Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib

advertisement
Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
MANUSIA, MALAIKAT DAN JIN TIDAK
MENGETAHUI YANG GHAIB
Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Istilah “penampakan” kian akrab di telinga masyarakat kita akhir-akhir ini. Bagaimana
pandangan syariat menyoroti hal ini? Bagaimana pula dengan keyakinan bahwa sebagian
manusia bisa mengetahui hal-hal ghaib? Simak bahasan berikut!
Mempercayai hal-hal yang ghaib merupakan salah satu syarat dari benarnya keimanan. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka
yang bertakwa. (Yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,
dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang
beriman kepada Kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah
diturunkan sebelum-mu. Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah
yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang
beruntung.” (Al-Baqarah: 1-5)
Ghaib adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak terlihat oleh manusia, seperti
surga, neraka dan apa yang ada di dalamnya, alam malaikat, hari akhir, alam langit dan yang
lainnya yang tidak bisa diketahui manusia kecuali bila ada pemberitaan dari Allah Subhanahu
wa Ta’ala. (Lihat Tafsir Al-Qur`anul ‘Azhim, 1/53)
Alam jin dan wujud jin dalam bentuk asli seperti yang telah Allah Subhanahu wa
Ta’ala ciptakan adalah ghaib bagi kita. Namun golongan jin dapat berubah-ubah bentuk
–dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala– dan amat mungkin bagi mereka melakukan
penampakan, sehingga kita dapat melihatnya dalam wujud yang bukan aslinya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ForumSalafy.net - Menjalin Ukhuwwah Diatas Minhaj Nubuwwah
Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
“Sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang
kamu tidak bisa melihat mereka.” (Al-A’raf: 27)
Dari Abu As-Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah, beliau bercerita bahwa dirinya pernah
berkunjung ke rumah Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, katanya: “Aku mendapatinya
tengah mengerjakan shalat, akupun duduk menunggunya hingga beliau selesai. Tiba-tiba aku
mendengar adanya gerakan pada bejana tempat minum yang ada di pojok rumah. Aku
menoleh ke arahnya dan ternya-ta ada seekor ular. Aku segera meloncat untuk
membunuhnya, namun Abu Sa’id memberi isyarat kepadaku agar aku duduk. Ketika ia
selesai dari shalatnya, ia menunjuk ke sebuah rumah yang ada di kampung itu sambil
berkata: ‘Apakah engkau lihat rumah itu?’ ‘Ya,’ jawabku. Ia kemudian menutur-kan, ‘Dahulu
yang tinggal di rumah itu adalah seorang pemuda yang baru saja menjadi pengantin. Kala itu
kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam ke Khandaq dan pemuda
itupun ikut bersama kami. Saat tengah hari, pemuda itu meminta izin kepada Rasulullah
Shallallahu `alaihi wa sallam untuk pulang menemui istrinya. Rasulullah Shallallahu `alaihi wa
sallam mengizinkannya sambil berpesan: ‘Bawalah senjatamu karena aku khawatir engkau
bertemu dengan orang-orang dari Bani Quraidhah.’ Pemuda itu mengambil senjatanya,
kemudian pulang menemui istrinya. Setibanya di rumah, ternyata istrinya sedang berdiri di
antara dua daun pintu. Ia mengarahkan tombaknya kepada istrinya untuk melukainya karena
merasa cemburu karena istrinya berada di luar rumah. Istrinya berkata kepadanya: “Tahan
dulu tombakmu, dan masuklah ke dalam rumah sehingga engkau akan tahu apa yang
menyebabkan aku sampai keluar rumah!”
Pemuda itu masuk, dan ternyata terdapat seekor ular besar yang melingkar di atas tempat
tidur. Pemuda itu lantas menghunuskan tombaknya dan menusuk-kannya pada ular tersebut.
Setelah itu, ia keluar dan menancapkan tombaknya di dinding rumah. Ular itu (yang belum
mati, red.) menyerangnya dan terjadilah pergumulan dengan ular tersebut. Tidak diketahui
secara pasti mana di antara keduanya yang lebih dahulu mati, ular atau pemuda itu.’
Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan ceritanya: ‘Kami menghadap Rasulullah
Shallallahu `alaihi wa sallam dan melaporkan kejadian itu kepadanya dan kami sampaikan
ForumSalafy.net - Menjalin Ukhuwwah Diatas Minhaj Nubuwwah
Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
kepada beliau: ‘Mohonlah kepada Allah agar menghidupkannya demi kebahagiaan kami.’
Beliau menjawab: ‘Mohonlah ampun untuk shahabat kalian itu!’
Selanjutnya beliau bersabda: ‘Sesung-guhnya di Madinah terdapat golongan jin yang telah
masuk Islam, maka jika kalian melihat sebagian mereka –dalam wujud ular– berilah
peringatan tiga hari. Dan apabila masih terlihat olehmu setelah itu, bunuhlah ia, karena
sebenarnya dia adalah setan.” (HR. Muslim no. 2236 dan 139 dari Abu Sa`ib, maula Hisyam
bin Zuhrah) [1]
Para Rasul Tidak Mengetahui yang Ghaib
Telah disebutkan sebelumnya bahwa sekumpulan jin datang kepada Nabi Shallallahu `alaihi
wa sallam, kemudian mendengarkan bacaan Al-Qur`an. Ketika itu Nabi Shallallahu `alaihi wa
sallam tidak mengetahui kehadiran mereka kecuali setelah sebuah pohon memberitahunya
–dan Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuasa untuk menjadikan pohon dapat berbicara–
seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari shahabat Ibnu Mas’ud
Radhiyallahu ‘anhu. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib kecuali
yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan. (Nashihati li Ahlis Sunnah Minal Jin)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku,
dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepada-mu
bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.’
Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu
tidak memikirkannya?” (Al-An’am: 50)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa
kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira
bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)
Para Malaikat Tidak Mengetahui yang Ghaib
ForumSalafy.net - Menjalin Ukhuwwah Diatas Minhaj Nubuwwah
Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
Kendatipun para malaikat adalah mahluk yang dekat di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala,
namun untuk urusan ghaib ternyata mereka pun tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman saat pertama kali hendak menciptakan manusia:
“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfir-man kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?’ Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak
ketahui.’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku
nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’ Mereka menja-wab:
‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan
kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (AlBaqarah: 30-32)
Kaum Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
Banyak sekali orang yang tertipu dan keliru kemudian mengira jika bangsa jin mengetahui
yang ghaib, terutama bagi mereka yang terjun dalam kancah sihir dan perdukunan.
Akibatnya, kepercayaan dan ketergantungan mereka terhadap jin sangatlah besar sehingga
menggiring mereka kepada kekufuran.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan tegas telah mementahkan anggapan ini dalam
firman-Nya:
“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menun-jukkan
kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia
tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah
mereka tidak tetap dalam siksa yang menghinakan.” (Saba`: 14)
Manusia Tidak Dapat Mengetahui Alam Ghaib
Jika para rasul yang merupakan utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menyampaikan
syariat-Nya kepada manusia tidak mengetahui hal yang ghaib sedikitpun, maka sudah tentu
ForumSalafy.net - Menjalin Ukhuwwah Diatas Minhaj Nubuwwah
Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
manusia secara umum tidak ada yang dapat mengetahui alam ghaib atau menjangkau
batasan-batasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya memerintahkan agar mengimani
perkara yang ghaib dengan keimanan yang benar.
Keyakinan seperti ini agaknya sudah mulai membias. Apalagi saat ini banyak sekali orang
yang menampilkan dirinya sebagai narasumber untuk urusan-urusan yang ghaib, mampu
menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan masa depan seseorang, dari mulai jodoh,
karir, bisnis, atau yang lainnya.
Kata ‘dukun’ barangkali sekarang ini jarang didengar dan bahkan serta merta mereka akan
menolak bila dikatakan dukun. Dalihnya, apalagi kalau bukan seputar “Kami tidak meminta
syarat-syarat apapun kepada anda”, “Kami tidak menyuruh memotong ayam putih”, dan
sebagainya. Padahal praktek seperti itu adalah praktek dukun juga. Bedanya, dukun
sekarang ini berpendidikan sehingga bahasa yang digunakannya pun bahasa-bahasa ilmiah,
sehingga mereka jelas enggan disebut dukun.
Tak ada seorang pun yang dapat melihat dan mengetahui perkara ghaib, menentukan ini dan
itu terhadap sesuatu yang belum dan akan terjadi di masa datang. Jika toh bisa, itu sematamata bantuan dan tipuan dari setan, sehingga dusta bila itu dihasilkan dari latihan dan olah
jiwa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terha-dap
mereka lalu mereka mengikutinya, kecu-ali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak
adalah kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan
siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang hal
itu. Dan Rabbmu Maha Memelihara segala sesuatu.” (Saba`: 20-21)
Ada pula sebagian manusia yang memiliki aqidah rusak, di mana mereka meyakini adanya
sebagian orang yang keberadaannya ghaib dari pandangan manusia, dan biasanya identik
dengan orang-orang yang dianggap telah suci jiwanya. Mereka mengistilahkannya dengan
roh suci atau rijalul ghaib.
Ketahuilah bahwa tidak ada istilah manusia ghaib. Tidak ada pula istilah rijalul ghaib di
ForumSalafy.net - Menjalin Ukhuwwah Diatas Minhaj Nubuwwah
Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
tengah-tengah manusia. Rijalul ghaib itu tiada lain adalah jin. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlin-dungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan.” (Al-Jin: 6) (Lihat Qa’idah ‘Azhimah, hal. 152)
Alam ghaib tetaplah ghaib, sesuatu yang tidak bisa diketahui dan dilihat manusia kecuali apa
yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala beritakan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“(Dia adalah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada
seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka
sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”
(Al-Jin: 26-27)
Kunci-kunci Ghaib adalah Milik Allah Subhanahu wa Ta’ala Semata
Sesungguhnya tak ada seorangpun yang mengetahui perkara ghaib dan hal-hal yang
berhubungan dengannya, kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah banyak menegaskan hal ini dalam Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang
ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (AnNaml: 65)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat, dan
Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim.
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya
besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Yang demikian itu ialah Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Yang Maha
ForumSalafy.net - Menjalin Ukhuwwah Diatas Minhaj Nubuwwah
Manusia, Malaikat dan Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
PENYIMPANGAN AKIDAH DI SEKITAR KITA Ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak
hafizhahullah Semua muslim tentu mengetahui bahwa tujuan dirinya diciptakan adalah untuk
beribadah kepada Allah Subhanahu wa…
Ilmu adalah Takut kepada Allah
ILMU ADALAH TAKUT KEPADA ALLAH Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal
hafizhahullah “Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya
adalah ulama.”…
Kematian adalah Kepastian, Apa Yang Sudah Engkau Siapkan?
KEMATIAN ADALAH KEPASTIAN, APA YANG SUDAH ENGKAU SIAPKAN? Ditulis oleh: Al-Ustadz
Abul Abbas Muhammad Ihsan hafizhahullah Kematian adalah sebuah ketetapan. Jika telah
datang waktunya, tak…
Bakhil Sifat yang Tercela
BAKHIL SIFAT YANG TERCELA Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin “Sekali-kali
janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari
karunia-Nya menyangka, bahwa…
ForumSalafy.net - Menjalin Ukhuwwah Diatas Minhaj Nubuwwah
Download