BAB II URAIAN TEORITIS 2.1 Kerangka Teoritis Teori merupakan

advertisement
BAB II
URAIAN TEORITIS
2.1 Kerangka Teoritis
Teori merupakan suatu unsur yang penting di dalam melakukan suatu
penelitian. Teori dapat membantu peneliti menjelaskan suatu permasalahan sosial
maupun permasalahan alami yang menjadi pusat perhatian untuk diteliti. Teori
juga digunakan sebagai landasan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang
apa, mengapa dan bagaimana suatu masalah empiris.
Teori merupakan seperangkat konstruk (variabel) yang saling berhubungan,
definisi, dan proposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang
fenomena dengan memerinci hubungan-hubungan diantara variabel dengan tujuan
menjelaskan dan memprediksi suatu gejala (Silalahi, 2009:89). Adapun teori-teori
yang relevan terhadap penelitian ini adalah Komunikasi, Organisasi, Komunikasi
Organisasi, dan Kinerja.
2.1.1 Komunikasi
2.1.1.1 Pengertian Komunikasi
Komunikasi sudah tidak asing lagi bagi kita, komunikasi merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Selaku mahkluk sosial yang ingin
senantiasa berhubungan dengan orang lain, komunikasi menjadi unsur utama dan
penting untuk menciptakan hubungan tersebut. Keinginan manusia ingin
mengetahui lingkungan sekitarnya bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi
dalam dirinya mendorong manusia harus berkomunikasi.
Secara etimologis, Cherry dalam stuart (1983) menyatakan bahwa istilah
komunikasi berasal dari bahasa latin Communis yang artinya membuat
kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Istilah
lain dalam bahasa latin, komunikasi disebut Communico yang artinya membagi
(Cangara, 2006:18). Pengertian ini lebih dikhususkan lagi oleh Effendy di dalam
bukunya yang menegaskan bahwa kebersamaan yang dimaksud adalah
kebersamaan makna (Effendy, 2006:9).
Universitas Sumatera Utara
Secara terminologis, komunikasi (communication) merupakan ilmu yang
mempelajari pernyataan antarmanusia yang bersifat umum dengan menggunakan
lambang-lambang (simbol) yang berarti atau biasanya disebut juga dengan
penyampaian pesan dari seseorang kepada orang lain.
Seorang pakar sosiologi, Everett M. Rogers memberikan suatu defenisi
komunikasi dengan menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses hubungan
yang didalamnya terdapat pertukaran informasi (pesan), dimana suatu ide
dialihkan dari sumber kepada satu penerima atau lebih yang pada gilirannya akan
tiba pada saling pengertian yang mendalam dengan maksud untuk mengubah
tingkah laku orang-orang yang ikut serta dalam suatu proses komunikasi
(Cangara, 2006:19).
Defenisi yang diberikan oleh Everett M. Rogers hampir sama dengan defenisi
yang diberikan oleh seorang ahli yang menaruh minat pada perkembangan
komunikasi, Carl I. Hovland yang menyatakan bahwa komunikasi adalah upaya
yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi
serta pembentukan pendapat dan sikap. Namun untuk dapat mengubah sikap,
pendapat, dan tingkah laku orang lain, diperlukan suatu komunikasi yang
komunikatif (Effendy, 2006:10).
Namun untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat dilancarkan
secara efektif, kita dapat bergerak dari kutipan paradigma yang dikemukakan oleh
Harol D. Lasswell dengan menjawab pertanyaan “Who, Says What, In Which
Channel, To Whom, With WhatEffect”. Paradigma Lasswell menunjukkan bahwa
komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan
yakni:
1.
Komunikator (communicator, source, sender)
2.
Pesan (message)
3.
Media (channel, media)
4.
Komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient)
5.
Efek (efect, impact, influence)
Jadi, Lasswell menyimpulkan bahwa komunikasi merupakan suatu proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media tertentu
yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 2007:10). Untuk memperoleh
Universitas Sumatera Utara
kejelasan pengertian komunikasi yang efektif berdasarkan paradigma Harold D.
Lasswell, maka perlu kita teliti unsur-unsur dalam proses komunikasi seperti
diatas. Komunikator harus tahu khalayak mana yang dijadikannya sasaran dan
tanggapan apa yang diinginkannya sehingga ia terampil menyandi pesan yang
bertautan dengan pengawasandian komunikan. Komunikator harus mengirimkan
pesan melalui media yang efisien dalam mencapai khalayak sasaran dan tujuan
akhir semua peristiwa komunikasi adalah untuk mempengaruhi komunikan. Efek
yang terdapat pada komunikan yaitu perbedaan antara apa yang dipikirkan,
dirasakan, dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan.
Semakin banyak kebersamaan pengalaman (field of experience) komunikator
dengan bidang pengalaman komunikan maka akan semakin efektif pesan yang
dikomunikasikan. Komunikator akan dapat menyandi dan komunikan akan dapat
mengawasandi pesan hanya dalam istilah-istilah pengalaman yang dimiliki
masing-masing.
Berdasarkan uraian diatas peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi
merupakan suatu proses dimana komunikator menyampaikan pesan yang berupa
ide, gagasan, pemikiran kepada komunikan melalui media tertentu yang efisien
untuk memberikan pengertian atau makna yang sama terhadap komunikan
sehingga komunikan memperoleh pengaruh dan mengalami perubahan tingkah
laku yang sesuai dengan komunikator.
Demikianlah proses komunikasi juga terdapat di Kantor Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Toba Samosir dimana setiap pegawai yang terdapat di dalam
dinas tersebut, baik atasan maupun bawahan melakukan kegiatan komunikasi
berupa penyampaian informasi antara yang satu dengan yang lainnya untuk
mengkoordinasikan pelaksanaan tugas ataupun kegiatan lainnya yang berkenaan
dengan tujuan dibentuknya tugas.
2.1.1.2 Fungsi dan Tujuan Komunikasi
Fungsi merupakan suatu potensi yang dapat digunakan untuk memenuhi
tujuan-tujuan tertentu. Pada umumnya komunikasi memiliki empat fungsi utama,
yaitu:
Universitas Sumatera Utara
1.
Menginformasikan atau memberitahu (to inform)
2.
Mendidik (to educate)
3.
Menghibur (to entertain)
4.
Mempengaruhi atau membujuk (to influence)
Karena komunikasi juga dipahami sebagai suatu proses, maka tentulah ada
tujuan yang hendak dicapai. Pada umumnya komunikasi mempunyai beberapa
tujuan, antara lain:
1. Agar pesan yang disampaikan dapat dimengerti
2. Memahami orang lain
3. Agar gagasan kita dapat diterima oleh orang lain
4. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu
5. Untuk merubah sikap, pendapat, dan tingkah laku orang lain.
Setiap pegawai yang terdapat di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil Toba Samosir melakukan kegiatan komunikasi yang berfungsi agar pesan
maupun informasi yang hendak disampaikan oleh seorang pegawai terhadap
pegawai yang lainnya dapat dimengerti dan dipahami kemudian melakukan suatu
hal yang diinginkan oleh lawan komunikasinya.
2.1.2 Organisasi
2.1.2.1 Pengertian Organisasi
Istilah organisasi dalam bahasa Indonesia atau organization dalam bahasa
inggris bersumber pada perkataan Latin organization yang berasal dari bahasa
Latin pula, organizare, yang berarti to form as or into a whole consisting of
interdependent or coordinated parts (membentuk sebagai atau menjadi
keseluruhan dari bagian-bagian yang saling bergantung atau terkoordinasi). Jadi,
secara harfiah organisasi itu berarti paduan dari bagian-bagian yang satu sama
lainnya saling bergantung.
Evert
M.
Rogers
dan
Rekha
Agarwala
Rogers
dalam
bukunya,
Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai berikut: “a
stable system of individuals who work together to achieve, through a hierarchy of
ranks and division of labour, common goals.” (suatu sistem yang mapan dari
Universitas Sumatera Utara
mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui suatu jenjang
kepangkatan dan pembagian tugas).
Rogers memandang organisasi sebagai suatu struktur yang melangsungkan
proses pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dimana operasi dan interaksi
diantara bagian yang satu dengan yang lainnya dan manusia yang satu dengan
yang lainnya berjalan secara harmonis, dinamis, dan pasti. Menurutnya,
kemampuan struktur organisasi yang melangsungkan prosesnya secara sistem
seperti itu akan dapat menyelesaikan tujuan secara efektif, dalam arti kata
masukan (input) yang diproses akan menghasilkan (output) yang diharapkan
tujuan yang sesuai dengan biaya, personel, dan waktu yang direncanakan
(Effendy, 2007:114).
Namun untuk memahami arti suatu organisasi secara sederhana dan
sistematis, peneliti mengutip pengertian dari Robbins (1991) yang mengatakan
bahwa:
Organisasi adalah sebuah bentuk kerjasama yang sistematik antara
sejumlah orang untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan karena
didalamnya terbentuk jalinan, hubungan, relasi, dan komunikasi antara
sejumlah orang yang mempunyai tugas dan fungsi yang sama atau
yang berbeda-beda (sub sistem) untuk memenuhi tujuan (ideal dan
kongkret) yang telah disepakati bersama (Liliweri, 2004:11).
Berkenaan dalam penelitian ini organisasi yang diteliti adalah organisasi
dalam bidang pemerintahan, maka organisasi pemerintahan juga dapat dipandang
dan diartikan menurut pengertian organisasi pada umumnya. Untuk lebih jelasnya
dapat kita baca dari uraian organisasi pemerintah.
2.1.2.2 Gambaran Umum Organisasi Pemerintahan
Organisasi pemerintah merupakan organisasi yang mempunyai hak untuk
melaksanakan kewenangan berdaulat atau tertinggi dimana organisasi tersebut
diberi tanggung jawab untuk mencapai tujuan negara, baik memelihara
perdamaian dan keamanan (Hasan, 2005:2). Setiap individu-individu yang
terdapat di dalam organisasi pemerintahan akan berinteraksi di dalam suatu sistem
komunikasi untuk menyampaikan informasi-informasi, kebijakan-kebijakan yang
bertujuan agar tugas yang dibebankan kepada suatu organisasi dapat dilaksanakan
untuk mencapai tujuan organisasi pemerintah maupun tujuan negara.
Universitas Sumatera Utara
Demikian juaga Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir
merupakan salah satu organisasi pemerintah yang terdiri dari individu-individu
yang berwewenang untuk melaksanakan tugas sesuai dengan kedudukan dan
perannya masing-masing untuk mencapai tujuan organisasi maupun tujuan
negara.
2.1.3 Komunikasi Organisasi
2.1.3.1 Pengertian Komunikasi Organisasi
Sejauh ini belum ada persepsi yang sama mengenai komunikasi organisasi.
Ada beberapa pengertian komunikasi organisasi yang dikemukakan oleh para ahli.
Wayne Pace dan Don F. Faules (1998) mendefinisikan komunikasi organisasi
sebagai sebuah proses penciptaan dan pengiriman pesan oleh komunikator serta
penerimaan dan penafsiran pesan oleh komunikan yang dilaksanakan secara
berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama para anggota organisasi (Suranto,
2005:33).
Redding dan Sanborn memberi pengertian yang sama namun lebih mengikut
sertakan bidang apa saja yang terdapat dalam komunikasi organisasi tersebut
dengan mengatakan bahwa:
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan informasi
dalam organisasi yang kompleks, dimana di dalam bidang tersebut
terdapat komunikasi internal, hubungan manusia, hubungan persatuan
pengelola, komunikasi downward atau komunikasi dari atasan kepada
bawahan, komunikasi upwardatau komunikasi dari bawahan kepada
atasan, komunikasi horizontal atau komunikasi dari orang-orang yang
sama level/tingkatnya dalam organisasi, keterampilan berkomunikasi
dan berbicara, mendengarkan, menulis dan komunikasi evaluasi
program (Muhammad, 2009:65).
Sedangkan Deddy Mulyana lebih menekankan bahwa komunikasi organisasi
itu merupakan komunikasi yang lebih besar dari komunikasi kelompok. Dedy
Mulyana dalam bukunya mengatakan, komunikasi organisasi (organization
communication) komunikasi yang terjadi dalam suatu jaringan yang lebih besar
daripada komunikasi kelompok dimana komunikasi organisasi seringkali
melibatkan juga komunikasi diadik, komunikasi antar-pribadi dan adakalanya
juga komunikasi publik (Mulyana, 2001:75).
Universitas Sumatera Utara
Di dalam komunikasi organisasi tentulah terdapat saling ketergantungan
seperti yang dikemukakan Zelko dan Dance yang memberi pengertian komunikasi
organisasi merupakan suatu sistem yang saling bergantung yang mencakup
komunikasi internal dan komunikasi eksternal atau seperti Greenbaunm
menyebutnya dengan istilah bidang komunikasi yaitu komunikasi formal untuk
komunikasi internal dan komunikasi informal untuk komunikasi eksternal.
Dari bermacam-macam persepsi para ahli mengenai komunikasi organisasi
diatas, ada beberapa hal umum yang dapat disimpulkan sebagai pengertian
komunikasi organisasi.
Komunikasi organisasi adalah komunikasi yang terjadi dalam suatu
sistem terbuka yang kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungannya
sendiri baik internal maupun eksternal yang saling bergantung antara
satu dengan yang lainnya dimana komunikasi organisasi tersebut
meliputi pesan dan arus, tujuan, arah, dan media serta meliputi orang
dan sikapnya, perasaannya, hubungannya dan keterampilan/skillnya
(Muhammad, 2009 : 67).
Jika dikaitkan dengan komunikasi organisasi yang terdapat di Kantor Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir, maka peneliti dapat
menyimpulkan bahwa komunikasi organisasi merupakan proses pengiriman dan
penerimaan
informasi
antar
pegawai
yang
terdapat
di
Kantor
Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir baik di lingkungan internal
maupun di lingkungan eksternal kantor dinas dimana kedua hal tersebut saling
bergantung antara satu dengan yang lainnya.
2.1.3.2 Pentingnya Komunikasi Organisasi
Komunikasi begitu penting bagi manusia sehingga ada yang menyatakan
bahwa tanpa komunikasi kehidupan manusia tidak akan bermakna, atau bahkan
manusia tidak dapat bertahan hidup, demikian juga dalam sebuah organisasi.
Komunikasi organisasi ikut andil dalam membangun iklim organisasi juga
membangun budaya organisasi. Jika ini dipahami oleh pengelola organisasi maka
perbedaan-perbedaan individu dan ketidakmengertian (missunderstanding) dalam
organisasi bisa diperkecil dan dikurangi yang pada akhirnya konflik bisa
dihindari. Atas dasar itulah maka komunikasi organisasi perlu mendapat perhatian
untuk dipelajari dan dipahami oleh setiap orang yang terlibat dalam organisasi.
Universitas Sumatera Utara
Apabila komunikasi yang terdapat di dalam suatu organisasi tersebut efektif maka
hal tersebut kemungkinan dapat menjamin tercapainya tujuan-tujuan organisasi.
Jika dilihat dari teori hubungan antarmanusia, komunikasi antarpegawai
merupakan suatu kegiatan yang penting sehingga semua pegawai yang terdapat di
dalam suatu perkantoran harus saling berusaha berkomunikasi guna menggalang
kerjasama yang sebaik-baiknya sehingga melalui kerjasama yang baik itu dapat
diharapkan kinerja kantor meningkat dan tujuan kantor dapat tercapai (Suranto,
2005 : 35).
Judy C. Pearson (Dedy Mulyana, 2000 : 4) mengemukakan ada dua alasan
individu mengadakan komunikasi di dalam suatu organisasi yakni manfaat
individu dan kelembagaan. Pada tataran manfaat individu, seorang pegawai dalam
suatu kantor maupun organisasi dapat memupuk hubungan baik dengan orang
lain, memperoleh kepercayaan, mengklarifikasi suatu kesalahan, dan sebagainya.
Sedangkan pada tataran manfaat kelembagaan, seorang pegawai dalam suatu
kantor maupun organisasi dapat memberi manfaat pada kantor tersebut, misalnya
dengan saling berkomunikasi pegawai kantor dapat menyelesaikan tugas-tugas
kantor, mengambil keputusan yang tepat, menghindari terjadinya konflik, dan
dengan sendirinya dapat meningkatkan kinerja serta keharmonisan hubungan unitunit kerja di dalam suatu perkantoran tersebut.
2.1.3.3 Jaringan Komunikasi Formal
Sejumlah orang-orang yang menduduki posisi atau peranan tertentu di dalam
suatu organisasi melakukan aktivitas pertukaran pesan. Pertukaran pesan itu dapat
terjadi melalui jaringan komunikasi. Jaringan komunikasi di dalam suatu
organisasi dapat dilakukan oleh dua orang, tiga, atau lebih dan mungkin juga
diantara keseluruhan orang dalam organisasi. Ada dua sifat jaringan komunikasi
yang terdapat di dalam suatu organisasi yaitu jaringan komunikasi formal dan
jaringan komunikasi informal. Jaringan komunikasi formal adalah komunikasi
menurut struktur organisasi sedangkan jaringan komunikasi informal adalah
komunikasi tidak bergantung pada struktur organisasi. Di dalam penelitian ini,
peneliti secara khusus akan meneliti jaringan komunikasi formal yang terdapat di
Universitas Sumatera Utara
sebuah organisasi yakni Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba
Samosir.
Jaringan komunikasi formal merupakan proses penyampaian pesan melalui
jalan resmi yang ditentukan oleh hierarki resmi organisasi atau oleh fungsi
pekerjaan (Muhammad, 2009:107). Komunikasi formal memanfaatkan saluransaluran formal yang tersedia di dalam suatu organisasi (Suranto, 2005:39).
Komunikasi formal ini mencakup susunan tingkah laku organisasi, pembagian
departemen maupun tanggung jawab tertentu, posisi jabatan, dan distribusi
pekerjaan yang ditetapkan, dan distribusi pekerjaan yang ditetapkan bagi anggota
organisasi yang berbeda.
Ada tiga bentuk utama aliran informasi komunikasi formal dalam suatu
organisasi
1. Komunikasi ke bawah (Downward Communication)
Komunikasi ke bawah memiliki arti bahwa infomasi mengalir dari tingkatan
manajemen puncak ke manajemen menengah atau dari jabatan yang berotoritas
lebih tinggi kepada jabatan yang berotoritas lebih rendah (Masmuh, 2008:64).
Fungsi komunikasi ke bawah dalam suatu organisasi dapat berupa menyampaikan
infomasi faktual dan non-kontroversial (tidak menjadi pokok pertentangan), dan
tujuannya hanya semata-mata memberikan informasi yang berkenaan dengan
tugas-tugas dan pemeliharaan, bukan membujuk (persuasive). Pesan-pesan yang
disampaikan oleh atasan kepada bawahannya biasanya berhubungan pengarahan,
tujuan, disiplin, perintah, pertanyaan, dan kebijaksanaan umum. Dalam bukunya,
Suranto (2005) menyebutkan bahwa komunikasi ke bawah mempunyai beberapa
fungsi, antara lain:
a.
Fungsi pengarahan
b.
Fungsi perintah
c.
Fungsi indoktrinasi
d.
Fungsi inspirasi
e.
Fungsi evaluasi
Menurut Lewis (1987) komunikasi ke bawah adalah untuk menyampaikan
tujuan, untuk merubah sikap, membentuk pendapat, mengurangi ketakutan dan
kecurigaan yang timbul karena salah informasi, mencegah kesalahpahaman karena
Universitas Sumatera Utara
kurang informasi dan mempersiapkan anggota organisasi untuk menyesuaikan diri
dengan perubahan.
Perintah atau instruksi biasanya menjadi lebih terperinci dan spesifik karena
diinterpretasikan oleh tingkatan manajemen yang lebih rendah. Manajer-manajer
pada setiap tingkatan bertindak sebagai penyaring (filter) dalam menentukan
seberapa banyak informasi yang mereka terima dari pimpinan yang lebih tinggi
yang akan diteruskan kepada bawahannya. Disamping perintah dan instruksi,
komunikasi ke bawah juga berisi informasi mengenai tujuan organisasi,
kebijaksanaan-kebijaksanaan
perusahaan,
peraturan,
pembatasan,
insentif,
tunjangan, hak-hak karyawan.
Bawahan dapat menerima umpan balik tentang seberapa jauh mereka telah
melaksanakan pekerjaan mereka dengan baik. Menurut R. Wayne Pace Don F.
Paules (1998), ada lima jenis informasi yang biasanya dikomunikasikan dari
atasan kepada bawahan, diantaranya adalah:
a.
Informasi mengenai bagaimana melakukan pekerjaan
b.
Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan pekerjaan
c.
Informasi mengenai kebijakan dan praktik-praktik organisasi
d.
Informasi mengenai kinerja pegawai
e.
Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas (sense of mission)
Seluruh fungsi maupun jenis informasi yang dikomunikasikan oleh atasan
kepada bawahan yang telah dipaparkan diatas, Arni Muhammad dalam bukunya
Komunikasi
Organisasi
(2009)
mengklasifikasikannya
dalam
lima
tipe
komunikasi ke bawah, yaitu:
a.
Instruksi tugas, yaitu pesan yang disampaikan kepada bawahan mengenai apa
yang diharapkan dilakukan mereka dan bagaimana melakukannya. Pesan
tersebut dapat berupa perintah langsung, diskripsi tugas, prosedur manual,
program latihan tertentu, alat-alat bantu melihat dan mendengar yang berisi
pesan-pesan tugas dan sebagainya. Instruksi tugas yang tepat dan langsung
cenderung dihubungkan dengan tugas yang sederhana yang hanya
menghendaki keterampilan dan pengalaman yang minimal, biasanya
digunakan tugas-tugas yang kompleks, dimana karyawan diharapkan
Universitas Sumatera Utara
mempergunakan
pertimbangannya,
keterampilan,
dan
pengalamannya
(Muhammad, 2009:109).
b.
Rasional pekerjaan, yaitu pesan yang menjelaskan mengenai tujuan aktivitas
dan bagaimana kaitan aktivitas itu dengan aktivitas yang lain dalam objektif
organisasi. Kualitas dan kuantitas komunikasi rasional ditentukan oleh
filosofi dan
asumsi
pimpinan
mengenai
bawahannya.
Bila
atasan
menganggap bawahannya pemalas maka pesan rasional yang diberikan
sedikit sedangkan bila atasan menganggap bawahan dapat memotivasi diri
sendiri maka pesan rasional yang diberikan banyak.
c.
Ideologi, yaitu perluasan rasional yang penekanannya ada pada penjelasan
tugas dan kaitannya dengan perspektif organisasi. Sedangkan pada pesan
ideologi ini, atasan berusaha mencari sokongan dan antusias dari anggota
organisasi guna memperkuat loyalitas, moral, dan motivasi.
d.
Informasi, yaitu informasi dari atasan untuk memperkenalkan bawahan
dengan
praktik-praktik
organisasi,
peraturan-peraturan
organisasi,
keuntungan, kebiasaan, dan data lain yang tidak berhubungan dengan
instruksi dan rasional.
e.
Balikan, yaitu pesan yang berisi informasi mengenai ketepatan individu
dalam melakukan pekerjaannya. Salah satu bentuk sederhananya adalah
pembayaran gaji karyawan yang telah selesai melakukan pekerjaannya dan
tidak ada informasi dari atasannya yang mengkritik pekerjaannya. Tetapi
apabila hasil pekerjaan karyawan kurang baik maka balikannya mungkin
berupa kritikan atau peringatan kepada karyawan tersebut.
2.
Komunikasi ke atas (Upward Communication)
Komunikasi keatas merupakan aliran informasi dari hirarki wewenang yang
lebih rendah ke yang lebih tinggi. Biasanya mengalir di sepanjang rantai komando
(Masmuh, 2008:11). Tujuan dari komunikasi ini adalah untuk memberikan
balikan, memberikan saran, dan mengajukan pertanyaan. Komunikasi dari
bawahan ke atasan ini mempunyai efek pada penyempurnaan moral dan sikap
karyawan, tipe pesan adalah integrasi dan pembaruan (Muhammad, 2009:117).
Fungsi utama komunikasi ke atas antara lain untuk memperoleh informasi
Universitas Sumatera Utara
mengenai kegiatan, keputusan, dan pelaksanaan pekerjaan karyawan pada tingkat
yang lebih rendah. Pace (1989) menggambarkan fungsi komunikasi ke atas seperti
di bawah ini:
a.
Komunikasi ke atas membuat atasan mengetahui kapan bawahannya siap
untuk diberi informasi dari mereka dan bagaimana baiknya mereka menerima
apa yang disampaikan karyawan.
b.
Komunikasi ke atas memberikan informasi yang berharga bagi pembuatan
keputusan.
c.
Komunikasi ke atas memperkuat apresiasi dan loyalitas karyawan terhadap
organisasi dengan jalan memberikan kesempatan untuk menanyakan
pertanyaan, mengajukan ide-ide dan saran-saran tentang jalannya organisasi.
d.
Komunikasi ke atas membolehkan, bahkan mendorong desas-desus muncul
dan membiarkan atasan mengetahuinya.
e.
Komunikasi ke atas menjadikan atasan dapat menentukan apakah bawahan
menangkap arti seperti yang dia maksudkan dari arus informasi ke bawah.
f.
Komunikasi ke atas membantu karyawan mengatasi masalah-masalah
pekerjaan mereka dan memperkuat keterlibatan mereka dalam tugas-tugasnya
dan organisasi.
Kebanyakan dari hasil-hasil penelitian mengenai komunikasi ke atas
mengatakan bahwa atasan mendapatkan informasi dari bawahannya mengenai
hal-hal berikut:
a.
Apa yang dilakukan bawahan, pekerjaannya, hasil yang dicapainya, kemajuan
mereka dan rencana masa yang akan datang.
b.
Menjelaskan masalah-masalah pekerjaan yang tidak terpecahkan yang
mungkin memerlukan bantuan tertentu.
c.
Menawarkan saran-saran atau ide-ide bagi penyempurnaan unitnya masingmasing atau organisasi secara keseluruhan.
d.
Menyatakan bagaimana pikiran dan perasaan mereka mengenai pekerjaannya,
teman sekerjanya dan organisasi.
Masmuh (2008) dalam bukunya menyederhanakan bentuk-bentuk pesan yang
dikomunikasikan oleh bawahan kepada atasan seperti dibawah ini:
Universitas Sumatera Utara
a.
Laporan prestasi kerja (performance report)
b.
Saran-saran dan rekomendasi
c.
Usulan anggaran
d.
Pendapat atau opini
e.
Keluhan
f.
Permohonan bantuan
g.
Instruksi
Seperti halnya dalam komunikasi ke bawah, pegawai yang berada dalam
manajemen menengah bertindak sebagai penyaring informasi yang disalurkan
melalui
mereka.
Pegawai
manajemen
menengah
tersebut
memadukan,
memadatkan dan meringkas informasi mengenai kejadian dan pelaksanaan
pekerjaan pada tingkatan pegawai yang lebih rendah.
Demikianlah halnya penelitian ini akan mencoba mengetahui bagaimana
komunikasi bawahan terhadap atasan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil Toba Samosir dalam hal melaporkan pekerjaan, menyampaikan ide-ide atau
saran-saran, usulan, pendapat, keluhan, permohonan bantuan, dan instruksi.
3.
Komunikasi ke samping (Horizontal Communication)
Komunikasi ke samping (Horizontal communication) terjadi antara dua
pejabat atau pihak yang berada dalam tingkatan hirarki wewenang yang sama
(Masmuh, 2008:12). Komunikasi kesamping secara teratur terjadi diantara
karyawan yang bekerjasama dalam suatu tim, diantara para anggota kelompok
karyawan yang berbeda para anggota departemen atau bagian yang secara
fungsional terpisah, begitu juga diantara lini dan staff. Peranan komunikasi ke
samping ini dalam organisasi sesungguhnya sangat penting, namun relatif
seringkali diabaikan. Pertukaran informasi antarbagian sangat membantu
organisasi dalam menjalin atau mempertalikan atau mengikat suatu organisasi
menjadi kesatuan yang utuh. Komunikasi ke samping dalam jaringan kerja
komunikasi formal adalah sebagai alat utama dalam mengkoordinasian dan
mempersatukan semua bagian. Fungsi utama komunikasi ke samping dalam
jaringan kerja komunikasi formal adalah pengkoordinasian dan pemecahan
masalah.
Universitas Sumatera Utara
Suranto (2005) dalam bukunya menyebutkan beberapa tujuan komunikasi
yang dilakukan antar sesama pegawai dalam suatu organisasi:
a.
Berbagi pengalaman dan perasaan
b.
Solidaritas dan kerjasama
c.
Menserasikan pelaksanaan kerja
d.
Menghindari kekembaran (kegandaan) pengerjaan tugas
e.
Menggalang kerukunan
f.
Membahas cara-cara menanggulangi kendala yang timbul
g.
Saling koreksi untuk menghindari kekeliruan
h.
Membina hubungan harmonis dan kemitraan
2.1.4 Kinerja
2.1.4.1 Pengertian Kinerja
Kinerja berasal dari pengertian performance yang merupakan hasil kerja atau
prestasi kerja. Namun sebenarnya kinerja memiliki makna yang lebih luas yaitu
mencakup bagaimana proses pekerjaan berlangsung. Wibowo dalam bukunya
Manajemen Kinerja (2007) mengatakan bahwa kinerja adalah tentang apa yang
dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya. Kinerja juga merupakan
gambaran bagaimana seseorang baik pimpinan maupun anggota melakukan segala
sesuatu yang berhubungan dengan suatu pekerjaan, jabatan, atau peranan, dalam
suatu organisasi. Amstrong dan Baron (1998) mendefinisikan kinerja merupakan
hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis
organisasi.
Ukuran kinerja seseorang dengan yang lainnya dapat saling berbeda karena
tugas dan kewenangan jabatan yang tidak sama. Secara sederhana indikator
kinerja yang positif dapat dilihat dari sikap, perilaku dan aktivitas yang secara
nyata mendukung pelaksanaan program kerja dan pencapaian tujuan organisasi
(Suranto, 2005:56). Sedangkan tujuan adalah untuk menyesuaikan harapan kinerja
individual dengan tujuan organisasi.
Universitas Sumatera Utara
2.1.4.2 Pelaksanaan Kinerja
Pelaksanaan kinerja berlangsung dalam suatu lingkungan internal dan
eksternal yang dapat memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan kinerja.
Kinerja di dalam suatu organisasi dilakukan oleh segenap sumber daya manusia
dalam organisasi, baik unsur pimpinan maupun pekerja. Banyak faktor yang dapat
memengaruhi sumber daya manusia dalam menjalankan kinerjanya. Menurut
Wibowo dalam bukunya Manajemen Kinerja (2007), terdapat faktor dari dalam
diri sumber daya manusia sendiri maupun dari luar dirinya. Kemampuan setiap
pekerja berdasar pada pengetahuan dan keterampilan, kompetensi yang sesuai
dengan pekerjaannya, motivasi kerja dan kepuasan kerja. Namun pekerja juga
mempunyai kepribadian, sikap, dan perilaku yang dapat memengaruhi kinerjanya.
Selain sumber daya manusia yang yang terdapat di dalam suatu organisasi,
kinerja juga dipengaruhi oleh sumber daya lainnya seperti dana, bahan, peralatan,
teknologi, dan mekanisme kerja yang berlangsung dalam organisasi. Lingkungan
kerja atau situasi kerja memberikan kenyamanan sehingga mendorong kinerja
karyawan, termasuk di dalamnya kondisi hubungan antarmanusia di dalam
organisasi, baik antara atasan dengan bawahan maupun diantara rekan sekerja.
Faktor tersebut merupakan faktor lingkungan kerja internal organisasi.
2.1.4.3 Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kinerja seseorang di dalam suatu
organisasi maupun kantor, antara lain keahlian, keterampilan, motivasi, disiplin,
dan semangat kerja (Suranto, 2005:58). Setiap individu di dalam organisasi
memiliki peluang yang sama untuk mencapai kinerja yang bagus asalkan
ditempatkan pada jenis pekerjaan yang sesuai.
Komunikasi merupakan salah satu hal yang berhubungan dengan kinerja
individu
di
dalam
suatu
organisasi.
Komunikasi
dapat
meningkatkan
keharmonisan kerja pegawai karena dengan adanya komunikasi maka koordinasi
antarpegawai dapat tercipta. Keharmonisan komunikasi di dalam organisasi
tersebut dapat membantu pencapaian tujuan.
Selain komunikasi ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai
dalam organisasi yaitu efektifitas dan efisiensi, otoritas dan tanggung jawab,
Universitas Sumatera Utara
disiplin, inisiatif dan kreativitas. Beberapa faktor diatas dapat dijadikan sebagai
standar kinerja pegawai yang dapat kita lihat pada pengelompokan standar kinerja.
2.1.4.4 Standar Kinerja
Standar kinerja merupakan ukuran yang dipakai untuk menilai hasil kerja
karyawan maupun pegawai dalam suatu organisasi. Pada hakikatnya, standar
kinerja pegawai dalam suatu organisasi dapat dilihat dari tiga indikator, yaitu:
1.
Tugas fungsional, seberapa baik seseorang menyelesaikan aspek-aspek
pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya. Tugas fungsional pegawai dapat
dilihat dari beberapa hal antara lain,
a. Otoritas dan tanggung jawab. Pegawai dapat melaksanakan tugas dan
wewenangnya sesuai dengan otoritas dan tanggung jawabnya.
b. Efektivitas dan efisiensi. Efektifitas merupakan suatu ukuran yang
ditunjukkan oleh kenyataan bahwa tujuan organisasi tersebut dapat
dicapai sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan sedangkan efisien
berkaitan dengan jumlah pengorbanan yang dikeluarkan dalam upaya
mencapai tujuan. Bila pengorbanannya terlalu besar maka dikatakan tidak
efisien.
c. Inisiatif dan kreativitas. Kemampuan memberdayakan daya pikir untuk
menyelesaikan pekerjaan.
2.
Tugas perilaku. Tugas perilaku dapat dilihat dari beberapa hal berikut ini:
a. Seberapa baik seseorang melakukan komunikasi dan interaksi antarpesona
dengan orang lain dalam organisasi:
b. Bagaimana dia mampu menyelesaikan konflik secara sehat dan adil
c. Bagaimana ia memberdayakan orang lain
d. Bagaimana ia mampu bekerja sama dalam sebuah tim untuk mencapai
tujuan organisasi.
3.
Tugas etika, ialah seberapa baik seseorang mampu bekerja secara profesional
sambil menjunjung tinggi norma etika, kode etik profesi, serta peraturan dan
tata tertib yang dianut oleh suatu organisasi.
Universitas Sumatera Utara
2.2 Kerangka Konsep
Setelah sejumlah teori diuraikan dalam kerangka teori, maka langkah
selanjutnya adalah merumuskan kerangka konsep sebagai hasil pemikiran rasional
yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang
akan dicapai (Nawawi, 1998:37). Kerangka konsep dalam penelitian ini dapat
digambarkan seperti berikut:
Variabel (X)
Variabel (Y)
Komunikasi
Kinerja Pegawai
Organisasi
Gambar 2. Kerangka Konsep
2.3 Variabel Penelitian
Agar konsep dapat diteliti secara empiris harus diubah dari tingkat konseptual
ke empiris, konsep-konsep diubah menjadi variabel. Variabel merupakan ide
sentral (Silalahi, 2009:114-115). Variabel yang akan diuraikan dalam penelitian
ini, yaitu:
1.
Variabel bebas atau independent variable (X)
Variabel bebas adalah variabel yang diduga sebagai penyebab dari variabel
dependen, yaitu komunikasi organisasi.
2. Variabel terikat atau dependent variable (Y)
Variabel terikat adalah variabel yang nilainya dipengaruhi oleh variabel
independen, yaitu kinerja pegawai.
3.
Karakteristik Responden
Karakteristik responden adalah hal-hal yang mempengaruhi hubungan antara
variabel independen dengan variabel dependen.
Berdasarkan kerangka konsep yang telah dijelaskan, ada baiknya diberi
batasan operasional variabel agar lebih jelas penggunaannya di lapangan dibuat
dalam bentuk tabel ini.
Universitas Sumatera Utara
Tabel 2. Operasional Variabel
No
1
Variabel Teoritis
Variabel Bebas (X)
Komunikasi Organisasi
2
Variabel Terikat
Kinerja Pegawai
Variabel Operasional
a. Komunikasi ke bawah
- Instruksi tugas
- Rasional pekerjaan
- Ideologi
- Informasi
- Balikan
b. Komunikasi ke atas
- Laporan prestasi kerja
- Saran-saran dan rekomendasi
- Usulan anggaran
- Pendapat atau opini
- Keluhan
- Permohonan bantuan
- Instruksi
c. Komunikasi sejajar
- Berbagi pengalaman dan perasaan
- Solidaritas dan kerjasama
- Menserasikan pelaksanaan kerja
- Menghindari kegandaan tugas
- Menggalang kerukunan
- Menanggulangi kendala
- Saling koreksi untuk menghindari
kekeliruan
- Membina hubungan harmonis dan
kemitraan
a. Tugas fungsional
- Otoritas dan tanggung jawab
- Efektivitas dan efisiensi
- Inisiatif dan kreativitas
b. Tugas perilaku
- Komunikasi dan interaksi
antarpesona
- Penyelesaian konflik
- Pemberdayaan orang lain
- Bekerjasama dalam tim
c. Tugas etika
- Bekerja sesuai dengan norma dan
kode etik profesi
- Bekerja sesuai dengan tata tertib
yang dianut organisasi
Universitas Sumatera Utara
3
No
Karakteristik Responden
a.
b.
c.
d.
Variabel Teoritis
Nama
Jenis kelamin
Usia
Pendidikan terakhir
Variabel Operasional
e.
f.
g.
h.
Jabatan
Lama bekerja
Divisi/bagian
Penghasilan
2.4 Definisi Operasional
A. Variabel Bebas (Komunikasi Organisasi), terdiri dari:
1.
Komunikasi ke bawah (Downward Communication)
a. Instruksi tugas : pesan yang disampaikan oleh atasan kepada bawahan di
Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosirmengenai
apa yang diharapkan oleh atasan untuk dilakukan oleh bawahan dan
bagaimana melakukannya. Pesan tersebut dapat berupa perintah langsung,
diskripsi tugas, prosedur manual, program latihan tertentu, alat-alat bantu
melihat dan mendengar yang berisi pesan-pesan tugas dan sebagainya.
b. Rasional pekerjaan : pesan yang disampaikan oleh atasan kepada bawahan
di Kantor Dinas Kependuduka n dan Catatan Sipil Toba Samosir mengenai
penjelasan tujuan suatu aktivitas dilaksanakan dan bagaimana kaitan
aktivitas tersebut dengan aktivitas yang lain dalam objektif organisasi.
c. Ideologi : pesan yang disampaikan oleh atasan kepada bawahan di Kantor
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir berupa perluasan
rasional mengenai penjelasan tugas dan kaitannya dengan perspektif
organisasi dimana atasan bertujuan untuk mencari sokongan dan antusias
dari bawahan guna memperkuat loyalitas, moral, dan motivasi.
.
d. Informasi : pesan yang disampaikan oleh atasan kepada bawahan di Kantor
Dinas Kependuduka n dan Catatan Sipil Toba Samosir yaitu informasi
yang tidak berhubungan dengan instruksi dan rasional seperti praktikpraktik organisasi, peraturan-peraturan organisasi, keuntungan, kebiasaan,
dan data lain.
Universitas Sumatera Utara
d. Balikan : pesan yang disampaikan atasan kepada bawahan di Kantor Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir mengenai ketepatan
bawahan dalam melakukan pekerjaannya atau penilaian kerja oleh atasan
terhadap bawahannya.
2.
Komunikasi ke atas (Upward Communication)
a. Laporan prestasi kerja : pesan yang disampaikan oleh bawahan kepada
atasan di Kantor Dinas Kependuduka n dan Catatan Sipil Toba Samosir
berupa keterangan tertulis secara berkala mengenai hasil kerja dalam
melakukan tugas yang dibebankan kepadanya.
b. Saran-saran dan rekomendasi : pesan yang disampaikan oleh bawahan
kepada atasan di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba
Samosir berupa anjuran yang dapat dipertimbangkan untuk mengatasi
suatu masalah yang bermanfaat untuk kemajuan organisasi.
c. Usulan anggaran : pesan yang disampaikan oleh bawahan kepada atasan di
Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir berupa
perkiraan, perhitungan, aturan, maupun taksiran mengenai penerimaan dan
pengeluaran kas yang diharapkan untuk periode yang akan datang.
d. Pendapat atau opini: pesan yang disampaikan oleh bawahan kepada atasan
di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir berupa
pikiran, anggapan, pandangan tentang suatu hal yang bermanfaat bagi
organisasi.
e. Keluhan : pesan yang disampaikan oleh bawahan kepada atasan di Kantor
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir berupa keluhan,
kendala, kesusahan, kekecewaan yang dihadapi oleh bawahan.
f. Permohonan : pesan yang disampaikan oleh bawahan kepada atasan di
Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir berupa
permohonan terhadap sesuatu hal yang diperlukan oleh bawahan.
g. Instruksi : pesan yang disampaikan oleh bawahan kepada atasan di Kantor
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir berupa arahan
pendukung untuk melakukan suatu pekerjaan.
Universitas Sumatera Utara
3.
Komunikasi sejajar (Horizontal Communication)
a. Berbagi pengalaman dan perasaan : komunikasi yang dilakukan oleh
pegawai sederajat yang ada di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil Toba Samosir dalam hal berbagi informasi mengenai pengalaman
dan perasaan mereka baik ketika bekerja di dinas tersebut maupun di luar
pekerjaan mereka.
b. Solidaritas dan kerjasama : komunikasi yang dilakukan oleh pegawai
sederajat yang ada di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba
Samosir untuk menciptakan rasa persaudaraan yang dapat mendukung
terciptanya kerjasama yang baik.
c. Menserasikan pelaksanaan kerja : komunikasi yang dilakukan oleh
pegawai sederajat yang ada di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil Toba Samosir sekedar untuk menjaga agar keserasian pelaksanaan
kerja tetap tercipta.
d. Menghindari kekembaran (kegandaan) pengerjaan tugas : komunikasi
yang dilakukan oleh pegawai sederajat yang ada di Kantor Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir untuk menghindari
penggandaan tugas antar sesama pegawai.
e. Menggalang kerukunan : komunikasi yang dilakukan oleh pegawai
sederajat yang ada di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba
Samosir sekedar untuk mempertahankan hubungan yang telah terjalin agar
tetap baik.
f. Membahas cara-cara menanggulangi kendala yang timbul : komunikasi
yang dilakukan oleh pegawai sederajat yang ada di Kantor Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir untuk berdiskusi
bagaimana menanggulangi suatu kendala yang timbul di tengah-tengah
pekerjaan mereka.
g. Saling koreksi untuk menghindari kekeliruan : komunikasi yang dilakukan
oleh pegawai sederajat yang ada di Kantor Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Toba Samosir untuk menghindari adanya kekeliruan
antarsesama pegawai.
Universitas Sumatera Utara
h. Membina hubungan harmonis dan kemitraan : komunikasi yang dilakukan
oleh pegawai sederajat yang ada di Kantor Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Toba Samosir untuk tetap membina hubungan yang
harmonis.
B. Kinerja Pegawai
1.
Tugas fungsional
a. Otoritas : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba
Samosir di dalam menjalankan fungsinya, wewenang, hak nya untuk
bertindak sesuai dengan kekuasaan yang diberikan.
Tanggung Jawab : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan
Sipil Toba Samosir di dalam menjalankan fungsinya, bersedia dan siap
menanggung segala sesuatu apabila terjadi sesuatu hal yang menuntut,
mempersalahkan, dan memperkaran sesuatu terhadap pegawai.
b. Efektivitas : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Toba Samosir di dalam menjalankan fungsinya dapat bekerja mencapai
tujuan organisasi sesuai dengan kebutuhan yang direncanakan.
Efisien : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba
Samosir di dalam menjalankan fungsinya memiliki keseimbangan antara
pengorbanan dengan tujuan yang dicapai.
c. Inisiatif : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba
Samosir di dalam menjalankan fungsinya selalu memulai untuk
mengambil inisiatif dan memulai untuk berusaha.
Kreativitas : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Toba
Samosir
di
dalam
menjalankan
fungsinya
menggunakan
kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang berasal dari kecerdasan
dan imajinasi yang berfungsi untuk mendukung pencapaian tujuan
organisasi.
2.
Tugas perilaku
Universitas Sumatera Utara
a. Komunikasi : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil
Toba Samosir di dalam menjalankan fungsinya melakukan pertukaran
informasi terhadap pegawai lainnya.
Interaksi : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba
Samosir di dalam menjalankan fungsinya saling melakukan aksi,
berhubungan, dan saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.
b. Penyelesaian konflik : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Toba Samosir di dalam menjalankan fungsinya dapat
menyelesaikan pertentangan, permasalahan, percekcokan secara sehatdan
adil.
c. Pemberdayaan orang lain : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Toba Samosir di dalam menjalankan fungsinya mampu
memberdayakan setiap individu yang terdapat di dalamnya untuk bekerja
dengan baik untuk mencapai tujuan organisasi.
d. Bekerjasama dalam sebuah tim : pegawai di Kantor Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Toba Samosir di dalam menjalankan fungsinya dapat
bekerjasama dengan sekelompok orang dengan segala perbedaan, yakni
kelebihan dan kekurangan setiap individu dalam organisasi.
3.
Tugas etika
a. Bekerja dengan menjunjung tinggi norma dan kode etik profesi : pegawai
di Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir di dalam
menjalankan fungsinya tetap menjunjung tinggi
norma dan kode etik
profesi.
b. Bekerja sesuai dengan peraturan yang dianut organisasi : pegawai di
Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir di dalam
menjalankan fungsinyatetap bekerja sesuai dengan peraturan yang dianut
di dalam organisasi tersebut.
C. Karakteristik responden
Universitas Sumatera Utara
a. Nama : nama pegawai yang bekerja di Kantor Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Toba Samosir yang menjadi responden pada saat diadakan
penelitian.
b. Jenis Kelamin : jenis kelamin pegawai yang bekerja di Kantor Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir yang menjadi responden
pada saat diadakan penelitian.
c. Usia : usia pegawai yang bekerja di Kantor Dinas Kependudukan dan
Catatan Sipil Toba Samosir yang menjadi responden pada saat diadakan
penelitian.
d. Pendidikan Terakhir : pendidikan terakhir pegawai yang bekerja di Kantor
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir yang menjadi
responden pada saat diadakan penelitian.
e. Jabatan : jabatan pegawai yang bekerja di Kantor Dinas Kependudukan
dan Catatan Sipil Toba Samosir yang menjadi responden pada saat
diadakan penelitian.
f. Lama Bekerja : lamanya bekerja pegawai yang bekerja di Kantor Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir yang menjadi responden
pada saat diadakan penelitian.
g. Divisi/Bagian : spesifikasi pekerjaan pegawai yang bekerja di Kantor
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir yang menjadi
responden pada saat diadakan penelitian.
h. Penghasilan : penghasilan pegawai yang bekerja di Kantor Dinas
Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir yang menjadi responden
pada saat diadakan penelitian.
2.5 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha : terdapat pengaruh komunikasi organisasi terhadap kinerja pegawai di Kantor
Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Toba Samosir.
Ho : tidak terdapat pengaruh komunikasi organisasi terhadap kinerja pegawai di
Kantor Dinas Kependuduka n dan Catatan Sipil Toba Samosir.
Universitas Sumatera Utara
Download