i PEMBERIAN POSISI MIRING TERHADAP PENCEGAHAN LUKA

advertisement
PEMBERIAN POSISI MIRING TERHADAP PENCEGAHAN
LUKA TEKAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN Tn. M
DENGAN STROKE HEMORAGIK DI RUANG
INSTALASI GAWAT DARURAT
RSUD WONOGIRI
DISUSUN OLEH :
YULIANA SETYANINGSIH
NIM P11062
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2014
i
PEMBERIAN POSISI MIRING TERHADAP PENCEGAHAN
LUKA TEKAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN Tn. M
DENGAN STROKE HEMORAGIK DI RUANG
INSTALASI GAWAT DARURAT
RSUD WONOGIRI
Karya Tulis Ilmiah
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan
Dalam Menyelesaikan Program Diploma III keperawatan
DI SUSUN OLEH :
YULIANA SETYANINGSIH
NIM P11062
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2014
i
ii
iii
iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena
berkat, rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas
Karya Ilmiah dengan judul “PEMBERIAN POSISI MIRING TERHADAP
PENCEGAHAN LUKA TEKAN DENGAN STROKE HEMORAGIK PADA
ASUHAN KEPERAWATAN Tn. M DI INSTALASI GAWAT DARURAT
RSUD WONOGIRI.“
Dalam penyusunan Tugas Karya Ilmiah ini penulis banyak mendapat
bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya
kepada yang terhormat :
1.
Ibu Dra. Agnes Sri Harti, M.Si selaku Ketua STIKes Kusuma Husada
Surakarta.
2.
Ibu Atiek Muharyati, S.Kep.,Ns., M.Kep selaku Ketua Prodi DIII
Keperawatan STIKes Kusuma Husada Surakarta yang telah memberi
kesempatan untuk dapat menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
3.
Ibu Meri Oktariani, S.Kep., Ns., M.Kep, selaku Sekretaris Ketua Program
Studi DIII Keperawatan yang telah memberi kesempatan untuk dapat
menimba ilmu di STIKes Kusuma Husada Surakarta.
4.
S. Dwi Sulisetyawati, S,Kep., Ns., M.Kep, selaku dosen pembimbing yang
telah membimbing dengan cermat serta memberi masukan, inspirasi perasaan
v
5.
nyaman dalam bimbingan serta memfasilitasi demi sempurnanya STIKes
Kusuma Husada Surakarta.
6.
Semua dosen Progam studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma Husada
Surakarta yang telah memberikan bimbingan dengan sabar dan wawasannya
serta ilmu yang bermanfaat.
7.
Tn. M selaku pasien kelolaan, terima kasih atas partisipasinya.
8.
Kedua orangtuaku, Ibu yang telah berdoa dan memberikan perhatian serta
kasih sayangnya, bapak yang bekerja keras untuk keberhasilanku.
9.
Teman-teman Mahasiswa Progam studi DIII Keperawatan STIKes Kusuma
Husada Surakarta dan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satupersatu, yang telah memberikan dukungan moral dan spiritual.
Surakarta,
April 2014
Penulis
vi
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL.................................................................................
i
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ................................................
ii
LEMBAR PERSETUJUAN .....................................................................
iii
LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................
iv
KATA PENGANTAR ..............................................................................
v
DAFTAR ISI .............................................................................................
vii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................
x
DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................
xi
BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............................................................
1
B. Tujuan Penulisan .............................................................
4
C. Manfaat Penulisan ...........................................................
5
LANDASAN TEORI
A. STROKE
1.
Definisi .....................................................................
7
2.
Faktor Resiko Stroke ................................................
7
3.
Klasifikasi Stroke .....................................................
9
4.
Etiologi .....................................................................
10
5.
Manifestasi Klinik ....................................................
12
6.
Pemeriksaan Penunjang .........................................
13
7.
Komplikasi ...............................................................
15
8.
Patofisiologi .............................................................
16
9.
Pengobatan stroke ....................................................
17
vii
10. Pencegahan ……………………………………...
17
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1.
Pengkajian ................................................................
18
2.
Diagnosa...................................................................
21
3.
Intervensi ..................................................................
20
C. ALIH BARING
1.
Definisi …………………………………………….. 28
2.
Langkah Alih Baring ………………………………. 28
D. LUKA DEKUBITUS
BAB III
BAB IV
1.
Definisi ……………………………………………..
29
2.
Etiologi …………………………………………....... 29
LAPORAN KASUS
A. Identitas Klien ................................................................
32
B. Pengkajian Riwayat Kesehatan .......................................
32
C. Daftar Perumusan Masalah .............................................
37
D. Rencana Keperawatan .....................................................
39
E. Implementasi ...................................................................
41
F. Evaluasi Keperawatan .....................................................
44
PEMBAHASAN
A. Pengkajian .......................................................................
49
B. Diagnosa Keperawatan....................................................
52
C. Rencana Keperawatan .....................................................
56
D. Implementasi ...................................................................
60
E. Evaluasi Keperawatan .....................................................
64
viii
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan ....................................................................
68
B. Saran ................................................................................
74
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Genogram ............................................................................
x
32
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I
Asuhan Keperawatan
Lampiran II
Surat Keterangan Pengambilan Kasus
Lampiran III
Format Pendelegasian
Lampiran IV
Log Book
Lampiran V
Lembar Konsul
Lampiran VI
Jurnal
Lampiran VII Daftar Riwayat Hidup
xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Prevalensi stroke terus meningkat, kematian stroke di Amerika Serikat
mencapai lebih dari 160.000 per tahun. Sekitar 20% kasus stroke meninggal
pada bulan pertama. Sebesar 70% penderita pasca stroke memiliki
ketidakmampuam permanen secara okupasional (Yulinda, 2009). Jumlah
penderita stroke di Indonesia berdasarkan sensus kependudukan dan
demografi Indonesia (SKDI) tahun 2010 sebanyak 3.600.000 setiap tahun
dengan prevalensi 8,3 per 1000 penduduk. Kasus tertinggi stroke di Jawa
tengah yaitu sebesar 3.986 kasus (17,91%). Di Kota Semarang terdapat
proporsi sebesar 3,18%. Kasus tertinggi kedua adalah Kabupaten Sukoharjo
yaitu 3.164 kasus (14,22%) dan apabila dibandingkan dengan jumlah
keseluruhan di Kabupaten Sukoharjo adalah sebesar 10,99%. Rata-rata kasus
stroke di Jawa Tengah adalah 635,60 kasus (WHO, 2010). Prevalensi stroke
di RSUD Kota Semarang cukup tinggi yaitu angka kejadian stroke pada tahun
2011 sejumlah 262 sedangkan pada tahun 2012 sejumlah 291 penderita stroke
(Aini dan Purwaningsih, 2013).
Hasil penelitian di Amerika menunjukkan bahwa pasien stroke di rawat
di rumah sakit menderita dekubitus 3-10% dan 2,7% terbentuk dekubitus
baru. Peningkatan dekubitus terus terjadi hingga 7,7-26,9% (Subandar,2008).
1
2
Lalu Mukti dalam Yulinda (2009) menambah bahwa prevalensi terjadinya
luka dekubitus di Amerika cukup tinggi sehingga mendapatkan perhatian dari
kalangan tenaga kesehatan.Prevalensi stroke terus meningkat. Berdasarkan
hasil penelitian di Amerika Serikat tahun 2005 adalah 2,6%. Pada usia 18-44
tahun prevalensinya meningkat sebesar 0,8% dan pada usia 65 tahun ke atas
meningkat 8,1%.
Stroke adalah berbagai gejala gangguan fungsi neurologi otak yang
terjadi secara mendadak. Penyebabnya adalah gangguan suplai darah segar
yang mengandung zat oksigen secara mendadak pula (Sayoga dan Fam,
2005). Stroke atau gangguan otak atau dikenal dengan cerebrovaskuler
disease (CVD) adalah suatu kondisi sistem susunan saraf pusat yang
patologis akibat adanya gangguan peredaran darah (Sukmaningrum dan
Solechan, 2011).Pada saat serangan stroke terjadi maka tonus otot yang
normal menghilang. Tanpa pengobatan penderita stroke akan melakukan
kompensasi gerakan dengan menggunakan bagian tubuhnya yang tidak
lumpuh sehingga seumur hidupnya bagian tubuh yang lumpuh akan tetap
lumpuh atau hanya bisa berjalan dengan kaki spastik dan tangan yang cacat.
Cara untuk meminimalkan kecacatan setelah serangan stroke adalah dengan
rehabilitasi (Yulinda, 2009).
Dampak yang terjadi pada pasien dengan stroke adalah dekubitus atau
penekanan pada daerah yang bersentuhan dengan permukaan tempat
tidur.Dekubitus adalah salah satu bahaya terbesar pada tirah baring. Dalam
3
sehari-hari masyarakat menyebutkan sebagai akibat tidur (Aini dan
Purwaningsih, 2013).
Pencegahan merupakan hal yang penting pada pasien beresiko dengan
cara memiringkan badan secara teratur, menjaga kulit tetap bersih. Dekubitus
disebabkan karena ada tekanan pada kulit yaitu khususnya pada tempat–
tempat yang mendapatkan tekanan dan diikuti dengan kulit memutih. Jika
penekanan ini hanya berlangsung dalam jangka waktu lama maka akan ada
akibat-akibat yang merugikan bagi aliran darah. Pada penekanan yang
berlangsung lama, maka timbul masalah dalam peredaran zat-zat makanan
dan zat-zat asam yang harus disalutkan pada bagian kulit yang mengalami
penekanan, jaringan-jaringan yang tidak mendapat cukup makanan dan zat
asam perlahan akan mati. Padasaatituakan timbul luka dekubitus (Aini dan
Purwaningsih, 2013).
Alih baring dapat mencegah dekubitus pada daerah tulang yang menonjol
yang bertujuan untuk mengurangi penekanan akibat tertahannya pasien pada
satu posisi tidur tertentu yang padat dan menyebabkan lecet. Alih baring ini
adalah pengaturan posisi yang di berikan untuk mengurangi tekanan dan gaya
gesek pada kulit,menjaga bagian kepala tempat tidur setinggi 30 derajat atau
kurang akan menurukan peluang kerja di dekubitus akibat gaya gesek,alih
baring atau tidur selang seling. Berdasarkan hasil penelitian oleh Nuh Huda di
ketahui bahwa dekubitus pada posisi tubuh lateral dengan sudut maksimal 30
derajat juga akan mencegah kulit dari pergesekan dan perobekan jaringan.
Pergesekan akan mengakibatkan abrasi dan merusak permukaan epidermis
4
kulit, sedangkan perobekan jaringan bisa mengakibatkan oklusi dari
pembuluh darah, serta kerusakan pada jaringan bagian dalam seperti otot
(Aini dan Purwaningsih, 2012).
Berdasarkan pengkajian pada Tn. M dengan stroke di Instalasi Gawat
Darurat RSUD Dr. Soediran Mangun Sumarso dengan badan bagian kanan
kaku
dengan
latar
belakang
diatas,
maka
penulis
tertarik
untuk
mengimplementasikan tindakan pemberian posisi miring sebagai bentuk
aplikasi hasil riset dalam pengelolaan kasus yang dituangkan dalam bentuk
karya tulis ilmiah dengan judul “Pemberian Posisi Miring Terhadap
Pencegahan Luka Tekan Pada Asuhan Keperawatan Tn. M dengan Stroke
Hemoragik di RSUD Soediran Mangun Sumarso”.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Melaporkan hasil pemberian posisi miring terhadap pencegahan luka
tekanpada Asuhan Keperawatan Tn.M dengan stroke hemoragik di
RSUD Dr.Soediran Mangun Sumarso.
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu melakukan pengkajian pada pasien stroke.
b. Penulis mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien
stroke.
c. Penulis mampu menyusun rencana Asuhan Keperawatan pada pasien
stroke.
5
d. Penulis mampu melakukan implementasi pada pasien stroke.
e. Penulis mampu melakukan evaluasi pada pasien stroke.
f. Penulis mampu menganalisa hasil pemberian posisi miring terhadap
pencegahan luka tekan pada asuhan keperawatan Tn.M dengan
stroke hemoragik.
C. Manfaat Penelitian
1. Bagi Penulis
Menambah wawasan dan pengalaman tentang konsep penyakit serta
penatalaksanaannya dalam aplikasi langsung melalui proses keperawatan
dengan basis ilmu keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan
pada pasien stroke.
2. Bagi Pendidikan
Sebagai referensi dan wacana dalam perkembangan ilmu pengetahuan
khususnya dalam bidang perawatan pasien dengan pemberian posisi
miring pada pasien stroke di masa yang akan datang dan acuan bagi
pengembangan laporan kasus sejenis.
3. Bagi Profesi Keperawatan
Memeberikan kontribusi dalam pengembangan profesi keperawatan
khususnya dalam laporan kasus tentang pemberian posisi miring terhadap
penurunan kejadian luka tekan pada pasien stroke sehingga bisa membantu
menyelesaikan permasalahan dalam profesi keperawatan.
6
4. Bagi Rumah Sakit
Sebagai evaluasi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dalam
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif terutama pada
pasien stroke.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Stroke
1. Definisi
Stroke adalah defisit neurologis yang mempunyai awitan tiba-tiba,
berlangsung lebih dari 24 jam, dan disebabkan oleh penyakit serebrovaskuler
(Patricia, 2011). Stroke adalah kerusakan jaringan otak yang disebabkan
karena berkurangannya atau berhentinya suplai darah secara tiba-tiba.
Jaringan otak yang mengalami hal ini akan mati dan tidak dapat berfungsi
lagi. Stroke disebut dengan Cerebrovaskuler Accident (CVA) (Uryn, 2007).
2. Faktor Resiko Stroke
Faktor resiko adalah suatu faktor atau kondisi tertentu yang membuat
seseorangrentan terhadap serangan stroke. Faktor resiko stroke umumnya
dibagi menjadi dua generasi besar sebagai berikut (Junaidi, 2011):
a. Faktor Resiko Internal
1) Umur : makin tua kejadian stroke makin tinggi.
2) Ras atau suku bangsa : bangsa Afrika, Jepang dan Cina lebih sering
terkena stroke. Orang yang berwatak keras terbiasa cepat atau buruburu seperti orang Sumatra, Sulawesi dan Madura rentan terserang
stroke.
3) Jenis kelamin : laki-laki lebih beresiko dibanding wanita.
7
8
4) Riwayat keluarga : orang tua atau saudara yang pernah mengalami
stroke pada usia muda maka yang bersangkutan beresiko tinggi
terkena stroke.
b. Faktor Resiko Eksternal
1) Hipertensi
2) Diabetes melitus atau kencing manis
3) Transient iskemik attack (TIA) adalah serangan lumpuh sementara
4) Fibrilasi atrial jantung
5) Pascastroke: Mereka yang pernah terserang stroke
6) Abnormalitas lemak : lipoprotein
7) Fibrinogen tinggi dan perubahan hemoreologikal lain
8) Perokok (utamanya rokok sigaren)
9) Peminum alkohol
10) Hiperhomosisteinemia
11) Infeksi : virus dan bakteri
12) Obat-obatan, misalnya obat kontrasepsi oral atau pil KB
13) Obesitas atau kegemukan
14) Kurang aktivitas fisik
15) Hiperkolestrolemia
16) Stres fisik dan mental
c. Faktor Resiko Generasi Baru
1) Defisiensi atau kurangnya hormon wanita
2) Homosistein tinggi
3) Plasma fibrinogen
9
4) Faktor VII pembekuan darah
5) Tissue plasminogen aktivator
6) Plasminogen aktivator inhibitor type 1
7) Lipoprotein
8) Chlamydia pneumonia (infeksi)
9) Virus herpes/sitomegalovirus
3. Klasifikasi Stroke
Menurut Setyanegara dalam Ariani (2012), gangguan peredaran otak
atau
stroke
dapat
diklasifikasikan
menjadi
dua,
yaitu
non-
hemoragik/infak/iskemik dan stroke hemoragik :
a. Non – hemoragik/infak/iskemik
1) Serangan Iskemik Sepintas (Transient Iskemik Attack-TIA).
TIA merupakan tampilan peristiwa berupa episode-episode serangan
sesaat dari suatu disfungsi serebral fokal akibat gangguan vaskuler,
dengan lama serangan sekitar 2-15 menit sampai paling lama 24 jam.
2) Defisit Neurologis Iskemik sepintas
Gejala dan tanda gangguan neurologis yang berlangsung lebih lama
dari 24 jam dan kemudian pulih kembali (dalam jangka waktu kurang
dari tiga minggu).
3) Progressing Stroke
Gejala gangguan neurologis yang progresif dalam waktu enam jam
atau lebih.
4) Stroke Komplit
10
Gejala gangguan neurologis dengan lesi-lesi yang stabil selama
periode waktu 18-24 jam tanpa adanya progresivitas lanjut.
b. Stroke Hemoragi
Perdarahan intrakranial dibedakan berdasarkan tempat perdarahannya,
yakni di rongga sub araknoid atau di dalam parenkim otak (intraserebral).
Ada juga perdarahan yang terjadi bersamaan pada kedua tempat di atas
seperti perdarahan sub araknoid yang bocor ke dalam otak atau
sebaliknya. Selanjutnya gangguan-gangguan arteri yang menimbulkan
perdarahan otak spontan dibedakan lagi berdasarkan ukuran dan lokasi
regional otak.
4. Etiologi
Etiologi terjadinya stroke adalah (Rendy dan Margaret, 2012) :
a. Infark otak ( 80% )
1) Emboli :
a) Emboli Kardiogenik
b) Fibrilasi atrium dan aritmia lain
c) Trombus mural dan ventrikel kiri
d) Penyakit katub mitral atau aorta
e) Endokarditis (infeksi atau non infeksi)
2) Emboli Paradoksal
a) Emboli arkus aorta
b) Aterotrombotik (penyakit pembuluh darah sedang-besar)
c) Penyakit ekstrakanial
d) Arteri karotis interna
11
e) Arteri vertebratis
3) Penyakit Intracranial
a) Arteri karotis interna
b) Arteri serebri interna
c) Arteri basilaris
d) Lakuner (oklusi arteri perforans kecil)
b. Perdarahan Interserebral (15%)
1) Hipertensi
2) Malformasi arteri-vena
3) Angina amiloid
4) Perdarahan Subaraknoid (5%)
5) Penyebab lain (dapat menimbulkan infark atau perdarahan):
a) Trombus sinus dura
b) Diseksi arteri karotis atau vertebralis
c) Vaskulitis sistem saraf pusat
d) Migren
e) Kondisi hiperkoagulasi
f) Penyalahgunaan obat
g) Kelainan hematologis (anemia sel sabit, polisistemia, atau
leukimia)
h) Miksoma atrium
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi secara klinis pada penderita stroke adalah ( Rendy dan
Margareth, 2012) :
12
a. Pada stroke non hemoragik (iskemik), gejalanya adalah :
1) Timbulnya defisit neurologis secara mendadak atau subakut
2) Di dahului gejala prodromal, terjadinya pada waktu istirahat atau
bangun pagi dan biasanya kesadaran tidak menurun, kecuali bila
embolus cukup besar, biasanya terjadi pada usia lebih dari 50 tahun.
b. Pada stroke hemoragik di bagi dua klsifikasi,yaitu :
1) Stroke akibat perdarahan intraserebral (PIS): mempunyai gejala yang
tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi, serangan sering kali
siang hari, saat aktivitas atau emosi/marah, sifat nyeri kepalanya hebat
sekali, mual dan muntah sering terdapat pada permulaan serangan.
Hemiparesis/hemiplagia biasa terjadi pada permulaan serangan,
kesadaran biasanya menurun dan cepat masuk koma.
2) Stroke akibat Perdarahan subaraknoid (PSA): gejala prodromal berupa
nyeri kepala hebat dan akut, kesadaran sering terganggu dan sangat
bervariasi, ada gejala atau tanda rangsangan meningeal, oedema pupil
dapat terjadi bila ada subhialoid karena pecahnya aneurisma pada
arteri komunikans anterior atau arteri karotis interna.
c. Manifestasi klinis stroke akut dapat berupa :
1) Kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya hemiparesis yang
timbul mendadak)
2) Gangguan sensabilitas pada satu atau lebih anggota badan (gangguan
hemiparesik)
3) Perubahan mendadak status mental (konfusi, delirium, letargi, stupor
atau koma)
13
4) Afasia (bicara tidak lancar, kurangan ucapan, atau kesulitan
memahami ucapan)
5) Disartia (bicara pelo atau cadel)
6) Gangguan penglihatan (hemianopa atau monokuler atau diplopia)
7) Vertigi, mual dan muntah atau nyeri kepala
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada penderita stroke adalah
sebagai berikut (Ariani,2012) :
a. CT scan bagian kepala
Pada stroke non hemoragik terlihat adanya infark sedangkan pada
stroke hemoragik terlihat perdarahan.
b. Pemeriksaan lumbal pungsi
Pada pemeriksaan lumbal pungsi untuk pemeriksaan diagnostik
diperiksa kimia sitologi, mikrobiologi dan virologi. Di samping itu,
dilihat pula tetesan cairan serebrospinal saat keluar baik kecepatan,
kejernihan, warna dan tekanan yang menggambarkan proses terjadi di
intraspinal. Pada stroke non hemoragik akan ditemukan tekanan normal
dari cairan serebrospinal jernih. Pemeriksaan pungsi sisternal dilakukan
bila tidak mungkin dilakukan pungsi lumbal.
c. Elektrokardiografi (EKG)
Untuk mengetahui keadaan jantung di mana jantung berperan dalam
suplai darah ke otak.
d. Elektro encephalo Grafi
14
Elektro Encophalo grafi mengindentifikasikan masalah berdasarkan
gelombang otak, menunjukkan area lokasi secara spesik.
e. Pemeriksaan darah
Pemeriksaaan ini dilakukan untuk mengetahui keadaan darah,
kekentalan darah,
jumlah sel darah, penggumpulan trombosit yang
abnormal, dan mekanisme pembekuan darah.
f. Magnetik Resonansi Imagine (MRI)
Menunjukkan darah yang mengalami infark, hemoragi, Malformasi
Arterior Vena (MAV). Pemeriksaan ini lebih canggih dibanding CT
scan.
7. Komplikasi
Ada enam komplikasi yang ditimbulkan stroke, yaitu (Padila,2012):
1) Aspirasi
2) Paralitic illeus
3) Atrial fibrilasi
4) Diabetus insipidus
5) Peningkatan TIK
6) Hidrochepalus
8. Patofisiologis
Menurut Long dalam Ariani(2012), otak sangat bergantung pada
oksigen dan tidak mempunyai cadangan oksigen. Bila terjadi anoksia seperti
halnya yang
terjadi pada
CVA/ stroke, metabolisme di otak segera
mengalami perubahan, kematian sel dan kerusakan permanen dapat terjadi
dalam 3 sampai 10 menit. Tetapi kondisi yang menyebabkan perubahan
15
perfusi otak akan menimbulkan hipoksia atau anoksia. Hipoksia
menyebabkan iskemik otak. Iskemik otak dalam waktu lama menyebabkan
sel mati permanen dan berakibat terjadi infark otak yang disertai dengan
odema otak karena pada daerah yang dialiri darah terjadi penurunan perfusi
dan oksigen, serta peningkatan karbon dioksida dan asaml aktat.
Menurut Satyanegara dalam Ariani (2012), adanya gangguan perdarahan
darah ke otak dapat menimbulkan jejas atau cedera pada otak melalui empat
mekanisme, yaitu:
a.
Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan atau
penyumbatan lumen sehingga aliran darah dan suplainya kesebagaian
otak tidak adekuat, serta selanjutnya akan mengakibatkan perubahanperubahan iskemik otak. Apabila hal ini terjadi terus menerus, dapat
menimbulkan nekrosis (infark).
b.
Dinding arteri serebral pecah sehingga akan menyebabkan bocornya
darah ke jaringan (hemoragi).
c.
Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan
jaringan otak (misalnya : malformasiangiomatosa, aneurisma).
d.
Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang intersisial
jaringan otak.
9. Pengobatan
Pengobatan pada penderita stroke adalah (Padila,2012):
a. Konservatif
1) Pemenuhan cairan dan elektrolit dengan pemasangan infus.
16
2) Mencegahan peningkatan TIK meliputi : antihipertensi, deuritik,
vasodilator perifer, antijoagulan, diazepam bilakejang, anti tukak,
kartikosteroid.
b. Operatif
Apabila upaya menurunkan TIK tidak berhasil maka perlu di
pertimbangkan evakuasi hematom karena hipertensi intrakranial yang
menetap akan membahayakan kehidupan klien.
c. Pada fase sub akut/pemulihan (> 10 hari) perlu terapi wicara, terapi fisik
dan stoking anti embolisme.
10. Pencegahan
Pencegahan stroke bisa dilakukan melalui (Padila,2012):
a.
Kontrol tekanan darah secara teratur
b.
Menghentikan merokok
c.
Menurunkan konsumsi kolesterol dan kontrol kolesterol rutin
d.
Mempetahankan kadar gula normal
e.
Mencegah minum alkohol
f.
Latihan fisik teratur
g.
Cegah obesitas
h.
Mencegah penyakit jantung dapat mengurangi resiko stroke
B. Asuhan Keperawatan
Menurut Brunner & Suddarth dalam Padila (2012), Asuhan keperawatan pada
pasien stroke dilakukan melalui tahap sebagai berikut :
1. Pengkajian
17
a. Biodata
Pengkajian biodata difokuskan :
Umur : karena usia di atas 55 tahun merupakan resiko tinggi terjadinya
serangan stroke. Jenis kelamin : laki-laki lebih tinggi 30% di banding
wanita. Ras : kulit hitam lebih tinggi angka kejadiannya.
b. Keluhan utama
Biasanya klien datang ke rumah sakit dalam kondisi penurunan
kesadaran atau koma serta disertai kelumpuhan dan keluhan sakit
kepala hebat bila masih sadar.
c. Upaya yang telah dilakukan
Jenis CVA Bleeding memberi gejala yang cepat memburuk. Oleh karena
itu klien biasanya langsung di bawa ke Rumah sakit.
d. Riwayat penyakit dahulu
Perlu dikaji adanya riwayat DM, hipertensi, kelainan jantung, pernah
TIAs, polisitemia karena hal ini berhubungan dengan penurunan
kualitas pembuluh darah otak menjadi menurun.
e. Riwayat penyakit sekarang
Kronologis peristiwa CVA Bleeding sering setelah melakukan aktivitas
tiba-tiba terjadi keluhan neurologis misal : sakit kepala hebat,
penurunan kesadaran sampai koma.
f. Riwayat penyakit keluarga
Perlu di kaji mungkin ada anggota keluarga sedarah yang pernah
mengalami stroke.
g. Pemenuhan kebutuhan sehari-hari
18
Apabila telah mengalami kelumpuhan sampai terjadinya koma maka
perlu klien membutuhkan bantuan dalam memenuhi kebutuhan seharihari dari bantuan sebagaian sampai total, meliputi :
1) Mandi
2) Makan/ minum
3) Bab/ bak
4) Berpakian
5) Berhias
6) Aktivitas mobilisasi
h. Pemeriksaan fisik dan observasi
1) B1 (Bright / pernafasan)
Perlu di kaji adanya :
a) Sumbatan jalan nafas karena penumpuka sputum dan
kehilangan reflek batuk.
b) Adakah tanda-tanda lidah jatuh ke belakang.
c) Auskultasi suara nafas mungkin ada tanda stridor.
d) Catat jumlah dan irama nafas.
2) B2 (Blood / sirkulasi)
Deteksi adanya : tanda –tanda peningkatan TIK yaitu peningkatan
tekanan darah disertai dengan pelebaran nadi dan penurunan
jumlah nadi.
3) B3 ( Brain / persyarafan, otak )
Kaji adanya keluhan sakit kepala ihabat. Periksa adanya pupil
unilateral, observasi tingkat kesadaran.
19
4) B4 ( Bladder / perkemihan )
Tanda-tanda inkontinensia uri.
5) B5 ( Bowel / pencernaan )
Tanda-tanda inkontinensia alfi.
6) B6 ( Bone / tulang dan integumen )
Kaji adanya kelumpuhan atau kelemahan. Tanda-tanda dekubitus
karena tirah baring lama, kekuatan otot.
i. Sosial Interaksi
Biasanya dijumpai tanda kecemasan karena ancaman kematian
diekspresikan dengan menangis, klien dan keluarga sering bertanya
tentang pengobatan dan kesembuhannya.
1. Diagnosa Keperawatan
a.
Resiko peningkatan TIK berhubungan dengan penambahan isi otak
sekunder terhadap perdarahan otak.
b.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparase atau
hemiplagia.
c.
Defisit
perawatan
diri
berhubungan
dengan
kelemahan
dan
kelumpuhan.
d.
Gangguan nutrisi berhubungan dengan kesulitan menelan, hemiparase
dan hemiplagia.
e.
Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan aliran
darah arteri terlambat
2. Intervensi keperawatan / rencana keperawatan
20
Berdasarkan diagnosa keperawatan di atas, rencana keperawatan yang bisa
dilakukan adalah ( Padila, 2012 ) :
a.
Resiko peningkatan TIK berhubungan dengan penambahan isi otak
sekunder terhadap perdarahan otak.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami
peningkatan tekanan intra kranial.
Kriteria hasil :
Tidak terdapat tanda peningkatan tekanan intra kranial :
1) Peningkatan tekanan darah.
2) Nadi melebar.
3) Pernafasan cheyne stokes.
4) Muntah proyektil.
5) Sakit kepala habat.
Intervensi atau rencana keperawatan:
1) Pantau tanda dan gejala peningkatan TIK :
Tekanan darah, nadi, GCS, respirasi, keluhan sakit kepala hebat,
muntah proyektil, pupil unilateral.
Rasional : deteksi dini peningkatan TIK untuk melakukan
tindakan lebih lanjut.
2) Tinggikan kepala tempat tidur 15-30 derajat kecuali kontra
indikasi. Hindari mengubah posisi dengan cepat.
Rasional : meninggikan kepala dapat membantu drainage vena
untuk mengurangi kongesti vena.
3) Anjurkan untuk menghindari masase karatis.
21
Rasional : masase karotis memperlambat frekuensi jantung dan
mengurangi sirkulasi sistemik yang diikuti peningkatan sirkulasi
secara tiba-tiba.
4) Kolaborasi dengan dokter dengan pemberian obat-obatan sesuai
dengan masalahnya.
Rasional : untuk menurunkan tekanan darah, meningkatkan daya
tahan tubuh, mencegah terjadinya trombus.
b.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparase atau
hemiplagia.
Tujuan :
Klien
mampu
melaksanakan
aktivitas
fisik
sesuai
dengan
kemampuannya.
Kriteria hasil :
1) Tidak terjadi kontraktur sendi, bertambahnya kekuatan otot.
2) Klien menunjukkan (tindakan untuk meningkatkan mobilitas)
Intervensi atau rencana keperawatan :
1) Pantau posisi per 2 jam atau mengubah posisi per 2jam.
Rasional : menurunkan resiko terjadinya iskemia darah yang jelek
pada daerah yang tertekan.
2) Lakukan gerakan pasif pada ekstremitas yang sakit.
Rasional : otot valunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya
bila tidak dilatih untuk digerakan.
3) Ajarka klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada
ekstremitas yang tidak sakit.
22
Rasional : gerakan aktif memberikan massa, tonus dan kekuatan
otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernafasan.
4) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.
Rasional : untuk memulihkan semua anggotan gerak atau
meningkatkan kekuatan otot.
c.
Defisit
perawatan
diri
berhubungan
dengan
hemiparase
atau
hemiplagia.
Tujuan :
Setelah dilakukan keperawatan selama x 24 jam klien mampu
memenuhi kebutuhan perawatan diri secara mandiri.
Kriteria hasil :
1) Klien dapat melakukan aktivitas pearawatan diri sesuai dengan
kemampuan klien.
2) Klien dapat mengindentifikasi sumber pribadi atau komunitas
untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan.
Intervensi atau rencana keperawatan :
1) Observasi kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan
perawatan diri.
Rasional : membantu dalam mengantisipasi atau merencanakan
pemenuhan kebutuhan sesuai individual.
2) Berikan motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas dan
beri bantuan dengan sikap sungguh.
Rasional : meningkatkan harga diri dan semangat untuk berusaha
terus menerus.
23
3) Anjurkan untuk menghindari melakukan sesuatu untuk klien yang
dapat dilakukan klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai
kebutuhan.
Rasional : klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat
tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat
dalam , mencegah frustasi, adalah penting bagi klien untuk
melakukan
sebanyak
mungkin
untuk
diri
sendiri
untuk
mempertahankan harga dirindan meningkatkan pemulihan.
4) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi.
Rasional
:
memberikan
bantuan
yang
mantap
untuk
mengembangkan rencana terapi dan mengindentifikasi kebutuhan
alat penyokong khusus.
d.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
kelemahan otot mengunyah dan menelan sekunder kehilangan
kesadaran.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam klien tidak
mengalami gangguan nutrisi.
Kriteria hasil :
1) Berat badan dapat dipertahankan atau ditingkatkan.
2) Hb dan albumin dalam batas normal.
Intervensi atau rencana keperawatan :
1) Observasi kemampuan klien dalam mengunyah dan menelan.
24
Rasional : untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan
pada klien.
2) Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu, selama dan
sesudah makan.
Rasional : untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya
gravitasi.
3) Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan
Rasional : menguatkan otot fasial dan otot menelan dan
menurunkan resiko terjadinya tersedak.
4) Kolaborasikan dengan ahli gizi.
Rasional : agar klien mendapat makanan sesuai dengan kondisinya.
e. ketidaefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan aliran
darah arteri terhambat.
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam masalah
perfusi jaringan serebral teratasi.
Kriteria hasil :
1). Tanda-tanda vital stabil
2). Komunikasi jelas
3). Kesadaran composmentis
Intervensi keperawatan :
1). Pantau status neurologi
Rasional : mengetahui kecenderungan tingkat kesadaran.
2). Pantau tanda-tanda vital
25
Rasional : untuk mengetahui tekanan darah
3). Letakkan kepala dengan posisi sedikit ditinggikan dan dalam posisi
anatomis
Rasional : untuk menurunkan tekanan darah arteri, meningkatkan
sirkulasi serebral.
4). Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung
Rasional : untuk memberikan kenyamanan pasien.
5). Kolaborasi dengan TIM dokter dengan pemberian obat
neuroprotektor
Rasional : untuk memperbaiki sel yang masih viabel.
C. Alih Baring
1. Definisi
Menurut Marison dalam jurnal Aini dan Purwaningsih (2013), alih
baring adalah perubahan posisi setiap dua jam dan periode diperpanjang
setiap empat jam pada malam hari sehingga pasien dapat tidur malam tanpa
terganggu. Tidur dapat mendukung proses anabolik penyembuhan sehingga
penyembuhan luka dapat difasilitasi.
Menurut Perry dan Potter dalam Jurnal Aini dan Purwaningsih (2013),
pasien harus diubah sesuai dengan tingkat aktivitas, kemampuan persepsi, dan
rutinitas sehari-hari dengan dilakukannya alih baring setiap 2 jam dan 4 jam
yang dapat memberikan rasa nyaman pada pasien, mempertahankan atau
menjaga postur tubuh dengan baik menghindari komplikasi yang mungkin
timbul akibat tirah baring seperti luka tekan (dekubitus), maka dengan
26
dilakukannya tindakan alih baring tersebut akan mencegah terjadinya
dekubitus.
2. Langkah-langkah melakukan alih baring
Menurut Bryan dalam Tarihoran (2010 : 42) menjelaskan tentang
bagaimana mengatur posisi miring 30 derajat pada pasien guna mencegah
terjadinya luka tekan. Prosedur awalnya, pasien ditempatkan persis ditengah
tempat tidur, dengan menggunakan bantal untuk menyanggah kepala dan
leher. Selanjutnya tempatkan satu bantal pada sudut antara bokong dan
matras, dengan cara miringkan panggul setinggi 30 derajat. Bantal yang
berikutnya ditempatkan memanjang diantara kedua kaki.
D. Luka Dekubitus
1. Pengertian
Luka dekubitus adalah suatu area yang terlokalisir dengan jaringan
mengalami nekrosis yang biasanya terjadi pada bagian permukaan tulang
yang menonjol, sebagai akibat dari tekanan dalam jangka waktu lama yang
menyebutkan (Suriadi,2004).
2. Etiologi
Penyebab dari luka dekubitus dapat dibedakan menjadi dua faktor yaitu
faktor instrinsik dan faktor ekstrinsik.
a.
Faktor Instrinsik
1) Tekanan
27
Faktor tekanan, terutama sekali bila tekanan tersebut terjadi dalam
jangka waktu lama yang menyebabkan jaringan mengalami iskemik.
2) Pergesekan dan pergeseran
Gaya gesekan adalah sebagai faktor yang menimbulkan luka iskemik.
Hal ini bisanya akan terjadi apabila pasien di atas tempat tidur
kemudian sering merosot, dan kulit sering kali mengalami regangan
dan tekanan yang mengakibatkan terjadinya iskemik pada jaringan.
3) Kelembaban
Kondisi kulit pada pasien yang sering mengalami lembab akan
mengkontribusi kulit menjadi laserasi kemudian dengan adanya
gesekan dan pergeseran, memudahkan kulit mengalami kerusakan.
Kelembaban ini dapat akibat dari inkontinensia, drain luka, banyak
keringat dan lainnya.
b.
Faktor Ekstrinsik
1) Usia
Usia juga dapat mempengaruhi terjadinya luka dekubitus. Usia lanjut
mudah sekali untuk terjadi luka dekubitus. Hal ini karena pada usia
lanjut terjadi perubahan kualitas kulit dimana adanya penurunan
elastisitas dan kurangnya sirkulasi pada dermis.
2) Temperatur
Kondisi tubuh yang memgalami peningkatan temperatur akan
berpengaruh pada temperatur jaringan. Setiap terjadi peningkatan
metabolisme akan menaikkan satu derajat celsius dalam temperatur
jaringan. Dengan adanya peningkatan temperatur ini akan beresiko
28
terhadap iskemik jaringan. Selain itu dengan menurunnya elastistas
kulit, akan berpengaruh terhadap adanya gaya gesekan dan pergeseran
sehingga akan mudah mengalami kerusakan kulit. Hasil penelitian
didapatkan
bahwa
adanya
hubungan
yang
bermakna
antara
peningkatan temperatur tubuh dengan resiko terjadinya luka
dekubitus.
3) Nutrisi
Nutrisi merupakan faktor yang dapat mengkontribusi terjadinya luka
dekubitus. Pada faktor ini ada juga yang masih belum sependapat
nutrisi sebagai faktor luka dekubitus. Namun sebagian besar dari hasil
penelitian mengatakan adanya hubungan yang bermakna pada klien
yang mengalami luka dekubitus dengan malnutrisi. Individu dengan
tingkat serum albumin yang rendah terkait dengan perkembangan
terjadi luka dekubitus pada pasien yang dirawat.
Adapun faktor lainnya adalah :
1) Menurunnya persepsi sensori
2) Immobilisasi
3) Keterbatasan aktivitas
Ketiga faktor ini adalah dampak dari pada lamanya dan intensitas
tekanan pada bagian permukaan tulang yang mmenonjol (Suriadi,
2004).
BAB III
LAPORAN KASUS
Pada bab ini dibahas tentang hasil pemberian posisi miring terhadap pencegahan luka
tekan pada asuhan keperawatan Tn. M dengan Stroke Hemoragik di Instalasi Gawat
Darurat RSUD Dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Pengkajian dilakukan pada
tanggal 11 April 2014.
A. Identitas klien
Tn. M berusia 85 tahun dengan jenis kelamin laki-laki, alamat Tn. M
waleng, Wonogiri, beragama islam, tanggal masuk rumah sakit pada tanggal 11
April 2014. Penanggung jawab pasien adalah anaknya yang bernama Tn. N
berumur 40 tahun seorang pegawai swasta, pendidikan terakhir Tn. N adalah
sekolah dasar yang bertempat tinggal di desa Waleng. Hubungan dengan pasien
sebagai anak.
B. Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan metode alloanamnesa atau pengkajian
dengan melihat berdasarkan data dalam status pasien dan dari keluarga.
1. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluarga pasien mengatakan sebelum masuk rumah sakit pasien tidak
merasakan keluhan apa-apa. Sejak jumat pagi pukul 01.00 WIB pasien
dibangunkan lalu mendadak badan bagian kanan sudah kaku, mulut pelo, sulit
berbicara. Lalu keluarga pasien membawa pasien ke IGD pukul 08.00 WIB.
29
30
Di IGD pasien dilakukan perekaman jantung, diberikan terapi infus Ringer
Laktat 20 tpm, antalgin, asam tranek, citicholin. Dipindah kebangsalan
anyelir pukul 10.05 WIB.
2. Riwayat kesehatan klien
keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Meninggal
: Garis pernikahan
: Tinggal satu rumah
: Menandakan pasien
: Pasien
: Keturunan
Keluarga mengatakan tidak ada riwayat penderita hipertensi, Diabetes
melitus dan penyakit jantung.
31
3. Pengkajian Primer
Pada pengkajian airway didapatkan hasil ada sumbatan jalan nafas yaitu
lendir dan sputum, hasil pengkajian breathing terdengar suara gargling,
respirasi 15 x per menit, nafas tidak teratur, terlihat otot bantu pernafasan,
hasil pengkajian sirkulasi didapatkan nadi 84 x per menit, tekanan darah
230/120 mmHg, disability didapatkan hasil kesadaran apatis dengan GCS E :
4 V : Afasia M : 4, exposure didapatkan hasil tidak ada jejas atau luka di
bagian punggung dan bokong,akral hangat dengan suhu 36,2 derajat celcius,
turgor kulit < 3 detik, kulit tidak kemerahan.
4. Pola Pengkajian Sekunder
Pada pengkajian sekunder didapatkan hasil keluarga pasien mengatakan
tahu-tahu badan bagian kanan kaku sampai bawah, dan sulit berbicara.
Keluarga pasien mengatakan tidak memiliki alergi terhadap makanan dan
obat-obatan. Pasien masuk ke IGD pada tanggal 11 April 2014 pukul 08.00
WIB. Keluarga pasien mengatakan pasien terakhir makan nasi dan sayur
seperti biasa pada pukul 18.30 WIB. Keluarga pasien mengatakan saat di
bangunkan jam 01.00 WIB badan pasien bagian kanan kaku dan sulit
berbicara.
5. Hasil Pemeriksaan Fisik
Kesadaran Tn. M apatis dengan tanda-tanda vital sebagai berikut tekanan
darah 230/120 mmHg, nadinya 84 x per menit, respirasinya 15 x per menit
dengan irama tidak teratur dengan suhu 36,2 derajat celcius.
Bentuk kepala Tn. M adalah mesoshepal kulit bersih dan rambut Tn. M
putih kehitaman. Hasil pengkajian mata Tn. M adalah palbebra tidak ada
oedem, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter kanan
32
dan kiri sama, tidak menggunakan alat bantu penglihatan. Hidung Tn. M
tidak ada sekret, tidak ada polip dan bentuk hidung simetris. Mulut Tn. M
terlihat kering, ada penumpukan lendir atau sputum di mulut. Gigi Tn. M
terlihat sudah banyak yang tunggal, terlihat kurang bersih. Telinga Tn. M
berbentuk simetris dan tidak ada sekret. Leher Tn. M tidak ada kaku kuduk
dan tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.
Hasil pemeriksaan fisik paru-paru didapatkan hasil simetris, terpasang O2
3 liter. Terdengar vocal premitus kanan dan kiri sama, bunyi paru terdengar
hipersonor dan terdengar suara ronkhi basah. Hasil pemeriksaan jantung
terdapat hasil ictus kordis tidak tampak, ictus kordis teraba di ICS 5,
terdengar pekak dan bunyi jantung terdengar reguler di 1 dan 2. Inspeksi
pada abdomen tidak terdapat jejas, peristaltik usus 21 x per menit, hasil
perkusi tympani, tidak ada nyeri tekan. Pada genetalia terlihat terpasang
kateter. Ekstremitas atas didapatkan hasil pengkajian kekuatan otot kanan dan
kiri 1 dan 5, ROM kanan tidak mampu untuk mengangkat dan kiri bisa di
mampu diangkat, digerakkan dan terpasang infuse. Capillary refille kurang
dari 3 detik, tidak ada perubahan bentuk tulang dan akral hangat. Ekstremitas
bagian bawah didapatkan hasil kekuatan otot kanan dan kiri 1 dan 5, Rom
kanan dapat merangsang nyeri dan kiri bisa diangkat dan digerakkan.
Capillary refille kurang dari 3 detik, tidak ada perubahan bentuk tulang dan
akral hangat.
Pasien terlihat aktivitas di bantu dengan orang lain, makan dan minum
dengan menggunakan selang NGT. Pola aktivitas pasien makan dan minum
dibantu dengan alat (1), toileting dibantu dengan orang lain dan alat (3).
Berpakaian dibantu orang lain (2), mobilitas di tempat tidur dibantu orang
33
lain (2), berpindah dibantu orang lain (2), ambulasi/ROM dibantu orang lain
(2). Genetalia terpasang selang kateter.
6. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan laboratorium pada
tanggal 11 April 2014 hasilnya golongan darah pasien O, gula darah sewaktu
158 mg/dl, SGOT 18 U/L, SGPT 11 U/L, ureum 38 mg/dl, kreatinin 1,11
mg/dl, WBC 8,5, LYM 0,7%, MID 0,3%, Gran 7,5, RBC 4,78 m/ul, HGB
13,3g/dl, HCT 42,7%, MCV 89,4 fl, MCH 27,8, MCHC 31,1 g/dl, PLT 215,
MPV 6, RDW 17,4%.Pada tanggal 12 April 2014 dilakukan pemeriksaan
laboratorium tentang kolestrol total 298 mg/dl, trigliserid 70 mg/dl, asam urat
4,6 mg/dl.
Pada tanggal 12 April 2014 dilakukan pemeriksaan CT Scan kepala
mendapatkan hasil Gyri, sulci baik. Diferensia grey dan white mat tegas. Tak
tampak mid line shift. Tampak lesi hipodents di capsula interna, thalamus
sinistra dengan perifocal oedema lesi hipodents dicorona radiata sinistra lesi
hipodends di fosca posterior. Sistem ventrikel dan cysterna baik. Kedua orbita
simetris, air cell mastoid kanan dan kiri baik. Tulang-tulang infark, sinus
paranasalis bersih. Tak tampak cephal haematoma. Kesan dari CT Scan
adalah intrecerebri haemorrhage di kapsula interna dan thalamus sinistra
dengan
perifocal
oedema.
Intraventrikuler
haemorrhage
dengan
ventrikulomegali. Gambaran peningkatan intrakranial. Infark cerebri di
corona radiata sinistra.
34
C. Daftar Perumusan Masalah
Dari data hasil pengkajian dan observasi di atas, penulis melakukan
analisa data kemudian membuat prioritas diagnosa keperawatan sesuai
dengan kegawatan yang dialami pasien atau yang harus segera mendapatkan
penanganan karena apabila tidak segera ditangani akan menimbulkan masalah
yang lain. Prioritas diagnosa keperawatan yang penulis angkat adalah
ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan
transport oksigen melalui alveoli dan membran kapiler, hambatan mobilitas
fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, defisit perawatan diri
berhubungan dengan hemiparase dan resiko kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan kelembapan kulit.
Prioritas diagnosa yang pertama adalah ketidakefektifan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan gangguan transport oksigen melalui alveoli dan
membran kapiler yang di tunjukkan dengan data hasil pengkajian sebagai
berikut data subyektif tidak terkaji dan data obyetif terpasang oksigen 3 liter,
GCS pasien V : Afasia E : 3 M : 4, pasien terlihat sulit berbicara, hasil CT
Scan kepala pada tanggal 12 April 2014 : intra cerebri haemorrahage
dikapsula interna dan thalamus sinistra dengan perifocal oedema, intra
ventrikuler haemorrahage dengan ventrikulomegali, gambaran peningkatan
intra kranial, infark cerebri di corona radiata sinistra, tekanan darah 230/120
mmHg, nadi 84 x/mnt dan respirasi 15 x/mnt.
Pada prioritas yang kedua adalah hambatan mobilitas fisik berhubungan
dengan penurunan kekuatan otot yang di tunjukkan dengan data hasil
pengkajian data subyektif keluarga mengatakan badan pasien bagian kanan
sudah kaku, sulit bicara, bicara tidak jelas dan data obyektifnya pasien terlihat
35
lemas, pasien terlihat tidak dapat miring kanan atau kiri secara mandiri,
pasien terlihat tidak dapat mengangkat ekstremitas kanan dengan kekuatan
otot ektremitas atas kanan dan kiri 1 dan 5 sedangkan ektremitas bawah
kanan dan kiri 1 dan 5.
Pada prioritas diagnosa ketiga adalah defisit perawatan diri berhubungan
dengan hemiparase yang ditunjukkan dengan data hasil pengkajian data
objektif pasien terlihat tidak dapat beraktivitas sendiri, makan dan minum
pasien dengan menggunakan selang NGT, badan pasien sebelah kanan
mengalami kelumpuhan, pola aktivitas pasien makan dan minum (1).
Toileting (3). Berpakaian (2). Mobilitas ditempat tidur (2), berpindah (2).
Ambulasi / ROM (2).
Pada prioritas diagnosa keempat adalah resikokerusakan integritas kulit
berhubungan dengan kelembaban kulit yang ditunjukkan dengan data hasil
pengkajian data obyektif tidak ada jejas di punggung dan bokong, kulit
bagian punggung dan bokong tidak terlihat kemerahan, turgor kulit <3 detik,
terlihat di daerah punggung dan bokong selalu berkeringat, pasien terlihat
hanya tiduran di tempat tidur saja (bedrest).
D. Perencanaan
Penulis akan membahas rencana keperawatan sesuai prioritas diagnosa
seperti yang diatas. Rencana keperawatan dengan tujuan setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam ketidakefektifan gangguan perfusi
jaringan serebral teratasi dengan kriteria hasil sebagai berikut GCS meningkat E
: 4 V : 5 M : 6, pasien dapat menelan, pasien dapat berbicara lancar, tanda-tanda
vital normal tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 80 x/mnt, respirasi 20 x/mnt
36
Intervensi atau rencana keperawatan yang dibuat berdasarkan diagnosa
keperawatan NIC dan kriteria hasil NOC adalah pantau status neurologi dengan
rasional untuk mengetahui kecendurangan tingkat kesadaran, pantau tanda-tanda
vital dengan rasional untuk mengetahui tekanan darah, letakkan kepala dengan
posisi sedikit ditinggikan dan dalam posisi anatomis dengan rasional untuk
menurunkan tekanan arteri dan meningkatkan sirkulasi serebral, ciptakan
lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung dengan rasional untuk
memberikan kenyamanan pasien, kolaborasi dengan TIM dokter pemberian obat
neuroprotektor dengan rasional untuk memperbaiki sel yang masih variabel
(Brunner & Suddarth dalam Padila, 2012).
Rencana keperawatan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama
2 x 24 jam diharapkan hambatan mobilitas fisik teratasi. Dengan kriteria hasil
yaitu kekuatan otot bertambah 3, pasien dapat memiringkan badannya secara
mandiri, pasien dapat mengangkat ektremitas kanannya (Brunner & Suddarth
dalam Padila, 2012). Intervensi atau rencana keperawatan yang dibuat
berdasarkan diagnose keperawatan NIC dan kriteria hasil NOC adalah observasi
keadaan umum pasien dengan rasional untuk mengetahui perkembangan
mobilitas pasien, bantu mengalih baringkan pasien (posisi miring 30 derajat dari
kiri, terlentang dan kanan) dengan rasional untuk mengurangi resiko dekubitus,
libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien dengan rasional untuk
meningkat kemandirian pasien dalam kondisi keterbatasan pasien, anjurkan
untuk melakukan ROM pasif dan aktif sesuai kemampuan dengan rasional untuk
melatih kekuatan otot ektremitas kanan dan kiri, kolaborasi dengan ahli
37
fisioterpi dengan rasional untuk mengetahui perkembangan otot atau kekuatan
otot
Rencana keperawatan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24 jam klien klien mampu memenuhi kebutuhan
perawatan diri secara mandiri. Dengan kriteria hasil yaitu klien dapat melakukan
aktivitas perawatan diri secara mandiri, pasien dapat makan dan minum tanpa
menggunakan alat bantu (Brunner & Suddarth dalam Padila, 2012).
Intervensi atau rencana keperawatan yang dibuat berdasarkan diagnosa
keperawatan NIC dan kriteria hasil NOC adalah observasi kemampuan klien dan
tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri dengan rasional membantu
dalam mengantisipasi atau merencanakan pemenuhan kebutuhan sesuai
individual, berikan motivasi kepada klien untuk tetap melakuka aktivitas dan
semangat untuk berusaha terus menerus dengan rasional untuk meningkatkan
harga diri dan semangat untuk berusaha terus menerus, anjurkan untuk
menghindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan klien sendiri,
tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan rasional agar klien mungkin
menjadi sangat ketakutan dan sangat tergantung dan meskipun bantuan yang
diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, dan penting bagi klien untuk
melakukan sebanyak mungkin untuk diri sendiri untuk mempertahankan harga
diri dan meningkatkan pemulihan, kolaborasi dengan ahli fisioterapi dengan
rasional agar memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana
terapi dan mengindentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus.
Rencana keperawatan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan pasien dengan resiko kerusakan
intregitas kulit teratasi dengan kriteria hasil sebagai berikut turgor kulit < 3
38
detik, kulit tidak terlihat kemerahan, kulit tidak lembap (Brunner & Suddarth
dalam Padila, 2012).
Intervensi atau rencana keperawatan yang dibuat berdasarkan diagnosa
keperawatan NIC dan kriteria hasil NOC adalah tanda-tanda dekubitus (kulit
kemerahan, lecet, suhu atau kelembapan tubuh bagian belakang) dengan rasional
untuk mengetahui tanda-tanda dekubitus, ubah posisi setiap 2 jam secara teratur
dengan rasioanl untuk mencegah resiko dekubitus, ajarkan keluarga untuk
mengubah posisi setiap 2 jam dengan rasional agar keluarga secara mandiri turut
membantu mencegah resiko dekubitus, atur posisi miring dengan penyangga
bantal dengan rasional untuk menaikan titik penekanan dari tempat tidur
(Brunner &Suddarth, 2012).
E. Implementasi
Pada diagnosa pertama tanggal 11 April 2014 penulis melakukan
mengobservasi tanda-tanda vital dengan didapatkan data obyektif TD : 230/120
mmHg dan nadi 84 x/mnt, mengobservasi kesadaran didapatkan data obyektif
pasien terlihat acuh tak acuh, tidak melaksanakan perintah perawat, pasien hanya
terlihat buka tutup mata dengan GCS E : 3 M : 4 V : afasia, meletakkan posisi
kepala pasien lebih tinggi dan dalam posisi anatomis didapatkan data obyektif
pasien terlihat lebih nyaman. Pada tanggal 12 April 2014 penulis melakukan
mengobservasi tanda-tanda vital data obyektif TD : 190/110 mmHg dan nadi 80
x/mnt, mengobservasi kesadaran didapatkan data obyektif GCS pasien V :
afasia, E : 4, M : 5 dan pasien masih belum bisa diajak komunitas,
memposisikan kepala pasien lebih tinggi dalam posisi anatomis data obyektif
pasien terlihat lemas.
39
Pada diagnosa kedua tanggal 11 April 2014 penulis melakukan tindakan
membantu mengalih baringkan (posisi miring 30 derajat ke kiri per 2 jam)
didapatkan data obyektif pasien terlihat kurang nyaman, pada punggung dan
bokong tidak terlihat kemerahan, tidak terlihat lecet, memposisikan pasien dalam
posisi terlentang didapatkan data obyektif pasien terlihat kooperatif, membantu
mengalih baringkan pasien dengan posisi miring 30 derajat ke kanan dengan
tumpuan bantal di bokong didapatkan data obyektif pasien sudah mulai
kooperatif, pada punggung pasien tidak terlihat jejas, tidak terlihat kemerahan,
tetapi teraba keringat didaerah punggung, membantu mengalih baringkan pasien
dalam posisi terlentang didapatkan data obyektif pasien kooperatif dan pasien
terlihat lemas, menganjurkan untuk melakukan ROM pasif sesuai dengan
kemampuan pasien data subyektif keluarga mengatakan mengerti caranya
melatih ROM pasif, data obyektif keluarga terlihat memimpin cara untuk
melakukan ROM pasif. Pada tanggal April 2014 penulis melakukan membantu
mengalih baringkan posisi miring 30 derajat ke kanan data obyektif pasien
kooperatif, kulit didaerah punggung dan bokong tidak terlihat kemerahan,
membantu mengalih baringkan pada posisi terlentang data obyektif pasien
kooperatif, mengajarkan ROM pasif data obyektif pasien hanya mampu
membuka dan menutup jari tangan, membantu mengalih baringkan posisi kiring
30 derajat ke kiri data obyektif pasien sedikit lemas, tidak terlihat jejas dan tidak
kemerahan pada kulit.
Pada diagnosa ketiga tanggal 11 April 2014 penulius melakukan tindakan
mengobservasi kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan
diri data obyektif pola aktivitasnya : makan dan minum dibantu dengan alat
(NGT), toileting dibantu dengan alat dan orang lain (terpasang kateter),
40
mobilitas di tempat tidur dibantu norang lain, berpindah dibantu orang lain,
ROM dibantu orang lain dan menganjurkan untuk menghindari pasien
melakukan aktivitas sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan
data subyektif keluarga mengatakan mengerti dengan apa yang disampaikan dan
data obyektif pasien terlihat tidur dan keluarga pasien terlihat menemani pasien.
pada tanggal 12 April 2014 penulis melakukan tindakan keperawatan
mengobservasi kemampuan pasien melakukan aktivitas data obyektif pasien
terlihat tidak mampu melakukan aktivitas secara mandiri dengan pola aktivitas :
makan dan minum masih dibantu dengan alat (NGT), toileting dibantu dengan
alat dan orang lain (terpasang kateter), mobilitas di tempat tidur dibantu orang
lain, berpindah dibantu orang lain, ROM dibantu orang lain.
Pada diagnosa keempat tanggal 11 April 2014 penulis melakukan
tindakan mengobservasi tanda dekubitus dengan data obyektif tidak ada jejas
dibagian bokong dan punggung, kulit tidak tampak kemerahan, tidak ada lecet
kulit dibagian punggung teraba keringat, membantu mengalih baringkan posisi
miring 30 derajat ke kiri per 2 jam didapatkan data obyektif pasien terlihat
kurang nyaman, pada punggung dan bokong tidak terlihat kemerahan, tidak
terlihat lecet, membantu mengalih baringkan pasien dengan posisi miring 30
derajat ke kanan dengan tumpuan bantal di bokong didapatkan data obyektif
pasien sudah mulai kooperatif, pada punggung pasien tidak terlihat jejas, tidak
terlihat kemerahan, tetapi teraba keringat didaerah punggung, menganjurkan
keluarga untuk mengubah posisi miring setiap 2 jam kecuali pada ekstremitas
yang mengalami kelumpuhan hanya ± 15-30 menit saja data subyektif keluarga
mengatakan mengerti anjuran dari perawat dan data obyektif keluarga terlihat
memiringkan pasien kekiri dan pasien terlihat kooperatif.
41
F. Evaluasi
Evaluasi pada diagnosa pertama tanggal 11 April 2014 masalah
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral adalah data subyektifnya tidak terkaji,
data obyektif GCS pasien V : afasia, E : 3, M : 4, pasien belum bisa diajak
komunikasi. Hasil analisa masalah belum teratasi karena kriteria hasil dalam
tujuan sama sekali belum teratasi. Intervensi lanjut yaitu observasi tanda-tanda
vital, letakkan posisi kepala lebih tinggi dalam posisi anatomis. Pada tanggal 12
April 2014 masalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral adalah data
subyektif tidak dapat terkaji, data obyektif GCS V : afasia, E : 4, M : 5, pasien
sudah bisa sedikit komunikasi, tekanan darah 180/110 mmHg dan nadi 86
x/mnt. Hasil analisa masalah sebagian teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan
sebagian sudah tercapai. Intervensi lanjut yaitu observasi tanda-tanda vital,
letakkan posisi kepala lebih tinggi dalam posisi anatomis, ciptakan lingkungan
yang tenang.
Evaluasi pada diagnosa kedua tanggal 11 April 2014 masalah hambatan
mobilitas fisik adalah data subyektif tidak terkaji, data obyektif pasien masih
terlihat belum bisa menggerakkan tangan dan kaki, kekuatan otot ekstremitas
atas 1 dan 5 dan bawah 1 dan 5. Hasil analisa masalah belum teratasi karena
kriteria hasil dalam tujuan sama sekali belum tercapai. Intervensi lanjut yaitu
anjurkan alih baring (posisi miring 30 derajat per 2 jam), anjurkan pasien
melakukan ROM. Pada tanggal 12 April 2014 masalah hambatan mobilitas fisik
adalah data subyektif tidak terkaji, data obyektif pasien terlihat hanya dapat
membuka dan menutup jari-jari, kekuatan otot ekstremitas atas kanan dan kiri 1
dan 5 dan ekstremitas bawah kanan dan kiri 1 dan 5. Hasil analisa masalah
belum teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan belum tercapai. Intervensi lanjut
42
yaitu anjurkan alih baring (posisi miring 30 derajat per 2 jam), anjurkan pasien
melakukan ROM.
Evaluasi pada diagnosa ketiga tanggal 11 April 2014 masalah defisit
perawatan diri adalah data subyektif tidak dapat terkaji, data obyektif pasien
terlihat makan dan minum dibantu dengan alat (NGT), berpakaian dibantu orang
lain, toileting dibantu dengan alat dan orang lain, mobilitas ditempat tidur
dibantu orang lain dengan orang lain, berpindah juga di bantu orang lain,
melakukan ROM pasif masih dibantu orang lain lain. Hasil analisa masalah
belum teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan sama sekali belum tercapai.
Intervensi lanjut yaitu observasi kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas,
berikan motivasi agar tetap melakukam aktivitas. Pada tanggal 12 April 2014
masalah defisit perawatan diri adalah data subyektif tidak terkaji, data obyektif
pasien terlihat makan dan minum dibantu dengan alat (NGT), berpakaian
dibantu orang lain, toileting dibantu orang lain dan alat (terpasang kateter),
mobilitas ditempat tidur dibantu dengan orang lain, berpindah juga dibantu
orang lain, ROM pasif masih dibantu orang lain. Hasil analisa masalah belum
teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan belum tercapai. Intervensi lanjut yaitu
observasi kemampuan pasien saat melakukan aktivitas, berikan motivasi agar
tetap melakukan aktivitas.
Evaluasi hari pertama masalah resiko kerusakan integritas kulit adalah
data subyektif tidak terkaji dan data obyektif tidak terlihat jejas di daerah
punggung dan bokong, kulit tidak terlihat kemerahan, tidak terlihat lecet,
keringat terlihat keluar sedikit, turgor kulit < 3 detik. Hasil analisa masalah
teratasi karena sudah sesuia dengan kriteria hasil didalam tujuan. Intervensi
dihentikan.
BAB IV
PEMBAHASAN
Bab ini penulis akan membahas tentang hasil dari pemberian posisi miring
terhadap penurunan luka teka pada asuhan keperawatan Tn. M dengan stroke hemoragik
di Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri. Pengkajian
dilakukan pada tanggal 11 April 2014. Pembahasan ini tentang proses asuhan
keperawatn meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.
1.
Pengkajian
Pengkajian adalah pemikiran atau dasar yang bertujuan untuk mengumpulkan
informasi atau data tentang klien, agar dapat mengindentifikasi, mengenal masalahmasalah kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien baik fisik, mental, sosial dan
lingkungan (Dermawan, 2012 : 36).
Pada saat penulis melakukan pemeriksaan fisik mendapatkan data tekanan
darah 230/120 mmHg. Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah
arterial abnormal yang langsung terus-menerus. Hipertensi dibagi menjadi tiga
tahap yaitu tahap pertama (ringan) tekanan sistolik 140-159 dan diastolik 90-99,
tahap yang kedua (sedang) tekanan sistolik 160-179 dan diastolik 100-109 dan
tahap ketiga (berat) tekanan sistolik lebih dari 180 dan diastolik lebih dari 110
(Brashers, 2007).Berdasarkan teori tersebut dengan pemeriksaan fisik pada Tn. M,
Tn. M termasuk hipertensi yang tahap ke tiga karena tekanan darah Tn. M 230/120
mmHg.
Menurut Ariani (2012), hipertensi akan
menyebabkan stroke karena
hipertensi dapat mengakibatkan pecahnya maupun menyempitkan pembuluh darah
otak. Apabila pembuluh darah otak pecah, maka timbullah perdarahan otak
43
44
menyempit, maka aliran darah ke otak akan terganggu dan sel-sel otak akan
mengalami kematian.
Menurut Setyanegara dalam Ariani (2012) stroke terbagi menjadi dua yaitu
stroke non hemoragik dan stroke hemoragik. Stroke non hemoragik masih dibagi
menjadi empat klasifikasi yanng pertama serangan iskemik sepintas adalah
Transient Iskemik Attak merupakan tampilan peristiwa berupa episode-episode
serangan sesaat dari suatu disfungsi serebral fokal akibat gangguan vaskuler,
dengan lama 1-15 menit sampai paling lama 24 jam, yang kedua defisit neurologis
iskemik sepintas adalah gejala dan tanda gangguan neurologis yang berlangsung
lebih lama dari 24 jam dan kemudian pulih kembali dalam jangka waktu kurang
dari tiga minggu, yang ketiga progressing stroke adalah gejala gangguan neurologis
yang progresif dalam waktu enam jam atau lebih, yang ke empat stroke komplit
adalah gejala gangguan neurologis dengan lesi-lesi yang stabil selama periode
waktu 18-24 jam, tanpa adanya progresivitas lanjut. Stroke hemoragik adalah
perdarahan intrakranial dibedakan berdasarkan tempat perdarahannya yakni di
rongga subaraknoid atau di dalam parenkim otak (intraserebral) dan ada juga
perdarahan yang terjadi bersamaan pada kedua tempat di atas seperti perdarahan
subaraknoid yang bocor ke dalam otak atau sebaliknya. Selanjutnya gangguangangguan arteri yang menimbulkan perdarahan otak spontan dibedakan lagi
berdasarkan ukuran dan lokasi regional otak.
Berdasarkan teori di atas dengan pengkajian yang di dapat pada Tn. M
mengalami stroke hemoragik karena di dapatkan hasil CT Scan yang berkesan
intrecerebri haemorrhage di kapsula interna dan thalamus sinistra dengan perifocal
oedema, intraventrikuler haemorrhage dengan ventrikulomegali.
Faktor resiko stroke umumnya dibagi menjadi dua yaitu yang pertama faktor
resiko internal dengan meliputi umur semakin tua kejadian stroke semakin tinggi,
45
suku bangsa/orang yang berwatak keras rentan terserang stroke, jenis kelamin lakilaki lebih beresiko dibanding wanita dan riwayat keluarga dan yang kedua faktor
resiko eksternal yang meliputi hipertensi, diabetes melitus, serangan lumpuh
sementara, fibrilasi jantung, pasca stroke, perokok (Junaidi, 2011). Berdasarkan
teori diatas sesuai pada Tn. M mengalami stroke didukung oleh faktor-faktor umur,
jenis kelamin, hipertensi dan perokok. Pada saat penulis melakukan pengkajian
penulis tidak mengaji tentang watak pasien, aktivitas pasien dan kebiasaan pasien
minum-minuman keras. Ini merupakan kekurangan penulis saat melakukan
pengkajian.
Tanda dan gejala pada stroke hemoragik menurut Rendy&Margareth (2012),
ada dua klasifikasi, yaitu stroke akibat perdarahan intraserebral dan stroke akibat
perdarahan subaraknoid. Stroke akibat perdarahan intraserebral mempunyai gejala
yang tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi, serangan sering kali siang
hari, saat aktivitas atau emosi/marah, sifat nyeri kepalanya hebat sekali, mual dan
muntah sering terdapat pada permulaan serangan, hemiparase biasa terjadi pada
permulaan serangan, kesadaran biasanya menurun dan cepat masuk koma. Stroke
akibat perdarahan subaraknoid mempunya gejala prodromal berupa nyeri kepala
hebat dan akut, kesadaran sering terganggu dan sangat bervariasi, ada gejala atau
tanda rangsangan meningeal, oedema pupil dapat terjadi bila ada subhialoid karena
pecahnya aneurisma pada arteri komunikans anterior atau karotis interna.
Menurut Rendy&Margareth (2012), ada tanda dan gejala stroke secara akut
yaitu kelumpuhan wajah atau anggota badan (biasanya hemiparasis yang timbul
mendadak), gangguan sensabilitas pada satu atau lebih anggota badan (gangguan
hemiparesis), perubahan mendadak status mental (konfusi, delirium, letargi, stupor
atau koma), afasia (bicara tidak lancar, kurangan ucapan, atau kesulitan memahami
46
ucapan), disartia (bicara pelo atau cedal), gangguan penglihatan (hemianopa atau
monokuler atau diplopia), vertigo, mual dan muntah atau nyeri kepala.
Berdasarkan tanda dan gejala di atas pasien Tn. M mempunya tanda dan
gejala gejala yang tidak jelas, kecuali nyeri kepala karena hipertensi, kesadaran
menurun, kelumpuhan di wajah atau anggota tubuhnya, gangguan sensabilitas pada
satu atau lebih anggota badan, afasia dan disartia.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggambarkan respon aktual
atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang perawat mempunyai lisensi
dan kompeten untuk mengatasinya. Alasan untuk merumuskan diagnosa
keperawatan setelah menganalisis data pengkajian adalah untuk mengidentifikasi
masalah kesehatan yang melibatkan klien dan keluarganya dan untuk memberikan
arah asuahan keperawatan (Potter and Perry, 2005).
Menurut Brunner & Suddarth dalam Padila (2012), diagnosa yang mungkin
muncul pada penderita stroke adalah resiko peningkatan TIK berhubungan dengan
penambahan isi otak sekunder terhadap perdarahan otak, gangguan mobilitas fisik
berhubungan dengan hemiparase atau hemiplagia, gangguan nutrisi berhubungan
dengan kesulitan menelan, hemiparase dan hemiplagia, ketidakefektifan perfusi
jaringan serebral berhubungan dengan aliran darah arteri terlambat.
a. Masalah keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
Hasil pengkajian yang didapatkan dari data objektif GCS E : 3 V : Afasia
M : 4, pasien terlihat sulit menelan, pasien terlihat sulit berbicara, pasien
terpasang selang oksigen 3 liter/menit, hasil CTT Scan adalah intrecerebri
haemorrhage di kapsula interna dan thalamus sinistra dengan perifocal oedema,
intraventrikuler haemorrhage dengan ventrikulomegali, gambaran peningkatan
intrakranial, infark cerebri di corona creadiata sinistra, tekanan darah 230/120
47
mmHg, nadi 84 x/menit, respirasi 15 x/menit. Penulis menegakkan masalah
keperawatan ketidakefektifan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan
gangguan
transport
oksigen
melalui
alveoli
dan
membran
kapiler.
Ketidakefektifan perfusi jaringan serebral adalah penurunan oksigen yang
mengakibatkan kegagalan pengiriman nutrisi ke jaringan pada tingkat kapiler.
Dengan ditegakkan diagnosa dapat di lihat di batasan karakteristik serebral
dengan data objektifnya yaitu perubahan status mental, perubahan perilaku,
perubahan respon motorik, perubahan reaksi pupil, kesulitan menelan,
kelemahan atau paralisis ekstremitas, paralisis dan ketidaknormalan dalam
berbicara (Ahern, 2011).
b. Masalah keperawatan hambatan mobilitas fisik
Hasil pengkajian yang didapatkan dari data subyektif keluarga mengatakan
badan pasien bagian kanan sudah kaku, berbicara tidak jelas dan sulit
berbicara. Data objektif pasien terlihat lemas, pasien terlihat tidak dapat
memiringkan badannya, pasien terlihat tidak dapat mengangkat ekstremitas
bagian kanan dengan kekuatan otot atas kanan dan kiri 1 dan 5 dan ekstremitas
yang bawah kanan dan kiri 1 dan 5. Penulis menegakkan diagnosa keperawatan
hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot
didasarkan pada teori (NANDA, 2010). Hambatan mobilitas fisik adalah
keterbatasan pada pergerakaan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas
secara mandiri dan terarah. Dengan batasan karakteristik hambatan mobilitas
fisik yaitu pergerakan tidak terkoordinasi, pergerakan lambat, tremor akibat
pergerakan, kesulitan membolak balik posisi, keterbatasan untuk melakukan
ketrampilan motorik halus dan kasar.
c. Masalah keperawatan defisit perawatan diri
48
Hasil pengkajian yang didapatkan data objektif “ pasien terlihat tidak
dapat beraktivitas sendiri, makan dan minum pasien dengan menggunakan
selang NGT, badan pasien sebelah kanan mengalami kelumpuhan, pola
aktivitas pasien makan dan minum (1), toileting (3), berpakaian (2), mobilitas
ditempat tidur (2), berpindah (2), ambulasi / ROM (2)”. Penulis menegakkan
diagnosa ini berdasarkan (NANDA, 2010), hambatan mobilitas fisik adalah
hambatan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sendiri.
Dengan batasan karakteristik hambatan mobilitas fisik adalah ketidakmampuan
mengunyah makanan, ketidakmampuan menyuap makanan, ketidakmampuan
menempatkan makanan ke perlengkapan makanan, ketidakmampuan untuk
mengambil perlengkapan makanan.
d.
Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan kelembapan kulit
Hasil pengkajian yang didapatkan data obyektif adalah pasien tidak ada
jejas dipunggung dan bokong, kulit bagian punggung dan bokong tidak terlihat
kemerahan, turgor kulir < 3 detik, terlihat didaerah punggung dan bokong
selalu berkeringat. Penulis menegakkan diagnosa sesuai dengan berdasarkan
NANDA (2010), resiko kerusakan integritas kulit adalah berisiko mengalami
perubahan kulit yang memburuk.Dengan batasan karakteristik lembab,
imobilisasi fisik, gangguan sirkulasi, usia yang ekstrem.
Berdasarkan kasus yang dikelolaan, maka perumusan diagnosa
keperawatan tidak semua muncul sesuai dengan diagnosa keperawatan secara
teori pada asuhan keperawatan stroke. Hal ini dikarenakan beberapa hal, antara
lain dikarenakan penulis menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan hasil
pengkajian dan observasi yang telah dilakukan selama dua hari pengelolaan
kasus. Selain itu dengan keterbatasan waktu pengelolaan tersebut sehingga
49
penulis hanya bisa merumuskan diagnosa keperawatan yang memungkinkan
untuk bisa dikelola saat pengelolaan tersebut.
3.
Rencana Asuhan Keperawatan
Perencanaan adalah suatu proses di dalam pemecahan masalah yang
merupakan keputusan awal tentang sesuatu apa yang akan dilakukan, bagaimana
dilakukan, kapan dilakukan, siapa yang melakukan dari semua tindakan keperawatn
(Dermawan, 2012).
Intervensi atau rencana yang akan dilakukan oleh penulis disesuaikan dan
fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan dapat dilaksankan dengan SMART
(Spesifik, Measurable, Acceptance, Rasional dan Timing) (Dermawan, 2012).
Menurut Brunner & Suddarth dalam Padila (2012), rencana tindakan
keperawatan untuk mengatasi masalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
dengan tujuan dan kriteria hasil yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama x 24 jam masalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral teratasi dengan
kriteria hasil GCS meningkat V : 5, E : 4, M : 6.
Pada kasus Tn. M penulis melakukan rencana tindakan keperawatan selama 2 x
24 jam diharapakan suplai darah ke otak lancar dengan kriteria hasil GCS
meningkat V : 5, E : 4, M : 6, pasien dapat menelan, pasien dapat berbicara lancar,
tanda-tanda vital normal : tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 80 x/menit, respirasi
20 x/menit(Brunner & Suddarth dalam Padila, 2012). Rencana keperawatan yang
diberikan pada Tn. M adalah pantau status neurologis untuk mengetahui
kecenderungan tingkat kesadaran, pantau tanda-tanda vital untuk mengetahui
tekanan darah, letakkan kepala dengan posisi sedikit ditinggikan dan dalam posisi
yang anatomis untuk menurunkan tekanan arteri dan untuk meningkatkan sirkulasi
serebral, ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung untuk
memberikan kenyaman pasien, kolaborasi dengan TIM dokter tentang pemberian
50
obat neuroprotektor untuk memperbaiki sel yang masih viabel (Brunner &
Suddarth, 2012).
Menurut Brunner & Suddarth dalam Padila (2012), rencana tindakan
keperawatan untuk mengatasi hambatan mobilitas fisik dengan tujuan dan kriteria
hasil yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam diharapkan
hambatan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil kekuatan otot ekstremitas
kanan bertambah 3, pasien dapat memiringkan badannya secara mandiri, pasien
dapat mengangkat ektremitas kanannya.
Pada kasus Tn. M penulis melakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
diharapkan hambatan mobilitas fisik teratasi dengan kriteria hasil kekuatan otot
ekstremitas kanan bertambah 3, pasien dapat memiringkan badannya secara mandiri
dan pasien dapat mengangkat ekstremitas kanannya(Brunner&Suddarth dalam
Padila, 2012). Rencana keperawatan yang akan diberikan pada Tn. M adalah
observasi kesadaran umum pasien untuk mengetahui perkembangan imobilitas
pasien, Bantu mengalih baringkan (posisi miring 30 derajat) untuk mengurangi
resiko dekubitus, libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien untuk
meningkatkan kemandirian pasien dalam keterbatasaan pasien, anjurkan untuk
melakukan ROM mandiri sesuai kemampuan untuk melatih kekuatan otot,
kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk mengetahui perkembangan otot atau
kekuatan otot.
Menurut Brunner & Suddarth dalam Padila (2012), rencana tindakan
keperawatan untuk mengatasi masalah defisit perawatan diri dengan tujuan dan
kriteria hasil adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam
diharapkan masalah defisit perawatan diri teratasi dengan kriteria hasil klien dapat
melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri dan klien dapat makan dan
minum tanpa menggunakan alat bantu.
51
Pada kasus Tn. M penulis melakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam
diharapkan defisit perawatan diri teratasi dengan kriteria hasil klien dapat
melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri dan klien dapat makan dan
minum tanpa menggunakan alat bantu (Brunner&Suddarth dalam Padila, 2012).
Rencana keperawatan yang akan diberikan pada Tn. M adalah observasi
kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri untuk
membantu dalam mengantisipasi atau merencanakan pemenuhan kebutuhan sesuai
individu, berikan motivasi kepada pasien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri
bantuan dengan sikap sungguh untuk meningkatkan harga diri dan semangat untuk
berusaha terus menerus, anjurkan untuk menghindari melakukan sesuatu untuk
klien dapat dilakukan klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan agar
klien mungkin menjadi sangat ketakutan sangat tergantung dan meskipun bantuan
yang diberikan bermanfaat dalam mencegah frustasi, kolaborasi dengan ahli
fisioterapi untuk memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana
terapi dan mengindentifikasi kebutuhan alat penyokong khusus.
Menurut Brunner & Suddarth dalam Padila (2012), rencana tindakan
keperawatan untuk mengatasi resiko kerusakan integritas kulit dengan tujuan dan
kriteria hasil adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam
diharapkan resiko kerusakan integritas kulit dapat teratasi dengan kriteria hasil
turgor kulit < 3 detik dan kulit tidak terlihat kemerahan.
Pada kasus Tn. M penulis melakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam
diharapkan resiko kerusakan integritas kulit teratasi dengan kriteria hasil turgor
kulit < 3 detik dan kulit tidak terlihat kemerahan (Brunner&Suddarth dalam Padila,
2012). Rencana keperawatan yang akan diberikan pada Tn. M adalah observasi
52
tanda-tanda dekubitus (kulit kemerahan, lecet, suhu atau kelembapan tubuh bagian
belakang) dengan tujuan untuk mengetahui tanda-tanda dekubitus, ubah posisi
setiap 2 jam secara teratur dengan tujuan untuk mencegah resiko dekubitus, ajarkan
keluarga untuk mengubah posisi miring setiap 2 jam dengan tujuan agar keluarga
secara mandiri turut menbantu mencegah resiko dekubitus, atur posisi miring
dengan penyangga bantal dengan tujuan untuk menaikkan titik penekanan dari
tempat tidur.
Penulis tidak menegakkan diagnosa tentang bersihan jalan nafas, karena pada
penulis melakukan tindakan keperawatan penulis tidak melakukan tindakan
keperawatan yang berhubungan dengan diagnosa tersebut.
4.
Implementasi
Implementasi adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk
membantu klien dari masalah status kesehatan yang lebih baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Dermawan, 2012).
Dalam pembahasan ini penulis berusaha menerangkan implementasi tentang
pemberian teknik posisi miring sesuai dengan hasil riset yang terdapat dalam jurnal
Nuh Huda (2012). Tindakan keperawatan dilakukan pada tanggal 11–12 April
2014. Pemberian posisi miring 30 derajat dilakukan secara berkala setiap per 2 jam.
Yaitu mulai jam 08.00–10.00 WIB pasien di miringkan kearah kanan, kemudian
jam 10.00–12.00 WIB pasien di terlentangkan, dan jam 12.00–14.00 WIB pasien di
miringkan kearah kiri, dan seterusnya seperti itu.
Observasi dilakukan setiap hari yaitu dengan melakukam pemeriksaan terhadap
terjadinya luka tekan dialami pada pasien tersebut. Observasi pada setiap pasien
dilakukan sampai 6 hari perawatan. Daerah yang diobservasi adalah terutama
daerah tulang-tulang yang menonjol yaitu daerah belakang kepala, sacrum, iskium,
53
koksik, tumit dan trokanter. Kondisi yang diobservasi mencakup perabaan kulit
yang hangat, adanya perubahan konsistensi jaringan lebih keras atau lunak, adanya
perubahan sensasi dan adanya kulit yang berwarna merah (Brasen dalam Huda,
2012).
Pada diagnosa pertama tanggal 11 April 2014 penulis melakukan
mengobservasi tanda-tanda vital dengan didapatkan data obyektif TD : 230/120
mmHg dan nadi 84 x/mnt, mengobservasi kesadaran didapatkan data obyektif
pasien terlihat acuh tak acuh, tidak melaksanakan perintah perawat, pasien hanya
terlihat buka tutup mata dengan GCS E : 3 M : 4 V : afasia, meletakkan posisi
kepala pasien lebih tinggi dan dalam posisi anatomis didapatkan data obyektif
pasien terlihat lebih nyaman. Pada tanggal 12 April 2014 penulis melakukan
mengobservasi tanda-tanda vital data obyektif TD : 190/110 mmHg dan nadi 80
x/mnt, mengobservasi kesadaran didapatkan data obyektif GCS pasien V : afasia, E
: 4, M : 5 dan pasien masih belum bisa diajak komunitas, memposisikan kepala
pasien lebih tinggi dalam posisi anatomis data obyektif pasien terlihat lemas.
Pada diagnosa kedua tanggal 11 April 2014 penulis melakukan tindakan
membantu mengalih baringkan (posisi miring 30 derajat ke kiri per 2 jam)
didapatkan data obyektif pasien terlihat kurang nyaman, pada punggung dan
bokong tidak terlihat kemerahan, tidak terlihat lecet, memposisikan pasien dalam
posisi terlentang didapatkan data obyektif pasien terlihat kooperatif, membantu
mengalih baringkan pasien dengan posisi miring 30 derajat ke kanan dengan
tumpuan bantal di bokong didapatkan data obyektif pasien sudah mulai kooperatif,
pada punggung pasien tidak terlihat jejas, tidak terlihat kemerahan, tetapi teraba
keringat didaerah punggung, membantu mengalih baringkan pasien dalam posisi
terlentang didapatkan data obyektif pasien kooperatif dan pasien terlihat lemas,
menganjurkan untuk melakukan ROM pasif sesuai dengan kemampuan pasien data
54
subyektif keluarga mengatakan mengerti caranya melatih ROM pasif, data obyektif
keluarga terlihat memimpin cara untuk melakukan ROM pasif. Pada tanggal April
2014 penulis melakukan membantu mengalih baringkan posisi miring 30 derajat ke
kanan data obyektif pasien kooperatif, kulit didaerah punggung dan bokong tidak
terlihat kemerahan, membantu mengalih baringkan pada posisi terlentang data
obyektif pasien kooperatif, mengajarkan ROM pasif data obyektif pasien hanya
mampu membuka dan menutup jari tangan, membantu mengalih baringkan posisi
kiring 30 derajat ke kiri data obyektif pasien sedikit lemas, tidak terlihat jejas dan
tidak kemerahan pada kulit.
Pada diagnosa ketiga tanggal 11 April 2014 penulius melakukan tindakan
mengobservasi kemampuan dan tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan
diri data obyektif pola aktivitasnya : makan dan minum dibantu dengan alat (NGT),
toileting dibantu dengan alat dan orang lain (terpasang kateter), mobilitas di tempat
tidur dibantu norang lain, berpindah dibantu orang lain, ROM dibantu orang lain
dan menganjurkan untuk menghindari pasien melakukan aktivitas sendiri, tetapi
berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan data subyektif keluarga mengatakan
mengerti dengan apa yang disampaikan dan data obyektif pasien terlihat tidur dan
keluarga pasien terlihat menemani pasien. pada tanggal 12 April 2014 penulis
melakukan tindakan keperawatan mengobservasi kemampuan pasien melakukan
aktivitas data obyektif pasien terlihat tidak mampu melakukan aktivitas secara
mandiri dengan pola aktivitas : makan dan minum masih dibantu dengan alat
(NGT), toileting dibantu dengan alat dan orang lain (terpasang kateter), mobilitas di
tempat tidur dibantu orang lain, berpindah dibantu orang lain, ROM dibantu orang
lain.
Pada diagnosa keempat masalah dekubitus, dekubitus adalah suatu area
yang terlokalisir dengan jaringan mengalami nekrosis yang biasanya terjadi pada
55
bagian permukaan tulang yang menonjol, sebagai akibat dari tekanan dalam jangka
waktu lama yang menyebutkan (Suriadi,2004). Etiologi dekubitus yaitu tekanan,
pergesekan dan pergeseran, kelembaban, usia, nemperatur, nutrisi. Pencegahan agar
tidak terjadi luka dekubitus denganmengatur posisi miring 30 derajat pada pasien
guna mencegah terjadinya luka tekan. Prosedur awalnya, pasien ditempatkan persis
ditengah tempat tidur, dengan menggunakan bantal untuk menyanggah kepala dan
leher. Selanjutnya tempatkan satu bantal pada sudut antara bokong dan matras,
dengan cara miringkan panggul setinggi 30 derajat. Bantal yang berikutnya
ditempatkan memanjang diantara kedua kaki. Tanggal 11 April 2014 penulis
melakukan tindakan mengobservasi tanda dekubitus dengan data obyektif tidak ada
jejas dibagian bokong dan punggung, kulit tidak tampak kemerahan, tidak ada lecet
kulit dibagian punggung teraba keringat, membantu mengalih baringkan posisi
miring 30 derajat ke kiri per 2 jam didapatkan data obyektif pasien terlihat kurang
nyaman, pada punggung dan bokong tidak terlihat kemerahan, tidak terlihat lecet,
membantu mengalih baringkan pasien dengan posisi miring 30 derajat ke kanan
dengan tumpuan bantal di bokong didapatkan data obyektif pasien sudah mulai
kooperatif, pada punggung pasien tidak terlihat jejas, tidak terlihat kemerahan,
tetapi teraba keringat didaerah punggung, menganjurkan keluarga untuk mengubah
posisi miring setiap 2 jam kecuali pada ekstremitas yang mengalami kelumpuhan
hanya ± 15-30 menit saja data subyektif keluarga mengatakan mengerti anjuran dari
perawat dan data obyektif keluarga terlihat memiringkan pasien kekiri dan pasien
terlihat kooperatif.
5.
Evaluasi
Evaluasi didefinisikan sebagai keputusan asuhan keperawatan antara dasar
tujuan keperawatan klien yang telah ditetapkan dengan respon perilaku klien yang
tampil (Dermawan, 2012). Evaluasi yang akan dilakukan oleh penulis disesuaikan
56
dengan kondisi pasien dan fasilitas yang ada, sehingga rencana tindakan dapat
dilaksanakan dengan SOAP, subjektif, objektif, analisa, planning (Dermawan,
2012).
Evaluasi pada diagnosa pertama tanggal 11 April 2014 masalah
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral adalah data subyektifnya tidak terkaji,
data obyektif GCS pasien V : afasia, E : 3, M : 4, pasien belum bisa diajak
komunikasi. Hasil analisa masalah belum teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan
sama sekali belum teratasi. Intervensi lanjut yaitu observasi tanda-tanda vital,
letakkan posisi kepala lebih tinggi dalam posisi anatomis. Pada tanggal 12 April
2014 masalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral adalah data subyektif tidak
dapat terkaji, data obyektif GCS V : afasia, E : 4, M : 5, pasien sudah bisa sedikit
komunikasi, tekanan darah 180/110 mmHg dan nadi 86 x/mnt. Hasil analisa
masalah sebagian teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan sebagian sudah
tercapai. Intervensi lanjut yaitu observasi tanda-tanda vital, letakkan posisi kepala
lebih tinggi dalam posisi anatomis, ciptakan lingkungan yang tenang.
Evaluasi pada diagnosa kedua tanggal 11 April 2014 masalah hambatan
mobilitas fisik adalah data subyektif tidak terkaji, data obyektif pasien masih
terlihat belum bisa menggerakkan tangan dan kaki, kekuatan otot ekstremitas atas 1
dan 5 dan bawah 1 dan 5. Hasil analisa masalah belum teratasi karena kriteria hasil
dalam tujuan sama sekali belum tercapai. Intervensi lanjut yaitu anjurkan alih
baring (posisi miring 30 derajat per 2 jam), anjurkan pasien melakukan ROM. Pada
tanggal 12 April 2014 masalah hambatan mobilitas fisik adalah data subyektif tidak
terkaji, data obyektif pasien terlihat hanya dapat membuka dan menutup jari-jari,
kekuatan otot ekstremitas atas kanan dan kiri 1 dan 5 dan ekstremitas bawah kanan
dan kiri 1 dan 5. Hasil analisa masalah belum teratasi karena kriteria hasil dalam
57
tujuan belum tercapai. Intervensi lanjut yaitu anjurkan alih baring (posisi miring 30
derajat per 2 jam), anjurkan pasien melakukan ROM.
Evaluasi pada diagnosa ketiga tanggal 11 April 2014 masalah defisit
perawatan diri adalah data subyektif tidak dapat terkaji, data obyektif pasien terlihat
makan dan minum dibantu dengan alat (NGT), berpakaian dibantu orang lain,
toileting dibantu dengan alat dan orang lain, mobilitas ditempat tidur dibantu orang
lain dengan orang lain, berpindah juga di bantu orang lain, melakukan ROM pasif
masih dibantu orang lain lain. Hasil analisa masalah belum teratasi karena kriteria
hasil dalam tujuan sama sekali belum tercapai. Intervensi lanjut yaitu observasi
kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas, berikan motivasi agar tetap
melakukam aktivitas. Pada tanggal 12 April 2014 masalah defisit perawatan diri
adalah data subyektif tidak terkaji, data obyektif pasien terlihat makan dan minum
dibantu dengan alat (NGT), berpakaian dibantu orang lain, toileting dibantu orang
lain dan alat (terpasang kateter), mobilitas ditempat tidur dibantu dengan orang lain,
berpindah juga dibantu orang lain, ROM pasif masih dibantu orang lain. Hasil
analisa masalah belum teratasi karena kriteria hasil dalam tujuan belum tercapai.
Intervensi lanjut yaitu observasi kemampuan pasien saat melakukan aktivitas,
berikan motivasi agar tetap melakukan aktivitas.
Evaluasi hari pertama masalah resiko kerusakan integritas kulit adalah data
subyektif tidak terkaji dan data obyektif tidak terlihat jejas di daerah punggung dan
bokong, kulit tidak terlihat kemerahan, tidak terlihat lecet, keringat terlihat keluar
sedikit, turgor kulit < 3 detik. Hasil analisa masalah teratasi karena sudah sesuia
dengan kriteria hasil didalam tujuan. Intervensi dihentikan.
Berdasarkan jurnal penelitian Huda (2012), didapatkan hasil bahwa
pemberian posisi miring 30 derajat untuk mencegah kejadian luka tekan, ditemukan
bahwa terdapat 6 (37,5 %) responden pada kelompok kontrol mengalami luka
58
tekan. Sedangkan pada kelompok i tervensi terdapat 1 (5,9 %) responden terjadi
luka tekan. Hasil uji statistik diperoleh simpulan bahwa ada hubungan yang
signifikan antara pengaturan posisi dengan kejadian luka tekan. Diperoleh pula
responden yang tidak diberikan perlakuan posisi miring 30 derajat mempunya
peluang 9,6 kali untuk terjadi luka tekan dibanding dengan responden yang diberi
perlakuan posisi miring 30 derajat. Luka tekan menjadi hal yang harus diwaspadai
terutama pada pasien yang mengalami kelemahan gerak. Pemberian posisi miring
30 derajat yang dilakukan secara continue dan benar akan memberikan dampak
yang bagus terhadap pasien yang mengalami kelemahan anggota gerak yaitu
mencegah dan mengurangi adanya luka tekan.
Hasil aplikasi riset yang sudah dilakukan selama dua hari dibandingkan
dengan hasil penelitian dalam jurnal Huda (2012) tidak ada kesenjangan, karena
dengan memberikan posisi miring 30 derajat pada pasien yang mengalami
kelemahan gerak akan mencegah resiko dekubitus (Huda, 2012). Terlihat pada Tn.
M setelah diberikan tindakan keperawatan posisi miring 30 derajat tersebut yaitu
keluarga pasien dapat melakukan posisi miring ke pasien secara mandiri dan pasien
tidak mengalami dekubitus.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengkajian
Pada pengkajian Tn. M didapatkan data yang mengalami masalah, yaitu
pada keluhan utama keluarga pasien mengatakan badan pasien bagian kanan
kaku dan sulit untuk digerakkan. Pada pengkajian pola primer di disability
kesadaran Tn. M apatis dengan GCS E: 3 V: afasia M: 4. Exposure tidak ada
jejas di daerah punggung dan bokong, terlihat didaerah punggung berkeringat.
Pada pola pengkajian sekunder badan pasien bagian kanan kaku sampai bawah,
sulit menelan dan sulit berbicara.
Pada pemeriksaan fisik kekuatan otot ekstremitas atas kanan dan kiri 1 dan 5,
dengan ROM kanan dan kiri dan 4. Ektremitas bawah kanan dan kiri 1 dan 5,
dengan ROM kanan kiri dan 4.
Pada data penunjang yaitu CT Scan berkesan intra cerebri haemorrhage di
kapsula interna dan thalamus sinistra dengan perifocal oedema, intra ventrikuler
haemorrhage dengan ventrikulomegali, gambaran peningkatan intra kranial,
infark cerebri di corona radiata sinistra.
2. Diagnosa
Hasil perumusan diagnosa keperawatan pada Tn. M adalah hambatan
mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan kekuatan otot, ketidakefektifan
perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan transport oksigen
melalui alveoli dan membran kapiler, defisit perawatan diri berhubungan
59
60
dengan hemiparase dan resiko kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan
kelembapan kulit.
Hasil pengkajian pada Tn. M adalah didapatkan data subyektif keluarga
mengatakan badan pasien bagian kanan sudah kaku, sulit bicara dan data
obyektifnya pasien terlihat lemas, pasien terlihat tidak dapat miring kanan atau
kiri secara mandiri, pasien terlihat tidak dapat mengangkat ekstremitas kanan
dengan kekuatan otot ektremitas atas kanan dan kiri 1 dan 5 sedangkan
ektremitas bawah kanan dan kiri 1 dan 5.
Hasil pengkajian pada Tn. M adalah data subyektifnya tidak terkaji dan
data obyektifnya kesadaran Tn. M apatis, dengan GCS E: 3 V: afasia M: 4,
pasien terlihat sulit menelan, pasien terlihat sulit berbicara, pasien terpasang
oksigen 3 liter, hasil CT Scan berkesan intra cerebri haemorrhage di kapsula
internadan thalamus sinistra dengan perifocal oedema, intra ventrikuler
haemorrhage dengan ventrikulomegali, gambaran peningkatan intra kranial,
infark cerebri di corona radiata sinistra.
Hasil pengkajian pada Tn. M didapatkan hasil data subyektifnya tidak
terkaji dan data obyektifnya pasien terlihat makan dan minum dengan
menggunakan selang NGT, pasien terlihat selalu dibantu oleh orang lain atau
keluarga, pasien terpasang selang kateter, badan pasien sebelah kanan
mengalami kelumpuhan, pola aktivitas pasien makan dan minum (1). Toileting
(3). Berpakaian (2). Mobilitas ditempat tidur (2), berpindah (2). Ambulasi /
ROM (2).
Hasil pengkajian pada Tn. M didapatkan hasil data subyektifnya tidak
terkaji dan data obyektifnya tidak ada jejas di punggung dan bokong, kulit
61
bagian punggung dan bokong tidak terlihat kemerahan, turgor kulit < 3 detik,
terlihat di daerah punggung dan bokong selalu berkeringat, pasien hanya
bedrest.
3. Intervensi
Intervensipertama yang dibuatolehpenulis pantau status neurologis,
pantau tanda-tanda
vital, letakkan kepala dengan posisi sedikit lebih
ditinggikan dan dalam posisi anatomis, ciptakan lingkungan yang tenang dan
batasi pengunjung dan kolaborasi dengan TIM dokter pemberian obat
neuroprotetor.
Intervensi kedua yang dibuat oleh penulis observasi kesadaran umum
pasien, bantu mengalih baringkan (posisi miring 30 derajat), libatkan keluarga
dalam pemenuhan kebutuhan pasien, anjurkan untuk melakukan ROM mandiri
sesuai kemampuan, kolaborasi dengan ahli fisioterapi.
Intervensi ketiga yang dibuat oleh penulis observasi kemampuan dan
tingkat kekurangan dalam melakukan perawatan diri, berikan motivasi kepada
pasien untuk tetap melakukan aktivitas dan beri bantuan dengan sikap sungguhsungguh, anjurkan untuk menghindari melakukan sesuatu untuk pasien yang
dapat dilakukan pasien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan,
kolaborasi dengan ahli fisioterapi.
Intervensi keempat yang dibuat oleh penulis observasi kulit, ubah posisi
seriap 2 jam, ajarkan keluarga untuk mengubah posisi pasien setiap 2 jam dan
atur posisi miring dengan penyangga bantal.
62
4. Implementasi
Implementasi dalam asuhan keperawatan Tn. M dengan stroke yang
dilakukan dari tanggal 11-12 April 2014 di Instalasi Gawat Darurat dan
dibangsal Anyelir RSUD Dr.Soediran Mangun Sumarso sesuai dengan
intervensi yang dirumuskan penulis pada diagnosa kedua yaitu mengobservasi
kesadaran umum pasien, membantu mengalih baringkan pasien (posisi miring
30 derajat), melibatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien,
menganjurkan untuk melakukan ROM aktif-pasif sesuai kemampuan,
kolaborasi dengan ahli fisioterpai dan melakukan advis dokter.
Penulis juga menekankan pada diagnosa yang keempat observasi tandatanda dekubitus (kulit kemerahan, suhu / kelembapan, badan tubuh bagian
belakang), ubah posisi setiap 2 jam secara teratur, anjurkan keluarga untuk
mengubah posisi mirirng setiap 2 jam, atur posisi miring dengan penyangga
bantal.
Dalam asuhan keperawatan Tn. M dengan stroke di Instalasi Gawat
Darurat RSUD Dr.Soediran Mangun Sumarso Wonogiri telah sesuai dengan
intervensi yang dibuat penulis. Penulis menekankan pemberian posisi dengan
tujuan mampu mencegah luka tekan pada pasien dengan stroke.
5. Evaluasi
Evaluasi tindakan yang dilakukan oleh penulis menggunakan metode
SOAP (subyektif, obyektif, Assement dan planning). Evaluasi yang dilakukan
pada pukul 14.00 WIB yaitu data subyektif tidak dapat terkaji, data obyektif
pasien terlihat masih lemas, ekstremitas belum bisa digerakkan, kekuatan otot
atas kanan dan kiri 1 dan 5, bawah kanan dan kiri 1 dan 5, pasien terlihat
63
dibantu saat pasien melakukan posisi miring 30 derajat. Sehingga dapat di
analisa masalah hambatan mobilitas fisik belum teratasi. Intervensi dilanjutkan
dengan observasi kesadaran umum, bantu alih baring (posisi miring 30 derajat),
anjurkan untuk melakukan ROM secara mandiri.
Evaluasi tindakan yang dilakukan pada pukul 14.00 WIB yaitu data
obyektif tidak terlihat jejas di daerah punggung dan bokong, kulit tidak terlihat
kemerahan, tidak terlihat lecet, keringat terlihat keluar sedikit, turgor kulit < 3
detik. Hasil analisa masalah teratasi karena sudah sesuia dengan kriteria hasil
didalam tujuan. Intervensi dihentikan.
6. Hasil Analisa
Hasil analisa pemberian posisi miring 30 derajat kepaa pasien Tn. M
terbukti bisa mencegah luka tekan, sebelum dilakukan pemberian posisi miring
didapatkan data data hasil pengkajian data obyektif tidak ada jejas di punggung
dan bokong, kulit bagian punggung dan bokong tidak terlihat kemerahan, turgor
kulit < 3 detik, terlihat di daerah punggung dan bokong selalu berkeringat dan
setelah dilakukan pemberian posisi miring 30 derajat pasien tidak mengalami
dekubitus dengan data data obyektif tidak terlihat jejas di daerah punggung dan
bokong, kulit tidak terlihat kemerahan, tidak terlihat lecet, keringat terlihat
keluar sedikit, turgor kulit < 3 detik. Hasil analisa masalah teratasi karena sudah
sesuia dengan kriteria hasil didalam tujuan. Sesuai dengan hasil penelitian
dalam jurnal Ilmiah keperawatan STIKes Hang Tuah Surabaya Volume 3 nomer
2, tentang Pengaruh Pemberian Posisi Miring Untuk Mencegah Luka Tekan
Pada Pasien Dengan Gangguan Persyarafan.
64
B. Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat meningkatkan mutu pelayanan pendidikan yang lebih berkualita sehingga
dapat menghasilkan perawat yang profesional, terampil, inovatif dan bermutu
dalam memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif berdasarkan ilmu
dan kode etik keperawatan.
2. Bagi Rumah Sakit
Hasil aplikasi riset pendidikan ini diharapkan rumah sakit mampu memberikan
asuhan keperawatan secara komprehensif melalui terapi non farmakologi
dengan pemberian posisi miring pada stroke untuk menurunkan resiko
dekubitus.
3. Bagi Profesi Keperawatan
Menjadi referensi dan pengetahuan yang mampu dikembangkan untuk
memberikan pelayanan kepada klien dengan stroke hemoragik yang lebih
berkualitas dengan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan salah satunya
pemberian posisi miring 30 derajat terhadap pencegahan luka tekan pada pasien
stroke hemoragik.
65
DAFTAR PUSTAKA
Ahern, wilkinson. 2011. Buku saku diagnosis keperawatn. Edisi 9. Jakarta : egc.
Aini&purwaningsih. 2013. Pengaruh alih baring terhaap kejadian dekubitus pada
pasien stroke yang mengalami hemiparase di ruang yudistira di rsud
semarang. Http:/perpusnnwu.web.id/. Diakses tanggal 2 april 2014.
Ariani, t. A. 2012. Sistem neurobehaviour. Jakarta : salemba medika.
Auryn, virzara. 2007. Mengenal dan memahami stroke. Yogyakarta : kata hati.
Brashers, valentina. 2007. Aplikasi klinis patofisiologi pemeriksaan dan menejemen.
Edisi 2. Jakarta : egc.
Dermawan, deden. 2007. Proses keperawatan : penerapan konsep an kerangka kerja.
Yogyakarta : gosyen publishing.
Goldszmidt & caplan. 2013. Stroke ensesial. Edisi 2. Jakarta barat : pt indeks.
http :/www.digili.stikesmuh-pkj.ac.id/e-skripsi/inex.php/. Diakses tanggal 5
april 2014.
Huda, nuh. 2012. Pengaruh posisi miring untuk mengurangi luka tekan pada pasien
dengan gangguan persyarafan. Http:/lp3msht.files.wordpress.com/. Diakses
tanggal 3 april 2014.
Iktan, iskandar farmasi indonesia. 2011. Informasi spesialialite obar (iso) indonesia.
Jakarta : pt. Ifsi.
Junaidi, iskandar. 2011. Stroke, waspada ancamannya. Yogyakarta : andi.
Padila. 2012. Buku ajar keperawatan medika bedah. Yogyakarta : nuha medika.
Rendy & margareth. 2012. Asuhan keperawatan medikal bedah dan penyakit dalam.
Yogyakarta : nuha medika.
Sukamningrum, kristiyawati, dkk. 2011. Efektivitas range of motion (rom) aktif-pasif :
spherical grip terhadap peningkatan kekuatan otot.
Suriadi. 2001. Perawatn luka. Edisi 1. Jakarta : sagung seto.
66
Tarihon. 2012. Pengaruh posisi miring 30 derajat terhadap kejadian luka tekan grade i
(non blamchable erythema) pada pasien stroke di siloam hospital. Http
:/www.lontar.ui.id/. Diakses tanggal 6 april 2014
Download