13 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Optimalisasi

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Landasan Teori
2.1.1 Optimalisasi
2.1.1.1 Pengertian Optimalisasi
Optimal
didefinisikan
sebagai
sesuatu
terbaik,
tertinggi,
paling
menguntungkan (Alwi, 2001). Pradana (2008) menyatakan bahwa optimalisasi
atau optimasi adalah salah satu disiplin ilmu dalam matematika yang fokus untuk
mendapatkan nilai minimum atau maksimum secara sistematis dari suatu fungsi,
peluang, maupun pencarian nilai lainya dalam berbagai kasus. Optimasi sangat
berguna di hampir segala bidang dalam rangka melakukan usaha secara efektif
dan efisien untuk mencapai target hasil yang ingin dicapai. Tentunya hal ini akan
sangat sesuai dengan prinsip ekonomi yang berorientasikan untuk senantiasa
menekan pengeluaran untuk menghasilkan outputan yang maksimal.
Menurut teori ekonomi, jika suatu variabel sudah mencapai tingkat
optimal, ia tidak layak dibuat lebih banyak atau lebih sedikit tanpa menimbulkan
kerugian. Dalam teori produksi, misalnya, tingkat produksi optimal adalah yang
menghasilkan keuntungan terbesar. Jika produksi dikurangi, keuntungan akan
berkurang, demikian halnya jika produksi ditingkatkan (Anonim, 2007).
2.1.1.2 Tujuan Optimalisasi
Pradana (2008) menyatakan bahwa optimalisasi bertujuan untuk
melakukan usaha secara efektif dan efisien dalam mencapai target hasil yang ingin
13
dicapai. Ada dua tipe optimalisasi yang dapat dicapai oleh perusahaan yaitu
minimisasi biaya (minimize cost) atau maksimisasi profit (maximize profit).
Menurut Swanson (1958), optimasi atau optimalisasi harus didefinisikan terlebih
dahulu, tergantung dari situasi permasalahan yang dihadapi, karena optimasi bisa
berarti minimisasi biaya atau maksimisasi profit.
Jadi optimalisasi bertujuan untuk menjamin penggunaan sumber daya
yang terbatas secara efektif dan efisien dalam mencapai minimize cost atau
maximize profit.
2.1.2
Portofolio Kredit
2.1.2.1 Pengertian Portofolio Kredit
Istilah portofolio dalam dunia keuangan digunakan untuk menyebutkan
kumpulan investasi yang dimiliki oleh institusi ataupun perorangan. Memiliki
portofolio seringkali merupakan suatu bagian dari investasi dan strategi
manajemen risiko yang disebut diversifikasi, dengan memiliki beberapa aset,
risiko tertentu dapat dikurangi (Anonim, 2008). Portofolio adalah gabungan atau
kombinasi dari berbagai instrumen atau aset investasi yang disusun untuk
mencapai tujuan investasi investor. Kombinasi berbagai instrumen investasi itu
juga menentukan tinggi risiko dan potensi keuntungan yang diperoleh portofolio
tersebut. Isi portofolio itu bisa macam-macam; mulai dari properti, saham,
instrumen pendapatan tetap seperti obligasi, sampai uang tunai atau setara kas
(Anonim, 2008). Awat (1998) menyatakan bahwa yang dimaksudkan dengan
portofolio adalah sekumpulan aktiva, baik aktiva nyata (real assets) maupun
aktiva keuangan (financial assets). Dalam penelitian ini portofolio yang dibahas
14
adalah portofolio financial assets berupa portofolio kredit yang merupakan
earning assets dalam bisnis perbankan.
Kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba sangat berkaitan dengan
added value yang dihasilkannya. Jika added value industri yang diperoleh dengan
kekuatan tawar menawar pemasok dan pembeli kecil, maka perusahaan juga
mengalami kesulitan untuk memperoleh keuntungan yang memuaskan. Dalam
bidang perbankan, added value dikenal dengan nama “financial margin” yaitu
selisih (spread ) antara biaya dana dengan tingkat bunga kredit (Siamat, 2005).
Bank dalam usahanya memperoleh financial margin tidak terlepas dari
risiko yang harus ditanggung. Jones (2002), menyebutkan pengukuran risiko
berhubungan dengan pengukuran return, karena keputusan investasi melibatkan
trade off antara return dan risiko. Secara spesifik, Bank Indonesia menyebut
terdapatnya delapan jenis risiko yang perlu diwaspadai, dipantau, dan selanjutnya
ditanggulangi, yaitu (1) risiko kredit, (2) risiko pasar, (3) risiko likuiditas, (4)
risiko operasional, (5) risiko hukum, (6) risiko reputasi, (7) risiko strategik, (8)
risiko kepatuhan (Masyhud, 2004). Penelitian ini akan fokus pada pengelolaan
risiko kredit dalam kaitannya dengan portofolio kredit.
Risiko kredit (credit risk) adalah risiko kerugian yang mungkin timbul
sebagai akibat kegagalan counterparty (lawan transaksi) dalam memenuhi
kewajibannya atau risiko bahwa debitur tidak membayar kembali utangnya
(Anonim, 2006). Bank menggunakan sejumlah teknik dan kebijakan dalam
mengelola risiko kredit untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kerugian
15
kredit atau yang disebut dengan credit risk mitigation (Anonim, 2006). Teknik
dan kebijakan tesebut adalah:
1) Model pemeringkatan (grading model) untuk kredit perorangan.
2) Manajemen portofolio kredit.
3) Sekuritisasi.
4) Agunan
5) Pengawasan arus kas.
6) Manajemen pemulihan (recovery management).
Salah satu keterbatasan penelitian ini adalah membahas teknik dan
kebijakan pengelolaan risiko kredit melalui satu teknik saja yaitu manajemen
portofolio kredit. Manajemen portofolio kredit pada prinsipnya adalah mengatur
pemberian kredit agar tidak terkonsentrasi
pada satu industri atau wilayah
geografis tertentu atau untuk menghindari dampak credit concentration risk, hal
ini memungkinkan bank untuk melakukan diversifikasi pada portofolio kredit
(Anonim, 2006).
Usaha pertama untuk mendiversifikasikan risiko dilakukan dengan teori
portofolio. Teori ini muncul terutama didasarkan atas fenomena bahwa umumnya
para investor dalam finansial aset menanamkan dananya tidak hanya pada satu
jenis sekuritas saja, tetapi pada beberapa jenis. Penyebabnya adalah untuk
mengurangi fluktuasi tingkat keuntungan yang mereka harapkan akan diperoleh
dari masing-masing jenis sekuritas cenderung saling mengimbangi (Husnan,
2001). Salah satu definisi portofolio adalah:
16
A portofolio is combination of asset that vary according to an
investor’s risk aversion, tax bracket, access to information and
judenganement (Jones, 2002).
(Suatu portofolio adalah kombinasi dari berbagai asset sesuai dengan
keengganan investor terhadap risiko, pengelolaan pajak, perolehan
informasi dan penilaian)
Demikian
juga
dalam
praktek
perbankan,
manajemen
harus
mendiversifikasikan asetnya dalam usaha untuk mengurangi risiko-risiko.
Diversifikasi adalah suatu wawasan penting dalam perencanaan
program kredit dan investasi sebuah bank. Dari sudut pandangan
menyeluruh, program kredit dan investasi itu harus memenuhi
beberapa tujuan: menyediakan likuiditas untuk menjamin tersedianya
dana pada waktu dibutuhkan, mengisi kebutuhan kredit dari
perdagangan dan industri untuk jangka pendek, memenuhi kredit
jangka panjang dan mendapatkan tempat investasi bagi kelebihan
dana (Husnan, 2001).
Aset portofolio yang mendapat perhatian utama dalam bisnis perbankan
adalah portofolio kredit, karena kredit merupakan sumber pendapatan utama bank.
Portofolio kredit adalah kombinasi kredit suatu bank yang secara umum terdiri
dari kredit korporasi, kredit komersial dan kredit konsumtif. Bank harus
mengoptimalkan portofolio kreditnya agar upaya meningkatkan profitabilitas
dapat tercapai.
2.1.2.2 Tujuan Portofolio Kredit
Tujuan pembentukan portofolio adalah mengurangi kerugian investasi
yang mungkin timbul dari suatu sarana investasi dengan menutupinya
menggunakan keuntungan yang diperoleh dari sarana investasi yang lain (Tim
BEI, 2008).
17
Tujuan portofolio kredit adalah mengurangi sejauh mungkin risiko
kerugian yang terjadi jika penyaluran dana dalam bentuk kredit terkonsentrasi
pada salah satu segmen pasar (debitur) tertentu saja (credit concentration risk).
Bank dapat mendiversifikasikan kreditnya pada segmen usaha tertentu
berdasarkan aspek geografis, industri, maupun credit grades (Anonim, 2006).
Menurut Thomas (2008), dunia perbankan ingin membuat diversifikasi risiko
lewat portofolio kredit yang lebih beragam (heterogen). Langkah ini seakan
menegaskan sadarnya dunia perbankan terhadap kekeliruan yang dilakukan
selama ini, dimana sebelumnya perbankan selalu mengutamakan konglomerat dan
korporasi untuk menikmati kredit. Harapannya, korporasi bisa menjalankan fungsi
trickle down efect-nya, tetapi yang terjadi sebaliknya, saat krisis ekonomi
melanda, korporasi yang menjadi anak emas justru sebagai penyebab ambruknya
perbankan.
Bank harus mampu menyeimbangkan penyaluran kredit ke semua segmen
pasar yang ada seperti korporasi, komersial dan konsumtif karena keputusan
portofolio kredit akan berpengaruh langsung terhadap profitabilitas bank yang
bersangkutan. Tony (2007) mengatakan, naik atau turunnya porsi kredit pada
masing-masing jenis kredit dalam portofolio kredit bukan berarti bank mulai
meninggalkan kredit jenis ini, namun fenomena tersebut hanya merupakan strategi
bank dalam merotasi portofolio kredit sekaligus mengoptimalkan keuntungan.
Semakin ketatnya persaingan antar bank dan lembaga keuangan bukan
bank, mengharuskan setiap bank mengoptimalisasikan dana-dana yang ada pada
lembaga yang bersangkutan. Penyebabnya adalah dana masyarakat yang dihimpun
18
umumnya merupakan dana mahal seperti deposito berjangka, sehingga bank harus
dapat mengoptimalisasikan dana tersebut ke dalam aset portofolio yang
memberikan hasil yang baik.
2.1.2.3 Jenis-Jenis Kredit
1) Kredit Korporasi
Kredit korporasi diberikan ke berbagai sektor seperti agrikultura;
pertambangan; industri; listrik, gas dan air; konstruksi; perdagangan, restoran dan
hotel; pengangkutan, pergudangan dan komunikasi; dan jasa dunia usaha (Tim
BNI, 2007). Pagu kredit korporasi berbeda-beda pada setiap bank, misalnya pada
Bank Danamon pagu kredit korporasi adalah di atas Rp. 50 Milyar, sedangkan PT.
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. pagu kredit korporasi adalah di atas Rp.
100 milyar.
Marta (2008) menyatakan bahwa kredit korporasi menjadi daya tarik bagi
bank dengan beberapa alasan yang mendasarinya yaitu pertama, dilihat dari segi
biaya operasional per transaksi kredit korporasi relatif lebih murah, mengingat
nilai pinjamannya jauh lebih besar. Kedua, nilai pinjaman yang berskala besar
menyebabkan akumulasi keuntungan yang diperoleh bank dari kredit korporasi
lebih cepat. Marta menambahkan bahwa kredit korporasi disamping memiliki
keunggulan seperti yang telah disebutkan di atas juga memiliki kelemahan yaitu
kinerja perusahaan korporasi sangat rentan terhadap gejolak perekonomian
sehingga porsi kredit korporasi yang terlalu besar akan berakibat fatal bagi
perbankan seperti halnya kondisi krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997.
19
Fauzi (2005) menyatakan bahwa penyaluran kredit korporasi dapat
menekan tingkat inflasi dari sisi suplai. Penyaluran kredit korporasi akan
menyebabkan tingkat investasi akan naik yang artinya suplai barang naik. Jadi
ketika permintaan barang naik, sudah diantisipasi dengan kenaikan suplai. Kalau
pertumbuhan ekonomi mengangkat permintaan, suplai bisa mengikuti, dan tidak
akan terjadi inflasi.
Menurut ekonom senior The Indonesian Economic Intelligence, Djoko
Retnadi (2008) kredit korporasi memegang peranan penting yang tidak dapat
dikesampingkan karena kredit ini antara lain digunakan untuk membiayai proyek
infrastruktur, energi dan sarana penunjang ekonomi domestik.
Jika ditinjau dari jangka waktu, kredit korporasi dapat berjangka
pendek(<1 tahun), menengah (1-3 tahun) maupun panjang (>3 tahun) sesuai
tujuan penggunaan kredit tersebut yaitu keperluan modal kerja maupun untuk
investasi (Masyhud, 2004).
2) Kredit Komersial
Menurut Soesilo (2007) kredit komersial, adalah jenis kredit yang
diberikan kepada debitur yang berbadan hukum. Mereka mempergunakan kredit
tersebut untuk membiayai kebutuhan akan dana modal kerja, dan dana modal
investasi. Pagu kredit komersial berbeda pada masing-masing bank, misalnya
pada Bank Danamon pagu kredit komersial adalah sebesar Rp. 500 Juta hingga
Rp. 50 Milyar, sedangkan pada Bank BNI pagu kredit komersial adalah sebesar
Rp. 5 Milyar hingga Rp. 100 Milyar.
20
Kredit komersial fokus untuk membiayai kegiatan usaha mikro, kecil dan
menengah (UMKM). Bachri (2002) menyatakan bahwa penyaluran kredit ke
sektor UKM dan mikro merupakan portofolio utama bagi perbankan. Ia menilai
makin besar kredit yang disalurkan ke usaha menengah ke bawah, sebaran
risikonya kian baik. Tingkat pengembalian kredit UKM sangat cepat karena
dipergunakan untuk modal kerja dan konsumsi, bukan untuk investasi. Menurut
Rusli (2004), kredit UMKM dengan jumlah nasabah yang relatif banyak akan
mampu mendiversifikasi portofolio kredit serta memperluas penyebaran risiko
penyaluran kredit. Rapma (2008) menyatakan bahwa UMKM memiliki potensi
yang cukup besar yaitu :
a.
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah memiliki potensi untuk berusaha pada
bidang-bidang usaha spesifik yang sulit dikerjakan perusahaan besar.
b.
Margin yang diperoleh dibandingkan dengan modal yang digunakan relatif
besar, yang bervariasi (di Indonesia antara 3,8%-87,6% per bulan) tergantung
pada jenis kegiatan yang diusahakan.
c.
Potensi lain dari UMKM yang mendukung kelayakan untuk menggunakan
pinjaman dari bank komersial adalah sebagian besar pinjaman biasanya
digunakan untuk biaya produksi (modal kerja) dengan tenggang waktu yang
relatif pendek. Hasil kajian Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK
(tahun 2006), mengemukakan bahwa waktu yang diperlukan oleh UMKM
untuk memproduksi barang atau jasa sampai dengan pemasarannya berkisar
antara lain kurang dari satu hari (beberapa jam saja) sampai dengan 23,14
hari, dengan rata-rata 9,18 hari. Kecilnya waktu penggunaan pinjaman
21
berkorelasi langsung dengan kecilnya biaya bunga yang harus dibayar oleh
UMKM dan kecepatan perputaran modal menjadi cukup tinggi dengan ratarata turn over mencapai 4,63 kali per bulan.
d.
Kemampuan survival UMKM yang cukup tinggi dalam menghadapi gejolak
pasar internasional, karena sebagian besar produk UMKM menggunakan
bahan baku lokal dan produk tersebut dikonsumsi oleh masyakat lokal dan
regional. Potensi lain dari produk UMKM adalah poduk dapat secara cepat
berubah sesuai dengan permintaan pasar, serta tidak banyak memerlukan lagi
tambahan investasi untuk melakukan perubahan tersebut.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2006, (1) jumlah
UKM adalah sebanyak 48,9 juta unit usaha atau 99,98% dari jumlah seluruh unit
usaha (Soesilo, 2007), hal ini juga menunjukkan bahwa terdapat potensi yang
besar untuk menyalurkan kredit komersial.
Rapma (2008) juga memaparkan kendala penyaluran kredit komersial
yang berkaitan dengan usaha yang dibiayai antara lain:
a. UMKM yang pada umumnya merupakan perusahaan keluarga atau
perusahaan tradisional. UMKM tidak memiliki sistem pembukuan yang
standar dengan ketentuan perbankan.
b. UMKM pada umumnya tidak memiliki agunan yang cukup.
c. Jumlah kredit yang dibutuhkan UMKM biasanya kecil-kecil. Hal tersebut
menyebabkan tingginya biaya operasional bank.
22
Susidarto (2004) menyatakan bahwa kendala penyaluran kredit komersial
selama ini adalah:
a. Kesulitan mendapatkan sektor usaha yang business like dan bankable untuk
dibiayai.
b. Risiko yang cukup besar pada pengucuran kredit komersial. Risiko itu makin
besar ketika banyak industri masih belum menunjukkan kinerja optimalnya.
Selama krisis ekonomi-moneter berlangsung banyak sektor usaha yang
bangkrut atau menunjukkan kinerja kurang menggembirakan. Dengan kondisi
demikian sangat sulit bagi industri yang baru bangun dari sakit parahnya
untuk dibiayai perbankan. Kalau pun ada yang sudah menunjukkan kinerja
baik maka jumlahnya tidak terlalu banyak. Jumlahnya sedikit, sedangkan bank
yang ingin meminang sangat banyak. Risiko kredit yang demikian besar itu
paling tidak harus di-cover dengan analisis kredit yang memadai, selain
jaminan atau collateral yang marketable.
Salah satu strategi yang umum dilakukan perbankan di Indonesia dalam
meningkatkan kredit komersialnya adalah dengan mempelajari mata rantai dari
bisnis yang dijalankan oleh nasabah korporasi. Lalu bank akan menawarkan
fasilitas kredit komersial kepada jaringan mitra bisnis nasabah korporasi (Anonim,
2005).
Kredit komersial juga dapat berjangka waktu pendek(<1 tahun), menengah
(1-3 tahun) maupun panjang (>3 tahun) sesuai tujuan penggunaan kredit tersebut
yaitu keperluan modal kerja maupun untuk investasi (Masyhud, 2004).
23
3) Kredit Konsumtif
Menurut Sipahutar (2004) kredit konsumtif (consumer loan) merupakan
skim kredit dengan tujuan penggunaan untuk membiayai kebutuhan yang bersifat
konsumtif seperti untuk membiayai pembelian rumah tinggal, renovasi rumah
tinggal, membiayai pembelian kendaraan, dan lain-lain. Pembayaran angsuranangsuran dan pelunasan kredit konsumtif bersumber dari penghasilan atau gaji
debitur. Pagu kredit konsumtif juga berbeda pada masing-masing bank, misalnya
pada Bank Danamon pagu kredit konsumtif adalah di bawah Rp. 500 Juta,
sedangkan pada Bank BNI pagu kredit ini adalah di bawah Rp. 5 Milyar.
Susidarto (2004) mendefinisikan kredit konsumtif sebagai kredit yang
digunakan untuk kegiatan yang bersifat non produktif dan keperluan bukan usaha.
Susidarto juga menjelaskan bahwa persentase kredit konsumtif bank-bank di
Indonesia tidaklah terlalu besar jika dibandingkan dengan kredit komersial maka
nilai nominalnya jauh lebih kecil. Hanya dari segi jumlah debitur kuantitasnya
lebih banyak. Kredit konsumtif tidak mendapatkan porsi yang besar dalam
portofolio kredit suatu bank, porsi yang besar menurut Susidarto (2004) adalah
tidak sehat bagi perekonomian karena consumer loan pada dasarnya tidak dapat
menggerakkan sektor riil atau dunia usaha sebagaimana kredit komersial dan
kredit korporasi. Kucuran kredit konsumtif jelas tidak kondusif jika dilihat dari
kontribusi perbankan terhadap sektor riil. Perbankan seolah tidak membantu
pemerintah dalam memecahkan persoalan pendanaan sektor riil atau dunia usaha.
Menurut Sipahutar (2004) yang menjadi persoalan serius adalah apabila kredit
konsumtif ini meningkat terus secara signifikan, sementara dana masyarakat atau
24
pihak ketiga tumbuh dengan laju yang sangat lambat, maka akan berdampak
buruk bagi perekonomian nasional. Dampak negatif yang akan muncul adalah
terjadinya penurunan pertumbuhan ekonomi nasional karena tidak bergeraknya
sektor riil atau dunia usaha sebagai penggerak perekonomian dan bisnis.
Penurunan pertumbuhan laju sektor riil tersebut dapat secara langsung akan
meningkatkan angka pengangguran sebagai akibat dari tidak mampunya dunia
usaha untuk menyerap angkatan kerja.
Sipahutar (2004) juga menyatakan bahwa pertumbuhan yang sangat cepat
pada kredit konsumtif akan menurunkan kesempatan menabung masyarakat,
meningkatkan jumlah peredaran uang, dan meningkatkan inflasi. Sementara itu
dengan pertumbuhan kredit konsumtif yang cepat dan melupakan pertumbuhan
kredit produktif korporasi dan komersial, maka akan berakibat buruk bagi
perekonomian nasional karena proyek-proyek investasi yang dapat menyerap
tenaga kerja dan menggerakkan roda perekonomian nasional akan tertinggal.
Untuk meminimalisir dampak dari kondisi percepatan di sektor kredit konsumtif
ini maka disarankan agar pertumbuhan kredit konsumtif harus direm, harus
dibatasi. Alat yang dapat dipergunakan untuk merem laju kredit konsumtif ini
adalah CLDR dan CLLR dengan batasan-batasan:
a. CLDR, yaitu melakukan pengaturan perbandingan antara kuantitas kredit
konsumtif terhadap dana pihak ketiga pada kisaran yang tertentu.
b. CLLR (consumer loan to total loan ratio), yaitu melakukan pengaturan
perbandingan antara kuantitas kredit konsumtif terhadap total kredit yang
25
disalurkan perbankan (produktif komersial dan konsumtif) pada kisaran yang
tertentu.
c. Rasio CLDR dan CLLR adalah batasan maksimal yang dapat dicapai oleh
suatu bank dalam operasionalisasi kredit konsumtifnya.
d. Rasio CLDR dan CLLR dipergunakan sebagai indikator tambahan untuk
menilai tingkat kesehatan bank di samping indikator-indikator lainnya yang
sudah diberlakukan sebelumnya.
Susidarto (2004) menyatakan bahwa kegencaran pengucuran kredit
konsumtif sebenarnya memberikan kontribusi yang tidak kecil, misalnya dengan
banyak rumah atau mobil yang terjual, maka dampak ganda yang dihasilkan juga
membesar. Meningkatnya pembangunan perumahan akan mendorong bisnis yang
menyertai akan bangkit, misalnya bisnis semen, penambangan pasir, besi beton,
serta pabrik material bangunan lainnya. Perkembangan industri otomotif akan
berdampak pada sektor industri kecil pendukung, contohnya pabrik ban, besi baja,
serta komponen-komponen lainnya. Pengucuran kredit konsumtif yang banyak
dilakukan industri perbankan tidaklah dapat disalahkan begitu saja. Pengucuran
kredit itu ternyata juga menghasilkan efek ganda yang besar.
Jika dilihat dari penetapan suku bunga, kredit konsumtif memiliki suku
bunga paling tinggi dibandingkan kredit korporasi dan kredit komersial karena
menurut Edratna (2007) hal tersebut sejalan dengan tingkat risikonya yang lebih
tinggi, sehingga bunga juga dibebankan lebih tinggi. Kredit konsumtif juga dapat
berjangka waktu pendek(<1 tahun), menengah (1-3 tahun) maupun panjang (>3
tahun).
26
2.1.3 Profitabilitas
2.1.3.1 Pengertian Profitabilitas
Simorangkir (2000) mendefinisikan profitabilitas (profitability) sebagai
kemampuan dalam memperoleh laba. Riyanto (2001) juga menyebutkan bahwa
profitabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan
aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut.
Sartono (2000) menyatakan bahwa profitabilitas adalah kemampuan
perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva
maupun modal sendiri. Munawir (2004) menyatakan bahwa profitabilitas atau
rentabilitas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba
selama periode tertentu atau profitabilitas suatu perusahaan dapat diketahui
dengan membandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode tertentu
dengan jumlah aktiva atau jumlah modal perusahaan tersebut.
2.1.3.2 Pentingnya Profitabilitas
Laba/rugi merupakan indikator yang paling umum untuk menunjukkan
keberhasilan kinerja sebuah bank (Iman dkk, 2003). Simorangkir (2000)
menyebutkan laba merupakan tujuan, dengan alasan sebagai berikut:
1) Dengan laba yang cukup dapat dibagi keuntungan kepada pemegang saham
dan atas persetujuan pemegang saham sebagian dari laba disisihkan sebagai
cadangan. Sudah barang tentu bertambahnya cadangan akan menaikkan
kredibilitas (tingkat kepercayaan) bank tersebut di mata masyarakat.
27
2) Laba merupakan penilaian keterampilan pimpinan. Pimpinan bank yang cakap
dan terampil umumnya dapat mendatangkan keuntungan yang lebih besar
daripada pimpinan yang kurang cakap.
3) Meningkatkan daya tarik bagi pemilik modal (investor) untuk menanamkan
modalnya dengan membeli saham yang dikeluarkan oleh bank. Pada
gilirannya bank akan mempunyai kekuatan modal untuk memperluas
penawaran produk dan jasanya kepada masyarakat.
Profitabilitas bank tidak hanya penting bagi pemiliknya, tetapi juga bagi
pihak-pihak lain di masyarakat. Bila bank berhasil memperbesar modal maka akan
memperoleh kesempatan memberi kredit lebih luas sehingga akan meningkatkan
kredibilitas. Para penyimpan (deposan) tidak akan merasa takut terhadap risiko
seandainya simpanannya tidak dapat dilunasi oleh bank karena modal bank cukup
besar. Pemerintah dan masyarakat luas berkepentingan terhadap profitabilitas
bank dalam hal terjaminnya lalu lintas keuangan.
2.1.3.3 Cara Menghitung Profitabilitas
Mulyono (1999) dan Rimsky (2002) menguraikan beberapa cara serupa
yang dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas bank antara lain:
1) Kemampuan bank di dalam menghasilkan laba dari operasi usahanya yang
murni.
Gross Profit Margin =
Operating Income - Operating Expense
Operating Income
28
2) Kemampuan bank untuk menghasilkan net income (laba bersih) ditinjau dari
sudut operating income
Net Profit Margin =
Net Income
Operating Income
3) Kemampuan bank untuk menghasilkan net income (laba bersih) ditinjau dari
sudut equity capitalnya.
Return on Equity Capital =
Net Income
Equity Capital
4) Return on Total Assets, yaitu untuk mengukur kemampuan manajemen bank
di dalam mengelola assets yang dikuasainya untuk menghasilkan berbagai
income.
Rumus ini ditinjau dari 3 segi, yaitu:
Gross Yield on Total Assets =
Operating Income
Total Assets
Net Income on Total Assets =
Net Income
Total Assets
Gross Profit Margin =
Income Before Taxes & Securities Gains and Losses
Total Assets
5) Profitabilitas dapat juga ditinjau dari beberapa assets khusus yang dimiliki
oleh bank (Return on Specific Assets) yang terdiri dari:
Rate of Return on Loan =
Interest and fees on loan
Total loan
Rate of Return on Securities =
Interest (  yield) on securitie s
Total securitie s
29
Interest Margin on Earning Assets =
Interest Margin on Loans =
Interest income - Interest expense
Earning assets
Interest income - Interest expense
Total loans
Penelitian ini menggunakan rasio Interest Margin on Loans dalam
mengukur profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk karena untuk
mengetahui profitabilitas yang dicapai dari earning asset bank yang terbesar yaitu
kredit (loans).
2.1.4 Pendekatan Analisis Pada Optimalisasi Portofolio Kredit
Situasi dunia yang makin dinamis menyebabkan waktu pengambilan
keputusan menjadi sangat penting. Pada saat yang sama, parameter pengambilan
keputusan tidak tersedia atau tersedia tetapi tidak lengkap dan jelas.
Ketidakjelasan parameter pengambilan keputusan serta waktu pengambilan
keputusan harus dapat dikelola dengan baik sehingga keputusan yang diambil
tetap optimal. Optimasi adalah salah satu alat bantu manajer dalam mengambil
keputusan. Seringkali permasalahan di dunia nyata melibatkan banyak variabel
dengan jumlah solusi yang layak bersifat kombinatorial (Sitompul, 2004).
Salah satu metode yang digunakan dalam menghadapi masalah dalam
mengarahkan dan mengkoordinasikan operasi-operasi atau kegiatan-kegiatan
dalam suatu organisasi dengan segala keterbatasan sumber daya yang ada untuk
memperoleh hasil yang optimal adalah metode linear programming (Umar, 2000).
Suatu pendekatan yang dapat dipakai dalam rangka optimalisasi portofolio kredit
adalah pendekatan operation research dengan metode linear programming.
Linear programming adalah suatu prosedur dalam operation research yang dibuat
30
untuk mengoptimumkan suatu fungsi tujuan dengan sejumlah kendala (Taylor,
2001). Penekanannya adalah pada alokasi optimal (yang terbaik) dari suatu
sumber daya yang terbatas. Alokasi optimal tersebut tidak lain adalah
memaksimumkan atau meminimumkan suatu fungsi tujuan yang memenuhi
seperangkat syarat ikatan (kendala) dalam bentuk pertidaksamaan yang linear
(Wirawan, 2001). Dengan menerapkan metode ini akan dapat diketahui jumlah
dana yang dialokasikan pada masing-masing kredit secara optimal sehingga
diperoleh keuntungan yang maksimal.
Linear programming
merupakan suatu model umum yang dapat
digunakan dalam pemecahan masalah pengalokasian sumber-sumber yang
terbatas secara optimal (Pangestu dkk, 2000). Menurut Wa-Ki (2006),
permasalahan
optimasi
dapat
diformulasikan
ke
dalam
model
linear
programming. Linear programming adalah suatu teknik matematik yang didesain
untuk membantu para manajer operasi dalam merencanakan dan membuat
keputusan yang diperlukan untuk mengalokasikan sumber daya (Heizer dan
Render, 2004). Heizer dan Render (2004) juga menyatakan bahwa sebuah
persoalan pemrograman linear memiliki empat sifat umum yaitu :
1) Persoalan linear programming bertujuan untuk memaksimalkan atau
meminimalkan kuantitas (pada umumnya berupa laba atau biaya). Sifat umum
ini disebut sebagai fungsi tujuan (objective function) dari suatu persoalan
linear programming.
2) Adanya batasan (constraints) atau kendala, yang membatasi tingkat sampai di
mana sasaran dapat dicapai.
31
3) Harus ada beberapa alternatif tindakan yang dapat diambil.
4) Tujuan dan batasan dalam permasalahan pemrograman linear harus
dinyatakan dalam hubungan dengan pertidaksamaan atau persamaan linear.
Setiap organisasi dari perusahaan perseorangan hingga perusahaan
multinasional begitu pula perusahaan kecil, pabrik, dan lain-lain, selalu membuat
sebuah keputusan (investasi, pemerolehan sumber daya, perencanaan produksi,
dan lain-lain). Keputusan dibuat dengan memilih nilai dari beberapa variabel
bebas yang disebut variabel keputusan atau variabel pengontrol (tingkat produksi,
tingkat stok, penganggaran investasi, dan lain-lain) dalam upaya untuk
optimalisasi (minimize atau maximize) sebuah tujuan (maximize profit, minimize
cost, minimize risk, dan lain-lain) dimana dalam mencapai tujuan tersebut terdapat
keterbatasan sumber daya seperti keterbatasan anggaran, tenaga kerja, dan lainlain (Anonim, 2004). Linear programming adalah sebuah metode matematika
yang bisa diaplikasikan untuk perencanaan operasional dalam hal optimasi.
Menurut Swanson (1958), optimasi harus didefinisikan terlebih dahulu,
tergantung dari situasi permasalahan yang dihadapi, karena optimasi bisa berarti
minimisasi biaya atau maksimisasi profit.
Sejak formulasi pertama ditemukan oleh Kantorovich pada tahun 1939,
linear programming telah menemukan aplikasi dalam bidang yang lebih luas yaitu
manufaktur, telekomunikasi, penjadwalan, keuangan, ekonomi, dan transportasi
(Yildirim, 2001). Menurut Robert (1990), sebelum sebuah optimasi bisa
dilakukan, hal yang perlu dipertimbangkan adalah memformulasikan model dasar
untuk menjalankan syarat atau keperluan struktur data komputerisasi. Penggunaan
32
linear programming menjadi metode yang lebih baik dalam menyampaikan solusi
optimal dan analisis sensitivitas dalam hal waktu proses dan produk itu sendiri.
Demikian pula linear programming akan membantu pencapaian efisiensi yang
maksimum (Jaydeep, 2000).
2.1.5 Pengertian Bank
Definisi mengenai bank yang dikutip di bawah ini, pada dasarnya memiliki
makna yang sama satu dengan yang lainnya yaitu bank sebagai perantara
keuangan yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan
menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit. Bank merupakan lembaga
keuangan yang memberikan jasa keuangan yang paling lengkap. Usaha keuangan
yang dilakukan disamping menyalurkan dana atau memberikan pinjaman (kredit)
juga melakukan usaha menghimpun dana dari masyarakat luas dalam bentuk
simpanan (Kasmir, 2008).
Menurut M. Sinungan (2000), bank adalah lembaga keuangan yang
berfungsi sebagai perantara keuangan dari dua pihak, yakni pihak yang kelebihan
dana dan pihak yang kekurangan-kekurangan dana.
Menurut Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 Perubahan UndangUndang Nomor 7 tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Perbankan Bab I Pasal 1,
mendefinisikan bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk simpanan, dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk
kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup
masyarakat banyak.
33
Berdasarkan beberapa definisi bank yang telah diuraikan maka dapat
dikatakan bahwa bank adalah suatu badan usaha yang berperan sebagai perantara
keuangan antara pihak-pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak
yang memerlukan dana. Kelebihan dana akan disalurkan kepada masyarakat
dalam rangka meningkatkan taraf hidup orang banyak.
2.1.6 Sumber-Sumber Dana Bank
Setiap perusahaan memerlukan dana untuk membiayai kegiatan usahanya
baik yang bersifat rutin maupun untuk kepentingan perluasan usaha. Bank
merupakan salah satu lembaga keuangan yang memiliki kegiatan utama
menghimpun dana dan menyalurkan dana tersebut. Kegiatan penyaluran dana
yang bertujuan untuk memperoleh penerimaan baru akan dapat dilakukan jika
bank telah berhasil menghimpun dana. Keberhasilan suatu bank dalam
menghimpun dana akan menentukan pertumbuhan bank tersebut karena besarnya
dana yang berhasil dihimpun akan menentukan besarnya kesempatan bank untuk
menginvestasikan dana tersebut ke dalam aktiva produktif yang akan
mendatangkan penghasilan bagi bank, misalnya dengan penyaluran kredit kepada
masyarakat, pembelian surat-surat berharga atau mendepositokannya pada bank
lain.
Menurut
Kasmir (2008) sumber-sumber dana yang umum digunakan
untuk membiayai kegiatan suatu bank adalah sebagai berikut :
34
1) Dana yang bersumber dari bank itu sendiri.
Sumber dana ini merupakan jenis pedanaan internal (internal financing)
dimana dana dihimpun dari dalam bank itu sendiri. Dana yang bersumber dari
bank itu sendiri terdiri dari:
a. Setoran modal dari pemegang saham baik pemegang saham lama maupun
pemegang saham baru.
b. Cadangan laba, yaitu laba yang setiap tahun dicadangkan oleh bank dan
sementara waktu belum digunakan.
c. Laba bank yang belum dibagi, yaitu laba tahun berjalan tapi belum
dibagikan kepada para pemegang saham.
Berdasarkan konsep asset allocation approach (Riyadi, 2006) dana ini
umumnya dialokasikan untuk membeli aktiva tetap, investasi surat berharga
dan disalurkan dalam bentuk kredit.
2) Dana yang bersumber dari masyarakat luas (pihak ketiga)
Sumber dana ini merupakan sumber dana terpenting bagi kegiatan operasi
bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai
operasinya dari sumber dana ini. Pencarian dana dari sumber ini relatif mudah
jika dibandingkan dengan sumber lainnya karena jika bank dapat menawarkan
bunga yang relatif lebih tinggi dan dapat memberikan fasilitas menarik lainnya
seperti hadiah dan pelayanan yang memuaskan, menarik dana dari sumber ini
tidak terlalu sulit. Keuntungan lainnya adalah dana yang tersedia di
masyarakat tidak terbatas. Kerugiannya adalah sumber dana dari sumber ini
relatif lebih mahal jika dibandingkan dari dana sendiri baik untuk biaya bunga
35
maupun biaya promosi. Adapun sumber dana dari masyarakat luas dapat
dihimpun dalam bentuk yaitu :
a. Simpanan giro (demand deposit)
Pengertian giro menurut undang-undang perbankan nomor 10 tahun 1998
tanggal 10 November 1998 adalah simpanan yang penarikannya dapat
dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana
perintah pembayaran lainnya atau dengan cara pemindahbukuan.
b. Simpanan tabungan (saving)
Pengertian tabungan menurut undang-undang perbankan nomor 10 tahun
1998 tanggal 10 November 1998 adalah simpanan yang penarikannya
hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang disepakati,
tetapi tidak dapat ditarik dengan cek, bilyet giro dan atau alat lainnya yang
dipersamakan dengan itu. Berbeda dengan simpanan giro, simpanan
tabungan memiliki ciri khas tersendiri. Jika simpanan giro digunakan oleh
para pengusaha atau para pedagang dalam bertransaksi maka simpanan
tabungan digunakan untuk umum dan lebih banyak digunakan oleh
perorangan baik pegawai, mahasiswa atau ibu rumah tangga. Kemudian
bank dalam menetapkan suku bunga simpanan tabungan lebih tinggi dari
jasa giro yang diberikan kepada nasabah.
c. Simpanan deposito (time deposit)
Simpanan ini berbeda dengan dua jenis simpanan sebelumnya, dimana
simpanan deposito mengandung unsur jangka waktu (jatuh tempo) lebih
panjang dan dapat ditarik atau dicairkan setelah jatuh tempo. Begitu juga
36
dengan suku bunga yang relatif lebih tinggi dari kedua jenis simpanan
sebelumnya. Pengertian deposito menurut undang-undang perbankan
nomor 10 tahun 1998 tanggal 10 November 1998 adalah simpanan yang
penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan
perjanjian nasabah penyimpan dengan bank. Dalam praktiknya terdapat
paling tidak tiga jenis deposito yaitu deposito berjangka yang merupakan
deposito yang diterbitkan dengan jenis jangka waktu tertentu yang
biasanya bervariasi mulai dari 1,3,6,12 sampai dengan 24 bulan. Jika
waktu
yang
ditentukan
habis,
pemilik
deposito
dapat
menarik
simpanannya atau memperpanjang dengan suatu periode waktu yang
ditentukan. Deposito berjangka diterbitkan atas nama baik perorangan
maupun lembaga. Tarif bunga ditentukan oleh bank yang bersangkutan
dan biasanya sesuai dengan perkembangan pasar. Kedua, yang disebut
dengan sertifikat deposito. Sama seperti halnya deposito berjangka,
sertifikat deposito merupakan deposito yang diterbitkan dengan jangka
waktu 2,3,6, dan 12 bulan. Hanya perbedaannya sertifikat deposito
diterbitkan atas unjuk dalam bentuk sertifikat serta dapat diperjualbelikan
atau dipindahtangankan kepada pihak lain. Perbedaan lain adalah
pencairan bunga sertifikat deposito dapat dilakukan dimuka, baik tunai
maupun non tunai, disamping setiap bulan atau jatuh tempo. Kemudian
yang ketiga disebut deposit on call, yang merupakan deposito yang
digunakan untuk pemilik deposito yang memiliki jumlah uang dalam
jumlah besar dan sementara waktu belum digunakan. Penerbitan deposit
37
on call memiliki jangka waktu minimal 7 hari dan paling lama kurang dari
1 bulan. Deposit on call diterbitkan atas nama.
3) Dana yang bersumber dari lembaga lain.
Dalam praktiknya sumber dana yang ketiga ini merupakan tambahan jika bank
yang mengalami kesulitan dalam pencarian sumber dana pertama dan kedua di
atas. Pencarian dari sumber ini
relatif lebih mahal dan sifatnya hanya
sementara waktu saja. Kemudian dana yang diperoleh dari sumber ini
digunakan untuk membiayai atau membayar transaksi-transaksi tertentu.
Perolehan dana dari sumber ini antara lain dapat diperoleh dari:
a. Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), merupakan kredit yang
diberikan Bank Indonesia kepada bank-bank yang mengalami kesulitan
likuiditasnya. Kredit likuiditas ini juga diberikan kepada pembiayaan
sektor-sektor usaha tertentu.
b. Pinjaman antar bank (call money). Biasanya pinjaman ini diberikan
kepada bank-bank yang mengalami kalah kliring dan tidak mampu untuk
membayar kekalahannya. Pinjaman ini bersifat jangka pendek dengan
bunga yang relatif tinggi jika dibandingkan dengan pinjaman lainnya.
c. Pinjaman dari bank-bank luar negeri. Merupakan pinjaman yang
diperoleh oleh perbankan dari pihak luar negeri.
d. Surat Berharga Pasar Uang (SBPU). Dalam hal ini pihak perbankan
menerbitkan SBPU kemudian diperjualbelikan kepada pihak yang
berminat, baik perusahaan keuangan maupun non keuangan. SBPU
38
diterbitkan dan ditawarkan dengan tingkat suku bunga yang menarik
sehingga masyarakat tertarik untuk membelinya.
2.1.7 Biaya Dana Bank
Biaya dana bank adalah biaya bunga yang dibayarkan oleh bank kepada
masing-masing sumber dana bank yang bersangkutan (Masyhud, 2004). Ada
pengertian yang sering kali dicampur aduk antara cost of fund, cost of loanable
fund, dan cost of money, karena sesungguhnya ketiga istilah ini memiliki
pengertian yang berbeda satu sama lain (Siamat, 2005). Cost of fund merupakan
biaya yang dikeluarkan oleh bank atas dana yang dihimpun sebelum
diperhitungkan besarnya ketentuan cadangan likuiditas wajib atau reserve
requirement, yang dipersyaratkan oleh Bank Sentral. Cost of loanable fund adalah
biaya dana setelah dikurangi ketentuan reserve requirement, sehingga dana yang
tersisa adalah dana yang benar-benar efektif dapat dipergunakan oleh bank untuk
pemberian kredit. Sedangkan cost of money merupakan penjumlahan dari total
cost of loanable fund dan biaya overhead.
Biaya dana merupakan biaya terbesar dari total biaya operasional bank.
Keberhasilan bank menekan biaya dananya akan memperbaiki net interest
margin. Oleh karena itu bank sangat berkepentingan untuk menghitung biaya
dananya. Menurut Hempel (dalam Siamat, 2005), ada beberapa alasan kenapa
bank perlu menghitung biaya dana yang digunakan, yaitu:
1) bank mencari kombinasi sumber dana dengan biaya terendah yang tersedia di
pasar,
39
2) perhitungan biaya dana yang akurat, penting untuk menentukan besarnya
keuntungan yang diperoleh atas aktiva produktifnya,
3) jenis dumber dana yang dihimpun bank dan penggunaannya memiliki dampak
terhadap risiko likuiditas, risiko tingkat bunga dan risiko modal bank.
Besarnya biaya dana bank dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
struktur sumber dana yang dikelola bank, tingkat bunga yang diberikan kepada
deposan dan ketentuan cadangan wajib yang ditetapkan oleh otoritas moneter.
Konsep yang dapat digunakan untuk menghitung biaya dana yang
dihimpun bank menurut Hempel (dalam Siamat, 2005) adalah sebagai berikut:
1)
Konsep biaya dana rata-rata historis (historical average cost of fund).
Konsep ini merupakan konsep yang paling umum digunakan untuk
mengukur biaya dana bank. Konsep biaya dana rata-rata tertimbang historis
penerapannya relatif mudah dan sederhana. Konsep ini menitikberatkan pada
perhitungan biaya dana rata-rata tertimbang dihimpun bank pada waktu
sebelumnya. Biaya dana rata-rata diperoleh dengan mengalikan jumlah dana
dengan tingkat bunga masing-masing sumber dana. Dengan demikian konsep
ini lebih relevan digunakan mengevaluasi kinerja dan biaya dana bank pada
periode sebelumnya. Konsep ini dapat memberikan gambaran yang
menyesatkan, apabila bank akan menentukan jenis dana yang akan ditarik,
atau bank akan menambah jumlah asetnya dan atau menentukan tingkat
bunga kreditnya. Misalkan, apabila tingkat bunga naik, jelas biaya dana yang
dihitung dengan konsep biaya dana rata-rata historis akan menjadi lebih
rendah dari biaya dana yang menggantikannya. Berdasarkan konsep biaya
40
dana inilah kemudian bank menentukan bunga kreditnya yang mungkin
sudah kurang menguntungkan lagi.
2)
Konsep biaya dana rata-rata tertimbang (weighted average cost of fund).
Konsep perhitungan biaya dana ini merupakan konsep yang paling
menggambarkan biaya dana bank yang sesungguhnya. Pendekatan ini
memperhatikan struktur sumber dana dan faktor lain yang mempengaruhi
langsung besarnya biaya dana antara lain tingkat bunga dan ketentuan
reserve requirement. Perhitungan ini dilakukan dengan cara menghitung
biaya dana masing-masing jumlah dana yang berbiaya untuk mengetahui
besarnya tingkat bunga efektif yaitu tingkat bunga setelah memperhatikan
ketentuan reserve requirement. Kontribusi biaya dana masing-masing
sumber dana dihitung dari komposisi masing-masing dana dengan tingkat
bunga efektif. Tingkat bunga efektif diperoleh dengan perhitungan tingkat
bunga dibagi (100% - reserve requirement). Kontribusi biaya dana dihitung
dengan mengalikan komposisi dana dengan bunga efektif.
3)
Konsep biaya dana marjinal (marginal cost of fund).
Kelemahan kedua konsep di atas, dapat diatasi dengan menggunakan konsep
biaya dana marjinal. Pada dasarnya konsep ini menyatakan bahwa bank akan
menggunakan biaya marjinalnya yaitu biaya yang dibayarkan untuk
mendapatkan tambahan dana dan memperoleh keuntungan (spread) yang
dapat diterima atas penambahan aset yang dibiayai dengan dana yang
diperoleh tersebut. Perhitungan biaya dana menurut konsep ini relatif
sederhana dan umumnya digunakan untuk menentukan tingkat bunga kredit
41
kepada nasabah utamanya (prime customer). Cara yang paling mudah untuk
menerapkan konsep ini yaitu dengan menentukan sumber dana tunggal
sebagai dasar untuk melakukan pricing atas aset bank yang baru. Perhitungan
biaya dana marjinal memiliki asumsi bahwa semua dana yang dibutuhkan
diperoleh dari satu sumber yaitu baik melalui pasar uang antar bank atau
dapat menerbitkan sertifikat deposito. Biaya dana yang diperoleh tersebut
menjadi dasar untuk menentukan bunga (pricing) kredit yang diberikan
kepada nasabah.
2.1.8 Penggunaan Dana Bank
Setelah bank berhasil menghimpun dana, maka kegiatan selanjutnya yang
harus dilakukan bank adalah menyalurkan dana yang berhasil dihimpun tersebut
ke dalam berbagai alternatif aktiva produktif. Pengalokasian dana ini bertujuan
untuk memperoleh keuntungan yang optimal dengan mengkombinasikan berbagai
aktiva produktif, namun dengan tetap mempertahankan kepercayaan masyarakat
dengan menjaga agar posisi likuiditas tetap aman.
Menurut Siamat (2005), penggunaan dana bank berdasarkan sifat aktiva
dibedakan menjadi dua jenis yaitu pengalokasian dana ke dalam aktiva yang dapat
memberikan hasil dan tidak memberikan hasil bagi bank yang bersangkutan.
Penggunaan dana bank berdasarkan sifat aktiva dapat dibedakan sebagai berikut:
1) Aktiva tidak produktif
Aktiva tidak produktif atau non-earning assets adalah penanaman dana ke
dalam aktiva yang tidak memberikan hasil bagi bank terdiri atas:
a. Alat likuid.
42
Alat likuid atau cash asset adalah aktiva yang dapat digunakan setiap saat
untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bank. Aktiva bank yang dapat
digolongkan sebagai cash assets adalah : Kas, Giro pada Bank Sentral, dan
Giro pada bank-bank lain.
b. Penanaman dalam aktiva tetap dan inventaris
Bank dalam melaksanakan tugasnya memerlukan kantor, peralatan,
perlengkapan lain untuk dapat menjalankan usaha perbankan secara
meyakinkan. Dalam membiayai aktiva tetap dan inventaris, bank hanya
diperkenankan menggunakan maksimal 50% dari total modalnya untuk
membiayai seluruh kebutuhan aktiva tetap dan inventarisnya. Dalam
perhitungan penyediaan modal minimum bank (capital adequacy ratio),
penanaman dana dalam aktiva tetap dan inventaris dimasukkan sebagai
Aktiva Tertimbang Manurut Risiko (ATMR) dengan bobot risiko 100%.
Hal ini berarti bahwa dalam penanaman dana dalam aktiva tetap dan
inventaris dananya harus dibiayai dari modal sendiri bank yang
bersangkutan.
2) Aktiva produktif
Aktiva produktif atau earning assets adalah semua penanaman dana dalam
rupiah dan valuta asing yang dimaksudkan untuk memperoleh penghasilan
sesuai dengan fungsinya. Pengelolaan dana dalam aktiva produktif merupakan
sumber pendapatan yang digunakan untuk membiayai keseluruhan biaya
operasional bank termasuk biaya bunga, biaya tenaga kerja dan biaya
operasional lainnya. Komponen aktiva produktif bank terdiri dari:
43
a. Cadangan sekunder.
Penggunaan dana dalam bentuk cadangan sekunder atau secondary
reserves yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan
likuiditas yang jangka waktunya diperkirakan kurang dari satu tahun.
Cadangan sekunder ini semata-mata dimaksudkan untuk kebutuhan
likuiditas dan untuk memperoleh keuntungan. Fungsi cadangan sekunder
antara lain sebagai berikut:
(1) Memenuhi kebutuhan kas yang bersifat jangka pendek dan musiman
dari penarikan simpanan dan pencairan kredit dalam jumlah besar
yang telah diperkirakan.
(2) Memenuhi kebutuhan likuiditas yang segera harus dipenuhi dan
kebutuhan-kebutuhan lainnya yang sebelumnya tidak diperkirakan.
(3) Sebagai tambahan apabila cadangan primer tidak mencukupi.
(4) Kebutuhan likuiditas jangka pendek yang tidak diperkirakan dari
deposan dan penarikan nasabah debitur.
Karena kebutuhan-kebutuhan likuiditas ini tidak dapat diperkirakan, maka
cadangan sekunder harus ditanamkan dalam bentuk surat-surat berharga
jangka pendek yang mudah diperjualbelikan. Di Indonesia instrument
cadangan sekunder dapat berupa Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat
Berharga Pasar Uang (SBPU) dan Sertifikat Deposito. Sedangkan di luar
negeri misalnya Amerika Serikat, cadangan sekunder bisa berupa Federal
Funds, surat-surat berharga jangka pendek yang diterbitkan pemerintah
44
Federal maupun negara bagian serta perusahaan besar lainnya misalnya
treasury bills dan commercial papers.
b. Penyaluran kredit.
Setelah mengalokasikan dana untuk cadangan primer dan sekunder, sisa
dana akan disalurkan dalam bentuk kredit. Menurut asal mulanya kata
kredit berasal dari kata credere yang artinya kepercayaan, maksudnya
adalah apabila seseorang memperoleh kredit maka berarti mereka
memperoleh kepercayaan, sedangkan bagi si pemberi kredit artinya
memberikan kepercayaan kepada seseorang bahwa uang yang dipinjam
pasti kembali. Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan
Nomor 10 tahun 1998 adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat
dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga. Menurut Kasmir (2002) secara umum jenis-jenis kredit
yang disalurkan oleh bank dan dilihat dari berbagai segi adalah sebagai
berikut:
(1)
Dilihat dari Segi Kegunaan
Maksud jenis kredit dilihat dari segi kegunaannya adalah untuk
melihat penggunaan uang tersebut apakah untuk digunakan dalam
kegiatan utama atau hanya kegiatan tambahan. Jika ditinjau dari
segi kegunaan terdapat dua jenis kredit, yaitu:
45
a)
Kredit investasi, yaitu kredit yang biasanya digunakan untuk
keperluan perluasan usaha atau membangun proyek/pabrik
baru di mana masa pemakaiannya untuk suatu periode yang
relatif lebih lama dan biasanya kegunaan kredit ini adalah
untuk kegiatan utama suatu perusahaan.
b) Kredit modal kerja, yaitu kredit yang digunakan untuk
keperluan meningkatkan produksi dalam operasionalnya.
Contoh kredit modal kerja diberikan untuk membeli bahan
baku, membayar gaji pegawai atau biaya-biaya lainnya yang
berkaitan dengan proses produksi perusahaan. Kredit modal
kerja merupakan kredit yang dicairkan untuk mendukung
kredit investasi yang sudah ada.
(2)
Dilihat dari Segi Tujuan Kredit
Kredit jenis ini dilihat dari tujuan pemakaian suatu kredit, apakah
bertujuan untuk diusahakan kembali atau dipakai untuk keperluan
pribadi. Jenis kredit dilihat dari segi tujuan adalah:
a) Kredit
produktif,
yaitu
kredit
yang
digunakan
untuk
peningkatan usaha atau produksi atau investasi. Kredit ini
diberikan untuk menghasilkan barang atau jasa.
b) Kredit konsumtif, yaitu kredit yang digunakan untuk
dikonsumsi atau dipakai secara pribadi. Dalam kredit ini tidak
ada pertambahan barang dan jasa yang dihasilkan, karena
46
memang untuk digunakan atau dipakai oleh seseorang atau
badan usaha.
c) Kredit perdagangan, yaitu kredit yang digunakan untuk
kegiatan perdagangan dan biasanya untuk membeli barang
dagangan yang pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan
barang dagangan tersebut. Kredit ini sering diberikan kepada
supplier atau agen-agen perdagangan yang akan membeli
barang dalam jumlah tertentu.
(3)
Dilihat dari Segi Jangka Waktu
Dilihat dari segi jangka waktu, artinya lamanya masa pemberian
kredit mulai dari pertama sekali diberikan sampai masa
pelunasannya, jenis kredit adalah:
a) Kredit jangka pendek, yaitu kredit yang memiliki jangka waktu
kurang dari 1 tahun atau paling lama 1 tahun dan biasanya
digunakan untuk keperluan modal kerja.
b) Kredit jangka menengah, yaitu kredit yang memiliki jangka
waktu berkisar antara 1 tahun sampai dengan 3 tahun. Kredit
jenis ini dapat diberikan untuk modal kerja.
c) Kredit
jangka
panjang,
yaitu
kredit
yang
masa
pengembaliannya paling panjang yaitu di atas 3 tahun atau 5
tahun. Biasanya kredit ini digunakan untuk investasi jangka
panjang
seperti
perkebunan
47
karet,
kelapa
sawit
atau
manufaktur dan untuk juga kredit konsumtif seperti kredit
perumahan.
(4)
Dilihat dari Segi Jaminan
Dilihat dari segi jaminan maksudnya adalah setiap pemberian suatu
fasilitas kredit harus dilindungi dengan suatu barang atau suratsurat berharga minimal senilai kredit yang diberikan. Jenis kredit
dilihat dari segi jaminan adalah:
a) Kredit dengan jaminan, yaitu kredit yang diberikan dengan
suatu jaminan tertentu. Jaminan tersebut dapat berbentuk
barang berwujud atau tidak berwujud, artinya setiap kredit
yang dikeluarkan akan dilindungi senilai jaminan yang
diberikan si calon debitur.
b) Kredit tanpa jaminan, yaitu kredit yang diberikan tanpa
jaminan barang atau orang tertentu. Kredit jenis ini diberikan
dengan melihat prospek usaha, karakter serta loyalitas si calon
debitur selama berhubungan dengan bank yang bersangkutan.
(5)
Dilihat dari Segi Sektor Usaha
Setiap sektor usaha memiliki karakteristik yang berbeda-beda, oleh
karena itu pemberian fasilitas kredit pun berbeda pula. Jenis kredit
jika dilihat dari sektor usaha sebagai berikut:
a) Kredit pertanian, merupakan kredit yang dibiayai untuk sektor
perkebunan atau pertanian rakyat. Sektor usaha pertanian dapat
berupa jangka pendek atau jangka panjang.
48
b) Kredit peternakan, dalam hal ini kredit diberikan untuk jangka
waktu yang relatif pendek misalnya peternakan ayam dan
untuk kredit jangka panjang seperti kambing atau sapi.
c) Kredit industri, yaitu jenis kredit untuk membiayai industri
pengolahan baik untuk industri kecil, menengah, atau besar.
d) Kredit pertambangan, yaitu jenis kredit untuk usaha tambang
yang dibiayainya, biasanya dalam jangka panjang, seperti
tambang emas, minyak, atau tambang timah.
e) Kredit pendidikan, merupakan kredit yang diberikan untuk
membangun sarana dan prasarana pendidikan atau dapat pula
berupa kredit untuk para mahasiswa yang sedang belajar.
f)
Kredit profesi, diberikan kepada kalangan para profesional
seperti dosen, dokter, atau pengacara.
g) Kredit
perumahan,
yaitu
kredit
untuk
membiayai
pembangunan atau pembelian perumahan.
h) Dan sektor-sektor usaha lainnya.
c. Penempatan pada bank lain.
Penempatan pada bank lain antara lain dalam bentuk call money, deposito
berjangka, deposit on call, dan sertifikat deposito.
d. Surat-surat berharga.
Penanaman dana dalam surat-surat berharga meliputi surat-surat berharga
jangka pendek dan jangka panjang yang dimaksudkan untuk mempertinggi
profitabilitas bank. Pengalokasian dana dalam surat-surat berharga dapat
49
dilakukan dengan cara mendiskonto atau membeli surat-surat berharga
pasar uang dan pasar modal baik dalam rupiah maupun dalam valuta asing.
Penanaman dana dalam surat-surat berharga tersebut antara lain meliputi
Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Bankers Acceptance, Surat Berharga
Pasar Uang (SBPU), commercial paper, reksa dana, dan saham-saham
yang terdaftar di Bursa Efek. Perbankan Indonesia sampai saat ini belum
diperkenankan menempatkan dananya dalam bentuk saham yang
diperdagangkan di Bursa Efek.
e. Penyertaan.
Penyertaan modal adalah penanaman dana dalam bentuk saham secara
langsung (direct investment) pada bank atau lembaga keuangan lain yang
berkedudukan di dalam dan luar negeri. Menurut ketentuan Bank
Indonesia, bank dapat melakukan penyertaan modal hanya pada lembaga
keuangan di dalam dan luar negeri dengan ketentuan:
(1)
Besarnya penyertaan modal tidak melebihi 15% dari modal lembaga
keuangan tersebut.
(2)
Jumlah seluruh penyertaan modal tidak melebihi 25% dari modal
sendiri bank yang bersangkutan.
Menurut Sudirman (2000), penggunaan dana bank supaya dana tersebut
produktif, bank melakukan langkah dengan dasar beberapa pertimbangan, yaitu:
1)
Penggunaan dana yang sah atau legal dan bank selalu dapat menyediakan
dana kas yang likuid untuk memenuhi cadangan wajib bank atau legal
reserve requirement sesuai dengan ketentuan kesehatan bank.
50
2)
Likuiditas bank selalu dijaga di atas legal reserve requirement setelah
dikurangi penggunaan atau penempatan dana. Kelebihan cadangan wajib
bank atau excess legal reserve retirement dimaksudkan agar bank selalu
dapat memenuhi kewajiban pembayaran setiap saat.
3)
Penyediaan dana untuk kredit selalu disediakan agar pendapatan utama bank
berupa bunga selalu dapat dipertahankan atau ditingkatkan.
4)
Penanaman atau penempatan dana bank hanya dapat dilakukan setelah
terpenuhinya kebutuhan dana untuk legal reserve requirement , excess legal
reserve requirement, dan kredit. Penanaman atau penempatan dana dilakukan
hanya bersifat sementara sebelum dana difungsikan untuk kredit. Penanaman
dana bank dapat dilakukan karena adanya kelebihan dana di bank yang
sementara dapat ditanamkan misalnya dalam surat berharga, seperti saham di
perusahaan lain.
2.1.9 Manajemen Aktiva dan Pasiva Bank
Manajemen aktiva dan pasiva bank atau asset and liability management
(ALM) menjadi bagian yang sangat penting dalam menjalankan bisnis perbankan.
Secara
eksplisit,
peraturan
Bank
Indonesia
menetapkan
bahwa
dalam
melaksanakan fungsi pengendalian risiko suku bunga, risiko nilai tukar, dan risiko
likuiditas, bank sekurang-kurangnya menerapkan asset liability management
(Masyhud, 2004). Oguzsoy dan Guven (1997) menyatakan bahwa ALM bertujuan
membangun alat optimisasi yang dapat menjamin kemampuan bank dalam
memperoleh laba (profitability) yang berkesinambungan dan pengelolaan risiko
yang baik. Menurut Graddy dan Spencer (1991), ALM merupakan usaha yang
51
mengarah pada maksimisasi laba dalam pengendalian risiko yang lebih baik. Asset
liability management pengertian sempit menurut Sinkey (1992) adalah spread
management yang dikaitkan dengan pemeliharaan spread positive, antara tingkat
bunga dalam pos pendapatan di sisi aktiva dan pos biaya di sisi kewajiban pada
neraca perbankan. Sinkey juga menjelaskan bahwa ALM dalam pengertian luas,
meliputi: (1) spread management,(2) control of net non-interest income or
burden, (3) liquidity management, (4) capital management, (5) tax management,
dan (6) management off-balance sheet activities. Berdasarkan uraian di atas, dapat
dikatkan bahwa ALM adalah manajemen struktur keuangan bank untuk
mengoptimalkan tingkat kesehatan keuangan bank dan memaksimalkan laba
dalam batas-batas risiko tertentu. Risiko yang perlu diamati dalam konteks assetliabilities management adalah risiko tingkat bunga, risiko kredit, dan risiko
likuiditas.
Setiap terjadi perubahan tingkat bunga akan memberi dampak langsung
terhadap pendapatan bunga dari aktiva produktif, dan di sisi lain akan
berpengaruh pada biaya bunga meskipun pengaruhnya terhadap pos-pos asset dan
liabilities tidaklah sama yang disebabkan karena sensitivitasnya berbeda-beda.
Perbedaan sensitivitas terhadap perubahan tingkat bunga tersebut membawa
perubahan net interest spread bank, oleh karena itu bank perlu menata komposisi
assets dan liabilities bank berdasarkan tingkat keperluannya misalnya mulai dari
yang bersifat fixed sampai pada tingkat floating. Jangka waktu jatuh tempo
masing-masing asset liabilities turut pula menentukan sensitivitas pendapatan
bunga terhadap semua perubahan.
52
Tujuan utama ALM adalah untuk menstruktur portofolio sisi aktiva dan
pasiva bank secara konsisten, terkoordinasi dan terpadu dalam rangka
memaksimalkan keuntungan. Keputusan terhadap suatu pos aktiva dan pasiva
harus dilakukan dalam konteks keseluruhan sisi neraca bank. Menurut Masyhud
(2004), pengelolaan aktiva-pasiva bank diarahkan untuk menjaga tingkat
kesehatan bank dengan mampu melakukan antisipasi yang tepat terhadap
terjadinya perubahan-perubahan variabel eksternal bank.
Masalah utama yang sering dihadapi oleh bank dalam ALM adalah
memecahkan konflik atau dilema antara likuiditas di satu pihak dengan
kemampuan meningkatkan laba di pihak lain. Dilema semacam ini dalam ALM
disebut liquidity vs profitability atau kadang-kadang disebut safety vs earnings.
Manajer bank dalam usaha meningkatkan profitabilitas dituntut untuk
mengalokasikan dananya ke dalam aktiva produktif, sementara harus pula
memperhatikan kebutuhan likuiditas dan keamanan aktiva tersebut. Karena setiap
kewajiban bank hampir selalu dibayar dengan kas, maka dilihat dari kepentingan
likuiditas sudah barang tentu alat likuid merupakan aktiva yang paling utama.
Penanaman dana dalam bentuk aktiva yang dapat segera dicairkan tanpa
mengalami kerugian dan penundaan dapat dikategorikan sebagai alat likuid.
Namun jenis aktiva ini biasanya hampir selalu memiliki kelemahan dilihat dari
tingkat profitabilitasnya karena sudah pasti tingkat keuntungan aktiva ini akan
jauh lebih kecil. Jenis aktiva yang memiliki kemungkinan mengalami kerugian
pada saat dijadikan uang sebelum jatuh tempo justru umumnya memberikan
penghasilan yang tinggi. Kondisi inilah yang menimbulkan suatu dilema di mana
53
bank dihadapkan pada suatu konflik antara likuiditas atau keamanan di satu pihak
dengan profitabilitas di pihak lain dalam pengelolaan sisi aktiva bank.
Menurut Riyadi (2006) ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan
untuk menghadapi dilema liquidity vs profitability dalam pengelolaan aktivapasiva bank adalah:
1) Pool of funds approach
Konsep metode ini adalah semua sumber dana yang dihimpun oleh bank
digabung menjadi satu tanpa memperhatikan jenis dana, sifat sumber dana,
jangka waktu penemptan dana, serta biaya dana kemudian dana-dana tersebut
dialokasikan ke berbagai bentuk penempatan dana berdasarkan prioritasnya.
Prioritas pertama penggunaan dana menurut pendekatan ini adalah memenuhi
kebutuhan cadangan primer yaitu ketentuan likuiditas wajib minimum
disamping untuk kebutuhan kelancaran operasional bank sehari-hari. Prioritas
kedua adalah cadangan sekunder yang pada prinsipnya sebagai pendukung
apabila cadangan primer tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
likuiditas yang sifatnya jangka pendek dan kebutuhan lain yang tidak dapat
diperkirakan. Prioritas ketiga adalah pemberian kredit. Dana yang tersisa
setelah memenuhi semua prioritas di atas dapat ditanamkan dalam bentuk
surat-surat berharga jangka panjang yang biasanya terdiri dari berbagai jenis
obligasi baik yang dikeluarkan oleh negara maupun perusahaan yang bonafid.
Tujuan pengalokasian dana dalam aktiva ini adalah sebagai tambahan
profitabilitas disamping sebagai tambahan cadangan likuiditas. Kemudian
yang terakhir adalah pengalokasian dana dalam aktiva tetap.
54
2) Asset allocation approach
Pendekatan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa masing-masing sumber
dana memiliki karakter yang berbeda-beda, sehingga harus diperlakukan
secara individual sesuai dengan karakteristik dana tersebut. Sumber dana yang
memiliki mobilitas tinggi (seperti giro) karena dapat ditarik setiap saat, maka
sumber dana ini memerlukan pemantauan yang ketat dari bank agar bank
setiap saat dapat memenuhi kebutuhan likuiditas yang diperlukan untuk
menampung penarikan dana-dana tersebut. Dengan demikian, dana dari
dengan karakteristik seperti ini harus dialokasikan pada penanaman sebagai
cadangan primer dan cadanga sekunder.
2.2
Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya yang membahas tentang penyaluran kredit di sektor
perbankan pernah dilakukan oleh Laksmi (2004) mengenai “Optimalisasi
Penyaluran Kredit Pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. Penelitian tersebut
bertujuan untuk mengetahui apakah kebijakan penyaluran kredit pada PT. Bank
Mandiri (Persero) Tbk pada tahun 2003 sudah optimal, ditinjau dari realisasi
penyaluran kredit pada masing-masing portofolio kredit dan pendapatan bunga
yang diperoleh dari kebijakan penyaluran kredit tersebut. Teknik analisis yang
digunakan dalam penelitian tersebut adalah Linear Programming. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kebijakan penyaluran kredit yang dilakukan oleh PT. Bank
Mandiri (Persero) Tbk pada tahun 2003 belum optimal, hal tersebut ditunjukkan
dengan hasil perhitungan dengan penggunaan aplikasi persamaan pendapatan
bunga yang digunakan sebagai model dalam penentuan target menghasilkan
55
pendapatan bunga sebesar Rp. 3.035,089 miliar, sedangkan pendapatan bunga
aktual yang diperoleh adalah sebesar Rp. 1.826 miliar. Persamaan penelitian ini
dengan penelitian sebelumnya adalah sama-sama menggunakan metode linear
programming untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian. Persamaan lain
penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Laksmi adalah sama-sama
menggunakan perusahaan yang bergerak pada sektor perbankan sebagai obyek
penelitian dan sama-sama meneliti tentang portofolio kredit. Perbedaan penelitian
ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Laksmi terletak pada obyek penelitian
dimana penelitian tersebut dilakukan pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk,
periode waktu, dan perbedaan yang paling mendasar terletak pada rasio atau
perbandingan jumlah kredit yang disalurkan terhadap jumlah dana masyarakat
yang dihimpun pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk dari tahun 2001 sampai
2003 terus mengalami peningkatan yaitu 24,94% pada tahun 2001, 34,89% pada
tahun 2002, dan 41,62% pada tahun 2003, sedangkan pada PT. Bank Negara
Indonesia (Persero) Tbk. terjadi kecenderungan penurunan rasio tersebut pada
periode tahun 2004 sampai tahun 2006 yaitu 54,48% pada tahun 2004, 53,59%
pada tahun 2005, dan 48,04% pada tahun 2006.
Hatma (2008), meneliti tentang “Linear Programming and Sensitivity
Analysis”. Penelitian ini bertujuan untuk memecahkan masalah perencanaan
produksi pada PT. X yang memiliki empat varian produk dengan melewati tiga
proses yaitu assembling, finishing, dan packing. Sumberdaya yang tersedia pada
perusahaan tersebut tiap tahunnya adalah 100.000 minutes of assembly time,
50.000 minutes of polishing time and 60.000 minutes of packing time available.
56
Masing-masing varian membutuhkan waktu yang berbeda dalam setiap proses
produksi dan masing-masing varian menghasilkan laba
yang berbeda.
Permasalahan ini dipecahkan dengan menggunakan metode linear programming
dimana hasil penelitian menunjukan bahwa laba maksimal adalah Rp.
58.000.000,- dengan jumlah produksi masing-masing varian yaitu X1 = 0, X2 =
16.000, X3 = 6000, X4 = 0. Persamaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya adalah sama-sama menggunakan metode linear programming untuk
memecahkan permasalahan dalam penelitian. Perbedaan penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan oleh Hatma adalah penelitian ini dilakukan pada
perusahaan yang bergerak dalam sektor perbankan sedangkan penelitian oleh
Hatma dilakukan pada perusahaan manufaktur.
Natawidjaja (2002), melakukan penelitian tentang “Optimasi Keuntungan
di PT. Mitory dengan Menggunakan Metode Program Linear”. PT. Mitory adalah
sebuah perusahaan yang dalam usahanya memproduksi karung plastik. Jumlah
produk yang dibuat adalah 6 jenis produk. Untuk memaksimalkan keuntungan
yang diperoleh perusahaan maka perlu dicari kombinasi jumlah produksi produk
yang optimal dengan mempertimbangkan batasan-batasan yang ada. Batasanbatasan yang ada tersebut antara lain yaitu kapasitas mesin, setup mesin, input
output antar mesin, demand produk jadi, benang warna, bahan baku, dan
persediaan awal. Dari fungsi tujuan dan batasan-batasan tersebut dibentuk model
matematis dan dengan menggunakan metode linear programming yang dibuat
untuk masalah ini, maka didapatkan kombinasi jumlah produksi yang
menghasilkan keuntungan maksimal dan memenuhi kendala-kendala yang ada.
57
Hasil yang didapatkan dari optimasi bauran produk ini adalah keuntungan
maksimal sebesar Rp. 160.553.776 ,-. Persamaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya adalah sama-sama menggunakan metode linear programming untuk
memecahkan permasalahan dalam penelitian. Perbedaan penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan oleh Natawidjaja adalah penelitian ini dilakukan pada
perusahaan yang bergerak dalam sektor perbankan sedangkan penelitian oleh
Natawidjaja dilakukan pada perusahaan manufaktur.
58
Download