VISI (2008) 16 (3) 680- 696 HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN PENALARAN MORAL PADA REMAJA AKHIR SUATU STUDI MENGENAI RELIGIUSITAS DAN PENALARAN MORAL SERTA HUBUNGANNYA PADA MAHASISWA KRISTEN PROTESTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN USIA REMAJA AKHIR Asina Christina Rosito Pasaribu ABSTRACT The main purpose of this research is to know the correlation between religiousity and moral reasoning at late adolescence (19-22 year old). The other purposes of this research are to receive the description about the religiousity and the moral reasoning in adolescence. Both of this variable are the significant components in adolescence’s cognitive and social development. The research participant are the college student of Padjadjaran University, with religion background is Christianity. By snow-ball sampling, subjects are 64 college students. The measurement tools are questionarre that uses for measuring the religiousity and the moral reasoning. The religiousity questionarre developed by used the dimensions of religiousity from Glock & Stark (1965). Defining Issues Test (DIT), that developed by James Rest (1974) based on the moral reasoning development theory from Lawrence Kohlberg, used for measuring the moral reasoning. The result shows that there is no correlation between the religiousity and the moral reasoning. Most of the subjects are in high level of religiousity. Most of them are categorize in low level of P score (as the relative importance a subject gives to principled moral consideration in making a decision about moral dilemmas). Based on the level of moral reasoning, they are distributed ini pre-conventional level (8 subjects), conventional (20 subjects), post-conventional (26 subjects). This research need to be continued with larger subjects and various religion background. This is suggested to develop the circumstances that increase the moral reasoning in educational and religion institution. ----------Keyword : religiousity, moral reasoning 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar, melihat ataupun bertemu langsung dengan perilaku-perilaku anggota masyarakat Indonesia yang menunjukkan sedang terjadinya degradasi moral pada bangsa ini. Moralitas secara umum dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan berhubungan dengan perilaku yang boleh atau tidak boleh dilakukan. Moralitas tidak semata-mata berhubungan dengan perilaku yang terlihat ataupun yang dapat diketahui dari berita (misalnya berita-berita kriminal), akan tetapi lebih dalam dari sekedar perilaku yang tampak tersebut. Dalam menilai suatu perilaku boleh atau tidak boleh dilakukan, pertimbangan atau pemikiran yang mendasari terjadinya penilaian moral itu merupakan hal yang patut untuk 680 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 diperhatikan. Perilaku moral, yang merupakan hasil dari penilaian moral seseorang, dapat ditampilkan dalam bentuk yang sama namun alasan atau dasar pemikiran yang melatarbelakangi dilakukannya perilaku moral itu bisa berbeda. Hal inilah yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg (1995) sebagai penalaran moral yaitu alasan-alasan atau pertimbangan-pertimbangan dalam menilai mengapa suatu tindakan itu boleh atau tidak boleh dilakukan. Perkembangan dalam aspek moral sangat penting untuk diperhatikan terutama pada masa remaja. Aspek ini merupakan kebutuhan penting bagi remaja, terutama sebagai pedoman menemukan identitas dirinya, mengembangkan hubungan personal yang harmonis dan menghindari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi (Desmita, 2005). Dalam perkembangan aspek moral, penalaran moral merupakan indikator utama. Hal ini disebabkan oleh karena perilaku yang ditampilkan bisa sama sementara alasan atau pertimbangan yang mendasarinya dapat berbeda sesuai dengan perkembangan penalaran moralnya. Misalnya, seorang remaja tidak membolos dari sekolah dengan alasan bahwa hal itu dilarang oleh sekolah. Remaja lain memilih untuk tidak membolos dari sekolah karena dia menganggap bahwa dengan membolos akan membuat sedih orang tua yang telah menyekolahkan. Remaja yang lain lagi memilih untuk tidak membolos karena hal itu dapat menyebabkan dirinya dianggap sebagai anak yang nakal oleh pihak sekolah maupun oleh teman-temannya. Perbedaan alasan tersebut menunjukkan tahap perkembangan penalaran moral yang berbeda antara remaja yang satu dengan yang lain. Menurut Lawrence Kohlberg (1995), tahapan perkembangan penalaran moral terjadi dalam 3 tingkatan (dimana masing-masing tingkatan terdiri dari 2 tahap sehingga seluruhnya ada 6 tahap). Mengacu pada tahapan perkembangan penalaran moral ini, idealnya penalaran moral remaja sudah mencapai tahap 5. Remaja yang telah mencapai tahap ini dalam perkembangan penalaran moralnya, tidak mudah terbawa arus mengikuti apa yang dianggap baik dan buruk oleh masyarakat dan dalam pertimbangannya akan mengutamakan kesejahteraan bagi banyak orang. Salah satu kelompok masyarakat yang berada pada tahap perkembangan remaja akhir adalah mahasiswa. Dalam kehidupan kampus, mahasiswa tidak terlepas dari situasi-situasi yang menuntutnya untuk memutuskan suatu penilaian atau pendapat moral, yaitu yang berhubungan dengan boleh atau tidak boleh suatu perilaku tertentu dilakukan. Terdapat beberapa fenomena yang dapat dikatakan terkait dengan penilaian moral antara lain perilaku mencontek waktu ujian, menandatangani absensi teman yang tidak hadir, membolos, ikut tawuran, dan lainlain. Bila ditelusuri lebih lanjut, ada mahasiswa yang melakukannya, ada juga yang tidak melakukannya. Hal ini menjadi menarik ketika mengetahui apa alasan dibalik setiap perilaku tersebut dimana tentunya ada penilaian tertentu mengapa perilaku tersebut boleh atau tidak boleh dilakukan. Untuk mendapatkan data awal maka dilakukan wawancara awal dengan melibatkan beberapa mahasiswa Universitas Padjadjaran di Jatinangor yang berasal dari berbagai jurusan, fakultas dan berbagai angkatan. Dalam wawancara tersebut, ditanyakan bagaimana pendapat mereka mengenai perilaku mencontek waktu ujian. Dari hasil wawancara 681 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 tersebut diketahui bahwa semua responden mengatakan tidak setuju dengan perilaku mencontek waktu ujian. Dengan kata lain, menurut mereka perilaku itu adalah salah dan seharusnya tidak dilakukan. Seorang mahasiswa mengatakan bahwa perilaku mencontek waktu ujian memberikan dampak yang merugikan bagi orang lain (mahasiswa lain) dan menurutnya hal itu tidak adil. Hal yang menarik dari hasil wawancara di atas adalah bahwa dalam mengemukakan alasan atau pertimbangan tersebut, mereka mengacu pada ajaran agama yang mereka anut, salah satunya adalah mengenai tidak jujur atau berbohong. Ketika ditanyakan lebih lanjut bagaimana peran agama yang mereka anut dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar mengatakan bahwa agama mengajarkan banyak hal dalam hidup mereka. Beberapa diantaranya adalah bahwa agama berperan dalam mengajarkan bagaimana berelasi dengan sesama, mengajari mana yang salah dan yang benar, mempengaruhi pola pikir dalam menyikapi suatu hal atau peristiwa, memotivasi dalam pengembangan diri dan sebagai cara pandang hidup. Pemaparan di atas menunjukkan bagaimana mereka menghayati ajaranajaran agama yang mereka pelajari dan berupaya mengaplikasikan dalam hidup sehari-hari termasuk di dalamnya ketika memberikan alasan atau pertimbangan mengapa suatu perilaku tertentu dinilai boleh atau tidak boleh dilakukan. Penghayatan dan pemahaman pribadi akan ajaran agama yang dianut, menunjukkan kualitas keberagamaan atau religiusitas seseorang. Ancok (1994 dalam Theresiawati ; Jurnal Insan, 2003, Vol.5, No.3) menyebut istilah religiusitas dengan istilah keberagamaan yang diwujudkan dalam berbagai kehidupan manusia, baik itu menyangkut perilaku ritual (beribadah) atau aktivitas lain dalam kehidupannya (yang diwarnai dengan nuansa keagamaan) baik yang tampak dan dapat dilihat oleh mata atau yang tidak tampak (terjadi di dalam hati manusia). Dengan demikian, religiusitas menunjuk pada kualitas keadaan individu dalam memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur dan aturan-aturan agama yang dianutnya dalam kehidupannya sehari-hari yang menunjukkan ketaatan individu terhadap agamanya (Theresiawati, dalam Jurnal Insan, 2003, Vol.5, No.3). Dari pemaparan akan hasil wawancara di atas, peneliti menemukan indikasi adanya hubungan antara religiusitas individu dengan penalaran moralnya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang mendorong peneliti untuk menelitinya, selain dikarenakan masih minimnya penelitian mengenai religiusitas dalam hubungannya dengan penalaran moral di Indonesia. 1.2. Identifikasi Masalah Beberapa pertanyaan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini yaitu : 1. Bagaimanakah gambaran religiusitas pada remaja akhir? 2. Bagaimanakah gambaran penalaran moral pada remaja akhir? 3. Apakah terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran moral pada remaja akhir? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah : 682 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 1. Memperoleh gambaran mengenai religiusitas dan penalaran moral pada remaja akhir 2. Mengetahui apakah terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran moral. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Religiusitas Religiusitas adalah kualitas keadaan individu dalam memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur dan aturan-aturan agama yang dianutnya dalam kehidupannya sehari-hari yang menunjukkan ketaatan individu terhadap agamanya. (Theresiawati, dalam Jurnal Insan, 2003, Vol.5, No.3). Terdapat lima (5) dimensi dalam religiusitas : 1. Religious Knowledge (The Intelectual Dimension) : Dimensi ini berkaitan dengan pengetahuan atau informasi-informasi yang diperoleh seseorang berkaitan dengan dasar-dasar imannya. Dimensi ini dan dimensi ideologi berkorelasi karena pengetahuan akan kepercayaan adalah kondisi yang penting dan harus untuk penerimaannya. 2. Religious Practise (The Ritualistic Dimension) : Dimensi ini berkaitan dengan perilaku seseorang dalam menyatakan kepercayaannya terhadap agama tertentu. Perilaku yang dimaksudkan disini mengacu pada perilaku-perilaku khusus yang ditetapkan oleh agama seperti keanggotaan di gereja, frekuensi kehadiran, tata cara ibadah, pembaptisan, pengakuan dosa, berpuasa atau menjalankan ritual-ritual tertentu pada hari tertentu. 3. Religious Feeling (The Experiental Dimension) : Dimensi ini berkaitan dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama. Psikologi menamainya religious experience. Setiap agama mengharapkan bahwa setiap penganut agama mengalami langsung pengalaman bersama Ilahi yang melibatkan emosi, termasuk didalamnya adalah perasaan, persepsi, dan sensasi-sensasi yang dirasakan saat mengalami suatu “komunikasi” dengan Ilahi, berapapun tingkatannya. 4. Religious Belief (The Ideological Dimension) :Dimensi ini berkaitan dengan apa yang dipercayai seseorang sebagai suatu kebenaran yang berkaitan dengan agama yang dianutnya. Hal inilah yang membedakan satu agama dengan agama yang lainnya. Isi (content) dan ruang lingkupnya (scope) berbeda-beda pada tiap agama dan dapat didekati dari perspektif doktrin agama. 5. Religious Effects (The Consequential Dimension) : Dimensi ini berkaitan dengan efek dari keempat dimensi yang lain termasuk di dalamnya adalah bagaimana agama yang diyakini, secara langsung maupun tak langsung, menjadi petunjuk dalam bertingkah laku atau bersikap dalam kehidupan seharihari individu baik dalam kehidupan personal maupun dalam kehidupan sosialnya. Hal ini merupakan konsekuensi atau efek dari apa yang individu percaya dan yakini. Efek agama ini boleh jadi positif atau negatif ; pada tingkat personal dan sosial. 683 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 2.2. Tahap-tahap Penalaran Moral Berikut ini akan dipaparkan secara sederhana mengenai tingkat dan tahapan penalaran moral. Tabel 2.1. Tingkat dan Tahapan Penalaran Moral Tingkat 1. Prakonvensional Moralitas Pada level ini anak mengenal moralitas berdasarkan dampak yang ditimbukan oleh suatu perbuatan, yaitu menyenangkan (hadiah) atau menyakitkan (hukuman). Anak tidak melanggar aturan karena takut akan ancaman hukuman dari otoritas 2. Konvensional Suatu perbuatan dinilai baik oleh anak apabila mematuhi harapan otoritas atau kelompok sebayanya 3. Pasca-Konvensional Pada level ini aturan dan institusi dari masyarakat tidak dipandang sebagai tujuan akhir, tetapi diperlukan sebagai subjek. Anak menaati aturan untuk menghindari hukuman kata hati Tahap 1. Orientasi kepatuhan dan Hukuman Pemahaman anak tentang baik dan buruk ditentukan oleh otoritas. Kepatuhan terhadap aturan adalah untuk menghindari hukuman dari otoritas 2. Orientasi hedonistik-Instrumental Suatu perbuatan dinilai baik apabila berfungsi sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan atau kepuasan diri 3. Orientasi anak yang baik Tindakan berorientasi pada orang lain. Suatu perbuatan dinilai baik apabila menyenangkan bagi orang lain 4. Orientasi keteraturan dan otoritas Perilaku yang dinilai baik adalah menunaikan kewajiban, menghormati otoritas, dan memelihara ketertiban sosial 5. Orientasi kontrol sosial-legalistik Ada semacam perjanjian antara dirinya dan lingkungan sosial. Perbuatan dinilai baik apabila sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. 6. Orientasi kata hati Kebenaran ditentukan oleh kata hati, sesuai dengan prinsip-prinsip etika universal yang bersifat abstrak dan penghormatan terhadap martabat manusia (Desmita, 2005) Dari hasil penelitian Kohlberg, diketahui bahwa kebanyakan individu tidak mencapai tahap tertinggi dalam perkembangan moral yaitu tahap 6. Kenyataannya, kebanyakan juga jarang mencapai tahap pertama dalam tingkat postconventioanal, yaitu tahap 5. Fiksasi dalam tahap moral dapat terjadi dengan berbagai alasan, yang utama di antaranya adalah : 1. Perkembangan kemampuan berpikir logis umum yang tidak mencukupi 2. Lingkungan sosial yang tidak memberikan kesempatan role taking yang cukup yang dapat meningkatkan kemampuan untuk memperoleh sudut pandang dari orang lain. 3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Identifikasi Variabel Penelitian 684 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 Variabel Bebas : Religiusitas Variabel Tergantung : Penalaran Moral 3.2.Defenisi Operasional 1. Religiusitas adalah pemahaman dan penghayatan individu mengenai ajaran agama yang dianutnya serta pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari, yang merefleksikan ketaatan individu dalam beragama yang tergambar dalam dimensi-dimensi berikut : Religious Knowledge (The Intelectual Dimension) yaitu sejauh mana pengetahuan individu mengenai ajaran-ajaran agamanya ; Religious Practise (The Ritualistic Dimension) yaitu sejauh mana keterlibatan individu dalam ritual-ritual keagamaan yang dituntut darinya untuk dilakukan dalam menujukkan kepercayaannya pada agamanya ; Religious Feeling (The Experiental Dimension) yaitu sejauh mana pengalaman-pengalaman/perasaanperasaan keagamaan yang dirasakan individu dalam relasinya dengan Tuhan ; Religious Belief (The Ideological Dimension) yaitu sejauh mana individu mempercayai hal-hal mendasar/esensial dalam ajaran agamanya ; Religious Effects (The Consequential Dimension) yaitu sejauh mana perilaku individu sehari-hari selaras dengan ajaran-ajaran agamanya. 2. Penalaran moral adalah nilai dari P, yaitu seberapa penting secara relatif nilai yang diberikan Subyek terhadap pemikiran berdasarkan prinsip moral dalam membuat keputusan mengenai dilema moral yaitu dalam menilai mengapa suatu tingkah laku tertentu boleh atau tidak boleh untuk dilakukan. 3.3. Partisipan Penelitian Partisipan penelitian yang terlibat dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Kristen Protestan Universitas Padjadjaran Jatinangor dengan karakteristik : pria dan wanita berusia 19-22 tahun (usia remaja akhir). Partisipan penelitian diperoleh dengan menggunakan teknik penarikan sampel pola bola salju (snow ball). Jumlah partisipan penelitian sebanyak 64 orang. 3.4. Metode Pengumpulan Data Alat ukur untuk mengukur religiusitas berupa kuesioner yang disusun berdasarkan dimensi-dimensi dari Religiusitas sesuai dengan yang diutarakan oleh Glock & Stark (1995). Alat ukur yang digunakan dalam mengukur tahap moral seseorang dalam penelitian ini merupakan alat ukur yang dibuat oleh James Rest (1979) yang disusun berdasarkan teori perkembangan Penalaran Moral dari Lawrence Kohlberg. Alat ukur ini sering disebut sebagai DIT (Defining Issue Test). Alat ukur ini terdiri atas tiga buah cerita pendek yang mengilustrasikan suatu kondisi dilema moral. Setiap cerita akan diikuti dengan 12 pertanyaan pertimbangan yang berkaitan dengan cerita tersebut dimana setiap item mewakili tahap moral judgement atau moral reasoning (penalaran moral) sesuai dengan tahapan moral dari Kohlberg. Kedua belas pertanyaan ini harus ditentukan skala kepentingannya. Untuk setiap pertanyaan diberikan lima pilihan pertimbangan yaitu : sangat penting, penting, agak penting, kurang penting dan tidak penting. 685 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 Setelah itu, partisipan penelitian diminta untuk menentukan empat pertanyaan yang paling penting dengan menetapkan pertanyaan yang paling penting pertama sampai dengan pertanyaan yang paling penting keempat. 3.5. Validitas dan Reabilitas Alat Ukur Dari hasil analisis reliabilitas dalam tahap uji coba alat ukur religiusitas diperoleh = 0.8910 (sebelum analisis item). Setelah dilakukan analisis item maka diperoleh = 0.9007, dimana nilai ini berada pada ketegori tinggi (menurut kriteria Guilford). Maka alat ukur ini dapat diandalkan. Validasi alat ukur secara keseluruhan diperoleh dengan melibatkan seorang yang ahli dalam bidang agama, dimana dalam penyusunan kisi-kisi alat ukur dari dimensi-dimensi sampai dengan item-item dalam alat ukur ini melibatkan seorang ahli agama yang latar belakangnya sesuai dengan agama partisipan penelitian. Analisis item dilakukan untuk mengatahui mana item yang baik dan mana item yang buruk. Setelah dilakukan analisis item terhadap data uji coba alat ukur, diperoleh 88 item yang baik dan kemudian digunakan dalam tahap pengambilan data sesungguhnya. Setelah data penelitian diperoleh, dilakukan kembali analisis terhadap setiap item dan diperoleh 63 item yang baik. Alat ukur penalaran moral memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,78 sementara nilai validitasnya adalah 0,67. Hal ini merujuk para hasil penelitian Menanti dalam Dwita (2006). 3.6. Metode Analisa Data Metode analisa yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif dan analisis korelasi. sebagai teknik pengolahan yang utama. Teknik analisis korelasi yang digunakan adalah The Spearman Rank Order Coefficient Corelations (Koefisien Korelasi Spearman) dengan menggunakan bantuan program Statistical Packages for Social Science (SPSS) versi 10.0 for windows. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. HASIL PENELITIAN 4.1.1. Gambaran Umum Religiusitas Tabel 4.1. Gambaran Umum Religiusitas Partisipan Penelitian Berdasarkan Kategori Kategori Jumlah Persentase Sangat tinggi Tinggi Rendah Sangat rendah 23 40 1 0 35.9 % 62.5 % 1.6 % 0 4.1.2. Gambaran Tiap-Tiap Dimensi Dalam Religiusitas a. Religious Knowledge 686 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 Tabel 4.2 Gambaran Dimensi Religious Knowledge Berdasarkan Kategori Kategori Jumlah Persentase Sangat tinggi 13 20.3 % Tinggi 37 57.8 % Rendah 10 15.6 % Sangat rendah 4 6.3 % b. Religious Practise Tabel 4.3 Gambaran Dimensi Religious Practise Berdasarkan Kategori Kategori Jumlah Persentase Sangat tinggi 6 9.4 % Tinggi 34 53.1 % Rendah 19 29.7 % Sangat rendah 5 7.8 % c. Religious Feeling Tabel 4.4 Gambaran Dimensi Religious Feeling Berdasarkan Kategori Kategori Jumlah Persentase Sangat tinggi 23 35.9 % Tinggi 38 59.4 % Rendah 3 4.7 % Sangat rendah 0 0 d. Religious Belief Tabel 4.5 Gambaran Dimensi Religious Belief Berdasarkan Kategori Kategori Jumlah Persentase Sangat tinggi 63 98.4 % Tinggi 1 1.6 % Rendah 0 0 Sangat rendah 0 0 e. Religious Effects Tabel 4.6 Gambaran Dimensi Religious Effects Berdasarkan Kategori Kategori Jumlah Persentase Sangat tinggi 3 4.7 % Tinggi 27 42.2 % Rendah 31 48.4 % Sangat rendah 3 4.7 % Dari keseluruhan pemaparan pada bagian ini, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar partisipan penelitian berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi dalam skor religiusitas secara keseluruhan. Demikian juga dalam skor setiap dimensi kecuali dimensi efek keagamaan (Religious Effects) dimana pada dimensi ini separuh partisipan penelitian berada pada ketegori tinggi dan sangat tinggi dan separuh lagi berada pada kategori rendah dan sangat rendah. 687 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 4.1.3. Gambaran mengenai Penalaran Moral Tabel 4.7. Tabel 4.8. Gambaran Penalaran Kategori Nilai P Kategori Sangat tinggi Tinggi Rendah Sangat rendah Moral Partisipan Jumlah 0 4 37 23 Gambaran Penalaran Moral Tahapan Penalaran Moral Tahap Penalaran Moral Penelitian Berdasarkan Persentase 0 6.3 57.8 35.9 Partisipan Penelitian Berdasarkan Jumlah Persentase Meaningless 5 7,8 Mixed 5 7,8 Tingkat Preconventional Tahap 2 8 12,5 Tingkat Conventional Tahap 3 6 9,4 Tahap 4 7 10,9 Anti-establishment 7 10,9 Tahap 5A 8 12,5 Tahap 5B 8 12,5 Tahap 6 10 15,6 Total 64 100 Tingkat Postconventional Table 4.9 Rekapitulasi Penalaran Moral Berdasarkan Nilai P dan Tahapan Penalaran Moral Penalaran Moral (Nilai P) Sangat tinggi f % Tinggi Rendah f % f % Sangat rendah f % Meaningless - - - - - - 5 21.7 Mixed - - - - 3 8.1 2 8.7 Tahap 2 - - 1 25 2 5.4 5 21.7 Tahap 3 - - - - 4 10.8 2 8.7 Tahap 4 - - - - 2 5.4 5 21.7 Anti-Establishment - - - - 4 10.8 3 13 Tahap 5A - - 2 50 6 16.2 - - Tahap 5B - - 1 25 6 16.2 1 4.3 Tahap 6 - - - - 10 27 - - Total - - 4 100 37 100 23 100 Tahap Penalaran Moral Tingkat Preconventional Tingkat Conventional Tingkat Postconventional 688 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 4.1.4. Gambaran mengenai Religiusitas dengan Penalaran Moral 4.1.4.1. Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian Hipotesis Penelitian : “Terdapat hubungan antara Religiusitas dengan Penalaran Moral.” Hipotesis Statistik yang akan diuji adalah : H0 : rs = 0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Religiusitas dengan Penalaran Moral H1 : rs 0 : Terdapat hubungan yang signifikan antara Religiusitas dengan Penalaran Moral Dari perhitungan korelasi diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar : - 0,016. Kemudian terhadap hasil tersebut dilakukan uji signifikansi dengan uji t. Dari hasil perhitungan diperoleh nilai t sebesar : 1,276. Sementara t tabel dengan taraf kepercayaan 95 % dan df = N-2 adalah = 2.00 . Karena t hitung t tabel, maka H0 diterima atau H1 ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Religiusitas dengan Penalaran Moral. 4.1.4.2. Gambaran Mengenai Kaitan antara Religiusitas Dengan Penalaran Moral (berdasarkan Nilai P) Tabel 4.10 Gambaran Religiusitas Dengan Penalaran Moral (Berdasarkan Nilai P) Penalaran Moral (Nilai P) Religiusitas Sangat tinggi Tinggi Rendah Sangat rendah Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah % Sangat tinggi - - 2 8.7% 15 65.2 6 26.1 Tinggi - - 2 5% 21 52.5 17 42.5 Rendah - - - - 1 100 - - Sangat rendah - - - - - - - - Dari tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar partisipan penelitian dengan religiusitas yang tergolong tinggi dan sangat tinggi ternyata termasuk dalam kategori penalaran moral yang rendah dan sangat rendah. Pemaparan di atas mendukung hasil dari analisis korelasi antara religiusitas dengan penalaran moral yang menyatakan tidak ada korelasi diantara keduanya. Tinggi rendahnya kualitas religiusitas individu, tidak berkaitan dengan tinggi rendahnya penalaran moral yang dimiliki. 689 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 4.1.4.2. Gambaran Mengenai Kaitan antara Religiusitas Dengan Penalaran Moral (Berdasarkan Tahapan Penalaran Moral) Tabel 4.11. Gambaran Religiusitas Dengan Penalaran Moral (Berdasarkan Tahapan Penalaran Moral) Religiusitas f % f % f % Sangat rendah f % Meaningless - - 5 12.5 - - - - Mixed 3 13 2 5 - - - - Tahap 2 2 8.7 7 17.5 - - - - Tahap 3 3 13 3 7.5 - - - - Tahap 4 4 17.4 2 5 - - - - AntiEstablishment Tahap 5A 1 4.3 6 15 - - - - 1 4.3 7 17.5 - - - - Tahap 5B 3 13 4 10 1 100 - - Tahap 6 6 26.1 4 10 - - - - Total 23 100 40 100 1 100 - - Tahap Penalaran Moral Tingkat Preconventional Tingkat Conventional Tingkat Postconventional Sangat tinggi Tinggi Rendah Tahapan di atas menunjukkan kecenderungan partisipan penelitian untuk menggunakan perspektif yang merupakan ciri khas dari tahap dimana dia berada saat ini, bila dibandingkan dengan para partisipan penelitian yang lain. Jadi tahaptahap dimana partisipan penelitian dikelompokkan (sebagai salah satu hasil yang diperoleh dari alat ukur DIT), menunjukkan kecenderungan partisipan penelitian untuk menggunakan perspektif dalam tahap itu ketika memberi alasan atau pertimbangan dalam menilai suatu tindakan benar atau salah atau boleh atau tidak boleh dilakukan., bila dibandingkan dengan partisipan penelitian yang lain. Akan tetapi, hal ini tidak berarti partisipan penelitian akan selalu menggunakan pertimbangan pada tahap itu dalam setiap situasi dilema moral yang dihadapi. Partisipan penelitian bisa menggunakan pertimbangan pada satu tahap dibawah atau satu tahap diatas dari tahap dimana dia berada sekarang. Dari pemaparan di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar partisipan penelitian memiliki religiusitas yang tergolong tinggi dan sangat tinggi. Akan tetapi sebagian besar dari mereka masih berada pada tingkat penalaran moral yang berada dibawah tingkat postconventional. Hal ini mendukung dari hasil penelitian yang menyatakan tidak terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran moral. 690 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 4.1.5. Gambaran Mengenai Data Penunjang Data penunjang ini diperlukan dalam memperoleh gambaran lebih luas mengenai kondisi partisipan penelitian dimana data ini akan digunakan dalam membantu pembahasan mengenai hasil penelitian Data penunjang yang akan disajikan di bawah ini berhubungan dengan relasi partisipan penelitian dengan lingkungan sosial disekitarnya. Tabel 4. 12 Gambaran Keterlibatan dalam Organisasi Kerohanian di Kampus Keterlibatan Jumlah Pernah menjadi pengurus dalam organisasi kerohanian dikampus Pernah dan sedang menjadi pengurus dalam organisasi kerohanian di kampus Sedang menjadi pengurus dalam organisasi kerohanian di kampus Tidak pernah jadi pengurus dalam organisasi kerohanian di kampus tapi pernah terlibat dalam kegiatan rohani Tidak pernah terlibat sama sekali dalam kepengurusan ataupun dalam kegiatan rohani di kampus 9 18 Persentas e 14,1 28,1 25 39,1 10 15,6 2 3,1 Tabel 4.13 Gambaran Keterlibatan dalam Organisasi Non-Kerohanian di Kampus Keterlibatan Jumlah Persentase Pernah terlibat aktif dalam organisasi 12 18,7 Pernah dan sedang terlibat aktif dalam organisasi 9 14,1 Sedang terlibat aktif dalam organisasi 7 10,9 Tidak terlibat aktif dalam organisasi 36 56,2 4.2. PEMBAHASAN Gambaran mengenai religiusitas partisipan penelitian dapat disimpulkan dengan : hampir seluruh partisipan penelitian memiliki tingkat religiusitas yang tinggi dimana berdasarkan kategori skor total religiusitas sebagian besar berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi. Kesimpulan yang sama juga diperoleh ketika melihat secara spesifik dalam skor masing-masing dimensi kecuali dimensi Religious Effects dimana dalam dimensi ini, jumlah partisipan penelitian dengan nilai yang tinggi (kategori tinggi dan tinggi sekali) dan rendah (kategori rendah dan rendah sekali) hampir seimbang. Hal ini cukup menarik untuk ditelaah mengingat bahwa dimensi ini merupakan efek dari keempat dimensi yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa separuh partisipan penelitian dalam kehidupan sehari-harinya belum berlandaskan pada penghayatan akan ajaran agama yang dianut atau belum mengerti secara menyeluruh dan utuh mengenai bagaimana hidup sehari-hari yang berlandaskan pada ajaran agama. Hal ini dapat dimengerti dengan pemahaman bahwa ajaran-ajaran agama, yang disertai dengan tuntutan bagi penganut agama tersebut untuk mengikutinya, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dengan segera melainkan melalui proses yang membutuhkan waktu. Misalnya, dalam menghayati bagaimana wujud dari mengasihi sesama manusia belum tentu seseorang langsung dapat mengaplikasikannya. Hal ini mungkin disebabkan ada 691 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 pertentangan antara kepentingan orang lain dengan kepentingan diri sendiri yang dirasakan oleh individu sehingga untuk sampai pada penghayatan dan melakukan wujud dari mengasihi sesama itu membutuhkan waktu serta kesempatankesempatan bagi individu untuk bertemu dengan kondisi-kondisi yang menolongnya untuk memahami tentang mengasihi sesama. Gambaran penalaran moral partisipan penelitian baik dari nilai P dan tahapan moral yang dicapai menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan penelitian berada pada kategori yang rendah dan sangat rendah (berdasar nilai P). Berdasarkan tahap penalaran moral, terdapat 8 orang yang dalam mempertimbangkan alasan ketika membuat keputusan moral berlandaskan pada ancaman akan otoritas (tingkat pre-conventional). Dalam hal ini pihak otoritas yang dimaksud bisa orang tua, keluarga, sekolah atau universitas. Terdapat 20 orang yang dalam mempertimbangkan alasan ketika membuat keputusan moral berlandaskan pada kepentingan orang lain dan demi menjaga ketertiban sosial (tingkat conventional). Sementara terdapat 26 orang yang berada pada tingkat postconventional. dimana dalam mempertimbangkan alasan ketika membuat keputusan moral berlandaskan pada prinsip moral yang universal dan menyeluruh, dimana prinsip keadilan sudah menjadi pilihan personal. Berdasarkan pengujian statistik dengan menggunakan teknik analisis korelasi Rank Spearman, diperoleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran moral pada partisipan penelitian. Hal ini menyatakan bahwa kualitas keadaan individu dalam memahami, menghayati, ajaran agama yang dianutnya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, yang merefleksikan ketaatannya dalam beragama tidak berhubungan dengan kemampuan individu untuk memandang pentingnya pemikiran berdasarkan prinsip moral dalam membuat keputusan mengenai dilema moral. Demikian juga sebaliknya, kemampuan seseorang dalam membuat keputusan mengenai dilema moral berdasarkan prinsip moral tidak berkaitan dengan kualitas pemahaman dan pengaplikasian ajaran agama dalam hidupnya. Jalaluddin Rakhmat (2003) menyatakan bahwa agama berfungsi secara personal dalam kehidupan individu dengan memberikan makna pada peristiwa yang dihadapi atau memberikan bimbingan moral bagaimana seharusnya bertindak ditengah-tengah manusia. Beliau menambahkan, bahwa agama sebagai pengalaman personal berkaitan dengan apa yang diimani secara pribadi, bagaimana agama berfungsi dalam kehidupan individu, bagaimana pengaruh agama pada apa yang individu pikirkan, rasakan atau lakukan. Sistem nilai pribadi yang dimiliki oleh partisipan penelitian turut dibangun dalam pengenalan akan ajaran-ajaran agamanya. Sistem nilai ini akan membantu sebagai landasan berpikir dan bertingkah laku. Dengan sistem nilai yang dimiliki ini, maka seseorang dapat mengevaluasi serta menafsirkan situasi dan pengalaman. Peran dari perkembangan kognitif seseorang dalam hal ini sangat penting. Peranan sistem nilai ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari seseorang dalam relasinya dengan lingkungan sosialnya. Hal ini dikarenakan, sebagai mahluk sosial, manusia tidak dapat lepas dengan manusia lainnya. Partisipan penelitian sebagai remaja 692 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 akhir yang berstatus sebagai mahasiswa berada dalam lingkungan kampus dan masyarakat yang beragam dalam latar belakang budaya, kebiasaan, nilai dan latar belakang agama. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa sebagian besar partisipan penelitian berasal dari luar kota. Dalam lingkungan sosial yang beragam inilah sistem nilai seseorang berperan dalam membantunya untuk dapat menyesuaikan diri dan berkembang. Dalam lingkungan sosial yang beragam ini, dia akan bertemu dengan berbagai pola pikir atau pandangan yang berbeda-beda dari orang –orang disekitarnya. Individu memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain, menginterpretasikan pikiran-pikiran serta perasaan orang lain serta memandang peran serta posisi mereka pada masyarakat. Kesempatan-kesempatan untuk bertemu dengan berbagai sudut pandang ini disebut sebagai kesempatan alih peran (role taking). Alih peran ini meliputi penerimaan bahwa orang lain mempunyai pandangan mereka sendiri dan mampu memahami perbedaanperbedaan tersebut. Dalam kesempatan alih peran ini, perkembangan penalaran moral seseorang dapat terjadi ketika dia bertemu dengan sudut pandang atau pola pikir yang berbeda dari dirinya dimana sudut pandang atau pola pikirnya dibangun dari sistem nilai yang dimilikinya. Ketika menemukan perbedaan itu, akan menimbulkan ketidakseimbangan kognitif dalam dirinya yang harus dapat dia selesaikan sehingga dia dapat meningkat dalam pola pikirnya dalam memandang suatu masalah sosial. Dalam hal inilah perkembangan penalaran moral terjadi. Oleh karena itulah, adalah penting bagi seseorang untuk mengalami berbagai kesempatan alih peran (role taking) ini yang semakin beragam. Dalam kehidupan sebagai mahasiswa, kesempatan ini semakin banyak untuk diperoleh. Selain diperoleh melalui menjalin relasi dengan berbagai orang, keterlibatan dalam organisasi-organisasi dapat membantu. Data penunjang yang diperoleh dari kuesioner penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan penelitian (96,9%) terlibat dalam organisasi kerohanian di kampusnya (baik sebagai pengurus maupun tidak) dan hanya sebagian kecil yaitu 2 orang (3,1%) yang tidak pernah terlibat sama sekali. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.12. Keterlibatan ini bervariasi dalam bentuknya. Keterlibatan aktif sebagai pengurus dalam organisasi kerohanian di kampus dibagi dalam tiga bagian yaitu pernah terlibat, pernah dan sedang terlibat, sedang terlibat (baru terlibat). Keterlibatan juga tidak hanya sebagai pengurus dalam periode tertentu tetapi terlibat dalam kegiatan-kegiatan rohani seperti sebagai panitia kegiatan kerohanian tertentu, sebagai kakak pembina rohani maupun sebagai pelayan dalam ibadah. Hal yang menarik untuk dilihat adalah hampir separuh dari partisipan penelitian (43.8%), terlibat aktif dalam kegiatan organisasi nonkerohanian di kampus. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.13 dimana keterlibatan aktif juga dibagi dalam 3 yaitu pernah terlibat aktif, pernah dan sedang terlibat aktif, dan sedang terlibat aktif. Namun, lebih banyak lagi partisipan penelitian (56,2 %) yang tidak terlibat aktif dalam organisasi non-kerohanian di kampus. Ketidakterlibatan tersebut mendukung kurangnya kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dengan latar belakang, pola pikir, sudut pandang dan nilai- 693 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 nilai yang berbeda, dimana hal ini sebenarnya dapat difasilitasi oleh keterlibatan dalam organisasi lain yang beragam di kampus. Dalam hal ini peneliti tidak ingin menilai bahwa keterlibatan dalam organisasi kerohanian tidak memberikan kesempatan untuk alih peran. Peneliti melihat dari sudut pandang keragaman (variasi) yang lebih luas dalam kesempatan untuk alih peran (role taking) ketika terlibat dalam organisasi yang lain di luar organisasi kerohanian. Hal ini dapat menjadi salah satu penyebab masih rendahnya penalaran moral dari sebagian besar partisipan penelitian. Penarikan kesimpulan ini perlu penelaahan lebih lanjut melalui pengumpulan data empirik. Hal lain dalam penelitian ini yang diperkirakan juga berhubungan dengan hasil penelitian yang diperoleh adalah sebaran data yang kurang bervariasi dimana data yang diperoleh cenderung mengelompok pada kutub yang ekstrim (tinggi untuk religiusitas dan rendah untuk penalaran moral). Data mengenai religiusitas menunjukkan hampir seluruh partisipan penelitian memiliki religiusitas yang tergolong tinggi dan sangat tinggi. Hanya satu orang yang religiusitasnya tergolong rendah. Penalaran moral partisipan penelitian menujukkan hampir seluruh partisipan penelitian berada pada kategori rendah dan sangat rendah dalam penalaran moral yang berlandaskan prinsip moral. Jika dilihat dari tahapan moralnya, data cenderung menyebar dalam tiap-tiap tahap (dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi). Keterbatasan dalam sebaran data (khususnya untuk religiusitas dan penalaran moral berdasarkan nilai P ) ini menunjukkan partisipan penelitian yang cenderung homogen. 5. PENUTUP 5.1. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar partisipan penelitian memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Namun hal ini kurang dibarengi dengan penalaran moral dimana sebagian besar parisipan penelitian tergolong rendah dan sangat rendah. Hal ini berarti, bahwa dalam mempertimbangkan suatu dilema moral demi menilai boleh atau tidak boleh dilakukannya perilaku tertentu dalam menghadapi dilema moral itu, sebagian besar belum memandang penting untuk mendasarkan pertimbangannya berdasarkan prinsip moral yaitu prinsip keadilan yang memandang persamaan derajat hak asasi manusia yang bersifat menyeluruh, prinsipil sebagai hal yang utama dalam hidup bermasyarakat. Dari hasil uji hipotetis, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran moral pada partisipan penelitian yang merupakan remaja akhir. 5.2. SARAN Saran untuk penelitian selanjutnya yang terkait : diperlukan penelitian lebih lanjut yang lebih mendalam dan melibatkan partisipan penelitian yang lebih besar untuk memperoleh sebaran data yang lebih bervariasi. Saran praktis pada pihak-pihak terkait : 694 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 1. Bagi institusi pendidikan yang terkait supaya memperhatikan perkembangan penalaran moral mahasiswa dengan mengembangkan hal-hal yang dapat mendukung perkembangan penalaran moral misalnya dengan mengadakan diskusi-diskusi mengenai situasi sosial bangsa kita yang diharapkan dapat merangsang perkembangan kognitif yang turut mendasari perkembangan penalaran moral. 2. Bagi pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan keagamaan agar memperhatikan perkembangan kelima dimensi dalam religiusitas terutama dalam perkembangan penghayatan yang bersifat personal dengan Tuhan, dimana perkembangan aspek ini paling berhubungan dengan kehidupan yang selaras dengan ajaran agama yang dianut. 3. Bagi para mahasiswa dalam usia remaja akhir maupun dewasa awal, supaya menyadari pentingnya bagi mereka untuk memiliki mengenai penghayatan keagamaan yang sungguh-sungguh mereka yakini dan pemahaman mengenai prinsip moral. Hal ini mengingat, bahwa para mahasiswa diharapkan menjadi generasi pemimpin masyarakat Indonesia (dalam berbagai bidang) yang dapat mengarahkan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Sehingga perlu memiliki keyakinan iman dan pemikiran moral yang berdasarkan prinsip moral agar tidak mudah terombang-ambing terbawa arus dalam mengikuti apa yang dianggap baik oleh kebanyakan orang tetapi mampu melihat esensi mendasar di balik semuanya itu dan dapat memberi respon yang tepat. 4. Mahasiswa perlu terlibat dalam kegiatan organisasi kampus baik yang kerohanian maupun non-kerohanian. Ada baiknya ketika kedua hal ini berjalan beriringan, sehingga semakin dapat membantu peningkatan kualitas keagamaan yang dibarengi dengan bertemu dengan berbagai sudut pandang dari orang lain sehingga menolong untuk semakin utuh dalam sistem nilai yang dimiliki. DAFTAR PUSTAKA Angelique, Joyce F.P Peranan Faktor Religius Terhadap Perkembangan Moral Pada Remaja Dari Keluarga Bercerai. (www.Psikologiuntar.com/abstrak/skripsi/php). Cochran, William G. 1953. Sampling Techniques. New York : John Wiley & Sons. Inc. Danim, Sudarwan. 2000. Metode Penelitian untuk Ilmu-ilmu Perilaku. Jakarta : Bumi Aksara. Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological Testing. Massachusetts : Allyn&Bacon. Furrow, L. James et al. 2004. Religion and positive youth developmental : identity, meaning and prosocial concerns. Applied Developmental Science Vol 8, No. 1, hal 17-26. 695 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 Glock, C and Stark, R. 1965. Religion and Society in Tension. Chicago : Rand Mc Nally & Company. Hood, W. Ralp et al. 1996. The Psychology of Religion. New York : The Guilford Press. Kerlinger, Fred. N. 1990. Asas- Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gajah Mada University Press. Kohlberg, Lawrence. 1995.Tahap-tahap Perkembangan Moral. Yogyakarta : Penerbit Kanisius. Maryani, Nina. 2005. Hubungan antara Partisipasi dalam Organisasi dengan Penalaran Moral pada Remaja Akhir. Bandung. Skripsi (tidak diterbitkan) : Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Nasir, Mohammad. 1988. Ph. D. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia. Oki, Dwita P.S. 2006. Studi mengenai Tahapan “Moral Judgement’ pada Mahasiswa yang Melakukan Perilaku Mencontek saat Ujian. Bandung. Skripsi (tidak diterbitkan) : Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Rakhmat, Jalaluddin. 1998. Psikologi Agama. Persada. Jakarata : PT. Raja Grafindo _______ . 2003. Psikologi Agama : Sebuah Pengantar. Bandung : PT. Mizan Pustaka. Rest, James. 1974. Manual for The Defining Issues Test : An Objective test of Moral Judgement Development. University of Minnesota. Riduwan, Drs. M.B.A. 2002. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Bandung : Penerbit Alfabeta. Sarah, Siti. 1997. Hubungan antara Konsep Religiusitas, Sistem Perbankan Bank Muamalat Indonesia (BMI) dan Kepuasan Nasabah. Bandung. Skripsi (tidak diterbitkan ): Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran. Siegel, Sidney. 1985. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta : PT. Gramedia. Sudjana, M.A. , M. Sc., DR., Prof. 1996. Metoda Statistika. Bandung : Penerbit Tarsito. Theresiawati. El Nora dan Prihastuti. 2003. Hubungan antara tingkat religiusitas dengan metode active coping ptsd dimana tingkat ptsd merupakan variabel kontrol pada pengungsi remaja asal Sampit sebagai santri Pondok Pesantren Darussalam Ketapang Sampang Madura. Jurnal Insan, Vol.5, No.3, hal. 157168. Wagener, Mans Linda et al. 2003. Religious involvement and developmental resources in youth. Review of Religious Research, Vol. 44 : 3, hal. 271-284 696 ______________ ISSN 0852 - 0203 VISI (2008) 16 (3) 680- 696 697 ______________ ISSN 0852 - 0203