bila pelecehan simbol narsisme kelompok dilakukan
kelompok lain, maka reaksi kemarahan sedemikian besar akan terjadi bahkan
sangat mendukung kebijakan perang yang dilontarkan pemimpinnya.
Dalam kasus konflik memperebutkan tanah kuburan, narsisme kelompok
sangat kental terlihat. Kuburan merupakan bagian harta milik desa adat tetapi
bukan dalam makna ekonomi. Berbeda halnya dengan tanah milik desa adat
lainnya yang bisa memiliki nilai ekonomi sehingga kepentingan ekonomi menjadi
demikian kuat. Kuburan hanyalah memiliki makna sosial dan religius yang
penggunaannya sebenarnya bisa dilakukan bersama-sama.
Apalagi tradisi memperlakukan jenazah di Bali adalah dengan pengabenan
bukan penguburan yang memerlukan ruang fisik tertentu. Karena itulah sematamata narsisme kelompok saja yang memicu konflik dalam kasus perebutan tanah
kuburan. Maka, kunci penyelesaiannya adalah menurunkan kadar narsisme
masing-masing kelompok.
Dengan narsisme kelompok yang besar ditambah tekanan ekonomi yang
cukup kuat, manusia Bali menjadi sangat agresif. Persoalan-persoalan sekecil
apapun bisa menjadi pemicu yang menjelma menjadi tindakan kekerasan.
23
Seseorang yang memiliki kepribadian narsisitik mempunyai persahabatan
yang rapuh, hal ini juga dapat menyulut adanya kekerasan dalam bermasyarakat.
Mereka sangat individual, tidak pernah memikirkan kepentingan diri sendiri
bahkan tidak memiliki rasa empati terhadap orang lain. Pada akhirnya hubungan
interpersonal menjadi memburuk dan perselihan tidak terelakkan lagi ketika
kritikan menghujani orang-orang dengan kepribadian narsistik ini, karena pada
dasarnya orang-orang dengan kepribadian narsistik menanggapi kritikan secara
buruk, kurang bisa berpikir rasional, serta kurangnya kontrol moral yang kuat.
24
REFERENSI
Awlia,
Nur.
2009.
Gangguan
Kepribadian
Narsistik.
Dalam
http://nurawlia.wordpress.com/. Tanggal akses: 09 Maret 2013.
Horowitz, Jon Mardi – “Stress Response Syndromes: PTSD, Grief, and
Adjustment Disorders”, Third Edition.
Kaplan & Saddock. 1997. Sinopsis Psikiatri, Ilmu Pengetahuan Perilaku
Psikiatri Klinis, Edisi ke-7, jilid 2, Binarupa Aksara, Jakarta.
Martaniah,
Sri
Mulyani.
1999.
Handout
Psikologi
Abnormal:
Yogyakarta.
Pitaloka, RR. Ardiningtyas. 2008. Narsis, Percaya Diri atau Sombong?.
Dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/artikel_detail.asp?id=497. Tanggal
akses: 09 Maret 2013.
Ronningstam, Elsa. 2005. Identifying and Understanding the Narcissistic
Personality, 1st Edition. Oxford University Press.
Supratiknya, A. (1995). Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta:
Kanisius
Nevid, J.S., Rathus, S.A., & Greene, B. 2003. Psikologi Abnormal jilid 1.
Jakarta : Erlangga.
Mario Maj, Hagop S. Akiskal, Juan E. Mezzich and Ahmed Okasha.
2005. Personalit
Vol.8. e-book.
25
Download