KELAYAKAN USAHADAN NILAI TAMBAH

advertisement
KELAYAKAN USAHADAN NILAI TAMBAH OLAHAN
JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)
DI BEKASI
SARAH PUTRI
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul
“Kelayakan Usaha dan Nilai Tambah Olahan Jamur Tiram Putih (Pleurotus
ostreatus) Di Bekasi”adalah benar karya sendiri dengan arahan pembimbing dan
belum pernah diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada
Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juli 2013
Sarah Putri
NRP. H34090104
ABSTRAK
SARAH PUTRI. Kelayakan Usaha dan Nilai Tambah Olahan Jamur Tiram Putih
(Pleurotus ostreatus) Di Bekasi.Dibimbing oleh RITA NURMALINA.
Bekasi sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki jumlah
produksi jamur terendah.Faktor iklim dan temperatur di Bekasi tidak mendukung
untuk produksi jamur.Meskipun demikian, hal itu tidak membuat pengusaha
jamur patah semangat dalam membudidayakan jamur tiram putih di Bekasi.Salah
satu pengusaha jamur tiram putih di Bekasi adalah CV. Megah Makmur
Sentosa.CV. Megah Makmur Sentosa berencana untuk mengembangkan usaha
jamur tiram putih melalui pembangunan kumbung baru berkapasitas besar untuk
memaksimalkan produksi di daerah Bekasi.Studi kelayakan bisnis diperlukan
guna menganalisis rencana usaha jamur tiram putih.Aspek utama di dalam
kelayakan adalah aspek non finansial dan aspek finansial.Aspek non finansial
terdiri dari aspek pasar, teknis, manajemen, hukum, sosial, ekonomi, dan
lingkungan.Analisis juga dilakukan pada perubahan yang terjadi di sekitar bisnis
dengan menggunakan analisis switching value.Switching value digunakan untuk
menganalisis perubahan maximum dari biaya dan manfaat. Lebih dari itu, analisis
nilai tambah adalah alat analisis lain yang digunakan dalam menghitung produksi
jamur tiram putih. Hasil analisis akan menunjukkan kelayakan investasi dalam
pelaksanaan bisnis jamur tiram putih. Hasil analisis menunjukkan bahwa, nilai
NPV yang diperoleh sebesar Rp 170.590.527,00, nilai IRR sebesar 59,60 persen,
Net B/C sebesar 2,50 dan DPP selama 4,44 tahun. Sedangkan pada analisis
sensitivitas melalui metode switching value diperoleh batas maksimal penurunan
jumlah output sebesar 15,85 persen penurunan harga jamur tiram sebesar 18,28
persen, dan kenaikan biaya gas LPG sebesar 589, 66 persen. Hasil analisis
menunjukkan bahwa usaha jamur tiram putih peka terhadap perubahan output dan
harga jual jamur namun tidak peka terhadap perubahan biaya gas LPG. Analisis
nilai tambah yang dilakukan pada kedua produk olahan jamur tiram menunjukkan
bahwa pengolahan nugget jamur memiliki nilai tambah sebesar Rp 54.295,00 per
kilogram sedangkan pengolahan jamur crispy memiliki nilai tambah sebesar Rp
25.545,00 per kilogram. Hal ini menunjukkan bahwa produk nugget jamur
memiliki nilai tambah yang lebih besar dibandingkan produk jamur crispy.
Kata kunci : jamur tiram putih, studi kelayakan, arus kas, switching value, nilai
tambah.
ABSTRACT
SARAH PUTRI. Feasibility Business and Value Added White Oyster Mushroom
(Pleurotus ostreatus) in Bekasi.Supervised by RITA NURMALINA.
Bekasi is one of the area in West Java which has the lowest producing
mushroom. The weather and the temperatures factor in Bekasi did not support the
mushroom production. Nevertheles, it did not discourage the mushroom preneur
to passion the oyster mushroom cultivation in Bekasi. One of them is CV. Megah
Makmur Sentosa. Therefore, CV. Megah Makmur Sentosa has a plan to develop
the oyster mushroom bussines through build a newlarge capasity kumbung to
maximazing production capacity in a area in Bekasi. Feasibility study needs to
analize a oyster mushroom bussiness. The main aspects in feasibility are nonfinancial aspect and financial aspect. Non-financial aspect are market, technical,
management, legal, social, economy and enviromental. It’s also analyze many
changes around bussiness using switching value. Switching value was used to
analyze maximum changes in cost and benefit. More over, value added was
another analysis tool that calculated the oyster mushroom product. The results will
show feasible of investment to implement the oyster mushroom business. The
results of the financial analysis showed, the NPV value is Rp 170.590.527, IRR
value is 59,60 percent, Net B/C value is 2,50 and discounted payback periodfor
4,44 years. While the analysis of the sensitivity with using switching value
method obtained the maximum limit of output reduction is 15,85 percent,
maximum limit of oyster mushrooms price reduction is 18, 28 percent, and the
increase ofgas LPG cost is 589, 66 percent. Results of analysis showed that
business of white oyster mushrooms are sensitive in changes of output and price
of white oyster mushroom but is not sensitive in changes of LPG gas cost. Valueadded analysis on these two products of process white oyster mushroom as nugget
and crispy mushroom showed that the value addedof nugget is Rp 54.295 per
kilogram while value added of crispy mushroom is Rp 25.545 per kilogram. This
was showed that nugget product has a value added larger than crispy mushroom
products.
Keywords : white oyster mushroom, feasibility study, cash flow, switching value,
value added.
KELAYAKAN USAHADAN NILAI TAMBAH OLAHAN
JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus)
DI BEKASI
SARAH PUTRI
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi
Pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
Judul Skripsi
Nama
NIM
: Kelayakan Usaha dan Nilai Tambah Olahan Jamur Tiram Putih
(Pleurotus ostreatus) Di Bekasi
: Sarah Putri
: H34090104
Disetujui oleh
Prof Dr Ir Rita Nurmalina,MS
Pembimbing
Diketahui oleh
Dr Ir Nunung Kusnadi, MS
Ketua Departemen
Tanggal Lulus :
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan
hidayah-Nya yang telah senantiasa mengiringi perjalanan hidup penulis terutama
dalam penyelesaian skripsi yang berjudul “Kelayakan Usaha dan Nilai Tambah
Olahan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Di Bekasi”.Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari
dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof Dr Ir Rita Nurmalina, MS
selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, arahan, waktu, dan kesabaran
yang telah diberikan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini. Ir Popong
Nurhayati, MM selaku dosen penguji utama dan Ir Joko Purwono, MS selaku
dosen penguji wakil komisi pendidikan Departemen Agribisnis yang telah
bersedia meluangkan waktunya untuk menguji serta memberikan kritik dan saran
yang membangun bagi perbaikan skripsi ini. Terima kasih kepada Ibu ProfDr Ir
Rita Nurmalina, MS selaku dosen pembimbing akademik serta seluruh dosen dan
staf Departemen Agribisnis FEM IPB.
Penghargaan penulis sampaikan kepada Keluarga Bapak Paryanto selaku
pemilik CV. Megah Makmur Sentosa, Bapak Marno, Bapak Elang, Bapak Anggit,
dan Ibu Yekti, Ibu Egiz atas arahan dan bantuan yang telah diberikan selama
penulis mengumpulkan data di lokasi penelitian.
Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ayahanda Hartono
Hadiwardojo dan Ibunda Yoel Fattah, ketiga saudara tersayang (Muhammad Irfan
SKomdan Rizky Fajar SE serta adik Nailan Fadhly) atas kasih sayang, motivasi,
semangat serta doanya demi kelancaran dan kesuksesan penulis. Akhmad Aksanul
Takwin AMd sebagai motivator terbaik yang telah memberikan dukungan dan
semangat selama proses penyusunan skripsi. Sahabat terbaik sejak TPB hingga
sekarang yaitu Hanifatun Nufusia, Evi Astuti, Lita Hidayati, Fitri Agustina, Sara
Aisya Safira, Arido Yugovelman, Karim Mustofa, Sobandi Wiguna, Dina
Rosyidha atas kekeluargaan, keceriaan dan dukungan yang diberikan.Terimakasih
dan tetap semangat kepada Teman-teman Agribisnis 46.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Juli 2013
Sarah Putri
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
Gambaran Umum Jamur di Indonesia
Jamur Tiram
Sarana Produksi jamur Tiram
Budidaya Jamur Tiram
Penelitian Terdahulu
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Teori Manfaat dan Biaya
Studi Kelayakan Bisnis
Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis
Analisis Sensitivitas
Konsep Nilai Tambah
Kerangka Pemikiran Operasional
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Jenis dan Sumber Data
Metode Penentuan Responden
Metode Pengolahan Data dan Analisis Data
Definisi Operasional
Asumsi Dasar yang Digunakan
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Sejarah Singkat Perusahaan
Produksi
Pemasaran
Manajemen
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Aspek Non Finansial
Aspek Pasar
Potensi Pasar
Pemasaran
Perkiraan penjualan
Hasil Analisis Aspek Pasar
Aspek Teknis
Lokasi Usaha
vi
vii
viii
ix
1
5
7
8
8
8
8
9
10
12
13
17
17
17
18
19
23
23
24
27
27
27
27
28
32
34
34
34
36
37
38
39
39
39
40
42
45
46
47
47
Skala Usaha
Penentuan Kapasitas Produksi
Layout
Pemilihan Jenis Teknologi dan Peralatan
Proses Produksi
Hasil Analisis Aspek teknis
Aspek Manajemen
Struktur Organisasi
Manajemen
Hasil Analisis Aspek Manajemen
Aspek Hukum
Bentuk Badan Usaha
Izin Usaha
Hasil Analisis Aspek Hukum
Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
Hasil Analisis Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
Analisis Aspek Finansial
Arus Penerimaan (Inflow)
Arus Pengeluaran (Outflow)
Biaya Investasi
Biaya Reinvestasi
Biaya Operasional
Pajak Penghasilan
Analisis Laba Rugi
Analisis Kelayakan Finansial
Analisis Switching Value
Hasil Analisis Aspek Finansial
Analisis Nilai Tambah
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
48
49
50
54
55
59
59
59
60
61
61
61
62
62
62
63
63
63
67
67
72
72
80
81
82
83
85
85
89
89
90
90
93
DAFTAR TABEL
1
2
3
4
5
6
7
Perbandingan kandungan gizi jamur dengan bahan makanan
lain (dalam persen)
Kandungan asam amino esensial (gram per 100 gram protein)
Perkembangan jumlah pelaku usaha dan penyerapan tenaga
kerja menurut skala usaha tahun 2009-2010
Produksi jamur tahun 2007-2011 menurut kabupaten dan kota
di Jawa Barat
Prosedur analisis nilai tambah metode hayami
Data jumlah penduduk yang bekerja di sektor perdagangan, hotel
dan restaurant di Kota Bekasi Tahun 2006-2007
Daftar permintaan pengepul dan pedagang terhadap produk jamur
1
2
3
4
32
40
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
tiram putih CV. Megah Makmur Sentosa per hari
Perkembangan produksi jamur di Bekasi tahun 2007-2012
Perhitungan proyeksi perkembangan jamur di Bekasi
Jumlah produksi dan nilai penjualan CV.Megah
Makmur Sentosa
Nilai sisa pembangunan kumbung baru CV.Megah
Makmur Sentosa
Biaya pembangunan kumbung ukuran 24x15 meter pada
CV. Megah Makmur Sentosa
Biaya pembangunan kumbung ukuran 8x10,5 meter pada
CV. Megah Makmur Sentosa
Biaya pembangunan tempat produksi ukuran 28x4 meter
pada CV. Megah Makmur Sentosa
Biaya pembangunan saung karyawan ukuran 5x5 meter
pada CV. Megah Makmur Sentosa
Biaya investasi usaha jamur tiram putih CV.Megah
Makmur Sentosa
Biaya reinvestasi CV. Megah Makmur Sentosa
Rincian gaji karyawan CV. Megah Makmur Sentosa
Biaya tetap usaha jamur tiram putih CV. Megah Makmur Sentosa
Biaya variabel CV.Megah Makmur Sentosa
Pajak penghasilan CV.Megah Makmur Sentosa (dalam Rp)
Laba bersih usaha jamur tiram putih CV.Megah Makmur Sentosa
Rekapitulasi hasil analisis finansial CV.Megah Makmur Sentosa
Hasil analisis switching value CV.Megah Makmur Sentosa
Perhitungan nilai tambah pengolahan jamur crispy dan
nugget jamurdalam satu kali proses produksi
41
45
46
66
67
67
68
68
69
71
72
73
74
80
81
81
82
83
87
DAFTAR GAMBAR
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Proporsi kontribusi UMKM dan usaha besar terhadap PDB
Nasional2009-2010
Alur kerangka pemikiran operasional kelayakan usaha dan
nilai tambah olahan jamur tiram putih
Hubungan antara NPV dan IRR
Saluran pemasaran jamur CV.Megah Makmur Sentosa
Alur distribusi langsung produk jamur tiram
Alur distribusi langsung produk bibit dan baglog
Alur distribusi tidak langsung CV. Megah Makmur Sentosa
Rencana kondisi rak dan penaruhan baglog pada kumbung
Rencana layout kumbung 30.000 baglog
Rencana layout kumbung ukuran 8x10,5 meter
Rencana layout bangunan produksi
Rencana layout saung karyawan
Alur produksi jamur CV. Megah Makmur Sentosa
Struktur organisasi budidaya jamur CV. MMS
3
25
30
38
44
44
44
51
52
52
53
54
58
60
DAFTAR LAMPIRAN
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Produksi jamur tiram segar CV. Megah Makmur Sentosa pada
tahun 2012
Resume produksi jamur tiram segar CV. Megah Makmur Sentosa
pada tahun 2012
Hasil produksi jamur tiram segar CV. Megah Makmur Sentosa
pada tahun 2012
Layout lokasi usaha
Siklus produksi jamur tiram putih CV. Megah Makmur Sentosa
Produksi jamur menurut kabupaten dan kota di Jawa Barat
tahun 2007-2012
Laba rugi usaha jamur tiram putih pada CV. Megah
Makmur Sentosa
Cashflow usaha jamur tiram putih pada CV. Megah
Makmur Sentosa
Analisis switching value (penurunan jumlah output (jamur tiram,
baglog, dan bibit) sebesar 15,85 %)
Analisis switching value (penurunan harga output jamur tiram
sebesar 18,28 %)
Analisis switching value (kenaikan harga gas LPG 589,65 %)
93
94
94
95
96
101
102
103
104
105
106
1
PENDAHULUAN
Latar belakang
Sektor pertanian berperan penting dalam menggerakkan roda
perekonomian bangsa. Komoditas hortikultura merupakan salah satu produk yang
berperan dalam menempati posisi penting untuk dikembangkan. Salah satu produk
komoditas hortikultura ialah sayuran. Sayuran sebagai salah satu komoditas
hortikultura yang unggul, kebutuhannya kini semakin meningkat hal itu seiring
perkembangan jumlah penduduk dan teknologi yang juga semakin berkembang
pesat. Pengetahuan yang semakin berkembang membawa penduduk untuk
mengetahui lebih luas akan manfaat pemenuhan gizi yang seimbang. Hal itu juga
berdampak pada sikap penduduk yang semakin selektif dalam memilah-milah
makanan guna pemenuhan gizi yang seimbang.
Jamur merupakan salah satu produk hortikultura yang dapat
dibudidayakan dengan mudah. Menurut H.M Kudrat Slamet, Ketua Umum
Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia (MAJI), jamur tiram putih (Pleurotus
ostreatus), merupakan salah satu jenis jamur yang diminati konsumen, disamping
jenis jamur lainnya seperti jamur merang, jamur kuping, champignon dan shiitake.
Proses budidaya jamur tiram relatif mudah dilakukan, dimana proses budidaya
sehingga menghasilkan jamur tiram segar hanya memerlukan kumbung dan bibit
jamur yang tersedia dalam bentuk baglog. Ketika dalam proses budidaya, jamur
tiram termasuk salah satu jamur dengan resiko gagal panen yang sangat kecil
karena faktor hama penyakit. Selain itu, kandungan gizi jamur tiram lebih kaya
dan lebih lengkap dibandingkan nutrisi komoditas sayuran yang lain (Tabel 1).
Tabel 1 Perbandingan kandungan gizi jamur dengan bahan
makanan lain (Dalam Persen)a
Bahan makanan
Protein Lemak
Karbohidrat
Jamur merang
1,8
0,3
4,0
Jamur tiram
27,0
1,6
58,0
Jamur kuping
8,4
0,5
82,8
Bayam
2,2
1,7
Kentang
2,0
20,9
Kubis
1,5
0,1
4,2
Seledri
1,3
0,2
Buncis
2,4
0,2
Daging sapi
21,0
5,5
0,5
a
Sumber : Nurjayadi dan Martawijaya 2010
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa jamur tiram memiliki
kandungan karbohidrat dan protein yang lebih tinggi ketika dibandingkan dengan
komoditas sayuran lain seperti kentang dan kubis, dan jika dibandingkan dengan
daging sapi, jamur tiram memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang tinggi
namun memiliki kandungan lemak yang rendah. Begitupun jika dibandingkan
dengan kandungan protein dari jamur merang dan jamur kuping, jamur tiram lebih
unggul kandungan proteinnya.
2
Kandungan nutrisi jamur tiram yang lengkap dapat dilihat berdasarkan
kandungan asam amino yang terdapat pada jamur tiram. Pada Tabel 2 dapat
dilihat bahwa jamur tiram memiliki kandungan asam amino yang tinggi.
Kandungan asam amino dari jamur tiram hampir setara dengan kandungan asam
amino pada telur ayam. Pada dasarnya, asam amino merupakan senyawa
penyusun protein, yang mana kandungan asam amino merupakan bahan dasar
penyusun tubuh manusia dan hewan (Ardiasyah 2006). Dengan kandungan asam
amino yang tinggi, jamur tiram dapat digunakan sebagai makanan dengan sumber
protein nabati yang sangat dianjurkan.
Tabel 2 Kandungan asam amino esensial (gram per 100 gram protein)a
Asam amino
Jenis Jamur
Telur ayam
Kancing Shiitake Tiram Putih Merang
Leusin
7,5
7,9
7,5
4,5
8,8
Isoleusin
4,5
4,9
5,2
3,4
6,6
Valin
2,5
3,7
6,9
5,4
7,3
Triptopan
2
1,1
1,5
1,6
Lisin
9,1
3,9
9,9
7,1
6,4
Treonin
5,5
5,9
6,1
3,5
5,1
Fenilalanin
4,2
5,9
3,5
2,6
5,8
Metionin
0,9
1,9
3
1,1
3,1
Histiadin
2,7
1,9
2,8
3,8
2,4
Total
38,9
36
46
32,9
47,1
a
Sumber : Nurjayadi dan Martawijaya 2010
Usaha budidaya jamur tergolong usaha industri kecil dan rumah tangga
atau biasa disebut Usaha Kecil Menegah (UKM). Sebagai bagian dari agroindustri
rumah tangga, budidaya jamur berperan penting dalam perekonomian negara.
Dalam perekonomian Indonesia, Usaha Kecil Menengah berperan dalam
meningkatkan pendapatan para pelaku usaha, menyerap tenaga kerja,
meningkatkan perolehan devisa, dan mendorong munculnya industri yang lain
(Soekartawi 2000). Tabel 3 menunjukkan banyaknya usaha dan tenaga kerja yang
terserap oleh industri kecil dan kerajinan rumah tangga.
Tabel 3 menunjukkan bahwa UKM merupakan usaha yang cukup besar
yang berkembang di Indonesia dengan perkembangan sebesar 3,43 persen dari
tahun 2009 ke tahun 2010 yakni dengan jumlah usaha sebanyak 52.764.603
meningkat menjadi 53.823.732 pada tahun 2010. Selain itu, tenaga kerja yang
terserap pada UKM juga merupakan tenaga kerja dengan jumlah yang besar,
yakni sebesar 99.401.775 pekerja dengan peningkatan jumlah pekerja sebesar 3,32
persen dari tahun 2009 ke tahun 2010. Adapun jumlah pelaku UKM pada tahun
2012 diprediksi mencapai 4.479.132 unit. Estimasi pertumbuhan pelaku usaha
tersebut mencerminkan bahwa setiap pertumbuhan 1 persen PDB akan
menciptakan 42.797 pelaku usaha baru di Indonesia.1 Besarnya jumlah UKM di
Indonesia membuat usaha ini berkontribusi cukup besar dalam menghasilkan
1
[Departemen Koperasi]. 2012. UKM di Indonesia berkontribusi dalam menghasilkan PDB Nasional
[internet]. [diunduh 2012 Okt 11]. Jakarta (ID). Departemen Koperasi: Tersedia pada:
http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view
3
Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional, Adapun besarnya kontribusi UMKM
terhadap PDB Nasional terlihat pada Gambar 1.
Tabel 3 Perkembangan jumlah pelaku usaha dan penyerapan tenaga kerja
menurut skala usaha tahun 2009-2010 a
No.
1.
Skala
Usaha
Usaha
Mikro
2.
Usaha
Kecil
3.
Usaha
Menengah
Usaha Kecil dan
Menengah
(UKM)
4.
Usaha
Besar
JUMLAH
a
Jumlah Pelaku Usaha
(usaha)
2009
2010
52.176.795 53.207.500
(%)
1,98
Jumlah Tenaga Kerja
(orang)
2009
2010
90.012.694
93.014.759
(%)
3,34
546.675
573.601
4,93
3.521.073
3.627.164
3,01
41.133
42.631
3,64
2.677.565
2.759.852
3,07
52.764.603
53.823.732
2,01
96.211.332
99.401.775
3,32
4.677
4.838
3,43
2.674.671
2.839.711
6,17
52.769.280
53.828.569
2,01
98.886.003 102.241.486
3,39
Sumber : Departemen Koperasi 2010
Gambar 1 Proporsi kontribusi UMKM dan usaha besar terhadap
PDB Nasional 2009-2010.2
Sumber : Departemen Koperasi, 2010 (Diolah)
Berdasarkan gambar 1 dapat dinyatakan bahwa terdapat kontribusi yang
cukup besar dari sektor Usaha Kecil Menengah terhadap perekonomian negara
2
[Departemen Koperasi]. 2010. Proporsi Kontribusi UMKM dan Usaha Besar terhadap PDB
Nasional 2009-2010. [Diunduh 2012 Okt 11]. Jakarta (ID): Departemen Koperasi:
Tersedia pada: http://www.depkop.go.id//
4
khusunya peningkatan PDB Nasional. Dengan total persentase sebesar 56,53
persen pada tahun 2009 kemudian meningkat menjadi 57,12 persen di tahun 2010
yaitu dengan sumbangan sebesar Rp 3.466.393,3 milyar dari total PDB Nasional.
Hal itu menunjukkan bahwa Usaha Kecil Menengah (UKM) memiliki peranan
yang penting dalam perekonomian nasional sekaligus memperkuat stabilitas
nasional. Salah satu UKM di bidang pertanian yang kini perkembangannya mulai
dirasakan manfaatnya adalah budidaya jamur.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan,
Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu sentra dan kawasan yang potensial
untuk pengembangan dan produksi jamur. Beberapa daerah yang dikembangakan
untuk budidaya jamur di Jawa Barat, antara lain Kabupaten Karawang, Bogor,
Subang, Sukabumi, Bandung Barat, Indramayu, dan Bekasi (Tabel 4). Terlihat
pada Tabel 4 bahwa Kabupaten Bekasi termasuk pada daerah penghasil jamur
terendah bila dibandingkan daerah lain pada Provinsi Jawa Barat, yakni dengan
produksi jamur pada tahun 2011 sebesar 91.365 kg per periode produksi. Namun,
dengan memiliki rata-rata tingkat produksi jamur yang semakin meningkat,
menunjukkan Kabupaten Bekasi masih tergolong potensial untuk pengembangan
produksi jamur, hal itu juga dihubungkan dengan permintaan jamur di daerah
Bekasi yang semakin meningkat.
Tabel 4 Produksi jamur tahun 2007-2011 menurut kabupaten dan kota
di Jawa Barata
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
a
Kabupaten/
Kota
Bogor
Sukabumi
Karawang
Bandung Barat
Subang
Indramayu
Bekasi
2007
4.410
467
46.145
0
2.719
2.914
25.157
2008
638.969
1.566
3.811.559
390.401
348.100
27.775
35.239
Tahunb
2009
26.167
645
1.851.128
1.004.884
679.911
57.657
161.620
2010
696.483
473.787
7.304.916
4.418.284
4.663.867
57.413
122.624
2011
2.724.851
620.755
18.377.013
7.860.090
2.269.471
127.160
91.365
Sumber : Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, 2012 (Diolah) ;
Satuan dalam Kilogram
b
Menurut pemaparan pengusaha jamur di Bekasi yaitu pemilik CV.
Megah Makmur Sentosa, salah satu faktor penyebab kurangnya produksi jamur di
Bekasi adalah iklim yang tidak mendukung untuk pertumbuhan jamur yang
optimal. Meskipun demikian, dengan banyaknya permintaan jamur di Daerah
Bekasi, usaha budidaya jamur tiram akan tetap memiliki prospek yang cerah
untuk dikembangkan. Kecamatan Bantar Gebang merupakan salah satu
kecamatan penghasil jamur di daerah Bekasi. Jamur yang diusahakan adalah jenis
jamur tiram putih. Pasokan jamur tiram segar terbesar di Bekasi berasal dari
budidaya yang di lakukan oleh para petani jamur di Kecamatan Bantar Gebang,
salah satunya yaitu CV. Megah Makmur Sentosa yang merupakan salah satu
produsen jamur tiram putih yang berada di Kecamatan Bantar Gebang, Kabupaten
Bekasi.
Perumusan Masalah
5
CV. Megah Makmur Sentosa adalah salah satu perusahaan yang bergerak
di bidang pengusahaan jamur tiram putih. Pengusahaan jamur tiram putih berkisar
pada kegiatan pengomposan, pembibitan, pengadukan, penanaman, pemeliharaan
dan pengendalian OPT, pemanenan jamur tiram serta penjualan produk jamur
tiram segar dan bibit jamur ke pengumpul pasar setempat dan konsumen langsung
disekitar perusahaan. Menurut paparan pemilik, di Bekasi, prospek budidaya
jamur tiram putih sangat baik, hal itu terlihat dari hasil produksi jamur tiram segar
yang selalu habis terserap pasar. Bahkan, dalam perjalanan pendistribusian produk
jamur tiram segar ke pengumpul pasar, produk jamur tiram cepat habis terjual
kepada masyarakat sekitar. Hal itu menunjukkan produk jamur yang dihasilkan
tidak dapat memenuhi seluruh permintaan jamur tiram dari hasil produksi yang
dilakukan.
Permintaan jamur tiram segar pada CV. Megah Makmur Sentosa saat ini
berasal dari beberapa warung, pedagang dan pengumpul pasar di wilayah Bekasi.
Permintaan jamur tiram putih masih relatif besar, hal ini dapat dilihat dari adanya
peningkatan permintaan dari pengepul, pedagang pasar, maupun rumah makan
serta katering. Produk jamur yang didistribusikan kepada konsumen melalui
pedagang pasar selalu habis terjual, begitupun permintaan dari penduduk sekitar
yang menunjukkan minat yang tinggi terhadap produk jamur. Dengan kapasitas
produksi saat ini adalah 5.500 kilogram per periode atau berkisar 30 kilogram per
hari, sedangkan permintaan distributor mencapai 331 kilogram per hari,
menunjukkan pemenuhan permintaan jamur hanya mampu dipenuhi sebesar 9,06
persen.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan pemilik
perusahaan, terdapat rencana untuk meningkatkan jumlah produksi jamur untuk
memenuhi permintaan pasar dengan cara pembuatan kumbung baru di Desa
Nyosog, Bekasi. Pemilihan lokasi kumbung yang akan dibuat merupakan suatu
alternatif yang harus dipilih secara matang. Perencanaan usaha yang akan
dilakukan adalah dengan membangun sebuah bangunan kumbung baru dengan
kapasitas kumbung sebesar 30.000 baglog. Hal itu diupayakan dapat
memaksimalkan kapasitas jamur yang dihasilkan dari budidaya. Upaya
peningkatan skala usaha yang dilakukan meliputi pembuatan kumbung baru
sebagai tempat pemeliharaan jamur, tempat produksi dan pembelian peralatan
serta perlengkapan usaha. Hal itu menuntut perusahaan memerlukan investasi
berupa sewa lahan untuk pembuatan kumbung berukuran 24x15m2, ruang
inkubasi baglog yang di upayakan untuk penjualan baglog, tempat produksi, serta
saung sebagai tempat istirahat karyawan. Rencana pembuatan kumbung baru
dengan kapasitas 30.000 baglog merupakan suatu perencanaan usaha atas dasar
pengembangan dari usaha yang telah dilakukan. Upaya perluasan skala usaha
yang akan dilakukan yang diharapkan dapat memenuhi permintaan pasar yang
belum bisa terpenuhi.
Menurut Masyarakat Agribisnis Jamur Indonesia (MAJI), dalam tiga
tahun terakhir, minat masyarakat untuk mengonsumsi jamur terus meningkat.
Salah satunya dapat dilihat dari kreativitas para pedagang, yang sebelumnya
hanya menjajakan jamur segar, sekarang sudah merambah ke olahan, seperti
memproduksi jamur crispy dan nugget jamur. Usaha pengolahan jamur tiram
menjadi jamur crispy maupun nugget jamur merupakan salah satu cara
6
mendiversifikasi olahan produk, yang mana usaha pengolahan jamur tiram
merupakan salah satu cara peningkatan nilai tambah yang akan diikuti dengan
peningkatan pendapatan.
Pengolahan jamur tiram yang biasa sering ditemukan diantaranya adalah
pengolahan jamur tiram menjadi jamur crispy dan nugget jamur. Proses
pengolahan jamur tiram tergolong mudah untuk dilakukan, yaitu dengan
mencampurkan bumbu-bumbu dan adonan untuk kemudian digoreng atau
dipanggang hingga menjadi crispy dan nugget. Input yang digunakan cukup
berupa jamur tiram putih segar yang dihasilkan dari produksi oleh perusahaan.
Usaha pengolahan jamur tiram ini cukup potensial untuk dikembangkan dengan
pemasaran dapat dilakukan ke berbagai kalangan.
Rencana pembangunan kumbung baru yang akan dilakukan tidak terlepas
dari biaya yang harus dikeluarkan serta membutuhkan analisis keuangan yang
tepat. Kebutuhan pendanaan yang tidak sedikit membuat studi kelayakan sangat
penting untuk dilakukan. Kelayakan usaha baik dari sisi finansial maupun non
finansial akan membuka peluang bagi pemilik untuk memperluas jangkauan
pemasarannya.
Analisis kelayakan usaha budidaya jamur tiram putih dilakukan dari
berbagai aspek yang akan di kaji, di antaranya aspek teknis, aspek manajemen,
aspek sosial, aspek ekonomi, aspek lingkungan serta aspek pasar. Selanjutnya
dilakukan analisis finansial untuk mengetahui kelayakan usaha jamur tiram putih
pada CV. Megah Makmur Sentosa.
Pada berbagai situasi dan kondisi kehidupan, terdapat beberapa
ketidakpastian, hal itu juga terjadi pada sektor pertanian. Ketidakpastian
memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan yang berkaitan dengan usaha
yang akan dilakukan. Untuk itu diperlukan analisis sensitivitas untuk menilai apa
yang akan terjadi dengan analisis kelayakan usaha apabila terjadi perubahan
dalam perhitungan biaya atau manfaat. Perubahan tersebut antara lain penurunan
produksi jamur tiram, baglog dan bibit jamur, kenaikan harga gas LPG, serta
penurunan harga jual jamur tiram. Penurunan jumlah produksi berkaitan dengan
sejauh mana batas produksi yang masih dapat ditolerir sehingga perusahaan
memperoleh manfaat dari usaha yang dilakukan. Penurunan harga produk jamur
tiram berkaitan dengan struktur persaingan pasar sempurna yang mana tidak
menutup kemungkinan bagi setiap pelaku usaha berkesempatan mengambil
peluang untuk memasuki usaha ini. Penurunan harga jamur tiram akan terjadi
ketika semakin banyak pesaing yang masuk. Gas LPG merupakan biaya variabel
terbesar yang harus dikeluarkan dalam produksi. Harga gas LPG yang cenderung
berubah-ubah dipengaruhi oleh penguasaan gas LPG oleh pemerintah sebagai
sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Sehingga tidak menutup
kemungkinan bagi pemerintah untuk menaikan harga gas LPG.
Jamur tiram segar yang telah dipanen adalah salah satu bahan baku
makanan yang dapat dijadikan makanan olahan. Pada dasarnya, Jamur tiram
mempunyai kadar air yang cukup tinggi yaitu 86,60 persen (Djarijah, 2001).
Jumlah kadar air yang tinggi dapat mempengaruhi daya tahan bahan pangan
terhadap serangan mikroorganisme yang dinyatakan dalam aktivitas air (Aw),
yakni jumlah air bebas yang digunakan oleh mikroba untuk pertumbuhan, dimana
semakin tinggi kadar air bebas yang terkandung dalam bahan pangan, maka akan
semakin cepat rusak karena aktivitas mikroorganisme (Achyadi dan Afiana,
7
2004). 3 Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah daya tahan jamur yang rendah
terhadap kerusakan, maka perlu dilakukan pengolahan segera setelah dipanen.
Analisis nilai tambah perlu dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai tambah
yang diperoleh pada produk olahan jamur tiram putih yakni jamur crispy dan
nugget jamur.
Dari beberapa masalah yang dihadapi oleh CV. Megah Makmur Sentosa
sebagaimana penulis sampaikan sebelumnya, penulis melakukan penelitian untuk
mencari jawaban atas masalah-masalah :
1. Bagaimana kelayakan usaha jamur tiram putih dilihat dari aspek pasar, aspek
teknis, aspek manajemen dan hukum, aspek sosial, ekonomi, dan aspek
lingkungan ?
2. Bagaimana kelayakan finansial rencana usaha budidaya jamur tiram putih?
3. Bagaimana tingkat kepekaan usaha budidaya jamur tiram terhadap penurunan
jumlah output (baglog, bibit, dan jamur tiram segar), penurunan harga produk
jamur tiram putih dan kenaikan harga gas LPG ?
4. Seberapa besar nilai tambah yang dihasilkan dari pengolahan jamur tiram
putih menjadi jamur crispy dan nugget jamur pada home industry pengolahan
jamur?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas, maka tujuan
penelitian ini adalah :
1. Menganalisis kelayakan usaha jamur tiram putih CV. Megah Makmur
Sentosa dilihat dari aspek non finansial (aspek pasar, aspek teknis, aspek
manajemen, aspek sosial, aspek ekonomi, aspek lingkungan).
2. Menganalisis kelayakan usaha jamur tiram putih CV. Megah Makmur
Sentosa dilihat dari aspek finansial.
3. Menganalisis sensitivitas usaha jamur tiram putih CV. Megah Makmur
Sentosa apabila terjadi perubahan pada faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi manfaat dan biaya.
4. Menganalisis nilai tambah yang dapat dihasilkan dengan adanya usaha
pengolahan jamur tiram putih menjadi jamur crispy dan nugget jamur.
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi CV. Megah Makmur
Sentosa untuk dijadikan bahan pertimbangan atau masukkan dalam membuat
rencana usaha selanjutnya. Selain itu, penelitian ini diharapkan mampu
memberikan informasi kepada investor yang berniat melakukan usaha budidaya
jamur tiram putih dan dapat dimanfaatkan sebagai informasi bagi penelitian
selanjutnya.
Ruang Lingkup Penelitian
3
Suprihana, Sumaryati E, dan Ekayanti R. 2009. Substitusi Jamur Tiram Putih Untuk Peningkatan Sifat Fisik dan Kimia
Flake Dari Maizena. [Diunduh 2013 Juni 04]. Malang (ID): Universitas Widyagama Malang: Tersedia pada:
http://www.google.com/url?q=http://widyagama.ac.id/ejournal/index.php/agrika/article/download/77/65&sa=U&e
i=fB3VUfejB4nSrQeOi4GICw&ved=0CCQQFjAD&usg=AFQjCNFgSO9JRsS0IPlP5ulm8bvnf8wqyQ
8
Ruang lingkup penelitian ini adalah mengkaji usaha produksi jamur tiram
putih CV. Megah Makmur Sentosa. Analisis yang akan dilakukan pada penelitian
ini adalah analisis kelayakan bisnis dan analisis nilai tambah (value added).
Analisis kelayakan bisnis mengkaji dua aspek, yakni aspek non finansial dan
aspek finansial. Aspek non finansial terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek
hukum, aspek manajemen, serta aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Selain
itu, sensitivitas melalui pendekatan switching value terhadap penurunan harga
produk jamur tiram segar dan kenaikan harga gas LPG. Analisis nilai tambah
mengacu pada metode Hayami, yaitu terhadap hasil olahan jamur tiram menjadi
jamur crispy dan nugget jamur yang akan diukur nilai tambah dari produk olahan
yang dihasilkan.
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian dengan topik kelayakan usaha dan nilai tambah olahan serta
penelitian yang membahas komoditi jamur bukanlah suatu hal yang baru. Oleh
karena itu, penelitian ini menggunakan referensi dan pedoman dari beberapa
sumber, salah satunya laporan penelitian terdahulu. Referensi yang digunakan
berasal dari jurnal, artikel ilmiah laporan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.
Berdasarkan referensi yang telah dibahas maka akan diperoleh kesimpulan atas
beberapa konsep yang berhubungan dengan tujuan penelitian ini.
Gambaran Umum jamur di Indonesia
Jamur adalah tumbuhan yang menghasilkan spora, selnya memiliki inti
sejati, di dalam sel nya tidak terdapat klorofil. Tubuh jamur tersusun dari
gabungan benang hifa. Kumpulan benang hifa berwarna putih disebut misselium
dan kumpulan misselium yang menggumpal akan membentuk primordium yang
merupakan awal dari pembentukkan badan buah jamur.
Jamur tergolong ke dalam organisme heterotrof yang mana tidak mampu
melakukan sintesis kebutuhan hidup sendiri layaknya tumbuhan berhijau daun.
Oleh karena itu, kehidupan jamur bergantung pada organisme lain. Jamur juga
digolongkan sebagai organisme saprofit yang hidup pada material organik yang
telah mati. Tempat tumbuhnya di tanah ataupun pada kayu yang telah mulai
lapuk. Sampai saat ini, jamur telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan
dan obat (Tim Redaksi Agromedia, 2005). Selain itu, ada beberapa jamur yang
beracun sehingga mengakibatkan keracunan sampai meninggal pada manusia.
Pada dasarnya, dunia jamur terbagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu
divisi Myxomycota, divisi Oomycota, dan divisi Eumycota. Anggota divisi
Myxomycota mempunyai tubuh vegetatif yang berlendir dan merayap seperti
amuba yang disebut plasmodium. Divisi Oomycotina terdiri dari jamur yang
sebagian besar hifanya tidak bersekat, sel-sel tubuh jamur divisi ini mengandung
inti banyak. Jamur-jamur dalam divisi ini tergolong penting karena beranggotakan
9
parasit tanaman utama, seperti Phytopthora infestans yang terdapat pada tanaman
kentang, Sclerospora mayoris yang menyebabkan penyakit bulai pada tanaman
jagung, serta penyakit ikan yang terdapat di kolam-kolam. Pada divisi
Eumycotina, terdiri atas jamur-jamur sejati. Pengklasifikasian jamur ini dengan
pembagian pada empat kelas utama, yakni kelas Chytridiomycetes contohnya
Synchytrium psopocarpi yang menyerang daun dan buah kecapir. Kelas
Zygomycetes contohnya jamur tempe Rhizopus oligosporus dan Rhizopus oryzae,
kelas Ascomycetes contohnya jamur jelaga yang menyebabkan warna hitam pada
daun puluhan jenis tanaman, kelas Basidiomycetes contohnya jamur kuping,
jamur merang, dan jamur busut yang enak di malan (Rifai, 1989)
Perkembangan Pembudidayaan Jamur di Indonesia
Prospek pengusahaan jamur kayu di Indonesia cukup cerah, karena
kondisi alam dan lingkungan Indonesia sangat cocok untuk budidaya jamur,
susbstrat atau log tanam jamur kayu cukup berlimpah, dan bibit unggul jamur
sudah tersedia. Tenaga terampil untuk budidaya juga dapat dilatih dalam waktu
cepat serta pasar yang cukup luas.
Banyak daerah yang potensial untuk bidang hortikultura juga berpotensi
untuk agrobisnis penjamuran, khusunya jamur kayu seperti jamur tiram, jamur
kuping, jamur shiitake, bahkan untuk jamur maitake dan jamur ling-zhi yang
merupakan jamur berkhasiat obat.
Suriawiria (2001) menyampaikan bahwa banyak alasan yang mendukung
perkembangan jamur di Indonesia berlangsung pesat, diantaranya : (1) Lahan
yang dibutuhkan untuk budidaya jamur tidak luas, (2) Bahan baku yang
digunakan untuk penanaman jamur biasanya sederhana dan murah yang mana
dapat menekan biaya produksi, seperti serbuk gergajian kayu, bekatul, serpihan
kayu. (3) Waktu antara tanam bibit hingga pemanenan yang singkat. (4) Harga
jual jamur kayu sangat tinggi. (5) Jamur kayu memiliki nilai gizi tinggi untuk
kesehatan dan kebugaran. Contohnya pada jamur shiitake untuk penurun gula dan
kolesterol darah, pencegah kangker dan tumor, pada jamur kuping bermanfaat
mencegah radang usus, radang tenggorok, dan penghancur racun. Serta pada
jamur ling-zhi sebagai antikanker dan antikarsinogen.
Pada awal tahun 1980, beberapa kawasan di Pulau Jawa mulai berdiri
perusahaan penjamuran untuk jenis shiitake, jamur tiram, jamur kuping, dengan
skala produksi menengah ke atas, yaitu produksi rata-rata 100-250 kg jamur segar
per hari. Pada saat ini masih terdapat kendala yang harus dihadapi, seperti tenaga
kerja yang masih kurang terlatih, bibit yang dihasilkan masih kurang baik,
pengusahaan teknologi untuk budidaya masih terbatas, serta pangsa pasar.
Menurut Tim Redaksi Trubus (2001) Jawa Barat termasuk sentra jamur
terlengkap di Indonesia dan aneka jamur konsumsi dapat ditemukan disana.
Jamur Tiram
Terdapat dua golongan besar jamur konsumsi berdasarkan tempat
tumbuhnya, yaitu jamur kompos dan jamur kayu. Kedua jenis golongan tersebut
banyak ditemukan di Indonesia. Masing-masing jamur memiliki ciri-ciri yang
10
berbeda dan kandungan gizi yang berbeda-beda pula sesuai jenisnya. Salah satu
jamur yang dapat dimakan dan cukup dikenal di Indonesia adalah jamur tiram.
Jamur tiram atau shimeji (Bahasa Jepang) memiliki warna tubuh putih,
kecoklat-cokelatan, keabu-abuan, kekuning-kuningan, kemerah-merahan, dan
sebagainya dimana namanya tergantung tubuh buah jamur tersebut. Bila sudah
terlalu tua, jamur tiram akan liat atau alot. Biasanya jamur akan tumbuh alami dan
banyak dicari pada kayu lunak, seperti karet, kapuk, dan kidamar.
Kini, jamur tiram banyak dibudidayakan. Jamur dapat disayur juga
diolah menjadi makanan lain seperti kerupuk, keripik atau menjadi tiram-chips.
Menurut Suriawiria (2001) di belahan dunia Eropa dan Amerika, jamur banyak
dikonsumsi langsung, di jadikan sayuran pada salad. Di Indonesia sendiri, jamur
tiram sudah ditemui dalam olahan makanan untuk penyajian dalam ramuan gadogado, sup, bahkan pepes.
Prospek Bisnis Jamur Tiram
Menurut Wijoyo (2011), usaha budidaya jamur tiram memiliki prospek
bisnis yang baik, hal ini dikarenakan jamur tiram merupakan salah satu jamur
konsumsi yang banyak diminati pasar. Jamur tiram memiliki kandungan gizi dan
berbagai macam vitamin yang mana sering dimanfaatkan masyarakat sebagai
bahan makanan sehat dengan cita rasa yang nikmat. Bentuk tubuh buah yang
menarik dan bersih merupakan daya tarik sendiri bagi konsumen, hal inilah yang
membuat permintaan pasar jamur tiram semakin meningkat setiap harinya.
Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa memilih usaha jamur tiram :
1. Permintaan pasar terhadap produk jamur tidak tertutup oleh para petani yang
ada.
2. Prospek ekonomi semakin naik karena produk makanan yang berbahan dasar
jamur kerap bermunculan di masyarakat luas.
3. Bahan baku pembuatan media tanam mudah di dapat
4. Dapat menciptakan lapangan kerja baru untuk masyarakat luas
5. Proses bertani lebih mudah, praktis dan dapat terkontrol dengan baik.
Rahmat dan Nurhidayat (2011) juga menyampaikan bahwa permintaan
terhadap jamur cenderung mengalami kenaikan setiap tahun. Permintaan dari
pasar domestik untuk produk jamur tiram saat ini mengalami kenaikan sebesar 10
persen per tahun. Peningkatan permintaan produk jamur tiram terkait beberapa
hal, diantaranya kesadaran masyarakat akan khasiat jamur dan kandungan gizi
jamur tiram. Selain itu, Menurut catatan Tabloid Peluang Usaha (2009),
kebutuhan jamur tiram untuk Jakarta mencapai 15 ton per hari dan Bandung
mencapai 7-10 ton per hari. Jumlah ini belum ditambah dengan kebutuhan dari
berbagai kota besar lainnya, seperti Surabaya, Semarang, dan Medan.
Sarana Produksi Jamur Tiram
Sebelum melakukan proses budidaya, Usaha jamur tiram perlu
melakukan persiapan sarana produksi. Hal tersebut dikarenakan, dengan adanya
sarana produksi yang memadai maka proses budidaya akan dapat berjalan dengan
baik. Sarana produksi tersebut mencakup pemilihan lokasi, rumah jamur, dan
peralatan yang dibutuhkan.
11
Pemilihan Lokasi Budidaya
Syarat awal untuk melakukan budidaya jamur adalah pemilihan lokasi.
Menurut Widiastuti (2005), terdapat berbagai syarat yang diperlukan dalam
pemilihan lokasi, sebagai berikut : (1) Lokasi perlu dipilih sesuai dengan syarat
tumbuh jamur. Syarat utama tumbuhnya jamur adalah suhu lingkungan. Jamur
tiram membutuhkan suhu kisaran 30-35 derajat Celcius yang mana sesuai
dibudidayakan pada kawasan dataran rendah. (2) Lokasi pembudidayaan harus
cukup bersih, jauh dari pabrik atau pembuangan limbah berbahaya. Hal ini
berupaya untuk menghindari jamur dari hama, penyakit, serta kontaminasi
senyawa yang berbahaya. (3) Tempat budidaya sebaiknya dekat dengan sumber
bahan baku dimana diupayakan dapat menghemat biaya produksi. (4) Lokasi
budidaya harus dekat dengan sumber air. Sumber air harus tersedia dalam keadaan
cukup, bersih, dan tidak tercemar. Air sebagai kebutuhan terpenting yang nantinya
digunakan pada saat proses pembuatan media dan masa pembentukkan tubuh
buah. (5) Lokasi yang dipilih tergolong mudah dalam mendapatkan instalasi
listrik. Usaha budidaya dalam skala besar membutuhkan listrik untuk
menggerakkan mesin-mesin produksi, memompa air, membantu pengaturan
sirkulasi udara, serta penerangan.
Rumah Jamur
Rumah jamur adalah tempat untuk melakukan budidaya jamur.
Umumnya terdiri atas dua macam yaitu rumah jamur industri besar dan rumah
jamur sederhana. Rumah jamur industri besar berbentuk seperti bangunan pabrik,
yang dalam pembangunannya membutuhkan investasi yang mahal. Adapun rumah
jamur sederhana berbentuk kumbung. Investasi kumbung untuk pertumbuhan
jamur memerlukan biaya lebih rendah yangmana cocok digunakan untuk
budidaya jamur skala kecil atau industri menengah.
Pemilihan rumah jamur berbentuk kumbung juga memiliki banyak
manfaat lain selain investasinya yang tergolong rendah. Manfaat tersebut antara
lain : (1) Masa budidaya tidak tergantung pada musim, (2) Melindungi jamur dari
kondisi luar yang tidak mendukung pertumbuhan jamur, seperti angin yang terlalu
kencang, (3) Menghemat lahan, penyimpanan media tumbuh jamur menggunakan
rak yang disusun bertingkat, (4) Mudah mengelola iklim mikro di dalam
kumbung.
Budidaya jamur tiram biasanya menggunakan kumbung sebagai rumah
jamur dengan sistem semi permanen. Sistem semi permanen adalah penggunaan
bahan-bahan yang sederhana dalam pembuatan kumbung, yang mana
dimaksudkan supaya mudah dipindahkan dan daya tahannya tidak terlalu lama.
Peralatan yang Dibutuhkan
Kebutuhan peralatan biasanya disesuaikan dengan besarnya skala usaha.
Apabila ditinjau dari jumlah produksi per hari serta kekuatan produksi, Sentra
kegiatan usaha jamur terbagi dalam empat kelompok, yaitu : (1) Pengusaha kecil,
dengan jumlah produksi rata-rata 50 kg jamur segar per hari, (2) Pengusaha
sedang, umumnya dalam usaha patungan terdiri atas 3-5 orang dengan produksi
rata-rata 100 kg jamur per hari, (3) pengusaha menengah, dalam bentuk koperasi
atau perorangan dengan produksi rata-rata sekitar 250-500 kg jamur segar per
12
hari, (4) pengusaha besar, umumnya milik kelompok pengusaha besar dengan
produksi rata-rata lebih dari 1.000 kg jamur segar per hari.
Budidaya jamur tiram yang umumnya dilakukan oleh pengusaha kecil
memerlukan peralatan seperti : (1) Sekop, sekop garpu, terpal plastik dan parang
untuk persiapan media, (2) Drum sebagai tempat air dan bahan bakar untuk
sterilisasi, (3) Sprayer untuk penggabutan dalam pemeliharaan, (4) Keranjang dan
pisau untuk menampung jamur dan pembersihan jamur saat pasca panen.
Sedangkan, bagi pengusaha besar dengan modal kuat, peralatan yang
dibutuhkan untuk budidaya jamur tiram misalnya mesin-mesin untuk pembuatan
substrat tanam, seperti pengumpul bahan baku, alat angkut, ban berjalan, alat
pencampur, alat pengisi. Pada proses sterilisasi menggunakan boiler sebagi alat
penghasil uap air panas, dan penggunaan lori untuk pengangkutan pasca panen.
Budidaya Jamur Tiram
Dalam budidaya jamur tiram, terdapat beberapa hal yang perlu
diperhatikan menyangkut beberapa faktor penentu, yaitu lokasi dengan ketinggian
dan persyaratan lingkungan tertentu, sumber bahan baku untuk substrat tanam,
dan substrat bibit (Suriawiria 2001).
Langkah yang paling baik bagi pelaku usaha yang baru akan memulai
kegiatan budidaya jamur, sebaiknya tidak membuat substrat atau log tanam
sendiri namun membeli log atau substrat tanam yang sudah diberi bibit dalam
jumlah terbatas sesuai dengan kemampuan pelaku usaha masing-masing. Log atau
substrat tanam tersebut kemudian dipelihara sesuai ketentuan. Setelah itu,
dilakukan analisis terhadap hasilnya. Menurut Suriawiria (2001) terdapat
beberapa kegiatan yang perlu dilakukan dalam budidaya jamur tiram adalah :
Penyiapan Bangunan
Bentuk dan ukuran bangunan disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya
disesuaikan dengan jumlah log atau substrat tanam yang akan dipelihara. Untuk
memelihara sekitar 500 – 1.000 buah log atau substrat tanam, diperlukan
bangunan dengan ukuran (panjang, lebar, tinggi) 6 meter x 4 meter x 4 meter.
Adapun bahan-bahan yang diperlukan seperti tiang, kaso, dan sebagainya yang
terbuat dari bambu atau dari kayu yang sudah diawetkan. Atap maupun dinding
bangunan sebaiknya terbuat dari bambu ataupun bahan lain yang tidak cepat
dirusak oleh adanya pertumbuhan serat jamur. Bahkan kini, dinding bangunan
dapat menggunakan lembaran plastik khusus berwarna gelap.
Bahan-bahan yang diperlukan untuk rak atau tempat pemeliharaan
susbstrat tanam sebaiknya terbuat dari bambu tua, hal itu dikarenakan ketika
jamur tumbuh maka bambu tidak mudah rusak. Jumlah dan tinggi rak tergantung
pada tinggi ruangan pemeliharaan dan jumlah substrat tanam yang akan
dipelihara.
Pemeliharaan
Pemeliharaan substrat tanam harus memperhatikan faktor lingkungan.
Selama pertumbuhan bibit (serat atau miselia seperti benang kapas), temperatur
13
diatur antara 28 – 30 derajat Celcius. Sementara untuk pertumbuhan tubuh buah
jamur sampai panen, temperatur diatur antara 26-28 derajat Celcius.
Selama pertumbuhan bibit dan pertumbuhan tubuh buah, kelembaban
juga harus diatur sekitar 90 persen. Ketika kelembaban kurang, misalnya 80
persen maka substrat tanam akan kering. Agar kelembaban terjamin, penyiraman
lantai dengan air bersih dilakukan setiap hari pada pagi san sore hari.
Pertumbuhan tubuh buah jamur pada awalnya umum ditandai dengan
adanya bintik-bintik serat berwarna putih yang semakin lama semakin membesar
dan selang beberapa hari akan tumbuh jamur kecil. Ketika terjadi kondisi seperti
itu, tutup kapas dan leher pralon segera dilepaskan dari substrat tanam.
Kehadiran jamur asing yang merugikan ditandai dengan tumbuhnya
miselia berupa serat jamur berwarna, seperti hitam, biru, cokelat, kuning. Apabila
hal itu terjadi, jamur segera dipisahkan.
Pemanenan
Setelah jamur dipanen, batang jamur bekas dibersihkan dari substrat
tanam. Batang jamur yang tersisa dan dibiarkan akan membusuk dan merugikan.
Setelah itu, lembar kantong plastik diturunkan ke bawah agar jamur tumbuh
lagi.Pemanenan jamur dapat dilakukan 4-8 kali tergantung pada kandungan
substrat tanam, bibit jamur, serta lingkungan selama pemeliharaan. Jumlah jamur
yang dipanen per musim dapat mencapai 600 gram, dengan berat substrat tanam
adalah 1 kg.
Penelitian Terdahulu
Penelitian ini memerlukan suatu sumber informasi yang dapat digunakan
sebagai referensi yaitu melalui penelitian terdahulu. Hal yang dikaji dalam
penelitian terdahulu antara lain ialah produk yang diteliti, periode pembangunan
investasi, alat analisis yang digunakan, tingkat diskonto yang digunakan,
penetapan umur usaha, asumsi aspek finansial, dan indikator perubahan pada
analisis sensitivitas.
Penelitian mengenai kelayakan usaha pernah dilakukan untuk produk
agribisnis yang sama, yaitu jamur tiram putih. Nur (2012) melakukan penelitian
mengenai kelayakan pengembangan usaha jamur tiram putih pada PD Cahya
Mandiri Mushroom di Desa Sukawening, Kecamatan Dramaga, Kabupaten
Bogor, Jawa Barat. Selain itu, penelitian terdahulu mengenai jamur tiram putih
pernah dilakukan oleh Putri. Putri (2010) melakukan penelitian mengenai
kelayakan usahatani jamur tiram dengan menggunakan sistem kemitraan. Lokasi
penelitian dilakukan di D’Lup Farm, Desa Sudajaya Girang, Kabupaten
Sukabumi. Analisis kelayakan untuk produk agribisnis tidak hanya dilakukan
pada produk sayuran berupa jamur. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa
terdapat berbagai produk agribisnis dibidang perikanan yang telah di teliti
kelayakan usahanya. Oom (2010) meneliti tentang Analisis kelayakan
pengembangan usaha ikan hias air tawar. Lokasi penelitian bertempat pada Arifin
Fish Farm di Desa Ciluar, Kota Bogor.
Setiap perusahaan memiliki periode pembangunan investasi yang
berbeda-beda. Hal ini bergantung pada lamanya waktu yang diperlukan untuk
14
membangun investasi sebelum pelaksanaan kegiatan operasional usaha tersebut.
Nur (2012), menggunakan tahun ke-1 sebagai tahun pembangunan investasi.
Penggunaan tahun pertama dikarenakan pengembangan usaha hanya
membutuhkan waktu kurang dari satu tahun, sehingga dalam periode tahun
pertama sudah dapat dilakukan panen jamur dan produksi baglog. Oom (2010)
juga menggunakan tahun pertama sebagai periode pembangunan investasi,
dimana pembangunan investasi dalam usaha ini tidak memerlukan periode terlalu
lama. Namun, Putri (2010) menggunakan perhitungan umur usaha dari mulai
tahun ke-0, dimana dijelaskan perlunya waktu kurang lebih selama satu tahun
untuk melakukan persiapan sebelum usaha budidaya jamur tiram dilakukan. Pada
penelitian mengenai kelayakan usaha dan nilai tambah olahan jamur tiram putih
CV. Megah Makmur Sentosa ini, peneliti menggunakan tahun pertama sebagai
tahun pembangunan investasi usaha. Menurut pemilik CV. Megah Makmur
Sentosa, pembangunan kumbung baru berkapasitas 30.000 baglog sebagai
investasi terpenting yang digunakan dalam usaha ini tidak memerlukan periode
yang lama untuk membangunnya. Oleh karena itu, pembangunan investasi
dilakukan pada tahun pertama usaha.
Mengenai alat analisis yang digunakan dalam penelitian studi kelayakan
bisnis, alat analisis yang digunakan pada penelitian ini tidak terdapat perbedaan
dengan penelitian sebelumnya. Alat analisis yang digunakan ialah Net Present
Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C),
dan Payback Period (PP). Penelitian terdahulu yang dijadikan referensi pada
penelitian ini menggunakan alat analisis yang sama. Namun, terdapat perbedaan
pada salah satu kriteria investasi yang digunakan, yaitu payback period. Penelitian
mengenai kelayakan usaha dan nilai tambah olahan jamur tiram putih (Pleurotus
ostreatus) pada CV. Megah Makmur Sentosa ini menggunakan metode yang
berbeda yaitu discounted payback period untuk menentukan periode
pengembalian investasi. Hal ini dikarenakan penggunaan metode ini untuk
mengetahui perbandingan manfaat yang diperoleh atas usaha di masa mendatang
dengan menggunakan nilai uang saat ini. Oleh karena itu, nilai manfaat bersih
yang digunakan adalah manfaat bersih yang telah didiskonto.
Tingkat diskonto yang digunakan dalam penelitian terdahulu memiliki
nilai yang berbeda-beda. Hal ini beracu pada sumber permodalan yang digunakan
dalam pengembangan usaha. Nur (2012), menggunakan tingkat diskonto sebesar
6,7 persen sebelum dilakukan pengembangan. Nilai ini didasarkan pada rata-rata
BI rate bulan Januari – Oktober 2011. Sedangkan discount rate yang digunakan
sebesar 8,6 persen ketika dilakukan pengembangan dimana modal yang didapat
berasal dari pinjaman ke Bank BRI. Berdasar penelitian yang dilakukan Oom
(2010), tingkat diskonto yang digunakan sebesar 10,25 persen dalam lahan 800
m2. Nilai ini diperoleh melalui persentase tingkat suku bunga yang didapat
merupakan rata-rata bunga pinjaman kepada Bank BRI sebesar 14 persen dengan
suku bunga deposito sebesar 6,5 persen. Pada penelitian mengenai kelayakan
usaha jamur tiram putih CV. Megah Makmur Sentosa ini, tingkat diskonto yang
digunakan adalah 5,00 persen. Nilai ini diperoleh berdasarkan tingkat suku bunga
deposito Bank Mandiri pada tahun 2013, dimana modal yang digunakan dalam
melakukan usaha adalah modal sendiri.
Penetapan umur bisnis dilakukan atas dasar yang berbeda-beda. Pada
penelitian Nur (2009), umur bisnis yang digunakan ialah selama lima tahun
15
berdasarkan umur ekonomis peralatan yang digunakan perusahaan yaitu kumbung
jamur. Umur bisnis pada penelitian Putri (2010) didasarkan pada usia bangunan
kumbung yaitu selama lima tahun. Umur ekonomis bangunan digunakan sebagai
dasar penetapan umur bisnis karena bangunan merupakan investasi yang
memerlukan biaya terbesar setelah lahan. Pada penelitian Oom (2010),
menggunakan umur bisnis selama sepuluh tahun. Hal ini didasarkan atas umur
ekonomis yang paling lama yaitu bangunan akuarium dan bak semen. Dalam
penelitian mengenai kelayakan usaha dan nilai tambah olahan jamur tiram putih
CV. Megah Makmur Sentosa ini, Umur ekonomis yang digunakan peneliti adalah
lima tahun. Hal ini berdasarkan bangunan kumbung dimana kumbung terbuat dari
bambu sebagai investasi terbesar dan paling krusial dalam usaha.
Dalam penelitian yang dilakukan Nur (2012), dilakukan analisis
kelayakan dari aspek non finansial dan finansial. Aspek non finansial yang terdiri
atas aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan hukum, aspek sosial,
ekonomi, dan budaya, serta aspek lingkungan. Pada pengkajian aspek finansial,
penelitian ini terdiri atas dua skenario usaha. Skenario pertama adalah mengkaji
kelayakan finansial budidaya jamur sebelum dilakukan pengembangan, dan
skenario kedua adalah ketika dilakukan pengembangan dengan melakukan
perluasan kumbung. Oom (2010) melakukan analisis kelayakan secara non
finansial dengan mengkaji aspek-aspek kelayakan non finansial mencakup aspek
pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan hukum, aspek sosial, ekonomi, dan
budaya, serta aspek lingkungan. Serta dilakukan analisis finansial terhadap
rencana usaha produksi ikan hias dengan output ikan patin, ikan black ghost, serta
ikan Ctenopoma acutirostre.
Berdasar penelitian Putri (2010), peneliti menganalisis mengenai
kelayakan usahatani jamur tiram dengan sistem kemitraan. Analisis dilakukan dari
sisi finansial maupun non finansial. Analisis juga dilakukan pada kondisi risiko
produksi secara finansial. Penelitian yang dilakukan adalah kelayakan usaha
jamur tiram putih pada CV. Megah Makmur Sentosa. Penelitian mengkaji aspek
non finansial yang terdiri atas aspek pasar, teknis, manajemen dan hukum, aspek
sosial, ekonomi, serta lingkungan. Pengkajian aspek finansial melalui rencana
usaha jamur tiram putih melalui pembangunan kumbung berkapasitas 30.000
baglog. Terdapat perbedaan alat analisis yang akan digunakan dalam penelitian
ini dengan penelitian terdahulu. Penelitian terdahulu menggunakan metode
payback period untuk menentukan periode pengembalian investasi sedangkan
penelitian ini menggunakan metode discounted payback period. Menurut
Nurmalina et al (2009), analisis dengan menggunakan payback period memiliki
kelemahan, yaitu diabaikannya nilai waktu uang (time value of money) dan
diabaikannya cash flow setelah periode payback. Oleh karena itu, pemakaian
metode discounted payback period dapat menjadi solusi untuk mengurangi
kelemahan pertama.
Berdasar hasil penelitian yang dilakukan Nur (2012) menunjukkan
bahwa usaha pengembangan jamur tiram putih yang akan dilakukan layak untuk
diusahakan baik dari segi NPV, Net B/C, IRR maupun discounted payback
period. Selain itu, berdasar analisis sensitivitas yang dilakukan, menunjukkan
jamur tiram peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi yaitu ketika terjadi
penurunan harga jamur tiram, penurunan harga baglog serta kenaikan harga LPG.
16
Hasil analisis Oom (2010) menunjukkan bahwa rencana pengembangan
usaha ikan hias air tawar layak untuk direalisasikan. Pada tingkat diskonto 10,25
persen untuk pembelian lahan dengan suku bunga deposito 6,5 persen, NPV yang
didapat bernilai positif sebesar Rp 2.039.639.749,00. Hal ini berarti bahwa usaha
budidaya ikan hias air tawar yang dilakukan selama 5 tahun akan memberikan
manfaat bersih sebesar Rp 434.591.902,00. Nilai B/C Ratio sebesar 4,08 yang
berarti setiap biaya yang dikeluarkan senilai Rp 1 (nilai sekarang) pada usaha
pengembangan ikan hias Arifin Fish Farm maka akan diperoleh manfaat Rp 4,08
(nilai sekarang). IRR yang didapat adalah lebih besar dari 50 persen. Maka dapat
disimpulkan bahwa usaha pengembangan ikan hias air tawar yang direncanakan
oleh Arifin Fish Farm layak untuk direalisasikan.
Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan Putri (2010) menunjukkan
bahwa usaha jamur tiram putih D’Lup Farm dengan sistem kemitraan tanpa
adanya perhitungan resiko layak dijalankan baik secara finansial maupun aspekaspek non finansial. Pada saat resiko produksi sebesar 33,3 persen, secara
finansial usaha tidak layak utnuk dijalankan. Perhitungan risiko produksi mengacu
pada nilai coef. Variation. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis usaha tani
jamur tiram putih ketika terjadi penurunan harga jual jamur tiram putih dan
peningkatan bahan baku. Hasil analisis berdasar analisis switching value
diketahui bahwa maksimum penurunan harga jual jamur tiram dapat ditoleransi
sebesar 3,59 persen dan maksimum peningkatan harga bahan baku sebesar 17,75
persen.
Penelitian terdahulu mengenai analisis nilai tambah pernah dilakukan
untuk produk agribisnis kayu jenis senggong gergajian. Munawar (2010) meneliti
mengenai analisis nilai tambah dan pemasaran kayu senggon gergajian. Lokasi
penelitian berada di Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Penelitian ini
dilakukan untuk mengetahui nilai tambah yang didapat dari hasil pengolahan kayu
sengon gergajian. Subsistem pengolahan dalam suatu sistem agribisnis memiliki
tujuan untuk menghasilkan produk yang memiliki bentuk yang lebih baik
diantaranya produk yang yang layak digunakan. Pengolahan kayu gergajian yang
dilakukan pada penelitian ini untuk menghasilkan produk berupa kaso ukuran 4
cm x 6 cm x 280 cm, balok ukuran 6 cm x 12cm dan papan ukuran 1,8 cm x 18
cm. Alat analisis yang digunakan untuk menghitung nilai tambah yang digunakan
pada penelitian ini adalah analisis nilai tambah dengan metode hayami.
Untuk analisis nilai tambah, sampel dikategorikan dalam tiga kelompok
usaha berdasarkan penggunaan jumlah kapasitas mesin yang digunakan yaitu
jumlah mesin yang digunakan satu adalah skala usaha kecil dengan jumlah
responden delapan sampel. Jumlah mesin yang digunakan dua adalah skala usaha
menengah dengan jumlah responden tiga sampel dan jumlah mesin yang
digunakan lebih dari dua adalah skala usaha besar dengan jumlah responden dua
sampel. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa melalui pengolahan kayu
senggon gergajian akan mecapai nilai tambah dari pengolahan kayu menjadi kayu
olahan pada Industri Penggergajian Kayu (IPK) skala usaha kecil Rp 103.879,02
per m3 bahan baku dengan rasio nilai tambah sebesar 18,00 persen, adalah nilai
tambah terkecil. Nilai tambah pada Industri Penggergajian Kayu (IPK) skala
usaha menengah sebesar Rp 117.972,15 per m3 bahan baku dengan rasio nilai
tambah 19,09 persen dan nilai tambah terbesar pada Industri Penggergajian Kayu
(IPK) skala usaha besar Rp 137.348,23 per m3 bahan baku dengan rasio nilai
17
tambah 24,22 persen merupakan nilai tambah terbesar. Perbedaan nilai tambah
disebabkan oleh perbedaan nilai produk, harga input bahan baku dan perbedaan
nilai sumbangan input lain pada masing-masing skala usaha yang dikategorikan.
Analisis nilai tambah pada penelitian ini akan mengkaji dua output
produk olahan jamur tiram putih, yakni jamur crispy dan nugget jamur. Adapun
analisis yang terdapat dalam perhitungan analisis nilai tambah ini mencakup
besarnya nilai tambah, nilai output, keuntungan, dan imbalan bagi tenaga kerja.
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran Teoritis
Kerangka pemikiran teoritis yang tercantum di bawah ini merupakan
suatu konsep yang menjelaskan tentang penalaran peneliti berdasar suatu acuan
pengetahuan, teori dalil, dan proporsi yang berhubungan dengan penelitian
kelayakan usaha budidaya jamur tiram putih di CV. Megah Makmur Sentosa,
Kecamatan Bantar Gebang, Kabupaten Bekasi. Berikut ini adalah beberapa teori
yang mendasari kerangka pemikiran yang peneliti lakukan.
Teori Manfaat dan Biaya
Kebutuhan biaya, adalah besarnya biaya yang akan dikeluarkan suatu
perusahaan untuk menjalankan suatu bisnis, seperti biaya yang diperkirakan pada
awal pelaksanaan suatu usaha. Tujuan analisis dalam suatu proyek harus disertai
dengan definisi mengenai biaya dan manfaat. Secara sederhana biaya adalah
sesuatu yang membantu tujuan (Gittinger 1986). Biaya yang umumnya dimasukan
dalam analisis proyek adalah biaya-biaya yang langsung berpengaruh terhadap
suatu investasi, antara lain seperti biaya investasi dan biaya operasional.
Biaya investasi adalah biaya yang pada umumya dikeluarkan pada awal
kegiatan proyek dalam jumlah yang cukup besar, berupa pengeluaran untuk
pembangunan, kendaraan operasional, pembelian mesin, peralatan dan biaya
untuk menggantikannya yang mengubah sumber-sumber finansial menjadi barang
kapital yang dapat menghasilkan keuntungan atau manfaat setelah beberapa
periode tahun yang akan datang. Biaya operasional merupakan biaya yang
dikeluarkan untuk menjalankan perusahaan secara rutin dalam setiap tahun selama
umur proyek (Gittinger 1986).
Biaya (Cost)
1. Biaya proyek
Biaya proyek adalah apa saja yang mengurai persediaan barang-barang
atau jasa-jasa konsumsi baik secara langsung maupun tidak langsung sehubungan
dengan proyek, biaya yang dimasukan dalam perhitungan umumnya biaya-biaya
yang dapat dikuantifikasi. Biaya proyek terdiri dari biaya investasi dan biaya
operasional. Biaya investasi umumnya dikeluarkan pada awal kegiatan proyek
18
dalam jumlah yang cukup besar sedangkan biaya operasional adalah biaya yang
rutin dikeluarakan setiap tahun pada umur proyek.
2. Biaya operasional
Biaya operasional terdiri dari biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel
(variabel cost). Biaya tetap adalah banyaknya biaya yang dikeluarkan dalam
kegiatan produksi yang jumlah totalnya tidak berubah atau tetap pada volume
kegiatan tertentu, meliputi sewa, penyusutan, pajak dan sebagainya. Sedangkan
biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan cenderung berubah sesuai dengan
bertambahnya volume produksi, meliputi biaya-biaya bahan baku, tenaga kerja
langsung dan sebagainya.
Manfaat atau penerimaan (Benefit)
Secara ekonomis, manfaat atau benefit diartikan sebagai hasil kali total
kualitas output dari suatu proses produksi dengan harga yang dibentuk di pasar
yang dinyatakan dalam satuan mata uang tertentu .Manfaat proyek dapat dibagi
ke dalam tiga bagian yaitu : Direct benefits, Indirect benefits, dan Intangible
benefits.
1. Direct benefits
Direct benefits berupa kenaikan dalam output fisik atau kenaikan nilai
output yang disebabkan diantaranya oleh adanya perbaikan kualitas, perubahan
lokasi, perubahan dalam waktu penjualan, penurunan kerugian dan penurunan
biaya.
2. Indirect benefits
Indirect benefits adalah benefit yang timbul atau dirasakan di luar proyek
karena adanya realisasi suatu proyek.
3. Intangible benefits
Intangible benefits yaitu benefit yang sulit dinilai dengan uang,
diantaranya adalah seperti perbaikan hidup, perbaikan pemandangan karena
adanya suatu taman, perbaikan distribusi pendapatan,integrasi nasional dan
pertahanan nasional.
Studi Kelayakan Bisnis
Menurut Gittinger (1986), proyek merupakan suatu kegiatan yang
mengeluarkan uang atau biaya-biaya dengan harapan akan memperoleh hasil dan
secara logika merupakan wadah untuk melakukan kegiatan-kegiatan perencanaan,
pembiayaan dan pelaksanaan dalam satu unit. Rangkaian dasar dalam
perencanaan dan pelaksanaan proyek adalah siklus proyek yang terdiri dari
tahaptahap identifikasi, persiapan dan analisis penelitian, pelaksanaan dan
evaluasi.
Evaluasi proyek sangat penting, evaluasi ini dapat dilakukan beberapa
kali selama pelaksanaan proyek. Studi kelayakan proyek adalah penelitian tentang
dapat tidaknya suatu proyek (biasanya merupakan proyek investasi) dilaksanakan
dengan berhasil (Husnan dan Suwarsono). Evaluasi yang dihasilkan berdasar
analisis tersebut kemudian dijadikan bahan pertimbangan untuk mengambil
keputusan apakah suatu gagasan usaha atau proyek dapat diteruskan (diterima)
atau dihentikan (ditolak). Namun demikian, selain memiliki faktor kesamaan di
19
antara keduanya, terdapat faktor-faktor ketidaksamaan dilihat dari beberapa segi,
antara lain: (1) Studi kelayakan dilaksanakan pada waktu suatu gagasan usaha
belum dilaksanakan, sedangkan evaluasi proyek dapat dilaksanakan sebelum,
pada waktu atau setelah selesainya suatu proyek. ; (b) Umumnya ruang lingkup
pembahasan evaluasi proyek lebih luas dari ruang lingkup pembahasan studi
kelayakan. Studi kelayakan lebih menitikberatkan pada kelayakan suatu gagasan
usaha dilihat dari segi kacamata pengusaha sebagai individu, sedangkan evaluasi
proyek melihat kelayakan suatu proyek tidak hanya dilihat dari kacamata
individu-individu yang terkena akibat langsung dari suatu proyek, tetapi juga
dilihat dari kacamata masyarakat lebih luas yang mungkin mendapat akibat tidak
langsung proyek. ; (c) Sejalan dengan ruang lingkup pembahasan evaluasi proyek
yang lebih luas, maka metode evaluasi yang digunakan umumnya lebih rumit dari
metode evaluasi dalam studi kelyakan. Evaluasi dalam studi kelaykan
menekankan aspek finansial, sedangkan pada evaluasi proyek menekankan aspek
ekonomi, meskipun aspek finansial juga diperhatikan.
Aspek-Aspek Studi Kelayakan Bisnis
Dalam studi kelayakan bisnis, terdapat berbagai aspek yang harus diteliti,
diukur, dan dinilai. Menurut Nurmalina et al (2009), dalam studi kelayakan bisnis
terdapat dua kelompok aspek yang perlu di perhatikan yaitu aspek non finansial
dan aspek finansial. Aspek finansial terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek
manajemen dan hukum, aspek sosial, ekonomi, dan budaya serta aspek
lingkungan. Masing-masing aspek tidak berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa jika salah satu aspek tidak dipenuhi makan
perlu dilakukan perbaikan atau tambahan yang diperlukan (Kasmir & Jakfar
2009).
Aspek Pasar
Analisa pada aspek pasar berperan dalam pendirian maupun perluasan
usaha pada studi kelayakan bisnis dan merupakan variabel utama untuk
mendapatkan perhatian. Jika pasar yang dituju tidak jelas, prospek bisnis ke depan
juga menjadi tidak jelas, maka kegagalan bisnis menjadi besar. Analisis aspek
pasar pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui berapa besar luas pasar,
pertumbuhan permintaan, dan market share dari produk yang di hasilkan (Umar
2003). Menurut Nurmalina et al (2009) menyebutkan bahwa aspek pasar dan
pemasaran mencoba memperlajari tentang :
1. Permintaan dapat di amati secara total maupun diperinci menurut daerah,
jenis konsumen, perusahaan besar pemakai serta memperkirakan proyeksi
permintaan tersebut.
2. Penawaran yang diamati dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.
Bagaimana penawaran di masa lalu dan perkiraan untuk masa yang akan
datang. Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran seperti barang
substitusi, kebijakan dari pemerintah, perubahan harga serta perubahan pola.
3. Harga penentuan harga dilakukan dengan membandingkan barang-barang
impor dan barang hasil produksi dalam negeri. Apakah terdapat
kecenderungan perubahan harga dan bagaimana polanya.
20
4.
Perkiraan penjualan yang dapat di capai perusahaan. Market share yang bisa
dikuasai perusahaan dapat dihitung dengan cara :
Aspek Teknis
Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses
pembangunan bisnis secara teknis dan pengoperasiannya setelah bisnis tersebut
selesai di bangun (Nurmalina et al 2009). Aspek-aspek teknis dapat dianalisis dari
beberapa faktor, yakni :
1. Penentuan Lokasi Bisnis
Pada suatu bisnis, pemilihan lokasi bisnis mempertimbangkan beberapa
hal, antara lain ketersediaan bahan baku, letak pasar yang di tuju, ketersediaan
tenaga kerja, ketersediaan tenaga listrik dan air , fasilitas transportasi dan iklim
serta keadaan tanah (agroekosistem) dari lokasi bisnis
2. Proses Produksi
Pada proses produksi, diketahui bahwa ada tiga jenis proses, yaitu proses
produksi yang terputus-putus, kontinu, dan kombinasi. Sistem yang kontinu akan
lebih mampu menekan risiko kerugian akibat fluktuasi harga dan efektivitas
tenaga kerja yang lebih baik di bandingkan dengan sistem terputus. Menurut
Suriawiria (2001), sesuai dengan perhitungan dasar agrobisnis jamur kayu yang
secara ekonomi dapat dikatakan layak harus mempunyai jumlah produksi antara
750-1250 kg per hari atau rata-rata 1000 kg per hari untuk 10000 baglog.
3. Layout
Layout merupakan keseluruhan proses penentuan bentuk dan penempatan
fasilitas-fasilitas yang dimiliki suatu perusahaan. Kriteria yang dapat digunakan
untuk evaluasi layout, yaitu : (1) Adanya konsistensi dengan teknologi produksi,
(b) Adanya arus produk dalam proses yang lancar dari suatu proses ke proses
yang lain, (3) Penggunaan ruangan yang optimal, (4) Terdapat kemungkinan
untuk dengan mudah melakukan penyesuaian maupun untuk ekspasnsi, (5)
Meminimisasi biaya produksi dan memberikan jaminan yang cukup untuk
keselamatan tenaga kerja, (6) Pemilihan Jenis Teknologi dan Equipment, (7)
Kriteria yang dapat digunakan dalam pemilihan jenis teknologi adalah seberapa
jauh derajat mekanisasi yang diinginkan dan manfaat ekonomi yang diharapkan.
Adapun kriteria yang dapat digunakan dalam pemilihan teknologi dan peralatan
yaitu : ketepatan jenis teknologi yang dipilih dengan bahan mentah yang
digunakan, keberhasilan penggunaan jenis teknologi tersebut di tempat lain yang
memiliki ciri-ciri yang mendekati lokasi bisnis, kemampuan pengetahuan
penduduk (tenaga kerja) stempat dan kemungkinan pengembangannya, juga
kemungkinan penggunaan tenaga kerja asing.
4. Pertimbangan kemungkinan adanya teknologi lanjutan sebagai salinan
teknologi yang akan dipilih sebagai akibat keusangan.
Mesin dan peralatan meliputi yang bergerak dan tidak bergerak, yang
secara umum digolongkan dalam mesin pabrik, mesin mekanik, peralatan
elektronik, peralatan angkutan dan peralatan lainnya. Pemilihan mesin wajib
mengikuti ketentuan jenis teknologi yang telah ditetapkan dan perlu
mempertimbangkan berbagai macam faktor non teknologis seperti : (1) keadaan
21
infrastruktur dan fasilitas pengangkutan mesin dari tempat pembongkaran pertama
samapai ke lokasi bisnis, (2) Keadaan fasilitas pemeliharaan dan perbaikan mesin
maupun peralatan yang ada di sekitar lokasi bisnis, (3) Kemungkin memperoleh
tenaga ahli yang akan mengelola mesin dan perlaatan tersebut.
Aspek Manajemen dan Hukum
Menurut Nurmalina et al (2009), aspek manajemen mempelajari tentang
manajemen dalam masa pembangunan bisnis dana manajemen dalam masa
operasi. Manajemen dalam masa pembangunan usaha diantaranya mencakup
siapa pelaksana usaha, bagaimana jadwal penyelessaian usaha tersebut, dan siapa
yang melakukan studi masing-masing aspek kelayakan usaha tersebut, sedangkan
manajemen dalam operasi memepelajari bagaimana bentuk organisasi atau badan
usaha yang dipilih, bagaimana struktur organisasi, bagaimana deskripsi masingmasing jabatan, berapa banyak jumlah tenaga kerja yang digunakan, dan
menentukan siapa saja anggota direksi serta tenaga ahli.
Aspek hukum mempelajari jaminan-jaminan yang bisa disediakan bila
akan menggunakan sumber dana yang berupa pinjaman, berbagai akta, sertifikat
dan izin. Selain itu, aspek hukum diperlukan dalam mempermudah dan
memperlancar kegiatan bisnis pada saat akan menjalin kerjasama dengan pihak
lain (Nurmalina et al 2009).
Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
Menurut Nurmalina et al (2009), yang akan di nilai dalam aspek ini
adalah seberapa besar bisnis mempunyai dampak sosial, ekonomi dan budaya
terhadap masyarakat secara keseluruhan. Hal berikut merupakan penjelasan
mengenai aspek sosial, ekonomi, dan budaya.
1. Aspek sosial
Pada aspek sosial melihat adanya penambahan kesempatan kerja atau
pengurangan pengangguran, pemerataan kesempatan kerja dan bagaimana
pengaruh bisnis tersebut terhadap lingkungan di sekitar lokasi usaha, manfaat dan
pengorbaanan sosial yang mungkin dialami oleh masyarakat di sekitar lokasi
usaha.
2. Aspek ekonomi
Pada aspek ekonomi melihat suatu bisnis dapat memberikan peluang
peningkatan pendapatan masyarakat, peluang peningkatan pendapatan asli daerah,
pendapatan dari pajak dan adanya penambahan aktivitas ekonomi.
3. Aspek lingkungan
Pada aspek lingkungan melihat apakahbisnis tersebut berdampak baik
atau buruk pada perusahaan, dampak kelestarian lingkungan sekitar khususnya
dengan adanya kegiatan bisnis suatu perusahaan, serta dampak terhadap
lingkungan pada kebanyakan usaha seperti limbah.
Aspek Finansial
Dalam aspek finansial dilakukan penelitian untuk menilai biaya-biaya
apa saja yang akan dikeluarkan dan seberapa besar biaya-biaya yang akan
dikeluarkan. Aspek ini juga meneliti seberapa besar pendapatan yang akan
diterima jika bisnis akan dijalankan (Kasmir dan Jakfar 2009). Pengkajian aspek
finansial memperhitungkan jumlah dana yang dibutuhkan untuk membangun dan
22
mengoperasikan suatu bisnis, dari mana kemungkinan dana tersebut diperoleh,
jumlah penghasilan yang akan diperoleh selama bisnis berjalan, dan peranan
bisnis menyumbang pembangunan ekonomi, yang mana suatu analisis secara
finansial berperan penting untuk mengetahui apakah suatu bisnis layak atau tidak
layak untuk dijalankan. Terdapat beberapa alat yang digunakan untuk menentukan
kelayakan aspek finansial, yaitu :
Net Present Value (NPV) yakni suatu proyek menentukan manfaat bersih
yang diterima proyek selama umur proyek pada tingkat bunga tertentu. NPV juga
dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus kas yang ditimbulkan oleh
investasi. Perhitungan NPV berdasr pada penentuan tingkat suku bunga yang
relevan. Suatu bisnis dikatakan layak jika jumlah NPV lebih besar dari nol
(NPV>0) yaitu dapat dikatakan bahwa jumlah seluruh manfaat yang diterima
lebih besar dari pada biaya yang dikeluarkan. Sedangkan, nilai NPV lebih kecil
dari nol (NPV<0) berarti bisnis tersebut tidak menghasilkan nilai biaya yang
dipergunakan, maka bisnis tersebut tidak layak untuk dijalankan.
Internal Rate of Return (IRR) adalah tingkat discount rate yang
menghasilkan NPV sama dengan nol serta menunjukkan seberapa besar
pengembalian bisnis terhadap investasi yang ditanamkan. Gittinger (2008)
menyatakan bahwa IRR adalah tingkat rata-rata keuntungan intern tahunan bagi
perusahaan yang melakukan investasi dan dinyatakan dalam satuan persen.
Tingkat IRR mencerminkan tingkat suku bunga maksimal yang dapat di bayar
oleh bisnis untuk sumberdaya yang digunakan. Suatu bisnis dikatakan layak jika
IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku, sebaliknya jika IRR lebih
kecil dari tingkat suku bunga yang berlaku, maka bisnis tidak layak untuk
dijalankan.
Net Benefit Cost ratio (Net B/C) merupakan rasio antara manfaat bersih
yang bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif.
Kelayakan suatu bisnis dilihat berdasarkan kriteria Net B/C adalah jika nilai Net
B/C lebih besar dari satu dan tidak layak jika nilai Net B/C kurang dari satu.
Discounted Payback Period(PP) atau tingkat pengembalian investasi
adalah salah satu metode yang digunakan dalam menilai kelayakan suatu usaha
yang mana digunakan untuk menetahui periode jangka waktu pengembalian atas
modal yang ditanam dengan memperhitungkan nilai waktu uang. Bisnis yang baik
akan menghasilkan pengembalian atas modal yang dipakai lebih cepat, atau
dengan kata lain bisnis yang discounted payback period-nya singkat atau cepat
pengembaliannya kemungkinan besar akan dipilih. Kriteria untuk mengukur
kelayakan berdasar nilai DPP yang dihasilkan adalah jika nilai DPP kurang dari
umur bisnis (DPP < umur bisnis).
Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi ialah suatu laporan keuangan yang meringkas
penerimaan dan pengeluaran suatu perusahaan selama periode akuntansi. Laporan
laba rugi juga merupakan suatu laporan yang menunjukkan hasil-hasil operasi
perusahaan selama waktu tersebut. Laporan laba rugi ini menghasilkan suatu
perhitungan yang akhirnya dapat melihat apakah suatu proyek yang dijalankan
mendapat keuntungan ataukah mendapatkan kerugian selama waktu proyek. Laba
ialah apa saja yang tersisa setelah dikurangkan dengan pengeluaran-pengeluaran
yang timbul dalam memproduksi atau menjual barang dan jasa.
23
Proyeksi laba rugi menggambarkan besarnya pendapatan yang diperoleh
pada suatu periode ke periode berikutnya. Kemudian juga akan tergambar jenisjenis biaya yang dikeluarkan berikut jumlahnya dalam periode yang sama. Dari
laporan ini dapat terlihat kondisi keuangan perusahaan apakah terdapat
keuntungan atau kerugian dalam suatu periode (Kasmir dan Jakfar 2009).
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk meneliti kembali analisa kelayakan
usaha yang telah dilakukan. Adapun tujuannya untuk melihat pengaruh-pengaruh
yang akan terjadi akibat keadaan yang berubah-ubah. Menurut Gittinger (2008),
analisis sensitivitas digunakan untuk menarik perhatian pada masalah utama suatu
bisnis dimana kegiatan bisnis selalu menghadapi ketidakpastian yang dapat terjadi
pada suatu keadaan yang telah diperkirakan. Pendekatan dilakukan dengan
mencari perubahan maksimum yang masih dapat ditolerir agar usaha masih bisa
dilaksanakan dan masih memberikan keuntungan normal. Terdapat berbagai
perubahan keadaaan dalam suatu bisnis. Bisnis di bidang pertanian , proyekproyek sensitif berubah akibat empat masalh utama, yakni : (a) perubahan harga
jual, (b) keterlambatan pelaksanaan proyek, (c) kenaikan biaya, (d) perubahan
volume produksi.
Konsep Nilai Tambah
Nilai tambah merupakan pertambahan nilai suatu komoditi karena
mengalami proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan dalam suatu proses
produksi. Definisi nilai tambah adalah pertambahan nilai suatu komoditi karena
adanya input fungsional yang diberlakukan pada komoditi yang bersangkutan
(Hayami 1987). Input fungsional tersebut berupa proses pengubahan bentuk (form
utility), pemindahan tempat (place utility), maupun proses penyimpanan (time
utility). Nilai tambah menggambarkan imbalan bagi tenaga kerja, modal dan
manajemen.
Konsep nilai tambah adalah suatu pengembangan nilai yang terjadi
karena adanya perlakuan pada input suatu komoditas. Input yang menyebabkan
terjadinya nilai tambah dari suatu komoditas terlihat dengan adanya perubahanperubahan pada komoditas tersebut seperti perubahan bentuk, tempat dan waktu.
Analisis Nilai Tambah Metode Hayami
Nilai tambah adalah selisih antara komoditas yang mendapat perlakuan
pada tahap tertentu dengan nilai korbanan yang digunakan selama proses
berlangsung (Hayami dalam sudiyono 2002). Sumber-sumber nilai tambah
tersebut adalah pemanfaatan faktor-faktor seperti tenaga kerja, modal,
sumberdaya manusia, dan manajemen.
Alat analisis nilai tambah biasanya digunakan pada kegiatan subsistem
pengolahan, Adapun kelebihan dari alat analisis ini menurut Hayami adalah
sebagai berikut :
a. Lebih tepat digunakan untuk proses pengolahan produk-produk pertanian
24
b.
Dapat diketahui produktivitas produksinya (rendemen dan efisiensi tenaga
kerjanya)
c. Dapat diketahui balas jasa bagi pemilik-pemilik faktor produksi
d. Dapat dimodifikasi untuk nilai tambah selain subsistem pengolahan
Dengan melakukan analisis nilai tambah, maka dapat diketahui besarnya
balas jasa yang diterima pemilik faktor produksi. Analisis nilai tambah juga terdiri
atas tiga komponen pendukung, yaitu faktor konversi yang menunjukkan banyak
output yang dihasilkan dari satuan-satuan input, faktor koefisien tenaga kerja yang
menunjukkan banyaknya tenaga kerja langsung yang diperlukan untuk mengolah
satuan-satuan input, dan nilai produk yang menunjukkan nilai output yang
dihasilkan dari satuan-satuan input.
Berdasar analisis nilai tambah, maka dapat dikaji faktor apa saja dari
proses produksi yang dapat menghasilkan atau menaikkan nilai tambah dan
sebaliknya. Adapun beberapa informasi yang dapat diperoleh melalui analisis nilai
tambah Hayami antara lain :
a. Perkiraan besarnya nilai tambah (Rp)
b. Rasio nilai tambah terhadap nilai produk yang dihasilkan (%), menunjukkan
persentase nilai tambah dari njilai produk
c. Imbalan bagi tenaga kerja (Rp), menunjukkan besarnya upah yang diterima
oleh tenaga kerja langsung
d. Bagian tenaga kerja dari nilai tambah yang dihasilkan (%), menunjukkan
persentase imbalan tenaga kerja dari nilai tambah
e. Keuntungan pengolahan (Rp), menunjukkan bagian yang diterima pengusaha
(pengolah) karena menanggung resiko usaha
f. Tingkat keuntungan pengolah terhadap nilai output (%) menunjukkan
persentase keuntunganh terhadap nilai tambah
g. Marjin pengolahan (Rp), menunjukkan kontribusi pemilik faktor produksi
selain bahan baku yang digunakan dalam proses produksi
h. Persentase pendapatan tenaga kerja langsung terhadap marjin (%)
i. Persentase keuntungan perusahaan terhadap marjin (%)
j. Persentase sumbangan input lain terhadap marjin (%)
Kerangka Pemikiran Operasional
Usaha di bidang pertanian memiliki potensi yang baik untuk
dikembangkan, hal ini ditunjukkan dari data real pada jumlah perkembangan
produksi hortikultura di Bekasi yang memiliki perkembangan yang positif.
Peningkatan jumlah produksi hortikultura pada daerah Bekasi terjadi setiap
tahunnya, hal itu memperlihatkan adanya kenaikan permintaan kebutuhan
penduduk akan produk hortikultura, salah satunya jamur tiram. Peningkatan
permintaan dapat dilihat dari data permintaan jamur tiram pada CV. Megah
Makmur Sentosa yang cenderung meningkat setiap tahunnya, sehingga terdapat
ketidak seimbangan antara permintaan yang semakin meningkat dengan produksi
jamur tiram yang stabil. Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan kapasitas
produksi dengan cara pembuatan kumbung baru yang nantinya diharapkan dapat
memenuhi permintaan dan perolehan profit yang maksimal.
Gambar 2 menunjukkan alur kerangka operasional pada penelitian ini.
25
1.
2.
3.
Permintaan jamur tiram yang terus meningkat
Kemudahan teknis budidaya jamur tiram putih
Kelebihan jamur tiram : panen dapat dilakukan setiap hari,
harga jual stabil, pasar pasti, mengandung banyak manfaat
Usaha Budidaya Jamur Tiram
CV. Megah Makmur Sentosa
Usaha Pengolahan Jamur Tiram
Kondisi existing : Kumbung kapasitas
10.000 baglog
Jamur
crispy
Nugget
Jamur
Identifikasi kondisi yang ada :
Analisis Nilai Tambah
- Kekurangan supply jamur
- Jamur sebagai alternatif pemenuhan makanan bergizi
- Terdapat potensi lahan
- Permintaan pasar lokal belum dapat dipenuhi
-Besarnya Nilai Tambah
-Nilai Output
-Keuntungan
-Imbalan Tenaga Kerja
Rencana perusahaan ke depan :
Pembangunan Kumbung Baru berkapasitas
30.000 baglog
Analisis Kelayakan Usaha
Aspek Non Finansial:
Aspek finansial :
Aspek pasar,
aspek teknis,
aspek manajemen,
aspek hukum,
aspek sosial lingkungan.
NPV , Net B/C , IRR, DPP
Layak
Analisis Switching Value :
Penurunan Jumlah output, Penurunan
harga output, kenaikan biaya variabel
Tidak Layak
Dilaksanakan
Rekomendasi
Gambar 2 Alur kerangka pemikiran operasional kelayakan usaha dan nilai tambah
olahan jamur tiram putih
26
Budidaya jamur tiram putih yang dilakukan oleh perusahaan relatif lebih
mudah ditinjau dari aspek biologinya. Masa produksi jamur tiram relatif lebih
cepat sehingga periode dan waktu panen lebih singkat dan dapat berlanjut
sepanjang tahun. Selain itu, CV. Makmur Megah Sentosa merupakan salah satu
produsen jamur tiram putih terbaik di Bekasi hal itu ditunjukkan dalam hasil
produksi yang langsung habis terjual setiap harinya.
CV. Megah Makmur Sentosa yang dimiliki Bapak Paryanto adalah usaha
budidaya jamur tiram putih yang berlokasi di Kecamatan Bantar Gebang, Bekasi.
Pada awal pendiriannya, kapasitas produksi kumbung hanya menampung 10.000
baglog. Jamur tiram putih yang dihasilkan dipasarkan ke pasar lokal dengan
permintaan tujuh kali lipat dibandingkan kapasitas produksi harian. Berdasarkan
pengalaman tersebut, pemilik berkehendak untuk membangun kumbung
barudengan kapasitas 30.000 baglog untuk memenuhi permintaan lokal.
Berdasarkan hal itu, CV. Makmur Megah Sentosa berharap dapat meningkatkan
profit usahanya dari rencanaan usaha yang akan dilakukan. Namun sebelumnya,
diperlukan analisis kelayakan usaha untuk mengetahui apakah usaha layak atau
tidak untuk dijalankan. Analisis dilakukan dengan mengkaji aspek non finansial
dan aspek finansial. Analisis non finansial terdiri atas aspek pasar, aspek teknis,
aspek manajemen, aspek sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan serta aspek
finansial.
Kriteria kelayakan yang digunakan untuk aspek pasar yaitu bahwa
produk jamur tiram putih memiliki peluang pasar yang baik. Kriteria kelayakan
pada aspek teknis ditunjukkan dengan adanya peningkatan produksi dan
pemeliharaan jamur yang intensif. Hal itu nantinya akan menjadikan produk yang
dihasilkan perusahaan tahan terhadap hama dan penyakit serta menghasilkan
kualitas yang baik. Pada aspek sosial agar respon masyarakat sekitar baik dan
tidak berkeluh kesah terhadap usaha yang dijalankan CV. Megah Makmur
Sentosa. Untuk aspek manajemen dilihat menggunakan kriteria kelayakan supaya
struktur pengelolaan dan pemeliharaan manajerial perusahaan baik dan sesuai
dengan kebutuhan perusahaan. Penilaian kelayakan berdasar aspek finansial
menggunkan kriteria kelayakan investasi yaitu nilai NPV > 0, Net B/C > 1, serta
IRR > tingkat discount rate yang ditetapkan. Ketika bisnis yang dijalankan
menghasilkan NPV > 0 maka bisnis dinyatakan layak.
METODE PENELITIAN
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian mengenai kelayakan usaha jamur tiram dilakukan di CV.
Megah Makmur Sentosa Bekasi. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja
(purposive) dengan pertimbangan bahwa usaha jamur tiram putih yang dilakukan
oleh CV. Megah Makmur Sentosa merupakan salah satu usaha budidaya jamur
tiram di Bekasi yang mana pelaku usaha memiliki potensi besar dalam
meningkatkan kapasitas produksi usaha budidaya jamurnya salah satunya adalah
rencana perusahaan untuk membangun kumbung baru berkapasitas 30.000 log.
27
Penelitian mengenai nilai tambah pengolahan jamur tiram putih menjadi
produk jamur crispy dan nugget jamur dilakukan di D’Jamur Lqiang dan Jogget’s
Nugget. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) dengan
pertimbangan bahwa usaha pengolahan jamur tiram menjadi produk jamur crispy
dan nugget jamur telah dilakukan di kedua home industry ini yang bertempat di
Bekasi. Kedua penelitian yang dilakukan, baik mengenai kelayakan usaha
maupun nilai tambah dilaksanakan pada bulan Desember 2012 hingga Februari
2013.
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan
data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan langsung di
lapangan, wawancara langsung dengan pimpinan perusahaan, para karyawan CV.
Makmur Megah Sentosa, pedagang, pengumpul, plasma serta masyarakat sekitar.
Adapun perihal wawancara langsung dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan
mengenai penerimaan dan biaya sarana produksi usaha, termasuk biaya investasi,
biaya operasional, biaya umum, jumlah produksi yang dihasilkan, tingkat harga,
sumber permodalan, dan sebagainya.
Data sekunder diperoleh dari laporan yang telah dipublikasikan maupun
yang tidak dipublikasikan yang bersumber dari berbagai instansi yang terkait
dengan permasalahan seperti Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal
Hortikultura, Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Pertanian dan kehutanan
kabupaten Bekasi, Perpustakaaan LSI IPB, penelitian terdahulu, media massa,
jurnal, artikel, buku-buku, internet, serta literatur lain yang terkait dengan
penelitian yang dilakukan.
Metode Penentuan Responden
Dalam memperoleh data primer, responden ditentukan pada pihak
internal maupun pihak eksternal. Kedua pihak, baik internal maupun eksternal,
penentuan responden dilakukan menggunakan teknik purposive. Purposive
merupakan metode penentuan responden dimana subyek dipilih berdasarkan
tujuan peneliti yang disesuaikan dengan keahliannya dalam bidang yang diteliti.
Responden yang terpilih dari pihak intenal perusahaan yakni pemilik sekaligus
pengelola CV. Megah Makmur Sentosa, kepala produksi, karyawan bagian
pemasaran, karyawan bagian keuangan, dan pekerja lainnya. Sedangkan untuk
pihak eksternal adalah masyarakat sekitar dimana informasi yang didapatkan
seputar pengaruh CV. Megah Makmur Sentosa terhadap kondisi sosial, ekonomi,
dan lingkungan
Metode Pengolahan Data dan Analisa Data
Data dan informasi yang didapatkan diolah dengan menggunakan
program Microsoft Excel dan disajikan dalam bentuk tabulasi yang digunakan
28
untuk mengatur data dengan pengelompokkan dan pengklasifikasian data yang
ada, selain itu untuk memudahkan dalam menganalisis data. Analisa data yang
digunakan dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Analisa
kualitatif dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui gambaran usaha (keragaan
usaha) jamur tiram putih di tempat penelitian dari berbagai aspek, yaitu aspek
pasar, aspek teknis, dan aspek manajemen. Aspek pasar meliputi bentuk pasar
yang diharapkan dan potensi pasar. Aspek teknis dan teknologi meliputi
teknologi, kuantitas dan kualitas tenaga teknis serta faktor non ekonomis.
Analisis kuantitatif dilakukan dengan perhitungan nilai uang untuk
mengkaji kelayakan usaha jamur tiram putih di CV. Megah Makmur Sentosa.
Analisa kuantitatif dilakukan dengan bantuan kalkulator dan komputer program
Microsoft Excel 2007. Analisis kuantitatif dilakukan dengan perhitungan nilai
uang yang diperoleh pada masa kini dan masa yang akan datang melalui analisis
finansial dengan melihat nilai NPV, Net B/C Rasio, IRR serta tingkat
pengembalian investasi (Discounted Payback Period). Selain itu dilakukan juga
analisis sensitivitas untuk melihat kepekaan usaha produksi dalam menghadapi
beberapa perubahan.
Analisis Aspek Finansial
Analisis aspek finansial dalam usaha jamur CV. Megah Makmur Sentosa
dilakukan berdasar perhitungan secara kuantitatif. Kegiatan yang dianalisis adalah
yaitu rencana pembangunan kumbung baru dengan kapasitas 30.000 baglog.
Untuk mengetahui tingkat kelayakan usaha budidaya jamur pada CV. Megah
Makmur Sentosa, digunakan alat ukur kelayakan finansial melalui pendekatan Net
Present Value (NPV), Incremental Net Benefit, Internal Rate of Return (IRR), Net
Benefit-Cost Ratio (Net B/C), dan Discounted Payback Period (DPP). Analisis
berdasar kriteria investasi tersebut dilakukan untuk mengetahui sejauh mana
kelayakan usaha dilihat dari segi finansial pelaku usaha. Selanjutnya dilakukan
analisis sensitivitas untuk mengetahui dampak dari suatu perubahan dari suatu
hasil analisis. Sedangkan ketika dilakukan analisis switching value, maka untuk
mengetahui sejauh mana perubahan dapat ditoleransi dengan anggapan usaha
tetap layak untuk berjalan.
Net Present Value (NPV)
Net Present Value dari suatu proyek merupakan nilai sekarang (present
value) dari jumlah pendapatan bersih yang diperoleh selama umur proyek. Suatu
rencana investasi dikatakan layak jika menghasilkan NPV lebih besar dari nol.
Cara perhitungan NPV adalah sebagai berikut:
∑
Keterangan :
NPV
= Net Present Value (Rp)
Bt
= Penerimaan (benefit) bruto pada tahun ke-t (Rupiah)
Ct
= Biaya (cost) bruto pada tahun ke-t (Rupiah)
i
= Suku bunga yang berlaku (%)
29
t
= Umur usaha (Tahun)
Terdapat tiga penilaian kriteria investasi, berdasarkan metode NPV. Jika
NPV suatu bisnis lebih besar dari nol (NPV>0) berarti usaha tersebut layak
dilakukan atau dilanjutkan, hal itu mengadung arti bahwa manfaat yang diperoleh
lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya, jika NPV usaha kurang dari
nol (NPV <0), maka usaha tersebut tidak layak dilakukan atau dilanjutkan, hal itu
mengandung arti bahwa biaya yang dikeluarkan lebih besar dari manfaat yang
diperoleh. Apabila NPV sama dengan nol (NPV=0) maka manfaat yang diperoleh
hanya cukup untuk menutup biaya yang dikeluarkan, dimana usaha tersebut tidak
untung dan tidak rugi.
Pada penelitian ini perhitungan NPV tidak dilakukan secara manual.
Namun, Perhitungan NPV dilakukan dengan menggunakan formula yang telah
tersedia pada software Microsoft Excel 2007.
Internal Rate of return (IRR)
Internal Rate of Return menunjukkan tingkat suku bunga yang berlaku
ketika biaya yang dikeluarkan untuk usaha sama dengan manfaat yang diperoleh
perusahaan. IRR merupakan tingkat discount rate (DR) yang menghasilkan NPV
sama dengan nol (NPV=0). Suatu usaha dianggap layak secara finansial ketika
nilai IRR yang dihasilkan lebih besar atau sama dengan discount rate yang
berlaku. Apabila nilai IRR lebih kecil dari discount rate yang berlaku maka
proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. IRR dihitung dengan metode IRR
yang diformulasikan sebagai berikut:
Keterangan :
IRR
= Tingkat pengembalian internal (%)
i1
= Tingkat discount rate yang menghasilkan NPV positif
i2
= Tingkat discount rate yang menghasilkan NPV negatif
NPV1 = NPV yang bernilai positif
NPV2 = NPV yang bernilai negatif
Kerangka keputusan berdasar IRR yang dihasilkan yaitu :
ï‚· Apabila IRR = tingkat diskonto maka usaha tidak mendapat keuntungan
maupun kerugian.
ï‚· Apabila IRR < tingkat diskonto maka usaha tidak layak untuk dilakukan.
ï‚· Apabila IRR > tingkat diskonto maka usaha layak untuk dilakukan.
ï‚· Pada penelitian ini perhitungan IRR tidak dilakukan secara manual. Namun,
Perhitungan IRR dilakukan dengan menggunakan formula yang telah tersedia
pada software Microsoft Excel 2007.
Adapun hubungan antara NPV dan IRR dapat dilihat pada Gambar 4.
30
NPV
NPV
0
NPV’
Gambar 3 Hubungan antara NPV dan IRRa
a
Sumber : Nurmalina et al, 2009
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) menunjukkan rasio antara manfaat
bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif. Jika net
B/C>1, artinya manfaat yang diberikan oleh proyek lebih besar daripada biaya
yang dikeluarkan, sehinggga proyek layak dilaksanakan. Sedangkan Net B/C < 1,
artinya usaha tidak layak dilaksanakan secara finansial. Rumus yang digunakan
adalah :
Bt-Ct > 0
∑
∑
Bt-Ct < 0
Keterangan :
Bt
= Benefit proyek pada tahun ke-t
Ct
= Biaya proyek pada tahun ke-t
t
= Umur usaha (Tahun)
i
= Tingkat suku bunga (%)
Discounted Payback Period (DPP)
Discounted Payback period menunjukkan masa pengembalian investasi
yang dikeluarkan oleh proyek setelah memperhitungkan nilai waktu uang,
biasanya dinyatakan dalam satuan tahun, bulan dan hari. Nilainya dapat dicari
dengan menggunakan nilai sekarang dari total manfaat bersih, sebagai berikut:
Keterangan : I
= Jumlah modal investasi
Ab discounted = Manfaat bersih rata-rata per tahun per periode
Setelah mendapatkan nilai sekarang dari keuntungan bersih maka akan
dapat ditentukan pada tahun ke berapa total biaya investasi dapat tertutupi oleh
keuntungan. Masa pengembalian investasi ditunjukkan pada saat proyek mulai
31
mengalami nilai present value yang positif. Semakin kecil angka yang dihasilkan
berarti semakin cepat tingkat pengembalian investasi suatu usaha, maka akan
semakin baik jika usaha itu dilaksanakan (Tabel 8).
Analisis Sensitivitas
Cashflow merupakan hasil pengolahan yang bersifat statik. Informasi
keuangan usaha jamur tiram yang dituangkan kedalam cashflow hanya berlaku
untuk satu harga tertentu saja tanpa mempertimbangkan perubahan yang akan
terjadi. Faktor perubahan harga input, perubahan harga output dan tingkat
produksi seringkali menjadi variabel utama yang mempengaruhi perubahan dalam
analisis kelayakan investasi pengusahaan jamur tiram ini. Analisis sensitivitas
dilakukan terhadap usaha jamur tiram guna mengatisipasi perubahan tersebut.
Switching value adalah suatu nilai dimana pada nilai tersebut dicapai
NPV=0, Net B/C=1 dan IRR=i, yaitu untuk mencari nilai maksimal peningkatan
harga input ataupun nilai maksimal penurunan harga output yang nantinya akan
menjadi batas minimal bagi perusahaan sehingga dapat dikatakan sebagai usaha
yang layak. Cara mencari switching value yaitu dengan trial dan error.
Laporan Laba Rugi
Analisa laba rugi digunakan perusahaan untuk mengetahui
perkembangan usaha dalam periode tertentu. Komponen laba rugi usaha CV.
Megah Makmur Sentosa terdiri dari pendapatan penjualan hasil produksi, biaya
operasional, biaya penyusutan, dan pajak penghasilan. Laba sebelum pajak (EBT)
diperoleh dari pendapatan penjualan dikurangi dengan biaya operasional dan
biaya penyusutan. Laba setelah pajak (EAT) diperoleh dari laba sebelum pajak
dikurangi dengan pajak penghasilan.
Analisis Nilai Tambah
Metode yang digunakan untuk menghitung besarnya nilai tambah adalah
Metode Hayami.
Faktor konversi pada Tabel 5 menunjukkan banyaknya produk olahan
yang dihasilkan dari satu kilogram bahan baku. Pada variabel koefisien tenaga
kerja menunjukkan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengolah satu
satuan input. Selanjutnya nilai output pada tabel merupakan nilai produk yang
dihasilkan dari satu satuan input yang digunakan. Adapun langkah-langkah dalam
menggunakan metode hayami antara lain (Hayami 1987) :
a. Membuat arus komoditi yang menunjukkan bentuk-bentuk komoditi, lokasi,
lama penyimpanan, dan berbagai perlakuan terhadap komoditi yang
bersangkutan.
b. Mengidentifikasi setiap transaksi yang terjadi menurut perhitungan keuangan.
c. Memilih dasar perhitungan, dimana dalam penenlitian ini didasarkan pada per
satuan input utama atau bahan baku.
Prosedur perhitungan nilai tambah metode hayami dapat dilihat pada
Tabel 5.
32
Tabel 5 Prosedur analisis nilai tambah metode hayamia
No.
Variabel
I.
Output, Input dan harga
1.
Output (Kg)
2.
Bahan baku (Kg)
3.
Tenaga kerja (HOK/bulan)
4.
Faktor konversi
5.
Koefisien tenaga kerja (HOK)
6.
Harga output (Rp/Kg)
7.
Upah rata-rata tenaga kerja (Rp/HOK)
II. Penerimaan dan keuntungan
8.
Harga bahan baku (Rp/Kg)
9.
Sumbangan input lain (Rp/Kg)
10.
Nilai output (Rp/Kg)
11.
a. Nilai tambah (Rp/Kg)
b. Rasio nilai tambah (%)
12.
a. Pendapatan tenaga kerja (Rp/Kg)
b. Pangsa tenaga kerja (%)
13.
a. Keuntungan (Rp/Kg)
b. Tingkat keuntungan
III. Balas jasa dari masing-masing faktor produksi
14
Marjin (Rp/Kg)
a.
Pendapatan tenaga kerja(%)
b. Sumbangan input lain (%)
c.
Keuntungan (%)
a
Nilai
A
B
C
D = A/B
E = C/B
F
G
H
I
J=DxF
K=J–I–H
L% = (K/J) x 100%
M=ExG
N% = (M/K) x 100%
O=K–M
P% = (O/K) x 100%
Q=J–H
R% = (J-H) x 100%
S% = (I-Q) x 100%
T% = (O-Q) x 100%
Sumber : Hayami dalam Sudiyono (2002)
Definisi Operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini, diantaranya :
a. Baglog adalah media tanam jamur yang terdiri dari bahan-bahan seperti serbuk
gergaji, tepung kanji, tepung jagung, kapur, dan lain-lain yang dibungkus
plastik.
b. Sterilisasi yaitu proses memanaskan baglog dalam alat pemanas, seperti
steamer.
c. Inokulasi yaitu proses penanaman bibit dengan memasukkan bibit spora ke
dalam baglog lalu diratakan, kemudian disumbat dengan kapas atau koran dan
diikat kembali dengan plastik atau karet
d. Inkubasi yaitu proses pemutihan yang mana terjadi penyebaran bibit spora dari
bagian atas baglog ke bagian bawahnya.
e. Kumbung adalah ruang pertumbuhan jamur konstruksi bangunanya terbuat dari
tiang-tiang bambu, biasanya dinding dan atapnya terbuat dari bilik bambu.
Dalam kumbung terdapat rak-rak bambu sebagai tempat baglog jamur.
Asumsi Dasar yang Digunakan
Perhitungan kelayakan usaha pada penelitian yang dilakukan pada CV.
Megah Makmur Sentosa didasarkan pada asumsi berikut :
33
1.
Umur bisnis diasumsikan selama 5 tahun, hal ini didasarkan pada umur teknis
bangunan kumbung (kumbung bambu) yang digunakan dalam kegiatan
produksi jamur tiram putih di CV. Megah Makmur Sentosa.
2. Perhitungan umur usaha dilakukan mulai tahun ke-1, hal ini berdasarkan
persiapan usaha hanya membutuhkan waktu kurang dari satu tahun sehingga
dalam periode tahun pertama sudah bisa memanen jamur. Persiapan usaha
dilakukan pada bulan 1-6, sehingga di bulan ke 7-12 sudah bisa berproduksi,
Pada tahun pertama perusahaan berproduksi selama 6 bulan dan di tahun ke-2
berproduksi selama 12 bulan.
3. Sumber penerimaan berasal dari penjualan jamur tiram, baglog, dan bibit
jamur.
4. Kumbung yang dibangun berkapasitas 30.000 baglog. Hal ini didasarkan
kepada ukuran kumbung 24x15 meter berisi 60 buah rak setinggi 5 tingkat.
Setiap tingkat mampu menampung 100 buah log. Sehingga satu rak mampu
menampung sebanyak 500 media log.
5. Hasil panen diasumsikan 0,4476 kg/baglog. Hal ini didasarkan kepada
produktivitas rata-rata yang dihasilkan per baglog jamur. Data ini diperoleh
secara empirik berdasar keadaan saat turun lapang, yaitu saat panen jamur
selama tahun 2012.
6. Tingkat kegagalan produksi jamur tiram diasumsikan sebesar 6,12 persen.
Hal ini didasarkan pada kegagalan produksi yang di alami oleh CV. Megah
Makmur Sentosa dalam melakukan budidaya jamur tiram putih yaitu selama
proses inkubasi dan pemeliharaan jamur pada bulan Desember 2012. Data ini
diperoleh saat penelitian berlangsung.
7. CV. Megah Makmur Sentosa menargetkan produksi jamur tiram putih
sebanyak 12.606 kg/periode. Hal ini didasarkan pada produksi rata-rata yang
mampu dicapai perusahaan dari pembangunan kumbung berkapasitas 30.000
baglog dengan produktivitas per baglog adalah 0,4476 kg dan tingkat
kegagalan produksi sebesar 6,12 persen. Produksi jamur tiram diasumsikan
tetap hingga akhir umur bisnis.
8. Harga jual jamur tiram putih yang ditetapkan adalah harga rata-rata
berdasarkan persentase penjualan ke masing-masing konsumen CV. Megah
Makmur Sentosa, yaitu sebesar Rp 9.605,50. Sementara Harga baglog jamur
tiram yang berlaku di lokasi penelitian sebesar Rp 2.400,00 per baglog dan
harga bibit jamur di lokasi penelitian sebesar Rp 4.500,00 per botol bibit.
Harga yang ditetapkan adalah konstan sepanjang umur bisnis.
9. Satu periode diasumsikan selama 6 bulan. Hal ini didasarkan pada pola
budidaya jamur yang biasa dilakukan CV. Megah Makmur Sentosa. Sehingga
dalam waktu lima tahun dapat dilakukan 9 kali periode budidaya jamur.
10. Usaha yang dilakukan dengan menggunakan modal sendiri yaitu modal
pemilik CV. Megah Makmur Sentosa, Bapak Paryanto.
11. Tingkat diskonto yang ditetapkan sebesar 5 persen. Nilai ini diperoleh
berdasarkan tingkat suku bunga deposito Bank Mandiri pada tahun 2013,
dimana modal yang digunakan adalah modal sendiri.
12. Pajak penghasilan yang digunakan adalah sebesar 25 persen. Hal ini
berdasarkan ketetapan Pajak Penghasilan Badan yang diatur dalam UndangUndang Republik Indonesia No. 36 tahun 2008, pasal 17 ayat 2a. Pajak sudah
berlaku sejak tahun pajak 2010.
34
13. Analisis sensitivitas dalam penelitian ini menggunakan metode switching
value, dengan adanya perubahan pada penurunan jumlah produksi jamur
tiram, baglog, dan bibit jamur. Analisis juga akan dilakukan terhadap
penurunan harga jual output jamur tiram dan kenaikan biaya variabel berupa
harga bahan bakar gas LPG.
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
Sejarah Singkat Perusahaan
CV. Megah Makmur Sentosa (CV. MMS) adalah sebuah perusahaan
agribisnis yang mengusahakan budidaya jamur tiram putih. Perusahaan ini terletak
di Perumahan PU, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar gebang, Kabupaten
Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Pada mulanya usaha budidaya jamur mulai di rintis
sekitar tahun 2008, dan mulai beroperasi pada tahun 2009. Lalu pada tahun 2010
kegiatan budidaya jamur berkembang dan pemilik menjadikan perusahaan dalam
satu wadah perusahaan yang memiliki badan hukum yaitu CV. Megah Makmur
Sentosa. Pada awalnya, ide pendirian usaha ini berawal dari keinginan Bapak
Paryanto, ST sebagai pendiri untuk memiliki usaha sampingan, yang mana hasil
dari usaha dapat digunakan untuk memberdayakan masyarakat sekitar.
Selanjutnya, pemilik tertarik untuk berusaha di bidang agribisnis, menurutnya,
berusaha dibidang agribisnis adalah usaha yang menjual dan tidak pernah ada
habisnya. Dimana produk pertanian adalah produk yang digunakan sebagai
panganan masyarakat dan salah satu produk pertanian yang mudah dibudidayakan
adalah jamur. Namun kegiatan budidaya yang dilakukan tidak semata-mata
bertujuan bisnis. Beliau berharap salah satu hal yang ingin dibangunnya adalah
peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat sekitar yang
notabene sebagian besar adalah para orang tua pensiunan Pekerjaan Umum (PU).
Bapak Paryanto berprofesi sebagai karyawan di PT. Bukaka Teknik
Utama, yaitu sebuah perusahaan kontruksi baja. Dilihat dari pekerjaannya di
bidang permesinan dan sebagai seorang lulusan teknik mesin, Bapak Paryanto
termasuk tidak paham betul mengenai dunia agribisnis, apalagi tentang jamur.
Namun, pengenalan yang begitu singkat di dunia agribisnis tidak mematahkan
semangat pemilik untuk dapat berusaha di bidang agribisnis jamur. Bahkan
hingga saat ini pemilik yakin untuk dapat memperbesar usaha agribisnis di bidang
budidaya jamur.
Pada awalnya, Usaha budidaya jamur dilakukan pada kumbung
berkapasitas 2000 baglog. Pada saat itu pemilik menghadapi banyak kesulitan
dalam membudidayakan jamur dimana proses budidaya baru dilakukan oleh
tenaga kerjanya yang berjumlah 4 orang. Namun, Pengetahuan teknik budidaya
yang sangat minim tidak membuat putus asa pengusaha jamur ini untuk tetap
mencoba membudidayakan usaha ini. Beliau gigih mencari teknik budidaya yang
tepat, hal itu dilakukannya dengan mempelajari teknik budidaya jamur dari
berbagai macam referensi seperti buku-buku serta mengunjungi beberapa tempat
penelitian tentang jamur di berbagai lokasi di sekitar Bandung dan Bogor.
35
Selanjutnya pada tahun 2010, usaha budidaya jamur berkembang dan
pemilik mulai melegalkan usahanya dengan membuat badan hukum perusahaan.
Berdasarkan Surat Keterangan Terdaftar No. PEM-0023786ER/WPJ.22/
KP.1203/2010, CV. Megah Makmur Sentosa sudah mendapatkan izin resmi dari
pemerintah daerah setempat.
Perusahaan memiliki visi yang diusung dalam mendirikan perusahaan
agribisnis jamur ini. Visi perusahaan jamur ini adalah “ Menjadi perusahaan
produksi jamur tingkat nasional”. Visi yang ditetapkan bukan tanpa dasar, dimana
pemilik berharap bahwasannya produk jamur yang dihasilkan dapat menghasilkan
keuntungan perusahaan lebih baik. Selanjutnya keuntungan itu yang nantinya
menjadikan karyawan lebih sejahtera. Pak Paryanto sebagai pendiri juga selalu
melakukan inovasi dan perbaikan-perbaikan dalam produksi yang dilakukan.
Dulu, Perusahaan sempat memiliki beberapa plasma yang menginduk ke
perusahaan jamur ini hingga kini memiliki beberapa mitra yang loyal dalam
supply bahan baku budidaya jamur yang di produksi perusahaan seperti bibit dan
baglog jamur tiram. Perusahaan juga memiliki kontiunitas bahan baku yang
mudah didapatkan dalam budidaya jamur tiram putih, salah satu contohnya bahan
baku utama berupa gergajian kayu yang mudah didapatkan dari beberapa
perusahaan besar gergajian kayu yang berlokasi di sekitar tempat usaha.
Kemudahan produksi yang dilakukan dari usaha budidaya jamur membuat Pak
Paryanto berkeyakinan bahwa usaha budidaya jamur memiliki prospek yang
menjanjikan.
Adapun misi yang dilakukan Pak Paryanto ini sebagai pemilik CV.
Megah Makmur Sentosa adalah : (1) Mengenalkan jamur ke kota-kota di seluruh
Indonesia, (2) Menghasilkan jamur tiram putih dengan kualitas terbaik, dan (3)
Menyerap tenaga kerja lebih banyak di lingkungan sekitar.
Misi yang dirumuskan diwudjudkan dengan mengenalkan jamur kepada
seluruh masyarakat Indonesia, yaitu dengan memiliki mitra berupa perusahaanperusahaan jamur di kota-kota di Indonesia. Seperti beberapa mitra yang pernah
bekerja sama dalam supply baglog maupun bibit jamur tiram beberapa
diantaranya berlokasi di wilayah sekitar Jakarta, Tangerang, Bekasi, serta
Indramayu. Perusahaan juga selalu memperbaiki kualitas jamur yang dihasilkan
yang dapat dilakukan melalui kegiatan budidaya dengan teknik budidaya yang
tepat. Hal ini lebih dominan dipengaruhi oleh teknik pembibitan serta
pengomposan yang sesuai standar. Selain itu, teknis budidaya jamur juga erat
pengaruhnya dari kondisi suhu dan iklim. Kegiatan teknis yang dilakukan tidak
terlepas dari pekerja teknis yang menggarapnya, yaitu tenaga kerja. Tenaga kerja
jamur diharapkan dapat memberikan pengaruh positif bagi perusahaan dan
lingkungan di sekitar.
Produksi
CV. Megah Makmur Sentosa resmi berdiri pada bulan Oktober 2010.
Kegiatan budidaya jamur pada mulanya dilakukan di samping rumah Bapak
Marno, kepala bagian produksi jamur, yaitu di Perumahan PU Blok C Nomor 59
RT 01/06, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantar Gebang, Bekasi. Bangunan
produksi tersebut terdiri dari ruang pengadukan dan loging, sterilisasi, inokulasi,
36
serta ruang pembuatan bibit jamur. Sedangkan bangunan kumbung berada sekitar
30 meter dari tempat produksi.
Pada awal berdirinya, CV. Megah Makmur Sentosa tidak memproduksi
bibit jamur sendiri, namun membelinya dari perusahaan jamur di Bandung. Bibit
jamur yang dibeli dari Bandung kemungkinan besar mempunyai proporsi bahan
dasar yang berbeda dengan kecocokan tempat tumbuhnya di Bekasi. Kota
Bandung adalah kota dengan suhu lebih rendah dari Kota Bekasi, sehingga pada
produk jamur yang dihasilkan menjadi keriting. Untuk itu, berjalannya waktu
digunakan perusahaan untuk belajar memproduksi bibit sendiri. Pada dasarnya
bahan baku yang digunakan untuk memproduksi bibit jamur tidak terlalu berbeda
untuk menghasilkan output jamur yaitu bibit jamur merupakan bibit tipe F2,
sedangkan baglog jamur yang menghasilkan output jamur tiram adalah media
tanam yang disebut bibit tipe F3.
Pada awal usahanya, di akhir tahun 2008, perusahaan berhasil menjual 2
sampai 5 kg jamur tiram per harinya. Proses budidaya yang dilakukan hanya
seputar perbesaran jamur (growing) sedangkan baglog yang digunakan sebagai
media tanamnya masih dibeli secara eceran. Pertumbuhan jamur pun dilakukan
pada satu kumbung yang berkapasitas 5000 baglog dengan volume baglog
pertumbuhan tidak mencapai 100 persen dari kapasitas kumbung. Kemudian, pada
tahun 2009 perusahaan memperluas kumbung berukuran cukup besar yaitu untuk
menampung 5.000 baglog jamur tambahan dan mampu menghasilkan produksi
yang semakin meningkat yaitu sekitar 20 kilogram per harinya.
Perusahaan mulai memproduksi baglog sendiri untuk produksi yang
dilakukan dalam kumbung berkapasitas 10.000 baglog. Dari kumbung yang
berkapasitas 10.000 baglog tersebut, produksi yang dilakukan masih belum
optimal, dimana perusahaan baru mampu memproduksi 5000 baglog dan
kekurangannya dibeli dari perusahaan jamur lain. Begitu pula dengan bibit yang
digunakan, perusahaan masih membelinya dari penjual bibit jamur. Untuk proses
produksi yang dilakukan, perusahaan memakan waktu cukup lama yaitu 9 bulan
dari mulai pembuatan baglog tersebut hingga mencapai panen. Pada tahun 2010,
usaha mulai berkembang, perusahaan mulai memproduksi bibit dan baglog secara
mandiri. Produksi bibit, baglog dan jamur berlangsung hingga sekarang, bahkan
kini usaha sudah merambah pada penjualan kedua produk tersebut, bibit serta
jamur. Pemilik yakin, bahwa usaha ini akan terus berkembang, hal itu dilihat dari
permintaan jamur yang semakin besar. Untuk itu, pemilik sekaligus pimpinan CV.
Megah Makmur Sentosa, Pak Paryanto, berencana akan meningkatkan produksi
jamurnya melalui pembangunan kumbung baru dengan kapasitas 30.000 baglog
yang berlokasi di Desa Nyosog, Bekasi. Hal ini tentunya bertujuan supaya
perusahaan dapat terus meningkatkan pendapatannya.
Pemasaran
Promosi
Kegiatan promosi yang dilakukan oleh CV. Megah Makmur Sentosa
pada awal pendiriannya adalah dengan memberikan ionformasi langsung dari
mulut ke mulut dengan mendatangi pasar-pasar, warung-warung dan kampungkampung di sekitar lokasi produksi, yaitu di sekitar wilayah Bantar Gebang
37
Bekasi. Dengan penjualan yang dilakukan masih tergolong kecil, perusahaan
mampu menjual produk jamurnya di lokasi-lokasi tersebut namun tidak habis
terjual. Sampai kemudian, promosi juga dilakukan menuju pedagang-pedagang
pasar, hingga sampai informasi ke pengepul. Penjualan tidak dapat dilakukan
secara rutin kepada pengepul pasar, hal itu dikarenakan kuantitas yang diminta
oleh pengepul adalah dalam jumlah besar, sedangkan perusahaan belum mampu
menghasilkan produksi yang stabil. Sehingga pemilik memilih menyalurkan
jamurnya hanya ke pedagang pasar. Pada tahun 2011, Prospek perkembangan
bisnis dalam bidang usaha jamur yang semakin baik membuat usaha jamur CV.
Megah Makmur Sentosa diliput oleh media Jabar Kota Bekasi sebagai usaha yang
memberikan pengaruh positif terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar. Dimana
perusahaan mampu memberdayakan para orang tua pensiunan PU yang notabene
sudah tidak mampu bekerja secara maksimal. CV. Megah Makmur Sentosa
sebagai salah satu UKM di Kota Bekasi yang mampu meraih kesuksesan dengan
melahirkan inspirasi bagi pelaku usaha lainnya.
Harga
Menurut Kepala Bagian Produksi Perusahaan, Bapak Marno, produk
jamur yang dihasilkan oleh perusahaan jauh lebih unggul kualitasnya
dibandingkan produk jamur yang dijual di tempat atau lokasi budidaya lain.
Sehingga harga yang ditetapkan termasuk cukup tinggi dipasaran. Terdapat variasi
harga yang ditawarkan oleh perusahaan untuk masing-masing konsumen yang
diantaranya para pedagang, dan pengepul jamur tiram putih dan masyarakat
umum yaitu Rp 9.000,00 – Rp 10.000,00 per kilogram untuk pedagang dan
masyarakat umum. Sedangkan harga yang ditawarkan kepada pengepul adalah
sebesar Rp 8.500,00. Pemberian harga itu didasarkan pada kondisi produk jamur
dan volume jamur tiram segar yang di pasarkan. Penjualan jamur tiram secara
langsung ke pasar pada hari-hari tertentu mematok harga Rp 6.000,00. Pemberian
harga itu sesuai dengan kondisi dimana pada hari tertentu terutama hari-hari besar
seperti Idul Fitri, produk jamur tidak terlalu diminati bahkan digantikan dengan
produk lain seperti daging.
Produk
Produk jamur yang dihasilkan oleh perusahaan adalah jamur super.
Deskripsi mengenai jamur super ini adalah jamur yang memiliki kesegaran yang
lama dan tidak mudah layu, serta tebal daging jamurnya.
Saluran pemasaran
Saluran pemasaran usaha jamur yang dilakukan perusahaan dapat
dilakukan dalam beberapa produk yang dijualnya diantaranya bibit jamur tiram
tahap F2, baglog jamur, dan jamur tiram putih segar.
Penjualan yang dilakukan selain mendatangkan keuntungan juga
mendapatkan pelanggan tetap, beberapa pelanggan tetap itu diantaranya beberapa
pedagang pasar yang siap menjual produk jamurnya ke konsumen langsung,
pengepul dan masyarakat umum selaku konsumen akhir. Penjualan yang
dilakukan selalu habis setiap harinya. Dimana jumlah penjualan tidak tetap atau
bergantung pada produksi yang dihasilkan.
38
Dalam mendistribusikan produk jamurnya, perusahaan menggunakan
empat saluran pemasaran yang ditunjukkan pada Gambar 4.
Pedagang
CV. MMS
Pengepul
Konsumen akhir
Gambar 4 Saluran pemasaran jamur CV.Megah Makmur Sentosa
Manajemen
Kegiatan manajemen yang dilakukan oleh perusahaan pada mulanya
memiliki struktur orgasnisasi yang sederhana. Pemilik perusahaan, sekaligus
pimpinan yaitu Pak Paryanto memiliki kewenangan dalam mengambil keputusan
berkaitan dengan usahanya. Dalam kesehariannya, pemilik berperan dalam
mengelola usaha nya untuk berjalan mencapai tujuan yang ingin dicapainya serta
ikut mengevaluasi kinerja usaha budidaya jamur ini. Kepala bagian memiliki
kewenangan untuk kegiatan pengembangan usaha yang dilakukan. Kepala bagian
juga bertugas membantu staff masing-masing divisi jika terjadi kesulitan, kepala
bagian akan mengevaluasi dan mengawasi kegiatan usahanya untuk nanti
dilaporkan kepada pimpinan.
Dalam menjalankan tugas yang ada, kepala bagian membawahi beberapa
pegawai yang bertugas pada kegiatan atau bagian yang digelutinya. Beberapa
tenaga kerja tersebut antara lain bagian logistik, bibit, produksi, kumbung,
pemasaran dan keuangan. Bagian logistik bertugas dalam mendapatkan dan
membeli bahan baku yang dibutuhkan dalam produksi jamur. Bagian bibit
bertugas untuk menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas sehingga akan
menghasilkan jamur yang berkualitas juga. Bagian produksi berperan dalam
beberapa proses pengadukan dan loging yang dilakukan, diantaranya pengadukan,
inokulasi dan sterilisasi, bagian produksi akan dipantau dan dibantu oleh kepala
bagian yang mana dalam kegiatannya mengawasi kegiatan produksi dari mulai
penanaman hingga pemanenan. Selanjutnya, Bagian kumbung berperan dalam
memelihara dan mengupayakan pertumbuhan produk jamur yang maksimal, hal
itu dilkukan dengan beberapa proses yang harus dilakukan misalnya penyiraman
serta penanggulanagan hama. Sedangkan Bagian pemasaran dan keuangan akan
berperan dalam mendistribusikan pesanan jamur ke konsumen dan membukukan
penjualan perharinya.
CV.Megah Makmur Sentosa memiliki 10 orang tenaga kerja yaitu 6
tenaga kerja tetap serta 4 tenaga kerja borongan. 4 tenaga kerja borongan akan
difungsikan sebagai tenaga kerja produksi yang akan diberikan upah sesuai
dengan produksi yang dihasilkan. Satu orang pekerja diamanahkan sebagai kepala
bagian dan secara ekslusif membantu bagian produksi, hal ini dikarenakan
39
kemampuan beliau di bidang produksi. Tenaga kerja bibit diupayakan dalam
menghasilkan bibit berkualitas yang dilakukan oleh 1 orang pekerja. Selajutnya
satu orang pekerja digunakan untuk membantu bagian logistik dan 4 tenaga kerja
borongan adalah di bagian produksi. Tenaga kerja tersebut dalam proses produksi
diupayakan tenaganya untuk dapat menghasilkan baglog dari beberapa proses
yang harus dilakukan. Tenaga kerja kumbung terdiri dari dua orang yang bertugas
mengurus kumbung, keluar masuknya baglog dan memantau perkembangan
tumbuhnya produk jamur untuk pemeliharaan yang maksimal. Tenaga kerja
pemasaran dan keuangan dilakukan oleh satu orang. Beberapa pembagian kerja
yang ditetapkan mengharuskan seluruh pekerja untuk aktif dalam setiap kegiatan
mulai dari pengadukan, loging, penanaman hingga panen.
Sebagian besar pekerja yang bekerja di CV.Megah Makmur Sentosa
berasal dari masyarakat sekitar lokasi, yaitu masyarakat perumahan PU, Bantar
Gebang. Hal tersebut bertujuan untuk menjaga hubungan baik dengan warga
sekitar serta yang notabene adalah para orangtua pensiunan Pekerja Umum (PU).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Aspek Non Finansial
Analisis kelayakan perencanaan pembangunan kumbung baru oleh CV.
Megah Makmur Sentosa dikaji melalui aspek non finansial, yaitu terdiri atas
aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek hukum, serta aspek sosial,
ekonomi, dan lingkungan. Penilaian terhadap berbagai komponen tersebut akan
memengaruhi layak atau tidaknya usaha pembangunan kumbung baru.
Aspek Pasar
Salah satu aspek rencana bisnis yang perlu dikaji kelayakannya adalah
aspek pasar. Aspek pasar menempati urutan pertama dalam studi kelayakan. Jika
pasar yang akan dituju tidak jelas, prospek ke depan pun tidak jelas, maka resiko
kegagalan bisnis menjadi besar. Dalam usaha jamur tiram putih, aspek pasar yang
akan di analisis mencakup peluang pasar, permintaan, penawaran, dan bauran
pemasaran produk.
Potensi Pasar
Peluang pasar terhadap jamur tiram putih didukung oleh berkembangnya
pola hidup sehat masyarakat dimana masyarakat menginginkan keinginan hidup
seimbang dengan konsumsi makanan sehat dan bergizi tinggi. Jamur tiram putih
sebagai salah satu produk hortikultura bergizi baik dianggap sebagai makanan
yang dapat dikonsumsi sebagai layaknya lauk. Aneka produk olahan jamur dapat
dinikmati dengan beragam pilihan rasa yang menarik untuk dikonsumsi seharihari.
40
Peluang pasar bagi produk jamur juga didukung dengan banyaknya
makanan khas yang menawarkan produk olahan jamur. Tabel 6 merupakan data
penduduk yang bekerja di sektor perdagangan dan restoran di Bekasi pada tahun
2006-2007. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kota Bekasi yang
dihimpun dari penerimaan negara dalam bentuk Produk Dometik Bruto (PDB)
menurut lapangan kerja di sektor perdagangan, hotel, dan restaurant memiliki
peranan yang cukup besar terhadap PDB Indonesia, hal itu berarti sektor
perdagangan, hotel, dan restoran merupakan sektor yang berkembang dan
menjanjikan untuk dikembangkan dimana terdapat peluang pasar dari peningkatan
jumlah produsen yang mengolah panganan berupa olahan jamur. Hal ini secara
kuantitatif terdapat pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan jumlah
penduduk yang bekerja di sektor perdagangan, hotel dan restaurant di Kota
Bekasi.
Banyaknya produk olahan jamur berupa makanan berat maupun makanan
ringan seperti halnya kerupuk jamur, jamur crispy, nugget jamur, baso jamur, dan
sebagainya. Kota Bekasi, merupakan kota yang berada dalam lingkup
megapolitan di Jabodetabek dan menjadi kota besar ke empat di Indonesia. Saat
ini Kota Bekasi berkembang menjadi kawasan sentra industri dan kawasan tempat
tinggal kaum urban. Untuk itu, merupakan daerah potensial untuk memenuhi
permintaan penduduk berupa pangan. Pemenuhan produk berupa pangan
menawarkan aneka potensi usaha di bidang kuliner, seperti restaurant, depot, dan
katering.
Tabel 6 Data jumlah penduduk yang bekerja di sektor perdagangan, hotel
dan restaurant di Kota Bekasi Tahun 2006-2007a
Tahun
Jumlah penduduk di sektor perdagangan,
Persentase
hotel dan restoran
2006
172.121
23,53
2007
186.323
22,16
a
Sumber : BPS Kota Bekasi, 2007
Data tersebut menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang bekerja di
sektor perdagangan, hotel, dan restoran mengalami peningkatan dari tahun 2006
hingga ke tahun 2007. Angka jumlah penduduk pada tahun 2007 tersebut
meningkat hampir 15 ribu tenaga kerja dari tahun sebelumnya. Peningkatan
jumlah penduduk pada sektor kuliner di Kota Bekasi dari tahun ke tahun memiliki
prospek yang cerah dimana terdapat suatu peluang yang sangat baik yang dapat di
manfaatkan dalam proses pemasaran produk jamur tiram putih.
Permintaan masyarakat di wilayah Bekasi terhadap produk jamur tiram
putih pada CV. Megah Makmur Sentosa sampai akhir tahun 2012 masih relatif
tinggi. Hal ini dapat dilihat dari adanya peningkatan permintaan dari pengepul,
pedagang pasar, maupun rumah makan serta katering. produk jamur yang
didistribusikan kepada konsumen melalui pedagang pasar selalu habis terjual,
begitupun permintaan dari penduduk sekitar yang menunjukkan minat yang tinggi
terhadap produk jamur. Dengan kapasitas produksi saat ini adalah 5.500 kilogram
per periode atau berkisar 30 kilogram per hari, sedangkan permintaan distributor
mencapai 331 kilogram per hari, menunjukkan pemenuhan permintaan jamur
hanya mampu dipenuhi sebesar 9,06 persen. Terdapat gap antara permintaan dan
41
penawaran mengindikasikan potensi pasar yang masih besar dan sangat prospek
untuk dicapai. Pada permintaan bibit serta baglog, diindikasikan jika masih
terdapat gap yang besar dari permintaan bibit dan baglog jamur tiram yang belum
mampu dipenuhi dari beberapa perusahaan budidaya jamur di daerah dan kotakota lain seperti daerah Nyosog, Tangerang dan Indramayu. Produk jamur tiram
terus meningkat permintaannya dan memiliki prospek pasar yang besar dan
menjanjikan. Adapun daftar permintaan jamur tiram putih pada CV. Megah
Makmur Sentosa oleh pengepul dan pedagang dapat dilihat pada Tabel 7.
Rencana pembangunan kumbung baru didasarkan pada minimnya
produksi yang dihasilkan per periode produksi. Ketidakmampuan perusahaan
memenuhi permintaan di beberapa lokasi yang potensial peningkatan
permintaannya menyebabkan perusahaan lebih menyalurkan produknya ke
beberapa pedagang di sekitar lokasi usaha. Rencana usaha budidaya jamur tiram
dengan pembangunan kumbung baru berkapasitas 30.000 log di wilayah Desa
Nyosog, Bekasi berlatar belakang keinginan pemilik untuk meningkatkan
penjualan secara signifikan serta memenuhi permintaan yang masih belum dapat
dipenuhi baik dari pedagang dan pengepul jamur, maupun mitra yang membeli
produk bahan baku berupa bibit dan baglog jamur untuk kegiatan budidaya. Hal
ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan perusahaan untuk kedepannya dan
semakin memberdayakan masyarakat di lingkungan sekitar.
Tabel 7 Daftar permintaan pengepul dan pedagang terhadap produk
jamur tiram putih CV. Megah Makmur Sentosa per haria
No.
Pengepul/Pedagang Lokasi
Jumlah Permintaanb
1.
Daryono
Bantar Gebang
35
2.
Teguh
Bantar Gebang
25
3.
Makmur
Setu
20
4.
Miftah
PU
50
5.
Sunyo
Pondok Gede
50
6.
Fitrah
Cileungsi
100
7.
Encim
Bantar gebang
5
8.
Nanda
Bantar Gebang
3
9.
Rajiman
Bantar Gebang
5
10.
Pedurenan
Bekasi
30
11.
Kriuk
Jamrud
8
a
Sumber : CV. Megah Makmur Sentosa 2013
b
Satuan dalam Kilogram
Rencana pembangunan kumbung baru di wilayah Desa Nyosog turut
mendorong terbukanya peluang pasar lebih luas. Rencana pembangunan kumbung
baru sebagai tempat budidaya juga direspon positif oleh warga Desa Nyosog.
Rencana budidaya yang akan dilakukan perusahaan mendorong pemasaran yang
lebih luas dalam produk yang diusahakan yakni jamur tiram segar, bibit, dan
baglog. Untuk permintaan produk jamur tiram, terdapat kejelasan pasar yaitu
pedagang sekitar yang sempat bernegosiasi dengan pemilik untuk melakukan
kerja sama memasarkan jamurnya, yaitu pedagang lokal dan pengepul yang
berada sekitar lokasi desa dan beberapa pedagang di kawasan Bekasi. Selanjutnya,
untuk produk bibit dan baglog yang diusahakan, permintaan yang besar didapat
42
dari beberapa mitra yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Apabila
perusahaan membangun produksi jamur dan produk bibit serta baglog di wilayah
ini, maka tidak akan menutup kemungkinan apabila terdapat kerjasama yang
semakin baik dengan beberapa mitra perusahaan yang masih dalam satu kawasan
Bekasi, khususnya mitra di Desa Nyosog.
Informasi di atas sangat penting untuk melakukan perkiraan kapasitas
produksi jamur yang akan diusahakan per periode produksi. Perhitungan kapasitas
produksi yang akan diusahakan diupayakan mampu memenuhi permintaan jamur
dari beberapa konsumen yang sebagian besar adalah pedagang. Berdasarkan
potensi pasar jamur tiram putih baik dari pasar lokal maupun luar daerah. Pak
Paryanto sangat yakin bahwa produk yang akan di produksi akan terserap oleh
pasar, baik untuk memenuhi pasar lokal maupun luar daerah.
Pemasaran
Pemasaran sebagai salah satu hal terpenting dari kegiatan bisnis yang
harus di perhatikan dalam analisis kelayakannya. Bisnis yang diajalankan harus
memiliki pasar yang mampu menyerap produk yang dihasilkan. Analisis
pemasaran mencakup bauran pemsaran dan strategi pemasaran.
Bauran Pemasaran
Bauran pemsaran sebagai variabel inti dalam kegiatan pemasaran
perusahaan. Pengkajian bauran pemasaran meliputi produk, harga, promosi, dan
distribusi. Berikut ini adalah penjelasan mengenai bauran pemasaran perusahaan.
1. Produk
Produk yang akan diusahakan produksinya adalah bibit jamur tipe F2,
baglog jamur dan jamur tiram. Bibit jamur tahap F2 dan baglog jamur merupakan
bahan dan media yang digunakan untuk menghasilkan output jamur tiram. Produk
bibit jamur tahap F2 yang dihasilkan merupakan kualitas terbaik, hal itu
dipastikan perusahaan karena dapat menghasilkan jamur tiram segar yang tidak
layu dengan ukuran jamur yang besar serta tebal. Berbagai macam pilihan bahan
dan media yang dihasilkan membuat konsumen terutama para investor maupun
petani jamur dapat dengan mudah membeli bahan baku untuk produksinya
melalui perusahaan. Selain itu, produk jamur yang dihasilkan terjamin kualitasnya
sebagai jamur super.
2. Harga
Harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat
memiliki atau menggunakan produk yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan
penjual melalui tawar menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga
yang sama untuk semua pembeli. Harga merupakan salah satu faktor yang
menjadi pertimbangan konsumen dalam melakukan keputusan pembelian.
Penetapan harga jual berfungsi untuk mengetahui tingkat pendapatan yang
diperoleh, selain itu harga juga akan mempengaruhi keinginan konsumen dalam
membeli produk yang ditawarkan. Harga jual bibit F2 yang akan ditawarkan
perusahaan adalah Rp 4.500,00 per botol bibit hal itu berdasarkan kualitas bibit
yang super, sedangkan harga jual baglog ditetapkan sebesar Rp 2.400,00 per
baglog. Harga penjualan jamur tiram segar berkisar Rp 6.000,00 hingga Rp
10.000,00 per kilogram jamur. Harga jual yang ditetapkan dalam perhitungan
43
penerimaan dari produk jamur tiram putih adalah harga rata-rata berdasarkan
persentase penjualan ke masing-masing konsumen yaitu sebesar Rp 9.605,50.
3. Promosi
Promosi merupakan komunikasi pemasaran suatu produk yang dihasilkan
perusahaan. Tujuan promosi diharapkan dapat meningkatkan omzet penjualan
produk. Pada rencana pembangunan kumbung baru, diperlukan sarana promosi
yang efektif dalam mengenalkan usaha jamur kepada konsumen. Strategi promosi
yang akan diterapkan oleh manajemen perusahaan adalah melalui social media
antara lain facebook dan twitter. Manajemen dapat memberikan informasi
mengenai kualitas jamur super yang dihasilkan dengan beragam kegiatan usaha
budidaya jamur yang dilakukan perusahaan. Sehingga konsumen dapat secara
langsung mengetahui proses pembudidayaan jamur di lokasi usaha. Hal ini
tentunya akan merangsang minat masyarakat untuk berkecimpung dalam
budidaya jamur bahkan berinvestasi dalam usaha budidaya jamur dengan
mengetahui return yang dihasilkan.
Kegiatan promosi yang akan dilakukan dalam memperkenalkan
produknya dari budidaya jamur di kumbung yang akan dibangun juga dilakukan
melalui pemanfaatan media internet melalui blog. Pembuatan blog diharapkan
berperan efektif untuk memberitakan usaha yang dilakukan ini dalam produk
jamur tiram, dimana hal itu diharapkan dapat merangsang sejumlah orang baik
investor maupun orang umum untuk datang ke lokasi usaha untuk mengetahui
secara langsung usaha jamur yang dilakukan CV. Megah Makmur Sentosa.
Selain itu, promosi juga akan dilakukan secara langsung dari mulut ke
mulut kepada beberapa pedagang pasar di Bekasi dengan mempromosikan produk
yang dihasilkan dengan kualitas jamur super, serta mengefektifkan penyanggupan
terhadap permintaan yang belum dapat dipenuhi. Kegiatan promosi tersebut
diharapkan dapat meningkatkan penjualan dan kontiyuitas permintaan.
Perusahaan nantinya akan memperluas kegiatan promosi melalui promosi secara
langsung ke restoran atau rumah makan yang menjual makanan berbahan baku
jamur tiram.
4. Distribusi
Distribusi adalah suatu proses penyaluran produk dari produsen ke
tangan konsumen. Strategi distribusi sangat penting di terapkan untuk
meningkatkan pelayanan kepada konsumen dalam hal ketepatan dan kecepatan
penyaluran produk.
Saluran pemasaran untuk produk yang dihasilkan meliputi produk bibit
jamur tahap F2, baglog, serta jamur tiram. Distribusi dapat dilakukan baik secara
langsung maupun tidak langsung. Jalur pembelian secara langsung dapat
dilakukan di tempat produksi. Konsumen dapat secara langsung mendatangi
lokasi produksi jamur untuk melakukan pembelian beragam produk yang
dihasilkan yaitu di wilayah Desa Nyosog, Bekasi.
Sistem penjualan yang diterapkan pada produk bibit dan baglog jamur
tiram adalah menerima retur produk baik bibit dan baglog jamur, dimana
pembelian bibit dan baglog dengan tingkat risiko kegagalan kerusakan akan
ditanggung oleh produsen. Penjualan dilakukan ketika bibit dan baglog jamur siap
dipasarkan yaitu bibit dan baglog telah mencapai masa inkubasi, proses ini dapat
terlihat ketika baglog telah dipenuhi oleh miselia. Penjualan bibit dan baglog
dapat dilakukan setiap waktu berdasarkan kapasitas produksi yang dihasilkan
44
perusahaan. Sedangkan penjualan jamur tiram putih segar dapat dilakukan setiap
hari, hal itu dikarenakan panen dilakukan setiap hari. Alur distribusi secara
langsung produk jamur dapat dilihat pada Gambar 5.
Produsen (CV. MMS)
Konsumen Akhir
Gambar 5 Alur distribusi langsung produk jamur tiram
Pembelian produk melalui alur distribusi langsung pada produk bibit dan
baglog akan dilakukan melalui beberapa mitra yang akan dijaring untuk
bekerjasama membudidayakan produk jamur. Salah satu mitra tetap perusahaan
diantaranya adalah mitra di Daerah Nyosog, yang mana memiliki kedekatan
dengan kumbung yang akan di bangun oleh perusahaan. Alur produksi secara
langsung bibit jamur tahap F2 dan baglog dapat dilihat pada Gambar 6.
Produsen (CV. MMS)
Mitra
Gambar 6 Alur distribusi langsung produk bibit dan baglog
Pada pembelian tidak langsung pada produk jamur tiram akan dilakukan
melalui mitra penjualan yaitu pengepul dan pedagang pasar. Pedagang dan
pengepul melakukan pembelian untuk disalurkan kepada konsumen melalui pasar
sekitar. Alur distribusi tidak langsung dapat dilihat pada Gambar 7.
Produsen (CV.
MMS)
Mitra Penjualan (Pedagang
pasar dan Pengepul)
Konsumen
Gambar 7 Alur distribusi tidak langsung CV. Megah Makmur Sentosa
Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran terdiri dari penentuan segmentasi pasar, target pasar,
dan posisi pasar. Berikut ini adalah penjelasan mengenai strategi pemasaran CV.
Megah Makmur Sentosa.
a. Segmentasi pasar (segmentation)
Segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar menjadi kelompokkelompok tertentu dengan strategi pemasaran yang berbeda-beda. Pembangunan
kumbung baru memiliki segmen pasar masing-masing untuk beberpa produk yang
diusahakannya. Untuk produk bibit dan baglog, segmen yang akan dimasuki
adalah perusahaan jamur yang belum mampu mengusahakan bibit dan baglognya
secara mandiri di Kota-kota di Indonesia. Sedangkan untuk produk jamur tiram,
segmen yang akan dimasuki adalah konsumen lokal baik berupa warung-warung,
rumah-rumah, pedagang, pengepul pasar di wilayah Bekasi.
b. Target pasar (targetting)
Target pasar adalah suatu proses menentukan segmentasi pasar yang
akan dimasuki perusahaan. Target pasar dipilih setelah mengidentifikasi
segmentasi perusahaan. Menurut pemaparan pemilik usaha jamur tiram, target
45
pasar yang akan dibidik pada produk bibit dan baglog adalah beberapa perusahaan
jamur di Bekasi sedangkan pada produk jamur tiram yaitu pedagang dan pengepul
jamur di Bekasi.
c. Posisi pasar (positioning)
Posisi pasar adalah menetapkan posisi perusahaan agar mendapatkan
tempat yang berbeda dalam benak konsumen sasarannya. Posisi pasar yang
dilakukan perusahaan pada produk jamur tiramnya adalah sebagai produk jamur
dengan kualitas super. Kualitas jamur super yang akan ditawarkan merujuk pada
jamur hasil produksi yang berukuran besar dan tebal pada daging jamurnya.
Perkiraan Penjualan
Hal yang harus dilakukan perusahaan adalah peningkatan produksi jamur
per periode produksi. Terdapat suatu peluang pasar yang masih terbuka lebar.
Peluang pasar yang harus diraih sesuai dengan rencana perusahaan untuk
mencapai peningkatan kapasitas produksi yaitu pembangunan kumbung baru.
Untuk itu, harus dianalisis perkiraan penjualan berdasar data perkembangan
penawaran jamur tiram putih di Bekasi. Hal ini dikarenakan terget pemasaran
langsung mencakup wilayah Bekasi. Oleh karena itu, data perkembangan
penawaran industri yang digunakan berdasar data penawaran jamur di Kota
Bekasi. Adapun perkembangan penawaran jamur di Bekasi dapat dilihat pada
Tabel 8.
Tabel 8 Perkembangan produksi jamur di Bekasi tahun 2007-2012a
Tahun
Produksib
2007
25.157
2008
35.239
2009
161.620
2010
122.624
2011
91.365
2012
48.910
Jumlah
484.915
a
Sumber : Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat (2011)
b
Satuan dalam Kilogram
Proyeksi produksi pada tahun 2013 dapat diperoleh melalui analisis deret
waktu berupa metode kuadrat terkecil dengan persamaan :
Y = α + bX
a
a
dimana,
dan
Sumber : Umar (2007)
Berdasarkan perhitungan proyeksi produksi jamur dengan metode analisis
deret waktu, maka diperoleh persamaan Y= 80.819 + 5.161 X, sehingga proyeksi
produksi pada tahun 2013 (X=7) sebesar 116.946 kg. Perolehan proyeksi
penjualan tersebut dapat digunakan untuk menganalisis marketshare dari CV.
Megah Makmur Sentosa ketika dilakukan pembangunan kumbung baru (Tabel 9).
46
Tabel 9 Perhitungan proyeksi perkembangan jamur di Bekasi
Tahun
2007
2008
2009
2010
2011
2012
Jumlah
X
-3
-2
-1
1
2
3
Y
25.157
35.239
161.620
122.624
91.365
48.910
484.915
X2
9
4
1
1
4
9
28
XY
-75.471
-70.478
-161.620
122.624
182.730
146.730
144.515
Nilai market share dapat diperoleh melalui perhitungan sebagai berikut :
Market share :
x 100%
Market share yang dimiliki perusahaan saat dilakukan pembangunan
kumbung baru kapasitas 30.000 baglog adalah :
Market share
Perhitungan market share yang diterima pada usaha jamur tiram putih
adalah 21,56 persen. Hal ini didasarkan pada kemampuan produksi sebanyak
12.606 kilogram jamur tiram per periode produksi yaitu enam bulan atau
sebanyak 25.212 kilogram jamur tiram per tahun. Perhitungan market share
berdasarkan penjualan yang rutin akan dilakukan oleh perusahaan dalam
memenuhi permintaan pasar di Bekasi.
Hasil Analisis Aspek Pasar
Pemaparan diatas mengindikasikan bahwa usaha jamur tiram putih yang
akan dilakukan sangat layak untuk direalisasikan. Hal ini terlihat dari sisi
permintaan CV. Megah Makmur Sentosa yang memiliki potensi pasar yang cukup
besar. Rencana ini diharapkan mampu menunjang sistem pemasaran langsung
dalam produk bibit maupun baglog kepada para mitra yang merupakan
perusahaan budidaya jamur tiram. Peluang pasar yang sangat potensial masih
sangat terbuka akan menunjang terlaksananya rencana usaha jamur tiram putih
dengan pembangunan kumbung berkapasitas besar.
Aspek Teknis
Analisis kelayakan berdasarkan aspek teknis adalah untuk menilai
kesiapan perusahaan dalam menjalankan usahanya dengan menilai ketepatan
lokasi, luas produksi dan layout serta kesiapan mesin-mesin yang akan digunakan
(Kasmir dan Jakfar 2009). Analisis dalam aspek teknis usaha jamur tiram putih
meliputi lokasi usaha, skala usaha, proses produksi, layout dan pemilihan jenis
teknologi. Berikut ini hasil analisis pada tiap kriteria aspek teknis.
47
Lokasi Usaha
Pemilihan lokasi usaha sebagai tempat pelaksanaan kegiatan produksi
dan pemasaran sangat penting dimana diupayakan agar kegiatan usaha dapat
berjalan dengan efektif serta efisien. Lokasi tempat pembangunan kumbung baru
sebagai tempat usaha budidaya jamur tiram putih ditetapkan berdasarkan
pertimbangan yang mendalam. Lokasi kumbung yang akan dibangun berada pada
Desa Nyosog, Bekasi. Hal itu ditetapkan berdasarkan pertimbangan aspek teknis
yang lebih efektif dalam mendukung agroekosistem usaha jamur tiram.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan pemilik, maka perusahaan akan
membangun kumbung baru di Desa Nyosog, Bekasi. Bangunan di lokasi tersebut
selain digunakan sebagai produksi bibit dan baglog juga terdapat kumbung
sebagai tempat tumbuhnya jamur. Adapun layout lokasi dalam usaha jamur tiram
putih dapat dilihat pada Lampiran 4.
Beberapa pertimbangan dalam pemilihan lokasi produksi adalah:
1. Ketersediaan bahan baku
Proses produksi jamur tiram menggunakan bahan baku antara lain
serbuk gergaji, kapur, bekatul, dan gypsum. Adapun bahan baku untuk
pembuatan bibit jamur yang diusahakan terdiri atas serbuk gergaji, tepung
jagung, kapur serta dedak. Semua bahan baku yang digunakan mengandung
proporsinya masing-masing. Dedak yang digunakan dipilih atas dasar kualitas
terbaik.
Di lokasi yang akan dilakukan budidaya, ketersediaan bahan baku
produksi jamur tiram sangat berlimpah. Bahan baku berupa serbuk gergaji
dapat di temukan dengan mudah di sekitar desa yang mana terdapat banyak
perusahaan gergajian di sekitar. Perusahaan dapat melakukan kerja sama
dengan perusahaan kayu disekitar wilayah desa untuk dapat memasok serbuk
gergajian. Selain itu, bahan baku yang melimpah juga ditemui pada bahan
baku bekatul, kapur dan gypsum dimana perusahaan sudah memiliki pemasok
khusus dan dapat dibeli dengan harga murah di lokasi kumbung baru, di
Nyosog, Bekasi. Bekatul yang digunakan dalam campuran bahan untuk
produksi jamur akan dipilih dengan kualitas yang terbaik. Perusahaan dapat
memperoleh bekatul khusus di tempat penjualan bahan makanan ternak.
Sedangkan pembelian bahan baku kapur serta gypsum diperoleh di toko
material di sekitar lokasi desa.
2. Tenaga listrik dan air
Untuk kebutuhan listrik, Perusahaan dapat memperoleh secara mudah
dan tercukupi. Desa Nyosog sudah dilengkapi dengan askes listrik dari
pemerintah daerah yaitu berupa PLN. Maka, untuk mendapatkan tenaga
listrik, CV. MMS dapat memperolehnya dari Perusahaan Listrik Negara
(PLN). Instalasi listrik pun dapat dilakukan dengan mudah. Begitu pula
dengan kondisi air di daerah lokasi yang akan dibangun kumbung baru, air
yang tersedia merupakan aliran air tanah yang mana perlu di lakukan pantek
sumur pompa untuk menghasilkan air yang tercukupi.
3. Supply tenaga kerja
Perusahaan tidak akan mengalami kesulitan dalam memenuhi tenaga
kerja. Supply tenaga kerja dapat diperoleh dari masyarakat sekitar lokasi
usaha. Dimana kebanyakan tenaga kerja yang ada merupakan pengangguran
dan orang tua yang sudah tidak bekerja lagi. Tenaga kerja sangat dibutuhkan
48
4.
5.
6.
7.
4
pada setiap proses budidaya yang dilakukan, antara lain pengadukan dan
loging, pemeliharaan, pemasaran dan keuangan. Sementara itu, tenaga kerja
dalam proses pembibitan diharuskan mempunyai keahlian dan pengetahuan
yang mendalam mengenai pembibitan jamur.
Rencana pembuatan kumbung baru di Desa Nyosog, Bekasi
membutuhkan karyawan sejumlah sebelas orang. Untuk menghasilkan
produksi yang efektif dan efisien, dengan kapasitas kumbung 30.000 baglog
maka perusahaan membutuhkan beberapa karyawan. Karyawan akan direkrut
kemudian ditugaskan berdasar pembagian tugas yang ditetapkan. Yaitu,
kepala bagian, bagian pembibitan, bagian logistik, bagian produksi serta
bagian pemasaran dan Tenaga kerja akan di rekrut dari masyarakat di sekitar
lokasi usaha di Desa Nyosog, Bekasi.
Fasilitas transportasi
Usaha budidaya jamur tiram putih terletak di Desa Nyosog, Bekasi,
kemudahan transportasi yang ada ditunjang dengan adanya kendaraan
angkutan umum yang dapat mengantar konsumen untuk sampai ke lokasi
Desa. Kondisi jalan di lokasi usaha cukup baik, sehingga tidak ada kendala
dalam pengangkutan bahan baku ataupun hasil panen. Untuk menuju lokasi
usaha juga dapat menggunakan kendaraan roda dua dan empat.
Iklim dan keadaan tanah
Kondisi iklim di Desa Nyosog, Bekasi cukup mendukung untuk
dilakukan usaha budidaya jamur tiram. Desa masih ditutupi oleh sebagian
besar pepohonan yang membuat keadaan cuaca di sekitar lokasi cukup dingin
dan sejuk yang mana cocok untuk pertumbuhan jamur. Desa Nyosog
merupakan suatu desa yang terdapat di wilayah Kabupaten Bekasi tepatnya di
Kecamatan Setu. Dengan kondisi desa yang terletak pada ketinggian 6- 115 m
dpl, memiliki iklim tropis dengan curah hujan cukup tinggi, yaitu sebesar
1.501 mm/tahun, derajat temperatur harian berkisar antara 28 – 32° C, serta
kelembapan sebesar 80 persen.4Lokasi usaha yang terletak di dataran yang
cukup rendah, namun masih dapat diupayakan untuk pertumbuhan jamur
yang optimal dengan melakukan sistem penyiraman secara intensif dan pola
penyiraman yang teratur untuk dapat menghasilkan jamur yang tumbuh
secara baik.
Sikap dari masyarakat
Sikap masyarakat sangat terbuka dan mendukung adanya usaha
budidaya jamur tiram ini. Hal ini terlihat dari sikap ketertarikan warga dalam
budidaya jamur yang akan turut berperan aktif dalam usaha jamur. Kondisi
penduduk di Desa Nyosog yang tergolong cukup banyak yang tidak bekerja
atau pengangguran dapat diberdayakan sebagai tenaga kerja jamur. Hal itu
juga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerahnya.
Rencana perluasan usaha
Rencana pembangunan kumbung baru di lokasi Desa Nyosog, Bekasi
akan dilakukan di tahun 2013. Lokasi yang dipilih pemilik CV. MMS untuk
membangun kumbung baru adalah Desa Nyosog, Bekasi. Wilayah ini
Letak Geografis dan Wilayah Administratif Kabupaten Bekasi. [internet].[Diunduh 2012 Des 12].
2012. Tersedia pada: http://penanamanmodalbekasikab.info/index.php?mod=konten
&submenu_id=7
49
memiliki tempat dengan dataran yang cukup rendah dengan keadaan
kampung yang sejuk dengan banyaknya pepohonan di sekitar kampung.
Terdapat ketersediaan air bersih yang mencukupi. Begitupun dengan instalasi
listrik yang sudah terjamin dengan baik. Berbagai pilihan akses angkutan
untuk mobilisasi dapat dilakukan dengan baik dengan keadaan yang tidak
terlalu jauh dari lokasi pusat pembudidayaan jamur. sehingga untuk keperluan
bahan baku perusahaan sudah memiliki akses yang baik.
Selain itu, perusahaan memiliki hubungan mitra dalam produk bibit
dan baglog dengan salah satu perusahaan budidaya jamur di Desa Nyosog,
Bekasi. Kebutuhan bibit dan baglog yang di minta dalam jumlah cukup besar.
Lalu di lain hal, permintaan untuk produk jamur tiram segar yang tidak
pernah habisnya baik oleh pedagang, pengepul maupun masyarakat umum di
Wilayah Bekasi. Hal itu cukup menunjang perusahaan untuk dapat
memproduksi jamur dengan kapasitas besar setiap periodenya. Dimana dapat
dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan jamur yang sangat besar yang
sampai saat ini masih belum dapat dipenuhi oleh perusahaan. Rencana
pembangunan kumbung baru akan menjadi sangat penting dijalankan.
Skala Usaha
Skala usaha CV. Megah Makmur Sentosa tergolong kecil, berdasar dari
hasil produksi dengan kapasitas kumbung yang akan dibangun sebesar 30.000
baglog akan mampu menghasilkan produk jamur tiram sebanyak 12.606 kg per
periode produksi yaitu selama enam bulan. Berdasarkan kriteria pengusaha kecil
yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 9 Tahun1995 yaitu :
(a) Memiliki kekayaan bersih banyak Rp 200.000.000,00; tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha, (b) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak
Rp 1 Milyar, (c) Milik Warga Negara Indonesia (WNI), (d) Berdiri sendiri, tidak
memiliki anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
berafiliasi, dan (e) Berbentuk usaha perorangan, atau badan usaha tidak berbadan
hukum atau badan usaha berbadan hukum dalam bentuk koperasi.
Penetuan Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi adalah jumlah satuan produk yang dihasilkan selama
satu periode waktu tertentu. Misalnya satu hari, bulan, atau tahun. Besar kapasitas
produksi ekonomis ditentukan berdasarkan perpaduan hasil penelitian berbagai
macam komponen evaluasi yaitu perkiraan jumlah penjualan produk di masa yang
akan datang, kemungkinan pengadaan bahan baku, bahan pembantu, tenaga kerja
inti serta tersedianya mesin dan peralatan di pasar. Kegiatan produksi jamur tiram
putih dilakukan berdasar jumlah jamur tiram putih yang dihasilkan per periode
produksi. Satu periode produksi budidaya jamur dilakukan selama enam bulan.
Rencana pembangunan kumbung baru yang akan dilakukan CV. MMS bertujuan
untuk meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang
masih belum dipenuhi.
CV. Megah Makmur Sentosa akan membangun kumbung berkapasitas
30.000 baglog. Upaya perluasan skala usaha yang akan dilakukan diharapkan
dapat memenuhi permintaan pasar yang belum bisa dipenuhi. Hal ini didasarkan
pada ukuran kumbung sebesar 24x15 meter yang berisi 60 buah rak setinggi 5
tingkat. Setiap tingkat mampu menampung 100 buah log, sehingga satu rak
50
mampu menampung sebanyak 500 media log. Rata-rata produksi yang dihasilkan
adalah 0,4476 kilogram per baglog jamur. Nilai ini diperoleh secara empirik pada
saat turun lapang, yaitu pada saat panen jamur selama tahun 2012. Dengan tingkat
kegagalan produksi diasumsikan sebesar 6,12 persen, hal ini didasarkan kepada
persentase kegagalan produksi yang dialami perusahaan dalam melakukan
budidaya jamur tiram putih yaitu selama proses inkubasi dan pemeliharaan jamur
pada bulan Desember 2012 sebesar 126 baglog dari jumlah baglog yang ditanam
yakni sebanyak 6.160 baglog selama masa produktif baglog yaitu 3 bulan.
Sehingga kegagalan selama masa produktif sebesar 6,12 persen.
Pada perencanaan budidaya jamur yang akan dilakukan di kumbung
baru, Setiap karyawan akan bekerja selama 8 jam kerja per hari dari pukul 8.00
sampai pukul 17.00. Kegiatan produksi akan dilakukan setiap hari kecuali hari
Minggu, namun panen jamur dilakukan setiap hari. Hal ini dilakukan berdasar
pengalaman perusahaan dalam melakukan budidaya jamur. Dengan demikian,
perusahaan dapat menghasilkan produksi per periode adalah sebesar 12.606
kilogram atau sebesar 25.212 kilogram per tahun dengan dua kali produksi yang
dilakukan.
Layout
Layout merupakan gambaran penentuan letak dari berbagai macam
teknologi dan peralatan yang dimiliki perusahaan yang disesuaikan dengan fungsi
produksinya sehingga dapat berproduksi secara maksimal. Perusahaan akan
menyewa lahan seluas 1000 m2 yang akan dibangun untuk difungsikan sebagai
kumbung pertumbuhan, tempat produksi, dan saung karyawan. Adapun tempat
produksi akan memuat berbagai ruang yaitu diantaranya ruang penyimpanan
bahan baku dengan luas 3x4 m2 , ruang pengadukan I dengan luas 3x3 m2, ruang
pengadukan II dengan luas 3x3 m2, ruang pengadukan III dengan luas 3x3 m2,
ruang perebusan dengan luas 3x4 m2, ruang inokulasi dengan luas 3x4 m2, dan
ruang pembibitan dengan luas 3x4 m2. Masing-masing ruang akan di sekat dengan
menggunakan bata merah setinggi 1 meter, sedangkan sekeliling tempat produksi
akan diselimuti dengan bilik bambu dengan pintu masuk dan keluar di masingmasing sisi kanan dan kiri tempat produksi.
Struktur ruangan produksi ditata sesuai dengan alur proses produksi
dengan lebar jalan dihadapan masing-masing ruang sebesar 1 meter. Sehingga
luas untuk tempat produksi adalah sebesar 28x4 m2. Kemudian Perusahaan akan
membangun saung karyawan yang berisi ruang kantor dan tempat sholat dengan
luas 5x5 m2. Di saung karyawan tersebut terdapat teras yang dapat dimanfaatkan
sebagai sarana pemasaran jamur bagi konsumen yang akan datang untuk
mengambil produk jamur. Proses inkubasi akan dilakukan sekaligus didalam
kumbung yang akan dibangun dengan masa inkubasi selama 2,5 bulan. Kumbung
yang akan dibangun berkapasitas 30.000 baglog dengan ukuran kumbung 24x15
m2. Kebutuhan luas lahan total untuk melakukan budidaya jamur tiram putih yang
mencakup pembangunan kumbung pertumbuhan, tempat produksi, dan saung
karyawan adalah 581 m2. Harga sewa lahan yang di Desa Nyosog, Bekasi untuk
menyewa lahan pembangunan seperti yang disebutkan tersebut adalah Rp.
15.000.000,00. Penetapan harga ini berdasarkan informasi dari beberapa
penduduk dan pemilik lahan di Desa Nyosog, Bekasi.
51
Kumbung yang dibangun adalah kumbung yang terbuat dari bambu,
kualitas bambu yang digunakan dalam keadaan kuat dimana penggunaan bambu
tiang untuk menopang. Kapasitas kumbung yang dibangun adalah sebesar 30.000
baglog, kumbung akan dibuat sekat sebanyak 2 buah untuk setiap kapasitas
10.000 log. Sekat terbuat dari bilik biasa, pembuatan sekat kumbung adalah suatu
tindakan preventif yang diupayakan dalam mengantisipasi penyebaran virus atau
bakteri secara menyeluruh ketika terdapat virus maupun bakteri yang menyerang.
Kumbung yang dibangun berkapasitas 30.000 baglog, dengan banyak rak jamur
adalah 60 rak yaitu 10 rak berjejer ke belakang dan 6 rak berjejer ke samping,
tingkatan rak sebanyak 5 tingkat. Setiap tingkatan rak mampu menampung 100
media log sehingga satu rak mampu menampung 500 media log. Gambaran
rencana kondisi rak pada kumbung kapasitas 30.000 baglog dapat dilihat pada
Gambar 8.
Gambar 8 Rencana kondisi rak dan penaruhan baglog pada kumbung
di CV. Megah Makmur Sentosa
Pembuatan jalan utama akan dilakukan dengan di cor selebar 1,4 meter,
selebihnya jalan untuk menuju ke rak-rak pengisian baglog akan di buat sebesar
0,7 m dengan di cor. Kumbung yang dibangun setinggi 4 meter. Di samping
kanan dan kiri kumbung akan di berikan ventilasi serta jendela yang dapat dibuka
dan ditutup sewaktu-waktu hal ini diupayakan untuk kegiatan pemeliharaan jamur
yang optimal. Selanjutnya pada bagian atap kumbung di lapisi karpet setelah bilik.
Adapun gambaran layout kumbung 30.000 baglog dapat dilihat pada Gambar 9.
Kumbung khusus penjualan baglog akan di bangun untuk menampung
baglog yang akan dijual dengan ukuran 8x10,5 meter. Kumbung yang dibangun
dibuat dari bambu dengan kualitas bambu dalam keadaan kuat yaitu bambu tiang
untuk menopang. Kapasitas kumbung yang dibangun adalah 14.000 baglog, hal
ini sesuai dengan volume target produksi baglog dimana mampu menampung
penjualan media log per tahun. Banyak rak adalah 7 rak dimana 7 rak berjejer ke
belakang dan 2 rak berjejer ke samping, dengan banyaknya tingkatan rak
sebanyak 5 tingkat. Tinggi kumbung adalah 4 meter. Pada kumbung akan
diaplikasikan ventilasi serta jendela yang dapat dibuka dan ditutup sewaktuwaktu. Bagian atap kumbung di lapisi karpet setelah bilik. Adapun gambaran
layout kumbung khusus penjualan log dapat dilihat pada Gambar 10.
52
Gambar 9 Rencana Layout kumbung 30.000 baglog CV. Megah Makmur Sentosa
di Desa Nyosog, Kabupaten Bekasi
Gambar 10 Rencana layout kumbung ukuran 8x10,5 meter
pada CV. Megah Makmur Sentosa
Tempat produksi memuat berbagai ruang untuk memproduksi bibit
maupun baglog jamur. Ruang penyimpanan bahan baku adalah sebuah ruang yang
dikhususkan untuk menaruh dan menempatkan bahan baku. Ruang penyimpanan
bahan baku akan dibangun dengan luasan 3x4 m. Ruang pengadukan dan loging
adalah ruang yang digunakan untuk mengaduk dan mencampurkan bahan baku
produksi serta memproduksi baglog. Ruang pengadukan akan dibangun sebanyak
3 ruang yang sama ukuran dan fungsinya. Hal ini diupayakan untuk menghasilkan
produksi loging yang kontinu dan tidak terkendala karena ruangan yang terpakai
untuk proses pengadukan dan pendiaman adukan bahan baku log. Ruang
pengadukan dan loging akan dibangun dengan ukuran 3x3 m. Setelah proses
loging dilakukan, selanjutnya baglog akan disterilkan dengan memindahkannya
menuju ruang perebusan. Ruang perebusan adalah sebuah ruang khusus yang
dimanfaatkan untuk menghasilkan baglog yang steril dari berbagai macam
kontaminan. Upaya menghasilkan baglog yang steril yaitu dengan merebusnya
53
dalam boiler yang akan dipanaskan selama beberapa jam. Ruang sterilisasi akan
bangun dengan ukuran 3x4 m yang mana ruang tersebut mampu menampung alat
boiler besar sebagai alat sterilisasi baglog maupun bibit. Baglog yang telah steril
akan dipindahkan ke ruang inokulasi untuk di masukan bibit jamur ke dalam
baglog tersebut. Ruang inokulasi akan dibangun dengan ukuran 3x4 m.
Selanjutnya, baglog akan memasuki tahap inkubasi. Proses inkubasi akan
dilakukan di sekaligus di dalam kumbung yang akan dibangun dengan ukuran
24x15 m. Proses inkubasi akan memakan waktu selama 2,5 bulan yang mana
selama proses inkubasi baglog akan melakukan proses menjadi putih hingga
selanjutnya akan dilakukan pemeliharaan selama 3 bulan di dalam kumbung
tersebut, saat inilah baglog akan mengalami masa produktifnya yaitu dipanennya
jamur tiram segar.
Bangunan tempat produksi akan di bangun di sebelah kumbung dengan
ukuran 28x4 meter dan tinggi bangunan 3 meter dan atap 4 meter. Bangunan
dibangun dari tiang-tiang bambu, dengan pilihan bambu yang kuat dan baik yaitu
bambu besar sebagai penopang. Bangunan dibangun atas ruang-ruang yang mana
setiap ruang akan difungsikan untuk setiap kegiatan dalam produksi media baglog
maupun bibit jamur. Terdapat sekat sebagai pembatas antar ruang, sekat akan
dibuat dari bata dimana tinggi sekat 1 meter dan jalan dengan di cor. Adapun
layout bangunan produksi dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11 Rencana layout bangunan produksi CV. Megah Makmur
Sentosa di Desa Nyosog, Bekasi
Bangunan saung karyawan akan dibangun tepat persis di samping
bangunan produksi. Pembangunan saung karyawan diupayakan dapat
dimanfaatkan sebagai ruang istirahat dan tempat sholat para karyawan sekaligus
sebagai ruang kantor mini untuk kebutuhan pencatatan penjualan. Ukuran ruang
tersebut adalah 5x5 m dengan konsep ruangan terbuka yang sejuk dengan bahan
baku dari bambu pada halaman depan saung.
Saung yang dibangun terbuat dari bambu. Saung diselimuti oleh bilik
yang terbuat dari bilik kulit. Atap saung terbuat dari kirai. Terdapat tiga ruangan
pada saung diantaranya ruang kantor berukuran 2x5 meter, ruang sholat karyawan
berukuran 2x3 meter dan serambi yang dibuat dengan konsep ruang terbuka
berukuran 3x3 meter. Saung dibangun setinggi 0,5 meter dari tanah, sehingga
54
dibuatkan tangga untuk menuju saung. Layout saung karyawan seperti
ditunjukkan pada Gambar 12.
Gambar 12.Rencana layout saung karyawan usaha jamur tiram putih
Pemilihan Jenis Teknologi dan Peralatan
Teknologi yang akan digunakan dalam proses produksi jamur tiram putih
masih tergolong sederhana. Dalam pembuatan bibit, alat yang akan digunakan
untuk mencampur adukan dilakukan dengan cara manual yaitu mengaduk dengan
menggunakan tangan dan untuk menghasilkan tepung jagung, perusahaan
memiliki alat berupa mesin penggiling jagung. Pembelian alat ini diupayakan
untuk menimalisir biaya bahan baku yang dikeluarkan. Sedangkan pada
pembuatan baglog, alat yang akan digunakan untuk pengadukan media berupa
pacul dan sekop. Cara ini dianggap masih sangat sederhana, melihat banyaknya
produsen jamur yang membuat adukan untuk baglog dengan mesin pengaduk.
Selanjutnya, untuk proses sterilisasi, perusahaan akan menggunakan alat berupa
boiler berkapasitas 340 baglog. Boiler yang akan digunakan perusahaan adalah
sejumlah 1 unit. Boiler ini akan dibeli dari toko supplier peralatan agribisnis.
Selain itu, mesin yang akan digunakan dalam proses penyiraman adalah mesin
pengabut yang mana dapat mengalirkan air berupa kabut. Beberapa alat-alat lain
yang akan digunakan untuk proses pemanenan adalah cutter, dan gunting.
Perawatan terhadap teknologi yang ada meliputi pengontrolan terhadap setiap
teknologi sehingga dapat menimalisir risiko misalnya pada alat boiler dan mesin
pengabut. Proses produksi juga dapat dilakukan secara lancar dengan melihat
secara tanggap terhadap teknologi yang mengalami kerusakan untuk mendapat
perbaikan atau pergantian secara langsung.
Proses Produksi
Proses produksi adalah suatu metode penciptaan produk melalui
pemanfaatan sumberdaya yang tersedia. Proses produksi jamur tiram dilakukan
melalui berbagai tahapan mulai dari proses pembuatan bibit, proses loging
(mencakup pengadukan, pengomposan, sterilisasi, inokulasi), proses inkubasi,
pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, panen dan kegiatan pasca panen.
55
Pembuatan Bibit
Kebutuhan bibit yang diperlukan dalam produksi jamur dipenuhi oleh
perusahan secara mandiri. Pembuatan bibit jamur dilakukan di ruang isolasi yang
terdapat pada tempat produksi dengan melewati beberapa proses atau tahapan.
Bibit yang diproduksi adalah bibit jamur tahap F2. Pembuatan bibit tahap F2 akan
menghasilkan bibit yang bertujuan untuk memperbanyak miselium jamur. Media
yang diperlukan dalam pembuatan bibit tahap F2 adalah jagung. Pembuatan bibit
F2 akan memerlukan beberapa bahan dasar yang hampir sama dengan pembuatan
baglog, antara lain adalah campuran berupa 5 kilogram serbuk gergaji, 1 kg
tepung jagung, 0,3 kilogram kapur, 0,5 kilogram bekatul. Serta bahan dasar yang
diperlukan dalam produksi bibit tahap F2 adalah bibit tahap F1. Selanjutnya bahan
tersebut diaduk menjadi satu dan dicampur dengan tambahan air. Adukan tersebut
selanjutnya dimasukkan ke dalam botol bibit yang akan dipanaskan untuk
disterilkan selama 5 sampai 7 jam. Setiap botol bibit F2 yang dihasilkan mampu
menginokulasi 15 baglog.
Pembuatan Baglog
Tahapan yang pertama dilakukan pada pembuatan baglog adalah
pengadukan bahan baku untuk dikomposkan. Dalam satu kali pengadukan, serbuk
gergaji yang perlu disiapkan adalah sebanyak 10 karung serbuk gergaji. Bahan
baku yang diperlukan selanjutnya adalah 20 kilogram bekatul, 2 kilogram kapur
dan 1 kilogram gypsum. Proses pengadukan dimulai dengan mencampurkan
semua bahan baku tersebut yang mana diaduk menjadi satu dengan bantuan alat
yaitu cangkul dan sekop.
Campuran bahan baku tersebut kemudian dibiarkan atau didiamkan
selama 3 hingga 5 hari. Proses pendiaman bahan baku yang telah dicampur
merupakan suatu tahapan yang dinamakan pengomposan. Proses pengomposan
bertujuan supaya terjadi pelapukan. Setelah dibiarkan selama 3 hingga 5 hari,
campuran ditambahkan air , tetes tebu dan pupuk NPK kemudian diaduk lagi
secara merata. Bahan baku serbuk gergaji yang masih tidak seukuran atau terdapat
ukuran besar maupun kecil dalam bahan baku yang diaduk dapat menyebabkan
pertumbuhan jamur yang tidak baik. Untuk itu, perlu dilakukan penyaringan
bahan baku yang telah dikomposkan tadi hingga menjadi adukan dengan bagian
yang berukuran sama.
Selanjutnya, campuran tersebut dapat dimasukan ke dalam plastik log
berukuran 20x35 cm yang mampu memuat 1,4 kilogram media tanam baglog.
Campuran bahan baku yang telah dimasukkan ke dalam plastik selanjutnya diikat
dengan menggunakan tali rafia.
Proses selanjutnya adalah tahap perebusan. Pengukusan baglog bertujuan
untuk sterilisasi, biasanya tahapan ini disebut juga tahap sterilisasi. Pengukusan
dilakukan menggunakan alat berupa boiler berkapasitas 320 log per satu kali
proses pengukusan. Kemudian baglog yang telah dimasukkan ke dalam boiler
ditutup rapat dan akan dipanaskan menggunakan kompor dengan lama
pengukusan 6-7 jam. Pengukusan baglog akan menghabiskan lebih kurang 2
tabung gas LPG berukuran 3 kilogram. Ketika proses pengukusan sudah selesai,
baglog jamur dapat didiamkan selama semalam.
56
Inokulasi
Proses selanjutnya dinamakan Inokulasi. Baglog yang telah didiamkan
selanjutnya diisi bibit F2. Baglog yang telah diikat tali rafia dibuka ikatannya
kemudian diisikan bibit ke bagian atas baglog dan di tutup lagi dengan
menggunakan pipa ring tepat diatas permukaan baglog, lalu menutupkan baglog
dengan kertas koran yang telah disterilisasi menggunakan api.
Inkubasi
Proses inkubasi dimulai dengan pemasukan baglog ke dalam ruang
inkubasi. Dalam hal ini, perusahaan melakukan proses inkubasi sekaligus didalam
kumbung pertumbuhan jamur. Proses inkubasi dilakukan selama 70 hari dimana
kedaaan baglog selama masa inkubasi akan dipenuhi miselium jamur berwarna
putih.
Pemeliharaan
Jamur tiram akan tumbuh baik dengan kondisi suhu dan kelembaban
yang sesuai. Jamur tiram akan ditumbuhkan pada ruang pemeliharaan berupa
kumbung. Suhu yang diperlukan untuk mencapai produksi yang optimal berkisar
antara 16-22 oC. Pada Daerah yang akan dibangun kumbung baru, suhu dan
kelembaban di dalam kumbung tidak mampu mencapai angka tersebut, maka akan
dilakukan penyiraman. Proses penyiraman akan dilakukan berdasarkan kondisi
cuaca yang ada. Jika pada suatu hari cuaca hujan, maka proses penyiraman hanya
akan dilakukan satu kali. Sedangkan jika pada suatu hari cuaca panas, maka
peoses penyiraman akan dilakukan dua kali. Kegiatan penyiraman akan dilakukan
dengan menggunakan bebarapa alat yaitu diantaranya selang air dan alat
pengabut.
Selebihnya, pemeliharaan akan dilakukan dengan memisahkan antara
baglog yang gagal dengan baglog yang mampu menghasilkan jamur dengan baik.
Baglog yang gagal tidak akan menghasilkan miselium, untuk itu baglog akan
ditempatkan pada satu tempat khusus untuk diolah kembali.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Beberapa hal yang dapat ditemui pada budidaya jamur adalah munculnya
gulma jamur. Gulma yang tumbuh pada media tanam jamur biasanya diperoleh
karena kurang sempurnanya proses sterilisasi baglog maupun bibit jamur. Hal ini
akan menimbulkan persaingan nutrisi sehingga jamur tidak mampu tumbuh dan
berkembang dengan baik.
Pencegahan hama penyakit akan dilakukan dengan melakukan proses
sterilisasi yang tepat dimana dengan memperhatikan kebersihan para pekerja.
Namun, ketika baglog maupun bibit jamur telah terserang oleh beberapa fungi,
bakteri, maupun virus, maka baglog jamur akan langsung dipisahkan dan di bakar
sehingga tidak akan mengkontaminasi baglog dan jamur lain.
Panen
Panen akan dilakukan setiap hari ketika ukuran tubuh buah jamur tumbuh
sesuai dengan ukuran yang diminta pasar. Pemanenan dilakukan dengan
sederhana, yaitu dengan menggunakan alat berupa gunting dan cutter.
Pemotongan tubuh buah jamur perlu dilakukan hingga ke bagian akarnya. Waktu
57
yang digunakan untuk memanen adalah pagi hari sebelum pukul 10.00 hal itu
dipastikan dapat menghasilkan jamur yang segar. Panen jamur akan menghasilkan
bobot jamur tiram segar dan agak basah, yangmana kedua bagian akan dipisahkan
dengan menggunakan wadah yang berbeda. Jamur tiram yang segar akan dijual
dan ditampung menjadi satu. Sedangkan jamur yang agak basah akan dikeringkan
dahulu untuk kemudian dijual. Pemotongan akar dan bagian lain juga perlu
dilakukan agar jamur terlihat bersih.
Pasca Panen
Hasil panen akan ditampung secara menyeluruh menggunakan wadah
baskom ataupun ember. Selanjutnya akan dilakukan pengemasan hasil panen
kedalam plastik kemas yang siap dipasarkan kepada para konsumen. Jamur tiram
yang dipasarkan akan mampu bertahan selama 2 hari.
Pengeluaran Baglog dan Sterilisasi
Baglog yang sudah tidak produktif harus dikeluarkan dari kumbung dan
digantikan dengan baglog yang baru di produksi. Proses pengeluaran baglog akan
memakan waktu selama 1 minggu per 10.000 baglog yang di tanam. Hal ini
sesuai dengan pemasukan baglog yang secara bertahap dengan produksi yang juga
dilakukan secara bertahap. Proses sterilisasi baglog akan menjadikan kumbung
siap untuk di tanamkan baglog baru, hal ini dilakukan dengan cara membersihkan
rak-rak dari sisa media baglog yang telah afkir.
Proses persiapan untuk dapat menghasilkan produk jamur memerlukan
waktu selama satu bulan yaitu proses pembuatan media tanam jamur berupa
baglog dan bibit jamur. Proses persiapan yang dilakukan antara lain pembuatan
bibit tahap F2 dan baglog jamur. Pembuatan media F2 akan diawali dengan
persiapan bahan baku untuk media F2 selama ½ hari, selanjutnya pengomposan
media F2 yang akan memakan waktu selama ½ hari, proses pengadukan dan
sterilisasi media akan dilakukan selama 1 hari, selanjutnya proses pengangkatan
media dari mesin boiler dan didiamkan dilakukan selama 1 hari diikuti proses
inokulasi F1 ke F2 selama 1 hari setelahnya. Lalu media F2 akan berinkubasi
selama 3 minggu, 3 hari. Pada proses pembuatan baglog akan melewati beberapa
proses diantaranya persiapan bahan baku selama 1 hari, dilanjutkan pengomposan
media baglog selama 3 hari dan proses pengadukan dan didiamkan selama 2 hari,
setelah itu media di masukan ke dalam plastik pembungkus untuk dilakukan
pembungkusan selama 1 hari. sebelum di inokulasi dengan bibit F2, baglog di
sterilisasi dan didiamkan selama 2 hari, setelahnya dilakukan inokulasi bibit F2 ke
baglog. Jadi, proses pembuatan bibit dan baglog akan memakan waktu selama 1
bulan.
Setelah melewati tahap persiapan, jamur tiram akan memasuki tahap
produksi. Satu periode produksi jamur memerlukan waktu selama enam bulan.
Satu periode produksi jamur tiram tersebut meliputi proses inkubasi baglog
hingga masa produktif untuk setiap baglog yang ditanam mampu menghasilkan
jamur tiram putih. Selanjutnya baglog akan dimasukan ke dalam kumbung untuk
dilakukan proses inkubasi. Proses memasukan baglog ke dalam kumbung
kapasitas 30.000 log akan dibagi menjadi 3 tahap, adapun tahap 1 adalah tahap
pemenuhan kumbung bagian 1 yang berkapasitas 10.000 log, lalu tahap 2 adalah
tahap pemenuhan kumbung bagian 2 yang berkapasitas 10.000 log setelah
58
kumbung bagian 1 terisi penuh oleh baglog, Serta tahap 3 adalah tahap
pemenuhan kumbung bagian 3 yang berkapasitas 10.000 log setelah kumbung
bagian terisi penuh oleh baglog. Proses pemasukan baglog akan memakan waktu
selama 31,25 hari. Hal itu sesuai dengan tingkat produksi baglog yang di produksi
yaitu sebanyak 320 baglog setiap hari produksi, sehingga untuk memenuhi
kapasitas kumbung bagian 1 sebanyak 10.000 baglog diperlukan waktu selama
31,25 hari. Selanjutnya baglog akan melewati proses inkubasi dimana setiap
baglog akan dipenuhi dengan miselium berwarna putih, proses inkubasi ini
selama 70 hari. Setiap baglog yang sudah dipenuhi miselia selanjutnya dibukakan
penutup baglognya yang berupa cincin paralon. Pembukaan penutup baglog akan
memerlukan waktu selama 15-20 hari. Selanjutnya adalah tahap pemeliharaan
hingga panen yang akan dilakukan selama masa produktif yaitu 3 bulan. Setelah
baglog sudah tidak mampu berproduksi, maka baglog harus dikeluarkan dan
digantikan dengan baglog baru yang siap untuk di tanam. Proses pengeluaran dan
sterilisasi baglog afkir akan memakan waktu selama 3 minggu.
Tahapan alur produksi jamur tiram putih pada pembangunan kumbung
baru CV. Megah Makmur Sentosa kapasitas 30.000 log dapat dilihat pada Gambar
13.
Pembuatan
Bibit F2
• Persiapan bahan
baku
• Pengomposan
• Pengadukan dan
sterilisasi
• Diangkat dan
pendiaman
• inokulasi F1 ke F2
• Inkubasi F2
Pengeluaran baglog
dan sterilisasi
Pembuatan
baglog
• Persiapan bahan
baku
• Pengomposan
• Pengadukan dan
pendiaman
• Pembungkusan
• Sterilisasi dan
pendiaman
• Inokulasi F2 ke
baglog
Panen dan
pasca Panen
Pemasukan
baglog
Inkubasi
baglog
Pembukaan
penutup baglog
Gambar 13 Alur produksi jamur tiram putih oleh CV. Megah
Makmur Sentosa
Hasil Analisis Aspek Teknis
Pemaparan mengenai kriteria aspek teknis dalam melakukan budidaya
jamur secara keseluruhan terdiri dari pemilihan lokasi usaha, skala usaha, proses
produksi, layout, dan pemilihan teknologi. Seluruh kriteria pada aspek teknis turut
mendukung untuk merealisasikan rencana perusahaan dalam melakukan
pembangunan kumbung baru. Dengan demikian, usaha jamur tiram putih dapat
dinyatakan layak untuk dijalankan apabila ditinjau dari aspek teknis.
59
Aspek Manajemen
Analisis aspek manajemen dilakukan untuk melihat apakah
pembangunan dan implementasi bisnis dapat direncanakan, dilaksanakan, dan
dikendalikan sehingga rencana bisnis dapat dikatakan layak atau tidak layak
(Umar 2005). Analisis aspek manajemen meliputi wewenang dan tanggung jawab.
Operasionaliasai suatu usaha ditangani dengan sistem manajemen yang terdiri dari
orang dengan jabatan-jabatan tertentu yang dikoordinasikan melalui suatu
kumpulan tugas dari bagian-bagian yang ada. Dalam suatu perusahaan, tugas
pokok terdiri dari tugas teknis, administrasi umum, dan hubungan dengan
masyarakat. Seluruh tugas tersebut akan membentuk struktur organisasi yang
dijelaskan pada bahasan berikut.
Struktur organisasi
Dalam mengelola kegiatan operasional, setiap perusahaan memerlukan
struktur organisasi yang menjadi acuan kegiatan perusahaan. Struktur organisasi
dapat berupa penunjuk informasi mengenai tugas, wewenang, dan tanggung jawab
yang dipegang oleh setiap karyawan. Dalam budidaya jamur tiram putih yang
akan dilakukan, organisasi usaha perusahan terdiri atas pemilik, kepala bagian,
bagian logistik, bagian bibit, bagian produksi, bagian kumbung, serta bagian
pemasaran dan keuangan. Bagian produksi akan dikoordinasi pembagiannya
berdasar kegiatannya, antara lain pengadukan, perebusan atau seterilisasi dan
inokulasi. Struktur organisasi tersebut dibuat sebagi pedoman bagi setiap
karyawan untuk dapat menjalankan kewajibannya dengan baik. Struktur
organisasi yang dibuat perusahaan merupakan struktur organisasi bertipe
fungsional dimana pembagian kerja yang terdapat dalam kegiatan operasional
perusahaan. Organisasi fungsional disusun berdasarkan sifat dan macam-macam
fungsi yang harus dilaksanakan. Pimpinan akan mendelegasikan wewenang kepda
kepala bagian yang mana selanjutnya kepala bagian akan meneruskan kepada
pelaksananya untuk mengerjakan tugas tertentu berdasar spesialisasinya. Para
pekerja yang merupakan pelaksana dari kegiatan operasional perusahaan akan
bekerja sesuai dengan keahlian yang dimilikinya dan bertanggung jawab penuh
terhadap tugasnya masing-masing.
Struktur organisasi pada usaha jamur direncanakan terdiri atas kepala
bagian, bagian logistik, bagian bibit, bagian produksi, bagian kumbung, bagian
pemasaran dan keuangan. Adapun dari setiap bagian akan bertanggung jawab
kepada kepala bagian. Kepala bagian nantinya akan bertanggung jawab kepada
pemilik sekaligus pimpinan perusahaan.
CV. Megah Makmur Sentsosa mengorganisir struktur organisasi dengan
adanya spesialisasi kerja yang membantu berjalannya kegiatan operasional
perusahaan secara lebih efektif dan efisien. Jika suatu bagian kerja membutuhkan
bantuan tenaga kerja tambahan, maka masing-masing bagian akan membantu
bagian lain. Hal itu juga menjalin hubungan dimana koordinasi antar karyawan
semakin baik. Pembangunan kumbung baru dengan kapasitas 30.000 baglog
menuntut karyawan untuk bekerja lebih optimal. Perencanaan spesialisasi kerja
yang telah diatur, diharapkan mampu memberikan kinerja perusahaan yang lebih
baik dalam peningkatan produksi dalam hal ini produksi jamur tiram putih,
baglog, maupun bibit jamur tiram.
60
Rencana struktur organisasi CV. Megah Makmur Sentosa dapat dilihat
pada Gambar 14.
Pemilik
sekaligus
Pimpinan
CV. MMS
Kepala
Bagian
Logistik
Bibit
Produksi
Kumbung
Pengadukan
Perebusan
Inokulasi
Pemasaran
dan
Keuangan
Gambar 14. Struktur organisasi usaha jamur tiram putih CV. Megah
Makmur Sentosa
Manajemen
Kegiatan budidaya jamur yang akan dilakukan pada kumbung baru akan
menggunakan sistem manajemen dengan pembagian kerja sebagai berikut : (1)
Satu orang kepala bagian yang akan membawahi beberapa pegawai yang bertugas
pada kegiatan atau bagian yang digelutinya. Beberapa tenaga kerja tersebut akan
ditugaskan pada bagian logistik, bibit, produksi, kumbung, pemasaran dan
keuangan. Tugas kepala bagian adalah bertanggung jawab memberikan laporan
kepada pimpinan, memberikan pengarahan kepada setiap bagian mengenai tugas
dan kewajibannya, dan mengelola kelancaran kegiatan operasional perusahaan.
(2) Satu tenaga kerja di bagian logistik akan ditugaskan dalam mendapatkan dan
membeli bahan baku yang dibutuhkan dalam produksi jamur. (3) Satu tenaga
kerja di bagian bibit akan ditugaskan untuk menmproduksi bibit yang baik dan
berkualitas. Produksi bibit yang baik akan dihasilkan dengan pekerja yang mampu
bekerja secara terampil dan telaten. (4) Empat tenaga kerja di bagian produksi
berperan dalam beberapa proses pembuatan baglog jamur, diantaranya
pengadukan, inokulasi dan sterilisasi, tenaga kerja produksi akan diberikan upah
sesuai dengan log yang dihasilkan. (5) Tiga tenaga kerja di bagian kumbung
berperan dalam memelihara dan mengupayakan pertumbuhan produk jamur yang
maksimal. Beberapa proses yang harus dilakukan antara lain penyiraman serta
penanggulangan hama. (6) Satu tenaga kerja di bagian pemasaran dan keuangan.
Tenaga kerja pemasaran akan merangkap menjadi tenaga kerja keuangan.
Perannya di bagian pemasaran adalah mendistribusikan pesanan jamur ke
konsumen, serta di bidang keuangan adalah membukukan penjualan perharinya,
arus kas harian dan menyusun anggaran biaya perusahaan.
61
Hasil Analisis Aspek Manajemen
CV. Megah Makmur Sentosa telah merencanakan struktur organisasi
formal yang memperjelas cakupan pekerjaan dan tanggung jawab dari setiap
karyawan untuk kegiatan yang akan dilakukan dalam produksi jamur tiram.
Rencana pembangunan kumbung baru oleh perusahaan tidak memiliki kendala
dari sisi manajemen sehingga layak untuk dijalankan.
Aspek Hukum
Perusahaan yang telah mampu memenuhi berbagai administrasi hukum
dapat diakui keberadaanya. Hal yang perlu diperhatikan pada penilaian aspek
hukum adalah bentuk badan usaha yang dijalankan serta izin usaha yang diperoleh
perusahaan.
Bentuk Badan Usaha
Bentuk badan usaha apabila ditinjau dari segi yuridisnya terdiri darii
perusahaan perorangan, firma, Persekutuan Komanditer (CV), Perseroan Terbatas
(PT), perusahaan negara, perusahaan pemerintah, koperasi dan yayasan.
Perusahaan budidaya jamur tiram putih yang dipimpin oleh Bapak Paryanto
memiliki badan usaha Persekutuan Komanditer (CV) dengan nama perusahaan
Megah Makmur Sentosa. Modal yang dikumpulkan untuk usaha CV.Megah
Makmur Sentosa ini berasal dari pemilik perusahaan yaitu Pak Paryanto serta
beberapa rekan yang bergabung dalam memberikan modal. Badan usaha CV yang
didirikan telah sah sejak tahun 2010 untuk usaha jamur yang sebelumnya telah
diusahakan. Pada perusahaan CV ini, Pak Paryanto selaku pemilik modal turut
aktif dalam pelaksanaan kegiatan usaha, namun beberapa rekan hanya terlibat
dalam pemberian modal saja.
Rencana pembangunan kumbung baru akan dimasukkan ke dalam usaha
perorangan dengan keuntungan penuh yang dapat dinikmati oleh pemilik modal,
yaitu Pak Paryanto. Penggolongan usaha perorangan karena modal yang
digunakan hanya berasal dari satu orang yang merupakan pemilik perusahaan.
Terdapat salah satu kelemahan dalam perusahaan perorangan yaitu seluruh beban
ataupun kerugian perusahaan harus ditanggung sendiri oleh pemilik perusahaan.
Izin Usaha
Dalam menjalankan usahanya, CV. Megah Makmur Sentosa telah
memenuhi izin usaha dimana perusahaan memiliki legalitas yang jelas dalam
hukum, Antara lain SIUP, TDP.
1. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) adalah surat izin untuk melaksanakan
kegiatan usaha perdagangan. Setiap perusahaan, koperasi, persekutuan
maupun usaha perdagangan yang melakukan kegiatan usaha perdagangan
wajib memperoleh SIUP. SIUP diterbitkan berdasarkan domisili usaha
perusahaan yang berlaku di seluruh wilayah Republik Indonesia. perusahaan
telah memperoleh izin untuk melakukan usahanya, yakni dengan identitas
SIUP bernomor 510/2245-BPPT/PM/XII/2010.
2. Tanda Daftar Perusahaan (TDP) adalah tanda daftar yang diberikan oleh
Dinas Perindustrian dan Perdagangan di kota atau kabupaten setempatkepada
62
perusahaan yang telah disahkan pendaftarannya. Pada tahun 2010, perusahaan
telah mendaftarkan usahanya kepada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu
Kota Bekasi. Perizinan yang diperoleh berupa TDP dengan nomor
102635108716.
Kelengkapan perizinan yang telah dimiliki prusahaan dapat memberikan
kepercayaan lebih kepada konsumen serta masyarakat dan pemerintah setempat,
yang mana hal ini merupakan salah satu kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk
dapat eksis dalam usaha yang digelutinya.
Hasil Analisis Aspek Hukum
Apabila ditinjau berdasarkan aspek hukum, perusahaan dapat dikatakan
layak untuk merealisasikan rencana pembangunan kumbung baru. Hal ini
dikarenakan, perusahaan telah memperoleh berbagai legalisasi yang mendukung
kegiatan operasionalnya.
Aspek Sosial, Ekonomi dan Lingkungan
Usaha budidaya jamur tiram putih yang akan dilakukan sangat didukung
oleh masyarakat sekitar desa. Usaha budidaya jamur tiram bukan saja sekedar
keinginan dari perusahaan, namun berdasarkan wawancara terhadap penduduk
sekitar desa yang menjadi lokasi tujuan pembangunan kumbung baru yaitu Desa
Nyosog, Bekasi. Masyarakat sangat antusias dan berharap pembangunan
kumbung baru tersebut dapat direalisasikan.
Pembangunan kumbung baru berkapasitas 30.000 baglog diharapkan
akan memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekitar, diantaranya
menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat yaitu dengan terserapnya tenaga
kerja sekitar desa khususnya Desa Nyosog yang mana masih banyak terdapat
tenaga kerja pengangguran.
Kegiatan produksi jamur tiram nantinya akan menghasilkan limbah dari
hasil budidaya jamur yang dilakukan, diantaranya serbuk gergaji afkir dalam
bentuk baglog afkir yaitu limbah baglog. Limbah baglog tersebut tidak
mengandung unsur yang beracun sehingga tidak membahayakan bagi lingkungan
sekitar bahkan limbah yang dilhasilkan dapat dimanfaatkan sebagai media tanam.
Limbah baglog dapat dijual ke pengumpul di sekitar desa. Limbah yang
dihasilkan juga dalam bentuk limbah plastik baglog yang sebelumnya digunakan
untuk menampung media tanam baglog. Penanggulangan terhadap limbah plastik
akan dilakukan dengan menjual kepada penampung limbah plastik di sekitar
lokasi usaha.
Hasil Analisis Aspek Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan
Berdasarkan pemaparan yang telah dijelaskan, usaha budidaya jamur
tiram CV. MMS diharapkan mampu memberdayakan masyarakat sekitar desa
melalui sistem perekrutan tenaga kerja. Hal itu juga akan meningkatkan
pendapatannya. Limbah yang akan dihasilkan dalam melakukan budidaya jamur
tiram tidak merusak lingkungan dan membahayakan masyarakat sekitar. Dengan
demikian, rencana perusahaan kedepan dalam pembangunan kumbung baru layak
untuk dijalankan.
63
Analisis Aspek Finansial
Analisis aspek finansial rencana pembangunan kumbung baru perlu
dilakukan untuk melihat apakah secara finansial rencana usaha ini layak atau tidak
layak untuk direalisasikan. Berdasarkan aspek finansial, penilaian kelayakan
dilakukan melalui kriteria investasi. Kriteria investasi yang dimaksud adalah Net
Present Value (NPV), Net Benefit-Cost ratio (Net B/C), Internal Rate of Return
(IRR), dan Discounted Payback Period (DPP). Informasi tentang besarnya
manfaat yang diperoleh dan pengeluaran terhadap biaya yang dilakukan
perusahaan akan digambarkan pada Cash flow. Analisis nilai pengganti atau
switching value juga akan dilakukan untuk mengetahui batas maksimal perubahan
yang dapat ditolerir pada perubahan arus tunai (manfaat dan biaya) agar
perusahaan tetap layak untuk mengusahakan budidaya jamur tiram putih.
Analisis kelayakan finansial pada penelitian ini akan fokus pada kondisi
rencana pembangunan kumbung baru yang akan dilakukan. Rencana
pembangunan kumbung baru meliputi penyewaan lahan seluas 1000 m2 yang akan
dibangun untuk difungsikan sebagai tempat produksi, dan saung karyawan serta
pembangunan kumbung sebagai investasi paling penting yang harus dipenuhi
dalam budidaya jamur tiram dimana proses inkubasi juga akan dilakukan pada
kumbung yang akan dibangun. Rencana pembangunan kumbung baru bertujuan
untuk menghasilkan kapasitas produksi jamur tiram yang mampu memenuhi
permintaan pasar. Rencana usaha budidaya yang akan diusahakan di Desa
Nyosog, Bekasi akan memerlukan investasi yang besar berupa pembangunan
kumbung, tempat produksi serta saung karyawan dan alat-alat produksinya seperti
boiler sebagai alat untuk melakukan sterilisasi baglog dan mesin pengabut sebagai
alat pemeliharaan pertumbuhan jamur.
Arus Penerimaan (Inflow)
Aliran kas masuk (inflow) sebagai komponen penerimaan CV. Megah
Makmur Sentosa berasal dari penerimaan penjualan jamur tiram putih,
penerimaan penjualan baglog, dan penerimaan penjualan bibit tahap F2.
Arus penerimaan yang berasal dari penjualan jamur tiram putih
ditetapkan berdasarkan harga rata-rata dari persentase penjualan jamur tiram ke
masing-masing konsumen. Penetapan harga jual tersebut adalah Rp 9.605,50.
Harga penjualan pertama jamur tiram putih ke pedagang di Bantar Gebang pada
saat baru panen adalah Rp 10.000,00 dengan persentase penjualan sebesar 65,11
persen. Sedangkan harga penjualan kedua jamur tiram putih ke pedagang di Setu
dilakukan pada sore hari adalah Rp 9.000,00 dengan persentase penjualan sebesar
26,09 persen. Selanjutnya pada malam hari penjualan jamur tiram putih tetap
dilakukan untuk menghabiskan jamur tiram segar yang telah dipanen. Penjualan
ketiga dilakukan ke pengepul jamur dengan harga jual sebesar Rp 8.500,00 dan
persentase penjualan jamur sebesar 8,84 persen. Adapun sisanya sebesar 0,20
persen, penjualan jamur dilakukan dalam konsekuensinya ketika penjualan
pertama hingga ketiga tidak menampung. Dalam hal ini, penjualan jamur ke
empat biasanya terjadi pada saat hari-hari tertentu dimana permintaan jamur
64
menurun dan digantikan dengan komoditas lain. Harga jual tersebut adalah harga
jual yang diterima pasar yaitu sebesar Rp 6.000,00.
Perusahaan berencana membangun kumbung baru berlokasi di Wilayah
Desa Nyosog, Bekasi. Kumbung yang akan dibangun untuk kapasitas 30.000
baglog. Pembangunan kumbung berkapasitas 30.000 baglog adalah kumbung
dengan ukuran 24x15 meter yang berisi 60 buah rak setinggi 5 tingkatan. Setiap
tingkat mampu menampung 100 buah log, sehingga satu rak mampu menampung
sebanyak 500 media log. Pembangunan kumbung akan dilakukan untuk dapat
menghasilkan jamur tiram segar sebanyak 12.606 kilogram per periode selama
umur bisnis. Dimana setiap baglog yang ditanam memiliki produktivitas 0,4476
kilogram per baglog, dan tingkat kegagalan produksi jamur tiram adalah sebesar
6,12 persen. Tingkat kegagalan jamur sebesar 6,12 persen adalah persentase
kegagalan produksi yang dialami perusahaan dalam melakukan budidaya jamur
tiram putih yaitu selama proses inkubasi dan pemeliharaan jamur pada bulan
Desember 2012 sebesar 126 baglog dari jumlah baglog yang ditanam yakni
sebanyak 6.160 baglog selama masa produktif baglog yaitu 3 bulan. Sehingga
kegagalan selama masa produktif sebesar 6,12 persen.
Karyawan perusahaan akan bekerja selama 26 hari per bulan dengan
ketentuan hari minggu adalah libur, namun panen akan dilakukan setiap hari dan
kegiatan pasca panen tetap dilakukan setiap hari oleh karyawan di bagian
pemasaran. Pembangunan kumbung baru akan memakan waktu selama dua bulan.
Maka, perusahaan akan mulai beroperasi mulai bulan ke tiga pada tahun pertama
usaha. Untuk itu, jamur tiram putih yang akan dihasilkan pada tahun pertama
adalah produksi selama satu periode budidaya yaitu sebesar 12.606 kilogram
jamur dimana masa produksi jamur hingga panen adalah selama enam bulan,
sedangkan pada tahun berikutnya, yaitu tahun ke dua hingga ke lima, produksi
jamur adalah 25.212 kilogram jamur pertahun.
Berdasar ketetapan harga jamur tiram yang ditawarkan, yaitu Rp
9.605,50 per kilogram. Maka penerimaan penjualan yang akan diperoleh
perusahaan pada tahun pertama usaha adalah sebesar Rp 121.086.933,00 dan pada
tahun berikutnya mulai tahun ke 2 sampai ke 5 penerimaan penjualan adalah
sebesar Rp 242.173.866,00. Selama setahun produksi. Perhitungan penerimaan
yang dihasilkan diperoleh berdasar perhitungan jumlah produksi jamur yang
ditargetkan perusahaan dalam melakukan pembangunan kumbung baru yaitu
sebesar 12.606 kg per periode dikalikan harga yang ditetapkan per kilogram jamur
tiram.
Selain penjualan jamur tiram putih, perusahaan juga memperoleh
penerimaan yang berasal dari penjualan baglog jamur. Baglog yang diproduksi
digunakan sebagai media untuk menghasilkan jamur tiram segar serta untuk dijual
kepada perusahaan jamur serta mitra yang memesannya. Penjualan baglog
tergolong prospektif, dimana perusahaan yang melakukan budidaya jamur
biasanya bermasalah dalam memproduksi baglog. Target penjualan baglog jamur
ke perusahaan jamur dan mitra mencapai 13.935 baglog per tahun. Target
penjualan yang ditetapkan berdasar kemampuan perusahaan dalam memenuhi
permintaan baglog di Bekasi, yaitu sebesar 5 persen keperluan baglog di Bekasi.
Rincian pencapaian target penjualan baglog dapat hitung berdasarkan jumlah
kebutuhan baglog di Bekasi yaitu berdasarkan pendekatan proyeksi produksi
65
jamur yang dihasilkan pada tahun 2013. Perkembangan produksi jamur di Bekasi
tahun 2007-2012 dapat dilihat pada Tabel 8.
Berdasarkan perhitungan proyeksi produksi jamur dengan metode
analisis deret waktu, diperoleh persamaan Y= 80.819 + 5.161 X. Maka, proyeksi
produksi pada tahun 2013 (X=7) sebesar 116.946 kg, maka dibulatkan menjadi
116.950 kg jamur.
Untuk memproduksi per 116.950 kilogram jamur, diperlukan 278.700
media log. Hal itu berdasarkan panen bersih yang dihasilkan dimana panen total
yang dihasilkan dikurangi kegagalan produksi. Kebutuhan baglog di Bekasi yang
mencapai 278.700 media log per tahun dapat dikuasai perusahaan untuk
pemenuhannya sebesar 5 persen yaitu sejumlah 13.935 baglog jamur tiram.
Penjualan baglog jamur tiram dapat dilakukan ketika baglog sudah siap
tanam atau dalam proses inkubasi yaitu baglog telah dipenuhi oleh miselia.
Baglog yang akan dijual akan ditaruh dalam kumbung berukuran 10,5x8 meter
yaitu kumbung khsusus penjualan baglog.
Harga yang ditawarkan adalah harga yang berlaku di lokasi penelitian
yaitu Rp 2.400,00 per baglog. Untuk itu, perusahaan dapat memperoleh
penerimaan melalui penjualan baglog sebesar Rp 24.476.000,00 pada tahun
pertama bisnis dan sebesar Rp 31.772.000 pada tahun kedua hingga kelima
selama umur bisnis. Perhitungan penerimaan baglog jamur tiram adalah hasil
pengurangan pendapatan dari penjualan baglog jamur terhadap retur penjualan.
Penjualan baglog jamur memiliki resiko kerusakan baglog sebesar 5 persen, hal
itu berdasarkan penggunaan alat berupa boiler jamur.
Sumber penerimaan lain yang diperoleh perusahaan adalah dari
penjualan bibit jamur tahap F2. Bibit jamur tahap F2 adalah bibit yang mampu
menghasilkan 15 baglog jamur. Harga jual bibit di lokasi adalah sebesar Rp
4.500,00 per botol bibit. Ketetapan pemberian harga Rp 4.500,00 per botol bibit
dilakukan atas dasar bibit yang diproduksi adalah bibit unggul yang nantinya
dapat menghasilkan jamur dengan kualitas super. Target penjualan bibit jamur
ditujukan kepada para pembudidaya jamur baik perusahaan maupun perorangan
yang belum mampu memproduksi bibit sendiri. Perusahaan menargetkan
penjualan bibit jamur tipe F2 hingga mencapai 3.716 botol bibit per tahun. Target
penjualan yang ditetapkan berdasar kemampuan perusahaan dalam memenuhi
permintaan bibit di Bekasi, yaitu sebesar 20 persen keperluan bibit di Bekasi.
Rincian pencapaian target penjualan bibit jamur dapat hitung berdasarkan jumlah
kebutuhan bibit di Bekasi yaitu berdasarkan pendekatan proyeksi produksi jamur
yang dihasilkan pada tahun 2013.
Proyeksi produksi jamur pada tahun 2013 adalah 116.946 kilogram jamur
(Tabel 9). Untuk memproduksi 116.950 kilogram jamur, maka diperlukan
278.700 media log. Hal itu berdasarkan panen bersih yang dihasilkan, dimana
perhitungannya diperoleh dari panen total yang dihasilkan dikurangi kegagalan
produksi. Untuk memproduksi 278.700 media log, diperlukan sebanyak 18.580
botol bibit, hal itu dikarenakan 1 botol bibit F2 mampu memproduksi 15 baglog
jamur. Maka, perusahaan menargetkan sebanyak 20 persen kebutuhan bibit jamur
di Bekasi atau sebanyak 3.716 botol bibit per tahun.
Penjualan bibit jamur tiram dapat dilakukan ketika bibit sudah siap untuk di
inokulasi ke media turunannya yaitu dalam hal ini adalah baglog jamur atau bibit
dalam proses inkubasi yakni bibit yang telah dipenuhi oleh miselia.
66
Berikut adalah tabel penjualan produksi jamur tiram, bibit tahap F2, dan
baglog jamur tiram selama umur bisnis.
Tabel 10 Jumlah produksi dan nilai penjualan CV. Megah Makmur Sentosa
No.
1.
Jenis Penerimaan
Penjualan Jamur
Tiram Segar
Penjualan Bibit
Jamur F2
Penjualan Baglog
2.
3.
Harga
Jual
(Rp/Kg)
Jumlah Produksi (Kg)
Tahun 1
Tahun 2-5
9.605,50
12.606
4.500,00
2.400,00
Nilai (Rp)
Tahun 1
Tahun 2-5
25.212
121.086.933
242.173.866
3.097
3.716
13.238.250
15.885.900
11.613
13.935
Total Penerimaan
26.476.000
31.772.000
160.801.183
289.831.766
Harga yang ditawarkan perusahaan adalah harga yang berlaku di lokasi
penelitian yaitu Rp 4.500,00 per botol bibit. Untuk itu, perusahaan dapat
memperoleh penerimaan melalui penjualan baglog sebesar Rp 13.238.250,00
pada tahun pertama bisnis dan sebesar Rp 15.885.900,00 pada tahun kedua hingga
kelima selama umur bisnis. Perhitungan penerimaan bibit jamur tiram adalah hasil
pengurangan pendapatan dari penjualan bibit jamur terhadap retur penjualan.
Penjualan bibit jamur memiliki resiko kerusakan bibit sebesar 5 persen, hal itu
berdasarkan penggunaan alat berupa boiler jamur.
Arus penerimaan yang diperoleh selain berasal dari penjualan hasil
budidaya berupa jamur tiram, bibit serta baglog juga didapatkan dari nilai sisa
(salvage value) biaya investasi yang masih ada dan terdapat hingga akhir umur
usaha. Nilai sisa tersebut dapat dimasukkan sebagai manfaat yang diperoleh
perusahaan. Besarnya nilai sisa dihasilkan dari penyusutan pertahun dari
komponen investasi dikali dengan sisa tahun yang belum terpakai selama umur
bisnis. Biaya-biaya investasi yang akan dikeluarkan pada tahun pertama bisnis
masih mempunyai nilai dimasa akhir umur usaha, diantaranya boiler, laptop,
printer, mobil pickup, dan motor. Keseluruhan investasi tersebut memiliki nilai
sisa sebesar Rp 8.946.330,00 pada akhir umur usaha. Adapun rincian nilai sisa
biaya investasi pada usaha jamur tiram putih CV. Megah Makmur Sentosa dapat
dilihat pada Tabel 11.
Tabel 11 Nilai sisa pembangunan kumbung baru CV.Megah Makmur Sentosa
No.
1.
Jenis
Investasi
Boiler
Nilai Beli
(Rp)
3.800.000
Umur
(tahun)
3
2.
Laptop
5.850.000
2
2.425.000
1.000.000
3.
Printer
395.000
2
157.500
80.000
4.
mobil pickup
38.000.000
6
5.744.445
3.533.330
5.
Motor
11.550.000
10
727.700
4.273.000
TOTAL
Penyusutan/Tahun
(Rp)
1.246.667
Nilai Sisa (Rp)
60.000
8.946.330
67
Arus Pengeluaran (Outflow)
Outflow merupakan aliran arus kas yang dikeluarkan oleh suatu usaha.
Rencana usaha jamur tiram putih menghasilkan sejumlah pengeluaran yang
digambarkan melalui arus pengeluaran. Arus pengeluaran tersebut dikelompokkan
menjadi beberapa komponen, diantaranya biaya investasi, biaya reinvestasi, biya
operasional, dan pajak penghasilan.
Biaya Investasi
Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan pada awal periode usaha
untuk pembelian sarana dan prasarana yang mendukung berjalannya usaha yang
akan dilakukan. Rencana investasi perusahaan terdiri dari:
1. Bangunan kumbung dengan kapasitas 30.000 baglog. Pembangunan
kumbung baru akan memakan waktu selama 36 hari, dengan total biaya yang
diperlukan dalam pembangunan sebesar Rp 36.259.500,00. Biaya yang
dikeluarkan memiliki rincian yang tertera pada Tabel 12.
Tabel 12 Biaya pembangunan kumbung baru ukuran 24x15 meter
pada CV. Megah Makmur Sentosa
Jenis
Satuan
Jumlah
Bambu tiang
batang
36
Harga per satuan
(Rp)
20.000
Bambu sedang
batang
223
8.000
1.784.000
Bambu rusuk
batang
365
7.500
2.737.500
Bambu reng
batang
21
12.000
252.000
Bilik
lembar
81
30.000
2.430.000
Karpet
Rol
24
9.000
216.000
Paku
Kg
30
12.000
360.000
Rak
batang
580
10.000
5.800.000
3
600.000
1.800.000
36
560.000
20.160.000
Pembuatan jalan
Tenaga kerja
TOTAL
2.
3.
4.
Rp/hari
Nilai (Rp)
720.000
36.259.500
Bangunan kumbung ukuran 8x10,5 meter kapasitas 14.000 baglog.
Pembangunan kumbung ukuran 8x10,5 meter akan difungsikan sebagai
kumbung penaruhan baglog khusus untuk penjualan jamur. Pembangunan
kumbung ini akan memakan waktu selama 11 hari, dengan total biaya yang
diperlukan dalam pembangunan sebesar Rp 10.193.500,00. Biaya yang
dikeluarkan memiliki rincian yang tertera pada Tabel 13.
Bangunan produksi adalah sebuah bangunan yang digunakan sebagai tempat
produksi media yang akan digunakan dalam menghasilkan jamur tiram putih.
Adapun media yang dimaksud adalah bibit dan baglog jamur. Pembangunan
tempat produksi akan memakan waktu selama 9 hari, total biaya untuk
pembangunan tempat produksi adalah sebesar Rp 12.354.500,00. Biaya yang
dikeluarkan memiliki rincian yang tertera pada Tabel 14.
Saung karyawan adalah sebuah bangunan yang difungsikan sebagai tempat
istirahat karyawan. Pada rencana pembangunan saung karyawan, bangunan
saung karyawan akan memuat kantor dan tempat sholat karyawan, bangunan
68
ini dibangun dengan ukuran 5x5 meter dengan lama pembangunan selama 4
hari. Total investasi untuk pembangunan saung karyawan sebesar Rp
6.730.000,00. Adapun biaya yang dikeluarkan memiliki rincian yang tertera
pada Tabel 15.
Tabel 13 Biaya pembangunan kumbung ukuran 8x10,5 meter
pada CV. Megah Makmur Sentosa
Jenis
Satuan
Jumlah
Bambu tiang
batang
9
Bambu sedang
batang
52
8.000
416.000
Bambu rusuk
batang
85
7.500
637.500
Bambu reng
batang
5
12.000
60.000
Bilik
lembar
19
30.000
570.000
Karpet
Rol
6
9.000
54.000
Paku
Kg
8
12.000
96.000
Rak
batang
152
10.000
1.520.000
1
500.000
500.000
11
560.000
6.160.000
Pembuatan jalan
Biaya tukang
Rp/hari
Harga per satuan
(Rp)
20.000
TOTAL
Nilai
(Rp)
180.000
10.193.500
Tabel 14 Biaya pembangunan tempat produksi ukuran 28x4 meter
pada CV. Megah Makmur Sentosa
Jenis
Satuan
Bambu tiang
batang
Bambu sedang
Bambu rusuk
30
Harga per satuan
(Rp)
20000
batang
80
8000
640.000
batang
165
7500
1.237.500
Bambu reng
batang
80
12000
960.000
Bilik
lembar
45
30000
1.350.000
Karpet
rol
10
9000
90.000
Paku
Kg
15
12000
180.000
Rak
batang
46
10000
460.000
1
800000
800.000
Pembuatan jalan
Jumlah
Nilai
(Rp)
600.000
Sekat :
bata merah
buah
800
440
352.000
Semen
sack
9
55000
495.000
Pasir
mobil
1
150000
150.000
Biaya tukang
Rp/hari
9
560.000
5.040.000
TOTAL
12.354.400
69
Tabel 15 Biaya pembangunan saung karyawan ukuran 5x5 meter
pada CV. Megah Makmur Sentosa
Jenis
Satuan
Jumlah
Bambu tiang
batang
5
Harga per
satuan
(Rp)
20000
Bambu sedang
batang
55
8000
440.000
Bambu rusuk
batang
40
7500
300.000
Bilik
lembar
20
120000
2.400.000
Pelapuh bambu
lembar
35
15000
525.000
Atap kirai
lembar
490
2500
1.225.000
Biaya tukang
Rp/hari
4
560.000
2.240.000
TOTAL
Nilai
(Rp)
100.000
6.730.000
Sewa lahan adalah investasi yang harus dikeluarkan untuk pembangunan
kumbung baru, kumbung khusus penjualan log, bangunan produksi serta
saung karyawan. Biaya sewa lahan yang harus dikeluarkan perhitungan 5
tahun dalam umur bisnis yang akan dijalankan adalah sebesar Rp
15.000.000,00.
6. Boiler sebagai alat untuk sterilisasi baglog maupun bibit jamur. Pembelian
boiler akan membantu dalam proses perebusan yang akan dilakukan
pembuatan media. Harga pembelian steam boiler adalah Rp 3.800.000,00
7. Pembelian troli diperlukan dalam proses pengangkutan baglog ke dalam
kumbung. Kebutuhan troli untuk pengangkutan baglog adalah 1 unit. Troli
yang akan dibeli seharga Rp 350.000,00.
8. Pembelian sekop diperlukan dalam proses pengadukan, sekop yang akan
dibeli untuk investasi alat usaha sebanyak tiga buah dengan harga per unit Rp
25.000,00
9. Semawar adalah kompor yang akan digunakan untuk proses sterilisasi
baglog. Pembelian semawar sebanyak 2 unit dengan harga satuan adalah Rp
85.000,00.
10. Bobot bibit akan digunakan sebagai wadah bibit yang akan dihasilkan. Botol
bibit akan dibeli dari pedagang sekitar yang menjual botol bekas. Pembelian
akan dilakukan sebanyak 4000 botol selama investasi awal. Dengan harga per
botol Rp 350,00.
11. Ember diperlukan untuk wadah penampung air serta sebagai tempat menaruh
hasil panen sementara. Keperluan akan ember adalah sebanyak delapan unit
dengan harga ember Rp 8.500,00 per unit.
12. Mesin pengkabutan yang akan digunakan adalah mesin penyeprot berupa
mist blower, harga total mesin pengkabutan adalah Rp 1.910.000. Mesin
pengkabutan yang digunakan adalah mesin penyeprot berupa mist blower,
harga mesin pengabut adlaah Rp 1.650.000,00. Mesin pengkabutan akan
diaplikasikan penggunaanya menggunakan gerobak yang dapat didorong
serta selang angin untuk penyeprotannya. Adapun biaya pembuatan gerobak
adalah Rp 250.000,00 dengan Selang angin yang digunakan adalah selang
5.
70
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
compressor dengan harga Rp 11.000,00 per meter. Keperluan selang angin
sepanjang 10 meter.
Pompa merk Shimizu Jet-100 BIT, Pompa Semi Jet 125 watt. Daya hisap 11
meter, Kedalaman 15 meter. Keperluan untuk sumur pompa adalah sebanyak
2 buah yang mana sebuah sumur pompa akan di aplikasikan di dalam
kumbung jamur yang kemudian di pararelkan untuk setiap sekatan kumbung,
serta sebuah di tempat produksi. Adapun harga sebuah pompa semi jet adalah
Rp. 580.000,00
Pantek sumur pompa adalah suatu investasi yang dikeluarkan dimana kondisi
air yang berada pada Desa Nyosog adalah air tanah. Biaya pantek adalah Rp
800.000,00. Biaya pantek sumur pompa termasuk bahan-bahan yang
diperlukan untuk pantek seperti paralon, dsb.
Intalasi listrik Proses instalasi listrik pembangunan kumbung baru akan
mengeluarkan biaya sebesar Rp 1.000.000,00.
Bunsen adalah alat yang digunakan untuk sterilisasi botol dan penutup botol
pada proses pembuatan bibit jamur. Harga bunsen adalah Rp 15.000 per unit.
Kebutuhan jumlah bunsen sebanyak 2 buah.
Penggiling jagung sebagai mesin untuk mengolah jagung mentah berukuran
besar menjadi jagung dalam bentuk tepung atau serbuk yang akan digunakan
dalm proses pembuatan bibit jamur. Pembelian mesin penggilingan jagung
diupayakan dapat minimalisasi biaya variabel yang dikeluarkan. Sehingga
perusahaan tidak akan mengeluarkan biaya untuk pembelian tepung jagung
yang jauh lebih mahal dari jagung mentah. Harga mesin jagung adalah Rp
120.000,00.
Spatula sebagai alat untuk mengaduk jamur yang diperlukan dalam proses
pembibitan. Pembelian sebagai investasi awal sebanyak tiga unit dengan
harga Rp 8.000 per unit. Spatula dengan material stainless stell. Dengan
ukuran panjang 150 mm dan lebar/diameter 6 mm. Pembelian spatula juga
dapat dilakukan di toko perlengkapan dan alat labolatorium.
Selang gas akan mengalirkan gas dari tabung gas LPG ke semawar.
Pembelian selang gas adalah sebanyak 2 meter dengan harga per meter adalah
Rp 20.000,00.
Selang air diperlukan dalam proses penyiraman. Pembelian selang sepanjang
25 meter dengan harga Rp 8.000 per meter.
Timbangan besar yang akan digunakan dibeli dari toko alat-alat rumah tangga
dengan spesifikasi timbangan besar dengan merek Non Hoa – Vietnam
dengan skala 10 kilogram. Harga timbangan besar adalah Rp 250.000,00 per
unit. Keperluan jumlah timbangan besar adalah sebanyak 2 unit.
Timbangan kecil dengan merek Tanita dengan skala 2 kilogram, harga
timbangan adalah Rp 150.000. Keperluan jumlah timbangan kecil sebanyak 1
unit.
Laptop akan digunakan dalam merangkum kinerja perusahaan. Kinerja
perusahaan akan direkap dalam pembukuan per harian, per priode, hingga per
tahun selama umur usaha. Adapun harga pembelian laptop adalh Rp
5.850.000,00.
Printer sebagai alat untuk mencetak tulisan dan gambar. Keperluan printer
akan dibeli perusahaan dengan harga Rp 395.000,00
71
Tabel 16 Biaya investasi pembangunan kumbung baru CV.Megah
Makmur Sentosa
No.
Uraian
1
Set
36.259.500
1
36.259.500
5
Set
10.193.500
1
10.193.500
5
3
Bangunan Kumbung
(24x15 m)
Bangunan Kumbung
(8x10,5 m)
Tempat produksi
Set
12.354.500
1
12.354.500
5
4
Saung Karyawan
Set
6.730.000
1
6.730.000
5
5
Sewa dibayar dimuka
Tahun
3.000.000
5
15.000.000
5
6
Boiler
Unit
3.800.000
1
3.800.000
3
7
Troli
Unit
350.000
1
350.000
5
8
Sekop
Unit
25.000
3
75.000
2
2
Satuan
Harga/satuan
(Rp)
Jumlah
Nilai (Rp)
Umur
(tahun)
9
Semawar
Unit
85.000
2
170.000
2
10
Botol bibit
Unit
350
4000
1.400.000
2
11
Ember
Unit
8.500
8
68.000
2
12
Mesin pengkabutan
Unit
1.910.000
1
1.910.000
2
13
Sumur pompa
unit
580.000
2
1.160.000
10
14
Pantek Sumur pompa
Set
800.000
2
1.600.000
5
15
Instalasi listrik
Set
1.000.000
1
1.000.000
10
16
Bunsen
Unit
15.000
2
30.000
2
17
Penggiling jagung
Unit
120.000
1
120.000
2
18
Spatula
Unit
8.000
3
24.000
2
19
Selang gas
Unit
20.000
2
40.000
2
20
Selang air
Meter
8.000
25
200.000
2
21
Timbangan besar
Unit
250.000
2
500.000
5
22
Timbangan kecil
Unit
150.000
1
150.000
5
23
Laptop
Unit
5.850.000
1
5.850.000
2
24
Printer
Unit
395.000
1
395.000
2
25
Mobil pickup
Unit
38.000.000
1
38.000.000
6
26
Motor
Unit
11.550.000
1
11.550.000
10
27
Meja
Unit
269.990
1
269.990
2
28
Kursi
Unit
329.990
1
329.990
2
TOTAL
149.529.480
25. Mobil pick up akan digunakan sebagai alat transportasi pengantaran berbagai
produk yang dihasilkan. penjualan jamur dalam jumlah besar, baglog jamur
serta bibit memerlukan mobil dalam memumendukung kemudahan distribusi.
Serta pembelian bahan baku juga memerlukan mobil. Pembelian mobil pick
up dilakukan secara second dengan merk Suzuki Carry Futura tahun 2004
dengan biaya pembelian adalah Rp 38.000.000,00.
26. Motor adalah alat transportasi yang akan digunakan dalam memudahkan
pengambilan hasil produksi jamur dari kumbung, pembelian motor dilakukan
dengan harga Rp 11.550.000,00.
72
27. Meja akan dibeli perusahaan untuk digunakan di kantor sebagai tempat untuk
menaruh peralatan perusahaan. Sebuah buah meja yang akan dibelidengan
harga pembelian adalah Rp 269.990,00.
28. Kursi akan digunakan sebagai tempat duduk pasangan meja besar. Harga
pembelian kursi adalah sebear Rp 329.990,00.
Rincian biaya investasi pembangunan kumbung baru oleh tertera pada
Tabel 16.
Biaya Reinvestasi
Peralatan investasi yang telah habis masa ekonomisnya sebelum umur
usaha berakhir harus diganti dengan membeli peralatan yang baru. Biaya yang
harus dikeluarkan dalam membeli peralatan investasi tersebut dinamakan biaya
reinvestasi. Biaya reinvestasi memiliki nilai yang berbeda-beda setiap tahunnya,
bergantung pada banyaknya peralatan yang perlu diperbaharui (Tabel 17)
Tabel 17 Biaya reinvestasi CV. Megah Makmur Sentosa
Tahun
ke3
4
5
Peralatan yang akan di ganti
Sekop, semawar, botol bibit, ember, bunsen,
penggiling jagung, spatula, selang gas, selang air,
laptop, printer, meja, kursi
Boiler
Sekop, semawar, botol bibit, ember, bunsen,
penggiling jagung, spatula, selang gas, selang air,
laptop, printer, meja, kursi
Nilai reinvestasi
(Rp)
8.971.980
3.800.000
8.971.980
Biaya Operasional
Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan secara berkala
selama usaha berjalan, dimana penggunaanya yang sangat penting dalam
menunjang kegiatan operasional suatu usaha. Biaya operasional akan dikeluarkan
setiap tahun selama umur usaha. Biaya operasional terdiri atas biaya tetap dan
biaya variabel.
Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang memiliki nilai yang sama sepanjang umur
usaha yang ditetapkan, biaya tetap besarnya tidak diperngaruhi oleh jumlah
produksi. Rencana pembangunan kumbung baru akan mengeluarkan biaya tetap
yang terdiri atas biaya sewa lahan, pembayaran gaji karyawan, uang makan kepala
bagian dan karyawan, biaya komunikasi, biaya listrik, biaya pemeliharaan, dan
pembelian peralatan produksi.
Total biaya tetap yang harus dikeluarkan pada tahun pertama bisnis adalah
sebesar Rp 70.608.200,00 sedangkan pada tahun kedua hingga kelima adalah
sebesar Rp 84.432.200,00. Rincian biaya tetap yang akan dikeluarkan CV. MMS
pada pembangunan kumbung dapat dilihat sebgaai berikut:
1. Biaya sewa lahan pada pembangunan kumbung baru yang akan dilakukan
adalah sewa lahan yang akan digunakan untuk pembangunan tempat
produksi, saung karyawan serta kumbung. Sewa akan dilakukan di lokasi
73
Desa Nyosog, Bekasi. Besar sewa lahan tersebut adalah Rp 3.000.000,00 per
tahun.
Tenaga kerja tetap yang akan terlibat dalam usaha budidaya jamur berjumlah
7 orang. Tenaga kerja tetap mencakup kepala bagian, tenaga kerja bagian
logistik, bagian bibit, bagian kumbung, bagian pemasaran dan keuangan.
Tenaga kerja ini tidak terpengaruh terhadap naik atau turunnya volume
produksi, juga mendapatkan gaji yang tetap tiap bulan selama satu tahun.
Tenaga kerja tetap yang akan mengeluarkan pembayaran untuk gaji tenaga
kerja tetap berdasarkan jenis pekerjaan, jumlah dan gaji yang diberikan
setiap bulan tertera pada Tabel 18.
Tabel 18 Rincian gaji karyawan CV. Megah Makmur Sentosa
Jenis Pekerjaan
Kepala Bagian
TK logistik
TK Bibit
TK Kumbung
TK Pemasaran dan Keuangan
Total gaji Karyawan per Bulan
2.
Jumlah
(Orang)
1
1
1
3
1
Gaji Per
Orang (Rp)
1.400.000
350.000
730.000
780.000
300.000
Gaji per Divisi
(Rp)
1.400.000
350.000
730.000
2.340.000
300.000
5.120.000
Uang makan karyawan akan diberikan selama hari kerja, yaitu selama 26 hari
selama sebulan dimana hari minggu adalah hari libur. Namun, untuk tenaga
kerja di bagian pemasaran dan keuangan, uang makan akan diberikan selama
sebulan penuh, hal ini dikarenakan pekerja akan tetap bekerja pada hari libur
seperti hari minggu dimana panen tetap dilakukan maka pemasaran akan tetap
dilakukan setiap hari. Pemberian uang makan karyawan diupayakan dapat
memberikan kenyamanan bagi karyawan dalam melaksanakan kerjanya.
Uang makan perhari untuk kepala bagian adalah sebesar Rp 10.000,00. Uang
makan perhari bagi setiap karyawan adalah sama, adapun jumlah seluruh
tenaga kerja tetap berjumlah 6 orang, dimana setiap pekerja akan
mendapatkan uang makan sebesar Rp 7.000,00. Oleh karena itu, pengeluaran
terhadap uang makan karyawan pada tahun pertama bisnis atau sepuluh bulan
operasi adalah Rp 13.800.000,00. Sedangkan pada tahun kedua hingga kelima
adalah Rp 16.560.000,00.
3. Biaya komunikasi yang akan dikeluarkan dalam kegiatan operasionalnya pada
tahun pertama atau sepuluh bulan operasi adalah Rp 440.000,00 sedangkan
pada tahun kedua hingga kelima bisnis adalah Rp. 528.000,00. hal ini
berdasarkan asumsi pengeluaran komunikasi per bulan sebesar Rp 44.000,00.
Pengeluaran biaya komunikasi yang dimaksud adalah biaya pembelian pulsa
telepon, hal itu dimungkinkan untuk mempermudah koordinasi antar kepala
bagian dengan karyawannya.
4. Biaya listrik yang akan dikeluarkan adalah sebesar Rp 15.000,00 per bulan.
Pengeluaran biaya listrik pada tahun pertama operasi adalah Rp 150.000,00.
Dengan demikian, pengeluaran listrik pada tahun kedua hingga kelima bisnis
adalah sebesar Rp 180.000,Ringkasan biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan dalam pembangunan
kumbung baru dapat dilihat pada Tabel 19.
74
Tabel 19 Biaya tetap usaha jamur tiram putih CV. Megah Makmur Sentosa
No.
Uraian
Satuan
1.
Biaya Sewa Lahan
Tahun
2.
Gaji:
Gaji Kepala Bagian
1
Total
(Tahun
1/10
Bulan)
3.000.000
3.000.000
1
1
14.000.000
16.800.000
730.000
1
1
7.300.000
8.760.000
Orang/bulan
780.000
3
3
23.400.000
28.080.000
Gaji Staff Pemasaran dan
Keuangan
Gaji Staff logistik
Orang/bulan
300.000
1
1
3.000.000
3.600.000
Orang/bulan
350.000
1
1
3.500.000
4.200.000
Uang makan kepala bagian
Orang/bulan
10.000
1
1
2.600.000
3.120.000
Uang makan karyawan
Orang/bulan
7.000
6
6
11.200.000
13.440.000
4.
Biaya Komunikasi
Bulan
44.000
10
12
440.000
528.000
5.
Biaya Listrik
Bulan
15.000
10
12
150.000
180.000
6.
Biaya pemeliharaan
Bulan
30.000
10
12
300.000
360.000
Bulan
30.000
0
12
0
360.000
Bulan
120.000
10
12
1.200.000
1.440.000
7.
Pembelian oli (untuk
kumbung)
Pembelian oli (untuk service
motor)
Pembelian oli (untuk service
mobil)
Biaya kebersihan
Bulan
24.000
10
12
240.000
288.000
8.
Peralatan Produksi:
Masker
Buah
5.000
20
20
100.000
100.000
Saringan plastik
Buah
3.500
2
2
7.000
7.000
Saringan alumunium
Buah
25.000
2
2
50.000
50.000
Gunting
Buah
7.000
4
4
28.000
28.000
Cutter
Buah
3.800
4
4
15.200
15.200
Sapu lidi
Buah
12.000
2
2
24.000
24.000
Sapu Ijuk
Buah
27.000
2
2
54.000
54.000
70.608.200
84.434.200
3.
Volume
(Tahun
2-5)
3.000.000
Volume
(Tahun
1/10
Bulan)
1
Orang/bulan
1.400.000
Gaji TK Bibit
Orang/bulan
Gaji TK Kumbung
TOTAL BIAYA TETAP
5.
Harga
(Rp)
Biaya pemeliharaan akan dikeluarkan untuk melakukan perawatan terhadap
kumbung dan alat transportasi. Pemeliharaan terhadap kumbung bertujuan
untuk menjaga kontuinuitas produksi. Pemeliharaan terhadap kumbung
dilakukan dengan memberikan pelumas pada bambu, hal itu merupakan salah
satu tindakan preventif dimana rayap mudah masuk pada bambu-bambu dan
memakannya. Biaya pemeliharaan terhadap kumbung adalah sebesar Rp
30.000,00 selama sebulan dilakukan untuk membeli oli. Beberapa alat
transportasi juga membutuhkan pemeliharaan setiap bulan. Pemeliharaan
terhadap motor adalah untuk biaya pergantian oli motor sebesar 1 botol
selama sebulan yaitu sebesar Rp 30.000,00. Biaya pemeliharaan terhadap
motor akan dimulai pada tahun ke tiga, hal itu dikarenakan tahun pertama dan
Total
(Tahun
2-5)
75
6.
7.
kedua motor mendapatkan biaya pemeliharaan gratis. Pemeliharaan terhadap
mobil adalah untuk biaya pergantian oli mobil sebesar 4 botol selama sebulan
yaitu sebesar Rp 120.000,00. Sehingga, pengeluaran untuk pemeliharaan
yang akan dikeluarkan oleh CV. MMS pada tahun pertama operasi sebesar
Rp 1.500.000,00, tahun kedua adalah Rp 1.800.000,00 dan tahun ketiga
hingga kelima adalah Rp 2.160.000,00
Biaya kebersihan dialokasikan dalam menghasilkan peralatan produksi yang
tetap terjaga dan awet. Biaya kebersihan yang akan dikeluarkan pembelian
sunlight untuk mencuci botol bibit setelah digunakan dan peralatan lainnya
yaitu sebesar Rp 24.000,00. Total biaya kebersihan pada tahun pertama
operasi adalah Rp 240.000 dan pada tahun kedua hingga adalah Rp
288.000,00.
Peralatan produksi yang diperlukan untuk melakukan proses produksi jamur
tiram diantaranya saringan, masker, cutter, gunting, sapu ijuk, sapu lidi. Umur
ekonomis peralatan produksi tersebut adalah satu tahun, maka dari itu
dimasukkan ke dalam komponen biaya tetap. Sehingga, pengeluaran
perusahaan untuk mendanai peralatan produksi adalah sebesar Rp 278.200,00
pertahun.
Biaya Variabel
Biaya variabel adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh suatu usaha
yang besarnya ditentukan oleh volume produksi yang dihasilkan. Terdapat
beberapa komponen biaya variabel yang akan dikeluarkan perusahaan, meliputi
biaya untuk bahan baku loging seperti serbuk gergaji, bekatul, kapur (CaCo3),
gypsum, pupuk NPK, tetes tebu, bibit F2, plastik log. Biaya variabel lain adalah
plastik kemas, gas LPG, upah tenaga kerja inokulasi, pengemasan dan bongkar
pasang, biaya untuk bahan baku F2 meliputi serbuk gergaji, jagung, kapur
(CaCO3), bekatul dan bibit F1, biaya pembelian botol bibit, alkohol, spirtus dan
biaya transportasi.
Berikut adalah rincian biaya variabel yang akan dikeluarkan perusahaan
ketika membangun kumbung baru :
1. Bahan baku yang diperlukan dalam memproduksi baglog jamur tiram adalah :
a. Serbuk gergaji diperlukan sebanyak 10 karung untuk sekali pengadukan.
Pengadukan dilakukan sebanyak 130 kali pada tahun pertama dan
sebanyak 231 kali pada tahun kedua hingga kelima. Sehingga dibutuhkan
sebanyak 1300 karung serbuk gergaji pada tahun pertama operasi dan
sebanyak 2.310 karung serbuk gergaji. Harga per karung serbuk gergaji
adalah Rp 3.000,00. Dengan demikian, total pengeluaran untuk serbuk
gergaji pada tahun pertama operasi adalah Rp 3.900.000,00 dan pada
tahun kedua hingga kelima adalah Rp 6.930.000,00.
b. Bekatul yang diperlukan untuk sekali proses pengadukan adalah sebanyak
20 kilogram. Pengadukan dilakukan sebanyak 130 kali pada tahun
pertama dan sebanyak 231 kali pada tahun kedua hingga kelima.
Sehingga dibutuhkan sebanyak 2.600 kg bekatul pada tahun pertama
operasi dan sebanyak 4.620 kg bekatul. Dengan harga bekatul Rp
3.000,00 per kilogram nya. Untuk itu, perusahan akan mengeluarkan
biaya sebesar Rp 7.800.000,00 pada tahun pertama operasi dan Rp
13.860.000,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
76
c. Dalam proses pengadukan, juga diperlukan kapur (CaCO3). Sekali
pengadukan akan membutuhkan 2 kilogram CaCO3. Pengadukan
dilakukan sebanyak 130 kali pada tahun pertama dan sebanyak 231 kali
pada tahun kedua hingga kelima. Sehingga dibutuhkan sebanyak 260 kg
CaCO3 pada tahun pertama operasi dan sebanyak 462 kg CaCO3. Harga
per kilogram CaCO3 adalah Rp 1.000,00. Dengan itu, pengeluaran
perusahaan untuk bahan baku kapur sebesar Rp 260.000,00 pada tahun
pertama operasi dan Rp 462.000,00 pada tahun kedua hingga kelima
bisnis.
d. Gypsum adalah bahan baku yang dibutuhkan untuk proses pengadukan.
Jumlah gypsum yang dibutuhkan adalah 1 kilogram per sekali adukan.
Pengadukan dilakukan sebanyak 130 kali pada tahun pertama dan
sebanyak 231 kali pada tahun kedua hingga kelima. Sehingga dibutuhkan
sebanyak 130 kg gypsum pada tahun pertama operasi dan sebanyak 231
kg gypsum. Harga gypsum per kilogram yang ditawarkan adalah Rp
3.500,00. Oleh karena itu, pengadaan bahan baku gypsum membutuhkan
biaya sebesar Rp 455.000,00 pada tahun pertama operasi dan Rp
808.500,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
e. Pupuk NPK diperlukan dalam proses loging. Kebutuhan jumlah NPK
dalam 1 kali pengadukan adalah sebanyak 100 gram. Pengadukan
dilakukan sebanyak 130 kali pada tahun pertama dan sebanyak 231 kali
pada tahun kedua hingga kelima. Sehingga dibutuhkan sebanyak 13 kg
pupuk NPK pada tahun pertama operasi dan sebanyak 23,1 kg pupuk
NPK pada tahun kedua hingga kelima . Harga per kilogram pupuk NPK
adalah Rp 15.000,00. Maka, total biaya variabel untuk penggunaan pupuk
NPK sebesar Rp 195.000,00 pada tahun pertama operasi dan Rp
346.500,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
f. Tetes tebu dibutuhkan untuk proses loging. Jumlah kebutuhan tetes tebu
adalah sebanyak 250 ml per sekali adukan. Pengadukan dilakukan
sebanyak 130 kali pada tahun pertama dan sebanyak 231 kali pada tahun
kedua hingga kelima. Sehingga dibutuhkan sebanyak 32,5 liter tetes tebu
pada tahun pertama operasi dan sebanyak 57,75 liter pada tahun kedua
hingga kelima. Harga tetes tebu per liter yang ditawarkan adalah Rp Rp
20.000,00. Oleh karena itu, pengadaan bahan baku berupa tetes tebu
membutuhkan biaya sebesar Rp 650.000,00 pada tahun pertama operasi
dan Rp 1.155.000,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
g. Media log membutuhkan bibit F2 pada proses pembuatannya. Kebutuhan
jumlah bibit F2 sesuai dengan jumlah turunan yang mampu dihasilkan
untuk setiap botol bibit F2. Pada tahun pertama produksi, perusahaan
akan memproduksi sebanyak 41.613 baglog sedangkan pada tahun kedua
hingga kelima adalah sebanyak 73.935 baglog. Satu botol bibit F2 dapat
digunakan untuk menghasilkan 15 botol bibit F2. Oleh karena itu, jumlah
kebutuhan bibit pada tahun pertama adalah sebanyak 2.774 botol F2 dan
sebanyak 4.929 botol F2 pada tahun kedua hingga kelima. Harga yang
ditawarkan per botol bibit F1 adalah Rp 4.000. Maka, total pengeluaran
dalam hal pembelian bibit F1 pada tahun pertama operasi adalah Rp
11.096.000,00 dan Rp 19.716.000,00 pada tahun kedua hingga kelima
bisnis.
77
2.
3.
4.
5.
h. Plastik loging yang diperlukan dalam pembungkusan media baglog
adalah sebanyak 208 kg pada tahun pertama operasi dan sebanyak 370 kg
pada tahun kedua hingga kelima. Hal ini sesuai dengan jumlah kebutuhan
produksi log yang akan dihasikan pada tahun pertama yaitu sebesar
41.613 log pada tahun pertama dan sebanyak 13.935 log pada tahun
kedua hingga kelima. Satu kilogram plastik loging (PE 0,0002) terdiri atas
200 lembar. Dengan harga plastik Rp 23.000 per kilogram. Maka
pengeluaran akan plastik adalah sebesar Rp 4.784.000,00 pada tahun
pertama dan Rp 8.510.000,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
Plastik kemas yang dibutuhkan untuk mengemas jamur tiram putih segar
yang siap dipasarkan atau dibeli konsumen adalah sebanyak 18 lembar per
hari. Kebutuhan jumlah plastik kemas sesuai dengan jumlah produksi jamur
tiram putih segar yaitu sebanyak 12.606 kg per periode, dimana satu periode
adalah selama enam bulan. Setiap lembar plastik kemas mampu menampung
sebanyak 4 kg jamur tiram putih. Untuk itu keperluan jumlah plastik kemas
pada tahun pertama produksi adalah sebanyak 81 kg dan sebanyak 162 kg
pada tahun kedua hingga kelima. Adapun harga plastik kemas adalah Rp
23.000,00 per kilogram. Untuk itu, pengeluaran untuk plastik kemas sebesar
Rp 1.863.000,00 kg pada tahun pertama operasi dan Rp 3.762.000,00 pada
tahun kedua hingga kelima bisnis.
Gas LPG yang diperlukan dalam produksi baglog jamur per hari produksi
adalah 2 tabung gas. Untuk setahun, perusahaan akan membutuhkan 260
tabung. Dimana produksi sterilisasi akan dilakukan sebanyak pengadukan
yang dilakukan yaitu sebanyak 130 kali pengadukan pada tahun pertama dan
sebanyak 231 pengadukan pada tahun kedua hingga kelima bisnis. Dengan
harga gas Rp 16.000 per tabung LPG. Maka pengeluaran dalam pengadaan
gas adalah Rp 4.160.000,00 serta Rp 7.392.000,00 pada tahun kedua hingga
kelima bisnis.
Tenaga kerja borongan yang diperlukan untuk proes pengadukan adalah
sejumlah 4 orang. Tenaga kerja borongan akan dialokasikan untuk tiap-tiap
pembangian kerja produksi, diantaranya tenaga kerja inokulasi, pengemasan,
dan bongkar pasang. Tiap orang akan diberi upah sebesar Rp 80,00 per satu
kali inokulasi media log, upah sebesar Rp 80,00 per satu kali pengemasan
baglog, dan upah sebesar Rp 60,00 untuk satu kali bongkar-pasang baglog ke
mesin sterilisasi. Banyaknya baglog yang akan diproduksi sesuai dengan
jumlah baglog untuk pemenuhan jumlah kapasitas kumbung ditambah dengan
jumlah baglog untuk dijual, yaitu sebanyak 41.613 log pada tahun pertama
dan sebanyak 73.935 log untuk tahun kedua hingga kelima. Oleh karena itu,
total pengeluaran pada tahun pertama dalam hal upah tenaga kerja inokulasi
adalah Rp. 3.329.040,00, sebesar Rp 3.329.040,00 untuk upah tenaga kerja
pengemasan, dan sebesar RP 2.496.780,00 untuk upah tenaga kerja bongkar
pasang. Sedangkan total pengeluaran CV.MMS pada tahun pertama dalam
hal upah tenaga kerja inokulasi adalah Rp. 5.914.800,00, sebesar Rp
5.914.800,00 untuk upah tenaga kerja pengemasan, dan sebesar RP
4.436.100,00 untuk upah tenaga kerja bongkar pasang.
Terkait pembuatan bibit yang diusahakan perusahaan, maka diperlukan bahan
baku seperti berikut :
78
a.
6.
Jagung adalah bahan baku utama dalam menghasilkan bibit tahap F2,
kebutuhan bibit selama proses produksi akan memerlukan sebanyak 1
kilogram jagung setiap satu kali pengadukan. Dalam pembuatan bibit F2,
perusahaan melakukan 44 kali pengadukan pada tahun pertama dan 58
kali pengadukan pada tahun kedua hingga kelima, hal itu berdasar jumlah
produksi bibit yang akan digunakan untuk bahan baku media log
ditambah bibit untuk penjualan. atau sebanyak 26 kilogram setiap bulan
dan 312 kilogram dalam setahun. Dimana 1 kali pengadukan akan
menghasilkan 150 botol bibit dengan kebutuhan jumlah bahan baku yang
disesuaikan. Harga pembelian jagung perkilogram di pasar mencapai Rp
7.000,00. Hal ini berarti pengeluaran dalam pembelian jagung pada tahun
pertama operasi adalah Rp 308.000,00 dan Rp 406.000,00 pada tahun
kedua hingga kelima bisnis.
b. Kebutuhan jumlah serbuk gergaji pada pembuatan bibit F2 mencapai 5
kg per satu kali pengadukan. Dalam pembuatan bibit F2, perusahaan
melakukan 44 kali pengadukan pada tahun pertama dan 58 kali
pengadukan pada tahun kedua hingga kelima. Harga serbuk gergaji yang
ditawarkan adalah Rp 3.000,00. Sehingga pengeluaran dalam hal serbuk
gergaji sebesar Rp 660.000,00 pada tahun pertama operasi dan Rp
870.000,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
c. Kapur (CaCO3) diperlukan untuk memproduksi bibit tahap F2.
Kebutuhan jumlah CaCO3 per satu kali pengadukan sebanyak 0,3 kg.
Dalam pembuatan bibit F2, perusahaan melakukan 44 kali pengadukan
pada tahun pertama atau sebanyak 13,2 kg CaCO3 dan 58 kali
pengadukan pada tahun kedua hingga kelima atau sebanyak 17,4 kg
CaCO3. Harga perkilogram CaCO3 adalah RP 1.000,00. Sehingga total
pengeluaran terkait penggunaan kapur (CaCO3) adalah Rp 13.200,00
pada tahun pertama operasi dan Rp 17.400,00 pada tahun kedua hingga
kelima bisnis.
d. Bekatul diperlukan untuk pembuatan bibit tahap F2. Kperluan jumlah
bekatul untuk satu kali pengadukan adalah sebnayak 0,5 kg. Dalam
pembuatan bibit F2, perusahaan melakukan 44 kali pengadukan pada
tahun pertama atau sebanyak 22 kg bekatul dan 58 kali pengadukan pada
tahun kedua hingga kelima atau sebanyak 29 kg bekatul. Oleh karena itu,
total pengeluaran dalam pembelian bekatul adalah Rp 66.000,00 pada
tahun pertama operasi dan Rp 87.000,00 pada tahun kedua hingga kelima
bisnis.
Media F2 membutuhkan bibit F1 pada proses pembuatannya. Kebutuhan
jumlah bibit F1 sesuai dengan jumlah turunan yang mampu dihasilkan untuk
setiap botol bibit F1. Pada tahun pertama produksi, perusahaan akan
memproduksi sebanyak 6.940 botol bibit sedangkan pada tahun kedua hingga
kelima adalah sebanyak 8.645 botol bibit. Satu botol bibit F1 dapat digunakan
untuk menghasilkan 20 botol bibit F2. Oleh karena itu, jumlah kebutuhan
bibit pada tahun pertama adalah sebanyak 325 botol F1 dan sebanyak 433
botol F1 pada tahun kedua hingga kelima. Harga yang ditawarkan per botol
bibit F1 adalah Rp 23.000. Maka, total pengeluaran CV. MMS dalam hal
pembelian bibit F1 pada tahun pertama operasi adalah Rp 7.475.000,00 dan
Rp 9.959.000,00 pad atahun kedua hingga kelima bisnis. Botol bibit adalah
79
wadah yang diperlukan untuk menampung bibit yang dihasilkan. Perusahaan
akan memerlukan sejumlah 3.097 botol pada tahun pertama dan sebnayak
3.716 botol bibit pada tahun kedua hingga kelima bisnis. Kebutuhan jumlah
botol bibit sesuai dengan produksi yang akan dihasilkan terkait target
penjualan bibit pada setiap tahunnya. Harga pembelian botol adalah Rp
350,00 per botol bibit. Maka, perusahaan akan mengeluarkan sejumlah Rp
1.083.950,00 untuk pembelian botol bibit pada tahun pertama operasi dan
sejumlah Rp 1.300.600,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
Rincian mengenai biaya variabel yang akan dikeluarkan oleh perusahaan
dalam pembangunan kumbung baru dapat dilihat pada tabel 20.
Tabel 20 Biaya variabel CV.Megah Makmur Sentosa
No.
1.
Uraian
Bahan Baku
Loging:
Serbuk gergaji
Satuan
Harga
(Rp)
Volume
(Tahun1/
10 Bulan)
Volume
(Tahun
2-5)
Total Rp
(Tahun 1/10
Bulan)
Total Rp
(Tahun
2-5)
Karung
3000
1300
2310
3.900.000
6.930.000
Bekatul
Kg
3000
2600
4620
7.800.000
13.860.000
Kapur (CaCO3)
Kg
1000
260
462
260.000
462.000
Gypsum
Kg
3500
130
231
455.000
808.500
Pupuk NPK
Kg
15000
13
23,1
195.000
346.500
Tetes tebu
Liter
20000
32,5
57,75
650.000
1.155.000
Bibit F2
Botol
4000
2774
4929
11.096.000
19.716.000
Plastik Log
Kg
23000
208
370
4.784.000
8.510.000
2.
Plastik kemas
Kg
23000
81
162
1.863.000
3.726.000
3.
Gas LPG
Tabung
16000
260
462
4.160.000
7.392.000
4.
Upah TK inokulasi
Rp/baglog
80
41613
73935
3.329.040
5.914.800
Upah TK
pengemasan
Upah TK bongkarpasang
Bahan Baku bibit
F2:
Serbuk gergaji
Rp/baglog
80
41613
73935
3.329.040
5.914.800
Rp/baglog
60
41613
73935
2.496.780
4.436.100
Kg
3000
220
290
660.000
870.000
Jagung menir
Kg
7000
44
58
308.000
406.000
Kapur (CaCO3)
Kg
1000
13,2
17,4
13.200
17.400
Bekatul
Kg
3000
22
29
66.000
87.000
Bibit F1
Botol
23000
325
433
7.475.000
9.959.000
6.
Botol bibit
Botol
350
3097
3716
1.083.950
1.300.600
7.
Alkohol
Liter
26000
11
12
286.000
312.000
8.
Spirtus
Liter
14000
33
36
462.000
504.000
9.
Biaya transportasi
Rp/liter
4500
990
1080
4.455.000
4.860.000
59.127.010
97.487.700
5.
TOTAL
7.
Alkohol adalah bahan baku yang diperlukan agar pembibitan dapat dilakukan
secara steril dan tidak terkontaminasi dengan apapun. Kebutuhan alkohol
80
8.
9.
sebanyak 1 liter per bulan, yakni sejumlah 11 liter pada tahun pertama bisnis
dan sejumlah 12 liter pada tahun kedua hingga kelima. Harga alkohol 70
persen adalah Rp 26.000,00 per liter. Sehingga total pengeluaran terkait
alkohol selama tahun pertama operasi adalah Rp 286.000,00 pada tahun
pertama dan Rp 312.000,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
Spirtus yang diperlukan untuk menunjang proses sterilisasi adalah sejumlah 3
liter per bulan. Sehingga dalam setahun perusahaan akan memerlukan
sebanyak 33 liter pada tahun pertama dan sebanyak 36 liter spirtus pada tahun
kedua hingga kelima. Pengeluaran untuk spirtus per liter adalah Rp
14.000,00. Untuk itu, selama setahun pertama operasi, perusahaan akan
mengeluarkan biaya sebesar Rp 462.000,00 dan sebesar Rp 504.000,00 pada
tahun kedua hingga kelima bisnis untuk pembelian spirtus.
Biaya transportasi yang akan dikeluarkan perusahaan adalah pembelian
bensin. Terdapat dua alat angkut yang akan digunakan, yaitu mobil dan
motor. Dengan biaya per liter bensin adalah Rp 4.500/liter. Pengeluaran
dibudgetkan untuk membeli bensin motor sebesar 1 liter perhari, dan untuk
bensin mobil sebesar 2 liter per hari. Total kebutuhan jumlah bensin pda
tahun pertama mencapai 990 liter dan 1080 liter pda tahun kedua hingga
kelima bisnis. Dengan demikian total pengeluaran perusahaan terkait dengan
biaya transportasi adalah Rp 4.455.000,00 pad atahun pertama bisnis dan Rp
4.860.000,00 pada tahun kedua hingga kelima bisnis.
Pajak Penghasilan
Pajak penghasilan adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh suatu
perusahaan selama umur usaha dengan jumlah yang terhitung dari laba bersih
yang diperoleh perusahaan pada setiap tahun usaha.
Berdasarkan ketetapan tentang pajak penghasilan yang terdapat pada
Undang-Undang republik Indonesia No 36 tahun 2008, pasal 17 ayat 2a, atas
perubahan ke empat pada Undang-Undang No 7 tahun 1983, bahwa : Tarif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b menjadi 25 persen mulai berlaku
sejak tahun pajak 2010. Berdasarkan analisis laba rugi diperoleh bahwa pada
tahun pertama usaha budidaya jamur perusahaan menghasilkan laba yang bernilai
positif, sehingga pajak penghasilan sudah dikenakan mulai pada tahun pertama.
Tabel 21 menunjukkan nilai pajak yang dikenakan kepada perusahaan selama
umur usaha.
Tabel 21 Pajak penghasilan CV. Megah Makmur Sentosa (dalam Rp)
Tahun
EBT
Nilai Pajak
1
5.175.671
1.293.918
2
82.379.564
20.594.891
3
82.019.564
20.504.891
4
82.019.564
20.504.891
5
82.019.564
20.504.891
81
Analisis Laba Rugi
Analisis laba rugi diperlukan untuk mengetahui perkembangan usaha
selama kurun waktu tertentu. Proyeksi laba rugi disusun oleh data-data
pendapatan dan biaya. Dalam analisis laba rugi usaha, pendapatan diperoleh dari
penerimaan dan nilai sisa investasi, sedangkan komponen biaya disusun oleh
biaya tetap, biaya variabel, dan pajak penghasilan Umar (2007). Selanjutnya,
perhitungan laba rugi usaha dimulai dengan mengurangi jumlah seluruh
penerimaan dengan total biaya tetap dan biaya variabel setiap tahunnya. Dari
perhitungan tersebut akan diperoleh nilai penerimaan sebelum bunga dan pajak
(EBIT) atau laba kotor yang kemudian dikurangi dengan biaya bunga sehingga
didapatkan penerimaan sebelum pajak atau laba bersih sebelum pajak (EBT).
Sebagai langkah akhir, dilakukan pengurangan terhadap EBT dengan pajak
penghasilan untuk setiap EBT yang bernilai positif atau memperoleh keuntungan.
Sehingga, akan diperoleh nilai penerimaan setelah pajak atau laba atau rugi usaha.
Pada perhitungan laba rugi, perusahaan akan sudah memperoleh laba
positif pada tahun pertama usaha hingga sepanjang umur bisnis. Tabel 22
menunjukkan rincian laba bersih yang diperoleh perusahaan selama umur usaha.
Tabel 22 Laba bersih usaha jamur tiram putih CV. Megah
Makmur Sentosa (dalam Rp)
Tahun
Laba Bersih
1
3.881.753
2
61.784.673
3
61.514.673
4
61.514.673
5
61.514.673
Rata-rata
50.042.089
Berdasarkan laba bersih yang dihasilkan, maka perusahaan akan
memperoleh laba bersih positif mulai tahun pertama bisnis. Perolehan laba adalah
konstan mulai tahun ketiga hingga kelima yaitu sebesar Rp 61.514.673,00, dan
menghasilkan laba pertahun dengan nilai rata-rata sebesar Rp 50.042.089,00
Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan finansial pada usaha jamur tiram putih menggunakan
prinsip nilai uang saat ini tidak sama dengan nilai uang di masa yang akan datang.
Net benefit yang diperoleh adalah hasil diskonto tingkat discount rate yang
ditetapkan, yaitu suku bunga deposito Bank Mandiri tahun 2013 sebesar 5 persen,
penggunaan discount rate yang dimaksud berdasar dari modal yang digunakan
oleh perusahaan untuk melakukan pembangunan kumbung baru, yaitu modal
sendiri, modal Pak Paryanto selaku pemilik CV. Megah Makmur Sentosa.
Analisis finansial ini dilakukan dengan menggunakan kriteria penilaian investasi,
yaitu Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost-Ratio
(Net B/C), dan Discounted Payback Period (DPP).
82
Berdasarkan hasil perhitungan analisis kelayakan finansial berdasar
kriteria penilaian investasi, NPV yang dihasilkan pada pembangunan kumbung
baru adalah sebesar Rp 170.590.527,00. Hal ini berarti usaha yang akan
dilakukan oleh perusahaan dalam budidaya jamur tiram putih akan memberikan
manfaat bersih sebesar Rp 170.590.527,00 selama periode lima tahun. Oleh
karena itu, rencana pembangunan kumbung baru ini layak dijalankan karena
memiliki nilai NPV lebih dari nol.
Selanjutnya berdasarkan nilai IRR yang dalam mengusahakan
pembangunan kumbung baru dalam usaha jamur tiram akan memperoleh IRR
sebesar 59,60 persen. Hal itu menunjukkan bahwa rencana pembangunan
kumbung baru layak untuk dijalankan dengan tingkat pengembalian internal
sebesar 59,60 persen. Nilai IRR yang dihasilkan juga lebih besar dari tingkat
discount rate yang berlaku yaitu 5 persen.
Perhitungan Net B/C yang didapat pada pembangunan kumbung baru
adalah sebesar 2,496. Hal ini berarti setiap Rp 1,00 biaya yang dikeluarkan
selama umur usaha akan menghasilkan manfaat bersih sebesar Rp 2,496. Nilai
Net B/C yang dihasilkan adalah lebih besar dari satu (Net B/C > 1), oleh karena
itu rencana pembangunan kumbung baru layak untuk dijalankan.
Lama pengembalian modal saat pembangunan kumbung baru dilakukan,
ditunjukkan dari nilai discounted payback period. Nilai Discounted payback
period yang diperoleh selama 4,44 tahun. Maka lama pengembalian modal setelah
dilakukan pembangunan kumbung baru relatif singkat dari umur usaha yang ada.
Dengan demikian, usaha ini dapat dikatakan layak untuk direalisasikan. Hasil
perhitungan kriteria investasi terdapat di Tabel 23.
Tabel 23 Rekapitulasi hasil analisis finansial CV. Megah Makmur Sentosa
Kriteria Invetasi
Net Present Value (Rp)
Internal Rate of Return (%)
Net Benefit and Cost Ratio
Discounted Payback Period (Tahun)
Hasil
170.590.527,00
59,60
2,49
4,44
Analisis Switching Value
Analisis nilai pengganti (Switching value) digunakan untuk mengetahui
seberapa besar perubahan maksimal pada biaya variabel dan penerimaan
penjualan yang dapat ditolerir sehingga usaha masih layak untuk dilaksanakan.
Pengujian switching value dilakukan dengan uji coba yang dapat menghasilkan
keuntungan normal yaitu nilai Net Present Value (NPV) sama dengan nol,
Internal rate of Return (IRR) mendekati suku bunga yang ditetapkan, dan Net
Benefit Cost sama dengan satu. Usaha yang akan dilakukan perusahaan dalam
pembangunan kumbung baru juga akan dilakukan analisis switching value
terhadap penurunan jumlah output baik jamur tiram putih, baglog dan bibit jamur,
penurunan harga output jamur tiram yang dijual dan kenaikan biaya variabel
berupa biaya gas LPG.
Usaha jamur tiram putih adalah usaha yang bergerak di bidang pangan,
dimana kebutuhan pangan akan semakin meningkat seiring peningkatan jumlah
83
penduduk. Hal itu tentunya juga akan memacu pertambahan jumlah pedagang
maupun produsen yang bergelut dalam usaha pangan ini, dimana terdapat
kejelasan pasar yang mendekati pasar persaingan sempurna dan memiliki
kesempatan dan peluang yang sama bagi setiap pelaku usaha untuk memasuki
usaha ini. Persaingan usaha akan berdampak pada semakin banyaknya pelaku
usaha yang bersaing untuk masuk kedalam usaha dan mereka saling berkompetisi
untuk dapat menguasai pasar, salah satunya dengan pemberian strategi harga yang
rendah, maupun dengan minimisasi biaya.
Harga yang rendah dalam produk jamur tiram sangat diminati konsumen
selain itu, pada hari-hari tertentu seperti Hari Raya Idul Fitri, produk jamur akan
tenggelam dalam penjualan dan tergantikan dengan komoditas lain seperti daging
sapi. Harga gas LPG yang merupakan biaya variabel yang akan dikeluarkan dalam
produksi. Sebagai bahan bakar alternatif yang dikuasai pemerintah, gas LPG tidak
menutup kemungkinan akan mengalami kenaikan harga jika terjadi kelangkaan.
Selain itu, pada kegiatan budidaya jamur tiram yang meliputi produksi baglog,
bibit, dan jamur tiram segar, perusahaan tidak memungkiri terdapat kemungkinan
kegagalan yang lebih besar dari pada tingkat kegagalan yang telah
diperhitungkan. Untuk itu, analisis switching value akan dilakukan terhadap tiga
perubahan diantaranya penurunan jumlah produksi baik jamur tiram, baglog dan
bibit jamur tiram, penurunan harga output jamur tiram, serta kenaikan biaya
variabel berupa gas LPG. Adapun hasil switching value pada usaha jamur
CV.Megah Makmur Sentosa adalah sebagai berikut :
Tabel 24 Hasil analisis switching value CV. Megah Makmur Sentosa
Perubahan
Penurunan Jumlah output (jamur tiram putih, baglog
dan bibit jamur)
Kenaikan Harga gas LPG
Penurunan harga output jamur tiram
Persentase
15,85
589,66
18,28
Berdasarkan hasil analisis switching value usaha jamur, maka secara
keseluruhan dapat disimpulkan bahwa produksi dan harga jual merupakan dua hal
yang sangat berpengaruh terhadap kelayakan usaha. Sementara, biaya gas yang
harus dikeluarkan tidak memiliki pengaruh yang besar. Dalam hal ini, ketiga hal
tersebut dapat mengubah besarnya persentase terhadap kelayakan usaha jamur
tiram putih. Dimana jika terjadi perubahan yang melebihi batas tersebut maka
usaha yang akan dilakukan menjadi tidak layak atau tidak menguntungkan.
Penurunan jumlah output produksi yang dijual sebesar 15,85 persen
menunjukkan bahwa usaha budidaya jamur masih layak apabila penurunan yang
terjadi terhadap produksi tidak melebihi dari 15,85 persen. Biaya variabel yang
harus dikeluarkan CV. Megah Makmur Sentosa dalam hal gas LPG yang masih
mendatangkan manfaat bagi usaha budidaya jamur adalah 589,66 persen.
Persentase kenaikan harga gas yang tinggi menunjukkan bahwa kenaikan biaya
gas memiliki pengaruh yang relatif rendah terhadap kelangsungan usaha.
Sementara itu, besarnya penurunan harga output pada jamur tiram putih sebesar
18,28 persen memperlihatkan bahwa usaha budidaya jamur masih layak jika
terdapat penurunan yang terjadi terhadap harga jual jamur tidak lebih besar dari
18,28 persen.
84
Batas maksimum penurunan jumlah output pada jamur tiram putih,
baglog dan bibit jamur adalah sebesar 15,85 persen. Apabila produksi jamur
tiram, baglog dan bibit jamur mengalami kegagalan panen melebihi 15,85 persen
maka usaha jamur tiram putih dapat dikatakan tidak layak. Berdasarkan penelitian
yang dilakukan, kegagalan panen lebih banyak disebabkan oleh proses sterilisasi
dalam pembibitan dan inokulasi. Banyak hal yang kurang mendukung sterilisasi
yang baik, salah satunya perusahaan masih menggunakan teknologi yang
sederhana dalam hal peralatan proses sterilisasi. Untuk itu, petani perlu
melakukan tindakan preventif dalam mengatasi penurunan jumlah produksi.
Sterilisasi yang baik dapat didukung dengan melakukan pemeliharaan yang baik
pada lingkungan di sekitar dimana kegiatan usaha tetap bersih, serta peralatan
yang digunakan dalam produksi juga harus steril.
Harga jual yang dianalisis tidak mencakup harga jual baglog dan bibit
jamur, hal ini dikarenakan harga jual baglog dan bibit jamur ditentukan
berdasarkan kesepakatan dari beberapa mitra yaitu perusahaan jamur yang belum
mampu mengusahakan baglog dan bibit secara mandiri. Berdasarkan hasil analisis
switching value diketahui batas maksimal perubahan terhadap penurunan harga
jual output jamur tiram putih adalah 18,28 persen. Apabila terjadi perubahan
harga jual jamur melibihi 18,28 persen maka usaha jamur tiram putih dinyatakan
tidak layak. Harga jual jamur tiram secara umum ditentukan oleh pasar, maka
dari itu petani beresiko mengalami penurunan harga jual jamur sewaktu-waktu.
Apabila terjadi kenaikan biaya variabel gas LPG, maka perubahan
maksimal yang ditolerir adalah sebesar 589,66 persen. Jika kenaikan biaya
variabel gas LPG melebihi 589,66 persen maka usaha jamur tiram putih dikatakan
tidak layak. Terdapat beberapa alternatif yang harus dilakukan petani jika terjadi
kenaikan biaya gas, diantaranya beralih ke bahan bakar alternatif lain yang
ketersediannya di bumi masih berlimpah dan harganya relatif murah, misalnya
briket batu bara. Namun, dalam hal ini, petani harus menyusun ulang peralatan
yang digunakan sesuai desain penggunaan bahan bakarnya.
Rencana pembangunan kumbung baru untuk usaha jamur tiram putih
pada penelitian yang dilakukan menunjukkan informasi bahwa usaha jamur tiram
putih sensitif terhadap perubahan jumlah output (jamur tiram, baglog dan bibit)
dan perubahan harga output jamur tiram putih.
Hasil Analisis Aspek Finansial
Analisis kelayakan finansial rencana pembangunan kumbung baru
meliputi pembangunan kumbung baru, tempat produksi, dan saung karyawan
dengan melakukan sewa lahan selama umur usaha yaitu 5 tahun. Analisis
kelayakan menghasilkan kriteria investasi sebagai berikut, yaitu NPV sebesar
170.590.527,00. Nilai IRR yang dihasilkan sebesar 59,60 persen, nilai Net B/C
sebesar 2,49. Discounted payback period pada pembangunan kumbung baru
adalah selama 4,44 tahun. Berdasarkan kriteria kelayakan investasi menunjukkan
bahwa rencana pembangunan kumbung baru layak untuk dijalankan secara
finansial.
Analisis switching value yang dilakukan pada rencana pembangunan
kumbung baru meliputi batas maksimum penurunan jumlah output produksi jamur
85
tiram putih, baglog dan bibit jamur sebesar 15,85 persen, kenaikan harga
maksimum pada biaya variabel berupa pembelian gas LPG sebesar 589,66 persen,
dan penurunan harga jual output jamur tiram sebesar 18,28 persen.
Analisis Nilai Tambah
Jamur crispy adalah makanan ringan yang biasa dimakan sebagai
cemilan. Jamur crispy diproduksi oleh D’ Jamur L-Qiang, jenis jamur yang
digunakan sebagai bahan baku utamanya adalah jamur tiram putih. Jamur tiram
putih selanjutnya akan dilakukan pengolahan lebih lanjut. Proses pengolahan
jamur tiram segar hingga menjadi jamur crispy menggunakan beberapa alat dalam
proses pengolahannya, antara lain baskom, talenan, pisau, penggorengan, dan
kompor gas. Sedangkan selanjutnya dalam proses penggorengan diperlukan bahan
bakar gas LPG. Perhitungan nilai tambah jamur crispy tidak memperhitungkan
biaya transportasi, hal itu dikarenakan pada umumnya pembeli akan mendatangi
langsung untuk melakukan pembelian ke lokasi pengolahan jamur crispy di standstand penjualan. Proses pembuatannya sebagai berikut : (1) jamur dicuci hingga
bersih, disuwir-suwir dan diperas hingga airnya keluar, (2) bumbu berupa bawang
putih, ketumbar, dan garam di haluskan sedangkan bahan baku tepung adonan
berupa tepung maizena dan tepung beras dicampurkan pada satu wadah, lalu di
aduk rata, telur yang telah disiapkan dituang pada satu wadah dan dikocok untuk
disatukan pada bumbu yang telah dihaluskan, ditambahkan air secukupnya dan
diaduk sampai rata. Tambahkan campuran tepung dan aduk dengan tambahan air
secukupnya. (3) Celupkan jamur kedalam adonan tepung (4) Goreng jamur
kedalam penggorengan dengan api sedang. Proses menggoreng berlangsung
selama 30 menit. (5) jamur crispy yang telah digoreng kemudian diangkat dan
ditiriskan untuk kemudian dikemas kedalam plastik kemasan untuk siap
dipasarkan.
Nugget jamur adalah makanan berupa nugget yang biasa dimakan
sebagai lauk ataupun cemilan. Produksi nugget jamur tiram di Bekasi dilakukan
oleh Jogget’s Nugget. Proses pengolahan nugget jamur diawali dengan pencucian
jamur tiram segar. Setelah jamur dicuci kemudian direbus dalam air mendidih.
Selanjutnya jamur diangkat, ditiriskan dan dihilangkan kandungan air pada jamur
tiram dengan cara diperas. Jamur yang telah diperas kemudian di giling dengan
menggunakan blender untuk kemudian dicampurkan dengan bahan lain yaitu fillet
daging ayam, tepung terigu, tepung maizena, dan telur serta tambahan air
secukupnya. Bumbu-bumbu seperti bawang putih, merica, garam di haluskan
hingga rata dan dimasukan kedalam adonan hingga tercampur rata. Adonan
nugget jamur selanjutnya dikukus selama 25 menit. Lalu dicetak berdasar bentuk
persegi panjang dan dimasukan kedalam telur dan celupkan ke dalam tepung roti.
Proses selanjutnya adalah pemanggagan ke dalam oven yang telah disesuaikan
suhunya. Proses pemanggangan dilakukan selama 40 menit. Nugget jamur yang
telah jadi kemudian dikemas ke dalam plastik.
Dasar perhitungan dalam analisis nilai tambah kegiatan produksi
pengolahan menggunakan satuan kilogram yang mana merupakan jamur tiram
yang dibutuhkan sebagai bahan baku utama memiliki nilai berat. Dalam produksi
yang dilakukan pada produk jamur crispy dan nugget jamur, analisis nilai tambah
86
yang dilakukan digunakan untuk mengetahui besarnya nilai tambah pengolahan
bahan baku berupa jamur tiram segar hingga menjadi jamur crispy dan nugget
jamur, serta untuk mengetahui besar distribusi marjin yang didapat dari hasil
pengolahan tersebut kepada faktor-faktor produksi yang telah digunakan. Untuk
itu, dalam analisis yang dilakukan terdapat komponen-komponen yang digunakan
dalam perhitungan nilai tambah, diantaranya output jamur crispy dan nugget
jamur, bahan baku, tenaga kerja langsung, harga output yang ditawarkan, upah
rata-rata tenaga kerja, serta sumbangan input lain.
Analisis nilai tambah dilakukan pada periode produksi perhari dengan
dasar perhitungan analisis nilai tambah menggunakan perhitungan per kilogram
bahan baku pada satu kali proses produksi.
Rata-rata bahan baku yang digunakan dalam satu kali proses produksi
adalah 2,00 kg untuk produk jamur crispy dan nugget jamur. Produksi yang
dihasilkan untuk masing-masing produk berupa jamur crispy dan nugget jamur
adalah 2,41 kg dan 2,81 kg. Dari kedua produk masing-masing menghasilkan nilai
konversi sebesar 1,20 kg untuk jamur crispy dan 1,41 kg untuk nugget jamur. Hal
ini berarti setiap satu kilogram jamur tiram putih yang diolah menghasilkan 1,20
kilogram jamur crispy atau 1,41 kilogram nugget jamur.
Jamur tiram putih yang digunakan pada pengolahan jamur crispy adalah
jamur tiram putih segar dengan harga bahan baku senilai harga jual rata-rata jamur
segar per kilogramnya di petani, Pasar Bantar Gebang, dan Pasar Setu, yaitu Rp
12.000,00. Sedangkan pada pengolahan produk nugget jamur, pengusaha membeli
bahan baku berupa jamur tiram di pasar PUP yaitu pasar di dekat lokasi produksi.
Harga jual jamur di pasar PUP berkisar Rp 14.000,00 per kilogramnya.
Harga output adalah harga yang ditawarkan oleh home industry dalam
produk jamur crispy dan nugget jamur. Nilai output yang diperoleh adalah hasil
perkalian antara harga output dengan faktor konversi. Pada pengolahan jamur
tiram menjadi dua produk baik jamur crispy dan nugget jamur, diperoleh nilai
output sebesar Rp 60.175,00 dan Rp 84.375,00. Nilai sumbangan input lain
merupakan pembagian total sumbangan input lain terhadap jumlah bahan baku
yang digunakan. Sumbangan input lain terdiri dari komponen bahan penolong,
yang mana jamur crispy ini membutuhkan beberapa input lain berupa bumbubumbu serta bahan baku yang digunakan untuk diolah bersama jamur tiram segar
sehingga menjadi jamur crispy begitupun produk nugget jamur. Input lain tersebut
diantaranya bawang putih, garam, tepung beras, tepung maizena, plastik
pembungkus, serta minyak goreng untuk pengolahan jamur crispy. Dengan total
sumbangan input lain sebesar Rp 22.630,00. Sedangkan komponen pendukung
untuk pembuatan nugget jamur terdiri dari fillet daging ayam, tepung terigu,
tepung maizena, telur ayam, bawang putih, garam, gula, merica, tepung roti dan
plastik pembungkus dengan total nilai bahan penolong sebesar Rp 16.080,00.
Upah rata-rata tenaga kerja adalah pembagian upah total tenaga kerja
dengan jumlah jam orang bekerja per hari. Upah rata-rata tenaga kerja pada
pengolahan jamur crispy sebesar Rp 59.428,00 per HOK. Sedangakan pada
pengolahan nugget jamur upah rata-rata tenaga kerja adalah Rp 42.857,14 per
HOK. Distribusi nilai tambah terhadap balas jasa atau pendapatan tenaga kerja
diperoleh dari perkalian antara koefisien tenaga kerja dengan upah tenaga kerja.
Balas jasa tenaga kerja menunjukkan jumlah pendapatan rata-rata yang diterima
tenaga kerja untuk kegiatan pengolahan per kilogram bahan baku. Pendapatan
87
tenaga kerja rata-rata pada pengolahan jamur crispy adalah Rp 9.285,63 per
kilogram bahan baku serta pada pengolahan nugget jamur adalah Rp 12.075,00
per kilogram bahan baku.
Hasil analisis nilai tambah pengolahan jamur crispy dan nugget jamur
dalam satu kali proses produksi selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 25.
Tabel 25 Perhitungan nilai tambah pengolahan jamur crispy dan nugget jamur
dalam satu kali proses produksi
No
Variabel
Perhitungan
Nilai
Jamur
Crispy
Nugget
Jamur
I. Output, Input dan harga
1.
Output (Kg/ proses produksi)
A
2,41
2,81
2.
Bahan baku (Kg/ proses produksi)
B
2,00
2,00
3.
Tenaga kerja (HOK/ proses produksi)
C
0,31
0,56
4.
Faktor konversi
D = A/B
1,20
1,41
5.
Koefisien tenaga kerja (HOK)
E = C/B
0,16
0,28
F
50.000,00
60.000,00
G
59.428,00
42.857,14
H
12.000,00
14.000,00
6.
Harga output (Rp/Kg)
Upah rata-rata tenaga kerja
7.
(Rp/HOK)
II. Pendapatan dan Keuntungan
8.
Harga bahan baku (Rp/Kg)
9.
Sumbangan input lain (Rp/Kg) *
10.
Nilai output (Rp/Kg)
I
22.630,00
16.080,00
J=DXF
60.175,00
84.375,00
11.
a. Nilai tambah (Rp/Kg)
K=J-H-I
25.545,00
54.295,00
b. Rasio nilai tambah (%)
L = (K/J) X 100%
42,45
64,35
9.285,63
12.075,00
36,35
22,24
16.259,38
42.220,00
b. Tingkat keuntungan
P = (O/K) X 100%
III. Balas jasa dari masing-masing faktor produksi
63,65
77,76
48.175,00
70.375,00
19,27
17,16
46,97
22,85
33,75
59,99
12.
a. Pendapatan tenaga kerja (Rp/Kg)
b. Bagian tenaga kerja (%)
13.
14.
a. Keuntungan (Rp/Kg)
M=EXG
N= (M/K) X 100%
O=K–M
a.
Pendapatan tenaga kerja(%)
b.
Sumbangan input lain (%)
Q=J–H
R = (M/Q) X
100%
S = (I/Q) X 100%
c.
Keuntungan (%)
T = (O/Q) X 100%
Marjin (Rp/Kg)
Rasio tenaga kerja merupakan persentase dari pendapatan tenaga kerja
terhadap nilai tambah. Rasio tenaga kerja yang diperoleh pada pengolahan
menjadi jamur crispy adalah sebesar 36,35 persen. Hal ini menunjukkan bahwa
untuk setiap Rp 100,00 dari nilai tambah maka sebesar Rp 36,35 merupakan
bagian untuk pendapatan tenaga kerja. Sedangkan pada produk nugget jamur,
rasio tenaga kerja yang diperoleh adalah sebesar Rp 22,24 persen. Nilai rasio
sebesar 22,24 persen berarti untuk setiap Rp 100,00 dari nilai tambah maka
sebesar Rp 22,24 merupakan bagian untuk pendapatan tenaga kerja.
88
Keuntungan yang diperoleh home industry merupakan selisih antara nilai
tambah dengan pendapatan tenaga kerja langsung. Dalam hal ini, keuntungan
yang diterima oleh pengusaha jamur crispy yaitu Rp 16.259,38 per kilogram
bahan baku. Sedangkan home industry nugget jamur menerima keuntungan
sebesar Rp 42.220,00 dalam satu kilogram bahan baku yang digunakan.
Berdasarkan keuntungan yang diterima, berarti pengolahan jamur crispy dan
nugget jamur memperoleh tingkat keuntungan sebesar 63,65 persen dan 77,76
persen dari nilai produk.
Nilai tambah merupakan selisih dari nilai output dengan harga bahan
baku dan sumbangan input lain. Nilai tambah yang dihasilkan pada pengolahan
menjadi jamur crispy adalah nilai tambah kotor dimana nilai yang terdapat
didalamnya masih mengandung bagian untuk pendapatan tenaga kerja langsung.
Nilai tambah yang diperoleh dari pengolahan jamur tiram menjadi jamur crispy
adalah Rp 25.545,00 dengan rasio nilai tambah yang diperoleh sebesar 42,45
persen. Untuk pengolahan jamur tiram menjadi nugget jamur, nilai tambah yang
diperoleh sebesar RP 54.295,00 dengan rasio nilai tambah sebesar 64,35 persen.
Rasio nilai tambah merupakan persentase nilai tambah terhadap nilai
output. Besarnya rasio nilai tambah yang dihasilkan pada pengolahan jamur crispy
adalah 42,45 persen sedangkan pada pengolahan nugget jamur sebesar 64,35
persen. Angka rasio sebesar 42,45 persen menunjukkan bahwa untuk setiap Rp
100,00 dari nilai output jamur crispy yang diperoleh terdapat nilai tambah sebesar
Rp 42,45. Berdasarkan angka rasio nugget jamur sebesar 64,35 persen dapat
dinyatakan bahwa untuk setiap Rp 100,00 dari nilai output nugget jamur yang
diperoleh terdapat nilai tambah sebesar Rp 64,35.
Balas jasa pemilik faktor produksi terdiri atas pendapatan untuk tenaga
kerja, sumbangan input lain dan tingkat keuntungan. Marjin adalah selisih nilai
output dengan harga bahan baku yang diperoleh yang mana merupakan total balas
jasa pemilik terhadap pemilik faktor produksi. Marjin merupakan kontribusi
faktor-faktor produksi dalam menghasilkan output selain bahan baku utama.
Pengolahan jamur tiram menjadi jamur crispy akan menghasilkan nilai marjin dari
hasil pengurangan nilai output jamur crispy dengan harga bahan baku utamanya.
Marjin yang diperoleh pada pengolahan ini adalah sebesar Rp 48.175,00 terdiri
dari 19,27 persen untuk pendapatan tenaga kerja, 46,97 persen untuk sumbangan
input lain, dan 33,75 persen untuk keuntungan perusahaan. Sedangkan pada
pengolahan jamur tiram menjadi nugget jamur akan menghasilkan nilai marjin
dari hasil pengurangan nilai output nugget jamur dengan harga bahan baku
utamanya. Marjin yang diperoleh pada pengolahan ini adalah sebesar Rp
70.375,00 terdiri dari 17,16 persen untuk pendapatan tenaga kerja, 22,85 persen
untuk sumbangan input lain, dan 59,99 persen untuk keuntungan perusahaan.
Distribusi marjin yang diperoleh menunjukkan distibusi marjin terbesar
pada home industry pengolahan jamur crispy yaitu sumbangan input lain
sedangkan pada pengolahan nugget jamur adalah tingkat keuntungan yang
diterima perusahaan. Selanjutnya distribusi marjin terbesar kedua pada jamur
crispy yaitu tingkat keuntungan perusahaan yang diterima perusahaan dalam hal
ini pemilik D’Jamur L-Qiang sedangkan produk nugget jamur memiliki distribusi
marjin terbesar kedua pada komponen pendapatan tenaga kerja. Distribusi marjin
terkecil pada produk jamur crispy adalah pendapatan tenaga kerja. Pendistribusian
nilai marjin terkecil pada pendapatan tenaga kerja dibandingkan keuntungan yang
89
diterima perusahaan menunjukkan bahwa dalam kegiatan pengolahan jamur tiram
menjadi jamur crispy merupakan kegiatan padat modal. Pada produk nugget
jamur, distribusi marjin terkecil adalah sumbangan input lain. Pendistribusian
nilai marjin terbesar pada keuntungan yang diterima perusahaan dibandingkan
pendapatan tenaga kerja menunjukkan bahwa dalam kegiatan pengolahan jamur
tiram menjadi nugget jamur merupakan kegiatan padat modal.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di CV. Megah Makmur
Sentosa, maka simpulan yang didapat antara lain :
Berdasarkan analisis aspek non finansial, usaha jamur tiram putih CV.
Megah Makmur Sentosa layak untuk dijalankan. Beberapa aspek terkait nonfinansial yang dipergunakan antara lain pasar, teknis, manajemen dan hukum,
sosial, ekonomi dan lingkungan.
Berdasarkan aspek finansial, rencana usaha jamur tiram putih CV.
Megah Makmur Sentosa melalui pembangunan kumbung baru layak dijalankan.
Perhitungan kriteria kelayakan menunjukkan NPV yang dihasilkan sebesar Rp
170.590.527,00. IRR sebesar 59,60 persen. Nilai Net B/C yang diperoleh sebesar
2,49, dan pengembalian investasi selama 4,44 tahun.
Rencana pembangunan kumbung baru oleh CV.Megah Makmur Sentosa
menunjukkan informasi bahwa batas maksimum penurunan jumlah output pada
jamur tiram putih, baglog dan bibit jamur adalah sebesar 15,85 persen. Sedangkan
batas maksimal kenaikan biaya gas LPG adalah sebesar 589,66 persen. Batas
maksimal perubahan terhadap penurunan harga jual output jamur tiram putih
adalah 18,28 persen. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha jamur tiram putih
peka terhadap perubahan jumlah output (jamur tiram, baglog dan bibit) dan
perubahan harga output jamur tiram putih, namun tidak peka terhadap perubahan
biaya variabel gas LPG.
Nilai tambah yang dihasilkan pada produk jamur crispy dan nugget jamur
adalah Rp 25.544,07 dan Rp 54.295,00. Hal ini menunjukkan bahwa produk
nugget jamur memberikan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan jamur
crispy. Pendistribusian nilai marjin terbesar pada keuntungan yang diterima
perusahaan dibandingkan pendapatan tenaga kerja menunjukkan bahwa dalam
kegiatan pengolahan jamur tiram menjadi jamur crispy dan nugget jamur
merupakan kegiatan padat modal.
Saran
Berdasarkan hasil dari analisis penelitian ini, terdapat beberapa saran
yang dapat di jadikan rekomendasi bagi pelaku usaha, antara lain :
1. Bagi petani jamur tiram sebaiknya lebih memperhatikan penurunan output
produksi (jamur tiram, baglog, dan bibit). Upaya yang dapat dilakukan antara
lain dengan mengurangi besarnya kontaminan melalui perbaikan proses
sterilisasi, hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pelatihan khusus
90
2.
3.
pekerja di bagian pembibitan dan inokulasi serta menjaga kebersihan
kumbung. Risiko harga output jamur tiram putih segar yang turun dapat
diatasi dengan membuat jadwal produksi yang disesuaikan terhadap
pemenuhan permintaan pasar yang akan dilayani. Apabila terjadi perubahan
biaya gas oleh pemerintah, sebaiknya petani jamur tiram mencari bahan bakar
alternatif lain yang lebih efisien dalam biaya.
Bagi perusahaan sebaiknya melakukan kontrak kerjasama dengan mitra yaitu
perusahaan jamur lain dalam supply bibit dan baglog. Hal ini bertujuan agar
perusahaan dapat memaksimalisasi produksi bibit dan baglog sesuai jangka
waktu dalam memenuhi kebutuhan masing-masing mitra.
Bagi Home industry usaha pengolahan jamur tiram putih sebaiknya lebih
memfokuskan untuk memproduksi olahan nugget jamur karena memiliki nilai
tambah yang lebih besar yakni 64,35 persen dengan tingkat keuntungan
sebesar 77,76 persen. Selain itu, home industry pengolahan jamur tiram putih
sebaiknya mengusahakan peningkatan upah dan tunjangan yang lebih baik,
karena imbalan tenaga kerja langsung yang diperoleh lebih kecil
dibandingkan dengan keuntungan yang diterima oleh perusahaan.
Peningkatan upah dan tunjangan yang lebih baik ini diharapkan dapat
memberikan insentif kepada tenaga kerja langsung dalam melakukan proses
produksi secara maksimum.
DAFTAR PUSTAKA
[Departemen Koperasi]. 2012. Perkembangan jumlah Pelaku Usaha dan
Penyerapan Tenaga Kerja Menurut Skala Usaha Tahun 2009-2010.
Bekasi (ID): Departemen Koperasi
[Departemen Koperasi]. 2012. UKM di Indonesia berkontribusi dalam
menghasilkan PDB Nasional [internet]. [diunduh 2012 Okt 11]. Jakarta
(ID).
Departemen
Koperasi:
Tersedia
pada:
http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article
&id=487:bps-tambah-survei-ukm-mulai-2011&catid=50:bindberita&itemid=97.
[Departemen Koperasi]. 2012. Proporsi Kontribusi UMKM dan Usaha Besar
terhadap PDB Nasional 2009-2010. [Diunduh 2012 Okt 11]. Jakarta
(ID): Departemen Koperasi: Tersedia pada: http://www.depkop.go.id//
Letak Geografis dan Wilayah Administratif Kabupaten Bekasi. 2012.
[internet].[Diunduh
2012
Des
12].
Tersedia
pada:
http://penanamanmodalbekasikab.info/index.php?mod=konten&submenu
_id=7
[Dinas Pertanian]. 2012. Produksi Sayuran Komoditi Jamur Tahun 2007-2011
Menurut Kabupaten dan Kota Di Jawa Barat. Bekasi (ID). Dinas
Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Jawa Barat.
[Dinas Pertanian]. 2012. Produksi Jamur Tahun 2007-2012 di Bekasi.Bekasi (ID):
Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Bekasi.
91
[BPS] Badan Pusat Statistik (ID). c2007. Statistik Penduduk yang Bekerja di
Sektor Perdagangan dan Restaurant di Bekasi Tahun 2006-2007. Bekasi
(ID): BPS.
Achyadi, NS dan Afiana, H. 2004. Pengaruh Konsentrasi Bahan Pengisi dan
Konsentrasi SukrosaTerhadap Karakteristik Fruit Leather Cempedak
(Actocarpus champedenlour). Bandung (ID): Fakultas Teknik
Universitas Pasundan.
Djarijah, NM dan Djarijah. 2001. Budidaya Agrika, Volume 4 No.1, November
2010.
Gittinger. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Jakarta (ID):
Penerbit Universitas Indonesia
Kasmir dan Jakfar. 2009. Studi Kelayakan Bisnis Edisi ke-2. Jakarta (ID): Prenada
Media group.
Martawijaya E, Nurjayadi M. 2010. Bisnis Jamur Tiram di Rumah Sendiri. Bogor
(ID): IPB Press
Munawar A. 2010. Analisis Nilai Tambah dan Pemasaran Kayu Sengon
Gergajian (Studi kasus di Kecamatan Cigudeg Kabupaten
Bogor)[skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Nur L. 2012. Analisis Kelayakan Pengembangan Usaha jamur Tiram Putih
(Pleurotus ostreatus) (Kasus PD Cahya Mandiri Mushroom di Desa
Sukawening, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat)
[skripsi]. Bogor (ID):Institut Pertanian Bogor.
Nurjayadi dan Martawijaya. 2010. Perbandingan Kandungan Gizi Jamur Dengan
Bahan Makanan Lain. Jakarta (ID): PT. Agro Media Pustaka.
Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. 2009. Studi Kelayakan Bisnis. Bogor (ID):
Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut
Pertanian Bogor.
Oom R. 2010. Analisis kelayakan Pengembangan Usaha Ikan Hias Air Tawar
Pada Arifin Fish Farm, Desa Ciluar, Kecamatan Bogor Utara, Kota
Bogor [SKRIPSI]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Pasaribu T, Permana D, Alda E. 2002. Aneka Jamur Unggulan yang Menembus
Pasar. Jakarta (ID): PT Grasindo.
Putri SN. 2010. Analisis Kelayakan Usahatani Jamur Tiram Putih dengan Sistem
Kemitraa (Studi kasus: D’Lup Farm, Desa Sudajaya, Girang,
Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat) [SKRIPSI].
Bogor(ID): Institut Pertanian Bogor.
Rahmat S dan Nurhidayat. 2011. Untung Besar dari Bisnis Jamur Tiram. Jakarta
(ID): PT. AgroMedia Pustaka
Redaksi Trubus. 2001. Pengalaman pakar & Praktisi Budi Daya Jamur.
Jakarta(ID): Penebar Swadaya.
Rifai M. 1989. Ensiklopedia Nasional Indonesia. Jakarta (ID): PT. Cipta Adi
Pustaka.
Soeharjo A. 1991. Profil Agroindustri. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Soekartawi. 2000. Pengantar Agroindustri. Jakarta (ID): PT. Raja Grafindo
Persada.
Sudiyono A. 2002. Pemasaran Pertanian. Malang (ID): Universitas
Muhammadiyah Malang.
92
Suharyanto E. 2010. Bertanam Jamur Tiram di Lahan Sempit. Jakarta (ID): PT
AgroMedia Pustaka.
Suriawiria U. 2010. Sukses Beragrobisnis Jamur Kayu. Jakarta (ID): PT Penebar
Swadaya.
Tim Redaksi Agromedia. 2005. Budidaya Jamur Konsumsi (Shintake, Kuping,
Tiram, Lingzhi, Merang) Cetakan kelima. Jakarta (ID): Penerbit Agro
Media Pustaka.
Umar H. 2000. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta (ID): PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Widiastuti B. 2005. Budidaya Jamur Kompos. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Wijoyo. 2011. Cara Budi Daya Jamur Tiram Yang Menguntungkan. Jakarta (ID):
Pustaka Agro Indonesia
Lampiran 1 Produksi jamur tiram segar CV. Megah Makmur Sentosa pada tahun 2012
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
40
2
33
3
34.75
4
29.5
5
28.5
6
21.4
7
27.5
8
24
9
28.4
10
18.5
11
29.5
12
30.8
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
40
2
33
3
37
4
32
5
22
6
29
7
27
8
34
9
18
10
32
11
28
12
34
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
19
2
15
3
16.3
4
21
5
14
6
23
7
20
8
24.3
9
21
10
28.8
11
31
12
33
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
22.3
2
20
3
21
4
33.5
5
41
6
38.5
7
42
8
39.5
9
34
10
26.5
11
27
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
22.5
2
18.5
3
16.5
4
18.5
5
20.5
6
24.5
7
27
8
45
9
38
10
37
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
44.5
2
50
3
47
4
55
5
47
6
37
7
43
8
58.5
9
51.5
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
21
2
19.5
3
32
4
28
5
40
6
46
7
45
8
29
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
22
2
24.5
3
28.3
4
32.3
5
37
6
41
7
37
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
21
2
18.5
3
27.5
4
35
5
39
6
40
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
37
2
35
3
30
4
32
5
38.75
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
17
2
18
3
17.5
4
20
Bulan
Hari kePanen (Kg)
1
27.5
2
18.5
3
22.5
4
30.5
13
28.8
JANUARI
14
15
30.5
29.3
16
27
17
32.5
18
21
19
25
20
13
21
7.5
22
13.5
23
18.3
24
29.5
25
31
26
17.5
27
19
28
14
29
16
15
30.5
16
21
17
24.3
18
12
19
11
20
9
21
6
22
15
23
17
24
21.3
25
29
26
19
27
15.5
28
13
29
18
13
30.5
MARET
14
15
36
22
16
20
17
18.5
18
17
19
19
20
20.3
21
22
22
21
23
20.5
24
22.5
25
28
26
34
27
31.3
28
28
12
24.5
13
26
APRIL
14
15
29
25.5
16
19
17
20.5
18
26
19
27
20
27.5
21
29
22
31.3
23
24.75
24
29
25
23
26
24
27
21.5
11
34.5
12
31
13
31
14
49
15
69
16
64
17
41
18
35
19
34.5
20
38
21
43
22
52.5
23
56
24
55
25
60
26
61
10
52
11
43
12
38
13
36
JUNI
14
37
15
35
16
39
17
41
18
47
19
53
20
63.5
21
51
22
46.0
23
48
24
35
25
39.5
9
34.5
10
41.5
11
42.5
12
36
13
46
14
36
JULI
15
42
16
33.5
17
35.5
18
36
19
30.5
20
26
21
34
22
28.5
23
32
24
22
8
28
9
21
10
18
11
18
12
21.3
13
28
AGUSTUS
14
15
20
15
16
12
17
15
18
26.3
19
24
20
24.5
21
26
22
15
23
22.3
7
33.5
8
37
9
42
10
49
11
44.3
12
45.5
13
39.5
SEPTEMBER
14
15
16
48.5
43.5
38.5
17
37
18
37
19
45
20
44
21
43
22
38
6
35
7
28
8
27
9
23.5
10
35
11
37
12
48
13
35.5
16
34.5
17
36
18
25
19
22
20
26.5
21
21.5
5
15
6
20
7
19.5
8
25
9
23
10
26
11
30
12
32.5
13
35
NOVEMBER
14
15
32.5
25
16
20
17
17.5
18
14.5
19
18
20
20.3
5
42.3
6
35
7
40
8
34.5
9
32.5
10
25.5
11
28
12
25.8
13
28.5
DESEMBER
14
15
28.5
27
16
18
17
20
18
27
19
26
20
26
FEBRUARI
13
14
29
21
30
11.25
31
12
29
31
30
23.5
31
32
28
27
29
30
30
36.5
27
62.5
28
61.5
29
72
30
60.5
26
35.5
27
45
28
30
29
30
30
23
25
23
26
25
27
28.5
28
27
29
22
30
21
31
22
24
28
25
32
26
15.5
27
18
28
13
29
12.5
30
11.5
31
10
23
30
24
28
25
27
26
30.5
27
28.5
28
33
29
39.5
30
33
22
27
23
27
24
24
25
24.5
26
50
27
48
28
55
29
33.5
30
49.5
21
20
22
20.5
23
23
24
20.8
25
29
26
33
27
32.3
28
29.2
29
30.2
30
24.7
21
25
22
33
23
24.5
24
26
25
22
26
28
27
24
28
26
29
31.2
30
31
MEI
OKTOBER
14
15
40
36.5
31
51
31
22.5
31
27.5
Lampiran 2 Resume produksi jamur tiram segar CV. Megah Makmur Sentosa pada tahun 2012
Bulan
Produksi
Total Produksi Periode I
Total Produksi Periode II
Total Produksi/Tahun
Rata-rata/Bulan
Rata-rata/Hari
Rata-Rata Periode I
Rata-Rata Periode II
Rata-Rata/Tahun
1
742.5
5638.9
5393.9
11032.8
23.952
30.15367
939.81
898.98
919.40
2
676.0
3
743.5
4
846.4
5
1,330
6
1300.5
7
985.5
8
697.0
9
1095.8
10
1044.8
11
709.0
12
861.8
23.307
23.984
28.212
42.903
43.550
31.790
22.484
36.527
33.702
23.633
27.8
Lampiran 3 Hasil produksi jamur tiram segar CV. Megah Makmur Sentosa pada tahun 2012
1,400
1,330 1,301
1,200
1,096
1,000
986
1,045
862
846
800
743
744
676
600
709
697
Produksi
400
200
Bulan
00
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Lampiran 4 Layout lokasi usaha
10,5 m
15 m
0,7 m
0,8 m
3,3 m
8m
0,7 m
0,8 m
3,3 m
8m
8m
1,4 m
8m
Layout kumbung
khusus penjualan log
(8x10,5 meter)
24 m
Layout kumbung 30.000 log (24x15 meter)
Layout bangunan produksi (28x4 meter)
Jalan
Keterangan :
: Rak Penyimpanan Baglog
: Ruang Pembibitan
: Ruang Inokulasi
: Ruang Perebusan
: Ruang Pengadukan I
: Ruang Pengadukan II
: Ruang Pengadukan III
: Ruang Penyimpanan Bahan Baku
3x4 meter
3x4 meter
3x4 meter
3x3 meter
3x3 meter
3x3 meter
3x4 meter
Layout saung karyawan (5x5 meter)
Lampiran 5 Siklus produksi jamur tiram putih CV.Megah Makmur Sentosa
URAIAN
Persiapan bangunan kumbung
Pembuatan bibit :
Persiapan bahan baku untuk media F2
Pengomposan
Pengadukan + Sterilisasi
Diangkat + Didiamkan
Inokulasi
Inkubasi F2
Pembuatan baglog :
Persiapan bahan baku
Pengomposan
Pengadukan + didiamkan
Pembungkusan
Sterilisasi + didiamkan
Inokulasi
Pemasukan baglog tahap 1
Inkubasi baglog tahap 1
Pembukaan penutup baglog tahap 1
Panen tahap 1
Pemasukan baglog tahap 2
Inkubasi baglog tahap 2
Pembukaan penutup baglog tahap 2
Panen tahap 2
Pemasukan baglog tahap 3
Inkubasi baglog tahap 3
Pembukaan penutup baglog tahap 3
Panen tahap 3
Pasca panen + penjualan
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 1)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 2)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 3)
Jumlah Hari
Bulan 1
1 2
3
4
Bulan 2
1
2
3
4
Bulan 3
1
2
3
4
Bulan 4
1
2
3
60 hari
1/2 hari
1/2 hari
1 hari
1 hari
1 hari
3 minggu, 3 hari
1hari
3 hari
2 hari
1 hari
2 hari
1 hari
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
7 bulan
1 minggu
1 minggu
1 minggu
Keterangan :
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Persiapan pembangunan kumbung
Persiapan bahan baku untuk media F2
Pengomposan bibit F2
Pengadukan + Sterilisasi bibit F2
Proses pengangkatan dan didiamkan untuk bibit tahap F2
Inokulasi F1 untuk bibit F2
Inkubasi F2
Persiapan bahan baku loging
Pengomposan baglog
Proses pengadukan dan didiamkan untuk baglog
Pembungkusan baglog
proses sterilisasi dan didiamkan untuk baglog
Inokulasi baglog
Pemasukan baglog ke kumbung
Inkubasi baglog
Pembukaan penutup baglog
Panen
Pasca panen dan penjualan jamur tiram putih
Pengeluaran baglog dan sterilisasi baglog
4
Bulan 5
1
2
3
4
Siklus Produksi Tahun Pertama
Bulan 6
Bulan 7
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Bulan 8
2
3
4
1
Bulan 9
2
3
4
1
Bulan 10
2
3
4
1
Bulan 11
2
3
4
1
Bulan 12
2
3
4
URAIAN
Persiapan bangunan kumbung
Pembuatan bibit :
Persiapan bahan baku untuk media F2
Pengomposan
Pengadukan + Sterilisasi
Diangkat + Didiamkan
Inokulasi
Inkubasi F2
Pembuatan baglog :
Persiapan bahan baku
Pengomposan
Pengadukan + didiamkan
Pembungkusan
Sterilisasi + didiamkan
Inokulasi
Pemasukan baglog tahap 1
Inkubasi baglog tahap 1
Pembukaan penutup baglog tahap 1
Panen tahap 1
Pemasukan baglog tahap 2
Inkubasi baglog tahap 2
Pembukaan penutup baglog tahap 2
Panen tahap 2
Pemasukan baglog tahap 3
Inkubasi baglog tahap 3
Pembukaan penutup baglog tahap 3
Panen tahap 3
Pasca panen + penjualan
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 1)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 2)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 3)
Jumlah Hari
Bulan 1
1 2
3
4
Bulan 2
1
2
3
4
Bulan 3
1
2
3
60 hari
1/2 hari
1/2 hari
1 hari
1 hari
1 hari
3 minggu, 3 hari
1hari
3 hari
2 hari
1 hari
2 hari
1 hari
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
5 bulan
1 minggu
1 minggu
1 minggu
Keterangan :
:
:
:
:
:
:
Pemasukan baglog ke kumbung
Inkubasi baglog
Pembukaan penutup baglog
Panen
Pasca panen dan penjualan jamur tiram putih
Pengeluaran baglog dan sterilisasi baglog
4
Bulan 4
1
2
3
4
Bulan 5
1
2
3
4
Siklus produksi Tahun ke 2
Bulan 6
Bulan 7
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Bulan 8
2
3
4
1
Bulan 9
2
3
4
1
Bulan 10
2
3
4
1
Bulan 11
2
3
4
1
Bulan 12
2
3
4
URAIAN
Persiapan bangunan kumbung
Pembuatan bibit :
Persiapan bahan baku untuk media F2
Pengomposan
Pengadukan + Sterilisasi
Diangkat + Didiamkan
Inokulasi
Inkubasi F2
Pembuatan baglog :
Persiapan bahan baku
Pengomposan
Pengadukan + didiamkan
Pembungkusan
Sterilisasi + didiamkan
Inokulasi
Pemasukan baglog tahap 1
Inkubasi baglog tahap 1
Pembukaan penutup baglog tahap 1
Panen tahap 1
Pemasukan baglog tahap 2
Inkubasi baglog tahap 2
Pembukaan penutup baglog tahap 2
Panen tahap 2
Pemasukan baglog tahap 3
Inkubasi baglog tahap 3
Pembukaan penutup baglog tahap 3
Panen tahap 3
Pasca panen + penjualan
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 1)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 2)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 3)
Jumlah Hari
Bulan 1
1 2
3
4
Bulan 2
1
2
3
4
Bulan 3
1
2
3
60 hari
1/2 hari
1/2 hari
1 hari
1 hari
1 hari
3 minggu, 3 hari
1hari
3 hari
2 hari
1 hari
2 hari
1 hari
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
5 bulan
1 minggu
1 minggu
1 minggu
Keterangan :
:
:
:
:
:
:
Pemasukan baglog ke kumbung
Inkubasi baglog
Pembukaan penutup baglog
Panen
Pasca panen dan penjualan jamur tiram putih
Pengeluaran baglog dan sterilisasi baglog
4
Bulan 4
1
2
3
4
Bulan 5
1
2
3
4
Siklus produksi Tahun ke 3
Bulan 6
Bulan 7
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Bulan 8
2
3
4
1
Bulan 9
2
3
4
1
Bulan 10
2
3
4
1
Bulan 11
2
3
4
1
Bulan 12
2
3
4
URAIAN
Persiapan bangunan kumbung
Pembuatan bibit :
Persiapan bahan baku untuk media F2
Pengomposan
Pengadukan + Sterilisasi
Diangkat + Didiamkan
Inokulasi
Inkubasi F2
Pembuatan baglog :
Persiapan bahan baku
Pengomposan
Pengadukan + didiamkan
Pembungkusan
Sterilisasi + didiamkan
Inokulasi
Pemasukan baglog tahap 1
Inkubasi baglog tahap 1
Pembukaan penutup baglog tahap 1
Panen tahap 1
Pemasukan baglog tahap 2
Inkubasi baglog tahap 2
Pembukaan penutup baglog tahap 2
Panen tahap 2
Pemasukan baglog tahap 3
Inkubasi baglog tahap 3
Pembukaan penutup baglog tahap 3
Panen tahap 3
Pasca panen + penjualan
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 1)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 2)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 3)
Jumlah Hari
Bulan 1
1 2
3
4
Bulan 2
1
2
3
4
Bulan 3
1
2
3
60 hari
1/2 hari
1/2 hari
1 hari
1 hari
1 hari
3 minggu, 3 hari
1hari
3 hari
2 hari
1 hari
2 hari
1 hari
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
5 bulan
1 minggu
1 minggu
1 minggu
Keterangan :
:
:
:
:
:
:
Pemasukan baglog ke kumbung
Inkubasi baglog
Pembukaan penutup baglog
Panen
Pasca panen dan penjualan jamur tiram putih
Pengeluaran baglog dan sterilisasi baglog
4
Bulan 4
1
2
3
4
Bulan 5
1
2
3
4
Siklus produksi Tahun ke 4
Bulan 6
Bulan 7
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Bulan 8
2
3
4
1
Bulan 9
2
3
4
1
Bulan 10
2
3
4
1
Bulan 11
2
3
4
1
Bulan 12
2
3
4
URAIAN
Persiapan bangunan kumbung
Pembuatan bibit :
Persiapan bahan baku untuk media F2
Pengomposan
Pengadukan + Sterilisasi
Diangkat + Didiamkan
Inokulasi
Inkubasi F2
Pembuatan baglog :
Persiapan bahan baku
Pengomposan
Pengadukan + didiamkan
Pembungkusan
Sterilisasi + didiamkan
Inokulasi
Pemasukan baglog tahap 1
Inkubasi baglog tahap 1
Pembukaan penutup baglog tahap 1
Panen tahap 1
Pemasukan baglog tahap 2
Inkubasi baglog tahap 2
Pembukaan penutup baglog tahap 2
Panen tahap 2
Pemasukan baglog tahap 3
Inkubasi baglog tahap 3
Pembukaan penutup baglog tahap 3
Panen tahap 3
Pasca panen + penjualan
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 1)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 2)
Pengeluaran baglog + sterilisasi (tahap 3)
Jumlah Hari
Bulan 1
1 2
3
4
Bulan 2
1
2
3
4
Bulan 3
1
2
3
60 hari
1/2 hari
1/2 hari
1 hari
1 hari
1 hari
3 minggu, 3 hari
1hari
3 hari
2 hari
1 hari
2 hari
1 hari
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
31,25 hari
70 hari
15-20 hari
3 bulan
5 bulan
1 minggu
1 minggu
1 minggu
Keterangan :
:
:
:
:
:
:
Pemasukan baglog ke kumbung
Inkubasi baglog
Pembukaan penutup baglog
Panen
Pasca panen dan penjualan jamur tiram putih
Pengeluaran baglog dan sterilisasi baglog
4
Bulan 4
1
2
3
4
Bulan 5
1
2
3
4
Siklus produksi Tahun ke 5
Bulan 6
Bulan 7
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Bulan 8
2
3
4
1
Bulan 9
2
3
4
1
Bulan 10
2
3
4
1
Bulan 11
2
3
4
1
Bulan 12
2
3
4
Lampiran 6 Produksi jamur menurut kabupaten dan kota di Jawa Barat tahun 2007-2012a
No.
Kabupaten/Kota
1
Bogor
2
Sukabumi
3
Cianjur
4
Bandung
5
Garut
6
Tasikmalaya
7
Ciamis
8
Kuningan
9
Cirebon
10
Majalengka
11
Sumedang
12
Indramayu
13
Subang
14
Purwakarta
15
Karawang
16
Bekasi
17
Bandung Barat
18
Kota Bogor
19
Kota Sukabumi
20
Kota Bandung
21
Kota Cirebon
22
Kota Bekasi
23
Kota Depok
24
Kota Cimahi
25
Kota Tasikmalaya
26
Kota Banjar
Jumlah
2007
4,410
467
111,835
30,604
275
638
133
25
6,852
2,914
2,719
99
46,145
25,157
17,383
543
1,426
4,171
255,796
2008
638,969
1,566
24,143
54,535
18,586
2,122
3,823
7,145
133
12,527
27,775
348,100
372
3,811,559
35,239
390,401
2,171
110
46
40
35,056
1,675
5,416,093
Tahunb
2009
26,167
645
3,022,531
105,174
45,753
2,242
354
23,357
623
11,003
63,957
57,657
679,911
17
1,851,128
161,620
1,004,884
110,267
60
1,909
2,073
104,399
31,015
7,306,746
2010
696,483
473,787
905,145
276,471
10,800
9,886
40,089
66,820
80,413
62,641
11,371
57,413
4,663,867
75,388
7,304,916
122,624
4,418,284
24,975
17,340
306
112,750
153,401
37,996
19,623,166
a
Sumber : Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jawa Barat, 2012.
b
Satuan dalam Kilogram.
2011
2,724,851
620,755
967,527
120,007
95,820
44,605
14,138
119,712
52,942
20,300
82,169
127,160
2,269,471
8,435
18,377,013
91,365
7,860,090
16,975
14,310
500
6,750
118,800
59,151
33,756
33,846,602
Lampiran 7 Laba rugi usaha jamur tiram putih pada CV. Megah Makmur Sentosa
No.
A
B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
C
D
E
Uraian
PENERIMAAN
1. Penjualan jamur tiram putih
2. Penjualan baglog
3. Penjualan bibit jamur tipe F2
TOTAL PENERIMAAN
BIAYA OPERASIONAL
BIAYA TETAP
Biaya Sewa
Gaji:
Gaji Kepala Bagian
Gaji TK Bibit
Gaji TK Kumbung
Gaji Staff Pemasaran dan Keuangan
Gaji staff logistik
Uang makan kepala bagian
Uang makan karyawan
Biaya Komunikasi
Biaya Listrik
Biaya pemeliharaan :
Pembelian oli (untuk kumbung)
Pembelian oli (untuk service motor)
Pembelian oli (untuk service mobil)
Biaya kebersihan
Peralatan Produksi:
Masker
Saringan plastik
Saringan alumunium
Gunting
Cutter
Sapu lidi
Sapu Ijuk
Biaya Penyusutan
TOTAL BIAYA TETAP
BIAYA VARIABEL
Bahan Baku Loging:
Serbuk gergaji
Bekatul
Kapur (CaCO3)
Gypsum
Pupuk NPK
Tetes tebu
Bibit F2
Plastik Log
Plastik kemas
Gas LPG
Upah tenaga kerja inokulasi
Upah tenaga kerja pengemasan
Upah tenaga kerja bongkar-pasang
Bahan Baku bibit F2:
Serbuk gergaji
Jagung menir
Kapur (CaCO3)
Bekatul
Bibit F1
Botol bibit
Alkohol
Spirtus
Biaya transportasi
TOTAL BIAYA VARIABEL
TOTAL BIAYA OPERASIONAL
LABA SEBELUM BUNGA DAN PAJAK
PAJAK 25%
LABA BERSIH
1
2
Tahun
3
4
5
121,086,933
13,238,250
26,476,000
160,801,183
242,173,866
15,885,900
31,772,000
289,831,766
242,173,866
15,885,900
31,772,000
289,831,766
242,173,866
15,885,900
31,772,000
289,831,766
242,173,866
15,885,900
31,772,000
289,831,766
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
14,000,000
7,300,000
23,400,000
3,000,000
3,500,000
2,600,000
11,200,000
440,000
150,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
300,000
0
1,200,000
240,000
360,000
0
1,440,000
288,000
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
25,890,302
96,498,502
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
25,890,302
109,964,502
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
25,890,302
110,324,502
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
25,890,302
110,324,502
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
25,890,302
110,324,502
3,900,000
7,800,000
260,000
455,000
195,000
650,000
11,096,000
4,784,000
1,863,000
4,160,000
3,329,040
3,329,040
2,496,780
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
660,000
308,000
13,200
66,000
7,475,000
1,083,950
286,000
462,000
4,455,000
59,127,010
155,625,512
5,175,671
1,293,918
3,881,753
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
207,452,202
82,379,564
20,594,891
61,784,673
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
207,812,202
82,019,564
20,504,891
61,514,673
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
207,812,202
82,019,564
20,504,891
61,514,673
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
207,812,202
82,019,564
20,504,891
61,514,673
Lampiran 8 Cashflow usaha jamur tiram putih pada CV. Megah Makmur Sentosa
No.
A
B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Uraian
INFLOW
1. Penjualan jamur tiram putih
2. Penjualan baglog
3. Penjualan bibit jamur tipe F2
4. Nilai sisa
TOTAL INFLOW
OUTFLOW
1. BIAYA INVESTASI
Bangunan Kumbung (24x15 m)
Bangunan kumbung (8x10,5 m)
Tempat produksi
Saung Karyawan
Sewa dibayar dimuka
Boiler
Troli
Sekop
Semawar
Botol bibit
Ember
Mesin pengkabutan
Sumur pompa
Pantek Sumur pompa
Instalasi listrik
Bunsen
Penggiling jagung
Spatula
Selang gas
Selang air
Timbangan besar
Timbangan kecil
Laptop
Printer
Mobil pickup
Motor
Meja
Kursi
TOTAL BIAYA INVESTASI
2. BIAYA TETAP
Biaya Sewa
Gaji:
Gaji Kepala Bagian
Gaji TK Bibit
Gaji TK Kumbung
Gaji Staff Pemasaran dan Keuangan
Gaji staff logistik
Uang makan kepala bagian
Uang makan karyawan
Biaya Komunikasi
Biaya Listrik
Biaya pemeliharaan :
Pembelian oli (untuk kumbung)
Pembelian oli (untuk service motor)
Pembelian oli (untuk service mobil)
Biaya kebersihan
Peralatan Produksi:
Masker
Saringan plastik
Saringan alumunium
Gunting
Cutter
Sapu lidi
Sapu Ijuk
TOTAL BIAYA TETAP
3. BIAYA VARIABEL
Bahan Baku Loging:
Serbuk gergaji
Bekatul
Kapur (CaCO3)
Gypsum
Pupuk NPK
Tetes tebu
Bibit F2
Plastik Log
Plastik kemas
Gas LPG
Upah tenaga kerja inokulasi
Upah tenaga kerja pengemasan
Upah tenaga kerja bongkar-pasang
Bahan Baku bibit F2:
Serbuk gergaji
Jagung menir
Kapur (CaCO3)
Bekatul
Bibit F1
Botol bibit
Alkohol
Spirtus
Biaya transportasi
TOTAL BIAYA VARIABEL
TOTAL OUTFLOW
net benefit
Pajak 25%
net benefit setelah pajak
discount factor 5%
PV/Tahun
PV positif
PV negatif
NPV
IRR
Net B/C
DPP (tahun)
1
Tahun
3
2
4
121,086,933
13,238,250
26,476,000
242,173,866
15,885,900
31,772,000
242,173,866
15,885,900
31,772,000
242,173,866
15,885,900
31,772,000
160,801,183
289,831,766
289,831,766
289,831,766
36,259,500
10,193,500
12,354,500
6,730,000
15,000,000
3,800,000
350,000
75,000
170,000
1,400,000
68,000
1,910,000
1,160,000
1,600,000
1,000,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
500,000
150,000
5,850,000
395,000
38,000,000
11,550,000
269,990
329,990
149,529,480
5
242,173,866
15,885,900
31,772,000
8,946,330
298,778,096
3,800,000
0
75,000
170,000
1,400,000
68,000
75,000
170,000
1,400,000
68,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
5,850,000
395,000
5,850,000
395,000
269,990
329,990
8,971,980
3,800,000
269,990
329,990
8,971,980
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
14,000,000
7,300,000
23,400,000
3,000,000
3,500,000
2,600,000
11,200,000
440,000
150,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
300,000
0
1,200,000
240,000
360,000
0
1,440,000
288,000
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
70,608,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,074,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
3,900,000
7,800,000
260,000
455,000
195,000
650,000
11,096,000
4,784,000
1,863,000
4,160,000
3,329,040
3,329,040
2,496,780
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
660,000
308,000
13,200
66,000
7,475,000
1,083,950
286,000
462,000
4,455,000
59,127,010
279,264,690
(118,463,507)
1,293,918
(119,757,425)
0.952
(114,009,069)
284,599,595
(114,009,069)
170,590,527
59.60%
2.496
4.44
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
181,561,900
108,269,866
20,594,891
87,674,975
0.907
79,521,202
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
190,893,880
98,937,886
20,504,891
78,432,995
0.864
67,766,108
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
185,721,900
104,109,866
20,504,891
83,604,975
0.823
68,806,894
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
190,893,880
107,884,216
20,504,891
87,379,325
0.784
68,505,391
Lampiran 9 Analisis switching value (penurunan jumlah output (jamur tiram, baglog, dan bibit) sebesar 15,84653094%)
No.
A
B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Uraian
INFLOW
1. Penjualan jamur tiram putih
2. Penjualan baglog
3. Penjualan bibit jamur tipe F2
4. Nilai sisa
TOTAL INFLOW
OUTFLOW
1. BIAYA INVESTASI
Bangunan Kumbung (24x15 m)
Bangunan kumbung (8x10,5 m)
Tempat produksi
Saung Karyawan
Sewa dibayar dimuka
Boiler
Troli
Sekop
Semawar
Botol bibit
Ember
Mesin pengkabutan
Sumur pompa
Pantek Sumur pompa
Instalasi listrik
Bunsen
Penggiling jagung
Spatula
Selang gas
Selang air
Timbangan besar
Timbangan kecil
Laptop
Printer
Mobil pickup
Motor
Meja
Kursi
TOTAL BIAYA INVESTASI
2. BIAYA TETAP
Biaya Sewa
Gaji:
Gaji Kepala Bagian
Gaji TK Bibit
Gaji TK Kumbung
Gaji Staff Pemasaran dan Keuangan
Gaji staff logistik
Uang makan kepala bagian
Uang makan karyawan
Biaya Komunikasi
Biaya Listrik
Biaya pemeliharaan :
Pembelian oli (untuk kumbung)
Pembelian oli (untuk service motor)
Pembelian oli (untuk service mobil)
Biaya kebersihan
Peralatan Produksi:
Masker
Saringan plastik
Saringan alumunium
Gunting
Cutter
Sapu lidi
Sapu Ijuk
TOTAL BIAYA TETAP
3. BIAYA VARIABEL
Bahan Baku Loging:
Serbuk gergaji
Bekatul
Kapur (CaCO3)
Gypsum
Pupuk NPK
Tetes tebu
Bibit F2
Plastik Log
Plastik kemas
Gas LPG
Upah tenaga kerja inokulasi
Upah tenaga kerja pengemasan
Upah tenaga kerja bongkar-pasang
Bahan Baku bibit F2:
Serbuk gergaji
Jagung menir
Kapur (CaCO3)
Bekatul
Bibit F1
Botol bibit
Alkohol
Spirtus
Biaya transportasi
TOTAL BIAYA VARIABEL
TOTAL OUTFLOW
net benefit
Pajak 25%
net benefit setelah pajak
discount factor 5%
PV/Tahun
PV positif
PV negatif
PV comulativ
NPV
IRR
Net B/C
DPP (tahun)
1
Tahun
3
2
4
101,898,855
11,728,048
23,454,582
203,797,709
14,072,792
28,145,583
203,797,709
14,072,792
28,145,583
203,797,709
14,072,792
28,145,583
137,081,485
246,016,084
246,016,084
246,016,084
36,259,500
10,193,500
12,354,500
6,730,000
15,000,000
3,800,000
350,000
75,000
170,000
1,400,000
68,000
1,910,000
1,160,000
1,600,000
1,000,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
500,000
150,000
5,850,000
395,000
38,000,000
11,550,000
269,990
329,990
149,529,480
5
203,797,709
14,072,792
28,145,583
8,946,330
254,962,414
3,800,000
0
75,000
170,000
1,400,000
68,000
75,000
170,000
1,400,000
68,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
5,850,000
395,000
5,850,000
395,000
269,990
329,990
8,971,980
3,800,000
269,990
329,990
8,971,980
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
14,000,000
7,300,000
23,400,000
3,000,000
3,500,000
2,600,000
11,200,000
440,000
150,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
300,000
0
1,200,000
240,000
360,000
0
1,440,000
288,000
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
70,608,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,074,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
3,900,000
7,800,000
260,000
455,000
195,000
650,000
11,096,000
4,784,000
1,863,000
4,160,000
3,329,040
3,329,040
2,496,780
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
660,000
308,000
13,200
66,000
7,475,000
1,083,950
286,000
462,000
4,455,000
59,127,010
279,264,690
(142,183,205)
1,293,918
(143,477,123)
0.952
(136,590,221)
136,590,222
(136,590,221)
(136,590,221)
0.091
5.0%
1.000
5.00
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
181,561,900
64,454,184
20,594,891
43,859,293
0.907
39,780,379
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
190,893,880
55,122,204
20,504,891
34,617,313
0.864
29,909,358
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
185,721,900
60,294,184
20,504,891
39,789,293
0.823
32,746,588
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
190,893,880
64,068,534
20,504,891
43,563,643
0.784
34,153,896
(96,809,843)
(66,900,484)
(34,153,896)
0
Lampiran 10 Analisis switching value (penurunan harga output jamur sebesar 18,27746345%)
No.
A
B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Uraian
INFLOW
1. Penjualan jamur tiram putih
2. Penjualan baglog
3. Penjualan bibit jamur tipe F2
4. Nilai sisa
TOTAL INFLOW
OUTFLOW
1. BIAYA INVESTASI
Bangunan Kumbung (24x15 m)
Bangunan kumbung (8x10,5 m)
Tempat produksi
Saung Karyawan
Sewa dibayar dimuka
Boiler
Troli
Sekop
Semawar
Botol bibit
Ember
Mesin pengkabutan
Sumur pompa
Pantek Sumur pompa
Instalasi listrik
Bunsen
Penggiling jagung
Spatula
Selang gas
Selang air
Timbangan besar
Timbangan kecil
Laptop
Printer
Mobil pickup
Motor
Meja
Kursi
TOTAL BIAYA INVESTASI
2. BIAYA TETAP
Biaya Sewa
Gaji:
Gaji Kepala Bagian
Gaji TK Bibit
Gaji TK Kumbung
Gaji Staff Pemasaran dan Keuangan
Gaji staff logistik
Uang makan kepala bagian
Uang makan karyawan
Biaya Komunikasi
Biaya Listrik
Biaya pemeliharaan :
Pembelian oli (untuk kumbung)
Pembelian oli (untuk service motor)
Pembelian oli (untuk service mobil)
Biaya kebersihan
Peralatan Produksi:
Masker
Saringan plastik
Saringan alumunium
Gunting
Cutter
Sapu lidi
Sapu Ijuk
TOTAL BIAYA TETAP
3. BIAYA VARIABEL
Bahan Baku Loging:
Serbuk gergaji
Bekatul
Kapur (CaCO3)
Gypsum
Pupuk NPK
Tetes tebu
Bibit F2
Plastik Log
Plastik kemas
Gas LPG
Upah tenaga kerja inokulasi
Upah tenaga kerja pengemasan
Upah tenaga kerja bongkar-pasang
Bahan Baku bibit F2:
Serbuk gergaji
Jagung menir
Kapur (CaCO3)
Bekatul
Bibit F1
Botol bibit
Alkohol
Spirtus
Biaya transportasi
TOTAL BIAYA VARIABEL
TOTAL OUTFLOW
net benefit
Pajak 25%
net benefit setelah pajak
discount factor 5%
PV/Tahun
PV positif
PV negatif
NPV
IRR
Net B/C
DPP (tahun)
1
Tahun
3
2
4
98,955,313
13,238,250
26,476,000
197,910,626
15,885,900
31,772,000
197,910,626
15,885,900
31,772,000
197,910,626
15,885,900
31,772,000
138,669,563
245,568,526
245,568,526
245,568,526
36,259,500
10,193,500
12,354,500
6,730,000
15,000,000
3,800,000
350,000
75,000
170,000
1,400,000
68,000
1,910,000
1,160,000
1,600,000
1,000,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
500,000
150,000
5,850,000
395,000
38,000,000
11,550,000
269,990
329,990
149,529,480
5
197,910,626
15,885,900
31,772,000
8,946,330
254,514,856
3,800,000
0
75,000
170,000
1,400,000
68,000
75,000
170,000
1,400,000
68,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
5,850,000
395,000
5,850,000
395,000
269,990
329,990
8,971,980
3,800,000
269,990
329,990
8,971,980
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
14,000,000
7,300,000
23,400,000
3,000,000
3,500,000
2,600,000
11,200,000
440,000
150,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
300,000
0
1,200,000
240,000
360,000
0
1,440,000
288,000
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
70,608,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,074,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
3,900,000
7,800,000
260,000
455,000
195,000
650,000
11,096,000
4,784,000
1,863,000
4,160,000
3,329,040
3,329,040
2,496,780
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
7,392,000
5,914,800
5,914,800
4,436,100
660,000
308,000
13,200
66,000
7,475,000
1,083,950
286,000
462,000
4,455,000
59,127,010
279,264,690
(140,595,127)
1,293,918
(141,889,045)
0.952
(135,078,371)
135,078,371
(135,078,371)
0.273
5.0%
1.000
5.0
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
181,561,900
64,006,626
20,594,891
43,411,735
0.907
39,374,444
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
190,893,880
54,674,646
20,504,891
34,169,755
0.864
29,522,668
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
185,721,900
59,846,626
20,504,891
39,341,735
0.823
32,378,248
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
97,487,700
190,893,880
63,620,976
20,504,891
43,116,085
0.784
33,803,011
Lampiran 11 Analisis switching value (kenaikan harga gas LPG 589,656418%)
No.
A
B
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Uraian
INFLOW
1. Penjualan jamur tiram putih
2. Penjualan baglog
3. Penjualan bibit jamur tipe F2
4. Nilai sisa
TOTAL INFLOW
OUTFLOW
1. BIAYA INVESTASI
Bangunan Kumbung (24x15 m)
Bangunan kumbung (8x10,5 m)
Tempat produksi
Saung Karyawan
Sewa dibayar dimuka
Boiler
Troli
Sekop
Semawar
Botol bibit
Ember
Mesin pengkabutan
Sumur pompa
Pantek Sumur pompa
Instalasi listrik
Bunsen
Penggiling jagung
Spatula
Selang gas
Selang air
Timbangan besar
Timbangan kecil
Laptop
Printer
Mobil pickup
Motor
Meja
Kursi
TOTAL BIAYA INVESTASI
2. BIAYA TETAP
Biaya Sewa
Gaji:
Gaji Kepala Bagian
Gaji TK Bibit
Gaji TK Kumbung
Gaji Staff Pemasaran dan Keuangan
Gaji staff logistik
Uang makan kepala bagian
Uang makan karyawan
Biaya Komunikasi
Biaya Listrik
Biaya pemeliharaan :
Pembelian oli (untuk kumbung)
Pembelian oli (untuk service motor)
Pembelian oli (untuk service mobil)
Biaya kebersihan
Peralatan Produksi:
Masker
Saringan plastik
Saringan alumunium
Gunting
Cutter
Sapu lidi
Sapu Ijuk
TOTAL BIAYA TETAP
3. BIAYA VARIABEL
Bahan Baku Loging:
Serbuk gergaji
Bekatul
Kapur (CaCO3)
Gypsum
Pupuk NPK
Tetes tebu
Bibit F2
Plastik Log
Plastik kemas
Gas LPG
Upah tenaga kerja inokulasi
Upah tenaga kerja pengemasan
Upah tenaga kerja bongkar-pasang
Bahan Baku bibit F2:
Serbuk gergaji
Jagung menir
Kapur (CaCO3)
Bekatul
Bibit F1
Botol bibit
Alkohol
Spirtus
Biaya transportasi
TOTAL BIAYA VARIABEL
TOTAL OUTFLOW
net benefit
Pajak 25%
net benefit setelah pajak
discount factor 5%
PV/Tahun
PV positif
PV negatif
NPV
IRR
Net B/C
DPP (tahun)
1
Tahun
3
2
4
121,086,933
13,238,250
26,476,000
242,173,866
15,885,900
31,772,000
242,173,866
15,885,900
31,772,000
242,173,866
15,885,900
31,772,000
160,801,183
289,831,766
289,831,766
289,831,766
36,259,500
10,193,500
12,354,500
6,730,000
15,000,000
3,800,000
350,000
75,000
170,000
1,400,000
68,000
1,910,000
1,160,000
1,600,000
1,000,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
500,000
150,000
5,850,000
395,000
38,000,000
11,550,000
269,990
329,990
149,529,480
5
242,173,866
15,885,900
31,772,000
8,946,330
298,778,096
3,800,000
0
75,000
170,000
1,400,000
68,000
75,000
170,000
1,400,000
68,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
30,000
120,000
24,000
40,000
200,000
5,850,000
395,000
5,850,000
395,000
269,990
329,990
8,971,980
3,800,000
269,990
329,990
8,971,980
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
3,000,000
14,000,000
7,300,000
23,400,000
3,000,000
3,500,000
2,600,000
11,200,000
440,000
150,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
16,800,000
8,760,000
28,080,000
3,600,000
4,200,000
3,120,000
13,440,000
528,000
180,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
360,000
360,000
1,440,000
288,000
300,000
0
1,200,000
240,000
360,000
0
1,440,000
288,000
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
70,608,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,074,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
100,000
7,000
50,000
28,000
15,200
24,000
54,000
84,434,200
3,900,000
7,800,000
260,000
455,000
195,000
650,000
11,096,000
4,784,000
1,863,000
28,689,707
3,329,040
3,329,040
2,496,780
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
50,979,402
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
50,979,402
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
50,979,402
5,914,800
5,914,800
4,436,100
6,930,000
13,860,000
462,000
808,500
346,500
1,155,000
19,716,000
8,510,000
3,726,000
50,979,402
5,914,800
5,914,800
4,436,100
660,000
308,000
13,200
66,000
7,475,000
1,083,950
286,000
462,000
4,455,000
83,656,717
303,794,397
(142,993,214)
1,293,918
(144,287,132)
0.952
(137,361,350)
137,361,350
(137,361,350)
0.207
5.0%
1.000
5.0
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
141,075,102
225,149,302
64,682,464
20,594,891
44,087,573
0.907
39,987,428
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
141,075,102
234,481,282
55,350,484
20,504,891
34,845,593
0.864
30,106,592
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
141,075,102
229,309,302
60,522,464
20,504,891
40,017,573
0.823
32,934,462
870,000
406,000
17,400
87,000
9,959,000
1,300,600
312,000
504,000
4,860,000
141,075,102
234,481,282
64,296,814
20,504,891
43,791,923
0.784
34,332,867
Lampiran 12 Dokumentasi
Kumbung pertumbuhan baglog CV.
Megah Makmur Sentosa
Rak penyimpanan baglog CV. Megah
Makmur Sentosa
Pemasukan media tanam baglog setelah
pengomposan
Pengangkutan baglog menuju kumbung
oleh karyawan
Penyimpanan bahan baku usaha jamur
tiram
Bibit F2 Produksi oleh CV. Megah
Makmur Sentosa
Pengemasan jamur tiram putih oleh
karyawan
Distribusi baglog afkir ke pengepul
Pembelian jamur tiram putih oleh
distributor
Produksi nugget jamur oleh Joggets
Nugget
Pengecekan kumbung oleh karyawan
CV. Megah Makmur Sentosa
Penaruhan baglog pada rak
Produksi bibit
Peralatan budidaya jamur tiram CV.
Megah Makmur Sentosa
Produksi jamur crispy oleh D'Jamur
LQiang
107
Lampiran 13
RIWAYAT HIDUP
Penulis bernama lengkap Sarah Putri, dilahirkan di Jakarta pada tanggal
10 Februari 1991. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari
pasangan suami istri ayahanda Hartono Hadiwardojo dan ibunda Yoel Fattah.
Penulis menempuh pendidikan formal di SDN Percontohan Ujung
Menteng 04 Pagi pada tahun 1997 dan lulus pada tahun 2003. Penulis kemudian
melanjutkan pendidikan ke SMPN 193 Jakarta dan lulus pada tahun 2006
kemudian menamatkan pendidikan menengah atas pada SMAN 12 Jakarta pada
tahun 2009. Pada tahun 2009, penulis diterima sebagai mahasiswa di Institut
Pertanian Bogor melalui jalur UTMI (Ujian Talenta Mandiri) dengan Program
Mayor Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Selama menjadi mahasiswa di IPB, penulis turut mengikuti kegiatan
organisasi mahasiswa dan kepanitiaan di kampus. Penulis tergabung sebagai Staff
IT di UKM Century (Centre of Entrepreneurship Development of Youth) IPB
pada tahun 2010. Penulis dipercaya sebagai Sekretaris Umum II di Himpunan
Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis (HIPMA) pada tahun 2011. Penulis juga
dipercaya memegang beberapa jabatan atas divisi pada beberapa kepanitiaan di
UKM Century, himpunan profesi, dan internal kampus.
Dalam mengaplikasikan ilmu bisnis, penulis bersama partner mendirikan
sebuah usaha perdagangan dan jasa dengan nama Jual Beli M. Penulis adalah
Owner di RUMAH PAYUNG dan IPUS Gift and Souvenir, serta Property
Consultant di HARCOURTS Sinpasa, Summarecon Bekasi.
Download