BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu Sebagai

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Sebagai bahan perbandingan dalam penelitian ini, akan dicantumkan
beberapa penelitian terdahulu yang dianggap relevan dengan penelitian yang telah
dilakukan oleh peneliti lain, penelitian terdahulu menjadi salah satu acuan peneliti
dalam melakukan penelitian sehingga peneliti dapat memperkaya teori yang
digunakan dalam menguji penelitian yang dilakukan. Penelitian terdahulu tersebut
sebagai berikut :
1. Skripsi Dewi Kurniawati Januarsari, mahasiswi jurusan Manajemen
Komunikasi Universitas Padjajaran tahun 2010 judul penelitiannya
adalah “Pemaknaan Pesan Non Verbal Pada Fashion Para Wanita
Karir”. Tujuan penelitiannya adalah untuk memperoleh gambaran
mengenai pemaknaan pesan nonverbal para wanita karier terhadap
fashion yang digunakannya. Metode penelitian yang digunakan
kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi yang dilandasi
kerangka interaksionisme simbolik. Hasil penelitian menunjukan
bahwa pemaknaan pesan nonverbal dibalik fashion dan berbagai
atributnya didasarkan atas kepentingan karirnya. Para wanita karir
berusaha menyesuaikan fashion dengan gaya, bentuk, motif, warna
serta aksesoris yang nyaman bagi dirinya dengan tuntutan pekerjaan
8
http://digilib.mercubuana.ac.id/
9
yang mereka lakoni sehingga dapat menunjang aktivitas pekerjaannya.
Dapat dikatakan bahwa pemaknaan pesan non verbal di
balik fashion yang digunakan oleh para wanita karir ditunjukan untuk
mempengaruhi popularitas, kepuasan diri, perekrutan dan promosi
jabatan, hubungan pertemanan serta kekuasaan. Perbedaan penelitian
ini dengan penelitian Dewi Kurniawati yaitu terletak pada subjek
penelitian yang akan diteliti, peneliti memilih subjek penelitian pada
mahasiswa/i fakultas ilmu komunikasi angkatan 2013 Universitas
Mercu Buana, merupakan orang-orang yang berada di dalam lembaga
pendidikan. Sedangkan penelitian terdahulu memilih subjek wanita
karir. Kemudian
peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi
Alfred Schutz sedangkan Dewi Kurniawati menggunakan pendekatan
fenomenologi George Herbert Mead & Herbert Blumer. Persamaan
peneliti dengan Dewi Kurniawati yaitu sama-sama menggunakan
metode kualitatif, dan sama-sama meneliti tentang makna fashion.
2. Jurnal interaksi Dominukus Isak Petrus Berek, mahasiswa program
studi Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Politik,
Universitas Diponegoro angkatan V. Judul penelitiannya adalah
“Fashion Sebagai Komunikasi Identitas Sub Budaya (Kajian
Fenomenologis terhadap Komunitas Street Punk Semarang)”. Tujuan
penelitiannya adalah, mengetahui hal-hal yang diungkapkan fashion
tentang
identitas
Street
Punk
dan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
jenis
komunikasi
yang
10
direpresentasikan Street Punk melalui fashion serta perbedaan
identitas yang riil antara Street Punk dan komunitas Punk lainya
melalui fashion. Desain penelitian yang digunakan Dominukus Isak
adalah
kajian fenomenologi dengan menggunakan pendekatan
kualitatif. Subyek penelitiannya individu yang berstatus sebagai
anggota Street Punk Semarang. Hasil penelitiannya adalah fashion
Street Punk dapat membuat individu menjadi cerminan atas identitas,
yang berarti sebagai interaksi sosial melalui pesan, membuat individu
atau anggota kelompok Street Punk dapat berinteraksi melalui apa
yang mereka pakai. Disisi lain ada juga beberapa orang yang juga
sering diinterpretasikan oleh masyarakat sebagai Punk, sepintas gaya
rambut Mohawk tentu sangat terpampang jelas oleh orang-orang ini,
tetapi ketika ditanya mereka tidak mengerti arti dari Punk itu sendiri
secara defenitif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, bukan
berarti orang yang mencukur rambut mereka Mohawk, memakai jaket
plus aksesoris pelengkap, calana street, sepatu boot beserta unsurunsur fashion Punk lainya bisa dikatakan mereka adalah Punk.
Perbedaan antara penelitian Dominukus Isak adalah peneliti ingin
meneliti makna fashion sebagai komunikasi nonverbal, sedangkan
Dominukus berupaya menggali dan memahami bagaimana fahion
sebagai komunikasi identitas sub budaya. Persamaan peneliti dengan
Dominukus Isak yaitu sama-sama menggunakan metode penelitian
kualitatif.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
11
3. Skripsi Reza Adrian, mahasiswa jurusan Broadcasting Fakultas Ilmu
Komuniakasi Universitas Mercu Buana angkatan 2012. Dengan judul
“Fashion Rambut sebagai Simbol Komunikasi Nonverbal Pada
Remaja”. Tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui makna
simbol dari komunikasi nonverbal gaya under cut mahasiswa fikom
2012 universitas Mercu Buana. Metode penelitian dari penelitian ini
menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
fenomenologi
Alfred
Schutz
serta
menggunakan
paradigma
interpretif, menantang gagasan bahwa realitas sosial adalah sesuatu
yang kita terima begitu saja, sesuatu diluar sana yang membentuk
tindakan masyarakat. Hasil penelitiannya adalah pemakaian gaya
rambut Under Cut menunjukan bahwa seseorang akan terlihat
sederhana dan simpel, kemudian dengan menggunakan gaya rambut
Under Cut mereka mengaku hendek menampilkan gaya busana yang
menarik dimata orang lain, dan meningkatkan rasa percaya diri bagi
penggunanya. Perbedaan antara penelitian dari Reza Adrian dengan
peneliti terletak pada objek yang ingin diteliti, peneliti mengambil
objek makna gaya berpakian atau fashion dari mahasiswa universitas
Mercu Buana, sedangkan Reza Adrian meneliti tentang makna simbol
gaya rambut Under Cut pada mahasiwa universitas Mercu Buana.
Persamaan antara penelitian Reza Adrian dengan peneliti adalah
sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif, dan sama-sama
menggunakan pendekatan studi fenomenologi Alfred Schutz.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
12
2.1 TABEL MATRIKS PENELITIAN TERDAHULU
No
1.
Peneliti
Dewi Kurniawati
Judul
Metode
Penelitian
Penelitian
Pemaknaan
Non
Januarsari (Universitas Pesan
Pada
Padjadjaran
Bandung Verbal
Fakultas
Ilmu Fashion Para
Wanita Karir
Komunikasi)
Hasil Penelitian
Metode
Pemaknaan
pesan
kualitatif dengan
nonverbal dibalik fashion
pendekatan studi dan berbagai atributnya
fenomenologi
George Herbert
Mead &Herbert
Blumer dengan
menggunakan
kerangka
interkasionis
simbolik.
Persamaan
Menggunakan
metode
kualitatif, dan
didasarkan
atas meneliti
kepentingan
karirnya. tentang makna
Para
wanita
karir fashion.
berusaha menyesuaikan
fashion dengan gaya,
bentuk, motif, warna
serta aksesoris yang
nyaman bagi dirinya
dengan
tuntutan
pekerjaan yang mereka
lakoni sehingga dapat
menunjang
aktivitas
pekerjaannya.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Perbedaan
Subjek
penelitian,
peneliti
menggunakan
pendekatan
fenomenologi
Alfred Schutz
sedangkan
Dewi
Kurniawati
menggunakan
pendekatan
fenomenologi
George
Herbert Mead
&
Herbert
Blumer.
13
2.
fashion Street Punk dapat
individu
Sebagai
kualitatif dengan membuat
menjadi cerminan atas
Komunikasi
pendekatan studi
identitas, yang berarti
Identitas Sub fenomenologi
sebagai interaksi sosial
Budaya
Alfred Schutz melalui pesan, membuat
individu atau anggota
serta
kelompok Street Punk
menggunakan
dapat
berinteraksi
melalui apa yang mereka
paradigma
pakai. Selain itu ada juga
interpretif.
diantara mereka yang
tidak mengerti arti dari
Punk itu sendiri secara
defenitif. Jadi
bukan
berarti orang yang mencukur rambut mereka
Mohawk, memakai jaket
plus aksesoris pelengkap,
calana street, sepatu boot
beserta
unsur-unsur
fashion Punk lainya bisa
dikatakan mereka adalah
Punk.
Dominukus Isak Petrus Fashion
Berek,
mahasiswa
program studi Magister
Ilmu
Fakultas
Komunikasi
Ilmu
Politik,
Diponegoro
Sosial
Universitas
penelitian
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Menggunakan
metode
penelitian
kualitatif dan
pendekatan
fenomenologi
Peneliti ingin
meneliti
makna fashion
sebagai
komunikasi
nonverbal,
sedangkan
Dominukus
berupaya
menggali dan
memahami
bagaimana
fahion sebagai
komunikasi
identitas sub
budaya.
14
3.
Reza Adrian, mahasiswa
jurusan
Broadcasting
Fakultas
Ilmu
Komuniakasi
Universitas
Mercu
Buana
Fashion
Rambut
sebagai Simbol
Komunikasi
Nonverbal
Pada Remaja
Penelitian
kualitatif dengan
pendekatan studi
fenomenologi
Alfred Schutz
serta
menggunakan
paradigma
interpretif
Pemakaian gaya rambut
Under Cut menunjukan
bahwa seseorang akan
terlihat sederhana dan
simpel, kemudian dengan
menggunakan
gaya
rambut
Under
Cut
mereka mengaku hendek
menampilkan
gaya
busana yang menarik
dimata orang lain, dan
meningkatkan
rasa
percaya
diri
bagi
penggunanya
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Menggunakan
metode
penelitian
kualitatif, dan
pendekatan
fenomeologi
Alfred Schutz
Objek
yang
ingin diteliti,
peneliti
mengambil
objek makna
gaya berpakian
atau
fashion
dari
mahasiswa/i
universitas
Mercu Buana,
sedangkan
Reza Adrian
meneliti
tentang makna
simbol
gaya
rambut Under
Cut
pada
mahasiwa
universitas
Mercu Buana.
15
2.2 Komunikasi Nonverbal
2.2.1 Pengertian Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata.
Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter, komunikasi nonverbal
mencakup semua rangsangan dalam suatu setting komunikasi yang dihasilkan
oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu yang mempunyai nilai
pesan potensial bagi pengirim atau penerima. Jadi definisi ini mencakup perilaku
yang disengaja dan juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi
secara keseluruhan. Kita banyak mengirim pesan nonverbal tanpa menyadari
bahwa pesan-pesan tersebut dimaknai oleh orang lain.8
Cara kita bergerak dalam ruang ketika berkomunikasi dengan orang lain
didasarkan terutama pada respons fisik dan emosional terhadap rangsangan
lingkungan. Sementara banyak perilaku verbal kita bersifat eksplisit dan diproses
secara kognitif. Perilaku nonverbal kita bersifat spontas, ambigu, sering
berlangsung cepat, dan diluar kesadaran dan kendali kita. Karena itulah Edward T.
Hall menamai bahasa nonverbal ini sebagai “Bahasa Diam” dan “Dimensi
Berbunyi” suatu budaya. Disebut diam dan tersembunyi, karena pesan-pesan
nonverbal tertentu dalam konteks komunikasi. Selain isyarat situasional dan
relasional dalam transaksi komunikasi, pesan nonverbal memberi kita isyaratisyarat kontekstual. Bersama isyarat verbal dan kontekstual, pesan nonverbal
membantu kita menafsirkan seluruh makna pengalaman komunikasi.9
8
9
Deddy Mulyana,. Ilmu Komunikasi suatu Pengantar.Bandung : Rosdakarya. 2011 hal 343
Deddy Mulyana. Loc.cit.,
http://digilib.mercubuana.ac.id/
16
Komunikasi nonverbal dalam penelitian ini, akan membahas mengenai
artefak. Artefak merupakan benda apa saja yang dihasilkan kecerdasan menusia.
Aspek ini merupakan perluasan lebih jauh dari pakaian dan penampilan. Bendabenda yang digunakan untuk kebutuhan hidup manusia dan dalam interaksi
manusia sering menggunakan makna-makna tertentu. Bidang studi mengenai ini
disebut objektika.10
Sedangkan kaitannya dengan aplikasi busana dalam kehidupan sehari-hari
memberi makna melalui nonverbal, tanda, penguat karakter, maupun penguat
identitas seseorang. Seseorang yang menggunakan pakaian berwarna cerah
menandakan bahwa hatinya sedang ceria atau penuh kebahagiaan. Dengan
penggunaan ekspresi pada wajah, orang lain mampu manangkap sinyal radiasi
apakah orang tersebut sedang sedih, marah, senang, atau ketakutan. Setiap
anggota tubuh seperti wajah, tangan, kepala, kaki dan tubuh secara keseluruhan
digunakan sebagai isyarat simbolik.11
2.2.2 Fungsi Komunikasi Nonverbal
Komunikasi nonverbal memiliki beberapa fungsi yaitunya :
1. Fungsi Repetisi
Perilaku nonverbal dapat
mengulangi perilaku verbal. Misalnya:
menganggukan kepala ketika mengatakan “iya” atau menggelengkan kepala
ketika mengatakan “tidak”.
10
11
Ibid hal 43
Ibid hal 35
http://digilib.mercubuana.ac.id/
17
2. Fungsi Subtitusi
Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal, jadi tanpa
berbicara kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Misalnya, seseorang pengamen
mendatangi mobil kita, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun dengan
menggoyangkan telapak tangan mengarah kedepan (sebagai kata pengganti tidak).
Isyarat non verbal yang menggantikan kata atau frasa inilah yang disebut
“Emblem”.
3. Fungsi Kontradiksi
Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku
verbal dan bisa memberikan makna lain terhadap pesan verbal. Misalnya saat
memuji presentasi orang lain sambil mencibir.
4. Fungsi Eksentuasi
Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal. Misalnya,
menggunakan gerakan tangan, nada suara yang melabat ketika berpidato. Isyarat
non verbal tersebut disebut dengan “Affect display”.
5. Fungsi Komplemen
Perilaku non verbal dapat meregulasi perilaku verbal. Misalnya, saat
kuliah akan berakhir, kita melihat jam tangan berkali-kali sehingga dosen segera
munutup perkuliahannya.12
Pesan-pesan nonverbal sangat penting dalam komunikasi, seperti yang
dikatakan oleh Dale G. Leathers yang dikutip Jalaludin Rakhmat. Ia mengatakan
alasan pentingnya pesan-pesan non verbal antara lain13:
12
Verderber, Rudolph F, Kathleen S. Verderber,. “Chapter4 : Communicating through Nonverbal
Behaviour”. Communicate. Edisi ke-11 ed. Singapura : Wadsworth, 2005
http://digilib.mercubuana.ac.id/
18
1. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan melalui pesan non verbal
dibanding dengan verbal.
2. Pesan non verbal memberikan informasi tambahan yang memperjelas maksud
dan makna pesan (fungsi merakomunikatif) yang sangat diperlukan untuk
mencapai komunikasi yang berkualitas.
3. pesan nonverbal merupakan cara yang lebih efisien dibandingkan dengan pesan
verbal.
2.3 Komunikasi Artifaktual
Komunikasi
artifaktual
didefinisikan
sebagai
komunikasi
yang
berlangsung melalui pakaian, dan penataan pelbagai artefak, misalnya: pakaian,
dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau funiture di rumah dan
penataannya, ataupun dekorasi ruangan. Karena “Fashion” atau pakaian
menyampaikan pesan-pesan nonverbal, ia termasuk komunikasi nonverbal.14
Pakaian yang kita pakai bisa menampilakan pelbagai fungsi. Sebagai
bentuk komunikasi, pakaian bisa menyampaikan pesan artifaktual yang bersifat
nonverbal. Pakaian bisa melindungi kita dari cuaca buruk atau dalam olahraga
tertentu dari kemungkinan cedera. Pakaian juga membantu kita menyembunyikan
bagian-bagian tertentu dari tubuh kita dan karenanya pakaian memiliki suatu
fungsi kesopanan.
Menurut Desmond Morris, dalam Manwatching: A Field Guide to Human
Behavior, pakian juga menampilakan pesan sebagai pejangan budaya (cultural
display) karena ia mengkomunikasikan afiliasi budaya kita. Mengenali negara
13
14
Jalaludin Rakhmat,. Psikologi Komunikasi. Bandung : RemajaRosdakarya. 1996 hal 28
Malcom Barnard,. Fashion sebagai Komunikasi.Yogyakarta : Jalasutra.2011 hal VII
http://digilib.mercubuana.ac.id/
19
atau daerah asal-usul seseorang dari pakaian yang mereka kenakan. Pakaian bisa
menunjukan identitas nasional dan kulturan sipemakai. 15
Orang membuat kesimpulan tentang siapa anda sebagian juga lewat apa
yang anda kenakan. Apakah kesimpulan tersebut terbukti akurat atau tidak, tak
ayal ia akan mempengaruhi pikiran orang tentang anda dan bagaimana mereka
bersikap pada anda. Kelas sosial anda, keseriusan atau kesantaian anda, sikap
anda, afiliasi politik anda, keglamoran atau keeleganan anda, Sense of Style anda
dan bahkan mungkin kreatifitas anda akan dinilai sebagian dari cara anda
berbusana. Busana juga memperlihatkan seseorang untuk dapat menghormati
orang lain melalui pakaian yang dikenakannya.
2.4 Fashion
2.4.1 Pengertian Fashion
Fashion merupakan segala bentuk tingkah laku,
bentuk komunikasi
nonverbal. Mode atau fesyen (inggris : Fashion) adalah gaya berpakian yang
populer dalam suatu budaya. Secara umum, Fashion termasuk masakan, bahasa,
seni dan arsitektur.
Secara etimologi menurut kamus besar bahasa Indonesia, mode
merupakan bentuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada
suatu waktu tertentu (tata pakian, corak hiasan dan lain sebagainya). Mode yang
dikenakan seseorang mampu mencerminkan sipemakai.
Thomas Carlye mengatakan, “Pakaian adalah pelambang jiwa. Pakian
tidak bisa dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia.”
15
Idy Subandy Ibrahim,. Budaya Populer sebagai Komunikasi. Yogyakarta: Jalasutra. 2007 hal
243
http://digilib.mercubuana.ac.id/
20
Fahion dimetaforakan sebagai kulit sosial yang membawa pesan dan gaya hidup
suatu komunitas tertentu yang merupakan bagian dari kehidupan sosial. Di
samping itu, mode juga mengekspresikan identitas tertentu.
2.4.2 Fungsi Fashion
Fashion memiliki banyak fungsi,yaitunya:
1. Fashion sebagai Komunikasi
Dalam fashion kita bisa mengartikan komunikasi sebagai pengiriman pesan,
budaya beragam juga menjadi faktor penentu dalam sebuah “Fashion”. Hal ini
jelas dalam masyarakat kita maupun masyarakat dunia.
Fashion sendiri dapat diartikan sebagai komunikasi nonverbal karena tidak
menggunakan kata-kata lisan maupun tulisan. Tidak sulit untuk memahami
fashion sebagai komunikasi nonverbal, meskipun garmen diungkapkan dalam
kata-kata seperti merek maupun slogan, disana tetap saja ada level atau tingkatan
komunikasi nonverbal yang memperkuat makna harfiah atau merek tersebut.
Umberto Eco menyatakan “Berbicara melalui pakaiannya”, yang dimaksud disini
adalah menggunakan pakian untuk melakukan apa yang dilakukan dengan katakata maupun lisan dalam konteks lain.
Secara intuitif untuk menyatakan bahwa seseorang mengirim pesan
tentang dirinya sendiri melalui “Fashion” dan pakaian yang dipakainya.
Berdasarkan pengalaman sehari-hari pakian dipilih sesuai dengan apa yang akan
dilakukan pada hari itu, bagaimana suasana hati seseorang, siapa saja yang akan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
21
ditemuinya. Hal ini menegaskan bahwa “Fashion” dan pakian dipergunakan untuk
mengirimkan pesan tentang diri seseorang kepada orang lain.16
2. Fashion sebagai Perlindungan
Menurut Flugel, “ pakian itu menawarkan perlindungan dan sebagai
pelindung terhadap ketidak bersahabatan dunia secara umu” atau “ sebagai
jaminan atas kurangnya cinta”. Dengan adanya “Fashion” tubuh kita menjadi
terlindungi dari pengaruh buruk lingkungan. 17
3. Fashion sebagai Kesopanan dan Persembunyian
Hal-hal yang berkenaan dan berkaitan dengan kesopanan merupakan
alasan utama untuk mengenakan pakian. Argumen untuk kesopanan beredar di
seputar ide bahwa bagian tubuh tertentu adalah tak senonoh atau memalukan dan
hendaknya ditutupi sehingga tidak terlihat.18
4. Fashion sebagai Ketidak Sopanan dan Daya Tarik
Orang menegaskan bahwa tugas pakian adalah untuk menarik perhatian
pada tubuh bukan untuk mengalihkan perhatian. Argumen ketidak sopanan
menekankan pada gerak menuju status menyerupai binatang.19
5. Fashion sebagai Ekspresi Individualistik
Contoh warna cerah atau kontras bisa saja mereflesikan hati yang sedang
gembira. Kontras garis linier mungkin mereflesikan dinamisme internal. Ekspresi
seseorang terhadap warna mengandung nilai arti dalam sebuah pembangunan
makna.
16
Reza Adrian,. Fashion Rambut sebagai Simbol Komunikasi Nonverbal. Skripsi. Universitas
Mercu Buana. Jakarta.2016
17
Malcolm Bernard,. Fashion sebagai Komunikasi.Jalasutra.Yogyakarta.2011 hal 73
18
Ibid hal 75
19
Ibid hal 79
http://digilib.mercubuana.ac.id/
22
6. Fashion sebagai Nilai Sosial atau Status
Seperti jabatan orang berada ditandai dengan memakai pakian kemeja
beserta jas dan sepatu fantopel. Nilai sosial atau status sosial terlihat dari tingkat
kerapihan seseorang dalam berbusana, baik di lingkungan umum maupun ranah
prbadi.
7. Nilai Ekonomi dan Status
Pakaian dan fashion merefleksikan bentuk organisasi ekonomi tempat
seseorang hidup di samping merefleksikan statuskan di dalam ekonomi itu. Pakian
dan fashion menunjukan apa jenis pekerjaan orang itu dan pada level manakah
dalam ekonomi orang tersebut bergerak atau bekerja.
8. Fashion sebagai Simbol Politisi
Bekerjanya kekuasaanpun jelas sangat erat terkait pada status sosial dan
ekonomi. Dan jelaslah bahwa fashion dan pakaian pun terkait erat dengan
bekerjanya kekuasaan. Satu contoh “fashion” yang digunakan untuk kekuasaan
politik yakni penggunaan bintik-bintik kecantikan di inggris.20
9. Kondisi Magis Religius
Dikenakan secara permanen atau secara berkala, pakian atau fashion
menunjukan keanggotaan atau afiliasi, pada kelompok atau jamaah agama
tertentu. Pakian dan fashion menandakan status atau posisi di dalam kelompok
atau jemaah tersebut. Untuk menunjukan kekuatan atau kedalaman keyakinan atau
tingkat partisipasi.
10. Ritual Sosial
20
Ibid hal 91-93
http://digilib.mercubuana.ac.id/
23
Fashion akan dipandang hanya dalam artian cara yang digunakan untuk
menandai awal dan akhir ritual untuk membuat pembedaan antara ritual dan non
ritual. Orang tidak biasa mengenakan fashion atau pakian yang biasa di pakai
sehari-hari saat menghadiri perkawainan atau pemakaman.
11. Rekreasi
Pakaian atau fashion digunakan sebagai rekreasi untuk mennjukan bahwa
fashion dan pakaian memiliki aspek rekreasional dan menimbulkan kenikmatan,
karena itu fashion dan pakaian sekedar untuk kesenangan, cara menimbulkan
kenikmatan.21
2.5 Fenomenologi
2.5.1 Pengertian Fenomenologi
Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari kata fenomena dan
logos. Fenomena berasal dari kata kerja Yunani “phainesthai” yang berarti
menampak, dan terbentuk dari akar kata fantasi, fantom, dan fosfor yang artinya
bersinar atau bercahaya. Dari kata itu terbentuk kata kerja, tampak, terlihat karena
bercahaya. Dalam bahasa Indonesia berarti cahaya. Secara harfiah fenomena
diartikan sebagai gejala atau sesuatu yang menampakkan.22
Fenomenologi diperkenalkan oleh Johann Heinrickh Lambert, tahun 1764.
Meskipun demikian Edmund Husserl (1859-1938) lebih dipandang sebagai bapak
21
Ibid hal 95-98
Sugeng Pujileksono,. Metode Penelitian Komunikasi : Kualitatif. Malang : Intrans Publishing
2015 hal 64
22
http://digilib.mercubuana.ac.id/
24
fenomenologi, karena intensitas kajiannya dalam ranah filsafat. Fenomenologi
yang kita kenal melalui Husserl adalah ilmu tentang fenomena.23
Fenomenologi yang dirintis Edmund Husserl bersemboyankan: zuruck zu
den sachen selbst (Kembali ke hal-hal itu sendiri). Pemahaman yang berarti
bahwa fenomenologi, sebagaimana dikatakan Husserl merupakan metoda untuk
menjelaskan fenomena dalam kemurniannya.
Menurut Husserl, fenomena adalah segala sesuatu yang dengan suatu cara
tertentu tampil dalam kesadaran manusia. Baik berupa sesuatu sebagai hasil
rekaan maupun berupa sesuatu yang nyata, yang berupa gagasan maupun berupa
kenyataan.24 Dengan demikian, mengutip pendapat Creswell fenomenologi
berupaya untuk menjelaskan makna pengalaman hidup sejumlah orang tentang
suatu konsep atau gejala, termasuk di dalamnya konsep diri atau pandangan hidup
mereka sendiri.25
Littlejohn menyebutkan: “phenomenology makes actual lived experience
the basic data of reality”. Jadi dalam fenomenologi, pengalaman hidup yang
sesungguhnya sebagai data dasar dari realita. Sehingga dalam kajian
fenomenologi yang penting ialah pengembangan suatu metoda yang tidak
memalsukan
fenomena,
melainkan
dapat
mendeskripsikannya
seperti
penampilannya.26 Untuk tujuan itu fenomenolog hendaknya memusatkan
23
Farid Hamid. Pendekatan Fenomenologi Suatu ranah Penelitian Kualitatif .Jakarta: MediaKom
Jurnal Ilmiah 2011 hal 3.
24
Delfgaauw,. Filsafat Abad 20. Terj. Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
1988 hal 105
25
Creswell. Qualitative Inquiry: Choosing Among Five Traditions. USA: Sage Publications Inc
1998 hal 51
26
Littlejohn Stephen W& Karen A.Foss,. Teori Komunikasi (Theories of Human Communication)
Belmont: Thomson Learnig Academic Resource Center 1996. hal 204
http://digilib.mercubuana.ac.id/
25
perhatiannya kepada fenomena tersebut tanpa disertai prasangka sama sekali.
Seorang fenomenolog hendaknya menanggalkan segenap teori, pranggapan serta
prasangka, agar dapat memahami fenomena sebagaimana adanya. Memahami
fenomena sebagaimana adanya merupakan usaha kembali kepada barangnya
sebagaimana penampilannya dalam kesadaran.27
Alfred Schutz mengatakan bahwa, fenomenologi sebagai metode yang
dirumuskan sebagai media untuk memeriksa dan menganalisis kehidupan batiniah
individu yang berupa pengalaman mengenai fenomena atau penampakan
sebagaimana adanya, yang lazim disebut arus kesadaran.28 Tugas fenomenologi
menurut Schutz adalah untuk menghubungkan antara pengetahuan ilmiah dengan
pengalaman sehari-hari, sedangkan kegiatan dan pengalaman sehari-hari
merupakan sumber dan akar dari pengetahuan ilmiah. 29
Berbeda dengan pendekatan positivistik yang menganggap realitas itu
tunggal, Alfred Schutz dengan fenomenologinya memperkenalkan konsep realitas
berganda (multiple reality). Bagi Schutz, realita di dunia ini bukan hanya dalam
realitas kehidupan sosial, tetapi juga termasuk realitas fantasi, realitas mimpi, dan
sebagainya. Dalam hal ini Schutz memodifikasi dasar-dasar pengertian William
James tentang “bagian alam semesta”. Kita mengalami berbagai jenis realita atau
“bagian alam semesta”, dari dunia fisik yang paling penting, dunia ilmu, dunia
keyakinan suatu suku, dunia supernatural, dunia opini individu, sampai pada
dunia kegilaan (madness), dan dunia khalayan. Tetapi James tidak membahas
27
Delfgaauw, Bernard.. Filsafat Abad 20. Terj. Soejono Soemargono. Yogyakarta: Tiara wacana
Yogya 1988. Hal 105
28
Campbell,. Tujuh Teori Sosial. Yogyakarta: Kanisius 1994 hal 233.
29
Farid Hamid. Pendekatan Fenomenologi Suatu ranah Penelitian Kualitatif .Jakarta: MediaKom
Jurnal Ilmiah 2011
http://digilib.mercubuana.ac.id/
26
implikasi sosial dari tatanan-tatanan realitas sosial yang berbeda tersebut, dan
inilah yang ingin dikembangkan lagi oleh Schutz.
Menurut Schutz dunia sehari-hari merupakan dunia intersubjektif yang
dimiliki bersama orang lain dengan siapa kita berinteraksi. Dalam dunia ini kita
selalu membagi-bagi dengan teman-teman kita, dan dengan yang lainnya, yang
juga menjalani dan menafsirkannya. Oleh karenanya dunia kita secara
keseluruhan tidak akan pernah bersifat pribadi sepenuhnya, bahkan di dalam
kesadaran kita, kita akan selalu menemukan bukti adanya kesadaran orang lain.
Ini merupakan suatu bukti bahwa situasi biografi kita yang unik ini tidak
seluruhnya merupakan produk dari tindakan-tindakan kita sendiri. Sampai di sini
teori Schutz, sangat mirip dengan interaksionis simbolis dari George Herbert
Mead. Tetapi menurut Schutz dunia intersubyektif terdiri dari realitas-realitas
yang sangat berganda, di mana realitas sehari-hari yang merupakan common sense
atau diambil begitu saja, tampil sebagai realitas yang utama. Schutz memberikan
perhatian besar kepada realitas common-sense ini. Realitas seperti inilah yang kita
terima, mengenyampingkan setiap keraguan, kecuali realitas itu dipermasalahkan.
Realitas common-sense dan eksistensi sehari-hari itu dapat disebut sebagai
kepentingan praktis kita dalam dunia sosial. Menurut Schutz esensi dari akal sehat
ada dengan sendirinya, yakni dalam dunia keseharian. Ini merupakan elaborasi
Labenswelt yang dikemukakan Husserl.30
Fenomenologi
berasumsi
bahwa
orang-orang
secara
aktif
menginterpretasikan pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia
30
Farid Hamid. Pendekatan Fenomenologi Suatu ranah Penelitian Kualitatif .Jakarta: MediaKom
Jurnal Ilmiah 2011 hal 5
http://digilib.mercubuana.ac.id/
27
dengan pengalaman pribadinya. Fenomena yang tampak adalah refleksi dari
realitas yang tidak dapat berdiri sendiri, karena ia memiliki makna yang
memerlukan penafsiran yang lebih lanjut.31
2.5.2 Jenis-jenis Fenomenologi
1. Classical Phenomenology atau Trancendental Phenomenology
Fenomenologi
transendental
menekankan
pada
subjektifitas
dan
pengungkapan inti dari pengalaman dengan sebuah metodologi yang sistematis
dan disiplin untuk asal mula pengetahuan. Pendekatan Edmund Husserl ini
disebut “Phenomenology” karena hanya menggunakan data yang hanya dialami
melalui kesadaran terhadap suatu objek. Disebut “transcendental” , karena
mengacu pada apa yang bisa diungkapkan melalui refleksi dalam tindakantindakan subjektif dan keobjektifan yang menghubungkan tindakan-tindakan
tersebut.32
2. Social Phenomenology
Fenomenologi
sosial
dikembangkan
oleh
Alfred
Schutz
dengan
menggabungkan pemikiran fenomenologi transendental Edmund Husserl dengan
konsep “verstehen” Max Weber. Melalui fenomenologi sosialnya, Schutz
mengembangkan model tindakan manusia (Human of Action) dengan tiga dalil
umum yaitu:
a. The postulate of logical consistency (Dalil Konsistensi Logis)
31
Littlejohn Stephen W& Karen A.Foss,. Teori Komunikasi (Theories of Human Communication)
Jakarta: Salemba Humanika 2007
32
Moustakas, Clark Phenomenological Research Methods. New Delhi: Sage Publications 1994
hal 45
http://digilib.mercubuana.ac.id/
28
Ini berarti konsistensi logis mengharuskan peneliti untuk tahu veliditas
tujuan penelitiannya sehingga dapat dianalisis bagaimana hubungannya
dengan kenyataan kehidupan sehari-hari apakah bisa dipertanggung
jawabkan ataukah tidak.
b. The postulate of subjective interpretation (Dalil Interpretasi Subyektif)
menuntut peneliti untuk memahami segala macam tindakan manusia atau
pemikiran manusia dalam bentuk tindakan nyata. Maksudnya peneliti
harus memposisikan diri secara subyektif dalam penelitian agar benarbenar memahami manusia yang telah diteliti dalam fenomenologi sosial.
c. The postulate of adequacy (Dalil Kecukupan)
Dalil ini mengamanatkan peneliti untuk membentuk konstruksi ilmiah
(hasil penelitian) agar peneliti bisa memahami tindakan sosial individu.
Kepatuhan terhadap dalil ini akan memastikan bahwa konstruksi sosial
yang dibentuk konsisten dengan konstruksi yang ada dalam realitas sosial.
3. Hermeneutic Phenomenology
Merupakan sintetis dari beberapa metode hermeneutik dan metode
fenomenologi, salah satunya dikembangkan oleh Paul Ricoeur. Sambil mengkritik
idealisme Husserl, Ricoeur menunjukan bahwa hermenutika tidak dapat
dilepaskan dari fenomenologi. Fenomenologi merupakan asumsi dasar yang tidak
tergantikan bagi hermeneutika. Di sisi lain, fenomenologi tidak dapat
menjalankan programnya untuk memahami berbagai fenomena secara utuh dan
menyeluruh tanpa penafsiran terhadap pengalaman-pengalaman subyek. Untuk
keperluan penafsiran itu dibutuhkan hermeneutika. Secara umum, fenomenologi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
29
merupakan kajaian tentang bagaimana manusia sebagai subyek memaknai obyekobyek disekitarnya. Menurut Ricoeur, sejauh tentang makna dan pemaknaan yang
dilakukan manusia, hermeneutik terlibat disana. Jadi pada dasarnya fenomenologi
dan hermeneutik saling melengkapi. Dengan dasar itu Ricoeur mengembangkan
metode fenomenologi hermeneutik.33
33
Sugeng Pujileksono,. Metode Penelitian Komunikasi : Kualitatif. Malang : Intrans Publishing
2015 hal 65-66
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download