2 Sifat Organisasi Teori Organisasi Sebuah asumsi umum dari

advertisement
2
Sifat Organisasi
Teori Organisasi
Sebuah asumsi umum dari sebuah profesi administrasi adalah bahwa
member-nya
dapat
dibedakan menurut
pengetahuan mereka
yang
superior mengenai organisasi, superior, yakni, dibandingkan dengan
member
organisasi
non -administratif.
Oleh
karenanya,
sebuah
perhatian terhadap filosofi administratif akan sesuai dengan klaim ini.
Logika apa yang mendasari dan value/nilai apa yang diimplikasikan
oleh badan teori organisasi? Fenomena organisasi manusia telah
menarik sejumlah perha tian energetik para akademisi dan peneliti;
timbunan literatur dalam teori organisasi dan korelatifnya, termasuk
teori administratif, adalah bukti yang cukup akan hal ini. Tapi ilmu
sosial merupakan sebuah status rendah dalam persaudaraan akademi
dan beberapa diantaranya merupakan cabang yang baru -baru ini keluar,
seperti
misalnya
psikologi
organisasi,
teori
informa si
dan
pengembangan organisasi, yang merupakan junior bagi administrasi
sebagai sebuah bidang studi . Sebaliknya, administrasi publik telah
lama dikembangkan sebagai sebuah bidang ilmu dibawah inisiatif ilmu
politik; dan Waldo telah menyatakan (1961) bahwa sebuah trend dapat
dibedakan dari teori administratif seperti misalnya teori organisasi,
sebuah pergeseran yang akan konsisten dengan mode behav iouralisme
di pertengahan abad dua puluh. Dia juga menunjukkan bahwa teori
administratif akan menyatakan ‘sebuah keterlibatan dengan dunia,
sebuah perjuangan setelah value’ dimana teori organisasi memiliki
konotasi yang lebih faktual, dan kurang value -involved (ibid, 217,
218). Tentu saja, teori organisasi tidak meloloskan, dan apalagi
menyelesaikan, permasalahan value yang melekat dalam tindakan
administratif, tapi hal ini menyatakan adanya kemungkinan teori,
model dan bantuan konseptual dalam bernavigasi, yang mungkin akan
dapat menanam administrasi dengan sebuah kompetensi khusus, sebuah
kompetensi yang tidak dapat dengan mudah diakses oleh sembarang
pria di jalanan atau anggota manapun dari organisasi dan yang lebih
berbasis-sains serta dihormati secara intelektual.
Apa
dimensi
dan
viabilitas
dari
klaim
ini?
Apakah
memungkinkan untuk membedakan antara logika administrasi dengan
mengarahkan perhatian kita ke studi organisasi? Kita akan menjawab
pertanyaan pertama dalam bab ini. Sementara untuk pertanyaan kedua,
Waldo, dari perspektif ilmu politik, menyatakan tidak. Merujuk pada
fabel pria buta yang mendeskripsikan seekor gajah, dia mengataka n:
‘Dalam
memandang
inklusifitas,
keragaman,
amorphousness
dari
material-material yang diletakkan dibawah judul Teor i Organisasi saat
ini,
seseorang
harus
menyimpulkan
bahwa,
jika
mereka
semua
beranggapan tentang gajah yang sama, ini adalah gajah yang sangat
besar dengan elephantiasis umum’ (ibid. 216). Ahli teori organisasi
sendiri akan harus setuju dengan hal ini . Haas dan Drabek, misalnya,
membedakan tidak lebih dari delapan ‘perspektif’ atas plethora konsep,
hipotesis dan perwakilan data dalam pemikiran dan riset organisasi:
perspektif rasional, klasik, human relation, sistem alami, konflik,
exchange, teknologi dan s istem terbuka (1973, 23 -93). Masing-masing
dari perspektif ini dapat dikarakterisasikan dengan sebuah model
teoretis, dan masing -masing dapat berfungsi dalam struktur persepsi
peneliti dan seleksi variabelnya untuk studi penelitian. Dan masing masing
‘penjelasan’
mencerminkan
Weltanschauung -nya
sendiri.
Namun tidak ada, menurut peneliti, yang dapat berfungsi sebagai basis
teoretis yang sepenuhnya memadai (ibid). Dalam teks standar lain,
Hall membedakan antara teori manajemen, ekonomi dan strukturalis
dibawah sebuah perspektif sistem tertutup dan ahli teori
grup,
individu, teknologi dan power di bawah sebuah perspektif sistem
terbuka (1972, 35). Sekali lagi, terdapat kesimpulan bahwa pemahaman
organisasi tidak cukup memadai untuk membiarkan orang -orang di
dalamnya ‘merealisasikan keinginan mereka sendiri, untuk membiarkan
organisasi mencapai tujuannya, dan membiarkan organisasi untuk
mencapai semua yang mereka bisa bagi masyarakat’ (38). La Porte
berbicara
menganai
‘celoteh’
literatur
dan
bersimpati
dengan
‘mahasiswa dalam mencari sebuah bidang yang koheren yang ingin
melarikan diri dari luasnya variasi semantik dan konsep -konsep yang
tampaknya tidak terbatas’ (Marini, 1971, 26).
Akan merupakan sebuah tugas yang mustahil untuk meringkas
atau bahkan untuk mens urvei kumpulan hasil, studi dan spekulasi
teoretis yang dapat diperhatikan dalam rubrik besar ini. Apa yang
sebaiknya kita coba lakukan adalah dengan ringkas memilih topik teori
organisasi tertentu yang bersama -sama akan dapat membentuk tonggak
yang lebih kuat dalam melandasi logika perilaku administratif. Jika
masalah subyek sains ini terbatas pada kalimat -kalimat faktual (dan
dapat
diverifikasikan
memperhatikan
secara
empiris)
batasan -batasan
dimana
maka
ilmu
kita
juga
harus
organisasi
dapat
diharapkan mu lai berakhir.
Hubungan antara ilmu sosial dan administrasi adalah hubungan
yang produktif. Administrasi publik, secara khusus dan administrasi
privat,
hampir
dapat
dipastikan
mendapatkan
keuntungan
dari
pengetahuan sosiologis Max Weber dan teorinya menge nai struktur
birokratis (1947). Teori organisasi kompleks oleh Parsons (1951),
March dan Simon (1958), Etzioni (1961), Blau dan Scott (1962) dan
lainnya telah memberikan analisa logika organisasi, diagnosa atas
beragam disfungsi organisasi, dan model konse ptual atau sistem
interpretif
yang
telah
meningkatkan
basis
pengetahuan
untuk
kompetensi administratif. Tentu saja, tidak setiap administrator akan
au fait dengan rentang penuh hasil -hasil temuan ini, tapi meski
demikian terdapat sebuah pola menuju profesi onalisasi yang cenderung
bergabung dalam semacam simbiosis dari lengan studi penelitian dan
lengan praktisi dari profesi yang bersangkutan. Terdapat pemberian
dan pengambilan informasi dan sejumlah eksekutif dari pengalaman
dan ranking mungkin tidak akan m embuat perkenalan dengan teori
organisasi. Banyak orang akan cukup familiar dengan jargon salah satu
ilmu sosial, dan banyak pula yang akan familiar dengan beberapa
perspektif konseptual yang disebutkan diatas.
Outcome lain yang menguntungkan dari ketert arikan dalam
organisasi manusia adalah pengembangan teori sistem umum, sebuah
pergerakan yang berasal dari biologi (von Bertalanffy, 1950) dan
menjangkau hingga filosofi sintetik (Laszlo, 1972). Pendekatan sistem
terhadap pemikiran organisasi memberikan se buah framework untuk
kontribusi interdisipliner (antar bidang). Analog dari biologi mungkin
kadang digunakan dan definisi organisasi manusia mungkin menjadi
kabur, condong ke satu sisi ke dalam makrosistem yang dikenal oleh
sosiologi sebagai sebuah institu si dan di sisi lain ke dalam mikrosistem
dari ‘grup primer’; tapi meski adanya kesulitan -kesulitan definisi
batasan, konsepsi sistem terbuka dari aliran energi dan informasi tidak
tidak
diragukan
lagi
menstimulasi
sebuah
ketertarikan
langsung
intelektual d alam fenomena organisasi dan sebuah ketertarikan tidak
langsung dalam fenomena administrasi. Barnard, seperti yang sudah
dikatakan, merupakan seorang pemikir sistem yang maju di masanya.
Teori sistem memang meluas melampaui batasan organisasi dan
hal ini bisa dengan mudah menjadi sebuah flosofi atau sebuah cara
dalam memandang hidup (Allport, 1960; Boulding, 1956; Etzioni,
1968; Laszlo, 1972; de Chardin, 1959). Bahkan ketika terbatasi dalam
domain organisasi, sebuah domain yang dengan sendirinya dipotong
dan dibatasi oleh metavalue efisiensi dan efektivitas, hal ini bisa
menjadi,
pernyataan
digunakan dalam
sejumlah
bebas -value
yang
mendukung posisi
kesepakatan
dalam
bertentangan
dengannya,
ideologi. Sehingga,
psikologi
sisoal
dan
data
terdapat
empiris
pendukung, untuk praktek -praktek organisasi yang dapat dianggap
demokratis atau participatory (Likert, 1961; Katz dan Kahn, 1966, 470;
Wiener, 1954). Sekali lagi, teori organisasi jika bukan teori sistem per
se telah digunakan untuk mendukung, misalnya, sebuah etika Judeo Christian (Golembiewski, 1965) dan sebuah model ‘human resources’
(Miles, 1975; Leavitt, 1972).
Organisasi telah didefinisikan secara beragam atau dibiarkan
tidak terdefinisikan (Waldo, 1961). Sehingga Simon telah,
Organisasi
manusia
adala h
sistem
dengan
aktivitas
interdependen, meliputi setidaknya beberapa grup primer dan
biasanya terkarakterisasi, di level consciousness partisipasn,
dengan sebuah tingkatan arah perilaku rasional yang lebih
tinggi menuju ends (tujuan akhir) yang merupakan obyek dari
pengakuan dan ekspektasi umum (Simon, 1954, 157).
Khas Simon, penekanannya ada pada karakter rasional organisasi.
Bakke (1960, 37) lebih terperinci:
Sebuah organisasi sosial adalah sebuah sistem kontinyu dari
aktivitas
dalam
manusia
yang
menggunakan,
serangkaian
set
terdiferensi asi
mengubah
spesifik
dan
dan
sumberdaya
terkoordinasi
menghubungkan
manusia,
material,
kapital, ideasional dan sumberdaya alam ke dalam sebuah
keutuhan problem -solving unik yang terlibat dalam memenuhi
kebutuhan manusia tertentu dalam berinteraksi dengan sistem
aktivitas
manusia
lain
dan
sumberdaya
lain
dalam
lingkungannya.
Disini, organisasi merupakan unit problem -solving dan penekanan
terhadap sistem-nya sangat jelas. Argyris, dengan ringkas, mengatakan,
‘organisasi ad alah strategi besar yang diciptakan oleh individu untuk
mencapai tujuan yang membutuhkan upaya dari banyak pihak’ (1960,
24).
Disini
seseorang
dapat
mendeteksi
sebuah
kecondongan
fenomenologis, yakni, sebuah pandangan organisasi manusia yang
melihat mereka sebagai konsep pengalaman manusia yang didasarkan
dalam kehidupan subyektif individual .
Untuk tujuan kami, organisasi manusia dapat dipahami sebagai
entitas sistemik yang eksis didalam sebuah lingkungan tertentu dan
memiliki setidaknya dua anggota manus ia. Maksudnya dengan entitas
sistemik adalah sebuah integritas struktur yang dapat dibedakan dan
diasosiasikan dengan tujuan, bahkan meskipun bentuk, artikulasi, dan
lokus dari tujuan ini masih samar, unconscious (tidak sadar) atau
sengaja
disembunyikan.
anggota/member
Harus
merupakan
diketahui
sebuah
bahwa
prakondisi
setidaknya
dua
organisasi
dan
karenanya menurut definisi merupakan sebuah pengandaian sebuah
struktur sosial dan hierarki. Harus pula diketahui bahwa koeksistensi
tujuan kolektif dan individua l-lah yang menciptakan dinamika atau
tensi organisasi fundamental. Bahkan di level
yang sepenuhnya
kolektif maka tujuan -tujuan organisasi itu sendiri bisa berada dalam
konflik
dinamis
atau
dialektik,
dan
konflik
semacam
ini
bisa
merupakan dinamika consciou s (sadar) atau unconscious (tidak sadar)
di dalam bidang administrator.
Aspek tujuan dari organisasi dapat dikategorikan dalam beberapa
cara. Perrow memberikan sebuah klasifikasi tingkat empat:
(1) Tujuan output (barang dan jasa)
(2) Tujuan sistem (maint enance dan growth/pertumbuhan)
(3)
Tujuan
produk
(berkaitan
dengan
kualitas,
kuantitas
dan
permintaan untuk barang dan jasa)
(4) Tujuan turunan (misal., tujuan politik, investasi, pengembangan
karyawan) (1970, 135
Meski definisi organisasi manusia tidak d isepakati oleh ahli
teori – Simon merasa puas untuk menganggapnya ‘sebagai level
pengelompokan manusia di suatu tempat diatas grup primer (pekerjaan
face-to-face atau pengelompokan keluarga yang merupakan unit dasar
dari aliran ‘human relation’) dan di sua tu tempat dibawah entitas yang
disebutnya ‘sebuah institusi’ – dimana contoh -contohnya bisa jadi
berupa ‘industri baja’, ‘perdagangan ritel’, ‘administrasi publik’.’
(Dunsire, 1973, 112 -113) – terdapat konsensus mengenai keunggulan
tindakan purposif dalam perilaku organisasi; organisasi memiliki
sebuah karakter purposif. Jika, oleh karenanya, teori organisasi akan
mengarah ke filosofi organisasi, atau sebaliknya, maka hal ini akan
berasal dari dorongan fakta ini atau aspek logika organisasi ini.
Struktur O rganisasi
Keanggotaan dalam organisasi mendiktekan beberapa bentuk struktur
sosial, yakni, sejumlah bentuk diferensiasi status. Apa yang kurang
jelas dari sudut pandang logika, tapi sepenuhnya benar sebagai fakta
empiris – baik dalam lintas waktu dan lint as kultur – adalah bahwa
tampaknya
hal
ini
mendiktekan
beberapa
bentuk
yang
secara
konvensional dikenal sebagai line dan staff. Pengecualian eksotik,
meskipun ada, power dan otoritas biasanya dirasakan sebagai hal yang
mengalir di sepanjang garis dari inti filosofis bidang organisasi ke
level tindakan di tepian organisasi. Aliran ini, dan line of flow yang
diasosiasikan
dengannya,
mengimplikasi
sebuah
prinsip
hierarki,
sebuah tatanan atau susunan yang harus didasarkan sepenuhnya dalam
tujuan organisasi. Hal ini menghasilkan dan termanifestasikan oleh
sebuah
sistem
hubungan
subordinat -subordinat -koordinat
diantara
anggota-anggota organisasi. Merupakan hak istimewa dari administrasi
untuk
mendefinisikan,
mengklarifikasikan,
mempertahankan,
memperluas dan membu mbui pengaturan ini. Status organisasi dan
sistem reward cenderung simetri isomorfis dengan line of command,
dan hal ini diperhitungkan dalam kebijakan konvensional sebagai hal
yang fungsional dan menguntungkan (Barnard, 1946, 46). Sebagai
akibatnya, tiap administrator dan manajer tahu apa yang dimaksud
dengan line, dan dengan sejumlah kesenangan, posisinya di dalam line.
Ahli
teori
kontemporer
mengakui
prinsip
ini
dan
cenderung
menemukan ekspresi terjelasnya dalam teori birokrasi formal rasional
milik Max Weber:
Setiap studi empiris dan kebanyakan ringkasan teoretis secara
eksplisit atau implisit akan bersandar pada konsep organisasi
formal Weberian. Bahkan Social Psychology of Organization
milik Katz dan Kahn, yang jelas merupakan magnum opus
dari dekade ini, juga terikat pada ide -ide tersebut. Basis
Weberian tidak tampak jelas di dalam kasus ini karena
penulis memulai treatise mereka dengan sebuah survei yang
komprehensif terhadap sistem dan teori peranan (role theory)
yang
mengarah
pada
seseorang
untuk
m eyakini
bahwa
perumusan mereka akan ditandai secara berbeda. Namun
demikian, tidak begitu adanya. Pola hierarki dari birokrasi
yang
melandasi
konseptualisasi
analisa
mereka
mereka
mengenai
diungkapkan
leadership.
Di
dalam
dalam
framework mereka, introduksi perubahan struktural untuk
mencapai tujuan organisasi dimulai di puncak sistem peranan;
bagian tengah level leadership berkenaan dengan penguraian
dan pengadaptasian sebuah struktur tertentu untuk mencapai
sebuah tujuan tertentu (interpolasi); dan terakhi r, bagian
bawah sistem leadership ini berkaitan dengan penggunaan
struktur tersebut. Terdapat sejumlah studi penelitian empiris
yang secara eksplisit menggunakan model Weberian dan
menunjukkan bahwa realitas organisasi jarang berkorelasi
sangat
erat
penyimpangan
dieksplorasi
dengan
dari
dan
parameterm
konsekuensi
‘model’.
‘murni’
dikonseptualisasikan,
Biasanya,
pengaturan
tapi
ini
paradigma
dasarnya tidak dipertanyakan secara fundamental. (Marini,
1971, 144).
Tambahan terhadap line ini adalah anggota -anggota organisasi
yang fungsinya adalah sebagai tambahan di dalam teori klasik dan
suportif terhadap personel line. Dalam proses -proses keputusan, staf
dapat memberikan saran tapi tidak bisa memberikan perintah sama
seperti, katakanlah, College of Cardinals d apat memberikan saran
kepada Paus tapi tidak melakukan subvene untuk menginstruksikan
seorang uskup di dalam line yang terdiri atas pope -bishop-priest. Tapi
konsep staf ini mengurangi kejernihan konsep line. Observasi empiris
akan menyatakan bahwa personel staf akan berfluktuasi dalam definisi
peranan mereka dengan bergerak masuk dan keluar line atau mereka
menggunakan sebuah otoritas line yang de facto jika bukan de jure
(Thompson,
1961;
Dalton,
1950,
342).
Permasalahan
ini
tidak
menyangkal perlunya resolu si. Jika logika diterima bahwa organisasi
merupakan kolektivitas purposif dengan sebuah ‘line’ dari filosofi
(tujuan)
menuju
tindakan
(pekerjaan
organisasi)
maka
dapat
dimungkinkan bahwa semua anggota entah bagaimana akan berada di
dalam line ini. Saran semacam ini akan menimbulkan pertanyaan yang
sulit mengenai sistem reward organisasi dan, bahkan, logikanya masih
belum diterima secara umum. Kebijakan konvensional eksis dalam
mempertahankan perbedaan line – staff dengan semua kekhawatiran
yang
menyertai
terkait
rentang
kontrol
dan
organisasi
yang
bersangkutan (Ouchi dan Dowling, 1974; Blau dan Schoenherr, 1970).
Struktur staff dan line menciptakan piramida konseptual yang,
akan kita akui, kini sangat tertanam dalam kesadaran administratif
dalam membentuk sebuah archet ype. Struktur piramidal dihasilkan dari
konsekuensi
spesialisasi
terkait
dan
dari
logika line
divisi/pembagian
dan staff seperti
tenaga
kerja.
Meski
misalnya
demikian,
upaya-upaya ikonoklastik di pengaturan struktural alternatif telah
dibuat dari waktu ke waktu. Bagan 2, diambil dari penelitian Likert
dan Miles, menunjukkan alternatif -alternatif seperti misalnya struktur
terhubung-pin, A, B, C; tim proyek D; dan model collegial E. Hal ini
akand diamati oleh inspeksi sederhana, bahwa sebuah line eksis di
dalam masing-masing kasus (ditunjukkan dengan garis titik -titik di
dalam diagram) dan tidak ada member yang secara simultan menjadi
member di lebih dari dua grup primer. Juga signifikan bahwa, dengan
pengecualian model collegiate, E, puncak line selau terpotong dari
‘level action’ dan hanya dapat berkomunikasi melalui intermediasi
manajerial atau supervisory. Sekali lagi, Bagan 3, dari Golembiewski,
menunjukkan dua metode mengorganisasi pekerjaan, tidak satupun
yang tampaknya menggantikan (meski a danya upaya non ortodoks
untuk memodifikasi) struktural esensial dari logika line dan staff,
yakni, hierarki dan flow proses -proses keputusan organisasi. Poin yang
hendak kami tekankan disini tidaklah untuk menyangkal keunggulan
relatif dari pengaturan -pengaturan ini – yang secara meyakinkan
dicapai oleh beberapa peneliti yang terlibat – tapi untuk menunjukkan
persistensi dan ketahanan struktur yang melandasi. Kedalaman struktur
ini
membuatnya
sulit
untuk
menemukan
hal -hal
baru
dibawah
pengaturan organisasi , dan tidak diragukan lagi akan mendukung
archet ype piramidal yang sangat fundamental bagi sikap administratif.
Karakter konservatif dari strukturalisme ini tidak sepenuhnya
mengimplikasikan bahwa organisasi memiliki sebuah esensi statik;
justru sebalikn ya mereka merupakan komposisi dalam flux goal directed, essay dalam strategi pencapaian tujuan. Wajah lain dari
struktur adalah fugnsi, aspek dinamis dari pengaturan peranan yang
merupakan pembentuk struktur. Dan struktur kembali lagi kepada kita
dalam elemen tujuan. Struktur organisasi apapun di dalam analisa
terakhirnya
haruslah
fungsional
terkait
dengan
tujuan.
Entitas
dinamisnya tetap ada sejalan dengan waktu. Struktur ini harus
menstrukturkan tidak hanya peranannya melainkan juga prosedur
pengambilan k eputusannya, dan telah lama dinyatakan bahwa minima
dapat
ditentukan
dalam
prosedur untuk:
(1) memilih leadership
(administrasi), (2) penstrukturan peranan (definisi pekerjaan), (3)
menentukan tujuan (kebijakan), (4) tujuan pencapaian (operasional).
(Morphet et al., 1967, 88). Hal ini mengandaikan reduksi administrasi
orisinal kita menjadi sebuah kompleks tujuan, teknologi dan pria yang
reflektif.
Tipe-Tipe Organisasi
Sejumlah upaya yang serius telah dibuat untuk mengklasifikasikan
genus organisasi menurut spesiesnya, untuk mendeduksikan sebuah
tipologi atau taksonomi organisasi, dan upaya -upaya ini merupakan hal
yang penting bagi thesis kita, dimana eksistensi subset yang berbeda di
dalam organisasi mungkin saja menghalangi kemungkinan adanya
filosofi adminsitrasi yang dilandaskan pada kesamaan struktur dan
fungsi organisasi. Sebuah taksonomi yang populer dinyatakan oleh
Blau dan Scott (1962). Mereka mengklasifikasikan organisasi sebagai
(a) asosiasi mutual benefit/sama -sama menguntungkan (perserikatan,
gereja), (b) terkait bisnis (perusahaan manufaktur, bank, (c) organisasi
jasa (rumah sakit, sekolah), (d) organisasi commonwealth (angkatan
bersenjata, polisi).
Taksonomi
Blau dan Scott
jelas
valuasional
dalam
artian
taksonomi ini didasarkan pada konsep cui bono. Dengan kata lain,
salah satu cara dimana organisasi dapat dikategorikan adalah menurut
sifat dan distribusi reward yang mereka hasilkan. Atau bisa dikatakan,
mereka bisa dikategorikan menurut tujuan dan keuntungan. Etzioni,
dari perspektif sosiologi , telah mengkategorikan organisasi terkait
dengan
variabel
dikatakan
compliance -structure.
koersif,
remuneratif,
atau
Sehingga,
normatif
organisasi
dalam
bisa
struktur
compliance mereka sementara anggota individu dapat memberikan
respon dalam cara -cara kalkulatif, moral atau alienatif – sebuah
sekolah dapat dikatakan sebagai koersif -alienatif, sementara gereja
termasuk normatif-moral (1961). Sekali lagi klasifikasi semacam ini
jelas valuasional.
Mengambil pendekatan sistem sosial, Katz dan Kahn sekali lag i
mengembangkan klasifikasi empat arah terhadap organisasi sehingga
menjadi (a) produktif, (b) maintenance, (c) adaptif, (d) manajerial politik (1966: 112). Organisasi produktif atau ekonomis memberikan
barang dan jasa terhadap masyarakat; organisasi maint enance (sekolah,
gereja, partai politik) mempertahankan dan menopang masyarakat
dengan ideologi dan sistem kepercayaan yang bersangkutan; organisasi
adaptif
(rumah
permasalahan
masyarakat;
sakit,
sosial
dan
unit
dan
organisasi
riset)
menyelesaikan
memberikan
permasalahan -
pengetahuan
manajerial -politik
baru
berkoordinasi
bagi
dan
berajudikasi antara kelompok -kelompok sosial (misal., perserikatan
buruh dan birokrasi negara) (147). Disini logika cui bono tetap ada,
tapi penerima benefit secara keseluruhan dian ggap sebagai masyarakat.
Masyarakat adalah sintesis didalam mana organisasi dialektik yang
berkompetisi untuk keunggulan kompetitif mereka sedang berfungsi.
Negara, sebagai perwakilan sintesis sosial, mempertahankan fungsi
sebagai organisasi penengah.
Katz dan Kahn juga mendeduksi set ‘second -order/susunan
kedua’ dalam pengklasifikasian. Mereka membedakan organisasi dalam
basis produk akhir mereka – apakah hal ini berkenaan dengan orang
atau obyek (misal., sekolah vs pabrik) – dalam basis jenis reward
organisasi – apakah termasuk ekspresif dan intrinsik (terminal value)
atau extranoues dan ekstrinsik (instrumental value); dalam basis
apakah organisasi memiliki tingkatan birokratis tinggi atau rendah; dan
dalam basis apakah organisasi cenderung menuju ke st abilitas atau
pertumbuhan (ibid. 148).
Dapat dilihat disini bahwa organisasi bisa dikategorikan dalam
beragam cara: mula-mula menurut genus, di level analisa mana
perbedaan ini mengabur antara organisasi dan institusi. Masyarakat,
dengan proses-proses simbolik
yang tersarang di
dalam
negara,
menjadi penentu utama bidang tindakan organisasi dan administratif.
Kedua, organisasi bervariasi menurut spesies, dan meski pilihan
klasifikasi bisa jadi arbitrary atau dialektikal, akan tampak sejumlah
kecenderungan
diantara
pihak
otoritas
teoretis
untuk
mengklasifikasikan dalam basis yang terkait dengan kepentingan atau
value. Tampaknya juga tidak ada dalam taksonomi konvensional ini
yang bisa menyangkal proposisi Litchfield mengenai kesamaan proses
administratif ant ara beragam bentuk organisasi. Dan terakhir, tentu
saja, organisasi dapat diklasifikasikan sebagai individual. Di dalam
masing-masing organisasi tersebut terdapat entitas fenomenologi yang
unik, membawa kondisi -kondisi yang berlaku untuknya dan hanya
untuknya, sehingga mendefinisikan aksi administratif dalam contoh ini
dalam cara yang paling tajam.
Terdapat subdivisi lain, yang merupakan internal atau domestik
dan telah mengarahkan banyak perhatian di dalam teori organisasi,
yakni, ide mengenai organisasi formal dan informal. Organisasi formal
dikatakan memiliki satu atau lebih organisasi informal. Barnard sendiri
merupakan pendukung pertama dari organisasi informal (1967, 114 123). Sejak saat inilah merupakan sebuah keyakinan bagi administrator
untuk ‘mengetahui organisasi informal’. Isu ini masih tetap hidup
untuk Etzioni sehingga melabeli pekerjaan March dan Simon sebagai
pekerjaan klasik (sebuah istilah yang cenderung dislogistik terhadap
eulogistik ‘modern’) karena pra -posesif mereka dengan organisasi
formal, perilaku rasional dan ‘pencarian untuk alat organisasi yang
paling tepat untuk memenuhi serangkaian tujuan tertentu, dan bukan
alat organisasi yang bisa tetap mempertahankan partisipan untuk
merasa bahagia’ (Etzioni, 1964, 31). Meski demikian, tamp aknya
cukup adil untuk mengatakan bahwa hubungan antara organisasi formal
dan informal yang dipengaruhi oleh perubahan dalam tipe organisasi di
tahap pengembangan teori ini masih belum bisa dipahami sepenuhnya.
Apa yang sudah dipahami adalah bahwa pola hu bungan informal di
dalam sebuah organisasi, adalah hal yang penting bagi administrator
dalam berbagai level, khususnya dibawah mereka yang mengepalai
beragam
iklim,
moral,
leadership
dan
komunikasi
organisasi.
Pemerintahan domestik ini, dan pemerintahan ya ng meluas diantara
tipe
organisasi,
semuanya
berbagi
satu
kualitas,
faktor
reward,
interest, value. Organisasi bisa dikategorikan secara logis tapi logka
itu sendiri akan valuasional dalam basisnya. Karena tidak ada di dalam
teori tipe organisasi yang menyebutkan sebuah filosofi sintetik maka
kita dapat berlanjut dari anatomi komparatif organisasi ke kepantasan
anatomi (anatom y proper).
Biologi Organisasi
Godaan untuk menganalogikan antara organisasi dan organisme sudah
ada sejak lama. Dan banyak pengamat yang kemudian menyerah.
Menganggapnya sebagai level analisa terbesar yang mungkin pernah
ada, de Chardin berbicara mengenai sebuah ‘biosfer’ (1959) dan,
menurunkan satu not dalam skala, Spencer telah mempertahankan
analogi organik untuk masyarakat secara keseluruhan. Sehingga,
… sel-sel sebuah organisme berkorespondensi dengan individu di
dalam
masyarakat,
jaringan -jaringan
berkorespondensi
dengan
kelompok-kelompok voluntary sederhana, organ -organ merujuk pada
organisasi-organisasi yang lebih kompleks. Ak tivitas ekonomi, yuridis
dan politik akan paralel dengan aspek fisiologis, morfologi dan unitary
dari sebuah organisme. Merchandise dalam transisi adalah hal yang
sama seperti makanan yang tidak terasimilasi. Ras penakluk adalah
pria, ras yang ditaklukkan adalah wanita; perjuangan mereka sama
seperti perjuangan spermatozoa disekeliling ovum (1910, 430, ff).
Selznick,
meski
membedakan
organisasi
dari
institusi,
mendeskripsikan institusi sebagai ‘organisme responsif dan adaptif’
(1957, 5) dan Michels (1915) dan Parsons (1951) berbicara mengenai
‘keutuhan alami’ organisasi sebagai sebuah organisme hidup yang
responsif. Ide organisasi sebagai sistem dengan kebutuhan -kebutuhan
yang ada di dalam lingkungan dan membuat perubahan yang adaptif
untuk survival sangat berakar dalam, dan dapat dilacak balik hingga
sejauh Plato.
Versi kontemporer dari analog yang persisten ini cenderung
lebih abstrak, lebih mekanis, lebih termatematis. Versi ini paling
mudah diekspresikan dalam konsep dasar atau inti dari teori sistem
umum, sebuah sistem teoretis untuk sintesis interdisipliner yang
berasal dari bidang biologi maternal (von Bertalanffy, 1968). Bagan 4
mewakili elemen-elemen esensial. Bentuk dari sebuah sistem umum
terdiri atas sebuah input, througput dan output energis y ang selfdirecting sesuai dengan mekanisme targeting dan feedback -nya. Sistem
konseptual juga memberikan ekonomi logis dari sebuah ‘kotak hitam’,
karena dibawah berbagai situasi bisa jadi tidak diperlukan atau
mustahil untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang berlangsung di
dalam sebuah sistem. Sudah cukup untuk membedakan output, input
dan hubungan diantara mereka. Sebuah sistem seperti yang ada di
Bagan
4
adalah
mempertukarkan
lingkungannya.
sebuah
sistem
(exchange)
Dan
sistem
terbuka
energi
ini
dan
diatur
dimana
sistem
informasi
oleh
ini
deng an
hukum
fisika
termodinamika. Yang pertama dari hukum ini, bahwa materi tidak
dapat diciptakan atau dihancurkan, menentukan sebuah limit terhadap
kuantum energi di jagat raya. Butir kedua dari hukum ini menyatakan
adanya kecednerungan bagi sistem energi untuk bergerak, ceteris
paribus, dari kondisi teratur atau kompleksitas ke kondisi pengacakan
atau randomness. Pada tingkatan dimana organisme, dan organisasi,
membaurkan tren alami ini menjadi ketidakteraturan, kek acauan dan
homogenitas,
mereka
menunjukkan
properti
negentropi
(negative
entropy) dari sistem. Dugaan lebih lanjut, kali ini dari teori informasi,
adalah bahwa tingkatan entropi yang terkandung dalam sistem atau
organisasi apapun berada dalam jumlah yang b erkebalikan dengan
kuantitas informasi yang dimilikinya (Shannon dan Weaver, 1949).
Karakteristik lain dari sistem juga telah diidentifikasi, seperti
misalnya
homeostasis,
diferensiasi
dan
ekuifinalitas,
semuanya
memiliki analog biologi yang jelas. Selai n itu, sistem terbuka berada
dalam perniagaan konstan dengan lingkungan mereka. Hal ini berarti
bahwa tiap sistem dapat dikonseptualisasikan sebagai sebuah subsistem
dari sebuah supersistem dan dengan sendirinya merupakan supersistem
dari subsistem -subsistemnya. Dibawa ke tingkat logika yang ekstrim,
hal ini memberikan kita sebuah visi jagat raya dalam kotak-Cina, satu
terminus dimana sistem energi tertutup dari makrokosmos dan yang
lainnya adalah terminus yang hilang di suatu tempat di batas ketiadaan
subatomik.
Mari kita kembali ke isomorfisme biologi. Organisasi dapat
membagai analogi dengan organisme hanya hingga tingkat sejauh ini.
Meski keduanya merupakan entitas purposif, mereka tidaklah purposif
dalam cara yang sama. Sebuah organisasi tidak memilik i ‘kesadaran’
atau ‘will/kemauan’. Hal ini hanya bisa menjadi properti dari anggota anggota individualnya. Implikasi dari pembedaan ini bagi filosofi
administratif adalah hal yang krusial, karena hal ini menanggung
masalah moralitas dan tanggungjawab orani sasi. Mari kita lihat bahwa
bentuk organisasi dan organisme berbeda. Katz dan Kahn menunjukkan
bahwa
… proses -proses sistemik dasar termasuk energis dan
melibatkan
flow,
transformasi
dan
exchange
energi.
Organisasi manusia memiliki properti yang unik, yang
membedakan mereka dari kategori sistem terbuka lainnya.
Mungkin properti unik yang paling menda sar adalah
ketiadaan struktur dalam pengertian yang umum – sebuah
anatomi yang dapat diidentifikasi, bertahan lama, dan fisik
dan
dapat
diamati
dalam
kondisi
di am
dan
kondisi
bergerak serta dalam geraknya akan menghasilkan dan
melakukan
aktivitas -aktivitas
yang
membentuk
fungsi
sistemik. Organisasi manusia kurang memiliki struktur
dalam pengertian anatomik ini; lahan dan bangunannya
tidak bergerak; anggota -anggotanya datang dan pergi.
Namun organisasi memiliki struktur; bukan sebuah agregat
tak
berbentuk
berinteraksi
dan
dari
individu -individu
terlibat
dalam
yang
penciptaan
saling
beberapa
kombinasi event secara acak (453, 454).
Dengan kata lain, sebuah organisa si manusia termasuk protean
tapi memiliki bentuk yang logis, sama seperti sebuah sungai yang eksis
dengan adanya tepian sungai, atau seorang manusia yang eksis dengan
adanya misteri ego atau ‘I-ness’, meski dalam kasus sungai tadi
seseorang tidak pernah bi sa ‘melangkah ke dalam sungai yang sama
dua kali’ dan di kasus yang terakhir kita percaya bahwa semua sel -sel
kita
secara
konstan
akan
mati
atau
digantikan.
Sebuah
kritik
kontemporer dari fallacy biologi menempatkannya dalam paragraf
berikut:
… Dalam teori sistem, imej yang domin asn mengenai
organisasi
adalah
sebuah
organisme.
Organisasi
eksis;
mereka merupakan entitas yang dapat diamati dan memiliki
kehidupan mereka sendiri. Organisasi mirip seperti orang orang
meskipun
kadang
imej
ini
lebih
mirip
anak
rekalsitran, dan bukannya orang dewasa yang matang.
Dalam kasus manapun, teori ini memberikan organisasi
banyak properti seperti manusia. Mereka memiliki tujuan
dimana
mereka;
mereka
mereka
dapat
mengarahkan
memberikan
respon
aktivitas -aktivitas
dan
beradapta si
terhadap lingkungan mereka. Organisasi juga tidak dapat
lari dari nasib organisme yang tidak dapat beradaptasi
terhadap lingkungannya. Nasib organisasi akan tergantung
pada
kemampuan
mereka
untuk
beradaptasi
terhadap
lingkungan yang sangat kompleks dan turbulent. Mengikuti
logika Darwinian yang melekat dalam imej mereka tentang
organisasi,
ahli
teori
sistem
(Bennis,
1968)
melihat
organisasi kecil, demokratif, quick -witted menggantikan
bentuk birokratik yang kini mulai memudar di sekitar kita.
Fakta bahwa organisasi birokratik tampil besar, kuat dan
hebat
tampaknya
tidak
menggoyahkan
keyakinan
yang
menganggap organisasi sebagai entitas hidup yang menjadi
subyek dari hukum keras yang hanya mengijinkan yang
terbaik untuk bertahan hidup … (Greenfield, 1974, 4 ).
Sebuah divisi/pembagian akan muncul di dalam teori organisasi
antara mereka yang akan menurut pada orientasi ilmu sosial dan
mereka yang lebih condong pada sebuah pendekaatn humanistik dan
fenomenologis. Argumen ini cenderung tergantung pada sifat rea litas
sosial,
dimana
grup
yang
pertama
mencari
penjelasan
ilmiah,
keteraturan rasional, analisa kuantitatif sementara grup yang terakhir
disebut
cenderung
pada
penekanan
pada
tatanan
individual
dan
dialektik, analisa linguistik kualitatif. Dimensi dari per debatan ini
paling tajam diuraikan dalam Greenfield, 1975, sebuah paper yang
menuai banyak kontroversi. Penulis menginterpretasikan perbedaan
akar filosofis sebgai antara realisme dan idealisme dengan aliran
‘ilmiah’ berada di dalam kamp realis. Dari sudut pandang paper yang
sekarang ini, dikotomi antara realisme dan idealisme tidaklah memadai
dan dapat menyesatkan. Sudah cukup memadai untuk mengetahui
bahwa dialektik argumen adalah antara aliran pemikiran (pandangan
atas sistem) yang cenderung mengarah pad a memperlakukan organisasi
sebagai entitas riil yang memiliki sejumlah ‘kehidupan mereka sendiri’
dan
aliran-aliran
lawan
(fenomenologi)
yang
cenderung
pada
pandangan organisasi sebagai sebuah ciptaan sosial, artifak dari sebuah
kultural yang diciptakan ol eh para anggotanya. Pihak dari sisi pertama
(Parsons, 1973; Parsons dan Shils, 1962) dengan penekanannya pada
kolektivitas, memiliki resiko melakukan organismic fallacy, sementara
pihak dari sisi kedua (Greenfield, 1975; Filmer et al., 1972), dengan
penekanan
terhadap
individual,
memiliki
resiko
mengabaikan
kemungkinan-kemungkinan yang melekat dalam ide organizational
Gestalt.
Organisasi
organisasi
lebih
memiliki
dari
sekadar
imortalitas
jumlah
relatif
bagian -bagiannya;
dimana
organisasi
mementingkan entrie s dan exits para member -nya, dan organisasi juga
memiliki quasi -personalit y atau karakter hingga tingkatan tertentu
dimana kehidupan simboliknya menginstitusionalisasikan value dan
berguna sebagai carrier value disemua perubahan yang ada dalam
membership. Sehingga, dalam sebuah pengertian gereja Kristen, hal ini
dapat dianalogikan dengan sebuah ‘Mystical Body of Christ’ sama
seperti organisasi manusia biasa dapat menjadi bagian dari ‘badan
politik’. Organisasi memang dapat dianalisa secara logis seperti yan g
dilakukan dalam teori sistem, tapi saya harus menyangkal bahwa hal
ini merupakan penginvestasian framework logika di dalam sebuah ‘life
of its own – kehidupannya sendiri’ yang valuasional dan merupakan
inisiatif khusus administrator. Bahwa sebuah organis asi tidak ‘mati’
ketika administrasinya digantikan mengandung arti bahwa administrasi
yang baru telah dapat mengarahkan tidak hanya sistem energi,
informasi dan aliran pengambilan keputusan yang logis tetapi juga, dan
yang lebih penting lagi, mengarahkan v aluasional dan kekompleksan
kepentingan
yang
memberikan
raison
d’etre
sesungguhnya
dari
organisasi.
Dapat dikatakan bahwa untuk sebuah profesi yang baru muncul,
mencari basis rasional, ilmiah dan intelektual, teori sistem, dengan
rentang
metafora
sugesti f-nya,
landasannya
dalam
biologi
dan
matematika, serta kapasiasnya untuk memungkinkan dilakukannya
transduksi dan translasi dari jargon multidisipliner, hal ini cenderung
akan terbukti atraktif dan bahkan seduktif.
Organisasi dan Motivasi Manusia
Sebuah kritik dari pendekatan strukturalis dan juga dari perspektif
sistem adalah bahwa individual dan motivasinya masih belum cukup
diperhitungkan. Meski demikian, kini telah terdapat sejumlah besar
literatur teori dan riset mengenai permasalahan motivasi kerja (Steers
dan Porter, 1975; Vroom, 1964; Herzberg, 1968; Maslow, 1965
interalia). Mengingat banyaknya pengetahuan dan pengandaian yang
sudah ada, seseorang mungkin merasa terbatasi dalam menambahkan
‘babble of the literature’ yang lebih banyak lagi. Model ya ng disajikan
berikut ini dimaksudkan sebagai ilustratif dan khas dalam menyajikan
pemahaman – sebuah upaya untuk menunjukkan konsistensi pola atau
sindrom atas level analisa yang berbeda. Bagan 5 menunjukkan
sindrom dasar. Seorang member organisasi diwakil i dengan lingkaran
bertitik-titik
memiliki
ego
unik
dan
kompleks
value -nya
yang
diarahkan secara lateral dalam mencari tujuan (goals), insentif ataupun
aspirasi yang disediakan oleh sistem reward organisasi – gaji, promosi,
jabatan. Untuk mencapai tujuan -tujuan ini dia memperluas upayanya
dalam bentuk bekerja mengatasi hambatan dari berbagai jenis yang
dispesifikasikan di bagian tengah diagram. Komitmennya terhadap
tujuan-tujuan ini (C) akan menjadi sebuah fungsi p (probabilitasnya
dalam
mencapai
mereka)
da n
v
(evaluasi
personalnya
terhadap
mereka).
Secara logis, tujuan-tujuan dapat dicapai atau pencapaian tujuan
ini akan membuatnya frustasi. Jika tercapai, kondisi dikatakan sukses;
member menemukan pelepasan tensi yang menyenangkan dan merasa
terkuatkan d alam perilaku pencapaian -tujuan yang telah dilakukannya.
Kompleks value -motivasional -nya terkuatkan.
Jika, disisi lain, tujuan tersebut tidak tercapai setelah berlalunya
waktu dan pengeluaran upaya – jika promosi, misalnya, tidak muncul,
maka dikatakan m engalami kegagalan dan tiba di titik keputusan P 1 . P 1
memberikan tiga alternatif: (1) keluar atau mengundurkan diri dari
organisasi jika hal ini memang memungkinkan, (2) sebuah pembaruan
upaya
dalam mencapai tujuan atau
melakukan perubahan dalam
persepsi tujuan; mungkin sebuah pengabaian terhadap tujuan tersebut;
(3) beragam
terbawah
bentuk perilaku
Bagan
5,
agresi
yang diklasifikasikan dalam
…
sabotase.
Opsi
(2)
dan
kotak
(3)
mempertahankan member di dalam organisasi dan telah dilabeli +
positif dan – negatif. Masing-masing hal ini akan mempengaruhi
kompleks value dan karenanya juga akan mempengaruhi upaya -kerja.
Waktu, t 1 , berlangsung dalam repetisi pola siklik ini.
Logika motivasi yang sama berlaku dalam level analisa mikro ini
dapat diperluas hingga le vel analisa medial untuk perilaku grup di
dalam
organisasi
(Bagan
6).
Disini
kompleks
value
merupakan
karakteristik dari sebuah grup dan bukannya individu dimana grup
menggandakan upaya mereka melalui mode struktur oragnisasi, tugas
dan teknologi dalam ran gka mencapai tujuan organisasi dan insentif
bagi
grup.
Komitmen
(C)
terhadap
tujuan -tujuan
tersebut
kini
merupakan sebuah fungsi parsial dari metavalue maintenance dan
growth (M 1 , M 2 , dan lihat dibawah ini, Bab 11). Sukses akan diperkuat
seperti sebelumnya dan kemudian memperdalam metavalue (M 1 - 4 ).
Kegagalan akan mengarah pada opsi yang ditunjukkan oleh P 2 :
pembubaran grup atau respon positif atau negatif. Waktu (t 2 ) sekali
lagi berlalu.
Di level analisa terbesar atau makro (Bagan 7) organisasi
terhubung dengan institusi (Commerce, militer, pendidikan publik)
yang diciptakan dan diatur oleh etos kemasyarakatan. Perbedaan besar
dari pola sebelumnya adalah bahwa level ini, dalam event frustasi,
tidak memiliki opsi exit di P 3 . Sebuah masyarakat tidak bisa mel arikan
diri dari dirinya sendiri. Waktu historik, t 3 , berlalu.
Model-model
ini
termasuk
bergaya
behavioristik.
Mereka
dilandaskan sepenuhnya pada sebuah konsep reward dan punishment,
dan penting untuk mengetahui bahwa orang -orang bertindak dalam
mengamankn reward atau menghindari kehilangan reward (cf. Simon et
al., 1950, 472-3). Model-model ini juga dengan jelas termasuk
valuasional dalam dua pengertian: pertama, dalam masing -masing
terdapat inisiasi perilaku dalam individu, grup dan sistem value sosial,
serta kedua, karakterisasi respon kegagalan alternatif sebagai positif
atau negatif mengimplikasikan bahwa respon semacam ini lebih baik
daripada yang lainnya dan ini merupakan penilaian pure value.
Teori Organisasi sebagai sebuah Basis untuk Filosofi Ad ministrasi
Tidak akan mudah untuk menangkap atau mengepitomisasi atau bahkan
mengkategorikan perkembangbiakan tenaga kerja yang dengan satu
atau lain cara telah muncul dibawah judul teori organisasi. Juga tidak
akan lebih memungkinkan dalam menyatakan den gan akurat tentang
apa saja prinsip -prinsip atau postulat -postulat administratif dari sebuah
teori administratif yang dapat dilandaskan dalam hasil dan verifikasi
sebuah ilmu organisasi. Meski demikian akan memungkinkan untuk
menentukan
pola
elemen -elemen
esensial
yang
mengembangkan
parameter bagi teori organisasi dan administratif. Di dalam bentuk
yang paling primordialnya, pola ini akan terdiri atas set variabel
dualistik yang terkait di satu sisi dengan individu sebagai anggota
organisasi
dan
disisi
lain
dengan
organisasi
sebagai
sebuah
kolektivitas purposif dari para member individualnya. Yang disebut
pertama termasuk mengembangkan realitas variabel -variabel yang
diasosiasikan dengan kepribadian manusia, value, sikap, kebutuhan,
motif, kapasitas dan skil ls, sementara yang disebut terakhir akan
merengkuh variabel -variabel teknologi, tujuan, struktur dan fungsi.
Menghubungkan dan berusaha mensintesiskan kedua set ini adalah set
ketiga dari variabel administratif, komponen-komponen yang kritis:
filosofi administrasi yang efektif, level keahlian administratif, resource
flow, dan potensi metavalue. Kita kemudian memiliki sekumpulan
kluster
variabel
administrasi.
yang
mewakili
Masing -masing
membership,
kluster
telah
dan
kolektivitas,
menjadi
dan
sumber
penyelidikan empiris. Tidak dapat dikatakan bahwa prinsip -prinsip
umum yang jelas tidak dapat dibandingkan telah muncul dari upaya ini.
Meski pseudo-laws dari administrasi sebagai ‘efektivitas organisasi
diperkuat dengan memiliki satu kepala eksekutif’ atau ‘efekti vitas
organisasi semakin kuat dengan delegasi wewenang’ atau ‘organisasi
dengan
pembagian
tenaga
kerja
yang tinggi
akan
lebih
efisien
dibandingkan dengan mereka yang memiliki pembagian tenaga kerja
yang rendah’ merupakan subyek dari perdebatan (Miller, 196 5, 403;
March dan Simon, 1958, 41 -42; Haas dan Drabek, 1973, 29 ff). Di sisi
lain,
subskripsi
terhadap
‘sains’
dan
‘metode
ilmiah’
mengkarakterisasikan begitu banyak hal dalam studi ini dan mengarah
pada devaluasi value dalam bentuk preskripsi etika apapun untuk
bidang kompetensi administratif.
Di level analisa lain, perdebatan memasuki realitas ideologi,
yakni, kompleks skala besar dan pola -pola keyakinan, sikap dan value
yang tidak dapat menemukan pijakan positivistik di dalam batasan
logika dan rasiona litas yang ditentukan oleh metode ilmiah dan
empirisme. Sehingga, terdapat perdebatan antara pendukung teori
struktur organisasi monokratik -birokratik dengan pendukung counter model demokratik -collegial. Max Weber adalah pendukung utama dari
posisi yang pe rtama disebut diatas. Bumbu dari polemiknya dapat
diperoleh dari kutipan berikut, dan
kekuatan argumennya
dapat
diperoleh dari bukti historik persistensi dan pertumbuhan bentuk
birokratik:
Birokrasi berkembang lebih sempurna, lebih komplit
dalam
kesuksesannya
menghilangkan
love,
hatred
(kebencian) dan semua elemen personal, irasional serta
emosional yang terlepas dari perhitungan dalam sebuah
bisnis
resmi.
Esensi
pengaturan
birokratik
adalah
rasionalitas. Sebuah semangat impersonalitas formalistik
dibutuhkan
organisasi
untuk
dari
memisahkan
kehidupan
hak
pribadi
dan
kewajiban
karyawan.
Hanya
dengan melakukan hal ini secara impersonal maka ofisial
dapat
menjamin
rasionalitas
dalam
pengambilan
keputusan, dan hanya dengan cara ini maka mereka dapat
memastikan
perlakuan
yang
setara
terhadap
semua
subordinat (Abbott dan Lovell, 1965, 42 -3).
…
Pengalaman cenderung secara universal menunjukkan
bahwa tipe birokratik murni dari organisasi administratif
– yakni, ragam monokratik dari birokrasi, dari sebuah
sudut pan dang yang sepenuhnya teknis, dapat mencapai
tingkatan efisiensi tertinggi dan dalam pengertian ini
secara formal merupakan cara yang paling rasional untuk
melakukan kontrol imperatif terhadap manusia. Hal ini
superior dibandingkan dengan bentuk lain dalam hal
presisi,
stabilitas,
reliabilitasnya.
stringensi/keketatan
Hal
ini
disiplin,
memungkinkan adanya
dan
hasil
terkalkulasikan yang tinggi untuk kepala organisasi dan
untuk
mereka
yang
bertindak
dalam
kaitannya
dengannya. Hal ini juga superior dalam efisie nsi intensif
dan dalam cakupan operasionalnya, dan secara formal
dapat
diaplikasikan
untuk
semua
jenis
tugas
administratif. (Weber, 1947, 337).
Daftar yang menentang Weber telah dimasuki oleh banyak
pendukung inovasi modern, seperti misalnya Thompson ( 1961, 1965).
Kita harus mengingat bahwa sebuah perdebatan dalam teori organisasi
seperti ini harus mencari solusinya dalam landasan yang sepenuhnya
valuasional dan ekstra-empiris. Resolusi akan menjadi filosofis dimana
hal ini akan tergantung pada analisa va lue dan basis value. Pada waktu
yang sama dengan timbulnya isu permasalahan, teori organisasi juga
merupakan
kontributor
filosofi
administratif
disepanjang
dimensi
logis, hingga tingkatan yang membuatnya melakukan penemuan faktual
dan menguji hipotesis men entang realitas obyektif. Dalam cara ini
basis
fakturl
untuk
pemfilosofian
administratif
akan
diperluas.
Jelasnya studi terhadap manusia dan mungkin juga non -manusia,
organisasi merupakan hal yang penting bagi manajer, eksekutif,
administrator. Pada tingka tan dimana hal ini termasuk ilmiah dengan
jalan mengeksplorasi data empiris, dan termasuk logis dalam cara
manipulasi konseptual, aktivitas ini memberikan sebuah landasarn
untuk filosofi administratif dan pada tingkatan dimana teori organisasi
di bentuk, filosofi administratif harus memberikan sebuah landasan
untuknya.
Di akhir pembicaraan ini mungkin kita sama -sama setuju pada
setidaknya satu hal, dan hal itu adalah bahwa jika ada jenis filosofi
administratif yang koheren maka hal ini harus memperhitungk an semua
opini aliran pemikiran yang dihasilkan oleh teori organisasi dan semua
hasil temuan empirisnya. Bahwa sebuah literatur seperti filosofi masih
belum
dapat
dibedakan
memang
merupakan
sebuah
fakta
yang
mencurigakan ketika seseorang menganggap bahwa l iteratur sosiologi
organisasi, psikologi sosial, psikologi dan teori sistem mengalami
kemajuan dan berkembang biak dalam arah yang berkebalikan. Sains
itu sendiri memiliki sebuah filosofi sains yang bagi sains itu sendiri
merupakan
logika
formal
terhadap
m atematika,
tapi
filosofi
administrasi yang berakar dari teori organisasi masih belum muncul.
Perbedaan
dalam
paralelitas
ini
memiliki
satu
penjelasan
yang
memungkinkan; meski discourse sains dan matematika dapat menjadi
kurang dipahami dan sulit namun para digma yang mendasarinya
termasuk sederhana dan bebas -value. Sebaliknya, administrasi dan
bidang penerapannya dalam organisasi mnusia membentuk sebuah
kompleksifikasi dimana dalam beberapa tingkatan tertentu tidak dapat
dikurangi, dan meski discourse -nya dapat disederhanakan hingga
tingkatan common propert y di dalam kristalisasi bahasa ordinary,
konten dasarnya tidak pernah bebas -value melainkan selalu lebih dari
obyektif. Subyektivitas ini memasuki penteorian organisasi di sejumlah
tempat, paling nyata dala m pembahasan tujuan organisasi dan motivasi
manusia. Hal ini tertanam di teori organisasi sebuah dualisme yang
melampaui struktur dan fungsi, formal dan informal, nomotetik dan
idiografik terhadap pemisahan primordial fundamental antara value dan
fakta, antara apa yang sebenarnya dan apa yang seharusnya.
Download