Chapter III-V

advertisement
BAB III
TANGGUNGJAWAB BAPEPAM SEBAGAI PELAKSANA FUNGSI
PENGAWASAN DI PASAR MODAL TERHADAP ADANYA INFORMASI
YANG MENYESATKAN (MISLEADING INFORMATION)
A. Peranan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) pada Kegiatan Pasar
Modal dalam hal Terjadinya Informasi Yang Menyesatkan (Misleading
Information)
Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menurut Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal diberi tugas dan wewenang yang lebih luas dari
sekedar menjalankan fungsi pengawasan. Pembinaan pengaturan, dan pengawasan
pasar modal sehari-hari dilakukan oleh Bapepam. 57 Pembinaan, pengaturan, dan
pengawasan tersebut bertujuan terciptanya kegiatan pasar modal yang efisien serta
melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat. 58
1. Kehati-hatian (prudential);
2. Melindungi (protective);
3. Organisasi (organizational);
57
58
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
4. Struktural (structural); 59
Masalah kehati-hatian dapat dilihat dari persyaratan kelayakan modal bagi
para perantara dengan melengkapi system monitoring dan unit penegakan hukumnya.
Untuk elemen melindungi, antara lain dengan meneruskan kerangka hubungan antar
pemain pasar dan para nasabahnya, antara pemodal kecil dan pemodal besar.
Ditekankan pada masalah keterbukaan, hubungan bentuk dan tanggungjawab saling
percaya. Elemen organisasi berkaitan dengan pendirian bursa, lembaga kliring dan
system informasi informasi. Adapun elemen struktural memperkenankan pemerintah
mengatur keseimbangan pasar modal antara lain pengaturan mengenai batasan usaha
lembaga perantara, jenis instrumen yang boleh diperdagangkan, serta mekanisme
peran pemodal asing.
Keempat
pengaturan
pengawasan
tersebut
didalam
praktek
dalam
pelaksanaannya dilakukan melalui pembuatan peraturan perundang-undangan,
pemantauan pasar, penyidikan dan tuntutan, pemeriksaan dan pengajuan prospektus
dan dokumen perusahaan lain, audit laporan keuangan, pengawasan bursa, lembaga
kliring dan perusahaan jasa lain yang berkaitan, kesemuanya apabila dipraktekkan
secara baik akan memerlukan efisiensi, kewenangan dan stabilitas pasar.
Kewenangan Bapepam diatur secara rinci pada Pasal 5 UUPM. Diperoleh
petunjuk bahwa sebenarnya dari beberapa definisi di atas, Bapepam telah
menjalankan fungsi pengendalian dari sekedar pengawasan. Terbukti dengan pasal 5
59
Jusuf Anwar, Kajian Tentang Kepastian Hukum Kinerja Lembaga Pasar Modal di
Indonesia dalam Upaya Menunjang Pembangunan Nasional, (Bandung: Disertasi, Program
Pascasarjana, 2001), hal. 390
UUPM, Bapepam memiliki kewenangan untuk memberi izin, menetapkan
persyaratan (dalam istilah manajemen disebut sebagai kegiatan evaluasi), secara
membekukan dan membatalkan pencatatan saham (dalam istilah manajemen disebut
sebagai kegiatan korektif). Kewenangan Bapepam yang diberikan oleh UUPM
dijabarkan secara rinci dalam beberapa peraturan pelaksanaan, yaitu Peraturan
Pemerintah Nomor 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan kegiatan di bidang pasar
modal, Keputusan Menteri Keuangan Nomor 645/KMK.010/1995, Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 455/KMK.010/1995 dan Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 90/KMK.010/2001 tentang Pemilikan Saham Perusahaan oleh Pemodal
Asing.
Bapepam dalam hal terjadinya informasi yang menyesatkan (misleading
information) yang dilakukan emiten atau pun pihak lain, yang dapat mempengaruhi
harga dan kegiatan perdagangan efek di pasar modal dapat memerintahkan
dihentikannya suatu kegiatan yang merupakan pelanggaran terhadap UUPM dan atau
peraturan pelaksanaannya, seperti memerintahkan emiten untuk menghentikan
pemuatan iklan dalam media massa yang memuat informasi yang menyesatkan.
Sebaliknya Bapepam dapat memerintahkan dilakukannya suatu kegiatan tertentu
apabila dipandang perlu untuk mengurangi kerugian yang timbul dan atau mencegah
kerugian lebih lanjut, seperti mewajibkan emiten atau perusahaan publik untuk
memperbaiki iklan yang dimuat dalam media massa. Dibutuhkan adanya landasan
hukum yang kokoh untuk lebih menjamin kepastian hukum pihak-pihak yang
melakukan kegiatan pasar modal serta melindungi kepentingan masyarakat pemodal
dari praktik yang merugikan.
Dalam rangka tujuan inilah Badan Pengawas Pasar Modal diberi kewenangan
untuk melakukan penyidikan, yang pelaksanaannya didasarkan pada Kitab Undangundang Hukum Pidana dan kewenangan publik lainnya, sebagai pengawas pasar
modal, Badan Pengawas Pasar Modal dalam menjalankan tugasnya untuk
menegakkan aturan main di pasar modal mempunyai kewenangan-kewenangan
fungsinya sebagai berikut:
1. Fungsi Pemeriksaan
Bapepam mempunyai kewenangan untuk melakukan pemeriksaan dan penyidikan
terhadap setiap pihak yang diduga melakukan pelanggaran terhadap peraturan
perundang-undangan di bidang Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya. 60
Sebagai
konsekuensi logis dari pelaksanaan fungsi sebagai badan pengawas
terhadap kegiatan di pasar modal. Bapepam perlu diberi kewenangan untuk
melakukan pemeriksaan terhadap setiap pihak yang diduga telah, sedang, atau
mencoba melakukan pelanggaran terhadap UUPM dan atau peraturan
pelaksanaannya.
Adapun yang dimaksud dengan pemeriksaan di sini adalah serangkaian kegiatan
mencari, mengumpulkan dan mengolah data dan atau keterangan lain yang
60
Pasal 5 huruf (e), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
dilakukan oleh pemeriksa untuk membuktikan ada atau tidaknya pelanggaran atas
peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. 61
Dengan kewenangan ini Bapepam dapat mengumpulkan data, informasi, dan atau
keterangan lain yang diperlukan sebagai bukti atas pelanggaran terhadap Undangundang tersebut. Dalam rangka pemeriksaan, Bapepam dapat melakukan
tindakan-tindakan sebagai berikut :
a. Meminta keterangan dan atau konfirmasi, serta memeriksa catatan,
pembukuan, dan atau dokumen lain dari pihak yang diduga melakukan atau
terlibat dalam pelanggaran, ataupun pihak lain bila dianggap perlu.
b. Mewajibkan pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran
terhadap pasal 5 huruf e UUPM. Dan peraturan pelaksanaannya untuk
melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu.
c. Memeriksa dan atau membuat salinan terhadap catatan, pembukuan, dan atau
dokumen lain, baik milik pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam
pelanggaran terhadap pasal 5 huruf e. UUPM dan peraturan pelaksanananya,
maupun pihak lain apabila dianggap perlu.
d. Menetapkan syarat dan atau mengizinkan pihak yang diduga melakukan atau
terlibat dalam pelanggaran terhadap pasal 5 huruf e UUPM dan peraturan
61
Pasal 1 butir (2) Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 1995 tentang Tata Cara
Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal. Dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab
Undang-undang Hukum Acara Pidana, kegiatan pemeriksaan ini diartikan sebagai tindakan
penyelidikan sebagaimana didefenisikan dalam Pasal 1 butir 5 Undang-undang tersebut.
pelaksanaannya untuk melakukan tindakan tertentu yang diperlukan dalam
rangka penyelesaian kerugian yang timbul.
Disamping itu, dalam tahap pemeriksaan ini Bapepam dapat memerintahkan
dihentikannya suatu kegiatan yang melanggar peraturan perundang-undangan di
bidang pasar modal, seperti memerintahkan emiten atau perusahaan publik untuk
menghentikan pemuatan iklan dalam media massa yang memuat informasi yang
menyesatkan. Sebaliknya, Bapepam dapat mengurangi kerugian yang timbul dan
atau mencegah kerugian lebih lanjut, seperti mewajibkan emiten atau perusahaan
publik untuk memperbaiki iklan yang dimuat dalam media massa. 62
Data, informasi, bahan dan atau keterangan lain dikumpulkan dalam rangka
pemeriksaan tersebut sudah dapat digunakan oleh Bapepam untuk menetapkan
sanksi administratif apabila pelanggaran tersebut hanya bersifat administratif saja.
Tapi apabila pelanggaran tersebut telah mengarah kepada tindak pidana, maka
perlu ditindaklanjuti dengan penyidikan.
2. Fungsi Penyidikan
Apabila Bapepam menetapkan untuk meneruskan pemeriksaan yang dilakukan ke
tahap penyidikan, maka data, informasi, bahan, dan atau keterangan lain tersebut
dapat digunakan sebagai bukti awal dalam tahap penyidikan. 63 Hal ini tidak
berarti bahwa tindakan penyidikan harus didahului oleh tindakan pemeriksaan.
62
Pasal 5, huruf (f) Pasal 5 huruf (e) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar
Modal
63
Penyidikan di Pasar Modal Merupakan Serangkaian Tindakan Penyidik untuk Mencari
serta Mengumpulkan Bukti yang Diperlukan sehingga dapat Membuat Terang tentang Tindak Pidana
yang Terjadi di Pasar Modal, Menemukan Tersangka, serta mengetahui besarnya kerugian yang
ditimbulkannya.
Artinya apabila Bapepam berpendapat bahwa suatu kegiatan yang dilakukan itu
merupakan pelanggaran dan mengakibatkan kerugian terhadap kepentingan pasar
modal dan atau membahayakan kepentingan pemodal dan masyarakat, maka
tindakan penyidikan sudah dapat dimulai sebagaimana dimaksud dalam pasal 101
ayat (1) Pasal 5 huruf e UUPM.
Pelanggaran yang terjadi di pasar modal sangat beragam dilihat dari segala jenis,
modus, operandi, atau kerugian yang mungkin ditimbulkan, oleh karena itu
Bapepam diberikan kewenangan untuk mempertimbangkan konsekuensi dari
pelanggaran yang terjadi dan wewenang untuk meneruskan ke tahap penyidikan
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dari berbagai sudut pandant, misalnya
pertimbangan aspek yuridis dan ekonomis. Apabila kerugian yang ditimbulkan
membahayakan sistem pasar modal atau kepentingan pemodal ada atau
masyarakat, atau apabila tidak tercapai penyelesaian atas kerugian yang telah
timbul, Bapepam dapat memulai tindakan penyidikan dalam rangka penuntutan
tindak pidana.
Tindakan untuk memulai penyidikan dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri
Sipil (PPNS) setelah memperoleh penetapan dari Ketua Bapepam. PPNS
dilingkugnan Bapepam diangkat oleh Menteri Kehakiman. 64 Dalam melakukan
penyidikan, kewenangan-kewenangan yang diberikan oleh undang-undang
kepada Bepapam antara lain : 65
64
65
Penjelasan Pasal 101 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
Pasal 101 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
a. Menerima laporan, pemberitahuan, atau pengaduan dari seseorang tentang
adanya tindak pidana di bidang pasar modal.
b. Melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan
dengan tindak pidana dibidang pasar modal.
c. Melakukan penelitian terhadap pihak yang diduga melakukan atau terlibat
dalam tindak pidana dibidang pasar modal.
d. Memanggil, memeriksa dan meminta keterangan dan barang bukti dari setiap
pihak yang disangka melakukan, atau sebagai saksi dalam tindak pidana di
bidang pasar modal.
e. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain
berkenaan dengan tindak pidana di bidang pasar modal.
f. Melakukan pemeriksaan disetiap tempat tertentu yang diduga terdapat setiap
barang bukti, pembukuan, catatan, dan dokumen lain serta melakukan
penyitaan terhadap barang yang dapat dijadikan barang bukti dalam perkara
tindak pidana di bidang pasar modal.
g. Memblokir rekening pada bank atau lembaga keuangan lainnya dari pihak
yang diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di bidang pasar
modal.
h. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana di bidang pasarmodal.
i. Menyatakan saat dimulai dan dihentikannya penyidikan.
Cara represif seperti diuraikan di atas perlu diimbangi dengan cara preventif,
yaitu dengan mengembangkan suatu mekanisme agar perdagangan efek dapat
berjalan dengan wajar, teratur dan efisien. Pelaksanaan transaksi yang demikian
dapat diwujudkan apabila para pelaku pasar memiliki dedikasi yang tinggi dan
selalu mematuhi peraturan dan kode etik yang berlaku. Tindak pidana yang
masuk dalam kategori delik kejahatan di pasar modal, lazim disebut sebagai
tindak penipuan, manipulasi pasar, perdagangan orang dalam, serta kegiatankegiatan dipasar modal yang dilakukan tanpa izin, persetujuan atau pendaftaran
seperti yang diatur dalam UUPM. 66
66
Lihat Pasal 103 ayat (1), Pasal 104, Pasal 107 dan Pasal 110 Undang-Undang Nomor 8
Tahun 1995 tentang Pasar Modal
3. Fungsi Penyelesaian Perselisihan
Dalam fungsinya sebagai pembina pasar modal, Bapepam melalui Biro transaksi
dan lembaga efek dapat bertindak sebagai penyelesaian perselisihan antar anggota
bursa. 67 Dalam prakteknya jarang terjadi perselisihan yang diajukan ke Bapepam.
Hal ini dikarenakan pada tingkat pertama telah ada badan yang menangani
perselisihan-perselisihan tersebut, yaitu Komite Disiplin anggota yang merupakan
bagian dari lembaga Bursa Efek. 68 Mekanisme perselisihan oleh Komite Disiplin
anggota adalah sebagai berikut : 69
a. Setiap perselisihan yang timbul antara anggota bursa dapat diajukan kepada
Komite Disiplin anggota untuk mendapatkan saran penyelesaian.
b. Dalam hal perselisihan sebagaimana dimaksudkan di atas melibatkan
kepentingan salah satu anggota komite, baik sebagai perusahaan efek maupun
sebagai individu, maka anggota komite yang bersangkutan dilarang
menggunakan kewenangannya sebagai anggota komite dalam menyelesaikan
kasus tersebut.
c. Cara komite mengambil keputusan secara singkat dapat diuraikan sebagai
berikut: 70
1). Komite disiplin anggota terlebih dahulu mengusulkan tercapainya
perdamaian antar para pihak yang berselisih.
2). Apabila dipandang perlu komite tersebut dapat menyelenggarakan dengan
pendapat (hearing) dengan para pihak yang terkait sebagai bahan
pertimbangan dalam pengambil keputusan.
3). Saran penyelesaian yang diputuskan dalam rapat komite itu dan
disampaikan kepada anggota bursa yang berselisih melalui direksi bursa efek.
67
Biro Transaksi dan Lembaga Efek dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor
503/KMK/01/1997 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengawas Pasar Modal, bertugas antara
lain melakukan Pembinaan terhadap Lembaga-lembaga yang Terlibat dalam Transaksi Efek di Bursa
68
Komite Disiplin Anggota merupakan Panitia yang Dibentuk oleh Direksi, yang terjadi dari
Wakil-wakil Anggota Bursa serta Bertindak sebagai lembaga yang dapat Membantu Penyelesaian
Perselisihan yang Timbul antara Anggota Bursa.
69
Huruf f butir (1) dan butir (2) Peraturan No. III tentang Keanggotaan Bursa, lampiran Surat
Keputusan Direksi PT. BEJ No. Kep-05/BEJ/XII1993 Tanggal 28 Desember 1993.
70
Huruf f butir (3) Peraturan No. III tentang Keanggotaan Bursa, lampiran Surat Keputusan
Direksi PT. BEJ No. Kep-05/BEJ/XII1993 Tanggal 28 Desember 1993
4. Fungsi Pemeriksaan Keberatan
Bapepam berwenang menerima dan memberi keputusan atas pengajuan keberatan
dari anggota-anggota bursa efek yang tidak puas atas sanksi yang diberikan oleh
bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, atau lembaga penyimpanan dan
penyelesaian. 71 Namun demikian, saat ini belum terdapat peraturan yang
mengatur mengenai tata cara pengajuan keberatan tersebut, dan dalam praktik
belum pernah ada pihak yang mengajukan keberatan tersebut kepada Bepapm.
Hal ini karena Bursa Efek telah memberikan sanksi yang berlapis bagi pelanggar.
Maksud pemberian sanksi secara berlapis adalah atas suatu pelanggaran,
diberikan sanksi melalui beberapa tahap, misalnya dengan teguran pertama,
kedua, dan ketiga, kecuali untuk pelanggaran-pelanggaran tertentu yang akibatnya
sangat luas atau menimbulkan kerugian yang besar dengan tidak menggunakan
sanksi yang bertahap.
5. Fungsi Pengenaan Sanksi Administratif
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal memberikan
wewenang kepada Bapepam berdasarkan pasal 102 ayat (1) untuk mengenakan
sanksi administratif atas pelanggaran aturan main di pasar modal oleh pihak-pihak
yang memberikan izin, persetujuan, atas pendaftaran dari Bapepam. Pihak-pihak
tersebut antara lain emiten, perusahaan publik, Bursa Efek, Lembaga Kliring dan
71
Kewenangan Menerima Keberatan ini diatur dalam Pasal 5 huruf (l) Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang menegaskan bahwa Bapepam Berwenang memeriksa
Keberatan yang Diajukan oleh Pihak yang Dikenakan Sanksi oleh Bursa, LKP, dan LPP serta
memberikan Keputusan Membatalkan atau Menguatkan Pengenaan Sanksi Dimaksud.
Penjamin, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksadana, Perusahaan
Efek, Penasihat Investasi, Wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil Perantara
Perdagangan Efek, Wakil Manejer Investasi, Biro Administrasi Efek, dan pihak
lain yang telah memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran dari Bapepam.
Ketentuan ini juga berlaku bagi Direktur, Komisaris dan setiap pihak yang
memiliki sekurang-kurangnya lima persen saham emiten atau perusahaan
publik. 72
Bentuk-bentuk sanksi administratif di pasar modal sebagaimana diatur dalam
UUPM ada tujuh jenis, yaitu : 73
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
Peringatan tertulis.
Dengan dengan membayar sejumlah uang.
Pembatasan kegiatan usaha.
Pembekuan kegiatan usaha.
Pencabutan izin usaha.
Pembatalan persetujuan.
Pembatalan pendaftaran.
Dalam mengenakan suatu sanksi administratif, Bapepam perlu memperhatikan
aspek pembinaan terhadap semua pihak yang bertindak sebagai pelaku pasar,
dikenakan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dapat berupa keterlambatan
penyampaian laporan oleh para pihak yang dikenakan kewajiban penyampaian
pelaporan baik yang sifatnya berkala maupun insidentil. Keterlambatan pelaporan
tersebut dikenakan sanksi denda, yaitu kewajiban untuk membayar sejumlah uang
tertentu ke kas negara sesuai dengan lamanya keterlambatan. Pengenaan sanksi
72
Penjelasan Pasal 102 UUPM jo Pasal 61 PP No. 45 Tahun 1995 tentang Penyelenggaraan
Kegiatan di Bidang Pasar Modal.
73
Pasal 102 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
administratif juga dilakukan atas pelanggaran administratif lainnya yang
akibatnya tidak merugikan pihak lain secara langsung maupun tidak langsung. 74
Lembaga pengawas pasar modal yang berikan kepada Bapepam mempunyai
wewenang yang luas. Wewenang ini diatur dalam Bab II Pasal 3 hingga Pasal 5
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal wewenang yang
diberikan tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan terciptanya pasar modal yang
teratur, wajar, efisien, serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat.
Secara garis besar wewenang tersebut diuraikan sebagai berikut :
Pertama, wewenang memberi izin usaha kepada bursa efek dan lembaga-lembaga
penunjangnya, yaitu lembaga kliring dan penjamin, lembaga penyimpanan dan
penyelesaian, reksa dana, perusahaan efek, penasehat investasi dan biro
administrasi efek. Kedua, wewenang memberi izin perorangan untuk mewakili
perantara pedagang efek, wakil penjamin emisi efek dan wakil manajer investasi.
Ketiga, wewenang menyetujui pendirian bank kustodian. Keempat, wewenang
menyetujui pencalonan atau pemberhentian komisaris, direktur serta menunjuk
manajemen sementara bursa efek, lembaga kliring dan penjaminan, lembaga
penyimpanan dan penyelesaian, sampai dipilihnya komisaris dan direktur baru.
Kelima, wewenang memeriksa dan menyidik setiap pihak terjadi pelanggaran
terhadap UUPM. Keenam, wewenang pembekuan atau pembatalan pencatatan
suatu efek. Ketujuh, wewenang menghentikan kegiatan perdagangan bursa efek
74
Misalnya berupa Sanksi Denda yang Dikenakan bagi Perusahaan Efek yang tidak
Memenuhi Ketentuan Persyaratan Modal Kerja Bersih Disesuaikan.
dalam keadaan darurat. Kesembilan, wewenang bertindak sebagai lembaga
banding bagi pihak yang dikenakan sanksi oleh bursa efek maupun lembaga
kliring dan penjamin. 75
Selain kewenangan tersebut Bapepam juga masih memiliki kewenangan yang
bersifat teknis lainnya. Kewenangan yang dimiliki Bapepam ini harus juga
dibarengi dengan tindakan untuk senantiasa melakukan pembinaan, guna
mewujudkan mekanisme pasar yang efisien, wajar dan teratur. Bapepam beserta
lembaga-lembaga yang terkait dengan pasar modal harus berperan serta dalam
usaha mewujudkan perekonomian yang tangguh. Dalam rangka melaksanakan
peran strategis tersebut, pasar modal perlu didukung oleh infrastruktur yang
memadai kerangka hukum yang kokoh dan sikap professional dari pelaku pasar
modal. Infrastruktur pasar modal dapat disebut memadai apabila telah dilengkapi
dengan unsur pengawasan, Self Regulatory Organization (SRO), kliring,
penyelesaian dan penyimpanan yang baik. Pasar modal yang memiliki kerangka
hukum yang kokoph adalah apabila telah mempunyai landasan hukum baik
berupa Undang-udnang maupun Peraturan pelaksanaannya yang mengatur segala
aspek kegiatan pasar modal itu sendiri. Disamping itu pelaku pasar modal dapat
disebut professional apabila mereka memiliki kemampuan teknis yang diperlukan
dan menjunjung tinggi etika profesinya masing-masing. Bursa efeknya misalnya,
dikatakan Self Regulatory Organization (SRO), wajib menyediakan sarana
perdagangan yang efisien dan aman serta melaksanakan pengawasan terhadap
75
Jusuf Anwar, Loc.cit
anggotanya. Sebagai Self Regulatory Organization (SRO), bursa efek diberi
kewenangan mengeluarkan peraturan atas persetujuan Bapepam dan menegakkan
peraturan yang berhubungan dengan kegiatannya. Diantaranya peraturan
mengenai pencatatan efek, keanggotaan bursa dan perdagangan efek, saham bursa
efek hanya dapat dimiliki oleh perusahaan efek yang menjadi anggota bursa efek
yang bersangkutan. Bursa efek didirikan dengan tujuan menyelenggarakan
perdagangan efek yang teratur, wajar, dan efektif. Pada saat ini terdapat 2 (dua)
bursa efek di Indonesia, yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya
(BES). Kedua bursa efek tersebut harus mampu menciptakan suatu kondisi yang
dapat mendorong peranan perusahaan efek yang menjadi anggotanya, sehingga
pada akhirnya dapat merangsang minat pemodal domestik melakukan investasi
dengan aman efisien, dan terjangkau (murah) di pasar modal. Dengan
meningkatnya peranan pemodal domestik, diharapkan hal tersebut tidak hanya
menguntungkan bursa efek dan pemodal secara ekonomis, tapi juga
meningkatkan keinginan pemodal untuk lebih giat berpartisipasi dan memiliki
tanggungjawab untuk tetap mempertahankan kelangsungan bursa efek di
Indonesia. 76
76
Ibid
B. Tindakan Bapepam Terhadap Informasi yang Menyesatkan (Misleading
Information) di Pasar Modal
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal mengatur tentang
adanya kewajiban bagi perusahaan yang melakukan penawaran umum atau
perusahaan yang memenuhi persyaratan sebagai perusahaan publik untuk
menyampaikan informasi mengenai keadaan usahanya baik dari segi keuntungan,
manajemen, produksi maupun hal yang berkaitan dengan kegiatan usahanya kepada
masyarakat. Informasi tersebut mempunyai arti yang sangat penting bagi masyarakat
sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan investasi. Terhadap adanya indikasi
terjadinya pelanggaran dan tindak pidana dibidang pasar modal Bapepam melakukan
pemeriksaan dan atau penyidikan atas setiap dugaan pelanggaran dan tindak pidana
tersebut. Pemeriksaan dan atau penyidikan yang dilakukan berdasarkan data, hasil
analisis, laporan yang disampaikan oleh para pelaku pasar modal ataupun investor,
pemberitaan media massa maupun hasil temuan Bapepam sendiri. Dalam
menjalankan fungsi pengawasan untuk melindungi para investor dalam bertransaksi,
perlindungan yang diberikan Bapepam kepada investor adalah dalam bentuk
menjalankan peraturan perundang-undangan hukum (law enforcement).
Pertanggungjawaban Bapepam adalah sebatas dengan fungsi dan kewenangan
yang dijalankannya. Bapepam dalam melakukan pemeriksaan terhadap adanya
dugaan pelanggaran tersebut demi kepentingan pemodal berwenang untuk
menghentikan transaksi bursa atas efek tertentu untukjangka waktu tertentu.
Bursa efek pun secara independen berdasarkan Keputusan Direksi PT. Bursa
Efek Jakarta Nomor Kep-565/BEJ/11-2003 tentang Peraturan II-A tentang
perdagangan efek, dalam rangka menjaga terlaksananya perdagangan efek yang
wajar, teratur dan efisien bursa dapat melakukan penghentian sementara pelaksanaan
perdagangan efek dibursa dalam hal terjadinya penurunan atau kenaikan harga-harga
saham yang tajam secara menyeluruh dibursa : Jakarta Automatic Trading System
(JATS) tidak berfungsi sebagaimana mestinya atas permintaan tertulis dari KPEI
sehubungan dengan tidak berfungsinya sistem kliring dan penjaminan KPEI;
terjadinya force majeure. Penghentian sementara perdagangan dibursa jika melebihi
satu sesi perdagangan harus mendapat persetujuan Bapepam.
Kedudukan Bapepam selaku pengawas untuk melakukan kewenangan dengan
cara preventif dalam bentuk membuat aturan, pedoman, bimbingan, dan pengarahan.
Secara represif dilakukan dalam bentuk pemeriksaan, penyidikan dan penerapan
sanksi-sanksi. Dalam melakukan pemeriksaan, sesuai dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 46 Tahun 1995 tentang Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Pasar Modal dapat
melakukan tindakan sebagai berikut :
1. Meminta keterangan dan atau informasi, serta memeriksa catatan, pembukuan,
dan atau dokumen lain dari pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam
pelanggaran, ataupun pihak lain bila dianggap perlu.
2. Mewajibkan pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran
terhadap untuk melakukan atau tidak melakukan kegiatan tertentu.
3. Memeriksa dan atau membuat salinan terhadap catatan, pembukuan, dan atau
dokumen lain, baik milik pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam
pelanggaran UUPM dan peraturan pelaksanaannya, maupun pihak lain apabila
dianggap perlu.
4. Menetapkan syarat dan atau mengizinkan pihak yang diduga melakukan atau
terlibat dalam pelanggaran terhadap UUPM dan peraturan pelaksanaannya untuk
melakukan tindakan tertentu yang diperlukan dalam rangka penyelesaian kerugian
yang timbul.
Selanjutnya apabila terdapat bukti yang cukup telah terjadi suatu tindak
pidana maka pemeriksaan dapat diteruskan pada tahap penyidikan. Tindakan untuk
memulai penyidikan dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) setelah
memperoleh penetapan dari Ketua Bapepam. Dalam melakukan penyidikan ini,
kewenangan-kewenangan yang diberikan oleh undang-undang Bapepam antara lain :
1. Menerima laporan, pemberitahuan, atau pengaduan dari seseorang tentang adanya
tindak pidana di bidang pasar modal.
2. Melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan
tindak pidana dibidang pasar modal.
3. Melakukan penelitian terhadap pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam
tindak pidana dibidang pasar modal.
4. Memanggil, memeriksa dan meminta keterangan dan barang bukti dari setiap
pihak yang disangka melakukan, atau sebagai saksi dalam tindak pidana di bidang
pasar modal.
5. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan, dan dokumen lain berkenaan
dengan tindak pidana di bidang pasar modal.
6. Melakukan pemeriksaan disetiap tempat tertentu yang diduga terdapat setiap
barang bukti, pembukuan, catatan, dan dokumen lain serta melakukan penyitaan
terhadap barang yang dapat dijadikan barang bukti dalam perkara tindak pidana di
bidang pasar modal.
7. Memblokir rekening pada bank atau lembaga keuangan lainnya dari pihak yang
diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di bidang pasar modal.
8. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana
di bidang pasar modal.
9. Menyatakan saat dimulai dan dihentikannya penyidikan.
Untuk itu dalam melakukan pemeriksaan, Bapepam haruslah dipenuhi normanorma yang disebut dengan norma-norma pemeriksaan, yang terdiri dari norma
pemeriksaan yang menyangkut dengan pemeriksa, norma pemeriksaan yang
menyangkut dengan pemeriksaan dan norma pemeriksaan yang menyangkut dengan
pihak yang diperiksa.
Tindak pidana di pasar modal sebagaimana diatur dalam pasal 110, terbagi
dalam dua bentuk yaitu pelanggaran dan kejahatan. Tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam pasal 103 ayat (2), pasal 105, dan pasal 109 UUPM dikategorikan
sebagai pelanggaran, sedangkan tindak pidana yang dimaksud dalam pasal 103 ayat
(1), pasal 104, pasal 106, dan pasal 107 dikategorikan sebagai kejahatan. Memberikan
informasi yang menyesatkan (misleading information) sehingga mempengaruhi harga
efek di bursa merupakan kejahatan. Berdasarkan pasal 104 UUPM, kejahatan seperti
ini diberikan sanksi hukuman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp. 15.000.000.000,- (lima belas milyar rupiah).
Berdasarkan pasal 101 ayat 1, tidak semua pelanggaran terhadap UUPM dan
atau peraturan pelaksanaannya harus ditindaklanjuti ketahap penyidikan karena hal
tersebut dapat menghambat kegiatan penawaran dan atau perdagangan efek secara
keseluruhan. Sehingga dalam prakteknya Bapepam jarang melanjutkan kasus yang
terjadi di pasar modal ke tahap penyidikan, dan lebih sering mengenakan sanksi
administratif.
Sebagai gambaran contoh penanganan kasus yang diambil Bapepam dapat
dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel 1
Penyelesaian Kasus Oleh Bapepam Sampai Dengan Tahun 2010
Penyelesaian
Sanksi
Diteruskan ke
Administratif
penyidikan
3
1
Jumlah
Kasus
Selesai
Tidak
Selesai
2006
10
4
6
2007
39
28
11
25
3
2008
44
34
10
32
2
2009
44
33
11
31
2
2010
28
25
3
22
3
Tahun
Sumber : http/www.bapepam.go.id/annual report 2006-2010
Tabel 2
Penetapan sanksi sepanjang tahun 2010
Denda
183 emiten
Rp 6,29 miliar
17 manajer investasi
Rp 12,3 juta
76 perusahaan efek
Rp 6,9 miliar
16 penilai
Rp 45,8 juta
14 akuntan publik
Rp 55,3 juta
4 biro administrasi efek (BAE)
Rp 16,7 juta
5 bank kustodian
Rp 2,9 juta
4 self regulatory organizations (SROs)
Rp 3,3 juta
14 direksi/komisaris
Rp 14,7 miliar
10 perorangan (nasabah)
Rp 1, 3 miliar
Peringatan tertulis
2 Wakil Manajer Investasi
14 Akuntan Publik
2 Penilai
1 Direksi Emiten
Pencabutan izin usaha
2 Perusahaan Efek yang bertindak sebagai Manajer Investasi
1 Perusahaan Efek yang bertindak sebagai Perantara Pedagang Efek
1 Perusahaan Efek yang bertindak sebagai Penjamin Emisi Efek
2 Wakil Penjamin Emisi Efek
1 Wakil Perantara Pedagang Efek
2 Wakil Manajer Investasi
Pembekuan izin usaha
10 Akuntan Publik
1 Wakil Perantara Pedagang Efek
Sumber: catatan akhir tahun 2010 Bapepam-LK
C. Tanggungjawab Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) Dalam Praktek
Sebagai Pelaksana Fungsi Pengawasan di Pasar Modal Terhadap Adanya
Informasi Yang Menyesatkan (Misleading Information) Dihubungkan
Dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
Badan pengawas pasar modal (Bapepam) menurut UUPM, diberi tugas dan
wewenang yang lebih luas dari sekedar menjalankan fungsi pengawasan. Fungsi
pembinaan, pengaturan, dan pengawasan di pasar modal sehari-hari dilakukan oleh
Bapepam. Fungsi pembinaan, pengaturan, dan pengawasan tersebut bertujuan untuk
terciptanya kegiatan pasar modal yang efisien serta melindungi kepentingan pemodal
dan masyarakat. Untuk itu Bapepam mengawasi keterbukaan informasi yang
diwajibkan pada emiten dengan cara penyampaian berbagai pelaporan pada publik
baik melalui Bapepam maupun media massa. Pengawasan ini telah dilakukan mulai
dari saat dibuatnya pernyataan tersebut menjadi efektif, sampai dengan efek tersebut
diperjualbelikan di pasar sekunder, sebagaimana yang diatur dalam UUPM,
sedangkan ketentuan yang belum diatur secara terperinci dan belum terakomodir
dalam undang-undang pasar modal oleh Bapepam dibuat dalam bentuk peraturan
pasar modal.
Dalam menjaga keterbukaan informasi dan kepentingan pemodal, Bapepam
mengeluarkan berbagai peraturan yang diharapkan tidak ada lagi pelanggaranpelanggaran di pasar modal sehingga dapat terwujudnya pasar modal yang teratur,
wajar dan efisien. Apabila terjadi berbagai kasus pelanggaran dalam kegiatan pasar
modal, secara represif Bapepam melakukan pemeriksaan, penyidikan serta
menjatuhkan sanksi bagi pelakunya. Tidak terkecuali dengan kasus misleading
information. Dalam kasus misleading information yang dilakukan direksi dan
komisaris PT. Lippo E-net, Tbk misalnya Bapepam mengumpulkan data, informasi,
dan atau keterangan lain yang diperlukan sebagai bukti atas pelanggaran terhadap
Undang-undang pasar modal dan peraturan pelaksanaannya. Babepam meminta
keterangan dan atau konfirmasi, serta memeriksa catatan, pembukuan, dan atau
dokumen lain dari pihak yang diduga melakukan atau terlibat dalam pelanggaran
terhadap UUPM dan peraturan pelaksanaannya ataupun pihak lain apabila dianggap
perlu. Sebagaimana kewenangan yang diberikan dan prosedur yang disyaratkan
dalam pasal 100 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1998 tentang Pasar Modal.
Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap kasus penerbitan press release PT. Lippo Enet, Tbk tersebut, 77 Bapepam menetapkan sanksi administratif dan mewajibkan
perseroan untuk denda, menanggung seluruh biaya registrasi saham dalam rangka
implementasi perdagangan saham tanpa warkat (scripless trading), mengumumkan
melalui surat kabar mengenai perkembagnan terakhir kegiatan usaha perseroan.
Selain itu Bapepam juga menetapkan sanksi administratif berupa memberikan
peringatan pada direksi dan komisaris perseroan, untuk lebih cermat, teliti, dan
berhati-hati dalam memberikan komentar dan pernyataan, khususnya yang akan
dimuat dalam press release atau media komunikasi publik lainnya, serta membayar
sejumlah denda. Pengenaan sanksi administratif dalam bentuk denda dengan
membayar sejumlah uang bertentu seperti yang dijatuhkan Bapepam seperti kasus di
atas merupakan kewenangan Bapepam. Sebagaimana diatur dalam pasal 102 jo pasal
101 ayat (1) UUPM, sanksi ini diberikan apabila kasus tersebut tidak dilanjutkan ke
tahap penyidikan, sebab berdasarkan pasal 101 ayat (1) Bapepam diberikan
kewenangan untuk mempertimbangkan konsekuensi dari pelanggaran terhadap
perundang-undangan dan peraturan pelaksanaannya yang terjadi di pasar modal.
Apakah akan dilanjutkan ke tahap penyidikan atau tidak semua itu didasarkan juga
pada segi jenis, modus operandi, atau kerugian dari kasus itu sendiri. Sehingga tidak
semua pelanggaran terhadap UUPM dan aturan pelaksanaannya harus dilanjutkan ke
tahap penyidikan.
77
http://www.Bapepam.go.id, diakses tanggal 8 Juni 2011
Demikian dapat disimpulkan bahwa Bapepam terhadap adanya informasi
yang menyesatkan (misleading information) di pasar modal tidak bertanggungjawab
secara materil kepada investor. Bapepam bertanggungjawab sesuai dengan kewajiban
dan
kewenangan
yang
diberikan
kepadanya,
dengan
demikian
Bapepam
bertanggungjawab dengan cara melakukan pengawasan pelaksanaan kewajiban
keterbukaan, melakukan pemeriksaan dan atau penyidikan terhadap transaksi bagi
emiten dan perusahaan efek yang melakukan pelanggaran demi terciptanya
mekanisme perdagangan dibursa secara teratur, wajar dan efisien. Sebaliknya yang
mestinya yang dapat dimintakan pertanggungjawaban kepada investor jika terjadi
misleading information adalah pihak emiten, karena sebagai pemilik dan pihak yang
paling lama tahu mengenai segala sesuatu tentang efek, semestinya pihak emiten
tersebut lebih besar kemungkinan mengetahui tentang efek tersebut. Sehingga besar
kemungkinan emiten pulalah yang lebih mengetahui terdapat atau tidak terdapat
pengungkapan fakta material atau fakta non material yang seharusnya diketahui
publik, tidak diungkapkan dalam informasi yang disediakan untuk publik.
BAB IV
PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENIPUAN DI BIDANG PASAR
MODAL MELALUI PENDEKATAN SISTEM PERADILAN PIDANA
A. Penanggulangan Tindak Pidana Penipuan Melalui Pernyataan Efektif
Kewajiban Informasi Emiten.
Penanggulangan suatu tindak pidana dengan menerapkan upaya penegakan
hukum tindak pidana di bidang pasar modal harus dilakukan secara terpadu
(integrited) dengan memberikan kepastian hukum dan memberikan perlindugan
kepada masyarakat 78 akan dampak dari penipuan atas informasi yang menyesatkan
(misleading information) terhadap informasi material yang sangat penting dan relevan
mengenai peristiwa, kejadian atau fakta material yang dapat merugikan investor
dalam memutuskan membeli, menjual atau tetap menahan efek akibat pernyataan
tidak benar dan menyesatkan yang muncul sehingga mempengaruhi keputusan untuk
melakukan investasi bagi masyarakat pemodal baik dari anggota bursa, investor
78
Malcolm Devies, Hazel and Jane Tyrer, Criminal Justice, London Logman, 1995, page 4-6.
Seperti terpetik dalam Sidik Sunaryo, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Malang: UMM Pres,
2004), hal. 257-261, bahwa pelaksanaan sistem peradilan pidana sesuai dengan fungsi yang sebenarnya
akan membuat masyarakat terlindungi dari kejahatan. Fungsi yang harus dijalankan dalam
penyelenggaraan sistem peradilan pidana adalah melindungi masyarakat melalui upaya
penanggulangan dan pencegahan kejahatan, merehabilitasi pelaku kejahatan, dan melakukan upaya
inkapasitas terhadap orang yang merupakan ancaman terhadap masyarakat, menegakkan dan
memajukan the rule of law dan penghormatan pada hukum, dengan menjamin adanya due prosess dan
perlakuan yang wajar bagi tersangka, terdakwa dan terpidana, melakukan penuntutan dan
membebaskan orang yang tidak bersalah yang tuduh melakukan kejahatan. Menjaga hukum dan
ketertiban, menghukum pelaku kejahatan sesuai dengan falsafah pemidanaan yang dianut, membantu
dan memberi nasihat pada korban kejahatan.
maupun orang dalam emiten sendiri. Informasi-informasi yang dipandang material
dalam hal ini antara lain adalah informasi mengenai: 79
1. Penggabungan
usaha,
pengambilalihan,
peleburan
(merger,
acquisition,
consolidation) atau pembentukan usaha patungan.
2. Pemecahan saham atau pembagian deviden saham.
3. Adanya pendapatan dan deviden yang bersifat luar biasa.
4. Perolehan atau kehilangan kontrak penting.
5. Adanya produk atau penemuan baru yang berarti.
6. Terjadinya perubahan tahun buku perusahaan.
7. Terjadi perubahan dalam pengendalian atau adanya perubahan penting dalam
manajemen dengan ketentuan bahwa informasi-informasi tersebut dapat
mempengaruhi harga efek dan/atau dapat mempengaruhi keputusan untuk
melakukan investasi bagi masyarakat pemodal.
Oleh sebab itu, penentuan kategori pernyataan efektif kewajiban informasi
emiten cukup signifikan. 80 Penentuan ini didasarkan pada corak maupun sifat dari
tindak pidana penipuan di bidang pasar modal yang menempatkan Bapepam sebagai
lembaga pengawas pasar modal. Berdasarkan Pasal 173 dan 174 Keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor: 1548/KMK.013/1990 yang telah diubah
79
Lihat, Asril Sitompul, Pasar Modal Penawaran Umum dan Permasalahannya, (Bandung:
Citra Aditya Bakti, 2004), hal. 138
80
Ibid, hal. 120 bahwa penyediaan dan penyiapan informasi berkala yang akurat merupakan
suatu hal yang penting bagi perusahaan yang sudah merupakan perusahaan publik. Hal tersebut
diperlukan untuk mendapatkan publisitas dan meningkatkan perhatian terhadap perusahaan,
melakukan tindakan yang dapat membangun hubungan baik dengan masyarakat investor dan para
aktivis di bidang keuangan
dengan
Keputusan
Menteri
Keuangan
Republik
Indonesia
Nomor:
1199/KMK.010/1991 tentang Pasar Modal mewajibkan emiten dan perusahaan
publik untuk semua informasi secara berkala kepada Bapepam menyangkut:
1. Kewajiban Pelaporan secara berkala
a. Surat Ketua Bapepam Nomor: S-199/PM/1992 tanggal 22 Januari 1992
tentang Laporan Realisasi Penggunaan Hasil Emisi. Ketentuan ini
mewajibkan emiten untuk menyampaikan laporan realisasi penggunaan hasil
emisi kepada Bapepam secara berkala setiap 3 (tiga) bulan (Maret, Juni,
September dan Desember), dan disampaikan selambat-lambatnya pada
tanggal 15 bulan berikutnya.
b. Surat Edaran Ketua Bapepam Nomor: SE-24/PM/1987 tanggal 24 Desember
1987 Lampiran V, tentang Pedoman Tentang Bentuk dan Isi Laporan
Keuangan dan Lampiran VII tentang Pedoman Penyusunan Laporan
Keuangan Tahunan dan Tengah Tahunan dan Surat Edaran Ketua Bapepam
Nomor SE-05/PM/1992 perihal Penyampaian Laporan Keuangan Tahunan.
Beberapa ketentuan dalam surat edaran tersebut telah diubah dengan Surat
Edaran Ketua Bapepam Nomor: SE-01/PM/1995 tanggal 20 Maret 1995.
Ketentuan tersebut antara lain menyangkut:
1). Penyampaian Laporan Keuangan Tengah Tahunan kepada Bapepam
dengan batasan waktu selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari setelah
tanggal tengah tahun buku, jika tidak disertai dengan laporan akuntan.
Selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari setelah tanggal tengah tahun
buku, jika disertai dengan laporan akuntan dalam rangka penelaahan
terbatas. Selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari setelah tanggal
tengah buku, jika disertai dengan laporan akuntan (audited).
2). Kewajiban menyampaikan laporan Keuangan Tahunan (audited) dengan
batas waktu selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari setelah
tanggal penutupan tahun buku.
3). Kewajiban mengumumkan Neraca dan Perhitungan Laba Rugi pada
sekurang-kurangnya 2 (dua) surat kabar harian berbahasa Indonesia, satu
di antaranya mempunyai peredaran nasional dan lainnya terbit di tempat
kedudukan emiten selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari
setelah tahun buku berakhir.
c. Peraturan Nomor IX.C.3 tentang Laporan Tahunan, Lampiran Keputusan Ketua
Bapepam Nomor: Kep-17/PM/1995 tanggal 9 Juni 1995. Ketentuan ini
mewajibkan emiten untuk menyampaikan Laporan Tahunan selambatlambatnya 14 (empat belas) hari sebelum Rapat Umum Tahunan Para
Pemegang Saham dilaksanakan.
2. Kewajiban Pelaporan yang bersifat insidentil
a. Peraturan Nomor: IX.C.1 tentang Keterbukaan Informasi Yang Harus Segera
Diumumkan Kepada Publik, lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor:
Kep-22/PM/1991 tanggal 19 April 1991. Ketentuan ini mengharuskan emiten
atau perusahaan publik untuk menyampaikan kepada Bapepam dan
mengumumkan kepada masyarakat secepat mungkin, paling lambat akhir hari
kerja kedua setelah keputusan atau terjadinya suatu peristiwa, keterangan
penting dan relevan yang mungkin dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan
atau keputusan investasi pemodal. Adapun keterangan yang diperkirakan
dapat mempengaruhi nilai efek atau keputusan pemodal antara lain sebagai
berikut:
1). Penggabungan usaha (merger), pembelian saham (acquisition), peleburan
usaha (consolidation) atau pembentukan usaha patungan.
2). Pemecahan saham atau pembagian deviden saham (stock deviden).
3). Pendapatan dan deviden yang laur biasa sifatnya.
4). Perolehan atau kehilangan kontrak penting.
5). Produk atau penemuan baru yang berarti.
6). Perubahan dan pengendalian (control) atau perubahan penting dalam
manajemen.
7). Pengumuman pembelian atau pembayaran kembali efek yang bersifat
hutang.
8). Penjualan tambahan efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang
berarti jumlahnya.
9). Penjualan, pembelian atau kerugian aktiva yang berarti.
10). Perselisihan tenaga kerja yang relatif penting.
11).
Tuntutan
hukum
yang
penting
terhadap
perusahaan
pengurus/pengawas perusahaan.
12). Pengajuan tawaran untuk pembelian efek perusahaan lain.
dan/atau
13). Penggantian akuntan publik perusahaan.
14). Penggantian Wali Amanat.
15). Perubahan tahun fiskal perusahaan.
b. Peraturan Nomor: IX.D.1 tentang Persyaratan Keterbukaan Orang dalam dan
Pemegang Saham Tertentu. Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor:
Kep-09/PM/1991 tanggal 3 Oktober 1991. Ketentuan ini mengatur bagi setiap
Orang Dalam (insider) yang melakukan transaksi efek baik untuk pihak yang
terorganisasi juga bagi pemegang saham yang memiliki atau kepemilikannya
mencapai 5% atau lebih saham disetor wajib melaporkan kepada Bapepam
selambat-lambatnya dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja sejak terjadinya
transaksi.
c. Surat Ketua Bapepam Nomor: S-456/PM/1991 tanggal 12 April 1991 perihal
Pembelian Saham atau Pernyataan Pada Perusahaan lain. Ketentuan ini
mengatur tentang prosedur yang harus dilakukan oleh emiten, apabila nilai
transaksi (pembelian saham, penggabungan usaha, atau pembentukan
perusahaan baru) tersebut cukup material yaitu memenuhi kriteria berikut
yaitu: 5% dari pendapatan perusahaan atau 10% dari modal sendiri.
d. Peraturan Nomor: IX.D.1 tentang Benturan Kepentingan Transaksi Tertentu.
Lampiran Keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-04/PM/1994 tanggal 7
Januari 1994. Ketentuan ini mengatur tentang transaksi yang mengandung
benturan kepentingan (conflict of interest).
Selanjutnya menyangkut penyataan efektif menyangkut emiten juga telah
digariskan dengan berbagai kewajiban pelaporan dan larangan-larangan dalam
melakukan kegiatan transaksi di pasar modal seperti yang diatur dalam pasal 85, pasal
86 (1), pasal 87 ayat (1,2) pasal 89 ayat (1), pasal 90 angka c, pasal 93 UUPM berikut
dengan peraturan-peraturan pelaksanaannya, seperti Peraturan Nomor X.K.1
Keputusan Ketua Bapepam Nomor 86/PM/1996 tentang keterbukaan informasi yang
harus segera diumumkan kepada publik. Peraturan Nomor X.K.2 Keputusan Ketua
Bapepam Nomor 80/PM/1996 tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan
Berkala, Peraturan Nomor X.M.1 Keputusan Ketua Bapepam Nomor 82/PM/1996
tentang Keterbukaan Informasi Pemegang Saham tertentu, Peraturan Nomor X.K.5
Keputusan Ketua Bapepam Nomor 46/PM/1998 tentang Keterbukaan Informasi Bagi
Emiten atau Perusahaan Publik yang Dimohonkan Pernyataan Pailit.
B. Penerapan Prinsip Keterbukaan (disclosure) Dalam Penanggulangan Tindak
Pidana Penipuan di Bidang Pasar Modal
Emiten dan perusahaan publik diwajibkan untuk menyampaikan informasi
kepada Bapepam menyangkut kewajiban pelaporan secara berkala dan kewajiban
pelaporan yang bersifat isedentil, disamping itu diperlukan juga menerapkan prinsip
keterbukaan atas fakta material dalam hal penanggulangan tindak pidana penipuan
atas informasi yang menyesatkan (misleading information). 81 Keterbukaan yang
81
Hamud M. Balfas, Op.cit, hal. 161 bahwa keterbukaan atau yang di dalam masyarakat pasar
modal lebih dikenal dengan disclosure, pada saat ini sebenarnya bukanlah monopoli pasar modal.
diprasyaratkan oleh UUPM pada dasarnya mencakup 2 (dua) hal yaitu keterbukaan
yang sifatnya berkala (periodic disclosure) dan keterbukaan yang sifatnya
berdasarkan adanya informasi, peristiwa atau kejadian yang dialami oleh emiten
(episodic disclosure). 82
Periodic disclosure mewajibkan emiten menyampaikan laporannya menurut
jangka waktu tertentu yang diwajibkan, misalnya emiten menjalankan kewajiban
menyampaikan laporan keuangan yang harus disampaikan oleh emiten tiap kwartalan
(tiga bulan) atau tengah tahunan, sedangkan episodic disclosure merupakan laporan
yang harus disampaikan menurut adanya informasi atau kejadian peristiwanya yaitu
peristiwa yang dapat mempengaruhi keputusan investor untuk melakukan investasi
misalnya peristiwa atau informasi seperti ini adalah sebagaimana yang diatur dalam
peraturan Bapepam terhadap beberapa peristiwa penting antara lain penggabungan
usaha, pembelian saham, peleburan usaha, atau pembentukan usaha patungan. Selain
adanya kewajiban untuk menyampaikan keterbukaan informasi secara berkala dan
berdasarkan
kejadian
tersebut,
emiten
juga
diwajibkan
untuk
melakukan
pemutakhiran (updating) atas informasi yang disampaikan secara berkala dan
Keterbukaan juga bukanlah masalah baru. Hal ini karena keharusan melakukan keterbukaan telah
diwajibkan kepada perusahaan, khususnya Perseroan Terbatas, dalam batas-batas tertentu untuk waktu
yang cukup lama, karena memang merupakan salah satu cara Negara dalam menjalankan
administrasinya. Ini misalnya dapat dilihat pada adanya kewajiban untuk mempublikasi anggaran dasar
Perseroan Terbatas yang baru didirikan serta perubahannya di dalam lembaran negara serta
mendaftarkan perusahaan pada daftar perusahaan yang saat ini diselenggarakan oleh Departemen
Perindustrian dan Perdagangan. Di negara lain seperti Inggris misalnya kewajiban melakukan
keterbukaan dan publikasi ini paling sedikit telah ada sejak tahun 1844.
82
Dale Arthur Oesterle, The Inexorable March Toward A Continuous Disclosure
Requirement for Publicly Traded Corporations, Volume 20:135, tahun 1998, hal. 139-140 dalam
Hamud M. Balfas, Ibid, hal. 172
berdasarkan perkembangan atau perubahan material atas informasi yang telah
disampaikan sebelumnya sehingga informasi yang ada tidak menjadi menyesatkan
(misleading). 83 Erman Radjagukguk mengemukakan bahwa keterbukaan informasi
perusahaan diperlukan, sehingga investor mengetahui dengan pasti apa yang
dikerjakan oleh direksi perusahaan dan ke arah mana perusahaan tersebut bergerak,
sejauhmana keterbukaan ini dimungkinkan, hal-hal apakah yang bisa diinformasikan
oleh perusahaan kepada masyarakat dan sebaliknya hal-hal mana saja yang
diperlukan oleh masyarakat. 84
Kewajiban pemutakhiran ini timbul sebagai bagian dari kewajiban
keterbukaan terus menerus (continuous disclosure) yang harus dilakukan emiten.
Continuous disclosure tidak hanya mewajibkan emiten untuk menyampaikan setiap
perkembangan atau peristiwa baru kepada emiten, tetapi juga mengharuskan emiten
untuk selalu melakukan pemuktahiran (update) atas informasi yang telah disampaikan
sebelumnya atas peristiwa yang sama. Dengan demikian kewajiban pemuktahiran ini
juga timbul apabila ada kejadian yang meskipun tidak material, tetapi menjadi
penting untuk melihat masalah yang dihadapi oleh emiten secara keseluruhan.
Kewajiban ini juga timbul apabila informasi ini dibutuhkan untuk tidak membuat
informasi yang telah disampaikan menjadi menyesatkan (misleading) atau
83
Ibid, hal. 173
Erman Radjagukguk, Beberapa Ketentuan yang Perlu Dimuat Dalam Peraturan Pasar
Modal, Loka Karya Penegakan Hukum dalam Bidang Pasar Modal, Jakarta 28-29 Maret 1994, hlm. 3
84
membantah atau menguatkan desas-desus yang timbul mengenai keadaan emiten di
pasar. 85
UUPM mengatur tentang adanya kewajiban bagi perusahaan yang melakukan
penawaran umum atau perusahaan yang memenuhi persyaratan sebagai perusahaan
publik untuk menyampaikan informasi mengenai keadaan usahanya, baik dari segi
keuangan, manajemen, produksi, maupun hal yang berkaitan dengan kegiatan
usahanya kepada masyarakat. Informasi tersebut mempunyai arti yang sangat penting
bagi masyarakat sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan investasi. Oleh karena
itu Undang-undang pasar modal mengatur mengenai adanya ketentuan yang
mewajibkan pihak yang melakukan penawaran umum dan memperdagangkan
efeknya dipasar sekunder untuk memenuhi prinsip keterbukaan. Setelah perusahaan
go public dan mencatatkan efeknya di bursa, maka emiten sebagai perusahaan publik,
wajib menyampaikan laporan secara rutin maupun laporan lain jika ada kejadian
penting kepada Bapepam dan bursa efek. Seluruh laporan yang disampaikan oleh
emiten kepada bursa, yaitu laporan adanya kejadian penting, secepatnya
dipublikasikan oleh bursa kepada masyarakat pemodal melalui pengumuman dilantai
bursa maupun melalui papan informasi. Masyarakat dapat memperoleh langsung
informasi tersebut ataupun melalui perusahaan pialang.
Hal ini penting karena untuk mengetahui kinerja perusahaan, pemodal sangat
tergantung pada informasi tersebut. Oleh karena itu kewajiban pelaporan
dimaksudkan untuk membantu penyebaran informasi agar dapat sampai secara tepat
85
Ibid
waktu dan tepat guna kepada pemodal. Menurut pasal 1 angka 25 UUPM prinsip
keterbukaan adalah pedoman umum yang mensyaratkan emiten, perusahaan publik
dan pihak lain yang tunduk pada undang-undang ini untuk menginformasikan kepada
masyarakat dalam waktu yang tepat seluruh informasi material mengenai usahanya
atau efeknya yang dapat mempengaruhi terhadap keputusan pemodal terhadap efek
dimaksud atau harga efek tersebut. Informasi material adalah informasi atau fakta
penting dan relevan mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat
mempengaruhi harga efek dan atau keputusan pemodal, calon pemodal, atau pihak
lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut. 86
Pasal 86 ayat (1) UUPM menggariskan bahwa emiten yang pernyataannya
telah efektif atau perusahaan publik wajib :
1. Menyampaikan laporan secara berkala kepada Bapepam dan mengumumkan
laporan tersebut kepada masyarakat.
Informasi laporan berkala berisi tentang kegiatan usaha dan keadaan keuangan
emiten atau perusahaan publik yang diperlukan oleh pemodal sebagai dasar
pengambilan keputusan investasi atas efek. Oleh karena itu emiten atau
perusahaan publik dibebankan kewajiban menyampaikan laporan berkala setiap
akhir periode tertentu kepada Bapepam.
2. Menyampaikan laporan kepada Bapepam dan mengumumkan kepada masyarakat
tentang peristiwa material yang dapat mempengaruhi harga efek selambatlambatnya ada akhir hari kerja ke-2 (kedua) setelah terjadinya peristiwa tersebut.
86
Pasal 1 angka 7 Undang-undang Nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal
Lebih lanjut tentang fakta material ini diatur dalam Peraturan Nomor X.K.1
Keputusan Ketua Bapepam Nomor 86/PM/1996 tentang keterbukaan informasi
yang harus segera diumumkan kepada publik, menetapkan keharusan bahwa :
1. Setiap perusahaan publik atau emiten yang pernyataan pendaftarannya telah
menjadi efektif, harus menyampaikan kepada Bapepam dan mengumumkan
kepada masyarakat secepat mungkin, paling lambat hari kerja ke-2 (kedua)
setelah keputusan atau terjadinya suatu peristiwa, informasi atau fakta
material yang mungkin dapat mempengaruhi nilai efek perusahaan atau
keputusan investasi pemodal.
2. Peristiwa, informasi atau fakta material yang diperkirakan dapat
mempengaruhi harga efek atau investasi keputusan pemodal, antara lain-lain
hal-hal sebagai berikut :
a. Penggabungan usaha, pembelian saham, peleburan usaha, atau
pembentukan usaha patungan;
b. Pemecahan saham atau pembagian dividen saham;
c. Pendapatan dari dividen yang luar biasa sifatnya;
d. Perolehan atau kehilangan kontrak penting;
e. Produk atau penemuan baru yang berarti;
f. Perubahan dalam pengendalian atau perubahan penting dalam
manajemen;
g. Pengumuman pembelian kembali atau pembayaran efek yang bersifat
utang;
h. Penjualan tambahan efek kepada masyarakat atau secara terbatas yang
material jumlahnya;
i. Pembelian, atau kerugian penjualan aktiva yang material;
j. Perselisihan tenaga kerja yang relatif penting;
k. Tuntutan hukum yang penting terhadap perusahaan, dan atau direktur dan
komisaris perusahaan;
l. Pengajuan tawaran untuk pembelian efek perusahaan lain;
m. Penggantian akuntan yang mengaudit perusahaan;
n. Penggantian wali amanat;
o. Perubahan tahun fiskal perusahaan;
Disamping
keputusan
Ketua
Bapepam
Nomor
86/PM/1996
tentang
keterbukaan informasi yang harus segera diumumkan kepada publik tersebut di atas,
emiten juga diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan berkala dalam bentuk
laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan tengah tahunan. 87 Laporan keuangan
tahunan tersebut harus disampaikan kepada Bapepam yang terdiri dari neraca rugi
laba, laporan laba rugi laporan saldo laba, laporan arus kas, catatan atas laporan
keuangan, dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral
dari laporan keuangan jika dipersyaratkan, seperti laporan komitmen dan kontinjensi
untuk emiten dan perusahaan publik yang bergerak dalam bidang perbankan.
Selain kepada Bapepam laporan keuangan tahunan wajib diumumkan kepada
publik dengan ketentuan sebagai berikut: 88
1. Perusahaan wajib mengumumkan neraca, laporan laba rugi serta laporan
komitmen dan kontijensi (khusus perbankan) dalam sekurang-kurangnya 2 (dua)
surat kabar harian berbahasa Indonesia yang salah satu diantaranya mempunyai
peredaran nasional dan lainnya yang terbit ditempat kedudukan emiten dan
perusahaan publik selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari setelah tahun
buku berakhir. Bagi perusahaan yang dikategorikan sebagai perusahaan
menengah dan kecil mengumumkan neraca, laproan laba rugi serta laporan
komitmen dan kontijensi (khusus perbankan) dalam sekurang-kurangnya 1 (satu)
harian surat kabar harian berbahasa Indonesia yang mempunyai peredaran
nasional;
87
Peraturan Nomor X.K.2 Keputusan Ketua Bapepam Nomor 80/TM/1996 tentang
Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala.
88
Ayat 2 huruf (b) Peraturan Nomor X.K.2 Keputusan Ketua Bapepam Nomor 80/TM/1996
tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala
2. Bentuk dan isi neraca, laporan laba rugi serta laporan komitmen kontijensi yang
diumumkan tersebut harus sama dengan yang disajikan dalam laporan keuangan
tahunan yang disampaikan kepada Bapepam;
3. Bukti pengumuman tersebut harus disampaikan kepada Bapepam selambatlambatnya 2 (dua) hari kerja setelah tanggal pengumuman;
Untuk laporan keuangan tengah tahunan disampaikan kepada Bapepam dalam
jangka waktu: 89
1. Selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari setelah tanggal tengah tahun buku
perusahaan berakhir, jika tidak disertai laporan akuntan;
2. Selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari setelah tanggal tengah tahun buku
perusahaan berakhir, jika disertai laporan akuntan dalam rangka penelaahan
terbatas;
3. Selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari setelah tanggal tengah tahun
buku perusahaan berakhir, jika disertai laporan akuntan yang memberikan
pendapat tentang kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan;
Demikian juga dengan laporan keuangan tengah tahunan selain disampaikan
kepada Bapepam juga wajib diumumkan kepada masyarakat dengan ketentuan
sebagai berikut: 90
89
Ayat 3 huruf (a) Peraturan Nomor X.K.2 Keputusan Ketua Bapepam Nomor 80/TM/1996
tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala
90
Ayat 3 huruf (d) Peraturan Nomor X.K.2 Keputusan Ketua Bapepam Nomor 80/TM/1996
tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala.
1. Perusahaan wajib mengumumkan neraca, laporan laba rugi serta laporan
komitmen dan kontinjensi (khusus perbankan) dalam sekurang-kurangnya 1 (satu)
surat kabar harian berbahasa Indonesia yang mempunyai peredaran nasional;
2. Bentuk dan isi neraca, laporan laba rugi serta laporan komitmen dan kontinjensi
(khusus perbankan) yang diumumkan tersebut harus sama dengan yang disajikan
dalam laporan keuangan tengah tahunan yang disampaikan kepada Bapepam;
3. Pengumuman tersebut di atas dilakukan selambat-lambatnya sesuai dengan
jangka waktu menurut kewajiban penyampaian laporan keuangan tengah tahunan
kepada Bapepam. Bukti pengumuman tersebut harus disampaikan kepada
Bapepam selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja setelah tanggal pengumuman;
Sifat yang melekat pada suatu perusahaan yang melakukan penawaran
umum/emiten adalah adanya transparansi atau keterbukaan (full disclosure).
Ungkapan transparansi merupakan istilah yang secara umum mempunyai arti tembus
pandang. Istilah discosure ini digunakan dalam kaitannya dengan dunia akuntansi,
yang maksudnya seberapa jauh pembaca laporan keuangan atau pihak-pihak lain
yang mempunyai kepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan, mampu
untuk membedah kandungan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
tersebut. Selain keterbukaan informasi dibidang keuangan melalui neraca
akuntansinya, emiten juga harus terbuka kepada publik dan Bapepam mengenai
perubahan komposisi pemilikan sahamnya, direksi atau komisaris emiten atau
perusahaan publik wajib melaporkan kepada Bapepam atas pemilikan dan setiap
perubahan kepemilikannya atas saham perusahaan 91 tersebut selambat-lambatnya
dalam waktu 10 (sepuluh) hari sejak terjadinya transaksi. 92
Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam angka 1 peraturan ini, berlaku juga
bagi setiap pihak yang memiliki 5% (lima perseratus) atau lebih saham yang disetor. 93
Laporan sebagaimana dimaksud angka 1 dan angka 2 peraturan ini sekurangkurangnya meliputi. 94
1. Nama, tempat tinggal, dan kewarganegaraan;
2. Jumlah saham yang dibeli atau dijual;
3. Harga pembelian dan penjualan per tahun;
4. Tanggal transaksi dan;
5. Tujuan dari transaksi;
Informasi yang dimaksud disini termasuk dalam hal emiten atau perusahaan
publik diajukan ke pengadilan untuk dimohonkan pernyataan pailit, maka emiten atau
perusahaan publik wajib menyampaikan laporan mengenai hal tersebut kepada
Bapepam dan bursa efek dimana efek emiten atau perusahaan publik tercatat secepat
mungkin, paling lambat akhir hari ke-2 (dua) sejak emiten atau perusahaan publik
mengetahui adanya permohonan pernyataan pailit dimakud. 95 Laporan mengenai
pailitnya emiten atau perusahaan publik tersebut merupakan dokumen publik yang
91
Pasal 87 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
Peraturan Nomor X.M.1 Keterbukaan Informasi Pemegang Saham tertentu, Angka 1
Keputusan Ketua Bapepam Nomor 82/PM/1996
93
Angka 2 Keputusan Ketua Bapepam Nomor 82/PM/1996
94
Angka 3 Keputusan Ketua Bapepam Nomor 82/PM/1996
95
Peraturan Nomor X.K.5 Tentang Keterbukaan Informasi Bagi Emiten atau Perusahaan
Publik yang Dimohonkan Pernyataan Pailit, Angka 3 Keputusan Ketua Bapepam Nomor 46/PM/1998.
92
tersedia di pusat referensi pasar modal. Sistem keterbukaan informasi merupakan
mata rantai dalam aktifitas pasar modal, yang mempertemukan kepentingan
perusahaan atau issuer (selaku demanter of money/supplier for informations) disatu
pihak, dan kepentingan pemodal (supplier of fund) di pihak lain. Atas konsep
keterbukaan ini diharapkan pemodal dapat memperoleh gambaran jelas, lengkap dan
jujur guna mengambil keputusan investasi yang tepat.
Motif yang mendasari investor dalam melakukan investasi dengan melakukan
pembelian efek di pasar modal adalah memperoleh keuntungan dengan membeli
saham suatu perusahaan maka investor dapat memperoleh dividen, yaitu bagian
keuntungan perusahaan yang dibagikan pada pemilik saham. Selain itu investor juga
dapat memperoleh capital gain, yaitu keuntungan yang diperoleh dari selisih jual dan
harga beli saham, serta manfaat non finansial yaitu memperoleh kekuasaan berupa
hak suara dalam menentukan jalannya perusahaan. Agar memperoleh keuntungan
yang diharapkan tersebut, maka investor harus mempertimbangkan berbagai faktor
dalam
mengambil
keputusan
untuk
melakukan
pembelian
saham
harus
mempertimbangkan aspek makro dan aspek mikro dari emiten yang bersangkutan.
Aspek makro yang dimaksud disini adalah kondisi dan perkembangan dunia
perekonomian sesuai dengan usaha emiten baik secara nasional maupun
internasional. Selanjutnya investor juga perlu mempertimbangkan faktor mikro yaitu,
kondisi perkembangan dan prospek emiten, dengan kata lain investor perlu
mengetahui berbagai segi mengenai emiten. Hal tersebut antara lain dapat diketahui
melalui
keterbukaan
informasi
yang
dikemas
dalam
prospektus.
Investor
menggunakan informasi tersebut untuk menentukan perusahaan mana yang
efek/sahamnya menguntungkan. Dengan kata lain semua informasi yang penting dan
relevan akan dapat mempengaruhi pembentukan harga efek/saham perusahaan seperti
yang diutarakan oleh Weston J. Fred dan Thomas E. Copeland:
“However financialratios are useful in security analysis the evaluation of the
emphasis is on security analysis the principal focus in on judging the long run
profit potential of the firm. Propitability is run; because financial ratios
analysis provides insight into this factor it is usefull the security anlysis.” 96
Keterbukaan informasi yang berlaku harus mampu menyerap segala
keterangan, data informasi yang vital bagi kepentingan pengawasan, termasuk untuk
kepentingan penegakan hukum melihat pentingnya kedudukan dan eksistensi
keterbukaan informasi dipasar modal, maka dapat dikatakan bahwa hukum pasar
modal kehadirannya tidak berarti jika belum dapat menjamin prinsip keterbukaan
informasi. 97
Kewajiban
perusahaan
publik/emiten
untuk
melaksanakan
prinsip
keterbukaan informasi (full disclosure) mempunyai karakteristik yuridis yaitu : 98
1. Prinsip ketinggian derajat akurasi (ketepatan) informasi;
2. Prinsip ketinggian derajat kelengkapan informasi;
96
Weston J. Fred and Thomes E. Copeland, Manajerial Finance, eight edition, (Japan: CBS
College Publishing, 1986), hal. 195.
97
Munir Fuady, Op Cit, hal. 107.
98
Ibid, hal. 79
3. Prinsip equilibrium (keseimbangan) antara efek negatif kepada emiten disatu
pihak, dengan efek positif kepada publik jika dibukanya informasi tersebut.
C. Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Penipuan di Bidang Pasar
Modal Melalui Fungsionalisasi Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice
System)
Sistem peradilan pidana (criminal justice system) pada tindak pidana penipuan
di bidang pasar modal merupakan suatu gerak sistemik dari subsistem-subsistem
pendukungnya yaitu Bapepam, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, Lembaga
Pemasyarakatan yang secara keseluruhan dan merupakan satu kesatuan yang
berusaha mestranformasikan tujuan sistem peradilan pidana yang berupa resosilisasi
pelaku tindak pidana, pencegahan kejahatan dan kesejahteraan masyarakat. 99
Bekerjanya subsistem peradilan pidana dalam penegakan hukum tindak pidana
penipuan di bidang pasar modal tidak terlepas dari instrumen pendudukung berupa
UUPM yang mengatur aparat penegak hukum dalam menjalankan tugasnya, ini
mutlak diperlukan agar para penegak hukum terarah dalam menjalankan tugas dan
wewenangnya. Sistem ini dapat dibagi tiga tahap: (a) tahap-pra-ajukasi (preadjudication), (b) tahap ajukasi (adjudicaton), (c) tahap purna-ajudikasi (postadjudication).
99
Lihat, Loebby Loqman, Pra Peradilan di Indonesia, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hal.
22 bahwa Dalam sistem peradilan pidana haruslah dengan jelas apa yang menjadi tujuannya. Sehingga
setiap unsur dalam sistem tersebut akan mengetahuinya dimana meskipun faktor atau unsur tersebut
berdiri sendiri, akan tetapi pada hakekatnya tidak dari keterkaitan tujuan akhir dari sistem tersebut
Salah satu sub sistem dalam peradilan pidana di bidang pasar modal
adalah pembentukan dan kewenangan yang diberikan kepada Bapepam dengan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Perangkat undangundang ini menjadi dasar dan memberikan tugas kepada Bapepam untuk
melaporkan hasil penyelidikan tindak pidana pasar modal kepada penuntut
umum, 100 dalam rangka pelaksanaan kewenangan penyidikan Bapepam dapat
meminta bantuan aparat penegak hukum lain. 101 Di dalam melaksanakan fungsi
pengawasan, menurut UUPM Nomor. 8 Tahun 1995 bertugas dalam pembinaan,
pengaturan dan pengawasan kegiatan-kegiatan pelaku ekonomi di pasar modal.
Dalam melaksanakan berbagai tugasnya ini, Bapepam memiliki fungsi antara lain,
menyusun peraturan dan menegakkan peraturan di bidang pasar modal,
melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pihak yang memperoleh izin,
persetujuan dan pendaftaran dari Bapepam dan pihak lain yang bergerak di bidang
pasar modal, menyelesaikan keberatan yang diajukan oleh pihak yang dikenakan
sanksi oleh Bursa Efek, lembaga kliring dan penjaminan, maupun lembaga
penyimpanan dan penyelesaian, dan lainnya. Dengan berbagai fungsinya tersebut,
Bapepam dapat mewujudkan tujuan penciptaan kegiatan pasar modal yang
teratur, dan efisien serta dapat melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat.
Pelaksanaan fungsi penegakan hukum, Bapepam bersikap proaktif bila
terdapat indikasi pelanggaran peraturan perundang-undangan pasar modal.
100
101
Lihat, Pasal 101 ayat (5) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
Lihat, Pasal 101 ayat (6) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal
Dengan melakukan pemeriksaan, dan atau penyidikan, yang didasarkan kepada
laporan atau pengaduan dari pelaku-pelaku pasar modal, data tersebut dianlisis
oleh Bapepam dan dari hasil tersebut dijadikan konsumsi publik dengan
melakukan pemberitaan melalui media massa. Bapepam diberi wewenang tertentu
untuk melakukan penyelidikan tindak pidana di bidang pasar modal selaku
Pejabat Pegawai Negeri Sipil (PPNS) berdasarkan ketentuan dalam kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana. penyelidikan ini maksudnya adalah untuk mencari
kebenaran sebagaimana yang diatur dalam tahapan-tahapan dalam Hukum Acara
Pidana. Setelah selesai dilakukan penyelidikan kemudian dilanjutkan dengan
penyidikan. KUH Pidana memberi definisi penyidikan sebagi berikut :
“Serangkaian tindakan dalam hal dan menurut cara yang diatur dalam undangundang ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu
membuat terang tentag tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan
tersangka”.
Dalam
bahasa Belanda ini sama dengan opsporing.
Menurut Printo,
menyidik ( opsporing ) berarti “pemeriksaan permulaan oleh pejabat-pejabat yang
untuk itu ditunjuk oleh undang-undang segera setelah mereka dengan jalan apa pun
mendengar kabar yang sekedar beralasan, bahwa ada terjadi sesuai pelanggaran
hukum”. 102 Sebagaimana yang diatur dalam Pasal 107 ayat (1) KUHAP,” Untuk
kepentingan penyidikan, penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat (1) huruf a memberikan
102
Andi Hamzah Hukum Acara Pidana Indonesia,(Jakarta: Sinar Grafika, 2001),.hal.118
petunjuk kepada penyidik tersebut pada Pasal 6 ayat (1) huruf b dan memberikan
bantuan penyidikan yang diperlukan“. Dengan demikian dapat dilihat KUHAP
menegaskan pada Pasal 107 ayat (3), apabila Penyidik Pegawai Negeri Sipil ( PPNS )
telah selesai melakukan penyidikan maka hasilnya diserahkan ke Penuntut Umum
(PU). Cara penyerahannya kepada Penuntut Umum (PU) dilakukan PPNS melalui
“penyidik Polri”. Untuk itu dalam terjadinya tindak pidana di bidang pasar modal
maka Penyidik PPNS tertentu dilingkungan Bapepam diberi wewenang khusus
sebagai penyidik meliputi: 103
1. Menerima laporan, pemberitahuan, atau pengaduan dari seseorang tentang
adanya tindak pidana pasar modal.
2. Melakukan penelitian atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan
dengan tindak pidana di bidang pasar modal.
3. Melakukan penelitian terhadap pihak yang diduga melakukan atau terlibat
dalam tindak pidana di bidang pasar modal.
4. Memanggil, memeriksa dan meminta keterangan dan barang bukti dari setiap
pihak yang disangka melakukan atau sebagai saksi dalam tindak pidana pasar
modal.
5. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan dan dokumen lain
berkenaan dengan tindak pidana di bidang pasar modal.
6. Melakukan pemeriksaan di setiap tempat tertentu yang diduga terdapat setiap
barang bukti pembukuan, pencatatan dan dokumen lain serta melakukan
penyitaan terhadap barang yang dapat dijadikan bahan bukti dalam perkara
tindak pidana di bidang pasar modal.
7. Memblokir rekening pada bank atau lembaga keuangan lain dari pihak yang
diduga melakukan atau terlibat dalam tindak pidana di bidang pasar modal.
8. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana di bidang pasar modal, dan
9. Menyatakan saat dimulai dan dihentikannya penyidikan.
103
Lihat, Pasal 101 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal.
Bandingkan Pasal 101 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yang
menyatakan bahwa dalam hal Bapepam berpendapat pelanggaran terhadap undang-undang ini dan atau
peraturan pelaksananya mengakibatkan kerugian bagi kepentingan Pasar Modal dan atau
membahayakan kepentingan pemodal atau masyarakat. Bapepam menetapkan dimulainya tindakan
penyidikan.
Bila terjadi pelanggaran perundang-undangan pasar modal atau ketentuan di
bidang pasar modal lainnya maka, Bapepam sebagai penyidik akan melakukan
pemeriksaan terhadap pihak yang melakukan pelanggaran tersebut, hingga bila
memang telah terbukti akan menetapkan sanksi kepada pelaku tersebut. Penetapan
sanksi akan diberikan atau diputuskan oleh ketua Bapepam setelah mendapat
masukan dari bagian pemeriksaan dan penyidikan Bapepam.
Bila mereka yang
dikenai sanksi dapat menerima putusan tersebut. Maka pihak yang terkena sanksi
akan melaksanakan semua yang telah ditetapkan oleh Bapepam. Permasalahan akan
berlanjut bila sanksi yang telah ditetapkan tersebut tidak dapat diterima atau tidak
dilaksanakan, misalnya denda yang telah ditetapkan oleh Bapepam tidak dipenuhi
oleh pihak yang diduga telah melakukan pelanggaran, maka akan dilanjutkan dengan
tahap penuntutan, dengan menyerahkan kasus tersebut kepada pihak Kejaksaan
sebagai lembaga yang berwenang melakukan penuntutan. Demikian pula dengan
Bursa Efek, sebagai lembaga yang menyelenggarakan pelaksanaan perdagangan efek,
apabila di dalam melakukan transaksi perdagangan efek menemukan suatu
pelanggaran, yang berindikasi adanya pelanggaran yang bersifat pidana, lembaga ini
akan menyerahkan pelanggaran tersebut kepada Bapepam untuk dilakukan
pemeriksaan dan penyidikan. Kewenangan melakukan penyidikan terhadap setiap
kasus (pelanggaran peraturan perundangan pidana) bagi Bapepam, diberikan oleh
KUHAP seperti tercantum di dalam ketentuan Pasal 6 (ayat 1) huruf (b). yang
menyebutkan :
“Penyidik adalah
aparat pegawai negeri sipil tertentu yang diberi
wewenang khusus oleh undang-undang.”
Kewenangan ini merupakan pengejewantahan dari fungsi Bapepam sebagai
lembaga pengawas. Tindakan penanggulangan atas pelanggaran UUPM yang
mengakibatkan kerugian bagi kepentingan Pasar Modal dan membahayakan
kepentingan publik oleh lembaga Bapepam sebagai penyidik adalah salah satu proses
penegakan hukum pidana dalam sistem peradilan pidana (criminal justice system),
dalam hal Bapepam melakukan tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelaku
tindak pidana penipuan maka Bapepam harus melakukan koordinasi dengan instansiinstansi terkait dengan aparat penegak hukum dan lembaga yang terkait lainnya
misalnya emiten, lembaga perbankan dan investor. Dalam konsep Sistem Peradilan
Pidana Bapepam sebagai PPNS tidak termasuk dalam komponen tersebut, namun
dilain pihak Bapepam melakukan fungsi selaku penyidik sebagaimana layaknya
seperti penyidik Polri. Sedangkan dalam Sistem Peradilan Pidana setiap komponen
harus berjalan sesuai dengan sistem supaya tidak menimbulkan kesukaran atau
kegagalan. Bila sistem berjalan sesuai dengan fungsi masing-masing tidak akan
menimbulkan beberapa kendala atau akibat adanya keterpaduan kerja. Dengan
demikian ketiga kerugian yang dapat terjadi apabila tidak bekerja sebagai sistem,
berkisar pada: 104
104
Mardjono Reksodiputro, Kriminologi dan sistem Peradilan Pidana,(Jakarta: Kumpulan
Karangan Buku Kedua, Pusat Pelayanan dan Pengabdian Hukum, Lembaga Kriminologi Universitas
Indonesia, 1997), hal.142
a. Kesukaran dalam menilai sendiri keberhasilan atau kegagalan masing-masing
instansi, sehubungan dengan tugas mereka;
b. Kesulitan dalam memecahkan sendiri masalah-masalah pokok masing-masing
instansi (sebagai sub-sistem); dan
c. Karena tanggung jawab masing-masing instansi sering kurang jelas terbagi ,
maka setiap instansi tidak terlalu memperhatikan efektivitas menyeluruh dari
sistem peradilan pidana.
Pada hakekatnya fungsi Bapepam pada sistem peradilan pidana adalah
membantu penegak hukum dalam mencegah dan memberantas tindak pidana di
bidang pasar modal disamping fungsi Bapepam sebagai pembina, pengatur dan
pengawas kegiatan sehari-hari pasar modal. 105 Salah satu contoh kewenangan
Bapepam untuk melakukan fungsi sebagai pembina, pengatur kegiatan pasar modal
dalam rangka terciptanya kegiatan pasar modal yang teratur,wajar dan efesien serta
melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat antara lain: Pertama, memberi izin
usaha kepada Bursa Efek, Lembaga Kliring dan Penjamin, Lembaga Penyimpanan
dan Penyelesaian, Reksa Dana, Perusahaan Efek, Penasehat Investasi dan Biro Efek.
105
Lihat, http://www.Bapepam.go.id, diakses tanggal 8 Juni 2011, bahwa
Bapepam adalah lembaga regulator dan pengawas pasar modal, dipimpin oleh
seorang ketua, dibantu seorang sekretaris, dan tujuh orang kepala biro terdiri atas:
a. Biro perundang-undangan dan Bantuan Hukum
b. Biro Pemeriksaan dan Penyidikan
c. Biro Pengelolaan dan Riset
d. Biro Transaksi dan Lembaga Efek
e. Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa
f. Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Riil.
g. Biro Standar dan Keterbukaan.
Kedua, izin orang perseorangan bagi wakil Penjamin Emisi Efek, Wakil Perantara
Perdagangan Efek dan Wakil Manajer Investasi dan; Ketiga, persetujuan bagi Bank
Kustodian.
Selanjutnya, tata cara pemeriksaan di bidang pasar modal dijelaskan dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 1995.
Bapepam akan melakukan
pemeriksaan bila :
1. Ada laporan, pemberitahuan atau pengaduan dari pihak tentang adanya
pelanggaran peraturan perundang-undangan pasar modal.
2. Bila tidak dipenuhinya kewajiban oleh pihak-pihak yang memperoleh perizinan,
persetujuan atau dari pendaftaran dari Bapepam ataupun dari pihak lain yang
dipersyaratkan untuk menyampaikan laporan kepada Bapepam, dan
3. Adanya petunjuk telah terjadinya pelanggaran perundang-undangan di bidang
pasar modal
Sejak tahun 1997, Bapepam melaksanakan press release secara
berkala
kepada masyarakat, antara lain melalui media massa dan media internet.
Presss
Release yang dikeluarkan oleh Bapepam, merupakan bentuk publikasi dan
pertanggungjawaban kepada masyarakat mengenai kondisi, dan keberadaan suatu
perusahaan dan juga kebutuhan masyarakat akan informasi pasar modal lainnya
misalnya, bila ada kebijakan perundang-undangan yang baru dari Bapepam. Selain
itu pula, kebijakan untuk selalu membuat laporan kepada masyarakat melalui press
release ini adalah merupakan perwujudan dari prinsip kejujuran dan keterbukaan
(tranparansi) yang dianut oleh lembaga pengawas pasar modal ini. Misalnya beberapa
penegakan hukum yang dilakukan oleh Bapepam dalam penyelesaian kasusu di
bidang pasar modal sebagai berikut: 106
1. Pada tahun 2001,
Kasus yang diperiksa di tahun 2001 adalah sebanyak 10 kasus, yang terinci
sebagai berikut :
a. Perdagangan Orang Dalam, sebanyak 1 kasus
b. Keterbukaan Informasi, sebanyak 3 kasus;
c. Pengendalian Inheren , sebanyak 4 kasus;
d. Gagal Serah/Gagal Bayar, sebanyak 1 kasus;
g. Manipulasi Pasar, sebanyak 1 Kasus.
Dari kasus-kasus di atas, Bapepam telah melaksanakan pemeriksaan dan telah
berhasil menyelesaikan 4 kasus, sedangkan sisanya sebanyak enam kasus masih
dalam proses. Diantara kasus yang diperiksa Bapepam sepanjang tahun 2001,
yang paling menarik adalah kasus PT Bank Bali tbk. Dalam kasus ini, tim
penyidik Bapepam telah menyampaikan kasus ini ke Kejaksaan Agung, Kasus
ini adalah kasus tindak pidana di bidang pasar modal oleh PT. Bank Bali Tbk,
yang tidak menyampaikan informasi kepada Bapepam tentang adanya pengalihan
piutang pada bank lain.
2. Pada Tahun 2002
Selama tahun 2002, Bapepam telah melakukan pemeriksaan terhadap dugaan
pelanggaran atas peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal sebanyak
39 kasus, yang terinci sebagai berikut :
a. Perdagangan Orang dalam, sebanyak 2 kasus;
b. Keterbukaan informasi, sebanyak 16 kasus;
c. Pengendalian Inheren, sebanyak 3 kasus;
d. Kegiatan Pasar Modal tanpa Ijin, sebanyak 4 kasus;
e. Manipulasi Pasar, sebanyak 6 kasus;
f. Transaksi Benturan Kepentingan, sebanyak 6 kasus;
g. Informasi Menyesatkan, sebanyak 2 kasus.
Dari sebanyak 39 kasus yang ditangani Bapepam, 28 kasus telah berhasil
diselesaikan, sedangkan sisanya sebanyak 11 kasus masih dalam proses.
Bapepam juga telah meningkatkan status tiga kasus tindak pidana pasar modal
dari tahap pemeriksaan ke dalam tingkat penyidikan.
Salah satu kasus yang menarik sepanjang tahun 2002 adalah kasus penerbitan
sekaligus publikasi sebanyak sembilan press release pada bulan Januari sampai
106
Elfira Taufani, Analisis Terhadap Kebijakan Kriminal Dan Penegakan Hukm Di Dalam
Tindak Pidana Pasar Modal, Simbur Cahaya No. 27 Tahun X Januari 2010 ISSN o. 14110-0614.
Lihat juga, http://www.Bapepam.go.id, diakses tanggal 7 Juni 2011
dengan bulan Februari 2002 oleh PT Lippo e-Net Tbk, dimana beberapa diantara
Press release tersebut mengandung informasi yang kurang tuntas dalam
penjabarannya, serta kurang didukung oleh fakta-fakta yang dapat menjelaskan
informasi di dalamnya. Atas kasus tersebut, Bapepam telah mengenakan sanksi
administratif berupa denda kepada PT. Lippo e-Net Tbk dan para pengurus
perusahaan. Selain itu, Bapepam juga mewajibkan kepada Emiten untuk
menanggung biaya registrasi sahamnya dalam rangka perdagangan saham tanpa
warkat serta memerintahkan kepada emiten untuk mengumumkan kepada
masyarakat mengenai perkembangan terakhir kegiatan usaha perseroan di bidang
cyber internet dan e-commerce
3. Pada Tahun 2003
Selama tahun 2003, Bapepam melakukan pemeriksaan terhadap 34 kasus
ditambah 10 kasus yang belum terselesaikan di tahun 2003, sehingga total kasus
yang diperiksa selama tahun 2003 adalah 44 kasus. Sampai akhir 2003, Bapepam
telah berhasil menyelesaikan 33 kasus atau 75 % dari total kasus yang diperiksa
selama tahun 2003. Kasus yang cukup menarik masyarakat selama tahun 2003
adalah antara lain kasus Pemalsuan Saham PT Tjiwi Kimia Tbk. Kasus ini
berawal dari laporan PT. Tjiwi Kimia Tbk yang disampaikan kepada BEJ dengan
Tembusan ke Bapepam, yang melaporkan bahwa telah terjadi pemalsuan saham
PT. Tjiwi Kimia Tbk atas nama PT Purinusa Eka Persada sebanyak 13.517.010
lembar saham. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pemalsuan tersebut diduga
dilakukan oleh beberapa karyawan PT Sinartama Gunita selaku Biro Administrasi
Efek yang dibantu oleh pihak lain. Dugaan pemalsuan saham ini telah diserahkan
kepada pihak kepolisian, sedangkan Bapepam telah menjatuhkan sanksi
administratif berupa peringatan tertulis kepada para perusahaan efek yang telah
lalai dalam melakukan transaksi saham PT. Tjiwi kimia Tbk. Dugaan manipulasi
pasar dan insider trading terhadap perdagangan saham PT. Bank Central Asia Tbk
(BCA) merupakan kasus yang paling mendapat sorotan di tengah gencarnya
kontroversi program divestasi saham Pemerintah pada bank swasta nasional
terbesar di Indonesia. Tidak hanya pengamat, anggota Dewan Perwakilan Rakyat
RI juga menaruh perhatian besar dan mengikuti secara cermat perkembangan
hasil pemeriksaan Bapepam untuk menyebarluaskan setiap perkembangan dari
hasil pemeriksaan atas kasus tersebut. Setelah melakukan berbagai kegiatan
investigasi selama kurang lebih 4 bulan, pada awal Oktober 2003 Tim Pemeriksa
akhirnya menyimpulkan bahwa pergerakan dan perubahan harga saham BCA di
Bursa Efek Jakarta periode transaksi Mei sampai Juni 2003 yang cukup signifikan
ternyata lebih disebabkan oleh reaksi pasar dan perilaku pemodal yang menyikapi
rencana divestasi saham pemerintah pada perusahaan publik tersebut secara
cukup emosional. Dengan kata lain, belum cukup bagi Tim Pemeriksa untuk
secara yuridis menyimpulkan telah terjadi manipulasi pasar dan insider trading
pada kasus tersebut.
4. Pada Tahun 2004
Selama tahun 2004, Bapepam telah melakukan pemeriksaan dan atau penyidikan
terhadap 40 kasus, ditambah 4 kasus yang belum terselesaikan di tahun 2001
sehingga total kasus yang diperiksa dan atau disidik adalah 44 kasus. Dari 44
kasus tersebut, 33 kasus diantaranya (75 %) telah berhasil diselesaikan oleh
Bapepam, sedangkan sisanya masih dalam pemeriksaan dan atau penyidikan.
Selama tahun 2004, sebanyak 2 kasus telah ditingkatkan ke tahap penyidikan.
Salah satu terobosan penting dalam penegakan hukum pasar modal yang
dilakukan, Bapepam pada tahun 2004 adalah dilakukannya upaya paksa berupa
penangkapan dan penahanan dua orang pelaku tindak pidana di pasar modal
untuk kepentingan penyidikan, atas kasus perdagangan saham PT Primarindo
Asia Infrastruktur Tbk. Upaya dimaksud dilakukan melalui kerjasama yang baik
dengan pihak Kepolisian Negara Republik Indonesia. Salah satu kasus yang
menarik perhatian baik nasional, maupun internasional, yang terjadi di tahun
2004 adalah kasus divestasi saham PT Indonesian Satellite Corporation (Indosat)
Tbk.
5. Pada Tahun 2005
Di tahun 2005, Bapepam telah menerima laporan dan pengaduan sejumlah 28
dugaan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang Pasar
modal, baik yang disampaikan oleh Biro Teknis Bapepam, SRO maupun
masyarakat. Terhadap 28 kasus tersebut, Biro pemeriksaan dan Penyidikan telah
melakukan pemeriksaan terhadap 25 kasus dan penyidikan sebanyak 3 kasus.
Kasus yang menarik perhatian sepanjang tahun 2003 adalah kasus Penyajian
Laporan Keuangan dan Keterbukaan PT Bank Lippo Tbk karena adanya
perbedaan laporan keuangan PT. Bank Lippo Tbk per 30 September 2005 yang
dipublikasikan di media massa pada tanggal 28 November 2005 dengan Laporan
Keuangan periode yang sama ke PT BEJ. Dari kedua versi laporan tersebut,
terdapat perbedaan data laporan keuangan. Perbedaan tersebut adalah di dalam
laporan Keuangan LPBN yang dipublikasikan melalui media massa disebutkan
bahwa, total aktiva Rp.24 triliun dengan laba bersih sebesar Rp. 98 miliar.
Sementara dalam Laporan Keuangan ke PT BEJ (Nomor. Pengumuman
1120/BEJ-2002), total aktiva berkurang menjadi Rp. 22,8 triliun dan rugi bersih
menjadi Rp. 1.3 triliun. Laporan Keuangan yang disampaikan ke PT BEJ
tersebut adalah perbandingan Laporan Keuangan per 30 September 2005 yang
diaudit dengan Laporan Keuangan per 30 September 2005 yang tidak diaudit.
Laporan keuangan juga menyajikan perbedaan mencolok pada laba operasional
yaitu rugi Rp. 1,2 triliun (pada laporan ke PT BEJ) dibandingkan dengan laba
Rp.170 miliar (pada laporan publikasi media massa) Dari hasil pemeriksaan Tim
disimpulkan bahwa adanya kekurang hati-hatian Direksi PT Bank Lippo Tbk
dalam mencantumkan kata “audit” dan opini Wajar Tanpa Pengeculian pada
iklan laporan keuangan per 30 September 2005 pada tanggal 28 November 2005
dan adanya kelalaian Akuntan Publik Drs. RK., Partner KAP Prasetio, Sarwoko
dan Sanjaya, berupa keterlambatan dalam menyampaikan peristiwa penting dan
material mengenai penurunan nilai AYDA (aset yang diagunkan) PT Bank Lippo
Tbk kepada Bapepam.
6. Pada tahun 2006
Di tahun 2006 (sampai 10 Agustus 2006), Bapepam melakukan pemeriksaan 22
kasus pelanggaran, yang diantaranya sebanyak 15 kasus masih dalam proses
pemeriksaan, 6 (enam) kasus telah selesai, dan satu diantaranya yaitu kasus
transaksi obligasi dan obligasi REPO yang dilakukan oleh Bank Asiatic dan
Bank Dagang Bali, telah ditingkatkan statusnya dari pemeriksaan ke penyidikan.
Dengan ditingkatkannya dari status pemeriksaan ke penyidikan pada kasus
transaksi obligasi dan obligasi REPO, maka Bapepam hingga saat ini telah
melakukan penyelidikan terhadap 6 kasus (yang 5 kasusnya merupakan
tunggakan kasus dari tahun sebelumnya), yang terinci sebagai berikut :
1. Kasus tindak pidana dalam perdagangan saham PT Primarindo Asia
Infrastruktur Tbk (BIMA), yang status penyidikannya selesai (P21), dan akan
segera dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.
2. Kasus tindak pidana divestasi saham PT Indosat Tbk (ISAT), yang status
penyidikannya dihentikan, dan telah diterbitkan SP3;
3. Kasus tindak pidana transaksi obligasi dan obligasi REPO oleh PT. Bank
Asiatic dan Bank Dagang Bali, yang status penyidikannya masih dalam
proses;
4. Kasus tindak pidana perdagangan saham PT Ryene Adibusana Tbk (RYAN);
5. Kasus tindak pidana dalam perdagangan saham PT Primarindo Asia
Infrastruktur Tbk (BIMA) - dengan pelaku Amir Soehendro Samirin dan Jean
Nasution - yang status penyidikannya masih dalam proses;
6. Kasus tindak pidana perdagangan saham PT Primarindo Asia Infrastruktur
Tbk (BIMA) yang dilakukan oleh Judiono Tosin yang status penyidikannya
masih dalam proses.
7. Pada tahun 2007 sampai dengan 2010
Sampai dengan Desember 2007, dari 39 kasus pemeriksaan, 21 kasus telah selesai
diproses dan 18 kasus masih dalam proses pemeriksaan maupun proses
pengenaan sanksi. Sementara dari 21 kasus yang telah diselesaikan, 17 kasus
telah dikenai sanksi. Sanksi tersebut dalam bentuk administratif maupun tindakan
kepada pihak-pihak yang melakukan pelanggaran. Sisanya sebanyak 3 kasus
ditutup karena tidak ditemukan adanya pelanggaran perundang-undangan di
bidang pasar modal, dan 2 kasus ditingkatkan ke tahap penyidikan karena adanya
indikasi kuat terjadi tindak pidana di bidang pasar modal. Kedua kasus tersebut
adalah kasus PGN dan transaksi perdagangan saham PT Agis Tbk. Baik terhadap
kasus PGN maupun Agis, Bapepam-LK (Lembaga Keuangan) telah mengenakan
sanksi administratif kepada beberapa pihak. Bahkan Bapepam-Lk saat ini sudah
meningkatkan status pemeriksaan kedua kasus tersebut ke tahap penyidikan.
Diantara deretan kasus yang masuk daftar Bapepam-LK, terdapat kasus yang
cukup memperoleh perhatian publik. Diantaranya kasus perdagangan saham Agis
pada bulan Juni 2007. Harga saham emiten berkode TMPI itu sejak Desember
2006–Juni 2007 mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Akibatnya,
beberapa anggota bursa mengalami gagal bayar di bulan Juni 2007, sehingga PT
Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) harus menunda penyelesaian transaksi
saham Agis. Beberapa kasus dugaan pelanggaran pasar modal yang sering terjadi
dan ditangani Bapepam-LK adalah kasus-kasus yang berkaitan dengan
keterbukaan emiten dan perusahaan publik, perdagangan efek, dan pengelolaan
investasi. Kasus tersebut antara lain: dugaan pelanggaran atas ketentuan transaksi
yang mengandung benturan kepentingan, transaksi material, keterbukaan
pemegang saham tertentu, informasi atau fakta material yang harus segera
diumumkan kepada publik. Lalu pelanggaran penyajian laporan keuangan,
penggunaan dana hasil penawaran umum. Sementara kasus yang berkaitan
dengan perdagangan efek antara lain: dugaan pelanggaran manipulasi pasar,
perdagangan semu, perdagangan orang dalam, penipuan. Sedangkan kasus yang
berkaitan dengan pengelolaan investasi antara lain: dugaan pelanggaran dalam
pengelolaan reksa dana, kewajiban pelaporan reksa dana dan lain-lain. Selama
tahun ini, Bapepam-LK juga telah melakukan upaya penegakan hukum. Salah
satu sanksi yang diterapkan adalah sanksi administratif kepada para pelaku
pelanggaran terhadap UU No. 8/1995 tentang Pasar Modal. Bentuk sanksi yang
ditetapkan cukup beragam, mulai dari pencabutan izin usaha, baik kepada institusi
maupun kepada perorangan, pembekuan izin usaha, sanksi denda, serta peringatan
tertulis.
Dari kasus-kasus yang ditemukan, baik berdasarkan laporan masyarakat,
ataupun dari Bursa Efek Jakarta, yang menilai adanya indikasi kecurangan yang
dilakukan oleh pemain, maka penyelesaian yang dilakukan oleh Bapepam terhadap
seluruh kasus pasar modal yang pernah terjadi, baik kasus perdata maupun
yang
berindikasi pidana, seringkali diberi putusan yang bersifat administrasi, Walaupun
pada awalnya pemeriksaan telah sampai pada tahap penyidikan, yang dilakukan oleh
tim penyidik Bapepam, namun pada akhirnya selalu diselesaikan tanpa melalui proses
Sistem Peradilan Pidana, tetapi diselesaikan di tingkat Bapepam, dengan dikenakan
hukuman atau sanksi denda administrasi. Hal ini disebabkan masih adanya pembatas,
yang dapat berupa diskresi atau kebijakan yang diambil oleh Ketua Bapepem, dalam
rangka penyelesaian kasus tersebut secara cepat. Dengan kata lain, Ketua Bapepam
bertujuan agar, kerugian negara di dalam perdagangan ini, dapat cepat kembali.
Sebagai salah satu bukti, bahwa pada awal Januari hingga bulan Agustus tahun 2004,
Bapepam telah menjatuhkan sanksi adminstratif kapada 216 pihak. Total nilai denda
yang dikenakan kepada 216 pihak tersebut sebesar Rp. 5,7 milyar rupiah, dari jumlah
ini, telah dilakukan pembayaran oleh pihak-pihak tersebut sebesar Rp. 4,6 milyar.
Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa, Ketua Bapepam lebih cenderung untuk
menyelesaikan kasus pelanggaran tersebut, dengan menempuh jalur di luar
pengadilan. 107 Hal ini sebagaimana dikemukan oleh biro pemeriksaan dan penyidikan
Bapepam sebagai berikut: 108
“Memang selama ini kasus-kasus pasar modal yang berindikasi pidana
maupun perdata diselesaikan pada tingkat Bapepam (luar persidangan) dengan
hukuman berupa denda administrasi, belum pernah sekalipun ditempuh
penyelesaian melalui kebijakan pidana (sistem peradilan pidana). Sebenarnya
hal ini bukan tanpa alasan. Dijelaskan pula bahwa, jika diselesaikan melalui
jalur pengadilan (pidana), akan memakan waktu yang cukup lama, selain
karena masalah pembuktian yang sangat sulit, sehingga uang yang hilangpun
lambat pula kembalinya. Alasan lainnya adalah, sebagaimana sanksi pidana
yang menganut effek jera bagi yang dikenakan sanksi tersebut, sanksi yang
berupa denda administrasi juga mengandung effek jera. Ini disebabkan, di
dalam dunia usaha, nama baik sangatlah penting. Seperti diketahui bahwa
hukum pidana dengan sanksi pidananya, akan menimbuilkan stigma bagi
orang yang terkena, sehingga diprosesnya pihak-pihak (pelaku pelanggaran )
secara pidana, serta dijatuhi hukuman pidana, akan berdampak pada
tercorengnya nama baik mereka, sehingga jika akan memasuki lagi dunia
pasar modal akan mengalami kesulitan, seperti lunturnya kepercayaan pihak
lain terhadap sipelaku tersebut. Proses pengembalian sejumlah kerugian yang
terjadi melalui penetapan denda administrasi, akan lebih cepat apabila
107
108
Ibid
http://www.Bapepam.go.id, diakses tanggal 7 Juni 2011
dibandingkan melalui proses sistem peradilan pidana, serta Bapepam
beranggapan tingkat kerugiannya tidak begitu membahayakan. Akan tetapi,
jika selama ini penyelesaian kasus pasar modal selalu dilaksanakan di luar
pengadilan, dengan mengenakan sanksi administratif oleh pihak Bapepam,
mulai dari denda administratif, hingga pencabutan izin perusahaan, maka
pada sekitar pertengahan bulan Agustus tahun 2004, ada satu kasus tindak
pidana pasar modal yang telah sampai kepada kejaksaan, setelah dilakukan
penyidikan oleh bagian pemeriksaan dan penyidikan Bapepam. Kasus ini
lebih dikenal dengan sebutan kasus (BIMA), adalah kasus lama (tahun 1992),
yang pernah diproses oleh Bapepam, yang juga telah dikenakan sanksi berupa
denda administratif, tetapi pembayaran denda tidaklah berjalan dengan mulus
(mengalami gagal bayar), sehingga kasus perdagangan saham PT Primarindo
Asia Infrastruktur serta saham PT Dharma Samudra Fishing Industry ini
ditingkatkan kepada tahap penuntutan melalui pihak Kejaksaan Tinggi DKI
Jakarta. Jadi, kasus BIMA ini adalah kasus pasar modal pertama yang
ditangani bersama antara Kepolisian dan Bapepam, sejak adanya UndangUndang Pasar Modal. Kasus Bank Lippo adalah salah satu kasus yang
menarik perhatian, tidak hanya masyarakat tetapi juga para pakar hukum.
Bapepam seperti dijelaskan sebelumnya dalam penyelesaian kasus-kasus yang
masuk di Bapepam Pada kasus Bank Lippo ini tidak hanya melanggar
perundang-undangan di bidang pasar modal, tetapi juga Undang-Undang
lainnya, seperti Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang
Perbankan dan Undang-Undang Perseroan Terbatas.
D. Langkah Hukum Investor Akibat Kerugian Atas Informasi Menyesatkan
(Misleading Information)
Investor merupakan pihak yang paling dirugikan akibat adanya pelanggaran di
pasar modal. Apakah akibat adanya informasi yang menyesatkan (misleading
information) yang mempengaruhinya dalam memutuskan investasi, maupun
manipulasi pasar, perdagangan orang dalam dan lain sebagainya. Ada tiga faktor
utama yang menjadi pertimbangan investor untuk terlibat dipasar modal, yaitu
pendapatan, likuiditas, dan keamanan investasi. Dengan demikian, lembaga-lembaga
pasar modal perlu mewujudkan pasar modal yang mampu memenuhi kriteria tersebut.
Kemampuan untuk mewujudkan hal di atas akan banyak manfaatnya dalam usaha
memaksimalisasi perlindungan investor. Investor perlu dijauhkan antara lain dari
adanya informasi yang keliru dan menyesatkan serta bebas dari praktek perdagangan
efek yang tidak sejalan dengan ketentuan peraturan perundangan.
Pasal 111 UUPM memberikan kesempatan kepada investor yang menderita
kerugian akibat pelanggaran Undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya
mengajukan gugatan untuk mendapatkan ganti rugi secara perdata dengan pihak lain
yang memiliki tuntutan yang serupa, terhadap pihak-pihak yang bertanggungjawab
atas pelanggaran tersebut. Berdasarkan pasal 111 UUPM tersebut dapat dikatakan ada
beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu ganti rugi dapat dituntut dari pihak
yang telah menimbulkan kerugian sebagai berikut :
1. Adanya pelanggaran atas UUPM atau peraturan pelaksanaannya;
2. Adanya kerugian;
3. Kerugian tersebut timbul sebagai akibat dari pelanggaran atas peraturan
perundang-undangan dimaksud;
4. Apabila ada beberapa pihak yang dirugikan maka tuntutan ganti rugi dapat
dilakukan sendiri-sendiri atau secara bersama-sama;
Dari ketentuan pasal 111 tersebut, terlihat bahwa UUPM memungkinkan
pihak-pihak yang dirugikan untuk meminta pertangggungjawaban atas kerugian yang
dideritanya kepada satu pihak saja (tanggungjawab secara khusus) dan atau pada
beberapa pihak secara bersama-sama (tanggungjawab secara umum).
Tanggungjawab secara khusus ini diberikan pada pihak tertentu yang
melakukan tindakan khusus pula, sistem pertanggungjawaban ini berlaku pada
pelanggaran terhadap informasi yang menyesatkan, khususnya yang berhubungan
dengan pernyataan pendaftaran dan atau yang berhubungan dengan penjualan efek.
Pertanggungjawaban dalam rangka penawaran umum dapat diterapkan dengan syarat
sebagai berikut :
1. Terdapat informasi yang menyesatkan;
2. Informasi tersebut dimuat dalam pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran
umum;
3. Pihak yang bertanggungjawab hanya bertanggungjawab secara yuridis sebatas
keterangan yang diberikannya;
4. Tidak ada pertanggungjawaban apabila pelakunya dapat membuktikan sebaliknya
bahwa dia telah bertindak secara professional, dan telah mengambil langkahlangkah yang cukup untuk memastikan bahwa tidak ada informasi yang
menyesatkan;
5. Masa daluarsa dari gugatan perdata tersebut lima tahun sejak pendaftaran
pernyataan;
6. Tanggungjawab tersebut baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama dari
para pihak yang melakukannya;
7. Adanya suatu kerugian sebagai akibat dari informasi yang menyesatkan tersebut;
8. Pihak yang dimintakan pertanggungjawabannya adalah pihak yang ikut
menandatangani pernyataan pendaftaran, direktur dan komisaris emiten pada
waktu pernyataan pendaftaran menjadi efektif, penjamin pelaksana emisi efek,
konsultan hukum, penilai, akuntan publik, notaris, pihak lain yang memberikan
pendapat atau keterangan dan atas persetujuannya dimuat dalam pernyataan
pendaftaran.
Pertanggungjawaban dalam rangka penawaran atau penjualan efek secara
perdata dapat dimintakan apabila :
1. Adanya penawaran efek atau penjualan efek;
2. Dengan menggunakan prospektus atau cara lain, baik tertulis atau lisan;
3. Adanya informasi yang menyesatkan (misleading information);
4. Pelaku mengetahui atau sepatutnya mengetahui tentang informasi yang
menyesatkan tersebut;
5. Sewaktu membeli efek, investor belum mengetahui bahwa informasi yang
bersangkutan dalam menyesatkan;
6. Adanya kerugian yang timbul dari transaksi efek dimaksud;
E. Otoritas Jasa Keuangan Sebagai Pengawas Pasar Modal.
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) dimaksudkan untuk mewujudkan ”Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang
memiliki fungsi, tugas dan wewenang pengaturan dan pengawasan terhadap
kegiatan di dalam sektor jasa keuangan secara terpadu, independen dan
akuntabel. Di sini, OJK mempunyai fungsi, tugas dan wewenang pengaturan,
pengawasan, pemeriksaan dan penyidikan terhadap lembaga jasa keuangan
seperti, lembaga yang melaksanakan kegiatan di sektor Perbankan, Pasar Modal,
Perasuransian, Lembaga Jasa Keuangan Lainnya. Misalnya antara lain Dana
Pensiun, Lembaga Pembiayaan. 109 Oleh karena itu fungsi Bapepam-LK beralih
ke OJK.
Pasal 2 ayat (2) UUOJK menentukan OJK adalah lembaga yang
independen dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, bebas dari campur
tangan pihak lain, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas di atur dalam undangundang ini. Independensi OJK tersebut merupakan salah satu isu penting dalam
membahas peran OJK. Independensi tidak berarti OJK bebas menjalankan
pengaturan dan pengawasan yang mereka inginkan. Independen berarti OJK
dapat menggunakan instrumen yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan oleh sistem politik tanpa adanya campur tangan dari pihak di
luar OJK. Ini yang disebut dengan ”instrument independence” bukan ”goal
independence”. Konsekwensi independen bagi OJK adalah harus lebih akuntabel
untuk tindakan yang dilakukan dalam pengaturan dan pengawasan secara
transparan. 110
Pasal 6 UUOJK menyatakan bahwa OJK melaksanakan tugas pengaturan
dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan, kegiatan
jasa keuangan di sektor Pasar Modal; dan kegiatan jasa keuangan di sektor
109
Bismar Nasution, Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa
Keuangan: Kajian Terhadap Independensi dan Pengintegrasian Pengawasan Lembaga Keuangan,
disampaikan pada sosialisasi Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan
Era Baru Pengawasan Sektor Jasa Keuangan yang terintegrasi, dilaksanakan Badan Pengawas Pasar
Modal dan Lembaga Keuangan, Medan, tanggal 8 Juni 2012, hal. 1
110
Ibid, hal. 2
Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa
Keuangan Lainnya. Pasal 8 UUOJK merumuskan bahwa untuk melaksanakan
tugas pengaturan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, OJK mempunyai
wewenang:
a. menetapkan peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini;
b. menetapkan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
c. menetapkan peraturan dan keputusan OJK;
d. menetapkan peraturan mengenai pengawasan di sektor jasa keuangan;
e. menetapkan kebijakan mengenai pelaksanaan tugas OJK;
f. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan perintah tertulis
terhadap Lembaga Jasa Keuangan dan pihak tertentu;
g. menetapkan peraturan mengenai tata cara penetapan pengelola statuter
pada Lembaga Jasa Keuangan;
h. menetapkan struktur organisasi dan infrastruktur, serta mengelola,
memelihara, dan menatausahakan kekayaan dan kewajiban; dan
i. menetapkan peraturan mengenai tata cara pengenaan sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang- undangan di sektor jasa keuangan.
Pasal 9 menyebutkan bahwa untuk melaksanakan tugas pengawasan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, OJK mempunyai wewenang:
a. menetapkan kebijakan operasional pengawasan terhadap kegiatan jasa
keuangan;
b. mengawasi pelaksanaan tugas pengawasan dilaksanakan oleh Kepala
Eksekutif;
c. melakukan
pengawasan,
pemeriksaan,
penyidikan,
perlindungan
Konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pelaku,
dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam
peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan;
d. memberikan perintah tertulis kepada Lembaga Jasa Keuangan dan/atau
pihak tertentu;
e. melakukan penunjukan pengelola statuter;
f. menetapkan penggunaan pengelola statuter;
g. menetapkan sanksi administratif terhadap pihak yang melakukan
pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di sektor jasa
keuangan; dan
h. memberikan dan/atau mencabut:
1. izin usaha;
2. izin orang perseorangan;
3. efektifnya pernyataan pendaftaran;
4. surat tanda terdaftar;
5. persetujuan melakukan kegiatan usaha;
6. pengesahan;
7. persetujuan atau penetapan pembubaran; dan
8. penetapan lain, sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-
undangan di sektor jasa keuangan.
Dengan beralihnya fungsi Bapepam-LK kepada OJK bukan berarti
sekaligus membuat substansi aturan pasar modal dan peraturan Bapepam yang
selama ini berlaku tidak dapat lagi diterapkan, karena substansi peraturan ini
masih dipakai dalam mengatur dan mengawasi pasar modal di Indonesia sesuai
dengan belakunya ketentuan OJK.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1. Karakteristik menyangkut tindak pidana penipuan sebagaimana yang diatur oleh
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal yakni membuat
pernyataan salah mengenai fakta atau menghilangkan fakta material yang
membuat pernyataan menjadi menyesatkan, berhubungan dengan perdagangan
saham, dengan maksud untuk menyesatkan, menyebabkan kerugian. Sedangkan
tentang informasi yang menyesatkan adalah pernyataan tidak benar dan
sesungguhnya dalam fakta materil thdp informasi yang diberikan.
2. Kewenangan Bapepam yang sekarang setelah berlakunya Undang-Undang Nomor
21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan mengatur tentang beralihnya
kewenangan Bapepam kepada OJK, dalam rangka tanggungjawab menjalankan
pengawasan di pasar modal terhadap informasi yang menyesatkan (misleading
information) yakni melakukan tindakan pemeriksaan dan penyidikan sebagai
kewajiban pengawasan yang dilakukan oleh Bapepam.
3. Penanggulangan tindak pidana penipuan di pasar modal khsusnya menyangkut
informasi yang menyesatkan mensyaratkan emiten dan perusahaan publik
diwajibkan untuk menyampaikan informasi kepada Bapepam menyangkut
kewajiban pelaporan secara berkala dan kewajiban pelaporan yang bersifat
isedentil, disamping itu diperlukan juga menerapkan prinsip keterbukaan atas
fakta material dalam hal penanggulangan tindak pidana penipuan atas informasi
yang menyesatkan (misleading information). Pendekatan sistem peradilan pidana
dilakukan bersikap proaktif bila terdapat indikasi pelanggaran peraturan
perundang-undangan pasar modal. Dengan melakukan pemeriksaan, dan atau
penyidikan, yang didasarkan kepada laporan atau pengaduan dari pelaku-pelaku
pasar modal
B. Saran
1. Diharapkan dalam rangka mengklasifikasi tindak pidana penipuan khususnya
menyangkut informasi yang menyesatkan (misleading information) undangundang pasar modal dan peraturan pelaksanannya dapat menderivasi terhadap
kasus-kasus yang terjadi di berbagai negara untuk merumuskan klasifikasi
perkembangan kejahatan penipuan di pasar modal, hal ini disebabkan beberapa
faktor yakni: Pertama, tingkat keberhasilan penyidikan (secara pidana) kejahatankejahatan yang terkait dengan pasar modal di Indonesia sangat rendah. Kedua,
adanya dilema yang dihadapi oleh Bapepam-LK (Lembaga Keuangan) berupa
penerapan sanksi administratif di satu sisi dapat dilihat sebagai sikap yang kurang
tegas terhadap pelanggar peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal,
terutama yang mengatur tentang sanksi pidana bagi pelanggarnya. Akan tetapi, di
sisi lain, sanksi administratif dapat dilihat sebagai cara mendapatkan quick win,
karena prosesnya terbilang cepat. Ketiga, Penerapan sanksi pidana dapat dilihat
sebagai langkah tegas dan diharapkan dapat menimbulkan efek jera yang tinggi.
Akan tetapi, jika tingkat keberhasilannya rendah, efek jera yang menyertai sanksi
pidana menjadi tidak efektif. Keempat, pembuktian secara pidana atas white
collar crimes tidak mudah karena hukum mensyaratkan standar pembuktian yang
tinggi.
2. Beralihnya kewenangan Bapepam kepada Otoritas Jasa Keuangan berdasarkan
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 di bidang pemeriksaan dan penyidikan
tentunya harus dilakukan penguatan menyangkut indepedensi OJK, walaupun
Pasal 1 angka (1) Jo Pasal 2 ayat (1) menegaskan independensi OJK namun
ketentuan yang terdapat dalam Pasal 10 ayat (1) mensyaratkan kurang
idepedensinya lembaga OJK. Untuk itu diperlukan singkronisasi ketentuan di
dalam UU OJK menyangkut indepedensinya.
3.
Diharapkan Bapepam lebih intensif berkoordinasi dengan sistem peradilan
pidana (criminal justice system) untuk menjerat pelaku dengan menggunakan
sarana hukum pidana. Hal ini dilandasi bahwa Bapepam dalam menjalankan
fungsi pengawasan, sebaiknya memberikan sanksi yang lebih berat pada para
pelaku tindak pidana di pasar modal khususnya yang memberikan misleading
information. Selain mengenakan sanksi administratif sebaiknya kasus yang
berpeluang untuk tahap penyidikan tetap diteruskan sehingga dapat menimbulkan
efek jera bagi para pelaku.
Download