BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Setiap orang dapat

advertisement
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Setiap orang dapat mengalami nyeri selama kehidupannya. Derajat nyeri dan
respon nyeri berbeda antara satu orang dengan orang lain. Nyeri merupakan
campuran reaksi fisik, emosi, dan perilaku. Stimulus penghasil nyeri mengirimkan
impuls melalui serabut syaraf perifer. Serabut nyeri memasuki medula spinalis
dengan menjalani salah satu dari beberapa rute syaraf. Terdapat pesan nyeri
berinteraksi dengan sel-sel syaraf inhibitor, mencegah stimulasi nyeri, sehingga tidak
mencapai otak atau ditransmisikan tanpa hambatan ke korteks serebral. Sekali
stimulus nyeri mencapai korteks serebral, maka otak akan menginterpretasikan
kualitas nyeri dan memproses informasi tentang pengalaman dan pengetahuan yang
lalu serta kebudayaan dalam mempersepsikan nyeri (McNair, 1990 dalam Potter &
Perry, 2005).
Nyeri adalah konsep yang kompleks untuk dipahami. Di dalam area praktek
keperawatan, nyeri mungkin salah satu fenomena klinik yang sering dihadapi
(Montes-Sandoval, 1999 diambil dari Harahap, 2007). Nyeri bukan hanya
pengalaman sensori tetapi juga berkaitan dengan motivasi dan emosi pasien (Melzack
and Casey, 1968 diambil dari Harahap, 2007). International Association for the Study
of Pain (IASP) tahun1986 mendefenisikan nyeri sebagai suatu sensori subjektif dan
pengalaman emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan
Universitas Sumatera Utara
jaringan yang aktual atau potensial atau yang dirasakan dalam kejadian-kejadian di
mana terjadi kerusakan (IASP, 1979 dikutip dari Potter & Perry, 2005).
Nyeri merupakan masalah utama yang dirasakan oleh sebagian besar pasien
yang mengalami hospitalisasi, termasuk didalamnya pasien postoperasi (Erniyati,
2002). Dalam penelitiannya Erniyati (2002) menemukan intensitas nyeri yang
dirasakan pasien postoperasi bervariasi dari tingkat sedang sampai berat.
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri yang dirasakan
individu. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah
menggunakan respon fisiologi tubuh terhadap nyeri itu sendiri. Pengukuran subjektif
nyeri dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai alat pengukur nyeri seperti
visual analog, skala nyeri numerik, skala nyeri deskriptif atau skala nyeri WongBakers untuk anak-anak (Tamsuri, 2007). Intensitas nyeri ini juga digunakan untuk
mengukur skala nyeri untuk pasien pasca bedah.
Pembedahan merupakan suatu tindakan pengobatan yang menggunakan cara
invasif dengan membuka dan menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani.
Pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan. Setelah
bagian yang akan ditangani ditampilkan, selanjutnya dilakukan perbaikan yang
diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidajat dan Jong, 2005).
Setiap
pembedahan
selalu
berhubungan
dengan
insisi/sayatan
yang
merupakan trauma atau kekerasan bagi penderita yang menimbulkan berbagai
keluhan dan gejala. Salah satu keluhan yang sering dikemukakan adalah nyeri
Universitas Sumatera Utara
(Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Hal ini didukung oleh penelitian Megawati
(2010), bahwa pasien pasca laparatomi mengeluhkan nyeri sedang sebanyak 57,70%,
yang mengeluhkan nyeri berat 15,38%, dan nyeri ringan sebanyak 26,92%.
Nyeri merupakan masalah utama pasien pasca bedah (Alexander & Hill,
1987). Kira-kira 80 % pasien pasca bedah mengalami nyeri sedang sampai hebat
(Rekozar, 2005). Nyeri pasca bedah biasanya berlokasi pada area pembedahan.
Intensitas nyeri yang dirasakan tergantung pada lokasi, jenis pembedahan, persepsi
pasien tentang nyeri, dan lain-lain (Good & Roykulcharoen, 2004). Nyeri setelah
pembedahan merupakan hal yang fisiologis, tetapi hal ini merupakan salah satu
keluhan yang paling ditakuti oleh klien setelah pembedahan. Intensitas bervariasi
mulai dari nyeri ringan sampai nyeri berat namun menurun sejalan dengan proses
penyembuhan Sensasi nyeri mulai terasa sebelum kesadaran klien kembali penuh, dan
semakin meningkat seiring dengan berkurangnya pengaruh anestesi. Adapun bentuk
nyeri yang dialami oleh klien pasca pembedahan adalah nyeri akut yang terjadi
karena adanya luka insisi bekas pembedahan ( Perry dan Potter, 2005). Jika nyeri akut
tidak dikontrol dapat menyebabkan proses rehabilitasi pasien tertunda dan
hospitalisasi menjadi lama. Hal ini karena pasien memfokuskan semua perhatiannya
pada nyeri yang dirasakan (Smeltzer & Bare, 2002).
Banyak pasien yang mengalami nyeri pasca bedah abdomen. Tahun 2004
hampir 35 juta pasien yang dirawat di Rumah Sakit Amerika Serikat, tercatat 46 %
mengalami prosedur pembedahan. Ditemukan data bahwa 80% pasien mengalami
Universitas Sumatera Utara
nyeri pasca bedah, 11% sampai 20% mengalami nyeri hebat (Kozak, DeFrances &
Hall, 2006).
Beberapa faktor yang mempengaruhi nyeri pasca bedah abdomen seperti usia,
jenis kelamin, budaya, dan tingkat kecemasan dengan nyeri pasca bedah abdomen di
lapangan mempunyai hasil yang berbeda. Penelitian Lueck (1992) menunjukkan
kualitas atau intensitas nyeri pasca bedah abdomen antara lansia tua dengan lansia
pertengahan tidak ada perbedaan secara signifikan. Sedangkan penelitian Moddeman
(2000) menunjukan bahwa wanita yang lebih tua, lebih sedikit menerima analgesik
daripada wanita yang lebih muda. Berbeda halnya dengan penelitian Ene, et al.
(2008) menyatakan tidak ada korelasi antara usia dengan tingkat nyeri selama tiga
hari pasca bedah radikal prostatektomi, namun pada pasien yang lebih muda memiliki
skor nyeri lebih tinggi dari yang lebih tua.
Pada dua tahun terakhir di RSUD dr. Pirngadi Medan ada 812 kasus bedah
abdomen yang terdiri dari 654 kasus secsio sesaria dan 153 kasus laparotomi. (Data
RSUD dr. Pirngadi Medan).
Merujuk dari hal tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas nyeri pasien pasca bedah abdomen di
Rumah Sakit Umum Daerah dr. Pirngadi Medan.
Universitas Sumatera Utara
2. Pertanyaan penelitian
Bagaimana hubungan antara intensitas nyeri pasien pasca bedah abdomen
dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya di RSUD dr. Pirngadi Medan?
3.
Tujuan Penelitian
3.1 Mengidentifikasi intensitas nyeri pasien pasca bedah abdomen di RSUD dr.
Pirngadi Medan.
3.2 Mengidentifikasi hubungan antara intensitas nyeri pasien pasca bedah abdomen
dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya di RSUD dr. Pirngadi Medan.
4. Manfaat Penelitian
a.
Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk perkembangan ilmu
keperawatan khususnya bagi mata ajar keperawatan medikal bedah dan meningkatkan
pengetahuan, pembelajaran dan pemahaman di institusi pendidikan tentang faktorfaktor yang mempengaruhi intensitas nyeri pasien pasca bedah abdomen.
b.
Bagi Pelayanan Keperawatan
Sebagai informasi dan tambahan pengetahuan bagi perawat dalam memahami
faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas nyeri pasca bedah abdomen sehingga
dapat memberikan intervensi yang tepat kepada pasien dengan masalah keperawatan
nyeri dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan.
Universitas Sumatera Utara
c.
Bagi Penelitian Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi peneliti
selanjutnya dan sebagai bahan perbandingan apabila ada peneliti yang ingin
melakukan penelitian dengan judul yang sama atau ingin mengembangkan penelitian
ini lebih lanjut.
Universitas Sumatera Utara
Download