peraturan menteri pertanian

advertisement
MENTERI TENAGA KERJA
REPUBLIK INDONESIA
KEPUTUSAN
MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR : KEP-438/MEN/1992
TENTANG
PEDOMAN PEMBENTUKAN DAN PEMBINAAN SERIKAT PEKERJA
DI PERUSAHAAN
MENTERI TENAGA KERJA R.I,
Menimbang
:
a.
bahwa Serikat Pekerja sebagai salah satu sarana utama
Hubungan Industrial Pancasila merupakan wadah pembinaan,
peningkatan peran serta dan sarana komunikasi pekerja,
mempunyai peranan penting untuk menciptakan ketenangan
kerja, kelangsungan hidup perusahaan dan peningkatan
kesejahteraan pekerja ;
b. bahwa dalam rangka pembentukan Serikat Pekerja di
Perusahaan perlu diciptakan pengertian yang sama tentang
manfaat Serikat Pekerja dan iklim kerjasama yang baik antara
pekerja dan pengusaha ;
Mengingat
:
c.
bahwa kesadaran pekerja untuk berorganisasi sudah semakin
meningkat sesuai dengan perkembangan pembangunan maka
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : KEP1109/MEN/1986 tentang Pedoman Pembentukan, Pembinaan,
dan Pengembangan Serikat Pekerja di Perusahaan perlu
ditinjau dan ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
1.
Undang-undang Nomor 21 Tahun 1954 Tentang Perjanjian
Perburuhan antara Serikat Buruh dan Majikan ;
2.
Undang-undang Nomor 18 Tahun 1956 tentang Persetujuan
Konvensi Organisasi Perburuhan Internasional Nomor 98
mengenai Berlakunya Dasar-Dasar Dari Pada Hak Untuk
Berorganisasi Dan Untuk Berunding Bersama ;
3.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1957 Tentang Penyelesaian
Perselisihan Perburuhan ;
4.
Undang-undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang KetentuanKetentuan Pokok mengenai Tenaga Kerja ;
5.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 tentang Organisasi
Kemasyarakatan ;
Keputusan Presiden RI Nomor 64/M Tahun 1988 tentang
Pembentukan Kabinet Pembangunan V ;
6.
2
Memperhatikan :
7.
Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER-05/MEN/1987
tentang Pendaftaran Organisasi Pekerja ;
8.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-645/MEN/1985
tentang Pedoman Pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila
;
9.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-525/MEN/1988
yo Bab XIII Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP199/MEN/1983 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Departemen Tenaga Kerja.
1.
Deklarasi Persatuan Buruh Seluruh Indonesia tanggal 20
Pebruari 1973.
2.
Pokok-pokok Pikiran Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit
Nasional tentang Penyempurnaan Pedoman Pembentukan,
Pembinaan, dan Pengembangan Serikat Pekerja di
Perusahaan, tanggal 26 Februari 1992.
3.
Hasil Kesepakatan Bersama Lembaga Kerjasama Tripartit
Nasional No. 33 Tahun 1992 tanggal 2 April 1992 tentang
Penyempurnaan Pedoman Pembentukan, Pembinaan, dan
Pengembangan Serikat Pekerja di Perusahaan.
4.
Hasil Rapat Sekretariat Lembaga Kerjasama Tripartit Nasional
tanggal 14 Mei 1992.
MEMUTUSKAN
Memperhatikan :
PERTAMA
:
Pedoman Pembentukan Dan Pembinaan Serikat Pekerja di
Perusahaan.
KEDUA
:
Pedoman Pembentukan Dan Pembinaan Serikat Pekerja di
Perusahaan sebagaimana dimaksud amar PERTAMA adalah
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini.
KETIGA
:
Dengan ditetapkannya Keputusan ini maka Keputusan Menteri
Tenaga Kerja Nomor : KEP-1109/MEN/1986 dinyatakan tidak
berlaku lagi.
KEEMPAT
:
Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan, dengan
ketentuan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan
dalam Keputusan ini akan diadakan Perbaikan sebagaimana
mestinya.
Ditetapkan di : J a k a r t a
pada tanggal
: 8 Oktober 1992
MENTERI TENAGA KERJA R.I
ttd.
DRS. COSMAS BATUBARA
2
3
LAMPIRAN : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA
NOMOR
: KEP-438/MEN/1992
TANGGAL : 8 Oktober 1992
----------------------------------------------------------PEDOMAN PEMBENTUKAN DAN PEMBINAAN SERIKAT
DI PERUSAHAAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Keberadaan Serikat Pekerja di Perusahaan sangat penting dan strategis
dalam pengembangan dan pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila. Serikat
Pekerja sebagai salah satu kelembagaan yang utama dalam pelaksanaan
Hubungan Industrial Pancasila, berperan dan berfungsi menyalurkan/
memperjuangkan aspirasi Pekerja untuk meningkatkan harkat, martabat, derajad,
dan kesejahteraan Pekerja menjadi pekerja yang rajin, jujur, berdisplin tinggi dan
produktif.
Walaupun keberadaan Serikat Pekerja di Perusahaan sangat penting dan
bermanfaat, akan tetapi menurut kenyataannya selama ini, pembentukan,
pembinaan dan pengembangan Serikat Pekerja di Perusahaan dirasakan masih
mengalami kesulitan. Masih banyak hambatan yang dihadapi, baik yang datang dari
Pekerja maupun dari Pengusaha dan aparat Pemerintah sendiri ;
- Masih banyak Pengusaha yang enggan menerima keberadaan Serikat Pekerja di
Perusahaan ;
- Masih banyak Pekerja yang belum memahami pentingnya Serikat Pekerja ;
- Masih banyak Pengusaha dan Pekerja belum sepenuhnya menghayati fungsi
dan peranan Serikat Pekerja dalam Hubungan Industrial Pancasila ;
- Masih perlunya peningkatan kemampuan para kader organisasi dalam mengelola
Serikat Pekerja.
Dalam rangka mengatasi hambatan-hambatan tersebut di atas dan untuk
memperlancar proses pembentukan, pembinaan dan pengembangan Serikat
Pekerja di Perusahaan, maka perlu disusun petunjuk operasional yang memuat tata
cara, fungsi dan peranan semua pihak dalam pembentukan dan pembinaan Serikat
Pekerja di tingkat Perusahaan.
Pedoman ini pada hakekatnya merupakan
pelaksanaan Hubungan Industrial Pancasila.
2.
salah
satu
penjabaran
MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan Pedoman ini adalah :
a.
Memberikan pedoman kepada semua pihak yang terkait dalam pembentukan,
pembinaan dan pengembangan Serikat Pekerja di Perusahaan ;
b.
Meningkatkan kesadaran di kalangan pekerja dan pengusaha akan peran dan
tanggung jawab Serikat Pekerja di Perusahaan ;
3
4
c.
Mewujudkan hubungan dan kerjasama yang baik antara pekerja/Serikat
Pekerja dan Pengusaha di dalam perusahaan sehingga tercapai ketenangan
kerja dan ketenangan usaha.
BAB II
SERIKAT PEKERJA DI PERUSAHAAN
1.
PENGERTIAN
Dalam pedoman ini yang dimaksud dengan :
a. Perusahaan adalah setiap bentuk Badan Usaha dan atau Badan Hukum yang
mempekerjakan tenaga kerja dengan tujuan mencari untung atau tidak.
2.
b.
Serikat Pekerja ialah Organisasi Pekerja yang menghimpun para pekerja
perusahaan yang berdasarkan jenis usaha dan mempunyai susunan Pengurus
di tingkat Perusahaan, Cabang, Daerah dan Pusat.
c.
Serikat Pekerja di Perusahaan adalah Organisasi Pekerja di tingkat
Perusahaan berdasarkan pada jenis usahanya berpedoman pada semangat
persatuan dan kesatuan.
FUNGSI, PERANAN, DAN TUGAS POKOK SERIKAT PEKERJA
Fungsi, peranan dan tugas pokok Serikat Pekerja adalah :
3.
a.
Sebagai wadah penyalur aspirasi para anggota dalam masalah-masalah yang
menyangkut pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai pekerja maupun
sebagai warga Negara ;
b.
Memberikan perlindungan serta memperjuangkan hak-hak dan kepentingan
anggota dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja ;
c.
Meningkatkan keterampilan dan pengabdian para anggota bagi kelangsungan
hidup perusahaan ;
d.
Meningkatkan partisipasi dan tanggung jawab untuk terpeliharanya ketenangan
kerja dan ketenangan usaha.
KEANGGOTAAN SERIKAT PEKERJA DI PERUSAHAAN
a.
Keanggotaan Serikat Pekerja adalah suka rela dan terbuka bagi setiap pekerja
di lingkungan Perusahaan ;
b.
Para pekerja magang, kontrak kerja dan atau sejenisnya dapat menjadi
anggota Serikat Pekerja ;
c.
Bagi para pekerja yang statusnya masih dalam masa percobaan dapat menjadi
anggota Serikat Pekerja tanpa mengurangi wewenang pengusaha dalam
melakukan penilaian terhadap status masa percobaan tersebut.
4
5
BAB III
PEMBENTUKAN SERIKAT PEKERJA DI PERUSAHAAN
1.
2.
TAHAP PERSIAPAN
a.
Para Pekerja mendaftar untuk menjadi anggota pada perangkat Serikat Pekerja
setingkat Cabang ;
b.
Apabila jumlah yang terdaftar dari setiap perusahaan telah mencapai jumlah
yang cukup (minimal 25 orang), maka perangkat Serikat Pekerja setingkat
Cabang dapat memproses pembentuk Serikat Pekerja di tingkat Perusahaan.
TAHAP PEMBENTUKAN
a.
b.
Pemberitahuan Pembentukan
1)
Pemberitahuan pembentukan disampaikan secara tertulis oleh para
pekerja sendiri, dan atau oleh perangkat Serikat Pekerja setingkat
Cabang kepada Pengusaha dengan tembusan kepada Kantor
Departemen Tenaga Kerja atau Kandepnaker setempat.
2)
Dengan adanya pemberitahuan tersebut, Pengusaha akan memenuhi
keinginan pembentukan Serikat Pekerja di Perusahaan dan membantu
dalam melancarkan pelaksanaannya.
3)
Apabila dalam tempo 14 hari setelah pengajuan keinginan untuk
pembentukan Serikat Pekerja di Perusahaan belum mendapatkan
jawaban dari Pengusaha, maka perangkat Serikat Pekerja setingkat
Cabang berhak untuk mempersiapkan dan melaksanakan pembentukan.
Pembentukan Panitia Pelaksana
1)
Panitia pelaksana terdiri dari para pekerja di Perusahaan, dibentuk oleh
para pekerja dan atau perangkat atas organisasi setingkat cabang.
2) Panitia Pelaksana Pembentukan Serikat Pekerja di tingkat Perusahaan
setidak-tidaknya terdiri dari :
-
Seorang Ketua
Seorang sekretaris
Seorang Anggota
3) Tugas Panitia Pelaksana adalah :
a) Mempersiapkan pelaksana pembentukan Serikat Pekerja sesuai
dengan AD/ART serta ketentuan organisasi bersangkutan ;
b) Memperlancar penyelenggaraan pemilihan pengurus ;
c)
Membuat Berita Acara hasil pemilihan pengurus.
5
6
c.
Syarat-syarat Calon Pengurus
Calon Pengurus harus :
1)
Dari kalangan pekerja di perusahaan ;
2)
Mempunyai masa kerja minimal 1 tahun, kecuali bagi perusahaan yang
masa operasinya belum mencapai 1 (satu) tahun ;
3)
Mempunyai kondite kerja yang baik sesuai dengan ketentuan organisasi
Serikat Pekerja ;
d. Tata Cara Pemilihan
1) Pemilihan dilaksanakan secara bebas, langsung dan demokratis, dari,
oleh dan untuk pekerja dengan pengawasan perangkat organisasi Serikat
Pekerja setingkat Cabang.
2) Pelaksana teknis pemilihan didasarkan pada ketentuan organisasi Serikat
Pekerja yang bersangkutan.
3. SAHNYA PENGURUS
Pengurus telah dianggap sah dan dapat menjalankan tugas, bilamana ;
a.
Pelaksanaan pemilihan telah berjalan sesuai dengan ketentuan butir 2d diatas ;
b.
Berita Acara telah ditandatangani oleh Panitia dengan disaksikan pengurus
Serikat Pekerja setingkat cabang.
4. PENGUKUHAN PENGURUS
a.
Untuk memenuhi persyaratan administratif organisasi, Pengurus terpilih segera
mengajukan permohonan pengukuhan kepada perangkat organisasi setingkat
cabang ;
b.
Surat permohonan pengukuhan dilengkapi dengan Berita Acara dan
tembusannya disampaikan kepada Pengusaha dan Kandepnaker untuk
diketahui.
BAB IV
MEKANISME PELAKSANAAN HUBUNGAN INDUSTRIAL
1.
HUBUNGAN ANTARA SERIKAT PEKERJA DI PERUSAHAAN, PENGUSAHA
DAN PEMERINTAH
a.
Dalam rangka menunjang pelaksanaan HIP di perusahaan, maka diperlukan
kegiatan berupa pertemuan-pertemuan antara Serikat Pekerja di Perusahaan
dan Pimpinan Perusahaan secara berkala membicarakan masalah hubungan
ketenagakerjaan ;
b.
Pertemuan-pertemuan tersebut dapat dilakukan melaui forum Lembaga Bipartit
atau Lembaga lain di perusahaan.
6
7
c.
2.
Bilamana diperlukan dan keadaan memungkinkan, pertemuan-pertemuan
tersebut dapat diperluas dengan mengikut sertakan Pemerintah (Tripartit).
FASLITAS BAGAI SERIKAT PEKERJA DI PERUSAHAAN
a.
Dispensasi bagi para Pengurus Serikat Pekerja di Perusahaan.
1) Untuk melaksanakan tugas-tugas Serikat Pekerja yang tidak dapat
diselesaikan di luar jam kerja, diberikan dispensasi oleh Pimpinan
Perusahaan sepanjang tidak mengganggu operasi perusahaan ;
2) Untuk melaksanakan tugas di luar lingkungan perusahaan seperti hadir di
persidangan, konsultasi dengan instansi Pemerintah atau organisasi, dan
menghadiri pendidikan, diberikan dispensasi oleh Pimpinan Perusahaan
dengan memperhitungkan kepentingan Perusahaan.
b. Bantuan Sarana dari Perusahaan.
Untuk memperlancar tugas-tugas Serikat Pekerja di Perusahaan, sesuai
dengan kemampuan, Perusahaan perlu membantu antara lain :
1) Fasilitas perkantoran Serikat Pekerja di lingkungan Perusahaan beserta
alat kelengkapannya ;
2) Sarana komunikasi dengan anggota ;
3) Fasilitas Check Off System ;
4) Ijin pemasangan papan nama Serikat Pekerja di Perusahaan.
3.
PERLINDUNGAN
TERHADAP
PENGURUS
DAN
ANGGOTA
MELAKSANAKAN TUGAS ORGANISASI SERIKAT PEKERJA
YANG
a. Pengusaha tidak dibenarkan melakukan tindakan yang merugikan pekerja
disebabkan oleh hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas organisasi
Serikat Pekerja baik sebagai pengurus maupun sebagai anggota Serikat Pekerja
di Perusahaan ;
b. Pengusaha membantu dan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada
pengurus Serikat Pekerja untuk menjalankan tugas Organisasi sehari-hari
sepanjang tidak mengganggu tanggung jawab atas pekerjaannya di
Perusahaan.
1. MEKANISME PENGAWASAN
Agar kepentingan anggota terlindungi, perlu diatur mekanisme pengawasan
umum sebagai berikut :
a. Pengurus Serikat Pekerja di Perusahaan menyampaikan laporan kerja
kepada anggota dan perangkatnya sesuai dengan ketentuan organisasi.
b. Laporan kerja terdiri dari :
1) Laporan kegiatan organisasi ;
2) Laporan Keuangan.
7
8
BAB V
POLA PEMBINAAN
Peran Tripartit dalam melaksanakan pembinaan Serikat Pekerja di Perusahaan
sebagai berikut :
1.
Mendorongnya terciptanya iklim yang mendukung
berkembangnya Serikat Pekerja di Perusahan ;
terbentuknya
dan
2.
Membantu agar Serikat Pekerja di Perusahaan dapat menjalankan fungsi dan
peranan
3.
Mendorong terciptanya kerjasama yang serasi antara pekerja dan pengusaha ;
4.
Melaksanakan pendidikan ketenagakerjaan dalam bentuk kursus-kursus, penataran
dan lain-lain bagi pekerja dan pengusaha
Ditetapkan di : J a k a r t a
pada tanggal
: 8 Oktober 1992
MENTERI TENAGA KERJA R.I.
ttd,
DRS. COSMOS BATUBARA
8
Download