H 2: Proporsi komisaris independen berpengaruh

advertisement
PERAN STRUKTUR CORPORATE GOVERNANCE
DALAM TINGKAT KEPATUHAN MANDATORY DISCLOSURE
KONVERGENSI IFRS
Oleh:
ERNI SURYANDARI F
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
ABSTRACT
This study aims to examine the role of Corporate Governance Structure
Mandatory Disclosure In Compliance Level Convergence IFRS . Identify items
Mandatory Disclosure Compliance Level Convergence IFRS uses Cheklis
Bapepam LK . Selected items is adjusted to GAAP applicable in Indonesia .
Characteristics of Corporate Governance which is used, among others, is the
number of commissioners, the proportion of independent director, chief
commissioner of education background, the number of commissioners meeting ,
and the number of audit committee members .
The population of this study is manufacturing companies listed in Indonesia
Stock Exchange ( IDX ) . Selection of the study sample using purposive sampling
method , which is the company that publishes the annual report . Based on
purposive sampling method , the study sample size was 117.
The results of this study indicate that corporate governance does not
significantly influence the rate of Mandatory Disclosure Compliance
Convergence IFRS. Research shows that leverage variable and significant
negative effect on the extensive disclosures sustainability report .
Keywords : Mandatory Disclosure, Corporate Governance, the Board of
Commissioners , Commissioner Independent, Audit Committee
1
I.
PENDAHULUAN
Laporan tahunan pada dasarnya adalah sumber informasi bagi investor
sebagai salah satu dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi
dalam pasar modal, juga sebagai sarana pertanggungjawaban manajemen atas
sumber daya yang dipercayakan kepadanya (Kartika, 2009). Proses pembuatan
laporan tahunan tidak lepas dari penelitian mengenai kelengkapan pengungkapan
(disclosure) dalam laporan tahunan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hal
ini sangat penting untuk dilakukan karena akan memberikan gambaran kondisi
perusahaan, serta mampu menunjukkan sifat perbedaan kelengkapan ungkapan
antar perusahaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Perusahaan akan
menggunakan laporan tahunannya yang terdiri dari laporan wajib dan laporan
sukarela untuk pemegang saham dan investor potensial maupun pemerintah.
Laporan tahunan perusahaan dapat memberikan gambaran kinerja
selama satu tahun, dan dapat menjelaskan masa depan perusahaan tersebut
(Widiyastuti, 2002 dalam Kartika, 2009). Dalam pencapaian efisiensi dan sebagai
sarana akuntabilitas publik, pengungkapan laporan keuangan menjadi faktor yang
signifikan. Laporan keuangan dapat diungkapkan dalam bentuk penjelasan
mengenai kebijakan akuntansi yang ditempuh kontijensi, metode persediaan,
jumlah saham yang beredar dan ukuran alternatif, seperti pos-pos yang dicatat
berdasar historical cost (Naim dan Rakhman, 2000 dalam Kartika, 2009).
Dalam kualitas informasi keuangan terdapat dua jenis pengungkapan
(disclosure) yang diterbitkan oleh perusahaan. Pengungkapan wajib yang di
ungkapkan dalam perusahaan yang harus memenuhi tinggkat kepatuhan
mandatory
disclosure
konfergensi
IFRS.
IFRS adalah
singkatan
dari
International Financial Reporting Standards atau Standar Pelaporan Keuangan
Internasional. IFRS adalah bagian akuntansi internasional di mana untuk
mengatur dan melaporkan informasi keuangan. Hal ini berasal dari pernyataan
dari Akuntansi yang berbasis di London International Standards Board (IASB).
Penelitian tentang pencapaian efisiensi dan sebagai sarana akuntabilitas publik,
2
pengungkapan laporan keuangan menjadi faktor yang signifikan (Naim dan
Rahman, 2000 dalam Kartika, 2009).
Transparansi dan distribusi informasi yang merata di kalangan pelaku
pasar modal pada umumnya, dan investor pada khususnya, akan sangat
menentukan keefektifan fungsi pasar modal. Krisis keuangan Asia pada tahun
1997 tidak hanya diakibatkan oleh hilangnya kepercayaan investor, tetapi juga
dari kurangnya tata kelola perusahaan yang efektif dan transparansi pada banyak
pasar keuangan Asia dan perusahaan individu di akhir tahun 1990-an (Ho dan
Wong ,2001 dalam Anyta, 2011). Berbagai kasus kegagalan dan skandal
perusahaan besar baik di dalam maupun di luar negeri, serta krisis keuangan
global tahun 2008 telah mendorong investor untuk lebih memperhatikan
pengungkapan informasi perusahaan yang bersifat wajib (mandatory disclosure).
Beberapa tahun terakhir, pengungkapan dan transparansi dalam laporan
keuangan menjadi isu penting di Indonesia, Forum for Corporate governance in
Indonesia (FCGI, 2006) mempublikasikan sebuah survei yang dilakukan oleh
Pricewaterhouse Coopers pada tahun 1999 terhadap investor internasional di
Asia, yang menunjukkan bahwa peringkat Indonesia berada pada salah satu yang
terburuk dalam standar audit dan kepatuhan, akuntabilitas kepada pemegang
saham, standar pengungkapan dan transparansi (Utami dkk., 2012).
Adanya kasus pelanggaran yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur di
pasar modal menjadi bukti bahwa transparansi dan kepatuhan terhadap
pengungkapan wajib masih kurang, terutama pada laporan laba rugi, misalnya
kasus mark-up laporan keuangan PT Kimia Farma, Tbk yang overstated, yaitu
laba pada laporan keuangan yang seharusnya Rp 99,594 miliar ditulis Rp 132,000
miliar sehingga terjadi penggelembungan laba bersih tahunan senilai Rp 32,668
miliar (Syahrul, 2002 dalam Utami dkk., 2012). Manipulasi laporan keuangan PT
Kimia Farma, Tbk terjadi karena lemahnya penerapan corporate governance.
Kasus
PT
Kimia
Farma,
Tbk
ini
mengindikasikan
pentingnya
pengungkapan wajib dalam laporan keuangan. Pengungkapan wajib dalam
laporan keuangan telah diatur dalam standar akuntansi internasional yaitu IFRS.
3
Semua perusahaan go public dan multinasional di Indonesia diwajibkan untuk
menerapkan standar akuntansi yang konvergen dengan IFRS (Internasional
Financial Reporting Standards) untuk penyusunan laporan keuangan pada atau
setelah 1 Januari 2012 (Gamayuni, 2009 dalam Prawinandi dkk., 2012).
Adopsi peraturan pengungkapan saja tidak dapat menjamin tingkat
pengungkapan yang lebih tinggi sehingga diperlukan sistem institusional yaitu
corporate governance untuk memonitor manajer dan mengelola perusahaan untuk
menjamin bahwa perusahaan mengungkapkan informasi
yang memadai
(Akhtaruddin et al., 2009 dalam Prawinandi dkk., 2012).
Corporate governance mensyaratkan adanya struktur perangkat untuk
mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja perusahaan (Mintara, 2008 dalam
dalam Prawinandi dkk., 2012), dimana hasil kinerja perusahaan ini tertuang dalam
pengungkapan perusahaan. Inti corporate governance di Indonesia adalah pada
dewan komisaris menurut FCGI, 2001 (Forum Corporate Governance in
Indonesia), sehingga struktur corporate governance yang digunakan dalam
penelitian ini adalah dewan komisaris, termasuk komite yang berada di bawah
dewan komisaris yaitu komite audit. Struktur corporate governance tersebut
antara lain jumlah anggota dewan komisaris, proporsi komisaris independen, latar
belakang pendidikan komisaris utama, jumlah anggota komite audit dan jumlah
rapat dewan komisaris.
Penelitian tentang tingkat kepatuhan mandatory disclosure IFRS sudah
dilakukan oleh beberapa orang, antara lain oleh Tsalavoutas et al. (2008) di
Yunani; Al-Akra et al. (2010) di Yordania; Tsalavoutas dan Dionysiou (2011) di
Yunani dan Prawinandi dkk.,(2012). Motivasi penelitian ini adalah ingin
mengetahui tingkat kepatuhan Mandatory Disclosure Konvergensi IFRS pada
perusahaan manufaktur.
Berdasarkan latar belakang penelitian, maka dapat ditarik permasalahan
penelitian sebagai berikut: Apakah jumlah anggota dewan komisaris, komisaris
independen, belakang pendidikan komisaris utama,jumlah rapat dewan komisaris,
jumlah anggota komite audit berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konvergensi IFRS ?
4
II. RERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
A. RERANGKA TEORITIS
1. Teori Stakeholder
Istilah stakeholder awalnya diperkenalkan oleh Stanford Research
Institute (SRI), yakni merujuk kepada “those groups without whose support
theorganization would cease to exist” (Freeman, 1983 dalam Anyta, 2011). Inti
dari pemikiran itu kurang lebih mengarah pada keberadaan suatu organisasi
(dalam hal ini perusahaan) yang sangat dipengaruhi oleh dukungan kelompokkelompok yang memiliki hubungan dengan organisasi tersebut. Berbeda
dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Yuen, et al. (2009) dalam
Anyta (2010), penelitian kali ini mencoba menjelaskan fenomena praktik
pengungkapan MCGD (mandatory corporate governance disclosure) di
Indonesia dari perspektifstakeholder theory.
Berdasarkan teori stakeholder, perusahaan bukanlah entitas yang
hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri, namun harus memberikan
manfaat bagi stakeholder-nya (pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier,
pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain). Dengan demikian, keberadaan
suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan
stakeholder kepadaperusahaan tersebut (Ghozali dan Chariri, 2007 dalam
Handayani, 2011).
2. Teori Agensi
Jensen dan Meckling (1976) dalam Endrianto (2010), menjelaskan
hubungan keagenan di dalam teori agensi (agency theory) bahwa perusahaan
merupakan kumpulan kontrak (nexus of contract) antara pemilik sumber daya
ekonomis (principal) dan manajer (agency) yang mengurus penggunaan dan
pengendalian sumber daya tersebut.
Menurut Meisser, et al., (2006:7) dalam Endrianto (2010), hubungan
keagenan ini mengakibatkan dua permasalahan yaitu : (a) terjadinya informasi
asimetris (information asymmetry), dimana manajemen secara umum memiliki
lebih banyak informasi mengenai posisi keuangan yang sebenarya dan posisi
5
operasi entitas dari pemilik; dan (b) terjadinya konflik kepentingan (conflict of
interest) akibat ketidak samaan tujuan, dimana manajemen tidak selalu
bertindak sesuai dengan kepentingan pemilik.
3. Mandatory Disclosure Konfergensi IFRS
Pengungkapan
(disclosure)
didefinisikan
sebagai
penyediaan
sejumlah informasi yang dibutuhkan untuk pengoperasian secara optimal
pasar modal efisien (Hendriksen, 2007). Pengungkapan ada yang bersifat
wajib (mandatory) yaitu pengungkapan informasi yang wajib dilakukan oleh
perusahaan yang didasarkan pada peraturan atau standar tertentu. Mandatory
disclosure bertujuan memenuhi kebutuhan informasi pengguna laporan
keuangan, memastikan pengendalian kualitas kinerja melalui ketaatan
terhadap hukum dan standar akuntansi yang berlaku (Adina dan Ion, 2008
dalam Prawinandi dkk., 2012), dan ada yang bersifat sukarela (voluntary,),
yang merupakan pengungkapan informasi melebihi persyaratan minimum
dari peraturan yang berlaku diungkapkan oleh perusahaan.
Informative
disclosure yang bertujuan memberikan informasi yang layak kepada
pengguna laporan (Wolk et al., 2006 dalam Prawinandi dkk., 2012).
Mandatory dan voluntary disclosure dalam laporan keuangan telah
diatur standar akuntansi internasional IFRS. Terdapat beberapa istilah yang
digunakan berkaitan dengan penerapan IFRS. Konvergensi IFRS memiliki
arti menyelaraskan standar akuntansi yang dipakai di suatu negara dengan
IFRS untuk memperkecil perbedaan di antara keduanya (Chen, 2009 dalam
Prawinandi dkk., 2012). Adopsi IFRS artinya mengambil bahasa pelaporan
keuangan internasional untuk diterapkan kedalam bahasa pelaporan keuangan
suatu negara (Gamayuni, 2009 dalam Prawinandi dkk., 2012), sedangkan
harmonisasi artinya adalah proses untuk meningkatkan komparabilitas
laporan keuangan dengan menentukan batasan-batasan seberapa besar
praktik-praktik tersebut dapat beragam (Perramon dan Amat, 2007 dalam
Prawinandi dkk., 2012).
Perusahaan-perusahaan di dunia telah dan sedang dalam proses adopsi
IFRS dengan perkembangan yang sangat mengesankan. Di benua Amerika,
6
hampir semua negara di Amerika Latin dan Kanada mengadopsi IFRS. Di
Asia-Oceania, Indonesia, Australia, Selandia Baru, Korea, Hong Kong, dan
Singapura telah atau akan mengadopsi IFRS secara penuh. Afrika Selatan dan
Israel telah mengadopsi IFRS. Di Eropa, negara-negara selain Uni Eropa
seperti Turki dan Rusia juga telah mengadopsi IFRS secara penuh. Sebagian
besar negara anggota G20 juga merupakan pengadopsi IFRS.
Perusahaan go public dan multinasional di Indonesia diwajibkan untuk
menerapkan standar akuntansi yang konvergen dengan IFRS untuk
penyusunan laporan keuangan pada atau setelah 1 Januari 2012 (Gamayuni,
2012 dalam Prawinandi dkk.,2012). Indonesia melakukan konvergensi IFRS
secara bertahap sejak 2008 hingga 2011 dimana tahap-tahap tersebut terdiri
dari tahap adopsi pada tahun 2008 hingga tahun 2010, tahap persiapan akhir
yang dilaksanakan selama tahun 2011 dan tahap pengimplementasian PSAK
berbasis IFRS serta dilakukan evaluasi secara komprehensif mulai tahun 2012
(Husin, 2008 dalam Prawinandi dkk., 2012).
4. Struktur Corporate Governance
Corporate Governance adalah seperangkat peraturan yang mengatur
hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak
kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal
dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka
atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan (FCGI
,2001 dalam Prawinandi dkk., 2012). Istilah corporate governance ini muncul
karena adanya agency theory, dimana kepengurusan suatu perusahaan
terpisah dari kepemilikan (Herwidayatmo, 2000 dalam Prawinandi dkk.,
2012).
Corporate governance mensyaratkan adanya struktur perangkat dalam
perusahaan untuk mencapai tujuan dan pengawasan atas kinerja perusahaan
(Mintara, 2008 dalam Prawinandi dkk., 2012). Indonesia menganut sistem
dua tingkat atau Two Tiers System, artinya perusahaan mempunyai dua badan
terpisah, yaitu dewan pengawas (dewan komisaris) dan dewan manajemen
(dewan direksi) FCGI, 2001 dalam Prawinandi dkk., 2012. Dari penjelasan
7
di atas dapat disimpulkan bahwa struktur corporate governance merupakan
suatu susunan organ di dalam perusahaan yang menjalankan fungsi tata kelola
sebagai pihak pengawas dan pihak yang menjalankan perusahaan (Kamus
Besar Bahasa Indonesia 2008). Inti dari corporate governance di Indonesia
adalah pada dewan komisaris (FCGI, 2001 dalam Prawinadi dkk., 2012),
sehingga struktur corporate governance yang digunakan dalam penelitian ini
adalah dewan komisaris, termasuk komite yang berada di bawah dewan
komisaris, yaitu komite audit.
Perusahaan harus membuat pernyataan tentang pelaksanaan Corporate
Governance berdasarkan Pedoman Corporate Governance yang dikeluarkan
oleh KNKG (komite nasional kebijakan governance). Pengungkapan wajib
merupakan bagian yang tidak terpisah dari lapran tahunan perusahaan.
Pernyataan tentang pelaksanaan Corporate Governance disertai aspek-aspek
penting yang telah dilaksanakan (Siswanto, 2009).
5. Jumlah Anggota Dewan Komisaris
Tugas
dewan komisaris adalah
melakukan
pengawasan
dan
memberikan nasehat kepada direksi. Dewan direksi adalah pihak yang
menjalankan manajemen dalam perusahaan, sementara dewan komisaris
adalah pihak yang menjalankan tata kelola perusahaan yang dilakukan
manajemen dalam hal ini adalah dewan direksi (Setiawan, 2006 dalam Utami
dkk., 2008).
Tugas pengawasan dan nasihat itu dilaksanakan oleh dewan komisaris
berdasarkan
anggaran
dasar
perseorangan.
Tugas
dewan
komisaris
mengawasi dan memberikan nasehat kepada dewan direksi (GCG code, 2001
dalam Utami dkk., 2008). Pengawasan oleh dewan komisaris meliputi baik
pengawasan atas kebijaka direksi dalam melakukan pengurusan perseroan
terbatas, serta jalannya pengurusan tersebut secara umum, baik perseorangan
maupun usaha perseroan. Pengawasan dan nasihat yang dilakukan dewan
komisaris harus bertujuan untuk kepentingan perseorangan dan sesuai dengan
maksud dan tujuan perseorangan.
8
Jumlah anggota dewan komisaris seperti juga direksi, bisa terdiri dari
satu orang atau bisa juga lebih. Dewan komisaris yang terdiri lebih dari satu
orang anggota bersifat “majelis”, dan setiap anggota dewan komisaris tidak
dapat bertindak sendiri-sendiri, melainkan berdasarkan keputusan Dewan
Komisaris. Perseroan yang kegiatannya menghimpun dan mengelola dana
masyarakat, menerbitkan surat pengakuan utang serta perseroan terbuka
(Tbk) wajib mempunyai paling sedikit dua orang anggota dewan komisaris.
6. Proporsi Komisaris Independen
Dewan komisaris menggambarkan puncak dari sistim pengendalian
pada perusahaan besar, yang memiliki peran ganda yaitu peran untuk
memonitor
dan
pengesahan
(ratification)
(Antoni,
2008).
Komisaris
Independen merupakan bagian dari Dewan Komisaris yang tidak berasal dari
pihak terafiliasi (Prawinandi dkk., 2012). Terafiliasi adalah pihak yang
mempunyai hubungan bisnis dan kekeluargaan dengan pemegang saham
pengendali, anggota Direksi dan Dewan Komisaris lain, serta dengan
perusahaan itu sendiri (KNKG, 2006 dalam Prawinandi dkk., 2012). Cheng dan
Courtenay (2006) dalam Prawinandi dkk., (2012) meneliti hubungan antara
independensi Dewan Komisaris dan luas pengungkapan sukarela.
Dewan
komisaris
adalah
pihak
yang
berperan
penting
dalam
menyediakan laporan keuangan perusahaan yang reliable. Keberadaan dewan
komisaris mempunyai pengaruh terhadap kualitas laporan keuangan dan
dipakai sebagai ukuran tingkat rekayasa yang dilakukan oleh manajer
(Chtourou et al.,2001 dalam Antonia, 2008). Dewan komisaris yang
independen secara umum mempunyai pengawasan yang lebih baik terhadap
manajemen, sehingga
mempengaruhi kemungkinan kecurangan dalam
menyajikan laporan keuangan yang dilakukan oleh manajer (Chtourou et
al.,2001 dalam Antonia, 2008) atau dengan kata lain, semakin kompeten dewan
komisaris dalam menyajikan laporan keuangan perusahaan yang realiabel,
maka semakin mengurangi kemungkinan kecurangan dalam pelaporan
keuangan.
9
Proporsi
dewan
komisaris
harus
sedemikian
rupa
sehingga
memungkinkan pengambilan keputusan yang efektif, tepat dan cepat serta
dapat bertindak secara independen (Antonia, 2008). Menurut Peraturan
Pencatatan nomor IA tentang Ketentuan Umum Pencatatan Efek bersifat
Ekuitas di Bursa yaitu jumlah komisaris independen minimum 30%. Dalam
rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik (good corporate
governance), perusahaan tercatat wajib memiliki komisaris independen yang
jumlahnyaproporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh
bukan pemegang sahampengendali dengan ketentuan jumlah komisaris
independen sekurang-kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari jumlah
seluruh anggota komisaris. (Kusumaning, 2004 dalam Antonia, 2008).
7. Latar Belakang Pendidikan Komisaris Utama
Latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh komisaris utama
berpengaruh terhadap pengetahuan yang dimiliki (Ahmed and Nicholls, 1994
dalam Suhardjanto dkk., 2010). Komisaris utama yang memiliki latar belakang
pendidikan bisnis akan lebih baik dalam mengelola bisnis dan mengambil
keputusan (Bray, Howard, dan Golan, 1995 dalam Suhardjanto dkk., 2010.
Susunan kebijakan perusahaan adalah bentuk distribusi kepemilikan, dan sifat
dari Board of Directors adalah faktor level perusahaan yang paling menonjol
yang mempengaruhi kebijakan Direktur Utama, Board of Directors mungkin
bertindak sebagai kendala karena harus menyetujui inisiatif strategis sebelum
Direktur Utama dapat menjalankan inisiatif tersebut (Kumala, 2012).
Managerial Discretion akan tinggi ketika Direktur Utama memiliki
kendali yang besar atas anggota Board of Directors, jika tidak, Direktur Utama
akan terhalang kurangnya pengetahuan pihak luar untuk memilih strategistrategi dalam memimpin perusahaan guna memaksimumkan kinerja. Marris
dan McEachern (dikutip dari Kumala, 2012) menyatakan, kebijaksanaan akan
lebih tinggi bagi Direktur Utama dengan kepemilikan saham perusahaan yang
signifikan, terutama dalam ketiadaannya pemegang saham lain yang signifikan.
Latar belakang pendidikan Direktur Utama akan mempengaruhi
berbagai keputusan yang akan diambil, karena Direktur Utama akan
10
menyelaraskan antara kebijakan dengan ilmu yang pernah diperoleh (Kumala,
2012). Pendidikan pada bidang ekonomi banyak menekankan pada pencapaian
secara finansial, sehingga mengabaikan kinerja sosial yang harus dilakukan
perusahaan Arce, 2004 dalam Kumala, (2012). Hambrick dan Manson dalam
Manner, (2010) berpendapat bahwa jumlah dan jenis pendidikan berisi
“informasi yang kaya dan komplek” tentang individu. Pendapat bahwa
pendidikan itu sendiri adalah bentuk nilai-nilai dan keyakinan perilaku
didukung oleh Frank et al, 1993 (dikutip dari Manner, 2010).
8. Jumlah Rapat Dewan Komisaris
Tingkat pengungkapan wajib sangat di pengaruhi oleh jumlah rapat dewan
komisaris. Jika jumlah rapat dewan komisaris setiap periodenya sedikit maka
akan berdampak pada berkurangnya pengawasan dan pelaporan atas
pengungkapan mandatory disclosurekonfergensi IFRS. Rapat dewan komisaris
merupakan suatu proses yang dilalui oleh dewan komisaris dalam pengambilan
suatu keputusan mengenai kebijakan perusahaan. Rapat yang diselenggarakan
oleh dewan komisaris dilakukan untuk mengawasi kebijakan-kebijakan yang
telah diambil oleh dewan direksi dan implementasinya (Waryanto, 2010).
9. Jumlah Anggota Komite Audit
Peran komite audit sangat penting karena mempengaruhi kualitas laba
perusahaan yang merupakan salah satu informasi penting yang tersedia untuk
publik dan dapat digunakan investor untuk menilai perusahaan (Suarayana,
2006). Investor sebagai pihak luar perusahaan tidak dapat mengamati secara
langsung kualitas sistem informasi perusahaan (Teoh dan Wong, 1993 dalam
Suarayana, 2006). Oleh karena itu, persepsi mengenai kinerja komite audit
akan mempengaruhi penilaian investor terhadap kualitas laba perusahaan
(Suarayana,2006). Tugas komite berhubungan dengan kualitas laporan
keuangan, karena komite audit diharapkan dapat membantu dewan komisaris
dalam pelaksanaan tugas yaitu mengawasi proses pelaporan keuangan oleh
manajemen (Suarayana, 2006).
Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik
(good corporate governance) BEI mewajibkan perusahaaan tercatat memiliki
11
komisaris independen dan komiteaudit. Keanggotaan komite audit sekurangkurangnya tiga anggota dan seorang di antaranyakomisaris independen
perusahaan tercatat sekaligus menjadi ketua komite (Suarayana, 2006).
Sebaliknya, pihak lainadalah pihak ekstern yang independen dan sekurangkurangnya salah seorang memilikikemampuan di bidang akuntansi dan
keuangan (Suarayana, 2006).
Komite audit bertugas membantu dewan komisaris untuk memonitor
proses pelaporan keuangan oleh manajemen untuk meningkatkan kredibilitas
laporan keuangan (Bradbury et al. 2004 dalam Suarayana, 2006). Tugas komite
audit meliputi menelaah kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan,
menilai pengendalian internal, menelaah sistem pelaporan eksternal dan
kepatuhan terhadap peraturan. Di dalam pelaksanaan tugasnya komite
menyediakan komunikasi formal antara dewan, manajemen, auditor eksternal,
dan auditor internal (Bradbury et al., 2004 dalam Suarayana, 2006). Adanya
komunikasi formal antara komite audit, auditor internal, dan auditor eksternal
akan menjamin proses audit internal dan eksternal dilakukan dengan baik.
Proses audit internal dan eksternal yang baik akan meningkatkan akurasi
laporan keuangan dan kemudian meningkatkan kepercayaan terhadap laporan
keuangan (Anderson et al., 2003 dalam Suarayana, 2006).
B. PENURUNAN HIPOTESIS
1. Pengaruh jumlah anggota dewan komisaris terhadap tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konvergensi IFRS
Inti dari corporate governance Indonesia ada pada dewan komisaris
karena tugas utama dewan komisaris adalah mengawasi dan mengevaluasi
pembuatan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan tersebut oleh dewan direksi
serta memberi nasehat kepada dewan direksi (Muntoro, 2005 dalam
Prawinandi dkk., 2012). Menurut Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang
Perseroan Terbatas, jumlah minimal anggota dewan komisaris adalah 1 orang.
Di Australia menunjukkan bahwa jumlah anggota dewan komisaris
berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan pengungkapan IFRS (Kent dan
12
Stewart, 2008 dalam Prawinandi dkk., 2012). Erik dan Anete (2005) dalam
Yuendkk. (2009) berpendapat bahwa pemegang saham pengendali mungkin
akan kurang tergantung pada transparansi dan pengungkapan informasi, dan
mereka mendapatkan informasi secara langsung dari saluran informal. Hasil
penelitian Al-Akra et al. (2010) di Aman menunjukkan bahwa jumlah anggota
dewan
komisaris
berpengaruh
positif
terhadap
tingkat
kepatuhan
pengungkapan wajib IFRS. Hasil penelitian Prawinandi (2012), jumlah anggota
dewan komisaris tidak berpengaruh tingkat kepatuhan Mandatory Disclosure
konfergensiIFRS.
Peran anggota dewan komisaris adalah dalam mengawasi dan
mengevaluasi pembuatan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan. Semakin besar
proporsi jumlah anggota dewan komisaris diharapkan tindak kecurangan akan
semakin sedikit dan dapat meningkatkan kepatuhan Mandatory Disclosure
konfergensiIFRS,
karena
besarnya
jumlah
anggota
dewan
komisaris
memungkinkan perusahaan tidak didominasi oleh pihak manajemen dalam
menjalankan
perannya.
Berdasarkan
uraian
di
atas,
hipotesis
yang
dikembangkan adalah
H1 :Jumlah anggota dewan komisaris berpengaruh positif terhadap
tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
2. Pengaruh Proporsi komisaris independen terhadap tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konvergensi IFRS
Komisaris Independen adalah anggota dewankomisaris yang tidak
terafiliasi dengan direksi, anggota dewan komisaris lainnya dan pemegang
saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya
yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen atau
bertindak semata-mata demi kepentinga perusahaan. Komisaris independen
adalah komisaris yang berasal dari luar perusahaan (Suhardjanto dan Afni,
2009 dalam Prawinandi dkk.,2012). Keberadaan komisaris independen telah
diatur dalam Kep-305/BEJ/07-2004 yang mengatur agar perusahaan yang listed
di bursa mempunyai komisaris independen minimal 30% dari jumlah anggota
dewan komisaris. Kriteria komisaris independen di Indonesia diambil dari
13
kriteria otoritas bursa efek Australia tentang outside directors, dimana kriteria
tersebut menekankan tentang pentingnya independensi dalam dewan komisaris
(FCGI, 2001 dalam Prawinandi dkk., 2012).
Dengan makin besarnya proporsi komisaris independen maka proses
pengawasan yang dilakukan dewan ini makin berkualitas dengan makin
banyaknya pihak independen dalam perusahaan yang menuntut adanya
transparansi dalam pelaporan keuangan perusahaan (Nasution dan Setiawan,
2007 dalam Prawinandi dkk.,2012). Komisaris independen harus secara
proaktif mengupayakan agar dewankomisarismelakukanpengawasanterhadap
pelaporan keuangan yang transparan terhadap tingkat kepatuhan mandatory
disclosure konvergensi IFRS.
Proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap tingkat
pengungkapan dalam laporan keuangan (Huafang dan Jianguo 2007 dalam
Prawinandi dkk., 2012). Hasil penelitian Prawinandi (2012), menunjukkan
bahwa proporsi komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap tingkat
pengungkapan dalam laporan keuangan.
Semakin besarnya proporsi komisaris independen maka proses
pengawasan yang dilakukan dewan ini makin berkualitas dengan makin
banyaknya pihak independen dalam perusahaan yang menuntut adanya
transparansi dalam pelaporan keuangan perusahaan, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan kepatuhanmandatory disclosure konvegensi IFRS. Berdasarkan
uraian di atas, hipotesis yang dikembangkan adalah:
H2:Proporsi komisaris independen berpengaruh positif terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
3. Pengaruh Latar belakang pendidikan komisaris utama terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
Istilah menurut BPS direktur utama adalah orang yang berwenang
merumuskan dan menetapkan suatu kebijaksanaan dan program umum
perusahaan, atau organisasi sesuai dengan batas wewenang yang diberikan oleh
suatu badan pengurus atau badan pimpinan yang serupa seperti dewan
komisaris. Suhardjanto dan Afni (2009) menjelaskan bahwa latar belakang
14
pendidikan komisaris utama akan mempengaruhi keputusan dan masukan yang
diberikan kepada dewan direksi. Salah satu keputusan yang dibuat oleh dewan
direksi adalah keputusan tentang mandatory disclosure yang akan dilakukan
oleh perusahaan. Penelitian Suhardjanto dan Afni (2009) dalam Prawinandi
dkk (2012) di Indonesia menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan dewan
komisaris merupakan faktor yang menentukan social disclosure dalam annual
report perusahan.
Hasil penelitian Prawinandi (2012),dimana hasilnya menunjukkan bahwa
bahwa latar belakang pendidikan komisaris utama tidak mempengaruhi
mandatory disclosure Konfegensi IFRS. Komisaris utama yang memiliki latar
belakang pendidikan ekonomi dan bisnis diharapkan lebih memahami tentang
pengelolaan perusahaan dan pengambilan keputusan bisnis, sehingga
diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan mandatory disclosure Konfegensi
IFRS (Prawinandi dkk., 2012). Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang
dikembangkan adalah:
H3:Latar belakang pendidikan komisaris utama berpengaruh terhadap
tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
4. Pengaruh jumlah rapat dewan komisaris terhadap tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konvergensi IFRS
Tingkat pengungkapan wajib sangat di pengaruhi oleh jumlah rapat dewan
komisaris. Jika jumlah rapat dewan komisaris setiap periodenya sedikit maka
akan berdampak pada berkurangnya pengawasan dan pelaporan atas
pengungkapan mandatory disclosurekonfergensi IFRS. Selain itu, dengan
seringnya
mengadakan
pertemuan
akan
meningkatkan
kepatuhan
pengungkapan.
Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Xie et al.
(2003) dalam Waryanto (2010) yang menemukan bahwa semakin sering dewan
komisaris mengadakan rapat, maka fungsi pengawasan semakin efektif
sehingga pengungkapan 73 yang dilakukan perusahaan akan semakin
luas.Dengan bahwa semakin banyak rapat yang diselenggarakan dewan
komisaris akan meningkatkan kinerjanya. Hal tersebut berdampak terhadap
15
peningkatan pengungkapan informasi oleh dewan komisaris terkait dengan
pengungkapan mandatory disclosurekonvergensi IFRS.
H4: Jumlah rapat dewan komisaris berpengaruh positif terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
5
Pengaruh Jumlah anggota komite audit terhadap tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konvergensi IFRS
FCGI (2001) dalam Prawinandi dkk., (2012) menjelaskan bahwa agar
dapat menjalankan fungsinya di tengah lingkungan bisnis yang kompleks
dengan baik, dewan komisaris perlu membentuk komite-komite yang
membantunya menjalankan tugas, salah satunya adalah komite audit. SE03/PM/2000 mewajibkan semua perusahaan publik untuk memiliki komite
audit.
Kep-29/PM/2004 menjelaskan bahwa tugas komite audit adalah memberi
pendapat kepada dewan komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang
disampaikan oleh dewan direksi kepada dewan komisaris, mengidentifikasi
hal-hal yang memerlukan perhatian komisaris dan melaksanakan tugas-tugas
lain yang berkaitan dengan tugas dewan komisaris. Penelitian Kent dan Stewart
(2008) dalam Prawinandi dkk., (2012) di Australia menunjukkan bahwa jumlah
anggota komite audit mempengaruhi kualitas pengungkapan dalam laporan
keuangan yang disusun berdasarkan IFRS, dimana di dalamnya termasuk
mandatory disclosurekonfergensi IFRS.
Hasil penelitian Al-Akra et al. (2010) dalam Prawinandi dkk., (2012) di
Yordania menunjukkan bahwa jumlah komite audit merupakan faktor yang
berpengaruh positif terhadap kepatuhan pengungkapan wajib IFRS. Hasil
penelitian Prawinandi (2012),menunjukkan bahwa jumlah anggota komite
audit berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan, dimana kualitas tersebut
diukur melalui pengungkapan yang dilakukan oleh perusahaan dalam laporan
keuangannya.
Jumlah komite audit yang bertugas menelaah kebijakan akuntansi yang
diterapkan oleh perusahaan, menilai pengendalian internal, menelaah sistem
pelaporan eksternal dan kepatuhan terhadap peraturan, sehingga diharapkan
16
dapat meningkatkan kepatuhanmandatory disclosure konvergensi IFRS.
Berdasarkan uraian di atas, hipotesis yang dikembangkan adalah:
H5: Jumlah anggota komite audit berpengaruh positif terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
III. METODE PENELITIAN
A. Objek/Subyek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI). Periode penelitian mencakup data pada tahun
2012-2013. Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak
pada bidang manufaktur.
B. Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder. Data
sekunder yang digunakan dalam penelitian ini diambil dalam annual
report perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2011-2012.
C. Teknik Pengambilan Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI dan memiliki kreteria tertentu. Metode pengambilan
sampel yang digunakan adalah purposive sampling.
D. Teknik Pengumpulan Data
Data dikumpulkan menggunakan penelusuran data sekunder
melalui
metode
dokumentasi.
Dokumentasi
dilakukan
dengan
menggunakan sumber-sumber data dokumenter seperti laporan tahunan
dan summary of financial statement perusahaan yang menjadi sampel
penelitian.
E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
1. Variabel Dependen (tingkat kepatuhan mandaroty disclosure
konfergensi IFRS)
Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini adalah
tingkat kepatuhan mandatory disclosure konfergensi IFRS. mandatory
disclosure
dapat
diartikan
Pengungkapan
yang
bersifat
wajib
17
(mandatory) yaitu pengungkapan informasi yang wajib dilakukan oleh
perusahaan yang didasarkan pada peraturan atau standar tertentu.
Identifikasi item pengungkapan menggunakan cheklist BAPEPAM LK
2013. Item-item yang dipilih dari checklist ini disesuaikan dengan PSAK
yang berlaku di Indonesia yang wajib diterapkan untuk perusahaan
manufaktur yang sudah konfergensi IFRS.
Pengungkapan wajib diukur dengan menggunakan teknik
dikotomis, yakni jika item tersebut dapat diterapkan (applicable) dalam
perusahaan dan diungkapkan diberi skor 1 dan jika tidak diungkapkan
diberi skor 0. Tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
dalam penelitian ini diperoleh dengan membagikan total klasifikasi item
tingkat kepatuhan mandatory disclosure perusahaan dengan Jumlah
seluruh kreteria item cheklis pengungkapan yang telah di tetapkan
BAPEPAM LK 2013 yang sudah konfergensi IFRS yaitu 155 item
pengungkapan untuk perusahaan manufaktur. Rumus yang digunakan
untuk menghitung tingkat kepatuhan pengungkapan wajib konvergensi
IFRS ini adalah
MANDSCORE = Total Klasifikasi yang di ungkapkan
X 100%
155
2. Variabel Independen (struktur corporate governance)
a. Jumlah Anggota Dewan Komisaris
Jumlah anggota dewan komisaris adalah banyaknya anggota
dewan komisaris dalam suatu perusahaan (Ujiyantho dan Pramuka,
2007 dalam Prawinandi dkk., 2012). Jumlah anggota dewan komisaris
diukur dengan jumlah komisaris dari pihak yang terafiliasi (memiliki
hubungan, salah satunya pihak internal perusahaan) dan tidak
terafiliasi (tidak memiliki hubungan) dengan perusahaan (KNKG,
2006 dalam Prawinandi., 2012). Cara mengukur anggota dewan
komisaris dengan menjumlah total anggota dewan komisaris.
18
b. Proporsi Komisaris Independen
Proporsi komisaris independen adalah perbandingan jumlah
anggota dewan komisaris yang berasal dari luar perusahaan (tidak
terafiliasi) dengan jumlah seluruh anggota dewan komisaris (Haniffa
dan Cooke, 2005 dalam Prawinandi dkk., 2012), dimana ukuran yang
digunakan oleh Haniffa dan Cooke (2005) dalam Prawinandi dkk.,
(2012) adalah dengan membagi jumlah anggota komisaris yang
berasal dari luar perusahaan dengan jumlah keseluruhan anggota
dewan komisaris.
Jumlah anggota dewan komisaris independen
JADK =
Jumlah seluruh anggota komisaris
c. Latar Belakang Pendidikan Komisaris
Latar belakang pendidikan komisaris utama adalah latar
belakang pendidikan ekonomi dan bisnis yang dimiliki oleh komisaris
utama (Suhardjanto dan Afni, 2009 dalam Prawinandi dkk., 2012).
Latar belakang pendidikan ini diukur dengan variabel dummy, dimana
jika komisaris utama memiliki latar belakang pendidikan ekonomi
atau bisnis diberi kode 1, selain ekonomi atau bisnis diberi kode 0
(Suhardjanto dan Miranti, 2009 dalam Prawinandi dkk., 2012).
d. Jumlah Rapat Dewan komisaris
Tingkat pengungkapan wajib sangat di pengaruhi oleh
jumlah rapat dewan komisaris. Jika jumlah rapat dewan komisaris
setiap periodenya sedikit maka akan berdampak pada berkurangnya
pengawasan dan pelaporan atas pengungkapan mandatory disclosure.
Jumlah rapat dewan komisaris dalam penelitian ini di ukur dengan
menjumlah seluruh rapat yang diselenggarakan selama satu periode.
e. Jumlah Anggota Komite Audit
Komite audit adalah komite yang bertugas membantu
dewan komisaris untuk memastikan bahwa laporan keuangan
19
disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum, struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan
dengan
baik,
pelaksanaan
audit
internal
maupun
eksternal
dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku, dan tindak
lanjut temuan hasil audit dilaksanakan oleh manajemen (BAPEPAMLK, 2010 dalam Prawinandi dkk., 2012). Ukuran yang digunakan
dalam penelitian ini adalah jumlah anggota komite audit dalam
perusahaan (Zaluki dan Husin, 2009 dalam Prawinandi dkk., 2012).
3. Variabel Kontrol
a. Jumlah Anggota Dewan Direksi
Menurut KNKG (2006) dalam Prawinandi dkk., (2012), direksi
adalah organ perusahaan yang bertugas dan bertanggung jawab secara
kolegial dalam mengelola perusahaan dan mengambil keputusan
strategis dalam perusahaan. Jumlah anggota dewan direksi diukur dari
banyaknya anggota direksi masing-masing perusahaan, sesuai yang
digunakan penelitian Suhartini (2006) dalam Prawinandi dkk., (2012).
b. Profitabilitas
Profitabilitas digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan
(Apostolou dan Nanopoulos, 2009 dalam Prawinandi dkk., 2012).
Profitabilitas diukur dengan membandingkan pendapatan setelah pajak
dengan total ekuitas (Fekete et al., 2009 dalam Prawinandi dkk.,
2012). Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam
memperoleh laba pada periode tertentu (Nurkhin, 2009 dalam Utami
dkk., 2012).
c. Leverage
Leverage adalah rasio utang terhadap ekuitas perusahaan
(Sejjaaka, 2004 dalam Prawinandi dkk., 2012). Leverage merupakan
pengukur besarnya aktiva yang dibiayai dengan utang. Indikator yang
digunakan dalam penelitian ini sesuai dengan Haniffa dan Cooke
20
(2005), Suhardjanto dan Miranti (2009) dalam Utami dkk., 2012 yaitu
menggunakan rasio utang terhadap modal sendiri. Leverage diukur
dengan membandingkan total utang dengan total ekuitas perusahaan
(Lama et al., 2010 dalam Prawinandi dkk., 2012).
IV. HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS
A. Gambaran Umum Obyek Penelitian
Perusahaan yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah
perusahaan manufakturgo public yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia
(BEI) pada tahun 2012 sampai 2013. Berdasarkan metode purposive sampling
diperoleh 117 perusahaan manufaktur yang memenuhi kriteria. Berikut
perincian proses pengambilan sampel dapat dilihat pada tabel 1 :
TABEL 1
Proses Pengambilan Sampel
Keterangan
Perusahaan manufaktur yang tedaftar di BEI
2011
132
2012
143
Perusahaan yang tidak memiliki Laporan tahunan
(annualreport) atau Laporan Keuangan
Perusahaan yang tidak memenuhi kriteria sampel
Jumlah sampel per-tahun
Jumlah seluruh sampel
(36)
(40)
(43)
53
(39)
64
117
B. Uji Statistik Deskriptif
Adapun deskriptif disajikan dalam tabel berikut : Tabel 2 memberikan gambaran
statistik deskriptif pada setiap variabel penelitian. Jumlah dalam penelitian ini
adalah 117 sampel.
21
TABEL 2
Satistik Deskriptif
Descriptive Statistics
N
Mandatory Disclosure
Jumlah Anggota dewan
Komis aris
Proporsi Dewan
Komis aris Independen
Latar Bekang
Komis aris Utama
Jumlah Rapat Dewan
Komis aris
Jumlah Komite Audit
Jumlah Anggota
Dewan direksi
Prifitabilitas
Laverage
Valid N (listwise)
117
Minimum
,75
Maximum
,99
Sum
103,52
Mean
,8848
Std. Deviation
,05519
117
2
10
493
4,21
1,771
115
,00
1,00
46,49
,4043
,12379
117
0
1
62
,53
,501
117
1
43
578
4,94
4,962
116
2
7
359
3,09
,543
117
2
13
572
4,89
2,177
117
117
114
-443,71
-44,71
121,90
13,50
1191,91
72,52
10,1873
,6198
48,37912
4,49028
Sumber: Output SPSS
C. Uji Asumsi Klasik
1. Uji Normalitas
Hasil pengujian normalitas disajikan pada tabel 3:
TABEL 3
Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
N
Normal Parameters a,b
Most Extreme
Differences
Mean
Std. Deviation
Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
As ymp. Sig. (2-tailed)
Unstandardiz
ed Res idual
114
,0000000
,05350360
,058
,035
-,058
,617
,840
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Nilai Asymp. Sig (2-tailed) yang diperoleh melalui uji one-sample
kolmogorov-smirnov (KS) sebesar 0,840 menunjukkan lebih besar dari α
(0,05), maka dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal.
22
2. Uji Multikolinearitas
Hasil uji multikoliniearitas menggunakan metode variance inflation
factors (VIF) disajikan pada tabel 4:
TABEL 4
Hasil Uji Multikolinieritas
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
Jumlah Anggota dewan
Komisaris
Proporsi Dewan
Komisaris Independen
Latar Bekang
Komisaris Utama
Jumlah Rapat Dewan
Komisaris
Jumlah Komite Audit
Jumlah Anggota
Dewan direksi
Prifitabilitas
Laverage
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
,866
,036
Standardized
Coefficients
Beta
t
23,890
Sig.
,000
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
-,002
,004
-,070
-,598
,551
,645
1,549
,011
,045
,026
,253
,801
,857
1,167
,000
,011
-,003
-,026
,979
,937
1,068
,001
,001
,107
1,113
,268
,952
1,050
-,003
,010
-,033
-,332
,741
,919
1,088
,007
,003
,268
2,262
,026
,630
1,587
-8,9E-005
-,004
,000
,003
-,038
-,102
-,372
-1,060
,710
,291
,856
,953
1,168
1,049
a. Dependent Variable: Mandatory Disclosure
sumber Output Spss
Tabel 4 menunjukkan nilai tolerance menunjukkan semua variabel
independen dalam penelitian ini lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF
(Variance Inflation Factor) untuk semua variabel kurang dari 10. Jadi dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas dalam penelitian.
3. Uji Heteroskedastisitas
Hasil uji glejser menunjukkan tidak satupun variabel bebas yang
signifikan secara statistik mempengaruhi variabel terikat.Hal ini terlihat dari
tingkat probabilitas signifikansi di atas 0,05.Jadi dapat disimpulkan bahwa
tidak terjadi heteroskedastisitas. Hasil uji heteroskedastisitas dengan
menggunakan metode glejtser disajikan pada tabel 5.
23
TABEL 5
Hasil uji Heteroskedastisitas
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
Jumlah Anggota dewan
Komisaris
Proporsi Dewan
Komisaris Independen
Latar Bekang
Komisaris Utama
Jumlah Rapat Dewan
Komisaris
Jumlah Komite Audit
Jumlah Anggota
Dewan direksi
Prifitabilitas
Laverage
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
,089
,022
Standardized
Coefficients
Beta
t
4,065
Sig.
,000
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
,002
,002
,127
1,091
,278
,634
1,577
-,044
,026
-,166
-1,658
,100
,855
1,170
-,007
,006
-,114
-1,196
,234
,936
1,068
-,001
,001
-,149
-1,574
,118
,958
1,044
-,001
,006
-,024
-,249
,804
,925
1,081
-,015
,009
-,198
-1,692
,094
,621
1,609
-6,1E-005
-,002
,000
,002
-,044
-,082
-,441
-,863
,660
,390
,855
,950
1,169
1,053
a. Dependent Variable: Abs Ut
Sumber Output Spss
.
4. Uji Autokorelasi
Hasil uji autokorelasi dengan menggunakan uji autokorelasi dilakukan
dengan menggunakan uji Durbin-Watson (D-W), disajikan pada tabel 6:
TABEL 6
Hasil Uji Autokorelasi
Model Summaryb
Model
1
R
,270a
R Square
,073
Adjusted
R Square
,003
Std. Error of
the Estimate
,05550
DurbinWatson
1,163
a. Predictors: (Constant), Laverage, Jumlah Anggota dewan Komisaris ,
Latar Bekang Komis aris Utama, Jumlah Rapat Dewan Komisaris,
Proporsi Dewan Komisaris Independen, Jumlah Komite Audit,
Prifitabilitas , Jumlah Anggota Dewan direksi
b. Dependent Variable: Mandatory Disclosure
Dari tabel diatas pada model persamaan menunjukan bahwa nilai sebasar
1,163 pada daerah D-W diantara -2 sampai dengan +2, berarti model regresi tidak
terjadi autokorelasi.
24
D. Uji Hipotesis
1. Uji Pengaruh Simultan (Uji Nilai F)
Berdasarkan tabel 7 diperoleh nilai signifikansi (0,414) > alpha (0,05)
yang artinya tidak terdapat pengaruh secara bersama-sama variabel independen
dalam hal ini jumlah anggota dewan komisaris, proporsi komisaris independen,
latarbelakang komisaris utama, jumlah anggota dewan komisaris, jumlah dewan
direksi, profitabilitas, dan leverage terhadap variabel dependen yaitu kepatuhan
pengungkapan mandatory disclosure konfergensi IFRS.
TABEL 7
Hasil Uji Nilai F
ANOVAb
Model
1
Regres sion
Residual
Total
Sum of
Squares
,026
,323
,349
df
8
105
113
Mean Square
,003
,003
F
1,036
Sig.
,414a
a. Predictors: (Constant), Laverage, Jumlah Anggota dewan Komisaris, Latar Bekang
Komisaris Utama, Jumlah Rapat Dewan Komis aris , Propors i Dewan Komisaris
Independen, Jumlah Komite Audit, Prifitabilitas , Jumlah Anggota Dewan direks i
b. Dependent Variable: Mandatory Disclosure
2. Uji Parsial (Uji Nilai t)
Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan alat analisis regresi
linear berganda diperoleh hasil seperti yang tampak pada tabel 8.
Dari tabel 8 dibawah ini dapat dirumuskan persamaan regresi sebagai berikut:
MANDSCORE = 0,866 – 0,002(JADK) + 0,011(PDKI) + 0,000(LBKU) +
0,001 (JRDK) + (-0,003) (JAKA) + 0,007 (JADD) + (-89E0,005) (prof) + (-0,004) (lev) + e
25
TABEL 8
Hasil Uji Nilai t
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
Jumlah Anggota dewan
Komisaris
Proporsi Dewan
Komisaris Independen
Latar Bekang
Komisaris Utama
Jumlah Rapat Dewan
Komisaris
Jumlah Komite Audit
Jumlah Anggota
Dewan direksi
Prifitabilitas
Laverage
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
,866
,036
Standardized
Coefficients
Beta
t
23,890
Sig.
,000
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
-,002
,004
-,070
-,598
,551
,645
1,549
,011
,045
,026
,253
,801
,857
1,167
,000
,011
-,003
-,026
,979
,937
1,068
,001
,001
,107
1,113
,268
,952
1,050
-,003
,010
-,033
-,332
,741
,919
1,088
,007
,003
,268
2,262
,026
,630
1,587
-8,9E-005
-,004
,000
,003
-,038
-,102
-,372
-1,060
,710
,291
,856
,953
1,168
1,049
a. Dependent Variable: Mandatory Disclosure
sumber Output Spss
Hasil pengujian terhadap hipotesis-hipotesis penelitian adalah sebagai berikut:
a. Jumlah anggota dewan komisaris terhadap tingkat pengungkapan mandatory
disclosure kovergensi IFRS
Variabel jumlah anggota dewan komisaris memiliki nilai koefisien
regresi sebesar -0,002 dengan signifikansi sebesar 0,551 > alpha (0,05)
sehingga jumlah anggota dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap tingkat
pengungkapan mandatory disclosure kovergensi IFRS. Dengan demikian
hipotesis satu ditolak.
b. Proporsi dewan komisaris berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure kovergensi IFRS
Variabel proporsi dewan komisaris memiliki nilai koefisien regresi sebesar
0,011 dengan signifikasi sebesar 0,801> alpa (0,05) sehingga proporsi dewan
komisaris tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan mandatory
disclosure kovergensi IFRS. Dengan demikian hipotesis kedua ditolak.
c. Latar belakang pendidikan komisaris terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure kovergensi IFRS
Variabel latar belakang pendidikan komisaris utama memiliki nilai
koefisien regresi sebesar 0,000 dengan signifikasi sebesar 0,979 > alpa (0,05)
26
sehingga latar belakang pendidikan komisaris utama tidak berpengaruh
terhadap tingkat pengungkapan mandatory disclosure kovergensi IFRS.
Dengan demikian hipotesis ketiga ditolak.
d. Jumlah rapat dewan komisaris terhadap tingkat pengungkapan mandatory
disclosure kovergensi IFRS
Variabel jumlah rapat dewan komisaris memiliki nilai koefisien regresi
sebesar 0,001 dengan signifikasi sebesar 0,268> alpa (0,05) sehingga jumlah
rapat dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure kovergensi IFRS. Dengan demikian hipotesis keempat
ditolaK.
e. Jumlah anggota komite auditterhadap tingkat pengungkapan mandatory
disclosure kovergensi IFRS
Variabel jumlah anggota komite audit mimiliki nilai koefisien regresi
sebesar -0,003 dengan signifikasi sebesar 0,741 > alpa (0,05) sehingga jumlah
anggota komite audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure kovergensi IFRS. Dengan demikian hipotesis satu
ditolak.
f. Veriabel Kontrol jumlah anggota dewan direksi
Variabel jumlah anggota dewan direksi memiliki nilai koefisien regresi
sebesar 0,007 dengan signifikasi sebesar 0,026 < alpa (0,05) sehingga jumlah
anggota dewan direksi berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan mandatory
disclosure kovergensi IFRS.
g. Variabel kontrol profitabilitas
Variabel profitabilitas memiliki nilai koefisien regresi sebesar -8,9E-0,005
dengan signifikasi sebesar 0,856 > alpa (0,05) sehingga variabel provitabilitas
tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan mandatory disclosure
kovergensi IFRS.
h. Variabel kontrol leverage
Variabel leverage memiliki nilai koefisien regresi sebesar -0,004 dengan
signifikasi sebesar 0,953 > alpa (0,05) sehingga leverage tidak berpengaruh
terhadap tingkat pengungkapan mandatory disclosure kovergensi IFRS.
27
3. Koefisien Determinasi (Adjusted R2)
TABEL 9
Hasil Uji Determinasi
Model Summaryb
Model
1
R
,270a
R Square
,073
Adjusted
R Square
,003
Std. Error of
the Estimate
,05550
DurbinWatson
1,163
a. Predictors: (Constant), Laverage, Jumlah Anggota dewan Komisaris ,
Latar Bekang Komis aris Utama, Jumlah Rapat Dewan Komisaris,
Proporsi Dewan Komisaris Independen, Jumlah Komite Audit,
Prifitabilitas , Jumlah Anggota Dewan direksi
b. Dependent Variable: Mandatory Disclosure
Dari hasil tabel tersebut diketahui bahwa nilai adjusted R2sebesar 0,003
atau 3%. Hal ini menunjukkan bahwa variabel dependen tingkat kepatuhan
mandatory disclosure konfergensi IFRS dapat dijelaskan sebesar 0,3% oleh
variabel-varibel independen yaitu jumlah anggota dewan komisaris, proporsi
komisaris independen, latar belakang pendidikan komisaris, jumlah rapat dewan
komisaris, dan jumlah anggota komite audit.resiko. sedangkan sisanya sebesar
99,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti.
E. Pembahasan
Penelitian ini menguji pengaruh jumlah anggota dewan komisaris,
proporsi komisaris independen, latar belakang komisaris utama, jumlah rapat
dewan komisaris, dan jumlah anggota komite audit. Dan variabel kontrol dalam
penelitian ini adalah profitabilitas, leverage dan jumlah anggota dewan direksi.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan menunjukan bahwa semua variabel
independen tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan mandatory
disclosure konvergensi IFRS. Sedangkan dalam penelitian ini menunjukkan satu
variabel kontrol yang berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan mandatory
disclosure konvergensi IFRS. Variabel kontrol yang berpengaruh signifikan
terhadap terhadap tingkat pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS
adalah jumlah anggota dewan direksi.
28
1. Pengaruh jumlah anggota dewan komisaris terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure konvergensi IFRS
Hasil pengujian hipotesis pertama membuktikan bahwa jumlah
anggota dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure konvergensi IFRS. Penolakan hipotesis pertama ini
mengidikasikan bahwa jumlah anggota dewan komisaris yang terlalu besar
akan membuat proses mencari kesepakatan dan pengambilan
keputusan
menjadi sulit, panjang dan bertele-tele, sedangkan jumlah anggota yang
kecil menyebabkan dewan komisaris tidak dapat memberikan tekanan
kepada
dewan direksi (Muntoro, 2005 dalam prawinandi dkk, 2012)
sehingga tidak dapat mendorong perusahaan untuk mengungkapkan informasi
wajib yang lebih memadai.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
prawindandi dkk (2012), Al-Akra et al. (2010). Namun, hasil penelitian ini
bertentangan dengan Suhardjanto,dkk (2010) menunjukkan bahwa jumlah
anggota dewan komisaris bepengaruh terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure konvergensi IFRS.
2. Pengaruh proporsi komisaris independen terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure konvergensi IFRS
Hasil pengujian hipotesis kedua menunjukkan bahwa proporsi
komisaris independen tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure konvergensi IFRS. Hal ini mengidentifikasikan bahwa
proporsi yang di tetapkan untuk komisaris independen dengan ketentuan
minimum dewan komisaris independen sebesar 30% belum cukup tinggi
untuk membuat komisaris independen tersebut mendominasi kebijakan
yang diambil oleh dewan komisaris dalam mengawasi dan mengevaluasi
pembuatan kebijakan pembuatan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan, yang
diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan mandatory disclosurekonvergensi
IFRS. Jika komisaris independen merupakan pihak mayoritas dalam
jumlah anggota dewan komisaris (>50%) mungkin dapat lebih efektif
dalam memonitor perusahaan.
29
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
Utama dkk (2012). Akan tetapi berlawanan dengan penelitian Prawidandi dkk
(2012) yang menyatakan proporsi dewan komisaris independen berpengaruh
terhadap tingkat pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS.
3. Pengaruh latar belakang pendidikan komisaris utama terhadap tingkat
pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS
Hasil pengujian hipotesis ketiga menunjukkan bahwa latar belakang
pendidikan
komisaris
utama
tidak
berpengaruh
terhadap
tingkat
pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Penolakan hipotesis
ini disebabkan karena bidang latar belakang pendidikan yang digunakan
dalam penelitian ini hanya
ekonomi
dan
bisnis. Dimana
terdapat
kemungkinan bahwa latar belakang pendidikan komisaris utama yang
sesuai dengan jenis usaha perusahaan dapat yang dapat menunjang
kelangsungan bisnis lebih diperlukan dalam perusahaan. Selain itu, keahlian
dan kemampuan seseorang tidak hanya dilihat dari latar belakang
pendidikannya saja, tapi juga dilihat dari sejauh mana pengalaman yang telah
ia dapat.
Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh
prawinandi dkk (2012) dan Kumala (2012) yang menyatakan latar belakang
pendidikan komisaris utama tidak berpengaruh positif terhadap tingkat
pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS.
4. Pengaruh jumlah rapat dewan komisaris terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure konvergensi IFRS.
Hasil pengujian hipotesis keempat menunjukkan bahwa jumlah rapat
dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan
mandatory disclosure konvergensi IFRS. Hal ini mengidentifikasikan
kesadaran
perusahaan
untuk
melakukan
pengungkapan
wajib
yang
konfergensi dengan IFRS bukan berdasarkan tinggi rendahnya intensutas
rapat dewan komisaris. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tinggi
rendahnya intensitas rapat dewan komisaris bukan pertimbangan untuk
tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. Selain itu,
30
seringkali terdapat seorang atau lebih
jalannya
rapat
kelompoknya
dan
hanya
sehingga
komisaris
mementingkan
mengesampingkan
yang
mendominasi
kepentingan pribadi
kepentingan
atau
perusahaan,
padahal proses rapat sangat penting dalam menentukan efektivitas dewan
komisaris (Muntoro, 2006 dalam Utami dkk, 2012).
Penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Utami
dkk, (2012) yang mengatakanjumlah rapat dewan komiaris utama tidak
berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan mandatory disclosure
konvergensi IFRS
5. Pengaruh jumlah komite audit terhadap tingkat pengungkapan mandatory
disclosure konvergensi IFRS.
Hasil pengujian hipotesis kelima menunjukkan bahwa jumlah komite
audit tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan Mandatory
disclosure konvergensi IFRS.Penolakan hipotesis pertama ini mengidikasikan
bahwa jumlah anggota komite audit yang terlalu besar akan Jika jumlah
anggota komite audit terlalu besar maka komunikasi dan koordinasi
dalam komite audit menjadi sulit dilakukan sehingga tugas pemeriksaan
dan pengawasan yang dilakukan komite audit untuk membantu dewan
komisaris menjadi kurang
efektif sehingga tidak dapat mendorong
manajemen untuk melakukan mandatory disclosure konvergensi IFRS yang
lebih
tinggi. Sedangkan jumlah
anggota
yang
kecil
dianggap
kurangefektif, aktif dan dinamis.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh
Suhardjanto dkk, (2010) mengatakan jumlah anggota komite tidak
berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan mandatory disclosure
konvergensi IFRS.
6. Pengaruh variabel kontrol jumlah anggota dewan direksi, profitabilitas,
leverage terhadap tingkat pengungkapan Mandatory disclosure konvergensi
IFRS.
Hasil pengujian hipotesis terhadap varibel kontrol pertama yaitu
jumlah anggota dewan direksi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
31
terhadap tingkat pengungkapan mandatory disclosure konvergensi IFRS.
Dikarenakan peran dewan direksi yang sangat tinggi dalam perusahaan yang
bertangungjawab dalam pengelolaan purusahaan dan pengambilan keputusan
strategis. Semakin tinggi jumlah anggota dewan direksi maka pengambilan
keputusan dan kebijakan dalam perusahaan akan semakin tinggi terhadap
tingkat mandatory disclosure konvergensi IFRS.
Variabel kontrol kedua profitabilitas tidak berpengaruh pengaruh
terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS. karena
adanya budaya yang bekembang di Indonesia, yang menganggap bahwa
praktik corporate governance adalah suatu bentuk kepatuhan terhadap
peraturan dan ketentuan yang berlaku di Indonesia (Mintara, 2008 dalam
prawinandi dkk, 2012). Perusahaan yang berusaha menerapkan corporate
governance dengan baik akan tetap mengungkapkan informasi yang
memadai, tidak peduli apakah profitabilitasnya tinggi atau rendah untuk
memenuhi prinsip-prinsip corporate governance, salah satunya adalah
pengungkapan dan transparansi.
Variabel kontrol ketiga leverage tidak berpengaruh signifikan
terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS.
Dikarenakan jika memiliki leverage tinggi perusahaan akan lebih dimonitor
oleh stakeholders, dimana sebagian perusahaan akan berusaha melakukan
pengungkapan
stakeholders
lebih
(Sejjaka,
tinggi
2004
untuk
dalam
memenuhi
kebutuhan
Prawinandi
dkk,
informasi
2012)
dan
sebagianperusahaan yang lain berusaha untuk mengurangi pengungkapan
informasi agar tidak menjadi sorotan debtholders (Suhardjanto dan Afni,
2009).
V. SIMPULAN, IMPLIKASI DAN KETERBATASAN
A. Simpulan
Berdasarkan analisis dan pengujian dari data dalam penelitian ini,
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
32
1. Jumlah anggota dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
2. Proporsi komisaris independentidak berpengaruh terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
3. Latar belakang pendidikan komisaris utama tidak berpengaruh signifikan
terhadap tingkat kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
4. Jumlah rapat dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
5. Jumlah anggota komite audit tidak berpengaruh terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
6. Jumlah anggota dewan direksi berpengaruh positif terhadap tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRS
7. Profitabilitas tidak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mandatory
disclosure konvergensi IFRS
8. Leverage tidak berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan mandatory
disclosure konvergensi IFRS
B. Saran
Saran yang dapat diberikan peneliti untuk penelitian-penelitian serupa
dimasa yang akan dating adalah sebagai berikut:
1. Melakukan penelitian secara berkelanjutan agar diketahui tingkat
kepatuhan mandatory disclosure konvergensi IFRSdari tahun ke tahun.
2. Memperluas objek penelitian, tidak hany aperusahaan manufaktur tetapi
seluruh perusahaan non-financial.
3. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan pengungkapan
sukarela pada perusahaan.
C. Keterbatasan
1. Jangka waktu periode pengamatan hanya dua tahun dari tahun 2012-2013
sehingga sampel yang digunakan sangat terbatas
.
33
2. Penelitian ini hanya menggunakan objek penelitian dari perusahaan
manufaktur saja sehingga hasil penelitian tidak bias digeneralisir pada tipe
perusahaan lainnya.
3. Variabel-variabel yang digunakan hanya dari sisi perusahaan saja dan
belum menggunakan faktor-faktor luar perusahaan atau factor makro
ekonomi.
Daftar Pustaka
Antonia, Edgina, 2008, “Analisis Pengaruh Reputasi Auditor, Proporsi Dewan
Komisaris Independen, Leverage, Kepemilikan Manajerial Dan
Proporsi Komite Audit Independen Terhadap Manajemen Laba. Pada
Perusahaan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia Periode 2004 – 2006
, Universitas Diponogoro, Semarang.
Cahyati, Ari Dewi, 2011, “Peluang Manajemen Laba Pasca Konvergensi Ifrs:
Sebuah Tinjauan Teoritis Dan Empiris”, Jurnal Keuangan dan
perbankan. Vol.2 No.1.
Darmayasa, 2012, “Konfergensi Internasional Financial Reporting Standards
(IFRS) dan Dampaknya Terhadap Perpajakkan. Jurnal bisnis dan
kewirausahaan. Vol. 8 No.1, hal 11-19.
Effendi, Bahtiar, 2012, “Pengaruh Dewan Komisaris Terhadap Environmental
Disclosure Pada Perusahaan Manufaktur Yang Listing Di Bei Tahun
2008- 2011. Makalah Simposium Nasional Akuntansi XV, Aceh.
Ghozali, 2007, “ Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Semarang,
Badan Penerbit Universitas Diponogoro.
Handayani, Fitri, 2011, “Hubungan antara karakteristik Corporate governance
dan Pengungkapan tanggung jawab Sosial perusahaan (Studi Empiris
pada Perusahaan High Profile yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia)”,. Semarang, Universitas Diponegoro.
Kumala, Idha, 2012, “Pengaruh karakteristik direktur Utama terhadap corporate
social Performance (csp) (studi pada perusahaan yang terdaftar di
bursa efek indonesia 2010)”, Semarang, Universitas Diponogoro.
34
Kartika, Andi, 2009, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kelengkapan
Pengungkapan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”, Kajian Akuntansi, Vol. 1 No. 1,
hal 29-47.
Kharis, Abdul, 2010, “Corporate Governance Dan Ketaatan Pengungkapan Wajib
Terhadap Badan Usaha Milik Negara”, Journal of Accounting
Research.
Nuswandari, Cahyani, 2009, “Pengungkapan Pelaporan Keuangan Dalam
Perspektif Signalling Theory”, Kajian Akuntansi, Vol. 1 No. 1, hal 4857.
Suaryana, Agung, 2004, “Pengaruh Komite Audit Terhadap Kualitas Laba”
Journal of Accounting Research.
Suhardjanto, Djoko, 2010, “Peran Corporate Governance Dalam Praktik Risk
Disclosure Pada Perbankan Indonesia” Journal of Accounting
Research.
Prawinandi, W., Suhardjanto, D., Triatmoko, H., 2012, “Peran struktur corporate
governance dalam tingkat kepatuhan mandatory disclosure
konvergensi IFRS” Makalah Simposium Nasional Akuntansi XV,
Aceh.
Utami, dan Rahmawati, 2008, “Pengaruh Komposis Dewan Komisaris dan
Keberadaan Komite Audit Terhadap Aktifitas Manajemen Laba Pada
Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta”,
Makalah Simposium Nasional Akuntansi, Yogyakarta.
Utami, Suhardjanto, dan Hartoko, 2012, “ Investigasi Dalam Konvergensi Ifrs di
Indonesia: Tingkat Kepatuhan Pengungkapan Wajib Dan Kaitannya
Dengan Mekanisme Corporate Governance,” Makalah Simposium
Nasional Akuntansi XV, Aceh.
Waryanto, 2010, “Pengaruh Karateristik Good Corporate Governance (GCG)
terhadap Luas Pengungkapan Corporate Social Responsibility (CSR)
di Indonesia”, Universitas Diponegoro, Semarang.
35
36
Download