BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RERANGKA PEMIKIRAN
A. Kajian Pustaka
1.
Aset tetap
a. Definisi aset tetap
Definisi aset tetap menurut Standar Akuntansi Keuangan No 16
(2011:16.2) adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam
produksi atau penyediaan barang atau jasa untuk direntalkan kepada pihak
lain atau untuk tujuan administratif dan diharapkan untuk digunakan
selama lebih dari satu periode.
Sedangkan menurut Firdaus (2010) aset tetap adalah aset yang
diperoleh untuk digunakan dalam kegiatan perusahaan untuk jangka waktu
lebih dari satu tahun, tidak dimaksudkan untuk dijual kembali dalam
kegiatan normal perusahaan, dan merupakan pengeluaran yang nilainya
besar atau material.
b. Karakteristik aset tetap
Dari definisi aset tetap yang dikemukan dalam SAK NO 16
(2011:16.2), maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa suatu aset dapat
dikatakan dikatakan aset tetap apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
1) Mempunyai bentuk fisik atau wujud
2) Memberikan manfaat di masa yang akan datang
6
7
3) Dipakai atau digunakan secara aktiv dalam operasional perusahaan
4) Tidak untuk dijual
5) Memiliki masa manfaat lebih dari satu periode akuntansi atau lebih dari
satu tahun
c. Klasifikasi aset tetap
Klasifikasi aset tetap dapat dilihat dari beberapa sudut sebagai berikut:
1) Sudut substansi aset tetap
a) Aset berwujud (tangible assets), seperti tanah, gedung, mesin,
peralatan
b) Aset tidak berwujud (intangible assets), seperti Hak cipta, Copy
right, Franchise, Goodwiil
2) Sudut tersusutkan atau tidak terbagi
a) Aset tetap yang dapat disusutkan (depr ciated plants asset), seperti
bangunan, peralatan,mesin
b) Aset tetap yang tidak dapat disusutkan (undepreciated plants assets),
seperti tanah
3) Berdasarkan jenis
Aset tetap berdasarkan jenis seperti lahan, bangungan, gedung, mesin,
kendaraan, inventaris.
8
d. Cara perolehan aset tetap
Untuk memperoleh suatu aset tetap dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
1) Pembelian tunai (Acquisition by purchase for cash)
Aset tetap yang diperoleh dari pembelian tunai dicatat sebesar uang
yang dikeluarkan. Jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperoleh
aset tetap termasuk harga faktur dan beban yang dikeluarkan
berhubungan dengan pembelian atau persiapan penggunaannya.
Perolehan beberapa aset dibeli secara bersamaan dengan suatu jumlah
total pembayaran, tanpa dibuat penilaian harga masing-masing, maka
perlu ditentukan besar nilai dari masing-masing aset yang didasarkan
pada harga pasar.
Berikut contoh transaksi dan pencatatannya :
Pada tanggal 5 Januari 2010 dibeli dengan tunai 1 unit kendaraan untuk
operasional Perusahaan senilai Rp. 350.000.000
Jurnal :
Kendaraan (Vehicle).............................Rp. 350.000.000
Kas (Cash)..........................................................Rp. 350.000.000
Jika dalam pembelian yang diperoleh lebih dari satu jenis aset tetap
maka harga perolehan dialokasikan ke masing-masing aset. Harga
perolehan dari setiap aset yang diperoleh secara gabungan ditentukan
9
dengan
mengalokasikan
harga
gabungan
tersebut
berdasarkan
perbandingan nilai wajar setiap aset yang bersangkutan.
Berikut contoh transaksi dan pencatatannya :
Pada tanggal 5 Januari 2010 dibeli secara tunai untuk tanah, bangunan
dan peralatan dengan total harga sebesar Rp. 950.000.000
Menurut taksiran fiskus harga dari aset tanah sebesar Rp. 350.000.000,
bangunan Rp. 250.000.000, peralatan Rp. 100.000.000, maka untuk
menentukan harga perolehan masing-masing aset tersebut adalah :
TABEL 2.1 CONTOH PENENTUAN HARGA PEROLEHAN
MASING-MASING ASET TETAP YANG DIPEROLEH SECARA
GABUNGAN
Aset
Tetap
Taksiran
Fiskus
Tanah
350.000.000
Bangunan
250.000.000
Peralatan
100.000.000
Jumlah
700.000.000
Alokasi HP berdasarkan nilai HP Aset Tetap
relative yang ditaksirkan (Rp)
(Rp)
350.000.000 X 950.000.000
475.000.000
700.000.000
250.000.000 X 950.000.000
339.285.714
700.000.000
100.000.000 X 950.000.000
135.714.286
700.000.000
Jurnal :
Tanah (Land)........................................Rp. 475.000.000
Bangunan (Building).............................Rp. 339.285.714
Peralatan (Equipment).........................Rp. 135.714.286
Kas (Cash).............................................................Rp. 950.000.000
10
2) Pembelian angsuran (Acquisition by purchase on long term contract)
Dalam hal pembelian aset tetap secara angsuran diatur dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No 16.9 (2011) adalah sebagai
berikut:
Biaya perolehan aset tetap adalah setara dengan nilai tunai yang
diakui pada saat terjadinya. Jika pembayaran suatu aset
ditangguhkan hingga melampaui jangka waktu kredit normal,
perbedaan antara nilai tunai dengan pembayaran total diakui
sebagai beban bunga selama periode kredit.
Berikut contoh transaksi dan pencatatannya :
Pada tanggal 5 Januari 2010 dibeli 1 unit kendaraan sebesar Rp.
350.000.000 dengan membayar uang tunai sebesar Rp. 50.000.000
sebagai uang muka dan sisanya di angsur selama 12 bulan dengan
bunga sebesar 2 % per bulan.
Pada saat pencatatan transaksi pembelian awal
Jurnal :
Kendaraan (Vehicle)...................................350.000.000
Kas (Cash).......................................................................50.000.000
Hutang (Account Payable).............................................300.000.000
Pada saat membayar angsuran setiap bulan(bunga tetap)
Angsuran per bulan = 300.000.000 / 12 bulan = 25.000.000/bln
Bunga per bulan
= 300.000.000 x 2%
= 6.000.000/bln
11
Jurnal :
Hutang (Account Payable)............................25.000.000
Beban bunga (Interest Expense).....................6.000.000
Kas (Cash).......................................................................31.000.000
3) Perolehan dengan pertukaran (Acquisition by exchange)
Perolehan aset tetap dengan pertukaran dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu :
a) Pertukaran dengan sesama aset tetap
Aset tetap dapat diperoleh dengan cara pertukaran dengan aset tetap
lainnya.
Harga perolehan aset tetap diukur dengan harga pasar (fair market
value) dari aset tetap yang dilepaskan (diserahkan) sebagai alat
penukarnya. Apabila terdapat perbedaan antar nilai buku dengan
harga pasar aset tetap yang diserahkan dalam transaksi tersebut maka
harus diakui (dicatat) rugi-labanya.
Pertukaran aset tetap dengan aset tetap lainnya dikelompokan
menjadi dua, yaitu :
i) Pertukaran aset tetap yang sejenis (Similar Assets)
Yaitu pertukaran aset tetap yang sifat dan fungsinya sama, seperti
pertukaran mesin lama dengan mesin baru, truk lama dengan truk
baru. Dalam hubungannya dengan aset yang sejenis, laba atau
rugi yang timbul akibat perbedaan nilai wajar aset tetap yang
12
diperoleh dengan yang diserahkan tidak boleh diakui, sehingga
selisihnya akan digunakan untuk mengkoreksi nilai wajar aset
yang diperoleh. Bila terdapat selisih nilai wajar, maka nilai wajar
aset tetap baru ditetapkan sebesar nilai buku aset yang dilepaskan.
Sebaliknya jika nilai buku aset yang dilepaskan lebih tinggi dari
nilai wajar aset yang diterima, maka nilai buku aset yang
diserahkan harus diturunkan dan nilai baru sesudah penurunan
digunakan sebagai nilai wajar aset yang diterima.
Apabila dalam transaksi pertukaran itu perusahaaan harus
membayar uang dalam jumlah tertentu, maka harga perolehan aset
yang diterima sama dengan nilai buku aset yang dilepaskan
ditambah uang yang dibayarkan. Sebaliknya apabila perusahaan
menerima uang dalam transakasi pertukaran itu, maka harga
perolehan aset yang diterima adalah sebesar nilai buku aset yang
dilepaskan dikurangi dengan uang yang diterima.
Berikut contoh transaksi dan pencatatannya:
Perusahaan milik Pak Subkhan ingin menukar mesin lamanya
dengan dengan mesin baru. Harga perolehan mesin lama sebesar
40.000.000 dengan besar penyusutan yang telah terjadi sebesar
32.000.000. Harga pasar mesin tersebut dinilai sebesar Rp.
11.000.000. Sedangkan mesin baru yang diinginkan oleh Pak
Subkhan mempunyai harga perolehan sebesar Rp. 50.000.000.
13
Berdasarkan data tersebut buatlah perhitungan dan jurnal yang
diperlukan.
Penyelesaian :
Perhitungan menentukan laba rugi pertukaran :
- Nilai buku mesin lama
(40.000.000 – 32.000.000)
=
Rp. 8.000.000
- Harga pasar mesin lama
=
Rp. 11.000.000
- Laba pertukaran
=
Rp. 3.000.000
Karena dalam pertukaran aset tetap yang sejenis tidak mengakui
adanya laba pertukaran, maka laba diperlakukan sebagai
pengurang harga perolehan mesin baru, sehingga harga perolehan
mesin baru adalah :
Rp. 50.000.000 – Rp. 3.000.000 = Rp. 47.000.000
Perhitungan untuk menentukan besarnya kas yang dibayarkan
untuk memperoleh mesin baru :
- Harga mesin baru
=
Rp. 50.000.000
- Harga pasar mesin lama
=
Rp. 11.000.000
- Kas yang harus dibayarkan
=
Rp. 39.000.000
14
Jurnal :
Mesin baru (New Machine)..........Rp. 47.000.000
Akum. peny. mesin lama..............Rp. 32.000.000
Mesin lama (Old Machine).........................Rp. 40.000.000
Kas (Cash)..................................................Rp. 39.000.000
ii) Pertukaran aset tetap yang tidak sejenis (Dissimilar Assets)
Yaitu pertukaran aset tetap yang sifat dan fungsinya tidak sama
seperti pertukaran mesin dengan gedung, kendaraan dengan
mesin. Perbedaan antara nilai wajar aset tetap yang diserahkan
dengan nilai wajar yang digunakan sebagai dasar pencatatan aset
tetap yang diperoleh pada tanggal transaksi terjadi harus diakui
sebagai laba atau rugi pertukaran aset tetap.
Penentuan harga perolehan dalam pertukaran seperti ini harus
didasarkan pada nilai wajar aset tetap yang diserahkan ditambah
dengan uang yang dibayarkan. Bila nilai wajar aset yang
diserahkan tidak dapat diketahui, maka harga perolehan aset tetap
baru didasarkan pada nilai wajar aset tetap baru.
Berikut contoh transaksi dan pencatatannya:
Diketahui aset tetap mesin dengan harga perolehan sebesar Rp.
150.000.000 yang telah disusutkan sebesar Rp. 56.250.000 akan
ditukar dengan aset tetap kendaraan yang mempunyai harga
15
perolehan sebesar Rp. 215.000.000.000 dan belum dilakukan
penyusutan (kendaraan baru). Apabila aset tetap mesin diakui
dengan harga pasar Rp. 95.000.000, maka buatlah perhitungan
dan jurnal yang diperlukan atas transaksi pertukaran aset tetap
tersebut.
Perhitungan untuk menentukan laba rugi pertukaran :
Nilai buku mesin
Rp. 93.750.000
Harga pasar mesin
Rp. 95.000.000
Laba pertukaran
Rp. 1.250.000
Terjadi laba dalam pertukaran karena harga pasar lebih besar
dari nilai buku.
Perhitungan untuk menentukan kas yang harus dibayar :
Harga pasar mesin
Rp. 95.000.000
Harga kendaraan baru
( Rp. 215.000.000 )
Kas yang harus ditambahkan
( Rp. 120.000.000 )
Note : kendaraan masih baru sehingga harga perolehan = harga
pasar
16
Jurnal :
Kendaraan.................................Rp. 215.000.000
Akum Peny. Mesin....................Rp. 56.250.000
Mesin...................................................Rp. 150.000.000
Laba pertukaran aset............................Rp.
1.250.000
Kas.......................................................Rp. 120.000.000
b) Pertukaran dengan surat berharga
Aset tetap yang diperoleh dengan cara ditukar dengan surat-surat
berharga misalnya saham atau obligasi. Dasar dari penilaian aset
tetap dicatat sebesar harga saham atau obligasi dan digunakan
sebagai dasar pertukaran. Apabila harga saham atau obligasi tidak
diketahui, harga perolehan aset tetap ditentukan sebesar harga aset
tersebut. Namun terkadang harga pasar aset tetap tertentu tidak dapat
diketahui, maka pencatatan aset tetap tersebut didasarkan atas nilai
taksiran yang ditentukan oleh pihak manajemen perusahaan atau
perusahaan penilai.
Pertukaran aset tetap dengan saham atau obligasi akan dicatat dalam
akun saham atau obligasi sebesar harga nominalnya. Selisih
pertukaran dengan nilai nominal akan dicata sebagai agio atau
disagio.
17
Berikut contoh transaksi dan pencatatannya:
Pada tanggal 5 Januari 2010 dibeli kendaraan dengan mengeluarkan
3.500 saham biasa dengan nilai nominal Rp. 100.000, harga pasar
saham @ Rp. 120.000
Jurnalnya :
Kendaraan (Vehicle)......................Rp.420.000.000
Saham biasa (Ordinary shares).......................Rp. 350.000.000
Agio saham (Share premium)..........................Rp. 70.000.000
Sebaliknya jika harga pasar saham saat terjadinya transaksi adalah
sebesar Rp. 96.000 per lembar, maka :
Jurnal :
Kendaraan (Vehicle).........................Rp.336.000.000
Disagio saham...................................Rp. 14.000.000
Saham biasa (Ordinary shares)........................Rp. 350.000.000
4) Perolehan
dengan
membangun
sendiri
(Acquisition
by
Self
Construction)
Adakalanya aset dalam perusahaan diperoleh dengan cara
membangun atau membuat sendiri. Hal ini dilakukan karena biaya
perolehannya akan lebih rendah dan kualitas yang lebih baik daripada
membeli. Dalam hal ini ada bermacam-macam beban yang ditimbulkan
dalam proses pembangunan atau pembuatan aset tetap tersebut hingga
18
aset tetap tersebut siap untuk digunakan perusahaan dalam proses
produksi.
Ada
beberapa
alasan
yang
mendorong perusahaan untuk
membangun atau membuat sendiri aset tetap yang diperlukan dalam
menjalankan operasi bisnisnya, antara lain :
a)
Memanfaatkan fasilitas yang menganggur
b) Menghemat beban konstruksi
c)
Mencapai standard kualitas konstruksi yang lebih tinggi
d) Agar dapat segera dioperasikan
Dalam menentukan harga perolehan aset tetap yang dibangun sendiri ,
terdapat 2 konsep dasar :
a)
Jika menggunakan jasa kontraktor (diborongkan), maka biaya
perolehan aset tetap diakui sebesar nilai kontraknya
b) Jika dibangun sendiri, maka biaya perolehan aset diakui sebesar
seluruh pengeluaran atas pembangunan aset sampai dengan aset siap
digunakan
Berikut contoh transaksi dan pencatatannya :
Perusahaan membangun gedung baru yang akan digunakan untuk kantor
cabang dengan total beban yang dikeluarkan sebesar Rp. 600.000.0000
sampai dengan gedung siap digunakan
Jurnal :
Gedung (building)..................................Rp. 600.000.000
Kas (Cash)..................................................Rp. 600.000.000
19
5) Perolehan aset dari hadiah/donasi/sumbangan(Acquisition by Donation)
Aset tetap yang diperoleh melalui sumbangan atau hibah pada dasarnya
tidak memiliki harga pokok. Walaupun demikian dalam memperoleh
aset tetap tersebut terdapat beban yang timbul yang harus dikeluarkan
perusahaan seperti ongkos pengangkutan aset tersebut, namun biasanya
beban tersebut relatif kecil. Aset tetap yang diperoleh melalui hibah
atau sumbangan harus dinilai sesuai dengan nilai pasar wajarnya
dengan mengkredit akun modal donasi.
Berikut contoh transaksi dan pencatatannya :
Perusahaan memperoleh sumbangan atau hibah dari pemerintah berupa
mesin senilai Rp. 100.000.000,Jurnal :
Mesin (Machine)..................................Rp.100.000.000
Modal donasi (Donated Capital).............................Rp.100.000.000
Dalam memperoleh mesin tersebut menjadi aset, perusahaan harus
mengeluarkan biaya sebesar 5.000.000 untuk ongkos angkut mesin
tersebut sampai tiba ke perusahaan
Jurnal :
Mesin (Machine)....................................Rp. 105.000.000
Modal donasi (Donated Capital)...........................Rp. 100.000.000
Kas (Cash)..............................................................Rp.
5.000.000
20
2.
Akuntansi Aset Tetap
a. Pengakuan dan pengukuran biaya perolehan aset
Menurut PSAK NO 16.6 (2011) dijelaskan bahwa suatu aset tetap
yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset pada awalnya harus
diukur sebesar biaya perolehan.
Komponen biaya perolehan tersebut antara lain :
1) Harga perolehannya, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang
tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan
potongan-potongan lain.
2) Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa
aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan
sesuai dengan intensi manajemen
3) Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan
restorasi lokasi aset. Kewajiban atas biaya tersebut timbul ketika aset
tersebut diperoleh atau karena entitas menggunakan aset tersebut
selama periode tertentu untuk tujuan selain untuk menghasilkan
persediaan
Contoh biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah :
1) Biaya imbalan kerja yang timbul secara langsung dari pembangunan
atau akuisisi aset tetap.
2) Biaya penyiapan lahan untuk pabrik
3) Biaya handling dan penyerahan awal
21
4) Biaya perakitan dan instalasi
5) Biaya pengujian aset apakah aset berfungsi dengan baik, setelah
dikurangi hasil bersih penjualan produk yang dihasilkan sehubungan
dengan pengujian tersebut
Misal : Produk dihasilkan dari peralatan yang sedang diuji
6) Komisi profesional
Sedangkan biaya-biaya yang bukan merupakan biaya perolehan aset
tetap adalah sebagai berikut :
1) Biaya pembukaan fasilitas baru
2) Biaya pengenalan produk baru (termasuk beban iklan dan aktivitas
promosi)
3) Biaya penyelenggaraan bisnis di lokasi baru atau kelompok pelanggan
baru (termasuk beban pelatihan staff), dan
4) Administrasi dan biaya overhead umum lainnya
Biaya perolehan aset tetap adalah setara dengan nilai tunai yang diakui
pada saat terjadinya. Sedangkan untuk
aset yang diperoleh dengan
pertukaran, hibah, donasi dan sitaan maka dinilai dari nilai wajar atau nilai
pasar pada saat aset diserahkan. Jika aset yang diperoleh tidak dapat diukur
dengan nilai wajar , maka biaya perolehannya diukur dengan jumlah
tercatat dari aset yang diserahkan.
22
Sebagian kegiatan dapat terjadi sehubungan dengan pembangungan
atau pengembangan suatu aset tetap, tetapi tidak dimaksudkan untuk
membawa aset tersebut ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset
siap digunakan sesuai dengan intensi manajemen. Kegiatan insidental ini
mungkin
terjadi
sebelum
atau
selama
kontruksi
atau
aktivitas
pengembangan.
Contoh : Penghasilan yang diperoleh dari penggunaan lahan lokasi
bangunan sebagai tempat parkir mobil sampai pembangungan dimulai.
Karena kegiatan tersebut tidak dimaksudkan untuk membawa aset tersebut
ke lokasi atau kondisi yang diinginkan agar aset tersebut siap digunakan,
maka penghasilan dan beban yang terkait kegiatan insidental tersebut
diakui dalam laba rugi dan diklasifikasikan dalam penghasilan dan beban.
b. Penyusutan
Definisi dari penyusutan adalah alokasi sistematis jumlah yang dapat
disusutkan dari suatu aset selama umur manfaatnya (PSAK 2011 : 16.3)
Dalam melakukan pengalokasian beban penyusutan aset tetap terdapat
beberapa metode yang diatur dalam PSAK No 16.19 ( 2011) antara lain
sebagai berikut :
1) Metode garis lurus (Straight line method)
Metode ini adalah metode depresiasi yang paling sederhana dan banyak
digunakan. Metode garis lurus menghasilkan pembebanan yang tetap
selama umur manfaat aset jika nilai residunya tidak berubah.
23
Untuk dapat menghitung beban penyusutan dengan metode garis lurus
dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :
P =
HP – NR
n
GAMBAR 2.1 RUMUS METODE GARIS LURUS
Keterangan :
HP
= Harga perolehan aset tetap
NR
= Nilai residu aset tetap
n
= Umur ekonomis aset tetap
2) Metode saldo menurun (diminishing balance method)
Metode saldo menurun ini akan menghasilkan pembebanan yang
menurun selama umur manfaat aset. Beban penyusutan dapat dihitung
dengan cara menerapkan besarnya tarif penyusutan atas nilai sisa buku,
dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan
Berikut contoh transaksi dan perhitungannya :
Sebuah mesin ditempatkan pada bulan Juni 2000 dengan harga
perolehan sebesar Rp. 150.000.000. Umur ekonomis mesin tersebut
adalah 4 tahun. Jika besar tarif penyusutan ditetapkan 50%, maka
perhitungan penyusutan disajikan dalam Tabel 2.2 sebagai berikut :
24
TABEL 2.2 CONTOH PENYUSUTAN DENGAN METODE
SALDO MENURUN
Tahun
Tarif
Penyusutan
Nilai residu
0
Rp. 150.000.000
-
-
1
50 %
Rp. 75. 000.000
Rp. 75.000.000
2
50 %
Rp. 37.500.000
Rp. 37.500.000
3
50 %
Rp. 18.750.000
Rp. 18.750.000
disusutkan sekaligus
Rp. 18.750.000
3) Metode jumlah unit( sum of the unit method )
Beban penyusutan berdasarkan metode ini ditentukan oleh jumlah unit
yang diproduksi pada setiap tahunnya. Jumlah unit pada setiap tahun
tergantung pada permintaan pasar serta jenis barang yang dihasilkan.
Berikut contoh transaksi dan perhitungannya :
Sebuah mesin pabrik mempunyai harga perolehan sebesar Rp.
50.000.000 dengan perkiraan umur ekonomis selama 5 tahun dengan
nilai residu sebesar Rp. 5.000.000.
Dalam 5 tahun mesin tersebut diperkirakan dapat menghasilkan jumlah
unit sebagai berikut :
Tahun 1 : 14.000 unit
Tahun 2 : 12.000 unit
Tahun 3 : 10.000 unit
25
Tahun 4 : 8.000 unit
Tahun 5 : 6.000 unit
Penyusutan per unit adalah = Rp. 50.000.000 – Rp. 5.000.000
50. 000 unit
Maka beban penyusutan per tahun adalah sebagai berikut :
TABEL 2.3 PERHITUNGAN BEBAN PENYUSUTAN PER
TAHUN DENGAN METODE JUMLAH UNIT
Tahun
Unit
Tarif
Penyusutan
1
14. 000
Rp. 900
Rp. 12. 600.000
2
12.000
Rp. 900
Rp. 10.800.000
3
10.000
Rp. 900
Rp. 9.000.000
4
8.000
Rp. 900
Rp. 7.200.000
5
6.000
Rp. 900
Rp. 5.400.000
Sedangkan jadwal penyusutan selama 5 tahun disajikan dalam Tabel 2.4
sebagai berikut :
26
TABEL 2.4 JADWAL PENYUSUTAN ASET DENGAN METODE
JUMLAH UNIT
Akhir
tahun
0
Penyusutan
tahunan
-
Jumlah penyusutan
Nilai buku
-
Rp. 50.000.000
1
Rp. 12.600.000
Rp. 12.600.000
Rp. 37.400.000
2
Rp. 10.800.000
Rp. 23.400.000
Rp. 26.600.000
3
Rp. 9.000.000
Rp. 32.400.000
Rp. 17.600.000
4
Rp. 7.200.000
Rp. 39.600.000
Rp. 10.400.000
5
Rp. 5.400.000
Rp. 45.000.000
Rp. 5.000.000
c. Biaya pemeliharan dan perbaikan aset tetap
Berdasarkan PSAK NO 16 (2011) dijelaskan tentang biaya-biaya yang
timbul setelah perolehan awal sehubungan dengan aset tetap. Biaya
tersebut adalah biaya perawatan sehari-hari aset (rutin) maupun biaya
perbaikan aset tetap. Perusahaan tidak boleh mengakui biaya tersebut
sebagai bagian dari aset yang bersangkutan. Biaya-biaya tersebut diakui
dalam laba rugi saat terjadinya.
Didalam
akuntansi
biaya
pemeliharaan
dan
perbaikan
aset
digolongkan kedalam dua jenis pengeluaran (expenditure) sebagai berikut:
1) Pengeluaran modal (capital expenditure) yaitu biaya-biaya
yang
dikeluarkan dalam rangka memperoleh aset tetap, meningkatkan
efisiensi operasionaldan kapasitas produktif
aset tetap,
serta
memperpanjang masa manfaat aset tetap. Biaya-biaya ini biasanya
27
dikeluarkan dalam jumlah yang cukup besar (material) namun tidak
sering terjadi
2) Pengeluaran pendapatan (revenue expenditure) yaitu biaya-biaya yang
hanya akan memberi manfaat dalam periode berjalan, sehinggan
biaya-biaya yang dikeluarkan tidak akan dikapitalisasi sebagai aset
tetap di neraca, melainkan akan langsung dicatat sebagai beban dalam
laporan laba rugi periode berjalan dimana biaya tersebut dikeluarkan.
d. Penghentian pengakuan aset tetap
Sesuai dengan penjelasan PSAK NO 16 (2011) jumlah tercatat aset
tetap dihentikan pengakuannya pada saat aset tersebut dilepas atau ketika
tidak terdapat lagi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dari
penggunaannya. Pelepasan aset tetap dapat dilakukan dengan berbagai
cara, misalnya dijual, disewakan ataupun disumbangkan.
Pada saat dilakukan pelepasan aset tetap perusahaan harus mendebit
akumulasi penyusutan aset tetap dan mengkreditkan aset tetap tersebut
agar aset tetap tidak muncul lagi di neraca. Keuntungan atau kerugian yang
timbul dari penghentian pengakuan aset tersebut ditentukan sebesar
pendapatan antara jumlah hasil pelepasan neto dengan jumlah tercatat dari
aset tersebut dan disajikan dalam laporan laba rugi pada saat aset tersebut
dihentikan pengakuannya.
Demikian halnya apabila pembayaran untuk aset tetap tersebut
ditangguhkan, perhitungan yang akan diterima diakui pada saat awal
28
sebesar nilai tunainya dan hal ini akan menimbulkan piutang perusahaan.
Piutang atas pelepasan aset tetap diakui pada saat awal sebesar nilai
wajarnya. Perbedaan yang terjadi antara jumlah nominal piutang dan nilai
tunainya diakui sebagai pendapatan bunga dan dicatat pada laporan laba
rugi
Sebagai ilustrasi jika penghentian aset tetap dihentikan karena
penjualan :
Pada tanggal 01 Januari 2004, PT. Melani memperoleh sebuah gedung
dengan harga Rp. 600.000.000. Gedung tersebut disusutkan dengan
menggunakan metode garis lurus dengan taksiran umur manfaat 20 tahun
dan taksiran nilai residu 60.000.000.
Pada tanggal 31 Juni 2012, gedung tersebut dijual secara tunai dengan
harga Rp. 440.500.000. Buatlah perhitungan dan pencatatan atas transaksi
tersebut.
Perhitungan untuk menentukan beban penyusutan gedung saat penjualan :
Beban depresiasi gedung tahun 2004 – 2011
(Rp. 600.000.000 – Rp. 60.000.000) / 20 x 8 tahun
Rp. 216.000.000
Beban depresiasi gedung tahun 2012
(Rp. 600.000.000 – Rp. 60.000.000) / 20 x 0,5 tahun
Rp. 13.500.000
Akumulasi penyusutan gedung
Rp. 229.500.000
Jurnal :
Kas..........................................................Rp. 440.500.000
29
Akumulasi peny. gedung........................Rp. 229.500.000
Gedung....................................................................Rp. 600.000.000
Laba penjualan gedung...........................................Rp. 70.000.000
Apabila aset tetap dihentikan karena berakhirnya masa manfaat, maka
semua akun yang berkaitan dengan aset tersebut harus dihapus. Jika pada
saat aset tetap dihentikan pemakaiannya masih memiliki nilai residu, harus
diakui sebagai rugi penghentian aset tetap.
Sebagai ilustrasi, PT. Florida memiliki sebuah mesin yang diperoleh pada
tanggal 01 Januari 2003 dengan nilai Rp. 10.000.000. Umur ekonomis aset
tersebut adalah 10 tahun dengan taksiran nilai residu sebesar Rp.
1.000.000. Aset tersebut disusutkan dengan menggunakan metode garis
lurus. Jika pada tanggal 01 Juli 2012 mesin tersebut tidak dapat
dipergunakan lagi, siapkan jurnal yang diperlukan untuk mencatat kejadian
tersebut.
Mencatat beban depresiasi pada tanggal 01 Juli 2012 :
Beban penyusutan mesin............................Rp. 450.000
Akum. peny. mesin...............................................Rp. 450.000
(Beban penyusutan tahun 2012 = 6/12 * Rp. 900.000)
30
Mencatat penghentian mesin :
Akum. peny. mesin...............................Rp. 9.550.000
Rugi penghentian mesin........................Rp. 450.000
Mesin..................................................................Rp. 10.000.000
3.
Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai perlakuan akuntansi aset tetap ini telah dilakukan
sebelumnya oleh beberapa orang dalam penyusunan skripsi. Berikut adalah
penelitian terdahulu yang disajikan dalam tabel dan diharapkan dapat
memberikan masukan yang baik bagi penulis.
31
TABEL 2.5 PENELITIAN TERDAHULU
No
1.
Nama dan Tahun
Judul Penelitian
Metode penelitian
Penelitian
Risca
Analisis Perlakuan Deskriptif kualitatif
Kurniawati, 2013 Akuntansi Aset Tetap
Pada
Kementerian
Pekerjaan Umum
2.
Nuriah, 2012
Analisis Kebijakan Deskriptif kualitatif
Akuntansi Aset Tetap
(Studi Kasus pada
PT.
Mahesa
Anugerah Jaya)
3.
Erawati Rahayu, Evaluasi Perlakuan Deskriptif kualitatif
2011
Akuntansi Aset Tetap
PT
Indosukses
Futures
Jakarta
Berdasarkan PSAK
Nomor 16 Tahun
2009
Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini menegaskan bahwa
adanya perbedaan antara penerapan
akuntansi aset tetap pada Kementerian
Pekerjaan Umum dengan prinsip
akuntansi yang berlaku umum
Hasil penelitian menunjukan bahwa
terdapat ketidaksesuaian terhadap
kebijakan Standar Akuntansi PSAK
No. 16 yaitu dalam pengakuan biaya
perolehan, tidak membuat kebijakan
batas minimal untuk biaya yang akan
dikapitalisasikan ke dalam aset atau
ekspense,
dan
belum
pernah
melakukan penilaian kembali untuk
aset-asetnya.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa selama tahun 2008 sampai
dengan tahun 2009, PT Indosukses
Futures Jakarta memperlakukan aset
tetapnya sesuai dengan PSAK No. 16
per Juli 2009
32
4.
Shinta, 2011
5.
Nur
2010
Analisis Perlakuan Deskriptif
kualitatif
Akuntansi
Aktiva dan kuantitatif
Tetap Sesuai dengan
PSAK No. 16 Dalam
Meningkatkan
Efisiensi
dan
Efektivitas
Operasional Pada PT.
Yusonda Mahayasa
Nusantara
Fadillah, Perlakuan Akuntansi Deskriptif kualitatif
Aktiva Tetap dan
Hubungannya
Terhadap Kewajaran
Penyusutan Laporan
Keuangan pada CV.
Bayu Cahaya Abadi
Surabaya
Hasil penelitian ini menyatakan bahwa
perlakuan akuntansi aktiva tetap
termasuk akuisisi, pemeliharaan dan
penyusutan di PT. Yusonda Mahayasa
Nusantara sudah sesuai dengan IFRS
NO. 16 dan peran aset tetap tersebut
dianggap efektif dan efisien dengan
jumlah unit rumah yang diproduksi
2008-2009 meningkat sebesar 3,9%
dengan berbagai jenis dalam target
waktu penyelesaian yang sama.
Hasil dari penelitian yang dilakukan
yaitu pencatatan aset tetap dan
pencatatan beban pemeliharaan yang
tidak sesuai dengan prinsip akuntansi
yang berlaku umum.
33
B. Rerangka Pemikiran
Aset tetap merupakan investasi perusahaan yang diadakan dalam
rangka mendukung operasional perusahaan. Dalam pengadaan, penyusutan,
pemeliharaan, sampai dengan pelepasan aset tetap perlu diperhatikan dengan baik
bagaimana perlakuan akuntansinya, sehingga nilai aset yang disajikan dalam
laporan keuangan dapat terlihat dengan wajar. Dalam penerapannya harus
memperhatikan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam standar akuntansi
keuangan, dalam hal ini adalah PSAK NO 16 tahun 2011.
Pencatatan akuntansi aset tetap dimulai dari saat pengadaan aset tetap
tersebut, yaitu menentukan besarnya nilai perolehan aset tetap termasuk bebanbeban yang timbul untuk memperoleh aset tetap tersebut. Nilai perolehan tersebut
akan menjadi dasar untuk dilakukan penyusutan terhadap aset tersebut.
Penyusutan terjadi karna dalam penggunaan aset untuk operasional perusahaan
secara terus menerus aset tersebut mengalami penurunan nilai manfaat. Oleh
sebab itu beban penurunan aset harus dialokasikan ke dalam pos yang sesuai.
Dalam melakukan penyusutan aset tetap setiap perusahaan memiliki
kebijakan tersendiri untuk menentukan metode apa yang akan digunakan dalam
mengalokasikan nilai penurunan aset tetap tersebut. Hal yang perlu diperhatikan
perusahaan adalah metode penyusutan yang diterapkan harus sesuai dengan
ketentuan akuntansi yang berlaku umum dan konsisten sehingga terlihat wajar
dalam penyajian laporan keuangan.
Karena adanya pemakaian aset tetap secara terus menerus oleh
perusahaan, aset tersebut juga bisa mengalami kerusakan, sehingga diperlukan
34
biaya pemeliharaan ataupun reparasi. Biaya pemeliharaan dan reparasi yang
timbul dalam rangka pemeliharaan aset tetap ini juga harus dicatat dengan jelas ke
dalam pos yang sesuai.
Biaya-biaya tersebut juga dapat mempengaruhi nilai dari aset tetap
tersebut, jika biaya yang timbul akan menambah nilai dari aset tetap atau
memperpanjang umur manfaat aset tetap maka biaya itu tersebut dikapitalisir dan
akan dialokasikan melalui pembebanan biaya penyusutan selama masa
penggunaannya. Biaya seperti ini termasuk ke dalam pengeluaran modal (capital
expenditure). Sebaliknya jika biaya reparasi dan pemeliharaan yang timbul
jumlahnya relatif kecil dan tidak memperpanjang umur manfaat dari aset tersebut,
maka biaya tersebut dibebankan ke perkiraan laba rugi. Biaya seperti ini termasuk
kedalam pengeluaran pendapatan (revenue expenditure).
Ketika manfaat dari suatu aset tetap tidak lagi diperoleh perusahaan,
perusahaan dapat melakukan kebijakan internal untuk melakukan pelepasan
terhadap aset tetap tersebu dengan cara menghibahkan, membuang ataupun
menjual aset tetap tersebut. Dalam hal ini perusahaan juga harus tetap melakukan
pencatatan terhadap pelepasan aset tetap dengan cara mendebit akun akumulasi
penyusutan sebesar saldonya pada tanggal pelepasan aset dan mengkredit aset
tetap yang bersangkutan sebesar biaya perolehannya. Sehingga nilai aset tetap
tersebut tidak akan muncul lagi dalam posisi neraca keuangan.
35
Dari uraian diatas dapat digambarkan rerangka pemikiran sebagai
berikut :
ASET TETAP
PSAK NO 16 (2011)
Analisis
Penentuan
Harga perolehan
Analisis
Penyusutan
Analisis
Pemeliharaan &
Perbaikan
GAMBAR 2.2 RERANGKA PEMIKIRAN
Analisis
Pelepasan
Download