BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konstitusi

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konstitusi Indonesia menegaskan bahwa Indonesia merupakan Negara
Kesatuan yang berbentuk Republik, demikian sesuai bunyi Pasal 1 ayat (1)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUDNRI Tahun
1945), yakni ”Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah
provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap
provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur
dengan undang-undang.”1 Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan
konsepsi yang menjadi prinsip dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan
daerah. Pasal 18B ayat (1) UUDNRI Tahun 1945 berbunyi, “Negara mengakui
dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau
bersifat istimewa yang diatur dengan Undang-Undang.”2 Konsep tersebut di satu
sisi mengukuhkan keberadaan daerah sebagai bagian nasional, tapi di sisi lain
memberikan stimulan bagi masyarakat daerah untuk mengartikulasikan semua
kepentingannya, termasuk masalah otonomi daerah dalam sistem hukum dan
kebijakan nasional.3 Pemerintahan dalam susunan daerah besar dan kecil adalah
pemerintahan yang disusun atas dasar otonomi, yaitu hak melakukan, mengatur,
1
Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pasal 18B ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
3
Hari Sabarno, 2007, Untaian Pemikiran Otonomi Daerah: Memandu Otonomi Daerah, Menjaga
Kesatuan Bangsa, Sinar Grafika, Jakarta, hlm. 144.
2
1
2
dan mengurus pemerintahan/rumah tangga sendiri sebagai sendi kerakyatan dalam
sebuah negara kesatuan (eenheidsstaat).4
Pelaksanaan politik desentralisasi dan otonomi daerah adalah hal yang tidak
dapat dipisahkan, di mana dalam hal ini di Indonesia telah melewati tahun-tahun
panjang sejak kali pertama ide ini diintrodusir pemerintahan Kolonial Belanda
melalui Decentralisatie Wet 23 Juli 1903.5 Ditinjau dari segi historis, yakni dari
sejarah pembentukan Undang-Undang Dasar 1945, Moh. Yamin yang pertama
kali membahas permasalahan Pemerintahan Daerah dalam Sidang Badan
Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 29
Mei 1945 sebagaimana dikutip oleh Ni’matul Huda berdasarkan tulisan
Moh.Yamin dalam Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai
berikut:
Negeri, Desa, dan segala persekutuan hukum adat yang dibaharui dengan
jalan rasionalisme dan pembaharuan zaman, dijadikan kaki susunan sebagai
bagian bawah. Antara bagian atas dan bagian bawah dibentuk bagian tengah
sebagai Pemerintahan Daerah untuk menjalankan Pemerintahan Urusan
Dalam, Pangreh Raja.6
Fenomena yang mengemuka belakangan adalah bahwa otonomi daerah di
Indonesia dilaksanakan secara tidak seragam, di antaranya diterapkan oleh
beberapa daerah seperti Aceh, Papua, Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, dan
Yogyakarta. Apabila dibaca secara utuh risalah perubahan Pasal 18 UUDNRI
4
Penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945.
Pratikno, et. al., (Tim Peneliti Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM), 2010,
“Desentralisasi Asimetris di Indonesia Praktek dan Proyeksi: Bab II, Asimetrisme dalam
Komparisi oleh Cornelis Lay”, Laporan Akhir Penelitian, Yayasan Tifa dan Jurusan Ilmu Politik
dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
hlm. 5.
6
Ni’matul Huda, 2013, Otonomi Daerah: Filosofi, Sejarah Perkembangan, dan Problematika,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 1.
5
3
Tahun 1945 secara eksplisit tidak ditemukan istilah desentralisasi asimetris,
namun bukan berarti tidak mengandung konsep tersebut. Pembahasan tentang
desentralisasi memperhatikan dan menempatkan kekhasan masing-masing daerah
sebagai salah satu roh perubahan Pasal 18, di mana anggota Majelis
Pemusyawaratan Rakyat (MPR) secara implisit membahas pola desentralisasi
asimetris dalam desain hubungan pusat-daerah.7
Desentralisasi asimetris menjadi desain desentralisasi yang diterapkan di
Indonesia di mana terdapat hubungan antara pemerintah pusat dan daerah yang
tidak seragam jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya, namun
memperhatikan karakteristik masing-masing daerah. Paradigma inilah yang
dikenal sebagai asymmetrical decentralization yang secara legal konstitusional
memiliki akar yang kuat pada konstitusi dan spirit yang inherent dalam praktik
desentralisasi Indonesia sejak awal kemerdekaan, tetapi tidak dirumuskan secara
tajam dalam regulasi-regulasi nasional mengenai desentralisasi.8
Sebagaimana disinggung di atas, salah satu daerah yang mendapatkan
keistimewaan lewat Undang-Undang adalah Provinsi Aceh. Provinsi Aceh
menjadi salah satu bukti daerah dengan kewenangan khusus yang diberlakukan
setelah melalui berbagai konflik dan pergolakan politik sangat panjang. Politik
hukum kewenangan khusus termasuk syari’at Islam bagi Provinsi Aceh dimulai
setelah pemberlakuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh sebagai turunan dari Memorandum of Understanding Helsinki
Saldi Isra, 2013, “Desentralisasi Asimetris di Indonesia: Kajian dari Aspek Konstitusi”, Jurnal
Ilmu Pemerintahan, Edisi 42 Tahun 2013, hlm. 55-56.
8
Pratikno, et. al., (Tim Peneliti Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM), Op. Cit., hlm.
7.
7
4
(Nota Perdamaian Aceh). Hal ini tidak lepas dari sejarah konflik antara Aceh
dengan Pemerintah Indonesia sejak tahun 1976 yang telah menjadi salah satu
cerita fenomenal dari beberapa deretan panjang cerita daerah konflik di Indonesia.
Aceh merupakan provinsi yang memiliki Sumber Daya Alam berlimpah,
seperti minyak bumi dan gas alam yang terletak di Aceh Utara dan Aceh Timur.
Aceh juga terkenal dengan sumber hutannya, yang terletak di sepanjang jajaran
Bukit Barisan, dari Kutacane, Aceh Tenggara, sampai Seulawah, Aceh Besar serta
sebuah taman nasional, yaitu Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang
terdapat di Aceh Tenggara.9 M.C. Ricklefs sebagaimana dikutip oleh Otto
Syamsuddin Ishak menyebut bahwa kebangkitan Aceh, berjayanya Malaka, dan
kedatangan orang-orang Eropa terjadi dalam sebuah zaman yang sama, yang
dimulai pada akhir abad 15 dan pasang naik ekspansinya pada abad 16-17.10 Sejak
abad 16 itulah Aceh berkembang menjadi salah satu kekuatan politik, militer,
ekonomi, dan budaya tersendiri di kawasan Selat Malaka.11 Kuatnya pengaruh
budaya dan Agama Islam di masa kesultanan juga membuat Aceh sering disebut
dengan bumi “Serambi Mekkah”.
Aceh merupakan titik silang dunia karena Aceh sebagai titik temu
perdagangan internasional dan titik silang budaya aneka bangsa abad 17. Posisi di
silang dunia itu juga menempatkan Aceh bergantian bila saatnya sebagai sekutu,
lawan atau bila Aceh sebagai sebuah negara yang dihormati kemerdekaannya
Departemen Kehutanan, tanpa tahun, “Profil Kehutanan: Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam”
(online), http://dephut.go.id/uploads/files/4e58087e6c859194b5dfae4f6aee1058.pdf, diakses 18
Nopember 2015.
10
Otto Syamsuddin Ishak, 2009, Perdamaian: yang Berikhtiar, yang Menentang (Kronik
Perundingan GAM-RI di Helsinki 2005), Achehnese Civil Society Task Force, Aceh, hlm. 2.
11
Ibid.
9
5
dalam kompetisi politik internasional di kawasan Selat Malaka, Asia Tenggara.12
Dari berbagai gelombang perang dan konflik, maka ada satu konflik tak terlupa
yang mencuat sejak Hasan Di Tiro mendeklarasikan Aceh Merdeka pada tanggal
4 Desember 1976. Awal mula penyebab munculnya konflik di Aceh disebabkan
oleh berbagai hal, di antaranya adalah ketika abad ke 17 (zaman pra kolonial)
terjadi fenomena di mana rakyat Aceh merasa mendapat perlakuan tidak adil
dalam bidang politik, ekonomi, hingga dilakukannya penerapan DOM (Daerah
Operasi Militer) 1989-1998 yang telah banyak menimbulkan korban sipil.
Ketidakpuasan rakyat dan resistensi GAM yang didukung warga Aceh terhadap
pemerintah pusat yang dianggap sentralistik dan tidak aspiratif, terjadi karena
beberapa hal seperti adanya kekecewaan dari masyarakat lokal terkait identitas
lokal, ekonomi, dan harga diri. Ditilik dari sejarahnya, berbagai kekecewaan yang
dialami rakyat Aceh pada pemerintah pusat tersebutlah menyebabkan munculnya
Gerakan Separatis yang diprakarsai oleh Hasan Tiro yang bertujuan untuk
memperjuangkan kemerdekaan bagi Aceh yang terpisah dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Demikianlah pasang surut kondisi Aceh hingga ketidakharmonisan AcehRepublik Indonesia (RI) tergambar melalui rentetan peristiwa penting di Aceh
dari waktu ke waktu. Di tengah upaya negosiasi untuk mengembalikan Aceh ke
pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pada tahun 2004, terjadi
Gempa dan Tsunami di Aceh yang menambah penderitaan rakyat. Meski
demikian, Gempa dan Tsunami akhirnya membawa hikmah tersendiri bagi
12
Ibid., hlm. 3-4.
6
perdamaian Aceh selanjutnya. Akan sulit membangun Aceh kembali pasca
musibah tersebut bila antara pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh
Merdeka13 masih belum terwujud perdamaian. Pemerintahan di zaman Susilo
Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla yang menginginkan cara persuasif dalam
mengembalikan Aceh kembali pangkuan NKRI akhirnya berhasil. Nota
perdamaian GAM-RI ditandatangani di Helsinki, Finlandia, pada tanggal 15
Agustus 2005.
Memorandum of Understanding Helsinki14 terdiri dari enam bagian, yaitu: (1)
Penyelenggaraan pemerintahan Aceh; (2) Hak Asasi Manusia; (3) Amnesti dan
Reintegrasi ke dalam Masyarakat; (4) Pengaturan Keamanan; (5) Pembentukan
Misi Monitoring Aceh; (6) Penyelesaian Perselisihan. Tercapainya MoU Helsinki
tersebut telah melahirkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh (UUPA)15 sebagai turunannya. UUPA tersebut diharapkan
mampu menjadi pedoman dan payung hukum bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah
Daerah dan masyarakat Aceh dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa,
bernegara dan bermasyarakat di tanah Rencong tersebut. Format kewenangan
khusus dalam desain desentralisasi asimetris yang lahir melalui UUPA ini lebih
luas dibandingkan format yang pernah diberikan sebelumnya selama pasang surut
dinamika hubungan Aceh dan pusat. Format desentralisasi asimetris di Aceh
berkembang seiring dinamika politik lokal di Aceh.16 Laporan Tim Peneliti
13
Selanjutnya dalam penulisan tesis ini disebut GAM.
Selanjutnya dalam penulisan tesis ini disebut MoU Helsinki.
15
Selanjutnya dalam penulisan tesis ini disebut UUPA.
16
Praktikno, et. al., (Tim Peneliti Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM), Op. Cit.,
hlm. 23.
14
7
Jurusan Politik dan Pemerintahan (JPP) Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam
bagian akhirnya memaparkan sebagai berikut:
Laporan ini menggarisbawahi bahwa latar belakang gerakan perlawanan
Aceh terhadap Jakarta dapat dimaknai sebagai proses politik yang
melatarbelakangi kebutuhan hadirnya formulasi penataan pemerintahan dan
ketatanegaraan yang lebih berkeadilan. Capaian yang telah dihasilkan melalui
UUPA dengan kompleksitas persoalan substansi dan implementasi adalah
bagian dari proses perdamaian dan pembangunan di Aceh. Kemudian,
hadirnya konstruksi kekuasaan dan pola pemerintahan yang asimetrik telah
menjadi milestone yang membutuhkan upaya secara serius segenap pihak
untuk mewujudkan proses kenegaraan dan kebangsaan yang lebih
berkeadilan.17
Setelah 10 tahun perdamaian tentunya masih banyak permasalahan tersisa
yang belum terjawab. Salah satu di antaranya adalah bahwa politik hukum UUPA
tak bisa dilepaskan begitu saja dengan eksistensi nota Kesepahaman Helsinki.
Sejak UUPA disahkan, eksistensi MoU Helsinki juga menjadi polemik, di mana
sebagian pihak seperti akademisi dan anggota parlemen Aceh berpendapat bahwa
secara yuridis, referensi utama untuk mengisi perdamaian Aceh bukan lagi MoU
Helsinki, melainkan UUPA.18 Bertolak belakang dengan hal itu, JPP dalam hasil
penelitiannya menyebutkan bahwa aktivis Partai Aceh (yang saat ini didominasi
eks kombatan GAM) bersikeras bahwa starting point untuk membayangkan dan
mendesain Aceh baru harus dimulai dari kesepakatan yang disetujui dalam MoU
Helsinki.19
Terkait hal tersebut, penulis dalam hal ini menemukan hasil temuan yang
berbeda-beda berdasarkan masing-masing lembaga/pihak tertentu. Laporan akhir
17
Ibid., hlm. 40.
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), 2008, Laporan Situasi
Politik dan HAM Aceh Tahun 2007: Belum Ada Jaminan Keadilan, Komisi untuk Orang Hilang
dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Banda Aceh, hlm. 4.
19
Praktikno, et. al., (Tim Peneliti Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM), Op. Cit.,
hlm. 32.
18
8
Crisis Management Initiative (CMI) yang berjudul Proyek Tindak Lanjut Proses
Perdamaian Aceh dalam hasil temuannya menguraikan norma-norma UUPA yang
berbeda dengan ketentuan MoU Helsinki, yakni di bidang prinsip-prinsip
penyelenggaraan pemerintahan Aceh, ekonomi, aturan hukum, dan pengaturan
keamanan.20 Sedikit berbeda dengan CMI, International Center for Transitional
Justice (ICTJ) memasukkan Pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi Aceh sebagai poin yang berbeda pengaturannya antara MoU Helsinki
dan UUPA, di mana kewenangan pengadilan yang dijamin UUPA dibatasi hanya
untuk mengadili kejahatan yang dilakukan setelah MoU ditandatangani.21
Sebagai analisis, penulis dalam hal ini memilih menganalisis pengaturan
syari’at Islam Aceh, di mana hal ini juga tidak disebutkan secara eksplisit dan
spesifik di dalam MoU Helsinki.22 Berbicara mengenai perubahan masyarakat dan
pencapaian tujuan hukum dalam penerapan syari’at Islam di Aceh berarti
mengkaji perubahan kehidupan sosial dalam masyarakat Aceh yang berorientasi
kepada proses pembentukan hukum syari’at Islam dalam pencapaian tujuannya.
BBC Indonesia dalam wawancara dengan Jusuf Kalla mengutip ucapan Jusuf
Kalla terkait hal tersebut sebagai berikut:
Sebenarnya di Helsinki atau di perjanjian MoU sama-sekali tidak ada
mengenai syari’at Islam. Itu tercantum terlebih dahulu di UU Khusus Aceh di
mana daerah khusus itu dapat memberlakukan hukum-hukum yang khusus
yang disetujui oleh DPR Aceh. Karena itu, masalah-masalah peraturan
Crisis Management Initiative; Marti Ahtisaari Centre, “Proyek Tindak Lanjut Proses
Perdamaian Aceh” (online), http://cmi.fi/aceh/pdf/aceh_report5_indo2.pdf, diakses 7 Januari 2016.
21
International Center for Transitional Justice (ICTJ), “Pentingnya Pertanggungjawaban: 5 Tahun
Memorandum of Understanding Helsinki” (online), https://ictj.org/sites/default/files/ICTJIndonesia-Aceh-MoU-2010-Indonesian.pdf, diakses 7 Januari 2016.
22
Lihat Poin 1.1.6. MoU Helsinki: “Kanun Aceh akan disusun kembali untuk Aceh dengan
menghormati tradisi sejarah dan adat istiadat rakyat Aceh serta mencerminkan kebutuhan hukum
terkini Aceh. “
20
9
tentang syariah diputuskan oleh DPR Aceh dan itu memang secara hukum,
Aceh bisa mengambil itu selama tidak bertentangan dengan hukum nasional
yang bersifat umum.23
Harus diakui, pelaksanaan syari’at Islam dengan campur tangan pemerintah
bagi sebagian intelektual masih terdapat pro kontra, namun di sini penulis
berfokus untuk mendapat solusi berdasarkan studi politik hukum dan analisa
implementasi penerapan syari’at Islam di Aceh. Formalisasi syari’at Islam juga
memunculkan sikap kontra di mana keberadaan syariah bagi kehidupan manusia
adalah sesuatu yang substansial dan karena itu pula ketika dicoba untuk
ditransformasikan ke dalam nilai-nilai kehidupan akan mendapat tantangan yang
disebabkan oleh keragaman pemikiran dan luasnya wawasan pemaknaan dasar
dari syari’at itu sendiri.24 Syari’at Islam juga masih mendapat tantangan di bidang
hak asasi manusia di tengah kecenderungan era globalisasi yang menuntut
kearifan, toleransi dan kebersamaan untuk menuju kemaslahatan. Suraiya
Kamaruzzaman, aktivis perempuan asal Aceh juga mengatakan bahwa setelah
sepuluh tahun perdamaian tidak ada grand design penerapan syari’at Islam di
Aceh seperti apa.25 Setiap daerah menafsirkan sendiri-sendiri, di mana dalam
implementasinya setiap bupati atau wali kota mencoba membuat kebijakan
peraturan sesuai tafsirnya masing-masing.26 Sementara bagi yang pro, masih
BBC Indonesia, “Wapres: Syari’at Islam di Aceh Tidak Boleh Bertentangan dengan Hukum
Nasional”
(online),
http://bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150821_indonesia_wapres_syariatislam_aceh,
diakses 8 Januari 2016.
24
Annisha Putri Andini, “Tinjauan Sosiologi Hukum terhadap Penerapan Syari’at Islam di Aceh”,
Rizki Ramadani (Eds.), 2015, Hukum dalam Bunga Rampai Pemikiran, Genta Press, Yogyakarta,
hlm. 252.
25
BBC Indonesia (Heyder Affan), “Mereka Menyoroti Penerapan Syari’at Islam di Aceh”
(online), http://bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/08/150817_indonesia_gam_syariatislam,
diakses 8 Januari 2016.
26
Ibid.
23
10
berharap syari’at Islam di Aceh diterapkan secara kaffah, baik dalam hal ibadah,
ahwal al-syakhshiyah (hukum keluarga), jinayah (hukum pidana), qadha’
(peradilan), tarbiyah (pendidikan), muamalah (hukum perdata), dakwah, syiar,
dan pembelaan Islam sebagaimana diatur dalam UUPA.
Multiinterpretasi terhadap eksistensi MoU RI-GAM terjadi ketika dihadapkan
pada konstitusi dan sistem hukum yang berlaku di Indonesia. Pertanyaan
kemudian mengapa terdapat perbedaan substansi antara keduanya, dan juga
beberapa norma yang diubah bunyinya tidak sama persis dengan MoU Helsinki.
Jika melihat perumusannya, memang tidak semua poin pada MoU Helsinki telah
diakomodasi oleh UUPA, selain terdapat poin yang telah diakomodasi, dan
bahkan yang saling bertentangan antara MoU dan UUPA.
Senada dengan hal tersebut, Ni’matul Huda mengatakan bahwa desentralisasi
harus dipandang secara lebih realistis, bukan sebagai sebuah pemecahan umum
bagi masalah-masalah keterbelakangan, tetapi sebagai salah satu cara yang dapat
meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kepercayaan dari berbagai tingkat
pemerintahan dalam kondisi baik.27 Djohermansyah Djohan dalam tulisannya di
Jurnal Ilmu Pemerintahan memaparkan bahwa terdapat beberapa permasalahan
dan tantangan dalam desentralisasi asimetris Aceh, di antaranya:
1.
2.
Kebijakan desentralisasi Aceh bisa terancam gagal apabila formulasinya
kabur, tidak jelas, tidak rinci, dan tidak tuntas serta tidak mengakomodasi
tuntutan masyarakat dan perjanjian yang disepakati sungguh-sungguh;
Pada implementasinya, desentralisasi asimetris bisa terganggu apabila di
daerah tersebut masih terdapat kelompok yang tidak tulus menerima
kehadirannya;
27
Ni’matul Huda, Op. Cit., hlm. 91.
11
3.
4.
Desentralisasi asimetris bisa berjalan lamban apabila penyelenggara
pemerintahan yang menerimanya tidak kreatif, tidak inovatif, tidak responsif,
dan rendah kapasitas SDM aparatur dalam pelaksanaannya,
Desentralisasi asimetris bisa berjalan kurang lancar apabila pemerintah pusat
kurang serius, kurang ikhlas, kurang memfasilitasi, kurang memiliki
bimbingan, kurang melakukan pengawasan dalam penerapannya.28
Secara objektif keilmuan penelitian ini penting di mana studi politik hukum
berguna untuk menjawab mengapa sebuah peraturan demikian bunyinya, seperti
mengapa terdapat perbedaan substansi antara materi MoU Helsinki dalam politik
hukum
pembentukan
norma-norma
UUPA
dan
bagaimana
kemudian
implementasi dari norma tersebut dapat berjalan optimal. Penelitian politik hukum
ini adalah salah satu cara untuk mengevaluasi, dan bermanfaat menjawab
permasalahan yang ada, di antaranya dengan menyelidiki konfigurasi politik yang
terjadi dalam pembentukan sebuah peraturan, perubahan-perubahan apa yang
harus diadakan dalam hukum yang sekarang berlaku supaya menjadi sesuai
dengan kenyataan sosial (sociale werkelijkheid). Masing-masing akan mampu
memaparkan beberapa hal terkait latar belakang lahirnya sebuah aturan dan
perkembangan serta permasalahan hukum tersisa, di antaranya terkait pengaturan
syari’at Islam. Syari’at Islam yang sudah disepakati kemudian dapat dievaluasi
dan
dilakukan
pembenahan
agar
hukum
menjadi
sarana
yang
bisa
mensejahterakan Aceh dan bukan sebaliknya.
Ruang lingkup penelitian yang penulis lakukan adalah terkait pengaturan
syari’at Islam Aceh pada Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh, dengan terlebih dahulu melakukan analisis pengadopsian
Djohermansyah Djohan, 2013, “Desentralisasi Asimetris Aceh dan Permasalahannya”, Jurnal
Ilmu Pemerintahan, Edisi 42 Tahun 2013, hlm. 134.
28
12
substansi MoU Helsinki ke dalam norma UUPA berdasarkan studi politik hukum.
Penelitian ini dilakukan dengan mengulas mendalam latar belakang lahirnya suatu
norma, yang salah satunya berlandaskan MoU Helsinki. Latar belakang lahirnya
suatu norma dapat dikaji melalui proses pembentukan hukum menuju hukum yang
dicita-citakan (ius constituendum). Hasil penelitian ini menjadi wadah bagi
penulis untuk memahami cita-cita hukum dalam UUPA tersebut. Pada akhir
tulisan, saran-saran yang penulis tuangkan diharapkan mampu menjawab
tantangan normatif empirik ke depan bagi pemberlakuan desentralisasi asimetris
Aceh setelah 10 tahun perdamaian Aceh.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah sebagai pembatasan masalah dibutuhkan agar peneliti
mendapatkan pencapaian optimal dari tujuan dan manfaat. Adapun rumusan
masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1.
Mengapa terdapat perbedaan pada perumusan materi Memorandum of
Understanding Helsinki ke dalam norma-norma Undang-Undang Nomor 11
Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh?
2.
Bagaimana pengaturan syari’at Islam dalam penyelenggaraan pemerintahan
di Aceh sebagai salah satu materi muatan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2006 tentang Pemerintahan Aceh yang tidak disebutkan secara spesifik di
dalam Memorandum of Understanding Helsinki?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian dibagi menjadi:
13
1.
Tujuan Objektif
Penelitian ini secara objektif bertujuan:
a.
Untuk mendeskripsikan, menganalisis, mengkaji mengapa terdapat
perbedaan pada perumusan materi Memorandum of Understanding
Helsinki ke dalam norma-norma Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2006 tentang Pemerintahan Aceh di kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
b.
Untuk mendeskripsikan, menganalisis, mengkaji pengaturan syari’at
Islam dalam penyelenggaraan pemerintahan asimterik di Aceh
sebagai salah satu materi muatan Undang-Undang Nomor 11 Tahun
2006 tentang Pemerintahan Aceh yang tidak disebutkan secara
spesifik di dalam MoU Helsinki.
2.
Tujuan Subjektif
Penelitian ini secara subjektif bertujuan untuk memenuhi syarat
kelulusan dan syarat akademis untuk memperoleh gelar Magister Ilmu
Hukum, di Program Pascasarjana Magister Ilmu Hukum, Klaster Hukum
Kenegaraan, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat baik secara teoritis
maupun praktis sebagai berikut:
1.
Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasan ilmu hukum dan
referensi ilmiah bagi kalangan akademik, khususnya di bidang Ilmu Hukum
14
Tata Negara terkait dengan politik hukum penerapan desentralisasi Asimetris
di Aceh pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan
Aceh dalam kerangka NKRI. Studi politik hukum ini diharapkan dapat
dijadikan bahan kajian komprehensif dan mendalam untuk evaluasi serta
pemecahan masalah normatif empirik tersisa dalam dinamika menjalankan
kewenangan khusus di Aceh, khususnya tentang syari’at Islam di Aceh.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Aceh
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan
dan evaluasi obyektif bagi pemerintah pusat maupun pemerintah Aceh
dalam merumuskan dan menjalankan norma MoU Helsinki dan UUPA
terkait dengan desentralisasi asimetris termasuk di antaranya syari’at
Islam Aceh agar dapat berjalan optimal sesuai konstitusi.
b.
Bagi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan
Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan bagi
legislator dalam menentukan kebijakan atau mengeluarkan undangundang yang berkenaan dengan Otonomi Daerah untuk mengakomodir
sistem desentralisasi asimetris yang sesuai aspirasi masyarakat dan
berkeadilan, khususnya hal-hal yang masih harus diperbaiki di Aceh,
seperti syari’at Islam.
c.
Bagi Masyarakat Aceh
15
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang
objektif dan jelas kepada masyarakat Aceh mengenai politik hukum
pemberlakuan UUPA serta membantu masyarakat Aceh dalam
meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan partisipasi aktifnya sehingga
dapat menjaga perdamaian pasca MoU Helsinki yang dirindukan sejak
lama oleh masyarakat Aceh.
d.
Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan
menjadi referensi mahasiswa khususnya yang sedang menempuh studi di
Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik atau lintas ilmu
lainnya terkait otonomi daerah untuk menjadi salah satu pihak yang
berkontribusi sebagai pemecah masalah terkait isu tersebut.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian mengenai “Politik Hukum Pengaturan Syari’at Islam Pada
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh
(Analisis Perbandingan Memorandum Of Understanding Helsinki dan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh)”,
sepanjang pengetahuan peneliti melalui penulusuran dan pengamatan bacaan
pustaka terdapat beberapa karya tulis berupa laporan penelitian, tesis, dan skripsi
berkaitan dengan desentralisasi asimetris. Dari sekian banyak hasil penelitian baik
berupa laporan penelitian, skripsi dan tesis, peneliti hanya mengangkat beberapa
yang dianggap memiliki substansi yang memiliki kemiripan dengan permasalahan
yang dirumuskan peneliti, di antaranya sebagai berikut:
16
1.
Djohermansyah Djohan dalam tulisannya di Jurnal Ilmu Pemerintahan, 2013,
dengan judul “Desentralisasi Asimetris Aceh dan Permasalahannya.” Artikel
oleh Djohermansyah Djohan tersebut menguraikan perkembangan kebijakan
desentralisasi asimetris di Aceh versi Undang-Undang Nomor 18 Tahun
2001, Nota Kesepahaman MoU Helsinki, serta Undang-Undang Nomor 11
Tahun
2006.29
Kesimpulan
akhir
menurutnya
adalah
implementasi
desentralisasi asimetris di Aceh menemukan titik ideal melalui UndangUndang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.30
2.
Laporan Riset Desentralisasi Asimetris di Indonesia oleh Pratikno, dan
kawan-kawan yang tergabung dalam Tim Jurusan Politik dan Pemerintahan
bekerjasama dengan Yayasan Tifa Foundation – Jakarta, 2010, dengan judul:
“Desentralisasi Asimetris di Indonesia Praktek dan Proyeksi.”31 Khusus untuk
Aceh pada bab III: “Aceh, Perdamaian yang Terancam” oleh anggota tim,
yaitu: Sigit Pamungkas, Hasrul Hanif, Erwin Endaryanta, dan Sri
Djoharwinarlien.
3.
Tesis yang ditulis oleh Helmy Boemiya, 2014, dengan judul “Penerapan
Desentralisasi Asimetris Terhadap Pemerintahan Daerah Dalam Kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia (Studi Kasus Daerah Istimewa
Yogyakarta).” Pada tesis tersebut terdapat tiga rumusan masalah, yaitu:
1.
2.
29
Bagaimanakah penerapan desentralisasi asimetris terhadap pemerintahan
daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?
Apakah penerapan desentralisasi asimetris terhadap pemerintahan daerah
sesuai bagi NKRI?
Djohermansyah Djohan, Op. Cit., hlm. 124-133.
Ibid.
31
Praktikno, et. al., (Tim Peneliti Jurusan Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM), Op. Cit.,
hlm. 20.
30
17
3.
4.
Bagaimanakah latar belakang pengaturan dan implementasi urusan
pemerintahan yang dilakukan oleh Pemerintahan Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) dalam kerangka NKRI?32
Karya tulis skripsi oleh Annisha Putri Andini, 2014, dengan judul “Tanggung
Jawab Negara terhadap Penegakan HAM di Aceh Pasca MoU Helsinki.” Pada
skripsi tersebut terdapat tiga rumusan masalah, yaitu:
1.
2.
3.
5.
Apa saja jenis pelanggaran HAM masa lalu yang terjadi pada masa
konflik di Aceh?
Bagaimana tanggung jawab negara terhadap pelanggaran HAM yang
terjadi pada masa konflik di Aceh?
Apa permasalahan hukum penerapan Memorandum of Understanding
Helsinki dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh terkait penyelesaian kasus HAM di Aceh?33
Karya tulis skripsi oleh Fauziah Suci Anggraini, 2013, dengan judul “Politik
Hukum Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus
Bagi Provinsi Papua.” Pada skripsi tersebut terdapat dua rumusan masalah,
yaitu:
1.
2.
Apakah yang melatarbelakangi pembentukan Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua?
Bagaimanakah pelaksanaan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001
tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia?34
Meski terdapat kemiripan tema dan substansi misalnya terkait latar belakang,
konflik Aceh, perdamaian Aceh pasca MoU Helsinki serta permalasahan
desentralisasi asimetris Aceh, akan tetapi berdasarkan hasil penelusuran peneliti
Helmy Boemiya, 2014, “Penerapan Desentralisasi Asimetris Terhadap Pemerintahan Daerah
dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (Studi Kasus Daerah Istimewa
Yogyakarta)”, Tesis, Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta, hlm. 8.
33
Annisha Putri Andini, 2014, “Tanggung Jawab Negara terhadap Penegakan HAM di Aceh Pasca
MoU Helsinki”, Skripsi, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Malang, hlm. 10.
34
Fauziah Suci Anggraini, 2013, “Politik Hukum Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 Tentang
Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua”, Skripsi, Program Sarjana Fakultas Hukum Universitas
Brawijaya, Malang, hlm. 6.
32
18
tidak ditemukan hasil penelitian, skripsi maupun tesis yang secara spesifik
membahas substansi sebagaimana judul peneliti, yaitu “Politik Hukum Pengaturan
Syari’at Islam pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan
Aceh (Analisis Perbandingan Memorandum Of Understanding Helsinki dan
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh)”.
Penelitian tesis ini yang juga menjadi pembeda dengan penelitian-penelitian
sebelumnya adalah bahwa penelitian ini lebih menitikberatkan pada politik hukum
dengan analisis pengaturan syari’at Islam yang diharapkan dapat memperkaya
bahasan peneliti. Tulisan Djohermansyah Djohan juga mengkaji mengenai
berbagai kebijakan desentralisasi asimetris Aceh namun tidak menguraikan secara
jelas perbedaan pengadopsian materi MoU Helsinki ke dalam UUPA berdasarkan
studi politik hukum. Penelitian skripsi oleh Fauziah Suci Anggraini juga mengkaji
politik hukum dengan judul “Politik Hukum Undang-Undang Nomor 21 Tahun
2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua”, namun Fauziah Suci
Anggraini memilih daerah otonomi khusus Papua. Penelitian tema politik hukum
dilakukan dengan menyoroti antara subsistem politik dan subsistem hukum, di
mana bahasannya mencakup pula pengaruh konfigurasi politik terhadap
pembuatan, karakter, dan pelaksanaan produk hukum terkait kewenangan khusus
di Aceh. Dapat ditarik kesimpulan bahwa dari semua penelitian terdahulu
perbedaan jelas terlihat pada perumusan masalah, objek penelitian, dan
pendekatan penelitian.
Download