BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan perekonomian dan sektor industri melahirkan beragam produk
dan layanan jasa. Di satu sisi konsumen senang karena semakin bervariasi produk
konsumsi untuk memenuhi kebutuhannya. Untuk merebut perhatian konsumen, para
produsen berlomba melakukan kegiatan promosi yang menarik. Hadirlah iklan di
media massa sebagai media komunikasi pemasaran dari produsen kepada konsumen.
Di lain sisi, banjir iklan di media massa membingungkan konsumen dalam memilih
suatu produk atau jasa.
Iklan merupakan salah satu dari 5 alat bauran komunikasi pemasaran. Selain
iklan masih ada sales promotion, personal selling, Public Relations dan direct
marketing, namun iklanlah yang paling banyak digunakan untuk promosi produk. Hal
ini dapat dilihat dari belanja iklan di Indonesia yang terus meningkat. Dari data
Nielsen, belanja iklan tahun 2012 mencapai Rp. 87 trilyun, naik 20% dari tahun
sebelumnya. Sebagian besar dialokasikan ke media televisi. Melihat belanja iklan
yang besar, tentu saja produsen menaruh harapan besar pada iklan. Namun
belakangan, kepercayaan konsumen pada iklan di media konvensional mulai
memudar. Berdasarkan riset majalah AdWeek dan biro iklan JWT menguak bahwa
sekitar 72% orang mengakui sudah tidak terlalu percaya iklan karena infomasinya
bersifat promosi (Kartajaya, 2010: 163).
Semakin melemahnya efektivitas iklan di media massa menimbulkan
permasalahan baru, yaitu bagaimanakah cara yang efektif untuk menarik perhatian
dan mempengaruhi konsumen. Ketika beriklan melalui media massa sudah dirasa
tidak efektif lagi, maka produsen harus mencari alternatif lain untuk mempromosikan
produknya. Hal tersebut yang mendasari produsen mencari media alternatif untuk
memasarkan produk mereka.
1
Media untuk kegiatan promosi dapat dikelompokkan dalam tiga jenis, yaitu:
media lini atas (above the line), media lini tengah (through the line) dan media lini
bawah (below the line). Media lini atas (above the line) adalah periklanan yang
menggunakan media primer seperti media elektronik maupun media cetak. Media lini
tengah (through the line) merupakan wilayah abu-abu, dimana promosi above the line
mengandung unsur below the line. Sedangkan media lini bawah (below the line)
adalah alternatif untuk mempromosikan produk.
Pada perkembangannya media above the line minim daya persuasif,
penggunaan alat komunikasi pemasaran yang menggunakan media above the line
kemudian lebih difokuskan untuk menumbuhkan dan meningkatkan brand
awareness. Sementara itu untuk promosi yang lebih persuatif, produsen
menggunakan media below the line. Kedua jenis media komunikasi pemasaran
tersebut saling mendukung sesuai dengan kapasitasnya. Maka produsen tidak dapat
hanya mengandalkan satu media untuk menghasilan promosi yang efektif.
Promosi melalui media below the line sering disebut promosi melalui media
alternatif. Meski demikian media below the line dapat lebih ampuh dibandingkan
media konvensional. Hal tersebut diungkapkan Hermawan Kartajaya. Menurutnya
konsumen sudah tidak mempercayai marketer atau pihak perusahaan, konsumen lebih
mempercayai rekomendasi dari suatu komunitas yang mahir atau berkompeten di
bidangnya. Informasi dalam suatu komunitas dapat bergerak dengan sangat cepat.
Media yang digunakan dalam penyebaran informasi ini adalah melalui mulut ke
mulut (word of mouth) baik secara online maupun offline (Kartajaya, 2010: 276).
Peran komunitas sebagai alat komunikasi pemasaran sering tidak disadari atau
bahkan sering tidak ditindaklanjuti oleh produsen, sehingga komunitas hanya sebagai
fenomena yang muncul dari loyalitas konsumen. Komunitas yang tidak diajak
bergabung dengan perusahaan dapat dengan mudah hilang apabila pengelolaan
organisasi dalam interal komunitas tidak mumpuni.
2
Sementara itu perusahaan yang menyadari potensi keuntungan dari
munculnya komunitas konsumen berlomba membina komunitas agar dapat menjadi
mitra perusahaan untuk mempromosikan merek atau produknya. Menyadari hal
tersebut, perusahaan kini lebih menggiatkan kegiatan promosi yang berbasis
komunitas atau komunitisasi. Program keanggotaan klub atau klub konsumen
merupakan contoh upaya perusahaan membentuk komunitas berbasis merek.
Komunitas yang berafiliasi nantinya lebih dikenal dengan istilah brand community.
Brand community tidak hanya dibentuk oleh perusahaan, namun juga dapat
terbentuk dengan sendirinya atas dasar kebutuhan untuk bertukar pengetahuan dan
berbagi pengalaman mengenai produk dan merek yang mereka gunakan. Sebagai
penggemar suatu merek, komunitas dapat memberikan rekomendasi kepada calon
konsumen lain tentang produk atau merek yang digunakan. Kegiatan tersebut
merupakan salah satu strategi pemasaran yang ampuh, mengingat kini konsumen
ingin terhubung dengan konsumen lain, bukan dengan perusahaan.
Pembentukan komunitas juga dilakukan oleh PT Astra International-Honda
dan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing. Kedua perusahaan tersebut
merupakan perusahaan yang relatif gencar membangun komunitas mereka. Hal ini
terbukti dari pesatnya pertumbuhan komunitas dari segi kuantitas. Komunitas motor
Honda maupun Yamaha muncul seiring dengan peluncuran produk baru. Bahkan
proses pembentukan brand community Honda dan Yamaha tidak hanya diprakarsai
oleh perusahaan, konsumen sendiri berinisiatif membentuk komunitas.
Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik meneliti penggunaan brand
community sebagai media baru dalam strategi komunikasi pemasaran PT Astra
International-Honda dan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing. Penelitian ini
berdasarkan pada fenomena maraknya kemunculan komunitas yang melabelkan diri
dan mengkaitkan diri dengan suatu brand.
3
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang menjadi
fokus pada penelitian ini adalah:
“Bagaimana penggunaan brand community
sebagai alat komunikasi
pemasaran pada PT Astra International-Honda dan PT Yamaha Indonesia
Mortor Manufacturing?”
C. Objek Penelitian
Pada penelitian ini, penulis akan menyajikan data dua objek, yaitu PT Astra
International-Honda dan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing region DIY.
Pemilihan objek penelitian berdasarkan pada persaingan penjualan dan brand
community kedua perusahaan tersebut.
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang hendak dijawab, maka tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui serta membandingkan penggunaan brand community
sebagai alat komunikasi pemasaran PT Astra International-Honda dan PT Yamaha
Indonesia Motor Manufacturing.
E. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat sebagai berikut:
1. Bagi akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah penelitian
mengenai peran brand community dalam komunikasi pemasaran pada organisasi
bisnis serta menjadi literasi bagi akademisi yang ingin mengkaji lebih lanjut.
2. Bagi organisasi bisnis khususnya PT Astra International-Honda dan PT Yamaha
Indonesia Motor Manufacturing, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
masukan yang bermanfaat dalam pelasanaan brand community yang efektif
4
sebagai media komunikasi pemasaran. Penelitian ini juga diharapkan dapat
sebagai bahan informasi dalam implementasi program brand community dalam
mencapai tujuan perusahaan.
F. Kerangka Pemikiran dan Teori
Pada penelitian ini, penulis ingin membedah bagaimana pemanfaatan
komunitas sebagai alat komunikasi pemasaran dalam praktek yang dilakukan
organisasi yang berorientasi pada profit dengan kerangka pemikiran sebagai berikut:
1. Komunikasi pemasaran
Menyikapi dinamika dunia bisnis produsen memerlukan strategi yang tepat
sesuai dengan perkembangan pasar. Pasar yang terus berubah menuntut produsen
terus berinovasi agar dapat memenangkan persaingan di era pasar bebas ini. Untuk
memenangkan persaingan, dibutuhkan strategi bisnis yang mampu menciptakan
kepuasan bagi para pemegang kepentingan. Strategi bisnis untuk memenangkan
persaingan pasar disebut strategi pemasaran. Berikut berbagai definisi pemasaran
menurut para ahli:
Menurut Kotler dan Keller (2012:27)
Marketing has been defined as an organizational function and a set of
processes for communicating, and delivering value to costumer and for
managing customer relationship in ways that benefit the organization and its
stakeholder.
Menurut Hermawan Kartajaya (2010: 20),
Pemasaran adalah sebuah konsep strategi bisnis dengan tujuan untuk
menciptakan kepuasan yang berkelanjutan kepada tiga stakeholder utama
perusahaan, yaitu pelanggan, karyawan, dan pemegang saham.
Dari definisi tersebut disimpulkan bahwa pemasaran adalah fungsi organisasi
dan seperangkat proses komunikasi untuk memberikan nilai kepada konsumen dan
mengelola hubungan demi menciptakan kepuasan yang berkelanjutan kepada tiga
stakeholder utama perusahaan, yaitu pelanggan, karyawan, dan pemegang saham.
5
Pemasaran pada saat ini telah menjadi sebuah faktor penting dalam dunia
bisnis terutama bagi perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,
berkembang dan mendapatkan laba, kegiatan pemasaran perusahaan juga harus dapat
memberikan kepuasan pada konsumen jika menginginkan usahanya tetap berjalan.
Pemasaran tidak bersifat statis, namun terus berubah seiring dengan perubahan
lingkungan perusahaan. Perubahan lingkungan perusahaan dapat berupa perubahan
perilaku konsumen, peta persaingan antar perusahaan, dan peraturan yang berlaku.
Segala kegiatan pemasaran perusahaan membutuhkan ilmu komunikasi agar
pesan pemasaran tersampaikan dengan tepat. Dari pemaparan di atas, bahkan
pemasaran didefinisikan sebagai seperangkat proses komunikasi perusahaan.
Komunikasi mendapatkan peran penting pada pemasaran, karena dengan pemilihan
strategi komunikasi yang tepat, maka pesan pemasaran akan lebih efektif
tersampaikan kepada khalayak. Komunikasi dalam kegiatan pemasaran sering disebut
sebagai komunikasi pemasaran. Proses komunikasi pemasaran dapat dijelaskan
melalui model di bawah ini:
Model Komunikasi Pemasaran
Umpan Balik
Sumber
Encoding
Transmisi
Decoding
Tindakan
Perusahaan
Advertising
Selling
promotion
Public
Relations
Personal
selling
Direct
selling
Radio, TV,
surat kabar,
majalah,
brosur,
event, word
of mouth,
internet
Respon dan
interpretasi
oleh
penerima
Perilaku
konsumen
Sumber: Sutisna, 2002: 270
6
Pada model di atas, komunikasi pemasaran merupakan suatu proses. Proses
komunikasi
mempelajari
bagaimana
pengirim
dan
penerima
pesan
mengkonstruksikan pesan (encode), menerjemahkan pesan (decode), dan dengan
bagaimana transmiter menggunakan saluran dan media komunikasi. Komunikasi
pemasaran cenderung membahas tahap-tahap dalam proses komunikasi.
Sumber pesan dalam komunikasi pemasaran adalah perusahaan. Perusahaan
menentukan bagaimana pesan disusun agar bisa dipahami dan direspon sesuai dengan
keinginan perusahaan. Tahap selanjutnya adalah encoding. Encoding adalah proses
menerjemahkan tujuan-tujuan komunikasi ke dalam bentuk pesan yang akan dikirim
kepada penerima (konsumen). Pada proses encoding, perusahaan dapat memilih
menggunakan alat komunikasi pemasaran, seperti advertising, Public Relations, atau
direct selling. Pemilihan alat komunikasi dalam proses encoding disesuaikan dengan
pesan komunikasi pemasaran, kondisi pasar, dan karakteristik alat komunikasi
pemasaran. Setelah perusahaan memilih alat komunikasi pemasaran, langkah
selanjutnya adalah transmisi. Proses transmisi merupakan proses penyampaian pesan
melalui media. Pemilihan media komunikasi disesuaikan dengan alat komunikasi
pemasaran. Tahap-tahap tersebut merupakan tahap pemberian stimulus. Misal apabila
ada produk barunya, perusahaan melakukan promosi melalui iklan (advertising).
Iklan yang dipilih adalah iklan media massa melalui televisi. Pemilihan televisi
didasarkan pada keunggulan televisi yang dapat menjangkau khalayak luas dan
serentak.
Tahap selanjutnya adalah pemberian respon dari penerima (konsumen). Pada
tahap ini erat kaitannya dengan kesesuaian antara harapan pengirim dengan
tanggapan penerima inilah yang diharapkan terjadi, karena hal ini akan
mempengaruhi perilaku konsumen secara positif. Hal yang tidak diharapkan terjadi
adalah respons negatif atau netral dari konsumen (penerima pesan). Respon negatif
terjadi karena tidak terjadinya keserasian antara harapan pengirim pesan dengan
respons dilakukan oleh penerima. Proses memberikan respons dan interpretasi pesan
7
yang diterima disebut sebagai proses decoding. Proses decoding berarti penerima
pesan memberi interprestasi atas pesan yang diterima.
Proses decoding ini akan dilanjutkan dengan tindakan konsumen sebagai
penerima pesan, jika pesan yang sampai diterima secara positif, maka hal ini akan
memberikan pengaruh positif pada sikap dan perilaku konsumen. Sikap positif
konsumen terhadap suatu produk akan mendorong konsumen untuk melakukan
tindakan pembelian. Sedangkan sikap negatif terhadap produk akan menghalangi
konsumen untuk melakukan tindakan pembelian. Pembentukan sikap positif terhadap
produk juga sangat penting dilakukan oleh perusahaan.
Proses terakhir yaitu umpan balik atas pesan yang dikirimkan. Perusahaan
mengevaluasi apakah pesan yang disampaikan sesuai dengan harapan, Pengukuran
efektifitas pesan adalah tingkat penjualan produk yang ditawarkan ke pasar. Pesan
melalui alat komunikasi disebut berhasil atau efektif jika tingkat penjualan produk
setelah proses penyampaian pesan meningkat. Sebaliknya, pesan yang disampaikan
tidak efektif jika setelah pesan disampaikan penjualan produk tidak meningkat, atau
justru turun. Indikator penjualan ini seharusnya menjadi sinyal awal bagi perusahaan
untuk melakukan penelitian atas pesan yang sampaikan ke konsumen.
Dalam penyampaian proses encoding, terdapat berbagai pilihan alat
komunikasi yang umum. Berdasarkan media yang digunakan, dapat dibagi dalam 3
bentuk, yaitu above the line, through the line, dan below the line. Istilah line yang
berarti garis dalam ATL dan BTL itu berawal dari kategorisasi dalam neraca
keuangan. Kategori pertama berlaku bagi kegiatan pemasaran yang kena komisi biro
iklan. Kategori kedua untuk kegiatan pemasaran non iklan yang tidak kena komisi.
Biayanya dimasukkan dalam biaya operasional dan dikurangi sebelum ditentukan net
profit. Kedua jenis budget tersebut dipisahkan dengan sebuah garis. Yang
mengandung unsur komisi, ditulis di bagian atas neraca, disebut sebagai above the
line (ATL). Sisanya, dijadikan satu di bawah garis, disebut kelompok Below the line
(BTL).
8
Perbedaan pormosi above the line dan below the line
Above the line (ATL)
Target audiens luas
Below the line (BTL)
Target audiens terbatas
Lebih untuk menjelaskan sebuah Media atau kegiatannya memberikan
konsep atau ide. Tidak ada audiens kesempatan untuk merasakan,
interaksi langsung dengan audiens. menyentuh atau berinteraksi, bahkan
langsung membeli.
TV, Radio, Majalah, koran, Event, Sponsorship, Sampling, Pointbillboard
of-Sale (POS) materials, Consumer
promotion, Trade promotion, dll
Sumber: disadur dari berbagai sumber
Terdapat wilayah grey area yang mendorong timbulnya istilah baru, yaitu
Through the Line (TTL). Istilah ini secara harfiah berarti cakupan dari ujung satu ke
ujung lainnya. Grey area yang menjadi TTL misalnya ada kegiatan ATL yang
mengandung unsur BTL. Atau sebaliknya, BTL yang mengandung unsur ATL.
Contoh ATL dengan BTL adalah iklan sebuah brand di majalah yang sekaligus
ditempel sample produknya. Sedangkan contoh BTL dengan ATL misalnya kegiatan
event di outlet tertentu yang disebarluaskan lewat iklan radio atau TV.
Setiap alat komunikasi pemasaran memiliki fungsi sesuai dengan keunggulan
dan kelemahan masing-masing. Alat komunikasi pemasaran ATL lebih bersifat
mengenalkan dan meningatkan dengan jangkauan khalayak luas, namun minim daya
persuasifnya. Sedangkan alat komunikasi pemasaran BTL hanya mampu menjangkau
khalayak sempit namun lebih persuasif. Kedua alat komunikasi pemasaran tersebut
saling melengapi agar program komunikasi pemasaran dapat lebih efektif. Namun
dalam prakteknya perusahaan lebih memfokuskan penggunaan alat komunikasi
pemasaran ATL untuk kegiatan branding.
9
2. Brand
Berdasarkan definisi American Marketing Association dalam Mustafa (2013:
9), brand atau merek adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi
dari beberapa hal tersebut, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau
jasa dari suatu penjual atau sekelompok penjual untuk membedakan mereka dengan
pesaingnya. Dari definisi tersebut, brand tidak hanya berbentuk nama suatu produk,
namun brand dapat juga berupa istilah, tanda, simbol, atau desain dari suatu produk.
Brand dan branding merupakan dua hal yang berbeda. Menurut Baladi dalam
Mustafa (2013: 10) brand merupakan positioning dari suatu produk dalam pikiran
konsumen, sedangkan branding merupakan proses yang bertujuan untuk dapat
memikat dan membuat pelanggan loyal dengan cara mempromosikan nilai, image,
prestise, atau lifestyle dari brand tersebut.
Branding juga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk komunikasi yang
digunakan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan pelanggan. Branding tidak
sama dengan atau tidak terbatas hanya melakukan kegiatan promosi, tetapi branding
harus dipandang sebagai suatu proses yang utuh dan berkesinambungan serta
terintegrasi dengan seluruh kegiatan pemasaran. Menurut Joewono dalam Mustafa
(2013: 11). Terdapat 5 tahapan dalam membangun strategi branding, yaitu:
1. Menentukan target market
2. Brand positioning dan brand personality
3. Brand identity
4. Brand communication messages
5. Brand communication channel
Suatu brand yang telah lahir perlu dilakukan monitoring, pengukuran, dan
evaluasi terhadap kualitas dan efektivias dari suatu brand agar terjadi kesesuaian
antara harapan produsen dengan persepsi konsumen. Dengan adanya evaluasi, maka
nilai dari suatu brand dapat diketahui. Nilai dari suatu brand disebut brand equity.
Jadi brand equity juga disebut sebagai kekuatan suatu brand yang dapat menambah
10
atau mengurangi nilai dari brand itu sendiri. Brand equity dapat ditahui dari respon
konsumen terhadap barang atau jasa yang dijual.
Menurut Susanto dan Wijanarko (2004: 87-89) yang mengadaptasi teori
Aaker, brand equity dapat dikelompokkan ke dalam 5 kategori:
a) Brand awareness
Brand awareness adalah kesanggupan seorang calon pembeli untuk mengenali
atau mengingat kembali bahwa suatu merek merupakan bagian dari kategori
merek tertentu. Brand awareness adalah pengakuan dan pengingatan dari sebuah
merek dan pembedaan dari merek yang lain yang ada di lapangan. Jadi brand
awareness adalah kemampuan konsumen untuk mengingat suatu brand dan yang
menjadikannya berbeda bila dibandingkan dengan brand lainnya.
b) Perceived quality
Perceived quality adalah persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau
keunggulan suatu produk atau jasa berkenaan dengan maksud yang diharapkan.
c) Brand association
Brand association adalah sesuatu yang berkaitan dengan ingatan mengenai
sebuah produk. Asosiasi ini tidak hanya eksis, namun juga memiliki suatu tingkat
kekuatan. Keterikatan pada suatu merek akan lebih kuat apabila dilandasi pada
banyak pengalaman atau penampakan untuk mengkomunikasikannya.
d) Brand loyalty
Brand loyalty merupakan ukuran kesetiaan seorang pelanggan pada sebuah
merek. Loyalitas memiliki tingkatan sebagaimana dapat dilihat pada gambar di
bawah ini:
1. Tingkat loyalitas yang paling dasar adalah pembeli tidak loyal atau sama
sekali tidak tertarik pada merek-merek apapun yang ditawarkan. Dengan
demikian, merek memainkan peran yang kecil dalam keputusan pembelian.
Pada umumnya, jenis konsumen seperti ini suka berpindah-pindah merek atau
11
disebut tipe konsumen switcher atau price buyer (konsumen lebih
memperhatikan harga di dalam melakukan pembelian).
2. Tingkat kedua adalah para pembeli merasa puas dengan produk yang
digunakan, atau minimal tidak mengalami kekecewaan. Pada dasarnya, tidak
terdapat dimensi ketidakpuasan yang cukup memadai untuk mendorong suatu
perubahan, terutama apabila pergantian ke merek lain memerlukan suatu
tambahan biaya. Para pembeli tipe ini dapat disebut pembeli tipe kebiasaan
(habitual buyer).
3. Tingkat ketiga berisi orang-orang yang puas, namun memikul biaya peralihan
(switching cost), baik dalam waktu, uang atau resiko sehubungan dengan
upaya untuk melakukan pergantian ke merek lain. Kelompok ini biasanya
disebut dengan konsumen loyal yang merasakan adanya suatu pengorbanan
apabila melakukan penggantian ke merek lain. Para pembeli tipe ini disebut
satisfied buyer.
4. Tingkat keempat adalah konsumen benar-benar menyukai merek tersebut.
Pilihan konsumen terhadap suatu merek dilandasi pada suatu asosiasi, seperti
simbol, rangkaian pengalaman dalam menggunakannya, atau kesan kualitas
yang tinggi. Para pembeli pada tingkat ini disebut sahabat merek, karena
terdapat perasaan emosional dalam menyukai merek.
5. Tingkat teratas adalah para pelanggan yang setia. Para pelanggan mempunyai
suatu kebanggaan dalam menemukan atau menjadi pengguna suatu merek.
Merek tersebut sangat penting bagi pelanggan baik dari segi fungsinya,
maupun sebagai ekspresi mengenai siapa pelanggan sebenarnya (commited
buyers).
e) Other proprietary brand assets
Terdapat hal-hal lain yang tidak termasuk dalam 4 kategori diatas tetapi turut
membangun brand equity. Menurut Kim dan Kim, brand equity meliputi 4 hal,
antara lain loyalitas merek, perceived quality, citra merek, dan brand awareness.
12
3. Brand community
Pada era sebelumnya, praktek promosi didominasi oleh iklan di media
konvensional seperti televisi dan radio. Media tersebut mempunyai kelebihan dapat
menjangkau khalayak luas dan seketika. Namun belakangan ini konsumen mulai
tidak percaya pada informasi yang diberikan perusahaan melalui iklan di media
konvensional. Konsumen bahkan menghindar dari bentuk promosi dan pemasaran
melalui berbagai media. Promosi melalui media konvensional juga menelan biaya
promosi yang banyak. Tentu saja biaya promosi itu nantinya akan dibebankan ke
konsumen. Meski kepercayaan konsumen telah menurun dan ber-budget tinggi,
promosi melalui media konvensional masih dibutuhkan untuk brand awareness dan
prestige. Melihat fenomena tersebut, perusahaan membutuhkan pihak-pihak yang
dipercaya konsumen untuk tetap menginformasikan dan mempromosikan produk atau
mereknya kepada konsumen.
Kemunculan komunitas yang beranggotakan konsumen yang loyal pada brand
dapat menjadi alternatif alat promosi. Perusahaan merespon kemunculan komunitas
konsumen dengan berbagai macam kegiatan pemasaran untuk meretensi keberadaan
komunitas konsumen yang sudah terbentuk. Keberadaan komunitas konsumen perlu
mendapatkan perhatian khusus agar dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Apabila menilik lebih lanjut mengenai keberadaan komunitas konsumen
dewasa ini memberikan kontribusi kepada perusahaan. Berikut keuntungan yang
diperoleh perusahaan terhadap keberadaan komunitas:
1. Komunitas konsumen yang puas terhadap performa perusahaan atau merek akan
menjadi komunitas konsumen yang loyal pada brand.
2. Kebersamaan konsumen yang loyal terhadap produk atau merek akan
meningkatkan komitmen konsumen pada brand tersebut.
3. Komunitas dapat digunakan sebagai ajang untuk mengedukasi konsumen.
4. Komunitas dapat menjadi agen word of mouth yang efektif bagi perusahaan.
5. Komunitas konsumen dapat menjadi media feedback.
13
6. Komunitas konsumen dapat dijadikan media untuk kegiatan Corporate (Brand)
Social Responsibility atau Corporate Societal Marketing yang efektif bagi
perusahaan.
Dalam konteks pemasaran Alexander dan Schouten, dalam (Hartono, 2008:
19) mendefinisikan brand community sebagai:
Communities whose primary basic of identification are either brands or
consumption activities, that is, where meaningfulness is negotiated through
the symbolism of the marketplace. A Brand community is a specialized, non
geographically bound community, based on a structured set of social
relationships among admirers of a brand. It is specialized because at its
center is a branded or service
Definisi brand community menurut Alexander dan Schouten menyatakan
bahwa brand community adalah komunitas khusus yang tidak terikat berdasarkan
lokasi (geografis), melainkan komunitas yang terikat berdasarkan suatu hubungan
sosial di antara pengagum suatu merek. Pusat dari komunitas adalah merek tersebut.
Komunitas ini secara khusus berafiliasi dengan brand tertentu, baik itu dari inisiatif
perusahaan maupun brand itu sendiri. Brand community dapat berupa komunitas
online maupun offline. Tidak hanya berdasarkan ketertarikan terhadap suatu brand
atau produk, salah satu syarat penting terbentuknya brand community adalah
komunikasi antar anggota komunitas. Dari komunikasi tersebut akan terbentuk rasa
kepercayaan dan independensi sehingga mengguatkan rasa saling ketertarikan antara
sesama anggota komunitas tersebut.
Dilihat dari asal mulanya, brand community terbentuk dengan dua cara, yaitu
komunitas yang dibentuk atas kemauan sendiri (by default) dari para anggotanya.
Komunitas ini yang memiliki loyalitas yang tinggi secara emosional terhadap suatu
produk. Mereka akan sangat membanggakan produk bahkan merekomendasikan ke
orang lain yang belum mempunyainya. Terdapat pula komunitas yang dibentuk
perusahaan (by design), biasanya bertujuan untuk dapat menjalin relasi kemitraan
antar kedua belah pihak sehingga sama-sama memperoleh manfaat dari hubungan
relasi tersebut atau untuk keperluan marketing dan promosi.
14
Brand community sebagai suatu organisasi memiliki pengaruh terhadap
anggotanya sendiri. Pengaruh tersebut lebih kuat karena anggotanya mengikat diri
secara sukarela tanpa paksaan pada komunitas tersebut. Komunitas juga dapat
menjadi acuan bagi anggotanya karena adanya ikatan yang dirasakan oleh anggota
dapat membuat mereka saling tergantung satu sama lain dan timbulnya rasa saling
percaya diantara mereka.
Tugas perusahaan adalah memberikan fasilitas kepada komunitas binaannya
serta selalu menegaskan kepada komunitas bahwa tugas mereka adalam membangun
brand. Jika dimanfaatkan dengan benar, brand community dapat menjadi
perpanjangan alat untuk melakukan aktivitas pemasaran. Namun jika brand
community tidak dibina dan demonitoring dengan baik oleh perusahaan hanya akan
menghabiskan anggaran perusahaan.
4. Strategi Communitization
Perusahaan diharapkan dapat membentuk komunitas atau memanfaatkan
komunitas yang telah ada untuk kepentingan pemasaran. Hal ini tentu berbeda dengan
strategi pemasaran STP (segmenting, targeting, positioning) yang sebelumnya
diterapkan sebagai strategi marketing di banyak perusahaan. Pada strategi SPT,
segmentasi1 tidak memperdulikan kedekatan personal antar konsumen. Selain hal itu
masih ada beberapa hal yang berbeda antara segmentasi dengan communitization,
yaitu prosesnya lebih horizontal dan low-budget high-impact (Kartajaya, 2010: 86).
Dalam communitization, perusahaan tidak harus melakukan riset pasar.
Perusahaan hanya perlu melakukan identifikasi komunitas yang sudah ada atau
membentuk komunitas baru. Komunitas ini dapat berupa komunitas online,
komunitas offline, atau gabungan antara keduanya. Hal terpenting dalam menarget
atau membentuk komunitas baru adalah melihat kesamaan interest antar anggotanya.
1
Segmentasi adalah pengelompokan pasar berdasarkan atribut statis dan dinamis. Atribut
statis seperti segmentasi berdasar variabel geografis dan demografis. Atribut dinamis
berdasar psikografis dan behavioral (Kartajaya, 2010: 85).
15
Menurut Kartajaya (2010: 102), sebelum bergabung ke dalam komunitas,
perusahaan perlu mengetahui potensi komunitas. Apabila perusahaan telah
mengetahui potensi komunitas, maka penerapan strategi communitization dapat
berlangsung lebih efektif dan efisien.
Berikut kriteria yang dilihat brand dari sebuah komunitas:
a. Relevance adalah relasi atau kesamaan interest atau values antara perusahaan
dengan komunitas tersebut.
b. Active Level adalah seberapa besar tingkat keaktifan komunitas tersebut. Apakah
dalam komunitas tersebut anggotanya aktif atau hanya daftar nama saja. Kalau
hanya daftar nama saja, maka ini hanya sebuah database.
c. Number of Community adalah berapa banyak jaringan yang dimiliki atau yang
potensial dapat terjadi antara suatu komunitas tersebut.
Setelah melakukan identifikasi dalam
sejumlah komunitas,
langkah
selanjutnya confirming. Confirming adalah melakukan konfirmasi kepada komunitas
yang akan bergabung. Menurut Hermawan Kartajaya (2010: 101) proses confirming
ini bersifat horizontal yang berbeda dengan targeting karena dalam targeting,
seseorang dapat menjadi target tanpa persetujuan dari mereka sendiri. Dalam
confirming, jika ada yang mau bergabung dengan komunitas, maka komunitas
tersebut mempunyai dua pilihan, yaitu confirm atau ignore. Hal ini menunjukkan
bahwa sebuah komunitas tersebut mempunyai kekuatan yang sama dengan sebuah
perusahaan.
Setelah komunitas mengkonfirmasi keberadaan perusahaan dalam komunitas,
langkah selanjutnya adalah clarifying. Clarifying memperjelas makna karakter
perusahaan terhadap komunitas (Kartajaya, 2010: 105). Sebuah karakter brand harus
dilakukan klarifikasi dalam benak konsumen. Tidak hanya dengan slogan atau
tagline. Clarifying tidak hanya mencoba menanamkan suatu persepsi dalam benak
konsumen, tetapi juga mendukungnya dengan kenyataan atau fakta.
16
Brand perlu memahami karakter dari suatu komunitas yang ingin dijadikan
target communitization. Hal-hal yang perlu dipahami brand pada suatu komunitas
adalah values, identification, dan, personality. Mengetahui values dalam komunitas
penting karena brand tidak perlu masuk ke komunitas yang mempunyai values
berbeda jauh. Setelah memutuskan untuk masuk pada suatu komuitas, brand perlu
mengenali identitas, yaitu tanda pengenal masing-masing komunitas, dan yang
teakhir adalah personaliti dari tiap-tiap komunitas.
a. Crowd combo
Untuk mengoperasionalkan suatu strategi pemasaran dibutuhkan taktik yang
sesuai dengan strategi yang digunakan. Pada strategi segmentasi, taktik yang
digunakan adalah differensifikasi, marketing mix, dan selling. Penelitian ini akan
fokus mengulas hanya salah satu elemen taktik yaitu marketing mix. Marketing mix
adalah unsur kedua dalam taktik yang mengintegrasikan tawaran, logistic, dan
komunikasi perusahaan.
Dalam strategi communitization, marketing mix berubah menjadi crowd
combo (co-creation, currency, communal activation, conversation). Elemen pertama
dari crowd combo adalah co-creation. Dalam co-creation, pelanggan terlibat
langsung secara aktif dalam proses pembuatan produk yang dikonsumsi oleh mereka
sehingga terjadi proses horizontalisasi. Perusahaan hanya berperan sebagai fasilitator
(Kartajaya, 2010: 122).
Dalam co-creation, pelanggan terlibat langsung secara aktif dalam proses
pembuatan produk yang dikonsumsi oleh mereka sehingga terjadi proses
horizontalisasi. Sebuah produk atau co-creation yang telah dibuat tidak punya suatu
nilai yang tetap karena ini tergantung bagaimana orang melakukan apresiasi produk
atau co-creation tersebut.
Sebuah produk atau co-creation yang telah dibuat tidak punya suatu nilai
yang tetap karena ini tergantung bagaimana orang melakukan apresiasi produk atau
17
co-creation tersebut. Pelanggan mempunyai kekuatan untuk menentukan seberapa
besar nilai yang harus dibayarnya untuk sebuah produk atau co-creation. Proses
tersebut disebut currency, karena lebih fleksibel dibandingkan price.
Place atau saluran distribusi berperan mengantarkan produk dari produsen ke
pelanggan. Place berubah menjadi communal activation yang berarti mengaktifkan
sebuah komunitas melalui para pemimpin atau aktivis komunitas trersebut. Para
aktivis inilah yang mampu memasarkan co-creation kepada para anggota komunitas
lainnya. Para aktivis ini sangat memahami anxiety dan desire yang ada dalam
komunitas. Para aktivis terserbut lebih dipercaya oleh pelanggan atau anggota
komunitas lainnya dibandingkan dengan perusahaan. Para aktivis komunitas inilah
yang menjadi kepanjangan tangan perusahaan. Dalam new wave marketing,
perusahaan harus dapat mengikat para aktivis komunitas ini karena suara para aktivis
komunitas inilah yang akan didengarkan oleh anggota komunitas lainnya.
Elemen terakhir dari marketing mix adalah promosi. Promosi ini mempunyai
tiga tujuan, yaitu untuk menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan pelanggan.
Promosi bersifat vertikal, yaitu searah, top down, dan one-to many. Promosi sering
digunakan untuk mempertahankan brand awareness, mengingatkan pelanggan
dimana harus membeli produk dan sebagainya. Promosi bersifat vertikal dari
perusahaan ke konsumen, sehingga sudah tidak tepat lagi diterapkan di era horizontal
ini. Promosi berubah menjadi conversation yang bersifat dua arah, peer to peer, dan
many to many (Kartajaya, 2010: 127).
Conversation terjadinya diskusi atau interaksi antara dua pihak yang
berkedudukan yang setara sehingga dapat menimbulkan kebenaran bersama. Dengan
demikian, pelanggan akan lebih dapat menerima kebenaran bersama itu dibandingkan
dengan kebenaran satu pihak saja. Sehingga conversation akan lebih dipercaya
ketimbang promosi karena dalam conversation pelanggan dapat melakukan
klarifikasi hal-hal yang disampaikan oleh perusahaan. Conversation mengandalkan
media word of mouth untuk menyampaikan pesan.
18
Perusahaan menempatkan komunitas konsumen sebagai subjek dan bukan
hanya sekadar objek perlu menjadi perhatian serius para perusahaan, pemilik merek,
atau produsen yang memang ingin memanfaatkan komunitas konsumen sebagai cara
mereka dalam memahami perilaku konsumennya. Keberadaan konsumen adalah
penting untuk terus diperhatikan karena memang pasar inilah yang paling fokus dan
bisa dimaksimalkan secara efektif. Hanya saja tidak mudah memanfaatkan
keberadaan komunitas sebagai mesin yang dapat mendongkrak penjualan perusahaan.
Pendekatan yang lebih soft dan humanis perlu dikedepankan.
Pentingnya pemasar memahami mengapa perlu membentuk konsumen
tentunya akan berpengaruh pada pertanyaan berikutnya yaitu bagaimana kemudian
pemasar membangun hubungan dengan komunitasnya. Dengan memperhatikan wajah
komunitas konsumen yang ada dan juga melihat dinamika pola hubungan yang
selama ini sudah terjadi antara perusahaan dengan komunitas maka perusahaan bisa
mengembangkan objektif strategi mereka dalam mendekati komunitas konsumennya.
Strategi tersebut bisa berorientasi kepada jangka panjang dengan ikut membantu
membangun komunitas yang dikelolanya menjadi lebih mandiri atau jangka pendek
yang lebih menekankan kepada upaya untuk memanfaatkan keberadaan komunitas
untuk kepentingan dan keuntungan sesaat serta tidak ada indikasi komitmen
perusahaan untuk ikut membantu komunitas menjadi komunitas yang sustainable.
b. Word of mouth
Media komunikasi pemasaran yang dipilih dalam komunikasi pemasaran
melalui brand community adalah word of mouth. Anggota brand community
memberikan rekomendasi kepada calon pelanggan lain, sehingga konsumen dalam
komunitas dapat menjadi juru bicara atau papan iklan berjalan yang efektif bagi
perusahaan, seperti yang dikemukakan oleh Yuswohady dalam Basalamah (2010: 79)
bahwa customer is the truly salesman. Konsumen yang puas akan merek yang
digunakannya akan memberitahukan kelebihan-kelebihan merek tersebut kepada
19
orang lain, dan selanjutnya konsumen akan merekomendasikannya kepada orang lain.
Rekomendasi pelanggan merupakan alat promosi dan penjualan yang sangat efektif
dalam mempengaruhi calon konsumen2. Hal ini merupakan salah satu strategi
komunikasi pemasaran dasar yang disebut dengan Word of mouth.
Word of mouth merupakan perbincangan konsumen satu sama lain tentang
pengalaman menggunakan suatu produk dan merekomendasikannya sebagai
pengganti pemasar yang melakukan pembicaraan tersebut. Word of mouth sebagai
media komunikasi memiliki karakeristik sendiri. Untuk menciptakan word of mouth
yang efektif, perlu mendalami word of mouth secara lebih spesifik. Dalam sebuah
word of mouth marketing suatu produk akan mengalami pembicaraan yang berpusat
pada produk tersebut. Produk akan berada pada jalur komunikasi yang ditentukan
oleh konsumen. Word of mouth sendiri menjadi referensi yang membentuk harapan
konsumen. Sernovitz (2009:31) menyebutkan bahwa ada 5 elemen-elemen (Five Ts)
yang dibutuhkan untuk word of mouth agar dapat menyebar yaitu:
1. Talkers, yaitu pembicara dalam hal ini adalah konsumen yang telah
mengkonsumsi produk atau jasa. Calon konsumen terkadang cenderung memilih
atau memutuskan suatu produk tergantung kepada konsumen yang telah
berpengalaman menggunakan produk atau jasa tersebut atau biasa disebut dengan
referral pihak yang merekomendasikan suatu produk atau jasa.
2. Topics, yaitu pesan atau perihal yang membuat mereka berbicara mengenai
produk atau jasa, seperti halnya pelayanan yang diberikan, keunggulan produk,
tentang perusahaan, dan lokasi yang strategis.
3. Tools, setelah mengetahui pesan yang membuat mereka berbicara mengenai suatu
produk atau jasa, dibutuhkan suatu alat untuk membantu agar pesan tersebut dapat
berjalan, seperti website, produk gratis, postcards, brosur, spanduk, melalui iklan
2
Di Amerika, konsumen memilih word of mouth sebagai pendorong pembelian (33%)
berdasarkan penelitian Liz Bigham “word of mouth and experiential marketing”
www.womma.org 17 januari 2014
20
di radio, dan apa saja alat yang dapat membuat orang membicarakan atau
menularkan suatu produk kepada orang lain.
4. Taking Part yaitu partisipasi perusahaan seperti halnya dalam menanggapi respon
pertanyaan-pertanyaan mengenai produk atau jasa tersebut dari para calon
konsumen dengan menjelaskan secara lebih jelas dan terperinci mengenai produk
atau jasa tersebut, melakukan follow up ke calon konsumen sehingga mereka
melakukan suatu proses pengambilan keputusan.
5. Tracking atau pengawasan akan hasil WOM perusahaan setelah suatu alat tersebut
berguna dalam proses word of mouth dan perusahaan pun cepat tanggap dalam
merespon calon konsumen, perlu pula pengawasan akan word of mouth yang telah
ada tersebut yaitu dengan melihat hasil seperti dalam kotak saran sehingga
terdapat informasi banyaknya word of mouth positif atau word of mouth negatif
dari para konsumen.
G. Kerangka konsep
Pada kerangka pemikiran di atas telah dijelaskan beberapa langkah untuk
mengunakan brand community sebagai alat komunikasi pemasaran. Brand community
pada penelitian ini disebut sebagai alat komunikasi untuk pelaksanaan strategi
pemasaran communitization. Brand community setara dengan alat komunikasi
pemasaran lainnya, seperti advertising, Public Relations, selling promotion, dan
sebagainya. Sementara itu media yang sesuai diterapkan untuk pelaksanaan strategi
pemasaran communitization dengan menggunakan brand community sebagai alat
komunikasi pemasaran adalah word of mouth.
Pada kerangka konsep ini, penulis akan menyajikan langkah-langkah pilihan
yang dianggap paling sesuai untuk menjawab permasalahan pada penelitian ini.
1. Penggabungan brand dengan komunitas
Komunitas mempunyai kebebasan dalam memilih. Mereka dapat menerima
perusahaan sebagai bagian dari komunitas maupun tidak. Apalagi jika mengetahui
21
maksud dari perusahaan bergabung adalah untuk menggunakan komunitas sebagai
alat komunikasi pemasaran yang tentu saja memberi keuntungan pada perusahaan.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa brand community terbentuk dari dua cara,
yaitu by default dan by desain. Perusahaan membutuhkan penanganan yang berbeda
untuk bergabung pada brand community sesuai dengan cara terbentuknya. Untuk
brand community yang telah terbentuk dengan sendirinya, perusahaan melakukan
langkah-langkah sebagai berikut:
a. Identifikasi komunitas. Identifikasi komunitas adalah upaya perusahaan memilih
dan memilah komunitas berdasarkan aspek-aspek berikut:
-
value, identifikasi, dan personality
-
active level
-
number of community
b. Konfirmasi. Perusahaan melakukan konfirmasi kepada komunitas yang dianggap
sesuai dengan aspek-aspek dalam identifikasi komunitas. Konfirmasi merupakan
permohonan ijin bergabung atau menjadi bagian komunitas.
Setelah perusahaan melakukan langkah-langkah di atas, maka otoritas
selanjutnya adalah milik komunitas. Komunitas dapat menerima atau menolak
kehadiran perusahaan. Proses ini disebut juga klarifikasi.
Upaya yang dilakukan untuk menyatu dengan komunitas yang dibentuk oleh
perusahaan relatif lebih mudah. Perusahaan men-design komunitas yang identitas,
value, dan personality sesuai dengan keinginan perusahaan. Langah konkritnya
adalah dengan merekrut pihak-pihak yang berkompeten membentuk dan membangun
komunitas sesuai dengan keinginan perusahaan. Pihak inilah yang nantinya membina
dan mengembangkan komunitas sesuai dengan active level yang diharapkan
perusahaan.
22
2. Aktivitas brand community dan perusahaan
Terdapat beberapa upaya untuk memberikan edukasi dan nyatukan visi dan
misi perusahaan dengan brand community agar dapat menjadi alat komunikasi
pemasaran yang mumpuni. Langkah-langkah yang diambil merupakan implementasi
dari sebagaian taktik pemasaran communitization, yaitu co-creation, currency,
communal activation, dan conversation. Pada aktivitas co-creation, brand community
akan menguji performa produk. Brand community mempunyai kemampuan dan minat
khusus pada produk sehingga acapkali sering menemukan keunggulan dan
kekurangan suatu produk di luar prediksi produsen. Keunggulan produk tersebut
nantinya dapat menjadi pesan pemasaran yang dilakukan brand community.
Pada proses currency, brand community mempunyai kekuatan untuk
menentukan seberapa besar nilai yang harus dibayarkan untuk sebuah produk atau cocreation. Communal activation bukan sekadar placing atau mendistribusikan produk
secara konvensional. Tapi, sebuah merek harus benar-benar hadir di sebuah
komunitas dalam satu area dan bisa memberikan manfaat bagi komunitas di
sekitarnya. Perusahaan bisa mendapatkan apa yang dipikirkan dan dirasakan
konsumen tentang produk melalui communal activation. Dalam communal activation
dapat terjadi conversation, yaitu unsur lain dari taktik communitization. Conversation
akan dibahas sebagai media komunikasi pemasaran brand community.
3. Media komunikasi pemasaran
Media komunikasi pemasaran yang memungkinkan digunakan oleh brand
community adalah word of mouth. Word of mouth sebagai media komunikasi
memiliki karakeristik sendiri. Untuk menciptakan word of mouth yang efektif, perlu
mendalami word of mouth secara lebih spesifik. word of mouth merupakan
perbincangan konsumen satu sama lain tentang pengalaman menggunakan suatu
produk dan merekomendasikannya sebagai pengganti pemasar yang melakukan
pembicaraan tersebut. Dalam sebuah word of mouth suatu produk akan mengalami
23
pembicaraan yang berpusat pada produk tersebut. Word of mouth dapat terjadi pada
online dan offline media.
Word of mouth terdiri atas indikator-indikator talker, topic, tool, taking part,
dan tracking. Talker adalah pihak yang merekomendasikan/pembicara. Topic
menyangkut tema yang didiskusikan antara komunikator dengan penerima pesan.
Topic dapat berupa pesan rasional, pesan emosional dan pesan moral. Tool adalah
segala sesuatu perlengkapan yang dapat membantu perluasan pesan komunikator.
Tool dapat berupa media online maupun offline. Taking part menyangkut keterlibatan
dalam percakapan yang terjadi antara komunikator dengan penerima pesan. Tracking
adalah melakukan pengukuran terhadap apa yang didiskusikan antara komunikator
dengan penerima pesan. Indikator-indikator tersebut yang akan dilakukan perusahaan
untuk menciptakan word of mouth di kalangan brand community.
H. Desain Penelitian
Idetifikasi
Brand community
Aktifitas brand community
dengan perusahaan
Media komunikasi
pemasaran
- Value, identity, personality
Brand - Active level
Community
- Number of community
Brand community
- Co-creation
- Currency
- Communal activation
- Conversation (WOM)
Word of mouth
- Talkers
- Topics
- Tools
- Taking part
- Tracking
24
I. Metodologi
1. Tipe penelitian
Berdasarkan pada konsep penelitian berkarakter komunikasi, sebagaimana
dipaparkan oleh Nunung Prajarto (2004: 18) bahwa upaya pembedaan penelitian
komunikasi dengan penelitian lain adalah fokus kajian penelitian. Fokus penelitian
dari penelitian komunikasi adalah elemen-elemen komunikasi. Pada penelitian ini,
fokus penelitian adalah komunitas yang digunakan sebagai alat baru komunikasi
pemasaran.
Dilihat dari aspek keunikan objek penelitian, maka penelitian ini termasuk
kategori studi kasus. Menurut Yin (2006: 18) studi kasus sebagai inkuri empiris yang
menyelidiki fenomena dalam konteks kehidupan nyata. Pendekataan studi kasus
dalam penelitian ini untuk mempelajari, menerangkan, atau mengimplementasikan
suatu kasus. Penelitian yang membedah mengenai komunitas dalam praktik
komunikasi pemasaran masih relatif sedikit.
Studi ini untuk menyoroti suatu keputusan, mengapa keputusan itu diambil,
bagaimana penerapannya, dan apa hasilnya. Studi kasus dalam penelitian ini
dimaksudkan untuk mempelajari, menerangkan, dan mengimplementasikan mengapa
korporasi menggunakan komunitas sebagai media komunikasi dalam aktivitas
pemasara. Pendekatan studi kasus dipilih dalam penelitian ini karena komunitas
merupakan suatu organisme yang berkembang, sehingga unik untuk diteliti.
Penelitian tentang brand community dalam aktivitas pemasaran banyak dilakukan
pada bidang keilmuan lain.
Yin (2006: 1) menjelaskan, bahwa secara umum studi kasus merupakan
proses yang lebih cocok apabila pertanyaan penelitian seputar how dan why atau
minimnya kesempatan peneliti untuk mengintervensi atau mengontrol peristiwaperistiwa yang akan diselidiki. Fokus penelitian pada fenomena masa kini dalam
konteks kehidupan nyata.
25
Jenis studi kasus pada penelitian ini adalah studi kasus jamak, yaitu penelitian
yang menggunakan lebih dari satu kasus. Penggunaan jumlah kasus yang lebih dari
satu dilakukan utuk mendapatkan data yang lebih detail, sehingga deskripsi hasil
penelitian menjadi semakin jelas dan terperinci. Hal ini juga didorong oleh keinginan
untuk mengeneralisasi konsep atau teori yang dihasilkan. Dengan kata lain,
penggunaan jumlah kasus yang banyak dimaksudkan untuk menutupi kelemahan
yang terdapat pada penggunaan kasus tunggal, yang dianggap tidak dapat
digeneralisasikan.
Di dalam penelitian studi kasus jamak, penulis akan menggunakan logika
replikasi sebagai pendekatan di dalam proses analisisnya. Pada proses ini, setiap
kasus mengalami prosedur penelitian yang sama, hingga menghasilkan hasil
penelitiannya masing-masing. Selanjutnya, hasil dari masing-masing penelitian di
perbandingkan,
untuk
menentukan
kesamaan
dan
perbedaannya.
Hasilnya
dipergunakan untuk menjelaskan pertanyaan penelitian pada umumnya dan
khususnya pencapaian atas maksud dan tujuan penelitian.
2. Metode penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah, objek penelitian, serta kerangka
pemikiran pada penelitian ini, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah pendekatan yag bersifat deskriptif (kualitatif). Dengan model pengkajian
deskriptif dalam arti bertujuan untuk mengggambarkan atau memaparkan fenomena
yang
diteliti.
Metode
deskriptif
digunakan
untuk
mendeskripsikan
atau
menggambarkan bagaimana penggunaan brand community sebagai media dalam
komunikasi pemasaran.
3. Teknik pengumpulan data
Menurut Yin (2006: 103) bukti data data studi kasus dapat berasal dari enam
sumber, yatiu: dokumen, rekaman arsip, wawancara, penamatan langsng, obeservasi
26
pertisipan, dan perangkat-perangkat fisik. Pada penelitian ini, data dan informasi
dikumpulkan berupa, deskripsi perusahaan, arsip kegiatan klub motor baik berasal
dari perusahaan maupun dari club motor, pernyataan dari pihak-pihak yang
berkompeten, pemberitaan di media massa, hasil pengamatan langsung di lapangan,
dan data hasil wawancara mendalam dengan menggunakan informan kunci baik itu
formal maupun informal, serta pihak-pihak yang terlibat langsung pada objek
penelitian.
Untuk tokoh kunci yang dijadikan narasumber pada penelitian ini adalah
tokoh yang memegang kewenangan pada divisi marketing promotion khususnya yang
menangani langsung brand community dan pihak-pihak dari komunitas. Tokoh yng
diwawancarai adalah sebagai berikut:
1. Jumanto sebagai Manager Customer Care PT Astra International-Honda HSO-3.
2. Christa Adhi Dharma sebagai Public Relations & Customer Analyst PT Astra
International-Honda HSO-3
3. Hendro Aryono Promotion sebagai PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing
DDS-3 Yogyakarta
4. Muhammad Abdul Rasyid sebagai perwakilan komunitas Paguyuban Motor
Honda Yogyakarta
5. Asep Hedi sebagai perwakilan komunitas salah satu varian motor Honda
6. Hatta Gesmara, Kemal Ahmad dan Dipto Ayudho sebagai perwakilan komunitas
motor Yamaha,
4. Analisis dan interpretasi data
Data atau informasi senantiasa dianalisis setiap saat setelah diperoleh dari
lapangan untuk diintepretsikan relevansinya dengan kebutuhan dan dievaluasi
prospeknya untuk kebutuhan analisis selanjutnya. Data terus diperbaharui
perkembangannya selama penelitian berlangsung sehingga data disajikan sebagai
laporan penelitian.
27
Robert K. Yin (2006: 133) mengatakan bahwa analisis data dari studi kasus
terdiri dari pengujian, pengkategorian, pentabulasian, maupun pengkombinasian
kembali bukti-bukti untuk menunjuk proposisi awal suatu penelitian. Pengujian
dilakukan pada semua data yang sudah terkeumpul agar validasinya tidak diragukan.
Setelah itu data dikelompokkan berdasarkan kategori atau sejenisnya.
Pada penelitian ini untuk mengkorelasikan dengan teori yang telah disusun,
logika yang digunakan adalah membandingkan suatu pola yang didasarkan pada
kenyataan yang ada dengan pola yang diprediksikan atau dengan beberapa prediksi
alternatif. Jika pola tersebut adalah kesamaan hasil maka dapat menguatkan validitas
internal studi kasus.
Analisis yang akan dilakukan dengan cara menyususn data yang terkumpul
berdasarkan kategori dan jenisnya kemudian dipelajari dan dihubungkan satu dengan
lainnya secara menyeluruh dan integral sehingga menghasilkan gambaran umum dari
kasus yang diselidiki. Untuk membatasi analisis, peneliti lebih berkonsentrasi pada
aspek komunikasi pemasaran, yaitu bagaimana proses komunikasi pemasaran
dilakukan melalui komunitas.
5. Unit analisis
Unit analisis yang menjadi fokus penelitian ini adalah membandingkan
bagaimana para aktor dalam korporasi menggunakan brand community sebagai alat
komunikasi pemasaran.
J. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Yogyakarta, pemilihan wilayah Yogyakarta sebagai
lokasi penelitian karena Yogyakarta termasuk wilayah dengan pertumbuhan brand
community yang tinggi.
28
Download