BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi Kafe Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua (1991, p429), kafe adalah tempat minum kopi yang pengunjungnya dihibur dengan musik. Kafe diterjemahkan dari bahasa Perancis, yaitu café. Arti harafiahnya adalah (minuman) kopi, tetapi kemudian menjadi tempat dimana seseorang bisa meminum kopi maupun minuman lainnya. (http://id.wikipedia.org/wiki/kafe) 2.2 Pengertian Brand Kata brand (merek) berasal dari kata bahasa Jerman dari abad ke-14, yakni brandr, yang berarti membakar; seperti menandai hewan ternak sebagai bukti kepemilikan. (Keller, K. L., 2003, p3) Menurut buku Marketing Management Eleventh Edition (Kotler, 2003, p418), The American Marketing Association (AMA) mendefinisikan brand sebagai nama, ekspresi, tanda, simbol, atau disain, atau kombinasi dari semuanya, yang digunakan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu atau sekelompok penjual dan untuk membedakan mereka dari para pesaingnya. Merek adalah sebuah simbol yang kompleks yang mengandung enam arti, yaitu: (Kotler, 2003, pp 418-419) 1. Atribut (Attributes) Sebuah merek dapat memberikan gambaran kepada konsumen mengenai atribut yang terdapat di dalam merek itu sendiri. Contoh: berkualitas, elegan, tahan lama. 2. Manfaat (Benefit) Atribut dari sebuah merek tersebut harus dapat diterjemahkan dalam bentuk manfaat baik dari sisi fungsi maupun emosi. Contoh: atribut berkualitas dapat diasumsikan dengan arti bahwa produk tersebut menggunakan bahan-bahan yang bermutu tinggi dibandingkan dengan produk pesaingnya. 3. Nilai (Value) Sebuah merek dapat turut serta memberikan nilai lebih bagi produsennya. Contoh: mobil bermerek Mercedes selalu identik dengan mobil yang berperforma tinggi, aman, dan prestisius. 4. Budaya (Culture) Sebuah merek dapat turut mencerminkan budaya tertentu. Contoh: mobil Mercedes mewakili kebudayaan negara Jerman, seperti terorganisir, efisien, dan berkualitas tinggi. 5. Personal (Personality) Sebuah merek dapat mencerminkan kepribadian dari individu pemakainya. Contoh: mobil Mercedes dapat menggambarkan pemiliknya sebagai “no-nonsense boss”. 6. Pemakai (User) Sebuah merek dapat memberikan sekilas gambaran tentang jenis konsumen yang membeli ataupun menggunakan produk tersebut. Contoh: mobil Mercedes sesuai untuk jenis konsumen yang sudah matang/mapan, baik dari segi usia maupun pekerjaan, misalnya top eksekutif yang berusia 55 tahun bukan sekretaris yang berusia 20 tahun. Perusahaan perlu melakukan riset atau penelitian untuk mengetahui posisi merek dari produk mereka di dalam benak konsumennya. Menurut Keller (2003, p4), sebuah brand merupakan produk yang memberikan dimensi lain yang membedakan dirinya dengan produk lain dalam memenuhi kebutuhan yang sama. Ada tiga pendekatan riset yang sering digunakan untuk mendapatkan pengertian merek, yaitu: (Kotler, 2003, p419) 1. Asosiasi kata (Word Associations) Dapat ditanyakan kepada konsumen, apa yang terlintas dalam benaknya pertama kali mendengar sebuah nama / merek. 2. Perlambangan dari sebuah merek (Personifying the Brand) Dapat ditanyakan kepada konsumen untuk menjelaskan manusia, hewan atau benda seperti apa yang terlintas ketika sebuah merek disebutkan. 3. Melangkah lebih tinggi untuk mencari intisari dari merek tersebut (Laddering up to find the brand essence) Intisari dari sebuah merek berhubungan dengan kedalaman, tujuan yang lebih abstrak dari konsumen yang mengharapkan kepuasan dari merek tersebut. Mereka akan membantu para pemasar untuk mengetahui motivasi dari konsumen ketika memilih merek tersebut. David Aaker membedakan lima tingkatan sikap setia konsumen terhadap sebuah merek dari yang paling rendah hingga paling tinggi, antara lain: (Kotler, 2003, p422) 1. Konsumen akan mengganti merek yang telah dipakai, biasanya karena alasan harga. Tidak ada kesetiaan terhadap merek tersebut. 2. Konsumen puas dan tidak mempunyai alasan untuk mengganti merek lain. 3. Konsumen puas dan akan mengeluarkan biaya dengan mengganti merek lain. 4. Konsumen menghargai merek tersebut dan melihatnya sebagai teman. 5. Konsumen memutuskan untuk tetap setia terhadap merek tersebut. Ada beberapa alasan mengapa konsumen memilih dan menggunakan sebuah produk atau jasa dari merek tertentu, yaitu : (Buchholz, A. and Wördermann, 2000, pp 912) 1. Benefits and Promises Konsumen memilih atau menggunakan merek karena merek tersebut menawarkan beberapa keuntungan. 2. Norms and values Norma dan nilai akan mempengaruhi konsumen dalam menggunakan suatu produk. Suatu nilai juga akan mempengaruhi kesetiaan konsumen dalam menggunakan sebuah merek. Konsumen memilih atau menggunakan merek karena sesuai dengan norma dan nilai yang mereka anut serta dapat menimbulkan kepuasan serta kebanggaan tersendiri apabila mereka menggunakan suatu produk atau jasa tertentu. 3. Perception and Programs Sebuah persepsi akan sangat berpengaruh terhadap apa yang ada di pikiran konsumen. Apabila suatu produk terlalu rumit dan abstrak, maka akan sulit sekali bagi konsumen untuk memilih dan menggunakan produk atau jasa tertentu. 4. Identify and Self-expression Konsumen memilih dan menggunakan sebuah merek karena dapat mengekspresikan karakter, kepribadian, dan identitas mereka. 5. Emotion and Love Konsumen memilih dan menggunakan sebuah merek karena mereka suka (cinta) akan produk dan jasa yang ditawarkan. 1.3 Brand Equity Menurut Keller, K. L. (2003, p67), customer-based brand equity terjadi ketika konsumen memiliki tingkat awareness dan familiarity yang tinggi pada suatu brand dan memiliki brand associations yang kuat, disukai, dan unik di ingatan mereka. Ada dua elemen yang terkandung dalam brand equity, yakni brand awareness dan brand image / brand associations. 2.3.1 Brand Awareness Brand awareness terdiri dari brand recognition dan brand recall performance. Brand recognition terkait pada kemampuan konsumen dalam menanggapi suatu brand ketika diberikan petunjuk. Sedangkan brand recall berkaitan dengan kemampuan konsumen untuk mengingat kembali suatu brand ketika diberikan petunjuk berupa kategori produk, kebutuhan yang perlu dipenuhi oleh suatu kategori produk, atau situasi pembelian atau pemakaian. (Keller, K. L., 2003, p67) Informasi mengenai tingkatan brand awareness dapat diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Tingkatan dari piramida kesadaran merek dapat dijelaskan sebagai berikut, yaitu: 1. Puncak pikiran (Top of mind) Top of mind adalah merek yang pertama kali diingat oleh konsumen atau pertama kali disebut ketika konsumen ditanya tentang suatu produk tertentu. Top of mind menggunakan single respond questions yang artinya konsumen hanya boleh memberikan satu jawaban untuk pertanyaan ini. 2. Pengingatan kembali terhadap merek (Brand recall) Yang dimaksud dengan brand recall adalah pengingatan kembali merek yang dicerminkan dengan merek lain yang diingat oleh konsumen setelah konsumen menyebutkan merek yang pertama. Brand recall menggunakan multi respond questions yang artinya konsumen memberikan jawaban tanpa dibantu. 3. Pengenalan merek (Brand recognition) Yang dimaksud dengan brand recognition adalah pengenalan merek dimana tingkat kesadaran konsumen terhadap suatu merek diukur dengan diberikan bantuan dengan menyebutkan ciri-ciri dari produk tersebut. Pertanyaan diajukan untuk mengetahui berapa banyak konsumen yang perlu diingatkan tentang keberadaan merek tersebut. 4. Tidak menyadari merek (Unaware of brand) Yang dimaksud dengan unaware of brand adalah tingkat paling rendah dalam piramida kesadaran merek, dimana konsumen tidak menyadari adanya suatu merek. Karena konsumen setiap harinya terus-menerus dihadapkan pada pesan pemasaran (marketing messages) dari berbagai macam produk dan jasa, maka tantangan agar suatu merek/brand terus dikenal harus dilakukan secara sungguh-sungguh. Dua faktor yang harus dilakukan suatu perusahaan dalam menghadapi tantangan ini adalah dengan cara: (Aaker, D. A., 1996, pp 16-17) 1. Mengeluarkan dan memberikan semua sumber daya yang dimiliki suatu perusahaan agar dapat menciptakan suatu tingkat kesadaran, misalnya basis penjualan secara luas. Ini adalah sesuatu hal yang mahal dan jarang terjadi apabila mendukung suatu merek dengan unit penjualan yang sangat kecil. 2. Untuk beberapa waktu yang akan datang, suatu perusahaan akan lebih berpengalaman dan menggunakan beberapa media channel seperti ; event promotion, sponsorship, publisitas, sampling, serta beberapa pendekatan lainnya, yang merupakan cara yang paling sukses dilakukan untuk membangun sebuah kesadaran merek. 2.3.2 Brand Image Menurut Keller, K. L. (2003, p70), sebuah brand image yang positif dibuat oleh program pemasaran yang menghubungkan suatu asosiasi brand yang kuat, disukai dan unik di dalam benak konsumen. Definisi dari customer-based brand equity tidak membedakan antara sumber dari brand associaton dan cara / pola mereka terbentuk; semuanya penting dalam menciptakan kekuatan, kebaikan dan keunikan dari brand association tersebut. Aktivis pemasaran harus mengenali pengaruh dari sumber-sumber informasi lain dengan mengatur sebaik mungkin dan mempertimbangkannya dalam merancang strategi komunikasi mereka. Program komunikasi pemasaran mencoba untuk menciptakan brand associations yang kuat dan mengawasi efek komunikasi melalui beberapa alat yang digunakan, seperti menggunakan komunikasi-komunikasi kreatif yang menyebabkan konsumen memperoleh informasi tentang brand yang terperinci dan mengkaitkannya secara benar pada pengetahuan yang ada, mengkomunikasikan konsumen secara berulang-ulang, dan meyakinkan bahwa banyak petunjuk sebagai pengingat. (Keller, K. L., 2003, p71) Faktor kebaikan / favorability konsumen terhadap suatu brand association juga perlu dikelola. Tingkat keinginan dari konsumen tergantung pada: (Keller, K. L., 2003, p72) 1. Seberapa relevan brand association bagi konsumen 2. Seberapa bedanya brand association tersebut dari pesaingnya. 3. Seberapa dapat dipercayainya brand association tersebut. Inti dari brand positioning adalah bahwa suatu brand memiliki keunggulan bersaing yang dapat dipertahankan atau “unique selling proposition” yang memberikan konsumen sebuah alasan yang menarik untuk membelinya. Brand loyalty (kesetiaan terhadap sebuah merek) adalah termasuk dalam konseptualisasi dari brand equity (kewajaran merek). Ada dua alasan mengapa brand loyalty termasuk dalam konsep brand equity yaitu: pertama, nilai merek (brand value) sebuah perusahaan dibentuk dari kesetiaan para konsumennya. Kedua, kesetiaan (loyalty) merupakan aset yang mendorong sebuah loyalty-building programs (program pembangun kesetiaan) yang membantu menciptakan serta memperkuat brand equity.(Aaker, D.A., 1996, pp 21-22) Pada kenyataannya, sebuah brand / merek tanpa adanya kesetiaan dari para konsumennya adalah sangat mudah dihancurkan dan akhirnya merek tersebut hilang dengan sendirinya. Fokus pada segmentasi kesetiaan (loyalty segmentation) akan menciptakan suatu strategi dan taktik tersendiri untuk membangun sebuah merek yang kuat. Suatu pasar biasanya dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok yaitu : non customer, price switchers (sensitif terhadap harga), passively loyal ( seseorang yang membeli karena sebuah kebiasaan dan bukan karena suatu alasan), fence sitters ( seseorang yang biasa menggunakan dua merek atau lebih) serta the commited ( seseorang yang terikat pada sebuah merek saja). Tantangan dengan adanya beberapa kelompok konsumen tersebut adalah untuk meningkatkan jumlah konsumen yang tidak sensitif terhadap harga dan konsumen yang terikat pada satu merek saja, serta konsumen yang bersedia membayar lebih untuk menggunakan sebuah merek atau service. 2.4 Strategic Brand Management Process Secara mendasar, konsep brand equity menekankan pada pentingnya peranan dari merek pada strategi pemasaran. Strategic brand management process melibatkan perancangan dan pelaksanaan dari program-program dan aktivitas-aktivitas pemasaran untuk membangun, mengukur, dan mengatur brand equity. Langkah-langkah dari strategic brand management adalah: (Keller, K. L., 2003, p44) 1. mengidentifikasi dan menetapkan positioning dari merek dan nilai-nilai 2. merencanakan dan melaksanakan program pemasaran merek 3. mengukur dan menerjemahkan kinerja dari merek 4. menumbuhkan dan mempertahankan brand equity 2.5 Tantangan dan Peluang dari Brand Management Menurut Keller, K. L. (2003, pp 40-41), salah satu tantangan dan peluang dari merek adalah persaingan yang semakin ketat. Persaingan yang ketat di pasar telah memaksa pemasar untuk menggunakan insentif keuangan atau diskon untuk menarik pelanggan. Kedua sisi permintaan dan penawaran telah membuat intensitas persaingan semakin tinggi. Dari sisi permintaan, kurva konsumsi dari banyak produk dan jasa mulai mendatar dan masuk ke tahap maturity, atau bahkan tahap declining, dari siklus hidup produk. Hal ini membuat pertumbuhan penjualan dari merek hanya bisa dicapai dengan merebut market pesaing. Dari sisi penawaran, kompetitor baru telah bermunculan oleh karena faktor-faktor berikut ini: - Brand extension: banyak pesaing yang menggunakan brand yang ada untuk kategori produk baru yang diluncurkan. - Deregulasi: beberapa perusahaan telah dideregulasi sehingga membuat persaingan semakin ketat. - Globalisasi: globalisasi membuka pasar baru dan sumber pendapatan yang potensial. Hal ini juga membuat banyak pesaing yang ikut bersaing di pasar yang ada. - Pesaing-pesaing dengan harga yang rendah: penetrasi pasar dengan generic, private labels, atau harga yang lebih rendah dengan produk yang serupa telah membuat persaingan semakin ketat. Empat langkah dalam membangun suatu brand adalah: (Keller, K. L., 2003, p75) 1. Pastikan identifikasi brand kepada konsumen dan asosiasi dari brand tersebut di dalam ingatan konsumen dengan kelas produk atau kebutuhan konsumen. 2. Tetapkan secara kuat totalitas dari pengertian dari brand di ingatan konsumen dengan menghubungkannya secara strategis terhadap asosiasi brand yang berwujud atau tidak berwujud. 3. Usahakan respon konsumen yang benar terhadap identifikasi brand dan pengertian dari brand tersebut. 4. Ubahlah respon terhadap suatu brand untuk menciptakan hubungan yang kuat dan loyal antara konsumen dengan brand tersebut. 2.6 Komunikasi Pemasaran Komunikasi pemasaran (marketing communications) adalah alat perusahaan dalam menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung akan brand yang mereka jual. (Keller, K. L., 2003, p283) Pilihan-pilihan dalam komunikasi pemasaran adalah: • Media advertising: televisi, radio, koran, majalah. • Direct response advertising: surat, telepon, media penyiaran, media cetak. • Online advertising: website, iklan interaktif. • Place advertising: billboards dan poster, bioskop, airport, dan lounge, penempatan produk, point of purchase. • Point-of-puchase advertising: shelf talkers, aisle markers, shopping cart ads, in-store radio / TV. • Trade promotions: trade deals and buying allowances, point-of-purchase display allowances, push money, contest and dealer incentives, program pelatihan, pameran perdagangan, iklan kooperatif. • Consumer promotions: pemberian contoh, kupon, premiums, refund and rebates, kontes / lomba, paket bonus. • Event marketing and sponsorship: acara olahraga, kesenian, hiburan, pameran dan festival. • Publisitas dan public relations • Penjualan personal 2.7 Word-of-Mouth Seperti yang kita ketahui, alat pemasaran dan promosi yang paling murah dan penting adalah word-of-mouth. Hal ini juga didukung oleh Silverman, G.: ”Getting people to talk often, favorably, to the right people in the right way about your product is far and away the most important thing that you can do as a marketer.” (Silverman, G., 2001, p6). Peranan word-of-mouth adalah sebagai jembatan yang menghubungkan dan mentransformasikan komunikasi pemasaran suatu perusahaan menjadi tindakan konsumen. Secara jelas dapat kita lihat pada gambar 5.1 di bawah ini: (Silverman, G., 2001, p120) Marketing Communications Sales materials Sales calls Advertising Direct mail, etc. Word-of-Mouth Experts/prospects/ konsumen membicarakan produk tersebut Action Percobaan Pembelian Rekomendasi Preskripsi Spesifikasi Prospek produk didengar Gambar 2.1 Peranan word-of-mouth Menurut Silverman, G. (2001, pp21-22), relevansi word-of-mouth ini adalah sebagai berikut: 1. Cara terbaik dalam meningkatkan laba adalah dengan mempercepat keputusan penggunaan produk yang disukai, 2. Cara terbaik untuk mempercepat pengambilan keputusan tersebut adalah dengan membuat proses tersebut lebih mudah, 3. Cara terbaik untuk mempermudah proses tersebut adalah dengan menggunakan wordof-mouth, daripada bentuk-bentuk iklan, salesman, atau pemasaran tradisional lain yang membingungkan dan rendah kredibilitas informasinya. 2.7.1 SembilanTingkat Intensitas Word-of-Mouth Ada sembilan tingkat intensitas dari word-of-mouth ini, yakni: (Silverman, G., 2001, pp 39-45 1. Minus 4; pada kondisi ini orang-orang membicarakan suatu produk dan komplain terhadap produk tersebut. Hal ini sudah menjadi skandal publik dan orang-orang berusaha untuk mencegah niat orang lain dalam menggunakannya. Usaha untuk mengatasinya adalah dengan penarikan produk kembali secara cepat dan responsif. 2. Minus 3; konsumen maupun bekas konsumen berusaha untuk meyakinkan orang lain untuk tidak menggunakan produk tersebut, tetapi tidak menjadi sebuah skandal. 3. Minus 2; konsumen marah ketika ditanya, namun mereka tidak menjelek-jelekkan produk tersebut. 4. Minus 1; pada tingkat ini, konsumen tidak secara aktif komplain terhadap produk tersebut, namun ketika ditanyakan, mereka memberikan respon yang negatif. 5. Tingkat 0; konsumen menggunakan produk tersebut, namun jarang ditanyai tentang produk tersebut. Mereka tidak bersedia untuk memberikan komentar terhadap produk tersebut. 6. Plus 1; konsumen mengatakan hal yang baik ketika ditanyakan tentang produk tersebut. Pada situasi ini, pemasaran konvensional dapat merangsang word-of-mouth yang besar yang dapat mendorong orang-orang untuk masuk ke tingkat plus 2. 7. Plus 2; konsumen senang ketika ditanyakan tentang produk tersebut. Mereka terus menerus mengatakan seberapa baiknya produk itu. Yang perlu dilakukan disini adalah dengan menyediakan saluran dan materi kepada konsumen agar bisa menyambut produk dengan hangat. 8. Plus 3; konsumen berusaha menyakinkan orang lain untuk menggunakan produk yang mereka anggap baik. Usaha yang dapat dilakukan dengan mendorongnya dan memfasilitasi proses dan saluran, dan membangun sebuah komunitas. 9. Plus 4; produk tersebut menjadi bahan perbincangan yang hangat secara terusmenerus, dan mendapat tingkat publisitas yang berarti. Yang perlu dilakukan disini adalah dengan mengatur harapan konsumen. 2.7.2 Decision Acceleration System Ketika konsumen memiliki informasi yang memudahkan pengambilan keputusannya, maka mereka akan melakukannya dengan cepat. Agar mempermudah dan mempercepat pengambilan keputusan, pemasaran perlu dirubah menjadi suatu decision acceleration system, yang membuat: (Silverman, G., 2001, p17) • keuntungan, klaim, dan janji-janji dari produk semakin meyakinkan dan pasti • informasi produk menjadi jelas, seimbang, dan dapat dipercaya • perbandingan produk menjadi jelas dan signifikan • percobaan produk menjadi mudah • evaluasi produk menjadi jelas dan sederhana • garansi produk yang baik • testimonial dan bentuk pemasaran word-of-mouth lain menjadi relevan dan dapat dipercaya • penyampaian, pelatihan, dan dukungan produk menjadi superior. 2.7.3 Pemanfaatan Word-of-Mouth Enam langkah proses pemanfaatan word-of-mouth adalah sebagai berikut: (Silverman, G., 2001, pp 53-54) 1. Ketahui alasan seseorang harus membeli produk tersebut, berikan nilai dan prioritas. 2. Identifikasi tipe dominasi yang diadopsi dan perlu dikejar, seperti innovators, early adopters, middle majority, late adopters, laggards. 3. Identifikasikan tahap pengambilan keputusan yang penting dalam mengadopsi produk tersebut. 4. Gabungkan tahap 2 dan 3 di atas dengan menggunakan Decision Matrix™ untuk mengidentifikasi isi dari word-of-mouth yang diperlukan dalam mempercepat langkah-langkah pemecahan masalah. Tabel 2.1 The Decision Matrix ™ (Silverman, G., 2001, pp 80-81) The Decision Matrix™ Pemilihan Innovator (ingin menjadi luar biasa) berani Early adopter (diarahkan oleh kesempurnaan) Menghormati Ingin mengetahui “seberapa jauh” produk tersebut Produk sangat baru dan tidak biasa, tidak ada orang yang pernah mendengarnya. Bekerja pada prinsip yang baru. Banyak orang bahkan tidak mengertinya. Menyadari kemungkinankemungkinan yang ada daripada aktualitas. Pikirkan kemungkinankemungkinan yang ada. Jika Pertimbangan Informasi Sedikit informasi yang diperoleh. Harus menyelidiki produk pertama kali. Sangat baru sehingga tidak ada pembandingny a. Berada pada kelas yang berbeda Tidak banyak mencari informasi yang sulit dicari untuk memperoleh visi Membuat visi sendiri dari penggunaan Percobaan Pelaksanaan Ingin menjadi yang pertama dalam mencobanya. Ingin menjadi pencetus yang akan memimpin jalan bagi orang lain. Sangat baru sehingga tidak ada orang yang pernah mencobanya. Menjadi pengguna yang pertama kali Ketika telah mencoba dan berhasil, bantulah orang lain dalam mempelajariny a Tidak perduli jika produk belum dicoba dalam segala situasi, yang penting kemungkinan dapat bekerja Ingin menjadi pencetus. Tahu akan ada masalah, rasa ingin tahu, dan bagaimana hal tersebut dapat ditangani Produk ini tidak selalu Bagaimana jalan keluar Penyebaran Komitmen Ingin mendorong pengembangan sampai batasnya. Mencoba penggunaan terliar yang mungkin dari produk tersebut. Menginginkan keuntungan besar dari menjadi yang pertama. Kemungkinankemungkinan tambahan yang dapat memberikan Middle majority (ingin menjadi kompeten) Tidak gesa tergesa- Late majority (ingin mengurangi resiko) produk bekerja sesuai situasi, maka dapat memberikan keunggulan bersaing. Menyadari kegunaankegunaan Produk telah dicoba dan benar-benar bekerja pada situasi yang konsumen Menjajikan tawaran yang menarik pada produk yang telah diuji Ragu-ragu Laggard (ingin merasa aman sepenuhnya) Tradisional Produk menjadi komoditas yang diakui, dan produk tersebut dapat memberikan harga, penyampaian, layanan, pelatihan yang lebih baik, dan sebagainya Ingin memastikan kembali bahwa produk aman Jika tidak digunakan akan membawa masalah produk. Produk lain lebih umum daripada produk tersebut Menginginkan pembanding akan bagaimana produk dapat bekerja pada situasi yang serupa Informasi kegunaan bagaimana kinerja produk di dunia nyata Ingin mencari tahu dan memperoleh produk yang terbukti dengan transaksi terbaik Produk terbaik ketika diperiksa dari segi harga layanan, dan lain-lain Ingin mencari cacat, masalah, hal-hal negative, dan lain. Jika tidak ditemukan, akan terus dicari Ada sejumlah resiko dan cara untuk mengatasinya bekerja selamanya. Tapi dapat mengejutkan ketika bekerja dari sebagian besar hal tersebut dan meminimalkan masalah keunggulan bersaing Ingin memastikan produk dapat bekerja tanpa banyak investasi waktu dan masalah. Ingin mengetahui bahwa ada jalan keluar yang lebih mudah, jika produk tidak berjalan sebagaimana mestinya Ke-ingintahuan akan penggunaan menjadi standar Cacat produk telah diatasi dan dapat diketahui / diramalkan. Tidak mengejar kesempurnaan produk, tapi lebih fokus kepada system dukungan Cari tahu seberapa menariknya transaksi tersebut, dan setiap orang lain dapat membetulkan masalah yang ada Secara umum tidak ada yang baru. Membutuhkan pemastian kembali bahwa produk menjadi standar Pelatihan, dukungan, dan garansi yang tepat dan dapat dipercaya Ingin memenuhi dukungan pada penggunaan penuh produk Dukungan secara pasti dan tepat Cepat menjadi standar dari industri Ingin menggunakan apa yang orang lain gunakan, pada cara mereka menggunakan nya Semua orang menggunakan nya untuk semua hal Melaksanakan hanya jika perlu Adopsi produk ini, atau mendapat masalah Ingin memastikan kembali bahwa penggunaan nya standar Cara umum yang digunakan semua orang Cobalah, semua orang memiliki dan menyukainya 5. Identifikasi, desain, dan ciptakan sumber-sumber dan mekanisme penyampaian dari word-of-mouth yang bersifat paling persuasive dan memotivasi. 6. Ciptakan dan laksanakan kampanye word-of-mouth. Disamping langkah-langkah di atas, maka perlu dilakukan pula word-of-mouth secara internal, yakni dari karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan. Caranya dengan: • Mintalah kepada karyawan untuk menyebarkan informasi mengenai berita-berita perusahaan yang penting dan pengembangan produk. • Cari setiap contoh dari apa yang ingin dipromosikan, seperti pelayanan konsumen yang superior dan sebarkan cerita ini. • Berikan kepada mereka misi yang umum dan buatlah imbalan mereka yang tergantung pada pencapaian misi tersebut. • Beri perhatian bagi internal word-of-mouth lebih dari segalanya. Buatlah penelitian dan jadikan sebagai prioritas. Agar kampanye word-of-mouth ini berhasil, maka diperlukan: (Silverman, G., 2001, pp 131-132) Produk superior, atau produk yang superior bagi orang atau situasi tertentu. Jika tidak dimiliki, maka harus diciptakan Cara untuk mencapai kunci yang mempengaruhi pasar. Kader ahli-ahli yang bersedia mempromosikan Sejumlah pelanggan yang antusias dalam mencoba dan mempromosikan akan seberapa baiknya produk tersebut Cara untuk mencapai prospek yang benar Satu atau lebih cerita-cerita yang menarik yang dapat membuat orang lain ingin menceritakannya dalam mengilustrasikan superioritas dari produk Cara untuk memperkuat, membuktikan, mendorong klaim perusahaan adalah benar dan dapat bekerja di dunia nyata Cara langsung dan beresiko rendah untuk orang-orang dalam berpengalaman dengan produk, misalnya: demo, pemberian contoh / sampling Cara untuk mengurangi risiko secara keseluruhan, seperti garansi 2.7.4 Word-of-Mouth di Internet Menurut Silverman, G. (2001, pp 110-112), internet merupakan peluang bagi penyebaran word-of-mouth. Di dalam dunia internet, pengguna saling berkelompok sesuai dengan preferensinya masing-masing, sehingga memudahkan dalam menyesuaikan word-of-mouth yang akan digunakan. Banyak websites yang menyediakan collaborative filtering, yang mengelompokkan sejumlah orang menurut subjektifitas dan selera mereka terhadap segala hal. Dan umumnya, mereka membuat penilaian / rating yang secara tidak langsung dapat merekomendasikannya kepada orang lain. Banyak websites lain yang menjadi komunitas dan fasilitas bagi pertanyaan dan jawaban yang ada.. Banyak pula konsumen yang belum pernah mencoba produk, yang mencari informasi berdasarkan pengalaman orang di internet, sehingga internet dapat menjadi media word-of-mouth pula. Enam hal persiapan dalam memanfaatkan word-of-mouth di internet, yakni: (Silverman, G., 2001, pp 113-114) 1. Tugaskan seseorang untuk mengawasi setiap forum, listgroup, dan media diskusi lainnya di internet yang dapat mempengaruhi penjualan produk. 2. Bangun atribut word-of-mouth yang beragam ke dalam websites sendiri, sehingga lebih bernilai dan dipercayai 3. Sebarkan testimonials dan dukungan-dukungan di websites sendiri. 4. Jika tidak mengetahui bagaimana caranya, tinggalkan semua dan pelajari bagaimana untuk mempersiapkan daftar distribusi dari program email. 5. Gunakan websites dalam mencari dan mendemonstrasikan semua hal luar biasa yang telah dilakukan dan potensial dibicarakan orang banyak. 6. Dekatkan diri kepada ahli-ahli atau layanan-layanan yang merekomendasikan produk-produk ke konstitusi mereka. 2.7.5 Word-of-Mouth Checklist Untuk membantu dalam menentukan hal yang paling efektif dan sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan word-of-mouth dan meningkatkan penjualan, ada beberapa pertanyaan yang dapat membantu, yakni: (Silverman, G., 2001, p166) Apakah semua komunikasi yang dilakukan mengirimkan pesan yang sama dan sederhana? Pesan yang tidak sederhana tidak akan dapat menghasilkan atau mempertahankan word-of-mouth, dan dapat juga merupakan cerita yang menarik. Apakah produk diposisikan sebagai bagian dari kelas yang umum, daripada menunjukkan perbedaan dengan dasar sebagai produk yang paling dibutuhkan? Apakah contoh-contoh yang ada cukup kasar untuk diulangi? Adakah alasan yang rendah hati bagi orang-orang untuk mengulangi cerita tersebut? Apakah materi yang ada sudah dibubuhi dengan cerita-cerita sukses dari orang yang sebenarnya? Apakah sudah menggunakan ahli / experts secara penuh, sesuai tujuan dan efektif? Sudahkah dibuat mekanisme supaya mereka dapat menindaklanjuti dari word-ofmouth yang mereka dengar: sederhana dan banyak cara untuk memperoleh, menyelidiki, dan memesan? Sudahkah dibuat proses pengambilan keputusan, supaya lebih mempermudah usaha konsumen? Sudahkan dibuat acara-acara dan mekanisme supaya ketika konsumen potensial mendengar produk tersebut, dapat dengan mudah untuk mencoba atau membelinya daripada dibiarkan dengan rasa frustasi dan keinginan tidak pasti yang tak terpenuhi. 2.8 Bauran Pemasaran (Marketing Mix) Bauran pemasaran atau marketing mix adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya dalam pasar sasaran yang sudah dibidik (Kotler, 2003, p.15). Alat-alat pemasaran itu terdiri dari empat variabel yang kemudian disebut dengan 4P dari marketing, yaitu produk (product), harga (price), promosi (promotion), dan tempat (place). Marketing mix adalah salah satu konsep utama dalam pemasaran modern saat ini. Marketing mix merupakan satu set marketing tools yang dilakukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan oleh target pasar. (Kotler, 2003, p15) Marketing Mix Target Market Product Price Product variety Quality Design Features Brand Name Packaging Sizes Services Warranties Returns List Price Discounts Allowances Payment Period Credit Terms Place Channels Coverage Assortments Locations Inventory Transport Promotion Sales Promotion Advertising Sales Force Public Relations Direct Marketing Gambar 2.2 The 4P Component Empat variabel dari marketing mix tersebut masing-masing memiliki pengertian, yakni: 1. Produk (product) Sesuatu yang ditawarkan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan dan memuaskan keinginan konsumen. Produk yang ditawarkan dapat berupa barang jadi, jasa pelayanan, properti dan informasi. Produk yang ditawarkan harus memperhatikan segi kualitas, manfaat, disain, jaminan, dan pengembangan produk baru. 2. Harga (price) Harga adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh konsumen untuk memperoleh suatu produk. 3. Promosi (promotion) Promosi berarti aktivitas-aktivitas yang mengkomunikasikan kelebihan-kelebihan dari produk dan mempengaruhi target konsumen untuk membelinya. 4. Tempat (place) Penempatan sebuah produk melibatkan logistik perusahaan dan kegiatan-kegiatan pemasaran dikonsentrasikan dengan membuat dan mendistribusikan barang jadi tersebut kepada konsumen. 2.9 Kondisi Persaingan Dalam sebuah industri, umumnya perusahaan banyak menghadapi persaingan ataupun ancaman dari para kompetitornya. Perusahaan dapat melakukan beberapa analisis untuk mengetahui seberapa besar kekuatan para kompetitornya dalam industri yang sama, contohnya dengan melalui bagan/diagram five forces analysis dari Michael Porter. Michael Porter mengidentifikasikan lima komponen yang dapat menentukan daya pikat sebuah jenis industri atau segmen pasar apakah masih menarik atau tidak untuk dimasuki beserta ancamannya dari masing-masing komponen tersebut. Bagan Porter dapat dilihat di Gambar 2.3. Ancaman-ancaman tersebut datang dari: 1. Threat of intense segment rivalry Apabila pemain atau kompetitornya sudah banyak, kuat, dan agresif maka segmen pasar tersebut sudah tidak menarik lagi untuk dimasuki. Terlebih lagi kalau kondisinya sudah dalam posisi stabil (stagnant) dan menurun. a. Persaingan secara umum lebih kuat ketika (Thompson, et.al., 2005, p.52): • Para pesaing aktif dalam membuat gerakan-gerakan segar untuk meningkatkan posisi mereka di dalam pasar dan performa bisnis. • Permintaan pembeli bertumbuh perlahan. • Permintaan pembeli menurun dan penjual kelebihan kapasitas dan inventory (persediaan). • Jumlah pesaing meningkat dan pesaing memiliki ukuran dan kemampuan kompetitif yang sama. • Produk pesaing yang berupa komoditi atau yang lain sulit dibedakan. • Biaya yang dikeluarkan oleh pembeli untuk mengganti merek adalah rendah. • Satu atau lebih pesaing tidak puas dengan posisi dan market share mereka sekarang dan membuat gerakan agresif untuk menarik lebih banyak konsumen. • Pesaing memiliki strategi dan objektif yang berbeda dan berlokasi di beberapa negara. • Orang luar yang mengakuisisi pesaing yang lemah dan mencoba untuk merubah mereka menjadi pesaing utama. • Satu atau dua pesaing memiliki strategi yang kuat dan pesaing lainnya berebut untuk tetap tinggal dalam permainan. b. Persaingan secara umum lebih lemah ketika: • Anggota industri bergerak hanya dalam waktu yang jarang atau dalam cara yang tidak agresif untuk menggambarkan penjualan dan market share yang menjauh dari pesaing. • Permintaan pembeli bertumbuh dengan cepat. • Produk pesaing sangat berbeda dan loyalitas konsumen sangat tinggi. • Biaya yang dikeluarkan oleh pembeli untuk mengganti merek adalah tinggi. • Hanya ada kurang dari lima penjual atau lainnya begitu banyak pesaing sehingga tindakan dari satu perusahaan memiliki dampak langsung yang kecil terhadap bisnis pesaingnya. c. Senjata khas untuk melawan pesaing dan menarik pembeli, yaitu: • Harga yang lebih rendah • Fitur yang lebih banyak atau berbeda • Performa produk yang lebih baik • Kualitas yang lebih tinggi • Gambaran merek dan pendekatan yang lebih kuat • Pemilihan model dan gaya yang lebih luas • Jaringan penyalur yang lebih besar/baik • Pembiayaan dengan tingkat bunga rendah • Iklan yang lebih tinggi tingkatannya • Kemampuan inovasi produk yang lebih kuat • Kemampuan pelayanan terhadap konsumen yang lebih baik • Kemampuan yang lebih kuat untuk meyediakan pembeli dengan adanya produk custom-made 2. Threat of new entrants Daya pikat sebuah segmen bervariasi berdasarkan tinggi rendahnya hambatan untuk masuk dan keluar (entry and exit barriers). Segmen yang paling menarik yaitu dimana hambatan untuk masuk industri tersebut tinggi dan hambatan untuk keluar terbilang rendah. Beberapa perusahaan dapat memasuki industri tersebut dan perusahaan yang berperforma buruk dapat keluar dengan mudah. Sebuah perusahaan hendaknya berhati-hati tidak hanya kepada pemain lama dalam industri tersebut, tetapi juga kepada pemain baru yang potensial untuk memasuki industri tersebut. a. Ancaman pendatang baru lebih kuat ketika: • Kumpulan kandidat pendatang baru berjumlah besar dan beberapa dari kandidat tersebut memiliki sumber daya yang dapat membuat mereka menjadi pesaing yang hebat di pasar. • Hambatan untuk masuk rendah atau dapat segera dilompati oleh kandidat pendatang baru tersebut. • Ketika anggota industri yang sudah ada mencoba untuk memperluas capaian pasar mereka dengan memasuki segmen produk atau area geografis dimana sebelumnya mereka tidak memiliki keberadaan dalam segmen atau area tersebut. b. Ancaman pendatang baru lebih lemah ketika: • Kumpulan kandidat pendatang baru berjumlah kecil. • Hambatan untuk masuk tinggi. • Kompetitor yang sudah ada berjuang untuk memperoleh profits/keuntungan yang sehat. • Pandangan tentang industri tersebut berisiko atau tidak pasti. • Permintaan pembeli bertumbuh pelan atau dalam kondisi stagnant. • Anggota industri akan secara kuat menguji usaha dari pendatang baru untuk meraih kedudukan di dalam pasar. Exit Barriers Low High Entry Barriers Low Low, stable returns Low, risky returns High High, stable returns High, risky returns Ga mbar 2.3 Barriers and Profitability 3. Threat of substitute products Segmen pasar dapat dikatakan tidak menarik apabila dimana dalam industri tersebut terdapat barang substitusi/pengganti yang potensial. Contoh: nasi dengan roti/kentang, kopi dengan teh. a. Tekanan kompetitif dari produk pengganti lebih kuat ketika: • Produk pengganti sudah tersedia atau produk yang baru muncul. • Produk pengganti memiliki harga yang menarik. • Produk pengganti memiliki performa fitur yang sebanding atau bahkan lebih baik. • Pengguna akhir hanya memerlukan biaya rendah dalam menukar dengan produk pengganti. • Pengguna akhir lebih nyaman dengan menggunakan produk pengganti. b. Tekanan kompetitif dari produk pengganti lebih lemah ketika: • Produk pengganti belum tersedia atau belum ada. • Produk pengganti memiliki harga yang lebih tinggi relatif dengan performa yang diberikan. • Pengguna akhir memerlukan biaya tinggi dalam menukar dengan produk pengganti. c. Tanda bahwa kompetisi dari produk pengganti kuat, yaitu: • Penjualan dari produk pengganti bertumbuh lebih cepat daripada penjualan dari industri yang dianalisis (indikasi bahwa penjual produk pengganti menggambarkan pertanyaan mengapa konsumen menjadi jauh dari industri tersebut). • Produsen produk pengganti bergerak untuk menambah kapasitas baru. • Profit dari produsen produk pengganti meningkat. 4. Threat of buyers’ growing bargaining power Apabila kekuatan buyer untuk membeli dan menawar produk tersebut memiliki posisi yang lebih tinggi, maka segmen pasar tersebut dapat dikatakan tidak menarik. Hal ini dapat disebabkan oleh banyaknya pemain (kompetitor) dalam industri tersebut sehingga buyer bebas memilih produk yang ia inginkan sesuai dengan harapannya. Selain itu, pertimbangan lainnya adalah harga yang ditawarkan oleh masing-masing produsen umumnya bersaing dan umumnya buyer lebih memilih produk dengan harga yang terjangkau. a. Kekuatan pembeli dalam menawar lebih kuat ketika: • Biaya pembeli dalam menukar dengan merek kompetitor atau produk pengganti adalah rendah. • Pembeli berjumlah banyak dan dapat meminta hadiah ketika membeli dalam jumlah yang besar. • Pembelian dalam volume besar sangat penting bagi penjual. • Permintaan pembeli lemah dan dalam posisi menurun. • Hanya ada beberapa pembeli sehingga setiap bisnis sangat penting bagi penjual. • Identitas pembeli menambah gengsi untuk daftar konsumen yang dimiliki oleh penjual. • Kuantitas dan kualitas informasi yang tersedia untuk pembeli meningkat. • Pembeli memiliki kemampuan untuk menunda pembelian kalau mereka tidak suka dengan perjanjian kini yang ditawarkan oleh penjual. • Beberapa pembeli merupakan ancaman dan dapat menjadi kompetitor penting. b. Kekuatan pembeli dalam menawar lebih lemah ketika: • Pembeli melakukan transaksi sangat jarang atau dalam jumlah kecil. • Biaya pembeli dalam menukar dengan merek kompetitor adalah tinggi. • Ada penggelombangan dalam permintaan pembeli yang menciptakan pasar penjual. • Reputasi merek penjual sangat penting bagi pembeli. • Produk tertentu penjual memberikan kualitas atau performa yang sangat penting bagi pembeli dan hal ini tidak didapat dari merek yang lain. • Kolaborasi pembeli atau mitra/kerjasama dengan penjual terpilih menyediakan kesempatan win-win yang menarik. 5. Threat of suppliers’ growing bargaining power Sama halnya dengan buyers’ bargaining power, sebuah industri atau segmen pasar dikatakan tidak menarik apabila supplier (penyalur) perusahaan dapat menaikkan harga ataupun mengurangi kuantitas bahan baku yang di-supply. Hal ini dapat dikarenakan oleh jumlah supplier yang sedikit untuk menyediakan kebutuhan perusahaan sehingga para supplier bisa menetapkan harga dengan bebas. a. Kekuatan supplier dalam menawar lebih kuat ketika: • Anggota industri harus mengeluarkan biaya tinggi dalam menukar pembelian mereka dengan alternatif supplier yang lain. • Pasokan sumber daya yang diperlukan sangat penting bagi perusahaan (sehingga supplier dapat menentukan harga). • Supplier memiliki pasokan sumber daya yang khas yang bisa meningkatkan kualitas atau performa dari produk penjual atau bagian yang kritis dan bernilai dari proses produksi penjual. • Hanya ada beberapa jumlah supplier dari sumber daya tertentu. • Beberapa supplier mengancam untuk masuk ke dalam bisnis dan kemungkinan akan menjadi pesaing yang kuat. b. Kekuatan supplier dalam menawar lebih lemah ketika: • Barang yang dipasok adalah barang komoditi yang sudah tersedia dari banyak supplier pada harga pasar. • Biaya penjual dalam menukar supplier dengan alternatif supplier yang lain terbilang rendah. • Barang pengganti untuk pasokan sumber daya sudah ada dan yang baru muncul. • Terjadi peningkatan dari persediaan yang dipasok (sehingga melemahkan kekuatan supplier dalam menetapkan harga). • Pembelian dari anggota industri terhitung berjumlah besar dari total penjualan supplier dan pembelian ulang dalam jumlah besar sangat penting bagi kesejahteraan supplier. • Anggota industri merupakan ancaman dan dapat melakukan manufaktur sendiri kebutuhan mereka. • Kolaborasi penjual atau mitra/kerjasama dengan supplier terpilih menyediakan kesempatan win-win yang menarik. Potential entrants (Threat of mobility) Suppliers (Bargaining Power of Supplier) Industry competitors Buyers (Bargaining Power of Buyer) (Segment rivalry) Substitutes (Threat of substitutes) Gambar 2.4 Five Forces Analysis 2.10 SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) Menilai sumber daya kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) perusahaan maupun kondisi eksternal yang berupa kesempatan (opportunities) dan ancaman (threats), dikenal dengan analisis SWOT, yang dapat memberikan informasi apakah situasi perusahaan secara menyeluruh dalam keadaan sehat atau tidak. Analisis SWOT bersifat simpel tetapi merupakan alat yang efektif untuk mengukur kemampuan dan defisiensi yang dimiliki suatu perusahaan, kesempatan yang ada di pasar, dan juga ancaman dari luar terhadap kesejahteraan masa depan perusahaan (Thompson, et.al., 2005, p.89). Strength (kekuatan) adalah sesuatu hal yang sangat baik dan sangat dikuasai oleh perusahaan atau juga sebuah atribut yang dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Kekuatan dapat terdiri dari beberapa bentuk, baik secara nyata maupun abstrak, seperti: (Thompson, et.al., 2005, pp 89-90) 1. Keahlian atau pengalaman penting 2. Aset fisik perusahaan yang berharga 3. Aset manusia atau sumber daya manusia yang berharga 4. Aset organisasional yang berharga 5. Aset yang tak terukur dan bersifat abstrak 6. Kemampuan yang kompetitif 7. Prestasi atau atribut yang dapat menguntungkan posisi perusahaan di pasar 8. Aliansi yang kompetitif atau kerjasama yang menguntungkan Weakness (kelemahan) adalah sesuatu hal yang menjadi kekurangan dan kurang baik ketika dikerjakan oleh perusahaan atau sebuah kondisi yang tidak menguntungkan posisi perusahaan di dalam pasar. Kelemahan perusahaan tersebut dapat berupa: (Thompson, et.al., 2005, p93) 1. Keahlian, pengalaman, atau modal intelektual yang rendah dan tidak terbukti 2. Defisiensi dalam aspek fisik, organisasional, atau aset yang bersifat abstrak 3. Hilangnya atau rendahnya kemampuan kompetitif dalam kondisi utama Opportunity (kesempatan) adalah faktor yang besar dan utama yang dipertimbangkan dalam membentuk strategi perusahaan. Dalam mengevaluasi kesempatan/ peluang yang ada di dalam pasar dan me-ranking daya pikat masing-masing kesempatan, perusahaan harus bertindak hati-hati dari pandangan yang melihat setiap kesempatan industri sebagai kesempatan perusahaan. Tidak semua perusahaan memiliki sumber daya yang cukup agar bisa sukses dalam setiap kesempatan yang ada di dalam industri. (Thompson, et.al., 2005, p94). Threat (ancaman) adalah faktor dari lingkungan eksternal perusahaan yang dapat mengganggu profitabilitas dan kesejahteraan perusahaan. Tugas perusahaan adalah untuk mengidentifikasi ancaman-ancaman yang ada dan kemudian mengevaluasi strategi tindakan apa yang bisa diambil untuk menetralkan ataupun mengurangi dampak dari ancaman tersebut. (Thompson, et.al., 2005, p94). Identify company resource strengths and competitive capabilities Identify company resource weaknesses and competitive deficiencies Identify the company’s market opportunities Identify external threats to the company’s future well-being Conclusions concerning the company’s overall business situation: • Where on the scale from “alarmingly weak” to “exceptionally strong” does the attractiveness of the company’s situation rank? • What are the attractive and unattractive aspects of the company’s situation? Actions for improving company strategy: • Use company strengths and capabilities as cornerstones for strategy. • Pursue those market opportunities best suited to company strengths and capabilities. • Correct weaknesses and deficiencies that impair pursuit of important market opportunities or heighten vulnerability to external threats • Use company strengths to lessen the impact of important external threats. Gambar 2.5 The Three Steps of SWOT Analysis: Identify, Draw Conclusions, Translate into Strategic Action Setelah melakukan serangkaian tahap dalam analisis SWOT, seperti identifikasi dan pengambilan kesimpulan, maka sebaiknya dalam membuat strategi, perusahaan dapat menggunakan matriks SWOT. Hal ini bertujuan supaya strategi yang dihasilkan optimal bagi kemajuan perusahaan di masa depan. Setelah menganalisis apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, kesempatan, dan ancaman bagi perusahaan, faktor-faktor tersebut dapat diletakkan menjadi satu tabel. Lalu, tabel tersebut dianalisis lagi dengan masingmasing faktor digabungkan, tentu saja faktor internal dengan faktor eksternal, seperti strategi S-O (Strengths dengan Opportunities), dan begitu pula dengan faktor-faktor lainnya, kemudian digabungkan dalam satu tabel lagi yang bertujuan untuk mempermudah analisis. Contoh dari tabel matriks SWOT dapat dilihat pada tabel 2.2 di bawah ini. Tabel 2.2 Matriks SWOT Strengths Opportunities Threats Weaknesses Strategi S-O Strategi W-O (Strengths-Opportunities) (Weaknesses-Opportunities) Strategi S-T (Strengths-Threats) Strategi W-T (Weaknesses-Threats) 2.11 Customer Perceived Value Secara umum, konsumen atau pelanggan akan membeli suatu produk dari perusahaan yang dirasa oleh mereka menawarkan nilai yang paling tinggi. Customer perceived value (CPV) adalah perbedaan antara evaluasi calon konsumen dari seluruh manfaat yang didapat dan semua biaya yang harus dikeluarkan dari suatu penawaran maupun alternatif lainnya. (Kotler, 2003, p60) Total customer value adalah nilai moneter yang dirasa dari sejumlah manfaat ekonomi, fungsional, dan psikologis yang diharapkan oleh konsumen dari penawaran yang diberi oleh pasar. Total customer cost adalah sejumlah biaya yang diharapkan konsumen dalam mengevaluasi, memperoleh, menggunakan, dan membuang penawaran yang diberi oleh pasar. (Kotler, 2003, p60) 2.12 Customer Satisfaction Apakah konsumen puas setelah membeli suatu produk tergantung dari performa barang yang ditawarkan yang berhubungan dengan ekspektasi/ harapan konsumennya. Secara umum, pengertian dari satisfaction (kepuasan) adalah perasaan seseorang yang senang ataupun kecewa yang merupakan hasil dari perbandingan antara performa produk yang dirasakan (outcome/hasil) dengan ekspektasinya (Kotler, 2003, p61). Jika performa suatu produk jauh dari ekspektasi, konsumen akan merasa tidak puas dan kecewa. Jika performanya sesuai dengan ekspektasi, konsumen akan merasa puas. Jika performanya melebihi ekspektasi, konsumen akan merasa sangat puas atau senang. 2.13 Customer Expectations Konsumen membentuk ekspektasi/harapan mereka melalui pengalaman membeli sebelumnya, teman, saran rekan, dan informasi serta janji dari para pemasar dan kompetitor. Jika perusahaan membuat ekspektasi terlalu tinggi, hal itu tidak menjamin akan menarik cukup banyak konsumen. Jika perusahaan membuat ekspektasi terlalu rendah, buyer mungkin akan kecewa. (Kotler, 2003, p62) Pada saat ini, beberapa perusahaan yang sukses banyak menyesuaikan antara ekspektasi yang diinginkan dengan performa yang diberikan kepada konsumen. Perusahaan-perusahaan ini menerapkan TCS – total customer satisfaction. Mereka sangat mementingkan kepuasan konsumen dengan cara memenuhi bahkan melebihi ekspektasi dari konsumen. (Kotler, 2003, p62) 2.14 Customer Loyalty Customer loyalty atau loyalitas konsumen adalah kesetiaan konsumen kepada suatu perusahaan berkaitan dengan produk atau jasa yang ditawarkan dan ternyata konsumen merasa puas dengan produk maupun jasa yang digunakan. Hal ini dapat terjadi kalau perusahaan dapat memahami dan memenuhi kebutuhan dan ekspektasi konsumen terhadap produk mereka. Setelah konsumen merasa puas, biasanya konsumen akan membeli atau menggunakan produk tersebut di kemudian hari dan hal ini dapat terjadi berulang-ulang (retention) apabila perusahaan terus menjaga kualitas produk serta tetap memenuhi ekspektasi konsumennya. (Kotler, 2003, p76) 2.15 Customer Relationship Management (CRM) Tujuan dari customer relationship management (CRM) adalah untuk menghasilkan ekuitas konsumen (customer equity) yang tinggi. Ekuitas konsumen adalah total nilai seumur hidup dari semua konsumen perusahaan. Semakin setia konsumen pada suatu perusahaan, maka semakin tinggi ekuitas konsumen pada perusahaan tersebut (Kotler, 2003, p.76). Dengan adanya CRM ini, sebuah perusahaan diharapkan dapat menghasilkan loyalitas/kesetiaan konsumen (customer loyalty) di samping tentunya juga menghasilkan ekuitas konsumen di kemudian hari. Rust, Zeithaml, dan Lemon membedakan tiga jenis pembentuk dari ekuitas konsumen, yaitu: (Kotler, 2003, p76) 1. Value equity (ekuitas nilai) adalah dugaan obyektif konsumen dari kegunaan suatu penawaran yang didasarkan pada persepsi tentang manfaatnya sehubungan dengan biaya yang harus dikeluarkan. 2. Brand equity (ekuitas merek) adalah dugaan konsumen yang subyektif dan tidak terukur terhadap suatu merek (brand), di atas dan di luar nilai yang dirasa obyektif. 3. Relationship equity (ekuitas hubungan) adalah kecenderungan konsumen untuk melekat pada suatu merek, di atas dan di luar dugaan yang obyektif maupun subyektif terhadap harga/nilainya. 2.16 Segmentation, Targeting, dan Positioning (STP) Suatu perusahaan dalam menawarkan produk maupun jasanya tidak dapat melayani semua kebutuhan konsumennya yang terdiri dari berbagai segmen pasar yang sangat beragam. Masing-masing konsumen memiliki kebutuhan yang berbeda dan sangat bervariasi keinginannya, selain itu jumlah konsumen yang ada sangat banyak. Suatu perusahaan perlu mengidentifikasikan segmen pasarnya sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan konsumennya dengan lebih efektif. (Kotler, 2003, p278) Target pemasaran (target marketing) dari suatu perusahaan memerlukan pemasarnya untuk mengambil tiga tahap utama, yaitu: (Kotler, 2003, p279) 1. Mengidentifikasi dan membagi sekelompok pembeli secara terpisah berdasarkan kebutuhan dan pilihan yang beragam (market segmentation). 2. Memilih satu atau lebih segmen pasar yang akan dimasuki (market targeting). 3. Menetapkan dan mengkomunikasikan kelebihan perusahaan dari para pesaingnya atas produk dan jasa yang ditawarkan untuk setiap segmen yang dituju (market positioning). 2.16.1 Segmentation Segmen pasar terdiri dari sekelompok konsumen yang memiliki kebutuhan yang sama. Para pemasar tidak menciptakan segmen, tetapi tugas seorang pemasar adalah mengidentifikasikan segmen yang ada dan menetapkan target mana yang akan dituju. Perusahaan akan lebih mudah memilih jalur distribusi dan komunikasi yang terbaik, dan hal tersebut akan mengetahui para kompetitornya secara jelas yang memiliki target segmen yang sama. (Kotler, 2003, p279) 2.16.2 Targeting Setelah perusahaan melakukan segmentasi pasar, tahap selanjutnya yang harus dilakukan perusahaan adalah menentukan target pasar yang dituju dalam menawarkan produk dan jasa mereka. (Kotler, 2003, p299) Dalam mengevaluasi segmen yang berbeda, perusahaan dapat mempertimbangkan lima pola dalam pemilihan target pasar, yaitu: (Kotler, 2003, p299) 1. Memusatkan perhatian pada satu segmen tunggal 2. Mengkhususkan pada beberapa segmen pilihan yang tidak berhubungan 3. Memusatkan pada sebuah produk 4. Memusatkan pada sebuah segmen pasar 5. Menjangkau keseluruhan pasar 2.16.3 Positioning Tahap yang akan dilakukan setelah perusahaan menetapkan target pasar yang dituju dan mengetahui apa yang dibutuhkan oleh para konsumennya, maka perusahaan dapat menyesuaikan serta menetapkan posisi produknya di pasar (market positioning). Positioning adalah suatu kegiatan merancang penawaran dan image perusahaan untuk menduduki tempat khusus di benak target pasar yang dituju. (Kotler, 2003, p308) Pada saat ini, perusahaan dapat memilih beberapa kemungkinan positioning yang berbeda, yaitu: (Kotler, 2003, pp 311-312) 1. Attribute positioning Perusahaan memposisikan dirinya melalui atributnya, seperti ukuran atau berapa lama keberadaan perusahaan tersebut. 2. Benefit positioning Suatu produk diposisikan sebagai leader dan menciptakan beberapa keuntungan tertentu yang belum dimiliki oleh pesaingnya. 3. Use or application positioning Produk diposisikan sebagai kategori yang terbaik dalam aplikasi ataupun penggunaannya dibandingkan pesaingnya. 4. User positioning Produk diposisikan sebagai kategori yang terbaik untuk beberapa kelompok pengguna. 5. Competitor positioning Perusahaan menyatakan bahwa produknya lebih baik daripada produk pesaingnya. 6. Product category positioning Produk diposisikan sebagai leader di dalam kategori produk tertentu. 7. Quality or price positioning Suatu produk dianggap menawarkan nilai yang terbaik dibandingkan produk pesaingnya.