pengaruh akuntabilitas publik, kejelasan sasaran

advertisement
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
PENGARUH AKUNTABILITAS PUBLIK, KEJELASAN SASARAN
ANGGARAN, DAN SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN
TERHADAP KINERJA MANAJERIAL SKPD DI KABUPATEN
KLUNGKUNG
1
Ni Kadek Astini,
Ni Luh Gede Erni Sulindawati, 2Ni Kadek Sinarwati
1
Jurusan Akuntansi Program S1
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: {[email protected], [email protected],
[email protected].}@undiksha.ac.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh akuntabilitas publik, kejelasan
sasaran anggaran, dan sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja manajerial
SKPD baik secara parsial maupun secara simultan. Desain penelitian yang digunakan
adalah penelitian kuantitatif. Jumlah populasi dalam penelitian adalah 30 SKPD di
Kabupaten Klungkung. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah judgement
sampling, dengan jumlah responden adalah 60 orang. Sumber data dalam penelitian
adalah data primer. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode survey melalui
penyebaran kuesioner secara langsung. Kuesioner disusun dengan menggunakan skala
likert 1 sampai 5. Metode analisis data yang digunakan yaitu analisis regresi berganda
dan pengujian data dilakukan dengan dibantu oleh Program SPSS (Statistical Product
and Service Solution) 19.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial akuntabilitas publik, kejelasan
sasaran anggaran, dan sistem pengendalian manajemen berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja manajerial SKPD. Secara simultan baik akuntabilitas publik,
kejelasan sasaran anggaran, dan sistem pengendalian manajemen berpengaruh
signifikan terhadap kinerja manajerial SKPD di Kabupaten Klungkung.
Kata kunci: akuntabilitas publik, kejelasan sasaran anggaran, kinerja manajerial, dan
sistem pengendalian manajemen.
Abstract
This study was aimed at finding out the effect of public accountability, clarity of
budget objective, and management control system on the managerial performance of
SKPDs in Klungkung Regency both partially and simultaneously. The study used
quantitative design. The size of population was 30 SKPDs in Klungkung regency. The
sampling technique used was judgement sampling, with 60 respondents. The data
source was primary data. The data were collected using survey method through
distributing questionnaire directly. The questionnaire was written using Likert scale 1 up
to 5. The method of data analysis used was multiple regression and the data testing was
aided by SPSS (Statistical Product and Service Solution) 19 program.
The result showed that partially public accountability, clarity of budget objective,
and management control system had a positive and significant effect on the managerial
performance on SKPDs. Simultaneously, public, clarity of budget objective, and
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
managerial control system had significant effect on the managerial performance of
SKPDs in Klungkung Regency.
Keywords: public accountability, clarity of budget objective, managerial performance and
management control system.
PENDAHULUAN
Pemberdayaan
ekonomi
daerah
sangat penting sekali untuk ditingkatkan
guna menunjang peningkatan ekonomi
nasional. Dalam konteks ini, peran
kebijakan pemerintah yang efektif dan
efisien sangatlah penting diperlukan baik
kebijakan ekonomi untuk daerah maupun
kebijakan ekonomi untuk pemerintah pusat.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun
1999 yang telah diamandemen dengan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004,
tentang Pemerintah Daerah melahirkan
paradigma baru dalam pelaksanaan
otonomi daerah, yang meletakkan otonomi
penuh, luas, dan bertanggung jawab pada
daerah. Penyelenggaran untuk pemerintah
daerah dengan berdasarkan undangundang tersebut juga telah melahirkan
nuansa baru, yaitu pergeseran kewenangan
pemerintah yang sentralis birokratik ke
pemerintah yang desentralik partisipatoris
(Mardiasmo, 2006: 2).
Adapun fenomena yang terjadi saat
ini, berdasarkan pemantauan dari bupati
Klungkung, I Nyoman Suwirta dalam
pertemuan acara tatap muka dengan
seluruh pejabat struktural di masing-masing
SKPD, pada tanggal 17 Desember 2013 itu,
menilai kinerja SKPD Klungkung masih
lamban, sehingga juga berimbas pada
berbagai agenda pembangunan. Belum
optimalnya penyelenggaraan pemerintahan
dan pembangunan di kabupaten Klungkung
karena masih adanya beberapa kelemahan,
terlihat dari hasil penilaian dan evaluasi
akuntabilitas kinerja instansi pemerintahan
yang
sebelumnya
di
sampaikan
Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi untuk
tahun 2012 masih belum memuaskan
(www.klungkungkab.go.id).
Menurut Mahoney et. al. (1963) dalam
Natalia (2010), kinerja manajerial adalah
kinerja para individu anggota organisasi
dalam kegiatan manajerial, antara lain
perencanaan,
investigasi,
pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan,
pengaturan staf, negoisasi, perwakilan dan
kinerja
secara
keseluruhan.
Kinerja
manajerial satuan kerja perangkat daerah
merupakan gambaran mengenai tingkat
pencapaian sasaran atau tujuan sebagai
penjabaran dari visi, misi, dan strategi
instansi
pemerintah
daerah
yang
mengindikasikan tingkat keberhasilan atau
kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan
sesuai dengan tugas pokok dan fungsi
aparatur pemerintah.
Akuntabilitas
merupakan
prinsip
pertanggungjawaban yang berarti bahwa
proses
penganggaran
dimulai
dari
perencanaan, penyusunan, pelaksanaan
harus benar-benar dapat dilaporkan dan
dipertanggungjawabkan kepada DPRD dan
masyarakat. Masyarakat tidak hanya
memiliki hak untuk mengetahui anggaran
tersebut tetapi juga berhak untuk menuntut
pertanggungjawaban atas rencana ataupun
pelaksanaan
anggaran
tersebut
(Mardiasmo, 2002: 103).
Menurut Kenis (1979) dalam Deki
Putra (2013), kejelasan sasaran anggaran
merupakan sejauh mana tujuan anggaran
ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan
tujuan agar anggaran tersebut dapat
dimengerti
oleh
orang
yang
bertanggungjawab
atas
pencapaian
anggaran tersebut. Kejelasan sasaran
anggaran berimplikasi pada aparat untuk
menyusun anggaran sesuai dengan
sasaran yang ingin dicapai instansi
pemerintah. Kejelasan sasaran anggaran
akan membantu pegawai untuk mencapai
kinerja yang diharapkan, dimana dengan
mengetahui sasaran anggaran maka tingkat
kinerja dapat tercapai.
Anthony dan Govindrajan (2005: 8)
mendefinisikan
sistem
pengendalian
manajemen sebagai suatu proses dimana
para manajer mempengaruhi anggota
organisasi
lainnya
untuk
mengimplementasikan strategi organisasi.
Proses pengendalian manajemen dilakukan
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
secara bertahap dan dimulai semenjak
perumusan
strategi,
pengendalian
manajemen,
serta
diikuti
dengan
pengendalian tugas.
Penelitian ini merupakan replikasi dari
penelitian Deki Putra (2013), yang berjudul
“Pengaruh
Akuntabilitas
Publik
Dan
Kejelasan Sasaran Anggaran Terhadap
Kinerja Manajerial Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Studi Empiris pada Satuan Kerja
Perangkat
Daerah
Kota
Padang)”.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya yaitu terletak pada lokasi,
waktu, dan jumlah sampel yang akan
diteliti. Selain itu penelitian ini menambah
satu variabel bebas dari penelitian
sebelumnya,
yaitu
variabel
sistem
pengendalian manajemen.
Berdasarkan uraian pada latar
belakang di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut: (1) Apakah
akuntabilitas publik berpengaruh terhadap
kinerja manajerial SKPD di Kabupaten
Klungkung? (2) Apakah kejelasan sasaran
anggaran berpengaruh terhadap kinerja
manajerial SKPD di Kabupaten Klungkung?
(3)
Apakah sistem
pengendalian
manajemen berpengaruh terhadap kinerja
manajerial SKPD di Kabupaten Klungkung?
dan (4) Apakah akuntabilitas publik,
kejelasan sasaran anggaran, dan sistem
pengendalian manajemen berpengaruh
secara simultan terhadap kinerja manajerial
SKPD
di
Kabupaten
Klungkung?
sedangkan
yang
menjadi
tujuan
dilakukannya penelitian ini adalah (1) Untuk
mengetahui apakah akuntabilitas publik
pengaruh terhadap kinerja manajerial
SKPD di Kabupaten Klungkung, (2) Untuk
mengetahui apakah kejelasan sasaran
anggaran berpengaruh terhadap kinerja
manajerial SKPD di Kabupaten Klungkung,
(3) Untuk mengetahui apakah sistem
pengendalian manajemen berpengaruh
terhadap kinerja manajerial SKPD di
Kabupaten Klungkung, dan (4) Untuk
mengetahui apakah akuntabilitas publik,
kejelasan sasaran anggaran, dan sistem
pengendalian manajemen berpengaruh
secara simultan terhadap kinerja manajerial
SKPD di Kabupaten Klungkung.
Terwujudnya akuntabilitas merupakan
tujuan utama dari reformasi sektor publik.
Akuntabilitas
merupakan
prinsip
pertanggungjawaban yang berarti bahwa
proses
penganggaran
dimulai
dari
perencanaan, penyusunan, pelaksanaan
harus benar-benar dapat dilaporkan dan
dipertanggungjawabkan kepada DPRD dan
masyarakat. Masyarakat tidak hanya
memiliki hak untuk mengetahui anggaran
tersebut tetapi juga berhak untuk menuntut
pertanggungjawaban atas rencana ataupun
pelaksanaan
anggaran
tersebut
(Mardiasmo, 2002: 103). Hasil penelitian
Deki Putra (2013), menunjukan bahwa
akuntabilitas publik berpengaruh signifikan
positif tehadap kinerja manajerial SKPD.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat
dirumuskan hipotesis sebagai berikut.
H1 : Akuntabilitas publik berpengaruh
signifikan positif terhadap kinerja manajerial
SKPD.
Jika kualitas anggaran pemerintah
daerah rendah, maka kualitas fungsi-fungsi
pemerintah cenderung lemah. Anggaran
daerah harus bisa menjadi tolak ukur
pencapaian kinerja yang diharapkan,
sehingga perencanaan angggaran daerah
harus bisa menggambarkan sasaran kinerja
secara jelas. Kenis (1979) dalam Syafrial
(2009), menemukan bahwa pelaksana
anggaran memberikan reaksi positif dan
secara
relatif
sangat
kuat
untuk
meningkatkan kejelasan sasaran anggaran.
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis
kedua
dalam
penelitian
ini
dapat
dirumuskan sebagai berikut.
H2 :
Kejelasan sasaran anggaran
berpengaruh signifikan positif terhadap
kinerja manajerial SKPD.
Dengan diberlakukannya konsep
manajemen kinerja, maka berlaku pula
pengendalian manajemen, karena di dalam
manajemen kinerja terdapat pengukuran
kinerja dan evaluasi. Sejalan dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Daniel
(2012), menyimpulkan bahwa sistem
pengendalian manajemen berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kinerja
SKPD. Berdasarkan uraian di atas, maka
hipotesis ketiga dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut.
H3: Sistem pengendalian manajemen
berpengaruh terhadap signifikan positif
terhadap kinerja manajerial SKPD.
Berdasarkan uraian yang telah
disampaikan di atas,
maka dapat
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
dirumuskan hipotesis yang keempat dalam
penelitian ini yaitu sebagai berikut.
H4 : Akuntabilitas publik, kejelasan sasaran
anggaran, dan
sistem pengendalian
manajemen berpengaruh signifikan secara
simultan terhadap kinerja
manajerial
SKPD.
METODE
Desain penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah penelitian
kuantitatif. Penelitian ini mengambil lokasi
di Kabupaten Klungkung. Populasi dalam
penelitian ini yaitu Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) yang ada di Kabupaten
Klungkung yang terdiri dari 30 SKPD,
sedangkan sampelnya berjumlah 60 orang
yang terdiri dari kepala/pimpinan SKPD dan
satu orang kepala sub bagian keuangan
dari masing-masing SKPD. Pemilihan
sampel menggunakan metode judgment
sampling. Data yang digunakan adalah data
primer. Pengumpulan data dalam penelitian
ini dilakukan dengan cara survey lapangan,
menggunakan kuesioner yang disebarkan
secara
langsung
ke
responden.
Pengukuran
variabel-variabel
dalam
penelitian ini memakai skala likert 1 sampai
dengan 5. Pengujian data dibantu dengan
menggunakan SPSS versi 19.
Pada penelitian ini, tahap pertama
adalah data diuji dengan menggunakan uji
kualitas data terdiri dari uji validitas dan uji
reliabilitas. Tahap kedua, dilakukan uji
asumsi klasik yang meliputi uji normalitas,
uji
multikolonieritas,
dan
uji
heteroskedastisitas. Pada tahap ketiga
adalah pengujian hipotesis dilakukan
dengan analisis regresi berganda, uji
parsial (t), uji simultan (f), dan uji koefisien
determinasi (R2).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah kuesioner yang disebar
kepada responden adalah sebanyak 60
kuesioner. Waktu yang digunakan untuk
menyebarkan kuesioner sampai terkumpul
adalah kurang lebih 2 minggu. Total
kuesioner yang kembali dan layak
digunakan adalah 60 buah. Setelah semua
data terkumpul selanjutnya dilakukan
pengujian
yang
dibantu
dengan
menggunakan SPSS 19.
Berdasarkan hasil kuesioner yang
kembali dan dapat diolah, diketahui bahwa
sebagian besar responden berjenis kelamin
yaitu laki-laki dengan jumlah sekitar
44orang atau 73,33%. Untuk usia
responden
sendiri,
sebagian
besar
reponden berusia diatas 51 tahun yaitu
sebanyak 27 orang atau 45,00%. Dilihat
dari
segi
pendidikan
terakhirnya,
kebanyakan responden dalam penelitian
memiliki pendidikan terakhir S1 dengan
jumlah 40 orang atau 66,67%. Responden
terbanyak merupakan kategori kepala sub
bagian keuangan yaitu sebesar 32
responden atau sebesar 53.33%. Dari segi
pangkat/golongan sebanyak 31 orang atau
51,66% memiliki pangkat/golongan III.
Terkait dengan lamanya bekerja, sebagian
besar lamanya bekerja responden yaitu
lebih dari 21 tahun. Berdasarkan klasifikasi
latar belakang pendidikannya sebanyak 18
orang atau 30,00% memiliki latar belakang
pendidikan ekonomi.
Uji
validitas
digunakan
untuk
mengukur sah atau valid tidaknya suatu
kuesioner (Imam Ghozali, 2011: 52). Untuk
melihat validitas dari masing-masing item
kuesioner, digunakan Corrected Item-Total
Correlation. Jika r hitung > r tabel, maka data
dikatakan valid. Jika tingkat signifikansinya
di bawah 0,05 maka butir pertanyaan
variabel tersebut dapat dikatakan valid
begitu juga sebaliknya (Ghozali, 2009).
Berdasarkan
pengujian
yang
telah
dilakukan dapat diketahui bahwa semua
item pertanyaan untuk masing-masing
variabel dalam penelitian ini baik itu
variabel akuntabilitas publik (X1), kejelasan
sasaran
anggaran
(X2),
sistem
pengendalian manajemen (X3) maupun
kinerja manajerial SKPD (Y) semuanya
dikatakan valid karena nilai sigifikansinya
lebih kecil dari 0,05.
Selanjutnya dilakukan uji reliabilitas.
Uji ini bertujuan untuk mengukur suatu
kuesioner yang merupakan indikator dari
variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliable
atau handal jika jawaban seseorang
terhadap pertanyaan adalah konstan atau
stabil dari waktu ke waktu. Suatu variabel
dapat
dikatakan
reliabel
jika
nilai
Cronbach’s Alpha nya > 0,60 begitupun
sebaliknya dikatakan tidak reliabel jika
Cronbach’s Alpha nya < 0,60 (Ghozali,
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
2009). Berdasarkan hasil uji reliabilitas
yang telah dilakukan diketahui bahwa
variabel akuntabilitas publik (X1) dikatakan
reliabel karena memiliki nilai Cronbach’s
Alpha 0,946 > 0,60. Selanjutnya untuk
kejelasan sasaran anggaran (X2) juga
dikatakan reliabel karena memiliki nilai
Cronbach’s Alpha 0,868 > 0,60. Begitu
juga
dengan
sistem
pengendalian
manajemen (X2) dikatakan reliabel karena
memiliki nilai Cronbach’s Alpha 0,927 >
0,60. Untuk variabel yang terakhir yaitu
kinerja manajerial SKPD (Y) dikatakan
reliable karena memiliki nilai Conbach’s
Alpha 0,818 > 0,60. Setelah melakukan uji
kualitas
data,
dilanjutkan
dengan
melakukan uji asumsi klasik yang meliputi
uji normalitas, uji multikolinaeritas dan uji
hetorekedastisitas.
Uji
normalitas
bertujuan
untuk
menguji apakah model regresi variabel
terikat dan variabel bebas keduanya
mempunyai distribusi normal atau tidak. Uji
normalitas dilakukan dengan menggunakan
One Sample Kolmogorov-Smirnov test
dengan taraf signifikan 5%. Dasar
pengambilan keputusan sebagai berikut.
Jika nilai Sig ≥ 0,05 maka dikatakan
berdistribusi normal.
Berdasarkan uji normalitas dapat
dilakukan
dengan
melihat
nilai
Asymp.sig.(2-tailed).
Untuk
variabel
akuntabilitas publik nilai Asymp. sig.(2tailed) sebesar 0,235, untuk variabel
kejelasan
sasaran
anggaran
nilai
Asymp.sig.(2-tailed) adalah sebesar 0,069,
variabel sistem pengendalian manajemen
nilai Asymp.sig.(2-tailed) sebesar 0,717 dan
untuk variabel kinerja manajerial SKPD nilai
Asymp.sig.(2-tailed) adalah sebesar 0,732.
Semua variabel dalam penelitian ini
memiliki nilai Asymp.sig.(2-tailed) yang
lebih besar dari 0,05 sehingga hasilnya
berdistribusi normal.
Untuk meningkatkan hasil pengujian
maka uji normalitas akan diperkuat juga
dengan melihat grafik P-P Plot. Suatu
variabel dikatakan berdistribusi normal atau
mendekati normal apabila titik-titik data
menyebar disekitar garis diagonal dan
penyebaran titik-titik data tersebut searah
dengan garis diagonal (Santoso, 2004).
Hasil uji grafik normal P-P Plot dalam
penelitian disajikan pada gambar 1 berikut.
Gambar 1. Hasil Uji Normal P-P Plot
Sumber: data diolah, 2014
Berdasarkan gambar 1 grafik P-P Plot
terletak di sekitar garis diagonal atau tidak
menyimpang jauh dari garis diagonal,
sehingga bisa diartikan bahwa data
berdistribusi normal.
Uji multikolonieritas bertujuan untuk
menguji apakah model regresi ditemukan
adanya korelasi antar variabel bebas
(independent). Pengujian ada atau tidaknya
multikolonieritas di dalam model regresi
dapat dilakukan dengan melihat nilai
tolerance dan nilai Variance Inflation Factor
(VIF).
Nilai yang umum dipakai untuk
menunjukkan
adanya
multikolonieritas
adalah nilai tolerance ≤ 0,10 atau nilai VIF
≥ 10 atau nilai VIF > 10. Jika angka
tolerance > 0,10 dan VIF < 10 dikatakan
tidak terdapat gejala multikolonieritas.
(Imam Ghozali, 2011: 106). Hasil uji
multikolonieritas pada penelitian ini dapat
dilihat pada tabel 1 berikut ini.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
Tabel 1. Hasil Uji Multikolinearitas
Model
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
(Constant)
AP
0,500
KSA
0,482
SPM
0,945
a. Dependent Variable: KM_SKPD
Sumber: data diolah, 2014
Keterangan
1
Dapat dilihat dari tabel 1. bahwa
angka tolerance diatas 0,10 sedangkan,
nilai VIF kurang dari 10. Jadi dapat
disimpulkan bahwa, untuk masing-masing
variabel dalam penelitian ini tidak terdeteksi
masalah multikolonieritas atau dapat
dikatakan tidak ada multikolonieritas.
Uji heteroskedastisitas bertujuan guna
menguji apakah terjadi ketidaksamaan
variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lainnya dalam suatu
model regresi. Uji heteroskedastisitas
dalam penelitian ini dapat dilihat dengan
menggunakan grafik plot (Imam Ghozali,
2011: 139). Hasil uji heteroskedastisitas
dalam penelitian ini disajikan pada gambar
2 berikut.
1,998
2,075
1,058
Tidak terjadi multikolonieritas
Tidak terjadi multikolonieritas
Tidak terjadi multikolonieritas
Berdasarkan gambar 2 di atas dapat
diketahui bahwa titik-titik data menyebar
baik di atas maupun di bawah angka 0
pada sumbu Y dan titik-titik data tersebut
tidak membentuk suatu pola yang jelas.
Maka dapat disimpulkan bahwa dalam
model
regresi
ini
tidak
terjadi
heteroskedastisitas.
Analisis regresi berganda dalam
penelitian ini untuk mengetahui pengaruh
antara variabel independen (akuntabilitas
publik, kejelasan sasaran anggaran, dan
sistem pengendalian manajemen) terhadap
variabel dependen (kinerja manajerial
SKPD).
Adapun
model
persamaan
regresinya adalah sebagai berikut.
Keterangan:
Y = Kinerja Manajerial Satuan Kerja
Perangkat Daerah (KM_SKPD)
α = Konstanta
β 1,2,3 = Koefisien regresi dari variabel
independen
X1 = Akuntabilitas Publik (AP)
X2 = Kejelasan Sasaran Anggaran (KJS)
X3 = Sistem Pengendalian Manajemen
(SPM)
e = Std. erorr
Gambar 2. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber: data diolah, 2014
Untuk hasil perhitungan Untuk hasil
perhitungan analisis regresi berganda dapat
dilihat pada tabel 2 berikut ini.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
Tabel 2. Hasil Analisis Regresi Berganda
Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
B
Std. Error
1 (Constant)
9,564
2,201
AP
,161
,053
KSA
,631
,103
SPM
,085
,033
a. Dependent Variable: KM_SKPD
Sumber: data diolah, 2014
Standardized
Coefficients
Beta
,286
,593
,177
Berdasarkan tabel 2 di atas dapat
diketahui bahwa variabel akuntabilitas
publik (AP), kejelasan sasaran anggaran
(KSA),
dan
sistem
pengendalian
manajemen (SPM) memiliki pengaruh
positif. Maka dapat diperoleh model
persamaan regresi sebagai berikut.
Uji t dilakukan guna mengetahui
pengaruh
dari
variabel
independen
terhadap variabel dependen secara parsial.
Hasil uji t bisa dilihat pada tabel 2
berdasarkan tabel 2 di atas, dapat diketahui
bahwa variabel akuntabilitas publik (X1) nilai
koefisien regresinya (β1) adalah sebesar
0,161 dan memiliki nilai signifikansi 0,004 <
0,05. Hal ini menunjukkan adanya
pengaruh secara positif dan signifikan untuk
variabel akuntabilitas publik (X1) terhadap
kinerja manajerial SKPD (Y). Sehingga
hipotesis pertama (H1) yang menyatakan
bahwa akuntabilitas publik berpengaruh
positif signifikan terhadap kinerja manajerial
SKPD dapat diterima. Begitu juga untuk
variabel selanjutnya dapat dilakukan
dengan melihat nilai koefisien regresi dan
juga melihat nilai signifikansi dari variabel
kejelasan sasaran anggaran (X2). Dari tabel
t
4,344
3,024
6,151
2,567
Sig.
,000
,004
,000
,013
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
,500
,482
,945
1,998
2,075
1,058
di atas diketahui bahwa kejelasan sasaran
anggaran nilai koefisien regresinya (β1)
adalah sebesar 0,631 dan nilai signifikansi
0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan adanya
pengaruh secara positif dan signifikan untuk
variabel kejelasan sasaran anggaran (X2)
terhadap kinerja manajerial SKPD (Y).
Sehingga hipotesis kedua (H2) yang
menyatakan bahwa kejelasan sasaran
anggaran berpengaruh positif signifikan
terhadap kinerja manajerial SKPD dapat
diterima. Untuk variabel yang terakhir yaitu
sistem pengendalian manajemen (X3), dari
tabel di atas diketahui bahwa sistem
pengendalian manajemen nilai koefisien
regresinya (β3) sebesar 0,085 dan memiliki
nilai signifikansi sebesar 0,013 < 0,05. Hal
ini menunjukkan adanya pengaruh secara
positif dan signifikan untuk variabel sistem
pengendalian manajemen (X3) terhadap
kinerja manajerial SKPD (Y). Sehingga
hipotesis ketiga (H3) yang menyatakan
bahwa sistem pengendalian manajemen
berpengaruh positif signifikan terhadap
kinerja manajerial SKPD dapat diterima.
Uji f digunakan untuk mengetahui
pengaruh antar variabel independen
terhadap
variabel
dependen
secara
bersama-sama (Ghozali, 2009). Hasil uji f
disajikan pada tabel 3 berikut.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
Tabel 3. Hasil Uji F
ANOVAb
Model
Sum of Squares
df
1
Regression
399,623
3
Residual
133,627
56
Total
533,250
59
a. Predictors: (Constant), SPM, AP, KSA
b. Dependent Variable: KM_SKPD
Sumber: data diolah, 2014
Berdasarkan tabel 3 di atas dapat
diketahui bahwa nilai signifikansinya adalah
sebesar 0,000 yang mana nilai tersebut
lebih kecil dari 0,05 maka H4 dalam
penelitian ini dapat diterima. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa baik variabel
akuntabilitas publik (X1), kejelasan sasaran
anggaran (X2) dan sistem pengendalian
manajemen (X3) secara bersama-sama
Mean
Square
133,208
2,386
F
55,824
Sig.
,000a
berpengaruh signifikan terhadap kinerja
manajerial SKPD (Y).
Uji
koefisien
determinan
(R2)
bertujuan guna mengukur
seberapa
jauhkah kemampuan suatu model dalam
menerangkan variasi yang terjadi pada
variabel dependen (Ghozali, 2009). Untuk
hasil uji dari koefisien determinasi (R2)
dalam penelitian disajikan pada tabel 4
berikut.
Tabel 4. Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Model
R
R Square Adjusted R Square
1
,866a
,749
,736
a. Predictors: (Constant), SPM, AP, KSA
b. Dependent Variable: KM_SKPD
Std. Error of the
Estimate
1,545
Durbin-Watson
1,407
Sumber: data diolah, 2014
Berdasarkan tabel 4 di atas dapat
diketahui bahwa nilai Adjusted R Square
dalam penelitian ini adalah sebesar 0,736
atau 73,6%. Hal ini berarti variansi yang
terjadi pada variabel kinerja manajerial
SKPD (Y) sebesar 73,6% ditentukan oleh
variabel akuntabilitas publik, kejelasan
sasaran
anggaran,
dan
sistem
pengendalian
manajemen,
sedangkan
sisanya 26,4% (100% - 73,6%) dipengaruhi
oleh
variabel
lainnya
yang
tidak
dimasukkan dalam penelitian ini.
Pengaruh Akuntabilitas Publik Terhadap
Kinerja
Manajerial
Satuan
Kerja
Perangkat Daerah (SKPD)
Berdasarkan hasil penelitian yang
dibahas sebelumnya menunjukkan, bahwa
akuntabilitas publik berpengaruh signifikan
positif tehadap kinerja manajerial SKPD
dengan nilai signifikansi 0,004 < α = 0,05
dan nilai thitung 3,024 lebih besar dari ttabel
1,6720. Nilai koefisiensi β dari variabel X1
bernilai positif yaitu 0,286. Dari hasil ini
dapat disimpulkan bahwa dengan adanya
akuntabilitas publik setiap manajer pada
semua tingkatan pada SKPD akan
meningkatkan kinerja manajerial, sehingga
hipotesis pertama (H1) dalam penelitian ini
menyatakan bahwa akuntabilitas publik
berpengaruh signifikan positif terhadap
kinerja manajerial SKPD dapat diterima.
Hal ini sesuai dengan teori yang
dinyatakan oleh Mardiasmo (2002: 103)
yaitu akuntabilitas merupakan prinsip
pertanggungjawaban yang berarti bahwa
proses
penganggaran
dimulai
dari
perencanaan, penyusunan, pelaksanaan
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
harus benar-benar dapat dilaporkan dan
dipertanggungjawabkan kepada DPRD dan
masyarakat.
Hal
ini
menegaskan
pentingnya akuntabilitas publik dalam
peningkatan kinerja manejerial, karena
dengan adanya akuntabilitas kepada
masyarakat, masyarakat tidak hanya untuk
mengetahui anggaran tersebut tetapi juga
mengetahui pelaksanaan kegiatan yang
dianggarkan sehingga pemerintah daerah
berusaha
dengan
baik
dalam
melaksanakan seluruh perencanaan yang
ada karena akan dinilai dan diawasi oleh
masyarakat.
Sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Deki Putra (2013), terkait
pengaruh akuntabilitas publik dan kejelasan
sasaran
anggaran
terhadap
kinerja
manajerial satuan kerja perangkat daerah
(studi empiris pada satuan kerja perangkat
daerah Kota Padang), menunjukan bahwa
akuntabilitas publik berpengaruh signifikan
positif tehadap kinerja manajerial SKPD di
Kota Padang. Penelitian ini juga konsisten
dengan penelitian yang dilakukan Fakih
(2011), yang meneliti tentang Pengaruh
Akuntabilitas
Publik,
Partisipasi
Penyusunan Anggaran, dan Transparansi
Kebijakan
Publik
terhadap
Kinerja
Manajerial pada Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) se-Kabupaten Wonosobo.
Hasil
penelitiannya
menunjukkan
akuntabilitas publik, berpengaruh positif
signifikan secara simultan maupun parsial
terhadap kinerja manajerial.
Berdasarkan hal ini juga diharapkan
dengan adanya akuntabilitas publik,
pemerintah daerah bisa memberikan
pertanggungjawaban atas semua kegiatan
yang
dilaksanakan sehingga kinerja
pemerintah daerah dapat dinilai baik oleh
pihak internal, maupun pihak eksternal.
Terwujudnya
akuntabilitas
publik
merupakan tujuan utama dari reformasi
sektor publik.
Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran
Terhadap Kinerja Manajerial Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Berdasarkan
hasil
penelitian
sebelumnya
menunjukkan
bahwa
kejelasan sasaran anggaran berpengaruh
signifikan positif tehadap kinerja manajerial
SKPD dengan nilai signifikansi 0,000 < α =
0,05 dan nilai thitung 6,151 lebih besar dari
ttabel 1,6720. Nilai koefisiensi β dari variabel
X2 bernilai positif yaitu 0,593 yang artinya
hipotesis kedua dapat diterima. Pengaruh
antara
kejelasan
sasaran
anggaran
terhadap kinerja manajerial SKPD adalah
bahwa anggaran daerah harus bisa menjadi
tolak ukur pencapaian kinerja yang
diharapkan,
sehingga
perencanaan
angggaran
daerah
harus
bisa
menggambarkan sasaran kinerja secara
jelas. Semakin baik kejelasan sasaran
anggaran berarti kinerja pemerintah yang
dihasilkan oleh pemerintah juga akan
semakin meningkat.
Pernyataan ini sejalan dengan
pendapat Kenis (1979) dalam Syafrial
(2009) menemukan bahwa pelaksana
anggaran memberikan reaksi positif dan
secara
relatif
sangat
kuat
untuk
meningkatkan kejelasan sasaran anggaran.
Reaksi tersebut adalah peningkatan
kepuasan kerja, penurunan ketegangan
kerja,
peningkatan
sikap
karyawan
terhadap anggaran, kinerja anggaran dan
efisiensi biaya pada pelaksana anggaran
secara signifikan, jika sasaran anggaran
dinyatakan secara jelas. Dengan demikian
karakteristik sasaran anggaran dapat
berimplikasi pada kinerja aparat pemerintah
daerah yang berpartisipasi baik dalam
penyusunan dan pelaksanaan anggaran
sesuai kebijakan umum APBD.
Sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh yang dilakukan Syafrial
(2009) tentang pengaruh ketepatan skedul
penyusunan anggaran, kejelasan sasaran
anggaran, dan partisipasi penyusunan
anggaran terhadap kinerja manajerial
satuan kerja perangkat daerah yang mana
berdasarkan hasil analisisnya disimpulkan
kejelasan sasaran anggaran berpengaruh
signifikan terhadap kinerja manajerial
satuan kerja perangkat daerah. Jadi secara
keseluruhan dengan adanya sasaran
anggaran yang jelas, maka pegawai dapat
membandingkan apa yang telah dilakukan
dengan sasaran anggaran itu sendiri, dan
kemudian menentukan dimana posisinya
saat ini, yang akan menimbulkan sebuah
motivasi tersendiri bagi pegawai untuk lebih
berusaha lebih baik dalam mencapai
sasaran anggaran yang telah ditetapkan.
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
Kejelasan
sasaran
anggaran
mengacu pada anggaran yang telah dibuat
dan dapat dimengerti secara jelas dan
spesifik sesuai dengan apa yang telah
direncanakan sebelumnya berdampak baik
terhadap kinerja atau aktivitas manajerial
dari aparat pemerintah itu sendiri. Dengan
adanya kejelasan sasaran anggaran maka
aparat pemerintah dapat menentukan target
dalam mencapai anggaran tersebut, dan
merumuskan apa saja yang akan dilakukan
sehingga apa yang telah ditargetkan pada
awalnya dapat terealisasi dengan baik.
Pengaruh
Sistem
Pengendalian
Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Berdasarkan
hasil
penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa sistem
pengendalian manajemen berpengaruh
signifikan positif tehadap kinerja manajerial
SKPD dengan nilai signifikansi 0,013 < α =
0,05 dan nilai thitung 2,567 lebih besar dari
ttabel 1,6720. Nilai koefisiensi β dari variabel
X3 bernilai positif yaitu 0,177 yang artinya
hipotesis ketiga dapat diterima. Pengaruh
antara sistem pengendalian manajemen
terhadap kinerja manajerial SKPD adalah
bahwa dengan semakin meningkatnya
pelaksanaan
sistem
pengendalian
manajemen sehingga dapat meningkat
kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah di
Kabupaten Klungkung. Tujuan adanya
sistem pengendalian manajemen sektor
publik pada dasarnya tidak terlepas dari
upaya
untuk
memperbaiki
kinerja
manajerial
dan
meningkatkan
suatu
pertanggungjawaban
yang
berdampak
pada masyarakat. Struktur pengendalian
manajemen harus didukung dengan
perangkat yang lain berupa struktur
organisasi yang sesuai dengan tipe
pengendalian manajemen yang digunakan
manajemen sumber daya manusia, dan
lingkungan yang mendukung. Struktur
pengendalian manajemen tersebut dilihat
dari
adanya
pusat-pusat
pertanggungjawaban yang cukup jelas.
Penentuan
pusat-pusat
pertanggungjawaban dapat dipengaruhi
dari
struktur
organisasinya
dalam
meningkatkan kinerja pada SKPD di
Kabupaten Klungkung. Adapun struktur
organisasi yang menggambarkan secara
jelas
mengenai
pembagian
tugas,
wewenang dan tanggung jawab untuk
setiap fungsi yang ada dalam organisasi
pemerintahan di Kabupaten Klungkung,
merupakan salah satu syarat dari akuntansi
dalam pertanggungjawaban suatu proses
sistem pengendalian manajemen yang
merupakan bagian dari perencanaan
strategis,
penyusunan
anggaran,
pelaksanaan serta evaluasi kinerja dalam
meningkatkan suatu kinerja SKPD di
Kabupaten Klungkung.
Sejalan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Daniel (2012), terkait
pengaruh desentralisasi fiskal, akuntabilitas
dan sistem pengendalian manajemen
terhadap kinerja satuan kerja perangkat
daerah Kota Palangkaraya. Dalam hal
sistem
pengendalian
manajemen
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah di
Kota Palangkaraya.
Sistem pengendalian manajemen
sektor publik berfokus pada pusat
pertanggungjawaban
dan
bagaimana
melaksanakan strategi organisasi secara
efektif dan efisien sehingga tujuan
organisasi dapat dicapai. Pusat-pusat
pertanggungjawaban
organisasi
mempunyai peran yang sangat penting
dalam melakukan perencanaan dan
pengendalian anggaran. Sehingga sistem
pengendalian manajemen harus didukung
dengan struktur organisasi yang baik.
Pengaruh
Akuntabilitas
Publik,
Kejelasan Sasaran Anggaran
dan
Sistem
Pengendalian
Manajemen
Terhadap Kinerja Manajerial Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
Untuk membuktikan apakah hipotesis
keempat (H4) yang menyatakan bahwa
akuntabilitas publik, kejelasan sasaran
anggaran, dan
sistem pengendalian
manajemen berpengaruh signifikan secara
simultan terhadap kinerja
manajerial
SKPD, maka dapat dilihat pada tabel 4.10
diketahui bahwa nilai signifikansinya
sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05 maka H4
dalam penelitian ini dapat diterima.
Sehingga
dapat
disimpulkan
bahwa
variabel akuntabilitas publik (X1), kejelasan
sasaran anggaran (X2) dan sistem
pengendalian manajemen (X3) secara
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
bersama-sama
berpengaruh
signifikan
terhadap kinerja manajerial SKPD (Y).
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan yang telah dilakukan pada
bab sebelumnya, sehingga dapat ditarik
simpulan sebagai berikut. Secara parsial,
akuntabilitas publik, kejelasan sasaran
anggaran, dan sistem pengendalian
manajemen berpengaruh signifikan positif
tehadap kinerja manajerial SKPD di
Kabupaten Klungkung. Secara simultan
Akuntabilitas publik, kejelasan sasaran
anggaran, dan
sistem pengendalian
manajemen
berpengaruh signifikan
simultan terhadap kinerja manajerial SKPD
di Kabupaten Klungkung.
Adapun saran dalam penelitian ini
adalah sebagai berikut.
Bagi SKPD di Kabupaten Klungkung,
sebaiknya melakukan pengkajian ulang
mengenai penerapan akuntabilitas publik,
kejelasan sasaran anggaran, dan sistem
pengendalian
manajemen,
serta
meningkatkan kontrol disiplin para pegawai
sehingga mampu memberikan suatu
pelayanan kepada publik secara efektif dan
efisien. Dengan meningkatnya kinerja
manajerial tentu akan meningkatkan
prestasi kerja dan pelayanan kepada
masyarakat yang semakin berkualitas baik.
Untuk
penelitian
selanjutnya,
dapat
dilakukan dengan metode lain untuk
mendapatkan data yang lengkap serta
memperluas wilayah penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, Robert N. dan Vijay Govindarajan.
2005.
Sistem
Pengendalian
Manajemen Buku 2. Terjemahan
Kurniawan
Tjakrawala.
Jakarta:
Salemba Empat.
Daniel. 2012. Pengaruh Desentralisasi
Fiskal, Akuntabilitas dan Sistem
Pengendalian Manajemen Terhadap
Kinerja Satuan Kerja Perangkat
Daerah Kota Palangkaraya. Skripsi.
Universitas Widyatama Bandung.
Fakih. 2011. Pengaruh Akuntabilitas Publik,
Partisipasi Penyusunan Anggaran,
dan Transparansi Kebijakan Publik
terhadap Kinerja Manajerial pada
Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) se-Kabupaten Wonosobo.
Skripsi. Jurusan Akuntansi. Fakultas
Ekonomi.
Universitas
Negeri
Semarang.
Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program SPSS.
Edisi 4. Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.
-------, 2011. Aplikasi Analisis Multivariate
dengan Program SPSS.
Edisi 5.
Semarang:
Badan
Penerbit
Universitas Diponegoro.
Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik.
Yogyakarta: Andi Yogyakarta.
-------,
2006.
Pemerintah
UAD.
Pengukuran
Kinerja
Daerah. Yogyakarta:
Natalia, Dewinda Putri. 2010. Pengaruh
Komitmen Organisasional dan Peran
Manajer
Pengelolaan
Keuangan
Daerah Terhadap Kinerja Manajerial
Satuan Kerja Perangkat Daerah.
Skripsi. Universitas Diponegoro.
Putra, Deki. 2013. Pengaruh Akuntabilitas
Publik Dan Kejelasan Sasaran
Anggaran
Terhadap
Kinerja
Manajerial Satuan Kerja Perangkat
Daerah (Studi Empiris pada Satuan
Kerja
Perangkat
Daerah
Kota
Padang). Skripsi. Universitas Negeri
Padang.
Republik Indonesia. Undang-Undang No.
32 Tahun 2004, Tentang Pemerintah
Daerah.
Santoso, Singgih. 2004. Buku Latihan
SPSS Statistik Parametrik. Jakarta:
PT. Elex Media Komputindo.
Syafrial. 2009. Pengaruh Ketepatan Skedul
Penyusunan Anggaran, Kejelasan
Sasaran Anggaran, dan Partisipasi
Penyusunan Anggaran Terhadap
e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha
Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No: 1 Tahun 2014)
Kinerja Manajerial Satuan Kerja
Perangkat Daerah. Tesis. Universitas
Sumatera Utara.
www.klungkungkab.go.id, diakses
tanggal 31 Desember 2013.
pada
Download