peningkatan daya saing pengrajin industri kecil rumah - MMT-ITS

advertisement
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi IV
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 5 Agustus 2006
KOOPETISI INDUSTRI PERBANKAN DI INDONESIA
Suzanna L. Siregar
Universitas Gunadarma
Jl. Margonda Raya 100, Depok 16424
E-mail : [email protected]
ABSTRAK
Koopetisi sebagai perspektif alternatif dari dua paradigma utama  kompetisi
dan kooperasi  yang selama ini mendominasi teori dan riset hubungan antar kompetitor
mulai diterapkan dalam dunia bisnis. Penelitian koopetisi masih berada pada tahap
awal, meliputi pendefinisian, penggambaran skema dan pihak-pihak yang terlibat dalam
hubungan koopetitif. Kerangka kerja hubungan koopetitif awalnya digambarkan dalam
suatu jaring nilai (value net) yang mengakomodasi semua pihak yang terlibat dalam
hubungan tersebut. Perkembangan selanjutnya berfokus pada relasi timbal-balik dua
pihak (dyadic) yang berkoopetisi. Sebagian besar penelitian koopetisi masih berupa
kajian teoretik, sementara penelitian empirik yang sangat terbatas masih menggunakan
kasus-kasus sangat kecil. Makalah ini juga merupakan telaah pustaka mengenai
koopetisi dengan industri perbankan di Indonesia sebagai fokus studi mengingat
kecenderungan bank melakukan kooperasi dan kompetisi dengan kompetitornya pada
saat bersamaan. Skema hubungan koopetisi industri perbankan di Indonesia
digambarkan dalam jaring nilai. Selain itu, kajian teoretik ini merupakan kompilasi
penelitian hubungan pelbagai variabel dengan koopetisi. Variabel-variabel koopetisi
tersebut adalah proksimitas aktivitas terhadap konsumen, heterogenitas sumber daya
yang mendasari aktivitas, kepercayaan (trust), perundang-undangan, konvergensi
teknologi, penciptaan nilai, penciptaan pengetahuan, daya inovasi dan ekuitas merk.
Studi hubungan variabel pembentuk (determinan) dan variabel hasil (resultan) dengan
eksistensi dan struktur koopetisi industri perbankan di Indonesia kemudian menjadi
dasar pembentuk proposisi-proposisi yang menjadi dasar penelitian empirik selanjutnya.
Kata kunci: koopetisi, kompetisi, kooperasi, perbankan.
PENDAHULUAN
Kompetisi dan kooperasi adalah dua paradigma utama yang mendominasi teori
dan riset mengenai hubungan antar kompetitor. Kompetisi berfokus pada strategi
perusahaan mencapai keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang secara
esensial dipengaruhi baik oleh struktur industri yang menjadi lingkungan perusahaan
beroperasi (Porter, 1985) maupun karena adanya keunggulan inti (core competence)
(Prahalad dan Hamel, 1990). Sedangkan, kooperasi berpusat pada persetujuan
kooperatif antar-perusahaan sebagai cara utama yang digunakan perusahaan untuk
mengakses pengetahuan (knowledge) dan kompetensi serta membangun jaringan global
yang bertujuan mencapai keuntungan timbal-balik (mutual benefits).
Terminologi koopetisi pertama kali dicetuskan oleh Ray Noorda pendiri
perusahaan perangkat lunak jaringan Novell pada tahun 1993. Selanjutnya,
Bradenburger dan Nalebuff (1996) menuliskan sumber utama acuan konsep koopetisi.
Pengayaan aplikasi konsep ini kemudian dilakukan oleh Bengtsson dan Kock (2000)
dan para pemerhati manajemen yang tergabung dalam The European Academy of
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi IV
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 5 Agustus 2006
Management (EURAM) dan The European Institute for Advanced Studies in
Management (EIASM). Koopetisi diangkat menjadi isu utama dalam seminar dan
workshop yang diselenggarakan oleh EURAM dan EIASM berturut-turut pada tahun
2002 dan 2004. Makalah-makalah hasil seminar-seminar tersebut menjadi sumber
kajian teoretik ini.
Industri perbankan, menurut Slapak (2002) berpotensi menerapkan koopetisi
karena intensitas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (Information and
Communication Technology atau ICT) yang tinggi demi mencapai bentuk bank yang
sesuai dengan masyarakat informasi global, yaitu bank yang tidak dibatasi oleh ruang,
waktu dan tempat. Hal yang sama berlaku pada industri perbankan di Indonesia.
Penggunaan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) bersama oleh beberapa bank, misalnya
memperlihatkan hubungan koopetitif di mana dua bank yang berkompetisi merebut
pangsa pasar dapat berkooperasi untuk memperluas pasar sekaligus melakukan
penghematan belanja dan biaya teknologi informasi.
Kerangka Kerja Koopetisi
Bradenburger dan Nalebuff (1996) menggambarkan koopetisi sebagai bagian
permainan bisnis yang berkaitan dengan penciptaan dan pemberdayaan nilai. Secara
skematis keseluruhan skenario permainan bisnis digambarkan dalam jaring nilai (value
net). Jaring nilai adalah suatu peta skematis yang merepresentasikan semua pemain
dalam suatu permainan dan keterkaitan di antara para pemain. Perusahaan yang
menjadi fokus studi diletakkan di pusat jaring dikelilingi oleh empat pemain lain, yaitu:
pemasok, pelanggan, kompetitor dan komplementor. Interaksi dan interdependensi
terjadi baik secara vertikal maupun horizontal. Hubungan vertikal terjadi antara
pelanggan – perusahaan  pemasok. Sedangkan interaksi horizontal melibatkan
kompetitor  perusahaan  komplementor.
Gambar 1 memperlihatkan konsep jaring nilai bila diterapkan pada industri
perbankan di Indonesia khususnya bank umum negara dan swasta yang melayani jasa
perbankan retail (commercial retail banking). Pemain dalam jaring nilai akan meliputi:
(1) bank retail sebagai inti jaring nilai, (2) pemasok (misalnya: perusahaan penyedia
layanan telekomunikasi dan perangkat lunak perbankan kepada siapa bank membeli jasa
atau melakukan outsourcing ICT), (3) Nasabah pengguna layanan dan produk
perbankan retail, (4) Kompetitor dan (5) Komplementor.
Sebagai permainan, bisnis akan mencapai keberhasilan bila berlangsung
dinamis. Kesuksesan bisnis terjadi bila semua elemen permainan yaitu: pemain, nilai
tambah, aturan, strategi, dan cakupan (players, added value, rules, tactics, scope atau
PARTS) senantiasa berubah. Sebagai penggambaran permainan, maka jaring nilai juga
secara intrinsik bersifat dinamis, pemain dimungkinkan memerankan lebih dari satu
peran pada waktu bersamaan atau berubah peran dari waktu ke waktu demikian juga
sifat interdependensi sangat mungkin berubah.
Dalam jaring nilai industri perbankan, sehubungan dengan pemakaian ATM,
misalnya, perusahaan telekomunikasi yang menyediakan ATM bagi bank berperan
sebagai pemasok dan jika kemudian perusahaan telekomunikasi itu memanfaatkan
ATM bank tersebut sebagai sarana pembayaran pelanggannya, maka perusahaan
telekomunikasi pemasok ICT pada saat bersamaan berperan juga sebagai klien.
Mengingat kompleksitas jaring nilai, analisis hubungan koopetitif menurut
Bengtsson dan Kock (2000) perlu dibatasi pada hubungan timbal-balik (dyadic
relationship) antar dua kompetitor. Sementara, Dagnino dan Padula (2002)
menyarankan melakukan kajian koopetisi baik dalam hubungan dyadic maupun dalam
ISBN : 979-99735-1-1
A-29-2
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi IV
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 5 Agustus 2006
jaringan. Hal ini dipandang perlu agar studi mengenai tipologi koopetisi menghasilkan
gambaran menyeluruh.
Nasabah/Klien
Bank/Kompetitor
Bank
Bank/Komplementor
Pemasok ICT
Gambar 1. Jaring Nilai Industri Perbankan
Berkaitan dengan pengertian kompetitor dalam hubungan koopetitif terdapat
juga perbedaan pendapat. Bradenburger dan Nalebuff (1996) membatasi kompetitor
hanya pada kesamaan pasar, sehingga perusahaan dengan produk yang berbeda dapat
dipandang sebagai kompetitor. Sedangkan, Bengtsson dan Kock (2000) menggunakan
konsep yang lebih tradisional, kompetitor adalah perusahaan yang menghasilkan produk
yang sama dan memiliki pasar yang sama. Menjembatani perbedaan ini, Laine (2002)
menyarankan perusahaan mendefinisikan sendiri kompetitornya berdasarkan kebutuhan
perusahaan dan bukan berdasarkan definisi lingkungan bisnis atau industri. Secara
umum, Dagnino dan Padula (2002) bahkan menyarankan penggunaan terminologi
koopetitor (coopetitor) untuk semua pemain yang berinteraksi dengan perusahaan yang
menjadi inti jaring nilai. Kecenderungan studi koopetisi hingga kini masih
menggunakan terminologi kompetitor menurut konsep Bengtsson dan Kock (2000)
meski ruang lingkup diperluas hingga mencakup semua pemain dalam jaring nilai
Melakukan studi komprehensif atas koopetisi industri perbankan di Indonesia
mensyaratkan pendefinisian pemain dengan jelas. Misalkan, dengan meletakkan bank
retail sebagai inti jaring nilai, harus ditetapkan dengan jelas siapa bank/komplementor
dan bank/kompetitor yang dimaksud. Pendefinisian yang dilakukan sebagai tahap awal
penelitian, akan memperlihatkan bahwa pemain di dimensi horizontal tidak hanya
meliputi bank sejenis, tetapi juga membuka kesempatan industri yang sangat berbeda
menempati peran-peran tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh Slapak (2002), yang
meletakkan perusahaan penyedia layanan telekomunikasi mobile sebagai kompetitor
potensial industri perbankan. Studi lanjutan makalah ini diharapkan dapat memetakan
hal-hal spesifik serupa dalam industri perbankan di Indonesia.
Karakteristik khas koopetisi adalah hadirnya kooperasi dan kompetisi pada saat
bersamaan. Sebagaimana yang dirumuskan oleh Bradenburger dan Nalebuff (1996)
bahwa koopetisi terdiri dari kooperasi saat dua perusahaan bersama-sama menciptakan
atau memperbesar pasar dan kompetisi saat keduanya memperebutkan pangsa pasar.
Bengtsson dan Kock (2000) kemudian mengelaborasi struktur koopetisi dan
meletakkannya di antara dua ekstrem kooperasi dan kompetisi (Gambar 2). Penelitian
eksploratif yang direncanakan dilakukan sebagai lanjutan studi teoretik ini diharapkan
dapat menyajikan struktur koopetisi khas industri perbankan di Indonesia.
ISBN : 979-99735-1-1
A-29-3
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi IV
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 5 Agustus 2006
Kooperasi
Hubungan yang
didominasi oleh
kooperasi
Hubungan Kooperasi
dan Kompetisi yang
setara
Hubungan yang
didominasi oleh
kompetisi
Kompetisi
Koopetisi
Gambar 2. Jenis Hubungan Koopetitif (Bengtsson dan Kock, 2000)
Variabel –Variabel Koopetisi
Pengukuran dominasi kooperasi atau kompetisi dalam suatu hubungan koopetitif
dilakukan dengan mendekomposisi hubungan antar dua kompetitor ke dalam beberapa
aktivitas. Suatu aktivitas hanya akan menunjukkan sifat kooperatif atau kompetitif
tetapi tidak mungkin keduanya sekaligus. Setelah semua aktivitas diteliti, barulah
secara kumulatif diukur apakah kooperasi atau kompetisi yang mendominasi hubungan
koopetitif tersebut.
Studi yang dilakukan Bengtsson dan Kock (2000) menyimpulkan bahwa
kompetitor berkompetisi pada aktivitas yang dekat dengan konsumen (aktivitas output)
dan berkooperasi pada aktivitas yang jauh dari konsumen (aktivitas input). Mengikuti
proposisi ini maka dalam koopetisi antar bank retail di Indonesia, aktivitas-aktivitas
perbankan yang dekat dengan nasabah  misalnya pelayanan teller atau customer
services  merupakan ajang kompetisi, sedangkan aktivitas yang jauh dari nasabah 
misalnya sistem pengelolaan data atau aktivitas pengembangan-penelitian dan program
pelatihan tenaga kerja  dapat dilakukan bersama dengan bank lain.
Selain proksimitas aktivitas terhadap konsumen, koopetisi dapat terjadi karena
alasan heterogenitas sumber daya. Dua perusahaan yang terlibat dalam hubungan
koopetitif masing-masing harus mempunyai sumber daya yang unik yang mendasari
baik hubungan kompetitif maupun kooperatif. Melalui kooperasi, dua pihak akan saling
memiliki akses ke dalam sumber daya unik yang dikuasai salah satu pihak atau
keduanya dapat berbagi biaya pengembangan suatu sumber daya unik yang baru. Hal
ini juga yang mendasari pemakaian ATM bersama oleh beberapa bank retail di
Indonesia. Hubungan kompetitif terjadi jika sumber daya yang unik oleh pemiliknya
dijadikan dasar pembentukan keunggulan kompetitif atau kompetensi inti. Kondisi
tidak adanya perbedaan sumber daya antar kompetitor kondusif bagi pembentukan
kompetisi dan memaksa perusahaan meningkatkan daya inovasi.
Isu keunikan dan keberagaman sumber daya juga berkait dengan sifat konvergen
industri. Pada industri yang konvergen atau industri yang mengalami konvergensi
teknologi, batas keunikan sumber daya menjadi kabur mengingat semakin tidak jelasnya
batas antar pasar dan batas antar produk. Hal ini mendorong perusahaan menerapkan
strategi berkoopetisi dengan kompetitornya. Ancarani dan Shankar (2004) melihat
gejala ini dalam industri telekomunikasi dan ICT. Dalam industri perbankan, bentuk
ISBN : 979-99735-1-1
A-29-4
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi IV
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 5 Agustus 2006
konvergensi teknologi (atau industri) dapat dilihat dalam layanan perbankan berbasis
internet atau teknologi mobile. Sifat konvergen ini juga dapat menerangkan masuknya
industri di luar perbankan menjadi kompetitor industri perbankan.
Kendala kooperasi antar kompetitor termasuk kooperasi demi pengayaan sumber
daya terletak pada kompleksnya pembentukan kepercayaan (trust) antara dua
kompetitor. Pembentukan trust melibatkan dimensi ekonomi dan sosial. Agar koopetisi
dapat terjadi, kepercayaan tidak hanya harus ada secara formal di tingkat institusional
tetapi juga harus ada di tingkat personal (Dagnino dan Castaldo, 2004)
Selanjutnya kepercayaan antara kompetitor di ruang lingkup yang lebih makro
harus diakomodasi dalam bentuk peraturan atau perundang-undangan. Khusus
mengenai hubungan perundang-undangan dan koopetisi, secara spesifik Blomqvist dan
Weck (2004) melakukan penelitian hubungan antara bentuk koopetisi dengan paten
dalam sektor layanan telekomunikasi. Kesimpulan studi ini adalah bahwa perjanjian
dan pengaturan hak paten menjadi pertimbangan perusahaan melakukan kooperasi antar
lembaga penelitian dan pengembangan (R&D). Secara umum, perundang-undangan
disertakan sebagai variabel koopetisi karena kecenderungan adanya peraturan
pemerintah yang membatasi kooperasi antar kompetitor, seperti adanya regulasi
antitrust. Di sisi lain, perundang-undangan yang merupakan bentuk intervensi
pemerintah dan asosiasi kolektif sebagai pihak penengah tetap diperlukan untuk
menghindari kerja-sama antar kompetitor berubah menjadi kesepakatan yang
mengancam sifat kompetitif pasar.
Kooperasi dalam hubungan koopetitif termasuk penggunaan bersama sumber
daya cenderung akan menyebabkan kesamaan produk, dan hal ini menyebabkan
berkurangnya kedekatan produk dengan konsumen atau lebih ekstrem lagi hilangnya
ekuitas merk (Ancarani dan Shankar, 2004; Bengtsson dan Kock, 2000). Konsumen
akan cenderung menganggap merk tidak lagi berfungsi sebagai pembeda produk dan
tidak menjadikan merk produk sebagai pertimbangan melakukan pembelian.
Hilangnya ekuitas merk dapat dicegah dengan meningkatkan dan
mempertahankan daya inovasi (innovativeness). Inovasi sangat erat berhubungan
dengan ketersediaan informasi dan pengetahuan (knowledge). Untuk meminimalkan
resiko pertukaran dan/atau akses ke informasi antar kompetitor, manajemen perusahaan
berkewajiban menjaga keseimbangan antara proses yang meningkatkan ketersediaan
informasi (atau penciptaan pengetahuan baru) dan proses yang menggabungkan
informasi. Pengaturan keseimbangan transfer pengetahuan dibangun di atas
kepercayaan yang solid (Blomqvist dan Välimäki, 2004).
Kooperasi antar perusahaan tidak hanya menjadi sumber pembentukan atau
pertukaran pengetahuan tetapi juga menjadi sumber peningkatan atau penciptaan nilai
(ekonomi)  dengan keuntungan (profit) perusahaan dan efisiensi biaya (produksi atau
operasional) sebagai fokus perhatian. Dasar pembentukan nilai yang terkait dengan
eksistensi hubungan koopetitif dua kompetitor menurut Dagnino dan Padula (2002) juga
tidak lepas dari manajemen kepercayaan
KESIMPULAN
Dari uraian mengenai variabel-variabel determinan dan resultan koopetisi
dibentuklah sembilan proposisi sebagai dasar penelitian empirik koopetisi industri
perbankan di Indonesia. Proposisi-proposisi tersebut adalah:
Proposisi 1 (P1) : Bank berkompetisi dalam aktivitas yang dekat dengan
konsumen/nasabah (aktivitas output) dan berkooperasi dalam
ISBN : 979-99735-1-1
A-29-5
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi IV
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 5 Agustus 2006
Proposisi 2 (P2)
Proposisi 3 (P3)
Proposisi 4 (P4)
Proposisi 5 (P5)
Proposisi 6 (P6)
Proposisi 7 (P7)
Proposisi 8 (P8)
Proposisi 9 (P9)
aktivitas yang jauh dari konsumen (aktivitas input).
: Koopetisi perbankan dibangun di atas keberagaman sumber daya.
: Bank menjalin kooperasi yang berkelanjutan atas dasar kepercayaan
pada pihak yang diajak bekerja sama.
: Perundang-undangan dapat bersifat membatasi atau mendorong
Bank melakukan kooperasi atau kompetisi.
: Konvergensi teknologi/industri menyebabkan bank memutuskan
untuk melakukan kooperasi.
: Koopetisi dapat mendorong bank meningkatkan daya inovasi.
: Koopetisi memberi manfaat kepada bank dalam bentuk penciptaan
pengetahuan
: Koopetisi memberi manfaat kepada bank dalam bentuk penciptaan
nilai
: Koopetisi dapat. menyebabkan hilangnya ekuitas merk produk atau
layanan bank yang berkoopetisi, sehingga konsumen tidak lagi
menggunakan merk layanan atau produk bank sebagai pertimbangan
menggunakan jasa bank.
Kompilasi proposisi-proposisi ini disajikan dalam bentuk hipotesis berikut:
Hipotesis: Variabel kedekatan aktivitas dengan konsumen, heterogenitas sumber daya,
kepercayaan (trust), konvergensi teknologi/industri, perundang-undangan, penciptaan
nilai, penciptaan pengetahuan, daya inovasi dan hilangnya ekuitas merk produk
perbankan berhubungan dengan struktur koopetisi dalam industri perbankan di
Indonesia.
Penelitian-penelitian mengenai hubungan antara berbagai variabel dengan
koopetisi sebelumnya, cenderung hanya meliputi hubungan koopetisi dengan satu atau
dua variabel. Dari studi pustaka yang dilakukan, diketahui hubungan suatu variabel
dengan koopetisi sering bersinggungan dengan hubungan variabel tersebut dengan
variabel koopetisi lainnya. Karena kondisi tersebut, disarankan untuk memodelkan
hubungan koopetisi dalam persamaan struktural. Teknik model persamaan struktural
yang mengakomodasi logika analisis faktor, dapat menggabungkan variabel
berdasarkan keeratan hubungan sehingga diperoleh variabel-variabel yang benar-benar
berkorelasi dengan koopetisi. Secara skematis hubungan struktural antar semua
variabel dengan koopetisi industri perbankan di Indonesia disajikan pada Gambar 3.
Tulisan ini adalah bentuk sederhana kompilasi penelitian-penelitian koopetisi
sebelumnya. Penelitian empirik yang mengoperasionalisasikan model hubungan antara
pelbagai variabel dengan koopetisi diharapkan dapat mendeskripsikan struktur koopetisi
 derajat dominasi kooperasi atau kompetisi  industri perbankan di Indonesia. Dalam
skala sangat kecil, penelitian tersebut selanjutnya diharapkan memberikan kontribusi
bagi pengembangan dan aplikasi bidang ilmu manajemen strategik dan membuktikan
eksistensi koopetisi yang jika dikenali dan dikelola dengan baik akan meningkatkan
efisiensi hubungan antar pelaku industri perbankan di Indonesia.
ISBN : 979-99735-1-1
A-29-6
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi IV
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 5 Agustus 2006
Proksimitas
Aktivitas
Penciptaan Nilai
Heterogenitas
Sumber Daya
Kepercayaan
Koopetisi Perbankan
Indonesia
Penciptaan
Pengetahuan
Daya Inovasi
Perundang-undangan
Konvergensi
Teknologi
Ekuitas Merk
Gambar 3. Model Struktural Variabel Koopetisi Industri Perbankan
DAFTAR PUSTAKA
Ancarani, F. and V. Shankar (2004). Strategic Alliances and Customer Interactions
in Convergent Industries. Workshop on Coopetition Strategy: Towards a New
Kind of Interfirm Dynamics, Catania, Italy, The European Institute for
Advanced Studies in Management.
Bengtsson, M. and S. Kock (2000). "Coopetition" in Business Networks-to
Cooperate and Compete Simultaneously. Industrial Marketing Management
29© 2000 Elsevier Science Inc. All rights reserved. 655 Avenue of the
Americas, New York, NY 10010): 411-426.
Blomqvist, K. and M. Weck (2004). The Relationship Between the
Collaboration and the Development of Patents: A Case Study
Telecommunication Services Sector. Workshop on Coopetition
Towards a New Kind of Interfirm Dynamics, Catania, Italy, The
Institute for Advanced Studies in Management.
Mode of
from the
Strategy:
European
Blomqvist, K. and K. Välimäki (2004). Impact of Intra-Firm Co-Opetition on
Knowledge Creation and Innovativeness. Workshop on Coopetition Strategy:
Towards a New Kind of Interfirm Dynamics, Catania, Italy, The European
Institute for Advanced Studies in Management.
Brandenburger, A. and B. Nalebuff (1996). Co-Opetition : A Revolution Mindset
That Combines Competition and Cooperation : The Game Theory Strategy
That's Changing the Game of Business. Doubleday, New York.
Dagnino, G. B. and G. Padula (2002). Coopetition Strategy A New Kind of Interfirm
Dynamics for Value Creation. Second Annual Conference - "Innovative
Research in Management"Track: "Coopetition Strategy: Towards A New Kind
of Interfirm Dinamics", Stockholm, 9-11 May 2002, EURAM - The European
Academy of Management.
Dagnino, G. B. and S. Castaldo (2004). Trust and Coopetition: the Strategic Role of
Trust as a Moderating Mechanism in Interfirm Coopetitive Dynamics
Workshop on Coopetition Strategy: Towards a New Kind of Interfirm
ISBN : 979-99735-1-1
A-29-7
Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi IV
Program Studi MMT-ITS, Surabaya 5 Agustus 2006
Dynamics, Catania, Italy, The European Institute for Advanced Studies in
Management.
Kasmir (2003). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. RajaGrafindo Persada,
Jakarta.
Laine, A. (2002). Hand in Hand with the Enemy - Defining a Competitor from a
New Perspective. Second Annual Conference - "Innovative Research in
Management" Track: "Coopetition Strategy: Towards A New Kind of Interfirm
Dinamics", Stockholm, 9-11 May 2002, EURAM - The European Academy of
Management.
Porter, M. E. (1985). Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior
Performance. The Free Press, New York.
Prahalad, C. K. and G. H. (1990). The Core Competence of the Corporation.
Harvard Business Review 63(May-June 1990): pp 79-91.
Slapak, O. (2002). Impacts of Global Information Society on the Banking Industry.
Prague, Czech Republic, Departement of Information Technology, University of
Economics in Prague (VSE).
ISBN : 979-99735-1-1
A-29-8
Download