INDUKSI PEMBUNGAAN DI LUAR MUSIM PADA

advertisement
INDUKSI PEMBUNGAAN DI LUAR MUSIM PADA
TANAMAN JERUK KEPROK (Citrus reticulata)
MUHAMMAD DARMAWAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
ii
iii
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Induksi Pembungaan di Luar
Musim pada Tanaman Jeruk Keprok (Citrus reticulata)” adalah karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, Mei 2014
Muhammad Darmawan
NIM A252110231
iv
RINGKASAN
M. DARMAWAN. Induksi Pembungaan di Luar Musim pada Tanaman Jeruk
Keprok (Citrus reticulata). Dibimbing oleh ROEDHY POERWANTO dan
SLAMET SUSANTO.
Tujuan penelitian ini adalah (1) mempelajari efektivitas perlakuan
induktor pembungaan (Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan strangulasi) terhadap
pembungaan tanaman jeruk keprok, (2) memperlajari efektivitas perlakuan zat
pemecah dormansi (etephon, BAP, dan KNO3) terhadap pembungaan tanaman
jeruk keprok, (3) mempelajari pengaruh interaksi antara perlakuan induktor
pembungaan dan zat pemecah dormansi pada pembungaan tanaman jeruk keprok.
Penelitian ini dilakukan di kebun jeruk petani di Desa Tangkil, Kecamatan
Caringin Kabupaten Bogor yang berlangsung dari bulan November 2012 sampai
Juli 2013. Percobaan ini menggunakan rancangan blok terpisah (Split Block
Design) yang terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah induksi pembungaan
yang terdiri atas empat taraf yaitu kontrol, Prohexadion Ca, Paclobutrazol, dan
strangulasi, serta faktor kedua adalah pemberian zat pemecah dormansi yang
terdiri atas empat taraf, yaitu kontrol, etepon, BAP dan KNO3. Terdapat 16
kombinasi perlakuan dan empat ulangan sehingga akan digunakan 64 tanaman
sebagai satuan percobaan.
Tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman jeruk yang
berumur 5 tahun. Perlakuan induksi pembungaan, yaitu Prohexadion-Ca
diaplikasikan pada daun sebanyak dua kali yaitu setelah trubus menjadi dewasa
dan satu minggu setelah aplikasi pertama dengan konsentrasi 500 ppm/pohon
dengan volume semprot 1 liter larutan. Paclobutrazol diaplikasikan pada tanah
sebanyak satu kali setelah trubus menjadi dewasa dengan dosis 2 g/pohon dalam 1
liter larutan. Stragulasi dilakukan dengan pelilitan kawat berdiameter 2 mm pada
pangkal pohon dan dibuka pada 14 hari setelah pelilitan. Kawat dililitkan pada
ketinggian 30 cm pada pangkal pohon. Pelilitan kawat dilakukan setelah trubus
menjadi dewasa. Pemberian zat pemecah dormansi dilakukan pada 45 HSA (Hari
Setelah Aplikasi) induksi pembungaan. Zat pemecah dormansi yang diberikan
adalah pemberian etephon dengan konsentrasi 200 ppm/pohon, BAP 200
ppm/pohon, dan KNO3 40 g/ pohon dalam 1 liter larutan.
Hasil penelitian menunjukkan perlakuan penginduksi pembungaan
(Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, strangulasi) berpengaruh nyata dalam
mempercepat pembungaan dan meningkatkan jumlah bunga dan buah tanaman
jeruk. Perlakuan Prohexadion-Ca dapat mempercepat pembungaan yang lebih
baik dari pada Paclobutrazol. Paclobutrazol, Prohexadion-Ca dan strangulasi
meningkatkan jumlah buah dengan meningkatkan C/N rasio di daun. Perlakuan
zat pemecah dormansi tidak memberikan pengaruh yang nyata pada percepatan
pembungaan dan peningkatan jumlah bunga dan buah.
Kata kunci: Giberelin, residu, produksi di luar musim.
v
SUMMARY
M. DARMAWAN. The Off-Season Flowering Induction of „Keprok‟ Citrus Tree
(Citrus reticulata). Supervised by ROEDHY POERWANTO and SLAMET
SUSANTO.
The purposes of this study were to study (1) the effectiveness of flowering
induction treatments (Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, and strangulation) toward
Keprok, (2) the effectiveness of dormancy-breaking substance treatments (etephon,
BAP, and KNO3) on the flowering of Keprok, and (3) the interaction effect
between flowering induction treatment and dormancy-breaking substances on the
flowering of Keprok.
This research was conducted at orange farm in Tangkil, Caringin Bogor
Sub-district which lasted from November 2012 until July 2013. This experiment
used a separated block design (Split Block Design) which consisted of two factors.
The first factor is the flowering induction consists of four levels i.e. control,
Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, and strangulation. Whereas, the second factor was
the provision of dormancy -breaking substances consisted of four levels i.e.
control, etephon, BAP and KNO3. From treatment combination, there were 16
trial units and 4 replications. As a result 64 plants were used.
Young citrus tres used in this research have similarity of age (5 years).
Flowering induction treatment, namely, Prohexadion-Ca, was applied to the
leaves twice. The first application after flush getting mature and the second was
one week after the first application was done, with a concentration of 500 ppm/
plant in a liter of water. Paclobutrazol was applied to the soil once after flush
getting mature with of 2 g/plant in a liter of water. Strangulation was done by a
wire twist with diameter of 2 mm. The wire was twisted at a height of 30 cm. The
wire twist was made after trubus getting mature. Dormancy-breaking substance
treatment was applied 45 (HSA) flowering induction. Each dormancy-breaking
substance was in liter of water added with 200 ppm ethepon, 200 ppm BAP, and
40 g KNO3 for each tree.
The results showed that the flowering induction treatments (Prohexadion-Ca,
Paclobutrazol, strangulation) gives the significant effect to accelerate of flowering
and increase the number of flower and fruit on keprok tree. Prohexadion-Ca
treatment has ability to accelerate of flowering time better than Paclobutrazol.
Paclobutrazol, Prohexadion-Ca and strangulation gives the effects to increase the
number of fruit due to these treatments are able to increase the C/N rasio in the
leaves tissue. Dormantion breaking treatments doesn‟t gives the significant effect
to accelerate of flowering time and increase the number of flower and fruit.
Keywords: Gibberellin, residue, off-season production.
vi
© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
vii
INDUKSI PEMBUNGAAN DI LUAR MUSIM PADA
TANAMAN JERUK KEPROK (Citrus reticulata)
MUHAMMAD DARMAWAN
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Agronomi dan Hortikultura
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
viii
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis: Dr Ir Darda Efendi, MSi
ix
Judul Tesis : Induksi Pembungaan di Luar Musim pada Tanaman Jeruk Keprok
(Citrus reticulata)
Nama
: Muhammad Darmawan
NIM
: A252110231
Disetujui oleh
Komisi Pembimbing
Prof Dr Ir Roedhy Poerwanto, MSc
Ketua
Prof Dr Ir Slamet Susanto, MSc
Anggota
Diketahui oleh
Ketua Program Studi
Agronomi dan Hortikultura
Dekan Sekolah Pascasarjana
Dr Ir Maya Melati, MS, MSc
Dr Ir Dahrul Syah, MSc Agr
Tanggal Ujian: 11 Maret 2014
Tanggal Lulus:
x
PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tesis ini. Tesis
yang disusun ini berjudul Induksi Pembungaan di Luar Musim pada Tanaman
Jeruk Keprok (Citrus reticulta). Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk
mendapatkan gelar magister di Program Studi Agronomi dan Hortikultura,
Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih Penulis sampaikan kepada Prof. Dr. Ir. Roedhy Poerwanto,
M.Sc dan Prof. Dr. Ir. Slamet Susanto, M.Sc selaku pembimbing, serta Dr. Ir.
Maya Melati, MS, M.Sc selaku ketua Program Studi Angronomi dan Hortikultura.
Terima kasih pula Penulis sampaikan kepada para dosen Program Studi Agronomi
dan Hortikultura, teman-teman mahasiswa pascasarjana Program Studi Agronomi
dan Hortikultura dan teman-teman mahasiswa pascasarjana Sulawesi Selatan yang
telah banyak memberi saran. Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada
(alm) ayah, ibu, kakak dan seluruh keluarga besar atas segala doa dan kasih
sayangnya selama ini. Penulis juga menyampaikan terima kasih Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) atas pembiayaan biaya kuliah pada program
Beasiswa Unggulan (BU) On Going. Penulis juga menyampaikan terima kasih
atas pembiayaan penelitian dalam tesis ini melalui program Sistem Inovasi
Nasional (SINAS) dengan No kontrak 38/SEK/INSINAS/PPK/I/2013 tanggal 14
Januari 2013 yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Roedhy Poerwanto, M.Sc.
Semoga tulisan dan penelitian ini dapat memberi manfaat bagi dunia
Pertanian dan pihak lain yang membutuhkannya.
Bogor, Mei 2014
Muhammad Darmawan
xi
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
ix
ix
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan Penelitian
Hipotesis
1
1
2
3
2 TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi dan Morfologi Tanaman Jeruk
Syarat Tumbuh
Fisiologi Pembungaan
Pengaruh Prohexadion-Ca dalam Pembungaan
Pengaruh Paclobutrazol dalam Pembungaan
Strangulasi
Etephon
BAP (6-Benzyl Amino Purin)
Kalium Nitrat (KNO3)
3
3
3
4
5
6
7
8
8
9
3 METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Bahan dan Alat
Rancangan Percobaan
Pelaksanaan Penelitian
10
10
10
10
11
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan Vegetatif
Pertumbuhan Generatif
Kandungan Karbohidrat, Nitrogen, dan Rasio C/N
Kualitas Buah
15
15
20
24
25
5 SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
27
27
27
DAFTAR PUSTAKA
28
LAMPIRAN
32
RIWAYAT HIDUP
36
xii
DAFTAR TABEL
1 Jumlah tunas per cabang tanaman jeruk keprok pada perlakuan induktor
pembungaan dan zat pemecah dormansi
2 Panjang per tunas tanaman jeruk keprok pada perlakuan induktor
pembungaan dan zat pemecah dormansi
3 Jumlah daun tanaman jeruk keprok pada perlakuan induktor pembungaan
dan zat pemecah dormansi
4 Tingkat kehijauan daun, luas daun dan kandungan klorofil daun pada
perlakuan induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
5 Bunga pertama muncul, total bunga, fruit set, total buah pada perlakuan
induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
6 Gugur buah, jumlah buah panen, dan bobot panen pada perlakuan
induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
7 Pengaruh interaksi antara perlakuan induktor pembungaan dan zat
pemecah dormansi terhadap kandungan karbohidrat, nitrogen, dan rasio
C/N daun.
8 Bobot buah, berat biji, berat daging buah, berat kulit, berat jus pada
perlakuan induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
9 Edible portion, juice portion, padatan terlarut total, asam tertitrasi pada
perlakuan induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
15
18
18
19
20
21
25
26
27
DAFTAR GAMBAR
1 Perbandingan perlakuan faktor induktor pembungaan terhadap jumlah
bunga yang muncul
2 Perbandingan perlakuan faktor induktor pembungaan terhadap total buah
yang terbentuk
20
22
DAFTAR LAMPIRAN
1
2
3
4
Alur pelaksanaan penelitian di lapangan
Dena pengacakan percobaan di lahan
Analisis kandungan karbohidrat total daun metode Luff-Schoorl
Analisis kandungan nitrogen daun metode Semimikro Kjedhal
32
33
34
35
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Jeruk merupakan salah satu komoditi tanaman buah-buahan yang tumbuh
dan berkembang dengan baik di Indonesia. Buah jeruk sangat digemari oleh
masyarakat karena rasanya enak, segar, dan mengandung vitamin C. Peluang
pasar komoditi jeruk di dalam negeri terbuka cukup luas yang disebabkan oleh
meningkatnya pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan, dan kesadaran
masyarakat akan pentingnya gizi di samping berkembangnya agroindustri. Saat ini
Indonesia adalah negara pengimpor jeruk terbesar kedua di ASEAN setelah
Malaysia. Selama kurun waktu 2005 sampai 2010 impor mencapai 550 809 ton
per tahun dengan nilai mencapai US $ 650 128 774 selama lima tahun (BPS 2011).
Produksi jeruk bersifat musiman karena tanaman jeruk hanya dapat berbuah
dalam beberapa bulan saja setiap tahunnya. Sifat ini tidak menguntungkan karena
pada musim panen pasokan buah jeruk berlebih. Pasokan buah jeruk impor pada
saat tidak musim buah menyebabkan terjadi yang stabilitas harga jual buah jeruk
lokal di pasaran tidak terjamin. Untuk mengatasi permasalahan tersebut
diperlukan teknik budidaya yang dapat mengatur produksi buah di luar musim,
sehingga pasokan buah jeruk diharapkan tersedia sepanjang tahun.
Aktivitas fisiologi yang berperan dalam mempengaruhi perubahan
pembungaan antara lain kandungan karbohidrat, kandungan nitrogen, dan rasio
C/N yang terdapat dalam tanaman (Vemmos 1995). Berbagai upaya perlu
dilakukan untuk meningkatkan pembungaan dan produksi antara lain rekayasa
terhadap tanaman dan lingkungan tumbuhnya. Langkah-langkah yang diperlukan
untuk induksi pembungaan seperti pengaturan suhu (Poerwanto et al. 1994), stress
air (Susanto et al. 1993), strangulasi (Thamrin 2008, Yamanishi et al. 1993), dan
aplikasi zat pengatur tumbuh (Efendi 1994, Poerwanto dan Susanto 1996).
Zat pengatur tumbuh yang komersil dan banyak digunakan untuk produksi
buah di luar musim adalah Paclobutrazol. Paclobutrazol menghambat biosintesis
giberelin sehingga dapat mengalihkan pertumbuhan vegetatif menuju ke
pertumbuhan reproduktif. Paclobutrazol dapat menginduksi produksi buah di luar
musim pada tanaman mangga (Efendi 1994, Susanto dan Poerwanto 1999), jeruk
(Poerwanto dan Inoue 1994), dan manggis (Rai et al. 2004). Penggunaan
Paclobutrazol untuk menginduksi pembungaan di luar musim sangat efektif tetapi
Paclobutrazol meninggalkan residu pada tanah. Residu Paclobutrazol pada
perkebunan mangga bisa sampai 2 tahun yang mengakibatkan pertumbuhan
vegetatif tanaman terhambat dan mengganggu lingkungan (data tidak
dipublikasikan). Diduga penggunaan Paclobutrazol secara berlebihan akan
mengakibatkan terjadinya pencemaran air dan tanah sehingga pertumbuhan
tanaman akan terganggu (Adiel et al. 2011). Terhambatnya pertumbuhan vegetatif
oleh residu Paclobutrazol akan mengganggu produksi pada tahun-tahun
berikutnya.
Akhir-akhir ini telah ditemukan zat penghambat tumbuh yang mempunyai
sifat fisiologi mirip dengan Paclobutrazol tetapi tidak meninggalkan residu setelah
diaplikasikan. Zat tersebut adalah Prohexadion-Ca. Menurut Kofidis et al. (2008),
Prohexadione-Ca menyebabkan penurunan pertumbuhan dengan cara memblokir
2
biosintesis giberelin. Prohexadion-Ca adalah bahan kimia yang dapat
dimetabolisme dengan cepat dalam jaringan tanaman (Evans et al. 1999) dan
sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan tunas tanaman apel (Medjdoub
dan Blanco 2003). Prohexadione-Ca saat ini digunakan untuk menekan
pertumbuhan vegetatif dari buah pohon pome dan juga mengontrol tinggi tanaman
dipohon buah-buahan lainnya, sayuran dan biji-bijian (Kofidis et al. 2008). Hasil
penelitian Adiel et al. (2011) menunjukan bahwa Prohexadion-Ca dapat
menginduksi pembungaan pada mangga. Prohexadion-Ca efektif dalam menekan
pertumbuhan vegetatif, meningkatkan jumlah pembungaan, dan meningkatkan
hasil dan kualitas buah pada rasberry (Poledica et al. 2012). Aplikasi
Prohexadion-Ca juga telah efektif digunakan untuk mempercepat pembungaan
pada tanaman apel (Owens dan Stiver 1999), ceri (Elfving et al. 2003), dan
mangga (Adiel et al. 2011). Prohexadione-Ca adalah pengatur tumbuh yang relatif
baru, dengan efek residu pendek yang berlangsung hanya beberapa minggu (Adil
et al. 2011). Dengan demikian tidak seperti Paclobutrazol, penggunaan
Prohexadion-Ca dapat menghambat pertumbuhan tanaman vegetatif dan
menginduksi bunga tanpa menyebabkan resiko pada tanah.
Pengaturan pembungaan dapat pula dilakukan secara fisik yaitu dengan
strangulasi. Susanto et al. (2002) menyatakan bahwa strangulasi pada tanaman
jeruk pamelo mampu menginduksi tanaman untuk berbunga dan membentuk buah.
Penelitian Putra (2002) menyatakan bahwa strangulasi batang utama dengan
penggunaan kawat 2.0 mm dalam waktu tiga bulan mampu meningkatkan
pembungaan jeruk pamelo „Nambangan‟. Hasil penelitian lainnya menunjukan
bahwa strangulasi pada tanaman jeruk pamelo menghambat translokasi fotosintat
dari tajuk ke akar sehingga terjadi peningkatan akumulasi karbohidrat di bagian
tajuk yang akan merangsang tanaman jeruk untuk berbunga dan membentuk buah
(Susanto 2002, Yamanishi et al. 1995).
Aplikasi Paclobutrazol pada tanaman mangga menyebabkan mata tunas
menjadi dorman dan pecah tunas akan terjadi setelah beberapa bulan aplikasi
Paclobutrazol. Pemberian etephon, BAP, atau KNO3 dapat mempercepat pecah
tunas dan pembentukan bunga (Poerwanto et al. 1995). Etephon merupakan salah
satu zat pengatur tumbuh sintetik yang mampu mengatasi dormansi tunas
generatif, antara lain pada mangga dan jeruk (Syahbudin 1999). BAP adalah salah
satu sitokinin sintetik yang dapat mendorong pembelahan sel, morfogenesis,
pertunasan, pembelahan kloroplas, serta menghambat senesen dan absisi. KNO3
dapat menyerempakkan pecah tunas pada tanaman mangga (Efendi 1994).
Tujuan Penelitian
1 Mempelajari efektivitas perlakuan induktor pembungaan (Prohexadion-Ca,
Paclobutrazol, dan strangulasi) terhadap pembungaan tanaman jeruk keprok
2 Mempelajari efektivitas perlakuan zat pemecah dormansi (etephon, BAP, dan
KNO3) terhadap pembungaan tanaman jeruk keprok
3 Mempelajari pengaruh interaksi antara perlakuan induktor pembungaan dan
zat pemecah dormansi pada pembungaan tanaman jeruk keprok.
3
Hipotesis
1. Terdapat satu atau lebih perlakuan penginduktor pembungaan yang
mempercepat pembungaan tanaman jeruk keprok.
2. Terdapat salah satu atau lebih zat pemecah dormansi yang dapat memecah
dormansi pada tanaman jeruk keprok.
3. Terdapat interaksi antara perlakuan induktor pembungaan dan zat pemecah
dormansi pada pembungaan tanaman jeruk keprok.
2
TINJAUAN PUSTAKA
Taksonomi dan Morfologi Tanaman Jeruk
Jeruk merupakan tanaman yang termasuk dalam famili Rutaceae, sub famili
Aurantioideae. Famili Rutaceae terdiri dari 130 genus dan yang paling banyak
dibudidayakan adalah genus Citrus. Genus Citrus terdiri dari dua sub genus yaitu
Papeda dan Eucitrus. Papeda memiliki tangkainya panjang, pangkal daun
bersayap, dan buahnya tidak dapat dimakan karena adanya tetes-tetes minyak
pedas yang banyak dalam kantong juice, sedangkan Eucitrus merupakan jenis
tanaman jeruk yang paling banyak dan paling luas dibudidayakan karena buahnya
enak untuk dimakan. Jeruk keprok (Citrus reticulata) merupakan salah satu
spesies yang termasuk di dalam subgenus Eucitrus (Samson 1980).
Genus Citrus pada umumnya berupa pohon atau perdu, posisi daun
berhadap-hadapan atau berseling, bentuk daun bisa berupa daun tunggal atau
majemuk. Jeruk berdaun menyirip dan beranak daun satu (unifoliatus) dan dahan
yang lebih dewasa biasanya tidak berduri. Pohon jeruk mempunyai akar tunggang
dan mempunyai beberapa rambut akar. Bunga tumbuh pada ketiak daun, tunggal
atau dalam rangkaian. Bunga jeruk berbau sangat harum bila membuka penuh,
kelopak berbentuk segi tiga yang runcing atau tumpul, dan berbulu halus. Dari
luar bunga jeruk berwarna putih hijau kekuningan atau putih kekuningan dengan
bintik kelenjar kuning muda sedangkan dari dalam berwarna putih. Buah
merupakan jenis beri yang spesial yang disebut hesperidium, lapisan luar kaku
dan mengandung banyak kelenjar minyak atsiri. Kulit buah mula-mula berwarna
hijau tetapi setelah masak warna berubah menjadi kuning atau jingga. Lapisan
kulit ini disebut flavedo. Lapisan tengah bersifat seperti spon, terdiri atas jaringan
bunga karang yang biasanya berwarna putih yang disebut dengan albedo. Biji
berisi satu atau lebih embrio (poliembrioni) (Harjadi 1996).
Syarat Tumbuh
Jeruk dapat tumbuh pada daerah antara 45oLU-35oLS. Di daerah subtropis,
tanaman jeruk ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 650 m dpl, sedangkan
di daerah katulistiwa sampai ketinggian 2000 m dpl. Suhu optimum untuk
pertumbuhan dan perkembangan jeruk antara 25oC-30oC. Aktivitas pertumbuhan
jeruk akan berkurang bila temperatur kurang dari 13o C tetapi masih bisa bertahan
pada temperatur kurang dari 13oC (Pracaya 1999).
4
Tanaman jeruk tumbuh baik pada tipe tanah yang berdrainase baik,
memiliki porositas yang baik, dan bersolum dalam seperti jenis tanah aluvial.
Kisaran pH yang optimal untuk pertumbuhan jeruk adalah 5-8. Air diperlukan
untuk pertumbuhan, pembungaan, dan produksi jeruk, namun jeruk peka terhadap
kondisi tergenang dan kelembaban yang tinggi karena dapat menimbulkan
penyakit (Samson 1980).
Fisiologi Pembungaan
Pohon buah mengalami siklus tumbuh dari embrio (dalam biji), kecambah,
yuwana (juvenil) dan dewasa. Tanaman akan mengalami perubahan secara
perlahan-lahan dari masa muda ke masa dewasa. Masa muda tanaman ditandai
dengan belum adanya kemampuan untuk berbunga pada tanaman tersebut. Bagian
bawah yang jauh dari akar telah menjadi dewasa, sedangkan bagian yang dekat
dari akar biasanya masih muda. Pada saat tanaman mulai mampu berbunga
disebut sebagai masa transisi. Masa transisi pada tanaman tidak berlangsung
serentak. Transisi dari juvenil ke dewasa melalui suatu tahapan dimana bagianbagian bawah tetap mempertahankan karakteristik juvenil sementara bagian atas
pohon mulai berbunga (Poerwanto 2003).
Bagian batang yang berbatasan dengan akar juga tetap pada fase juvenil.
Beberapa ahli fisiologi menghubungkan fenomena ini dengan produksi hormon
akar yang ditranslokasikan ke atas. Perubahan peningkatan hormon ini dalam
meristem apikal bertanggung jawab untuk transisi dari juvenil ke tahap dewasa.
Pucuk apikal juvenil dan dewasa mempunyai tipe RNA yang berbeda dengan
kode genetik suatu klon tetap. Perubahan ini mencerminkan represi dan ekspresi
gen yang dibawa hormon (Poerwanto 2003)
Giberelin merupakan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang berperan dalam
proses pembungaan. Aplikasi ZPT memberikan respon yang berbeda pada setiap
jenis tanaman, demikian juga dengan giberelin. Tidak semua tanaman yang diberi
giberelin dapat berbunga. Goldlochmidt dan Monselise (1972) menyatakan bahwa
penurunan giberelin diperlukan untuk menginduksi pembungaan pada tanaman
jeruk dan tanaman berkayu lainnya. Goldschmidt dan Monselise (1972)
selanjutnya juga menyatakan bahwa penghambatan pembungaan oleh giberelin
mungkin merupakan pengaruh langsung yang disebabkan oleh peningkatan
pertumbuhan vegetatif.
Lang (1952) menyatakan bahwa proses pembentukan bunga dibagi menjadi
empat tahap. Pertama, induksi atau inisiasi bunga dan diferensiasi primordia
bunga. Kedua, penyusunan/organisasi bunga dan diferensiasi bagian-bagian bunga
secara individu. Ketiga, pematangan bunga dan biasanya terjadi bersamaan
dengan proses pertumbuhan bagian-bagian bunga, diferensiasi jaringan sporogen,
meiosis, tepung sari dan perkembangan kantung embrio. Keempat, antehis atau
bunga mekar. Induksi bunga merupakan suatu tahapan ketika kuncup vegetatif
dirangsang secara biokimia dan berubah menjadi pucuk reproduktif. Tidak ada
perubahan morfologi yang menandakan tahap ini terjadi (Poerwanto 2003).
Inisiasi bunga merupakan bagian awal dari fase reproduktif tanaman
(Khrisnapoorty 1981). Pada tahap ini tunas vegetatif dirangsang secara biokimia
dan berubah menjadi tunas reproduktif. Menurut Janick (1972) inisiasi bunga
diatur oleh hubungan antara kandungan karbohidrat dan nitrogen (nisbah C/N)
5
pada tanaman. Nisbah C/N yang tinggi dapat menginduksi pembungaan,
sedangkan bila nisbah C/N rendah tanaman akan lebih mengarah pada
pertumbuhan vegetatif. Guardiola (1981) menyatakan inisiasi bunga merupakan
tahap paling selektif terhadap faktor hormon dan lingkungan, jika kondisinya
tidak sesuai maka perkembangan tunas bunga menjadi terhambat.
Induksi bunga adalah fase yang paling penting dalam proses pembungaan.
Pada fase ini terjadi perubahan fisiologis atau biokimia pada mata tunas dari
pertumbuhan vegetatif mengarah pada pertumbuhan generatif. Induksi
pembungaan merupakan fase yang penting karena perubahan hanya nampak pada
kuncub bunga, sedangkan perubahan secara morfologis tidak ada. Induksi
pembungaan berkaitan dengan beberapa faktor. Faktor tersebut adalah faktor
eksternal, internal dan manipulasi oleh manusia. Faktor eksternal yaitu suhu,
stress air, dan panjang hari; faktor internal yaitu kandungan nitrogen, karbohidrat,
asam amino, dan hormon serta faktor manipulasi oleh manusia seperti
girdling/ringing, pemangkasan, pengeringan, pamangkasan akar, pelengkungan
cabang, dan pemberian zat pengatur tumbuh.
Aplikasi zat pengatur tumbuh yang berpotensi menurunkan aktivitas
giberelin endogen diharapkan mampu meningkatkan pembungaan pada tanaman
jeruk. Menurut Wattimena (1987), Paclobutrazol adalah senyawa aktif yang
menghambat produksi giberelin, sehingga secara tidak langsung menyediakan
sebagian besar fotosintat untuk pertumbuhan generatif. Prohexadion-Ca adalah
senyawa yang dapat menyebabkan penuruan pertumbuhan dengan cara memblokir
biosintesis giberelin, sehingga dapat menghambat pertumbuhan vegetatif (Adiel et
al. 2011)
Mengacu pada penelitian Goldsmidt dan Monselise (1972) bahwa dalam
pengaturan pembungaan digunakan zat yang dapat menekan biosintesis giberelin
yang disebut sebagai zat penghambat tumbuh. Penggunaan zat penghambat
tumbuh secara langsung menekan pertumbuhan vegetatif sehingga akan
meningkatkan nisbah C/N dan mendorong terjadinya inisiasi tunas bunga.
Penggunaan retardan dalam mengatur pembungaan kadang-kadang menyebabkan
dormansi tunas, sehingga tunas-tunas yang sudah terinisiasi tidak dapat muncul
dan berkembang menjadi tunas bunga. Menurut Ryugo (1988) pemecahan
dormansi dari tunas-tunas bunga tersebut tergantung pada keberadaan cadangan
karbohidrat pada tanaman.
Pengaruh Prohexadione-Ca dalam Pembungaan
Akhir-akhir ini telah ditemukan zat penghambat tumbuh yang mempunyai
sifat fisiologi mirip dengan Paclobutrazol tetapi tidak meninggalkan residu setelah
aplikasi. Zat pengatur tumbuh tersebut ialah Prohexadion-Ca. Prohexadione-Ca
menyebabkan penurunan pertumbuhan dengan cara memblokir biosintesis
giberelin. Prohexadione-Ca adalah zat pengatur tumbuh yang relatif baru, dengan
efek residu pendek yang berlangsung hanya beberapa minggu (Adil et al. 2011).
Prohexadion-Ca adalah bahan kimia yang dianggap sebagai zat pengatur
tumbuh yang paling aman karena tidak menyebabkan kontaminasi pada tanah,
dan penggunaan Prohexadion-Ca dengan dosis yang rendah dapat menekan
pertumbuhan pada tanaman apel (Unrath 1999). Prohexadion-Ca adalah bahan
kimia yang dengan cepat dimetabolisme dalam jaringan tanaman (Evans et al.
6
1999) dan sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan tunas tanaman apel
(Medjdoub dan Blanco 2003). Prohexadion-Ca efektif dalam menekan
pertumbuhan vegetatif, meningkatkan pembungaan, serta meningkatkan hasil dan
kualitas buah pada rasberry (Poledica et al. 2012). Aplikasi Prohexadion-Ca juga
telah efektif digunakan untuk mempercepat pembungaan pada tanaman apel
(Owens dan Stiver 1999), ceri (Elfving et al. 2003), dan mangga (Adiel et al.
2011).
Beberapa tahun terakhir, Prohexadione-Ca telah digunakan sebagai
alternatif untuk pengganti Dominozide. Dominozide menimbulkan masalah dalam
pencemaran lingkungan dan penggunaannya saat ini sangat dibatasi.
Prohexadione-Ca dianggap aman karena tidak memiliki efek terhadap mamalia
dan berpotensi rendah untuk bioakumulasi dalam lingkungan. Prohexadione-Ca
saat ini digunakan untuk menekan pertumbuhan vegetatif dari buah pohon pome
dan juga mengontrol tinggi tanaman di pohon buah-buahan lainnya, sayuran, dan
biji-bijian (Kofidis et al. 2008). Hasil penelitian Adiel et al. (2011) menunjukkan
bahwa Prohexadion-Ca dapat menginduksi pembungaan pada mangga.
Prohexadion-Ca diaplikasikan pada tanaman melalui daun. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian melalui daun lebih efektif jika dilakukan
beberapa kali dengan dosis yang rendah. Prohexadion-Ca dengan dosis 0.5 g per
liter air menyebabkan tanaman mangga berbunga lebih cepat 30 hari
dibandingkan tanaman kontrol (Adiel et al. 2011), sedangkan dengan dosis 0.20.4 g per liter Prohexadion-Ca efektif menghambat pertumbuhan tanaman apel
sebesar 27%-36% dibandingkan kontrol. Dengan demikian tidak seperti
Paclobutrazol, penggunaan Prohexadion-Ca dapat menghambat pertumbuhan
vegetatif tanaman dan induksi bunga tanpa menyebabkan residu pada tanah.
Pengaruh Paclobutrazol dalam Pembungaan
Paclobutrazol dapat diaplikasikan pada tanaman melalui daun atau tanah.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan melalui tanah lebih efektif
dibandingkan perlakuan melalui daun, sedangkan penyemprotan melalui daun
akan lebih efektif jika dilakukan beberapa kali dengan dosis yang rendah (Voon
et al. 1992).
Paclobutrazol diserap oleh tanaman melalui daun, pembuluh batang, atau
akar, kemudian translokasikan secara akropetal melalui xylem ke bagian tanaman
yang lain. Pada meristem sub apikal senyawa ini akan menghambat biosintesis
giberelin yang selanjutnya akan menyebabkan penurunan laju pembelahan sel
sehingga menghambat pertumbuhan vegetatif dan secara tidak langsung akan
mengalihkan fotosintat ke pertumbuhan reproduktif yang diperlukan untuk
membentuk bunga dan buah (Susanto dan Poerwanto 1999)
Paclobutrazol dapat menginduksi pembungaan beberapa pohon buah-buahan
tropis (Voon et al. 1992) sebagai akibat dari kemapuan menghambat biosintesis
giberelin. Giberelin merupakan faktor endogen yang menghambat pembungaan
jeruk dan beberapa pohon buah-buahan lain. Poerwanto dan Inoue (1990) telah
membuktikan bahwa aktivitas mirip giberelin pada tanaman jeruk Satsuma yang
terinduksi bunganya, lebih rendah daripada yang tidak terinduksi.
7
Penghambatan biosintesis giberelin oleh Paclobutrazol yaitu pada proses
oksidasi kauren menjadi asam kaurenat, berakibat meningkatnya biosintesis asam
absisat (ABA) yaitu hormon yang berperan dalam dormansi tunas (Wattimena
1987). Terhambatnya biosintesis giberelin menyebabkan perpanjangan sel pada
meristem apikal berjalan lambat sehingga menekan pertumbuhan vegetatif pada
tanaman (Susanto dan Poerwanto 1999).
Pembungaan berhubungan dengan kandungan giberelin dalam tanaman.
Kandungan giberelin yang tinggi akan menekan kandungan karbohidrat pada
pucuk yang aktif tumbuh sehingga menghambat pembungaan. Pemberian
Paclobutrazol sebagai zat penghambat tumbuh yang meghambat biosintesis
giberelin dapat menginduksi pembungaan (Sach 1977)
Aplikasi Paclobutrazol secara nyata berperan menginduksi pembungaan
tanaman mangga di luar musim pada tanaman. Bunga muncul pada 61-71 hari
setelah aplikasi Paclobutrazol dengan persentase pembungaan 83.3%-100%,
sementara pada kontrol tidak berbunga sama sekali. Selain itu, Paclobutrazol
secara nyata menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman mangga, yaitu
menurunkan total tunas dan memperpendek panjang tunas. Induksi pembungaan
terjadi pada 61-71 hari setelah perlakuan Paclobutrazol pada tanaman mangga
(Susanto dan Poerwanto 1999). Konsentrasi pemberian Paclobutrazol dan efek
penggunaan Paclobutrazol pada setiap tanaman bervariasi, hal ini dipengaruhi
oleh faktor genetik dan faktor lingkungan (Voon et al. 1992). Lontoh et al.
(1989) menyatakan bahwa penggunaan Paclobutrazol memiliki efek residu pada
tahun berikutnya, hal ini diperkuat oleh Lyer dan Kurian (1991) yang menyatakan
bahwa, efek Paclobutrazol dapat bertahan selama 2 tahun. Dari beberapa
penelitian penggunaan Paclobutrazol terlihat bahwa konsentrasi dan waktu
pemberian Paclobutrazol harus tepat sehingga ada jaminan akan keberhasilan
pembungaan.
Strangulasi
Salah satu cara menginduksi pembungaan pada tanaman yaitu dengan cara
pengikatan batang ataupun cabang tanaman dengan menggunakan kawat.
Pengikatan batang ataupun cabang tanaman dengan menggunakan kawat disebut
dengan strangulasi. Strangulasi dapat menginduksi pembungaan rambutan diduga
karena pengaruh pada berbagai hal. Pertama, akan menghambat translokasi
fotosintat dari tajuk ke akar, sehingga terjadi penumpukan karbohidrat di bagian
tajuk. Penumpukan karbohidrat ini akan menyebabkan peningkatan nisbah C/N
pada tajuk. Nisbah C/N yang tinggi pada tajuk penting dalam pembungaan. Kedua,
hambatan translokasi karbohidrat ke akar menyebabkan akar kekurangan energi
untuk melakukan aktivitasnya. Aktivitas akar akan berkurang dalam mengabsorsi
air, unsur hara, sintesis hormon. Rendahnya absorsi hara terutama nitrogen akibat
dari strangulasi akan menyebabkan nisbah C/N pada tajuk akan meningkat. Absori
air yang berkurang akan menyebabkan stress air fisiologis pada tanaman. Stress
air akan menyebabkan hidrolisis pati dan protein menjadi bentuk yang lebih
sederhana yang akan digunakan tanaman menginduksi bunga. Ketiga,
terganggunya fungsi akar karena akan menyebabkan berkurangnya sintesis
hormon, termasuk giberelin (Poerwanto 2003).
8
Thamrin (2008) menyatakan bahwa strangulasi dengan cara melilitkan
kawat dengan diameter 3.0 mm pada batang utama, menekan kawat ke batang
sedalam 3.0 mm, dan dilepaskan tiga bulan setelah aplikasi dapat mempercepat
terbentuknya kuncup bunga, meningkatkan bunga mekar, buah terbentuk, dan
fruit set per pohon, jika dibandingkan dengan tanpa perlakuan strangulasi.
Strangulasi dapat meningkatkan kandungan karbohidrat daun dan nisbah C/N
dibandingkan tanaman kontrol, tetapi kandungan nitrogen pada daun akan
menurun dibandingkan kontrol. Tanaman yang diberi perlakuan strangulasi
memiliki panjang tunas yang lebih pendek dan memiliki jumlah tunas yang lebih
sedikit dibandingkan dengan tanpa perlakuan strangulasi. Tanaman yang
diberikan perlakuan strangulasi dapat mempercepat pembungaan, meningkatkan
jumlah kuncup bunga, dan jumlah cluster. Tanaman yang diberikan perlakuan
strangulasi juga memiliki jumlah karbohidrat yang lebih lebih tinggi dibandingkan
dengan tanpa perlakuan strangulasi (Ramda 2005).
Hasil percobaan pada Rambutan di Bogor menunjukan bahwa perlakuan
ringing pada bulan Mei, Juni, atau Juli dapat menyebabkan pohon rambutan
berbunga lebih awal daripada kontrol (Poerwanto 2001). Percobaan Poerwanto
(2001) menunjukan bahwa tanaman yang tidak diperlakukan (cek) berbunga pada
awal Oktober, sedangkan tanaman yang diringing berbunga mulai pertengahan
Juni. Dengan mengatur waktu ringing dapat diatur pula waktu berbunga rambutan,
sehingga waktu panen rambutan juga dapat diatur (Poerwanto 2003).
Etephon
Etephon (asam 2-kloroetil fosfonat) merupakan salah satu zat pengatur
tumbuh sintetik yang mampu mengatasi dormansi tunas generatif antara lain pada
leci (Poerwanto et al. 1997), mangga (Efendi 1994), dan jeruk keprok siem
(Sostenes 1996). Fungsi etephon setelah pemberian Paclobutrazol adalah sebagai
zat pemecah dormansi mata tunas generatif, karena menurut Mehouachi et al.
(1996), aplikasi Paclobutrazol juga meningkatkan biosintesis asam absisat dan hal
itu menyebabkan pucuk yang telah terinduksi berbunga mengalami dormansi.
Menurut Moore (1979), etephon dalam jaringan tanaman terhidrolisis
menghasilkan etilen, ion klor, dan fosfat. Etilen disamping berfungsi mendorong
pemecahan dormansi tunas, juga mendorong terjadinya absisi.
Etephon adalah senyawa yang secara spontan melepas etilen setelah kontak
dengan air. Etephon mampu merangsang pembungaan nanas dan mempercepat
pembungaan pada jeruk keprok dibandingkan dengan kontrol. Muchjajib dan
Espino (1991) menambahkan bahwa aplikasi Paclobutrazol yang diberikan
bersamaan dengan etephon mampu meningkatkan persentase pembungaan pada
tanaman rambutan. Penelitian yang dilakukan oleh Chandraparnih et al. (1992)
pada tanaman lychee yang berumur 15 tahun menunjukkan bahwa pemberian
Paclobutrazol 1000 ppm (foliar sprays) yang diikuti dengan aplikasi etephon 400
ppm ternyata dapat meningkatkan pembungaan sampai 300%.
BAP (6-Benzyl Amino Purin)
BAP merupakan turunan adenin yang aktivitasnya tinggi dalam mendorong
pembelahan sel. BAP mempunyai struktur yang serupa dengan kinetin dan
merupakan salah satu jenis sitokinin sintetik (Wattimena 1987).
9
Tidak seperti auksin dan giberelin, sitokinin hanya sedikit yang
ditranslokasikan melalui jaringan yang hidup pada tanaman. Sitokinin dibawa
secara pasif sepanjang aliran transpirasi pada xylem dari akar, yang merupakan
sumber utama produksinya, menuju ke bagian-bagian lain dalam tanaman
(Krishnamoorty 1981).
Krishnamoorty (1981) menyatakan bahwa selama pecah tunas, terjadi
perubahan-perubahan dalam tunas, yaitu peningkatan pada kandungan sitokinin,
asam nukleat, protein, poliamin, respirasi produksi etilen dan sebagainya.
Chandraparnih et al. (1992) menambahkan bahwa total kandungan sitokinin
meningkat dalam xylem 30 hari sebelum pembentukan tunas bunga dan maksimal
selama pembentukan bunga dan bunga mekar (antesis). Hasil penelitian
Chandraparnih et al. (1992) menunjukkan bahwa kandungan sitokinin yang tinggi
berkorelasi positif dengan pembentukan bunga. Sitokinin berfungsi mendorong
pemecahan tunas bunga yang mengalami dormansi. Watimmena (1987)
menyatakan bahwa pemberian BAP 100 ppm dapat mempercepat pecah tunas
serta meningkatkan jumlah tunas pecah. Penelitian Sostenes (1996) menyatakan
bahwa pemberian zat pemecah dormansi BAP dengan dosis 100 ppm yang
diaplikasikan tiga bulan setelah pemberian Paclobutrazol berpengaruh dalam
meningkatkan jumlah tunas, panjang tunas, dan jumlah daun dibandingkan
dengan kontrol.
Kalium Nitrat (KNO3)
Kalium nitrat (KNO3) mengandung dua unsur hara esensial yang dibutuhkan
tanaman, yaitu kalium dan nitrogen. Peranan utama kalium dalam metabolisme
tanaman adalah sebagai katalisator, terlibat dalam sintesis protein dari asam-asam
amino, dan metabolisme karbohidrat. Ion kalium dalam sel tanaman mempunyai
peranan dalam transportasi karbohidrat fotosintesis dan meningkatkan
permeabilitas membran. Nitrogen dalam tanaman berperan pada sintesis asam
amino saat pembentukan protein (Prahardini et al. 1989).
KNO3 mampu berperan sebagai zat pemecah dormansi pada tanaman jeruk.
Penelitan yang dilakukan oleh Erez et al. (1971) membuktikan bahwa KNO3
efektif dalam memecah dormansi pada peach dan beberapa tanaman decidious.
Bondan dan Linsangan (1979) menyatakan bahwa zat pemecah dormansi KNO3
dapat menginduksi pembungaan pada mangga. Lebih lanjut Subhandrabandhu dan
Tongumpai (1990) menambahkan bahwa KNO3 efektif dalam memecahkan
dormansi beberapa varietas mangga di Thailand. Menurut Efendi (1994), KNO3
yang diaplikasikan setelah pemberian Paclobutrazol pada mangga mampu
mempercepat dan meningkatkan persen pembungaan dibandingkan perlakuan
Paclobutrazol secara mandiri.
Aplikasi KNO3 efektif untuk merangsang munculnya tunas bunga pada
tanaman mangga (Efendi 1994). Prahardini et al. (1989) juga menyatakan bahwa
aplikasi KNO3 pada jeruk keprok siem mampu mempercepat pembungaan,
meningkatkan persen rantang reproduktif, serta jumlah bunga dan jumlah bakal
buah per tanaman dibandingkan kontrol.
10
METODE
Tempat dan Waktu Penelitian
Percobaan dilakukan di kebun jeruk petani di Desa Tangkil, Kecamatan
Caringin, Kabupaten Bogor yang terletak pada ketinggian 700 m dari permukaan
laut dan mempunyai suhu rata-rata harian maksimum 30±2oC dan minimum
21±2oC. Penelitian ini berlangsung dari November 2012 sampai Juli 2013.
Pengujian karbohidrat dan nitrogen dilakukan di Laboratorium Balai Besar
Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor. Pengujian
kandungan klorofil dilakukan di Laboratorium Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Pengujian kualitas buah di lakukan di
Laboratorium Pasca Panen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut
Pertanian Bogor.
Bahan dan Alat
Penelitian menggunakan tanaman jeruk keprok berumur 5 tahun yang
memiliki kesamaan diameter batang dan ukuran tajuk, hal ini bertujuan untuk
menyeragamkan kondisi tanaman. Bahan-bahan yang digunakan antara lain pupuk
kandang 60 kg/tanaman, Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, etephon, BAP, KNO3,
tali, dan label. Alat-alat yang digunakan adalah tangga, alat penyiram, jangka
sorong, piloks untuk menandai, ember plastik, pengaduk, kawat 2 mm untuk
strangulasi, cool box, tang, dan Chlorophyll Meter (SPAD-502).
Bahan yang digunakan untuk analisis buah adalah jeruk keprok yang
diperoleh dari hasil panen, fenoftalein, NaOH 0.1 N, dan aquades. Peralatan yang
digunakan untuk analisis kualitas buah terdiri dari timbangan analitik, hand
reftaktometer, dan alat titrasi.
Rancangan Percobaan
Percobaan ini menggunakan Rancangan Blok Terpisah (Split Block Design).
Faktor pertama adalah induktor pembungaan yang terdiri atas empat taraf yaitu,
kontrol (I1), aplikasi Prohexadione-Ca (I2), Paclobutrazol (I3), dan strangulasi (I4).
Faktor kedua adalah aplikasi pemberian zat pemecah dormansi yang terdiri atas
empat taraf yaitu, kontrol (D1), etepon (D2), BAP (D3), dan KNO3 (D4). Terdapat
16 kombinasi perlakuan dan empat ulangan sehingga digunakan 64 tanaman
sebagai satuan percobaan. Data yang diperoleh diuji dengan uji DMRT (Duncan‟s
Multiple Range Test) pada taraf nyata 5%.
Model linier dari rancangan blok terpisah secara umum dapat dituliskan
sebagai berikut :
Yijk = µ + Kk + αi + δik + βj + γik + (αβ)ij +εijk
Dimana :
Yijk : Nilai pengamatan pada faktor induksi taraf ke-i, faktor zat
pemecah dormansi taraf ke-j dan blok ke-k
µ
: Komponen aditif dari rataan
Kk : Pengaruh blok ke-k
αi
: Pengaruh utama faktor induksi ke-i
11
βj
: Pengaruh utama faktor zat pemecah dormansi ke-j
(αβ)ij : Komponen interaksi dari faktor induksi ke-i dan faktor pemecah
dormansi ke-j.
δik : Komponen acak dari faktor induksi yang menyebar normal (0,ϭδ2)
γik : Komponen acak dari faktor pemecah dormansi yang menyebar
normal (0, ϭγ2)
εijk :
Pengaruh acak dari interaksi induksi dan zat pemecah dormansi
yang menyebar normal
Pelaksanaan Percobaan
Persiapan Penelitian
Tanaman dipilih sebanyak 64 tanaman berdasarkan ukuran tajuk, umur
tanaman, dan kondisi tanaman. Setiap perlakuan diberikan label sesuai dengan
jenis perlakuan. Untuk keperluan pengamatan vegetatif pada setiap percobaan
dipilih 4 tunas berdasarkan arah mata angin per tanaman.
Pemupukan awal dilakukan sebelum perlakukan dasar dengan menggunakan
pupuk kandang sapi dengan dosis 60 kg/pohon yang diberikan sebelum perlakuan
dimulai. Pemangkasan (prunning) dilakukan sebelum perlakuan dimulai, hal ini
bertujuan untuk menghilangkan cabang-cabang yang kering dan terserang oleh
hama dan penyakit. Selain itu, dilakukan pembersihan gulma, penyemprotan
insektisida, dan penyemprotan fungisida.
Perlakuan Penelitian
Prohexadione-Ca diaplikasi pada daun dengan konsentrasi 500 ppm/pohon
dalam 1 liter air dan diaplikasikan sebanyak 2 kali. Aplikasi pertama dilakukan
setelah trubus menjadi dewasa (9 Desember 2012) dan aplikasi yang kedua
dilakukan pada 1 minggu setelah perlakukan pertama dilakukan (16 Desember
2012). Paclobutrazol diaplikasikan pada tanah sebanyak 1 kali dengan dosis 2
g/pohon dalam 1 liter air yang diaplikasikan ketika trubus menjadi dewasa (9
Desember 2012). Strangulasi dilakukan dengan cara melilitkan kawat berdiameter
2 mm pada pangkal pohon. Pelilitan dilakukan pada ketinggian 30 cm dari
pangkal pohon. Pelilitan dilakukan sekuat-kuatnya sampai kulit batang terluka.
Strangulasi diaplikasikan pada tanggal 9 Desember 2012 dan kawat di lepaskan 2
minggu setelah proses pelilitan (23 Desember 2012). Pemberian zat pemecah
dormansi dilakukan pada 45 HSA (Hari Setelah Aplikasi) induksi pembungaan
yaitu tanggal 23 Januari 2013. ZPT yang diberikan adalah etephon dengan
konsentrasi 200 ppm/pohon dengan volume 1 liter air, BAP dengan konsentrasi
200 ppm/pohon dengan volume 1 liter air, dan KNO3 40 g/pohon dalam 1 liter air.
Pengambilan sampel daun untuk analisis kandungan karbohidrat dan
kandungan nitrogen dilakukan sebelum tanaman berbunga. Analisis kandungan
karbohidrat daun dilakukan dengan metode Luff-Schoorl sedangkan untuk analisis
kandungan nitrogen dengan menggunakan metode Semimikro Kjeldhal.
Pengamatan luas daun dilakukan dengan menggunakan alat Leaf Area Meter.
Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian dengan mengambil daun ke-5 dari
tajuk yang sudah dewasa. Pengukuran tingkat kehijauan daun dilakukan dengan
menggunakan alat Chlorophyll Meter (SPAD-502) Minolta yang dilakukan pada
akhir penelitian yaitu tanggal 17 Februari 2013. Pengamatan kandungan klorofil
12
menggunakan metode Dan Sims (2002). Pengambilan sampel buah untuk analisis
kualitas buah dilakukan pada saat buah sudah siap untuk dipanen.
Pengamatan
Pada tiap tanaman sebanyak 4 ranting contoh diberi tanda untuk pengamatan
vegetatif. Ranting di luar contoh digunakan untuk sampel analisis kandungan
karbohidrat dan kandungan nitrogen. Sampel daun untuk analisis kandungan
karbohidrat dan nitrogen diambil dari daun yang sudah dewasa (berkembang
penuh dan berwarna hijau tua). Peubah yang diamati adalah:
Pertumbuhan vegetatif
1. Jumlah tunas per cabang
Pengamatan dilakukan setelah tunas pecah dan keluar bakal daun diamati
setiap minggu.
2. Panjang tunas (cm)
Pengamatan diukur dari pangkal tunas sampai pada titik tumbuh tunas
terminal dan diamati setiap minggu.
3. Jumlah daun per tunas
Pengamatan dilakukan setelah tunas pecah dan diamati setiap minggu.
Untuk pengolahan data, jumlah daun dikelompokan dalam selang waktu 2
minggu.
4. Luas daun contoh (cm2)
Luas daun diukur dengan menggunakan alat Leaf Area Meter. Daun yang
diamati adalah daun ke-5 dari tajuk yang sudah dewasa. Pengamatan
dilakukan pada akhir penelitian.
5. Kehijauan daun (unit)
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan alat Chlorophyll Meter
(SPAD-502) Minolta, dengan mengambil daun dari tajuk yang sudah
dewasa. Pengamatan tingkat kehijauan daun dilakukan pada akhir penelitian
yaitu 17 Februari 2013.
6. Analisis kandungan klorofil (mg/g)
Analisis kandungan klorofil dilakukan berdasarkan metode Dan Sims
(2002). Sampel daun yang diambil adalah daun ke-5 yang dihitung dari atas
(daun yang paling muda). Sampel daun ditimbang dengan berat ±0.02 g.
Daun tersebut dihaluskan dan ditambahkan acetris (85% aseton + 15% tris)
sebanyak 1 ml. Daun yang sudah halus dimasukan ke dalam microtube 2 ml,
sisa sampel dibilas dengan acetris sampai microtube penuh 2 ml. Setelah itu
disentrifugasi dengan kecepatan 14 000 rpm selama 10 detik. Supernatan
diambil 1 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan
ditambahkan acetris 3 ml ke dalam tabung reaksi dan ditutup dengan kaleng
kemudian dikocok dengan menggunakan vortex. Absorbansi diukur dengan
spektrophotometer pada panjang gelombang 470 nm, 537 nm, 647 nm, dan
663 nm.
Klorofil a : 0.018173*A663 – 0.000897*A537 – 0.003406*A647
Klorofil b : 0.02405*A647 – 0.004305*A537 – 0.005507*A663
13
Pembungaan
1. Waktu bunga pertama muncul (HSAIP).
Saat pertama berbunga adalah saat pertama muncul tunas bunga pada
tanaman setelah perlakuan induksi pembungaan.
2. Total bunga mekar.
Total bunga mekar adalah jumlah total bunga mekar di setiap tanaman
dihitung setiap satu minggu sekali setelah perlakuan.
Buah
1. Fruit set (%)
Fruit set diamati setelah fase bunga mekar, dihitung dari jumlah buah yang
terbentuk. Fruit set dihitung setiap dua minggu sekali dengan
menggunakan rumus :
Jumlah Bakal Buah Terbentuk
𝐹𝑟𝑢𝑖𝑡 𝑠𝑒𝑡 = Jumlah Total Bunga Terbentuk x 100 %
2. Jumlah buah
Jumlah buah yang terbentuk dihitung pada setiap tanaman, dilakukan
setiap satu minggu sekali setelah perlakuan.
3. Persentase gugur buah (%)
Persentase gugur buah dihitung di akhir penelitian. Perhitungan gugur
buah dihitung dengan menggunakan rumus :
Jumlah buah gugur
Gugur buah =
x 100 %
Jumlah buah terbentuk
4. Jumlah buah panen
Jumlah buah panen dihitung pada akhir penelitian.
5. Bobot panen (kg)
Bobot panen dihitung pada akhir penelitian.
Analisis Kimia
1. Analisis karbohidrat (%)
Analisis kandungan karbohidrat dilakukan dengan menggunakan metode
Luff-Schoorl (Lampiran 3)
2. Analisis nitrogen (%)
Analisis kandungan nitrogen dilakukan dengan menggunakan metode
Semimikro Kjeldhal (Lampiran 4)
3. Rasio C/N (%)
Perhitungan rasio C/N yang dilakukan dengan menggunakan rumus: :
Kandungan karbohidrat
Rasio C/N =
Kandungan nitrogen
Kualitas Buah Jeruk Keprok
1. Bobot buah (g)
Pengukuran dilakukan dengan menimbang setiap sampel buah hasil panen
setiap tanaman.
2. Kulit buah (g)
Pengukuran dilakukan dengan menimbang bobot kulit buah yang telah
dipisahkan dengan daging buah dan biji.
14
3. Daging buah (g)
Pengukuran dilakukan dengan menimbang bobot daging buah yang telah
dipisahkan dengan kulit buah dan biji .
4. Biji (g)
Pengukuran dilakukan dengan menimbang bobot biji buah yang telah
dipisahkan dengan daging buah dan kulit buah.
5. Jus (g)
Pengukuran dilakukan dengan menimbang total jus yang diperoleh dari
setiap buah.
6. Edible portion (%)
Pengukuran edible portion mengacu pada Muchtadi dan Sugiyono (1989)
dengan menimbang bobot daging buah dan membandingkan dengan
bobot total buah. Pengamatan menggunakan timbangan analitik dan
dihitung dengan rumus :
Bobot Daging Buah
BDD =
x 100 %
Bobot Total Buah
7. Juice portion (%)
Pengukuran juice portion dengan menimbang bobot jus buah dan
membandingkan dengan total buah. Pengamatan menggunakan timbangan
analitik dan dihitung dengan rumus :
Bobot Jus Buah
JP =
x 100 %
Bobot Total Buah
8. Padatan Terlarut Total (%)
Prosedur mengacu pada AOAC (1995), dimana padatan terlarut total
diukur dengan refraktometer dan dinyatakan dalam oBrix. Daging buah
dihancurkan, kemudian diambil sarinya menggunakan kain saring.
Selanjutnya sari buah tersebut diletakkan pada prisma reftraktometer,
kemudian ditutup dan dilakukan pembacaan di tempat terang. Sebelum
dan sesudah digunakan, prisma refraktometer dibersihkan dengan aquades
dan tisu.
9. Asam Tertitrasi (%)
Prosedur mengacu pada AOAC (1995) dimana kandungan asam diukur
dengan menghitung persen asam tertitrasi. Pengukuran kadar asam
dilakukan dengan menimbang sari jeruk sebesar 10 g kemudian
diencerkan pada labu takar 250 ml. Larutan dipipet 25 ml, dimasukan ke
dalam erlenmeyer 125 ml yang dilakukan sebanyak dua kali. Pengukuran
dilakukan dengan metode titrasi basa dengan menggunakan NaOH 0.1 N
dan indikator fenoftalein (tiga tetes). Titrasi dilakukan sampai larutan
berwarna merah muda stabil. Kandungan asam titrasi dihitung
menggunakan rumus :
ml NaOH x N NaOH x fp x 64
Asam tertitrasi =
x 100%
bobot bahan mg
Keterangan :
N : normalisasi larutan NaOH (0.1072)
fp : faktor pengencer (10)
15
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan Vegetatif
Perlakuan Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan strangulasi secara nyata
menurunkan jumlah tunas per cabang dibandingkan dengan kontrol. Jumlah tunas
vegetatif pada tanaman kontrol jauh lebih banyak yaitu 47.1 tunas dibandingkan
dengan tanaman yang mendapatkan perlakuan penginduktor pembungaan. Jumlah
tunas vegetatif per cabang yang paling rendah terdapat pada perlakuan strangulasi
yaitu 34.6 tunas, sedangkan perlakuan Paclobutrazol dan Prohexadion-Ca rata-rata
jumlah tunas yang terbentuk yaitu 36.3 tunas dan 36.8 tunas pada 10 MSA
(Minggu Setelah Aplikasi) induktor pembungaan (Tabel 1). Tekanan pertumbuhan
tunas pada perlakuan Prohexadion-Ca dan Paclobutrazol disebabkan karena
adanya penghambatan biosintesis giberelin. Menurut Wattimena (1988) pengaruh
giberelin terutama di dalam perpanjangan ruas tanaman yang disebabkan oleh
ukuran sel bertambah besar. Selain pemanjangan batang, giberelin juga
memperbesar luas daun dari berbagai jenis tanaman, mempengaruhi proses
perkecambahan, dan mengakhiri masa dorman pada biji. Menurut Poerwanto
(2003) menunjukan bahwa perlakuan strangulasi dapat menekan munculnya tunas
vegetatif, panjang tunas, dan jumlah daun karena terjadi penghambatan aliran
fotosintat ke akar yang menyebabkan akar kekurangan energi dalam penyerapan
mineral terutama nitrogen, air, dan dalam sistesis hormon di antaranya giberelin
sehingga dapat menekan pertumbuhan vegetatif pada tanaman. Davies (1995)
mengemukakan bahwa kandungan giberelin yang menurun akan mengakibatkan
terjadinya penurunan laju pertumbuhan sel pada meristem sub-apikal sehingga
pertumbuhan vegetatif akan terhambat.
Tabel 1 Jumlah tunas per cabang tanaman jeruk keprok pada perlakuan induktor
pembungaan dan zat pemecah dormansi
Minggu Setelah Aplikasi Induktor Pembungaan
(MSA)
Sebelum Aplikasi
Aplikasi Zat Pemecah
Zat Pemecah Dormansi
Dormansi
2
4
6
8
10
Induktor Pembungaan
Kontrol
6.7 a
13.6 a
24.2
33.1 a
47.1 a
Prohexadion-Ca
2.2 b
9.0 ab
17.4
21.2 b
36.8 b
Paclobutrazol
2.3 b
9.9 ab
18.7
24.4 ab
36.3 b
Strangulasi
1.2 b
7.3 b
18.3
25.8 ab
34.6 b
Pemecah Dormansi
Kontrol
3.6
13.7
22.2
28.3
37.7
Etephon
2.8
8.3
17.6
25.5
42.7
BAP
3.1
8.0
16.2
21.8
35.6
KNO3
2.8
9.9
22.7
28.8
38.9
Interaksi
tn
tn
tn
tn
tn
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan)
16
Perlakuan penginduktor pembungaan secara nyata menekan panjang tunas
pada tanaman jeruk dibandingkan perlakuan kontrol. Panjang tunas pada tanaman
kontrol 11.63 cm pada 10 MSA induktor pembungaan lebih panjang dibandingkan
dengan tanaman yang mendapat perlakukan penginduktor pembungaan. Panjang
tunas vegetatif pada perlakuan penginduktor pembungaan berturut-turut adalah
Paclobutrazol 6.16 cm, Prohexadion-Ca 7.88 cm, dan strangulasi 8.03 cm pada
10 MSA induktor pembungaan (Tabel 2). Penghambatan pertumbuhan panjang
tunas pada perlakuan Paclobutrazol dan Prohexadion-Ca terjadi karena adanya
penghambatan biosintesis giberelin dan mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan vegetatif pada tanaman. Arteca (1996) menyatakan bahwa giberelin
adalah faktor endogen yang menghambat pembungaan tanaman buah karena
merangsang pertumbuhan vegetatif. Wattimena (1987) menyatakan bahwa
giberelin memiliki pengaruh terutama di dalam pemanjangan ruas tanaman yang
disebabkan oleh bertambah besar dan bertambahnya jumlah sel-sel pada ruas-ruas
tanaman. Prawiranata et al. (1992) menyatakan bahwa penghambatan terhadap
biosintesis giberelin akan merangsang biosintesis hormon lainnya seperti asam
absisi (ABA), dimana ABA merupakan hormon tumbuhan yang berpengaruh
secara fisiologis yaitu menyebabkan tunas menjadi dorman sehingga pertumbuhan
vegetatif menjadi terhambat, yang ditunjukkan dengan lebih rendahnya jumlah
tunas vegetatif yang dihasilkan dan tunas berukuran lebih pendek dibandingkan
kontrol. Pada perlakuan strangulasi adanya tekanan pertumbuhan vegetatif pada
tanaman jeruk disebabkan karena terhambatnya translokasi fotosintat dari tajuk ke
akar. Novita (2007) dan Yamanishi et al. (1993) menyatakan bahwa tunas
vegetatif pada tanaman yang distrangulasi akan lebih rendah dibandingkan
dengan tanaman tidak distrangulasi, hal ini disebabkan karena terjadinya
penghambatan translokasi dari tajuk ke akar sehingga terjadi penghambatan
pertumbuhan tunas vegetatif dan menyebabkan terjadi peningkatan karbohidrat
pada daun.
Tabel 2
Panjang tunas tanaman jeruk keprok pada perlakuan induktor
pembungaan dan zat pemecah dormansi
Minggu Setelah Aplikasi Induktor Pembungaan (MSA)
Sebelum Aplikasi Zat
Aplikasi Zat Pemecah
Pemecah Dormansi
Dormansi
2
4
6
8
10
(cm)
Induktor Pembungaan
Kontrol
0.50 a
3.80 a
8.27 a 10.85 a 11.63 a
Prohexadion-Ca 0.00 b
1.60 b
4.23 b
6.76 b
7.88 b
Paclobutrazol
0.00 b
1.29 b
3.69 b
4.75 b
6.16 b
Strangulasi
0.04 b
1.57 b
4.06 b
7.14 b
8.03 b
Pemecah Dormansi
Kontrol
0.20
2.02
5.35
6.99
8.13
Etephon
0.21
2.65
5.87
8.40
9.28
BAP
0.04
2.07
4.95
7.08
7.86
KNO3
0.09
1.53
4.08
7.04
8.43
Interaksi
tn
tn
tn
tn
tn
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata
pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan)
17
Perlakuan penginduktor pembungaan secara nyata menekan pertumbuhan
jumlah daun pada tanaman jeruk dibandingkan perlakuan kontrol. Jumlah daun
yang terbentuk pada tanaman dengan perlakuan penginduktor pembungaan lebih
sedikit dibandingkan dengan kontrol (Tabel 3). Perlakuan yang paling efektif
dalam menekan terbentuknya jumlah daun adalah perlakuan Prohexadion-Ca dan
Paclobutrazol yaitu 7.8 daun dibandingkan dengan kontrol yaitu 14.2 daun pada
10 MSA induktor pembungaan. Perlakuan strangulasi menunjukkan jumlah daun
yang muncul per tunas yaitu 8.5 daun lebih sedikit dibandingkan dengan
perlakuan kontrol. Adanya tekanan pertumbuhan vegetatif pada perlakuan
Prohexadion-Ca dan Paclobutrazol disebabkan karena adanya penghambatan
biosintesis giberelin. Penelitian John (2002) menunjukkan bahwa aplikasi
Prohexadion-Ca menekan pertumbuhan panjang tunas pada tanaman.
Terhambatnya biosintesis giberelin oleh kedua zat pengatur tumbuh tersebut
secara langsung akan menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman. Pada
beberapa pohon buah-buahan dewasa seperti jeruk (Poerwanto dan Susanto 1996),
manggis (Rai et al. 2006) dan mangga (Efendi 1994), penghambatan pertumbuhan
vegetatif terjadi dengan aplikasi Paclobutrazol. Pada tanaman yang mendapatkan
perlakuan strangulasi, pertumbuhan vegetatif terhambat karena rendahnya suplai
air dan hara nitrogen. Strangulasi menyebabkan aliran hasil fotosintesis ke akar
berkurang, sehingga akar kekurangan energi untuk menyerap hara dan air.
Tabel 3 Jumlah daun tanaman jeruk keprok pada perlakuan induktor pembungaan
dan zat pemecah dormansi.
Minggu Setelah Aplikasi Induktor Pembungaan (MSA)
Sebelum Aplikasi
Aplikasi Zat Pemecah
Zat Pemecah Dormansi
Dormansi
2
4
6
8
10
Induktor Pembungaan
Kontrol
Prohexadion-Ca
Paclobutrazol
Strangulasi
Pemecah Dormansi
Kontrol
Etephon
BAP
KNO3
Interaksi
0.7 a
0.0 b
0.0 b
0.1 b
5.0 a
1.7 b
1.8 b
2.3 b
9.7 a
4.5 b
4.3 b
4.9 b
0.2
0.3
0.1
0.2
tn
2.8
3.3
2.2
2.7
tn
5.9
7.7
5.8
5.1
tn
10.5 a
6.3 b
6.2 b
6.3 b
14.2 b
7.8 b
7.8 b
8.5 b
7.3
7.8
6.6
7.7
tn
9.9
9.9
8.2
9.8
tn
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan)
Aplikasi zat pemecah dormansi tidak memberikan pengaruh yang nyata
untuk pengamatan jumlah daun per tunas pada setiap minggu setelah aplikasi.
Interaksi antara perlakuan penginduktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
tidak memberikan pengaruh yang nyata pada pengamatan jumlah daun. Hal ini
disebabkan karena sebelum pengaplikasian zat pemecah dormansi, sebagian
tanaman telah berbunga, sehingga aplikasi zat pemecah dormansi tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah tunas, panjang tunas, dan banyaknya daun
18
yang muncul pada tanaman jeruk keprok. Susanto dan Poerwanto (1999) juga
menyatakan bahwa perlakuan zat pemecah dormansi tidak berpengaruh terhadap
waktu munculnya bunga karena tanaman mangga berbunga sebelum diaplikasikan
zat pemecah dormansi.
Perlakuan strangulasi menunjukkan kehijauan daun yang berbeda nyata
dibandingkan Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan kontrol (Tabel 4). Strangulasi
menyebabkan aliran hasil fotosintesis ke akar berkurang
sehingga akar
kekurangan energi untuk menyerap hara dan air. Kurangnya energi dalam
menyerap nitrogen akan menurunkan kandungan nitrogen pada tanaman yang
menyebabkan kandungan klorofil akan berkurang sehingga warna daun akan
berubah menjadi kuning. Selain itu, strangulasi menyebabkan kandungan
karbohidrat pada daun meningkat. Karbohidrat pada daun disimpan pada
chloroplas. Pati yang tidak terpigmentasi akan disimpan pada amioplas sehingga
warna daun akan berubah menjadi kuning. Menurut pendapat Gardner et al.
(1991) menyatakan bahwa gejala kekurangan N mengakibatkan berkurangnya
warna hijau dari dedaunan (chlorosis). Daun akan menjadi lebih pucat, menguning,
dan akan mengakibatkan kematian.
Perlakuan Prohexadion-Ca secara nyata menekan perkembangan luas daun
pada tanaman jeruk keprok dibandingkan kontrol, namun tidak berbeda nyata
dengan perlakuan Paclobutrazol dan strangulasi (Tabel 4). Luas daun pada
perlakuan Prohexadion-Ca yaitu 11.18 cm2 lebih rendah dibandingkan kontrol
(15.50 cm2), Paclobutrazol (11.90 cm2), dan strangulasi (12.18 cm2). Hal ini
diduga, pada perlakuan Prohexadion-Ca ukuran sel daun tidak memanjang,
sehingga fungsi untuk memperluas daun juga terhambat. Terhambatnya
pembelahan sel pada tepi daun berhubungan dengan terhambatnya biosintesis
giberelin pada tanaman. Wattimena (1987) mendefinisikan zat penghambat
tumbuh (retardan) sebagai senyawa-senyawa organik sintetik yang bila diberikan
kepada tanaman yang responsif akan menghambat perpanjangan sel pada
meristem sub apikal, mengurangi laju perpanjangan batang.
Tabel 4 Kehijauan daun, luas daun, dan kandungan klorofil daun pada perlakuan
induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
Kehijauan
Luas
Klorofil Klorofil Total
Daun
Daun
a
b
Klorofil
2
(unit)
(cm )
(mg/g) (mg/g) (mg/g)
Induksi Pembungaan
Kontrol
59.46 a 15.50 a
1.59
0.63
2.22
Prohexadion-Ca
58.91 a 11.18 b
1.66
0.65
2.31
Paclobutrazol
61.14 a 11.90 ab
1.60
0.63
2.23
Strangulasi
54.50 b 12.18 ab
1.10
0.46
1.55
Pemecah Dormansi
Kontrol
58.25
12.55
1.55
0.61
2.16
Etephon
59.33
12.06
1.56
0.65
2.21
BAP
57.95
12.86
1.42
0.55
1.97
KNO3
58.49
13.30
1.42
0.56
1.98
Interaksi
tn
tn
tn
tn
tn
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata
pada taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan)
19
Pemberian perlakuan penginduktor pembungaan, zat pemecah dormansi,
dan interaksi antara penginduktor pembungaan dengan zat pemecah dormansi
tidak berpengaruh nyata terhadap pengamatan kandungan klorofil a, klorofil b,
dan total klorofil. Kandungan klorofil pada masing-masing perlakuan secara
berturut-turut, yaitu Prohexadion-Ca 2.31 mg/g, Paclobutrazol 2.23 mg/g, kontrol
2.22 mg/g, dan strangulasi 1.55 mg/g (Tabel 4).
Pertumbuhan Generatif
Perlakuan penginduktor pembungaan secara nyata mempercepat waktu
berbunga dibandingkan tanaman kontrol. Prohexadion-Ca dan strangulasi
mengakibatkan waktu mulai berbunga lebih cepat yaitu pada 17.50 HSAIP (Hari
Setelah Aplikasi Induktor Pembungaan) dan 16.50 HSAIP dibandingkan dengan
kontrol (39.00 HSAIP). Perlakuan Paclobutrazol secara nyata juga mempercepat
waktu berbunga yaitu 23.38 HSAIP dibandingkan kontrol tetapi tidak sebaik
perlakuan Prohexadion-Ca dan strangulasi (Tabel 5).
Total bunga secara nyata meningkat dengan perlakuan Prohexadion-Ca,
Paclobutrazol, dan strangulasi dibandingkan kontrol. Jumlah bunga pada
perlakuan Prohexadion-Ca yaitu 150.88 bunga secara nyata lebih banyak dari
kontrol (41.75 bunga) namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan Paclobutrazol
(123.81 bunga) dan strangulasi (180.50 bunga) (Tabel 5).
Perlakuan penginduksi pembungaan meningkatkan jumlah bunga pada
tanaman jeruk keprok dibandingkan kontrol Strangulasi menunjukan jumlah
bunga yang paling banyak yaitu 180.5 bunga dibandingkan perlakuan
Prohexadion-Ca (123.8 bunga), Paclobutrazol (150.9 bunga), dan kontrol (41.8
bunga) pada 13 MSA induksi pembungaan (Gambar 1).
Perlakuan Prohexadion-Ca dan Paclobutrazol secara nyata mempercepat
waktu pembungaan dan meningkatkan jumlah bunga karena Prohexadion-Ca dan
Paclobutrazol mengakibatkan terhambatnya biosintesis giberelin pada tanaman.
Sach (1977) menyatakan bahwa pembungaan berhubungan dengan kandungan
giberelin dalam tanaman. Kandungan giberelin yang tinggi akan meningkatkan
pertumbuhan vegetatif sehingga menghambat pembungaan. Dengan demikian,
pemberian Paclobutrazol sebagai zat penghambat tumbuh yang menghambat
biosintesis giberelin dapat menginduksi pembungaan. Terhambatnya biosintesis
giberelin mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan vegetatif pada tanaman
sehingga aktivitas pertumbuhan akan dialihkan ke pertumbuhan bunga atau buah
dan akan meningkatkan rasio C/N pada tanaman. Bernier et al. (1984)
menyatakan bahwa pembungaan berhubungan dengan kandungan giberelin dalam
tanaman. Kandungan giberelin yang tinggi pada beberapa pohon buah-buahan
seperti jeruk, mangga, dan manggis akan memacu pertumbuhan vegetatif dan
menghambat pembungaan. Bioaktivitas giberelin endogen pada daun jeruk dan
manggis pada fase induksi pembungaan lebih rendah dibandingkan pada fase
pertumbuhan vegetatif (Poerwanto dan Inoue 1990, Rai et al. 2004). Paclobutrazol
sebagai zat penghambat tumbuh yang menghambat biosintesis giberelin dapat
menginduksi pembungaan beberapa pohon buah-buahan (Voon et al. 1992). Adiel
et al. (2011) menyatakan bahwa Prohexadion-Ca dapat menginduksi pembungaan
pada tanaman mangga karena Prohexadion-Ca menghambat biosintesis giberelin
pada tanaman. Susanto dan Poerwanto (1999) menyatakan bahwa Paclobutrazol
20
Jumlah bunga
berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman mangga dan
menginduksi pembungaan mangga di luar musim, hal tersebut diduga
berhubungan dengan cara kerja Paclobutrazol dalam menghambat biosintesis
giberelin.
Strangulasi akan merusak jaringan floem, sehingga menghambat translokasi
hasil fotosintesis dari bagian atas tanaman ke bagian akar. Akibatnya terjadi
penumpukan karbohidrat di bagian pucuk dan akar kekurangan fotosintat
(karbohidrat). Akar yang kekurangan fotosintat akan mengalami penurunan
aktivitas dalam serapan air dan hara, serta biosintesis giberelin dan sitokinin.
Berkurangnya serapan air menyebabkan stress air yang dapat menginduksi
pembungaan. Rendahnya serapan nitrogen dan tingginya akumulasi karbohidrat di
bagian pucuk tanaman akan meningkatkan nisbah C/N yang merupakan syarat
terjadinya induksi pembungaan. Rendahnya biosintesis giberelin juga
mengakibatkan terjadinya induksi pembungaan yang disebabkan oleh perlakuan
strangulasi. Pada rambutan perlakuan ringing dapat meningkatkan jumlah bunga
dan buah, bahkan dapat menginduksi tanaman rambutan pada off year (tahun tidak
berbunga) (Poerwanto dan Irdiastuti 2005). Menurut Ryoko (1988), kerat batang
dapat menekan gerakan fotosintat (karbohidrat) dari daun ke akar sehingga akan
terjadi akumulasi karbohidrat di daun yang selanjutnya digunakan untuk
pembungaan. Karbohidrat pada daun akan dialokasikan untuk pembentukan bunga
dan buah pada tanaman. Thamrin (2008) menyatakan bahwa tingginya jumlah
bunga yang terbentuk diduga merupakan hasil penekanan strangulasi yang
memblokir gerakan fotosintesis dari daun ke akar, sehingga terjadi penumpukan
karbohidrat yang selanjutnya digunakan untuk pembungaan. Putra (2002)
menyatakan bahwa strangulasi akan menghambat translokasi fotosintat dari tajuk
ke akar, peningkatan karbohidrat tersebut akan menyebabkan rasio C/N pada tajuk
akan tinggi sehingga dapat menginduksi pembungaan.
200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0
Kontrol
Prohexadion Ca
Paclobutrazol
Strangulasi
3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Minggu Setelah Aplikasi Induktor Pembungaan (MSAIP)
Gambar 1 Perkembangan jumlah bunga yang muncul pada berbagai perlakuan
induktor pembungaan
Perlakuan strangulasi secara nyata meningkatkan fruit set dibandingkan
tanaman kontrol, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan Prohexadion-Ca
dan Paclobutrazol (Tabel 5). Perlakuan strangulasi menunjukkan persentase fruit
21
set yaitu 65.42% lebih tinggi dibandingkan dengan Prohexadion-Ca (49.40%),
Paclobutrazol (51.85%), dan kontrol 34.46%. Fruit set yang tinggi diperoleh dari
semakin banyaknya jumlah bunga yang berdeferensiasi menjadi buah pada
tanaman. Ryugo (1988) menyatakan bahwa produksi buah tergantung pada tunas
yang berdeferensiasi menjadi bunga, bunga mekar yang mengalami penyerbukan,
dan bunga yang berkembang menjadi buah.
Total buah yang terbentuk, buah yang dipanen, dan bobot buah panen secara
nyata meningkat tajam dengan perlakuan penginduktor pembungaan (Tabel 5)
(Tabel 6). Hal ini terjadi karena selain adanya peningkatan jumlah bunga pada
perlakuan penginduktor pembungaan (Tabel 5), peningkatan fruit set (Tabel 5),
peningkatan kandungan karbohidrat (Tabel 7), peningkatan rasio C/N (Tabel 7)
juga disebabkan karena penurunan persentase gugur buah (Tabel 6). Perhitungan
persentase gugur bunga menunjukkan perlakuan kontrol memiliki tingkat gugur
yang lebih tinggi yaitu 63.49% dibandingkan dengan perlakuan penginduktor
pembungaan. Perlakuan penginduktor pembungaan memiliki persentase gugur
buah yaitu Prohexadion-Ca 36.03%, Paclobutrazol 43.65 %, dan strangulasi
39.07%. Gugur bunga disebabkan karena adanya faktor lingkungan seperti angin,
hujan, dan serangan hama dan penyakit. Hal ini sesuai pendapat Effendi (1994)
yang menyatakan bahwa curah hujan yang tinggi sangat mempengaruhi tanaman
dalam proses pembungaan dan pembuahan pada tanaman mangga. Laporan
Thamrin (2008) dalam penelitiannya, menunjukan bahwa tingginya kuncup bunga
dan bunga mekar tidak diikuti dengan jumlah buah yang terbentuk, hal ini
disebabkan pada saat menjelang bunga mekar intesitas curah hujan tinggi
sehingga menyebabkan banyak bunga yang rontok sebelum berbuah. Lebih jauh
Rukayah et al. (1996) menyatakan bahwa selain faktor genetik, penyebab
kerontokan buah adalah curah hujan, angin, serangan hama dan penyakit serta
defisiensi hara dan hormonal.
Perlakukan penginduktor pembungaan secara nyata meningkatkan jumlah
buah yang terbentuk dibandingkan kontrol. Perlakuan strangulasi menunjukan
hasil buah yang terbentuk jauh lebih banyak yaitu 128.00 buah pada 15 MSA
induktor pembungaan dibandingkan dengan kontrol yaitu 19.13 buah. Perlakuan
Prohexadion-Ca dan Paclobutrazol juga secara nyata meningkatkan jumlah buah
yaitu 77.13 buah dan 69.00 buah pada 15 MSA induktor pembungaan
dibandingkan kontrol (Gambar 2). Perlakuan Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan
strangulasi dapat menekan pertumbuhan vegetatif pada tanaman dan
meningkatkan jumlah bunga yang terbentuk. Peningkatan jumlah bunga juga akan
meningkatkan hasil buah yang diperoleh. Perlakuan Prohexadion-Ca dan
Paclobutrazol menghambat biosintesis giberelin pada tanaman. Adanya
penghambatan biosintesis giberelin mengakibatkan kandungan karbohidrat dan
rasio C/N pada daun meningkat. Karbohidrat tersebut diguanakan untuk
pembentukan bunga dan buah. Pada perlakuan strangulasi, terjadinya
penghambatan translokasi dari tajuk ke akar menyebabkan terjadinya peningkatan
karbohidrat pada daun, sedangkan terganggunya serapan hara ditunjukan dengan
turunnya kandungan N total daun sehingga rasio C/N akan meningkat. Kandungan
karbohidrat yang tinggi akan menekan terjadinya gugur buah pada tanaman.
Gugur pada buah dipengaruhi oleh jumlah karbohidrat yang diperoleh pada setiap
buah pada tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Rai et al. (2004) bahwa
strangulasi pada tanaman manggis dapat menginduksi pembungaan berhubungan
22
dengan kemampuan dalam menurunkan kandungan giberelin dan miningkatkan
kandungan gula serta rasio C/N pada daun. Wattimena (1987) menyatakan bahwa
Paclobutrazol dapat menyebabkan pembungaan dan tentunya pembuahan yang
lebih awal, lebih serempak, dan lebih banyak dengan perlakuan penyiraman
Paclobutrazol ke dalam tanah di sekitar pohon mangga kultivar Arumanis.
.
140
120
Jumlah Buah
100
80
60
Kontrol
Prohexadion Ca
Paclobutrazol
Strangulasi
40
20
0
4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Minggu Setelah Aplikasi Induktor Pembungaan (MSAIP)
Gambar 2 Perkembangan jumlah buah terbentuk pada berbagai perlakuan induktor
pembungaan.
Tabel 5 Bunga pertama muncul, total bunga, fruit set, total buah pada perlakuan
induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
Bunga Pertama
Muncul
Total
Fruit Set Total Buah
(%)
(HSAIP)
Bunga
Terbentuk
Induksi Pembungaan
Kontrol
39.00 a
41.8 c 34.46 b
19.13 c
Prohexadion-Ca
17.50 c
150.9 ab 49.40 ab
80.00 ab
Paclobutrazol
23.38 b
123.8 b 51.85 ab
69.00 b
Strangulasi
16.50 c
180.5 a 65.42 a
128.00 a
Pemecah Dormansi
Kontrol
52.24
26.25
139.9
86.31
Etephon
46.28
24.75
122.6
60.75
BAP
49.46
22.17
109.3
67.88
KNO3
53.13
23.21
125.1
81.19
Interaksi
tn
tn
tn
tn
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan). HSIP : Hari setelah aplikasi induktor pembungaan
23
Tabel 6 Gugur buah, jumlah buah panen, dan bobot panen pada perlakuan
induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
Induksi Pembungaan
Kontrol
Prohexadion-Ca
Paclobutrazol
Strangulasi
Pemecah Dormansi
Kontrol
Etephon
BAP
KNO3
Interaksi
Gugur Buah
(%)
Jumlah Buah
Panen
63.49 a
36.03 b
43.65 ab
39.07 b
7.06 b
53.31 a
43.69 ab
78.69 a
37.46
42.02
45.60
57.18
tn
53.31
38.13
40.81
50.50
tn
Bobot Penen
(kg)
0.64 b
5.60 a
4.43 ab
7.46 a
4.85
4.13
4.51
4.64
tn
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan).
Zat pemecah dormansi tidak berpengaruh nyata dalam mempercepat waktu
munculnya bunga, meningkatkan total bunga, fruit set, meningkatkan total buah,
gugur buah, jumlah buah panen, dan bobot panen. Tidak ada interaksi antara
perlakuan induksi pembungaan dan zat pemecah dormansi (Tabel 5) (Tabel 6).
Hal ini disebabkan karena sebelum pengaplikasian zat pemecah dormansi,
sebagian tanaman telah berbunga sehingga aplikasi zat pemecah dormansi tidak
berpengaruh nyata terhadap pengamatan waktu munculnya bunga, total bunga,
fruit set, total buah, buah panen, dan bobot buah panen. Susanto dan Poerwanto
(1999) juga menyatakan bahwa perlakuan zat pemecah dormansi tidak
berpengaruh terhadap waktu munculnya bunga karena tanaman mangga berbunga
sebelum diaplikasikan zat pemecah dormansi.
Kandungan Karbohidrat, Nitrogen, dan Rasio C/N
Hasil analisis kandungan karbohidrat, nitrogen, dan rasio C/N menunjukan
terdapat interaksi yang nyata antara perlakuan penginduksi pembungaan dengan
pemberian zat pemecah dormansi. Interaksi perlakuan Paclobutrazol dengan
KNO3 (10.33%) menunjukkan nilai kandungan karbohidrat yang tertinggi
dibandingkan interaksi antara perlakuan yang lainnya. Interaksi antara
Paclobutrazol dengan BAP (9.30%) juga menunjukkan kandungan karbohidrat
yang tinggi namun tidak berbeda nyata dengan interaksi antara perlakuan
Paclobutrazol dengan etephon (8.69%), Paclobutrazol tanpa pemberian zat
pemecah dormansi (8.59%), dan strangulasi tanpa pemberian zat pemecah
dormansi (8.88%) (Tabel 7).
Perlakuan Prohexadion-Ca tanpa pemberian zat pemecah dormansi (2.28%)
menunjukan kandungan nitrogen yang terendah dibandingkan kontrol (2.76 %)
namun tidak berbeda nyata dengan interaksi antara Prohexadion-Ca dengan
etephon (2.47%), Paclobutrazol tanpa pemberian zat pemecah dormansi (2.39 %),
Paclobutrazol dengan etephon (2.52%), Strangulasi tanpa pemberian zat pemecah
24
dormansi (2.57%), dan pemberian etephon dan BAP tanpa perlakuan induksi
pembungaan yaitu 2.56 % dan 2.57 % (Tabel 7).
Interaksi antara perlakuan Paclobutrazol dengan KNO3 (3.63 %)
menunjukan rasio C/N yang lebih tinggi dibandingkan kontrol (2.37%) namun
tidak berbeda nyata dengan perlakuan Paclobutrazol tanpa pemberian zat pemecah
dormansi (3.62%), interaksi antara Paclobutrazol dan etephon (3.46%), dan
strangulasi tanpa pemberian zat pemecah dormansi (3.47%) (Tabel 7).
Paclobutrazol dan Prohexadion-Ca merupakan senyawa kimia yang bersifat
penghambat biosintesis giberelin. Paclobutrazol dan Prohexadion-Ca berpengaruh
terhadap penghambatan pertumbuhan vegetatif melalui penghambatan biosintesis
giberelin. Adanya penghambatan biosintesis giberelin mengakibatkan kandungan
karbohidrat dan rasio C/N meningkat dan akan merangsang pertumbuhan
reproduksi tanaman (ICI 1986). Penghamatan biosintesis giberelin pada tanaman
jeruk keprok menyebabkan terhambatnya pertumbuhan vegetatif. Terhambatnya
pertumbuhan vegetatif pada tanaman akan meningkatkan kandungan karbohidrat
dan rasio C/N pada tajuk tanaman jeruk keprok. Hal ini disebabkan karena
karbohidrat hasil dari proses fotosintesis tidak dapat dialokasikan untuk
pertumbuhan vegetatif pada tanaman. Menurut Harjadi (1996) tanaman
menggunakan sebagian besar karbohidrat yang dibentuk dalam suatu fase
vegetatif perkembangan tanaman. Barnier et al. (1985) menyatakan bahwa rasio
C/N tinggi merupakan faktor pendorong tanaman untuk berbunga.
Kandungan karbohidrat dan rasio C/N yang tinggi pada tanaman dengan
perlakuan strangulasi disebabkan terhambatnya translokasi fotosintat dari tajuk ke
akar sehingga terjadi penumpukan karbohidrat dibagian tajuk. Akumulasi
karbohidrat daun di bagian tajuk yang diikuti dengan berkurangnya absorsi hara
mineral terutama nitrogen yang akan meningkatkan rasio C/N tajuk.
Terhambatnya translokasi karbohidrat ke akar mengakibatkan akar kekurangan
fotosintat dan respirasi akar menurun sehingga mengakibatkan aktivitas akar
dalam mengabsorsi hara, mineral, dan air terganggu. Dalam penelitian ini
terhambatnya translokasi fotosintat ditunjukan oleh tingginya kandungan
karbohidrat, sedangkan terganggunya serapan hara ditunjukkan oleh turunnya
kandungan N total daun sehingga rasio C/N pada perlakuan strangulasi tinggi.
Thamrin (2008) menyatakan bahwa perlakukan strangulasi dapat meningkatkan
rasio C/N dan mendorong pembungaan pada tanaman jeruk. Yamanishi et al.
(1993) menyatakan bahwa tunas vegetatif pada tanaman yang distrangulasi akan
lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tidak distrangulasi, hal ini disebabkan
karena terjadinya penghambatan translokasi dari tajuk ke akar sehingga terjadi
penghambatan pertumbuhan tunas vegetatif dan menyebabkan terjadi peningkatan
karbohidrat pada daun. Karbohidrat pada daun akan dialokasikan untuk
pembentukan bunga dan buah pada tanaman. Kandungan karbohidrat yang tinggi
pada tanaman akan menekan jumlah gugur buah pada tanaman. Gugur pada buah
sangat dipengaruhi oleh jumlah karbohidrat yang diperoleh oleh setiap buah.
Kandungan karbohidrat yang rendah pada tanaman menyebakan terjadinya
kompetisi pada buah dalam memperoleh karbohidrat.
25
Tabel 7 Pengaruh interaksi antara perlakuan induktor pembungaan dan zat
pemecah dormansi terhadap kandungan karbohidrat, nitrogen, dan
nisbah C/N pada daun.
Karbohidrat (%)
Zat Pemecah Dormansi
Induktor
RataPembungaan
Kontrol
Etephon
BAP
KNO3
Rata
Kontrol
6.50 hi
5.86 i
7.44 fg
7.79 efg
6.90 c
Prohexadion-Ca 6.99 gh
7.50 fg
6.08 i
5.67 i
6.56 c
Paclobutrazol
8.59 bcde 8.69 bcd
9.30 b
10.33 a
9.06 a
Strangulasi
8.88 bc
8.01 def
8.19 cdef
7.07 gh
8.10 b
Rata-Rata
7.85
7.32
7.69
7.67
Nitrogen (%)
RataZat Pemecah Dormansi
Rata
Induktor
Pembungaan
Kontrol
Etephon
BAP
KNO3
Kontrol
2.76 abcd 2.56 bcdef 2.57 bcdef 2.96 a
2.70
Prohexadion-Ca 2.28 f
2.47 def
2.81 abc
2.96 a
2.63
Paclobutrazol
2.39 ef
2.52 cdef
2.98 a
2.98 a
2.62
Strangulasi
2.57 bcdef 2.72 abcd 2.96 a
2.68 abcde
2.69
Rata-Rata
2.53 b
2.56 b
2.78 a
2.85 a
Rasio C/N (%)
RataPemecah Dormansi
Rata
Induktor
Pembungaan
Kontrol Etephon
BAP
KNO3
Kontrol
2.37 efg
2.29 fgh
2.91 cd
2.68 cdef
2.56 c
Prohexadion-Ca 3.06 bcd
3.06 bcd
2.17 gh
1.92 h
2.55 c
Paclobutrazol
3.62 a
3.46 ab
3.12 bc
3.63 a
3.49 a
Strangulasi
3.47 ab
2.95 cd
2.77 cde
2.64 def
3.02 b
Rata-Rata
3.14 a
2.87 b
2.77 b
2.70 b
Angka-angka yang sama diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (uji
selang berganda Duncan)
Kualitas Buah
Perlakuan BAP menunjukkan bobot utuh buah yaitu 107.36 g yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kontrol (90.63 g), namun tidak berbeda nyata dengan
perlakuan etephon (106.30 g) dan KNO3 (93.38 g) (Tabel 8). Perlakuan BAP
menunjukkan bobot kulit buah yaitu 33.99 g yang berbeda nyata dibandingkan
dengan kontrol (29.38 g) dan KNO3 (30.08 g), namun tidak berbeda nyata dengan
perlakuan etephon (31.97 g) (Tabel 8). Perlakuan etephon menunjukkan bobot
daging buah yaitu 71.96 g tidak berbeda nyata dibandingkan kontrol (58.40 g) dan
KNO3 (61.11 g), dan BAP (71.09 g) (Tabel 8). Perlakuan KNO3 menunjukkan
bobot biji yaitu 2.19 g yang lebih rendah dibandingkan kontrol (2.85 g), namun
tidak berbeda nyata dengan perlakuan etephon (2.29 g), dan BAP (2.29 g) (Tabel
8). Perlakuan etephon menunjukkan berat jus yaitu 50.86 g yang lebih tinggi
dibandingkan kontrol (38.36 g), namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan
BAP (46.05 g) dan KNO3 (44.25 g) (Tabel 8). BAP dapat meningkatkan bobot
buah dan persentase kulit buah karena BAP dapat memperkecil kehilangan bobot
buah dan dapat meningkatkan ukuran buah, sedangkan etephon dapat
26
mempercepat pematangan buah sehingga akan menurunkan kehilangan berat buah
dan memperpanjang umur simpan. Pantastico (1989) melaporkan bahwa
pemberian BAP pada ceri manis memperkecil kehilangan berat buah. Etephon
dapat melepaskan senyawa C2H4 yang berfungsi dalam mempercepat pematangan
buah sedangkan sitokinin berfungsi dalam peningkatan set buah pada tanaman
anggur, serta peningkatan ukuran dan bentuk dari apel “Delicious” (Gardner dan
Pearce 1991). Pantastico (1989) menyatakan bahwa pemberian etephon pada
semangka mempercepat pematangan buah dibandingkan dengan kontrol dan
menunjukkan bobot buah yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Buah dengan
perlakuan KNO3 memiliki bobot buah yang lebih berat dibandingkan kontrol.
Pantastico (1989) melaporkan pengaruh meningkatnya ukuran buah setelah
perlakuan KNO3 erat hubungannya dengan kemampuan unsur K+ dalam
mempengaruhi proses metabolisme dalam tubuh tanaman.
Tabel 8 Bobot buah, berat biji, berat daging buah, berat kulit, berat jus pada
perlakuan induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi.
Bobot buah
Biji
Kulit
Jus
Daging
(g)
(g)
(g)
(g)
(g)
Induksi Pembungaan
Kontrol
84.78
1.67
57.33
25.78
40.41
Prohexadion-Ca
102.98
2.60
68.08
32.30
45.30
Paclobutrazol
103.40
2.14
70.65
30.62
49.01
Strangulasi
97.32
2.63
62.20
32.49
42.49
Pemecah Dormansi
Kontrol
90.63 b
2.85 a
58.40
29.38 b
38.36 b
Etephon
106.24 ab
2.29 ab 71.96
31.97 ab 50.86 a
BAP
107.36 a
2.29 ab 71.09
33.99 a
46.05 ab
KNO3
93.38 ab
2.19 b
61.11
30.08 b
44.25 ab
Interaksi
tn
tn
tn
tn
tn
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan)
Perlakuan penginduktor pembungaan, zat pemecah dormansi, dan interaksi
antara penginduktor pembungaan dan zat pemecah dormansi tidak berpengaruh
nyata terhadap persentase edible portion, juice portion dan PTT dibandingkan
kontrol. Hal tersebut menggambarkan bahwa perlakuan penginduksi pembungaan
dengan pemberian zat pemecah dormansi tidak mengurangi kualitas buah karena
padatan total terlarut, edible portion, dan juice portion tidak berbeda nyata
dengan perlakuan kontrol. Armadi (2000) melaporkan aplikasi Paclobutrazol tidak
berpengaruh terhadap mutu buah yang dihasilkan. Pemberian Paclobutrazol tidak
mempengaruhi padatan total terlarut (PTT) pada mangga kultivar Gedung-21
(Purnomo dan Prahardini 1988). Perlakuan Prohexadion-Ca menunjukan kadar
asam 1.10% yang lebih rendah di bandingkan kontrol (1.84%) namun tidak
berbeda nyata dengan perlakuan Paclobutrazol (1.29%) dan strangulasi (1.52%).
Perlakuan etephon menunjukkan kadar asam 1.22% yang lebih rendah
dibandingkan kontrol (1.59%) namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan BAP
(1.30%) dan KNO3 (1.26%). Terdapat interaksi antara perlakuan induksi
pembungaan dan zat pemecah dormansi. Etephon dapat menurunkan kadar asam
karena dapat mempercepat pematangan buah sehingga dapat menurunkan
27
kandungan asam pada buah jeruk. Pantastico (1989) menyatakan bahwa buah
pisang „Lakatan‟ yang dicelupkan selama 5 menit dengan menggunakan 2500
ppm etephon mencapai puncak klimakteriknya 5 hari lebih awal daripada buahbuah yang tidak diberikan perlakuan.
Tabel 9 Edible portion, juice portion, padatan terlarut total, asam tertitrasi pada
perlakuan induktor pembungaan dan zat pemecah dormansi
EP (%) JP (%) PTT (%) Asam (%)
Induksi Pembungaan
Kontrol
63.00
45.97 9.25
1.84 a
Prohexadion-Ca 60.29
43.55 8.23
1.10 b
Paclobutrazol
60.20
45.81 8.71
1.29 ab
Strangulasi
57.32
45.04 9.50
1.52 ab
Pemecah Dormansi
Kontrol
56.88
41.95 9.38 ab
1.59 a
Etephon
62.71
46.52 8.03 b
1.22 b
BAP
57.83
43.33 8.76 ab
1.30 ab
KNO3
60.13
48.41 9.55 a
1.26 ab
Interaksi
tn
tn
tn
*
Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada
taraf uji 5% (uji selang berganda Duncan).
SIMPULAN
1. Perlakuan penginduksi pembungaan (Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan
strangulasi) secara nyata mempercepat pembungaan dan meningkatkan
jumlah bunga dan buah tanaman jeruk.
2. Paclobutrazol, Prohexadion-Ca, dan strangulasi meningkatkan jumlah
buah dengan meningkatkan nisbah C/N di daun.
3. Perlakuan zat pemecah dormansi tidak memberikan pengaruh yang nyata
pada percepatan pembungaan dan peningkatan jumlah bunga dan buah.
4. Interaksi antara perlakuan Paclobutrazol dengan KNO3 mampu
meningkatkan kandungan karbohidrat dan nisbah C/N
Saran
1. Untuk menginduksi pembungaan dapat dilakukan dengan aplikasi
Prohexadion-Ca, Paclobutrazol, dan strangulasi.
2. Perlunya dilakukan penelitian lanjutan perlakuan induksi pembungaan
yaitu Prohexadion-Ca, Paclobutrazol dan strangulasi pada bulan yang
lainnya.
28
DAFTAR PUSTAKA
Adil OS, Abdel R, Osman ME, Fritz KB. 2011. Effects Of Growth Retardants,
Paclobutrazol (PBZ) and Prohexadione-Ca On Floral Induction Of Regular
BearingMango (Mangifera indica L.) Cultivars During Off-Seosen.J.of
Agricultural and Biological Science. (6): 18-26.
AOAC. 1995. Official Method of Analysis of Association Official Agriculture
Chemist. Washington DC.
Arteca RN. 1996. Plant Growth Substances. New York (US): Champan & Hall.
Armadi Y. 2000. Studi Tentang Apliaksi Paclobutrazol dan KNO3 dalam
Menstimulasi Pembungaan Rambutan (Nephelium lappaceum L.) di Luar
Musim [tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Barnier GB, Kinet JM, Sachs RM. 1985. The Physiology of flowering. vol I.
Initiation of flowers. Florida (US): CRS Press Inc.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2011. Data ekspor import. Jakarta (ID): BPS.
Biale JB, Young RE. 1981. Respiration and Ripening in Fruit. London (GB):
Academic Pr.
Bondad ND, Linsangan D. 1979. Flowering in mango induced with patassium
nitrat. J. HortSci. 14 (4) : 527-528.
Chandraparnik S, Hiranpradit H, Punnachit U, Salahpetch S. 1992. Paclobutrazol
Influences Flowers Induction in Durian (Durio Zabethinu. Murr). J.Acta
Hort. (321): 282-290.
Darjanto, Satifah S. 1990. Pengetahuan Dasar Biologi Bunga dan Teknik
Penyerbukan Silang Buatan. Jakarta (ID) :Gramedia Pustaka Utama Pr.
Davies PJ. 1995. The plant hormone concept : concentration, sensitivity and
transport. In : Davies PJ (eds.). Plant Hormones. Physiology, biochemistry
and molecular biology.Netherlands (NL) : Kluwer Academic Publishers.
Dedolph RR, Wittwe SH, Tuli V. 1961. Senescene inhibition and respiration.
Science. (134): 1075.
Efendi D. 1994. Studi Stimulasi Pembungaan Mangga (Mangifera indica L. cv.
Arumanis) dengan Kalium Nitrat dan Paclobutrazol [tesis]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Elfing DC, Lombardini L, McFerson JR, Drake SR, Faubion DF, Auvil TD, Van
EG, Visser DB. 2003. Effects of directed applications of prohexadionecalcium to tops of mature pear trees on shoot growth, light penetration
pruning and fruit quality. J. Am. Pom. Soc. (57): 45–57.
Evans JR, Evans RR, Regusci CL. 1999. Mode of action, metabolism, and uptake
of BAS 125W prohexadione–Ca. J. HortScience. (34): 1194–1196
Fikrinda W. 2012. Pengaruh Strangulasi Single dan Double terhadap Perbaikan
Keragaan Bibit Jeruk Pamelo (Citrus grandis (L.) Osbeck) [skripsi].Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Gardner FP, Pearce RB. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta (ID) : UI Pr.
Guardiola JL. 1981. Flower Initiation and Development in Citrus. Proc. Int. Soc.
Citriculture. P:242-246.
Goldlochmidt, E.E and S.P Monselise. 1970. Hormonal control of flowering in
citrus and some other woody perrenial. P. 758-766. In.J.C.Denis (Ed.). Plant
Growth Regulator. 1970. Springer-verlag Berlin Heidel berg. New York.
29
Gomes A, Fuhrs A. 2008. Magnesium mobility in soils as a challege for soil and
plant analysis, magnesium fertization and root uptake under adverse growth
conditions. Plant Soil. (10):6904-6912.
Harjadi SS. 1996. Pengantar Agronomi. Jakarta (ID) : Gramedia Pustaka Utama
Pr.
ICI. 1986. Paclobutrazol plant growth regulator for technical data.England (GB):
Plant Protection Div.
Janick. J. 1972. Hort Science. W.H. Freeman ang Co. San Fransisco. 585p.
John RD. 2002. Use Of prohexidone-ca to increase early yield and reduce
establishment irrigation of Strawberry (Fragaria Xananassa). J. Proc. Fla.
State Hort. Soc. (115) : 220-222
Kofidis G, Anastasia G, Ilias FA. 2008. Groewth, Anatomy and Chlorophull
Fluorescence Of Coriander Plants(Coriandrum Sativum L) Treated With
Prohexidone-Calcium
and
Dominozide.
J.
Acta
Biologica
Cracoviensia.(50): 55-62.
Khrisnamoorty HN. 1981. Plant Growth Subtances. New Delhi (IN): Tata Mc
Graw Hill Publ.
Lang GA. 1952. Physiology of flowering. Annual Review of Plant Physiology.
3:305-306.
Limarty T. 2000. Penggunaan Cycocel, Paclobutrazol dan SADH dalam
perbanyakan Stek Mikro Kentang (Solanum tuberosum L.) [skripsi]. Bogor
(ID) : Institut Pertanian Bogor
Lontoh AP, Pranoto HS, Wattimena GA. 1989. Studi Stimulasi Pembungaan dan
Pembuahan Mangga dengan Retardan Paclobutrazol. Bul Agron. (3):153164.
Lyer CPA, Kurian RM. 1991. Tree Size Control in Manggo (Mangifera indica L.).
Acta Hort. (321):425-436.
Muchtadi D, Sugiyono TR. 1989. Petunjuk Laboratorium Ilmu Pengetahuan
Bahan Pangan. Bogor (ID) : IPB Pr.
Muchjajib S, Espino RRC. 1991. The Effects Of Application of Paclobutrazol,
Dominozide, Ethepon on Flowering Of Rambutan cv Roengrean.
Agric.(74) :399-405.
Medjdoub R, Blanco JVA. 2004. Prohexadione–Ca inhibits vegetative growth of
„Smoothee Golden Delicious‟ apple trees. J. HortScience. (101): 243-253
Moore CT. 1975. Biochemistry and Physiology of Plant Hormon. New York
(AS):Springer Verlag Pr.
Nafiati F. 2007. Pengaruh Strangulasi Ganda dan Tunggal terhadap Pertumbuhan
dan Pembungaan Jeruk Freemont (Citrus reticulata Var Freemont.) [skripsi].
Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Novita A. 2007. Pengaruh ukuran kawat strangulasi yang berbeda terhadap
pembungaan jeruk besar (Citrus grandis (L.) Osbeck) kultivar Cikoneng
[skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Owens CL, Stover E. 1999. Vegetative growth and flowering of young apple trees
in response to prohexadione–calcium. J. HortScience. (34): 1194–1196.
Pantastico EB. 1986. Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan
Buah-Buahan dan Sayur-Sayuran Tropika dan Sub Tropika. Yogjakarta
(ID): Gadjah Mada University Pr.
30
Purnomo S, Prahardini PER. 1989. Perangsangan Pembungaan dengan
Paclobutrazol dan Pengaruh Terhadap Hasil Buah Mangga (Mangifera
indica L.) Penel. Hort. (27): 16-24
Putra GA. 2002. Pengaruh Strangulasi terhadap Pembungaan Jeruk Besar
„Nambangan‟ [tesis]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Poerwanto R, Inoue H. 1990. Effect of air and soil temperature in Autumn on
flower induction and physiological responses of Satsuma mandarin. J.
Japan Soc Hort. Sci. (59): 207-214.
Poerwanto R, Inoue H. 1994. Pengaruh paclobutrazol terhadap pertumbuhan dan
pembungaan jeruk Satsuma mandarin pada beberapa kondisi suhu. Bul.
Agron. (22):55-67.
Poerwanto R, Harjadi SS, Susanto S, Purwoko BS, Widodo WD, Effendi D. 1995.
Studi Tentang Pertumbuhan dan Perkembangan Pohon Buah-Buahan
Tropis, Guna Memperpendek Masa Tanaman Sebelum Menghasilkan dan
Menginduksi Pembungaan. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
PoerwantoR, Susanto S. 1996. Pengaturan pembungaan dan pembuahan jeruk
siam (Citrus reticulata Blanco) dengan paklobutrazol dan zat pemecah
dormansi. J. Inter. Pert. Indonesia.(6): 39-44.
Poerwanto R. 2003. Bahan Ajar Budidaya Buah-Buahan modul III proses
Pembungaan dan Pembuahan. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Poerwanto R, Irdiastuti R. 2005. Effects of ringing on production and starch
fluctuation of rambutan in the off-year.Acta Hort.665 : II International
Symposium on Lychee, Longan, Rambutan and other Sapindaceae Plants.
Poledica MM, Milivojevic JM, Radivojevic DD, Maksimovic JJD. 2012.
Prohexadione-Ca and young cane removal treatments controlgrowth,
productivity, and fruit quality of theWillamette raspberry. J. Agri For. (36) :
680-687
Pracaya. 1999. Jeruk Manis. Jakarta (ID) : Penebar Swadaya.
Prahadini PER, Budijono A, Tegopati B, Dasuki IM. 1989. Pengaruh
Penyemprotan CEP dan KNO3 Untuk Induksi Pembungaan Jeruk Keprok
Siem (Citrus reticulata B). Buletin Hortikultura (26):67-70.
Prawiranata WS, Harran P, Tjondronegoro. 1992. Dasar-Dasar Fisiologi
Tumbuhan Jilid II. Bogor (ID):Institut Pertanian Bogor Pr.
Rabe E, Van RPJJ. 1996. Gibberelic Acid Sprays, Girdling, Flowers Thinning and
Potassium Applications Affect Fruit Splitting and Yield in The ‘Ellendale’
tangor. J of Hort Sci. (71) : 195-203.
Rai IN, Poerwanto R, Latifah K, Darusman, Purwoko BS. 2004. Pengaturan
Pembungaan Tanaman Manggis(Garcinia mangostana L.)di Luar Musim
dengan Strangulasi, serta Aplikasi Paklobutrazol dan Etepon. Bulletin Agro.
32 (2): 12-20.
Rai IN, Poerwanto R, Darusman LK, Purwoko BS. 2006. Perubahan kandungan
giberelin dan gula total pada fase-fase perkembangan bunga manggis. J.
Hayati. (3): 101-106
Ramda VH. 2005. Pengaruh Priode Strangulasi Terhadap Pembungaan Jeruk
Besar (Citrus grandis (L.) Osbeck) Kultivar Nambang [skripsi]. Bogor (ID):
Institut Pertanian Bogor.
Rukayah A, Bala JI, Malik TMT. 1996. Panduan Penanaman Mangga. Kuala
Lumpur (MLS) : IPKPM Pr.
31
Ryugo K. 1988. Fruit Culture. Its Science and Art. New York (US): John Willey
and Sons Inc.
Sach RM. 1977. Nutrien diversion : an hyphotesis to explain the chemical control
of flowering. Hort. Sci. (3) : 220-222.
Samson JA. 1980. Tropical Fruit. London (GB): Longman Pr.
Sims DA, Gamon JA. 2002. Relationship Between leaf pigment content and
spectral refletance across a wide range of spesies, leaf structure and
development stages. Remote Sensing of Environ. (81):337-354.
Subhadrabadndhu S and Tongumpai P. 1990. Off-season production of some
economic fruit in Thailand. P:78-87. In Off Season Production of
Horticultural Crops. ASPAC. Taiwan.
Susanto S, Nakajima Y, dan Hasegawa K. 1993. Influence of Water Stress In
Autumn On Flower Induction and Fruiting in Pamelo Tress (Citrus grandis
(L.) Osbeck). J.Japan. Soc. Hort. Sci. 62 (1) : 15-20.
Susanto S, Poerwanto R. 1999. Pengaruh Paclobutrazol dan Hidrogen sianida
terhadap pertumbuhan dan permbungaan tanaman mangga arumanis.
Bulletin Agro. (27): 22-29.
Susanto S, Minten A, Mursyada. 2002. Pengaruh Strangulasi Terhadap
Pembungaan Jeruk Besar (Citrus grandis L. Osbeck) kultivar Nambangan. J.
Agrotropika. (7): 34-37.
Sostenes. 1996. Pengaruh Waktu Pemberian Beberapa Zat Pemecah Dormansi
yang Diaplikasikan Setelah Pemberian Paclobutrazol Terhadap
Pertumbuhan dan Pembungaan Jeruk Keprok Siem (Citrus retikula B.)
[skripsi]. Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Shaltout AD and Unrath CR. 1983. Effect of some growth regulator and nutrional
compounds as substitutes for chilling of „delecious‟ apple leaf and flower
bud. J. Amer. Soc. Hort. Sci 108 (6): 898-901.
Steffens GL, Wang SY, Faust M, Byun JK. 1985. Growth carbohydrate and
Mineral Element Tatus of Shoot and Spur Leaves and Fruit ‘Spartan’ Apple
Trees Treated With Paclobutrazol.J.Amer. Soc. Hort. Sci. (110):850-855.
Syahbudin. 1999. Studi Stimulans Pembungaan Jeruk Siem (Citrus reticulata
Blanco) dengan Paklobutrazol dan Zat Pemecah Dormansi Etepon. [tesis]
Bogor (ID) : Institut Pertanian Bogor.
Thamrin M. 2008. Peningkatam Pembungaan Jeruk Pamelo (Citrus grandis (L.)
Osbeck)„Cikoneng‟ Melalui Strangulasi [tesis]. Bogor (ID) : Institut
Pertanian Bogor.
Unrath CR. 1999. Prohexadione–Ca: a promising chemical for controlling
vegetative growth of apples. J. HortScience. (34) : 1197–1200.
Vemmos N. 1995. Carbohydrate Changes in Flowers, Leaves, Shoot and Spurs of
“Cox‟s Orange Pippin” Apple During Flowering and Fruit Setting Periods.
J Hort Sci. (70):889-900.
Voon CH, Hongshanich N, Pitackpaivan C, Rowley AJ. 1992. Cultar
Development in Tropical Fruits. Acta Hort. (3211): 270-281.
Wattimena GA. 1987. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Bogor (ID) : Institut
Pertanian Bogor.
Yamanishi OK, Nakajima Y, Hasegawa K. 1993. Effect of Branch Strangulation
in Late Season on Reproductive phage of Young Pummelo Tress Grown in
a Plastic House. J. Jpn. Trop. Agr. (37):290-297.
32
Lampiran 1 Alur pelaksanaan penelitian di lapangan
KebunPetani
Pemeliharaan :
Pemupukan
Pemangkasan
Pembersihan gulma
Pengendalian OPT
Pohon Jeruk Keprok yang sehat
dan memiliki kesamaan umur dan
bentuk fisik
Penentuan Pohon Seragam dan
Pelabelan
Aplikasi Induktor :
Prohexadione-Ca
Paclobutrazol
Strangulasi
Aplikasi Zat Pemecah
Dormansi
Etephon, BAP, KNO3
Pengamatan:
Lapangan
Laboratorium
Output :
Memperoleh teknologi yang
efektif untuk menstimulasi
pembungaan diluar musim
33
Lampiran 2 Denah pengacakan percobaan di lahan
Ul (1)
I3
I2
I4
I1
D2
I3D2
I2D2
I4D2
I1D2
D3
I3D3
I2D3
I4D3
I1D3
D1
I3D1
I2D1
I4D1
I1D1
D4
I3D4
I2D4
I4D4
I1D4
Ul (2)
I2
I3
I1
I4
D4
I2D4
I3D4
I1D4
I4D4
D3
I2D3
I3D3
I1D3
I4D3
D1
I2D1
I3D1
I1D1
I4D1
D2
I2D2
I3D2
I1D2
I4D2
Ul (3)
I2
I1
I3
I4
D3
I2D3
I1D3
I3D3
I4D3
D4
I2D4
I1D4
I3D4
I4D4
D2
I2D2
I1D2
I3D2
I4D2
D1
I2D1
I1D1
I3D1
I4D1
Ul (4)
I1
I4
I3
I2
D2
I1D2
I4D2
I3D2
I2D2
D4
I1D4
I4D4
I3D4
I2D4
D3
I1D3
I4D3
I3D3
I2D3
D1
I1D1
I4D1
I3D1
I2D1
Keterangan :
F1 : Induktor Pembungaan (I)
I1 : Kontrol
I2 : Prohexadion-Ca
I3 : Paclobutrazol
I4 : Strangulasi
\
F2 : Zat Pemecah Dormansi (D)
D1 : Kontrol
D2 : Etephon
D3 : BAP
D4 : KNO3
34
Lampiran 3
Analisis kandungan karbohidrat total daun metode LuffSchoorl
Prinsip : Hidrolisis karbohidrat menjadi monosakarida yang dapat digunakan
untuk mereduksikan Cu2+ menjadi Cu1+. Kelebihan Cu2+ dapat dititar
secara iodometri
Pembuatan pereaksi Luff-Schoorl
Melarutkan 143.8 g asam sitrat yang telah dilarutkan dengan 50 ml air
suling. Memindahkan larutan tersebut ke dalam labu 1 l, menempatkan sampai
tanda garis dengan air suling dan di kocok. Didiamkan selama semalam dan
disaring. Larutan ini mempunyai kepekatan Cu2+ 0.1 N, Na2CO3. Melarutkan
kalium iodida (Kl) 20%, melarutkan asam sulfat H2SO4 25%, melarutkan natrium
tiosulfat Na2S2O3 0.1 N.
Pengujian kepekatan larutan Luff-Schoorl dengan langkah-langkah berikut :
1. Memipet 25 ml larutan luff, menambahkan 3 g Kl dan 25 ml larutan H2SO4 6 N.
Menitar dengan larutan Natrium tio sulfat 0.1 M. Larutan natrium tio sulfat
yang digunakan adalah untuk titrasi 25 ml x 2 ml.
2. Memipet 10 ml larutan luff, dimasukkan ke dalam labu ukur 100 ml,
diencerkan dengan air suling dan dikocok. Pipet 10 ml larutan hasil
pengenceran tersebut dan dimasukkan ke erlenmeyer yang berisi 25 ml HCl 0.1
N. Memasukkan erlenmeyer tersebut dalam penangas air mendidih dan
dibiarkan selama 1 jam, kemudian diangkat dan didinginkan. Mengencerkan
dengan air suling dan dititar dengan larutan NaOH 0.1 N dengan indikator PP.
3. Memipet 10 ml larutan hasil pengenceran, dimasukkan ke dalam erlenmeyer
dan menitar dengan HCl 0.1 M dengan indikator PP. Melarutkan HCl 0.1 M
yang diperlukan untuk titrasi harus sekitar 6.0 sampai 7.6 ml dengan pH 9.3 –
9.4.
Cara kerja
Menimbang sampel 5 g ke dalam erlenmeyer 500 ml dan menambahkan 200
ml larutan HCl 3%, didihkan selama 3 jam dengan pendingin tegak.
Mendinginkan dan menetralkan dengan larutan NaOH 30% (dengan lakmus atau
PP) dan ditambahkan sedikit CH3COOH 3% agar kondisi larutan sedikit asam.
Memindahkan isinya ke dalam labu 500 ml dan menghimpitkan hingga tanda
garis, kemudian disaring. Memipet saringan sebanyak 10 ml ke dalam erlenmeyer
500 ml dan ditambahkan 25 ml larutan luff (dengan pipet) dan beberapa butiran
baut serta 15 ml air suling. Dipanaskan selama 3 menit hingga mendidih
(menggunakan stopwach) dididihkan terus selama 10 menit dan cepat didinginkan
dalam bak berisi es. Setelah dingin ditambahkan 15 ml larutan Kl 20% dan 25ml
H2SO4 25 % perlahan-lahan. Dititar dengan larutan tio 0.1 N
Perhitungan :
w1 x fp
Karhohidrat =
𝑥 100%
𝑤
Dimana:
Kadar karbohidrat
: 0.90 x kadar glukosa
w1
: bobot sampel dalam mg
w
: glukosa yang terkandung untuk ml tio yang digunakan,
dalam mg dari daftar
Fp
: faktor pengencer
35
Lampiran 4 Analisis kandungan
Kjeldhal
nitrogen
daun
Metode
Semimikro
Prinsip : Senyawa nitrogen diubah menjadi ammonium sulfat oleh H2SO4 pekat.
Ammonium sulfat yang terbentuk diuraikan oleh NaOH. Amoniak yang
dibebaskan diikat dengan asam borat dan dititer dengan larutan baku
asam.
Pereaksi :
1. Campuran selen (2.5 g serbuk SeO2, 100 g K2SO4 dan 20 g CuSO4 (5H2O)
2. Indikator campuran : menyiapkan larutan hijau 0.1% dan larutan metil merah
0.1% dalam alkohol 95% secara terpisah. Campur 10 ml bromokresol hijau
dengan 2 ml metil merah.
3. Larutan asam borat (H3BO3) 2% : melarutkan 10 g asam borat dalam 500 ml
air suling. Setelah dingin dipindahkan ke dalam botol bertutup gelas. Campur
500 ml asam borat dengan 5 ml indikator campuran.
4. Larutan asam klorida (HCl) 0.01 N.
5. Larutan natrium hidroksida (NaOH) 30% : melarutkan 150 g natrium
hidroksida ke dalam 350 ml air, lalu disimpan dalam botol bertutup karet.
Cara Kerja :
1. Menimbang 0.51 g contoh sampel, dan memasukkan ke dalam labu kjeldahl
100 ml
2. Menambahkan ±2 g campuran selen dan 25 ml (H2SO4) pekat
3. Memanaskan di atas pemanas listrik sampai mendidih dan larutan menjadi
jernih kehijau-hijauan (sekitar 2 jam) hingga dingin
4. Mengencerkan larutan dan memasukkan ke dalam labu ukur 100 ml, hingga
mencapai tanda garis
5. Memasukkan 5 ml larutan ke dalam alat penyuling, lalu ditambahkan 5 ml
NaOH 30% dan beberapa tetes indikator PP
6. Menyulingkan ±10 menit sebagai penampung menggunakan 10 ml larutan
asam borat 2% yang dicampur indikator
7. Meniter dengan larutan HCl 0.01 N
8. Ulangi pekerjaan di atas dengan mengganti sampel dengan blangko
Perhitungan
𝑉1 − 𝑉2 𝑥 𝑁 𝑥 0,014 𝑥 𝑓𝑝
Kadar Nitrogen =
𝑥 100%
𝑊
Dimana:
W
: bobot contoh
V1
: volume HCl 0.01 N yang digunakan untuk penitaran contoh
V2
: volume HCl 0.01 yang digunakan untuk penitaran blanko
N
: normalitas HCl
Fp
: faktor pengenceran
36
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Barru pada tanggal 30 Juni 1988 dari ayah (alm) M.
Sanusi Abbas dan ibu Hj. Hasmaeni. Penulis adalah putra ke delapan dari delapan
bersaudara. Tahun 2006 penulis lulus dari MAN 1 Makassar dan pada tahun yang
sama penulis lulus seleksi masuk Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui
program bebas tes dan diterima di Program Studi Agronomi, Jurusan Budidaya
Pertanian, Fakultas Pertanian, dan lulus pada tahun 2010. Pada Tahun 2011
penulis bekerja di Bumi Lestari Sejahtera sebagai Asisten Manager dan pada
tahun yang sama penulis mendapat kesempatan untuk melanjutkan ke program
magister sains pada Program Agronomi dan Hortikultura Sekolah Pascasarjana,
Institut Pertanian Bogor (IPB).
Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di lembaga Forum Mahasiswa
Pascasarjana IPB (Forum Wacana IPB) dan lembaga Forum Mahasiswa
Pascasarjana Asal Sulawesi Selatan (Rumana Sul-Sel). Penulis juga aktif
berpartisipasi mengikuti kegiatan seminar, workshop, dan pelatihan-pelatihan,
baik dalam lingkup IPB maupun dalam lingkup nasional.
Download