AFTA - Library Binus

advertisement
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari
negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam
rangka meningkatkan daya saing ekonomi dikawasan regional Asia Tenggara dengan
menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta menciptakan pasar regional
bagi 500 juta penduduknya. AFTA dibentuk pada waktu Konfrensi Tingkat Tinggi
(KTT) ASEAN yang ke IV di Singapura pada tahun 1992. Awalnya AFTA
ditargetkan bahwa AFTA merupakan wujud dari kesepkatan dari negara-negara Asia
Tenggara untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka
meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan
ASEAN sebagai basis produksi duniaakan dicapai dalam waktu 15 tahun (19932008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi
tahun 2002. Skema common effective prefential tariffs for ASEAN free trade area
merupakan suatu skema untuk mewujudkan AFTA melalu penurunan tarif hingga
menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif
lainnya. Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya
kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai
Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philipphines, Singapura, dan
Thailand, dan bagi Kamboja, Laos, Myanmar dan Vietnam akan dilangsungkan pada
tahun 2015.
Pada tahun 2015 ini, masyarakat ASEAN telah memasuki era baru yaitu
dimana masyarakat antar negara ASEAN lebih bebas dan mudah untuk memilih
pekerjaannya dikawasan Asia Tenggara atau yang lebih sering didengar dengan
sebutan pasar bebas ASEAN. Ada nya perjanjian tersebut di sepakati oleh para
pemimpin negara di Asia tenggara tersebut beberapa dekade lalu. Dilakukannya pasar
bebas ASEAN ini agar adanya daya saing di kawasan Asia Tenggara meningkat serta
bisa menyangi Tiongkok dan India dalam menarik investasi asing.
Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi
Asean (MEA) ini nantinya memungkin bahwa suatu negara menjual barang dan
jasanya dengan mudah ke negara-negara lain dikasawasan Asia Tenggara. Dan juga
Masyarakat Ekonomi Asean tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau
2
jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja professional, contohnya seperti dokter, pengacara,
termasuk juga akuntan, dan lain-lain. staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi, Dita Indah Sari, menjelaskan bahwa MEA mensyaratkan adanya
penghapusan aturan-aturan yang sebelumnya menghalangi perekrutan tenaga kerja
asing.
Pengertian Pengalaman Kerja terdiri dari beberapa macam yang diberikan oleh
para ahli. Pengalaman dalam semua kegiatan sangat diperlukan, karena experience is
the best teacher, pengalaman guru yang terbaik. Maksud dari hal tersebut adalah
bahwa seseoramg belajar dari pengalaman yang perna dialaminya, menurut Elaine B
Johnson (2007) menyatakan bahwa “pengalaman memunculkan potensi seseorang.
Potensi penuh akan muncul bertahap seiring berjalannya waktu sebagai tanggapan
terhadap
bermacam-macam pengalaman”.
Jadi
sesungguhnya
yang
penting
diperhatikan dalam hubungan tersebut adalah kemampuan seseorang untuk belajar
dari pengalaman yang baik maupun yang buruk, maka pada hakikatnya pengalaman
adalah pemahaman terhadap sesuatu yang dihayati dan dengan penghayatan serta
mengalami sesuatu tersebut sehingga mendapatkan pengalaman, keterampilan
ataupun nilai yang menyatu kepada potensi diri sendiri pada akhirnya.
Dengan pengalaman yang didapat seseorang akan lebih cakap dan terampil
serta mampu melaksanakan tugas pekerjaannya. Sejalan dengan hal tersebut, menurut
hukum (law of exercise) dalam Mustaqim (2004: 50) diungkapkan bahwa dalam law
of exercise atau the law disuse (hukum penggunaan) dinyatakan bahwa “Hubungan
antara stimulus dan respon akan bertambah kuat atau erat bila sering digunakan (use)
atau sering dilatih (exercise) dan akan berkurang, bahkan lenyap sama sekali jika
jarang digunakan atau tidak pernah sama sekali”.
Dari pendapat diatas diketahui bahwa latihan berulang-ulang akan
memperkuat dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan seseorang. Bagi
seorang karyawan proses-proses dalam bekerja merupakan latihan yang akan
menambah pengalaman, sehingga karyawan tersebut mampu menyelesaikan masalahmasalah yang dihadapinya dalam proses bekerja. Karenanya pengalaman dapat
membangkitkan dan mengundang seseorang untuk melihat semua pekerjaan sebagai
peluang untuk terus berlatih dan belajar sepanjang hayat.
Pengalaman kerja tidak hanya menyangkut jumlah masa kerja, tetapi lebih dari
juga memperhitungkan jenis pekerjaan yang pernah atau sering dihadapi. Sejalan
dengan bertambahnya pekerjaan, maka akan semakin bertambah pula pengatahuan
3
dan ketrampilan seseorang dalam bekerja. Hal tersebut dapat dipahami karena terlatih
dan sering mengulang suatu pekerjaan sehingga kecakapan dan ketrampilan semakin
dikuasai secara mudah, tetapi sebelumnya tanpa latihan, pengalaman-pengalaman
yang pernah dimiliki akan menjadi berkurang bahkan terlupakan.
Dari berbagai uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa pengertian pengalaman
kerja adalah tingkat penguasaan pengetahuan serta ketrampilan seseorang dalam
pekerjaannya yang dapat diukur dari masa kerja dan dari tingkat pengetahuan serta
ketrampilan yang dimilikinya.
Pengalaman kerja dipilih sebagai salah satu varibel dalam penelitian ini karena
penulis menganggap bahwa pengalaman kerja merupakan faktor penting yang dapat
mempengaruhi baik itu kualitas audit, pengambilan keputusan, bahkan kemampuan
komunikasi dan psikologi dari auditor itu sendiri. Dengan kata lain semakin
berpengalaman auditor itu, maka semakin bisa pula dia dalam menangani tiap
masalah yang diberikan kepadanya, cara yang digunakan dalam berkomunikasi serta
dalam penguasaan diri (psikologi) auditor. Pengalaman kerja itu sendiri memiliki arti
sebagai tingkat penguasaan pengetahuan serta keterampilan seseorang dalam
pekerjaannya yang dapat diukur dari masa kerja dan dari tingkat pengetahuan serta
keterampilan yang dimilikinya.
Seiring berjalannya waktu dalam era modernisasi ini menunjukkan bahwa
profesi auditor tidak hanya digeluti oleh pria. Banyak wanita yang kini ikut
mengambil peran sebagai auditor. Dalam tulisan Kushasyandita(2012) yang mengutip
tulisan dari Robbins (2006) dan Tuanakotta(2011) yaitu antara pria dan wanita
berbeda pada reaksi emosional dan kemampuan membaca orang lain. Wanita
menunjukkan emosi yang lebih hebat, mereka menampilkan ekspresi dari emosi baik
yang positif maupun negatif, kecuali kemarahan. Wanita lebih baik dalam membaca
isyarat non-verbal dibandingkan pria. Menurut data International Labor Organization
(ILO), Jurnal Akuntansi dan Keuangan tahun 2007 menunjukkan bahwa akuntan di
Indonesia pada tahun 2002 adalah sebanyak 24,475 orang. Jumlah ini mengalami
perkembangan yang cukup pesat jika dibandingkan dengan jumlah akuntan di
Indonesia pada tahun 1990 yaitu sejumlah 9,553 orang atau terjadi kenaikan sebanyak
156%. Jumlah auditor wanita di Indonesia pada tahun 1990 sebanyak 2.447 orang dan
pada tahun 2000 meningkat menjadi 7.590 orang atau meningkat sebesar 237%. Dari
keseluruhan jumlah auditor, 31% di antaranya adalah auditor wanita. Hal ini
menunjukkan bahwa pekerjaan auditor juga banyak dilakukan oleh wanita meskipun
4
pekerjaan ini dianggap sebagai pekerjaan male occupation. Pada tahun 2012, dalam
seminar nasional “Prospek Akuntan Publik Di Indonesia” jumlah akuntan di
Indonesia sebanyak 51,432 orang dan per 21 Juni 2012 hanya terdapat 1007 orang
akuntan publik dan diyakini bahwa dalam pekerjaan ini wanita juga ikut mengambil
bagian. Oleh karena itu penulis pun memilih gender sebagai salah satu variabel yang
dianggap memiliki pengaruh terhadap kemampuan dalam pengerjaan auditnya agar
dapat bekerja secara efektif.
Dalam tulisan Anton Wijaya (2014) produktifitas pekerja baik wanita atau pria
dipengaruhi oleh faktor usia. Usia pekerja yang tergolong pekerja muda yaitu dari
umur 20-49 tahun
dengan tujuan pada proses kerjanya akan menghasilkan
pencapaian yang maksimal. Pekerja dengan usia diatas 50 tahun merupakan golongan
pekerja tua, walapun tingkat produktifitasnya lebih rendah dibandingkan dengan
golongan pekerja muda golongan pekerja tua mempunyai kelebihan dibidang
pengalaman kerja. Pengalamanan kerja yang dimiliki oleh para golongan pekerja tua
dapat digunakan sebagai penghasil sebuah keputusan dalam proses kerja.
Kesimpulannya adalah akan ada hasil yang maksimal bila ada kombinasi kerja antara
golongan pekerja muda dan golongan pekerja tua.
Auditor harus mempunyai komunikasi yang baik terhadap sesama pegawai.
Tugas auditor yang salah satunya adalah mengumpulkan data yang didapat untuk
mencapai hasil audit memerlukan kemampuan yang baik dalam berkomunikasi.
Menurut West & Turner (2010) komunikasi sendiri mempunyai definisi sebuah
proses sosialisasi dimana proses ini melibatkan orang-orang yang berinteraksi baik
secara langsung (tatap muka) ataupun secara tidak langsung (online). Biasanya terjadi
antara dua orang atau lebih yang berinteraksi sebagai pelaku (komunikator) dan
penerima (komunikan).
Efektifitas berasal dari kata efektif yang mempunyai arti adalah mempunyai
pengaruh atau memberikan hasil. Efektifitas mempunyai keaktifan sesuai dengan
kesesuaian suatu kegiatan seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Sasaran yang
dituju adalah acuan utama yang menjadi tolak ukur seorang auditor. Jadi efektifitas
audit adalah area khusus bagi para auditor untuk pencapaian kerjanya.
Untuk mencapai hasil yang maksimal atau tercapainya efektifitas audit maka
pengalaman kerja, gender, usia, dan komunikasi saling berkaitan. Keterkaitan
variable-variable tersebut ditujukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. PT. Bank
Rakyat Indonesia yang merupakan bank BUMN yang mempunyai pertumbuhan
5
paling pesat menjadi perusahaan yang menarik untuk diteliti oleh penulis. Pencapaian
PT. Bank Rakyat Indonesia akan diteliti menggunakan variable-variable pengalaman
kerja, gender, usia, dan komunikasi. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan
pengaruh baru dalam pembuktian bahwa variable tersebut mempunyai nilai yang
penting terhadap auditor.
Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk menganalisa kembali apakah faktor
pengalaman kerja, gender, usia dan komunikasi memiliki pengaruh namun bukan
terhadap hasil audit, melainkan faktor yang berperan dibelakang hasil audit atas ke
efektifitasannya. Adapun judul skripsi yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah:
“PENGARUH PENGALAMAN KERJA, GENDER, USIA DAN KOMUNIKASI
AUDITOR INTERNAL TERHADAP EFEKTIFITAS AUDIT (STUDI KASUS
DI KANTOR PUSAT PT. BANK RAKYAT INDONESIA PERIODE JANUARI
– NOVEMBER 2015)”
1.2
Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian di atas yang ada pada latar belakang penelitian, maka
dalam penelitian dirumuskan permasalahan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah pengalaman kerja berpengaruh terhadap efektifitas audit?
2. Apakah gender berpengaruh terhadap kemampuan efektifitas audit?
3. Apakah usia berpengaruh terhadap efektifitas audit?
4. Apakah komunikasi auditor internal berpengaruh terhadap efektifitas
audit?
5. Apakah pengalaman kerja, gender, usia, dan komunikasi berpengaruh
terhadapat efektifitas audit?
1.3
Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian yang ditentukan oleh penulis akan difokuskan pada
pengaruh dari pengalaman kerja, gender dan usiaterhadap efektifitas audit. Objek
yang akan diteliti adalah auditor-auditor yang bekerja pada badan usaha milik negara
yaitu PT. Bank Rakyat Indonesia. Para auditor yang bekerja pada kantor pusat PT.
Bank Rakyat Indonesia periode kerja Januari – November 2015. Para pekerja yang
menjadi objek penelitian adalah pegawai yang bekerja pada divisi internal auditor,
yang berjumlah sebanyak 70 pegawai. Yang memiliki persyaratan masuk dalam
6
pengalaman kerja, gender, usia, dan komunikasi yang menjadi acuan penulis. Sumber
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan penyebaran
kuesioner. Kuesioner ini sudah disetujui oleh pihak PT. Bank Rakyat Indonesia untuk
melakukan penyebaran di divisi internal audit. Kuesioner diberikan kepada divisi
sumber daya masyarakat, lalu setelah dari divisi tersebut kuesioner ini diberikan
kepada divisi internal auditor.
1.4
Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengelaman kerja berpengaruh secara parsial atau tidak
terhadap efektifitas audit
2. Untuk mengetahui gender berpengaruh secara parsial atau tidak terhadap
efektifitas audit
3. Untuk mengetahui usia berpengaruh secara parsial atau tidak terhadap
efektifitas audit
4. Untuk mengetahui komunikasi berpengaruh secara parsial atau tidak
terhadap efektifitas audit
5. Untuk mengetahui pengalaman kerja, gender, usia, dan komunikasi
berpengaruh secara bersama-sama atau tidak terhadap efektifitas audit.
Manfaat dari penelitian ini adalah apabila faktor pengalaman kerja, gender,
usia dan komunikasi tersebut berpengaruh terhadap efektifitas audit, diharapkan
auditor dapat menambah wawasan dan lebih memperhatikan pentingnya faktor
pengalaman kerja, gender, usia dan komunikasi dalam pengaruhnya terhadap
efektifitas audit dari auditor tersebut yang seperti kita ketahui bahwa efektifitas audit
ini akan ikut berpengaruh dalam proses audit dan hasilnya.
Selain itu, diharapkan juga agar pembaca paham bahwa dalam proses audit
tidak hanya pengetahuan tentang audit yang bermain sendiri, tapi juga ada aspek lain
seperti ke efektifitasannya dalam memperoleh hasil audit yang juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti pengalaman kerja, gender, usia dan komunikasi.
Dengan kata lain, manfaat dari penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Bagi auditor
Auditor dapat menambah wawasan bahwa dalam audit, tidak hanya
membutuhkan pengetahuan bidang auditing, tetapi juga pengetahuan
7
sehubungan dengan variable berupa pengalaman kerja, gender, usia dan
komunikasi agar auditor mampu melakukan pengerjaan auditnya secara efektif
agar proses audit berjalan lancar, terutama untuk auditor-auditor muda.
2. Bagi penulis
Diharapkan penulis bisa mengambil dan menambah pengetahuan dari
apa yang telah penulis kerjakan dan mampu menerapkannya dalam kehidupan
bermasyarakat.
3. Bagi dunia pendidikan
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi topik ajaran baru
dalam dunia pendidikan.
1.5
Ringkasan Metode Penelitian
1.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kuantitatif dimana
penulis akan memunculkan suatu hipotesis yang akan diuji.
2.
Dimensi waktu melibatkan suatu waktu dengan banyak sampel.
3.
Dalam pengujian hipotesis, penulis akan menggunakan metode analisis
linear berganda.
4.
Metode pengumpulan data dilakukan secara langsung, yaitu dengan
menyebarkan kuesioner.
1.6
Sistematika Pembahasan
Dalam penulisan proposal skripsi ini diperlukan sistematika pembahasan, hal
ini dimaksudkan untuk mempermudah pembaca dalam memahami penelitian yang
dibuat secara garis besar. Dalam sistematika pembahasan juga terdapat pokok-pokok
permasalahan yang akan dibahas terbagi menjadi tiga bab sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan tentang latar belakang dari sesuatu yang
dianalisis, ruang lingkup penelitian, tujuan dan manfaat dari penelitian,
ringkasan, dan sistematika pembahasan.
BAB 2 LANDASAN TEORI
Bab ini menjelaskan tentang teori-teori yang melandasi penelitian dan
yang
akan
digunakan
oleh
penulis
untuk
membantu
dalam
mengerjakan penelitian tentang pengaruh pengalaman kerja, gender
8
dan usia terhadap efektifitas audit selama proses audit. Pemberian
informasi sehubungan dengan pengertian yang lebih detail tentang
faktor-faktor yang terlibat, serta kaitan dari tiap-tiap faktor yang
terlibat di dalamnya. Landasan teori dijadikan media sebagai
penghubung dari tiap-tiap faktor yang terlibat dalam interaksi tersebut.
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi informasi tentang objek penelitian yaitu auditor-auditor
pada PT. Bank Rakyat Indonesia. Penulis akan menyebarkan kuesioner
yang berisikan pertanyaan sehubungan dengan hal-hal yang diteliti
oleh penulis. Adapun informasi yang akan disampaikan dalam bab ini
adalah objek penelitian, desain penelitian, jenis dan sumber data,
penentuan jumlah sampel, metode pengumpulan sampel, metode
analisa data, dan metode penyajian data.
BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN
Bab ini akan menguraikan tentang data-data yang diperoleh dari hasil
penelitian yang kemudian diolah dan ditampilkan dalam pembahasan
sesuai dengan tujuan penelitian dan teori dari permasalahan yang ada.
BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisi tentang uraian saran-saran dari implikasi yang terjadi
serta kesimpulan yang dari penelitian yang telah dilakukan, yang
didapatkan setelah diadakannya penelitian ini.
1.7
Tinjauan Pustaka
Beberapa informasi sehubungan dengan penelitian yang sudah pernah dibuat
adalah:
1. Yenny (2012), dengan judul Pengaruh Pengalaman Kerja, Independensi,
Objektivitas, Integritas, Dan Kompetensi Auditor Terhadap Kualitas
Audit Yang Dihasilkan Auditor Kantor Akuntan Publik (KAP) “The Big
Four”. Hasil dari penelitian ini adalah Independensi, Integritas, dan
Kompetensi auditor berpengaruh terhadap kualitas audit, sedangkan
9
objektivitas dan pengalaman kerja tidak berpengaruh terhadap kualitas
audit.
2. Rutiyana Trisanti Astiningrum (2012), dengan judul Pengaruh Gender,
Kompleksitas Tugas, Tekanan Ketaatan Dan Pengalaman Audit Terhadap
Audit Judgement Pada Kantor Akuntan Publik Di DKI Jakarta. Hasil dari
penelitian ini adalah gender, kompleksitas tugas, dan pengalaman audit
tidak berpengaruh terhadap audit judgement, sedangkan tekanan ketaatan
berpengaruh terhadap audit judgement.
3. Devi
Puspitasari
(2009),
dengan
judul
Pengaruh
Akuntabilitas,
Pengalaman Kerja, Dan Pengetahuan Audit Terhadap Persepsi Kualitas
Kerja Auditor (Studi Kasus Kantor Akuntan Publik Di Jakarta Barat).
Hasil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh signifikan dari variabel
akuntabilitas, pengalaman kerja, dan pengetahuan audit terhadap kualitas
kerja auditor, namun penulis juga menemukan bahwa terdapat perbedaan
saat proses analisis parsial dimana akuntabilitas dan pengalaman kerja
tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas kerja
auditor.Saat ini kebutuhan akuntan khususnya akuntan publik atau auditor
makin besar dan jumlah orang-orang yang berusaha untuk memenuhi
kebutuhan ini juga tidak bisa dibilang sedikit. Walaupun pekerjaan ini
seringkali dianggap sebagian besar orang sebagai “male occupation”,
namun nyatanya hingga saat ini banyak juga wanita yang mengambil
peran dalam pekerjaan ini. Auditor-auditor yang tersedia di Indonesia saat
ini berasal dari baik itu kalangan muda, menengah, hingga tua. Usia ini
dapat digunakan sebagai patokan dari pengalaman mereka sebagai
auditor. Kisaran usia yang diperoleh melalui seminar nasional “Prospek
Akuntan Publik Di Indonesia” pada tanggal 26 Juni 2012 lalu adalah
sebagai berikut: usia 30 tahun kebawah ada 1%, usia 30-39 tahun ada
11%, usia 40-49 tahun 27%, usia 50-56 tahun ada 25%, dan usia diatas 59
tahun ada 35%. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia sangat
membutuhkan tenaga auditor yang muda baru, dengan tujuan untuk
“melestarikan” dan menggantikan peran dari mereka yang sudah tua.
Oleh karena itu, penelitian sehubungan dengan hubungan antara
pengalaman kerja, gender, usia, keahlian audit, etika, akuntabilitas, dan
sebagainya terhadap kualitas audit, pemberian keputusan, dan sebagainya
10
harus diperhatikan, terutama bagi auditor-auditor muda atau yang baru
akan terjun ke dunia audit. Auditor hendaknya sadar dan tahu apakah
mereka memiliki pengaruh yang signifikan.
Dari tinjauan pustaka di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa ada
yang berpendapat bahwa variabel gendermempengaruhi hasil audit yaitu
ketepatan pemberian opini. Sedangkan untuk variabel pengalaman kerja
beberapa berpendapat bahwa pengalaman kerja tidak berpengaruh
terhadap hasil audit atau kualitas audit, namun ada juga yang berpendapat
bahwa sebenarnya pengalaman kerja berpengaruh terhadap hasil audit.
4. Anton Wijaya (2014), dengan judul pengaruh pengalaman kerja dan
gender terhadap kemampuan komunikasi dan psikologi auditor dalam
proses audit (studi empris big four accounting firm). pengalaman bukan
merupakan
satu-satunya
aspek
yang
harus
diperhatikan
dalam
mengembangkan kemampuan komunikasi, ada aspek lainnya yang juga
dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi. Dalam
gender pria dan wanita memiliki kemampuan komunikasi yang sederajat.
Gender tidak bisa dijadikan tolak ukur kemampuan komunikasi dari
seseorang.
5. Maulina Elsa Judhistira (2014), dengan judul analisis fungsi dan
efektifitas audit internal pada organisasi AIESEC Indonesia. Dengan
kesimpulan Fungsi audit internal pada AIESEC Indonesia dapat dikatakan
cukup berjalan dengan baik, hal ini dikarenakan:
a. Audit internal dapat memberikan jaminan dan kepastian bahwa
AIESEC
Indonesia memiliki standar kebijakan yang dapat dipertanggungjawabkan
dan
diterapkan dalam upaya pencapaian tujuan organisasi.
b. Audit internal dapat membantu penerapan dan peningkatan proses tata
kelola
organisasi melalui pembenahan pada proses internal organisasi yang
menyangkut
keprofesionalitasan sumber daya manusia, aspek keuangan, serta aspek
lainnya.
11
c. Audit internal dapat membantu organisasi dalam penyediaan informasiinformasi yang dibutuhkan oleh manajemen internal organisasi serta
mampu mendeteksi temuan-temuan audit yang kemudian memberikan
rekomendasi untuk proses
perbaikan kinerja organisasi.
d. Audit internal melaksanakan fungsinya dengan melakukan tiga jenis
audit antara
lain audit laporan keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional dalam
mengaudit bidang human-development yaitu exchange dan leadership
yang menjadi fokus utama organisasi.
Efektivitas audit internal pada AIESEC Indonesia dapat dikatakan tidak
berjalan dengan baik, hal ini dikarenakan:
a. Kompetensi auditor internal dalam pelaksanaan audit internal yang
harus memiliki
pemahaman dan pengetahuan mengenai bidang serta proses auditing
belum mampu menganalisis lebih dalam aktivitas yang terjadi terutama
aktivitas keuangan pada AIESEC Indonesia.
b. AIESEC Indonesia secara substantif merupakan organisasi profit, hal
ini tercermin dari laporan keuangan yang disajikan yang mencakup
sumber pendanaan, pembayaran pajak, serta sirkulasi laba yang diperoleh
oleh organisasi. Sehingga AIESEC Indonesia tidak lagi sejalan dengan
karakteristik organisasi non-profit.
6. Taufiequr R. Wirosari & Zaenal Fanani (2014), dengan judul pengaruh
umur, gender, dan pendidikan terhadap perilaku risiko auditor dalam
konteks audit atas laporan keuangan. Dengan kesimpulan Dari hasil
analisis yang telah dilakukan maka simpulan penelitian antara lain,
sebagai berikut: 1. Umur berpengaruh positif terhadap perilaku risiko
auditor dalam konteks audit atas laporan keuangan, 2. Auditor perempuan
tidak terbukti lebih berperilaku menghindar risiko dibandingkan dengan
laki-laki, 3. Pendidikan formal yang lebih tinggi tidak terbukti secara
signifikan berpengaruh terhadap perilaku risiko auditor, dan 4. Adanya
kombinasi umur, gender, dan pendidikan yang beragam dalam team
berguna dalam efisiensi dengan tetap menjaga efektifitas audit yang
12
dilakukan melalui adanya kombinasi perilaku risiko yang melekat pada
masing-masing criteria tersebut.
Download