8_ASINA

advertisement
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS
DENGAN PENALARAN MORAL PADA REMAJA AKHIR
SUATU STUDI MENGENAI RELIGIUSITAS DAN PENALARAN MORAL
SERTA HUBUNGANNYA PADA MAHASISWA KRISTEN PROTESTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN USIA REMAJA AKHIR
Asina Christina Rosito Pasaribu
ABSTRACT
The main purpose of this research is to know the correlation between
religiousity and moral reasoning at late adolescence (19-22 year old). The other
purposes of this research are to receive the description about the religiousity and the
moral reasoning in adolescence. Both of this variable are the significant components in
adolescence’s cognitive and social development. The research participant are the
college student of Padjadjaran University, with religion background is Christianity. By
snow-ball sampling, subjects are 64 college students. The measurement tools are
questionarre that uses for measuring the religiousity and the moral reasoning. The
religiousity questionarre developed by used the dimensions of religiousity from Glock
& Stark (1965). Defining Issues Test (DIT), that developed by James Rest (1974) based
on the moral reasoning development theory from Lawrence Kohlberg, used for
measuring the moral reasoning. The result shows that there is no correlation between
the religiousity and the moral reasoning. Most of the subjects are in high level of
religiousity. Most of them are categorize in low level of P score (as the relative
importance a subject gives to principled moral consideration in making a decision
about moral dilemmas). Based on the level of moral reasoning, they are distributed ini
pre-conventional level (8 subjects), conventional (20 subjects), post-conventional (26
subjects). This research need to be continued with larger subjects and various religion
background. This is suggested to develop the circumstances that increase the moral
reasoning in educational and religion institution.
----------Keyword : religiousity, moral reasoning
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar, melihat ataupun
bertemu langsung dengan perilaku-perilaku anggota masyarakat Indonesia yang
menunjukkan sedang terjadinya degradasi moral pada bangsa ini. Moralitas secara
umum dikaitkan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan berhubungan dengan perilaku
yang boleh atau tidak boleh dilakukan.
Moralitas tidak semata-mata berhubungan dengan perilaku yang terlihat
ataupun yang dapat diketahui dari berita (misalnya berita-berita kriminal), akan
tetapi lebih dalam dari sekedar perilaku yang tampak tersebut. Dalam menilai suatu
perilaku boleh atau tidak boleh dilakukan, pertimbangan atau pemikiran yang
mendasari terjadinya penilaian moral itu merupakan hal yang patut untuk
680
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
diperhatikan. Perilaku moral, yang merupakan hasil dari penilaian moral seseorang,
dapat ditampilkan dalam bentuk yang sama namun alasan atau dasar pemikiran
yang melatarbelakangi dilakukannya perilaku moral itu bisa berbeda. Hal inilah
yang dikemukakan oleh Lawrence Kohlberg (1995) sebagai penalaran moral yaitu
alasan-alasan atau pertimbangan-pertimbangan dalam menilai mengapa suatu
tindakan itu boleh atau tidak boleh dilakukan.
Perkembangan dalam aspek moral sangat penting untuk diperhatikan
terutama pada masa remaja. Aspek ini merupakan kebutuhan penting bagi remaja,
terutama sebagai pedoman menemukan identitas dirinya, mengembangkan
hubungan personal yang harmonis dan menghindari konflik-konflik peran yang
selalu terjadi dalam masa transisi (Desmita, 2005). Dalam perkembangan aspek
moral, penalaran moral merupakan indikator utama. Hal ini disebabkan oleh karena
perilaku yang ditampilkan bisa sama sementara alasan atau pertimbangan yang
mendasarinya dapat berbeda sesuai dengan perkembangan penalaran moralnya.
Misalnya, seorang remaja tidak membolos dari sekolah dengan alasan bahwa hal
itu dilarang oleh sekolah. Remaja lain memilih untuk tidak membolos dari sekolah
karena dia menganggap bahwa dengan membolos akan membuat sedih orang tua
yang telah menyekolahkan. Remaja yang lain lagi memilih untuk tidak membolos
karena hal itu dapat menyebabkan dirinya dianggap sebagai anak yang nakal oleh
pihak sekolah maupun oleh teman-temannya. Perbedaan alasan tersebut
menunjukkan tahap perkembangan penalaran moral yang berbeda antara remaja
yang satu dengan yang lain. Menurut Lawrence Kohlberg (1995), tahapan
perkembangan penalaran moral terjadi dalam 3 tingkatan (dimana masing-masing
tingkatan terdiri dari 2 tahap sehingga seluruhnya ada 6 tahap). Mengacu pada
tahapan perkembangan penalaran moral ini, idealnya penalaran moral remaja sudah
mencapai tahap 5. Remaja yang telah mencapai tahap ini dalam perkembangan
penalaran moralnya, tidak mudah terbawa arus mengikuti apa yang dianggap baik
dan buruk oleh masyarakat dan dalam pertimbangannya akan mengutamakan
kesejahteraan bagi banyak orang.
Salah satu kelompok masyarakat yang berada pada tahap perkembangan
remaja akhir adalah mahasiswa. Dalam kehidupan kampus, mahasiswa tidak
terlepas dari situasi-situasi yang menuntutnya untuk memutuskan suatu penilaian
atau pendapat moral, yaitu yang berhubungan dengan boleh atau tidak boleh suatu
perilaku tertentu dilakukan. Terdapat beberapa fenomena yang dapat dikatakan
terkait dengan penilaian moral antara lain perilaku mencontek waktu ujian,
menandatangani absensi teman yang tidak hadir, membolos, ikut tawuran, dan lainlain. Bila ditelusuri lebih lanjut, ada mahasiswa yang melakukannya, ada juga
yang tidak melakukannya. Hal ini menjadi menarik ketika mengetahui apa alasan
dibalik setiap perilaku tersebut dimana tentunya ada penilaian tertentu mengapa
perilaku tersebut boleh atau tidak boleh dilakukan. Untuk mendapatkan data awal
maka dilakukan wawancara awal dengan melibatkan beberapa mahasiswa
Universitas Padjadjaran di Jatinangor yang berasal dari berbagai jurusan, fakultas
dan berbagai angkatan. Dalam wawancara tersebut, ditanyakan bagaimana
pendapat mereka mengenai perilaku mencontek waktu ujian. Dari hasil wawancara
681
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
tersebut diketahui bahwa semua responden mengatakan tidak setuju dengan
perilaku mencontek waktu ujian. Dengan kata lain, menurut mereka perilaku itu
adalah salah dan seharusnya tidak dilakukan. Seorang mahasiswa mengatakan
bahwa perilaku mencontek waktu ujian memberikan dampak yang merugikan bagi
orang lain (mahasiswa lain) dan menurutnya hal itu tidak adil.
Hal yang menarik dari hasil wawancara di atas adalah bahwa dalam
mengemukakan alasan atau pertimbangan tersebut, mereka mengacu pada ajaran
agama yang mereka anut, salah satunya adalah mengenai tidak jujur atau
berbohong. Ketika ditanyakan lebih lanjut bagaimana peran agama yang mereka
anut dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar mengatakan bahwa agama
mengajarkan banyak hal dalam hidup mereka. Beberapa diantaranya adalah bahwa
agama berperan dalam mengajarkan bagaimana berelasi dengan sesama, mengajari
mana yang salah dan yang benar, mempengaruhi pola pikir dalam menyikapi suatu
hal atau peristiwa, memotivasi dalam pengembangan diri dan sebagai cara pandang
hidup. Pemaparan di atas menunjukkan bagaimana mereka menghayati ajaranajaran agama yang mereka pelajari dan berupaya mengaplikasikan dalam hidup
sehari-hari termasuk di dalamnya ketika memberikan alasan atau pertimbangan
mengapa suatu perilaku tertentu dinilai boleh atau tidak boleh dilakukan.
Penghayatan dan pemahaman pribadi akan ajaran agama yang dianut,
menunjukkan kualitas keberagamaan atau religiusitas seseorang. Ancok (1994
dalam Theresiawati ; Jurnal Insan, 2003, Vol.5, No.3) menyebut istilah religiusitas
dengan istilah keberagamaan yang diwujudkan dalam berbagai kehidupan manusia,
baik itu menyangkut perilaku ritual (beribadah) atau aktivitas lain dalam
kehidupannya (yang diwarnai dengan nuansa keagamaan) baik yang tampak dan
dapat dilihat oleh mata atau yang tidak tampak (terjadi di dalam hati manusia).
Dengan demikian, religiusitas menunjuk pada kualitas keadaan individu dalam
memahami, menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur dan aturan-aturan
agama yang dianutnya dalam kehidupannya sehari-hari yang menunjukkan
ketaatan individu terhadap agamanya (Theresiawati, dalam Jurnal Insan, 2003,
Vol.5, No.3). Dari pemaparan akan hasil wawancara di atas, peneliti menemukan
indikasi adanya hubungan antara religiusitas individu dengan penalaran moralnya.
Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang mendorong peneliti untuk
menelitinya, selain dikarenakan masih minimnya penelitian mengenai religiusitas
dalam hubungannya dengan penalaran moral di Indonesia.
1.2. Identifikasi Masalah
Beberapa pertanyaan penelitian yang akan dijawab dalam penelitian ini yaitu :
1. Bagaimanakah gambaran religiusitas pada remaja akhir?
2. Bagaimanakah gambaran penalaran moral pada remaja akhir?
3. Apakah terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran moral pada
remaja akhir?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
682
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
1. Memperoleh gambaran mengenai religiusitas dan penalaran moral pada remaja
akhir
2. Mengetahui apakah terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran
moral.
2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Religiusitas
Religiusitas adalah kualitas keadaan individu dalam memahami,
menghayati serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur dan aturan-aturan agama yang
dianutnya dalam kehidupannya sehari-hari yang menunjukkan ketaatan individu
terhadap agamanya. (Theresiawati, dalam Jurnal Insan, 2003, Vol.5, No.3).
Terdapat lima (5) dimensi dalam religiusitas :
1. Religious Knowledge (The Intelectual Dimension) : Dimensi ini berkaitan
dengan pengetahuan atau informasi-informasi yang diperoleh seseorang
berkaitan dengan dasar-dasar imannya. Dimensi ini dan dimensi ideologi
berkorelasi karena pengetahuan akan kepercayaan adalah kondisi yang penting
dan harus untuk penerimaannya.
2. Religious Practise (The Ritualistic Dimension) : Dimensi ini berkaitan dengan
perilaku seseorang dalam menyatakan kepercayaannya terhadap agama
tertentu. Perilaku yang dimaksudkan disini mengacu pada perilaku-perilaku
khusus yang ditetapkan oleh agama seperti keanggotaan di gereja, frekuensi
kehadiran, tata cara ibadah, pembaptisan, pengakuan dosa, berpuasa atau
menjalankan ritual-ritual tertentu pada hari tertentu.
3. Religious Feeling (The Experiental Dimension) : Dimensi ini berkaitan
dengan perasaan keagamaan yang dialami oleh penganut agama. Psikologi
menamainya religious experience. Setiap agama mengharapkan bahwa setiap
penganut agama mengalami langsung pengalaman bersama Ilahi yang
melibatkan emosi, termasuk didalamnya adalah perasaan, persepsi, dan
sensasi-sensasi yang dirasakan saat mengalami suatu “komunikasi” dengan
Ilahi, berapapun tingkatannya.
4. Religious Belief (The Ideological Dimension) :Dimensi ini berkaitan dengan
apa yang dipercayai seseorang sebagai suatu kebenaran yang berkaitan dengan
agama yang dianutnya. Hal inilah yang membedakan satu agama dengan
agama yang lainnya. Isi (content) dan ruang lingkupnya (scope) berbeda-beda
pada tiap agama dan dapat didekati dari perspektif doktrin agama.
5. Religious Effects (The Consequential Dimension) : Dimensi ini berkaitan
dengan efek dari keempat dimensi yang lain termasuk di dalamnya adalah
bagaimana agama yang diyakini, secara langsung maupun tak langsung,
menjadi petunjuk dalam bertingkah laku atau bersikap dalam kehidupan seharihari individu baik dalam kehidupan personal maupun dalam kehidupan
sosialnya. Hal ini merupakan konsekuensi atau efek dari apa yang individu
percaya dan yakini. Efek agama ini boleh jadi positif atau negatif ; pada tingkat
personal dan sosial.
683
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
2.2. Tahap-tahap Penalaran Moral
Berikut ini akan dipaparkan secara sederhana mengenai tingkat dan
tahapan penalaran moral.
Tabel 2.1. Tingkat dan Tahapan Penalaran Moral
Tingkat
1. Prakonvensional Moralitas
Pada level ini anak mengenal
moralitas berdasarkan dampak
yang ditimbukan oleh suatu
perbuatan, yaitu menyenangkan
(hadiah)
atau
menyakitkan
(hukuman).
Anak
tidak
melanggar aturan karena takut
akan ancaman hukuman dari
otoritas
2. Konvensional
Suatu perbuatan dinilai baik oleh
anak apabila mematuhi harapan
otoritas
atau
kelompok
sebayanya
3. Pasca-Konvensional
Pada level ini aturan dan
institusi dari masyarakat tidak
dipandang sebagai tujuan akhir,
tetapi diperlukan sebagai subjek.
Anak menaati aturan untuk
menghindari hukuman kata hati
Tahap
1. Orientasi kepatuhan dan Hukuman
Pemahaman anak tentang baik dan buruk
ditentukan oleh otoritas. Kepatuhan terhadap
aturan adalah untuk menghindari hukuman dari
otoritas
2. Orientasi hedonistik-Instrumental
Suatu perbuatan dinilai baik apabila berfungsi
sebagai instrumen untuk memenuhi kebutuhan
atau kepuasan diri
3. Orientasi anak yang baik
Tindakan berorientasi pada orang lain. Suatu
perbuatan dinilai baik apabila menyenangkan
bagi orang lain
4. Orientasi keteraturan dan otoritas
Perilaku yang dinilai baik adalah menunaikan
kewajiban,
menghormati
otoritas,
dan
memelihara ketertiban sosial
5. Orientasi kontrol sosial-legalistik
Ada semacam perjanjian antara dirinya dan
lingkungan sosial. Perbuatan dinilai baik apabila
sesuai dengan perundang-undangan yang
berlaku.
6. Orientasi kata hati
Kebenaran ditentukan oleh kata hati, sesuai
dengan prinsip-prinsip etika universal yang
bersifat abstrak dan penghormatan terhadap
martabat manusia
(Desmita, 2005)
Dari hasil penelitian Kohlberg, diketahui bahwa kebanyakan individu tidak
mencapai tahap tertinggi dalam perkembangan moral yaitu tahap 6. Kenyataannya,
kebanyakan juga jarang mencapai tahap pertama dalam tingkat postconventioanal,
yaitu tahap 5. Fiksasi dalam tahap moral dapat terjadi dengan berbagai alasan, yang
utama di antaranya adalah :
1. Perkembangan kemampuan berpikir logis umum yang tidak mencukupi
2. Lingkungan sosial yang tidak memberikan kesempatan role taking yang cukup
yang dapat meningkatkan kemampuan untuk memperoleh sudut pandang dari
orang lain.
3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Identifikasi Variabel Penelitian
684
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
Variabel Bebas : Religiusitas
Variabel Tergantung : Penalaran Moral
3.2.Defenisi Operasional
1. Religiusitas adalah pemahaman dan penghayatan individu mengenai ajaran
agama yang dianutnya serta pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari,
yang merefleksikan ketaatan individu dalam beragama yang tergambar dalam
dimensi-dimensi berikut : Religious Knowledge (The Intelectual Dimension)
yaitu sejauh mana pengetahuan individu mengenai ajaran-ajaran agamanya ;
Religious Practise (The Ritualistic Dimension) yaitu sejauh mana keterlibatan
individu dalam ritual-ritual keagamaan yang dituntut darinya untuk dilakukan
dalam menujukkan kepercayaannya pada agamanya ; Religious Feeling (The
Experiental Dimension) yaitu sejauh mana pengalaman-pengalaman/perasaanperasaan keagamaan yang dirasakan individu dalam relasinya dengan Tuhan ;
Religious Belief (The Ideological Dimension) yaitu sejauh mana individu
mempercayai hal-hal mendasar/esensial dalam ajaran agamanya ; Religious
Effects (The Consequential Dimension) yaitu sejauh mana perilaku individu
sehari-hari selaras dengan ajaran-ajaran agamanya.
2. Penalaran moral adalah nilai dari P, yaitu seberapa penting secara relatif nilai
yang diberikan Subyek terhadap pemikiran berdasarkan prinsip moral dalam
membuat keputusan mengenai dilema moral yaitu dalam menilai mengapa
suatu tingkah laku tertentu boleh atau tidak boleh untuk dilakukan.
3.3. Partisipan Penelitian
Partisipan penelitian yang terlibat dalam penelitian ini adalah Mahasiswa
Kristen Protestan Universitas Padjadjaran Jatinangor dengan karakteristik : pria
dan wanita berusia 19-22 tahun (usia remaja akhir). Partisipan penelitian diperoleh
dengan menggunakan teknik penarikan sampel pola bola salju (snow ball). Jumlah
partisipan penelitian sebanyak 64 orang.
3.4. Metode Pengumpulan Data
Alat ukur untuk mengukur religiusitas berupa kuesioner yang disusun
berdasarkan dimensi-dimensi dari Religiusitas sesuai dengan yang diutarakan oleh
Glock & Stark (1995). Alat ukur yang digunakan dalam mengukur tahap moral
seseorang dalam penelitian ini merupakan alat ukur yang dibuat oleh James Rest
(1979) yang disusun berdasarkan teori perkembangan Penalaran Moral dari
Lawrence Kohlberg. Alat ukur ini sering disebut sebagai DIT (Defining Issue Test).
Alat ukur ini terdiri atas tiga buah cerita pendek yang mengilustrasikan suatu
kondisi dilema moral. Setiap cerita akan diikuti
dengan 12 pertanyaan
pertimbangan yang berkaitan dengan cerita tersebut dimana setiap item mewakili
tahap moral judgement atau moral reasoning (penalaran moral) sesuai dengan
tahapan moral dari Kohlberg. Kedua belas pertanyaan ini harus ditentukan skala
kepentingannya. Untuk setiap pertanyaan diberikan lima pilihan pertimbangan
yaitu : sangat penting, penting, agak penting, kurang penting dan tidak penting.
685
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
Setelah itu, partisipan penelitian diminta untuk menentukan empat pertanyaan yang
paling penting dengan menetapkan pertanyaan yang paling penting pertama sampai
dengan pertanyaan yang paling penting keempat.
3.5. Validitas dan Reabilitas Alat Ukur
Dari hasil analisis reliabilitas dalam tahap uji coba alat ukur religiusitas
diperoleh  = 0.8910 (sebelum analisis item). Setelah dilakukan analisis item maka
diperoleh  = 0.9007, dimana nilai ini berada pada ketegori tinggi (menurut
kriteria Guilford). Maka alat ukur ini dapat diandalkan. Validasi alat ukur secara
keseluruhan diperoleh dengan melibatkan seorang yang ahli dalam bidang agama,
dimana dalam penyusunan kisi-kisi alat ukur dari dimensi-dimensi sampai dengan
item-item dalam alat ukur ini melibatkan seorang ahli agama yang latar
belakangnya sesuai dengan agama partisipan penelitian.
Analisis item dilakukan untuk mengatahui mana item yang baik dan mana
item yang buruk. Setelah dilakukan analisis item terhadap data uji coba alat ukur,
diperoleh 88 item yang baik dan kemudian digunakan dalam tahap pengambilan
data sesungguhnya. Setelah data penelitian diperoleh, dilakukan kembali analisis
terhadap setiap item dan diperoleh 63 item yang baik.
Alat ukur penalaran moral memiliki nilai reliabilitas sebesar 0,78
sementara nilai validitasnya adalah 0,67. Hal ini merujuk para hasil penelitian
Menanti dalam Dwita (2006).
3.6. Metode Analisa Data
Metode analisa yang digunakan adalah analisis statistika deskriptif dan
analisis korelasi. sebagai teknik pengolahan yang utama. Teknik analisis korelasi
yang digunakan adalah The Spearman Rank Order Coefficient Corelations
(Koefisien Korelasi Spearman) dengan menggunakan bantuan program Statistical
Packages for Social Science (SPSS) versi 10.0 for windows.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. HASIL PENELITIAN
4.1.1. Gambaran Umum Religiusitas
Tabel 4.1. Gambaran Umum Religiusitas Partisipan Penelitian Berdasarkan Kategori
Kategori
Jumlah
Persentase
Sangat tinggi
Tinggi
Rendah
Sangat rendah
23
40
1
0
35.9 %
62.5 %
1.6 %
0
4.1.2. Gambaran Tiap-Tiap Dimensi Dalam Religiusitas
a. Religious Knowledge
686
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
Tabel 4.2 Gambaran Dimensi Religious Knowledge Berdasarkan Kategori
Kategori
Jumlah
Persentase
Sangat tinggi
13
20.3 %
Tinggi
37
57.8 %
Rendah
10
15.6 %
Sangat rendah
4
6.3 %
b. Religious Practise
Tabel 4.3 Gambaran Dimensi Religious Practise Berdasarkan Kategori
Kategori
Jumlah
Persentase
Sangat tinggi
6
9.4 %
Tinggi
34
53.1 %
Rendah
19
29.7 %
Sangat rendah
5
7.8 %
c. Religious Feeling
Tabel 4.4 Gambaran Dimensi Religious Feeling Berdasarkan Kategori
Kategori
Jumlah
Persentase
Sangat tinggi
23
35.9 %
Tinggi
38
59.4 %
Rendah
3
4.7 %
Sangat rendah
0
0
d. Religious Belief
Tabel 4.5 Gambaran Dimensi Religious Belief Berdasarkan Kategori
Kategori
Jumlah
Persentase
Sangat tinggi
63
98.4 %
Tinggi
1
1.6 %
Rendah
0
0
Sangat rendah
0
0
e. Religious Effects
Tabel 4.6 Gambaran Dimensi Religious Effects Berdasarkan Kategori
Kategori
Jumlah
Persentase
Sangat tinggi
3
4.7 %
Tinggi
27
42.2 %
Rendah
31
48.4 %
Sangat rendah
3
4.7 %
Dari keseluruhan pemaparan pada bagian ini, dapat disimpulkan bahwa
sebagian besar partisipan penelitian berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi
dalam skor religiusitas secara keseluruhan. Demikian juga dalam skor setiap
dimensi kecuali dimensi efek keagamaan (Religious Effects) dimana pada dimensi
ini separuh partisipan penelitian berada pada ketegori tinggi dan sangat tinggi dan
separuh lagi berada pada kategori rendah dan sangat rendah.
687
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
4.1.3. Gambaran mengenai Penalaran Moral
Tabel 4.7.
Tabel 4.8.
Gambaran
Penalaran
Kategori Nilai P
Kategori
Sangat tinggi
Tinggi
Rendah
Sangat rendah
Moral
Partisipan
Jumlah
0
4
37
23
Gambaran
Penalaran
Moral
Tahapan Penalaran Moral
Tahap Penalaran Moral
Penelitian
Berdasarkan
Persentase
0
6.3
57.8
35.9
Partisipan
Penelitian
Berdasarkan
Jumlah
Persentase
Meaningless
5
7,8
Mixed
5
7,8
Tingkat Preconventional
Tahap 2
8
12,5
Tingkat Conventional
Tahap 3
6
9,4
Tahap 4
7
10,9
Anti-establishment
7
10,9
Tahap 5A
8
12,5
Tahap 5B
8
12,5
Tahap 6
10
15,6
Total
64
100
Tingkat Postconventional
Table 4.9
Rekapitulasi Penalaran Moral Berdasarkan Nilai P dan Tahapan Penalaran Moral
Penalaran Moral (Nilai P)
Sangat
tinggi
f
%
Tinggi
Rendah
f
%
f
%
Sangat
rendah
f
%
Meaningless
-
-
-
-
-
-
5
21.7
Mixed
-
-
-
-
3
8.1
2
8.7
Tahap 2
-
-
1
25
2
5.4
5
21.7
Tahap 3
-
-
-
-
4
10.8
2
8.7
Tahap 4
-
-
-
-
2
5.4
5
21.7
Anti-Establishment
-
-
-
-
4
10.8
3
13
Tahap 5A
-
-
2
50
6
16.2
-
-
Tahap 5B
-
-
1
25
6
16.2
1
4.3
Tahap 6
-
-
-
-
10
27
-
-
Total
-
-
4
100
37
100
23
100
Tahap Penalaran Moral
Tingkat
Preconventional
Tingkat
Conventional
Tingkat
Postconventional
688
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
4.1.4. Gambaran mengenai Religiusitas dengan Penalaran Moral
4.1.4.1. Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian
Hipotesis Penelitian :
“Terdapat hubungan antara Religiusitas dengan Penalaran Moral.”
Hipotesis Statistik yang akan diuji adalah :
H0 : rs = 0 : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Religiusitas
dengan Penalaran Moral
H1 : rs  0 : Terdapat hubungan yang signifikan antara Religiusitas dengan
Penalaran Moral
Dari perhitungan korelasi diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar : - 0,016.
Kemudian terhadap hasil tersebut dilakukan uji signifikansi dengan uji t. Dari hasil
perhitungan diperoleh nilai t sebesar : 1,276. Sementara t tabel dengan taraf
kepercayaan 95 % dan df = N-2 adalah = 2.00 . Karena t hitung  t tabel, maka H0
diterima atau H1 ditolak. Hal ini berarti bahwa tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara Religiusitas dengan Penalaran Moral.
4.1.4.2. Gambaran Mengenai Kaitan antara Religiusitas Dengan Penalaran
Moral (berdasarkan Nilai P)
Tabel 4.10 Gambaran Religiusitas Dengan Penalaran Moral (Berdasarkan Nilai P)
Penalaran Moral (Nilai P)
Religiusitas
Sangat tinggi
Tinggi
Rendah
Sangat rendah
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%
Jumlah
%
Sangat tinggi
-
-
2
8.7%
15
65.2
6
26.1
Tinggi
-
-
2
5%
21
52.5
17
42.5
Rendah
-
-
-
-
1
100
-
-
Sangat rendah
-
-
-
-
-
-
-
-
Dari tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar partisipan
penelitian dengan religiusitas yang tergolong tinggi dan sangat tinggi ternyata
termasuk dalam kategori penalaran moral yang rendah dan sangat rendah.
Pemaparan di atas mendukung hasil dari analisis korelasi antara religiusitas dengan
penalaran moral yang menyatakan tidak ada korelasi diantara keduanya. Tinggi
rendahnya kualitas religiusitas individu, tidak berkaitan dengan tinggi rendahnya
penalaran moral yang dimiliki.
689
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
4.1.4.2. Gambaran Mengenai Kaitan antara Religiusitas Dengan Penalaran
Moral (Berdasarkan Tahapan Penalaran Moral)
Tabel 4.11. Gambaran Religiusitas Dengan Penalaran Moral (Berdasarkan Tahapan
Penalaran Moral)
Religiusitas
f
%
f
%
f
%
Sangat
rendah
f
%
Meaningless
-
-
5
12.5
-
-
-
-
Mixed
3
13
2
5
-
-
-
-
Tahap 2
2
8.7
7
17.5
-
-
-
-
Tahap 3
3
13
3
7.5
-
-
-
-
Tahap 4
4
17.4
2
5
-
-
-
-
AntiEstablishment
Tahap 5A
1
4.3
6
15
-
-
-
-
1
4.3
7
17.5
-
-
-
-
Tahap 5B
3
13
4
10
1
100
-
-
Tahap 6
6
26.1
4
10
-
-
-
-
Total
23
100
40
100
1
100
-
-
Tahap Penalaran Moral
Tingkat
Preconventional
Tingkat
Conventional
Tingkat
Postconventional
Sangat tinggi
Tinggi
Rendah
Tahapan di atas menunjukkan kecenderungan partisipan penelitian untuk
menggunakan perspektif yang merupakan ciri khas dari tahap dimana dia berada
saat ini, bila dibandingkan dengan para partisipan penelitian yang lain. Jadi tahaptahap dimana partisipan penelitian dikelompokkan (sebagai salah satu hasil yang
diperoleh dari alat ukur DIT), menunjukkan kecenderungan partisipan penelitian
untuk menggunakan perspektif dalam tahap itu ketika memberi alasan atau
pertimbangan dalam menilai suatu tindakan benar atau salah atau boleh atau tidak
boleh dilakukan., bila dibandingkan dengan partisipan penelitian yang lain. Akan
tetapi, hal ini tidak berarti partisipan penelitian akan selalu menggunakan
pertimbangan pada tahap itu dalam setiap situasi dilema moral yang dihadapi.
Partisipan penelitian bisa menggunakan pertimbangan pada satu tahap dibawah
atau satu tahap diatas dari tahap dimana dia berada sekarang.
Dari pemaparan di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar partisipan
penelitian memiliki religiusitas yang tergolong tinggi dan sangat tinggi. Akan
tetapi sebagian besar dari mereka masih berada pada tingkat penalaran moral yang
berada dibawah tingkat postconventional. Hal ini mendukung dari hasil penelitian
yang menyatakan tidak terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran
moral.
690
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
4.1.5.
Gambaran Mengenai Data Penunjang
Data penunjang ini diperlukan dalam memperoleh gambaran lebih luas
mengenai kondisi partisipan penelitian dimana data ini akan digunakan dalam
membantu pembahasan mengenai hasil penelitian Data penunjang yang akan
disajikan di bawah ini berhubungan dengan relasi partisipan penelitian dengan
lingkungan sosial disekitarnya.
Tabel 4. 12 Gambaran Keterlibatan dalam Organisasi Kerohanian di Kampus
Keterlibatan
Jumlah
Pernah menjadi pengurus dalam organisasi kerohanian dikampus
Pernah dan sedang menjadi pengurus dalam organisasi
kerohanian di kampus
Sedang menjadi pengurus dalam organisasi kerohanian di
kampus
Tidak pernah jadi pengurus dalam organisasi kerohanian di
kampus tapi pernah terlibat dalam kegiatan rohani
Tidak pernah terlibat sama sekali dalam kepengurusan ataupun
dalam kegiatan rohani di kampus
9
18
Persentas
e
14,1
28,1
25
39,1
10
15,6
2
3,1
Tabel 4.13 Gambaran Keterlibatan dalam Organisasi Non-Kerohanian di Kampus
Keterlibatan
Jumlah
Persentase
Pernah terlibat aktif dalam organisasi
12
18,7
Pernah dan sedang terlibat aktif dalam organisasi
9
14,1
Sedang terlibat aktif dalam organisasi
7
10,9
Tidak terlibat aktif dalam organisasi
36
56,2
4.2. PEMBAHASAN
Gambaran mengenai religiusitas partisipan penelitian dapat disimpulkan
dengan : hampir seluruh partisipan penelitian memiliki tingkat religiusitas yang
tinggi dimana berdasarkan kategori skor total religiusitas sebagian besar berada
pada kategori tinggi dan sangat tinggi. Kesimpulan yang sama juga diperoleh
ketika melihat secara spesifik dalam skor masing-masing dimensi kecuali dimensi
Religious Effects dimana dalam dimensi ini, jumlah partisipan penelitian dengan
nilai yang tinggi (kategori tinggi dan tinggi sekali) dan rendah (kategori rendah dan
rendah sekali) hampir seimbang. Hal ini cukup menarik untuk ditelaah mengingat
bahwa dimensi ini merupakan efek dari keempat dimensi yang lain. Hal ini
menunjukkan bahwa separuh partisipan penelitian dalam kehidupan sehari-harinya
belum berlandaskan pada penghayatan akan ajaran agama yang dianut atau belum
mengerti secara menyeluruh dan utuh mengenai bagaimana hidup sehari-hari yang
berlandaskan pada ajaran agama. Hal ini dapat dimengerti dengan pemahaman
bahwa ajaran-ajaran agama, yang disertai dengan tuntutan bagi penganut agama
tersebut untuk mengikutinya, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dengan
segera melainkan melalui proses yang membutuhkan waktu. Misalnya, dalam
menghayati bagaimana wujud dari mengasihi sesama manusia belum tentu
seseorang langsung dapat mengaplikasikannya. Hal ini mungkin disebabkan ada
691
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
pertentangan antara kepentingan orang lain dengan kepentingan diri sendiri yang
dirasakan oleh individu sehingga untuk sampai pada penghayatan dan melakukan
wujud dari mengasihi sesama itu membutuhkan waktu serta kesempatankesempatan bagi individu untuk bertemu dengan kondisi-kondisi yang
menolongnya untuk memahami tentang mengasihi sesama.
Gambaran penalaran moral partisipan penelitian baik dari nilai P dan tahapan
moral yang dicapai menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan penelitian
berada pada kategori yang rendah dan sangat rendah (berdasar nilai P).
Berdasarkan tahap penalaran moral, terdapat 8 orang yang dalam
mempertimbangkan alasan ketika membuat keputusan moral berlandaskan pada
ancaman akan otoritas (tingkat pre-conventional). Dalam hal ini pihak otoritas
yang dimaksud bisa orang tua, keluarga, sekolah atau universitas. Terdapat 20
orang yang dalam mempertimbangkan alasan ketika membuat keputusan moral
berlandaskan pada kepentingan orang lain dan demi menjaga ketertiban sosial
(tingkat conventional). Sementara terdapat 26 orang yang berada pada tingkat
postconventional. dimana dalam mempertimbangkan alasan ketika membuat
keputusan moral berlandaskan pada prinsip moral yang universal dan menyeluruh,
dimana prinsip keadilan sudah menjadi pilihan personal.
Berdasarkan pengujian statistik dengan menggunakan teknik analisis
korelasi Rank Spearman, diperoleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa tidak
terdapat hubungan antara religiusitas dengan penalaran moral pada partisipan
penelitian. Hal ini menyatakan bahwa kualitas keadaan individu dalam memahami,
menghayati, ajaran agama yang dianutnya serta mengaplikasikannya dalam
kehidupan sehari-hari, yang merefleksikan ketaatannya dalam beragama tidak
berhubungan dengan kemampuan individu untuk memandang pentingnya
pemikiran berdasarkan prinsip moral dalam membuat keputusan mengenai dilema
moral. Demikian juga sebaliknya, kemampuan seseorang dalam membuat
keputusan mengenai dilema moral berdasarkan prinsip moral tidak berkaitan
dengan kualitas pemahaman dan pengaplikasian ajaran agama dalam hidupnya.
Jalaluddin Rakhmat (2003) menyatakan bahwa agama berfungsi secara
personal dalam kehidupan individu dengan memberikan makna pada peristiwa
yang dihadapi atau memberikan bimbingan moral bagaimana seharusnya bertindak
ditengah-tengah manusia. Beliau menambahkan, bahwa agama sebagai
pengalaman personal berkaitan dengan apa yang diimani secara pribadi, bagaimana
agama berfungsi dalam kehidupan individu, bagaimana pengaruh agama pada apa
yang individu pikirkan, rasakan atau lakukan.
Sistem nilai pribadi yang dimiliki oleh partisipan penelitian turut dibangun
dalam pengenalan akan ajaran-ajaran agamanya. Sistem nilai ini akan membantu
sebagai landasan berpikir dan bertingkah laku. Dengan sistem nilai yang dimiliki
ini, maka seseorang dapat mengevaluasi serta menafsirkan situasi dan pengalaman.
Peran dari perkembangan kognitif seseorang dalam hal ini sangat penting. Peranan
sistem nilai ini berlangsung dalam kehidupan sehari-hari seseorang dalam relasinya
dengan lingkungan sosialnya. Hal ini dikarenakan, sebagai mahluk sosial, manusia
tidak dapat lepas dengan manusia lainnya. Partisipan penelitian sebagai remaja
692
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
akhir yang berstatus sebagai mahasiswa berada dalam lingkungan kampus dan
masyarakat yang beragam dalam latar belakang budaya, kebiasaan, nilai dan latar
belakang agama. Hal ini didukung oleh kenyataan bahwa sebagian besar partisipan
penelitian berasal dari luar kota. Dalam lingkungan sosial yang beragam inilah
sistem nilai seseorang berperan dalam membantunya untuk dapat menyesuaikan
diri dan berkembang.
Dalam lingkungan sosial yang beragam ini, dia akan bertemu dengan
berbagai pola pikir atau pandangan yang berbeda-beda dari orang –orang
disekitarnya. Individu memperoleh kesempatan untuk berinteraksi dengan orang
lain, menginterpretasikan pikiran-pikiran serta perasaan orang lain serta
memandang peran serta posisi mereka pada masyarakat. Kesempatan-kesempatan
untuk bertemu dengan berbagai sudut pandang ini disebut sebagai kesempatan alih
peran (role taking). Alih peran ini meliputi penerimaan bahwa orang lain
mempunyai pandangan mereka sendiri dan mampu memahami perbedaanperbedaan tersebut. Dalam kesempatan alih peran ini, perkembangan penalaran
moral seseorang dapat terjadi ketika dia bertemu dengan sudut pandang atau pola
pikir yang berbeda dari dirinya dimana sudut pandang atau pola pikirnya dibangun
dari sistem nilai yang dimilikinya. Ketika menemukan perbedaan itu, akan
menimbulkan ketidakseimbangan kognitif dalam dirinya yang harus dapat dia
selesaikan sehingga dia dapat meningkat dalam pola pikirnya dalam memandang
suatu masalah sosial. Dalam hal inilah perkembangan penalaran moral terjadi. Oleh
karena itulah, adalah penting bagi seseorang untuk mengalami berbagai
kesempatan alih peran (role taking) ini yang semakin beragam. Dalam kehidupan
sebagai mahasiswa, kesempatan ini semakin banyak untuk diperoleh. Selain
diperoleh melalui menjalin relasi dengan berbagai orang, keterlibatan dalam
organisasi-organisasi dapat membantu.
Data penunjang yang diperoleh dari kuesioner penelitian menunjukkan
bahwa sebagian besar partisipan penelitian (96,9%) terlibat dalam organisasi
kerohanian di kampusnya (baik sebagai pengurus maupun tidak) dan hanya
sebagian kecil yaitu 2 orang (3,1%) yang tidak pernah terlibat sama sekali. Hal ini
dapat dilihat dari tabel 4.12. Keterlibatan ini bervariasi dalam bentuknya.
Keterlibatan aktif sebagai pengurus dalam organisasi kerohanian di kampus dibagi
dalam tiga bagian yaitu pernah terlibat, pernah dan sedang terlibat, sedang terlibat
(baru terlibat). Keterlibatan juga tidak hanya sebagai pengurus dalam periode
tertentu tetapi terlibat dalam kegiatan-kegiatan rohani seperti sebagai panitia
kegiatan kerohanian tertentu, sebagai kakak pembina rohani maupun sebagai
pelayan dalam ibadah. Hal yang menarik untuk dilihat adalah hampir separuh dari
partisipan penelitian (43.8%), terlibat aktif dalam kegiatan organisasi nonkerohanian di kampus. Hal ini dapat dilihat dari tabel 4.13 dimana keterlibatan
aktif juga dibagi dalam 3 yaitu pernah terlibat aktif, pernah dan sedang terlibat
aktif, dan sedang terlibat aktif. Namun, lebih banyak lagi partisipan penelitian
(56,2 %) yang tidak terlibat aktif dalam organisasi non-kerohanian di kampus.
Ketidakterlibatan tersebut mendukung kurangnya kesempatan untuk bertemu
dengan banyak orang dengan latar belakang, pola pikir, sudut pandang dan nilai-
693
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
nilai yang berbeda, dimana hal ini sebenarnya dapat difasilitasi oleh keterlibatan
dalam organisasi lain yang beragam di kampus. Dalam hal ini peneliti tidak ingin
menilai bahwa keterlibatan dalam organisasi kerohanian tidak memberikan
kesempatan untuk alih peran. Peneliti melihat dari sudut pandang keragaman
(variasi) yang lebih luas dalam kesempatan untuk alih peran (role taking) ketika
terlibat dalam organisasi yang lain di luar organisasi kerohanian. Hal ini dapat
menjadi salah satu penyebab masih rendahnya penalaran moral dari sebagian besar
partisipan penelitian. Penarikan kesimpulan ini perlu penelaahan lebih lanjut
melalui pengumpulan data empirik.
Hal lain dalam penelitian ini yang diperkirakan juga berhubungan dengan
hasil penelitian yang diperoleh adalah sebaran data yang kurang bervariasi dimana
data yang diperoleh cenderung mengelompok pada kutub yang ekstrim (tinggi
untuk religiusitas dan rendah untuk penalaran moral). Data mengenai religiusitas
menunjukkan hampir seluruh partisipan penelitian memiliki religiusitas yang
tergolong tinggi dan sangat tinggi. Hanya satu orang yang religiusitasnya tergolong
rendah. Penalaran moral partisipan penelitian menujukkan hampir seluruh
partisipan penelitian berada pada kategori rendah dan sangat rendah dalam
penalaran moral yang berlandaskan prinsip moral. Jika dilihat dari tahapan
moralnya, data cenderung menyebar dalam tiap-tiap tahap (dari yang paling rendah
sampai yang paling tinggi). Keterbatasan dalam sebaran data (khususnya untuk
religiusitas dan penalaran moral berdasarkan nilai P ) ini menunjukkan partisipan
penelitian yang cenderung homogen.
5. PENUTUP
5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dijabarkan pada
bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar partisipan
penelitian memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Namun hal ini kurang
dibarengi dengan penalaran moral dimana sebagian besar parisipan penelitian
tergolong rendah dan sangat rendah. Hal ini berarti, bahwa dalam
mempertimbangkan suatu dilema moral demi menilai boleh atau tidak boleh
dilakukannya perilaku tertentu dalam menghadapi dilema moral itu, sebagian besar
belum memandang penting untuk mendasarkan pertimbangannya berdasarkan
prinsip moral yaitu prinsip keadilan yang memandang persamaan derajat hak asasi
manusia yang bersifat menyeluruh, prinsipil sebagai hal yang utama dalam hidup
bermasyarakat. Dari hasil uji hipotetis, diperoleh hasil bahwa tidak terdapat
hubungan antara religiusitas dengan penalaran moral pada partisipan penelitian
yang merupakan remaja akhir.
5.2. SARAN
Saran untuk penelitian selanjutnya yang terkait : diperlukan penelitian
lebih lanjut yang lebih mendalam dan melibatkan partisipan penelitian yang lebih
besar untuk memperoleh sebaran data yang lebih bervariasi.
Saran praktis pada pihak-pihak terkait :
694
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
1. Bagi institusi pendidikan yang terkait supaya memperhatikan perkembangan
penalaran moral mahasiswa dengan mengembangkan hal-hal yang dapat
mendukung perkembangan penalaran moral misalnya dengan mengadakan
diskusi-diskusi mengenai situasi sosial bangsa kita yang diharapkan dapat
merangsang perkembangan kognitif yang turut mendasari perkembangan
penalaran moral.
2. Bagi pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan keagamaan agar
memperhatikan perkembangan kelima dimensi dalam religiusitas terutama
dalam perkembangan penghayatan yang bersifat personal dengan Tuhan,
dimana perkembangan aspek ini paling berhubungan dengan kehidupan yang
selaras dengan ajaran agama yang dianut.
3. Bagi para mahasiswa dalam usia remaja akhir maupun dewasa awal, supaya
menyadari pentingnya bagi mereka untuk memiliki mengenai penghayatan
keagamaan yang sungguh-sungguh mereka yakini dan pemahaman mengenai
prinsip moral. Hal ini mengingat, bahwa para mahasiswa diharapkan menjadi
generasi pemimpin masyarakat Indonesia (dalam berbagai bidang) yang dapat
mengarahkan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Sehingga perlu memiliki
keyakinan iman dan pemikiran moral yang berdasarkan prinsip moral agar
tidak mudah terombang-ambing terbawa arus dalam mengikuti apa yang
dianggap baik oleh kebanyakan orang tetapi mampu melihat esensi mendasar
di balik semuanya itu dan dapat memberi respon yang tepat.
4. Mahasiswa perlu terlibat dalam kegiatan organisasi kampus baik yang
kerohanian maupun non-kerohanian. Ada baiknya ketika kedua hal ini berjalan
beriringan, sehingga semakin dapat membantu peningkatan kualitas
keagamaan yang dibarengi dengan bertemu dengan berbagai sudut pandang
dari orang lain sehingga menolong untuk semakin utuh dalam sistem nilai yang
dimiliki.
DAFTAR PUSTAKA
Angelique, Joyce F.P Peranan Faktor Religius Terhadap Perkembangan Moral
Pada
Remaja
Dari
Keluarga
Bercerai.
(www.Psikologiuntar.com/abstrak/skripsi/php).
Cochran, William G. 1953. Sampling Techniques. New York : John Wiley & Sons.
Inc.
Danim, Sudarwan. 2000. Metode Penelitian untuk Ilmu-ilmu Perilaku. Jakarta :
Bumi Aksara.
Friedenberg, Lisa. 1995. Psychological Testing. Massachusetts : Allyn&Bacon.
Furrow, L. James et al. 2004. Religion and positive youth developmental : identity,
meaning and prosocial concerns. Applied Developmental Science Vol 8, No.
1, hal 17-26.
695
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
Glock, C and Stark, R. 1965. Religion and Society in Tension. Chicago : Rand Mc
Nally & Company.
Hood, W. Ralp et al. 1996. The Psychology of Religion. New York : The Guilford
Press.
Kerlinger, Fred. N. 1990. Asas- Asas Penelitian Behavioral. Yogyakarta : Gajah
Mada University Press.
Kohlberg, Lawrence. 1995.Tahap-tahap Perkembangan Moral. Yogyakarta :
Penerbit Kanisius.
Maryani, Nina. 2005. Hubungan antara Partisipasi dalam Organisasi dengan
Penalaran Moral pada Remaja Akhir. Bandung. Skripsi (tidak diterbitkan) :
Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.
Nasir, Mohammad. 1988. Ph. D. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Oki, Dwita P.S. 2006. Studi mengenai Tahapan “Moral Judgement’ pada
Mahasiswa yang Melakukan Perilaku Mencontek saat Ujian. Bandung.
Skripsi (tidak diterbitkan) : Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.
Rakhmat, Jalaluddin. 1998. Psikologi Agama.
Persada.
Jakarata : PT. Raja Grafindo
_______ . 2003. Psikologi Agama : Sebuah Pengantar. Bandung : PT. Mizan
Pustaka.
Rest, James. 1974. Manual for The Defining Issues Test : An Objective test of
Moral Judgement Development. University of Minnesota.
Riduwan, Drs. M.B.A. 2002. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian.
Bandung : Penerbit Alfabeta.
Sarah, Siti. 1997. Hubungan antara Konsep Religiusitas, Sistem Perbankan Bank
Muamalat Indonesia (BMI) dan Kepuasan Nasabah. Bandung. Skripsi (tidak
diterbitkan ): Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.
Siegel, Sidney. 1985. Statistik Nonparametrik Untuk Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta : PT.
Gramedia.
Sudjana, M.A. , M. Sc., DR., Prof. 1996. Metoda Statistika. Bandung : Penerbit
Tarsito.
Theresiawati. El Nora dan Prihastuti. 2003. Hubungan antara tingkat religiusitas
dengan metode active coping ptsd dimana tingkat ptsd merupakan variabel
kontrol pada pengungsi remaja asal Sampit sebagai santri Pondok Pesantren
Darussalam Ketapang Sampang Madura. Jurnal Insan, Vol.5, No.3, hal. 157168.
Wagener, Mans Linda et al. 2003. Religious involvement and developmental
resources in youth. Review of Religious Research, Vol. 44 : 3, hal. 271-284
696
______________
ISSN 0852 - 0203
VISI (2008) 16 (3) 680- 696
697
______________
ISSN 0852 - 0203
Download