BAB II

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian dan Tujuan Pemasaran
Berbagai definisi tentang marketing atau pemasaran dapat ditinjau dari dua
sisi yaitu sosial dan manajerial. Dari segi sosial marketing adalah proses sosialisasi
dari individu maupun kelompok / organisasi untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan melalui menciptakan, menawarkan dan menukar barang atau jasa yang
memiliki suatu nilai kepada orang lain. Sedangkan dari sisi manajerial, marketing
adalah merupakan suatu seni dalam menjual produk atau jasa (Kotler, 2003, p 8).
Marketing adalah proses dari perencanaan dan pelaksanaan konsep,
pemberian harga, promosi dan distribusi ide, barang dan jasa untuk menciptakan
kepuasan individu dan tujuan perusahaan (Stone, 2000, p lll-130). Marketing yang
efektif melibatkan:
1. Menentukan tujuan marketing perusahaan dan kebutuhan pelanggan.
2. Mendesain, mengembangkan dan memberikan harga pada produk untuk
memenuhi kebutuhan mereka.
3. Menetapkan dan melaksanakan metode promosi dan distribusi produk untuk
calon pembeli.
Berikut adalah aktivitas-aktivas yang terdapat dalam marketing:
1. Market Identification, di mana pemasar memeriksa dan memilih pasar yang
potensial untuk produk perusahaan. Market Identification melibatkan
5
6
segmentasi dari seluruh pasar ke dalam pasar yang lebih kecil dan
menentukan di mana target dari pangsa pasar. Pertama, mengenali dan
mempelajari total pasar untuk produk yang mampu ditawarkan oleh
perusahaan. Kedua, memilih pangsa pasar dari total pasar di mana perusahaan
lebih
fokus
dalam usaha
marketing.
Ketiga,
mengembangkan
dan
melaksanakan marketing mix strategy yang akan memuaskan kebutuhan
pelanggan pada pangsa pasar yang telah dipilih. Marketing mix meliputi:
memasarkan pengembangan strategi yang terdiri dari 4P (empat) variabel
pemasaran, yaitu: product, price, promotion dan place.
2. Planning
dan
Controlling,
aspek
penting
dari
marketing
adalah
mengembangkan rencana pemasaran, mengukur dan membandingkan hasil
marketing untuk rencana marketing dan memodifikasi aktivitas marketing bila
perlu, untuk memenuhi objektif.
3. Marketing Research, peneliti menganalisis area pemasaran, mengumpulkan
dan menggabungkan informasi tentang lingkungan perusahaan, meliputi:
kompetisi, peluang pasar dan ancaman dari luar serta kinerja marketing yang
meliputi kelebihan serta kelemahannya.
Dengan menganalisis faktor-faktor tersebut, pemasar dapat mengembangkan strategi
pemasaran.
1. Product, pemasar membantu menangani aktivitas lainnya yang dibutuhkan
untuk menciptakan atau memperbaiki produk untuk memenuhi kebutuhan
pasar. Proses pengembangan produk melibatkan banyak area fungsional
7
dalam perusahaan consumer goods: marketing, finance, reserch and
development.
2. Distribution, pemasar membantu koordinasi aktivitas dan sumber daya yang
terlibat dalam pemjualan produk yang digunakan oleh konsumen.
3. Promotion, pemasar membantu mengkoordinasi aktivitas yang digunakan
oleh perusahaan untuk mempengaruhi konsumen untuk membeli produknya.
4. Pricing, pemasar membantu menentukan harga yang cocok untuk dibebankan
kepada pelanggan.
Market segmentation adalah proses pembagian pasar yang besar, heterogen (tidak
seragam) ke dalam bentuk yang lebih kecil, lebih homogen (seragam) yang secara
relatif memiliki kebutuhan yang sama. Metode segmentasi yang sederhana adalah
membagi pasar ke dalam 2 kategori besar yaitu:
1. Consumer market, terdiri dari orang-orang yang membeli produk untuk diri
mereka sendiri atau keluarganya.
2. Organizational markets, yang biasanya disebut sebagai business market
terdiri dari orang, kelompok, atau organisasi yang formal yang membeli
produk dan jasa untuk kepentingan bisnis.
Target marketing adalah proses evaluasi untuk mempertunjukkan perusahaan
kepada setiap pangsa pasar, memilih satu atau lebih pangsa pasar, dan fokus kepada
usaha marketing perusahaan dan merancang strategi untuk menjangkaunya.
Marketing research adalah aktivitas pengumpulan, pencatatan dan analisis
secara sistematik spesifik informasi yang penting dalam menjual barang dan jasa dari
suatu perusahaan. Sebagai jantung dari aktivitas marketing suatu perusahaan
8
consumer goods adalah : informasi, informasi mengenai pangsa pasar, perusahaan
sendiri, kompetitor, keadaan ekonomi, peraturan pemerintah, dan faktor-faktor
lainnya. Tetapi marketing yang efektif tidak akan bisa berhasil tanpa informasi yang
tepat waktu untuk mendukung pengambilan keputusan. Marketing research meliputi
semua informasi yang dikumpulkan dan teknik evaluasi yang digunakan oleh
perusahaan untuk membuat keputusan yang efektif. Perusahaan menggunakan
marketing research untuk mengenali dan mendefiniskan kesempatan dan ancaman,
untuk menentukan pangsa pasar mana yang bisa menjadi pelanggan, produk apa yang
dibutuhkan dan paling ingin dibeli oleh pelanggan, dan jalan yang paling efektif
untuk menginformasikan pelanggan tentang produk perusahaan, untuk mengawasi
kinerja marketing, dan meningkatkan pengertian daripada proses marketing.
2.2 Lingkungan Pemasaran
Sebelum
menyusun
suatu
strategi
marketing,
perusahaan
harus
mengidentifikasi lingkungan pemasaran yang akan mempengaruhi perkembangan
perusahaan. Lingkungan pemasaran dibagi menjadi dua bagian yaitu:
2.2.1 Lingkungan Makro
Lingkungan makro dapat dikatakan sebagai suatu lingkungan pemasaran yang
tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan yang berkaitan dengan perubahan atau
trend dan kebutuhan yang belum terpenuhi dalam masyarakat. Salah satu kunci
kesuksesan perusahaan dapat diperoleh dengan memantau dan menanggapi
9
perubahan
tersebut
agar
tercipta
suatu
kesempatan
dalam
peningkatkan
keuntungan/profit. Dengan adanya perngembangan ide atau terobosan baru terhadap
produk yang akan dipasarkan seperti: pengobatan terhadap kanker, konsep tidak
mengandung lemak, peralatan elektrik mobil yang praktis, dan sebagainya. Banyak
kesempatan yang terbuka dengan mengindentifikasi trend yang terjadi di pasar.
Tetapi tidak semua kejadian dapat dikatakan sebagai suatu trend, berikut pembahasan
perbedaan antara fad, trend dan megatrend. Fad dapat dikatakan kejadian
unpredictable/tidak dapat diprediksi dimana hanya semata – mata faktor hoki dan
waktu yag tepat, jangka waktunya kejadian singkat dan tidak berkaitan erat dengan
faktor lingkungan sosial, ekonomi dan politik. Salah satu contohnya adalah boneka
barbie atau pokemon. Trend adalah suatu arah atau urutan kejadian yang memiliki
suatu momentum and jangka waktu tertentu (Kotler, 2003, p159). Beberapa
pandangan dari sisi industri mengatakan bahwa trend merupakan suatu bentuk masa
depan yang memiliki jangka waktu yang panjang , dapat diobsevasi antar lingkungan
pasar maupun kegiatan konsumen dan konsisten terhadap indikator perubahan yang
besar pada waktu yang sama. Sedangkan megatrend adalah basarnya tingkat
perubahan yang menyangkut lingkungan atau kondisi sosial, ekonomi, politik dan
teknologi yang berjalan dengan lambat dan terjadi pada satu tempat yang
mempengaruhi masyarakat dalam kurun waktu tujuh sampai dengan sepuluh tahun
atau lebih. Prediksi dari beberapa pakar industri internasional, mengatakan bahwa di
tahun 2005 tidak akan terjadi yang besar atau sama sekali tidak terjadi. Trend dan
megatrend pantas mendapatkan perhatian lebih, suatu produk baru atau program
pemasaran akan nampak lebih sukses jika sejalan dengan kecenderungan trend
10
dibanding dengan yang bertentangan, tetapi pendeteksian kesempatan pasar baru
tidak menjamin sukses perusahaan, sekalipun dilakukan sudah dianalisa secara teknis.
2.2.1.1 Lingkungan Demografis
Kondisi yang pertama dari lingkungan makro adalah jumlah populasi
penduduk yang ada pada area tertentu. Populasi penduduk memiliki dasar dari konsep
pemasaran yaitu kebutuhan yang selanjut akan tercipta suatu permintaan pasar.
Lingkungan demografis ini dapat dikategorikan sebagai berikut:
1. Jumlah populasi dalam suatu kota, propinsi atau negara. Dilihat secara
keseluruhan, tingkat pertumbuhan penduduk dunia yang cukup tinggi
menyebabkan 2 hal kesulitan antara lain:
Pertama, faktanya bahwa sumber
daya alam yang mencukupi kehidupan manusia (bahan bakar, makanan,
mineral) kian menipis dan beberapa dari sumber daya tersebut lebih susah
didapatkan. Kedua, tingkat pertumbuhan populasi di negara berkembangan
sangat tinggi dibandingkan dengan negara maju. Dibanding dari tingkat
pertumbuhan penduduk dengan tingkat kematian penduduk yang berkurang
karena adanya kemajuan teknologi dalam bidang pengobatan, maka
penurunan tingkat kesejahteraan penduduk di negara berkembang sangat
terancam. Meledaknya tingkat pertumbuhan penduduk juga membawa
dampak bagi dunia industri, pertumbuhan penduduk bukan berarti sesuai
dengan pertumbuhan pasar jika para penduduknya tidak memiliki daya beli
yang baik.
11
2. Rata - rata umur dari penduduk dan perbedaan suku antar area, kota atau
negara tersebut. Umur penduduk menentukan tingkat produktivitasnya dan
tingkat konsumsi penduduk pada daerah tersebut. Semakin tinggi tingkat
produktifitas penduduk maka semakin baik daya beli penduduk pada daerah
tersebut. Sedangkan perbedaan suku disuatu negara membawa pada tingkat
perbedaan kebiasaan hidup yang berbeda. Penduduk yang mayoritasnya kulit
putih (Amerika) memiliki perbedaan konsumsi pangan dengan penduduk kulit
kuning (China), juga masih banyak perbedaan lainnya: perbedaan dari
cara/kebiasaan mereka berbelanja, bahasa komunikasi yang mereka gunakan,
agama yang mereka anut dan budaya yang sudah lama terbentuk di
lingkungan mereka.
3. Jenjang pendidikan masyarakat. Banyak negara yang sudah menyadari bahwa
tingkat pertumbuhan ekonominya tidak hanya ditentukan oleh kekayaan
alamnya saja tapi faktor yang terpenting adalah sisi sumberdaya manunsia,
sehingga untuk dapat bersaing di pasar internasional masyarakat memerlukan
tingkat pendidikan yang tinggi dan kerja praktek. Jenjang pendidikan suatu
masyarakat dan banyaknya jumlah fasilitas pendidikan pada suatu daerah
menentukan tingkat permintaan atas buku yang berkualitas, majalah atau
tingkat perjalanan (travel).
4. Pola kehidupan masyarakat. Keluarga tradisional biasanya lebih memilih
tinggal dirumah dan hidup di daerah pinggir kota, sedangkan diperkotaan
yang mayoritasnya penduduknya sudah modern lebih memilih untuk tinggal
di apartemen. Pola kehidupan keluarga modern ini mempengaruhi dalam hal
12
cara berbelanja. Mereka lebih menginginkan barang – barang rumah tangga
yang praktis dan ukurannya kecil.
5. Faktor perpindahan penduduk. Perpindahan penduduk yang cukup tinggi
menciptakan suatu permintaan kearah SOHO (Small Office – Home Office).
Produsen furniture (Ready To Assembly) menangkap suatu kesempatan bisnis
bahwa perusahaan besar akan menbuat kantor kecilnya di daerah pinggir kota
dan menghubungkannya dengan kantor pusat.
2.2.1.2 Lingkungan Ekonomi
Pasar memerlukan atau berkaitan erat dengan daya beli konsumen. Daya beli
konsumen pada lingkungan ekonomi ini sangat tergantung pada pendapatan
perkapita, harga produk, tabungan, pinjaman dan tingkat pinjaman yang tersedia.
Kondisi dilingkungan ekonomi ini dikategorikan menjadi dua bagian yaitu:
1. Distribusi pendapatan.
Distribusi pendapatan masyarakat pada suatu daerah sangat mempengaruhi
pada klasifikasi atau segmentasi pasar yang ada. Bila daerah tersebut banyak
terdapat segmen masyarakat segmen atas, maka produk yang banyak terjual
adalah produk yang memiliki kualitas yang baik dan mahal harganya.
Sedangkan pada tingkat menengah para produsen harus mampu menciptakan
inovasi baru pada produknya agar dapat bertahan dipasar, karena masyarakat
tingkat menengah ini lebih berhati – hati dalam membelanjakan uangnya dan
lebih memilih berdasarkan harga yang terjangkau. Pemasar pada umumnya
13
membagi tingkat distribusi pendapatan penduduk dalam suatu negara menjadi
5 yaitu:
•
Pendapatan penduduk yang sangat rendah.
•
Pendapatan penduduk yang kebanyakan rendah.
•
Pendapatan penduduk yang sangat rendah dan sangat tinggi.
•
Pendapatan penduduk yang rendah, menengah dan tinggi.
•
Pendapatan penduduk yang kebanyakan menengah.
2. Tabungan, hutang dan ketersedian pinjaman.
Tabungan, hutang dan ketersediaan pinjaman suatu daerah berpengaruh
terhadap tingkat daya beli konsumen. Ketentuan bunga pinjaman sangat
berpengaruh besar pada sisi industri pada suatu negara. Dengan bunga
pinjaman yang kecil, negara itu dapat bertumbuh dengan cepat pada sektor
industrinya. Pemasar pada point ini harus sangat memperhatikan pada
perubahan pendapatan penduduk, biaya hidup, bunga pinjaman, tabungan,
dan pola belanja masyarakat yang sangat membawa dampak besar pada bisnis,
terutama bagi perusahaan yang membuat produk untuk masyarakat kelas atas
dan menghargai kepekaan pelanggan.
2.2.1.3 Lingkungan Alam
Yang berkaitan dengan kondisi ini adalah perhatian utama secara global
terhadap perubahan lingkungan. Issue utama mengenai lingkungan ini adalah efek
global rumah kaca yang berdampak bagi seluruh dunia. Peraturan lingkungan hidup
14
menghatam dunia industri cukup parah, banyak yang merugi jutaan dollar untuk
biaya peralatan yang tidak merusak lingkungan. Masalah yang dihadapi yang
berkenaan dengan lingkungan alam ini adalah: berkurangnya bahan baku untuk
membuat produk sehingga terjadinya kenaikan harga, peningkatan biaya yang
berkaitan dengan energi contohnya kenaikan harga bahan bakar, meningkatnya level
polusi udara, peraturan pemerintah mengenai tingkat pencemaran lingkungan. Tapi
masalah diatas tetap ada sisi positifnya yaitu membuka peluang baru bagi industri
untuk memodifikasi produknya yang ramah lingkungan.
2.2.1.4 Lingkungan Teknologi
Pada era ini, teknologi sudah menjadi salah satu kebutuhan bagi konsumen,
secara disadari maupun tidak. Walaupun demikian halnya teknologi tetap membawa 2
dampak yang bertolak belakang pada sektor industri maupun masyarakat dunia.
Biasanya teknologi baru akan berdampak negatif pada teknologi yang sudah ada
sehingga industri yang bergerak dibidang tersebut akan tutup atau bangkrut. Dari sisi
pemasaran yang perlu diperhatikan adalah:
1. Kecepatan perubahan
Munculnya ide – ide baru membawa perubahan serta kemudahan pada
masyarakat umumnya. Dengan teknologi komunikasi yang canggih, jarak
dan waktu sudah bukan menjadi sumber hambatan atau ancaman bagi
dunia bisnis. Tetapi dengan terjadinya perubahan tersebut tetap ada
konsekuensinya yang harus ditamggung perusahaan yaitu pada biaya
15
inventasi yang tinggi dan faktor resiko yang cukup besar.
Dampak
selanjutnya bagi perusahaan adalah bila investasi yang dilakukan untuk
mengimplementasikan teknologi baru tersebut tidak sesuai dengan harapan
masyarakat maka akan terjadi ketidakpastian pada pasar. Sehingga dampak
yang terjadi adalah pengeluaran tambahan untuk biaya research dan
perubahan
strategi
pemasaran
secara
drastis
untuk
mendapatkan
kepercayaan pasar.
2. Kesempatan yang tidak terbatas untuk membuat inovasi baru.
Ilmuan pada masa kini bergelut dengan peciptaan teknologi yang
berdampak pada revolusi produk dan proses produksi. Bagi sisi pemasaran,
hal ini akan membawa banyak perubahan yang membawa kemudahan bagi
konsumen dalam hal kebiasaan mereka berbelanja. Contohnya kartu kredit
yang membawa kemudahan bagi konsumen dalam hal pembayaran.
3. Berbagai macam tambahan budget untuk pengembangan produk.
Banyak perusahaan yang berinventasi pada pengembangan produk
perusahaan pesaing dengan menambahkan sedikit fungsi ketimbang
produknya sendiri. Ini mengakibatkan membengkaknya dana yang
disediakan untuk penelitian pengembangan.
4. Bertambahnya peraturan mengenai perubahan teknologi
Dengan bertambahnya tingkat kompleksitas dari suatu produk membuat
pasar atau konsumen menjadi makin meragukan produk tersebut. Sehingga
peremintah turut campur dalam menanggani kasus tersebut serta
mengambil tindakan untuk produk yang tidak cukup tingkat keamanannya.
16
2.2.1.5 Lingkungan Politik dan Hukum
Lingkungan ini berkaitan erat dengan organisasi pemerintahan, peraturan
pemerintah, hukum yang berlaku dan pengaruh yang besar dari organisasi atau
kelompok tertentu terhadap masyarakat (Kotler, 2003, p174). Terkadang peraturan
yang dibuat pemerintah mendatangkan suatu kondisi yang menguntungkan bagi
perusahaan. Sebagai contoh peraturan pemerintah yang mengharuskan produk
tertentu (Streoffoam) harus di daur ulang. Kondisi ini memberikan kesempatan yang
terbuka bagi perusahaan menciptakan suatu produk baru yang berasal dari bahan yang
bisa di daur ulang.
1. Perundangan yang meregulasi bisnis.
Regulasi bisnis yang dikeluarkan oleh pemerintah mempunyai suatu nilai
positif
untuk
menjaga
adanya
kepentingan
bisnis
agar
tidak
disalahgunakan. Tujuan dirumuskannya regulasi bisnis di bagi menjadi tiga
yaitu:
•
Untuk melindungi perusahaan dari persaingan yang tidak layak.
•
Untuk melindungi konsumen dari perlakuan yang tidak layak oleh
pelaku bisnis.
•
Untuk melindungi kepentingan sosial masyarakat dari perilaku bisnis
yang tidak terkendali.
Adapun tujuan utama dari terbentuk perundangan bisnis adalah: akan
membebankan biaya sosial terhadap bisnis yang tercipta oleh proses produksi
17
atau dari produk mereka. Masalah utama yang dihadapi mengenai
perundangan bisnis ini yaitu di titik mana biaya dari regulasi tersebut
melampaui manfaatnya?
Meskipun peraturan baru dibuat berdasarkan
pemikiran yang sah untuk menjaga kepentingan bisnis, tapi tetap saja terdapat
efek yang tidak diharapkan dari peraturan tersebut yang melemahkan atau
memperlambat kemajuan bisnis.
2. Pertumbuhan dari organisasi khusus
Jumlah dan kekuatan dari organisasi khusus ini meningkat dengan pesat
dalam tiga dekade ini. Komite politik mengambil tindakan dalam mendekati
pejabat pemerintahan guna menekan para pelaku bisnis untuk lebih
memperhatikan hak konsumen, hak wanita, hak penduduk senior, hak
kelompok kecil dan hak kelompok tertentu. Banyak perusahan memiliki
departemen khusus yang berkaitan dengan penanganan urusan publik.
Kekuatan penting lainnya yang mempengaruhi bisnis adalah kelompok
pergerakan konsumen yang di organisir oleh masyarakat dan pemerintah
dalam menjaga hak dan kekuatan dari pembeli terhadap produsen.
2.2.1.6 Lingkungan Sosial - Budaya
Lingkungan ini terbentuk dari pandangan masyarakat sehingga tercipta suatu
tingkat kepercayaan masyarakat, golongan atau individual terhadap nilai dan norma
kemasyarakatan. Masyarakat menyerap suatu gambaran global mengenai pandangan
18
mereka terhadap diri sendiri, sesama atau individual lain, organisasi, masyarakat
sekitar, lingkungan dan alam semesta (Kotler, 2003, p175).
1. Pandangan terhadap diri mereka sendiri.
Masyarakat melakukan penekanan atas kepuasan diri mereka. Pada saat ini,
masyarakat lebih mendaopsi perilaku dan ambisi yang konservatif. Pemasar
harus lebih mengenali bahwa terdapat beberapa kelompok dengan beberapa
cara pandang terhadap diri mereka yang berbeda satu dengan lainnya.
2. Pandangan terhadap orang lain.
Masyarakat lebih menaruh perhatiannya terhadap masalah – masalah sosial
seperti: gelandangan, tindak kejahatan dan korbannya, mereka lebih
menginginkan hidup dalam keadaan yang lebih tentram. Pada saat yang
bersamaan itu pula mereka mencari orang lain yang setara dengan mereka
dan menghindari orang asing. Trend ini meramalkan pada pertumbuhan pasar
yang terkait dengan produk pendukung atau jasa yang lebih bersifat sosial
yang mempromosikan hubungan langsung antar manusia seperti klub
kebugaran, penjelajahan, kegiatan keagamaan. Mereka juga menyarankan
sesuai dengan pertumbuhan pasar memperbolehkan produk pengganti sosial
seperti televisi, pemainan video dan chat room pada internet dapat membantu
individu yang tersisih merasakan mereka tidak demikian.
3. Pandangan terhadap masyarakat
Berbagai macam perilaku manusia didalam masyarakat yang mencerminkan
pola konsumsinya, yang terdiri dari 6 kategori yaitu: preserver (lebih suka
bertahan terhadap sesuatu), makers (lebih suka menjalaninya), takers (lebih
19
suka mengambil kesempatan atau menyermpet resiko untuk mendapatkan
sesuatu) , changers (lebih suka mengubah sesuatu) , seekers (lebih suka
menyelidiki masalah lebih dalam), escapers (lebih suka lari dari masalah).
Pola konsumsi merekaberbeda satu dengan yang lain, makers mempunyai
perilaku untuk berusaha mendapatkan yang lebih baik bagi hidupnya, changer
memiliki perilaku hidup yang lebih sederhana dan yang terakhir adalah
escapers dan seekers yang merupakan mayoritas untuk market karena mereka
suka gaya hidup yang mengikuti trend contoh, film, musik, berselancar dan
kemping.
4. Pandangan terhadap lingkungan alam
Perilaku masyarakat terhadap alam, perilaku ini dikategorikan menjadi 3
bagian yaitu: sebagian merasa dapat menaklukan, sebagaian merasakan
keselarasan, sebagian merasa masih menjadi suatu misteri mengneai keadaan
alam tersebut.
5. Pandangan terhadap alam semesta
Kepercayaan masyarakat terhadap keaslian alam semesta dan pengaturannya.
Hal ini berkaitan erat dengan kepercayaan yang mereka anut.
2.2.2 Lingkungan Mikro
Seorang teman atau kerabat dapat memberikan nasehat kepada keluarga
mengenai jenis furniture yang hendak dibeli. Perusahaan perlu mengidentifikasi peran
ini karena peranan ini mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perancangan
20
produk, penentuan pesan, dan pengalokasian anggaran promosi. Dengan mengetahui
partisipan utama atau dikenal sebagai lingkungan mikro (pembeli, pesaing dan
saluran distribusi) serta perannya, akan membantu pemasar menyesuaikan program
pemasaran. Suami mungkin pula memilih. Istri mungkin pula mempunyai suatu
pendapat tertentu mengenai gaya/model furniture. Suami mungkin membuat
keputusan akhir dengan persetujuan istri. Istri mungkin lebih sering menggunakan
furniture itu dari pada suami. Jika suami memutuskan untuk membeli furniture, maka
perusahaan furniture akan mengarahkan sebagian besar iklannya untuk mencapai
suami.
Perusahaan
furniture
dapat
merancang
kesadaran
tertentu
untuk
menyenangkan istri dan menempatkan sebagian iklan dalam media yang mencapai
istri.
1. Pembeli (Buyer). Pembeli memiliki makna yang sangat luas,
mencakup
individual konsumen yang membeli produk atau jasa yang mereka gunakan
untuk kepentingan sendiri (end-user) maupun organisasi yang menggunakan
produk
atau
jasa
tersebut
untuk
kepentingan
bisnis
(Konsumen/Organization). Adapun definisi dari pembeli (buyer) adalah
seseorang yang ingin memenuhi kebutuhannya. Dan merupakan kewajiban
bagi perusahaan untuk melayani dan memberikan suatu keuntungan bagi
mereka dan bagi perusahaan. (Kotler, 2003, p 75).
2. Pesaing. Persaingan yang ketat pada saat ini merupakan suatu faktor yang
perlu diperhatikan oleh perusahaan. Persaingan timbul bukan hanya dilihat
dari satu segi saja, contohnya harga, tapi juga model, ketahanan, bentuk,
ataupun hadiah / kemudahan yang ditawarkan oleh produk yang sejenis, tapi
21
juga bisa melibatkan produk pengganti yang diproduksi oleh perusahaan lain.
Berikut definisi pesaing adalah perusahaan atau individu yang memenuhi
kebutuhan konsumen yang sama. (Kotler, 2003, p 247).
3. Distribusi. Dalam bidang pemasaran, saluran distribusi merupakan suatu
kunci penting dalam penyampaian informasi produk terhadap konsumen.
Perusahaan manunfaktur biasanya menggunakan jasa atau sumber daya
organisasi/ individual lain (External) yang mereka rasakan lebih effektif dan
cepat daripada mereka harus membangunnya sendiri. Pertimbangan lain
adalah manufaktur lebih dapat focus pada pembuatan dan pengembangan
produknya sehingga dapat bersaing di pasaran. Jadi definisi dari distribusi
mernurut sisi pemasaran adalah merupakan bagian yang saling terintegrasi
dari suatu organisasi atau perusahaan menyangkut proses penyediaan
informasi maupun produk itu sendiri atau jasa untuk digunakan atau
dikonsumsi oleh para konsumen/pembeli. (Kotler, 2003, p 505). Ada 3
kategori dari saluran distribusi ini yang saling terkait atau saling tidak terkait
yaitu:
1. Merchant Middlemen, atau disebut pemegang / penjual merek produk
(hanya satu merek produk) dapat berupa distributor resmi, bengkel resmi,
dan lainnya.
2. Agent Middlemen, perusahaan atau organsasi yang hanya mewakili
perusahaan manufaktur (brokers) dan individu atau perorangan (agents)
yang langsung berhadapan dengan konsumen, kedua tidak terikat oleh
satu merek produk.
22
3. Facilitators, perusahaan yang berperan sebagai penyedia barang atau jasa
juga tidak terikat oleh satu merek produk, yang tidak melakukan proses
penjualan atau negosiasi dengan konsumen. Contohnya: perusahaan
logistik atau pergudangan, bank, perusahaan periklanan.
2.3
Perilaku Konsumen Individu
Proses pengambilan keputusan pembelian menekankan bahwa proses
pembelian bermula jauh sebelum pembelian sesungguhnya dan berakibat jauh setelah
pembelian. Ini mendorong pemasar untuk lebih memusatkan perhatian pada
keseluruhan proses pembelian, bukan hanya mencurahkan perhatiannya pada
keputusan pembelian. Dapat dikatakan definisi dari perilaku konsumen adalah proses
waktu dan tingkatan usaha yang dilalui oleh konsumen dalam menentukan keputusan
pembelian tertentu tergantung dari pentingnya keinginan membeli suatu produk atau
jasa. (Boone & Kurtz, 1999, p 285).
High Involment
Significant Differences
Between Brand
Few Differences
Between Brand
Low Involment
Complex Buying
Behaviour
Variety-Seeking Buying
Behaviour
Dissonance – Reducing
Buying Behaviour
Habitual Buying
Behaviour
Gambar 2.1. Four Types of Buying Behaviour
23
Konsumen selalu akan mengidentifikasikan kebutuhan atau masalah yang
mereka hadapi dan pada umumnya mereka rela menyediakan waktu dan tenaga lebih
untuk mengambil keputusan pembelian suatu produk atau jasa sesuai dengan semakin
tingginya nilai produk tersebut (complex buying behaviour). Para konsumen akan
mencari dan mengevaluasi atau membandingkan beberapa produk yang sejenis
sebelum mereka mengambil keputusan. Selanjutnya mereka akan melakukan
transaksi pembelian dan mengevaluasi apakah mereka telah mengambil keputusan
yang tepat. Sangatlah penting peranan dan keterlibatan pemasar dalam mengarahkan
para konsumen melalui proses pengambilan keputusan pembelian suatu produk yang
spesifik. (Boone & Kurtz, 1999, p 285). Tahap-tahap dalam proses keputusan
pembelian dapat terbagi atas 5 tahap yaitu pengenalan masalah (Problem
Recognition), Pencarian Informasi (Information Search), Evaluasi Alternatif
(Evaluation of Alternatives), Keputusan Pembelian (Purchase Decision) dan Perilaku
Purna Pembelian (Postpurchase Behavior).
Problem
Recognition
Information
Search
Evaluation of
Alternatives
Purchase
Decision
Postpurchase
Behavior
Gambar 2.2. Five Stage Model of the Consumer Buying Process
2.3.1 Kebutuhan atau Pengenalan Masalah
Proses pembelian dimulai dengan pembelian mengenali suatu masalah atau
kebutuhan. Pembeli memberikan pandangan yang berbeda antara keadaannya yang
24
sesungguhnya dan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan pembeli dapat tercipta
oleh rangsangan dari alam atau dari luar. Kebutuhan moral manusia seperti rasa lapar
dan haus meningkat sampai satu tingkat tertentu dan menjadi suaru dorongan. Dari
pengalaman sebelumnya, pembeli ini telah belajar bagaimana cara mengatasi
dorongan ini dan imotivasi ke arah suatu kelompok objek yang ia tahu akan
memuaskan dorongan tersebut.
Langkah pertama dalam mengambil keputusan pembelian adalah perbedaan
situasi awal dengan situasi yang menciptakan kebutuhan. Setelah masalah
terindentifikasi, konsumen akan melakukan suatu persiapan untuk mencari
pemecahaannya. Setelah masalah teridentifikasi oleh konsumen maka mereka akan
termotivasi untuk mencapai cara memenuhi kebutuhan tersebut. Penyebab lainnya
adalah konsumen biasanya tidak merasa pernah puas dengan merek produk atau jenis
produk yang ada. Tingkat kebosanan mereka terhadap produk yang dimiliki sangat
tinggi, keinginan untuk berganti produk mengarah kepada pembelian produk baru
(Boone & Kurtz, 1999, p 285). Efek yang tidak kalah pentingnya adalah keadaan
status finasial. Peningkatan pendapatan mereka akan memberikan keleluasan
membeli produk yang mereka inginkan yang lama tertunda (Boone & Kurtz, 1999, p
285).
2.3.2 Pencarian informasi
Seorang konsumen yang telah dirangsang kebutuhannya itu dapat atau tidak
dapat mencari informasi lebih lanjut. Jika dorongan konsumen itu kuat dan objek
25
pemuas kebutuhan yang telah ditentukan dengan baik itu berada di dekatnya,
sangatlah mungkin konsumen akan membelinya. Jika tidak, maka kebutuhan
konsumen ini hanya menjadi ingatan belaka. Konsumen mungkin tidak melakukan
pencarian lebih lanjut, sebagian melakukan pencarian lebih lanjut, atau sangat aktif
mencari informasi yang mendasari kebutuhan ini. Kebutuhan akan informasi akan
timbul dari keinginan membeli suatu produk (Kotler, 2003, p 204).
Dengan berbagai informasi yang terkumpul konsumen baru dapat melakukan
perbandingan tentang merek produk dan keunggulannya. Dalam hal ini tingkat
kebutuhan informasi dapat dikategorikan menjadi dua bagian yaitu:
1. Kondisi “heightened attention” yaitu kondisi dimana konsumen hanya
menerima informasi mengenai produk.
2. Kondisi selanjutnya adalah “active information search” yaitu kondisi dimana
konsumen lebih aktif dalam mengumpulkan informasi dan mempelajari
produk tersebut.
Inti yang penting bagi pemasar adalah sumber informasi utama yang akan
digunakan oleh konsumen dan tiap pengaruh terhadap keputusan pembelian
kemudian. Sumber informasi konsumen tergolong kedalam 4 kelompok, yaitu :
1. Sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, kenalan).
2. Sumber komersial (periklanan, tenaga penjual, pedagang, kemasan dan
pemeran).
3. Sumber publik (media massa, organisasi penilaian konsumen)
4. Sumber pengalaman (penanganan, pengujian, penggunaan produk).
26
2.3.3 Evaluasi Alternatif
Beberapa konsep yang mendasar mengenai yang dapat membantu para
pemasar dalam mengevaluasi pengambilan keputusan yang dilakukan para konsumen
antara lain:
Pertama, konsumen mencoba untuk memenuhi kebutuhannya. Kedua, konsumen
mencari manfaat dari produk yang ditawarkan. Dan yang terakhir, pandangan
konsumen mengenai suatu produk yang merupakan kumpulan dari attribut-attribut
yang memiliki banyak manfaat dalam memenuhi kebutuhannya. Kebanyakan
konsumen mempertimbangkan beberapa atribut produk sebelum mereka mengambil
keputusan dalam hal pembelian. Sisi pandang dari konsumen terhadap kumpulan dari
beberapa merek menciptakan suatu gambaran mengenai merek produk tersebut.
Merek yang telah tercipta pada benak konsumen mewakili berbagai pengalaman yang
akan digunakan sebagai bahan pertimbangan yang merupakan efek dari persepsi
konsumen terhadap pemilihan suatu produk, terhadap sisi penyimpangan maupun
keunggulan produk tersebut. (Kotler, 2003, p 206)
2.3.4 Pengambilan Keputusan
Saat berada pada kondisi mengevaluasi produk, ada dua faktor utama yang
mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan membeli suatu produk antara
lain, pengaruh dari perilaku orang lain yang terbagi menjadi dua hal yaitu: pandangan
27
negatif dari orang lain yang dapat megubah keputusan konsumen sehingga mengarah
kepada produk alternatif yang ada atau harapan dari orang lain menjadikan motivasi
bagi konsumen dalam mengkonsumsi produk tersebut.
Faktor
kedua
adalah
keadaan
yang
tidak
bisa
diantisipasi
dapat
mengakibatkan berkurangnya niat konsumen untuk membeli produk. Keputusan
konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau membatalkan pembelian sangat
dipengaruhi oleh resiko yang akan mereka terima, contohnya nilai uang, produk
atribut dan tingkat kepercayaan diri dari konsumen. Dalam melaksanakan niat untuk
membeli, konsumen membagi dalam 5 sub tahapan pengambilan keputusan (Kotler,
2003, p 207), yaitu: pemilihan merek (Brand Decision), pemilihan produsen (Vendor
Decision), pemilihan kualitas (Quality Decision), pemilihan waktu (Timing
Decision), pemilihan metode pembayaran (Payment – Method Decision).
Attitudes of
Others
Evaluation
of Alternatif
Purchase
Decision
Purchase
Intention
Unanticipated
Situational
Factors
Gambar 2.3. Steps Between Evaluation of Alternatives and Purchase Decision
2.3.5 Perilaku Pasca Konsumsi
Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami tingkat kepuasan atau
ketidak puasan. Konsumen juga akan terlibat dalam tindakan sesudah pembelian.
28
Yang menentukan puas atau tidaknya konsumen atas pembelian suatu produk adalah
terletak pada hubungan diantara harapan (expectations) konsumen dan prestasi yang
dirasakan dari produk. Jika kurang dari harapan konsumen akan tidak puas. Tetapi
jika produk sesuai dengan harapan, maka dapat dikatakan konsumen tersebut puas.
Jika melebihi harapan, konsumen akan sangat puas. Konsumen mendasarkan
harapannya atas pesan yang mereka terima dari penjual, teman atau sumber informasi
lainnya. Jika penjual melebih-lebihkan prestasi produknya konsumen akan
mengalami harapan yang tidak pasti (Disconfirmed Exectations) yang akan
menimbulkan ketidakpuasan. Semakin lebar jurang antara harapan dengan prestasi,
maka semakin tinggilah ketidakpuasan konsumen. Konsumen yang tidak puas
memberikan tanggapan yang berbeda. Disini berperanlah gaya yang menguasai
konsumen. Sebagian konsumen memperlebar jurang tersebut bilamana produk itu
tidak sempurna dan mereka sangat tidak puas. Konsumen yang lainnya memperkecil
jurang tersebut dan mengurangi ketidakpuasannya. Mereka akan mencoba
mengurangi ketidaksesuaian dengan membuang atau mengembalikan produk atau
mereka dapat mencoba mengurangi ketidaksesuain itu dengan mencari informasi
yang dapat menguatkan.
Perilaku konsumen pasca konsumsi dapat didefinisikan sebagai pegalaman
yang konsumen dalam medapatkan tingkat kepuasan mereka. Tugas para marketing
tidak selesai hanya setelah produk tersebut terjual tapi harus juga memonitor
kepuasan yang di dapatkan, perilaku konsumen secara terkait dengan tingkat
kepuasan mereka setelah membeli dan perilaku konsumen dalam menggunakan
produk tersebut (Kotler, 2003, p 208).
29
2.4
Kepuasan Konsumen dan Elemen/Attribut Produk yang
Mempengaruhi
Kepuasan konsumen terhadap produk akan mempengaruhi perilaku
berikutnya. Seorang konsumen yang puas kemungkinannya lebih besar untuk
membeli produk tersebut pada waktu berikutnya dan akan menyampaikan hal-hal
yang baik mengenai produk itu kepada orang – orang lainnya.
Salah satu unsur penting pemasaran adalah perusahaan harus dapat
membangun pelayan pelanggan yang tidak hanya terbaik tapi juga menjadi legenda
(Sam Walton, 1997). Persaingan yang sangat ketat dalam industri menimbulkan suatu
dampak tersendiri bagi perusahaan, pelanggan dapat memilih dari beraneka ragam
produk atau jasa yang sesuai dengan standar kepuasan mereka. Dengan keadaan
sekarang konsumen semakin leluasan dalam
memilih yang tentunya hal ini
mengharuskan para produsen untuk berkompetisi dalam bentuk pembuatan produk
dengan kualitas yang baik dan yang dapat diterima pasar. “Tetapi tanpa pelanggan,
tak seorangpun dapat melakukan bisnis. Kita baru dapat berbisnis kalau mempunya
minimal satu pelanggan”. Dalam hal ini pelanggan merupakan stakeholder terpenting,
yang berarti kepuasan pelanggan merupakan hal yang tidak bisa ditawar – tawar lagi
(Handi Irawan, chairman Frontier Marketing & Research Consultant).
Konsumen Service merupakan salah satu bagian dari strategi pemasaran suatu
perusahaan, pemasar harus membantu memastikan konsumen perusahaan puas
supaya mereka terus menjadi konsumen setia perusahaan. Tingkat kepuasan
30
konsumen itu dapat diwakilkan dengan informasi yang diperoleh dari konsumen
mengenai attribut produk atau jasa yang dipasarkan sehingga tujuan atau arah
pengembangan produk menjadi lebih terfokus. Attribut produk yang menyangkut
tingkat kepuasan konsumen antara lain:
1. Feature: Manfaat yang dirasakan oleh konsumen yang dapat diberikan dari
produk tersebut.
2. Performance Quality: Tingkat kegunanan suatu produk yang harus dapat
memenuhi kebutuhan konsumen atau pemikiran konsumen.
3. Conformance Quanlity: Janji para pemasar yang sesuai dengan spesifikasi dan
daya guna produk.
4. Durability: Tingkat ketahanan atau kekuatan produk, umumnya berkaitan
dengan lamanya waktu dari penggunaan produk tersebut.
5. Reliability: Tingkat kehandalan suatu produk yang dapat dipercaya oleh
konsumen. Dengan kata lain juga dapat di artikan tingkat kepercayaan
konsumen dalam menggunakan produk tersebut.
6. Repairbility: Kemudahan reparasi. Konsumen lebih memilih produk yang
dapat diperbaiki dibandingkan dengan produk yang sekali pakai.
7. Style: Ciri dari produk atau selera konsumen. Setiap konsumen akan
menetapkan seleranya sesuai dengan lingkungan yang mereka memiliki.
8. Design: Bentuk produk yang juga menyangkut pada nilai ekonomis dna
keindahan.
31
Penentuan dari elemen/attribut produk merupakan suatu faktor yang
berpengaruh besar pada pengumpulan informasi / research mengenai pangsa pasar
yang akan diambil. Dalam hal ini perusahaan harus mengidentifikasikan dahulu
segmentasi pasar yang ada serta menentukan di pangsa pasar mana perusahaan
tersebut bergerak.
Semakin sempit setiap pangsa pasar didefinisikan, semakin akurat perusahaan
dapat mengenali kebutuhan dari setiap pangsa pasar dan memfokuskan diri pada
usaha marketing.
2.5
Kebijakan Pemasaran Dalam Menciptakan Manfaat bagi
Konsumen.
Marketing plan adalah satu set taktik yang spesifik, detail, orientasi pada aksi
dalam menangani strategi harga, produk, promosi dan distribusi mana yang akan
diikuti oleh perusahaan untuk mengjangkau dan memuaskan keputusan target
pasarnya. Dalam merencanakan marketing plan, marketing mix harus direncanakan
secara matang untuk membentuk image dan persepsi yang baik:
1.
Product, strategi ini didasari oleh product positioning strategy, product
objective, branding strategy dan product management strategy dari elemenelemen rancangan ini, maka tercipta bagaimana produk final yang
diinginkan, sehingga produk dapat diposisikan untuk melawan para pesaing
pada pasar yang sama. Pemilihan produk merupakan keputusan mengenai
32
kategori, merek, model dan jangkauan harga. Pemilihan ini dipengaruhi oleh
kebutuhan konsumen, macam dan jenis produk kompetitor, ketersediaan
ruang dan peralatan serta kemampuan untuk menghasilkan laba. Pemilihan
macam dan jenis produk meliputi permasalahan luas (breadth) dan
kedalaman (depth). Luas meliputi jangkauan produk dari kategori, fitur,
tingkat harga, sedangkan kedalaman meliputi jumlah baik warna dan ukuran
untuk tiap item. Dalam industri furniture sebagai pelengkap rumah bagi
konsumen, ada banyak atribut yang ditawarkan dari strategi produk ini,
seperti: bentuk, kualitas, volume dari atribut ini maka dapat diambil salah
satu yang sebagai unggulan produk untuk dapat diposisikan ke benak
konsumen.
2.
Place, produk furniture ini memiliki segmen pasar yang luas, bisa dikatakan
hampir semua lapisan menengah ke bawah dan range umur konsumen yang
mengkonsumsinya, maka dengan distribusi yang pas dapat menjangkau ke
pelosok-pelosok daerah dan lebih mudah didapat, dapat menciptakan brand
awareness.
3. Pricing, tiap tempat penjualan seperti : galeri, outlet, toko dan lain-lain yang
mempunyai 2 (dua) jenis penetapan harga seperti: high-markup, lower
volume group atau low-markup, higher volume group. Beberapa strategi
harga dan yang sering dipakai adalah diskon (potongan harga). Harga pada
furniture ini mempunyai range yang besar dalam arti harga yang ditawarkan
untuk tiap produk relatif berbeda, jika dijual pada tempat yang sama namun
33
akan beda kondisinya jika dibandingkan antara penjualan di toko dengan
outlet pamrean atau galeri.
4. Promotion, kegiatan promosi yang dilakukan yaitu dengan periklanan melalui
brosur, serta perusahaan juga sebagai promotor dari berbagai acara/ event.
Pembagian pangsa pasar / submarket yang lebih sempit dapat menghasilkan
suatu informasi yang akurat bagi perusahaan membantu kegiatan promosi yang akan
dilakukan yang didasarkan pada karakteristik sebagai berikut:
1. Lokasi geografis pelaku pasar
2. Variabel lainnya seperti: umur, jenis kelamin, status perkawinan, komposisi
keluarga,
tingkat
pendapatan,
level
pendidikan,
pekerjaan
dan
kewarganegaraan.
3. Tipe pelanggan berdasarkan produk tertentu seperti: manfaat yang didapat dan
metode pembelian yang dipilih.
2.6
Indikator Kinerja Pemasaran
Teori market share digunakan untuk mengukur keefektifan dan keefisienan
strategi marketing mix yang dilaksanakan oleh perusahaan. Dasar pemikiran daripada
teori market share ini adalah total pengeluaran marketing effort perusahaan
seharusnya sebanding dengan total pengeluaran industri tersebut. Apabila perusahaan
mengeluarkan 50% dari total pengeluaran industri, maka seharusnya market share
perusahaan adalah 50%.
34
Marketing effort, untuk tujuan teori market share, diukur dengan jumlah uang yang
dikeluarkan dalam marketing budget, termasuk di dalamnya budget untuk promosi,
iklan, tenaga penjual, kualitas produk, pelatihan konsumen, servis dan channel
support.
Tetapi kemungkinan terjadi persentase pengeluaran marketing effort
perusahaan tidak sebanding dengan market share sebenarnya. Hal tersebut
disebabkan karena iklan yang diluncurkan perusahaan tidak seefektif rata-rata iklan
perusahaan lain di dalam industri tersebut. Walaupun keefektifan marketing
kebanyakan diukur dari faktor periklanan, tetapi keseluruhan faktor marketing mix
dan keefektifan setiap faktor-faktor tersebut juga tidak bisa diabaikan.
Framework
tersebut
juga
dapat
dikembangkan
berdasarkan
letak
geografisnya, efek dari marketing effort sebelumnya dan tingkat elastisitas harga
industri tersebut.
2.7 Dampak Komponen Marketing Yang Berlawanan Pada
Indikator Pemasaran
Beberapa hal pokok mengenai dampak unsur marketing mix yang berlainan
pada market share diuraikan oleh (Buzzell dan Wiersema, hal 135-144). Mereka
menyusun itu didasarkan atas PIMS (Profit Impact of Management Strategies).
Perusahaan yang meraih tambahan market share yang tinggi pada umumnya mampu
mengalahkan para pesaingnya dalam tiga bidang: produk baru, kualitas produk dan
biaya pemasaran:
35
1. Pada umumnya perusahaan-perusahaan yang berhasil menaikkan market
sharenya mengembangkan dan menambah produk baru yang lebih banyak
dalam lininya.
2. Dibandingkan dengan perusahaan yang kualitas produknya tetap atau turun,
maka perusahaan yang selalu meningkatkan kualitas produknya bisa
menikmati kenaikan pangsa pasar yang lebih banyak.
3. Perusahaan dengan kenaikan pangsa pasar yang tinggi ialah perusahaan yang
laju biaya pemasarannya lebih cepat daripada laju pertumbuhan pasar.
Peningkatan biaya untuk tenaga penjual ternyata sangat efektif baik untuk
produk konsumsi maupun produk industri, Peningkatan pengeluaran untuk
iklan adalah lebih efektif terutama untuk produk konsumsi, sedangkan
promosi dapat efektif untuk segala jenis perusahaan dalam upayanya untuk
meningkatkan pangsa pasar.
4. Tidak seperti yang diperkirakan orang, perusahaan yang menurunkan harga
jualnya lebih banyak daripada pesaingnya, ternyata tidak banyak memperoleh
tambahan market share. Mungkin ini disebabkan oleh sebagian perusahaan
lain menawarkan penurunan harga juga atau menawarkan hal lain, sehingga
pembeli tidak banyak beralih ke produk yang turun harganya tersebut.
Penelitian diatas tidak menyelidiki lebih lanjut apakah tambahan pangsa pasar
tersebut sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan. Dalam penyusunan
marketing strategi, perlu diadakan penelitian untuk menganalisis keadaan pasar yang
terbaru. Dengan adanya penelitian tersebut, maka akan diketahui faktor-faktor
marketing mix apa saja yang perlu diubah ataupun dipertahankan untuk
36
meningkatkan market share GMK. Beberapa perusahaan mampu "membeli"
market share yanglebih besar, namun yang menjadi masalah adalah apakah hal itu
menghasilkan laba yang lebih besar pula, cepat ataupun lambat.
2.8
Hipotesis Penelitian
Metode statistik inferensial non parametris adalah teknik yang digunakan untuk
menganalisa data sampel dan hasilnya diberlakukan untuk populasi. Statistik diatas
disebut juga sebagai statistik probabilitas karena kesimpulan yang diberlakukan untuk
populasi berdasarkan data sampel itu kebenarannya bersifat peluang. Statistik ini
cocok digunakan bila sampel diambil dari populasi yang jelas dan teknik
pengambilan sampel dari populasi itu dilakukan secara random (Sugiyono, 2001).
Suatu kesimpulan dari kebenaran data sampel itu yang diberlakukan untuk
populasi mempunyai peluang kesalahan dan kebenaran (kepercayaan) yang
dinyatakan dalam bentuk prosentase. Bila peluang kesalahan 5% maka taraf
kepercayaan 95%, sedangkan bila kesalahan 1% maka taraf kepercayaan 99%.
Peluang kesalahan dan kepercayaan disebut sebagai taraf signifikansi yaitu
kemampuan untuk mengeneralisasi tingkat kesalahan tertentu. Pengujian taraf
signifikasi dari hasil analisis akan lebih praktis bila didasarkan pada tabel sesuai
dengan teknik analisis yang digunakan (Sugiyono, 2001). Bentuk hipotesis yang
digunakan adalah hipotesis asosiatif / korelasi (hubungan) yang mana akan disoroti
dua aspek untuk menganalisis korelasi, apakah data sampel yang ada menyediakan
bukti cukup bahwa ada kaitan antara variabel- variabel dalam populasi asal sample.
37
H01 = Sikap kelompok konsumen yang berpenghasilan tinggi dalam menghadapi
kondisi tidak tersedianya furniture pilihan mereka (out of stock) tidak berbeda
dengan sikap kelompok konsumen yang berpenghasilan rendah.
Ha1 = Sikap kelompok konsumen yang berpenghasilan tinggi dalam menghadapi
kondisi tidak tersedianya furniture pilihan mereka (out of stock) berbeda
dengan sikap kelompok konsumen yang berpenghasilan rendah.
H02 = Besarnya anggaran belanja furniture kelompok konsumen yang berpenghasilan
tinggi tidak berbeda dengan besarnya anggaran belanja furniture kelompok
konsumen yang berpenghasilan rendah.
Ha2 = Besarnya anggaran belanja furniture kelompok konsumen yang berpenghasilan
berbeda dengan besarnya anggaran belanja furniture kelompok konsumen
yang berpenghasilan rendah.
H02 = Jangka waktu pengantian furniture kelompok konsumen yang berpenghasilan
tinggi tidak berbeda dengan jangka waktu pengantian furniture furniture
kelompok konsumen yang berpenghasilan rendah.
Ha3 = Jangka waktu pengantian furniture kelompok konsumen yang berpenghasilan
tinggi berbeda dengan jangka waktu pengantian furniture furniture kelompok
konsumen yang berpenghasilan rendah.
Download