Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masyarakat Petani

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
I.
Judul Penelitian
‘Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Masyarakat Petani dalam Adopsi
Inovasi Teknologi Pertanian System of Rice Intensification (SRI)‟
II.
Alasan Pemilihan Judul
a. Aktualitas
Pembangunan nasional merupakan sebuah langkah yang ditempuh oleh
pemerintah maupun pihak swasta dalam meningkatkan kapasitas masyarakat
Indonesia. Pembangunan nasional tidak hanya berupa pembangunan secara
konvensional melainkan perbaikan kualitas sumber daya yang ada. Kondisi
perekonomian masyarakat Indonesia dapat dikatakan belum para taraf sejahtera.
Khusus kehidupan para petani saat ini, tingkat kesejahteraan petani rendah serta
kemiskinan petani meningkat.Petani merupakan salah satu aktor penting dalam
pengendali pangan rakyat Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah ternyata belum mampu memecahkan masalah serta mengangkat petani
dari kemiskinan.
Sektor pertanian dapat dikatakan survive atau hidup kembali apabila
pendapatan petani telah
meningkat dan kesejahteraannya membaik. Seluruh
energi perlu diarahkan pada peningkatan kesejahteraan petani serta sektor
pertanian dan pedesaan umumnya. Indikator ini memang merupakan perpaduan
1
antara kinerja kuantitatif berupa berkurangnya angka kemiskinan, terutama di
pedesaan dan angka-angka kinerja kualitatif berupa rumusan kebijakan yang
seluruhnya mengacu pada posisi sektor pertanian dalam kebijakan pembangunan
ekonomi. Saat ini terdapat 36 juta penduduk miskin atau 17 % dari total penduduk
Indonesia. Lebih dari 15 juta orang miskin tersebut berada di daerah pedesaan dan
umumnya terlibat atau berhubugan dengan sektor pertanian. Sebagian besar 72
persen dari kelompok petani miskin adalah pertanian pangan (Data BPS,2004).
Kehidupan petani di Indonesia tidak hanya sebatas pada pemenuhan
kebutuhan dasar, melainkan berbagai aspek penting penunjang pertanian. Sistem
pengelolaan pertanian menjadi pilar penting bagi perbaikan kualitas pangan di
Indonesia. Berbagai pakar ahli mulai mencanangkan sebuah inovasi-inovasi baru
yang menunjang sistem produksi pertanian petani demi meningkatkan
produktivitas hasil panen. Penyebaran inovasi terhadap masyarakat itu penting
dan bukan merupakan pekerjaan yang mudah, melainkan membutuhkan proses
panjang yang akhirnya berada pada tahap konsekuensi terhadap penyebaran
inovasi (difusi). Menurut Hanafi (1987), sikap pengambilan keputusan baik
menerima maupun menolak hadirnya inovasi salah satu tahapan yang penting
yang harus dilakukan oleh para agen perubahan.
Penggunaan metode konvensional sudah dianggap mendarah daging
dikehidupan petani kini. Konsumsi pupuk kimia pada pertanian sudah
membelenggu hingga sulit untuk ditinggalkan. Berbagai keuntungan memang
secara langsung didapatkan akan penggunakan pupuk kimia tersebut dari jumlah
kuantitas yang mereka dapatkan jauh lebih banyak serta metode yang diterapkan
2
sangat praktis. Kondisi seperti itulah yang seharusnya dirubah, mengubah pola
pikir petani kini menjadi tanggung jawab semua pihak, tidak hanya tugas
pemerintah melainkan para stakeholder terkait.
Teknologi pertanian muncul sebagai inovasi baru dan alternatif bagi petani
guna memperbaiki kondisi pertanian Indonesia. Metode pertanian organik
dianggap mampu menjawab permasalahan petani dalam upaya peningkatan
produktivitas pertanian. Metode pertanian organik yang saat ini berkembang di
Indonesia adalah metode pertanian System of Rice Intensification (SRI). SRI
merupakan metode pengelolaan padi yang memperhatikan kondisi pertumbuhan
tanaman yang lebih baik, mulai dari zona perakaran sampai hasil panen.
Metode SRI merupakan sebuah inovasi baru dalam teknik budidaya padi
untuk meningkatkan kualitas padi yang baik dan sehat. Awal mula perkembangan
SRI di kembangkan di Madagaskar awal tahun 1980 oleh Henri de Lauline,
seorang pastur jesuit yang lebih dari 30 tahun hidup bersama para petani-petani
disana. Empat tahun kemudian, Cornell International Institution for Good
Agriculture and Development (CIIFAD), mulai bekerja sama dengan Tefy Saina
dalam memperkenalkan SRI di sekitar Ranomafana National Park di Madagaskar
Timur, didukung oleh US Agency for International Development. Hasil
menunjukan positf setelah dilakukan dan diterapkam di sejumlah negara seperti
Cina, India, Indonesia, Filipina, Sri Langka dan Bangladesh. Metode SRI ini
mengembangkan teknik manajemen yang berbeda atas tanaman, taanah, air dan
nutrisi.
3
Tabel 1.1
Perbandingan Pertumbuhan Padi antara Metode Tradisional dengan
Metode SRI.
MetodeTradisional
Rumpun/m2
Tanaman/rumpun
Batang/rumpun
Malai/rumpun
Bulir/malai
Bulir/rumpun
Hasil panen (t/ha)
Kekuataan akar (kg)
Rata-rata
56
3
8,6
7,8
114
824
2,0
28
Kisaran
42-65
2-5
8-9
7-8
101-130
707-992
1,0-3,0
25-32
Metode SRI
Rata-rata
16
1
55
32
181
5,858
7,6
53
Kisaran
10-25
1
44-74
23-49
166-212
3,956-10,388
6,5-8,8
43-69
Keterangan :
Data dalam metode tradisional dihitung dari 5 pecahan lahan di areal yang
berdekatan. Data dalam metode SRI merupakan rata-rata dan kisaran dari 22
plot uji coba (Data diambil dari thesis S2 Joelibarison, 1998 dalam Dawn
Berkelaar, 2001)..
Hasil metode SRI sangat memuaskan (lihat Tabel 1.1).Di Madagaskar,
pada beberapa tanah tak subur yang produksi normalnya 2 ton/ha, petani yang
menggunakan SRI memperoleh hasil panen lebih dari 8 ton/ha, beberapa petani
memperoleh 10 – 15 ton/ha, bahkan ada yang mencapai 20 ton/ha.Sedangkan, di
daerah lain selama 5 tahun, ratusan petani memanen 8-9 ton/ha.
Metode SRI mulai dipelajari oleh petani guna memberikan hasil panen
yang jauh lebih tinggi dengan pemakaian bibit dan input kebutuhan air yang lebih
sedikit dari pada metode yang lebih modern (pemakaian pupuk dan asupan
kimiawi lain).Metode ini mengembangkan teknik manajemen yang berbeda atas
tanaman, tanah, air dan nutrisi. Penggunaan metode SRI tanpa menggunakan
4
bahan kimia, baik dalam proses awal hingga hasil panen menjadi sebuah inovasi
baru dibidang pertanian. Penggunaan metode SRI meningkatkan produktivitas
hasil panen padi yang signifikan, serta memiliki kualitas yang lebih baik menjadi
alasan petani mengadopsi inovasi tersebut.
Munculnya program SRI diharapkan mampu menjadi pendorong bagi para
petani, khususnya di Dusun Watu agar dapat meningkatkan kinerja serta mampu
mengubah pola pikir bertanam sehat untuk mewujudkan pertanian yang selaras
dengan alam (Back to Nature). Tujuan pelaksanaan program tersebut tak lain
untuk memberdayakan para petani dalam mengelola pertanian mereka,
memperbaiki cara bertani, meningkatkan hasil produksi serta mewujudkan
keluarga tani yang sehat dan sejahtera.
b. Orisinalitas
Metode SRI adalah merupakan salah satu metode pertanian yang tidak
baru di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Metode SRI melalui
pertanian organik merupakan salah satu alternatif perbaikan mutu kualitas padi.
Metode SRI ini mulai diterapkan dan menjadi salah satu program andalan CSR
PT. Pertamina Rewulu, untuk mewujudkan pertanian yang selaras dengan alam.
Penerapan metode tersebut sesuai dengan kondisi pertanian di Dusun Watu, Desa
Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul ini secara geografis yang
mampu meningkatkan kualitas pertanian. Melalui program pemberdayaan CSR
PT. Pertamina Rewulu diharapkan para petani memiliki kemandirian dalam
mengelola petanian mereka dengan baik.
5
Setelah peneliti melakukan pencarian terhadapn riset terdahulu, ditemukan
salah satu riset yang terkait dengan kajian peneliti. Seperti jurnal dengan judul
„Persepsi dan Tingkat Adopsi Petani Padi Terhadap Penerapan System of Rice
Intensification (SRI) di Desa Bukit Peninajuan I, Kecamatan Sukaraja,
Kabupaten Seluma‟ oleh Andi Ishak dan Afrizon, Informatika Pertanian (2011).
Penelitian tersebut dapat dijelaskan penulis menggunakan beberapa
variabel bebas dalam mengukur tingkat adopsi inovasi terhadap program (Y)
seperti umur (X1), tingkat pendidikan (X2), luas penguasaan lahan (X3) dan
tingkat pendapatan (X4). Hasil penelitian tersebut ialah persepsi petani terhadap
SRI pada skor „Baik‟ dengan rata-rata skor 92,86 , tingkat adopsi teknologi SRI
sebesar 69,23 % petani mengadopsi teknologi SRI sesuai anjuran, namun dari 6
komponen teknologi hanya jarak tanam dan pengairan yang telah umumnya
diadopsi sesuai anjuran. Sedangkan adopsi petani terhadap teknologi SRI tidak
dipengaruhi oleh variabel bebas.
Tidak jauh berbeda dengan jurnal yang telah diteliti oleh Ridwan,H.K, dkk
(2010) dengan judul ‘Adopsi Inovasi Teknologi Pengelolaan Terpadu
KebunJeruk Sehat (PTKJS) di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur‟. Hasil
penelitian tersebut menunjukan bahwa inovasi teknologi PTKJS dari komponen
teknologi, seperti penggunaan bibit unggul berlabel bebas penyakit, konsolidasi
pengelolaan kebun, dan subkomponen teknologi, seperti penggunaan perangkap
kuning, penyiraman tanah dengan insektisida, penggunaan sex feromon,
pemberongsongan, penyulaman dengan bibit berlabel, pemangkasan, penyiraman
tanaman, dan pemanenan secara benar, tidak diadopsi oleh sebagian besar petani
6
jeruk di Kabupaten Ponorogo. Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Endrit Pou,
dkk (2006) dengan judul penelitian „Tingkat Adopsi Inovasi Petani terhadap
Teknologi Budidaya Jagung Manis (Zea Mays Saccharata Sturt) di Kelurahan
Borongloe, Kecamatan Bontomaranna, Kabupaten Gowa‟. Penelitian yang
dilakukan oleh Endrit ini berfokus pada adopsi petani terhadap komponen yang
ada dalam teknologi budidaya jagung manis. Terlihat hasilnya bahwa tingkat
adopsi inovasi petani untuk penyiapan benih unggul berada pada kategori cukup
(72,96%), penyiapan lahan pada kategori kurang (43,33%), penanaman pada
kategori baik (87,22%), pemeliharaan pada kategori kurang (46,22%).
Perlindungan tanaman pada kategori kurang (45,00%), panen pada kategori baik
(91,11%). Rendahnya tingkat adopsi teknologi disebabkan karena rata-rata tingkat
pendidikan rendah, kurangnya bimbingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan
(PPL), kurangnya modal untuk membiayai usaha taninya, serta kurangnya sumber
infromasi. Untuk meningkatkan tingkat adopsi petani,maka perlu dilakukan
upaya-upaya melalui peningkatan intensitas dan kualitas penyuluhan dengan
metode, teknik dan media yang sesuai dengan kondisi petani.
Penelitian terkait adopsi inovasi juga dilakukan Rudi Priyadi dan Rina
Nuryati (2007) dengan judul penelitian “Adopsi Teknologi M-Bio Sebagai
Peningkatan
Produksi
Pertanian
Berkelanjutan”.
Hasil
penelitian
ini
menunjukkan bahwa sebagai besar petani di Desa Setiawaras umumnya telah
melaksanakan usaha budidaya tanaman pada organik dengan mengadopsi M-Bio
yang dipadukan dengan SRI. Adopsi Teknologi ini telah mampu meningkatkan
7
produktivitas usaha budidaya tanaman padi yang dilakukan petani sebesar 10-15
persen.
Perbedaan penelitian daalm mengukur orisinalitas, peneliti akan fokus
pada faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi program SRI.Faktor-faktor yang
peneliti ambil diantaranya terdapat beberapa variabel. Variabel bebas :
karakteristik sosial ekonomi petani (X1), persepsi sifat inovasi (X2), tingkat
akses informasi (X3), dan variabel terikat yaitu tingkat adopsi inovasi metode
System of Rice Intensification (SRI) (Y).
c. Relevansi Studi
Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (PSdK) merupakan cabang dari
ilmu sosial yang mempelajari berbagai aspek kehidupan sosial dalam masyarakat
yang begitu kompleks dengan berbagai permasalahan serta bagaimana
mendapatkan solusinya. Salah satu konsentrasi dari Jurusan Pembangunan Sosial
dan
Kesejahteraan
yakni
Community Development
atau
pemberdayaan
masyarakat.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mewujudkan pemberdayaan
petani dengan pendekatan pembangunan yang dianggap dapat menjawab
problematika kehidupan petani di Indonesia. Melalui skema pemberdayaan petani
melalui program SRI tersebut menjadi tolak ukur dalam meningkatkan kapasitas
para petani di Dusun Watu, Desa Argomulyo. Melalui penerapan dan
pembelajaran metode tersebut dapat diupayakan program tersebut dapat diadopsi
oleh seluruh para petani.
8
Oleh karena itu, melalui program SRI tersebut dapat merubah cara berfikir
dan perilaku petani sehingga mereka mandiri dan produktif dalam memenuhi
kebutuhannya melalui perwujudan potensi yang dimiliki.
III.
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang kaya akan potensi alamnya
seperti pertanian, kehutanan, perkebunan, dan perikanan. Kondisi alam tersebut
tentu saja memberikan peluang besar bagi
masyarakat Indonesia dalam
mengembangkan potensi alam yang ada untuk aktivitas ataupun kegiatan yang
berhubungan dengan pertanian. Didukung kondisi wilayah geografisnya,
Indonesia salah satu negara yang memiliki luas areal pertanian dengan kondisi
tanah yang terbilang sangat subur dan produktif, sehingga pertanian sangat cocok
untuk dikembangkan di Indonesia. Pertanian adalah merupakan sebuah aktivitas
sehari-hari yang sangat dibbutuhkan oleh setiap manusia dalam
pemenuhan
kebutuhan pangan serta upaya mempertahankan hidupnya.
Kebutuhan pangan semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan
peduduk. Hal tersebut secara tidak langsung berpengaruh besar terhadap
kebijakan yang terkait dengan program pangan. Mayoritas penduduk Indonesia
menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Permasalahan yang dihadapi untuk
memenuhi kebutuhan makanan pokok adalah meningkatkan ketersediaan beras
bagi penduduknya. Sementara itu, upaya peningkatan produksi beras saat ini juga
terganjal oleh berbagai kendala, seperti konvensi lahan sawah subur, kondisi iklim
yang tak menentu serta penurunan kualitas sumber daya lahan. Sistem produksi
padi juga sangat rentan terhadap peyimpangan iklim. Kebutuhan beras yang terus
9
meningkat serta peningkatan kualitas beras saat ini perlu adanya terobosan
teknologi budidaya yang mampu memberikan nilai tambah dan meningkatkan
efisiensi usaha pertanian.
Upaya untuk meningkatkan efisiensi usaha pertanian terhambat karena
muncul beragam persoalan yang cukup kompleks dalam pertanian. Penggunaan
pupuk kimia secara berlebihan dan terus-menerus mengakibatkan penurunan
kualitas tanah akibat pencemaran pestisida kimia. Tentu saja berdampak buruk
terhadap kualitas benih padi yang ditanam petani. Berbagai kerugian dan dampak
buruk ditimbulkan akibat penggunaan bahan kimia pada pertanian menimbulkan
kecemasan mendalam bagi petani. Kesadaran akan bahaya yang ditiimbulkan
menjadikan masyarakat petani mulai berangsur meninggalkan metode tersebut.
Sebagai alterantif dalam memperbaiki kondisi pertanian yang telah rusak,
muncullah inovasi teknologi pertanian. Inovasi teknologi pertanian diadopsi oleh
masyarakat yang memiliki kesadaran untuk meningkatkan produktivitas pertanian
baik secara kualitas maupun kuantitas dalam proses produksi. Hadirnya teknologi
pertanian tentunya didasari atas problema yang ada saat ini. Pengembangan
inovasi teknologi pertanian didukung atas partisipasi dari masyarakat petani
sebagai alternatif dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.
Inovasi teknologi alternatif yang diterapkan merupakan metode pertanian
organik yang dikenal dengan istilah System of Rice Intensification (SRI). Metode
SRI merupakan sebuah kegiatan atau aktivitas pertanian
yang dalam proses
produksinya tanpa menggunakan bahan-bahan kimia dan hanya bergantung pada
produk-produk organik. Penerapan model pertanian organik hingga saat ini mulai
10
diminati oleh para petani di Indonesia. Perkembangan budidaya pertanian organik
tentunya tidak terlepas dari permintaan pasar akan konsumsi beras organik yang
kian meningkat dari tahun ke tahun.
Salah satu kelompok tani yang menerapkan metode SRI dan sampai saat
ini ketergantungan terhadap penggunaan pupuk kimia masih terus terjadi dan
membelenggu para petani, salah satunya para petani yang ada di Dusun Watu,
Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul. Sebagian besar petani
yang tergabung didalam kelompok tani „Krenteg Mandiri‟ enggan beralih
menggunakan metode non-konvensional. Hal tersebut didasarkan pada berbagai
faktor pertimbangan bagi para petani di Dusun Watu tersebut.
Namun setelah program tersebut diterapkan pada kelompok tani “Krenteg
Mandiri” beberapa waktu silam, ternyata setelah dilakukan observasi oleh peneliti
berdasarkan wawancara terhadap Ketua Kelompok Tani ditemukan fakta bahwa 5
dari 25 anggota kelompok tani yang menerima program SRI hingga saat ini masih
menerapkan metode tersebut dan sisanya tidak menerapkan metode tersebut pada
lahan mereka. Jika dihitung dalam bentuk persentage hanya 20% petani yang
menerapkan metode tersebut.
Berbagai asumsi dan persepsi yang ditemukan mengenai alasan dan faktor
beberapa petani yang memilih tidak menerapkan metode tersebut ada beberapa hal
seperti metode yang diajarkan rumit, tahapan yang dilalui cukup panjang, mereka
yang tidak mampu menanggung resiko, asumsi bahwa penggunaan metode
konvensional lebih praktis dan mudah dilaksanakan dan secara kuantitas hasil
produksi padi juga lebih banyak apabila menggunakan pupuk kimia. Minimnya
11
akses informasi petani terhadap pengetahuan pertanian menjadi hambatan bagi
petani dalam upaya peningkatan kualitas SDM. Faktor sosial ekonomi masyarakat
petani yang serba terbatas menjadikan pola pikir masyarakat cenderung rendah
sehingga kurang bisa menerima segala ide-ide baru yang hadir dilingkungan
sekitar walaupun pada dasarnya memberikan dampak yang positif bagi
kehidupannya kelak.
Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan sebelumnya secara data
maupun realitas dilapangan telah terbukti bahwa model budidaya padi dengan
System of Rice Intensification organik di Demplot SLPHT Bulak Gunung Puthat,
Dusun
Watu
Desa
Argomulyo
Kecamatan
Sedayu
Kabupaten
Bantul
menunjukkan mampu meningkatkan hasil panen padi yang cukup signifikan.
Hasil taksasi panen padi menunjukkan peningkatan dari 3,5-5,6 Ton/Ha menjadi
7,89 Ton/Ha atau dengan kata lain meningkat 2,29-4,39 Ton/Ha,. Secara
prosentase terjadi peningkatan hasil panen gabah kering pungut 40,5% sampai
125%( Laporan Pertanian Dusun Watu, 2013). Pendapatan perkapita dari hasil
produksi padi organik juga meningkat dari harga jual beras organik Rp. 13.500,/kg sedangkan beras non organik hanya terjual Rp. 8.500,-/kg, selisih angka yang
cukup jauh sehingga dapat dilihat dari keuntungan non sistem SRI ±
Rp.1.5050.000 / Ha sedangkan hasil penerapan dengan
sistem SRI ± Rp.
1.600.000/Ha. Walaupun selisihnya tidak cukup jauh akan tetapi keuntungan tetap
didapatkan oleh para petani organik lebih jauh bila dibanding dengan petani yang
tidak menerapkan sistem SRI. Dari data tersebut yang menunjukkan peningkatan,
12
seharusnya diimbangi dengan konsistensi para petani dalam menggunakan metode
SRI .
Sebagai sebuah inovasi di bidang pertanian yang dapat memberikan
keuntungan kepada petani, kemudian adopsi pertanian organik dengan Metode
SRI oleh petani menjadi penting karena petani adalah aktor utama dalam pertanian
adalah mereka. Disisi lain, metode pertanian ini tidak serta merta diadopsi secara
mudah oleh petani mengingat sifat mereka yang berhati-hati dalam menerima
inovasi. Petani dicirikan mempunyai karakter yang tidak mudah menerima bahkan
cenderung menolak perilaku dan kegiatan-kegiatan yang dianggapnya berbeda
apalagi bertentangan dengan kebiasaan adat setempat (Mardikanto, 1982:63).
Adopsi penerapan metode SRI terletak pada 6 komponen SRI yang
penting dalam proses keputusan inovasi diantaranya :
1. Bibit dipindah lapang (transplantasi) lebih awal
Bibit padi ditransplantasi saat dua daun telah muncul pada batang muda, biasanya
saat berumur 8-15 hari. Benih harus disemai dalam petakan khusus dengan
mejaga tanah tetap lembab dan tidak tergenang air. Penanaman benih berada pada
posisi horizontal agar ujung akar tidak menghadap ke atas.
2. Bibit ditanam satu-satu daripada secara berumpun
Pola tanam bibit yaitu satu bibit satu lobang dimaksutkan agar tanaman memiliki
ruang untuk menyebar dan memperdalam perakaran.
3. Jarak tanam yang lebar
Bibit lebih baik ditanam dalam pola luasan yang cukup lebar dari segala arah.
Biasanya jarak minimalnya adalah 25 cm x 25 cm. Tujuannya memberi
13
kemungkinan lebih besar kepada akar untuk tumbuh leluasa, tanaman juga akan
lebih banyak menyerap sinar matahari.
4. Kondisi tanah tetap lembab tapi tidak tergenang air
Kebutuhan air yang digunakan petani kurang dari ½ pada sistem tradisional yang
biasa menggenangi tanaman padi. Tanah cukup dijaga tetap lembab selama tahap
vegetatif, untuk memungkinkan lebih banyak oksigen bagi pertumbuhan akar.
5. Pendagairan
Membersihkan gulma dan rumput dapat dilakukan dengan tangan atau alat
sederhana. Pendagairan pertama dilakukan 10 atau 12 hari setelah transplantasi
dan pendagairan kedua 14 hari. Minimal disarankan dilakukan pendagairan
sebanyak 2-3 kali.
6. Asupan organik
Dalam upaya peningkatan hasil panen disarankan menggunakan pupuk kompos
dari sisa tanaman maupun pupuk kandang hal tersebut bertujuan untuk
memperbaiki kondisi struktur tanah yang menurun.
Dari beberapa komponen SRI diatas, menjadi tolak ukur dalam proses
keputusan inovasi oleh petani. Keberhasilan hadirnya inovasi dipengaruhi oleh
tingkat penetahuan petani terhadap cara tanam maupun prosedur dalam penerapan
metode SRI. Oleh sebab itu, peneliti perlu mengkaji lebih dalam faktor yang
mempengaruhi adopsi inovasi karena hadirnya sebuah inovasi tidak serta merta
diterima baik oleh setiap individu. Suatu inovasi tidak akan berguna tanpa adanya
adopsi. Demikian juga dengan aplikasi metode SRI ini yang merupakan
pendukung pengembangan pertanian organik tidak akan berguna tanpa adanya
14
adopsi.Inovasi SRI tidak serta merta diadopsi oleh petani. Petani memutuskan
untuk mengadopsi atau tidak mengadopsi inovasi SRI dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Penelitian ini, penulis ingin meneliti faktor-faktor apa yang mempengaruhi
masyarakat petani dalam adopsi inovasi teknologi pertanian System of Rice
Intensification(SRI) oleh petani di Dusun Watu, Desa Argomulyo, Kecamatan
Sedayu, Kabupaten Bantul.
IV.
Rumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat diperoleh beberapa
permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini, yaitu Faktor-faktor apa yang
mempengaruhi masyarakat petani dalam adopsi inovasi teknologi pertanianSystem
of Rice Intensification(SRI) oleh petani di Dusun Watu, Desa Argomulyo,
Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul?
V.
Tujuan Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini mempunyai tujuan yaitu mengetahui faktor-
faktor yang mempengaruhi masyarakat petani dalam adopsi inovasiteknologi
pertanian System of Rice Intensification(SRI)di Dusun Watu, Desa Argomulyo,
Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul.
VI.
Kegunaan Penelitian
Kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi peneliti, agar dapat memahami lebih jauh tentang adopsi inovasi
teknologi System of Rice Intensification (SRI), sehingga diharapkan dapat
memberi masukan pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
adopsi inovasi tersebut.
15
2. Bagi pemerintah dan instansi yang terkait diharapkan dapat menjadi bahan
pertimbangan dalam menentukan kebijakan selanjutnya.
3. Bagi peneliti lain, dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penelitian
selanjutnya yang terkait dengan judul penelitian ini.
4. Bagi petani, dapat memberikan pengetahuan mengenai adopsi teknologi
System of Rice Intensification (SRI) oleh petani di Dusun Watu, Desa
Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul.
VII. Tinjauan Pustaka
1. Kerangka Teori
Teori merupakan unsur yang paling penting didalam penelitian kuantitatif,
dimana sebuah teori itu menjelaskan suatu fenomena sosial yang menentukan
hubungan antar konsep tersebut. Didalam penelitian ini grand teori yang peneliti
gunakan adalah “Paradigma Perilaku Sosial” yang mengacu pada tingkah laku
individu dalam menghadapi perubahan-perubahan yang ada didalam lingkungan
sekitarnya. Fokus dari paradigma ini adalah mengenai hubungan antara individu
dengan lingkungannya. Paradigma perilaku sosial ini memiliki tiga teori yang
termasuk didalamnya ialah Teori Pertukaran, Teori Pilihan Rasional, dan Teori
Jaringan. Teori yang dipilih guna menjelaskan fenomena dan realitas dalam
penelitian terkait pengambilan keputusan terhadap hadirnya inovasi teknologi
pertanian System of Rice Intensification (SRI) dikelompok tani „Krenteg
Mandiri‟adalah Teori Pilihan Rasional dari Friedman dan Hechter (Ritzer, 2011),
Teori PerilakuSosial , dan Teori Jaringan Sosial.
16
Pada dasarnya ketiga teori diatas berada pada tataran abstrak teori. Menurut
(Kerlinger, 1978) abstrak teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan
proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui
spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan
dan meramalkan fenomena. Melalui penelitian ini, peniliti mencoba menurunkan
secara empirisbagaimana ketiga teori ini mengemukakan kehadiran aktor dalam
kehidupan sosial. Secara empiris tingkat rasionalitas aktor dapat dilihat antara
keputusan yang diambil berkorelasi dengan tujuannya.
Aktor dalam penelitian ini adalah petani yang memiliki kehidupan sosial.
yang memusatkan pada tindakan dalam mengambil keputusan. Keputusan yang
ingin
diteliti
adalah
keputusan
aktor
untuk
mengadopsiteknologi
SRI
dikelompoktani „KrentegMandiri‟. Hal inilah yang berimplikasi pada baik atau
buruknya hasil yang akan aktor dapatkan. Ketika aktor yang dalam hal ini adalah
aktor mampu memperoleh hasil yang memuaskan. Berikut paparan dari teori
perilaku sosial, teori jaringansosial,dan teori pilihan rasional.
a. Teori Perilaku Sosial
Tokoh sosiolog Max Weber mendefinisikan sosiologi ialah suatu ilmu
yang mempelajari tindakan sosial (social action), sebagaimana dapat kita lihat
pada perumusan berikut ini:
Sociology… is a science which attempts the interpretive understanding of
social action inorder thereby to arrive at a casual explanation of its course and
effects (Weber, 1964:88).
Apa yang dimaksudkan Weber dengan tindakan sosial adalah bahwa tidak
semua tindakanmanusia dapat dianggap sebagai tindakan sosial. Suatu tindakan
17
hanya dapat disebut tindakan sosial apabila tindakan tersebut dilakukan dengan
mempertimbangkan perilaku orang lain, dan berorientasi pada perilaku orang lain.
Menurut Weber, suatu tindakan ialah perilaku manusia yang mempunyai
makna subyektif bagi pelakunya. Karena sosiologi bertujuan memahami
(Verstehen) mengapa tindakan sosial mempunyai arah dan akibat tertentu,
sedangkan tiap tindakan mempunyai makna subyektif bagi pelakunya, maka ahli
sosiologi yang hendak melakukan penafsiran makna, yanghendak memahami
makna subyektif suatu tindakan sosial harus dapat membayangkan dirinya di
tempat pelaku untuk dapat ikut menghayati pengalamanya
Oleh karena itu makna tindakan sosial yang dipakai oleh Weber adalah
untuk memaknai perbuatan-perbuatan yang bagi si pelaku mempunyai arti
subyektif dalam mencapai suatu Tujuan. Tujuan yang diharapkan ialah untuk
kesejahteraan aktor tersebut. Dari tujuan tersebut akan mengarahkan seseorang
pada pengambilan keputusan. Pelaku individual mengarahkan kelakuannya
kepada penetapan-penetapan atau harapan-harapan tertentu yang berupa kebiasaan
umum atau dituntut dengan tegas, bahkan dibekukan dengan undang-undang.
Weber kemudianmembuat klasifikasi mengenai perilaku sosial atau
tindakan sosial menjadi 4 yaitu :
1. Kelakuan yang diarahkan secara rasional kepada tercapainya suatu tujuan.
Dengan kata lain dapat dikatakan sebagai kesesuaian antara cara dan
tujuan.
18
2. Kelakuan yang berorientasi kepada nilai. Berkaitan dengan nilai – nilai
dasar dalam masyarakat, nilai disini seperti keindahan, kemerdekaan,
persaudaraan, dll.
3. Kelakuan yang menerima orientasi dari perasaan atau emosiatau Afektif .
4. Kelakuan Tradisional bisa
dikatakan
sebagai tindakan
yang
tidak
memperhitungkan pertimbangan Rasional.
b. Teori Jaringan Sosial
Jaringan sosial merupakan salah satu dimensi sosial yang mengedepankan
proses belajar dalam membentuk sikap pada setiap individu. Hasil dari sikap yang
telah terbentuk kemudian menjadi prasyarat dalam menjalin hubungan dengan
pihak luar yang membutuhkan pemikiran yang berbeda sehingga tiap individu
mampu berfikir kritis, logis serta rasional mengenai fenomena yang mereka
hadapi melalui jalinan sosial yang terjadi. Sehingga proses tersebut akan
berorientasi terhadap pemusatan perhatian pada aktor yang membuat keputusan
melalui proses terjalinnya hubungan sosial.
Pada dasarnya konsep jaringan sosial terbentuk karena adanya rasa saling
tahu, saling menginformasikan, saling mengingatkan, dan saling membantu dalam
melaksanakan ataupun mengatasi sesuatu.intinya, konsep jaringan dalam capital
sosial menunjuk pada semua hubungan dengan orang atau kelompok lain yang
memungkinkan kegiatan dapat berjalan secara efisien dan efektif.
Selanjutnya jaringan itu sendiri dapat terbentuk dari hubungan antar
personal, antar individu dengan institusi, serta jaringan antar institusi. Salah satu
ciri khas teori jaringan adalah pemusatan perhatian pada struktur mikro dan
19
makro, sehingga yang dimaksud aktor disini adalah mereka yang bertindak
sebagai individu maupun sebuah kelompok sosial atau instansi yang memiliki
interaksi sosial didalamnya. Hubungan dapat terjadi di tingkat struktur sosial skala
luas maupun ditingkat yang lebih mikro. Menurut Granoveter (dalam Ritzer, 2011
: 383) melukiskan hubungan ditingkat mikro itu seperti tindakan yang “melekat”
dalam hubungan pribadi konkret dan dalam struktur (jaringan) hubungan itu.
Hubungan ini berlandaskan gagasan bahwa setiap aktor (individu atau
kolektivitas) mempunyai akses
berbeda terhadap sumber daya yang bernilai
(kekayaan, kekuasaan dan informasi).
Terakhir juga diuraikan oleh Granovetter, bagaimana jaringan sosial
berperan sebagai sumber inovasi beserta adopsinya, sebagai gambaran adanya
interpenetrasi kegiatan sosial dalam tindakan ekonomi. Pada dasarnya jaringan
sosial dan perannya dalam pengembangan agribisnis berbasis komunitas erat
kaitannya dengan teori difusi inovasi yang diperkenalkan oleh Roger (1983).
Menurutnya teori ini, masuknya suatu inovasi dalam suatu system sosial sangat
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain berupa faktor internal yang berupa
ciri-ciri atau karakteristik individu yang akan berkonsekuensi pada terjadinya
perubahan dalam sistem sosial itu, sebagai akibat dari pengadopsian ataupun
penolakan suatu inovasi dalam pengembangan agribisnis.
Masuknya inovasi ke tengah suatu sistem sosial terutama terjadinya
komunikasi antar anggota suatu masyarakat, ataupun antara suatu masyarakat
dengan masyarakat yang lain. Secaraideal, proses adopsi inovasi seharusnya
didahului dengan proses adaptasiterlebih dahulu. Tetapi didalam praktek, terutama
20
yang menyangkut perubahan sosial, sering berlangsung sebaliknya, yakni proses
adaptasi baru berlangsung setelah berlangsungnya proses adopsi inovasi. Merujuk
pada teori menurut (Mardikanto: 1993) yang menyatakan bahwa adopsi dalam
proses penyuluhan pertanian diartikan sebagai proses perubahan perilaku
mengenai pengetahuan, sikap, maupun ketrampilan yang terjadi pada seseorang.
Perubahan tersebut terjadi setelah seseorang menerima “inovasi” yang
disampaikan oleh penyuluh. Penerima dalam hal ini mempunyai makna tidak
hanya “tahu”, tetapi sampai sungguh-sungguh dapat melaksanakan atau
menerapkan dengan benar,serta menghayati dalam kehidupan usaha taninya.
Penerimaan atau penolakan suatu inovasi adalah keputusan yang dibuat
oleh seseorang. Jika ia menerima (mengadopsi) inovasi, berarti ia telah mulai
menggunakan ide-ide baru, praktek baru atau barang baru itu dan menghentikan
penggunaan ide-ide yang digantikan oleh inovasi itu. Keputusan inovasi adalah
proses mental, sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil
keputusan untuk meneriman atau menolaknya dan kemudian mengukuhkannya
(Rogers and Shoemaker, 1981).
“The innovation-decision process is the process through
which an individual (or other decision-making unit) passes
from first knowledge of an innovation to forming an attitude
toward the innovation, to a decision to adopt or reject, to
implementation of the new idea, and to confirmation of
decision. We conceptualize five main steps in the process : 1)
knowledge, 2) persuasion, 3) decision, 4) implementation, and
5) confirmation.”(Rogers and Shoemaker, 1971)
21
Penyebaran atau diseminasi inovasi teknologi pada dasarnya merupakan
transfer teknologi dari hasil-hasil penelitian kepada pengguna. Proses penyebaran
inovasi tentunya sangat tergantung dari beberapa hal, termasuk kondisi sosial,
ekonomi, dan budaya masyarakat. Salah satu prakondisi yang sangat diperlukan
dalam percepatan diseminasi inovasi teknologi adalah dengan penguatan terhadap
proses dan kondisi yang diperlukan, termasuk pemanfaatan potensi sumber daya
lokal.
Dalam hal ini, masyarakat petani yang tergabung dalam kelompok tani
“Krenteg Mandiri” dalam proses pengambilan sebuah keputusan teknologi
pertanian tentunya membutuhkan adanya relasi sosial diantara aktor yang lain.
Aktor yang di maksud disini tidak hanya antar anggota kelompok tani, melainkan
hubungan sosial antara petani dengan stakeholder yang lain seperti penyuluh
pertanian, ketua kelompok tani maupun instansi terkait. Akibat adanya hubungan
atau jaringan sosial tersebut menghasilkan sebuah keputusan berdasarkan
subjektifitas para akktor yang terlibat dalam mencapai sebuah tujuan. Tujuan yang
diharapkan dalam menerapkan atau menolak hadirnya inovasi. Pencapaian sebuah
tujuan tentunya dipengaruhi oleh faktor internal dari aktor tersebut seperti halnya
sumber daya dan akses informasi. Semakin tinggi sumber daya dan akses
informasi yang dimiliki semakin rasional tindakan yang diambil oleh aktor
tersebut.
c. Teori Pilihan Rasional
Teori pilihan rasional merupakan salah satu teori yang dipengaruhi oleh
pemikiran ekonomi neo-klasik yang menjelaskan bahwa setiap individu memiliki
22
daya nalar yang tinggi. Menurut Coleman sosiologi seharusnya memusatkan
perhatian kepada sistem sosial.Akan tetapi, fenomena makro itu harus dijelaskan
oleh faktor internalnya sendiri, dengan individu sebagai prototipenya.Salah satu
alasannya ialah perhatian di tingkat individual, biasanya dikarenakan “intervensi”
yang dilakukan untuk menciptakan perubahan social.
Gagasan dasarnya ialah “tindakan perseorangan mengarah kepada sesuatu
tujuan dan tujuan itu (dan juga tindakan) ditentukan oleh nilai atau pilihan
(preferensi). Selanjutnya, ia pun berargumen bahwa untuk sebagian besar tujuan
teoritis, dihubungkan juga dengan ekonomi, yakni aktor akan memaksimalkan
keuntungan atau pemuasan kebutuhan dan keinginannya.Ada dua unsur utama
dalam teori Coleman, yakni aktor dan sumber daya.Sumber daya adalah sesuatu
yang menarik perhatian dan yang dapat dikontrol oleh aktor. Pemusatan
perhatiannya pada tindakan rasional individu ini, dilanjutkannya dengan
memusatkan perhatian pada masalah hubungan mikro-makro atau bagaimana cara
gabungan tindakan individual menimbulkan perilaku sistem sosial. Akhirnya, ia
memusatkan perhatian pada aspek hubungan mikro-mikro atau dampak tindakan
individual terhadap tindakan individu lain.
Berkaitan dengan keterbatasan sumber daya ini adalah pemikiran tentang
biaya kesempatan (opportunity cost) atau biaya yang berkaitan dengan rentetan
tindakan yang dilakukan oleh seorangaktor. Seorang aktor mungkin memilih
untuk tidak mengejar tujuan yang bernilai sangat tinggi bila sumber dayanya tidak
memadai, bila peluang untuk mencapai tujuan itu mengancam peluangnya untuk
mencapai tujuan berikutnya yang bernilai sangat tinggi. Menurut Friedman dan
23
Hechter (1988:202), mengemukakan terdapat dua gagasan yang menjadi dasar
teori pilihan rasional. Pertama adalah kumpulan mekanisme atau proses yang
menggabungkan tindakan aktor individual yang terpisah untuk menghasilkan
akibat sosial. Kedua adalah bertambahnya pengertian tentang pentingnya
informasi dalam membuat pilihan rasional yang kemudian diasumsikan bahwa
aktor mempunyai informasi yang cukup untuk membuat pilihan di antara berbagai
peluang tindakan yang terbuka untuk mereka. Tetapi, aktor pun makin mengenal
bahwa kuantitas atau kualitas informasi yang tersedia sangat berubah-ubah dan
perubahan itu sangat mempengaruhi pilihan aktor, menurut (Heckathorn,1977)
dalam Ritzer, 2011.
Pada intinya, teoritisi pilihan rasional memusatkan perhatian pada
pengambilan keputusan individu karena memiliki tujuan tertentu guna selanjutnya
melakukan tindakan tertentu. Maka dalam mengkaji fenomena yang terdapat di
dalam kelompok tani „Krenteg Mandiri‟, inti dari pusat perhatian teori pilihan
rasional kami turunkan sebagai variabel terikat dari penelitian ini yaitu tingkat
adopsi petani aplikasi teknologi pertanian System of Rice Intensification (SRI).
Peneliti memutuskan tingkat pengambilan keputusan petani dalam penerapan
teknologi pertanian SRI sebagai sebuah pilihan rasional yang dipilih oleh tiap
individunya atau dalam penjelasan teori diatas sebagai aktor karena telah
mengambil keputusan dalam mengikuti kegiatan yang ada didalam kelompok tani
tersebut. Salah satunya yaitu penerapan metode teknologi pertanian melalui
aplikasi SRI. Pengambilan keputusan tersebut dimaksudkkan kepada petani untuk
24
memutuskan menerapkan atau menolak hadirnya inovasi tersebut yang
dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Dalam perkembangannya, teori pilihan rasional yang menerangkan terkait
tujuan yang ingin dicapai oleh seorang aktor tentunya memiliki pertimbangan
didalamnya. Tentunya ketersediaan sumber daya dan akses terhadap informasi
menjadi kunci pokok dalam pengambilan keputusan yang rasional. Sehingga
didalam teori pilihan rasional menurut Friedman dan Hecter ditemukan beberapa
proposisi yang dikembangkan dan menjadi bahan rujukan dalam menentukan
variabel selanjutnya, yaitu :
Proposisi Tujuan , Friedman dan Hechter setiap aktor tentunya memiliki
tujuan dan maksud tertentu didalam proses pengambilan keputusan. Berbagai
pertimbangan dan faktor yang mempengaruhi pilihan tersebut pada akhirnya
untuk pencapai sebuah tujuan yang konsisten. Dalam hal ini, pencapaian tujuan
peneliti artikan sebagai sifat-sifat yang melekat pada inovasi yang secara langsung
maupun tidak langsung keberadaannya dapat mendorong maupun menghambat
proses pengambilan keputusan SRI oleh petani. Maka proposisi tujuan ini
diturunkan menjadi variabel tingkat persepsi sifat inovasi.
Proposisi Sumber Daya, dalam hal ini akses terhadap sumber daya
tentunya memiliki perbedaan antara satu aktor dengan aktor yang lain.
Keterbatasan sumber daya tentunya dipengaruhi oleh internal dari aktor tersebut.
Kemampuan sumber daya tiap aktor tentunya mempengaruhi ketercapaian sebuah
tujuan. Semakin banyak sumber daya yang dimiliki oleh aktor semakin mudah
pula tercapainya tujuan. Begitu pula sebaliknya, jika aktor yang memiliki
25
keterbatasan terhadap sumber daya maka pencapaian tujuan akan sulit dicapai.
Konsep sumber daya yang dianut tidak sebatas pada tahap kepemilikan secara
fisik, melainkan kondisi sosial ekonomi yang diahadapi oleh aktor. Oleh karena
itu, ketersediaan sumber daya menjadi hal penting bagi aktor dalam proses
pengambilan keputusan petani. Maka proposisi sumber daya diturunkan menjadi
variabel tingkat karakteristik sosial ekonomi petani.
Proposisi Informasi, bahwa informasi memiliki arti penting bagi petani
dalam menetapkan pilihan rasional. Asumsinya bahwa aktor yang memiliki
informasi lebih banyak akan cenderung pro aktif memiliki pengetahuan yang lebih
terhadap hadirnya inovasi teknologi pertanian. Melalui informasi dianggap
sebagai sebuah jaringan media yang dianggap efektif yang mampu mempengaruhi
keputusan aktor. Sehingga aktor mampu menelaah lebih jauh mengenai tujuan
dari program yang akan dilaksanakannya. Maka proposisi informasi diturunkan
menjadi variabel tingkat akses informasi.
Proposisi Tindakan, bahwa tindakan tersebut diartikan sebagai
kesimpulan didalam pemahaman mengenai teori pilihan rasional. Pada intinya,
teorisasi pilihan rasional adalah sebagai perwujudan pemusatan perhatian para
aktor dalam hal ini para petani yang tergabung dalam kelompok tani “Krenteg
Mandiri” dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan dipahami
sebagai tindakan yang ditempuh para aktor pada akhirnya setelah melawati
berbagai pertimbangan yang mengahsilkan sebuah pilihan rasional. Dalam
mengkaji fenomena yang ada di dalam kelompok tani tersebut, dalam proposisi
tindakan diartikan sebagai bentuk proses atas keputusan yang telah diambil.
26
Keputusan dalam hal menerima (adopsi) maupun menolak (non adopsi) adanya
teknologi pertanian SRI. Maka proposisi tindakan diturunkan sebagai variabel
tingkat adopsi inovasi teknologi SRI.
Inti dari teori pilihan rasional yang dikemukakan oleh Friedman dan
Hechter bahwa pilihan yang dipilih seorang aktor untuk menerapkan (adopsi) atau
menolak aplikasi teknologi pertanian SRI. Terkait dengan fokus penelitian ini
yaitu tentang tingat adopsi petani terhadap aplikasi teknologi pertanian SRI, maka
diputuskan tingkat adopsi petani melalui aplikasi SRI sebagai sebuah pilihan
rasional yang diputuskan oleh setiap aktor atau petani yang tergabung dalam
kelompok tani “Krenteg Mandiri”. Dengan harapan terwujudnya keputusan adopsi
dalam meningkatkan kesejahteran dan keberhasilan pertanian di wilayah Dusun
Watu, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul.
2. Hubungan Antar Variabel
a. Hubungan antara tingkat karakteristik sosial ekonomi petani terhadap
tingkat adopsi teknologi pertanian SRI.
Salah satu variabel yang diturunkan dari proposisi sumber daya. Tingkat
karakteristik sosial ekonomi petani dalam kaitannya dengan fenomena yang
terkait tidak hanya sebatas pada kepemilikan sumber daya melainkan aspek
internal yang melekat pada subjektifitas dari aktor tersebut. Selain itu juga
diasumsikan lebih luas mengenai aktivitas sosial ekonomi petani sehingga dapat
mempengaruhi pola pikir dalam proses pengambilan keputusan. Dalam hal ini
keterkaitan tingkat karakteristik sosial ekonomi petani terletak pada aspek
pemenuhan kebutuhan sehingga semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seeorang
27
maka semakin tinggi pula tingkat pemenuhan kebutuhan, hal tersebut kemudian
diikuti oleh tingkat kecepatan dalam proses adopsi teknologi SRI.
Menurut Coleman dalam teori pilihan rasional yang menekankan bahwa
seorang individu melakukan tindakan yang mana tindakan tersebut akan
memanfaatkan sumber daya yang dia miliki untuk mencapai sebuah tujuan.
Artinya, tindakan seseorang itu merupakan tindakan purposif atau bertujuan.
Dalam penelitian ini tujuan yang menjadi fokus tindakan aktor adalah dalam
pemilihan sebuah keputusan terhadap sesuatu.
b. Hubungan antara persepsi sifat inovasi terhadap tingkat adopsi
teknologi pertanian SRI.
Inovasi adalah suatu ide, perilaku, produk, informasi, dan praktek-praktek
baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan maupun dilaksanakan
oleh sebagian besar masyarakat dalam lokalitas tertentu, yang digunakan untuk
mendorong terjadinya perubahan-perubahan disegala aspek kehidupan masyarakat
demi terwujudnya perbaikan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga
masyarakat yang bersangkutan (Mardikanto, 1993).
Kebaharuan hadirnya inovasi tentunya tergantung pada subjektifitas aktor
tersebut. baru dalam ide yang inovatif tentunya tidak berarti harus baru sama
sekali. Sifat-sifat yang melekat pada inovasi secara langsung maupun tidak
langsung, keberadaanya dapat mendorong atau menghambat dalam adopsi
teknologi SRI. Sifat-sifat dari inovasi meliputi Keuntungan Relatif (Relative
advantage),
Kompatibilitas
(Compatibility),
Kompleksitas
(Complexity),
Triabilitas (Triability), Observabilitas (Observability) dan input komplementer
28
yang diperlukan. Dari sifat inovasi tersebut tentunya menjadi pertimbangan yang
penting bagi aktor dalam proses pengambilan keputusan. Hal tersebut dikarenakan
semakin kecil resiko yang ditimbulkan maka semakin besar peluang aktor dalam
menerapkan inovasi tersebut.
c. Hubungan antara akses informasi terhadap tingkat adopsi teknologi
pertanian SRI.
Informasi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan bermasyarakat.
Tidak hanya sebagai sumber pengetahuan bagi khalayak, melainkan informasi
sebagai salah satu cara dalam penentuan pilihan yang rasional. Semakin banyak
informasi yang diterima oleh seorang aktor atau individu semakin tinggi pula
tingkat intelegensi dan partisipasi petani terhadap kegiatan yang ada didalam
kelompok tani tersebut. Informasi dalam hal proses pengambilan keputusan
tentunya ada konsekuensi, diantaranya adalah pengetahuan, bahwa kesadaran
individu akan adanya inovasi dan adanya pemahaman tertentu tentang bagaimana
inovasi tersebut berfungsi, persuasif yaitu melalui informasi dapat membentuk
sikap yang menyetujui maupun menolak hadirnya inovasi, adanya keputusan
individu yang terlibat dalam aktivitas yang membawa pada suatu pilihan atau
mengadopsi atau menolak inovasi, selanjutnya pada tahap konformasi bahwa
individu akan mencari pendapat yang menguatkan keputusan yang telah
diambilnya, namun dia dapat berubah dari keputusan sebelumnya jika pesanpesan mengenai inovasi yang diterimanya berlawanan satu dengan yang lainnya.
Tujuan adanya informasi tentunya memiliki fungsi yang sangat strategis
dalam proses transfer pengetahuan, sehingga penerima informasi atau petani
29
tersebut menjadi tahu terkait tujuan yang ada didalam informasi tersebut sehingga
dengan mudah membuat pertimbangan untuk menolak atau menerima hadirnya
inovasi. Adanya informasi yang diterima oleh petani dalam kelompok tani
“Krenteg Mandiri” tentunya akan sangat mudah meningkatkan antusias para
petani terhadap hadirnya inovasi pertanian dengan metode penyampaian yang
mudah untuk dipahami oleh seluruh anggota. Dalam teori pilihan rasional yang
dikemukakan oleh Friedman dan Hechter (1988), individu didorong oleh
keinginan untuk melakukan sebuah tujuan. Tujuan dalam membuat sebuah pilihan
rasional yang kemudian diasumsikan bahwa aktor mempunyai informasi yang
cukup untuk membuat pilihan diantara berbagai peluang yang terbuka untuk
mereka.
3. Hipotesis
a. Hipotesis Mayor
Ada hubungan antara tingkat karakteristik sosial ekonomi, persepsi sifat
inovasi dan akses informasi petani terhadap tingkat adopsi inovasi teknologi
pertanian SRI.
b. Hipotesis Minor
-
Ada hubungan antara tingkat karakteristik sosial terhadap tingkat adopsi
inovasi teknologi pertanian SRI
-
Ada hubungan antara persepsi082242031076 sifat inovasi terhadap tingkat
adopsi inovasi teknologi pertanian SRI
-
Ada hubungan antara tingkat akses informasi terhadap tingkat adopsi inovasi
teknologi pertanian SRI
30
c. Hipotesis Geometrikal
X1
X2
Y
X3
Keterangan :
1. Variabel Independent
X1 = Tingkat Karakteristik Sosial Ekonomi Petani
X2 = Tingkat Persepsi Sifat Inovasi
X3 = Tingkat Akses Informasi
2. Variabel Dependent
Y = Tingkat Adopsi Inovasi Teknologi Pertanian SRI
4. Definisi Konseptual
a. Definisi Karakteristik Sosial Ekonomi
Petani memiliki karakteristik yang beragam, karakteristik tersebut dapat
berupa karakter demografis, kondisi sosial maupun kondisi ekonomi petani itu
sendiri. Karakter-karakter tersebut yang membedakan tipe dan perilaku pada
petani dalam situasi tertentu diantaranya meliputi :
-
Umur : Menurut BPS ( 2012) berdasarkan komposisi penduduk , umur
dikelompokkan menjadi 3 yaitu umur 0-14 tahun dianggap sebagai kelompok
belum produktif, kelompok penduduk umur 15-65 tahun dianggap sebagai
kelompok produktif dan kelompok umur 65 tahun keatas dianggap sebagai
kelompok penduduk yang tidak lagi produktif.
31
-
Pendidikan formal : merupakan proses timbal balik dalam transfer
pengetahuan, dalam pendidikan formal tentunya memiliki jenjang masingmasing yang telah ditempuh oleh tiap individu meliputi SD, SMP,SMA, dan
Perguruan Tinggi. Hasil yang diperoleh dari tiap jenjang pendidikan formal
yaitu sebuah ijazah terakhir yang telah ditempuh individu selama mengikuti
pendidikan
-
Pendidikan Nonformal : Berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia No
20 Tahun 2003 ayat 26 menjelaskan bahwa pendidikan non formal adalah
Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang
memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti,
penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung
pendidikan sepanjang hayat. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas
lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar
masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Kursus
dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal
pengetahuan,
keterampilan,
kecakapan
hidup,
dan
sikap
untuk
mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri,
dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Akan tetapi adanya tambahan pendidikan seperti kursus dan pelatihan tak
lepas dari dukungan seorang agen pembaru. Agen pembaru adalah pekerja
profesional yang berusaha mempengaruhi atau mengarahkan keputusaninovasi orang lain selaras dengan yang diinginkan oleh Lembaga Pembaruan
di mana ia bekerja atau menjadi anak
32
buahnya. Para guru, penyuluh
lapangan, pekerja sosial, juru dakwah dan missionaris adalah agen pembaru.
Penyuluh lapangan dalam kaitan penelitian ini adalah seorang penyuluh
pertanian.
kemampuan diri, pengembangan konsep diri Penyuluh pertanian lapangan
adalah matarantai yang menghubungkan Dinas Pertanian dengan para petani.
Penyuluhan pertanian menjadi salah satu alternatif
bagi petani dalam
meningkatkan kapasitas pengetahuan mengenai pertanian. Pada tahap ini
penyuluh pertanian menjadi sasaran pokok penentu bagi aktor dalam adopsi
inovasi melalui materi yang disampaikan, penguasaan materi, serta metode
penyampaian. Materi penyuluhan harus bersifat inovatif yang mampu
mengubah atau mendorong perubahan, sehingga terwujud perbaikan mutu
hidup setiap individu dan seluruh masyarakat (Mardikanto, 1993). Selain itu
harus berorientasi pada kebutuhan petani sasaran kegiatan penyuluhan.
Mengacu pada pendapat Srinivasan dalam (Mardikanto, 1993) bahwa dalam
memilih metode penyuluhan perlu memperhatikan (1) pemecahan masalah
sebagai pusat kegiatan belajar, (2) menstimulir kemampuan berfikir, dan (3)
mengembangkan aktualisasi diri, dapat berupa pengembangan, serta
pengembangan daya imajinasi yang kreatif.
- Lahan : Merupakan sumber daya paling penting dalam pertanian, karena
tanpa adanya ketersediaan lahan maka kegiatan pertanian tidak akan bisa
dilakukan. Maka lahan sifatnya amat penting karena dipakai sebagai lokasi
kegiatan pertanian akan dilangsungkan. Sumber daya Lahan dapat diukur
melalui status kepemilikan lahan. Selain itu diukur pula melalui kuantitas
33
dan kualitas lahan yang diolah atau dimanfaatkan sesuai dengan jenis
kegiatan pertanian yang dilakukan oleh petani yang bersangkutan. Menurut
BPS (2014) dalam sensus pertanian 2013, rata – rata kepemilikan lahan per
rumah tangga petani hanya antara 0,3 – 0,4 ha. Padahal menurut Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPT) tahun 2013, luasan lahan
yang dibutuhkan per rumah tangga tani padi untuk memperoleh pendapatan
setara atau diatas Garis Batas Kemiskinan BPS minimal adalah seluas 0,65
ha.
Walaupun
produktifitas
mengalami
kenaikan,
meningkatkan
kesejahteraan petani padi menjadi sulit karena kepemilikan lahan yang
terbatas.
Jadi
luas
lahan
merupakan
faktor
yang
sangat
penting
mempengaruhi kesejahteraan petani.
- Pendapatan : Merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang
perekonomian keluarga. Tingkat pendapatan merupakan salah satu indikasi
sosial ekonomi seseorang dimasyarakat disamping pekerja, kekayaan dan
pendidikan. Keputusan seseorang dalam menerapkan sebuah inovasi sangat
ditentukan oleh sumber daya yang dimiliki dan tingkat pengeluaran seseorang
yang menentukan tingkat kesejahteraan dalam status sosial ekonomi
seseorang. Tingkat pendapatan dalam pemenuhan kebutuhan diukur sesuai
dengan standar UMK Bantul sesuai dengan peraturan yang tertuang dalam
SK UMK DIY 2015 Nomor 253/Kep/2014 tentang Upah Minimum
Kabupaten /Kota DIY tahun 2015 menetapkan UMK Kabupaten Bantul
sebesar Rp 1.163.800,- . Besaran tersebut dijadikan tolak ukur peneliti dalam
pemenuhan kebutuhan petani.
34
- Teknologi dan Alat Produksi : Teknologi sangat dibutuhkan dalam pertanian.
Penggunaan teknologi diperlukan sebagai upaya meningkatkan hasil produksi
dengan waktu yang relatif cepat dan hasilnya pun mampu menunjukkan
produktivitas dari kegiatan pertanian tersebut. Pemanfaatan teknologi dapat
diukur melalui kepemilikkan teknologi pertanian oleh petani, pemahaman
dalam penggunaan teknologi tersebut, dan intensitas frekuensi penggunaan
teknologi. Teknologi dan alat produksi yang digunakan petani adalah traktor.
- Kekosmopolitan : menurut (Mardikanto dan Sri Sutarni,1982) tingkat
kekosmopolitan merupakan karakteristik yang mempunyai hubungan dan
pandangan yang luas dengan dunia luar, dengan kelompok sosial yang lain
serta mobilitas yang tinggi. Hal ini dapat diukur melalui frekuensi pergi ke
kota dan jarak yang ditempuh serta pemanfaatan media massa.
b. Definisi Inovasi
Inovasi merupakan sebuah gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap
baru oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif
menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru
oleh seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep ‟baru‟ dalam ide
yang inovatif tidak harus baru sama sekali.Menurut Margono Slamet dalam
Mardikanto (1982) mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi
kecepatan seseorang untuk mengadopsi inovasi yaitu sifta-sifat inovasi yang
meliputi:
35
-
Keuntungan relatif (Relative advantage)
Setiap ide (inovasi) baru akan selalu dipertimbangkan mengenai seberapa jauh
keuntungan relatif yang dapat diberikan, yang diukur dengan derajat keuntungan
ekonomi, besarnya penghematan atau keamanan, atau pengaruhnya terhadap
posisi sosial yang akan diterima olek komunikasi selaku adopter. Hal ini tentunya
dapat diukur keuntungan secara kuantitas dan kualitas padi secara berkala.
-
Kompatibilitas (Compatibility)
Setiap inovasi baru akan cepat diadopsi manakala mempunyai kecocokan atau
berhubungan dengan kondisi setempat yang telah ada dimasyarakat. Hal ini dapat
dikur dengan kesesuaian lahan yang akan digunakan serta kualitas tanah yang
dimiliki. Tidak hanya ini dapat diukur pula dengan kondisi sosial masyarakat
sekitar. Suatu inovasi mungkin kompatibel dengan 1) nilai-nilai dan kepercayaan
sosiokultural, 2) dengan ide-ide yang telah diperkenalkan lebih dulu, dan 3)
dengan kebutuhan klien terhadap inovasi (Hanafi, 1981 : 1500)
-
Kompleksitas (Complexity)
Inovasi baru akan sangat mudah untuk dimengerti dan disampaikan manakala
cukup sederhana, baik dalam arti mudahnya bagi komunikator maupun mudah
dipahami dan dipergunakan oleh komunkasinya. Makin rumit suatu inovasi bagi
seseorang, maka akan makin lambat pengapdopsiannya. Hal ini dapat diukur
dengan tingkat kepemahaman individu terhadap materi yang disampaikan
mengenai inovasi.
36
-
Triabilitas (Triability)
Inovasi baru yang tidak mudah dicoba karena perlengakpannya yang kompleks
dan memerlukan biaya atau modal yang besar lebih sulit diadopsi dibanding
varietas unggul baru yang tidak mahal dan mudah dikerjakan oleh petani.
Ketercobaan ini dapat diukur melalui proses aplikasi secara bertahap tiap step,
apakah teknologi tersebut mudah dilakukan dan diterapkan.
-
Obeservabilitas (Observability)
Inovasi baru, akan lebih cepat diadopsi manakala pengaruhnya atau hasilnya
mudah dan atau cepat dilihat atau diamati olek komunikannya.
c. Definisi Informasi
Informasi dalam penelitian ini adalah segala bentuk informasi yang
diterima oleh masyarakat petani di Desa Watu terkait dengan aplikasi teknologi
SRI. Selanjutnya, dalam penelitian ini disebut sebagai akses informasi.
Keberadaan informasi tentunya memberikan tambahan pengetahuan yang lebih
bagi penerima tentang suatu hal tertentu yang membantu pengambilan keputusan
secara tepat. Dalam penelitian ini membagi akses informasi menjadi tiga kriteria
yakni, sumber informasi, nilai informasi, dan frekuensi akses informasi. Pertama,
adalah sumber informasi yang terbagi menjadi dua yaitu yang dapat diperoleh
secara langsung (primer) dan secara tidak langsung (sekunder).
Adapun sumber informasi yang diperoleh secara langsung (primer)
merupakan pemberitahuan yang dapat diakses maupun diperoleh secara langsung
dari narasumber terutama melalui sosialisasi langsung. Sedangkan, sumber
37
informasi yang diperoleh secara tidak langsung (sekunder) yakni merupakan
pemberitahuan kabar atau berita yang dapat diakses maupun diperoleh secara
tidak langsung, namun lewat media massa lokal. Kedua, adalah nilai informasi
yang meliputi kualitas informasi. Kualitas informasi dapat berupa nilai
kebermanfaatan informasi setelah informasi tersebut sampai di tengah masyarakat
petani. Ketiga, terkait dengan frekuensi informasi yang dalam penelitian ini
diartikan sebagai intensitas informasi yang diberikan yaitu menyangkut waktu dan
seberapa sering informasi tersebut dapat diakses oleh para petani.
38
Definisi operasional
Variabel
Tingkat
Karakteristik
Sosial
Ekonomi
Petani
Subvariabel
Deskriptor
-Status lahan yang dikelola
Lahan usaha tani
Teknologi dan
Alat Produksi
Pendapatan
Pendidikan
formal
Pendidikan
Nonformal
Umur
Tingkat
Persepsi Sifat
Inovasi
Indikator
Keuntungan
Relatif
Kompatibilitas
Kompleksitas
Status dan kondisi
lahan
Kepemilikan alat
teknologi,
penguasaan
teknologi dan
penggunaan alat
produksi untuk
pertanian
Perolehan
pendapatan petani
Pendidikan
terakhir formal
yang dicapai oleh
petani responden
Pendidikan
nonformal petani
responden melalui
pelatihan yang di
berikan oleh
penyuluh pertanian
Kemampuan fisik
petani dalam
mengelola
usahatani
Keuntungan yang
diperoleh petani
saat menerapkan
metode SRI
Derajat dimana
inovasi dianggap
konsisten dengan
nilai dan norma
yang berlaku
dimasyarakat
Derajat dimana
inovasi dianggap
sebagai suatu yang
sulit untuk
39
-Kualitas dan kuantitas lahan
yang tersedia untuk diolah
sesuai dengan jenis kegiatan
pertanian yang dilakukan
oleh petani yang
bersangkutan.
- Kepemilikkan teknologi
pertanian
-Pemahaman dalam
penggunaan teknologi
-Frekuensi penggunaan
teknologi.
Pendapatan berdasarkan
standar UMK Bantul
Jenjang pendidikan formal
meliputi pendidikan formal
wajib belajar 12 tahun dan
perguruan tinggi
Materi yang diberikan
penyuluh, pengusaan materi
oleh penyuluh, tingkat
komunikasi penyuluh
terhadap petani
Umur petani responden saat
pengambilan data, diukur
pada tiga kriteria yaitu
produktif, non produktif dan
tidak produktif.
Dapat diperoleh secara fisik
(hasil produksi) maupun non
fisik (tenaga,waktu,biaya)
Kesesuaian inovasi teradap
kondisi sosial sekitar, kaedah
kerjasama, tingkat gotongroyong, kondisi geografis
Paham terhadap teknologi
yang digunakan, tata cara
penggunaan, kemudahan
akses teknologi SRI
dipahami dan
digunakan
Triabilitas
Observabilitas
Derajat dimana
suatu inovasi dapat
diuji-coba batas
tertentu
Asal mula munculnya
motivasi untuk menguji,
efisiensi teknologi,
perbandingan terhadap
teknologi lain.
Sejauh mana
sebuah inovasi
dapat diamati oleh
orang lain
Tokoh panutan yang telah
menerapkan inovasi
Sumber Informasi
Secara langsung
(primer)
Secara tidak
langsung
(sekunder)
Tingkat
Akses
Informasi
Nilai Informasi
Kualitas Informasi
Frekuensi
Informasi
Intensitas
Informasi
Kosmopolitan
Tingkat hubungan
petani dengan
dunia luar di luar
sistem sosialnya
sendiri ditandai
dengan aktivitas
mencari informasi
yang berhubungan
dengan
usahataninya
40
Pemberitahuan kabar atau
berita yang dapat diakses
maupun diperoleh secara
langsung terutama melalui
sosialisasi.
Pemberitahuan kabar atau
berita yang dapat diakses
maupun diperoleh secara
tidak langsung. Namun
menggunakan media massa
lokal sebagai perantaranya
(koran, majalah, televisi
radio, dan media sekunder
lainnya)
Pemberitahuan kabar atau
berita yang meliputi kualitas
informasi. Hal ini dapat
dilihat dari nilai
kebermanfaatan informasi
yang sampai ke masyarakat.
-Seberapa sering informasi
diberikan.
-Seberapa sering informasi
diterima oleh tiap orang.
Kontak dengan petani
didaerah lain, kontak dengan
penyuluh,
Tingkat
Adopsi
Inovasi
Teknologi
SRI
Tahapan petani
dalam
mengadopsi
komponen
teknologi SRI
Umur bibit tanam
Satu lobang satu
tanaman
Jarak tanam
Pengairan
Pendagairan
Asupan bahan
organik
Kategori Adopter
yang
mempengaruhi
kecepatan dalam
proses
pengambilan
keputusan
Inovator
Early Adopter
Early Majority
Late Majortity
41
Bibit padi ditransplantasi
saat dua daun telah muncul
pada batang muda, biasanya
berumur 8-15 hari,
kelembaban tanah, jumlah
bulir yang dihasilkan oleh
malai, waktu yang
dibutuhkan tiap perpindahan
bibit ke pesemaian.
Penanaman bibit satu lobang
satu tanam terdiri dari 2-3
tanaman, jenis tanaman yang
ditanam
Pola luasan jarak tanam
minimal 25cm, tanaman
yang diperoleh tiap m2,
kebutuhan benih tiap ha
Kebutuhan air yang
dibutuhkan (Sistem Irigasi)
Pembersihan Gulma dengan
alat sederhana, pendagairan
pertama dilakukan 10-12 hari
setelah transplantasi dan
kedua 14 hari, minimal
pendagairan sebanyak 2-3
kali
Jenis pupuk yang digunakan,
hasil panen yang diperoleh
per ha, kualitas tanah.
Aktor yang berani
mangambil resiko, memiliki
jiwa petualang yang tinggi,
memahami pengetahuan
teknik yang rumit
Lebih beriorientasi didalam
sistem, melakukan observasi
terlebih dahului sebelum
mengadopsi , menjadi
panutan bagi anggota dalam
kelompok sosial.
Penuh pertimbangan dalam
mengadopsi inovasi, lebih
banyak berinteraksi dengan
anggota sistem lainnya.
Adanya tekanan sosial dan
ekonomi, bersikap skeptis
dan hati-hati, perlu adanya
dorongan dan tekanan dari
teman anggota kelompok
sosial didalamnya.
Laggards
Jangka Waktu
Tahap Pengenalan
Tahap Persuasi
Tahap Keputusan
Tahap Pengukuhan
42
Kelompok yang sempit dan
minim pengetahuan,
memiliki pedoman masa lalu,
berpegang teguh pada nilainilai tradisional.
Berbicara atau kontak
langsung dengan agen
pembaru
Mengadakan komunikasi
antar petani dan melakukan
percobaan
Memahami seluruh areal
lahan pertanian dengan bibit
baru yang akan digunakan
Memutuskan untuk
meneruskan atau tidak
meneruskan penggunaan
inovasi SRI
Download