Universitas Islam Indonesia Raih Doktor Usai Teliti Interpretasi Kontrak dalam Penyelesain Sengketa Bisnis Tuesday, 25 August 2015 Semakin berkembangnya aktifitas bisnis dan pertumbuhan ekonomi berdampak pada lahirnya berbagai macam bentuk kerjasama di antara para pelaku bisnis. Kerjasama bisnis seringkali dibingkai dalam kontrak bisnis yang memiliki kekuatan hukum. Seiring dengan meningkatnya kerjasama bisnis tersebut sayangnya juga diiringi dengan peningkatan sengketa bisnis di antara para pihak yang terlibat. Dalam perspektif ekonomi, sengketa bisnis merupakan hal yang lumrah terjadi sebagai konsekuensi dari konflik kepentingan dari pelaku bisnis. Namun dari perspektif hukum, hal ini dapat dilihat dari adanya pemahaman dan interpretasi yang berbeda terhadap isi kontrak bisnis yang telah disepakati. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan sengketa bisnis tersebut diperlukan adanya interpretasi kontrak yang mampu memenuhi nilai keadilan dari aparat penegak hukum. Demikian seperti disampaikan oleh Bambang Sutiyoso, SH, M.Hum ketika mempertahankan desertasinya dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Fakultas Hukum UGM, Senin (25/8). Di hadapan para penguji, Bambang Sutiyoso yang juga pengajar di FH UII, mengetengahkan desertasi berjudul “Interpretasi Kontrak dalam Penyelesaian Sengketa Bisnis di Pengadilan―. “Perbedaan interpretasi terhadap isi kontrak terjadi karena masih banyak dijumpai kontrak yang memuat norma samar, baik rumusan kata-katanya yang tidak jelas/kabur, terlalu umum, atau bermakna ganda―, ungkapnya. Oleh karena itu, ketika sengketa ini dibawa ke pengadilan para hakim harus memiliki kemampuan yang baik dalam menafsirkan isi kontrak agar permasalahan di antara para pihak dapat menemui solusi hukum. Meski demikian, Bambang Sutiyoso juga menyebutkan bahwa tidak jarang para hakim di pengadilan memiliki perbedaan interpretasi terhadap isi kontrak. Hal ini dinilainya dapat terjadi karena hakim terkadang memiliki cara pandang yang berbeda dan penggunaan metode penafsiran yang juga berbeda. Pengadilan memang menyediakan ruang bagi para hakim untuk berbeda pendapat yang dikenal sebagai dissenting opinion. Sidang terbuka diketuai oleh Prof. Dr. Marsudi Triatmodjo, SH, L.LM dengan Promotor Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH, MS dan Co-Promotor Dr. Sutanto, SH, MS. Usai sidang, Bambang Sutiyoso dinyatakan berhasil mempertahankan desertasinya. Untuk itu, ia berhak menyandang gelar doktor ilmu hukum. Bambang Sutiyoso merupakan doktor ke 110 yang lulus dari FH UGM dan doktor ke 2.754 yang menyelesaikan pendidikan doktornya di UGM. Dengan ini, FH UII kembali menambah staf pengajarnya yang telah mengantongi gelar doktor. http://arsip.uii.ac.id Powered by Joomla! Generated: 30 October, 2017, 10:45