BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker payudara merupakan jenis kanker yang banyak menyerang wanita (Siegel dkk., 2014), dengan estimasi 23% dari kasus kanker total dan 14% berakhir dengan kematian (Jemal dkk., 2011). Kanker payudara menduduki peringkat kedua setelah kanker leher rahim (Dalimartha, 2008). Menurut Globogan, sepanjang tahun 2008 diketahui insiden terjadinya kanker payudara di negara-negara berkembang sebesar 56% kasus dan 64% kematian. Jumlah kasus baru kanker payudara yang terjadi pada wanita di negara-negara Asia (per 100.000), Indonesia berada di posisi pertama dengan jumlah 25.208 kasus (IARC, 2013). Kemoterapi merupakan salah satu terapi dalam penanganan kanker (Jones dkk., 2010). Namun banyak agen kemoterapi yang memiliki selektivitas yang rendah karena memiliki sifat antiproliferatif tidak hanya terhadap sel kanker melainkan juga terhadap sel normal (Valeriote dkk., 2002). Selain itu, beberapa kemoterapi memiliki indeks terapi sempit, serta dapat menimbulkan multidrug resistance (MDR) dan efek samping yang merugikan (Minami dkk., 2010). Pengembangan agen kemoterapi yang lebih selektif telah dilakukan antara lain dengan dihasilkannya trastuzumab yang digunakan untuk terapi kanker payudara HER2 positif (Incorvati dkk., 2013), serta everolimus untuk kanker payudara HER2 negatif (Jerusalem dkk., 2014). Namun, terapi kanker 1 2 payudara dengan agen kemoterapi konvensional masih luas dilakukan dengan pertimbangan ekonomi. Agen kemoterapi yang sering digunakan dalam terapi kanker payudara adalah cisplatin (Dhar dkk., 2011). Cisplatin menimbulkan efek samping antara lain neurotoksisitas, nefrotoksisitas (Milosavlievic dkk., 2010), dan bone marrow suppresion. Selain itu, dilaporkan juga bahwa penggunaan cisplatin menyebabkan terjadinya resistensi. Mekanisme resistensi cisplatin terjadi melalui perubahan pada uptake selular, efflux obat, penghambatan apoptosis dan peningkatan DNA repair. Resistensi sel kanker dan efek samping cisplatin tersebut disebabkan oleh penggunaannya pada dosis tinggi untuk menghasilkan pengobatan yang lebih efektif (Florea dan Busselberg, 2011). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menemukan metode penyembuhan penyakit kanker payudara yang bersifat efektif dan selektif. Tanaman berkhasiat obat di Indonesia yang berpotensi dikembangkan sebagai agen kemopreventif pada kanker payudara antara lain adalah temulawak dan awar-awar. Rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) mengandung kurkumin yang diketahui memiliki aktivitas antikanker dengan mekanisme aksi antiproliferasi dan antiangiogenesis. Angiogenesis merupakan proses pembentukan pembuluh darah baru yang melibatkan struktur seperti kapiler dari pembuluh darah yang sudah ada dan diregulasi oleh faktor pro dan anti angiogenik. Angiogenesis sangat diperlukan sel tumor untuk menyebar ke organ lainnya/metastasis (Nussenbaum dan Herman, 2010). Di samping itu, kurkumin mampu menghambat regulasi ekspresi sitokin proinflamasi melalui 3 penghambatan aktivasi NF-κB (Foo dan Nolan, 1999). Sementara itu, awar-awar (Ficus septica Burm. f.) mengandung senyawa alkaloid fenantroindolisin yang diketahui memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker kolon HCT-8, sel kanker lambung NUGC, sel kanker nasofaring HONE-1 (Damu dkk., 2009). Aktivitas sitotoksik yang poten tersebut diduga melalui induksi apoptosis yakni dengan penekanan ekspresi protein antiapoptosis pada sel MCF-7 (Sekti dkk., 2010). Untuk mengurangi dosis agen kemoterapi, salah satunya dilakukan kombinasi agen kemoterapi dengan senyawa bahan alam sehingga menghasilkan efek yang sinergis dan meningkatkan sensitivitas agen kemoterapi terhadap sel target (Zhao dkk., 2004). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kombinasi agen kemoterapi doxorubicin dan fraksi tidak larut heksan dari ekstrak etanol daun awar-awar pada sel T47D terbukti memiliki efek yang sinergis (Nugroho dkk., 2013). Disamping itu, cisplatin yang dikombinasikan dengan fraksi brazilein dan brazilein terbukti memiliki efek yang sinergis pada sel T47D (Artanti, 2014; Tirtanirmala, 2014). Kombinasi destilat kayu manis dengan cisplatin mampu meningkatkan efek sitotoksik cisplatin pada sel kanker serviks HeLa (Larasati, 2013). Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, ekstrak rimpang temulawak dan ekstrak daun awar-awar potensial dikembangkan sebagai agen kokemoterapi cisplatin pada pengobatan kanker payudara. Kombinasi antara ekstrak rimpang temulawak dan ekstrak daun awar-awar dengan cisplatin diharapkan mampu menurunkan dosis cisplatin sehingga mampu mengurangi efek samping serta 4 resistensi sel kanker payudara akibat penggunaan cisplatin. Penelitian ini dilakukan untuk melihat efek sitotoksik yang ditimbulkan oleh kombinasi antara ekstrak rimpang temulawak dan ekstrak daun awar-awar dengan cisplatin melalui modulasi siklus sel dan induksi apoptosis. B. Perumusan Masalah 1. Apakah kombinasi ekstrak temulawak dan ekstrak awar-awar dapat meningkatkan efek sitotoksik cisplatin pada sel kanker payudara T47D? 2. Apakah kombinasi ekstrak temulawak, ekstrak awar-awar dan cisplatin memiliki kemampuan untuk memodulasi siklus sel T47D? 3. Apakah kombinasi ekstrak temulawak, ekstrak awar-awar dan cisplatin memiliki kemampuan dalam meningkatkan induksi apoptosis sel kanker payudara T47D oleh cisplatin? C. Keaslian Penelitian Rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) mengandung kurkumin yang memiliki aktivitas antikanker dengan mekanisme aksi antiproliferasi dan antiangiogenesis. Kurkumin juga mampu menghambat regulasi ekspresi sitokin proinflamasi seperti tumor necrosis factor alpha (TNF-α), interleukin (IL-1, IL-2, IL-6, IL-8 dan IL-12) dan kemokine, melalui penghambatan NF-κB. Angiogenesis merupakan proses pembentukan pembuluh darah baru yang melibatkan struktur seperti kapiler dari pembuluh darah yang sudah ada dan diregulasi oleh faktor pro dan anti angiogenik. Angiogenesis sangat diperlukan sel tumor untuk menyebar ke organ lainnya/metastasis (Nussenbaum dan Herman, 2010). Penelitian lain menunjukkan adanya aktivitas antiproliferasi 5 ekstrak etanol temulawak pada sel lestari tumor YAC-1 (tumor limfoma mencit) pada konsentrasi ekstrak 75 ppm dan HeLa (sel kanker serviks manusia) pada konsentrasi 35 ppm dengan aktivitas antiproliferasi sebesar 37,41 % (Stephani, 2009). Daun awar-awar kaempferitrin, kumarin, mengandung senyawa senyawa fenol asam flavonoid genistin dan (Wu dkk., vanilat 2002 cit Lansky dkk., 2008). Isoflavonoid genistin dari soybean diketahui memiliki aktivitas menginduksi apoptosis pada sel kanker ovarian SK-OV-3 melalui peningkatan aktivitas caspase 3 (Choi dkk., 2007). Kumarin eskulin dilaporkan mampu menginduksi apoptosis dan menurunkan ekspresi protein Bcl-2 hingga 58% pada sel leukemia HL-60 selama inkubasi 9 jam (Chu dkk., 2001). Daun dan akar mengandung stigmasterol dan β-sitosterol. Daun dan batang mengandung alkaloid isotylocrebin dan tylocrebin (Wu dkk., 2002 cit (Lansky dkk., 2008). Alkaloid fenantroindolisidin dalam daun awar-awar memiliki efek sitotoksik terhadap sel kanker. Aktivitas sitotoksik komponen fenantroindolisidin menunjukkan nilai poten yang tinggi pada cell lines carcinoma KB-VI (multidrugs resistance cell) dan KB-3-1 (sensitive cell). Salah satu komponen fenantroindolisidin berupa 6-O- desmethylantofine dari Tylophora tanakae mempunyai IC50 7 ± 3 nM untuk sel KB-3-1dan IC50 10 ± 4 nM untuk sel KB-VI (Staerk dkk., 2002). Batang Ficus septica yang terbukti mengandung alkaloid fenantroindolisin mempunyai aktivitas sitotoksik terhadap sel kanker nasofaring HONE-1 (human 6 nasopharyngeal carcinoma) dan sel kanker lambung NUGC (human gastric cancer) (Damu dkk., 2005). Daun tanaman ini memiliki efek anti inflamasi melalui penghambatan inducible nitric oxide synthase (iNOS) dan enzim siklooksigenase-2 (COX-2) (Yang dkk., 2005). Pada jenis kanker payudara T47D, ekstrak etanol 96% daun awar-awar memiliki IC50 sebesar 58,58 µg/ml (Nurcahya, 2007) dan pada fraksi tidak larut heksan dari ekstrak etanol memberikan IC50 sebesar 9,3 µg/ml (Nugroho dkk., 2011), sedangkan pada fraksi larut etil asetat daun awar-awar memiliki IC50 sebesar 13,72 µg/ml dan fraksi tidak larut etil asetat IC50 sebesar 4175,80 µg/ml (Alia, 2012). Kombinasi agen kemoterapi doxorubicin dan fraksi tidak larut heksan dari ekstrak etanol daun awar-awar pada sel T47D terbukti memiliki efek yang sinergis (Nugroho dkk., 2013). Kombinasi agen kemoterapi cisplatin yang dikombinasikan dengan fraksi brazilein dan brazilein terbukti memiliki efek yang sinergis pada sel T47D (Artanti, 2014; Tirtanirmala, 2014). Kombinasi destilat kayu manis dengan cisplatin mampu meningkatkan efek sitotoksik cisplatin pada sel kanker serviks HeLa (Larasati, 2013). Pada penelitian ini akan dikaji pemanfaatan ekstrak temulawak dan ekstrak awar-awar dengan agen kemoterapi cisplatin pada sel kanker payudara T47D. Penelitian yang akan dilakukan difokuskan untuk mengkaji efek sitotoksik kombinasi antara ekstrak temulawak, ekstrak awar-awar dan cisplatin yang kemudian dikonfirmasi melalui modulasi siklus sel dan induksi apoptosis pada sel kanker payudara T47D. 7 D. Kepentingan Penelitian Penelitian ini diusulkan untuk mengeksplorasi potensi ekstrak bahan alam dalam usaha penanganan kanker, terutama skrining potensi herbal sebagai agen kemopreventif. Hasil penelitian ini akan sangat bermanfaat untuk menambah data ilmiah yang valid mengenai aktivitas sitotoksik, induksi apoptosis, dan modulasi siklus sel akibat pemberian kombinasi ekstrak temulawak dan ekstrak awar-awar dan kombinasinya dengan cisplatin pada sel kanker payudara sehingga dapat diaplikasikan dalam pengobatan kanker payudara, dipublikasikan menjadi sebuah artikel dalam jurnal ilmiah serta menjadi sumber data yang bermanfaat bagi pengembangan penelitian selanjutnya. E. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperkaya ilmu pengetahuan dalam pengobatan kanker dengan kombinasi ekstrak temulawak, ekstrak awar-awar dan cisplatin sebagai agen kokemoterapi untuk mengatasi resistensi. 2. Tujuan Khusus Secara khusus, tujuan penelitian ini adalah untuk : 2.a. Mengkaji efek sitotoksik kombinasi ekstrak temulawak, ekstrak awarawar dan cisplatin terhadap sel kanker payudara T47D. 2.b. Mengkaji pengaruh ekstrak temulawak, ekstrak awar-awar dan cisplatin terhadap profil siklus sel kanker payudara T47D. 2.c. Mengkaji efek induksi apoptosis oleh kombinasi ekstrak temulawak, ekstrak awar-awar dan cisplatin pada sel kanker payudara T47D.