BAB II PERILAKU KEAGAMAAN REMAJA A. Perilaku Keagamaan 1

advertisement
BAB II
PERILAKU KEAGAMAAN REMAJA
A. Perilaku Keagamaan
1.
Pengertian Perilaku Keagamaan
Pengertian perilaku keagamaan dapat dijabarkan dengan cara
mengartikan perkata. Kata perilaku dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia Pusat Bahasa yaitu tanggapan atau reaksi individu terhadap
rangsangan atau perilaku. 1 Perilaku merupakan seperangkat perbuatan
atau tindakan seseorang dalam melakukan respon terhadap sesuatu dan
kemudian dijadikan kebiasaan karena adanya nilai yang diyakini.
Perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme tidak
timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau
rangsangan yang mengenainya, yaitu dorongan untuk bertindak dalam
rangka memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan.2
Sedangkan menurut W.J.S. Poerwadaminta, perilaku adalah
tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan dan sikap
yang muncul dalam perbuatan yang nyata atau ucapan.3
Sedangkan dalam bukunya Hasan Langgulung yang berjudul
“Asaa-asas Pendidikan Islam” Al-Ghozali berpendapat bahwa perilaku
atau tingkah laku adalah sebagai berikut:
1
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar BahasaIndonesia Pusat Bahasa (Jakarta:
Balai Pustaka, 2005), hlm. 859.
2
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum (Yogyakarta: Andi Ofset, 2010), hlm. 11.
3
W.J.S. Poerdaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, edisi 3,2001),
hlm. 7.
18
19
a.
Tingkah laku mempunyai penggerak (motivasi), pendorong dan
tujuan.
b.
Motivasi itu bersifat dari dalam yang muncul dari diri manusia itu
sendiri, tetapi ia rangsang dengan rangsangan-rangsangan dari luar
atau rangsangan-rangsangan dari dalam yang berhubungan dengan
kebutuhan-kebutuhan jasmani dan kecenderungan-kecenderungan
alamiah, seperti rasa lapar, cinta dan takut kepada Allah.
c.
Menghadapi motivasi-motivasi manusia mendapati dirinya terdorong
untuk mengerjakan sesuatu.
d.
Tingkah laku ini mengandung rasa kebutuhan dengan perasaan
tertentu dan kesadaran akal terhadap suasanatersebut. Ini semua
disertai oleh aktivitas jenis tertentu yang tidak terpisah dari rasa,
perasaan dan kesadaran dari suasana itu.
e.
Kehidupan psikologi adalah suatu perbuatan dinamis, dimana
perilaku interaksi terus menerus antara tujuan atau motivasi dengan
tingkah laku.
f.
Tingkah laku itu bersifat individual yang berada menurut perbedaan
faktor-faktor keturunan dan perolehan atau proses belajar.
g.
Tingkah laku ada dua tingkatan. Tingkatan pertama manusia
berdekatan dengan semua makhluk hidup, yang dikuasai oleh
motivasi-motivasi sedangkan pada tingkatan yang kedua ia mencapai
cita-cita idealnya dan mendekatkan pada makna-makna ke-Tuhanan
20
dengan tingkah laku malaikat, tingkat ini dikuasai oleh keimanan
dan akal.4
Sedangkan kata keagamaan berasal dari kata dasar agama yang
berarti sistem, prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran
kebaktian dan kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan itu. Kata
keagamaan itu sudah mendapat awalan “ke” dan akhiran “an” yang
mempunyai arti sesuatu (segala tindakan) yang berhubungan dengan
agama.5
Berdasarkan uraian di atas perilaku keagamaan berarti segala
tindakan perbuatan atau ucapan yang dilakukan seseorang sedangkan
perbuatan atau tindakan serta ucapan tadi akan kaitannya dengan agama,
semuanya dilakukan karena adanya kepercayaan kepada Tuhan dengan
ajaran, kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan
kepercayaan.
Oleh karena itu dalam agama ada ajaran-ajaran yang dilakukan
bagi pemeluk-pemeluknya, bagi agama islam, ada ajaran yang harus
dilakukan dan adapula yang berupa larangan. Ajaran-ajaran yang berupa
perintah yang harus dilakukan diantaranya adalah sholat, zakat, puasa,
haji, menolong orang lain yang sedang kesusahan dan masih banyak lagi.
Sedangkan yang ada kaitannya dengan larangan itu lagi banyak seperti,
minum-minuman keras, judi, korupsi, main perempuan dan lain-lain.
4
5
hlm. 11.
Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam (Jakarta: Al-Husna,2000), hlm. 306.
Pusat Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1990),
21
Oleh sebab itu dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung
banyak aktivitas yang telah kita lakukan baik itu yang ada hubungannya
antara makhluk agama dengan pencipta, maupun hubungan antara
makhluk dengan sesama makhluk, itu pada dasarnya sudah diatur oleh
agama.6
Dari berbagai pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
perilaku keagamaan adalah tanggapan atau reaksi nyata seseorang
sebagai akibat dari akumulasi pengalaman, pengalaman sebagai respon
yang diterimanya, yang diwujudkan dalam bentuk ibadah keseharian
seperti: sholat, puasa, sabar, tawakal, dan bergaul dengan sesama.
Perilaku keagamaan seseorang pada dasarnya tidak terlepas dari
dasar-dasar atau pokok-pokok ajaran islam yang dapat diklarifikasikan
menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Aqidah
Aqidah adalah urusan yang wajib diyakini kebenarannya oleh
hati, menentramkan jiwa, dan menjadi keyakinan yang tidak
bercampur dengan keraguan.7inti materi dari aqidah adalah mengenai
keimanan sebagaimana terdapat dalam rukun iman, yakni meyakini
tentang Allah, para malaikat, Nabi/Rasul, kitab-kitab Allah, surga dan
neraka, serta qada dan qadar.
6
7
Agus Sujanto, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 204.
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 124.
22
b. Syariah
Syariah menurut hukum Islam, sebagai mana dikutip dari buku
karya Muhammad Alim yang berjudul “Pendidikan Agama Islam”
adalah hukum-hukum dan tata aturan yang disampaikan Allah agar
ditaati hamba-hamba-Nya. Syariah juga diartikan sebagi satu sistem
norma Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan,
hubungan manusia dengan sesama manusia, serta hubungan manusia
dengan alam lainnya.
Secara garis besar ajaran syariah Islam adalah ibadah seperti
yang terdapat dalam rukun Islam, muamalah (sosial), munakahat
(hubungan keluarga), jinayat (pidana), siyasah (kemasyarakatan atau
politik), dan peraturan-peraturan lainnya seperti makanan, minuman,
sembelihan, berburu, nazar dan lain-lain.8
c. Akhlak
Menurut bahasa akhlak ialah kata jamak dari khuluq (khuluqun)
yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at. Akhlak
disamakan dengan kesusilaan, sopan santun. Akhlak diartikan sebagai
ilmu tata krama, ilmu yang berusaha mengenal tingkah laku manusia,
kemudian memberi nilai kepada perbuatan baik atau baik sesuai
dengan norma-norma atau tata susila.9
8
9
hlm.3.
Ibid., hlm.139.
M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al Quran (Jakarta: Amzah, 2007),
23
Akhlak dalam ajaran Islam mencakup berbagai aspek, dimulai
dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada sesama makhluk (manusia,
binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda tak bernyawa). Akhlak
mengandung empat unsur yaitu adanya perbuatan baik dan buruk,
adanya kemampuan melaksanakan, mengetahui perbuatan yang baik
dan buruk, dan adanya kecenderungan kondisi jiwa pada salah satu
perbuatan terpuji maupun yang tercela. 10 Ukuran untuk menentukan
akhlak itu terpuji atau tercela adalah syara’ yakni aturan atau norma
yang ada di Al-Quran maupun Sunnah dan akal sehat.
Akidah, syariah dan akhlak saling berhubungan, akidah
merupakan sistem kepercayaan dan dasar bagi syariah dan akhlak,
sedangkan tidak ada syariah dan akhlak selama tanpa akidah Islam.11
2.
Pembentukan Perilaku
Secara psikologis perilaku dapat dibawa dari lahir dan dipengaruhi
oleh faktor genetik. Walaupun demikian sebagian besar para pakar
psikologis sosial berpendapat bahwa perilaku terbentuk dari pengalaman
melalui proses belajar. Pandangan ini mempunyai dampak taerapan yaitu
bahwa berdasarkan pandangan ini dapat
disusun berbagai upaya
(penerangan, pendidikan , pelatihan dan sebagainya) untuk mengubah
perilaku seseorang.
10
Nasirudin, Histirisitas & Normativitas Tasawuf (Semarang: Aktif Media,2008), hlm. 28.
Djamaludin Ancok dan Fuad Nashori Suroso, Psikologi Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2008), hlm. 79.
11
24
Menurut Sarlito W. Sarwono, perilaku dapat terbentuk melalui
empat macam cara:
a.
Adopsi
Kejadian-kejadian yang terjadi
berulang-ulang dan terus
menerus lama kelamaan secara bertahap diserap ke dalam diri
individu dan mempengaruhi terbentuknya perilaku.
b.
Deferensiasi
Dengan
berkembangnya
intelegensi,
bertambahnya
pengalaman, sejalan dengan bertambanhya usia maka ada hal-hal
yang tadinya dianggap sejenis sekarang dipandang tersendiri.
Terhadap objek tersebut dapat terbentuk sikap tersendiri pula.
c.
Integrasi
Pembentukan sikap di sini terjadi secara bertahap dimulai
dengan berbagai pengalaman yang berhubungan dengan hal tertentu,
sehingga akhirnya terbentuk sikap mengenai hal tersebut.
d.
Trauma
Trauma
yaitu
pengalaman-pengalaman
yang
tiba-tiba
mengejutkan yang meninggalkan kesan-kesan mendalam pada jiwa
orang yang bersangkutan, pengalaman traumatis yang dapat juga
menyebabkan terbentuknya sikap. Pembentukan perilaku tidak
terjadi demikian saja melainkan melalui suatu proses tertentu,
25
melalui kontak sosial terus menerus antara individu dan individu lain
disekitarnya.12
3.
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Keagamaan
Agama menyangkut kehidupan batin manusia. Oleh karena itu,
kesadaran agama dan pengalaman agama seseorang lebih mengambarkan
sisi-sisi batin dalam kehidupan yang ada kaitannya dengan sesuatu yang
sakral dan gaib. Dari kesadaran agama dan pengalaman agama ini
muncul perilaku keagamaan yang ditampilkan seseorang.
Perkembangan perilaku keagamaan pada remaja ini menduduki
pada masa progresif. Penghayatan para remaja terhadap ajaran agama
dan tindak keagamaan yang tampak pada para remaja banyak berkaitan
dengan faktor perkembangan tersebut.13
Jalaludin dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Agama”
menerangkan bahwa perilaku keagamaan dipengaruhi oleh dua faktor,
yaitu faktor intern (pembawaan) dan faktor ekstern (lingkungan). Juga
menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang beragama. Namun
keagamaan tersebut memerlukan bimbingan agar dapat tumbuh dan
berkembang secara benar. Untuk itu anak-anak memerlukan tuntunan dan
bimbingan sejalan dengan tahap perkembangan yang mereka alami.
Tokoh yang paling menentukan dalam menumbuhkan perilaku
keagamaan itu adalah keluarga terutama orang tua.14
12
Sarlito. W. Sarwono, Psikologi sosial (jakarta: Bulan Bintang, 2000), hlm. 96.
Noer Rohmah, Pengantar Psikologi Agama (Yogyakarta : TERAS, 2013), hlm. 126-127.
14
Jalaludin, Psikologi Agama (Jakarta: Rajawali Press, 2010), hlm. 69.
13
26
Sedangkan menurut W. Starbuck sebagaimana dikutip dalam buku
Noer Rokhmah yaitu:
a. Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide dan dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari
masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat
kritis terhadap ajaran agama mereka juga tertarik dengan masalah
kebudayaan, sosial, ekonomi dan norma-norma kehidupan lainnya.
Dari hasil penelitian Allport, Gillesphy dan Young menunjukan
bahwa agama yang ajarannya lebih bersifat konservatif lebih
mempengaruhi bagi remaja untuk tetep taat pada ajaran agamanya.
Agama yang ajaran kurang konservatif-dogmatis dan agak liberal
akan mudah merasang pengembangan pikiran dan mental para remaja
sehingga mereka meninggalkan ajaran agamanya.
b. Perkembangan perasaan
Pada masa remaja ini berbagai perasaan yang telah
perkembang misalnya: perasaan sosial, etis dan estetis mendorong
remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam
lingkungannya. Kehidupan yang religius akan mendorong remaja
untuk cenderung kepada kehidupan yang religius pula. Sebaliknya
kehidupan yang liberal yakni para remaja yang hidupnya kurang
mendapatkan siraman pendidikan dan pengalaman agama yang cukup,
27
maka hidupnya juga cenderung bebas dan bakhan tidak jarang mereka
yang terperosok kedalam tindakan seksual.15
c. Pertimbangan sosial
Dalam kehidupan keagaamaan pada masa remaja banyak yang
timbul konfil antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat
bungung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih
dipengaruhi kepentingan akan materi, maka para remaja lebih
cenderung jiwanya untuk bersifat materialis. Hasil penyelidikan
Ernest Harms terhadap remaja tahun 1789 remaja Amerika antara usia
18-29 tahun menunjukan bahwa 70% pemikiran remaja ditujukan bagi
kepentingan ; keuangan, kesejahteraan, kebahagian, kehormatan diri
dan masalah kesengan pribadi lainnya. Sedangkan masalah akhirat
dan keagamaan hanya sekitar 3,6% masalah sosial 5,8%. Dari hasil
penyelidikan tersebut bisa dilihat bahawa keagaamaan pada masa
remaja dipengaruhi oleh pertimbangan sosial.
d. Perkembangan moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa
berdosa dan usaha untuk mencari proteksi. Tipe moral yang juga
terlihat pada para remaja juga mencakup :
1) Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan
pertimbangan pribadi
2) Adaptive, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik
15
Noer Rohmah, Op. Cit., hlm. 127-128.
28
3) Submissive, merasakan adanyaa keraguan terhadap ajaran moral
dan agama
4) Unadjusted, belum menyakini akan kebenaran ajaran agama dan
moral
5) Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan
moral masyarakat.
e. Sikap dan minat
Besar – kecil sikap dan minat para remaja terhadap agama
ternyata juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan lingkungan agama yang
mereka terima sejak kecil sudah dibiasakan untuk taat terhadap ajaran
agama maka ketika masa remaja dimungkinkan anak tersebut akan
lebih cenderung mempunyai sikap dan minat yang lebih tinggi
terhadap ajaran agama dan bagitupun sebaliknya.
f. Ibadah
Menurut hasil penelitian Ross dan Oskar Kupky tentang
pandangan para remaja terhadap ajaran agama yakni masalah ibadah
dan do’a adalah sebagai berikut :
1)
148 siswi dinyatakan bahwa 20 orang diantara mereka tidak
pernah mempunyai pengalaman keagamaan sedangkan sisanya
128 mempunyai pengalaman keagamaan yang 68 diantaranya
secara alami (tidak melalui pengajaran resmi)
2)
31 orang diantaranya yang mendapat pengalaman keagamaan
melalui proses alami itu mengungkapkan adanya perhatian
29
mereka terhadap keajaiban yang menakjubkan dibalik keindahan
alam yang mereka nikmati.16
Pada masa remaja ini kondisi jiwa agama belum stabil, hal ini
dikarenakan secara kejiwaan mereka masih belum mencapai
kematangan sehingga dalam beragamapun terkadang mengalami
keraguan yang akhirnya akan muncul konflik dalam jiwa remaja
tersebut. Berdasarkan hasil penelitian W Starbuck sebagaimana
dikutip dalam bukunya Noer Rokhmah menerangkan faktor yang
menyebabkan anak pada usia remaja mengalami keraguan dalam
beragama yang antara lain yaitu :
1)
Kepribadian yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin :
a) Seseorang yang memiliki kepribadian introvert,maka
kegagalan akan menyebabkan dirinya salah tafsir terhadap
sifat Tuhan yang Maha Pemurah.
b) Perbedaan jennis kelamin dan kematangan merupaka
faktor yang menentukan dalam keraguan agama. Wanita
yang lebih cepat matang dalam perkembangannya akan
lebih cepat menunjukkan keraguan daripada remaja pria.
2)
Kesalahan organisasi keagamaan dan pemuka agama adanya
berbagai lembaga keagamaan, organisasi dan aliran keagamaan
yang terkadang bisa menimbulkan kesan adanya pertentangan
dalam ajarannya. Pengaruh ini dapat menjadi penyebab
16
Ibid., hlm. 130.
30
timbulnya keraguan bagi para remaja. Demikian pula tindak
tanduk pemuka agama yang tidak sepenuhnya menuruti
tuntutan agama.
3)
Pernyataan kebutuhan manusia
Manusia mamiliki sifat konservatif (senang dengan
yang sudah ada) dan dorongan curiosty (dorongn ingin tahu).
Berdasarkan faktor bawaan ini, terkadang ia terdorong untuk
mempelajari ajaran agama dan jika ada perbedaan – perbedaan
yang kurang sejalan dengan apa yang telh dimilikinya maka
biasannya akan muncul keraguan.
4)
Kebiasaan
Seseorang yang sudah terbiasa akan suatu tradisi
keagamaan yang dianutnya, akan ragu menerima kebenaran
ajaran yang baru diterimanya atau dilihatnya.
5)
Pendidikan
Dasar pengetahuan yang dimiliki seseorang serta
tingkat pendidikan yang dimilikinya akan membawa pengaruh
sikapnya terhadap ajaran agama. Remaja yang terpelajar dan
selalu mengedepankan rasionya terhadap ajaran agamanya,
terutama ajaran yang bersifat dogmatis. Apalagi jika remaja
tersebut memiliki kemampuan untuk menafsirkan agama yang
dianutnya itu secara lebih rasinal.
31
6)
Percampuran antara agama dan mistik
Para reamaja masih merasa ragu untuk menentukan
anatar
unsur
agama
dengan
mistik.
Sejalan
dengan
perkembangan agama di dalam masyarakat kadang-kadang
secara tidak disadari tindak keagamaan yang mereka lakukan
ditopang oleh praktek kebatianan dan mistik.17
Dalam bukunya Samsul Arifin yang berjudul Psikologi Agama
pun dijelaskan mengenai faktor yang mempengaruhi perilaku
keagamaan remaja yaitu antara lain :
a. Faktor Intern
Perkembangan jiwa keagamaan selain oleh faktor ekstern juga
ada faktor intern seseorang. Yang termasuk dalam faktor intern ini
adalah :
1) Faktor hereditas
Sejak penemuan sifat kebakaan pada tanaman oleh Johan Gregot
Mendel (1822 – 1884) telah dilakukan sejumlah kajian terhadap
hewan dan manusia. Jiwa keagaamaan atau perilaku beragama
memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang
diwariskan secara turun temurun, melainkan terbentuk dari berbagai
unsur kejiwaan lainnya yang mencangkup kognitif, afektif dan
kognitif. Akan tetapi dalam penelitian terhadap janin terungkap bahwa
makan dan perasaan ibu berpengaruh terhadap kondisi janin yang
17
Ibid., hlm. 134.
32
dikandungnya. Demikan pula, Margareth Mead menemukan dalam
penelitiannya terhadap suku Mundugumor dan Arapeseh bahwa
terdapat hubungan anatar cara menyusui dengan sikap bayi. Bayi yang
disusukan secara tergesa-gewsa (Arapesh) menampilkan sosok yang
agresif dan yang disusukan secara wajar dan tenang (Mundugumor)
akan menampilkan perilaku yang toleran dimasa remajanya.18
Selain itu Rasul SAW juga mengajurkan untuk memilih pasangan
hidup yang baik dalam membina rumah tangga, sebab menurut beliau
keturunan itu berpengaruh bagi perkembangan jiwa keagamaan
seseorang yang akan berdampak pada perilaku keagamaan yang
mereka jalani di masa yang akan datang.
2) Tingkat usia
Dalam The Developmennt og Religius on Chilidren, Ernest Harms
mengungkapkan bahwa perkembangan agama pada masa anak-anak
ditentukan oleh tingkat usia mereka. Perkembangan tersebut
dipengaruhi pula oleh perkembangan berbagai aspek kejiwaan,
termasuk perkembangan berfikir. Ternyata, anak yang menginjak usia
berfikir kritis lebih kritis pula dalam memahami ajaran agama.
Tingkat perkembangan usia dan kondisi yang dialami para remaja
menimbulkan konfilk kejiwaan yang cenderung memengaruhi
terjadinya konversi agama.19
18
19
Bambang Samsul Arifin, Psikologi Agama(Bandung : Pustaka setia, 2008), hlm. 79.
Ibid., hlm. 80.
33
3) Kepribadian
Kepribadian menurut pandangan psikologi terdiri dari dua unsur
yaitu unsur hereditas dan pengaruh lingkungan. Hubungan antara
unsur hereditas dan pengaruh lingkungan inilah yang membentuk
keperibadian. Dan adanya dua unsur tersebut akan menyebabkan
munculnya konsep tipologi dan karakter.
4) Kondisi kejiwaan
Menurut pendekatan-pendekatan psiokologi jelas bahwa antara
keperibadian dan kejiwaan maka akan menghasilkan perilaku yang
normal ataupun perilaku abnormal
b. Faktor ekstern
Manusia sering disebut dengan homoreligius (makhluk beragama)
faktor ekstern yang mempengarui keberagamaan remaja adalah :
1) Lingkungan Keluarga
Pengaruh kedua orang tua terhadap perkembangan kejiwaan
keagamaan yang berdampak pula perilaku keagamaan remaja.
Oleh karena itu, sebagai interverensi terhadap perkembangan jiwa
keagamaan perkembangan jiwa keagamaan pada remaja.
2) Institusi
Sekolah juga ikut mempengaruhi perilaku keagamaan remaja
dari segi meteri pengajaran, sikap dan keteladanan guru sebagai
pendidik serta pergaulan antar teman di sekolah berperan dalam
menanamkan kebiasaan yang baik pula.
34
3) Masyarakat
Kehidupan bermasyarakat dibatasi oleh berbagai norma dan
nilai-niali yang didukung warganya, oleh karena itu, setiap warga
berusaha untuk menyesuaikan sikap dan tingkah laku dengan
norma dan nilai-nilai yang ada.20
4.
Macam-macam perilaku keagamaan
Para ahli psikologi membedakan tingkah laku menjadi 2 macam:
a. Tingkah Laku Intelektual
Tingkah laku intelektual adalah sejumlah peraturan yang
dikerjakan seseorang yang berhubungan dengan kehidupan jiwa
dan intelektual. Ciri utamanya adalah berusaha untuk mencapai
tujuan tertentu.
b. Tingkah Laku Mekanisme atau Refleksi
Tingkah laku mekanisme adalah respon-respon yang timbul
pada manusia secara menistis seperti kedipan mata sebab cahaya
dan gerakan-gerakan rambang yang kita lihat pada anak-anak
seperti penggerakan kedua tangan dan kaki secara terus
menerus.21
Sedangkan menurut Syaikh M. Jamaludin Mahfudz dalam
bukunya
“Psikologi
Anak
dan
Remaja
Muslim”
juga
mengemukakan macam atau karakteristik tingkah laku yang
positif. Diantara karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
20
21
hlm. 14.
Ibid., hlm. 85.
M. Jamiluddin Mahfudz, Psikologi Anak dan Remaja Muslim(Jakarta: Al- Kautsar, 2001)
35
1) Mampu menguasai diri.
2) Berani memikul tanggung jawab dan menghargainya.
3) Mau bekerja sama.
4) Mampu saling mencintai dan mempercayai.
5) Mampu saling memberi dan menerima dalam waktu yang
bersamaan seseorang mampu memberi yang lebih banyak dari
pada yang ia terima.
6) Bisa diajak kerja sama dalam mendorong perkembangan dan
kemajuan bagi masyarakat khususnya dan bagi masyarakat
dunia pasa umumnya.
7) Mau memperhatikan orang lain, bisa membangun relasi-relasi
positif dan anggota masyarakat dan berusaha menciptakan
rasa saling pengertian serta saling membantu diantara mereka.
8) Mampu
menciptakan
target-target
ambisinya,
berusaha
mewujudkan sesuai dengan kemampuannya.
9) Mampu menghadapi pergumulan ketakutan, kegelisahan dan
perasaan bersalah.
10) Menikmati kepercayaan diri dan kemampuan menarik orang
lain berbuat hal yang sama dan keberhasilannya menciintai
serta menghargai mereka.22
22
Ibid., hlm. 113.
36
B. Remaja
1. Pengertian Remaja
Remaja adalah periode transisi antara masa kanak-kanak kedewasa
atauusia belasan tahun, atau jika seseorang menunjukan tingkah laku
tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya dan
sebagainya.23
Remaja adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak-kanak
berakhir ditandai oleh pertumbuhan cepat. Pertumbuhan cepat yang
terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu membawa akibat yang
sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. Oleh
karena itu, masa remaja merupakan masa yang paling mengesankan dan
indah dalam perkembangan manusia, karena masa tersebut penuh dengan
tantangan, gejolak emosi dan perubahan jasmani, psikologi dan sosial. Di
mana masa remaj juga merupakan masa yang penuh dengan konflik baik
dengan dirinya sendiri maupun dengan yang lainnya.24
Menurut WHO memberikan definisi tentang remaja yang lebih
bersifat konseptual. Dalam definisi tersebut dikemukakan tiga kriteria,
yaitu biologis, psikologis dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap
definisi tersebut berbunyi sebagai berikut:
a. Individu berkembang dari pertama kali ia menunjukan tanda-tanda
seksuel sekundernya saat ia mencapai kematangan seksual.
23
24
Sarlito W Sarwono, Psikologi Remaja(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 2.
Noor Rahman Hadjam, Majalah Gerbang (Yogyakarta: Suara Muhamadiyah, 2002), hlm. 42
37
b. Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi
dari kanak-kanak menjadi dewasa.
c. Terjadi perubahan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh
kepada keadan yang relativ lebih mandiri.25
Sedangkan menurut Clarke Stewart dan Friedman yang dikutip oleh
Hendriati
Agustiani
dalam
bukunya
yang
berjudul
Psikologi
Perkembangan, menjelaskan bahwa masa remaja merupakan masa
transisi atau peralihan dari masa anak menuju dewasa. Pada masa ini
individu mengalami berbagai perbahan, baik fisik maupun psikis.
Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh
berkembang besar sehingga mencapai tubub orang dewasa yang disertai
pula dengan berkembangnya kapasitas reproduksi. Selain itu remaj juga
berubah secara kognitif dan mulai mampu berfikir abstrak seperti orang
dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai melepaskan diri secara
emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang
baru sebagai orang dewasa.26
Secara umum masa remaja merupakan masa pancaroba, penuh dengan
kegelisahan dan kebingungan. Keadaan tersebut lebih disebabkan oleh
perkembangan dan pertumbuhan yang sangat pesat, terutama dalam hal
fisik. Perubahan dalam pergaulan sosial, perkembangn intelektual, adanya
perhatian dan dorongan pada lawan jenis.27
25
Sarlito W. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010),
hlm. 14.
26
27
Hendriati Agustini, Psikologi Perkembangan ( Bandung: Refika Aditama, 2006), hlm. 28.
Sururin, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 64.
38
2. Pertumbuhan Mental Remaja
Ide-ide agama, dasar-dasar keyakinan dan pokok-pokok ajaran agama,
pada dasarnya diterima oleh seseorang pada masa kecilnya. Ide-ide pokok
ajaran-ajaran agama yang diterimanya waktu kecil itu akan berkembang
dan bertambah subur, apabila anak atau remaja dalam menganut
kepercayaan itu tidak mendapat kritikan-kritikan dalam hal agama itu.
Dan apa yang bertumbuh dari kecil itulah yang menjadi keyakinan yang
dipeganginya melalui pengalaman-pengalaman yang dirasakannya.
Pertumbuhan pengertian tentang ide-ide agama sejalan dengan
pertumbuhan kecerdasan. Pengertian-pengertian tentang hal-hal yang
abstrak, yang tidak dapat dirasakan atau dilihat langsung seperti
pengertian tentang akhirat, surga, neraka dan lain sebagainya., baru dpat
diterima oleh anak-anak apabila pertumbuhan kecerdasannya telah
memungkinkan untuk itu.
Remaja-remaja yang mendapat didikan agama dengan cara tidak
memberi kesempatan atau berpikir logis dan mengkritik pendapatpendapat yang tidak masuk akal, disertai pula oleh kehidupan lingkungan
dan orang tua, yang juga mengant agama yang sama, maka kebimbangan
pada masa remaja itu agak kurang. Remaja-remaj akan merasa gelisah dan
kurang aman apabila agama atau keyakinannyaberlainan dari agama atau
keyakinan orang tuanya. Keyakinan orang tua dan keteguhannya
menjalankan
ibadah,
serta
memelihara
nilai-nilai
agama
dalm
kehidupannya sehari-hari menolong remaja dari kebimbangan agama.
39
Setelah perkembangan mental remaja sampai kepada mampu menerima
atau menolak ide-ide atau pengertian-pengertian yang abstrak, maka
pandangannya terhadap alam dengan segala isi dan peristiwanya berubah,
dari mau menerima tanpa pengertian menjadi menerima dengan
penganalisaan.
Dapat disimpulkan bahwa pengertian remaja akan pokok-pokok
keyakinan dalam agama dipengaruhi oleh perkembangan pikirannya pada
umur remaja. Gamabaran remaja tentang Tuhan merupakan bagian dari
gambaran terhadapa alam ini. Hubungannya dengan Tuhan, bukanlah
hubungan yang sederhana, antara dia dengan Tuhan. Akan tetapi
kompleks dan berjalin melalui alam ini, hubungan disini adalah antara
dia, alam dan Tuhan. Perasaannya terhadap Tuhan, adalah pantulan dari
sikap jiwanya terhadap alam luar. Maka agama remaja adalah hubungan
antara dia, Tuhan dan alam semesta, yang terjadi dari peristiwa-peristiwa
dan pengalaman-pengalaman masa lalu dan yang sedang di alami oleh
remaja itu, atau dengan kata lain dapat diringkaskan bahwa agama remaja
adalah hasil dari interaksi antara dia dan lingkungannya sedang
gambarannya tentang Tuhan dan sifat-sifatnya, dipengaruhi oleh kondisi
perasaan dan sifat remaja itu sendiri.28
3. Problem Remaja
Umur remaja adalah umur peralihan dari anak-anak menjelang
dewasa, yang merupakan masa perkembangan terkhir bagi pembinaan
28
Zakiyah Daradjat, ilmu jiwa agama (Jakarta: Bulan Buntang,2003), cet XVI, hlm. 85-89.
40
kepribadian atau masa persiapan untuk memasuki umur dewasa,
problemnya tidak sedikit. Telah banyak penelitian yang dilakukan orang
dalam mencari problema yang umum dihadapi oleh remaja, baik di negara
yang maju, maupun yang masih berkembang. Di antara problem remaja
yang sering dirasakan antara lain adalah:
a. Masalah hari depan
Setiap remaja memiokirkan masa depannya. Ia ingin mendapat
kepastian, akan jadi apakah ia nanti setelah tamat. Pemikiran akan hari
depan itu semakin memuncak dirasakan oleh mereka yang duduk di
bangku Universitas atau mereka yang berada di dalam kampus. Tidak
jarang kita mendengar kalimat-kalimat yang memantulkan kecemasan
akan hari depan itu.
Kecemasan akan hari depan yang kurang pasti, itu telah
menimbulkan berbagai problem lain, yang mungkin menambah
suramnya masa depan remaja itu, misalnya semangat belajar menurun,
kemampuan berpikir berkurang, rasa tertekan timbul bahkan
terkadang sampai kepada mudahnya mereka terpengaruh oleh hal-hal
yang tidak baik, kenakalan dan penyalah gunaan narkotika. Perhatian
mereka terhadap agama semakin berkurang, bahkan tidak jarang
terjadi goncangan hebat dalam kepercayaan kepada Tuhan.
b. Masalah hubungan dengan orang tua
Sering kali terjadi pertentangan pendapat antara orang tua dan
anak-anaknya yang telah remaja atau dewasa. Kadang-kadang
41
hubungan yang kuaran baik itu timbul, karena remaja mengikuti arus
dan mode, seperti: rambut gonderong, pakaian kurang sopan dan
terhadap orang tua kurang hormat.
c. Masalah moral dan agama
Tampaknya masalah ini semakin memuncak, terutama di kotakota besar barang kali pengaruh hubungan dengan budaya asing
semakin meningkat malaluui film, bacaan, gambar-gambar dan
hubungan langsung dengan orang asing yang datang dengan berbagai
sikap dan kelakuan. Biasaya kemerosotan moral disertai oleh sikap
menjauh dari agama. Nilai-nilai moral yang tidak didasarkan kepada
agama akan terus berubah sesuai dengan keadaan, waktu dan tempat.
Keadaan dan nilai-nilai yang berubah itu menimbulkan goncangan
pula, karena menyebabkan orang hidup tanpa pegangan yang pasti.
Niali yang tetap dan tidak berubah adalah nilai-nilai agama, karena
nilai agama itu absolut dan berlaku mutlak sepanjang zaman, tidak
dipengaruhi waktu, tempat dan keadaan.29
4. Perilaku Keagamaan Remaja
Perilaku keagamaan remaja terdiri dari tiga kata yaitu peilaku ,
keagamaan dan remaja, yang dimana perilaku yaitu tanggapan atau reaksi
individu terhadap rangsangan atau perilaku. 30 Sedangkan Keagamaan
yaitu berhubungan dengan agama. 31 Perilaku keagamaan merupakan
tanggapan atau reaksi terhadap segala bentuk kegiatan yang berhubungan
29
Ibid., hlm. 145-147.
Departemen Pendidikan Nasional, Op. Cit., hlm. 859.
31
Ibid., hlm.15.
30
42
dengan agama yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku
keagamaan seseorang pada dasarnya tidak terlepas dari dasar-dasar atau
pokok-pokok ajaran Islam yang dapat diklarifikasikan menjadi tiga
bagian,yaitu: aqidah, syari’ah, dan akhlak.32
Remaja yaitu periode transisi antara masa kanak-kanak kedewasa atau
usia belasan tahun, atau jika seseorang menunjukan tingkah laku tertentu
seperti
susah
diatur,
mudah
terangsang
perasaannya
dan
sebagainya. 33 Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya
dengan moral. Agama memberikan sebuah kerangka moral sehingga
membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama
dapat menstabilkan tingkah laku dan memberikan perlindungan rasa
aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya.34
Jadi dari definisi-definisi tersebut dapat kita simpulkan maksud dari
perilaku keagamaan remaja yaitu tanggapan atau reaksi remaja terhadap
rangsangan keagamaan yang tidak bisa terlepas dari dasar-dasar atau
pokok-pokok ajaran islam yaitu aqidah, syariah dan akhlak yang
dipengaruhi oleh perkembangan pikirannya.
32
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm.
124.
33
Sarlito W Sarwono, Op. Cit,. Hlm. 2.
Sugeng Sholehudin, Psikologi Perkembangan Dalam Perspektif Pengantar (Pekalongan:
STAIN PRESS,2009), hlm.145.
34
Download