BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI,
DAN MODEL PENELITIAN
2.1 Kajian Pustaka
Kajian pustaka yang dimaksud dalam bab ini adalah penelahaan terhadap
pustaka atau teks yang berkaitan dengan lokus dan fokus penelitian yang
dilakukan oleh orang lain maupun oleh peneliti sendiri. Kajian pustaka tersebut
berupa hasil-hasil penelitian, jurnal, makalah, dan buku-buku yang berkaitan
dengan permasalahan pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya
Tanah Lot di Desa Beraban.
Penelitian di Tanah Lot telah dilakukan oleh beberapa peneliti, seperti
penelitian tesis peneliti sendiri yang berjudul “Pengelolaan Pariwisata Berbasis
Masyarakat: Studi Objek Wisata Tanah Lot di Desa Beraban, Kecamatan Kediri,
Kabupaten Tabanan” (Laksmi, 2003). Pada tesis tersebut, diungkapkan bentuk,
fungsi, dan makna pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat di Tanah Lot.
Pertama, bentuk pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat yang melibatkan tiga
unsur, yaitu Pemerintah Kabupaten Tabanan, CV Aryjasa Wisata, dan Desa
Pakraman Beraban memberikan posisi-posisi penting kepada desa pakraman
dalam struktur organisasi badan pengelola, yaitu sebagai ketua I, sekretaris,
pembantu bendahara, dan sebagai penanggung jawab bidang operasional. Kedua,
pengelolaan tersebut berfungsi meningkatkan partisipasi desa pakraman dalam
proses pengelolaan meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Ketiga,
pengelolaan tersebut memberikan makna bagi peningkatan kemampuan desa
18
pakraman dalam pembangunan pariwisata, kemampuan melakukan aktivitas
pengelolaan objek wisata, kemampuan di bidang manajerial pariwisata secara
profesional, dan makna dalam pembangunan desa pakraman meliputi makna
kesejahteraan, hubungan sosial, dan pelestarian budaya.
Penelitian yang telah dilakukan memiliki persamaan dan perbedaan
dengan penelitian saat ini. Persamaannya adalah pada penetapan lokasi penelitian
yang sama, yaitu di Tanah Lot. Perbedaannya dapat dilihat pada hakikat tiga ciri
keilmuan yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dari segi ontologi (apa yang
dikaji), penelitian terdahulu berfokus pada pengelolaan objek wisata berbasis
masyarakat yang melibatkan tiga komponen, yaitu Pemerintah Kabupaten
Tabanan, CV Aryjasa Wisata, dan Desa Pakraman Beraban. Sistem pengelolaan
tersebut dimulai 1 Juli 2000 sampai dengan 1 April 2011. Penelitian saat ini
berfokus pada pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah
Lot yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Tabanan, CV Aryjasa Wisata, Desa
Pakaman Beraban, dan Desa Pakraman se-Kecamatan Kediri. Pegulatan
pengelolaan ini mulai terjadi menjelang masa kontrak perjanjian berakhir, yaitu 1
April 2011.
Dari segi epistemologi (bagaimana cara memperolehnya), penelitian
terdahulu menggunakan teori-teori modernism, yaitu teori struktural fungsional,
teori tindakan, teori pengelolaan sumber bertumpu pada komunitas, dan interaksi
simbolik dengan pendekatan kajian budaya yang mengacu pada bentuk, fungsi,
dan makna. Penelitian saat ini menggunakan teori-teori postmodernisme, yaitu
teori praktik, teori kekuasaan dan pengetahuan, dan teori tindakan komunikatif
dengan pendekatan kajian budaya yang bersifat interdisiplin.
19
Dari segi aksiologi (nilai, untuk apa pengetahuan tersebut), penelitian
terdahulu bersifat deskriptif untuk mengetahui dan memahami bentuk, fungsi, dan
makna pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat bagi Desa Pakraman Beraban.
Penelitian saat ini bersifat emansipatoris, yakni dimaksudkan sebagai upaya untuk
mengetahui ketidakadilan yang direpresentasikan melalui pergulatan pengelolaan
daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot untuk menjadi lebih adil. Hal tersebut
sejalan dengan pandangan Lubis (2006: 51-52), ilmu pengetahuan sebagai
emansipatoris (emancipatory knowledge) adalah ilmu pengetahuan yang
menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat untuk
proses humanisasi. Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat
deskriptif, tetapi terkait pula dengan kepentingan manusia (human interest) untuk
meningkatkan harkat dan martabatnya. Lubis (2006: xi) juga menegaskan bahwa
ilmu pengetahuan tidak hanya untuk ilmu, tetapi dapat digunakan untuk
memperbaiki kondisi sosial budaya yang tidak adil dan tidak manusiawi agar
menjadi lebih adil dan manusiawi. Pada penelitian terdahulu sama sekali tidak
dijelaskan pergulatan pengelolaan warisan budaya Tanah Lot, baik yang meliputi
dinamika maupun ideologi yang melatarinya.
Berdasarkan tiga ciri keilmuwan di atas, penelitian saat ini dapat dilihat
sebagai permasalahan baru. Kebaruan dalam penelitian ini adalah penelitian
terhadap pergulatan pengelolaan yang terjadi di Tanah Lot tahun 2011 dan belum
pernah diteliti. Selain itu dala penelitian ini menggunakan teori berbeda dan
pendekatan kajian budaya dengan paradigma yang berbeda. Hal tersebut sejalan
sengan pandangan Ratna (2010: 15-16), kebaruan
merupakan salah satu ciri
penting dalam menentukan objek penelitian. Artinya, kebaruan objek dianggap
20
sebagai faktor utama lahirnya temuan baru. Dengan adanya perkembangan
penelitian dari masa ke masa, kebaruan dicapai dengan menemukan aspek-aspek
lain yang belum pernah dibicarakan. Setiap penelitian merupakan sub-genre,
demikian seterusnya sehingga penelitian tidak pernah berakhir. Penelitian
kawasan tertentu dilanjutkan dengan bagian lain dari kawasan yang bersangkutan.
Cara lain adalah menggunakan teori dan metode yang berbeda sehingga
diharapkan dihasilkan temuan yang berbeda. Penelitian terdahulu tentu sangat
penting dijadikan pijakan pada penelitian saat ini terutama untuk memahami
dinamika pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot.
Penelitian tesis I Made Sujana (2009) yang berjudul “Persepsi Wisatawan
dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Daya Tarik
Wisata Tanah Lot Tabanan Bali” menjelaskan bahwa persepsi wisatawan terhadap
objek wisata Tanah Lot secara umum adalah baik. Ada empat faktor dominan
yang berperan pada kunjungan wisatawan, yaitu nilai sejarah, keunikan pura,
promosi, dan pemandangan sunset. Penelitian yang telah dilakukan memiliki
kesamaan lokasi dengan penelitian saat ini, tetapi penekanannya berbeda.
Penelitian terdahulu menekankan pada persepsi dan faktor-faktor yang mendorong
wisatawan berkunjung ke Tanah Lot dengan fokus penelitian pada wisatawan.
Penelitian saat ini melihat pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan
budaya Tanah Lot dengan fokus penelitian pada masyarakat. Penelitian Sujana
dapat dijadikan referensi untuk menambah wawasan tentang Tanah Lot.
Ni Putu Pujani (2000) dalam tesisnya yang berjudul “Pekerja Anak pada
Sektor Informal Penjual Post Card di Objek Wisata Tanah Lot Tabanan Bali
(Studi
tentang
Pemaknaan
Kerja
Perspektif
Budaya
Kewiraswastaan)”
21
mengemukakan bahwa pengembangan Tanah Lot dalam kepariwisataan telah
menjadi ajang bisnis bagi pelaku ekonomi serta menjadi tumpuan ekonomi bagi
masyarakat Beraban dan sekitarnya khususnya dalam kegiatan ekonomi marginal
bagi anak-anak sebagai penjual postcard. Faktor-faktor yang mendorong anakanak sebagai penjual postcard di Tanah Lot adalah faktor internal berupa faktor
lingkungan, keluarga, dan tumbuhnya sifat-sifat kewiraswastaan; dan faktor
eksternal berupa orientasi nilai budaya masyarakat terhadap etos kerja, tidak
membutuhkan pendidikan khusus dan modal besar. Penelitian ini sama-sama
dilakukan di Tanah Lot, tetapi fokusnya berbeda. Penelitian terdahulu berfokus
pada marginalisasi ekonomi pada pekerja anak berbeda dengan penelitian saat ini
yang melihat pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot.
Penelitian Pujani dapat dijadikan bahan untuk menambah pemahaman untuk
melihat marginalisasi masyarakat di Tanah Lot.
Penelitian tesis Kusuma Dewi (2012) yang berjudul “Partisipasi dan
Pemberdayaan Masyarakat Desa Beraban dalam Pengelolaan secara Berkelanjutan
Daya Tarik Wisata Tanah Lot” menjelaskan bentuk-bentuk pemberdayaan
masyarakat Desa Pakraman Beraban dalam pengelolaan Tanah Lot meliputi
pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan psikologis,
pemberdayaan sosial, dan
pemberdayaan politik. Pemberdayaan memberikan manfaat bagi masyarakat
dengan terbukanya kesempatan dan lapangan kerja dalam bidang pariwisata. Di
samping itu, bagi Tanah Lot telah terwujud rasa memiliki dari masyarakat untuk
menjaga kelestarian dan keberlanjutan Tanah Lot. Penelitian tersebut memiliki
persamaan lokasi dengan penelitian saat ini, tetapi fokusnya berbeda. Penelitian
terdahulu menekankan pada partisipasi Desa Pakraman Beraban dalam
22
pengelolaan Tanah Lot, sedangkan penelitian saat ini menekankan pergulatan
pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot yang menjelaskan
dinamika dan ideologi pergulatan. Penelitian tersebut dapat digunakan sebagai
acuan untuk menambah wawasan tentang peran desa pakraman dalam konteks
pergulatan pengelolaan Tanah Lot.
Penelitian di Desa Beraban juga dilakukan I Gede Mudana (2005) berupa
disertasi berjudul “Pembangunan Bali Nirwana Resort di Kawasan Tanah Lot:
Hegemoni dan Perlawanan di Desa Adat Beraban Tabanan”. Pada disertasi
tersebut dinyatakan bahwa pembangunan BNR berlangsung di atas landasan
ketidakadilan hubungan antara masyarakat dan pemerintah khas orde baru yang
berujung pada hegemoni dan perlawanan. Pemerintah orde baru memaksakan
ideologi modernitas pembangunan ekonomi kapitalisnya kepada masyarakat lewat
pembangunan industri pariwisata berbentuk kawasan wisata Tanah Lot.
Perlawanan masyarakat bermakna ketidakberhasilan perjuangan menghadapi
hegemoni pemerintah dalam pembangunan BNR, terutama kegagalan upaya
masyarakat sipil berjuang di hadapan negara. Dengan kegagalan tersebut
pembangunan BNR secara ekonomi, ekologi, dan budaya tidak memberikan
makna yang berarti kepada masyarakat. Namun, pada masa reformasi (1998)
mulai ada bentuk-bentuk kerja sama yang saling menguntungkan antara
masyarakat dan BNR. Penelitian Mudana dan penelitian ini dari segi wilayah
sama di Desa Beraban, tetapi dari segi objek dan fokusnya berbeda. Penelitian
terdahulu mengambil objek BNR yang menekankan perlawanan masyarakat
terhadap pembangunan BNR. Penelitian saat ini mengambil objek Tanah Lot yang
menekankan pada pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah
23
Lot. Penelitian Mudana dapat dijadikan acuan untuk membuka wawasan keilmuan
tentang hegemoni pemerintah dan perlawanan masyarakat Beraban untuk
memperjuangkan hak-haknya.
Penelitian tesis I Made Suantina (1998) yang berjudul “Implementasi
Program Privatisasi dalam Mencapai Keberhasilan Pembangunan Pariwisata di
Kabupaten Daerah Tingkat II Tabanan” menyimpulkan bahwa alasan
utama
program privatisasi adalah karena lemahnya sumber daya manusia yang dimiliki
pemerintah berkaitan dengan pariwisata, rendahnya tingkat kompetisi pihak
swasta untuk menjadi pengelola objek wisata, dan rendahnya nilai kontrak yang
disepakati. Implementasi program cukup berhasil karena semua kesepakatan
terpenuhi, ada kecenderungan pemerintah mempertahankan dan melanjutkan
program privatisasi demikian pula sebaliknya, pembangunan pariwisata cukup
berhasil meningkatkan jumlah wisatawan, terpeliharanya objek wisata, dan
adanya kepuasan, kenyamanan, serta keamanan wisatawan di lokasi objek wisata.
Implementasi program privatisasi telah membantu mencapai keberhasilan
pembangunan pariwisata di Kabupaten Tabanan. Penelitian tersebut jelas berbeda
dengan penelitian saat ini. Namun, dapat dijadikan referensi untuk melihat
kebijakan pemerintah Kabupaten Tabanan dalam hubungannya dengan sistem
pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot.
Palguna (2001) dalam tesisnya berjudul “Dinamika Masyarakat Desa
Menuju Civil Society (Studi Kasus Pengelolaan Objek Wisata Alas Kedaton di
Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan)” menjelaskan tindakan
Pemerintah Kabupaten Tabanan dalam pengelolaan Objek Wisata Alas Kedaton
mengandung dua proses yang bersifat kontradiktif. Di satu sisi, berorientasi
24
sebagai fasilitator yang memberikan kesempatan kepada warga Desa Kukuh untuk
memperoleh akses terhadap sumber daya pembangunan yang dimiliki pemerintah
sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dalam pengelolaan Alas Kedaton. Di sisi
lain, dengan bantuan tersebut pemerintah menuntut adanya keterlibatannya dalam
pengelolaan Alas Kedaton yang secara tidak langsung merupakan bentuk
intervensi. Kebijakan pemerintah mendapat respons dari masyarakat, yakni
menerima keterlibatan pemerintah yang menguntungkan dan menolak keinginan
pemerintah yang merugikan. Penelitian Palguna jelas menunjukkan perbedaan
dengan penelitian ini, baik dari lokasi maupun fokus penelitian. Namun, dapat
dijadikan acuan untuk memahami cara-cara pemerintah melakukan intervensi dan
respons masyarakat dalam melakukan perlawanan terhadap kebijakan pemerintah.
Penelitian disertasi I Ketut Setiawan (2011) yang berjudul “Komodifikasi
Pusaka Budaya Pura Tirta Empul dalam Konteks Pariwisata Global” menjelaskan
faktor-faktor yang mendorong komodifikasi Pura Tirta Empul, yaitu faktor
internal yang muncul dari konstruksi budaya lokal, seperti
pola pikir baru
masyarakat serta kreativitas dan inovasi untuk memperindah pura. Sebaliknya,
faktor eksternal berupa arus budaya global, budaya kapitalisme yang berperan
dalam menentukan eksistensi pura, seperti perkembangan pariwisata, industri
budaya, peran media massa, dan hegemoni pemerintah daerah. Komodifikasi Pura
Tirta Empul telah memberikan dampak terhadap aspek ekonomi berupa
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dampak sosial budaya cenderung kurang
menguntungkan
karena
telah
terjadi
komersialisasi
tempat
suci
yang
mengakibatkan bergesernya nilai-nilai religius. Komodifikasi Pura Tirta Empul
dalam konteks pariwisata memiliki makna religius, pelestarian budaya, identitas
25
budaya, dan kesejahteraan. Penelitian tersebut menunjukkan perbedaan, baik dari
segi lokus maupun fokusnya, tetapi dapat dijadikan referensi untuk menambah
wawasan tentang pemanfaatan warisan budaya (pusaka budaya) dalam konteks
pariwisata.
Penelitian I Wayan Ardika (1993) yang berjudul “Dampak Pariwisata
terhadap Situs Peninggalan Arkeologi di Bali” menjelaskan bahwa kegiatan
pariwisata budaya di Bali telah menimbulkan dampak positif dan negatif. Dampak
positif adalah meningkatnya kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap situs
dan peninggalan arkeologi yang diwujudkan dalam berbagai tindakan, seperti
pemugaran dan konservasi, kebersihan lingkungan, dan menjaga keamanan situs.
Dampak negatif adalah rusaknya situs yang disebabkan oleh frekuensi kunjungan
wisatawan yang semakin meningkat, pencurian, polusi akibat kendaraan
pengunjung. Ardika dalam bukunya yang berjudul Pusaka Budaya dan Pariwisata
(2007: 12) juga menyatakan sehubungan dengan dampak negatif, untuk
pembangunan tempat parkir, kios, toko, kesenian, restoran, dan fasilitas
penunjang kegiatan pariwisata di sekitar situs perlu dipertimbangkan sehingga
tidak mengganggu kelestarian tinggalan arkeologi yang memiliki daya tarik bagi
wisatawan.
Soediman pada artikelnya yang berjudul “Peranan Arkeologi dalam
Pembangunan Nasional” dalam buku Analisis Kebudayaan (1983--1984: 20)
menyatakan hal yang memprihatinkan adalah kurangnya pengertian dan
penghargaan masyarakat terhadap nilai-nilai warisan budaya sebagai sesuatu yang
perlu dilestarikan. Dikatakan demikian karena sering didengar adanya
pencemaran, pengotoran, perusakan terhadap peninggalan purbakala serta
26
lingkungan dan situs budaya yang pelakunya adalah orang-orang Indonesia.
Peneliti sendiri dalam buku berjudul Cagar Budaya Bali Menggali Kearifan Lokal
dan Model Pelestariannya (Laksmi, 2011) juga menyampaikan pelestarian cagar
budaya Bali saat ini masih meninggalkan berbagai persoalan. Adapun persoalan
yang dimaksud, seperti (1) belum semua cagar budaya Bali mendapat perlakuan
pelestarian oleh BP3 karena jumlahnya relatif banyak dan dana yang tersedia
terbatas, (2) perbaikan/pemugaran cagar budaya oleh pemerintah/ masyarakat
sering mengganti bahan secara total sehingga mengurangi nilai kekunoan, (3)
perlindungan oleh masyarakat sering menunjukkan fanatisme berlebihan sehingga
sulit mendapat informasi, dan (4) masih kurangnya perhatian dan penghargaan
masyarakat terhadap nilai-nilai cagar budaya sebagai sesuatu yang penting
dilestarikan.
Mardika dkk. (2010) dalam buku berjudul Pusaka Budaya Representasi
Ragam Pusaka dan Tantangan Konservasi di Kota Denpasar
menjelaskan
langkah inventori, konservasi, dan transformasi pusaka budaya dalam optimalisasi
sinerginitas nilai ekonomi, ekologi, dan kultural di Kota Denpasar dihadapkan
pada beragam hambatan. Hambatan-hambatan yang dimaksud, yaitu (1) konflik
nilai antara nilai kultural vs nilai komersial, (2) multitafsir dalam pelestarian yang
sering tidak searah antara komunitas (pemilik, pengemong), birokrasi, dan
akademisi, (3) gaya hidup urban yang cenderung pragmatis dan materialistik, (4)
umur pusaka budaya yang umumnya sudah tua, (5) ancaman bencana, seperti
bencana alam, pencurian, konflik, dan kanibalisme, dan (6) terbatasnya dana
konservasi.
27
Edi Sedyawati dalam artikel berjudul “Bali Dipandang dari Luar” dalam buku
Keindonesiaan dalam Budaya, Dialog Budaya: Nasional dan Etnik Peranan Industri
Budaya dan Media Massa Warisan Budaya dan Pelestarian Dinamis (2008: 284)
menjelaskan perkembangan sosial politik saat ini yang dapat membuat persoalan
menjadi lebih rumit adalah otonomi daerah. Balidwipa-mandala yang merupakan
kesatuan sosial budaya masyarakat Bali saat ini seakan-akan terancam tercabik-cabik
oleh kepentingan kabupaten demi kabupaten. Sumber daya diperebutkan dan tidak lagi
diintegrasikan untuk penggunaan bersama dalam suasana gotong royong yang damai.
Mungkin juga di tingkat desa muncul arogansi desa adat seolah-olah persatuan dan
kebersamaan itu menjadi tidak penting lagi.
Berdasarkan beberapa penelitian dan kajian yang telah dilakukan, baik
dilihat dari segi lokasi maupun topiknya, diketahui bahwa belum ada yang
meneliti pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot.
Penelitian-penelitian yang telah dilakukan hampir semua menjelaskan pengelolaan
daya tarik wisata memberikan dampak positif dan negatif terhadap kehidupan
sosial, budaya, dan ekonomi bagi masyarakat secara parsial. Namun, belum ada
yang mengemukakan pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya
dalam konteks interdisipliner. Pustaka-pustaka yang telah dipaparkan di atas,
penting sekali dijadikan acuan untuk melihat ancaman yang dihadapi daya tarik
wisata warisan budaya secara internal dan eksternal.
2.2 Konsep
Dalam penelitian ini ada beberapa konsep yang dikemukakan berhubungan
dengan “Pergulatan Pengelolaan Daya Tarik Wisata Warisan Budaya Tanah Lot”.
Konsep-konsep tersebut adalah seperti berikut.
28
2.2.1 Pergulatan Pengelolaan Daya Tarik Wisata
Berbicara tentang pergulatan sama halnya dengan berbicara tentang
kebudayaan dari perspektif kajian budaya. kebudayaan adalah lingkungan aktual
untuk berbagai praktik, representasi, bahasa, dan adat istiadat masyarakat tertentu.
Kebudayaan juga terkait dengan pertanyaan tentang makna sosial yang dimiliki
bersama (Barker, 2004: 8). Barker juga menegaskan, bahwa ide budaya dipahami
sebagai “peta makna” dan makna yang dibagikan
atau makna yang
dipertandingkan. Keterlibatan dan perhatian khusus yang ditunjukkan kajian
budaya dalam melihat dan mengeksplorasi tema budaya memberikan tekanan
pada persinggungan antara kekuasaan dan makna (Barker, 2014: 167). Demikian
pula anggapan Storey bahwa budaya dalam cultural strudies bersifat politis, yaitu
sebagai ranah konflik dan pergumulan (Storey, 2006: 3). Dengan demikian, dalam
konteks penelitian ini pergulatan merupakan ranah konflik dan pergumulan
sebagaimana perspektif cultural trudies.
Konsep pergulatan pengelolaan daya tarik wisata terdiri atas konsep pergulatan,
pengelolaan, dan daya tarik wisata. Kata pergulatan berasal dari kata dasar “gulat”
berarti olahraga jenis bela diri yang bertanding dengan saling membanting dan
menindih (Yasyin, 1995: 110). Kata gulat mendapat awalan “per” dan akhiran “an”
menjadi pergulatan artinya perkelahian, persabungan, perjuangan, pergumulan, dan
pertarungan (http://www.artikata.com). Secara operasional, pergulatan dalam
penelitian ini dapat diartikan sebagai representasi ketidakpuasan masyarakat
Beraban terhadap sistem pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot,
praktik dalam memperebutkan modal, upaya dalam mempertahankan ideologi,
dan peta makna yang melahirkan masyarakat komunikatif.
29
Berdasarkan pengertian di depan dapat dipahami bahwa pergulatan yang
dimaksud dalam penelitian ini adalah pergumulan atau pertarungan masyarakat
Desa Beraban, Pemerintah Kabupaten Tabanan, dan CV Aryjasa Wisata dalam
memperebutkan akses pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot.
Pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot
sejalan
dengan pandangan Barker (2004: 411), bahwa pertarungan muncul dari hubungan
kekuasaan dan subordinasi dalam bentuk penentangan dan negosiasi terhadap
tatanan yang melakukan infiltrasi atau campur tangan.
Pengelolaan adalah (1) proses, cara, perbuatan mengelola; (2) proses
melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain; (3) proses
yang membantu merumuskan kebijakan dan tujuan organisasi, (4) proses yang
memberikan pengawasan kepada semua hal yang terlibat di dalam pelaksanaan
kebijakan dan pencapaian tujuan (Depdikbud, 1990: 411). Di dalam UU RI
Nomor 11 Tahun 2010, disebutkan pengelolaan adalah upaya terpadu yang
dilakukan melalui kebijakan pengaturan, perencanaan, dan pengawasan.
Dalam penelitian ini pengelolaan yang dimaksud adalah proses yang
dilakukan untuk menggerakkan para pihak dalam mengelola daya tarik wisata
warisan budaya Tanah Lot di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten
Tabanan. Tahapan pelaksanaan pengelolaannya meliputi perencanaan, perumusan
kebijakan dalam organisasi atau lembaga badan pengelola, pelaksanaan program
kerja, pengawasan, dan pembagian hasil pengelolaan sesuai dengan kesepakatan
antara pemerintah dan masyarakat Beraban.
Konsep daya tarik wisata dapat dicermati dalam UU RI Nomor 10 Tahun
2009, yaitu segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan dan nilai yang
30
berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang
menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisata. Di dalam UU tersebut juga
dijelaskan bahwa daya tarik wisata merupakan bagian dari komponen sistem
kepariwisataan sebagai unsur utama yang mendorong minat seseorang untuk
berkunjung ke suatu wilayah di mana daya tarik wisata itu berada.
Kepariwisataan itu sendiri merupakan keseluruhan kegiatan yang terkait dengan
pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai
wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan
masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, dan
pengusaha. Sementara, pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan
didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat,
pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
Daya tarik wisata oleh Inskeep (1991) disebut atraksi wisata (tourism
attraction) adalah keseluruhan potensi alam, budaya, dan elemen khusus pada
suatu wilayah yang menjadi unsur utama penarik kunjungan wisatawan. Terkait
dengan potensi tersebut, Inskeep membagi daya tarik wisata ke dalam tiga
kategori (Ardhana dkk, 2012: 16-20). Pertama, daya tarik wisata alam (natural
attractions) yang berdasar pada keadaan dan keunikan lingkungan alam, seperti
bentang alam dan bentukan alam yang khas, pantai dan sumber daya kelautan,
flora dan fauna; dan hutan/taman nasional/kawasan konservasi. Kedua, daya
tarik wisata budaya (cultural attractions) yang berdasarkan kegiatan manusia
meliputi situs arkeologi, sejarah, dan budaya; adat dan tradisi serta kehidupan
khas masyarakat; seni dan kerajinan; museum dan fasilitas budaya; dan festival
budaya. Ketiga, daya tarik wisata khusus atau spesifik (special types of
31
attractions) yang diciptakan secara artifisial (artificially created) meliputi taman
bertema dan taman hiburan, area perbelanjaan dan fasilitas mice, even-even
khusus, serta kawasan rekreasi dan olahraga
Daya tarik wisata dalam penelitian ini adalah perpaduan keunikan warisan
budaya dan nilai yang terkandung di dalamnya, keindahan alam, dan hasil kayra
manusia yang artifisial sebagai daya tarik khusus yang menjadi tujuan kunjungan
wisata. Daya tarik wisata tersebut meliputi (1) daya tarik wisata khusus berupa
pasar seni seperti art shop dan pedagang, hotel dan restoran, tempat pertunjukan
Surya Mandala, taman rekreasi, (2) daya tarik wisata warisan budaya berupa
pura beserta tinggalan arkeologi dan nilai-nilai yang diekspresikan secara konkrit
seperti nilai kosmologi dan rwa bineda; dan (3) warisan alam berupa fauna (ular
suci), air suci, sunset terrace dan keindahan alam seperti tebing batu karang untuk
menikmati keindahan laut dan sunset.
Berdasarkan konsep-konsep di atas, dapat dipahami bahwa pergulatan
pengelolaan daya tarik wisata yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
pergumulan atau pertarungan masyarakat Beraban, Pemerintah Kabupaten
Tabanan, dan CV Aryjasa Wisata. Pertarungan tersebut merupakan upaya untuk
memperebutkan aset pengelolaan daya tarik wisata di Tanah Lot melalui
kebijakan pengaturan, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pembagian
hasil pengelolaannya.
2.2.2 Warisan Budaya Tanah Lot
Warisan budaya (cultural heritage) merupakan konsep yang digunakan
oleh United Nations Education Scientific and Cultural Organization (UNESCO)
32
dalam “Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural
Heritage” yang disahkan di Paris pada 16 November 1972. Di dalam konvensi
dan rekomendasi UNESCO (Putra, 2010:128-129), dinyatakan konsep warisan
budaya dan warisan alam seperti berikut.
“Pasal 1, warisan budaya (cultural heritage) mencakup (1) monumenmonumen, seperti karya arsitektur, karya lukisan dan pahatan monumental,
struktur yang bernilai arkeologi, prasasti, gua sebagai tempat tinggal dan
kombinasi ciri-cirinya, yang mempunyai nilai universal dari segi sejarah,
seni, dan ilmu; (2) bangunan mencakup kelompok bangunan yang berdiri
sendiri atau satu sama lain merupakan satu kesatuan, baik karena
arsitekturnya, kesamaan ciri (homogenitasnya), dan sifat atau
landskapnya, yang mempunyai nilai universal dari segi sejarah, seni, dan
ilmu; (3) situs, seperti karya manusia atau perpaduan karya manusia dan
alam, dan kawasan termasuk situs arkeologi yang memiliki nilai universal
dari segi sejarah, estetika, etnologi, atau antropologi”.
“Pasal 2, warisan alam (natural heritage) mencakup (1) segala sesuatu
yang memiliki ciri-ciri alamiah yang terdiri dari fisik dan susunan biologis
atau kelompok dari susunan demikian itu, yang memiliki nilai universal,
baik dari segi keindahan maupun sudut pandang ilmu pengetahuan; (2)
susunan geografis dan fisiografis dan merupakan kawasan yang
menunjukkan adanya habitat dari spesies atau binatang atau tumbuhtumbuhan yang terancam yang memiliki nilai universal dari sudut pandang
ilmu pengetahuan dan konservasi; (3) situs alamiah atau kawasan alamiah
yang memiliki nilai universal dari segi ilmu pengetahuan, konservasi, dan
keindahan alam”.
Berdasarkan konsep di atas, diketahui bahwa pengertian warisan budaya
menurut UNESCO mencakup karya-karya manusia, serta perpaduan karya-karya
manusia dan alam yang memiliki nilai universal dari segi sejarah, estetika,
etnologi, atau antropologi. Di samping itu, juga dikenal warisan alam mencakup
kawasan alamiah yang memiliki nilai universal dari segi ilmu pengetahuan,
konservasi, dan keindahan alam.
Di Indonesia, istilah warisan budaya pertama kali dituangkan di dalam
“Monumenten Ordonantie Stb. Nomor 238 Tahun 1931” dengan sebutan
33
“monumen”. Pada pasal 1 Monumenten Ordonantie (Tjandrasasmita, 1991: 95)
dijelaskan bahwa yang dianggap monument adalah sebagai berikut.
“(a) Bagian benda atau kelompok benda yang bergerak maupun yang tidak
bergerak, yang dibuat oleh tangan manusia, yang pokoknya mempunyai
masa langgam sedikit-dikitnya 50 tahun dan dianggap mempunyai nilai
penting bagi prasejarah, sejarah, atau kesenian; (b) benda-benda yang
dianggap mempunyai nilai penting dipandang dari sudut paleoantropologi,
(c) tanah-tanah yang mempunyai petunjuk yang kuat dasarnya bahwa di
dalam terdapat benda-benda pada a dan b, segala sesuatu bilamana bendabenda tersebut, baik tetap maupun sementara, telah dicantumkan dalam
daftar monumen pusat yang disusun dan dikelola atas usaha Kepala Dinas
Purbakala”.
Istilah warisan budaya juga dikenal dengan sebutan “kebudayaan lama dan
asli” yang secara implisit dapat dicermati pada penjelasan UUD 1945 pasal 32.
“Kebudayaan bangsa adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha
budi daya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang
terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah di seluruh
Indonesia , terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Usaha kebudayaan harus
menuju ke arah kemajuan adab, budaya, dan persatuan, dengan tidak
menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat
memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta
mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia”.
Pengertian Warisan budaya juga dikenal dengan sebutan benda cagar
budaya seperti disebutkan di dalam UU Nomor 05 Tahun 1992 pada pasal 1.
“Benda cagar budaya adalah (a) benda buatan manusia, bergerak atau tidak
bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau
sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 tahun, atau mewakili
masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50
tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu
pengetahuan, dan kebudayaan. (b) benda alam yang dianggap mempunyai
nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Sebaliknya, istilah cagar budaya juga disebut warisan budaya seperti
dinyatakan dalam UU RI Nomor 11 Tahun 2010 pasal 1.
“(1) Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa
benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs
cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang
34
perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi
sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan
melalui proses penetapan; (2) benda cagar budaya adalah benda alam
dan/atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak,
berupa kesatuan atau kelompok atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya
yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah
perkembangan manusia; (3) bangunan cagar budaya adalah susunan
binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk
memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding dan
beratap; (4) struktur cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari
benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan
ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk
menampung kebutuhan manusia; (5) situs cagar budaya adalah lokasi yang
berada di darat dan/atau di air yang mengandung benda cagar budaya,
bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya sebagai hasil
kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu; (6) kawasan cagar
budaya adalah suatu ruang geografis yang memiliki dua situs cagar budaya
atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata
ruang yang khas.
Pada UU tersebut pasal 5 juga disebutkan kriteria cagar budaya.
“Benda, bangunan, struktur, situs dan kawasan dapat diusulkan sebagai
benda cagar budaya apabila memenuhi kriteria (1) berusia 50 tahun atau
lebih, (2) mewakili masa gaya paling singkat berusia lima puluh tahun, (3)
memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,
dan/atau kebudayaan, dan (4) memiliki nilai budaya bagi penguatan
keperibadian bangsa”.
Istilah warisan budaya juga dipadankan dengan sebutan pusaka (Ernawi,
2010: 2). Berdasarkan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia tahun 2003, diketahui
bahwa pusaka terdiri atas (1) pusaka alam, yaitu bentukan alam yang istimewa;
(2) pusaka budaya adalah hasil cipta, rasa, karsa, dan karya yang istimewa dari
ratusan suku bangsa di tanah air Indonesia, secara sendiri-sendiri,
sebagai
kesatuan bangsa Indonesia dan dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang
sejarah keberadaannya mencakup pusaka berwujud (tangible) dan pusaka tidak
berwujud (intangible); (3) pusaka saujana adalah gabungan pusaka alam dan
pusaka budaya dalam kesatuan ruang dan waktu. Istilah lain yang digunakan
35
untuk menyebut warisan budaya adalah pusaka budaya (Ardika, 2007; Setiawan,
2011; Mardika, 2010).
Konsep-konsep di atas menunjukkan cakupan warisan budaya sangat luas
dan untuk memudahkan pengkajian Sedyawati (2008: 279-280) memilah warisan
budaya ke dalam dua golongan, yaitu warisan budaya berupa benda konkret
(tangible) dan takbenda (intangible). Warisan budaya tangible adalah benda
warisan budaya yang dapat dipegang, terdiri atas benda “bergerak” dan benda
“tidak bergerak”. Benda “bergerak” berupa benda yang dapat dipindah-pindahkan
dari satu tempat ke tempat lain seperti koleksi museum. Benda “tidak bergerak”
berupa benda yang tidak dapat dipindah-pindahkan dari satu tempat ke tempat lain
seperti bangunan. Warisan budaya intangible adalah warisan budaya yang tidak
dapat dipegang atau diraba terdiri atas karya manusia bersifat abstrak dan konkret.
Warisan budaya intangible abstrak hanya ada dalam pikiran atau kesadaran
manusia berupa keseluruhan sistem gagasan, seperti nilai-nilai, norma dan hukum,
konsep-konsep baik yang terkait dengan kehidupan manusia maupun alam
semesta. Warisan budaya intangible konkret adalah segala ekspresi budaya yang
terjadi melalui tindakan nyata, tetapi selalu berlalu dan hilang dalam waktu,
seperti musik, tari, rangkaian tindakan dalam upacara, dan permainan tradisional.
Secara emik istilah warisan budaya di Indonesia memiliki sebutan yang
berbeda-beda seperti monumen, tinggalan arkeologi, benda cagar budaya, cagar
budaya, pusaka, dan pusaka budaya. Demikian pula cakupan konsepnya beragam
seperti cagar budaya (warisan budaya) menurut UU RI Nomor 11 Tahun 2010
diartikan sebagai warisan budaya bersifat kebendaan; Sedyawati menggolongkan
warisan budaya bersifat tangible dan intangible; Ernawi menyebutkan pusaka
36
(warisan budaya) meliputi pusaka alam, pusaka budaya, dan pusaka saujana.
Sedangkan, UNESCO menyatakan warisan budaya selain berupa karya-karya
manusia juga berupa karya manusia berpadu dengan alam.
Secara empiris warisan budaya Tanah Lot tidak saja berupa benda
(tangible) tetapi juga berupa warisan budaya takbenda (intangible) berpadu
dengan warisan alam. Selain itu, masyarakat lokal lebih mengenal istilah warisan
budaya daripada istilah lain sehingga lebih mudah untuk mengomunikasikan
dengan masyarakat. Istilah warisan budaya juga digunakan di tingkat internasional
termasuk Indonesia dalam mendaftarkan warisan budaya menjadi warisan budaya
dunia. Oleh sebab itu, secara etik dalam penelitian ini digunakan istilah warisan
budaya.
Warisan budaya dalam penelitian ini dapat dipahami sebagai hasil karya
manusia masa lampau meliputi warisan budaya tangible berupa pura-pura di kawasan
Tanah Lot, intangible berupa nilai kosmologi dan rwa bineda, berpadu dengan warisan
alam berupa ular suci, air suci, dan keindahan alam yang terdapat di Tanah Lot Desa
Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Warisan tersebut memiliki umur
sekurang-kurangnya lima puluh tahun, memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu
pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan, dan merupakan modal budaya
sebagai daya tarik wisata.
2.2.3 Ideologi
Istilah ideologi pertama kali digunakan filsuf Prancis Destutt de Tracy
pada tahun 1796 untuk menjelaskan ilmu baru yang dirancang mengenai analisis
sistematik tentang ide dan sensasi, makna turunannya, kombinasinya, dan akibat
37
yang ditimbulkannya. Ilmu tentang ide oleh de Tracy disebut “ideologi”
(Thomson, 2006: 51).
Ideologi memiliki pengertian yang sangat kompleks. Hal ini dapat dilihat
dari berbagai sudut pandang ideologi yang disampaikan para pemikir, seperti
Althusser, Marx, Michel Foucault, Pierre Bourdieu, dan Eagleton. Menurut
Althusser (2010: xvi-xxv), ideologi adalah profoundly unconscious sebagai halhal yang secara mendalam tidak disadari. Ideologi adalah segala yang sudah
tertanam dalam diri individu sepanjang hidupnya; suatu produk sejarah yang
seolah-olah menjelma secara alamiah. Bagi Althusser, setiap orang berperan
menyebarkan ideologi dan menjadikan masyarakat ideologis. Menurutnya,
ideologi merupakan reaksi terhadap satu dominasi. Setiap penindasan akan
menghasilkan suatu usaha pada pihak tertindas untuk melepaskan diri. Ketika
pihak tertindas berhasil bebas dan berkuasa, ideologi mereka bisa saja digunakan
untuk menindas pihak lain yang lebih lemah dan demikian seterusnya.
Menurut Marx, ideologi adalah kesadaran palsu, yakni kesadaran tentang
dunia yang dimiliki oleh individu itu palsu. Artinya, apa yang dipikirkan tentang
dunia tidak sesuai dengan kenyataan dunia yang sebenarnya (Takwin, 2010: 5763). Michel Foucault menyatakan ideologi sebagai hasil hubungan kekuasaan di
mana saja. Hubungan kuasa muncul bukan hanya pada tataran negara, melainkan
juga dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hubungan selalu merupakan usaha saling
menguasai dan saling menekan. Hubungan kuasa ini oleh Foucault disebut
“discourse” sepadan dengan “diskursus” atau “wacana” yang digunakan sebagai
pengganti ideologi (Takwin, 2010: 109-110; Foucault, 2007: xxxvii). Bourdieu
mengajukan pengertian ideologi dengan sebutan doxa, yaitu tatanan sosial dalam
38
diri individu yang stabil dan terikat pada tradisi serta terdapat kekuasaan yang
sepenuhnya ternaturalisasi dan tidak dipertanyakan. Dalam paktiknya doxa tampil
lewat pengetahuan yang diterima begitu saja sesuai dengan habitus dan field
individu tanpa dipikir terlebih dahulu (Takwin, 2010: 114-115)
Beberapa pengertian ideologi juga disampaikan oleh Eagleton (1991: 1).
“(1) proses produksi makna-makna, tanda-tanda, dan nilai-nilai dalam
kehidupan sosial; (2) sekumpulan karakteristik ide atau pikiran dari sebuah
kelompok atau kelas tertentu; (3) ide-ide yang membantu melegitimasi
kekuatan politik yang dominan; (4) ide-ide palsu yang membantu
melegitimasi kekuatan politik yang dominan; (5) distorsi komunikasi yang
sistematik; (6) sesuatu yang menempatkan subjek dalam posisi tertentu;
(7) bentuk pikiran yang dimotivasi oleh interes sosial; (8) pemikiran
tentang identitas; (9) ilusi sosial yang niscaya; (10) perpaduan diskursus
dengan kekuasaan; (11) media tempat aktor-aktor sosial yang sadar
memahami dunia; (12) serangkaian kepercayaan yang menjadi orientasi
bagi tindakan; (13) ketidakjelasan antara realitas linguistik dengan realitas
fenomenal; (14) akhir pemaknaan dalam proses semiotik, (15) medium
yang sangat penting bagi individu untuk menjalani hubungan-hubungan
mereka dalam struktur sosial, dan (16) proses terjadinya “pengubahan”
kehidupan sosial menjadi realitas alamiah”.
Mengacu pada beberapa pengertian di atas, ideologi dalam penelitian ini dapat
dipahami sebagai sekumpulan ide, gagasan, dan pemikiran yang dijadikan pedoman
oleh para pihak untuk bertindak. Dalam implementasinya, terjadi pula pertarungan
antarideologi yang saling mempengaruhi satu sama lain dan melatari pergulatan
pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot. Ideologi yang lebih kuat akan
mendominasi ideologi yang lain yang menimbulkan reaksi terhadap dominasi
tersebut. Demikian dalam konteks pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan
budaya Tanah Lot, tampak ideologi kapitalisme, pariwisata, dan tri hita karana
berjalan bersamaan namun didominasi oleh ideologi kapitalisme.
39
2.3 Landasan Teori
Landasan teori yang digunakan dalam penelitian adalah teori-teori kritis
postmodernisme meliputi teori praktik, diskursus kekuasaan dan pengetahuan,
dan teori tindakan komunikatif. Teori-teori tersebut digunakan secara eklektik
atau bersamaan dan saling melengkapi satu sama lain untuk menganalisis
permasalahan pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot
yang bersifat kompleks dan interdisiplin.
2.3.1 Teori Praktik
Teori praktik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Pierre-Felix
Bourdieu, seorang pemikir Prancis terkemuka yang lahir di Desa Denguin Distrik
Pyrenees-Atlantiques barat daya Prancis, 1 Agustus 1930 dan meninggal di rumah
sakit Saint-Antoine Paris, 23 Januari 2002. Karya-karya Bourdieu memiliki
cakupan bahasan yang luas mulai dari etnografi hingga seni, sastra, bahasa, dan
kultural. Dalam teori praktik, Bourdieu merumuskan bahwa praktik adalah
gabungan habitus, modal, dan ranah (Harker dkk., 2009). Menurut Bourdieu,
praktik merupakan suatu produk dari relasi antara habitus sebagai produk sejarah
dan ranah yang juga merupakan produk sejarah (Harker dkk., 2009: xx).
Karakteristik yang terdapat dalam praktik adalah praktik terdapat dalam ruang dan
waktu di mana waktu dikonstruksi secara sosial dan gerakan individu atau
kelompok dalam ruang sosial otomatis gerakan dalam waktu. Praktik juga diatur
dan digerakkan secara tidak sadar atau tidak sepenuhnya sadar (Mutahir, 2011:
57-58). Dalam hal ini, kebanyakan agen atau aktor menerima dunia sosial apa
adanya tanpa memikirkan kembali apa yang dilakukan.
40
Habitus bagi Bourdieu, adalah suatu sistem disposisi yang berlangsung
lama dan berubah-ubah yang berfungi sebagai basis generatif bagi praktik-praktik
yang terstruktur dan terpadu secara objektif. Habitus dapat dikatakan sebagai
ketidaksadaran cultural, yakni pengaruh sejarah yang secara tidak sadar dianggap
alamiah (Harker dkk., 2009: xvii-xviii). Habitus kadangkala digambarkan sebagai
“logika permainan” (feel for the game) sebuah “rasa praktis” yang mendorong
agen bertindak dan bereaksi dalam situasi-situasi spesifik dengan suatu cara yang
tidak selalu bisa dikalukulasikan sebelumnya dan ukan sekadar kepatuhan sadar
pada aturan-aturan. Habitus lebih mirip seperangkat disposisi yang melahirkan
praktik dan persepsi (Bourdieu, 2010: xvi).
Modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik
yang beroperasi di dalam ranah (Harker dkk., 2009: xx). Bagi Bourdieu, modal
merupakan energi sosial yang hanya ada dan membuahkan hasil dalam ranah
perjuangan di mana modal memproduksi dan diproduksi. Menurut Bourdieu, jenis
modal yang menjadi pertaruhan dalam arena adalah modal ekonomi, modal sosial,
modal budaya, dan modal simbolis. Modal ekonomi berupa alat-alat produksi,
seperti mesin, tanah, tenaga kerja termasuk materi seperti pendapatan dan bendabenda, serta uang. Modal sosial termanifestasi melalui hubungan-hubungan yang
merupakan sumber daya yang berguna dalam penentuan dan reproduksi
kedudukan-kedudukan sosial. Modal budaya adalah keseluruhan kualifikasi
intelektual, baik yang diproduksi secara formal maupun warisan keluarga, seperti
pengetahuan,
kode-kode
budaya,
cara
berbicara,
kemampuan
menulis,
pembawaan, tata krama, dan cara bergaul yang berperan di dalam penentuan dan
reproduksi kedudukan-kedudukan sosial. Modal simbolis adalah kekuasaan yang
41
memungkinkan untuk mendapatkan setara dengan apa yang diperoleh melalui
kekuasaan fisik dan ekonomi sebagai akibat khusus suatu mobilisasi, seperti
rumah di daerah perumahan yang mahal dan kantor di pusat perdagangan
(Mutahir, 2011: 68-69).
Ranah menurut Bourdieu, merupakan arena kekuatan yang di dalamnya
terdapat upaya perjuangan untuk mendapatkan sumber daya (modal) dan demi
memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hirarki kekuasaan. Ranah
merupakan arena pertarungan di mana mereka yang menempatinya dapat
memertahankan atau mengubah konfigurasi kekuasaan yang ada (Mutahir, 2011:
67, 70). Ranah bagi Bourdieu juga diartikan sebagai jaringan relasi antarposisi
objektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran dan
kehendak individual (Harker dkk., 2009: xvii). Di setiap ranah atau arena,
kepentingan tertentu dipertaruhkan, bahkan kepentingan-kepentingan itu diingkari
pelakunya (Bourdieu, 2010: xxi).
Teori praktik dalam penelitian ini dikaitkan dengan praktik pergulatan
pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot.
Praktik sebagai
gabungan habitus, modal, dan ranah sangat relevan digunakan dalam penelitian ini
karena habitus merupakan agen dalam permainan modal yang digunakan oleh
pihak penguasa terhadap pihak yang dikuasai dan difasilitasi oleh ranah atau arena
di mana pertarungan itu terjadi. Dalam konteks penelitian ini, teori praktik dapat
dilihat dalam dua hal. Pertama, dalam praktik pergulatan pengelolaan daya tarik
wisata warisan budaya Tanah Lot terjadi pergulatan antara Pemerintah Kabupaten
Tabanan, CV Aryjasa Wisata, dan masyarakat Beraban mencakup pergulatan
sistem pengelolaan, pembagian retribusi, kedudukan manajer operasional,
42
kepemilikan warisan budaya, dan kekuasaan. Kedua, terjadinya pergulatan dilatari
oleh ideologi para pihak yang diimplementasikan pada pengelolaan daya tarik
wisata Tanah lot. Sebagaimana teori praktik Bourdieu, kedua hal tersebut
merupakan aktivitas para aktor untuk memperebutkan modal.
2.3.2 Teori Diskursus Kekuasaan dan Pengetahuan
Teori diskursus kekuasaan dan pengetahuan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teori dari Michel Foucault, yang lahir di Poitiers Prancis, 15
Oktober 1926 dan meninggal 25 Juni 1984 (Foucault, 2002: 5-6). Foucault adalah
salah seorang yang berpengaruh terhadap pengembangan teori sosial postmodern.
Dalam karyanya The Archaeology of Knowledge and the Discourse of Language
Foucault menaruh perhatian pada penyelidikan peristiwa-peristiwa diskursif,
pernyataan-pernyataan yang dibicarakan dan yang dituliskan (Ritzer, 2010: 67).
Bagi Foucault, diskursus menyatukan bahasa dan praktik serta mengacu
kepada produksi pengetahuan melalui bahasa yang memberikan makna kepada
objek material dan praktik sosial. Diskursus mengkonstruksi, mendefinisikan, dan
menghasilkan objek pengetahuan dengan cara yang dapat dipahami sambil
mengesampingkan bentuk penalaran lain sebagai sesuatu yang tidak dapat
dipahami (Barker, 2004:81). Foucault juga menegaskan bahwa diskursus adalah
cara menghasilkan pengetahuan, beserta praktik sosial yang menyertainya, bentuk
subjektivitas yang terbentuk darinya, relasi kekuasaan yang ada di balik
pengetahuan dan praktik sosial tersebut, serta saling keterkaitan di antara semua
aspek ini (Foucault, 2002: 9).
43
Foucault menggambarkan lima tahap proses untuk menganalisis ranah
peristiwa diskursif. Kelima tahap tersebut, yaitu (1) memahami pernyataan
menurut kejadian yang sangat khas, (2) menentukan kondisi keberadaannya, (3)
menentukan sekurang-kurangnya limitnya, (4) membuat korelasinya dengan
pernyataan lain yang mungkin terkait dengannya, dan (5) menunjukkan apa
bentuk lain pernyataan yang ia keluarkan (Ritzer, 2010: 69).
Selain mengembangkan pemikirannya pada pendekatan arkeologi,
Foucault juga mengembangkan kajiannya ke arah genealogi (silsilah) kekuasaan.
Dalam esai terkenalnya Nietzsche, Genealogy, History Foucault menyatakan
setiap helai sejarah terdiri atas hubungan perang, pertempuran, dan perjuangan
yang mengerahkan kekuatan paksaan terhadap satu sama lain. Ia berpendapat
bahwa keberhasilan sejarah merupakan milik mereka yang mampu merebut
aturannya (Edkins-Williams, 2010: 211).
Genealogi Foucault memfokuskan asal usul perkembangan rezim-rezim
kekuasaan/ilmu pengetahuan (Ritzer, 2010: 78).
Bagi Foucault pengetahuan
selalu berkaitan dengan kekuasaan. Keduanya saling menguatkan satu sama lain,
misalnya berbekal pengetahuan psikolog seseorang mempunyai kekuasaan untuk
menghakimi kondisi mental orang lain (Foucault, 2002: 23). Pengetahuan
terbentuk di dalam praktik kekuasaan dan membangun perkembangan, perbaikan,
dan profilerasi teknik baru kekuasaan (Barker, 2004: 83).
Foucault mengatakan bahwa pola hubungan kekuasaan tidak berasal dari
penguasa atau negara, kekuasaan tidak dapat dikonseptualisasikan sebagai milik
individu atau kelas, dan kekuasaan bukanlah komoditas yang dapat diperoleh atau
diraih. Kekuasaan bersifat jaringan (Sarup, 2011: 112) menyebar luas ke mana-
44
mana (Foucault, 2007: xxxvii). Foucault melihat fakta bahwa pelaksanaan
kekuasaan itu sendiri menciptakan dan melahirkan objek pengetahuan yang baru.
Sebaliknya, pengetahuan menciptakan pengaruh-pengaruh kekuasaan. Tanpa
pengetahuan kekuasaan tidak mungkin dijalankan pengetahuan tidak mungkin
tidak melahirkan kekuasaan (Sarup, 2011: 113). Bagi Foucault, antara
pengetahuan dan kebenaran, pengetahuan dan fakta selalu ada hubungan yang
sistematik. Oleh sebab itu, perbincangan tentang epistemologi atau ilmu
pengetahuan menjadi sesuatu yang tidak pernah selesai (Foucault, 2002: 17).
Dengan kekuasaan dan pengetahuan, kelas-kelas berkuasa akan melakukan
hegemoni terhadap kaum-kaum yang lemah. Hal tersebut sejalan dengan teori
hegemoni yang dikemukakan oleh Antonio Gramsci, seorang pemikir kritis yang
lahir 22 Januari 1891 di Ales Sardinia dan meninggal di Roma 27 April 1937.
Gramsci dikenal melalui buku dengan judul Selection from the Prison Notebooks,
yang merupakan terjemahan kumpulan catatan harian yang ditulis dalam penjara
antara tahun 1929 dan 1935. Pemikiran Gramsci yang mula-mula dituliskan di
penjara adalah tentang peran intelektual dengan konsep organic intellectual.
Pemikiran tersebut saat itu dan selanjutnya memberikan inspirasi tentang
pemihakan dan peran kaum intelektual dalam transformasi sosial. Kemudian,
beberapa pemikiran konsepsional lainnya mulai dikembangkan, seperti hegemony,
negara, dan civil society yang dianggap sebagai pemikiran brilian sampai saat ini
(Simon, 2004: vii-xii).
Pemikiran Gramsci tentang hegemoni dalam kaitannya dengan pemikirannya
tentang civil society banyak menjadi acuan bagi pemikiran alternatif penguatan
civil society yang menjadi wacana dominan dalam perdebatan demokratisasi saat
45
ini. Analisis Gramsci tentang civil society merupakan bagian dari analisisnya
terhadap struktur dan sistem negara dalam kapitalisme dan melanggengkannya
melalui proses hegemoni. Bagi Gramsci, proses hegemoni terjadi apabila cara
hidup, cara berpikir dan cara pandang masyarakat terutama kaum proletar telah
meniru dan menerima cara berpikir dan gaya hidup kelompok elite yang
mendominasi dan mengeksploitasi mereka. Dengan kata lain, ideologi dari
golongan yang mendominasi telah diambil alih secara sukarela oleh yang
didominasi (Simon, 2004: xviii-xix).
Menurut Gramcsi, hegemoni adalah situasi blok historis dari suatu kelas
yang berkuasa menjalankan otoritas sosial dan kepemimpinan atas kelas-kelas
subordinat melalui kombinasi antara kekuatan dan konsensus (Barker, 2004: 42).
Gramsci menegaskan, bahwa praktik hegemoni di arena klasik rezim parlementer
dicirikan dengan kombinasi kekuatan dan konsensus yang secara timbal balik
saling mengisi tanpa adanya kekuatan yang secara berlebihan memaksakan
konsensus. Usaha tersebut adalah untuk memastikan bahwa kekuatan akan tampak
hadir berdasarkan konsensus mayoritas yang diekspresikan oleh apa yang disebut
dengan organ opini publik, koran, dan asosiasi (Barker, 2004: 62). Hegemoni
adalah jenis hubungan kekuatan sosial khusus yang kelompok-kelompok
dominannya mengamankan posisi mereka atas hak-hak istimewa dengan cara
sebagian besar melalui cara-cara konsensus. Artinya, kelompok dominan
memaksakan persetujuan dari kelompok-kelompok yang didominasi dengan cara
mengartikulasikan suatu visi politik, suatu ideologi yang mengklaim bisa
berbicara untuk semua dan yang bergaung dengan keyakinan yang secara luas
dipegang dalam budaya politik populer (Edkins-Williams, 2010: 234).
46
Dalam konteks teori kritis, hegemoni menurut Hartley menekankan pada
kelas dominan pada periode historis tertentu untuk menjalankan kepemimpinan
sosial budaya dan memelihara kekuasaan mereka terhadap kelas subordinat.
Aspek krusial ide hegemoni tidak karena beroperasi memaksa orang melawan
keinginan mereka, tetapi ia bekerja dengan memenangkan kesepakatan (consent)
yang bisa dimengerti pada kenyataannya sebagai sesuatu yang masuk akal
(Hartley, 2010: 130). Dalam hal ini, di mana ada hegemoni di situ pula ada
kekuasaan sebagaimana dikemukakan oleh Foucault, bahwa pola hubungan
kekuasaan tidak hanya berasal dari penguasa atau negara, tetapi bersifat jaringan.
Foucault juga melihat fakta bahwa pelaksanaan kekuasaan melahirkan objek
pengetahuan yang baru. Sebaliknya pengetahuan menciptakan pengaruh-pengaruh
kekuasaan (Saruf, 2011: 12-13).
Dalam penelitian ini pemikiran hegemoni dapat dipahami adanya
hegemoni melalui kebijakan pemerintah yang mendapat perlawanan dari
masyarakat. Namun demikian, berbagai upaya konsensus terus dilakukan
sehingga menghasilkan kesepakatan yang pada dasarnya tetap dimenangkan oleh
pemerintah. Hegemoni pemerintah terhadap masyarakat tidak terlepas dari
pemikiran Foucault dalam teori diskursus kekuasaan dan pengetahuan.
Teori diskursus kekuasaan dan pengetahuan digunakan untuk menganalisis
diskursus atau pernyataan-pernyataan pergulatan pengelolaan daya tarik wisata
warisan budaya Tanah Lot yang disampaikan oleh pemerintah dan masyarakat
melalui dialog dan media massa. Diskursus yang berkembang, baik di pemerintah
maupun
masyarakat,
membentuk
pengetahuan
baru
tentang
pergulatan
pengelolaan warisan budaya Tanah Lot yang dapat berpengaruh terhadap
47
kekuasaan pemerintah sebagai penentu kebijakan dan kekuasaan masyarakat
sebagai pemilik warisan budaya. Teori diskursus kekuasaan dan pengetahuan
sangat sesuai digunakan untuk memahami ideologi dan makna yang terkandung di
balik pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot.
2.3.3 Teori Tindakan Komunikatif
Teori tindakan komunikatif dikemukakan oleh Jurgen Habermas seorang
filsuf kontemporer dan pembaru teori kritis generasi kedua Mazhab Frangfurk yang
lahir di Dusseldorf Jerman pada 10 Juni 1929 (Edkins-Williams, 2010: 247).
Pemikiran Habermas yang paling dikenal adalah sebuah konsep ruang publik yang
dilandasi teori dan praktik “tindakan komunikatif” atau diberikan label teori kritis,
yaitu teori yang memihak praksis emansipatoris masyarakat. Bagi Habermas, tugas
teori tindakan komunikasi (kritis) di tengah-tengah filsafat dan ilmu-ilmu sosial
adalah mengambil tindakan kritis, baik terhadap ilmu-ilmu sosial dewasa ini maupun
keadaan sosial yang dilukiskan. Ia kritis terhadap masyarakat maju sejauh mereka
tidak sepenuhnya memanfaatkan kemampuan belajar kebudayaan yang tersedia bagi
mereka itu, tetapi membenamkan diri ke dalam sebuah pertumbuhan kompleksitas
yang tidak terkendali. Ia juga kritis terhadap pendekatan ilmiah yang tidak mampu
menjelaskan paradoks rasionalisasi kemasyarakatan karena pendekatan itu membuat
sistem sosial yang kompleks sebagai objek mereka hanya dari salah satu sudut
pandang abstrak, tanpa memperhitungkan asal usul historis bidang objek mereka
(Hardiman, 2009:11).
Habermas dengan paham emansipatorisnya juga memperlihatkan bahwa
tujuan teori kritis membantu masyarakat mencapai otonomi dan kedewasaan.
48
Otonomi kolektif semacam itu berhubungan dengan pencapaian konsensus bebas
dominasi. Habermas mengandaikan bahwa konsensus dapat dicapai dalam
masyarakat yang cerdas (reflektif) yang berhasil melakukan komunikasi yang
memuaskan. Dalam komunikasi para partisipan membuat lawan bicaranya
memahami maksudnya dengan berusaha mencapai apa yang disebut Habermas
“klaim-klaim kesahihan” (validity claims), yakni kebenaran, ketepatan, kejujuran, dan
komprehensibilitas. Klaim-klaim inilah yang dipandang rasional dan akan diterima
tanpa paksaan sebagai hasil konsensus. (Hardiman, 2009:17-18).
Menurut Habermas dalam tindakan komunikatif, pihak-pihak yang berbicara
beranggapan bahwa mereka memaknai hal yang sama dengan ekspresi tertentu, apa
yang dikatakan bisa dipahami pendengar, proposisi mereka adalah benar, masingmasing bersikap tulus dan siap menjalankan kewajiban demi pencapaian konsensus,
dan mereka datang untuk memahami satu sama lain melalui proses dialog di mana
mereka saling mendengarkan. Tindakan komunikatif ini bisa dimungkinkan karena
lawan bicara memiliki lifeword berupa asumsi latar belakang yang sama, suatu
cakrawala berupa kepercayaan bersama dan tidak dipermasalahkan dalam konteks
solidaritas sosial (Edkins-Williams, 2010: 248-249).
Dalam penelitian ini teori tindakan komunikatif Habermas digunakan
untuk memahami pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah
Lot melalui tindakan interaktif yang dilakukan oleh pemerintah, CV Aryjasa
Wisata, dan masyarakat. Tindakan itu dilakukan secara cerdas oleh para pihak,
dengan duduk bersama dan berdialog sehingga menghasilkan suatu kesepakatan
bersama.
49
2.4 Model
Penelitian ini dapat digambarkan dalam Gambar 2.1 berikut.
CV Aryjasa
Wisata
Pemerintah
Kabupaten Tabanan
Masyarakat
Beraban
Pengelolaan daya tarik wisata
warisan budaya Tanah Lot
Pergulatan pengelolaan daya
tarik wisata warisan budaya
Tanah Lot
Dinamika pergulatan
pengelolaan daya tarik
wisata warisan budaya
Tanah Lot di Desa
Beraban, Kecamatan
Kediri, Tabanan
Ideologi yang melatari
pergulatan pengelolaan daya
tarik wisata warisan budaya
Tanah Lot di Desa Beraban,
Kecamatan Kediri, Tabanan
Makna pergulatan
pengelolaan daya rarik
wisata warisan budaya
Tanah Lot di Desa
Beraban, Kecamatan
Kediri, Tabanan
Teori praktik,
Kekuasaan dan Pengetahuan,
Tindakan Komunikatif, Temuan penelitian
Gambar 2.1 Model Penelitian
Keterangan :
Hubungan dipengaruhi
Hubungan saling memengaruhi dalam pergulatan
50
Model penelitian pada gambar di atas mengimplementasikan kerangka
berpikir pada hubungan saling memengaruhi (interaktif) antara Pemerintah
Kabupaten Tabanan (penguasa), CV Aryjasa Wisata (pengusaha), dan masyarakat
Beraban (Desa Pakraman Beraban) dalam pengelolaan daya tarik wisata warisan
budaya Tanah Lot. Pengelolaan daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot oleh
Pemerintah Kabupaten Tabanan, CV Aryjasa Wisata, dan Desa Pakraman
Beraban yang dilakukan sejak tahun 2000 telah menimbulkan ketidakpuasan
masyarakat Beraban. Pada tahun 2011, masyarakat menginginkan pengelolaan
daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot hanya antara pemerintah dan desa
pakraman atau tanpa melibatkan CV Aryjasa Wisata. Akibatnya, pengelolaan
daya tarik wisata warisan budaya Tanah Lot menjadi ajang pergulatan antara
Pemerintah Kabupaten Tabanan, CV Aryjasa Wisata, dan Desa Pakraman
Beraban.
Pergulatan pengelolaan daya tarik wisata Tanah Lot menunjukkan
dinamika yang sangat kompleks tidak hanya menyangkut sistem pengelolaan,
tetapi juga menyangkut pembagian retribusi, kedudukan manajer operasional,
kepemilikan warisan budaya, dan kekuasaan. Pergulatan pengelolaan daya tarik
wisata warisan budaya Tanah Lot juga tidak lepas dari ideologi yang melatarinya.
Para pihak yang terlibat dalam pergulatan berupaya untuk mempertahankan
ideologinya masing-masing. Namun demikian, pergulatan pengelolaan daya tarik
wisata warisan budaya Tanah Lot dapat diselesaikan melalui dialog interaktif para
pihak untuk mencapai kesepakatan sehingga pergulatan memberikan makna bagi
kehidupan bersama.
Berkenaan dengan hal tersebut, ada tiga permasalahan yang dibahas dalam
penelitian ini, yaitu (1) dinamika pergulatan pengelolaan daya tarik wisata warisan
budaya Tanah Lot, (2) ideologi yang melatari pergulatan pengelolaan daya tarik
51
wisata warisan budaya Tanah Lot, dan (3) makna pergulatan pengelolaan daya
tarik wisata warisan budaya Tanah Lot. Permasalahan penelitian ini dibahas
dengan menggunakan teori-teori postmodern berupa teori praktik, teori diskursus
kekuasaan dan pengetahuan, dan teori tindakan komunikatif. Hasil penelitian yang
diperoleh dari permasalahan yang dibahas dirumuskan sebagai temuan penelitian.
Temuan penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pemerintah, pengusaha,
dan masyarakat.
Download