analisis kinerja portofolio reksa dana saham

advertisement
ANALISIS KINERJA PORTOFOLIO REKSA DANA SAHAM
(Pengaruh Siklus Ekonomi, Tingkat Risiko, Kebijakan Alokasi Aset dan
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham)
Disusun Oleh:
Desie Dian Febriani
105081002563
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1430 H/2009 M
i
PENGARUH PERUBAHAN KONDISI EKONOMI TERHADAP
KINERJA KEUANGAN DALAM BENTUK INTEGRASI RASIO
KEUANGAN MODEL ALTMAN (Suatu Studi Pada Sektor
Perbankan Periode 2004-2007)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk memenuhi Syarat-syarat untuk meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Siti Eros Rosidah
Nim: 105081002494
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr.Ahmad Rodoni,MM
NIP.150 317 955
Indoyama Nasarudin,SE.,MAB
NIP. 150 317 593
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1430H/2009M
ii
Hari ini Selasa Tanggal 9 Bulan Juni Tahun Dua Ribu Sembilan telah dilakukan
Ujian Komprehensif atas nama Siti Eros Rosidah NIM: 105081002494 dengan
judul PENGARUH PERUBAHAN KONDISI EKONOMI TERHADAP
KINERJA
KEUANGAN
DALAM
BENTUK
INTEGRASI
RASIO
KEUANGAN MODEL ALTMAN Suatu Studi Pada Sektor Perbankan
Periode 2004-2007. Memperhatikan penampilan mahasiswa tersebut selama
ujian berlangsung, maka skripsi ini sudah dapat diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Jurusan Manajemen Fakultas
Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jakarta, 9 Juni 2009
Tim Penguji Ujian Komprehensif
Arief Mufraini Lc, M.Si
Indoyama Nasarudin, SE.,MAB
Ketua
Sekretaris
Prof. Dr.Abdul Hamid, MS
Penguji Ahli
iii
PENGARUH PERUBAHAN KONDISI EKONOMI TERHADAP
KINERJA KEUANGAN DALAM BENTUK INTEGRASI RASIO
KEUANGAN MODEL ALTMAN (Suatu Studi Pada Sektor
Perbankan Periode 2004-2007)
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial
Untuk memenuhi Syarat-syarat untuk meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Siti Eros Rosidah
Nim: 105081002494
Di Bawah Bimbingan
Pembimbing I
Pembimbing II
Prof. Dr.Ahmad Rodoni,MM
NIP.150 317 955
Indoyama Nasarudin,SE.,MAB
NIP. 150 317 593
Prof. Dr.Abdul Hamid, MS
Penguji Ahli
JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1430H/2009M
iv
Daftar Riwayat Hidup
ƒ Data Pribadi
Nama
: Siti Eros Rosidah
Tempat, Tanggal Lahir
: Sukabumi, 9 Juni 1986
Jenis Kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Alamat
: Komp. PGA/MAN 4 Rt. 05/ 08 No.42 Pondok
Pinang Kebayoran Lama Jakarta Selatan 12310
No.Telpon
: (021) 27952044/ 085711197359
Email
: [email protected]
ƒ Pendidikan
2005-2009
: UIN Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial, Jurusan
Manajemen Keuangan.
2002-2005
: MAN 4 Model Jakarta
1999-2002
: MTS N 3 Pondok Pinang Jakarta
1993-1999
: SDN Lembur Sawah 1 Sukabumi
i
Abstract
The financial distress is the beginning of the financial bankruptcy. Many
models of the this case (the financial distress) is the bankruptcy data. We can get
it (the data) easy. This research is to see the financial performance of 76 emitens
before and during the rule of Susilo Bambang Yudhoyono in the sector of
conventional banking in Indonesia Stock Exchange.
The goal of this research are:1).To analyse the influence of fundamental
condition of the emitens in financial performance, 2).To analyse all the variable of
Altman’s models (WCTA,RETA,EBITTA,MVETL and STA) which can predict
the financial distress, 3).To categorize the bank which had been the financial
distress with the sample of 19 emitens (Ranking A&B). This research uses
discriminant analysis.
The output of the research show that:1).There is the influence of
fundamental condition in the emitens’s financial performance, 2).That the
EBITTA model (Earning Before Interest and taxes/Total Assets) can predict the
emitens’s bankruptcy, but the other variable in Altman model can not predict to
financial distress. Like WCTA, RETA, MVETL and STA 3).There is the
reduction of the emitens’s bankruptcy during the rule of Susilo Bambang
Yudhoyono.
Keywords: Economic Condition, Financial Performance, Financial Distress
ii
ABSTRAK
Kesulitan keuangan merupakan awal dari kebangkrutan. Banyak model
kesulitan keuangan yang mengandalkan data kebangkrutan yang mudah untuk
diperoleh. Penelitian ini melihat kinerja keuangan sebelum dan selama masa
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono pada sektor perbankan konvensional
di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan 76 perusahaan.
Tujuan penelitian ini adalah:1).Menganalisis pengaruh perubahan kondisi
ekonomi terhadp kinerja keuangan, 2).Menganalisis semua variabel model Altman
(WCTA,RETA,EBITTA,MVETL dan STA) dapat memprediksi kesulitan
keuangan, 3).Pengelompokan bank yang mengalami kondisi kesulitan keuangan
dengan 19 sampel perusahaan perbankan baik yang berkategori A&B. Metode
analisis data menggunakan analisis diskriminan.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa:1).Terdapat pengaruh kondisi
ekonomi terhadap kinerja keuangan, 2).Tidak semua variabel model
Altman(WCTA,RETA,EBITTA,MVETL dan STA) dapat memprediksi
kebangkrutan hanya EBITTA (Laba sebelum bunga dan pajak/Total Asset) saja
yang dapat memprediksi kebangkrutan, 3).Terdapat pengurangan jumlah bank
yang mengalami kebangkrutan selama pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono.
Kata kunci: Kondisi Ekonomi, Kinerja Keuangan, Kesulitan Keuangan.
iii
KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah Azza wajalla, Dzat yang kepadaNyalah kita
serahkan semua harapan dan amal, segala puji milik Allah SWT yang telah
mencurahkan
karunia
dan
kasih
sayangNya
sehingga
penyusun
dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul: Pengaruh Perubahan Kondisi Ekonomi
terhadap kinerja Keuangan model Altman suatu studi kasus pada sektor
perbankan tahun 2004-2007.
Shlawat dan salam semoga selalu tercurah kepada tauladan terbaik
Rasullah Muhammad SAW, keluarga, sahabat serta para pengikutnya hingg akhir
zaman.
Pada kesempatan ini saya sebagai penyususn ingin mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besaranya kepada orang-orang yang telah membantu
penyusunan dalam menyelesaikan skripsi ini baik secara langsung ataupun tidak
langsung. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan yang lebih baik,
terutama kepada:
1. Kedua orang tua tercinta Ayahanda Iim Ibrahim dan Ibu Nenden Hasanah
serta Ibu Hj. Rostika, SPd.( Orang yang paling aq sayangi) serta Kakak dan
adik-adiku yang telah memberi dukungan baik moril maupun materil
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Prof. Dr.Abdul Hamid,MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Ilmu
Sosial.
3. Bapak Prof.Dr.Ahmad Rodoni,MM selaku Pudek I bidang Akademik
sekaligus sebagai Pembimbing I yang banyak memberikan saran, petunjuk,
ilmu pengetahuan dan meluangkan waktunya sehingga terselesaikan skripsi
ini.
4. Bapak Indoyama Nasarudin,SE.,MAB selaku Ketua Jurusan Manajemen
sekaligus Pembimbing II yang selalu memberikan petunjuk yang cerdas,
meluangkan waktunya serta memberikan semangat ekstra dalam proses
peyususnan skripsi sehingga dapat terselesaikan.
iv
5. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial baik Staff Akademik &
Keuangan serta Staff Perpustakaan terima kasih atas segala bantuannya.
6. Teman-teman seperjuangan baik teman-teman yang komprehensif bareng,
maupun Uny, Shasa, Qq, Oca, Umy, K’ Iin dan Lutfah.
7. Untuk Teh Rizka, Teh Enggom, Bang Naspi Arsyad, Tina, Tamy dan tuk
Hikma makasih banyak ya, da bantuin ngeditin skrisi aq.
8. Teman-teman Manajemen Khususnya Keuangan B dan A, Manajemen C
(angkatan 2005) serta teman-teman Manajemen A,B,D dan E. Yang g bisa
aq sebutin satu persatu, terimakasih bwat supportnya.
Akhir kata penulis menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan
dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun
sangat kami harapkan agar bisa lebih baik. Semoga skripsi ini bermanfaat
khususnya bagi saya dan umumnya bagi semua pihak.
Jakarta, 17 Juli 2009
Penulis
v
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Daftar Isi
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah............................................................
B. Perumusan Masalah ..................................................................
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .................................................
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori..........................................................................
1. Lembaga Perbankan ............................................................
a. Pengertian Perbankan....................................................
b. Jenis-jenis perbankan ....................................................
2. Laporan Keuangan ..............................................................
3. Analisis Laporan Keuangan ................................................
a. Pengertian Laporan Keuangan ......................................
b. Tujuan Laporan Keuangan............................................
c. Teknik Analisis .............................................................
4. Kinerja Keuangan ...............................................................
a. Pengertian Kinerja Keuangan .......................................
b. Penilaian Kinerja...........................................................
5. Analisis Rasio .....................................................................
a. Pengertian Rasio Keuangan ..........................................
b. Macam-macam Rasio Keuangan...................................
c. Formula z score .............................................................
1) Rasio likuiditas........................................................
2) Rasio profitabilitas ..................................................
3) Rasio aktivitas .........................................................
6. Kebangkrutan ......................................................................
a. Pengertian Kebangkrutan ..............................................
b. Tahap- tahap berbagai indikator kebangkrutan. ...........
c. Analisis Prediksi Kebangkrutan....................................
d. Masalah dalam kebangkrutan. ......................................
7. Analisis Diskriminan...........................................................
a. Pengertian Analisis diskriminan ..................................
b. Langkah-langkah dalam analisis diskriminan..............
c. Tujuan dari analisis diskriminan ...................................
d. Asumsi penting yang harus dipenuhi dalan analisis
diskriminan....................................................................
e. Analisis Z score.............................................................
B. Penelitian Sebelumnya ..............................................................
C. Kerangka pemikiran ..................................................................
D. Hipotesis....................................................................................
vi
1
10
10
12
12
12
13
19
21
21
21
22
26
26
28
31
31
36
37
37
37
39
40
40
43
44
47
49
49
50
50
51
52
54
57
63
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Objek Penelitian .....................................................................
64
B. Teknik Pengumpulan Sampel ................................................
65
C. Teknik Pengumpulan Data .....................................................
65
D. Metode Analisis Data mengikuti langkah-langkah dalam analisis
diskriminan antara lain :
67
a. Merumuskan masalah....................................................
b. Mengestimasi koefisien fungsi diskriminan .................
68
c. Menentukan signifikansi fungsi diskriminan ...............
68
d. Menginterpretasikan hasil ............................................
69
e. Mengukur validitas analisis diskriminan. .....................
69
E. Operasional Variabel Pengukuran..........................................
70
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Objek Penelitian........................................
B. Kriteria Penentuan Kondisi Perusahaan .................................
C. Hasil dan Pembahasan............................................................
D. Interpretasi .............................................................................
74
80
86
97
BAB V. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
A. Kesimpulan.............................................................................
B. Implikasi .................................................................................
C. Keterbatasan Penelitian ..........................................................
D. Saran ......................................................................................
104
105
106
106
DAFTAR PUSTAKA
Lampiran
vii
DAFTAR TABEL
No.
Keterangan
Hal
2.1
Definisi Kebangkrutan/Kegagalan. ....................................................... 40
2.2
Alternatif perbaikan Kesulitan Keuangan............................................. 47
2.3
Persamaan dan Perdedaan antara Analisis Varian (Anova),
Analisis Regresi dan Diskriminan........................................................ 50
2.4
Kerangka Pemikiran............................................................................. 62
4.1
Perkembangan Besaran Moneter. ........................................................ 77
4.2
Laba/Rugi dari Tahun 2004-2007. ....................................................... 81
4.3
Penentuan Kondisi Model Altman. ...................................................... 84
4.4
Test of Equityof group means. ............................................................. 86
4.5
Variables Entered/Removed (a,b,c,d) .................................................. 87
4.6
Eigenuvalues. ....................................................................................... 88
4.7
Wilks Lambda ...................................................................................... 88
4.8
Function at groupCentroids.................................................................. 89
4.9
Pengelompokan Bank yang bangkrut dan tidak bangkrut.................... 90
4.10
Clasification functio Coeffisient. ......................................................... 91
4.11
Calsiffiation Result (b,c) ...................................................................... 93
viii
DAFTAR LAMPIRAN
No.
Keterangan
Hal
1.
Analysis Cose Processing Summary.................................................... 109
2.
Group Statistic...................................................................................... 109
3.
Variable in the Analysis....................................................................... 110
4.
Variabel not in the Analysis................................................................. 110
5.
Casewise Statistics ( Original). ............................................................ 111
6.
Casewise Statistics (Cros Validated). .................................................. 112
7.
Test of Equity of group Means. ........................................................... 114
8.
Variable Entered/Removed (a,b,c,d).................................................... 114
9.
Wilks’ Lamda....................................................................................... 115
10.
Eigenvalues. ......................................................................................... 115
11.
Standarized Cannonical Discriminant Funtion Coefficients................ 115
12.
Struktur Martrix. .................................................................................. 115
13.
Function at Group Centriods................................................................ 116
14.
Prior Probabilityes for groups. ............................................................. 116
15.
Calssification Function Coeffisient...................................................... 116
16.
Working Capital to Total Assets (WCTA). ......................................... 117
17.
Retairned Earning to Total Assets (RETA). ........................................ 120
18.
Earning before Interst&Tax to Total Assets (EBITTA). ..................... 121
19.
Market Value of Equity/book value of Total Liability (MVETL)...... . 122
20.
Sales to Total Assets (STA). ................................................................ 123
ix
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Laporan keuangan ditujukan untuk pihak eksternal perusahaan dalam
mengambil keputusan bisnis, terutama bagi investor dan kreditor menurut
Andriani Kusumaningrum (2003:68). Bagi pihak eksternal, informasi yang
terkandung dalam laporan keuangan digunakan untuk memenuhi berbagai
macam tujuan yang dapat diperoleh secara terbatas. Dikatakan terbatas karena
laporan keuangan ini tidak dapat mengungkap seluruh informasi yang
diinginkan pemakai sebab informasi keuangan merupakan barang ekonomis.
Semakin banyak jenis informasi yang dipandang bermanfaat, akan semakin
besar pula biaya untuk menyediakan informasi tersebut.
Menurut Mamduh dan Halim (2007:69) agar dapat dijadikan sebagai
salah satu alat pengambil keputusan yang andal dan bermanfaat, sebuah
laporan keuangan harus memiliki kandungan informasi yang bernilai bagi
investor. Informasi tersebut setidaknya memungkinkan mereka untuk
melakukan penilaian (valuation) saham yang mencerminkan hubungan antara
resiko dan hasil pengembalian yang sesuai dengan preferensi masing-masing
investor. Suatu laporan keuangan dikatakan memiliki kandungan informasi
apabila publikasi laporan keuangan tersebut menyebabkan reaksi pasar. Reaksi
pasar ini direfleksikan dengan adanya transaksi jual beli saham, yang berarti
juga akan mempengaruhi volume perdagangan saham dan harga saham
1
perusahaan. Disamping itu, informasi yang terkandung dalam laporan
keuangan banyak memberikan manfaat bagi pengguna apabila laporan
tersebut dianalisis lebih lanjut sebelum dimanfaatkan sebagai alat bantu
pembuatan keputusan. Dari laporan keuangan perusahaan dapat diperoleh
informasi tentang kinerja (performance), aliran kas perusahaan, dan informasi
lain yang berkaitan dengan laporan keuangan. Satu hal yang sangat penting
untuk digarisbawahi adalah bahwa informasi yang diungkapkan dalam laporan
keuangan dapat menunjukkan seberapa besar nilai perusahaan (firm value).
Dalam penelitian ini nilai perusahaan direfleksikan dengan harga saham
dikalikan dengan jumlah saham yang beredar (atau disebut nilai pasar saham).
Perekonomian Indonesia saat ini mengalami perubahan yang sangat
signifikan, terutama pada saat munculnya krisis ekonomi. Seiring dengan
pergantian kekuasaan pemerintah, maka kebijakan-kebijakan barupun
dihasilkan, khususnya kebijakan dibidang ekonomi yang memberikan
pengaruh penting bagi perekonomian Indonesia. Salah satu contoh kelebihan
tersebut adalah kebijakan melikuidasi sejumlah bank yang kinerja
keuangannya dianggap kurang baik. Sedangkan menurut Ryan Ariafinanda
(2006:1) salah satu dampak dari krisis moneter adalah kolepsnya sejumlah
bank karena tidak mampu mempertahankan going concernya. Bank-bank
tersebut kemudian dilikuidasi oleh pemerintah. Ketidakmampuan atau
kegagalan bank-bank tersebut dapat disebabkan oleh dua hal, pertama
kegagalan ekonomi. Kedua kegagalan keuangan. Kegagalan ekonomi
berkaitan dengan ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran.
2
Selain itu, kegagalan ekonomin juga bisa disebabkan oleh biaya modal
perusahaan yang lebih besar dari tingkat laba atas biaya historis investasi.
Permasalahan bank di Indonesia menurut Ryan Ariafinanda (2006:2)
sangat komplek antara lain disebabkan oleh depresiasi rupiah yang sangat
tajam, peningkatan suku bunga SBI sehingga menyebabkan suku bunga
perbankan tinggi yang pada akhirnya meningkatkan jumlah kredit yang
bermasalah. Lemahnya kondisi internal bank antara lain kualitas manajemen
yang tidak memadai, pemberian kredit pada group atau kelompok usaha
sendiri, dan rendahnya modal untuk menyerap berbagai resiko kerugian
merupakan masalah-masalah mendasar yang sering dihadapi oleh dunia
perbankan yang sangat komplek tersebut, beberapa bank dapat bertahan hidup
(tidak terlikuidasi) namun sebagian lagi tidak dapat menghindari dari
kebijakan likuidasi yang merupakan keputusan akhir dari pemerintah.
Perusahaan
dikategorikan
gagal
keuangannya
menurut
Ryan
Ariafinanda (2006:2) jika perusahaan tersebut tidak mampu membayar
kewajibannya pada waktu jatuh tempo meskipun total aktiva melebihi total
kewajibanya. Jatuh bangunnya perusahaan merupakan hal yang biasa.
Pertanyaannya apakah kebangkrutan itu tidak bisa diramalkan sebelumnya?
Apakah kita tidak bisa memanfaatkan informasi laporan keuangan dalam
menguji sehat atau tidaknya usaha bisnis. Kondisi yang membuat para
investor dan kreditor merasa hawatir jika perusahaan mengalami kesulitan
keuangan ( financial distress) yang bisa mengarah kebangkrutan.
3
Menurut Antara News (4 Desember 2007) Bank Indonesia menyatakan
kondisi perekonomian saat ini jauh lebih baik dari kondisi tahun 1997 saat
krisis ekonomi melanda Indonesia. Hal ini tercermin dari beberapa indikator
ekonomi seperti stabilitas makroekonomi yang terjaga, surplus transaksi
berjalan, cadangan devisa yang tinggi, sistem nilai tukar yang mengambang,
kondisi fiskal yang sehat dan kondisi perbankan yang relatif lebih baik.
Dijelaskannya, berbagai indikator makro ekonomi saat ini lebih baik
dibanding masa krisis dahulu, seperti pertumbuhan ekonomi, laju inflasi yang
semakin rendah, transaksi berjalan yang surplus dan cadangan devisa yang
bertambah signifikan dari 20 Miliar dolar AS pada tahun 1997 menjadi 54
Miliar dolar AS pada Oktober 2007. Berbagai indikator perbankan juga
menunjukkan banyak kemajuan, seperti permodalan yang semakin mantap
dengan CAR yang mencapai 20,29 persen dibanding hanya 9 persen pada
tahun 1997. Kualitas kredit juga jauh lebih baik dengan rasio kredit
bermasalah yang lebih rendah. Selain itu pembangunan infrastruktur
perbankan menunjukkan banyak kemajuan seperti adanya jaring pengaman
sektor keuangan, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sistem pembayaran
RTGS, dan Good Corporate Governance (GCG).
Analisis laporan keuangan menurut Bernstein yang dikutip oleh
Sofyan Syafari Harahap (2007:190) dalam bukunya Analisa Kritis Atas
Laporan Keuangan adalah: Analisis laporan keuangan mencakup penerapan
metode dan teknik analitis atas laporan keuangan dan data lainnya untuk
4
melihat dari laporan itu ukuran–ukuran dan hubungan tertentu yang sangat
berguna dalam proses pengambilan keputusan.
Krisis moneter berkepanjangan yang melanda Indonesia menurut Siti
Rodliyah (2003:2) sangat berpengaruh pada semua aspek kehidupan terutama
di bidang ekonomi. Keadaan ekonomi yang berfluktuasi tersebut membuat
keadaan perekonomian negara menjadi sangat memperihatinkan. Dari
mulainya krisis yaitu pertengahan bulan Juli 1997 sampai sekarang banyak
perusahaan yang mengalami kondisi ekonomi keuangan yang tidak stabil.
Melemahnya kinerja perusahaan pada saat ini disebabkan oleh banyaknya
faktor diantaranya produk-produk yang dihasilkan banyak menggunakan
bahan yang memiliki kandungan impor tinggi sehingga produk yang
dihasilkan harus dibiayai dengan dollar yang semakin menguat. Sementara
pasar, terutama pasar domestik sudah tidak mampu menyerap karena
melemahnya daya beli yang ada. Akibatnya, likuiditas perusahaan menjadi
terganggu. Penyebab melemahnya kinerja yang lain adalah sebagian besar
perusahaan mempunyai hutang luar negeri dalam bentuk valuta asing (valas).
Turunnya nilai mata uang rupiah yang diikuti dengan kenaikan suku bunga
telah melambungkan hutang perusahaan. Akibatnya solvabilitas perusahaan
terganggu karena besarnya hutang valas ketika dikurskan ke dalam rupiah.
Dengan keadaan seperti ini memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut
mengalami kondisi rawan terjadinya kebangkrutan perusahaan. Pada saat
suatu perusahaan memasuki tahap-tahap akhir menjelang kegagalan atau
5
kebangkrutan ada suatu pola perubahan profil finansial, meskipun
kebangkrutan tidak dapat diramalkan secara pasti.
Kebangkrutan merupakan masalah yang sangat esensial menurut Siti
Rodliyah (2003:2) yang harus diwaspadai oleh perusahaan. Karena jika
perusahaan sudah terkena bangkrut, maka perusahaan tersebut benar-benar
mengalami kegagalan usaha. Untuk itu perusahaan harus sedini mungkin
melakukan berbagai analisis terutama analisis yang menyangkut kebangkrutan
perusahaan. Dengan analisis ini maka sangat bermanfaat bagi perusahaan
untuk melakukan antisipasi yang diperlukan.
Menurut Mamduh dan Halim (2007:263) analisis kebangkrutan
dilakukan untuk memperoleh peringatan awal kebangkrutan (tanda-tanda
bangkrut). Semakin awal tanda-tanda kebangkrutan tersebut, semakin baik
bagi pihak manajemen karena pihak manajemen bisa melakukan perbaikanperbaikan, agar kebangkrutan tersebut benar-benar tidak terjadi pada
perusahaan dan perusahaan dapat mengantisipasi atau membuat strategi untuk
menghadapi jika kebangkrutan benar-benar menimpa perusahaan. Analisis
yang banyak digunakan untuk memprediksi awal kebangkrutan perusahaan
saat ini adalah analisis diskriminan
model Altman. Analisis diskriminan
Altman menurut Silvia dan Sugiharto (2004:3) merupakan satu model statistik
yang dikembangkan oleh Altman yang kemudian berhasil merumuskan rasiorasio
finansial
terbaik
dalam
memprediksi
terjadinya
kebangkrutan
perusahaan. Dari rasio tersebut kemudian dirumuskan dalam Z skor
kebangkrutan perusahaan, dimana perusahaan yang diteliti mendekati
6
kebangkrutan atau menjauhi kebangkrutan. Analisis diskriminan ini mengacu
pada rasio-rasio keuangan perusahaan. Rasio menggambarkan suatu hubungan
atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, dan
dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan
atau memberi gambaran kepada analisis tentang baik buruknya keadaan atau
posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio itu
dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai
standar, sedang yang digunakan dalam analisis yaitu laporan neraca dan
laporan rugi laba. Adapun alasan pengambilan model Altman sebagi prediksi
kebangkrutan menurut Sarwanih (2007:59) karena model ini memiliki tingkat
ketepatan yang relatif tinggi yaitu sebesar 82,7% dibandingkan dengan model
Shumway yang tidak mempunyai kemampuan prediksi yang baik bahkan
sangat buruk 0%. Atau dari hasil yang didapat model tersebut memiliki
kesalahan prediksi yang lebih besar dibandingkan dengan model Altman yaitu
sebesar 100%, sedangkan pada model Altman kesalahan dalam memprediksi
sebagai perusahaan tidak default hanya sebesar 26,7%.
Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data sekunder berupa
laporan keuangan dari masing-masing perusahaan perbankan konvensional
yang kemudian dihitung dengan menggunakan model Altman, yaitu Z-skor
yang merupakan gabungan dari 5 rasio, yaitu rasio modal kerja terhadap total
aktiva (X1), rasio laba ditahan terhadap total aktiva (X2), rasio laba sebelum
bunga dan pajak terhadap total aktiva (X3), rasio nilai pasar modal terhadap
total hutang (X4), dan rasio penjualan terhadap total aktiva (X5). Apabila nilai
7
Z lebih besar dari 0,031 maka perusahaan diindikasikan non financial distress,
sedangkan apabila nilai Z kurang dari 0,031 maka perusahaan diindikasikan
financial distress. Nilai 0,031 (Data diolah) dilihat dari perhitungan halaman
90 di bab 4.
Penentuan pedoman kondisi ekonomi (Tabel:4.3:84-86) financial
distress dan non financial distress pada perusahaan perbankan konvensional
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada penelitian ini adalah untuk
perusahaan yang finacial distress (tidak sehat) memiliki laba negatif selama 2
tahun berturut-turut diproyeksikan dengan kondisi 0 untuk Laba/Rugi dibawah
5 Triliyun sebelum dan sesudah terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono
(2004-2007), sedangkan untuk non financial distress (sehat) yang memiliki
laba positif selama 2 tahun berturut-turut memiliki proyeksi kondisi 1 untuk
Laba/Rugi diatas 5 Triliyun sebelum terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono
(2004) serta kondisi 2 untuk Laba/Rugi diatas 5 Triliyun sesudah terpilihnya
Susilo Bambang Yodhoyono (2005-2007).
Seiring dengan adanya perubahan situasi dan kondisi menurut Siti
Rodliyah (2003:2), mulai dari deregulasi di bidang perbankan sampai dengan
adanya krisis ekonomi telah membawa banyak perubahan dalam kondisi
perbankan Indonesia. Melemahnya nilai tukar rupiah telah menimbulkan
kesulitan yang besar pada dunia perbankan, khususnya bagi perusahaan
perbankan yang memiliki pinjaman dengan standar dollar. Besarnya kesulitan
likuiditas tersebut telah memicu terjadinya krisis pada perbankan nasional. Hal
tersebut terlihat dengan adanya pencabutan ijin usaha dari beberapa bank dan
8
program penyehatan perbankan lainnya. Di samping itu, menurut Eddie
Rinaldy (2008:1) sektor perbankan merupakan sektor yang paling banyak
diatur (heavy regulation), karena secara operasional menyentuh banyak aspek,
moneter, mobilisasi pendanaan, sektor riil, ketenaga kerjaan, teknologi
informasi, dan sejumlah aspek ekonomi lainnya. Pengaturan tersebut meliputi
segi
yang
berkaitan
dengan
kelembagaan,
operasional
dan
kinerja
(performance). Sehubungan dengan hal itu, maka penulis tertarik untuk
melakukan penelitian dan menulis skripsi dengan judul: Pengaruh
perubahan kondisi ekonomi terhadap kinerja keuangan dalam bentuk
integrasi rasio keuangan model Altman (Studi kasus pada sektor
perbankan 2004-2007).
Penelitian ini memberikan pembatasan masalah, supaya penelitian ini
mempunyai ruang lingkup dan arah penelitian yang jelas :
1. Bank yang diteliti adalah bank konvensional yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia .
2. Dalam penelitian ini penulis menetapkan periode penelitian selama empat
tahun, yaitu dari tahun 2004-2007.
3. Bank yang diteliti adalah bank komersil.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka permasalahan yang
timbul dalam penelitian ini antara lain :
1. Bagaimana pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadap kinerja
keuangan dalam bentuk integrasi rasio keuangan model Altman.
9
2. Apakah rasio yang terdapat dalam model Altman dalam hal ini WCTA,
RETA dan STA dapat memprediksi kebangkrutan suatu bank.
3. Berapa banyak bank yang mengalami kesulitan keuangan dari perubahan
kondisi perekonomian tersebut.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan pada perumusan masalah di atas, maka yang menjadi
tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberi bukti empiris pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadap
kinerja
keuangan
yang
didasarkan
pada
rasio
keuangan
yang
diintegrasikan menurut model Altman dengan menggunakan diskriminan.
2. Memberi bukti empiris rasio model Altman seperti WCTA, RETA dan
STA dapat memprediksi financial distress suatu bank atau tidak.
3. Menunjukan berapa banyak bank yang mengalami kesulitan keuangan dari
perubahan kondisi tersebut dan bank-bank yang mana saja yang
mengalami kondisi kesulitan keuangan .
Sedangkan manfaat yang diharapkan penulis dari penyusunan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan tentang perbankan, khususnya
pengetahuan tentang kinerja perbankan.
2. Bagi Perusahaan
Sebagai sumber informasi bagi perusahaan-perusahaan perbankan untuk
selalu memperbaiki kinerja perusahaannya.
10
3. Bagi Investor
Sebagai bahan pertimbangan atau sumber informasi dalam mengambil
keputusan investasi, khususnya investasi di perusahaan perbankan.
4. Bagi Instansi
Sebagai kajian literature pelengkap bagi peneliti lain yang ingin
melakukan penelitian dibidang yang sama.
5. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini sebagai referensi dan bahan pemikiran untuk menindaklanjut penelitian ini sehingga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Lembaga perbankan
a. Pengertian Perbankan
Menurut Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 tentang
Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor
10 tahun 1998 pengertian bank dalam Pratama Raharja (2004:293)
adalah sebagai berikut: “Bank adalah badan usaha yang menghimpun
dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya
kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk
lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”.
Pengertian bank menurut PSAK Nomor 31 dalam Standar
Akuntansi Keuangan (2002: 31) adalah: “Bank adalah suatu lembaga
yang berperan sebagai perantara keuangan antara pihak-pihak yang
memiliki kelebihan dana dan pihak-pihak yang memerlukan dana, serta
sebagai
lembaga
yang
berfungsi
memperlancar
lalu
lintas
pembayaran”.
Berdasarkan SK Menteri Keuangan RI Nomor 792 tahun 1990
pengertian dalam T.Gilarso (2004:260): “Bank merupakan suatu badan
yang kegiatannya di bidang keuangan melakukan penghimpunan dan
12
penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna membiayai
investasi perusahaan”.
Menurut Ahmad Rodoni (2006:21) pengertian bank adalah badan
usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau
bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.
Berdasarkan definisi-definisi di atas menurut Iskandar Putong
(2008:321) maka dapat disimpulkan bahwa bank adalah suatu perusahan
yang mengelola dana dari masyrakat (lembaga yang dipercaya masyarakat
untuk mengamankan uangnya) dengan memberikan imbalan berupa bagi
hasil ataupun bunga untuk setiap periode yang ditentukan. Akan tetapi
pada kenyataannya di zaman modern seperti sekarang ini bank ternyata
tidak hanya mengelola dana dari masyarakat saja, melainkan juga
melakukan aktivitas bisnis seperti sebagai lembaga transfer dana, pembuat
uang giral, jasa penitipan barang penting/uang dan lain sebagainya.
b. Jenis-jenis perbankan menurut Undang-undang No.10 tahun 1998
dalam Pratama Raharja (2004:293) dan Ahmad Rodoni (2005:22)
Perbankan dibagi menjadi dua yaitu :
13
1) Bank Umum
Bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan
usaha secara konvensional atau berdsarkan prinsip syariah, yang
dalam kegiatannya memberi jasa dalam lalu lintas pembayaran.
(a). Kegiatan usaha bank umum menurut
Pratama Raharja
(2004:293) antara lain :
1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan berupa giro, deposito berjangka, tabungan dan
atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.
2. Memberi kredit.
3.
Menerbitkan surat pengakuan utang.
4. Membeli, menjual atau menjamin atas resiko sendiri
maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya.
5. Kegiatan-kegiatan lain yang lazim dilakukan bank
sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang dan
peraturan yang berlaku.
(b). Kegiatan usaha yang tidak boleh dilakukan oleh bank umum
adalah :
1. Melakukan penyertaan modal, kecuali dalam hal tertentu
seperti yang diatur dalam undang-undang.
2. Melakukan usaha perasuransian.
3. Melakukan usaha lain seperti yang diatur undang-undang.
14
2) Bank Perkreditan Rakyat menurut Pratama Raharja (2004:294)
dan Ahmad Rodoni (2005:55)
Bank perkreditan rakyat (BPR) adalah bank yang
melaksanakan
kegiatan
usaha
secara
konvensional
atau
berdasarkan prinsip syariah, yang dalam kegiatannya tidak
memberi jasa dalam lalu lintas pembayaran. Jadi BPR adalah bank
yang menerima simpanan dalam bentuk deposito berjangka,
tabungan dan atau bentuk lainnya yang dapat dipersamakan dengan
itu.
( a). Kegiatan-kegiatan usaha yang diperbolehkan dilakukan oleh
BPR menurut undang-undang adalah:
1. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan.
2. Memberikan kredit.
3. Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan
prinsip bagi hasil.
4. Menempatkan dana yang dalam bentuk SBI, deposito dan
atau tabungan pada bank lain.
( b). Kegiatan usaha yang tidak diperkenankan dilakukan oleh BPR
diantaranya adalah:
1. Menerima simpanan dalam bentuk giro.
2. Melakukan penyertaan modal.
3. Melakukan usaha perasuransian.
15
4. Melakukan usaha lain diluar usaha kegiatan tersebut.
c. Instrumen Pasar Keuangan
Instrument pasar keuangan dalam bank dan lembaga
keuangan lainnya (Ahmad Rodoni 2006: 6-7) dapat dibedakan menjadi
dua, yaitu :
1. Instrumen pasar uang
Mengalami sedikit fluktuasi harga, sehingga resiko lebih kecil
dalam investasi. Termasuk dalam instrumen pasar uang adalah:
a. United Stated Treasury Bills: instrumen hutang jangka pendek
milik pemerintah United States yang diterbitkan dakam 3
bulan, 6 bulan, 9 bulan dan 12 bulan waktu maturitasnya
karena defisit keuangan pemerintah federal.
b. Negotiable Bank Certificates of Deposit (CD): merupakan
instumen hutang yang dikeluarkan oleh bank bagi penabung
(depositors) yang akan memperolah pembayaran bunga
tahunan dalam jumlah tertentu dan pada saat maturitas akan
menerima kembali harga pembelian aslinya (original).
c. Comercial Paper: instumen hutang jangka pendek yang
diterbitkan oleh bank besar dan perusahan terkenal, seperti
General Motor. AT&T, dan sebaginya.
d. Banker’s Acceptances: bank draft ( janji pembayaran hampir
sama dengan cek) yang diterbitkan oleh perusahaan.
16
e. Repurchase Agreements: efektifnya pinjaman jangka pendek
(biasanya maturitas kurang dari dua minggu) dimana Treasury
Bill (T-Bills) disiapkan sebagi collateral.
f. Eudollars: US dollars yang didepositkan di bank asing di luar
Amerika serikat atau cabang bank asing di US.
2. Instrumen pasar modal menurut Ahmad Rodoni (2005:8)
Merupakan instrumen hutang dan ekuitas dengan maturitas
atau jatuh tempo lebih dari satu tahun. Investasi di pasar modal
lebih beresiko dibandingkan dengan di pasar uang. Termasuk
dalam instumen pasar modal adalah :
a) Saham adalah ekuitas yang merupakan tuntutan (claims)
terhadap pendapatan bersih dan asset perusahaan.
b) Mortages adalah pinjaman bagi individu atau perusahaan untuk
membeli rumah, tanah atau struktur riil lainnya, kemudian
dijadikan sebagai jaminan (collateral).
c) Corporate Bonds (Convertible Bonds) merupakan hutang
jangka panjang yang diterbitkan perusahaan dengan tingkatan
(rating) kredit yang baik.
d) US Goverment Securities merupakan instrumen hutang jangka
panjang yang diterbitkan oleh pembendaharaan pemerintah
Amerika Serikat (US) akibat defisit keuangan pemerintah
federal.
17
e) US Goverment
Agent Securities merupakan hutang jangka
panjang yang diterbitkan oleh berbagi agen/perwakilan
pemerintah US.
f) State and Local Goverment Bonds dikatakan juga municipal
bonds merupakan instrumen hutang jangka panjang yang
diterbitkan oleh pemerintah pusat dan lokal untuk pengeluaran
keuangan bagi keperluan sekolah, pembuatan jembatan dan
program lainnya.
g) Consumer and bank Commercial Loans merupakan pinjaman
untuk consumer dan bisnis yang prinsip pelaksanannya
dilakukan oleh bank.
d. Peranan Lembaga Keuangan Dalam Proses Intermediasi dalam buku
bank dan lembaga keuangan lainnya Ahmad Rodoni (2005:4)
Perantara keuangan (financial intermediation) adalah proses
penyaluran dana yang surplus (lender-sever) dari unit ekonomi, yaitu
sektor rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan orang asing untuk
disalurkan kepada yang defisit dana (borrower-spender) dari unit
ekonomi, yaitu sektor rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan
orang asing. Proses intermediasi dilakukan oleh lembaga keuangan
dengan cara pembeli sekuritas primer (saham, obligasi, commercial
paper dan sebagainya) yang diterbitkan oleh unit defisit, dalam waktu
yang sama lembaga keuangan mengeluarkan sekuritas sekunder (giro,
tabungan, deposito berjangka dan sebaginya) kepada unit surplus.
18
Lembaga keuangan sebagi lembaga intermediasi dalam
Ahmad Rodoni(2006:4-5)
memiliki peran yang sangat strategis,
antara lain:
1. Pengalihan asset (asset transmutation): bank dan lembaga
keuangan bukan bank akan memberikan pinjaman kepada pihak
yang membutuhkan dana dalam jangka tertentu yang telah
disepakati. Pengalihan asset dapat juga terjadi jika bank dan
lembaga keuangan bukan bank menerbitkan sekuritas sekunder
yang diterbitkan oleh unit defisit.
2. Likuiditas
(liquidity):
berhubungan
dengan
kemampuan
memperoleh uang tunai pada saat dibutuhkan.
3. Realokasi pendapatan (income reallocation): banyak individu
menyisihkan dana dan merealokasikan pendapatannya untuk
persiapan menghadapi waktu yang akan datang.
4. Transaksi
(transaction):
lembaga
keuangan
memberikan
kemudahan kepada pelaku ekonomi untuk melakukan transaksi
barang dan jasa.
5. Efisiensi (efficiency): lembaga keuangan dapat menurunkan biaya
transaksi dengan jangkauan pelayanaan dan juga memperlancar
serta mempertemukan pihak-pihak yang saling membutuhkan.
2. Laporan Keuangan
Menurut Mamduh dan Halim (2007:8) laporan keuangan yang
disajikan oleh pihak manajemen suatu perusahaan merupakan hasil akhir
19
dari proses atau kegiatan-kegiatan akuntansi yang dilakukan perusahaan.
Laporan keuangn dibuat untuk mempertanggung jawabkan kegiatan
perusahaan terhadap pemilik dan memberikan informasi mengenai posisi
keuangan yang telah dicapai perusahaan terhadap pihak-pihak yang
berkepentingan. Maksud laporan keuangan di sini adalah suatu alat yang
mana informasi dikumpulkan dan diproses dalam akuntansi keuangan
yang akhirnya dimasukan dalam bentuk laporan yang dikomunikasikan
secara periodik kepada pemakainnya.
Menurut
Harahap
dalam Riyan Ariafinanda (2006:9) Ikatan
akuntansi Indonesia dalam Standar Akuntansi Keuangan tentang kerangka
dasar penyususnan dan penyajian laporan keuangan paragraph 7
mengemukakan pengertian sebagai berikut : laporan keuangan merupakan
bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap
biasanya meliputi neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan posisi
keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara misalnya, selagi
laporan arus kas, atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta
materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Dalam bukunya Financial Statement Analysis, Myer dalam Ryan
Ariafinanda (2006:10) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laporan
keuangan adalah: dua daftar yang disusun oleh akuntan pada akhir periode
untuk suatu perusahaan. Kedua daftar itu adalah neraca atau daftar posisi
keuangan dan daftar pendapatan atau daftar rugi laba. Pada waktu akhir-
20
akhir ini sudah menjadi kebiasaan bagi perseroan-perseroan untuk
menabah daftar ketiga yaitu daftar surplus atau daftar laba yang ditahan.
3. Analisis Laporan Keuangan.
a. Pengertian Laporan Keuangan.
Menurut Mamduh dan Halim (2007:5) analisa terhadap laporan
keuangan suatu perusahaan pada dasarnya ingin mengetahui tingkat
profitabilitas (keuntungan) dan tingkat sehat atau tingkat tidak sehat
suatu perusahaan.
b. Tujuan Laporan Keuangan.
Salah satu penting tugas setelah akhir tahun adalah
menganalisis laporan keuangan perusahaan. Analisis ini didasarkan
pada laporan keuangan yang sudah disusun. Tujuan laporan keuangan
menurut Bernstein dalam Harahap (2007:18) adalah sebagai berikut:
a. Screening
Analisis dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui situasi dan
kondisi perusahaan dari laporan keuangan tanpa pergi langsung ke
lapangan.
b. Understanding
Memahami perusahaan, kondisi keuangan, dan hasil usahanya.
c. Forcasting
Analisis
digunakan
untuk
meramalkan
perusahaan dimasa yang akan datang.
21
kondisi
keuangan
d. Diagnosis
Analisis dimaksudkan untuk melihat kemungkinan adanya
masalah-masalah yang terjadi baik dalam manajemen, operasi
keuangan atau masalah lain dalam perusahaan.
e. Evaluation
Analisis dilakukan untuk menilai prestasi manajemen dalam
mengelola perusahaan.
Disamping tujuan tersebut diatas analisis laporan keuangan juga
untuk menilai kewajaran laporan keuangan yang disajikan dalam
Harahap (2007 :18).
c. Teknik Laporan Keuangan.
Teknik analisis lapoaran keuangan dapat disebutkan sebagai berikut :
1. Perbandingan laporan keuangan perubahan tahun ke tahun.
2. Seri trend/ angka indeks.
3. Laporan keuangan common size (bentuk awam) analisis struktur
laporan keuangan.
4. Analisis rasio.
5. Analisis khusus antara lain :
a. Ramalan kas.
b. Analisis perubahan posisi keuangan.
c. Laporan variasi gross margin.
d. Analisis break even point.
22
e. Analisis dupont.
Menurut Foster dalam Harahap (2007:215) dari sisi lain dia
mengemukakan beberapa teknik analisis sebagai berikut:
1. Cross Sectional Technique
1.1. Common Size Statement.
1.2. Analisis Rasio.
2. Time Series Technique
2.1. Trend Statement.
2.2. Analisis Rasio Keuangan.
2.3. Ukuran Variabilitas.
3. Gabungan laporan keuangan dan non keuangan:
3.1. Informasi pasar produk.
3.2. Informasi pasar modal.
Harahap (2007:222) mengemukakan teknik dalam analisis laporan
keuangan sebagai berikut: Model analisis prediksi atau rating, dalam
literatur akuntansi para akademis atau peneliti sering melakukan penelitian
dengan tujuan untuk memprediksi suatu keadaan dengan menggunakan
data historis biasanya laporan keuangan. Mereka mengamati laporan
keuangan beberapa tahun dan mencoba melihat fenomena khusus yang ada
didalamnya dan dari sana diambil suatu kesimpulan dalam bentuk modelmodel prediksi. Beberapa model yang dikenal dalam prediksi adalah :
23
1. Bond Rating
Ini digunakan untuk menghitung peringkat obligasi yang dipasarkan di
pasar modal.
2. Banckrupty Model
Model ini memberikan rumus untuk menilai kapan perusahaan akan
bangkrut. Dengan menggunakan rumus yang diisi dengan rasio
keuangan maka akan diketahui angka tertentu yang akan menjadi
bahan untuk memprediksi kapan kemungkinan suatu perusahaan akan
bangkrut.
Laporan keuangan beserta pengungkapannya dibuat perusahaan
dengan
tujuan
memberikan
informasi
yang
berguna
untuk
pengambilan keputusan-keputusan investasi dan pendanaan, seperti
yang dinyatakan dalam SFAC No. 1 dalam Luciana Spica Amilan &
Emanuel dalam Rahman Muslim (2008:12) bahwa laporan keuangan
harus memberikan informasi : untuk keputusan informasi dan kredit,
mengenai aktiva dan kewajiban, mengenai kinerja perusahaan, serta
mengenai sumber dan penggunaan kas.
Menurut
Kasmir
(2003:293-240)
laporan
keuangan
bank
menunjukkan kondisi keuangan bank secara keseluruhan. Dari laporan
ini akan terbaca bagaimana kondisi bank yang sesungguhnya, termasuk
kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Laporan ini juga menunjukkan
kinerja manajemen bank selama satu periode. Jadi, secara umum
24
tujuan pembuatan laporan keuangan suatu bank adalah sebagi berikut:
memberikan informasi keuangan tentang jumlah aktiva dan jenis-jenis
aktiva yang dimiliki, memberikan informasi tentang jumlah kewajiban
dan jenis-jenis kewajiban baik jangka pendek maupun jangka panjang,
memberikan informasi keuangan tentang jumlah modal dan jenis-jenis
modal pada bank tersebut, memberikan informasi keuangan tentang
hasil usaha yang tercermin dari jumlah pandapatan yang diperoleh dan
sumber-sumber pendapatan bank tersebut, memberikan informasi
tentang jumlah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam periode tersebut,
memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi
dalam aktiva, kewajiban dan modal satu bank serta memberikan
informasi tentang kinerja manajemen dalam suatu periode dari hasil
laporan keuangan yang disajikan.
Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan
menurut Kasmir (2003:241-242) antara lain :
a) Pemegang saham: berkepentingan untuk melihat kemajuan bank
yang dipimpin oleh manajemen selama satu periode. Kemajuan
yang dilihat adalah kemampuan dalam meciptakan laba dan
pengembangan asset yang dimiliki. Dari laporan ini juga pemilik
dapat menilai sampai sejauh mana pengembangan usaha bank
tersebut telah dijalankan pihak manajemen sekaligus menghitung
jumlah deviden yang akan mereka terima.
25
b) Pemerintah: mengetahui kemajuan bank yang bersangkutan,
berkepentingan terhadap kepatuhan bank dalam melaksanakan
kebijakan moneter yang telah ditetapkan. Serta menilai sampai
sejauh mana peranan perbankan dalam pengembangan sektorsektor tertentu.
c) Manajemen: menilai kinerja manajemen dalam mancapai targettarget yang telah ditetapkan, menilai kinerja sumber daya manusia
yang dimiliki
d) Karyawan: kondisi keuangan sebenarnya dapat memperbaiki/
meningkatkan
kesejahteraan
jika
mengalami
keuntungan
sebaliknya melakukan perbaikan jika mengalami kerugian.
e) Masyarakat luas: jaminan terhadap uang yang disimpan di bank
4. Kinerja Keuangan
a. Pengertian Kinerja Keuangan
Kinerja merupakan hal penting yang harus dicapai oleh setiap
perusahaan di manapun, karena kinerja merupakan cerminan dari
kemampuan perusahaan dalam mengelola dan mengalokasikan sumber
dayanya. Selain itu tujuan pokok penilaian kinerja adalah untuk
memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam
mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar
membuahkan tindakan dan hasil yang diharapkan. Standar perilaku
dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang
dituangkan dalam anggaran dalam Devie (2003:8).
26
Pengertian kinerja keuangn menurut Indra Bastian dalam Dana
Siswar sebagai berikut (2003:233) : kinerja adalah gambaran mengenai
tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan dalam mewujudkan
sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam
perumusan skema strategis suatu organisasi.
Pernyataan tersebut juga didukung oleh Kasmir (2007:54) yang
menyatakan bahwa kinerja bank merupakan salah satu faktor utama
yang harus diperhatikan oleh manajemen bank karena mengindikasi
tingkat kesehatan bank yang dapat dilihat dari produktivitas asset.
Maksud dari pernyataan tersebut sehat atau tidaknya suatu bank dapat
diukur dari besarnya laba yang diperoleh bank tersebut. Tingkat
kesehatan bank dalam meningkatkan pendapatannya tentunya dengan
meningkatkan produktivitas asset. Semakin tinggi tingkat profit dari
bank yang menggambarkan tingkat kesehatan yang baik.
Tingkat kesehatan bank menggambarkan kondisi keuangan dan
seberapa baik bank tersebut melakukan manajemen yang dapat diukur
dari profit bank yang dapat dihitung dengan beberapa cara. Return on
Asset yang digunakan untuk mengukur kemampuan asset bank dalam
memperoleh keuntungan. Return on Equity yang digunakan untuk
mengukur kemampuan modal sendiri dalam memperoleh keuntungan
bersih. Tobin’s Q untuk mengukur nilai pasar sebagai peluang
investasi. Tingginya tingkat dari Return on Asset, Return on Equity dan
27
Tobin’s Q dapat mengidentifikasikan tingkat kesehatan bank yang baik
dalam Staikouras (2007:13).
b. Penilaian Knierja
Dana Siswar (2003:233) memberikan pengertian penilaian
kinerja sebagai berikut : penilaian kinerja merupakan proses mencatat,
dan mengukur proses pencapaian pelaksanaan kegiatan dalam arah
pencapaian misi melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk
atau jasa.
Salah satu bentuk mengukur kinerja keuangan dengan
menggunakan integrasi rasio keuangan adalah model Altman. Oleh
Altman analisis tersebut ditransformasi menjadi bentuk yang sangat
sederhana, yaitu satu dimensi, fungsi diskriminan tersebut berbentuk :
Z = V1X1 + V2X2 +…….. + VnXn
dimana :
V1, V2……... Vn
= Disciminant coefficient
X1, X2 ……Xn
= Independent variables
Jadi dengan kata lain, rasio-rasio keuangan tersebut tidak dapat
berpengaruh sendiri-sendiri untuk mengukur kinerja keuangan secara
menyeluruh tidak dapat dijadikan indikator yang menyatakan
kepailitan perusahan.
Altman mengemukakan model kinerja keuangan dalam bentuk
rasio keuangan yang menggambarkan kinerja keuangan perusahaan
28
secara menyeluruh dan digunakan untuk memperediksi kepailitan
perusahaan sebagi berikut :
Z = 1.2(X1) +1.4 (X2) +3.3 (X3) +0.6(X4) +1(X5)
dimana:
X1
= Working capital to total asset.
X2
= Retained earning to total asset.
X3
= Earning before interest & taxes to total asset ( EBIT).
X4
= Market value of equity to book value of debt.
X5
= Sales to total asset ratio.
Working Capital/Total Asset (WC/TA) dalam Dana Siswar
(2003:231).
Altman memilih tiga rasio likuiditas yang akan dimasukan
dalam model persamaan diskriminannya untuk memprediksi
kebangkrutan yaitu working capital to asset ratio, current ratio,
dan quick ratio. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpukan
bahwa dari ketiga ratio tersebut Altman memilih working capital to
asset ratio. Sedangkan dua ratio likuiditas lainnya tidak
dimasukkan karena kurang membantu dalam memprediksi
kebangkrutan perusahaan. Semakin tinggi tingkat ratio ini artinya
perusahaan semakin mampu untuk membiayai operasi perusahaan
sehari-hari.
29
Retained Earning/ Total asset (RE/TA) dalam Dana Siswar
(2003:232).
Rasio
ini
digunakan
untuk
mengukur
profitabilitas
perusahaan. Altman mengatakan rasio ini mengukur profitabilitas
kumulatif beberapa waktu dan merupakan suatu rasio yang baru.
Umur perusahaan secara implisit ikut dipertimbangkan dalam rasio
ini. Suatu peusahaan yang relatif lama yang kemungkinan tingkat
RE/TA rasio rendah tidak mempunyai waktu membentuk profit
kumulatifnya.
Earning Before Interest and Taxes/ Total Asset (EBIT/TA) dalam
Dana Siswar (2003:232).
Altman mengatakan rasio ini digunakan untuk mengukur
ketepatan produktivitas asset-asset perusahaan, yang bebas dari
pajak dan faktor leverage. Semakin tinggi tingkat rasio ini artinya
semakin produktif asset-asset perusahaan digunakan untuk
menghasilkan keuntungan.
Market Value of Equity/ Book Value of Total Liabilities ( MVE/TL)
dalam Dana Siswar (2003:232).
Rasio keempat yang digunakan adalah equity yang diukur
dengan dikombinasikannya nilai pasar dari semua lembar saham,
saham preferen dan saham biasa, juga semua yang termasuk dalam
kewajiban baik kewajiban lancar dan kewajiban jangka panjang.
30
Sales/Total Asset (S/TA) dalam Dana Siswar (2003:232).
Rasio ini disebut juga dengan capital turn over ratio. Rasio
ini
merupakan
rasio
keuangan
standar
menggambarkan
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan penjualan dari assetasset yang digunakan oleh perusahaan. Rasio ini merupakan suatu
ukuran bagi kapasitas manajemen dalam menghadapi keadaan
persaingan.
5. Analisis Rasio
a. Pengertian Rasio Keuangan.
Laporan keuangan yang disajikan perusahaan baru dapat
memberikan arti dalam pengambilan keputusan oleh berbagai pihak,
jika laporan keuangan tersebut dianalisis sesuai dengan kepentingan
masing-masing pihak.
Foster dalam Dana Siswar (2003:230) memberikan analisis
laporan keuangan sebagai berikut: analisis laporan keuangan
merupakan studi hubungan antara sekelompok laporan keuangan pada
saat tertentu dan trend yang menghubungkan beberapa waktu.
Lebih lanjut Gitman (2000:124) dalam Dana Siswar (2003:230)
mengatakan
analisis
keuangan
adalah
menghitung
dan
menginterpretasikan rasio keuangan tersebut sehingga dapat diketahui
sampai dimana kinerja perusahaan. Pengelompokan rasio keuangan
menyajikan informasi kinerja keuangan untuk kepentingan masingmasing individu/ kelompok pemakai yang terkait dengan perusahaan.
31
Menurut Ilya (2000:5) dalam Dana Siswar (2003:231) “kesulitan
dalam pengambilan keputusan dengan menggunakan rasio-rasio
keuangan adalah rasio-rasio tersebut cukup banyak dan bervariasi,
disamping hasil perhitungan yang dapat bersifat individu, dan tidak
dapat langsung digunakan untuk mengambil keputusan ekonomi”.
Analisis rasio keuangan ini banyak digunakan dalam berbagai
tunjuan penelitian khususnya dalam menilai kinerja perusahaan,
walaupun sebenarnya masih banyak kegunaan lain yang dapat diambil
dari analisis laporan keuangan.
Analisis rasio keuangan, yang menghubungkan unsur-unsur
neraca dan perhitungan laba-rugi satu dengan lainnya, dapat
memberikan gambaran tentang sejarah perusahaan dan penilaian
posisinya pada saat ini. Analisis rasio juga memungkinkan manajer
keuangan
memperkirakan
reaksi
pasar
kreditor
dan
investor
memberikan pandangan kedalam tentang bagiaman kira-kira dana
dapat diperoleh.
Analisis rasio keuangan tidak hanya menggunakan rumus
terhadap data keuangan untuk menghitung rasio tertentu, tetapi yang
lebih penting yaitu menginterpretasikan nilai rasio tersebut. Dalam
Ryan Ariafinanda (2006:18) membagi analisis rasio keuangan meliputi
dua jenis perbandingan yaitu :
32
1) Pebandingan internal.
Analisis dapat membandingkan rasio sekarang dengan yang
lalu dan yang akan datang untuk perusahaan yang sama. Jika rasio
keuangan disajikan dalam bentuk suatu daftar untuk periode
beberapa tahun, analisis dapat mempelajari komposisi perubahanperubahan dan menetapkan apakah telah terdapat suatu perbaikan
atau bahkan sebaiknya di dalam kondisi keuangan dan prestasi
perusahaan selama jangka waktu tersebut.
2) Perbandingan eksternal.
Metode perbandingan ini meliputi perbandingan rasio
perusahaan dengan perusahaan lainnya yang sejenis atau dengan
rata-rata pada satu titik yang sama.
Analisis rasio keuangan dalam Ryan Ariafinanda (2006:19)
juga dapat dibagi atas dua jenis berdasarkan variate yang
dugunakan dalam analisa yaitu :
1) Univariate ratio analysis.
Merupakan analisis rasio keuangan yang menggunakan
suatu variate dalam melakukan analisa. Contohnya seperti
profit margin ratio, return on assets (ROA), return on equity
(ROE) dan sebagainya.
33
2) Multivariate ratio analysis.
Merupakan analisis rasio keuangan yang menggunakan
lebih dari satu variate dalam melakukan analisa. contohnya
seperti Altman Z-score.
Analisis internal dilakukan melalui antara lain: analisis
strategi perusahaan dimana strategi ini memfokuskan pada
persaingan yang dihadapi perusahaan, struktur biaya relatif
terhadap
pesaing
kemampuan
manajemen
dalam
mengendalikan biaya, kualitas manajemen lainnya. Pada
umumnya analisis internal yang banyak digunakan adalah
analisis terhadap laporan keuangan perusahaan yaitu melalui
analisis trend untuk beberapa tahun buku/periode dan analisis
rasio finansial.
Dengan mempelajari trend beberapa periode dan
kegiatan-kegiatan usaha perusahaan untuk beberapa tahun
terakhir
diharapkan
ada
gambaran
perkembangan,
fluktuasi/kemunduran. Informasi berharga tersebut dapat
menyangkut
posisi
keuangan
dan
kegiatan
operasional
perusahaan (laba/rugi) dari perusahaan yang bersangkutan.
Suatu perusahaan diramalkan menuju kebangkrutan bila hasil
analisis
trend
terhadap
posisi
keuangan
menunjukkan
kecenderungan menurunnya posisi kas pada bank, modal kerja
dan overinvestment pada aktiva lancar.
34
Melakukan interpretasi serta analisis terhadap lapoaran
keuangan yang lazimnaya diterbitkan pada setiap periode
memiliki manfaat yang cukup penting bagi para analis untuk
mengetahui secara lebih mendalam mengenai keadaan dan
perkembangan suatu perusahaan.
Dalam menginterpretasikan dan menganalisis laporan
keuangan, seseorang analisis memerlukan adanya ukuran.
Ukuran yang sering digunakan dalam analisis keuangan adalah
rasio.
Menurut Munawir (1999:64) dalam Ryan Ariafinanda
(2006:17), rasio keuangan dapat didefinisikan sebagai berikut:
rasio
keuangan
menggambarkan
suatu
hubungan
atau
perimbangan antara satu jumlah tertentu dengan jumlah yang
lain, dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini
akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada
penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi
keuangan suatu perusahaan.
Definisi diatas dapat diartikan bahwa melakukan
analisis hubungan dari berbagi pos dalam laporan keuangan
pada
jumlah
tertentu
merupakan
dasar
agar
dapat
menginterpertasikan kondisi keuangan dari hasil operasi suatu
perusahaan.
35
b. Macam-macam Rasio Keuangan menurut Andriani Kusumaningrum
(2003:70). Jenis rasio keuangan yang biasa digunakan dibagi menjadi
2 yaitu :
1). Rasio neraca.
Yaitu rasio yang berisi tentang aspek kondisi keuangan
perusahaan. Terdiri dari aktiva lancar dikurangi dengan hutang
lancar. Aktiva lancar perusahaan perbankan terdiri dari Cash on
Hand and in Banks, Placemenent in other Banks, Notes and
securities dan Loands. Sedangkan kewajiban lancar perusahaan
perbankan terdiri dari Demand deposit, Time deposit dan
Saving deposit
2). Rasio laporan laba/rugi.
Yaitu rasio yang berisi tentang aspek kinerja perusahaan.
Terdiri dari pendapatan, yang termasuk dalam pendapatan ini
antara lain pendapatan bunga dan pendapatan opersional.
Laba/Rugi sebelum pajak penghasilan serta laba bersih
persahaan.
Laporan laba Rugi merupakan ringkasan dari empat jenis
kegiatan yaitu: menjual produk atau jasa, beban produksi atau
untuk mendapatkan barang atau jasa yang dijual, beban yang
timbul dari memasarkan dan mendistribusikan produk atau jasa
kepada konsumen, serta yang berkaitan dengan beban administrasi
36
operasional serta beban keuangan dalam menjalankan bisnis dalam
Arthur J. Keown, David F. Scott et al (2001:80)
c. Analisis rasio keuangan bank akan digunakan dalam penelitian ini
adalah rasio-rasio yang terdapat dalam formula Z-score Altman
menurut Ryan Ariafinanda (2006:19-22), yaitu sebagai berikut :
1). Rasio likuiditas.
Rasio modal kerja dibandingakn dengan total aktiva
X1 = Working capital
total assets
Rasio ini merupakan rasio yang mendeteksi likuiditas dari total
aktiva dan posisi modal kerja (neto). Dimana modal kerja diperoleh
dari selisih antara aktiva lancar dengan utang lancar. Indikator yang
dapat digunakan untuk mendeteksi adanya masalah pada tingkat
likuiditas perusahan adalah indikator-indikator internal seperti, ketidak
cukupan kas, utang dagang membengkak, utilisasi modal (harta
kekayaan) menurun, penambahan utang yang tak terkendali dan
beberapa indikator lainnya. Umumnya, bila perusahaan mengalami
kesulitan keuangan, modal kerja akan turun lebih cepat dari pada
modal aktiva yang menyebabkan rasio ini turun.
2). Rasio profitabilitas
Rasio prifitabilitas dalam model Altman Z-score ada dua yaitu :
(a)
Rasio laba ditahan dibandingkan dengan total aktiva
37
X2= retarned earning/ total assets.
Rasio ini mengukur kemampuan laba kumulatif dari
perusahaan.
Pada
beberapa
tingkat,
rasio ini
juga
mencerminkan umur perusahaan, karena semakin muda
perusahaan semakin sedikit waktu yang dimilikinya untuk
membangun laba kumulatif. Bias yang menguntungkan
perusahaan-perusahaan yang lebih berumur ini tidak
mengherankan, karena pemberian tingkat kegagalan yang
tinggi kepada perusahaan yang lebih muda merupakan hal
yang wajar. Bila perusahaan mulai merugi, tentu saja nilai
dari total laba ditahan mulai turun. Bagi banyk perusahaan,
nilai laba ditahan dan radio X2 akan menjadi negatif.
(b). Rasio laba sebelum bunga dan pajak dibandingkan dengan
total aktiva
X3= earning before interest and tax/ total Assets.
Rasio ini mengukur kemampuan laba, yaitu tingkat
pengembalian dari aktiva, yang dihitung dengan membagi
laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) tahunan perusahaan
dengan total aktiva pada neraca akhir tahun. Rasio ini juga
dapat digunakan sebagai ukuran seberapa besar produktivitas
penggunaan dana yang dipinjam. Bila rasio ini lebih besar
dari rata-rata tingkat bunga yang dibayar, maka berarti
38
perusahaan menghasilkan uang yang lebih banyak daripada
bunga pinjaman.
3). Rasio aktivitas
Rasio aktivitas yang digunakan dalam model Altaman ada dua
yaitu:
(a). Nilai pasar ekuitas dibandingkan dengan total hutang
X4= market value of equity/book value of debts
Rasio ini sering juga digunakan dalam bentuk persamaan
net worth/total debt untuk perusahaan yang tidak terdaftar di
Burasa Efek Indonesia. Rasio ini mengukur kemampuan
perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya
melalui modalnya sendiri. Rasio ini merupakan kebalikan dari
rasio utang permodal sendiri (DER). Nilai pasar ekuitas yang
dimaksud adalah nilai pasar modal sendiri, yaitu jumlah saham
perusahaan dikalikan dengan harga perlembar sahamnya.
Umumnya perusahaan-perusahaan yang gagal mengakumulasi
lebih banyak utang dibandingkan modal sendiri.
(b). Penjualan dibandingkan dengan total aktiva
X5= Sales/total assets.
Rasio ini disebut juga rasio perputaran total aktiva.
Rasio ini menunjukan efektivitas penggunaan seluruh harta
perusahaan
dalam
rangka
menghasilkan
atau
menggambarkan berapa rupiah penjualan bersih yang dapat
39
dihasilkan oleh setiap rupiah yang diinvestasikan dalam
bentuk harta perusahaan. Kalau perputarannya lambat, ini
menunjukkan bahwa aktiva yang dimiliki terlalu besar
dibandingkan
dengan
kemampuan
perusahaan
untuk
menjual.
6. Kebangkrutan.
a. Pengertian Kebangkrutan.
Menurut
Mamduh
dan
Halim
(2007:263)
analisis
kebangangkrutan dilakukan untuk memperolah peringatan awal
kebangkrutan (tanda-tanda awal kebangkrutan). Semakin awal tandatanda kebangkrutan tersebut, semakin baik bagi pihak manajemen
karena pihak manajemen bisa melakukan perbaikan-perbaikan. Pihak
kreditur dan juga pihak pemegang saham bisa melakukan persiapanpersiapan untuk mengatasi berbagi kemungkinan yang buruk. Tandatanda kebangkrutan tersebut dalam hal ini dapat dilihat dengan
menggunakan data-data akuntansi. Cara yang dapat ditempuh
manajemen untuk menganalisis kondisi keuangan perusahaan setelah
menangkap sinyal-sinyal kebangkrutan adalah analisis evaluasi
kebangkrutan baik melalui metode internal maupun eksternal. Analisis
eksternal dilakukan atas data yang bersumber dari luar perusahaan
seperti laporan perdagangan, statistik maupun indikator ekonomi yang
dikeluarkan oleh pemerintah maupun swasta.
40
Dalam praktik, dan juga dalam penelitian empiris, kesulitan
keuangan sulit untuk didefinisikan. Kesulitan semacam itu bisa berarti
mulai dari kesulitan likuiditas (jangka pendek), yang merupakan
kesulitan yang paling berat
Kebangkrutan telah digunakan sebagi istilah umum menurut
Rahman Muslim (2008:35) adalah menerangkan keadaan perusahaan
yang mengalami kesulitan keuangan. Para peneliti telah menggunakan
istilah failure (kegagalan) dan bangkrupty (kebangkrutan) secara
bergantian :
Tabel : 2.1.
Definisi kebangkrutan / kegagalan.
Nama
Altman
(1973)
Istilah
Bangkrupty
Beaver
(1967)
Failure
Blum
(1974)
Failure
Deakin
(1972)
Failure
Foster
(1986)
Bangkrupty
Definisi
Perusahaan yang secara hukum bangkrut,
baik ditempatkan dibawah perwalian/telah
dijamin haknya untuk direorganisai dibawah
National Bankrupty Act
Ketidakmampuan
perusahaan
untuk
membayar kewajiban keuangannya saat
jatuh tempo/secara operasional diartikan
sebagai perusahaan yang mengalami
kebanhgkrutan, kegagalan membayar bunga
dan pokok obligasi., saldo negatif perkiraan
bank, deviden saham preperen yang tidak
dibayar
Kejadian-kejadian
yang
menunjukkan
ketidakmampuan untuk membayar utangnya
saat jatuh tempo yang menggambrakan
perusahan
mengalami
kebangkrutan/
menyebabkan terjadinya perjanjian eksplisit
dengan kreditor untuk mengurangi hutang
Perusahaan yang mengalami kebangkrutan,
insolvensi/likuidasi
untuk
kepentingan
kreditor
Suatu kejadian hukum yang sangat
dipengaruhi oleh tindakan para bankir dan
kreditor
41
Lanjutan Tabel : 2.1.
Definisi kebangkrutan / kegagalan.
Nama
Kunt
(1989)
Kunt
(1989)
Istilah
De jure
failure/closure/
of ficia
(de hure)
insolvency
De facto
failure
Definisi
Dimerjer
Penghentian
otonomi
operasi
diperintahkan oleh regulator
yang
Sumber : Karel & prakash dalam Eni Listeyatai dalam Rahman
Muslim (2008:35).
Kebangkrutan sebagai kegagalan perusahaan didefinisikan
dalam beberapa arti, menurut Muhammad Akhyar dan Eha Kurniasaih
(2000:137) dalam Rahman Muslim (2006:33) antara lain:
(1). Economic failure ( kegagalan ekonomi)
Kegagalan dalam arti ekonomi biasanya berarti bahwa
perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak
menutup biaya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari
biaya modal/ nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil
dari kewajibananya. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya
dari perusahaan tersebut jatuh dibawah arus kas yang diharapakan.
Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa tingkat pendapatan
atas biaya historis dari investasinya lebih kecil dari biaya modal
perusahaan.
42
(2). Financial failure ( kegagalan keuangan) dalam Rahman Muslim
(2008:33).
Insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan
dasar saham insolvensi teknis dan insolvensi dalam pengertian
kebangkrutan. Insolvensi teknis adalah perusahaan dapat dianggap
gagal jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibanya pada saat
jatuh tempo. Walaupun total aktiva melebihi total hutang atau
terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih
kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio aktiva lancar
terhadap hutang lancar yang telah ditetapkan atau rasio kekayaan
bersih terhadap total aktiva yang disyaratkan. Insolvensi juga
terjadi bila arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran
kembali pokok pada tanggal tertentu. Insolvensi dalam pengertian
kebangkrutan adalah kebangkrutan didefinisikan dalam ukuran
sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau
nilai sekarang dari arus kas yang diharapakan lebih kecil dari
kewajibannya.
b. Tahap- tahap berbagai indikator kebangkrutan
Kesulitan
keuangan
yang
menuju
kearah
terjadinya
kebangkrutan dapat dianalisa dan dapat diidentifikasi melalui tahaptahap yang tercakup di dalam proses, perjalanan yang berakhir pada
(keadaan) kebangkrutan tersebut. Adapun tahap-tahap itu adalah
Hernanto dalam Sarwanih (2006:54): (1) tahap permulaan/ awal, (2)
43
tahap dimana perusahaan mengalami kekurangan kas dan alat-alat
liquid lainnya atau tahap kesulitan likuiditas, (3) tahap dimana
perusahaan
tidak
solvabel
dalam
kegiatan
komersial
dan
keuangan,serta (4) bangkrut secara total.
c. Analisis Prediksi Kebangkrutan.
Analisis diskriminan menurut Supranto (2004:77) merupakan
teknik menganalisis data, kalau variabel tak bebas (disebut: criterion)
merupakan kategori (non metric, nominal atau ordinal, bersifat
kualitatif) sedangkan varibel bebas sebagai predictor merupakan
metrik (interval atau rasio, bersifat kuantitatif). Rasio-rasio keuangan
memberikan
indikasi
tentang
kekuatan
keuangan
dari
suatu
perusahaan. Keterbatasan analisis rasio timbul dari kenyataan bahwa
metodologinya pada dasarnya bersifat penyimpangan (univariate) yang
artinya setiap rasio di uji secara terpisah.Untuk mengatasi kelemahankelemahan analisis tersebut, maka Altman telah mengkombinasikan
beberapa rasio menjadi model prediksi dan teknik statistik. Yaitu
analisis
diskriminasi
yang
menghasilkan
suatu
indeks
yang
memungkinkan klasifikasi dari suatu pengamatan menjadi satu dari
beberapa pengelompokan yang bersifat apriori.
Dalam penelitiannya Altman
mengambil satu sampel yang
terdiri dari 66 perusahaan manufaktur setengah diantaranya mengalami
kebangkrutan. Altman memperoleh 22 rasio keuangan, dimana 5
diantaranya ditemukan paling berkontribusi pada model prediksi.
44
Fungsi diskriminan yang ditemukan Altman pada tahun 1968
itu adalah sebagai berikut: menurut Weston dan Copeland dalam Dana
Siswar (2003:231)
Z = 1,2X1 + 1,4X2 + 3,3X3 + 0,6X4 + 1.0X5
dimana:
X1 = Modal kerja/total aktiva .
X2= Laba yang ditahan/total aktiva.
X3= Laba sebelum bunga dan pajak/total aktiva.
X4= Nilai pasar modal saham/Nilai buku total hutang.
X5= Penjualan/total aset .
Informasi kebangkrutan bisa bermanfaat bagi beberapa pihak
dalam Mamduh dan Halim (2007:261) seperti berikut ini: (1) Pemberi
pinjaman
(seperti
pihak
bank).
Informasi
kebangkrutan
bisa
bermanfaat untuk mengambil keputusan siapa yang akan diberi
pinjaman, dan kemudian bermanfaat untuk memonitor pinjaman yang
ada. (2) Investor. Investor saham atau obligasi yang dikeluarkan oleh
suatu perusahaan akan sangat berkepentingan melihat adanya
kemungkinan bangkrut atau tidaknya perusahaan yang menjual surat
berharga tersebut. Investor yang menganut strategi aktif akan
mengembangkan model prediksi kebangkrutan untuk melihat tandatanda kebangkrutan seawal mungkin dan kemudian mengantisipasi
kemungkinan tersebut. (3) Pihak Pemerintah. Pada beberapa sektor
usaha, lembaga pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk
45
mengawasi jalannya usaha tersebut (misalnya sektor perbankan).
Lembaga pemerintah mempunyai kepentingan untuk melihat tandatanda kebangkrutan lebih awal supaya tindakan-tindakan yang perlu
bisa dilakukan lebih awal. (4) Akuntan. Akuntan mempunyai
kepentingan terhadap informasi kelangsungan suatu usaha karena
akuntan akan menilai kemampuan going concern suatau perusahaan.
(5) Manajemen. Kebangkrutan berarti munculnya biaya-biaya yang
berkaitan dengan kebangkrutan dan biaya ini cukup besar.
Masalah lain yang perlu dipertimbangkan adalah banyaknya
perusahaan yang tidak Go public, dengan demikian tidak mempunyai
nilai dasar. Altman kemudian mengembangkan Model alternatif
dengan menggantikan nilai pasar menjadi nilai buku. Dengan demikian
Model tersebut dapat dipakai untuk perusahaan yang Go public dan
tidak Go public. Persamaan yang diperoleh dengan cara semacam ini
adalah sebagai berikut:
Z = 1.2(X1) +1.4 (X2) +3.3 (X3) +0.6(X4) +1(X5)
Dari rumus menurut Dana Siswar (2003:231-232) di atas dapat
diketahui bahwa analisis diskriminan memuat 5 unsur yaitu X1 sampai
X5, dimana:
X1 =
Menyimpulkan bahwa suatu perusahaan yang berpotensi
gagal mulai berkurang investasinya untuk aktiva lancar. Jadi
bila dalam beberapa tahun investasi terhadap aktiva lancarnya
46
mengalami penurunan terus menerus maka perlu diwaspadai
mengenai X1 yang merupakan unsur kebangkrutan.
X2=
Indikator profitabilitas kumulatif yang relatif terhadap
penyusunan waktu, maka ini mengisyaratkannya bahwa
semakin
muda
suatu
perusahaan,
semakin
besar
kemungkinannya untuk bangkrut, tetapi tidak menutup
kemungkinan
perusahaan
yang
besarpun
mengalami
kebangkrutan.
X3=
Mencerminkan keseluruhan kekuatan perusahaan dalam
mendatangkan
pendapatan,
melemahnya
faktor
ini
merupakan indikator terbaik akan hadirnya kebangkrutan,
karena berjalannya suatu perusahaan bergantung juga pada
laba yang diperoleh perusahaan.
X4=
Mengembangkan solvabilitas/kemampuan finansial jangka
panjang dari suatu perusahaan.
X5=
Menunjukkan rasio perputaran modal yang menunjukkan
besar kecilnya kemampuan manajemen untuk menjual assetasset
perusahaan
atau bisa dikatakan seberapa jauh
kemampuan aktiva menciptakan penjualan.
d. Masalah dalam kebangkrutan
Menurut Mamduh dan Halim (2007:262) kesehatan suatu
perusahaan bisa digambarkan dari titik sehat yang paling ekstrem
sampai kepada titik tidak sehat yang paling ekstrem sebagai berikut :
47
Kesulitan keuangan jangka pendek bersifat sementara dan belum
begitu parah. Tetapi kesulitan semacam ini apabila tidak ditangani bisa
berkembang menjadi kesulitan tidak solvabel. Kalau tidak solvabel
perusahaan bisa dilikuidasi atau direorganisasi. Likuidasi dipilih
apabila nilai likuidasi lebih besar daripada nilai perusahaan kalau
diteruskan. Reorganisasi dipilih kalau perusahaan masih menunjukkan
prospek dan dengan demikian nilai perusahaan kalau diteruskan lebih
besar dibandingkan nilai perusahaan kalau dilikuidasi.
Tabel : 2.2
Alternatif perbaikan kesulitan keuangan
Pemecahan secara informal
1. Dilakukan apabila maslah belum begitu parah
2. Masalah perusahaan hanya bersifat sementara, prospek masa
depan masih bagus dengan cara :
a. Perpanjangan (Extention): dilakukan dengan cara
memperpanjang jatuh tempo hutang-hutang
b. Komposisi
(Composition):
dilakukan
dengan
mengurangi besarnya tagihan.
Pemecahan secara formal
Dilakukan apabila masalah sudah parah, kreditur ingin mempunyai
jaminan keamanan dengan cara :
a. Apabila nilai perusahan diteruskan > nilai perusahaan
dilikuidasi
Reorganisasi : dengan merubah struktur modal menjadi
struktur modal yang layak
b. Apabila nilai perusahan diteruskan < nilai perusahaan
dilikuidasi
Likuidasi : dengan menjual asset-aset perusahaan
Sumber : Analisis laporan keuangan Mamduh M. Hanafi & Abdul
Halim (2007:262).
48
7. Analisis Diskriminan.
a. Pengertian Diskriminan
Analisis Diskriminan menurut Supranto (2004:77) adalah teknik
multivariate yang termasuk dependence method, yakni adanya variabel
dependen dan independent. Dengan demikian ada variabel yang
hasilnya tergantung dari data variabel independent. Ciri khusus adalah
data variabel dependen yang harus berupa data kategori, sedangkan
data independent justru berupa data non kategorik. Analisis dikriminan
pada prinsipnya merupakan tehnik untuk menganalisis data dimana
variabel tergantungnya merupakan variabel katagori, tergantung
bersifat setara dan mutually exclusive. Analisis diskriminan, disamping
berfungsi untuk menemukan besarnya nilai perbedaan antara beberapa
kelompok atau kategori yang diukur dari beberapa variabel penentu
atau diskriminator juga berfungsi untuk menentukan besarnya nilai
peranan (alokasi) tiap diskriminator pada tiap kategori.
Secara teknik analisis diskriminan mirip dengan analisis regresi,
hanya pada metode regresi (maupun regresi berganda), variabel
dependen justru harus data rasio. Sedang jenis data untuk variabel
independent bisa rasio atau kategori. Perbedaan antara analisis
diskriminan dan analisis multidiskriminan adalah pada jumlah variabel
tergantungnya, jika variabel tergantungnya hanya terdiri atas dua
kriteria saja ,disebut dengan analisis diskriminan, namun jika variabel
49
tergantungnya lebih dari dua katagori, disebut dengan analisis
multidiskriminan.
Tabel 2.3
Persamaan dan Perbedaan antara Analisis Varian (Anova), Analisis
Regresi dan Analisis Diskriminan
Keterengan
Kesamaan
Jumlah variabel tak
bebas
Jumlah variabel bebas
Perbedaan
Jumlah variabel tak
bebas
Jumlah variabel bebas
Anova
Regresi
Diskriminan
Satu
Satu
Satu
Banyak (>1)
Banyak (>1)
Banyak (>1)
Matriks
(kuantitatif)
Kategorik
(kualitatif)
Matriks
(kuantitatif)
Matriks
(kuantitatif)
Kategorik
(kualitatif)
Matriks
(kuantitatif)
Sumber : J. Supranto (Analisis multivariat : Arti dan interpretasi)
(2004:80).
b. Langkah-langkah Analisis Diskriminan menurut Suliyanto (2005:95)
adalah sebagai berikut:
1) Merumuskan masalah.
2) Mengestimasi koefisien fungsi diskriminan.
3) Menentukan signifikansi fungsi diskriminan.
4) Menginterpretasikan hasil.
5) Mengukur validitas analisis diskriminan.
c. Tujuan analisis diskriminan menurut Supranto (2004:77-78) adalah
sebagai berikut:
1) Membuat suatu fungsi diskriminan atau kombinasi linear, dari
predictor atau varibel bebas yang bisa mendiskriminasi atau
membedakan kategori variabel tak bebas atau kelompok, artinya
50
mampu membedakan suatu objek masuk kelompok/kategori yang
mana.
2) Menguji apakah ada perbedaan signifikan antara kategori
kelompok/ yang dikaitakan dengan variabel bebas atau predictor.
3) Menentukan variabel bebas yang mana yang memberikan
sumbangan terbesar terhadap terjadinya perbedan antar kelompok.
4) Mengklarifikasikan/mengelompokan objek kedalam suatu kategori
didasarkan pada variabel bebas.
5) Mengevaluasi keakuratan klasifikasi.
d. Asumsi penting yang harus dipenuhi agar model diskriminan menurut
Bambang Ruswandi (2006:32) bisa digunakan adalah sebagai berikut:
1) Multivariate normality atau variabel independent seharusnya
berdistribusi normal. Jika data tidak berdistribusi normal, hal ini
akan menyebabkan masalah pada ketepatan fungsi (model)
diskriminan.
2) Matriks kovarians dari semua variabel independen seharusnya
sama (equal).
3) Tidak ada korelasi antar variabel independent. Jika dua variabel
independent mempunyai korelasi yang kuat, maka dikatakan
multikolinertitas.
4) Tidak ada data yang ekstrim (outlier) pada variabel independent.
Jika data ouitlier yang tetap diproses, hal ini bisa berakibat
bekurangnya ketapatan klasifikasi dari fungsi diskriminan.
51
e. Analisis Z score
Analisis Z skor dapat digunakan sebagai alat prediksi
kebangkrutan dan penilaian kinerja keuangan perusahaan menurut
Silvia Anggraini (2004:115). Analisis ini pertama kali di kemukakan
oleh Edward I. Altman pada pertengahan ta-hun 1960 di New York
City. Dalam studinya setelah menyeleksi 22 rasio keuangan ditemukan
5 rasio yang dapat dikombinasikan untuk melihat perusahaan yang
bangkrut dan tidak bangkrut. Kemudian Altman melakukan perbaikan
dengan membuatnya dalam versi lima variabel, yaitu :
Z = 1.2(X1) +1.4 (X2) +3.3 (X3) +0.6(X4) +1(X5)
dimana :
X1 = Modal Kerja/Total Aktiva
X2 = Laba Ditahan/Total Aktiva
X3 =Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aktiva
X4=Nilai Pasar Modal Sendiri/Total Kewajiban
X5= Penjualan/total asset.
Hasil penghitungan Z skor dapat dibandingkan dengan standar
yang ditetapkan atau dapat pula dilihat perkembangannya dari tahun ke
tahun. Jika skor lebih besar dari 0.031 berarti perusahaan berada dalam
kondisi
sehat.
Bila
lebih
kecil
kebangkrutan mungkin akan terjadi.
52
dari
0.031
mengindikasikan
Kondisi yang mungkin terjadi adalah banyak perusahaan
dengan skor yang lebih tinggi mengalami kebangkrutan sedangkan ada
perusahaan dengan skor yang lebih rendah dapat terus bertahan.
Apabila dari tahun ke tahun Z skor mengalami penurunan ini
mengindentifikasikan terjadinya gejala kesulitan keuangan yang pada
akhirnya dapat menyebabkan kebangkrutan.
Dari keempat variabel yang digunakan perusahaan semuanya
berasal dari berbagai kelompok rasio yang dapat dilihat keterkaitannya
dalam
menilai
kinerja
keuangan
perusahaan.
Variabel
X1
memperlihatkan likuiditas perusahaan. Variabel X2 memperlihatkan
kemampuan perusahaan menghasilkan laba kumulatif. Variabel X3
mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba setiap tahunnya
dengan penggunaan aktiva yang dimiliki. Variabel X4 memperlihatkan
solvabilitas perusahaan.
Kebaikan analisis Z skor menurut Sawir (2001:22) dalam Silvia
Anggraini (2004:116) adalah dapat mengkombinasikan berbagai rasio
menjadi suatu model prediksi yang berarti dan dapat dipergunakan
untuk
seluruh
perusahaan,
baik
perusahaan
publik,
pribadi,
manufaktur, ataupun perusahaan jasa dalam berbagai ukuran.
Kelemahan dari model ini adalah tidak ada rentang waktu yang pasti
kapan kebangkrutan akan terjadi setelah hasil z skor diketahui lebih
rendah dari standar yang ditetapkan. Model ini juga tidak dapat mutlak
53
digunakan karena adakalanya terdapat hasil yang berbeda jika kita
menggunakan model yang berbeda. Meski demikian kita dapat tetap
menggunakannya untuk memberikan peringatan yang berharga
sehingga kesulitan dapat diatasi segera.
B. Penelitian Sebelumnya
Edwar I Altman dalam Ryan Ariafinanda (2006:29), menguji manfaat
rasio
keuangan
dalam
memprediksi
kebangkrutan.
Penelitiannya
menggunakan sample sebanyak 66 perusahaan yang terdiri dari 33 perusahaan
bangkrut dan 33 perusahaan tidak bangkrut. Altman juga menggunakan
multivariate discriminant analiysis dalam menguji
manfaat lima rasio
keuangan dalam memprediksi kebangkrutan. Hasil analisa menunjukkan
bahwa rasio keuangan (profitability, liquidity dan solvency) bermanfaat dalam
memprediksi kebangkrutan dengan tingkat keakuratan 95% setahun sebelum
perusahaan bangkrut. Tingkat keakuratan tersebut turun menjadi 72% untuk
periode dua tahun sebelum bangkrut, 48% untuk periode tiga tahun sebelum
bangkrut, 29% untuk periode empat tahun sebelum bangkrut dan 36% untuk
periode lima tahun sebelum bangkrut.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dana Siswar & Neldy
Soejara (2003:234). Mengenai “Pengaruh perubahan kondisi ekonomi
terhadap kinerja keuangan dalam bentuk integrasi rasio keuangan model
altman. Suatu Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Public Di Bursa
Efek Jakarta. Mereka melakukan penelitian terhadap123 perusahaan yang
dijadikan populasi sasaran dan dirinci menurut strata sebanyak 19 bidang
54
usaha, tetapi sebanyak 23 perusahaan lagi dikeluarkan dari populasi sasaran
dengan alasan perusahaan tersebut baru terdaftar di BEJ setelah tahun 1997
dan tahun 1997 belum mempublikasikan laporan keuangannya. Penelitian ini
dilakukan terhadap laporan keuangan sejak tahun 1997 dapat disimpulkan
bahwa secara keseluruhan kinerja keuangan rata-rata periode 1997-2000
(selama krisis ekonomi) pada perusahaan manufaktur menurun sebesar
34,10% dibanding pada periode 1993-1996 (sebelum krisis ekonomi).
Penurunan ini disebabkan karena terjadi perubahan kondisi ekonomi yang
tidak stabil yaitu terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak bulan
Agustus 1997.
Menurut Siti Rodliyah (2003:7) mengenai “Analisis Diskriminan
Altman sebagai Alat untuk Memprediksi Awal Kebangkrutan pada
Perusahaan tekstil dan produk tekstil yang tercatat di BEJ tahun 2000 – 2002.
Hasil Analisis Diskriminan menunjukkan adanya empat rasio keuangan yang
merupakan indikator dominan dalam penentuan kinerja perusahaan. Keempat
rasio beserta
koefisiennya yang menunjukkan pengaruh terhadap kinerja
perusahaan adalah: (1). Rasio Modal Kerja (Aktiva lancar-Hutang Lancar /
Total Aktiva (2). Rasio Laba Ditahan / Total Aktiva (3). Rasio Laba Sebelum
Pajak dan Bunga / Total Aktiva (4). Rasio Penjualan / Total Aktiva. Sehingga
diperoleh persamaan Diskriminan sebagai berikut:
Z = 1.2(X1) +1.4 (X2) +3.3 (X3) +0.6(X4) +1(X5)
55
Kombinasi keempat rasio tersebut, dalam fungsi Dskriminan mampu
mengelompokkan perusahaan – perusahaan Tekstil dan Produk Tekstil
kedalam satu kelompok, yaitu kelompok yang rendah (bangkrut) dan
kelompok yang tinggi (tidak bangkrut). Berdasarkan fungsi Diskriminan.
Diperoleh nilai batas Z sebesar 2,092x10-20 sebagai pedoman untuk
mengklasifikasikan kedalam satu kelompok. Apabila perusahaan nilai Znya
lebih besar dari nilai batas, dikelompokkan sebagai perusahaan yang tidak
bangkrut. Dan apabila perusahaan nilai Znya lebih kecil dari nilai batas,
dikelompokkan sebagai perusahaan bangkrut.
Dari hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa menurut Analisis Diskriminan terhadap perusahaan
Tekstil dan Produk Tekstil yang tercatat di BEJ secara umum tidak mengalami
bangkrut. Terdapat 14 perusahaan yang tergolong dalam kategori tidak
bangkrut, yaitu: Century Textile, Eratex Djaja, Panasia Filament, Panasia
Indosynthect, Roda Vivatex, Sunson Textile, Tifico, Ever Shine, Fortune
Mate, Indorama Synthetics, Pan Brother Tex, Ryane Textile, Sepatu Bata,
Surya Intrindo. Lima perusahaan yang tergolong dalam kategori bangkrut
antara lain: Argo Pantes, Texmaco, Apac Inti, Hanson Industri, Kasogi Int.
Sedangkan 4 perusahaan yang masuk dalam kategori bangkrut dan tidak
bangkrut, yaitu: Great River, Karwell Int, Ricky Putra, dan Sarasa Nugraha.
Rata-rata perusahaan yang bangkrut tersebut disebabkan karena kecilnya rasio
likuiditas(x1) dari masing-masing
perusahaan yaitu Texmaco, Apac Inti,
Hanson Industri, dan Kasogi Int. Sedang rata-rata perusahaan yang tidak
bangkrut disebabkan karena tingginya rasio perputaran modal(x5).
56
Menurut Ryan Ariafinanda (2006) melakukan penelitian terhadap
sektor perbankan yang mendapat kategori A pada tahun 1998 dan terdaftar di
Bursa Efek Jakarta, data yang dikumpulkan berada dalam kurun waktu tahun
2001 sampai dengan tahun 2003. Pengambilan data tiga tahun ini sudah cukup
menggambarakan kondisi saat perusahaan perbankan di Indonesia berada
dalam masa puncak krisis, masa transisi, meskipun belum bisa dikatakan telah
melewati krisis, karena sampai saat ini masih saja ada bank yang terlikuidasi,
bank yang dilteliti adalah bank BII, Danamon. Niaga, BNI, BCA dan LIPPO.
Secara keseluruhan bank tersebut terbagi ke dalam tiga kategori yaitu bank
yang mengalami kebangkrutan antara lain : Bank BII, dan LIPPO, sedangkan
yang tidak mengalami kebangkrutan yaitu bank Danamon dan BCA
sedangkan bank yang berada dalam posisi grey area adalah bank Niaga dan
BNI.
C. Kerangka pemikiran
Penelitian ini menganalisis tentang Pengaruh perubahan kondisi
ekonomi terhadap kinerja keuangan dalam bentuk integrasi rasio keuangan
model Altman dengan menggunakan analisis diskriminan untuk memprediksi
kebangkrutan suatu studi pada perusahaan perbankan yang go public di Bursa
Efek Indonesia periode 2004-2007.
Perbedaan penelitian terletak pada objek penelitian yaitu sektor
perbankan konvensional dan periode penelitian dilakukan pada tahun 20042007.
57
Sedang persamaan antara penelitian terdahulu dan sekarang adalah
pada alat analisis datanya yaitu sama-sama menggunakan alat analisis
diskriminan Altman. Dimana rumus Z = 1.2(X1) +1.4 (X2) +3.3 (X3) +0.6(X4)
+1(X5). Yang digunakan adalah nilai yang dicari dari hasil laporan keuangan
yaitu neraca dan Laporan laba dan rugi.
Alasan
ketertarikan
mengambil
perusahaan
perbankan
masa
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono adalah karena menurut mantan
Menko Perekonomian Rizal Ramli, sejak
tahun 2007 terbentuk financial
bubble (balon finansial) di Indonesia. Dana jangka pendek mengalir deras ke
Indonesia, menyerbu aset finansial, seperti saham, obligasi, reksadana, dan
Sertifikat Bank Indonesia. Trend ini membuat rupiah menguat dan kinerja
perbankan juga membaik (Antara News, Desember 2007). Adapun alasan
pengambilan model Altman sebagi prediksi kebangkrutan (Sarwanih,2007:59)
karena model ini memiliki tingkat ketepatan yang relatif tinggi yaitu sebesar
82,7% dibandingkan dengan model Shumway yang tidak mempunyai
kemampuan prediksi yang baik bahkan sangat buruk 0%. Atau dari hasil yang
didapat model tersebut memiliki kesalahan prediksi yang lebih besar
dibandingkan dengan model Altman yaitu sebesar 100%, sedangkan pada
model Altman kesalahan dalam memprediksi sebagai perusahaan tidak default
hanya sebesar 26,7%.
Disamping
itu,
Bank
Indonesia
(BI)
menyatakan
kondisi
perekonomian saat ini jauh lebih baik dari kondisi pada 1997 saat krisis
ekonomi melanda Indonesia. Hal ini tercermin dari beberapa indikator
58
ekonomi seperti stabilitas makro ekonomi yang terjaga, surplus transaksi
berjalan, cadangan devisa yang tinggi, sistem nilai tukar yang mengambang,
kondisi fiskal yang sehat dan kondisi perbankan yang relatif lebih baik(
Sindo,Desember 2007).
Ukuran kebangkrutan ini oleh Altman (1984) diprediksi dengan tolak
ukur Z-score yaitu skor yang dihitung dengan standar dari rasio-rasio
keuangan terpilih. Z-score ini dapat digunakan sebagai indikator tingkat
kesehatan atau potensi
kebangkrutan perusahaan. Rasio keuangan yang
dipergunakan dalam perhitungan Z-score menurut Ryan Ariafinanda
(2006:37-38) terdiri dari :
1). Rasio likuiditas
a) Working Capital / Total Asset (WC/TA)
Rasio ini merupakan rasio yang mendeteksi likuiditas dari
total aktiva dan posisi modal kerja (neto). Dimana modal kerja
diperoleh dari selisih antara aktiva lancar dengan utang lancar.
Aktiva lancar perusahaan perbankan terdiri dari Cash on Hand and
in Banks, Placemenent in other Banks, Notes and securities dan
Loands. Sedangkan kewajiban lancar perusahaan perbankan terdiri
dari Demand deposit, Time deposit dan Saving deposit.
2). Rasio Profitabilitas
a) Retained Earning/ Total Asset (RE/TA)
Rasio ini mengukur kemampuan laba kumulatif dari
perusahaan. Pada beberapa tingkat, rasio ini juga mencerminkan
59
umur perusahaan, karena semakin muda perusahaan semakin
sedikit waktu yang dimilikinya untuk membangun laba kumulatif.
Bias yang menguntungkan perusahaan-perusahaan yang lebih
berumur ini tidak mengherankan, karena pemberian tingkat
kegagalan yang tinggi kepada perusahaan yang lebih muda
merupakan hal yang wajar. Bila perusahaan mulai merugi, tentu
saja nilai dari total laba ditahan mulai turun. Bagi banyak
perusahaan, nilai laba ditahan dan rasio X2 akan menjadi negatif.
b) Earning Before Interest and Taxes/ Total Asset (EBIT/TA)
Rasio ini mengukur kemampuan laba, yaitu tingkat
pengembalian dari aktiva, yang dihitung dengan membagi laba
sebelum bunga dan pajak (EBIT) tahunan perusahaan dengan total
aktiva pada neraca akhir tahun. Rasio ini juga dapat digunakan
sebagai ukuran seberapa besar produktivitas penggunaan dana yang
dipinjam. Bila rasio ini lebih besar dari rata-rata tingkat bunga
yang dibayar, maka berarti perusahaan menghasilkan uang yang
lebih banyak daripada bunga pinjaman.
3). Rasio Aktivitas
a) Market Value of Equity/Book Value of Total Liabilities ( MVE/TL)
Rasio ini sering juga digunakan dalam bentuk persamaan
net worth/total debt untuk perusahaan yang tidak terdaftar di
Burasa
Efek
Indonesia.
Rasio
ini
mengukur
kemampuan
perusahaan dalam memberikan jaminan kepada setiap utangnya
60
melalui modalnya sendiri. Rasio ini merupakan kebalikan dari
rasio utang permodal sendiri (DER). Nilai pasar ekuitas yang
dimaksud adalah nilai pasar modal sendiri, yaitu jumlah saham
perusahaan
dikalikan
dengan
harga
perlembar
sahamnya.
Umumnya perusahaan-perusahaan yang gagal mengakumulasi
lebih banyak utang dibandingkan modal sendiri.
b) Sales/Total Asset (S/TA)
Rasio ini disebut juga rasio perputaran total aktiva. Rasio ini
menunjukan efektivitas penggunaan seluruh harta perusahaan
dalam rangka menghasilkan atau menggambarkan berapa rupiah
penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang
diinvestasikan
dalam
bentuk
harta
perusahaan.
Kalau
perputarannya lambat, ini menunjukkan bahwa aktiva yang
dimiliki terlalu besar dibandingkan dengan kemampuan perusahaan
untuk menjual.
Penentuan sampel penulis mengambil perusahaan perbankan
konvensional yang berkategori A &B, dikarenakan perbankan tersebut
merupakan perusahaan yang memiliki asset diatas Rp. 5 Triliyun maupun
dibawah Rp.5 Triliyun sesuai dengan ukuran dari Bank Indonesia.
Pengolahan data dilakukan dengan cara: Analisis Diskriminan
dengan menggunakan SPSS 12.
61
Tabel: 2.4
Kerangka Pemikiran
Perubahan Kondisi Ekonomi (dalam hal ini 0 untuk Asset
yang kurang dari 5 Trilyun (tahun 2004-2007) dan 1 (tahun
2004)&2 (tahun 2005-2007) untuk Asset yang ada diatas 5
Trilyun)
Model Altman yang dipakai ada lima yaitu sebagai berikut:
ƒ WCTA
ƒ RETA
ƒ EBITTA
ƒ MVETL
ƒ STA
ƒ
ƒ
Merumumuskan masalah
Mengestimasi keofisien
Menentukan signifikasi fungsi diskriminan dilihat dari
Wilks’lambda atau chi square
Menginterpretasikan hasil dilihat dari hasil output
diskriminan yang terstandarisasi dan tidak terstandarisai
Mengukur Validitas Analisis Diskriminan
Kesimpulan
Implikasi
62
D. Hipotesis
Rumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadap kinerja
keuangan dalam bentuk integrasi rasio keuangan model Altman.
Ho
:bi =0
Tidak terdapat Pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadap
model Altman untuk memperdiksi kebangkrutan.
H1 :bi # 0 Terdapat Pengaruh perubahan kondisis ekonomi terhadap model
Altman untuk memperdiksi kebangkrutan.
2. Apakah rasio yang terdapat dalam model Altman dalam hal ini WCTA,
RETA dan STA dapat memprediksi kebangkrutan suatu bank.
H0
:bi =0
Diduga model Altman seperti WCTA, RETA, dan STA tidak
merupakan atribut untuk menentukan kondisi bangkrut dan tidak
bangkrutnya suatu bank.
H1
:bi # 0
Diduga model Altman seperti WCTA, RETA, dan STA
merupakan atribut untuk menentukan kondisi bangkrut dan tidak
bangkrutnya suatu bank.
3. Berapa banyak bank yang mengalami kebangkrutan dari perubahan
kondisi perekonomian tersebut.
H0 :bi =0 Tidak banyak (sedikit) bank yang mengalami kebangkrutan .
H1 :bi # 0 Banyak bank yang mengalami kebangkrutan.
63
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
F. Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap kinerja keuangan pada sektor
Perbankan konvensional yang telah go public di Bursa Efek Indonesia
periode sebelum Pemilihan Umum berlangsung (tahun 2004) sampai
terpilihnya masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (tahun 20052007). Kinerja keuangan untuk setiap tahun masa pemerintahan diukur
dengan menggunakan rasio keuangan tertentu yang diintegrasikan sesuai
dengan model Altman.
Rasio keuangan tersebut meliputi : rasio modal kerja terhadap total
asset, untuk rasio modal kerja diperoleh dari aktiva lancar dikurangi
kewajiban lancar. Aktiva lancar perusahaan perbankan terdiri dari Cash on
Hand and in Banks, Placemenent in other Banks, Notes and securities dan
Loands. Sedangkan kewajiban lancar perusahaan perbankan terdiri dari
Demand deposit, Time deposit dan Saving deposit, rasio laba ditahan
terhadap total asset, rasio laba sebelum bunga dan pajak terhadap total
asset, rasio harga pasar saham terhadap nilai buku total kewajiban (dalam
hal ini jumlah saham perusahaan dikalikan dengan harga perlembar
sahamnya), dan rasio penjualan terhadap total asset. Rasio keuangan setiap
tahunnya dihitung berdasarkan angka-angka pos laporan keuangan dalam
hal ini neraca dan loparan laba/rugi yang disajikan perusahaan.
64
G. Teknik Pengumpulan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah sektor Perbankan yang telah go
public di BEI. Sebanyak 19 bank yang telah terdaftar dari periode tahun
2004 sampai dengan tahun 2007. Adapun nama-nama bank tersebut adalah
PT Bank International Indonesia,Tbk, PT Bank Danamon,Tbk, PT Bank
Niaga,Tbk, PT BNI,Tbk, PT Bank Central Asia,Tbk, PT Bank LIPPO,Tbk,
PT Artha Graha Internasional,Tbk, PT Century, Mayapada Internasional,
Mega, Niaga, NISP, Nusantara Parahiyangan, PAN Indonesian Bank,
Permata, Eksekutif Internasional, Victoria Internasional. PT Artha Niaga
Kencana,Tbk serta OUB Buana.
Adapun rumus untuk stabilitas diskriminan adalah sebagai berikut:
pressQ
= [N-(n-k)]2
N (k-1)
Simbol tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
N= Jumlah sampel
n = Jumlah sampel yang bebas dari pengalokasiannya
k = Jumlah kondisi.
H. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan merupakan data sekunder yang dikumpulkan
melalui studi dokumentasi. Data penelitian ini diperoleh dari laporan
keuangan perusahaan periode 2004 sampai 2007 yang diterbitkan setiap
tahunnya pada Indonesian Capital market Directory.
65
Data penelitian ini diperoleh dengan cara sebagi berikut :
a. Data yang digunakan untuk mendukung landasan teoritis diperoleh
dengan membaca buku-buku literatur dan jurnal-jurnal yang sesuai
dengan topik yang akan dibahas.
b. Data yang terdapat pada objek penelitian yaitu berupa laporan
keuangan sektor Perbankan yang go public di BEI dari mulai tahun
2004, 2005 ,2006 dan 2007 yang terdapat pada Directory Perbankan
Indonesia.
c. Penulis mengambil perusahaan perbankan yang berkategori A&B
dikarenakan perbankan tersebut merupakan perusahaan yang memiliki
asset diatas Rp. 5 Triliun dan dibawah Rp. 5Triliun sesuai dengan
ukuran dari Bank Indonesia.
I. Metode Analisis Data
Penelitian ini menggunkan analisa diskriminan dengan menggunakan
model Altman sebagai alat analisis datanya. Untuk analisis potensi
kebangkrutan pada sebuah lembaga perbankan yang berkategori A&B dan
terdaftar di Bursa Efek Indonesia, akan menggunakan formula atau metode
yang ditentukan oleh Altman yang dikenal dengan Z-score. Dengan
menggunakan metode Altman ini, maka akan dapat diprediksi kemungkinan
terjadinya kebangkrutan pada sebuah perusahaan baik perbankan maupun
non perbankan.
Dari data laporan keuangan perbankan, kemudian akan dianalisis
dengan menggunakan beberapa rasio-rasio keuangan yang dianggap dapat
66
memprediksi kebangkrutan sebuah perusahaan. Beberapa rasio keuangan
yang akan mendeteksi kemungkinan terjadinya kebangkrutan pada
perusahaan perbankan adalah rasio likuiditas, rasio prifitabilitas dan rasio
aktivitas dari rasio-rasio inilah yang kemudian diproses lebih lanjut
dengan menggunakan formula Altman. Data atau hasil perhitungan rasiorasio tersebut, kemudian dianalisa lebih jauh dengan menggunakn formula
yang dikemukakan oleh Altaman sebagi berikut :
Dari hasil analisa dengan menggunakan model Altman, akan
diperoleh hasil berupa angka-angka atau nilai Z-score yang kemudian
dapat menjelaskan kemungkinan terjadinya kebangkrutan pada sebuah
perusahaan. Nilai Z-score ini akan menjelaskan kondisi keuangan
perusahaan yang dibagi dalam beberapa tingkatan yaitu :
1) Untuk nilai Z-score lebih kecil atau sama dengan 0,0311 berarti
perusahaan mengalami kesulitan keuangan dan resiko yang tinggi.
2) Untuk nilai Z-score lebih besar dari 0,0311 memberikan penilaian
bahwa perusahaan berada pada keadaan yang sangat sehat sehingga
kemungkinaan kebangkrutan terjadi sangat kecil. (Data diolah:88)
Penjelasan dari langkah-langkah dalam analisis diskriminan
menurut Suliyanto (2005:95-96) sebagi berikut:
1) Merumuskan Masalah
Langkah pertama dalam analisis diskriminan adalah merumuskan
masalah dengan menentukan tujuan, kriteria, dan variabel bebas atau
sering disebut dengan atribut determinan. Kriteria dalam variabel harus
67
bersifat mutually exclusive. Apabila variabel merupakan variabel
interval atau rasio harus diubah dulu menjadi variabel kriteria.
2) Mengestimasi Koefisien Fungsi Diskriminan
Dalam mengestimasi koefisien fungsi diskriminan terdapat dua
pendekatan, dua pendekatan tersebut adalah sebagai berikut .
a) Pendekatan langsung (Direct Method)
Dalam pendekatan ini, semua variabel bebas dimasukan
seluruhnya dalam analisis secara bersama-sama. Pendekatan ini
tepat diterapkan apabila didasarkan pada penelitian terdahulu atau
berdasarkan pada teori yang telah ada.
b) Pendekatan Stepwise
Dalam pendekatan ini, variabel dimasukan satu persatu
dalam analisis. Pendekatan ini tepat untuk menentukan variabel
bebas mana yang memiliki pengaruh yang dominan dalam
pembentukan persamaan.
3) Menentukan signifikansi fungsi diskriminan
Signifikasi fungsi diskriminan dapat dilihat melalui nilai Wilks’
lamda atau chi square. Angka wilks’ lambda berkisar 0-1, jika
mendekati 0: data tiap grup semakin berbeda, semakin mendekati 1
data tiap grup mendekati sama.
Jika F hitung < F tabel = tidak ada perbedaan antar kondisi
Jika F hitung > F tabel = ada perbedaan antar kondisi.
68
Dengan sig.tes
Jika sig > 0,05 = tidak ada perbedaan antar kondisi ekonomi.
Jika sig < 0,05 = ada perbedaan antar kondisi ekonomi.
4) Menginterpretasikan Hasil
Interpretasi dalam analisis diskriminan sama dengan interpretasi
pada analisi regresi berganda. Dalam output diskriminan ditampilkan
output yang terstandarisasi dan tidak terstandarisasi. Karena jumlah
bank untuk setiap kategori sama, maka besar nilai cutoff dapat dicari
dengan persamaan berikut.
Nilai cut off = Z1 + Z2
2
Akan tetapi, jika jumlah bank untuk setiap kondisi tidak sama,
maka besarnya nilai cutoff dapat dicari dengan persamaan berikut.
Nilai cut off = n1.Z1 + n2.Z2 + n3. Z3
n1 + n2 + n3
Keterangan:
n = Jumlah bank yang ada di kondisi masing-masing
Z = Nilai function dari masing-masing kondisi
5) Mengukur Validitas Analisis Diskriminan
Validitas
dalam
analisis
diskriminan
pada
hakikatnya
membadingkan antara kategori yang senyatanya dengan kategori yang
dihasilkan oleh persaman diskriminan. Semakin banyak kesesuaian
69
antara kategori berdasarkan persamaan diskriminan, maka persamaan
diskriminan semakin baik.
Hit ratio
= (nbenar : N) x 100%
Cpro
= p2 +(1-p)2
Cmax
= (nmax :N) x 100%
dimana:
nbenar
= Jumlah sampel dengan alokasi rediksi yang benar
p
= Proporsi jumlah sampel dikelompok 1
1-p
= Proporsi jumlah sampel dikelompok 2
nmax
= Jumlah sampel tebesar padasalah sau kelompok
N
= Jumlah samel secar keseluruhan.
J. Operasional Variabel Pengukuran.
Penentuan pedoman kondisi ekonomi financial distress dan non
financial distress pada perusahaan perbankan konvensional yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia pada penelitian ini adalah untuk perusahaan yang
finacial distress (tidak sehat) memiliki laba negatif selama 2 tahun beturutturut diproyeksikan dengan kondisi 0 untuk Laba/Rugi dibawah 5 Triliyun
sebelum dan sesudah terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono (2004-2007),
sedangkan untuk non financial distress (sehat) yang memiliki laba positif
selama 2 tahun berturut-turut memiliki proyeksi kondisi 1 untuk Laba/Rugi
diatas 5 Triliyun sebelum terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono (2004)
serta kondisi 2 untuk Laba/Rugi diatas 5 Triliyun sesudah terpilihnya Susilo
Bambang Yodhoyono (2005-2007).
70
Rasio-rasio yang dipakai antara lain:
1). Rasio Likuiditas.
Rasio modal kerja dibandingakn dengan total aktiva
X1 = Working Capital
Total Assets
Rasio ini merupakan rasio yang mendeteksi likuiditas dari total
aktiva dan posisi modal kerja (neto). Dimana modal kerja diperoleh
dari selisih antara aktiva lancar dengan utang lancar. Indikator yang
dapat digunakan untuk mendeteksi adanya masalah pada tingkat
likuiditas perusahaan adalah indikator-indikator internal seperti,
ketidak cukupan kas, utang dagang membengkak, utilisasi modal
(harta kekayaan) menurun, penambahan utang yang tak terkendali dan
beberapa indikator lainnya. Umumnya, bila perusahaan mengalami
kesulitan keuangan, modal kerja akan turun lebih cepat dari pada
modal aktiva menyebabkan rasio ini turun.
2). Rasio Profitabilitas
Rasio prifitabilitas dalam model Altman Z-score ada dua yaitu :
(a) Rasio laba ditahan dibandingkan dengan total aktiva
X2 = Retarned Earning
Total Assets.
Rasio ini mengukur kemampuan laba kumulatif dari
perusahaan. Pada beberapa tingkat, rasio ini juga mencerminkan
umur perusahaan, karena semakin muda perusahaan semakin
71
sedikit waktu yang dimilikinya untuk membangun laba kumulatif.
Bias yang menguntungkan perusahaan-perusahaan yang lebih
berumur ini tidak mengherankan, karena pemberian tingkat
kegagalan yang tinggi kepada perusahaan yuang lebih muda
merupakan hal yang wajar. Bila perausahaan mulai merugi, tentu
saja nilai dari total laba ditahan mulai turun. Bagi banyk
perusahaan, nilai laba ditahan dan radio X2 akan menjadi negatif.
(b). Rasio laba sebelum bunnga dan paajak dibandingkan dengan total
aktiva
X3 = Earning before Interest and Tax
Total Assets.
Rasio ini mengukur kemamapuan laba, yaitu tingkat
pengembalian dari aktiva, yang dihitung dengan membagi laba
sebelum bunga dan pajak (EBIT ) tahunan perusahaan dengan total
aktiva pada neraca akhir tahun. Rasio ini juga dapat digunakan
sebagai ukuran seberapa besar produktivitas penggunaan dana yang
dipinjam. Bila rasio ini lebih besar dari rata-rata tingkat bunga
yang dibayar, maka berarti perusahaan menghasilkan uang yang
lebih banyak daripada bunga pinjaman.
3). Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas yang digunakan dalam model Altamn ada dua yaitu:
(a). Nilai pasar ekuitas diabnadingkan dengan total hutang
X4= Market Value of Equity
Book Value of Debts.
72
Rasio ini sering juga digunakan dalam bentuk prsamaan net
worth/total debt untuk perusahaan yang tidak terdaftar di Bursa
Efek Jakarta. Rasio ini mengukur kemampuan perusahaan dalam
memberikan jaminan kepada setiap utangnya melalui modalnya
sendiri. Rasio ini merupakan kebalikan dari rasio utang permodal
sendiri (DER). Nilai pasar ekuitas yang dimaksud adalah nilai
pasar modal sendiri, yaitu jumlah saham perusahaan dikalikan
dengan harga perlembar sahamnya. Umumnya perusahaanperusahaan yang gagal mengakumulasi lebih banyak utang
dibandingkan modal sendiri.
(b).Penjualan dibandingkan dengan total aktiva
X5 = Sales
Total Assets.
Rasio ini disebut juga rasio perputaran total aktiva. Rasio
ini menunjukan efektivitas penggunaan seluruh harta perusahaan
dalam rangka menghasilkan atau menggambarkan berapa rupiah
penjualan bersih yang dapat dihasilkan oleh setiap rupiah yang
diinvestasikan
dalam
bentuk
harta
perusahaan.
Kalau
perputarannya lambat, ini menunjukkan bahwa aktiva yang
dimiliki
terlalu
besar
perusahaan untuk menjual.
73
dibandingakan
dengan
kemampuan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian
1. Sejarah Singkat Perusahaan Perbankan menurut Kasmir (2003:15-16)
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Sejarah dikenalnya asal mula kegiatan perbankan dimulai dari jasa
penukaran uang. Oleh karena itu bank dikenal sebagai tempat menukar
uang atau sebagai meja tempat menukarkan uang. Dalam sejarah para
pedagang dari berbagai kerajaan melakukan transaksi dengan menukarkan
uang, dimana penukaran uang dilakukan antara mata uang kerajaan yang
satu dengan mata uang kerajaan lain.kegiatan penukaran uang ini sekarang
dikenal dengan perdagangan valuta asing (money changer).
Perekembangan selanjutnya kegiatan operasional perbankan
bertambah lagi menjadi tempat penitipan uang atau yang disebut sekarang
ini kegiatan simpanan. Kemudian kegiatan perbankan berkembang dengan
kegiatan peminjaman uang yaitu dengan cara uang yang semula disimpan
oleh masyarakat, oleh perbankan dipinjamkan kembali ke masyarakat yang
membutuhkannya . Akibat dari kebutuhan masyarakat akan jasa keuangan
makin meningkat dan beragam maka peranan dunia perbankan semakin
dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat baik yang berada di negara
maju maupun negara berkembang. Dewasa ini perkembangan dunia
74
perbankan semakin
pesat dan modern baik dari segi ragam produk,
kualitas pelayanan, dan teknologi yang dimiliki. Perbankan semakin
mendominasi perkembangan ekonomi dan bisnis suatu negara. Bahkan
aktifitas dan keberadaan perbankan sangat menentukan kemajuan suatu
negara dalam bidang ekonomi. Oleh karena itu tidak heran apabila
perbankan suatu negara hancur maka akan mengakibatkan kehancuran
perekonomian negara yang bersangkutan seperti yang terjadi di Indonesia
tahun 1998 dan 1999.
Sejarah perbankan yang dikenal oleh dunia berawal dari daratan
Benua Eropa mulai dari zaman Babilonia yang kemudian dilanjutkan
kezaman Yunani kuno dan Romawi. Bank-bank yang sudah terkenal pada
saat itu di Benua Eropa adalah Bank Venisia tahun 1171, kemudian
menyusul Bank of Genoa dan Bank of Barcelona tahun 1320.
Perkembangan perbankan didaratan Inggris baru dimulai pada abad
ke 16. Namun, karena Inggris yang begitu aktif mencari daerah
penjajahan, maka perkembangan perbankanpun ikut dibawa kenegara
jajahannya seperti Benua Amerika, Afrika dan Asia yang memang sudah
dikenal pada saat itu memegang peranan penting dalam bidang
perdagangan . Dalam perjalanan perkembangan perbankan di Indonesia
tidak terlepas dari zaman penjajahan Hindia Belanda. Pemerintah hindia
belandalah yang memperkenalkan dunia perbankan kepada masyarakat
Indonesia.
75
Indikator ekonomi yang menunjukan kondisi perbankan
Indonesia yang lebih biak antara lain:
1) Cadangan devisa
Menurut
Soekarno,
Shinta,
Anung
Ralianto
et
al.
(2008:248) Literatur mengenai cadangan devisa mengalami
perubahan seiring berjalannya waktu. Pada tahun 1960-an dan
1970-an, literatur kecukupan cadangan devisa memfokuskan pada
posisi current account. Namun sejak akhir 1990-an dimana krisis
keuangan yang terjadi merupakan krisis balance sheet (bukan
current account), maka sisi neraca transaksi modal menjadi
pertimbangan penting dalam menentukan tingkat cadangan devisa
yang optimal.
Sebelum maraknya globalisasi dan integrasi keuangan,
negara pada umumnya memupuk cadangan devisa terutama untuk
mengatur permintaan dan penawaran akan valas yang timbul
sebagai akibat transaksi di sisi transaksi berjalan (current account).
Hal ini sejalan dengan pendapat Triffin yang mengemukakan
bahwa kecukupan cadangan devisa ditentukan oleh transaksi luar
negeri, yang sebagian besar meliputi current account. Permintaan
terhadap cadangan devisa akan meningkat seiring dengan
pertumbuhan
dalam
perdagangan
dunia
dengan
demikian,
peningkatan dalam cadangan devisa terjadi karena meningkatnya
keterbukaan ekonomi suatu negara. Sementara itu, Machlup dan
76
Heller yang mengemukakan bahwa variabilitas perdagangan
merupakan pengukuran yang lebih baik untuk permintaan akan
cadangan devisa.
Dengan demikian, menurut Jeane dan Raincers (2005)
dalam Soekarno, Shinta, Anung Ralianto et al. (2008:248) pada
masa itu banyak negara memupuk cadangan devisa sebagai
penyangga (buffer stock) untuk mengantisipasi (smoothing) ketidak
seimbangan pembayaran internasional yang tak terduga dan
bersifat sementara. Mempertimbangkan bahwa transaksi di sisi
current account merupakan faktor penentu besarnya cadangan
devisa, maka para pembuat kebijakan termasuk bank sentral
umumnya mengadopsi rule of thrumb tradisional, yaitu suatu
negara mempertahankan cadangan devisa yang nilainya sama
dengan tiga bulan impor.
Disamping itu, kondisi cadangan devisa Indonesia menurut
antara news (14 Desember 2007) cadangan devisa Indonesia
mengalami surplus. Hal ini dapat dilihat dari tabel dibawah ini :
1
2
3
4
Tabel : 4.1
Perkembangan Besaran Moneter ( dalam Miliar Rupiah)
Tahun
Edisi
Besarnya Cadangan Devisa
2007
28-Dec-07
56,920.00
2006
29-Dec-06
42,586.30
07-Dec-05
33,396.00
2005
15-Dec-05
33,537.20
23-Dec-05
34,069.20
30-Dec-05
34,723.70
07-Dec-04
35,809.50
2004
15-Dec-04
35,526.90
23-Dec-04
35,897.20
31-Dec-04
36,320.50
77
2) Kondisi perbankan yang relatif lebih baik
Sesuai dengan Undang-undang No. 23 Tahun 1999 tentang
Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang
No. 3 Tahun 2004 tujuan Bank Indonesia adalah mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah (Pasal 7). Amanat ini
memberikan kejelasan peran bank sentral dalam perekonomian,
sehingga dalam pelaksanaan tugasnya Bank Indonesia dapat lebih
fokus dalam pencapaian "single objective"-nya. Disamping itu, hal
ini terlihat dari berbagai indikator perbankan juga menunjukkan
banyak kemajuan, seperti permodalan yang semakin mantap
dengan CAR yang mencapai 20,29 persen dibanding hanya 9
persen pada tahun 1997. Kualitas kredit juga jauh lebih baik
dengan rasio kredit bermasalah yang lebih rendah. Selain itu
pembangunan infrastruktur perbankan menunjukkan banyak
kemajuan seperti adanya jaring pengaman sektor keuangan,
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), sistem pembayaran RTGS,
dan Good Corporate Governance (GCG). (Sindo,5 Desember
2007).
3) Laju inflasi yang semakin rendah
Kestabilan nilai rupiah tercermin dari tingkat inflasi dan
nilai tukar yang terjadi. Tingkat inflasi tercermin dari naiknya
harga
barang-barang
secara
umum.
Faktor-faktor
yang
mempengaruhi inflasi dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu
78
tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan dan dari sisi
penawaran. Dalam hal ini, BI hanya memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi tekanan inflasi yang berasal dari sisi permintaan,
sedangkan tekanan inflasi dari sisi penawaran seperti (bencana
alam, musim kemarau, distribusi tidak lancar, dan lain-lain)
sepenuhnya berada diluar pengendalian BI. Oleh karena itu, untuk
dapat mencapai dan menjaga tingkat inflasi yang rendah dan stabil,
diperlukan adanya kerjasama dan komitmen dari seluruh pelaku
ekonomi, baik pemerintah maupun swasta. Tanpa dukungan dan
komitmen tersebut niscaya tingkat inflasi yang sangat tinggi
selama ini akan sulit dikendalikan. Selanjutnya nilai tukar rupiah
sepenuhnya ditetapkan oleh kekuatan permintaan dan panawaran
yang terjadi di pasar. Apa yang dapat dilakukan oleh BI adalah
menjaga agar nilai rupiah tidak terlalu berfluktuasi secara tajam.
Pentingnya
pengendalian
inflasi
didasarkan
pada
pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil
memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi
masyarakat. Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan
pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup
dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang,
terutama orang miskin, bertambah miskin. Kedua, inflasi yang
tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi
pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris
79
menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan
keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi dan
produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan
ekonomi. Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi
dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan
tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga
dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.
2. Industri perbankan
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan perbankan yang laporan
keuangannya di publikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Laporan
keuangan yang dijadikan sebagi objek penelitian berasal dari Neraca dan
laporan Laba/Rugi. Adapun nama-nama bank tersebut adalah : PT Bank
International Indonesia,Tbk, PT Bank Danamon,Tbk, PT Bank Niaga,Tbk,
PT BNI,Tbk, PT Bank Central Asia,Tbk, PT Bank LIPPO,Tbk, PT Artha
Graha Internasional,Tbk, PT Century, Mayapada Internasional, Mega,
Niaga, NISP, Nusantara Parahiyangan, PAN Indonesian Bank, Permata,
Eksekutif
Internasional,
Victoria
Internasional.
PT
Artha
Niaga
Kencana,Tbk serta OUB Buana.
B. Kriteria Penentuan Kondisi Perbankan
Penentuan pedoman kondisi financial distress dan non financial
distress pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI pada penelitian ini
adalah untuk perusahaan yang finacial distress (tidak sehat) memiliki laba
80
negatif selama 2 tahun beturut-turut diproyeksikan dengan kondisi 0 untuk
Laba/Rugi dibawah 5 Triliyun sebelum dan sesudah terpilihnya Susilo
Bambang Yodhoyono (2004-2007), sedangkan untuk non financial distress
(sehat) yang memiliki laba positif selama 2 tahun berturut-turut memiliki
proyeksi kondisi 1 untuk Laba/Rugi diatas 5 Triliyun sebelum terpilihnya
Susilo Bambang Yodhoyono (2004) serta kondisi 2 untuk Laba/Rugi diatas 5
Triliyun sesudah terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono (2005-2007).
Tabel: 4.2
Laba/Rugi dari Tahun (2004-2007) (dalam Jutaan rupiah).
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
Nama Bank
BNI (Persero) Tbk
Artha Graha
Internasional, Tbk
BCA, Tbk
Century,Tbk
Danamon Indonesia,
Tbk
Internasional Indonesia,
Tbk
Lippo, Tbk
Mega, Tbk
Niaga, Tbk
NISP, Tbk
PAN Indobesia bank,
Tbk
Permata, Tbk
Mayapada Internasional
Nusantara Prahiyangan,
Tbk
Artha Niaga Kencana
Eksekutif Internasional,
Tbk
Victoria Internasional
Agro Niaga, Tbk
UOB Buana, Tbk
BNI (Persero) Tbk
Artha Graha
Internasional, Tbk
BCA, Tbk
Kode
Emiten
BBNI
2004
Nilai
Laba/Rugi
147,108,315
Kondisi
1
AGIB
BBCA
BCIC
2004
2004
2004
10,852,396
149,663,350
13,273,540
1
1
1
BDMN
2004
66,763,707
1
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
2004
2004
2004
2004
2004
47,332,844
29,116,215
25,109,428
41,362,277
20,006,870
1
1
1
1
1
PNBN
BBBA
MAYA
2004
2004
2004
35,757,786
34,594,193
3,155,554
1
1
0
BBNP
ANKB
2004
2004
2,839,666
1,199,758
0
0
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
BBNI
2004
2004
2004
2004
2005
1,492,008
2,112,005
0
0
136,066,651
0
0
0
0
2
AGIB
BBCA
2005
2005
8,337,425
148,750,288
2
2
81
Tahun
Lanjutan Tabel: 4.2
Laba/Rugi dari Tahun (2004-2007) (dalam Jutaan rupiah).
No
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
Nama Bank
Century,Tbk
Danamon Indonesia, Tbk
Internasional Indonesia, Tbk
Lippo, Tbk
Mega, Tbk
Niaga, Tbk
NISP, Tbk
PAN Indobesia bank, Tbk
Permata, Tbk
Mayapada Internasional
Nusantara Prahiyangan, Tbk
Artha Niaga Kencana
Eksekutif Internasional, Tbk
Victoria Internasional
Agro Niaga, Tbk
UOB Buana, Tbk
BNI (Persero) Tbk
Artha Graha Internasional,
Tbk
BCA, Tbk
Century,Tbk
Danamon Indonesia, Tbk
Internasional Indonesia, Tbk
Lippo, Tbk
Mega, Tbk
Niaga, Tbk
NISP, Tbk
PAN Indobesia bank, Tbk
Permata, Tbk
Mayapada Internasional
Nusantara Prahiyangan, Tbk
Artha Niaga Kencana
Eksekutif Internasional, Tbk
Victoria Internasional
Agro Niaga, Tbk
Kode
Emiten
BCIC
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
BBNI
AGIB
BBCA
BCIC
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
82
Tahun
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2006
Nilai
Laba/Rugi
7,856,931
57,537,257
35,794,487
27,832,108
18,642,817
30,637,555
17,801,215
22,963,061
31,597,908
2,556,260
2,322,727
1,092,242
1,493,537
2,004,900
0
0
182,007,749
Kondisi
2
2
2
2
2
2
2
2
2
0
0
0
0
0
0
0
2
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
11,286,853
217,180,173
14,509,631
86,617,017
50,611,605
38,541,421
34,907,728
54,766,466
28,969,069
51,192,502
39,183,704
4,474,878
3,772,770
0
1,349,719
5,183,742
2,983,769
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
0
0
0
0
0
0
Lanjutan Tabel: 4.2
Laba/Rugi dari Tahun (2004-2007) (dalam Jutaan rupiah).
No
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
Nama Bank
UOB Buana, Tbk
BNI (Persero) Tbk
Artha Graha
Internasional, Tbk
BCA, Tbk
Century,Tbk
Danamon Indonesia, Tbk
Internasional Indonesia,
Tbk
Lippo, Tbk
Mega, Tbk
Niaga, Tbk
NISP, Tbk
PAN Indobesia bank, Tbk
Permata, Tbk
Mayapada Internasional
Nusantara Prahiyangan,
Tbk
Artha Niaga Kencana
Eksekutif Internasional,
Tbk
Victoria Internasional
Agro Niaga, Tbk
UOB Buana, Tbk
Kode
Emiten
BBIA
BBNI
Tahun
2006
2007
Laba/Rugi
18,260,086
168,803,456
Kondisi
0
2
AGIB
BBCA
BCIC
BDMN
2007
2007
2007
2007
11,050,963
176,183,585
14,547,470
79,598,490
2
2
2
2
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
48,253,624
33,357,782
30,972,910
46,452,272
24,205,990
39,098,477
37,772,730
3,699,865
2
2
2
2
2
2
2
0
BBNP
ANKB
2007
2007
3,351,474
0
0
0
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
2007
2007
2007
2007
1,339,267
2,897,471
3,010,606
16,856,118
0
0
0
0
Sumber: Financial Report.
Penentuan pedoman kondisi financial distress dan non financial
distress pada perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI untuk perhitungan
model Altman pada penelitian ini sama dengan
penentuan kondisi yang
dilihat dari laporan Laba/Rugi seperti diatas untuk perusahaan yang finacial
distress (tidak sehat) memiliki laba negatif selama 2 tahun beturut-turut
diproyeksikan dengan kondisi 0 untuk Laba/Rugi dibawah 5 Triliyun sebelum
dan sesudah terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono (2004-2007), sedangkan
untuk non financial distress (sehat) yang memiliki laba positif selama 2 tahun
83
berturut-turut memiliki proyeksi kondisi 1 untuk Laba/Rugi diatas 5 Triliyun
sebelum terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono (2004) serta kondisi 2 untuk
Laba/Rugi diatas 5 Triliyun sesudah terpilihnya Susilo Bambang Yodhoyono
(2005-2007).
Tabel 4.3
Penentuan Kondisi Model Altman.
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
Emiten
BBNI
AGIB
BBCA
BCIC
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
BBNI
AGIB
BBCA
BCIC
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
Tahun
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2004
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
WCTA
-0,028710
-0,017641
0,079347
-0,133180
0,148330
0,105122
0,010441
0,042419
-0,813040
0,092227
0,173911
0,038154
0,070338
-0,292684
0,072183
0,014944
0,102988
0,000000
0,000000
0,039367
-0,022798
0,094457
-0,118337
0,112421
0,080988
-0,085243
0,028637
0,100130
0,082535
0,106982
RETA
0,000592
-0,000707
0,000309
-0,009540
0,013861
-0,000090
-0,000398
0,000000
-0,001598
0,000000
0,002352
0,000000
0,000000
0,000233
0,000000
0,000000
0,000653
0,000000
0,000000
-0,002587
-0,000543
-0,000095
-0,000036
-0,002742
-0,001542
-0,004109
0,000000
-0,002872
-0,010684
-0,003509
84
EBITTA
0,022712
0,010632
0,030293
-0,088290
0,054974
0,022953
0,032505
0,024146
0,024458
0,021927
0,051384
0,021848
0,000545
0,000000
0,000000
0,000877
0,000000
0,000000
0,000000
0,015608
0,002891
0,034049
0,001771
0,040137
0,015320
0,017940
0,010502
0,017902
0,014484
0,018835
MVETL
0,000000
0,000000
7,000,000
-2,000,000
1,000,000
0,000000
89,000,000
2,000,000
1,000,000
1,000,000
4,000,000
16,000,000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
8,000,000
0,000000
1,000,000
0,000000
40,000,000
2,000,000
3,000,000
2,000,000
1,000,000
STA
0,106000
0,108000
0,088000
0,078000
0,116000
0,111000
0,100000
0,094000
0,102000
0,093000
0,118000
0,107000
0,094000
0,062000
0,086000
0,195000
0,135000
0,000000
0,000000
0,099000
0,095000
0,102000
0,074000
0,121000
0,099000
0,092000
0,094000
0,098000
0,108000
0,087000
KONDISI
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
0
0
0
0
0
0
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
Lanjutan Tabel 4.3
Penentuan Kondisi Model Altman.
No
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
Emiten
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
BBNI
AGIB
BBCA
BCIC
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
BBNI
AGIB
BBCA
BCIC
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
Tahun
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2006
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
WCTA
0,044532
0,069163
0,878345
0,057381
-0,052796
0,098106
0,000000
0,000000
0,091678
-0,038967
0,097539
-0,055166
0,115978
0,098761
0,061855
0,037826
0,107067
0,083222
0,104509
0,174555
0,000000
-0,046828
0,078674
-0,104481
0,111894
0,070346
0,184774
-0,567673
-0,004041
0,091525
0,409547
0,122381
0,101840
0,073624
0,060228
0,109798
0,093089
0,119287
0,216306
RETA
0,000000
0,000000
-0,000585
0,000000
0,000000
-0,016408
0,000000
0,000000
0,008006
0,000600
0,000069
-0,000038
0,002807
0,000508
0,003408
0,000150
0,001472
0,000734
0,001432
0,009479
0,000000
0,000278
0,000000
0,000000
0,001686
0,000000
0,000270
-0,000493
0,000097
0,000103
0,000003
-0,001013
-0,002842
-0,002530
0,014036
-0,000049
-0,000697
0,000797
-0,000010
85
EBITTA
0,011273
0,000000
-0,000585
0,000000
0,000000
-0,016408
0,000000
0,000000
0,017364
0,003988
0,034237
0,003475
0,022135
0,013581
0,017378
0,005697
0,020513
0,013752
0,024165
0,011798
0,000000
0,000278
0,000000
0,000000
0,001686
0,000000
0,000270
0,010209
0,002772
0,029209
0,003925
0,033408
0,011758
0,027345
0,021371
0,018746
0,012147
0,025939
0,018418
MVETL
7,000,000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
3,000,000
0,000000
54,000,000
8,000,000
2,000,000
2,000,000
0,000000
13,000,000
0,000000
3,000,000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
4,000,000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
1,000,000
0,000000
43,000,000
3,000,000
2,000,000
1,000,000
0,000000
8,000,000
STA
0,106000
0,105000
0,103000
0,092000
0,141000
0,116000
0,000000
0,000000
0,104000
0,126000
0,109000
0,107000
0,134000
0,127000
0,109000
0,081000
0,126000
0,114000
0,110000
0,135000
0,000000
0,133000
0,110000
0,152000
0,105000
0,122000
0,137000
0,099000
0,106000
0,087000
0,089000
0,137000
0,107000
0,106000
0,103000
0,105000
0,102000
0,092000
0,130000
KONDISI
2
0
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
0
0
0
0
0
0
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
Lanjutan Tabel 4.3
Penentuan Kondisi Model Altman.
No
70
71
72
73
74
75
76
Emiten
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
Tahun
2007
2007
2007
2007
2007
2007
2007
WCTA
0,000000
0,121601
0,080266
-0,067821
0,065989
0,116812
0,181979
RETA
0,000000
-0,000414
0,000000
0,000000
0,000188
0,000000
-0,000199
EBITTA
0,000000
-0,000406
0,000000
0,000000
0,000188
0,000000
-0,000199
MVETL
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
0,000000
4,000,000
STA
0,000000
0,114000
0,093000
0,135000
0,078000
0,117000
0,109000
Sumber: Data diolah
C. Hasil dan Pembahasan
Sesuai dengan langkah-langkah dalam analisis diskriminan, maka hal yang
pertama dilakukan adalah:
1. Merumuskan masalah
Tabel 4.4
Tests of Equality of Group Means
Wilks'
Lambda
,967
,990
,807
,943
,982
WCTA
RETA
EBITTA
MVETL
STA
Sumber: Data diolah
F
1,253
,383
8,752
2,194
,678
df1
2
2
2
2
2
df2
73
73
73
73
73
Sig.
,292
,683
,000
,119
,511
Dalam tabel ini menguji apakah ada perbedaan yang signifikan
antara kondisi untuk setiap variabel bebas yang ada.
Pedoman dengan Wilks’ Lambda
Angka wilks’ lambda berkisar 0-1, jika mendekati 0: data tiap
kondisi semakin berbeda, semakin mendekati 1 data tiap kondisi
mendekati sama.
86
KONDISI
0
0
0
0
0
0
2
Jika F hitung < F tabel = tidak ada perbedaan antar kondisi
Jika F hitung > F tabel = ada perbedaan antar kondisi.
Dengan sig.tes
Tidak ada perbedaan antar kondisi ekonomi sebelum
Jika sig > 0,05 =
dan
selama
pemerintahan
Susilo
Bambang
Yudhoyono.
Jika sig < 0,05 =
Ada perbedaan antar kondisi ekonomi sebelum dan
selama pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.
Dari hasil perhitungan atribut yang dapat membedakan antara
bangkrut dan tidak bangkrut suatu bank adalah EBITTA ( sig.=0,000).
2. Estimasi koefisien funsi diskriminan
Tabel 4.5
Variables Entered/Removed(a,b,c,d)
Step
Entered
Min. D Squared
Statistic
Between Groups
Exact F
Statistic
df1
df2
Sig.
1
73,000
,677
1
EBITTA
,018
>5T(2004) and
,175
>5T(2005-2007)
Sumber: Data Diolah
Dalam tabel ini hanya menyajikan variabel bebas yang dianalisis,
yaitu variabel yang dapat digunakan untuk membedakan dua kategori yang
ada, yaitu bangkrut dan tidak bangkrut yang dipengaruhi oleh ebitta atau
laba sebelum bunga dan pajak dibagi dengan total asset.
87
Variabel yang dimasukan dalam analisis ini adalah adalah variabel
ebitta karena variabel ini memiliki angka F hitung (statistic) yang tertinggi
yaitu 0,175.
Tabel : 4.6
Eigenvalues
Function
1
Eigenvalue
,240(a)
% of Variance
100,0
Cumulative %
100,0
Canonical
Correlation
,440
a First 1 canonical discriminant functions were used in the analysis.
Sumber: Data Diolah.
Tabel eigenvalues menunjukkan besarnya canonical coleration,
yaitu 0,440 (setara dengan multiple correlation “R” dalam regresi) sehingga
besarnya square canonical correlation ( setara dengan koefisisn determinasi
“R2” dalam regresi) adalah menjadi 0,193 diperoleh dari 0,440 x 0,440. Hal ini
berarti 19,3% varian dari variabel sikap dapat dijelaskan oleh diskriminan
yang terbentuk dari ebitta ( laba sebelum bunga dan pajak dibagi total asset).
3. Signifikasi fungsi diskriminan.
Tabel : 4.7
Wilks' Lambda
Test of Function(s)
1
Wilks'
Lambda
,807
Chi-square
15,690
Df
2
Sig.
,000
Sumber: Data Diolah
Terlihat nilai dari wilks’ lambda sebesar 0,807 atau sama dengan chisquare 15,690 dengan angka signifikan 0,000. Hal ini menunjukkan adanya
perbedaan yang signifikan (nyata), antara nilai rata-rata skor diskriminan
pada dua kondisi (kesulitan keuangan dan tidak kesulitan keuangan atau
asset kurang dari 5 Trilyun dengan aset lebih dari 5 Trilyun). Jadi dapat
88
disimpulkan bahwa memang terdapat perbedaan kondisi bangkrut dan tidak
bangkrut terhadap model Altman.
4. Interpretasi hasil
Tabel : 4.8
Functions at Group Centroids
Function
1
-,703
,425
,291
KONDISI
<5T(2004-2007)
>5T(2004)
>5T(2005-2007)
Sumber: Data Diolah.
Tabel Function at Group Centroid digunakan untuk menentukan
nilai cutoff yang merupakan nilai batas, dimana nilai prediksi harus
dimasukan dalam kategori bangkrut dan tidak bangkrut.
Karena jumlah bank untuk setiap kategori sama, maka besar nilai
cutoff dapat dicari dengan persamaan berikut.
Nilai cut off = Z1 + Z2
2
Akan tetapi, jika jumlah bank untuk setiap kategori tidak sama, maka
besarnya nilai cutoff dapat dicari dengan persamaan berikut:
Nilai cut off = n1.Z1 + n2.Z2 + n3. Z3
n1 + n2 + n3
Berdasrkan pada nilai Function at Group Centroid Karena jumlah
kondisi asset yang kurang dari 5 Triliyun selama tahun 2004 sampai
dengan tahun 2007 sebanyak 24 bank, dan kondisi asset yang lebih dari
5Triliyun selma tahun 2004 sebanyak 13 bank, serta kondisi asset yang
89
lebih dari 5 Triliyun selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2007
sebanyak 39 bank, maka untuk mementukan nilai cut off digunakan rumus
yang kedua, yaitu sebagai berikut:
Zcu = (24x(-0,703))+( 19x 0,425) +(39 x 0,291)
24 + 19 +39
= 0,0311
Jika nilai prediksi kasus dibawah Zcu (0,0311), kasus tersebut
dimasukkan pada kondisi “ bangkrut”( kode 0), namun sebaliknya jika,
nilai prediksi kasus diatas Zcu (0,0311), kasus tersebut dimasukan pada
kondisi “tidak bangkrut”( kode 1&2).
Tabel 4.9
Pengelompokan bank yang mengalami kesulitan keuangan dan bank yang
tidak mengalami kesulitan keuangan.
No
Emiten
Tahun
WCTA
1
BBNI
2004
-0.0340
2
AGIB
2004
3
BBCA
4
RETA
EBITTA
MVETL
0.0010
0.0750
0.0000
0.1060
0.1480
0.031
1
-0.0212
-0.0010
0.0350
0.0000
0.1080
0.1208
0.031
1
2004
0.0952
0.0004
0.1000
4.2000
0.0880
4.4836
0.031
1
BCIC
2004
-0.1598
-0.0134
-0.2910
-1.2000
0.0780
-1.5862
0.031
0
5
BDMN
2004
0.1780
0.0194
0.1810
0.6000
0.1160
1.0944
0.031
1
6
BNII
2004
0.1261
-0.0001
0.0760
0.0000
0.1110
0.3130
0.031
1
7
LPBN
2004
0.0125
-0.0006
0.1070
53.4000
0.1000
53.6190
0.031
1
8
MEGA
2004
0.0509
0.0000
0.0800
1.2000
0.0940
1.4249
0.031
1
9
BNGA
2004
-0.9756
-0.0022
0.0810
0.6000
0.1020
-0.1949
0.031
0
10
NISP
2004
0.1107
0.0000
0.0720
0.6000
0.0930
0.8757
0.031
1
11
PNBN
2004
0.2087
0.0033
0.1700
2.4000
0.1180
2.9000
0.031
1
12
BBBA
2004
0.0458
0.0000
0.0720
9.6000
0.1070
9.8248
0.031
1
13
MAYA
2004
0.0844
0.0000
0.0020
0.0000
0.0940
0.1804
0.031
1
14
BBNP
2004
-0.3512
0.0003
0.0000
0.0000
0.0620
-0.2889
0.031
0
15
ANKB
2004
0.0866
0.0000
0.0000
0.0000
0.0860
0.1726
0.031
1
16
BEKS
2004
0.0179
0.0000
0.0030
0.0000
0.1950
0.2159
0.031
1
90
STA
TOTAL
Zcu
Kondisi
Lanjutan Tabel 4.9
Pengelompokan bank yang mengalami kesulitan keuangan dan bank yang tidak
mengalami kesulitan keuangan.
No
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
Emiten
BVIC
BAAO
BBIA
BBNI
AGIB
BBCA
BCIC
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
Tahun
2004
2004
2004
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
2005
WCTA
0.1236
0
0
0.0472
-0.0274
0.1133
-0.142
0.1349
0.0972
-0.1023
0.0344
0.1202
0.099
0.1284
0.0534
0.083
1.054
0.0689
-0.0634
0.1177
0
0
RETA
0.0009
0
0
-0.0036
-0.0008
-0.0001
-0.0001
-0.0038
-0.0022
-0.0058
0
-0.004
-0.015
-0.0049
0
0
-0.0008
0
0
-0.023
0
0
EBITTA
0
0
0
0.112
0.006
0.132
0.051
0.059
0.035
0.059
0.048
0.062
0.037
0
-0.002
0
0
-0.054
0.057
0.013
0
0
MVETL
0
0
0
0
0
4.8
0
0.6
0
24
1.2
1.8
1.2
0.6
4.2
0
0
0
0
0
0
0
STA
0.135
0
0
0.099
0.095
0.102
0.074
0.121
0.099
0.092
0.094
0.098
0.108
0.087
0.106
0.105
0.103
0.092
0.141
0.116
0
0
TOTAL
0.2595
0
0
0.2546
0.0729
5.1472
-0.0171
0.9111
0.229
24.043
1.3764
2.0761
1.4291
0.8105
4.3574
0.188
1.1562
0.1069
0.1346
0.2238
0
0
Zcu
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
0.031
Sumber : Data Diolah
Keterangan: Untuk kondisi bangkrut
Tahun 2004 untuk Kondisi 0 atau bank yang mgelami financial distress antara
lain: Century,Tbk, Niaga, Tbk, Agro Niaga, Tbk, dan UOB Buana, Tbk.
Tahun 2005 untuk Kondisi 0 atau bank yang mengalami kondisi financial distress
antar lain: Century,Tbk, Agro Niaga, Tbk, dan UOB Buana, Tbk.
91
Kondisi
1
0
0
2
2
2
0
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
0
Berdasarkan data diatas maka dapat disimpulkan bahwa financial distress
tahun 2004 lebih besar dari tahun 2005. hal ini, menunjukkan bahwa kinerja tahun
2005 lebih bagus dibandingkan tahun 2004.
Tabel : 4.10
Classification Function Coefficients
KONDISI
EBITTA
(Constant)
<5T(2004-2007)
-2,204
-1,099
>5T(2004)
67,555
-1,695
>5T(2005-2007)
59,264
-1,558
Sumber: Data Diola
Tabel ini menunjukkan persamaan diskriminan yang terbentuk
pada kondisi bank yang bangkrut dan tidak bangkrut terhadap model
Altman. Tiga persamaan tersebut adalah:
< 5 T (2004-2007)
> 5 T (2004)
> 5 T (2005-2007)
: Y= -1,099 + (-2,204)ebitta
: Y= -1,695 + 67,555 ebitta
: Y= -1,558 + 59,264 ebitta
Keterangan;
1)
Asset kurang dari 5 Triliyun selama tahun 2004 sampai dengan tahun
2007 memiliki persamaan sebagai berikut: Y= -1,099 + (-2,204)ebitta
2)
Asset lebih dari 5Triliyun pada tahun
2004 memiliki persamaan
sebagai berikut: Y= -1,695 + 67,555 ebitta
3)
Asset lebih dari 5Triliyun pada tahun 2005 sampai dengan tahuin
2007 memiliki persamaan sebagai berikut: Y= -1,558 + 59,264 ebitta.
Hal ini dapat diartikan sebagai berikut: Pada kondisi asset kurang
dari 5 Triliyun atau kondisi bangkrut: nilai negatif (1,099) artinya tanpa
92
ada ebitta, kondisi bank yang bangkrut terhadap model Altman akan
negatif sebesar 1,099 sedangkan nilai negatif (2,204) artinya tanpa ada
ebitta, kondisi bank yang bangkrut terhadap model Altman akan negatif
sebesar 2,204.
Pada kondisi asset lebih dari 5 Triliyun atau kondisi tidak bangkrut ini
terbagi menjadi dua yaitu: pertama, tahun 2004 dengan nilai negatif
(1,695) artinya tanpa ada ebitta, kondisi bank yang bangkrut terhadap
model Altman akan negatif sebesar 1,695 sedangkan nilai positif 67,555
artinya dengan adanya kenaikan ebitta, kondisi bank yang bangkrut
terhadap model Altman akan naik sebesar 67,555 kedua, yaitu tahun 20052007 nilai negatif (1,558) artinya tanpa ada ebitta, kondisi bank yang
bangkrut terhadap model Altman akan negatif sebesar 1,558 sedangkan
nilai positif 59,264 artinya dengan adanya kenaikan ebitta, kondisi bank
yang bangkrut terhadap model Altman akan naik sebesar 59,264. Ebitta
dalam analisis diskriminan ini mencerminkan keseluruhan kekuatan
perusahaan dalam mendatangkan pendapatan, melemahnya faktor ini
merupakan indikator terbaik akan hadirnya kebangkrutan, karena
berjalannya suatu perusahaan bergantung juga pada laba yang diperoleh
perusahaan.
93
5. Mengukur validitas
Table: 4.11
Classification Results(b,c)
KONDISI
Original
Count
%
Crossvalidated(a)
Count
%
<5T(2004-2007)
>5T(2004)
>5T(2005-2007)
<5T(2004-2007)
>5T(2004)
>5T(2005-2007)
<5T(2004-2007)
>5T(2004)
>5T(2005-2007)
<5T(2004-2007)
>5T(2004)
>5T(2005-2007)
Predicted Group Membership
Total
<5T(2004-2007)
24
2
10
100,0
15,4
25,6
>5T(2004)
0
10
18
,0
76,9
46,2
>5T(2005-2007)
0
1
11
,0
7,7
28,2
24
13
39
100,0
100,0
100,0
24
0
0
24
2
10
100,0
15,4
25,6
8
18
,0
61,5
46,2
3
11
,0
23,1
28,2
13
39
100,0
100,0
100,0
Sumber: Data Diaolah.
Tabel ini digunakan untuk mengtahui tingkat ketepatan dan stabiits
model diskriminan yang terbentuk (godness of fit). Untuk mengetahui tingkat
keakuratan pengelompokan dari hasil perhitungan (perdiction) dengan
mengelompkan hasil dari observasi (actual) dari nilai persentase antar jumlah
pengelompokan yang benar dengan total sampel ukuran ini disebut dengan hit
ratio
Untuk menemukan baik tidaknya tentang Hit ratio, maka nilai ini
dibandingkan dengan perubahan proporsional (C pro) dan perubahan
maksimum( C max), untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:
94
Jika hit ratio di
daerah ini, maka
sangat tidak
akurat
Jika hit ratio di
daerah ini, maka
kurang akurat
0%
C pro
Hit ratio
Jika hit ratio
di daerah ini,
maka akurat
C max
100%
= ( n benar : N) x 100%
C pro
=
p2 +( 1+p)2
C max
=
( nmax : N) x 100 %
dimana:
n benar
p
= jumlah sampel dengan alokasi prediksi yang benar
= proporsi jumlah sampel dikelompok 1
1-p = proporsi jumlah sampel dikelompok 2
nmax
= jumlah sampel terbesar pada salah satu kelompok
N = jmlah sampel secara keseluruhan
Jumlah sampel dengan alokasi yang benar adalah yang pada data awal
tergolong kondisi “bangkrut” dan dari model diskriminan dapat diprediksi
tetap pada golongan ‘bangkrut” atau diakatakan ada kesesuian antar prediksi
dengan realita adalah sebanyak 24 bank demikian juga dengan kondisi“tidak
bangkrut” yang pada data awal pada kodisi “tidak bangkrut” dan dari model
diskriminan diprediksikan ke kondisi “tidak bangkrut” atau dikatakan ada
kesesuian antara prediksi dengan realita sejumlah 40 bank. Dengan demikian
toal sampel yang diprediksi dengan benar adalah 64 bank
Sedangkan yang melesat adalah bank (realitanya “bangkrut” diprediksi
“tidak nbangkrut”) dan tidak ada (realitanya “tidak bangkrut” diprediksi
95
“bangkrut”). Dengan demikin total sampel yang melesat adalah 12 bank
berdarakan data ini dapat kita uji nilai ketepatan modelnya sebagi berikut:
Hit ratio= ( n benar : N) x 100%
Hit ratio
Cpro
=
= 24 + 40 = 64/76 x 100% = 84,2%
p2 +( 1+p)2
p2 = 24/76 =0,316
Cpro
= (0,316) + (1-0,316)2
= 0,368 x 100% = 36,8%
Cmax
Cmax
=
=52/76
( nmax : N) x 100 %
= 0,684 x100% =68,4%
Karena nilai Hit ratio lebih besar dari niai C max maka dapat dikatakan
bahwa tingkat kondisi dari hasil perhitungan analisis diskriminan adalah
akurat
Untuk
menguji
stabilitas
model diskriminan, yaitu apakah ada
kemungkinan pengalokasian dari tiap sample dalam kelompok stabil atau tidak
sebagi akibat adanya peurbahan jumlah sampel yang diteliti, maka digunakn
nilai pressQ.
PressQ
= [(N-(n-k)]2
N(k-1)
dimana:
n
= Jumlah sampel
n
= Jumlah sampel yng bebs pengalokaiannya
k
= Jumlah kondisi
96
Kemudian kita bandingkan niali
pressQ
dengan nilai tabel chi square pada
tingkat keyakinan tertentu dengan pada degree of freedom sebesar 1.dengan
kriteria keputusan sebagai berikut: jika pressQ<Z2, maka hasil analisis
diskriminan dinyatakan tidak stabil
dari output diatas dapat dihitung besarnya niai pessQ adalah sebagi berikut.
PressQ
= [ 76-(64x2)]2
76(2-1)
= 35,57
Nilai chi square 15,69
karena nila Z2 sebesar 6,63 maka pressQ>Z2 karena nilai pressQ
lebih besar dari niaali tabel chi square, sehinggga dapat dinyatakan bahwa
model diskriminan yang terbentuk dinyatakan stabi
D. Interpretasi
Persamaan diskriminan yang terbentuk pada kondisi bank yang
bangkrut dan tidak bangkrut terhadap model Altman. Tiga persamaan tersebut
adalah:
< 5 T (2004-2007)
> 5 T (2004)
> 5 T (2005-2007)
: Y= -1,099 + (-2,204)ebitta
: Y= -1,695 + 67,555 ebitta
: Y= -1,558 + 59,264 ebitta
Perhitungan untuk persamaan 1 dalam hal ini kondisi Asset kurang
dari 5 Triliyun selama tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 memiliki
persamaan sebagai berikut: Y= -1,099 + (-2,204)ebitta
97
No
1
2
3
Emiten
BBNI
AGIB
BBCA
4
BCIC
2004
0.0227
0.0106
0.0303
0.0883
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
0.0550
0.0230
0.0325
0.0241
0.0245
0.0219
0.0514
0.0218
0.0005
0.0000
0.0000
0.0009
0.0000
0.0000
0.0000
-1.099
(a)
-1.099
-1.099
-1.099
-2.204*
Total
EBITTA(b)
-0.145244
-0.007941
-0.000628
2005
0.0156
0.0227
0.0106
2006
0.0174
0.0040
0.0342
2007
0.0102
0.0174
0.0040
Tot
(20042007)
0.0659
0.0547
0.0791
0.0303
0.0883
0.0550
0.0230
0.0325
0.0241
0.0245
0.0219
0.0514
0.0218
0.0005
0.0000
0.0000
0.0009
0.0000
0.0000
0.0035
0.0342
-0.0203
-1.099
-0.000013
-1.0990
0.0221
0.0136
0.0174
0.0057
0.0205
0.0138
0.0242
0.0118
0.0000
0.0003
0.0000
0.0000
0.0017
0.0000
0.0003
0.0035
0.0221
0.0136
0.0174
0.0057
0.0205
0.0138
0.0242
0.0118
0.0000
0.0003
0.0000
0.0000
0.0017
0.0000
-0.0077
0.1137
0.0864
0.0797
0.0748
0.0807
0.1113
0.1091
0.0341
0.0008
0.0003
0.0009
0.0026
0.0017
0.0003
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-1.099
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-0.000000
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
-1.0990
Perhitungan untuk persamaan 2
untuk kondisi Asset kurang dari 5
Triliyun selama tahun 2004 memiliki persamaan sebagai berikut:
Y= -1,695 + 67,555 ebitta
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Emiten
BBNI
AGIB
BBCA
BCIC
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
2004
0.0227
0.0106
0.0303
-0.0883
0.0550
0.0230
0.0325
0.0241
0.0245
-1.695
(a)
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
67.555*
Ebitta
2004(b)
1.5335
0.0163
0.0005
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
- 0.0000
98
Hasil =
a+b
- 0.1615
-1.6787
-1.6945
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
Hasil = a+b
-1.2442
-1.1069
-1.0996
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
0.0219
0.0514
0.0218
0.0005
0.0000
0.0000
0.0009
0.0000
0.0000
0.0000
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-1.695
-0.0000
- 0.0000
-0.0000
-0.0000
-
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
-1.6950
Perhitungan untuk persamaan 3 untuk kondisi Asset lebih dari 5 Triliyun
selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 memiliki persamaan sebagai
berikut: Y= -1,558 + 59,264 ebitta.
No
1
2
3
4
Emiten
BBNI
AGIB
BBCA
BCIC
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
BDMN
BNII
LPBN
MEGA
BNGA
NISP
PNBN
BBBA
MAYA
BBNP
ANKB
BEKS
BVIC
BAAO
BBIA
2005
0.0156
0.0227
0.0106
0.0303
0.0883
0.0550
0.0230
0.0325
0.0241
0.0245
0.0219
0.0514
0.0218
0.0005
0.0000
0.0000
0.0009
0.0000
0.0000
2006
0.0174
0.0040
0.0342
0.0035
2007
0.0102
0.0174
0.0040
0.0342
Tot
(2005-2007)
0.0432
0.0441
0.0488
0.0680
0.0221
0.0136
0.0174
0.0057
0.0205
0.0138
0.0242
0.0118
0.0000
0.0003
0.0000
0.0000
0.0017
0.0000
0.0003
0.0035
0.0221
0.0136
0.0174
0.0057
0.0205
0.0138
0.0242
0.0118
0.0000
0.0003
0.0000
0.0000
0.0017
0.0000
-0.0627
0.0907
0.0539
0.0556
0.0503
0.0588
0.0599
0.0873
0.0336
0.0008
0.0003
0.0000
0.0026
0.0017
0.0003
Sumber: Data diolah
99
1.558(a)
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
59.264*
Total
(05-07) (b)
2.5602
0.1128
0.0055
0.0004
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-1.558
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-0.0000
-
Hasil = a+b
1.0022
-1.4452
-1.5525
-1.5576
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
-1.5580
Dengan berpedoman pada Wilks’ Lambda
Angka Wilks’ lambda berkisar 0-1, jika mendekati 0: data tiap
kondisi semakin berbeda, semakin mendekati 1 data tiap kondisi
mendekati sama. Dari perhitungan diatas padat disimpulkan bahwa ratarata nilai persamaan mendekati angka 0 jadi, dapat dikatakan bahwa tiap
kondisi ekonomi dari setiap emiten berbeda dalam kondisi kesulitan
keuangan.
Edwar I Altman dalam Ryan Ariafinanda (2006:29), menguji manfaat
rasio
keuangan
dalam
memprediksi
kebangkrutan.
Penelitiannya
menggunakan sample sebanyak 66 perusahaan yang terdiri dari 33
perusahaan bangkrut dan 33 perusahaan tidak bangkrut. Altman juga
menggunakan multivariate discriminant analiysis dalam menguji manfaat
lima rasio keuangan dalam memprediksi kebangkrutan. Hasil analisa
menunjukkan bahwa rasio keuangan (profitability, liquidity dan solvency)
bermanfaat dalam memprediksi kebangkrutan dengan tingkat keakuratan
95% setahun sebelum perusahaan bangkrut. Tingkat keakuratan tersebut
turun menjadi 72% untuk periode dua tahun sebelum bangkrut, 48% untuk
periode tiga tahun sebelum bangkrut, 29% untuk periode empat tahun
sebelum bangkrut dan 36% untuk periode lima tahun sebelum bangkrut.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dana Siswar & Neldy
Soejara (2003:234). Mengenai “Pengaruh perubahan kondisi ekonomi
terhadap kinerja keuangan dalam bentuk integrasi rasio keuangan model
altman. Suatu Studi Pada Perusahaan Manufaktur Yang Go Public Di
100
Bursa Efek Jakarta. Mereka melakukan penelitian terhadap123 perusahaan
yang dijadikan populasi sasaran dan dirinci menurut strata sebanyak 19
bidang usaha, tetapi sebanyak 23 perusahaan lagi dikeluarkan dari
populasi sasaran dengan alasan perusahaan tersebut baru terdaftar di BEJ
setelah tahun 1997 dan tahun 1997 belum mempublikasikan laporan
keuangannya. Penelitian ini dilakukan terhadap laporan keuangan sejak
tahun 1997 dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kinerja keuangan
rata-rata periode 1997-2000 (selama krisis ekonomi) pada perusahaan
manufaktur menurun sebesar 34,10% dibanding pada periode 1993-1996
(sebelum krisis ekonomi). Penurunan ini disebabkan karena terjadi
perubahan kondisi ekonomi yang tidak stabil yaitu terjadi krisis ekonomi
yang berkepanjanagn sejak bulan Agustus 1997.
Menurut skripsi Siti Rodliyah (2003:7) mengenai “Analisis
Diskriminan Altman sebagai Alat untuk Memprediksi Awal Kebangkrutan
pada Perusahaan tekstil dan produk tekstil yang tercatat di BEJ tahun 2000
– 2002. Hasil Analisis Diskriminan menunjukkan adanya empat rasio
keuangan yang merupakan indikator dominan dalam penentuan kinerja
perusahaan. Keempat rasio beserta
koefisiennya yang menunjukkan
pengaruh terhadap kinerja perusahaan adalah: (1). Rasio Modal Kerja
(Aktiva lancar-Hutang Lancar / Total Aktiva (2). Rasio Laba Ditahan /
Total Aktiva (3). Rasio Laba Sebelum Pajak dan Bunga / Total Aktiva (4).
Rasio Penjualan / Total Aktiva. Kombinasi keempat rasio tersebut, dalam
fungsi Dskriminan mampu mengelompokkan perusahaan – perusahaan
101
Tekstil dan Produk Tekstil kedalam satu kelompok, yaitu kelompok yang
rendah (bangkrut) dan kelompok yang tinggi (tidak bangkrut).
Berdasarkan fungsi Diskriminan. Diperoleh nilai batas Z sebesar
2,092x10-20 sebagai pedoman untuk mengklasifikasikan kedalam satu
kelompok. Apabila perusahaan nilai Znya lebih besar dari nilai batas,
dikelompokkan sebagai perusahaan yang tidak bangkrut. Dan apabila
perusahaan nilai Znya lebih kecil dari nilai batas, dikelompokkan sebagai
perusahaan bangkrut.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
menurut Analisis Diskriminan terhadap perusahaan Tekstil dan Produk
Tekstil yang tercatat di BEJ secara umum tidak mengalami bangkrut.
Terdapat 14 perusahaan yang tergolong dalam kategori tidak bangkrut,
yaitu: Century Textile, Eratex Djaja, Panasia Filament, Panasia
Indosynthect, Roda Vivatex, Sunson Textile, Tifico, Ever Shine, Fortune
Mate, Indorama Synthetics, Pan Brother Tex, Ryane Textile, Sepatu Bata,
Surya Intrindo. Lima perusahaan yang tergolong dalam kategori bangkrut
antara lain: Argo Pantes, Texmaco, Apac Inti, Hanson Industri, Kasogi Int.
Sedangkan 4 perusahaan yang masuk dalam kategori bangkrut dan tidak
bangkrut, yaitu: Great River, Karwell Int, Ricky Putra, dan Sarasa
Nugraha. Rata-rata perusahaan yang bangkrut tersebut disebabkan karena
kecilnya rasio likuiditas(x1) dari masing-masing
perusahaan yaitu
Texmaco, Apac Inti, Hanson Industri, dan Kasogi Int. Sedang rata-rata
perusahaan yang tidak bangkrut disebabkan karena tingginya rasio
perputaran modal(x5).
102
Ryan Ariafinanda (2006:43) melakukan penelitian terhadap sektor
perbankan yang mendapat kategori A pada tahun 1998 dan terdaftar di
Bursa Efek Jakarta, data yang dikumpulkan berada dalam kurun waktu
tahun 2001 sampai dengan tahun 2003. Pengambilan data tiga tahun ini
sudah cukup menggambarakan kondisi saat perusahaan perbankan di
Indonesia berada dalam masa puncak krisis, masa transisi, meskipun
belum bisa dikatakan telah melewati krisis, karena sampai saat ini masih
saja ada bank yang terlikuidasi, bank yang dilteliti adalah bank BII,
Danamon. Niaga, BNI, BCA dan LIPPO. Secara keseluruhan bank
tersebut terbagi ke dalam tiga kategori yaitu bank yang mengalami
kebangkrutan antara lain : Bank BII, dan LIPPO, sedangkan yang tidak
mengalami kebangkrutan yaitu bank Danamon dan BCA sedangkan bank
yang berada dalam posisi grey area adalah bank Niaga dan BNI.
Penelitian yang saya lakukan dalam hal ini adalah melihat
pengaruh perubahan kondisi ekonomi terhadap kinerja keuangan dalam
bentuk integrasi rasio keuangan model altman dengan menggunakan
analisis diskriminan untuk memprediksi kebangkrutan suatu studi pada
perusahaan perbankan yang go public di Bursa Efek Indonesia periode
2004-2007. Hasil dari peneilitian ini mendukung penelitian sebelumnya
bahwa model Altman dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan
suatu bank, dengan memiliki tingkat keakuratan sebesar 80%. Dan model
diskiminan yang digunakan ternyata valid untuk digunakan, karena tingkat
103
ketepatan cukup tinggi, yaitu 84,2% diatas niai C max, dan model
dinyatakan stabil karena nilai press Q diatas tabel nilai chi square.
104
BAB V
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan analisis dan pembahasan, terdapat tiga hal yang
menjadi kesimpulan dalam penelitian ini, antara lain: Pertama, untuk pengaruh
perubahan kondisi ekonomi sebelum dan selama masa pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono dapat dilihat dari nilai wilks’ lambda sebesar 0,807 atau
sama dengan chi-square 15,690 dengan angka signifikan 0,000 (Data
diolah:88). Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (nyata),
antara nilai diskriminan pada dua kondisi (financial distress dan non financial
distress) atau bank yang memiliki asset kurang dari 5 Trilyun dengan bank
yang memiliki asset lebih dari 5 Trilyun. Jadi dapat dikatakan bahwa memang
terdapat perbedaan kondisi financial distress dan non financial disterss
terhadap model Altman.
Kedua,
untuk
menganalisis
variabel
Altman
yang
dapat
memprediksi kondisi financial distress dengan menggunakan tabel variabel
Entered/Removed (Data diolah:87) dalam tabel ini hanya menyajikan variabel
bebas yang dianalisis, yaitu variabel yang dapat digunakan untuk
membedakan dua kategori yang ada, yaitu finacial distress dan non financial
distress yang dipengaruhi oleh ebitta atau laba sebelum bunga dan pajak
dibagi dengan total asset. Variabel yang dimasukan dalam analisis ini adalah
105
adalah variabel ebitta karena variabel ini memiliki angka F hitung (statistic)
yang tertinggi yaitu 0,175.
Ketiga, cara menghitung Bank yang mengalami financial distress
dengan menggunakan Cut off (Data diolah:89-90) yang dihitung dengan
menggunakan data dari function at group centroid, setelah itu dibandingkan
antara nilai Z dengan cut off. Jika nilai Z lebih besar dari nilai Cut off maka
bank tersebut dikategorikan non financial distress dalam hal ini Z > 0,0311
sebaliknya jika nilai Z lebih kecil dari nilai Cut off maka bank tersebut
dikategorikan financial distress dalam hal ini Z < 0,0311. Adapun nama-nama
bank yang mengalami financial distress antara lain: Century,Tbk, Niaga, Tbk,
Agro Niaga, Tbk, dan UOB Buana, Tbk.
Alasan Bank Century mengalmi kesulitan keuangan yang berakibat
pada kebangkrutan antara lain: adanya keterlambat menyetorkan prefund
(dana yang harus disetorkan ke BI sebelum kliring). Dalam peraturan
dinyatakan bahwa setiap prefund harus disetorkan pukul 8.00 WIB. Kalau itu
terlambat, maka kliring seluruhnya akan ditunda. (Kompas, Jumat, 14
November 2008) disamping itu, masalah lain adalah Bank Century dalam
operasinya juga melakukan penjualan reksadana padahal bank ini tidak
mempunyai perizinan untuk menjual Reksadana. Ketika di cek ke situs
Bapepam, Bank Century tidak terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek
Reksa Dana). Untuk mengurangi masalah dalam reksadana, ada beberapa hal
yang harus diperhatikan sebelum nasabah melakukan pembelian reksadana
diantaranya:1) Memeriksa apakah tempat kita membeli reksadana tersebut
106
terdaftar sebagai APERD (Agen Penjual Efek Reksadana). 2). Memeriksa
apakah reksadana yang kita beli telah terdaftar dan memiliki izin dari
Bapepam LK. 3). Ada baiknya juga mengkonfirmasi apakah orang yang
menjual Reksadana kepada anda memiliki izin sebagai Wakil Perusahaan Efek
ataupun Wakil Agen Penjual Efek Reksadana (WAPERD). 4.) Jangan lupa
untuk : Baca, Baca dan Baca kembali prospektus reksadana yang diterima.
Sementara itu, untuk bank lain dalam hal ini Niaga, Tbk, Agro Niaga, Tbk,
dan UOB Buana, Tbk. Baru menunjukkan kesulitan keuanggan saja belum
sampai kepada tahap kebangkrutan.
B. Implikasi
1. Perusahaan
Apabila perusahaan mengalami financial distress maka perusahaan
akan menanggung biaya langsung atau menbayar fee akuntan dan
pangacara, sedangkan pembayaran biaya tidak langsung adalah kerugian
penjualan atau kerugian paksaan akibat ketetapan pengadilan. Sehinnga
dengan adanya model prediksi financial distress diharapkan perusahan
dapat menghindari kebangkrutan dan otomatis juga dapat menghindari
biaya langsung dan tidak langsung dari kebangkrutan.
2. Investor
Model finacial distress dapat membantu investor ketika akan
menilai kemungkinan masalah suatu perusahaan dalam melakukan
pembayaran kembali pokok dan bunga.
107
3. Akademisi
Penilaian model finacial distress akan menggunakan rasio
keuangan dapat dijadikan tambahan pengetahuan sehingga berikutnya
dapat digunakan alternatif dan cara yang lebih tepat yang dapat dijadikan
alat memprediksi kondisi financial distress baik perusahaan perbankan
ataupun perusahaan lain.
C. Keterbatasan
1. Sampel yang digunakan hanya terbatas pada sektor perbankan
2. Proksi financial distress hanya terbatas pada laba bersih.
D. Saran
1. Dapat menggunakan ukuran lain laba bersih negatif untuk memproksikan
kondisi financial distress
2. Sampel perusahaan dapat ditambah dengan kelompok industri lain selain
sektor perbankan.
108
DAFTAR PUSTAKA
Almilia, Luciana Spica dan Emanuel Kristijadi (2003). “Analisis Rasio
Keuangan Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”.
Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia (JAAI) Vol. 7 No. 2,
Desember 2003. STIE Perbanas Surabaya.
Anggraini, Silvia, dan Toto Sugiharto.(2004). Analisis Zskore untuk
menilai kinerja keuangan serta pengaruhnya terhadap harga saham
perusahaan perdagangan di BEJ. Majalah Ekonomi dan Komputer
No.3 Tahun XII.
Antara News, Jum’at 14 Desember 2007.
Ariafinanda, Ryan. Skripsi “Analisis penggunaan Model Altman untuk
menilai kebangkrutan pada peerusahannan perbankan go public di
BEJ”, Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, 2006.
Araujo, Luis dan Raoul Minetti (2007). “ Financial Intermediaries As
Market For Firm Assets”.The Economic Journal 117 October.
1380-1402.
Devie.(2003) “Strategi keuangan matriks, alat bantu keputusan investasi
dan pembiayaan”, Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 5 (1)
Gilarso,T. “ Pengantar Ilmu Ekonomi Makro”, Kanisius, Jakarta, 2004
Hamid, Abdul. “Pedoman Penulisan Skripsi”, Fakultas Ekonomi dan Ilmu
Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta, 2007.
Hanafi, Mamduh dan Abdul Halim, “Analisis Laporan Keuangan”,
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN, Yogyakarta,2007.
Harahap, Sofyan Safari. “Analisi Kritis atas Laporan Keuangan”. PT. Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 2007.
Kasmir. “Manajemen Perbankan”, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta,
2003.
Kompas, Jumat, 14 November 2008
Kusumaningrum,Andriani. (2003) “Rasio Keuangan sebagai Alat Bantu
Analisa dan Perencanaan Keuangan Perusahaan”, jurnal Ilmiah,
Sinus,Vol.1 No.1.
109
Putong, Iskandar. ” Economics (Pengantar Makro dan Mikro)”, Mitra
Wacana Media, Jakarta, 2008.
Rahardja, Prathama. “ Pengantar Ilmu Ekonomi (makro dan mikro)”, FE
UI, Jakarta, 2004.
Rinaldy, Eddie. ” Membaca Neraca Bank”, Indonesia Legal center
Publishing, Jakrata, 2008.
Rodliyah, Siti. Skripsi “Penerapan Analisis Diskriminan Altman Untuk
Memprediksi Tingkat Kebangkrutan (studi kasus pada perusahaan
tekstil dan produk tekstil yang tercatat di BEJ)”. Fakultas
Ekonomi Universitas Sumatra Utara ( USU ). 2003
Rodoni, Ahmad. “ Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”, CSES Press,
Jakarta, 2006
Ruswandi, Bambang “Modul Praktikum Statistik Multivariate” UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta,2006
Sarwanih. Skripsi “Perbandingan model Altman dan Shumway dalam
memprediksi jondisi defult (bangkrupty) suatu perusahaan”.
Fakultas Ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2007.
Siswar, Dana dan Neldy Soejara (2003). “Pengaruh Perubahan Kondisi
Ekonomi Terhadap Kinerja Keuangan Dalam Bentuk Integrasi
Rasio Model Altman (Suatu studi pada Perusahaan Manufaktur
yang Go Public di Bursa Efek Jakarta)”. Jurnal Telaah & Riset
Akuntansi Vol 1. No.2, Agustus 2003. Universitas Syah Kuala.
Soekarno, Shinta, Anung Ralianto et al. “ Bangkitnya Perekonomian Asia
Timur satu decade setelah krisis”, PT. Elex Media Komputindo,
Jakarta, 2008.
Staikouras, P.K ; Staikouras, P.K. & Agoraki, M.K. (2007). The Efffecy of
Board Size and Composition on Europian Bank Performance,
“Europian Journal Law Economics”, 23 : 1-27.
Suliyanto. “ Analisis Data Pemasaran”, Ghalia Indonesia, Bogor, 2005.
Supranto, Johanes. “Analisis Multivariate Arti dan Interpretasi”, PT.
Rineka Cipta, Jakarta, 2004.
Tambunan, Tulus. “ Perekonomian Indonesia beberapa masalah penting”,
Ghalia Indonesia, Jakarta, 2003.
110
Download