21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tumbuhan - USU-IR

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Uraian Tumbuhan Buni
2.1.1 Habitat
Buni tumbuh liar di daerah-daerah basah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi,
Maluku, India, Sri Lanka, Burma, Semenanjung Malaysia, New Guinea. Di
Indonesia terutama di Jawa, buni tumbuh di daerah kering di bagian timur Jawa
atau pun di bagian barat Jawa yang beriklim lembab (Wulandari, 2011).
2.1.2 Nama daerah
Buni dikenal dengan nama yang berbeda di setiap daerah seperti barune,
huni, huni gedeh, huni wera (Sunda), wuni (Jawa); Burneh (Madura), buni.
Katakuti, kutikata (Maluku); tedong (Makassar (LIPI, 2009; Wulandari, 2011).
2.1.3 Sinonim
Antidesma crassifolium (Elmer) Merr., Antidesma dallachyanum Baillon.,
Antidesma rumphii Tulase (Wulandari, 2011).
2.1.4 Sistematika tumbuhan
Menurut Wulandari (2011), sistematika dari tumbuhan buni adalah sebagai
berikut :
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Kelas
: Dicotyledoneae
Ordo
: Malpighiales
Famili
: Phyllantaceae
Genus
: Antidesma
Spesies
: Antidesma bunius (L.) Spreng (BPTH, 2011)
21
Universitas Sumatera Utara
2.1.5 Morfologi tumbuhan
Buni (Antidesma bunius (L.) Spreng merupakan pohon buah, tinggi 15-30
meter. Pohon berbatang sedang ini tersebar di Asia Tenggara dan Australia, di
Jawa tumbuh liar di hutan atau ditanam di halaman dan dapat ditemukan dari
dataran rendah. Daun tunggal, bertangkai pendek, bentuknya bulat telur sungsang
sampai lanset, panjang 9-25 cm, tepi rata agak bergelombang, ujung meruncing,
pangkal tumpul. Daun muda warnanya hijau muda, setelah tua menjadi hijau tua.
Buni berumah dua, bunga dalam tandan, keluar dari ketiak daun atau di ujung
pecabangan. Buahnya kecil-kecil panjang sekitar 1 cm, bentuknya bulat berwarna
hijau, bila masak menjadi ungu kehitaman dan rasanya sedikit asam (LIPI, 2009).
2.1.6 Khasiat
Buni (Antidesma bunius (L.) Spreng) berkhasiat untuk mengobati darah
tinggi, jantung berdebar cepat, anemia, sifilis (Wijayakusuma, 1996), anti kanker
(Micor, dkk., 2005), antioksidan (Butkhup dan Samappito, 2011), antidiabetes
(Elya, dkk., 2012). Daun buni berkhasiat sebagai obat penutup luka dan buahnya
yang telah matang berkhasiat untuk menambah air susu ibu (Kassem, dkk., 2013).
2.1.7 Kandungan kimia
Daun dari tumbuhan Antidesma bunius (L.) Spreng (Buni) mengandung
beberapa senyawa metabolit sekunder, antara lain : senyawa saponin, glikosida,
flavonoid, tanin dan triterpenoid (Elya, dkk., 2012). Kandungan kimia utama yang
terdapat dalam buah buni adalah flavonoid, tanin, fenolik, dan polifenol (Butkhup
dan Samappito, 2008). Selain itu terdapat juga kandungan lain yang ada dalam
buah buni adalah vitamin C, provitamin A, vitamin B1, vitamin B2, vitamin E,
besi, fosfor, kalium dan serat (Buthkup dan Samappito, 2011).
22
Universitas Sumatera Utara
2.2 Uraian kandungan kimia
2.2.1 Glikosida
Glikosida adalah suatu golongan senyawa bila dihidrolisis akan terurai
menjadi gula (glikon) dan senyawa lain (aglikon atau genin). Umumnya glikosida
mudah terhidrolisis oleh asam mineral atau enzim. Hidrolisis oleh asam
memerlukan panas, sedangkan hidrolisis oleh enzim tidak memerlukan panas.
Glikosida umumnya cukup larut dalam air dan alkohol tetapi sedikit larut dalam
eter. Ikatan glikosidik resisten terhadap hidrolisis oleh alkali tetapi mudah pecah
oleh asam mineral encer seperti asam sulfat encer (Supriyatna, dkk., 2010).
Menurut Farnsworth (1966) berdasarkan ikatan antara glikon dan aglikonnya,
glikosida dapat dibedakan menjadi :
a. Tipe O-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui jembatan
O. Mayoritas glikosida termasuk ke dalam kelompok ini. Contoh : kuarsetin.
b. Tipe C-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui jembatan
C, yakni gula melekat pada aglikon melalui ikatan karbon. Contoh : aloin.
c. Tipe S-glikosida, ikatan antara bagian glikon dengan aglikon melalui jembatan
S. Contoh: sinigrin.
d. Tipe N-glikosida, ikatan antara bagian dari glikon dengan aglikon melalui
jembatan N. Contoh: nikleosidin.
2.2.2 Triterpenoid/steroid
Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam
satuan isoprena dan secara biosintesis masuk jalur asam mevalonat diturunkan
dari hidrokarbon C30 asiklik, yaitu skualena. Triterpenoid berupa senyawa tanpa
warna berbentuk kristal, sering kali bertitik leleh tinggi. Triterpenoid dibagi
23
Universitas Sumatera Utara
menjadi empat golongan, yaitu triterpenoid, steroid, saponin dan glikosida jantung
(Harborne, 1984).
Uji yang banyak dilakukan untuk identifikasi triterpenoid dan steroid
adalah reaksi Liebermann-Burchard yang biasanya menghasilkan warna merah
ungu hingga biru-hijau (Harborne, 1984).
Gambar 2.1 Struktur dasar triterpenoid (Harborne, 1984)
Menurut Robinson (1991) pembagian triterpenoid berdasarkan jumlah
cincin yang terdapat pada struktur molekulnya, adalah:
a. Triterpenoid asiklik, yaitu triterpenoid yang tidak mempunyai cincin tertutup
dalam cincin molekulnya, contohnya skualen.
b. Triterpenoid trisiklik, yaitu triterpenoid yang mempunyai tiga cincin tertutup
dalam cincin molekulnya, contohnya ambrein.
c. Triterpenoid tetrasiklik, yaitu triterpenoid yang mempunyai empat cincin
tertutup dalam cincin molekulnya, contohnya lanosterol.
d. Triterpenoid pentasiklik, yaitu triterpenoid yang mempunyai lima cincin
tertutup dalam cincin molekulnya, contohnya α-amirin. Contoh struktur kima
triterpenoid dapat dilihat pada Gambar 2.2 :
24
Universitas Sumatera Utara
Skualena
Ambrein
α-amirin
Lanosterol
Gambar 2.2 Struktur kimia triterpenoid (Robinson, 1991)
Senyawa triterpenoid menunjukkan aktifitas farmakologi seperti antivirus,
antibakteri, antiinflamasi, inhibisi terhadap sintesis kolesterol, antikanker (Nassar
dan Majid 2010), antitumor (Lage, dkk., 2009) dan aktifitas sitotoksik terhadap
sel pangkreatik (Sanchez, dkk., 2010).
Steroid adalah senyawa triterpenoid yang kerangka dasarnya sistem cincin
siklopentana perhidrofenantren atau struktur dasar yang terdiri dari 17 atom
karbon yang membentuk tiga cincin sikloheksana dan satu cincin siklopentana.
Senyawa ini tersebar luas di alam baik pada hewan maupun tumbuhan tingkat
tinggi dan mempunyai fungsi biologis yang sangat penting misalnya sebagai
antiinflamasi (Harborne, 1987) dan sebagai aprodisiaka (Nurjanah, 2009).
25
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.3 Struktur dasar steroid dan penomorannya (Robinson, 1991)
Senyawa steroid dahulu dianggap sebagai senyawa yang hanya terdapat
pada hewan tetapi sekarang ini makin banyak senyawa steroid yang ditemukan
dalam tumbuhan (fitosterol). Fitosterol merupakan senyawa steroid yang berasal
dari tumbuhan. Senyawa fitosterol yang biasa terdapat pada tumbuhan tinggi yaitu
sitosterol, stigmasterol dan kampesterol (Harborne, 1984).
Senyawa golongan steroid memiliki sifat fisiologis dan bioaktif yang
penting, misalnya berperan dalam pembentukan struktur membran, pembentukan
hormon kelamin dan hormon pertumbuhan serta pembentukan vitamin D, sebagai
penolak dan penarik serangga dan sebagai antimikroba (Robinson, 1991).
2.2.3 Flavonoid
Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3C6, artinya kerangka karbonya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene
tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon (Robinson, 1991).
Flavonoid mencangkup banyak pigmen yang banyak terdapat pada tumbuhan
mulai dari jamur sampai angiospermae. Pada tumbuhan tinggi, flavonoid terdapat
baik dalam bagian vegetatif maupun dalam bunga. Fungsi flavonoid pada
tumbuhan adalah dapat menarik burung dan serangga yang membantu proses
26
Universitas Sumatera Utara
penyerbukan, pengatur tumbuh, pengatur fotosintesis, kerja antimikroba dan
antivirus (Robinson, 1991).
2.2.4 Saponin
Saponin adalah sekelompok senyawa dengan struktur triterpenoid yang
mengikat satu atau lebih gula sehingga memiliki sisi hidrofil dan lipofil dengan
pengocokan akan menimbulkan buih (Harbone, 1984). Saponin mula-mula diberi
nama demikian karena sifatnya yang menyerupai sabun (bahasa Latin sapo berarti
sabun). Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan
busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering
menyebabkan hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer
saponin sangat beracun untuk ikan. Beberapa saponin bekerja sebagai
antimikroba. Saponin merupakan senyawa berasa pahit dan mengakibatkan iritasi
terhadap selaput lender (Robinson, 1991).
Uji saponin adalah dengan mengocok ekstrak alkohol air dari tumbuhan
dalam tabung reaksi, maka akan terbentuk busa yang bertahan lama pada
permukaan cairan (Harborne, 1984).
2.3 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut menggunakan pelarut cair.Simplisia
yang diekstraksi mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa yang
tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat,protein dan lain-lain. Senyawa aktif
yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan
minyak atsiri, metabolit sekunder dan lain-lain. Mengetahui senyawa aktif yang
27
Universitas Sumatera Utara
dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dengan cara yang
tepat (Ditjen POM RI, 2000).
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat
aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang
sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah
ditetapkan (Ditjen POM RI, 1995).
2.3.1 Metode Ekstraksi
Menurut Ditjen POM RI (2000), ada beberapa metode ekstraksi dengan
menggunakan pelarut yaitu:
A. Cara Dingin
1. Maserasi
Maserasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan pelarut dengan
beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur kamar. Maserasi
yang dilakukan pengadukan secara terus-menerus disebut maserasi kinetik,
sedangkan maserasi yang dilakukan dengan pengulangan penambahan pelarut
setelah dilakukan penyaringan terhadap maserat pertama dan seterusnya disebut
remaserasi.
2. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi
penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar. Proses
perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan, tahap perendaman antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus-menerus sampai
diperoleh ekstrak (perklorat).
28
Universitas Sumatera Utara
B. Cara Panas
1. Refluks
Refluks adalah ektraksi pelarut pada temperature titik didihnya, selama
waktu tertentu dan jumlah pelarut yang terbatas yang relatif konstan dengan
adanya pendingin balik
2. Digesti
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan terus-menerus pada
temperatur lebih tinggi dari temperatur ruangan, secara umum dilakukan pada
temperature 40-50˚C.
3. Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru,
dilakukan menggunakan alat Soxhlet sehingga terjadi ekstraksi kontinu dengan
jumlah pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
4. Infudasi
Infudasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada penangas air dengan
temperatur 96-98˚C selama waktu 15-20 menit.
5. Dekoktasi
Dekoktasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur sampai titik
didih air selama 30 menit atau lebih.
2.4 Kromatografi
Kromatografi adalah suatu metode pemisahan berdasarkan proses migrasi
dari komponen-komponen senyawa di antara dua fase yaitu fase diam (dapat
berupa zat cair atau zat padat) dan fase gerak (dapat berupa gas atau zat cair). Fase
gerak membawa zat terlarut melalui media sehingga terpisah dari zat terlarut
29
Universitas Sumatera Utara
lainnya yang terelusi lebih awal atau lebih akhir. Umumnya zat terlarut dibawa
melewati media pemisah oleh aliran suatu pelarut berbentuk cairan atau gas yang
disebut eluen. Fase diam dapat bertindak melarutkan zat terlarut sehingga terjadi
partisi antara fase diam dan fase gerak. Dalam proses ini suatu lapisan cairan pada
penyangga yang inert berfungsi sebagai fase diam (Ditjen POM RI, 1995).
Cara-cara kromatografi dapat digolongkan sesuai dengan sifat-sifat dari
fase diam, yang dapat berupa zat padat atau zat cair. Jika fase diam berupa zat
padat maka cara tersebut dikenal sebagai kromatografi serapan, jika berupa zat
cair dikenal sebagai kromatografi partisi (Ditjen POM RI, 1995; Sastrohamidjojo,
1985).
Pemisahan dan pemurnian kandungan kimia tumbuhan terutama dilakukan
dengan menggunakan salah satu dari lima teknik kromatografi atau gabungan
teknik tersebut. Kelima teknik kromatografi itu adalah: kromatografi kolom (KK),
kromatografi kertas (KKt), kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi gas cair
(KGC), dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Pemilihan teknik
kromatografi sebagian bergantung pada sifat kelarutan dan keatsirian senyawa
yang akan dipisah (Harborne, 1984).
2.4.1 Kromatografi lapis tipis
Kromatografi lapis tipis ialah metode pemisahan fisikokimia. Lapisan
pemisah terdiri atas bahan berbutir-butir (fase diam), ditempatkan pada penyangga
berupa plat gelas, logam atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah
berupa larutan yang di totolkan baik berupa bercak ataupun pita. Plat atau lapisan
dimasukkan ke dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang
cocok (fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan)
(Stahl, 1973). Fase gerak akan bergerak sepanjang fase diam karena pengaruh
30
Universitas Sumatera Utara
kapiler pada pengembangan secara menaik (ascending) atau karena pengaruh
gravitasi pada pengembangan secara menurun (descending) (Gandjar dan
Rohman, 2007).
Pendeteksian bercak hasil pemisahan dapat dilakukan dengan beberapa
cara, untuk senyawa tak berwarna cara yang paling sederhana adalah dilakukan
pengamatan dengan sinar ultraviolet (Stahl, 1973). Beberapa senyawa organik
berfluorosensi jika disinari dengan sinar ultraviolet gelombang pendek (254 nm)
atau gelombang panjang (366 nm), jika dengan cara itu senyawa tidak dapat
dideteksi maka harus dicoba disemprot dengan pereaksi yang perlu membuat
bercak tersebut tampak yaitu pertama tanpa pemanasan, kemudian bila perlu
dengan pemanasan (Gritter, dkk., 1985).
a. Fase diam (lapisan penyerap)
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan kromatografi adsorbsi dan adsorben
bertindak sebagai fase diam (penyerap).Fase diam yang digunakan memiliki dua
sifat penting yang harus diperhatikan yaitu besar partikel dan homogenitasnya.
Besar partikel yang biasa digunakan adalah 1 – 25 mikron.Partikel dengan butiran
yang kasar tidak akan memberikan hasil pemisahan yang memuaskan
(Sastrohamidjojo, 1985).
Fase diam yang umum digunakan dalam KLT ada empat, yaitu: silika gel,
alumina, kieselguhr, dan selulosa. Pada kromatografi lapis tipis lapisan fase diam
harus sesedikit mungkin mengandung air, karena air akan menempati semua titik
penyerapan sehingga tidak ada noda senyawa yang melekat. Sebelum digunakan
plat kromatografi lapis tipis perlu diaktifkan dengan pemanasan pada 110oC
selama 30 menit (Gritter, dkk., 1985; Stahl, 1973)
31
Universitas Sumatera Utara
1. Silika gel
Silika gel merupakan fase diam yang paling sering digunakan dalam KLT.
Ada beberapa jenis silika gel yang dapat digunakan, yaitu: silika gel G, silika gel
H dan silika gel PF (Adnan, 1997).
2. Alumina
Penggunaan alumina dalam KLT tidak sesering silikagel. Alumina dapat
digunakan dalam memisahkan bermacam-macam senyawa seperti terpena,
alkaloid, steroid dan senyawa-senyawa alisiklik, alifatik, serta aromatik. Sebagai
fase diam, alumina tidak mengandung zat perekat, mempunyai sifat sedikit alkalis
dan dapat digunakan baik tanpa maupun dengan aktivasi (Adnan, 1997).
3. Kieselguhr dan selulosa
Kieselguhr dan selulosa merupakan bahan penyangga yang berbeda
penggunaannya dari silika gel dan alumina karena fase diam ini digunakan dalam
memisahkan senyawa polar seperti asam amino, karbohidrat, nukleotida (Gritter,
dkk., 1985).
b. Fase gerak (Pelarut pengembang)
Fase gerak ialah medium angkut yang terdiri atas satu atau beberapa
pelarut, jika diperlukan sistem pelarut multi komponen, harus berupa suatu
campuran sesederhana mungkin yang terdiri atas maksimum tiga komponen
(Stahl, 1973). Pemisahan senyawa organik selalu menggunakan pelarut campur
yang bertujuan untuk memperoleh pemisahan senyawa yang baik. Kombinasi
pelarut adalah berdasarkan atas polaritas masing-masing pelarut, sehingga dengan
demikian akan diperoleh sistem pengembang yang cocok. Pelarut pengembang
yang digunakan dalam kromatografi lapis tipis antara lain: n-heksana,
32
Universitas Sumatera Utara
karbontetraklorida, benzen, kloroform, eter, etilasetat, piridian, aseton, etanol,
metanol dan air (Gritter, dkk., 1985).
c. Harga Rf
Mengidentifikasi noda-noda dalam kromatografi lapis tipis sangat lazim
menggunakan harga Rf (Retardation Factor) mulai dari 0 sampai 1.
Rf = jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik penotolan
jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik penotolan
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf yaitu struktur kimia dari
senyawa yang dipisahkan, sifat penjerap, tebal dan kerataan dari lapisan penjerap,
pelarut dan derajat kemurniannya, derajat kejenuhan uap pengembang dalam
bejana, teknik percobaan, jumlah cuplikan yang digunakan, suhu dan
kesetimbangan (Sastrohamidjojo, 1985).
2.4.2 Kromatografi lapis tipis preparatif
Kromatografi lapis tipis (KLT) preparatif merupakan salah satu metode
pemisahan dengan menggunakan peralatan sederhana. Ketebalan penjerap yang
sering dipakai adalah 0,5-2 mm. Plat kromatografi biasanya berukuran 20 x 20
cm. Pembatasan ketebalan lapisan dan ukuran plat sudah tentu mengurangi jumlah
bahan yang dapat dipisahkan dengan KLT preparatif. Penjerap yang paling umum
digunakan adalah silika gel. Penotolan cuplikan dilakukan dengan melarutkan
cuplikan dalam sedikit pelarut. Cuplikan ditotolkan berupa pita dengan jarak
sesempit mungkin karena pemisahan tergantung pada lebar pita. Penotolan dapat
dilakukan dengan pipet tetapi lebih baik dengan penotol otomatis. Pengembangan
plat KLT preparatif dilakukan dalam bejana kaca yang dapat menampung
beberapa plat. Bejana dijaga tetap jenuh dengan pelarut pengembang dengan
33
Universitas Sumatera Utara
bantuan kertas saring yang diletakkan berdiri disekeliling permukaan bagian
dalam bejana (Hostettmann, dkk., 1986).
2.4.3 Kromatografi lapis tipis dua arah
KLT dua arah atau KLT dua dimensi ini bertujuan untuk meningkatkan
resolusi sampel ketika komponen-komponen solut mempunyai karakteristik kimia
yang hampir sama, karena nilai Rf juga hampir sama, selain itu dua sistem fase
gerak yang sangat berbeda dapat digunakan secara berurutan pada suatu campuran
tertentu sehingga memungkinkan untuk melakukan pemisahan analit yang
mempunyai tingkat polaritas yang hampir sama (Rohman, 2009). KLT dua arah
dilakukan dengan melakukan penotolan sampel disalah satu sudut lapisan
lempeng tipis dan mengembangkannya sebagaimana biasa dengan eluen pertama.
Lempeng kromatografi selanjutnya dipindahkan dari chamber yang menggunakan
eluen kedua sehingga pengembangan dapat terjadi pada arah kedua yang tegak
lurus dengan arah pengembangan yang pertama. Suksesnya pemisahan tergantung
pada kemampuan untuk memodifikasi selektifitas eluen kedua dibandingkan
dengan selektifitas eluen pertama (Rohman, 2009).
2.5 Spektrofotometri
2.5.1 Spektrofotometri sinar ultraviolet (UV)
Spektrum ultraviolet adalah suatu gambaran yang menyatakan hubungan
antara panjang gelombang atau frekuensi sinar UV terhadap intensitas serapan
(absorbansi). Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm.
Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet tergantung pada
struktur elektronik dari molekul yang bersangkutan (Sastrohamidjojo, 1985).
34
Universitas Sumatera Utara
Suatu atom atau molekul menyerap sinar UV maka energi tersebut akan
menyebabkan tereksitasinya elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang
lebih tinggi. Tipe eksitasi tergantung panjang gelombang cahaya yang diserap.
Gugus kromofor disebut juga gugus yang dapat mengabsorpsi cahaya
(Dachriyanus, 2004).
Menurut
Dachriyanus
(2004)
beberapa
kegunaan
penggunaan
spektrofotometri ultraviolet adalah :
1.Menentukan jenis kromofor, ikatan rangkap yang terkonjugasi dan auksokrom
dari senyawa organik,
2.Menjelaskan informasi dari struktur berdasarkan panjang gelombang maksimum
suatu senyawa,
3.Analisis kuantitatif senyawa organik menggunakan hokum Lambert-Beer
2.5.2 Spektrofotometri infra merah (IR)
Spektra inframerah mengandung banyak serapan yang dihubungkan
dengan sistem vibrasi yang berinteraksi dalam molekul dan karena mempunyai
karakteristik yang unik untuk setiap molekul maka dalam spektrum memberikan
pita-pita serapan yang karakteristik juga (Sastrohamidjojo, 1985).
Spektrofotometer
inframerah
pada
umumnya
digunakan
untuk
menentukan gugus fungsi yang tedapat dalam suatu senyawa organik dan untuk
mengetahui
informasi tentang
struktur
suatu
senyawa organik
dengan
membandingkan daerah sidik jarinya. Daerah spektra inframerah dibagi dalam
tiga kisaran yaitu IR dekat (12500-4000 cm-1), IR tengah (4000-400 cm-1) dan IR
jauh (400-10 cm-1) (Gandjar dan Rohman, 2012). Daerah IR tengah merupakan
daerah yang digunakan untuk penentuan gugus fungsi (Dachriyanus, 2004).
35
Universitas Sumatera Utara
Jenis absorpsi energi yang lain, molekul-molekul dieksitasikan ke tingkat
energi yang lebih tinggi ketika molekul-molekul ini menyerap radiasi inframerah.
Hanya frekuensi (energi) tertentu dari radiasi inframerah yang dapat diserap oleh
suatu molekul, agar molekul dapat menyerap radiasi infrared, maka molekul
tersebut harus mempunyai gambaran spesifik, yakni momen dipol molekul harus
berubah selama vibrasi (Gandjar dan Rohman, 2012).
Terdapat dua macam getaran molekul, yaitu getaran ulur dan getaran
tekuk. Getaran ulur adalah suatu gerakan berirama di sepanjang sumbu ikatan
sehingga jarak antar atom bertambah atau berkurang. Getaran tekuk dapat terjadi
karena perubahan sudut-sudut ikatan antara pada sebuah atom, atau karena
gerakan sebuah gugusan atom terhadap sisa molekul tanpa gerakan nisbi atomatom di dalam gugusan (Silverstein, dkk., 1981).
Identifikasi setiap absorbsi ikatan yang khas dari setiap gugus fungsi
merupakan basis dari interpretasi spektrum inframerah. Ada beberapa syarat yang
harus dipenuhi dalam menginterpretasikan spektrum, yaitu:
1. Spektrum harus tajam dan jelas serta memiliki intensitas yang tepat
2. Spektrum harus berasal dari senyawa yang murni
3. Spektrofotometer harus dikalibrasi sehingga akan menghasilkan pita atau
serapan pada bilangan gelombang yang tepat
4. Metode penyiapan sampel harus dinyatakan jika digunakan pelarut, maka jenis
pelarut, konsentrasi dan tebal sel harus diketahui (Dachriyanus, 2004).
36
Universitas Sumatera Utara
Download