1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Memasuki era

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Memasuki era globalisasi seperti sekarang ini, internet merupakan hal
yang tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat modern di Indonesia. Bagi
kaum terpelajar bahkan masyarakat umum, adanya internet sebagai sebuah
teknologi baru menuntut mereka agar turut serta aktif sebagai user. Kini
internet memiliki jaringan yang sangat luas, bahkan sampai ke penjuru dunia.
Tidak dapat dipungkiri bahwa internet semakin membawa kemudahan bagi
perkembangan hidup manusia terutama sebagai media komunikasi.
Adanya keingintahuan atas informasi dan berkomunikasi dengan
orang lain, internet tentunya menjadi satu-satunya teknologi yang tepat dan
mudah, karena dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Adanya jaringan
internet yang meluas ini, dapat dimanfaatkan oleh umat manusia di berbagai
penjuru dunia sebagai sumber informasi dan media komunikasi, secara cepat
tanpa harus memikirkan jarak, ruang dan waktu. Peran serta masyarakat
terhadap terus berkembangnya teknologi yang dihasilkan oleh internet ini
meluas hingga ke berbagai kalangan. Dari kalangan pejabat, public figure,
entertain, pelajar hingga kelompok difabel.
Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan pengguna internet di Indonesia pada awal tahun 2015 mencapai sedikitnya 73 juta
atau sekitar 29 persen dari total populasi (Wahyudi, 2015). Kominfo juga
mengakses bahwa, perilaku masyarakat yang menggunakan internet di
1
2
Indonesia juga variatif, dan akses media sosial menempati urutan pertama
yakni mencapai 64 persen saat online. Urutan kedua dan ketiga, pengguna
yang hanya mencari informasi, dan mengirim/menerima e-mail dengan
persentasi masing-masing 48 persen. Urutan keempat pengguna lebih banyak
melakukan pengunduhan, chatting, dan belajar rata-rata 47 persen dan
sisanya bermain game dan mencari informasi dan sebagainya di bawah 35
persen.
Penggunaan media komunikasi dan internet oleh masyarakat
Indonesia sangat erat kaitannya dengan penggunaan media sosial temasuk di
dalamnya jejaring sosial (social network) dan messenger atau chat app.
Seolah turut serta berpartisipasi aktif sebagai insan digital, Indonesia kini
menjadi salah satu negara yang cukup aktif dalam penggunaan media sosial.
Didapatkan data statistik dari website wearesocial.sg, sebuah agensi
marketing sosial dunia, bahwa tiga besar top active social platforms untuk
Indonesia yakni Facebook menempati level tertinggi yakni 14% pengguna,
disusul oleh Whatsapp 12% dan Twitter 11% (Kemp, 2015).
Sebagaimana diketahui, media sosial termasuk di dalamnya jejaring
sosial
dan
messenger
merupakan sebuah
media komunikasi
yang
memungkinkan penggunanya dapat ikut serta dalam segala fasilitas dan
aplikasi yang dimilikinya. Kehadiran media sosial telah membawa pengaruh
tersendiri terhadap kegiatan yang dilakukan oleh manusia saat ini.
Media sosial ini menjadi komunitas virtual yang tidak terbatasi oleh
apapun. Meskipun seseorang memiliki perbedaan dalam hal ideologi, status
3
sosial ekonomi, pendidikan bahkan fisik (masyarakat disabilitas) tetap bisa
diikat oleh sebuah komunitas virtual ketika mereka memiliki kesamaan sikap
dan posisi atas sebuh isu. Hadirnya media sosial yang dijembatani internet
(cyberspace) telah membentuk perilaku tersendiri dalam masyarakat.
Para pengguna media sosial di Indonesia berasal dari dari berbagai
macam individu, kelompok, komunitas bahkan organisasi. Sudah tidak
sedikit organisasi baik soaial maupun formal yang memanfaatkan media
sosial untuk kemudahan akses komunikasinya. Salah satu organisasi difabel
nasional yang memanfaatkan internet adalah GERKATIN (Gerakan untuk
Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia). Meskipun memiliki keterbatasan,
ternyata banyak dari anggota penyandang tunarungu dalam organisasi sosial
GERKATIN tersebut telah menggunakan dan memanfaatkan media sosial
untuk berhubungan dengan orang lain.
Terdapat penelitian yang dilakukan oleh Valentine dan Skelton
(dalam Dewi, 2015: 2) yang memeriksa penggunaan internet oleh orang
tunarungu. Dari survei yang diedarkan secara nasional kepada 419 responden
yang merupakan penyandang tunarungu, 307 orang diantaranya adalah
pengguna internet dan 112 tidak memanfaatkan internet.
Hasil penelitian menemukan bahwa 79% orang tunarungu lebih
cenderung menggunakan internet setiap hari daripada orang pada umumnya
yang hanya 59%. Kehadiran internet yang dinilai sebagai media yang
mempermudah
dalam
berkomunikasi,
menjadikan
para
penyandang
tunarungu ini berkumpul dalam suatu wadah. Dimana dalam wadah tersebut
4
mereka saling bertukar informasi terkait perkembangan teknologi alat bantu
maupun informasi kesehatan.
Melalui penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa kaum tuna
rungu juga merupakan bagian dari pengguna media sosial yang dijembatani
oleh internet. Kebutuhan mereka akan informasi, afeksi, interaksi dan
integrasi sosial di dunia cyber bisa didapatkan dengan semakin mudahnya
akses internet yang menghubungkan user satu dengan user lainnya.
Penelitian tersebut hanya menjabarkan secara ringkas bahwa tunarungu
menggunakan internet untuk sarana komunikasi. Sehingga dalam penelitian
ini, peneliti mengambil salah satu media baru yang juga untuk mengaksesnya
harus menggunakan internet, yakni Whatsapp.
Dalam komunikasi keseharian, yakni khususnya komunikasi
interpersonal, para tunarungu terbiasa melakukan proses komunikasi
menggunakan bahasa isyarat. Sebagian besar pergaulan mereka juga hanya
terjadi sebatas tunarungu dengan tunarungu saja dengan menggunakan
bahasa isyarat. Dengan adanya media baru seperti Whatsapp memungkinkan
para tunarungu untuk dapat berkomunikasi dengan tunarungu lainnya
walaupun jarak berjauhan menggunakan bahasa percakapan tekstual.
Komunikasi interpersonalpun dapat dilakukan diantara para tunarungu
dengan menggunaakan Instant Messenger ini.
Dalam penelitian ini peneliti memilih tunarungu yang tergabung
dalam organisasi GERKATIN sebagai objek penelitian, karena organisasi
sosial difabel ini merupakan organisasi yang bergerak khusus mengelola
5
penyandang tuna rungu terbesar di Indonesia yang menyediakan wadah nyata
maupun maya untuk berkumpulnya penyandang tunarungu yang ada di
berbagai wilayah Indonesia, salah satunya di Kota Solo. Anggota dalam
organisasi ini telah menggunakan fasilitas chat app berupa Whatsapp untuk
berkomunikasi baik secara interpersonal ataupun kelompok. Adapun anggota
dari organisasi GERKATIN Solo ini adalah seluruh penyandang tunarungu
yang telah terdaftar dan bedomisili di Kota Solo dan sekitarnya.
Selain itu dalam kegiatannya, GERKATIN tidak terlepas oleh
adanya penggunaan media sosial sebagai sarana untuk berkomunikasi bagi
para anggotanya bahkan siapapun yang ingin terlibat di dalamnya. Salah satu
chat app yang sering digunakan oleh penyandang tuna rungu yang tergabung
dalam GERKATIN Solo untuk berkomunikasi adalah Whatsapp. Oleh karena
itu, penelitian mengenai penggunaan Whatsapp oleh penyandang tunarungu
pada organisasi sosial GERKATIN Solo perlu dilakukan untuk mengetahui
gambaran meraka dalam penggunaan media sosial dalam komunikasi
interpersonal.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
Bagaimana penggunaan Whatsapp oleh anggota penyandang tuna
rungu dalam komunikasi interpersonal pada organisasi GERKATIN Solo?
6
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagimana
penggunaan
Whatsapp
oleh
anggota
penyandang
tunarungu
dalam
komunikasi interpersonal pada organisasi GERKATIN Solo.
D. Manfaat Penelitian
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperluas dan
memperkaya bahan referensi dan bahan penelitian berkaitan dengan
penggunaan media sosial sebagai sarana komunikasi interpersonal
anggota tunarungu GERKATIN Solo, serta sumber bacaan di kalangan
mahasiswa FISIP Universitas Sebelas Maret.
2. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
mengenai perkembangan teknologi komunikasi dan ilmu komunikasi
berupa media sosial yang digunakan oleh anggota organisasi difabel
tunarungu.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan
dan pemahaman kepada pembaca tentang bagaimana kelompok difabel
dalam memenfaatkan media sosial layaknya masyarakat pada umumnya.
Sehingga nantinya baik tunarungu maupun masyarakat bisa memahami
berbagai
bentuk
komunikasi
interpersonal
dalam
menggunakan
Whatsapp dan apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi
miskomunikasi dalam Whatsapp tersebut
7
4. Untuk pengguna media sosial khususnya, dapat digunakan agar mereka
lebih memahami dan bijak dalam berinteraksi dengan pengguna lain,
khususnya kelompok tuna rungu.
E. Tinjauan Pustaka
1. Komunikasi
Menurut Wood (2013: 3-4) komunikasi adalah proses sistematis di
mana orang berinteraksi melalui simbol untuk menciptakan dan
menafsirkan makna. Fitur penting pertama dari definisi ini adalah proses
(process). Komunikasi adalah proses yang artinya sedang berlangsung
atau selalu bergerak, bergerak semakin maju dan berubah secara terusmenerus. Sulit mengatakan kapan komunikasi dimulai dan berhenti karena
apa yang terjadi jauh sebelum kita berbicara dengan seseorang bisa
memengaruhi interaksi, dan apa yang muncul dari sebuh pertemuan
tertentu bisa berkelanjutan di masa depan. Kita tidak dapat membekukan
komunikasi kapan pun.
Komunikasi juga sistemis (systemic), yang berarti bahwa itu terjadi
dalam suatu sistem pada bagian yang saling berhubungan yang
memengaruhi satu sama lain. Dalam komunikasi keluarga, misalnya,
setiap anggota keluarga adalah bagian dari sistem. Selain itu, lingkungan
fisik dan waktu merupakan elemen-elemen dari sistem itu yang
memengaruhi interaksi.
8
Definisi mengenai komunikasi juga menekankan peran serta
simbol (symbols), mencakup bahasa dan perilaku nonverbal, serta seni dan
musik. Sesuatu yang abstrak menandakan sesuatu yang lain bisa menjadi
simbol. Komunikasi antarmanusia melibatkan interaksi dengan dan
melalui simbol-simbol. Akhirnya definisi komunikasi berpusat pada
makna yang merupakan jantung dari komunikasi. Makna adalah
signifikansi yang kita berikan pada fenomena—apa yang ditunjukkan
kepada kita. Makna muncul dari interaksi kita dengan simbol; begitulah
cara menafsirkan kata-kata dan komunikasi nonverbal.
Ada dua tingkatan makna dalam komunikasi. Tingkat makna
berdasarkan isi (content level of meaning), adalah pesan harfiah dan
tingkat makna berdasarkan hubungan (relationship level of meaning)
mengekspresikan hubungan antara para pihak yang terlibat dalam
komunikasi.
Porter dan Samovar (2010: 16-17) menjabarkan bahwa ada
beberapa karakteristik yang berkaitan dengan bagaimana sebenarnya
komunikasi
itu
berlangsung.
Pertama,
komunikasi
itu
dinamik.
Komunikasi adalah suatu aktivitas yang terus berlangsung dan selalu
berubah. Secara konstan para pelaku komunikasi dipengaruhi oleh pesan
orang lain dan sebagai konsekuensinya, para pelaku komunikasi tersebut
mengalami perubahan yang terus-menerus.
Kedua, komunikasi itu interaktif. Komunikasi terjadi antara
sumber dan penerima. Ini mengimplikasikan dua orang atau lebih yang
9
membawa latar belakang dan pengalaman unik mereka masing-masing ke
peristiwa komunikasi. Interaksi juga menandakan situasi timbal balik yang
memungkinkan setiap pihak mempengaruhi pihak lainnya. Setiap pihak
secara serentak menciptakan pesan yang dimaksudkan untuk memperoleh
respons-respons tertentu dari pihak lainnya.
Ketiga, komunikasi itu tidak dapat dibalik (irreversible) dalam arti
bahwa sekali kita mengatakan sesuatu dan seseorang telah menerima dan
men-decode pesan, kita tidak dapat menarik kembali pesan itu dan sama
sekali meniadakan pengaruhnya. Sekali penerima telah dipengaruhi oleh
suatu pesan, pengaruh tersebut tidak dapat ditarik kembali sepenuhnya.
Keempat, komunikasi berlangsung dalam konteks fisik dan konteks
sosial. Ketika seseorang berinteraksi dengan orang lain, interaksi tidaklah
terisolasi, tetapi ada dalam lingkungan fisik tertentu dan dinamika sosial
tertentu. Sedangkan konteks sosial menentukan hubungan sosial antara
sumber dan penerima. Konteks sosial akan memengaruhi komunikasi.
Bentuk
bahasa
yang
digunakan,
penghormatan
atau
kurangnya
penghormatan yang ditunjukkan pada seseorang, waktu, suasana hati,
siapa berbicara dengan siapa, dan derajat kegugupan atau kepercayaan diri
yang diperlihatkan orang, semua itu adalah sebagian saja dari aspek-aspek
komunikasi yang dipengaruhi oleh konteks sosial.
Effendy (2006: 27-28) memaparkan fungsi komunikasi sesuai dengan
buku “Many Voices One World”. Komunikasi dipandang dari arti yang lebih
luas, tidak hanya diartikan sebagai pertukaran berita dan pesan, tetapi sebagai
10
kegiatan individu dan kelompok mengenai tukar-menukar data, fakta ide,
maka fungsinya dalam setiap sistem sosial adalah sebagai berikut:
-
Informasi: Pengumpulan, penyimpanan, pemrosesan, penyebaran berita,
data, gambar, fakta, pesan, opini dan komentar yang dibutuhkan agar
orang dapat mengerti dan bereaksi secara jelas terhadap kondisi
internasioanal, lingkungan dan orang lain, dan agar dapat mengambil
keputusan yang tepat.
-
Sosialisasi: Penyediaan sumber ilmu pengetahuan yang memungkinkan
orang bersikap dan bertindak sebagai anggota masyarakat yang efektif
yang menyebabkan ia sadar akan fungsi sosialnya sehingga ia dapat aktif
di dalam masyarakat.
-
Motivasi: Menjelaskan tujuan masyarakat jangka pendek maupun jangka
panjang, mendorong kegiatan individu dan kelompok berdasarkan tujuan
bersama yang dikejar.
-
Perdebatan dan diskusi: Menyediakan dan saling menukar fakta yang
diperlukan untuk memungkinkan persetujuan atau menyelesaikan
perbedaan pendapat mengenai masalah publik, menyediakan bukti-bukti
yang relevan, yang diperlukan untuk kepentingan umum dan agar
masyarakat lebih melibatkan diri dalam masalah yang menyangkut
kegiatan bersama di tingkat internasional, nasional, dan lokal.
-
Pendidikan:
perkembangan
Pengalihan
ilmu
intelektual,
pengetahuan
pembentukan
sehingga
watak,
dan
mendorong
pendidikan
ketrampilan, serta kemahiran yang diperlukan pada semua bidang
kehidupan.
11
-
Memajukan kebudayaan: Penyebarluasan hasil kebudayaan dan seni
dengan maksud melestarikan warisan masa lalu, perkembangan
kebudayaan dengan memperluas horizon seseorang, membangunkan
imajinasi dan mendorong kreativitas serta kebutuhan estetikanya.
-
Hiburan: Penyebarluasan sinyal, simbol, suara, dan citra (image) dari
drama, tari, kesenian, kesusastraan, musik, komedi, olah raga, permainan,
dan sebagainya untuk rekreasi dan kesenangan kelompok dan individu.
-
Integrasi: Menyediakan bagi bangsa, kelompok, dan individu kesempatan
memperoleh berbagai pesan yang diperlukan mereka agar mereka dapat
saling kenal dan mengerti dan menghargai kondisi, pandangan, dan
keinginan orang lain.
2. Komunikasi Interpersonal
a. Definisi Komunikasi Intrepersonal
Menurut Katheleen S.Verderber et al. (dalam Budyatna, 2011:
14), komunikasi interpersonal adalah proses melalui mana orang
menciptakan dan mengelola hubungan mereka, melaksanakan tanggung
jawab secara timbal balik dalam menciptakan makna.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa: Pertama, komunikasi
interpersonal sebagai proses. Proses merupakan rangkaian sistematis
perilaku yang bertujuan dan yang terjadi dari waktu ke waktu atau
berulang kali. Kedua, komunikasi interpersonal bergantung pada makna
yang diciptakan oleh pihak yang terlibat. Ketiga, melalui komunikasi
kita menciptakan dan mengelola hubungan kita. Tanpa komunikasi
hubungan tidak akan terjadi.
12
Lain halnya dengan Wood (2013: 21) yang mengatakan bahwa
cara terbaik untuk mendefinisikan komunikasi interpersonal adalah
dengan berfokus pada apa yang terjadi, bukan pada di mana mereka
berada atau berapa banyak jumlah mereka. Komunikasi interpersonal
adalah bagian interaksi antara beberapa orang.
Sementara Effendy (dalam Liliweri, 1997: 12) mengemukakan
juga bahwa pada hakikatnya komunikasi antarpribadi atau interpersonal
adalah komunikasi antara seorang komunikator dengan seorang
komunikan. Jenis komuniaksi tersebut dianggap paling efektif untuk
mengubah sikap, pendapat, atau perilaku manusia berhubung prosesnya
yang dialogis. Dean C. Barnlund menambahkan bahwa komunikasi
interpersonal selalu dihubungkan dengan pertemuan antara dua, tiga
atau mungkin empat orang yang terjadi secara spontan dan tidak
terstruktur (dalam Liliweri, 1997:12).
b. Ciri-ciri komunikasi interpersonal
Berkaitan dengan ciri-ciri komunikasi interpersonal, Wood (2013:
23-29) menjelaskan lebih mendalam beberapa karakteristik atau ciri-ciri
komunikasi interpersonal. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut:
- Selektif. Seseorang tidak mungkin berkomunikasi secara akrab
dengan semua orang yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Seseorang berusaha membuka diri seutuhnya hanya dengan beberapa
orang yang dikenal baik.
13
- Sistematis. Komunikasi interpersonal dicirikan dengan sifat
sistematis karena ia terjadi dalam sistem yang bervariasi. Terdapat
banyak sistem yang melekat pada proses komunikasi interpersonal.
Setiap sistem memengaruhi apa yang diharapkan dari orang lain.
Cara
manusia
berkomunikasi
sangat
beragam
berdasarkan
kebudayaan masing-masing. Komunikasi interpersonal dipengaruhi
oleh sistem, situasi, waktu, masyarakat, budaya, latar belakang
personal, dan sebagainya. Dengan demikian tiap bagian dalam
sistem komunikasi saling terkait satu sama lain.
- Unik. Pada tingkatan yang paling dalam, komunikasi interpersonal
sangat unik. Pada interaksi yang melampaui peran sosial, setiap
orang menjadi unik dan oleh karena itu menjadi tidak tergantikan.
Komunikasi interpersonal melibatkan orang-orang unik yang
berinteraksi dengan cara yang unik pula.
- Processual.
Komunikasi
interpersonal
adalah
proses
yang
berkelanjutan. Hal ini berarti komunikasi senantiasa berkembang dan
menjadi lebih personal dari masa ke masa. Hubungan interpersonal
adalah proses, maka situasi pada dua orang yang berinteraksi di masa
lalu dan masa depan akan saling terkait. Pola komunikasi
interpersonal yang berkelanjutan membuat seseorang tidak dapat
menghentikan prosesnya atau menarik perkataan yang sudah
terlanjur diucapkan. Dalam konteks situasi ini, komunikasi adalah
sesuatu yang tidak dapat ditarik kembali. Oleh karena itu seseorang
14
harus bertanggung jawab dengan etika komunikasi dan selalu
berhati-hati setiap berkomunikasi dengan orang lain.
- Transaksional. Pada dasarnya, komunikasi interpersonal adalah
proses transaksi antara beberapa orang. Ketika bercerita sesuatu yang
menarik pada seorang teman, ia tertawa. Sifat transaksional yang
terjadi dalam komunikasi interpersonal bedampak pada tanggung
jawab komunikator untuk menyampaikan pesan secara jelas. Oleh
karena komunikasi interpersonal adalah proses berkelanjutan, maka
baik komunikator maupun komunikan bertanggung jawab terhadap
efektifitas komunikasi.
- Individual. Bagian terdalam dari komuniakasi interpersonal
melibatkan manusia sebagai individu yang unik dan berbeda dengan
orang lain. Ketika kepercayaan sudah terbangun dengan baik,
seseorang bisa berbagi informasi yang sifatnya privasi pada orang
lain.
- Pengetahuan Personal. Komunikasi interpersonal membantu
perkembangan pengetahuan personal dan wawasan seseorang
terhadap interaksi manusia. Selain itu komunikasi interpersonal
membuka pemahaman terhadap kepribadian orang lain. Ketika
hubungan
yang
dijalain
semakin
dalam,
kita
membangun
kepercayaan dan belajar untuk berkomunikasi dengan cara yang
membuat kita merasa nyaman. Pemahaman personal yang dibangun
15
sepanjang waktu, mampu mendorong kita untuk memahami dan
bersedia dipahami.
- Menciptakan Makna. Komunikasi interpersonal melibatkan dua
tingkatan makna (Wood, 2013:28). Tingkatan pertama disebut
dengan pemaknaan isi (content meaning), yang merujuk pada arti
sebenarnya.
Tingkatan
kedua
adalah
pemaknaan
hubungan
(relationship meaning). Hal ini menunjukkan hubungan yang terjadi
antara komunikator dan komunikan.
Wood juga memaparkan bahwa peneliti telah mengidentifikasi tiga
dimensi dalam pemaknaan level hubungan. Dimensi pertama adalah
kemampuan untuk menanggapi. Kemampuan ini merujuk pada
seberapa peduli dan terlibatnya kita dengan orang lain. Dimensi
kedua adalah kesukaan, atau afeksi. Dimensi ini berkaitan dengan
perasaan positif atau negatif yang dirasakan selama proses
komunikais berlangsung. Dimensi ketiga dalam makna hubungan
adalah keinginan untuk melakukan kontrol. Dimensi ini merujuk
pada keinginan untuk mengendalikan kekuatan dalam komunikasi.
c. Model Komunikasi Interpersonal
Model adalah representasi dari sesuatu dan bagaimana ia dapat
bekerja. Model komunikasi interpersonal menurut Wood (2013: 19-20)
dibagi menjadi tiga:
16
1. Model Linear
Model pertama dalam komunikasi interpersonal digambarkan
sebagai bentuk yang linear atau searah. Ini adalah model lisan yang
terdiri dari lima pertanyaan. Model linear digambarkan sebagai
komunikasi satu arah-dari pengirim ke penerima pasif. Implikasinya
adalah pendengar tidak pernah mengirim pesan dan hanya menyerap
secara pasif apa yang dikatakan oleh pembicara.
2. Model Interaktif
Model interaktif menggambarkan komunikasi sebagai proses
di mana pendengar memberikan umpan balik sebagai respons
terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikan. Model interaktif
menyadari bahwa komunikator menciptakan dan menerjemahkan
pesan dalam konteks pengalaman pribadinya. Semakin banyak
pengalaman komunikator dalam berbagai kebudayaan, akan semakin
baik pemahamannya terhadap orang lain.
Meskipun model interaktif adalah pengembangan dari model
linear. Sistemnya masih memandang komunikasi sebagai urutan di
mana ada orang yang berperan sebagai pengirim pesan dan ada pihak
lain sebagai penerima pesan.
3. Model Transaksional
Model transaksional menekankan pada pola komunikasi yang
dinamis dan berbagai peran yang dijalankan seseorang selama proses
interaksi. Salah satu ciri model ini adalah penjelasan mengenai
17
waktu yang menunjukkan fakta bahwa pesan, gangguan, dan
pengalaman senantiasa berubah dari waktu ke waktu.
Model komunikasi transaksional tidak melihat seseorang
berperan sebagai komunikator atau komunikan. Kedua pihak yang
berkomunikasi berada dalam posisi setara dan saling bertukar peran
secara bersamaan. Artinya, selama proses komunikasi, seseorang
bisa jadi pihak yang mengirimkan pesan, menerima pesan, atau
melakukan keduanya dalam waktu yang bersamaan.
3. Kelompok Tuna Rungu
Berdasarkan Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 tentang
penyandang cacat (dalam Demartoto, 2005) bahwa penyandang cacat
adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan atau mental, yang
dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk
melakukan kegiatan secara layaknya yang terdiri dari: a) penyandang cacat
fisik, b) penyandang cacat mental, c) penyandang cacat fisik dan mental.
Adapun keterbatasan pada kemampuan pendengaran (tuna rungu) dapat
digolongkan dalam cacat fisik.
Berkaitan dengan hal tersebut bahwa seseorang yang memiliki
hambatan atau gangguan pendengaran juga merupakan salah satu kategori
seseorang yang memiliki kebutuhan khusus (difabel). Pratiwi dan
Murtiningsih (2013: 26) dalam bukunya Kiat Sukses Mengasuh Anak
Berkebutuhan Khusus menjelaskan penyandang kelainan pendengaran atau
18
tunarungu, yaitu seseorang yang mengalami kehilangan kemampuan
pendengaran, baik sebagian (hard of hearing) maupun keseluruhan (deaf).
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2010, ada
kenaikan yang cukup signifikan pada sejumlah penyandang tunarungu di
Indonesia. Pada 2000, jumlah penyandang tunarungu mencapai 205,1 juta
jiwa. Sementara pada tahun 2010 naik menjadi 234,2 juta jiwa. Data
tersebut merupakan hasil sensus penduduk tahun 2010 (Pratiwi dan
Murtiningsih, 2013: 28).
Pada umumnya, seseorang yang menderita tunarungu juga akan
menderita tunawicara. Hal ini berkaitan erat dengan proses perkembangan
bahasa yang harus dilalui seorang yang disfungsi pendengaran. Jika
ketajaman pendengaran terbatas, akan menghalangi proses peniruan
bahasa semasa anak-anak. Proses peniruan hanya terbatas secara visual.
Muhammad (2007: 56) mengatakan bahwa orang yang bermasalah
pendengaran selalu disalah tanggap dengan orang yang normal karena
kecacatan mereka tidak terlalu kentara seperti halnya masalah penglihatan,
fisik ataupun cacat mental. Mereka juga kurang mendapatkan simpati
seperti halnya mereka yang mempunyai masalah penglihatan.
Herth menambahkan bahwa seorang wanita buta dan tuli, Hellen
Keller, di dalam otobiografinya menyatakan bahwa jika dia diberi
kesempatan untuk memilih antara buta dan tuli, dia rela memilih sebagai
orang yang buta. Ini karena orang yang tuli akan merasa terasing (dalam
Muhammad, 2007: 56).
19
Tahap pendengaran biasanya diukur dalam desibel (dB), yang
mengukur intensitas bunyi. Muhammad (2007: 59) memaparkan bahwa
kehilangan pendengaran pada 27dB hingga 70dB berarti adalah tahap
kekurangan pendengaran, sedangkan kehilangan pendengaran pada 71dB
ke atas adalah tahap ketulian. Kurang pendengaran adalah berarti tahap
pendengaran ketika individu masih dapat memahami penuturan,
sedangkan tahap ketulian berarti adalah tahap ketika individu mengalami
masalah dalam memahami penuturan.
4. Cara Komunikasi Penyandang Tunarungu
Tanggapan dan opini umum berpendapat bahwa komunikasi secara
lisan adalah media utama dan cara termudah untuk menguasai dan
mempelajari bahasa. Berkomunikasi melalui berbicara adalah cara yang
terbaik. Namun, bagi orang-orang yang memiliki masalah pendengaran,
cara komunikasi lain menggantikan fungsi berbicara. Muhammad (2007:
70-72) menjabarkan bahwa terdapat berbagai cara komunikasi bagi
penyandang tunarungu yakni:
a. Metode Auditory Oral
Metode ini menekankan pada proses mendengar serta bertutur
kata dengan menggunakan alat bantu yang lebih baik, seperti
menggunakan alat bantu pendengaran, penglihatan dan sentuhan.
Metode ini tidak menggunakan bahasa isyarat atau gerakan jari tetapi
lebih menekankan pada metode pembacaan gerak bibir (lip reading).
20
Metode ini menggunakan bantuan bunyi untuk mengembangkan
kemampuan mendengar dan bertutur kata, membutuhkan latihan
pendengaran yang dapat melatih anak-anak untuk mendengar bunyi
dan mengklasifikasikan bunyi-bunyi yang berbeda.
b. Metode Membaca Bibir
Komunikasi dengan metode ini baik untuk mereka yang mampu
berkonsentrasi tinggi pada bibir penutur bahasa. Metode ini juga
menekankan pada penglihatan yang baik. Metode ini mengharuskan
penyandang tunarungu untuk selalu melihat gerakan bibir penutur
bahasa dengan tepat. Dalam situasi ini penutur bahasa harus berada di
tempat yang terang dan dapat terlihat dengan jelas.
c. Metode Bahasa Isyarat
Pada umumnya, bahasa isyarat digunakan secara mudah dengan
menggabungkan perkataan dengan makna dasar. Terdapat berbagai
bahasa isyarat, contohnya American Sign Language, Pidgin Sing
English (PSE), Seeing Essential English (SEE I), Sign Exact English
(SEE II), dan di Malaysia adalah Kod Tangan Bahasa Melayu
(KTBM).
d. Metode Komunikasi Universal
Metode komunikasi universal adalah salah satu metode yang
menggabungkan gerakan jari, isyarat, pembacaan gerak bibir,
penuturan, dan implikasi auditoris atau yang dikenal juga sebagai
bahasa isyarat manual-visual. Elemen penting dalam metode ini adalah
21
penggunaan isyarat dan penuturan secara bersamaan. Melalui metode
ini penyandang tunarungu dapat memahami hal yang disampaikan
menurut kemampuan masing-masing.
e. Penuturan Isyarat (cued speech)
Metode ini dikembangkan dari metode pembacaan bibir.
Menggunakan simbol-simbol tangan untuk memandu bunyi-bunyian.
Simbol-simbol tangan yang dilambangkan ditentukan dengan bentukbentuk tangan yang menentukan maksud perkataan. Terdapat delapan
simbol tangan yang ditentukan menurut konsonan yang berbeda dan
empat simbol tangan untuk menentukan bunyi yang menyimbolkan
huruf vokal.
5. Media Use
Selanjutnya, terkait dengan konsep penggunaan Whatsapp sendiri,
itu terdiri dari dua kata, yakni penggunaan dan Whatsapp. Terkait dengan
konsep penggunaan, maka penggunaan ini berasal dari kata “guna”, yang
menurut Poerwadarminta (1976 : 332) adalah suatu kaedah atau manfaat
atau suatu perbuatan (pekerjaan) yang memberi pengaruh (mendatangkan
perubahan arti). Mendapat imbuhan prefix pe- dan suffix -an, maka
menjadi kata jadian “penggunaan”. Penggunaan menurut Poerwadarminta
(dalam KUBI, 1976:333) diartikan sebagai suatu hal atau perbuatan dan
sebagainya dalam mempergunakan sesuatu: misalnya untuk kepentingan
umum atau kepentingan pribadi.
22
Dalam riset ini, mengacu pada pendapat di atas maka penggunaan
diartikan sebagai suatu hal atau perbuatan yang menunjukkan seseorang
atau individu sebagai anggota masyarakat dalam memanfaatkan sesuatu
hal untuk kepentingan dirinya. Dalam riset ini, sesuatu hal itu adalah
media baru Whatsapp. Seiring batasan tersebut, maka dalam penelitian ini
penggunaan Whatsapp berarti sebagai suatu hal yang mencerminkan
bagaimana perbuatan para individu anggota masyarakat (tunarungu) dalam
memanfaatkan atau menggunakan Whatsapp dalam rangka upaya untuk
memenuhi kebutuhannya.
Hari ini, komunikasi interpersonal berlangsung dalam konteks
penggunaan media dan para pengembang perangkat lunak menciptakan
alat komputasi sosial untuk memfasilitasi proses ini. Studi tentang
komunikasi melalui computer, computer-mediated-communication (CMC)
mengeksplorasi bagaimana cara mendukung lingkungan bermedia dan
memperluas proses komunikasi antarmanusia serta tidak luput membahas
alat-alat komputasi sosial dalam proses komunikasi interpersonal
(Konijn,.dkk, 2008: 14).
Selanjutnya Konijn,.dkk memaparkan bahwa pada level
dasar,
pemahaman dari penggunaan media dalam komunikasi interpersonal
membutuhkan kesadaran tentang bagaimana orang-orang berkomunikasi
antara satu dengan lainnya menggunakan media komunikasi. Dengan
berfokus pada bagaimana proses komunikasi antarpribadi diubah ketika
bergerak dari face-to-face communication menuju konteks bermedia.
23
Media dapat dimanfaatkan untuk mempelajari pandangan ekologi CMC
dan media sosial karena dapat memeriksa perubahan dalam pola
komunikasi, seperti pergeseran dari sistem penyiaran media massa kepada
sistem digital yg interaktif.
Interaktivitas adalah kunci utama perbedaaan karakteristik antara
media massa (televisi, radio) dan media digital (komputer, internet).
Dengan diperkenalkannya komunikasi digital, para peneliti sekarang
mengembangkan model interaktif untuk menggambarkan bagaimana
komunikasi manusia dapat terjadi di sebuah ruang media (Konijn,.dkk,
2008: 15).
Para peneliti berspekulasi bahwa CMC akan mengarah pada
pembagian pesan impersonal karena kurangnya isyarat wajah dan tonal.
Selain itu asumsi yang mendasari penelitian komunikasi interpersonal
cenderung
menanggap
bahwa
komunikasi
interpersonal
memiliki
keharusan dalam konteks tatap muka, tetapi untuk beberapa tahun,
peneliti media telah menantang ide ini. Barnes, Strata, Jacobs Gibson
telah mengamati bagaimana konteks penggunaan media dalam komunikasi
interpersonal secara bertahap telah menggantikan konteks tatap muka
dalam proses yang komunikasi antarpribadi (dalam Konijn,.dkk, 2008: 15).
Hiltz & Turoff menyatakan bahwa spekulasi awal penelitian CMC
mengarah pada bahwa pertukaran tekstual akan menciptakan lingkungan
komunikasi yang tidak bersahabat. Namun, bertentangan dengan
pandangan ini, pengamatan dan studi tentang dunia online kemudian
24
mengungkapkan bahwa orang-orang membentuk dunia virtual atau
komunitas elektronik ketika mereka secara teratur melakukan pertukaran
pesan melalui internet. Meskipun beberapa penulis tetap skeptis tentang
hubungan dibangun melalui dunia maya, maka yang lain telah mulai
merangkul gagasan bahwa CMC adalah bentuk baru dari komunikasi
interpersonal (Konijn,.dkk, 2008: 21).
Orang-orang perlu untuk terhubung dengan orang lain dan ini
adalah kekuatan pendorong di belakang hubungan online. Untuk alasan
ini, email dan Instant Messenger adalah dua aplikasi software yang sangat
populer yang mendukung terciptanya lingkungan media interpersonal.
Teknologi komunikasi berubah menuju lingkungan media ketika orang
mulai menggunakan alat untuk mendukung praktek-praktek sosial, seperti
mengobrol dengan teman-teman atau rekan kerja di Instan Messenger
(Konijn,.dkk, 2008: 21).
Menurut Postman, "Teknologi hanyalah mesin, dia menjadi media
karena
menerapkan
kode
simbolik
tertentu,
sebagaimana
ia menemukan tempatnya dalam pengaturan sosial tertentu. Dengan
demikian media adalah sebuah mesin yang menciptakan lingkungan sosial
dan intelektual. "Sebuah generasi baru perangkat lunak yang muncul
adalah khusus dirancang untuk mendukung praktek sosial, sektor teknologi
baru ini disebut "media sosial" atau "sosial komputasi”. Hari ini, hubungan
konteks dimediasi telah dikembangkan dari hubungan yang semu menuju
25
hubungan yang aktual sebagaimana orang-orang melakukan pertukaran
pesan melalui social software (dalam Konijn,.dkk, 2008: 21).
Whittle
menjelaskan
bahwa
lingkungan komunikasi jenis baru
meskipun
CMC
menciptakan
untuk berinteraksi, berkomunikasi
dalam konteks bermedia berbeda dari berbagi pengalaman tatap muka.
Lingkungan media mengubah cara di mana orang hadir untuk komunikasi.
Pertama, kondisi kehadiran dalam komunikasi tatap muka membutuhkan
kehadiran fisik. Sebaliknya, komunikator secara online umumnya
berinteraksi sementara fisiknya tidak hadir di antara satu dengan yang lain.
Kedua, pemisahan orang dari percakapan mereka, memiliki banyak
implikasi untuk pertukaran komunikasi dan pola perilaku dalam
menggunakan
internet. Awalnya, peneliti memiliki hipotesis bahwa
kurangnya kehadiran pengguna akan mengarah pada berubahnya pesan
pribadi dan lawan bicara, tetapi, kenyataannya tidak demikian. Telah
diamati bahwa orang akan menulis pemikirannya yang paling intim pada
komputer (dalam Konijn,.dkk, 2008: 19).
Duduk sendirian di rumah untuk mengetik pada keyboard dapat
menciptakan ilusi privasi. Sebaliknya, kata-kata dapat didistribusikan
ke seluruh dunia. Setelah pesan dikirim keluar melalui internet, penulis
akan kehilangan kontrol atas perasaan bahwa setiap pesan yakni teks
digital itu sendiri tidak menguap seperti suara kata-kata di udara. Kita bisa
berbagi pengalaman pribadi, tetapi lingkungan media bukanlah tempat
pribadi. Oleh karena itu, ide-ide privasi kata-kata dapat mengubah sang
26
penulis dari pribadi menjadi publik (Kornblum, dalam Konijn,.dkk, 2008:
19).
Selanjutnya berkaitan dengan pengamatan dari komunitas virtual
oleh Barners (dalam Konijn,.dkk, 2008: 19), dia mengungkapkan bahwa
ada empat alasan mengapa kehadiran sesorang dalam komunitas internet
dapat mempengaruhi pengembangan hubungan interpersonal yang
kondusif.
Pertama, orang dapat memilih kapan untuk mengungkapkan
informasi
tentang
usia,
jenis
kelamin,
dan
ras.
Kedua,
orang
sukarela melakukan komunikasi dengan yang lain dan percakapan tersebut
pun dapat dengan mudah disudahi kapan pun mereka menginginkannya.
Ketiga, orang dapat menempatkan langkah terbaik mereka dengan cara
berhati-hati mengedit balasan untuk orang lain. Akhirnya, orang-orang
memiliki kemampuan untuk menyembunyikan cacat, termasuk cacat fisik
dan rasa malu. Misalnya, email adalah salah satu alat komunikasi yang
bagus untuk guru dan siswa dengan jenis ketunaan pada pendengaran,
karena
pendengaran
bukan
merupakan
syarat
persyaratan
untuk
berlangsungnya korespondensi CMC tersebut.
Namun, kondisi kehadiran juga dapat menyebabkan kebiasaan yang
salah. Postman (1995, Konijn,.dkk, 2008: 19-20) mengingatkan kita bahwa
"Semua perubahan teknologi adalah Faustian Bargain. Untuk setiap
keuntungan teknologi baru yang ditawarkan, selalu ada kerugian
korespondensi di dalamnya".
27
a.
Kategori Media Baru Berdasarkan Jenis Penggunaan
Flew mengatakan bahwa media baru memiliki perbedaan beberapa
karakter dengan media lama. Karakter-karakter inilah yang disebut pula
dengan kebaruan. Kebaruan tersebut dapat disingkat menjadi 4C, yaitu
computing and information technology, communication networks, digitalized
media and information content, dan convergence (2005: 2, dalam Adiputra,
2012). Dalam kajian ilmu komunikasi, fenomena media sosial dilihat sebagai
suatu era media baru atau yang dikenal dengan istilah new media.
Berkaitan dengan kategorisasi media baru, McQuail (2010:123)
mengdentifikasi lima kategori utama dari media baru yang memiliki
kesamaan saluran serta yang dibedakan berdasarkan jenis penggunaan, konten
dan konteks. Lima kategorisasi tersebut yakni sebagai berikut:
- Interpersonal communication media. Ini termasuk telepon (handphone)
dan e-mail (terutama untuk kegiatan yang berhubungan dengan
pekerjaan). Secara umum, kontennya bersifat pribadi dan tahan lama.
Kuat dan mapannya hubungann lebih penting daripada informasi yang
disampaikan.
- Interactive play media. Kategori ini meliputi game berbasis komputer
dan video dalam perangkat virtual. Inovasi utama terletak pada
interaktivitas dan dominasi proses penggunaan lebih mengedepankan
kepuasan pengguna.
- Information search media. Ini adalah kategori yang luas, tetapi
Internet/www adalah contoh yang paling signifikan. Media ini
28
dipandang sebagai perpustakaan dan sumber data dengan ukuran yang
belum pernah ada sebelumnya. Mencakup juga aktualitas dan
aksesibilitas dalam penggunaannya. Mesin pencari telah meningkat ke
command position sebagai alat untuk pengguna serta sumber
pendapatan untuk internet.
- Collective participatory media. Termasuk dalam kategori ini terutama
dalam hal penggunaan internet untuk berbagi dan bertukar informasi,
ide dan pengalaman serta aktif mengembangkan hubungan pribadi.
Situs jejaring sosial masuk ke dalam kategori ini. Jenis media baru
keempat inilah yang dianggap dapat memberikan kesempatan baru pada
kelompok-kelompok masyarakat yang secara politik dan sosiokultural
kurang mendapat kesempatan untuk berpendapat.
- Substitution of broadcast media. Acuan utama dalam kategori ini
adalah penggunaan media untuk menerima atau download konten yang
telah disiarkan atau didistribusikan di waktu lampau. Menonton film
dan program televisi, mendengarkan radio dan musik dan sebagainya
merupakan kegiatan utama dalam kategori ini. Jenis media baru terakhir
ini menutupi “kelemahan” media penyiaran di mana dokumentasi
program acara tidak mudah diakses. Dokumentasi dan penyiaran
program acara media penyiaran kembali menjadi lebih mudah terwujud.
29
b. Penggunaan Media Baru
McQuail memaparkan berbagai karakteristik utama yang
menandai perbedaan antara media baru, termasuk di dalamnya media
sosial,
dengan media lama (konvensional) berdasarkan perspektif
pengguna (2010: 124). Menurutnya tujuh karakteristik tersebut yakni:
1. Interactivity: diindikasikan oleh rasio respon atau inisiatif dari
pengguna terhadap „tawaran‟ dari sumber/pengirim (pesan).
2. Social presence (socialibility): dialami oleh pengguna, sense of
personal contact dengan orang lain dapat diciptakan melalui
penggunaan sebuah medium.
3. Media richness: dapat menjembatani adanya perbedaan kerangka
referensi, mengurangi ambiguitas, memberikan isyarat-isyarat,
lebih peka dan lebih personal.
4. Autonomy : seorang pengguna merasa dapat mengendalikan isi dan
menggunakannya dan bersikap independen terhadap sumber.
5. Playfullness : digunakan untuk hiburan dan kenikmatan.
6. Privacy : diasosiasikan dengan penggunaan medium dan/atau isi
yang dipilih.
7. Personalization : tingkatan dimana isi dan pengguna media bersifat
personal dan unik.
30
6. Karakteristik Media Sosial
Secara umum, karakteristik media sosial tidak terlepas dari
karakteristik new media yang merupakan wadah dimana media sosial
berkembang. Terry Flew mengemukakan bahwa karakteristik media
baru sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek yang ada di dalamnya.
Beberapa aspek dari new media digambarkan oleh Flew sebagai
berikut:
Gambar 1.1
Tiga C dalam Media Konvergen
COMMUNICATION
NETWORKS
Cable TV.
Interactive TV
Mobile Telephone
Internet and
World Wide Web
COMPUTING/ INFORMATION
TECHNOLOGY
CONTENT (MEDIA)
CD-ROM
DVD
Sumber: (Flew, 2002: 10)
Dari diagram tersebut dapat terbaca, bahwa kunci dari media
baru, termasuk di dalamnya Whatsapp, terletak pada konsep-konsep
yang saling berhubungan atau berkaitan satu sama lain. Awalnya secara
sederhana
dapat
dikatakan
bahwa
teknologi
komunikasi
dan
informasilah yang membawa para pengguna ke era digital, di mana di
31
dalamnya terdapat proses digitalisasi. Melalui proses ini, terjadilah
penyandian semua bentuk informasi yang didapat ke dalam bentuk
biner yang dibaca atau diproses melalui komputer.
Akibat yang dibawa oleh proses-proses digitalisasi tersebut,
bersamaan dengan perkembangan teknologi lainnya antara lain
munculnya aspek konvergen yang sering dikaitkan dengan media baru.
Konvergensi media dapat dimaknai sebagai proses penggabungan
komputasi, telekomunikasi, serta media dan informasi.
Flew (2002, 10-11) menjelaskan bahwa media baru juga dapat
disebut dengan istilah media digital. Media digital adalah bentukan dari
isi media yang menggabungkan dan mengintegrasikan data, teks, suara
dan gambar yang beragam jenisnya. Disimpan dalam format digital,
serta didistribusikan secara cepat melalui network dengan perantara
broadband fibreoptic, satelit, dan sistem transmisi gelombang pendek.
7. WhatsApp
Whatsapp Messenger adalah aplikasi pesan seluler lintas platform
yang memungkinkan penggunanya untuk bertukar pesan tanpa harus
membayar SMS. Whatsapp Messenger tersedia untuk iPhone, BlackBerry,
Windows Phone, Android, dan Nokia. Selain fitur dasar berkirim pesan,
pengguna Whatsapp dapat membuat grup, saling berkirim gambar, pesan
video dan audio dalam jumlah tidak terbatas (whatsapp.com, 2016).
Whatsapp dapat mengirimkan pesan melalui koneksi data internet.
32
Aplikasi Smartphone ini beroperasi di hampir semua jenis
perangkat dan sistem operasi. Aplikasi ini telah di pasar sejak 2010; tujuan
menyatakan pengembang adalah untuk menggantikan platform SMS eksising untuk sistem yang bebas biaya dalam environment bebas iklan.
Sebagai sarana mengirim dan receivering pesan ke dan dari individu atau
kelompok, Whatsapp mencakup berbagai fungsi, seperti pesan teks,
gambar terlampir, file audio, file video, dan link ke alamat web. Selama
dua tahun terakhir, aplikasi ini telah menjadi sangat popular dan
mendapatkan lebih dari 350 juta pengguna dan berperingkat aplikasi yang
paling banyak didownload di 127 negara sehari-hari, rata-rata 31 miliar
pesan yang dikirim (Bouhnik dan Deshen, 2014:2).
Secara teknis, Whatsapp dapat dilihat sebagai jaringan sosial yang
memungkinkan orang untuk mengakses banyak informasi dengan cepat.
Skema operation sederhana membuat program dapat diakses ke berbagai
orang dari berbagai usia dan latar belakang. Whatsapp memungkinkan
komunikasi dengan siapa saja yang memiliki sebuah Smartphone,
memiliki koneksi internet aktif, dan telah terinstal aplikasi. Biaya
keseluruhan aplikasi ini sangat rendah, hingga satu dolar per tahun.
Salah satu fitur unik aplikasi ini adalah pilihan untuk dapat
membuat grup dan untuk berkomunikasi dalam batas-batasnya. Pembuat
grup menjadi manajernya, posisi yang mencakup hak istimewa
menambahkan dan menghapus peserta tanpa perlu persetujuan dari
anggota kelompok. Selain dari ini, semua peserta dalam kelompok
33
menikmati hak yang sama. Aplikasi ini memungkinkan para penggunanya
untuk menerima peringatan pada setiap pesan yang dikirim atau
sebaliknya, untuk menonaktifkan peringatan yang datang selama 8 jam,
sehari, atau seminggu penuh (Bouhnik dan Deshen, 2014:2).
8.
Penelitian yang Relevan
Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Dewi
(2015) mengenai “Pemanfaatan Media Internet oleh Penyandang
Tunarungu, Studi Deskriptif tentang Pemanfaatan Internet pada Komunitas
GERKATIN di Kota Surabaya” penelitian ini menemukan bahwa
pemanfaatan internet oleh penyandang tunarungu merupakan sebuah
kepentingan yang sangat dibutuhkan dalam membantu aktivitas maupun
pemenuhan kebutuhan dalam kehidupannya. Berdasarkan 5 motif yang
kemukakan oleh Katz, Gurevitch dan Haas yaitu kebutuhan kognitif,
kebutuhan afektif, kebutuhan integrasi sosial dan kebutuhan pelarian.
Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini motif yang paling
banyak dimanfaatkan adalah atas dasar motif kebutuhan kognitif, dengan
sebagian besar memanfaatkan atau mengenal fasilitas-fasilitas yang
disediakan, diantaranya search engine, e-mail, website, online journal dan
messaging. Disamping itu mengenai terpaan media, dalam satu minggu
ternyata mayoritas responden menyatakan mengaksesnya tujuh kali
memanfaatkan internet, dengan kisaran durasi antara 4-5 jam setiap
harinya.
34
Kisaran tersebut dikategorikan sebagai golongan heavy users. Hal
ini dikarenakan penyandang tunarungu telah memliki akses internet tanpa
batas, disebabkan pengaksesannya melalui smartphone sebagai perangkat
yang paling banyak digunakan dalam pemenuhan kebutuhan. Adanya
smartphone menjadikan semakin mudahnya akses tersebut dalam
pemanfaatan internet yang dinilai dapat dilakukan kapan saja dan dimana
saja. Dimana dalam mengaksesnya, kebayakan dari penyandang tunarungu
mengeluarkan biaya dalam kategori paling minim.
Sedangkan untuk konteks sosial di kategorikan menjadi tiga yaitu,
publikasi informasi, komunikasi dan bekerja sama. Dimana mayoritas
responden telah memanfaatkan media internet dalam ketiga hal tersebut,
dengan sebagian besar melakukannya melalui media jejaring sosial.
Berdasarkan pemuasan media internet, dapat ditarik kesimpulan bahwa
media internet mampu memuaskan responden dalam memenuhi kebutuhan
yang diharapkan.
Melanjutkan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Zulfa
Kurnia Dewi (2015) mengenai pemanfaatan internet oleh organisasi
GERKATIN di Kota Surabaya, penulis ingin menawarkan wawasan dan
pelajaran tentang penggunaan messenger, khususnya Whatsapp sebagai
sarana komunikasi interpersonal bagi anggota sebuah organisasi difabel,
dalam hal ini para penyandang cacat yang tergabung dalam GERKATIN
Solo. Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian Zulfa Kurnia Dewi
(2015) bahwa motif yang paling banyak dimanfaatkan adalah atas dasar
35
motif kebutuhan kognitif, dengan sebagian besar memanfaatkan atau
mengenal fasilitas-fasilitas yang disediakan, diantaranya search engine, email, website, online journal dan messaging.
Whatsapp merupakan slaah satu Instan Messenger yang paling
populer beberapa tahun terakhir. Dan komunikasi yang dialakukan di
dalam Whatsapp cenderung mengarah pada tingkatan komunikasi
interpersonal. Adapun manfaat akademis dalam penelitian ini adalah
adanya hasil penelitian terbaru mengenai penggunaan media sosial berupa
Instant Messenger Whatsapp dalam komunikasi interpersonal di kalangan
tunarungu. Dengan demikian diharapkan penelitian selanjutnya dapat lebih
mengembangkan penelitian-penelitian terdahulu berkaitan dengan tema
komunikasi media baru oleh penyandan disablititas fisik.
F. Kerangka Berfikir
Gambar 1.2
Kerangka Berfikir
Anggota
GERKATIN
Solo
Bagian yang
dikomunikasikan
Makna
New Media berupa
(chat app)
WhatsApp
Anggota
GERKATIN lain
dan khalayak luas
36
Dalam gambar di atas dijelaskan bahwa penulis membuat alur pemikiran
dalam penelitian ini berdasarkan definisi komunikasi interpersonal yang
disampaikan oleh Wood (2013: 3-4) bahwa komunikasi adalah proses sistematis
di mana orang berinteraksi melalui simbol untuk menciptakan dan menafsirkan
makna. Dalam alur pemikiran ini ditambahkan saluran dalam bentuk media baru,
yakni aplikasi Whatsapp yang digunakan sebagai sarana bagi komunikator dan
komunikan dalam berkomunikasi secara interpersonal. Saluran adalah medium
yang membawa pesan. Dalam penelitian ini saluran yang dimaksud adalah
Whatsapp.
Penjelasan pertama bahwa komunikasi interpersonal adalah sebuah
proses (process). Komunikasi adalah proses yang artinya sedang berlangsung atau
selalu bergerak, bergerak semakin maju dan berubah secara terus-menerus. Dalam
bagan di atas ditunjukkan bahwa komunikasi antara pengirim pesan (tunarungu
yang menjadi anggota GERKATIN Solo) dengan penerima pesan (anggota
GERKATIN lain dan khalayak luas) bergerak terus menerus dengan
memanfaatkan Whatsapp sebagai media utama dalam berkomunikasi diantara
kedua belah pihak.
Komunikasi juga sistematis yang berarti bahwa itu terjadi dalam suatu
sistem pada bagian yang saling berhubungan yang memengaruhi satu sama lain.
Dalam hal ini komunikator dan komunikan berada dalam sebuah organisasi yang
menjadi payung bagi mereka untuk lebih leluasa dalam berkomunikasi antara satu
dengan yang lain. Antara satu tunarungu dengan tunarungu yang lain saling
berkomunikasi dan saling berhubungan serta memengaruhi satu sama lain.
37
Selain itu komunikasi ini juga menekankan peran serta simbol yang
mencakup bahasa dan perilaku nonverbal. Artinya pesan disampaikan dari
komunikator kepada komunikan melalui simbol-simbol yang bisa diterima dan
dipahami antara kedua belah pihak. Pesan adalah terjemah gagasan ke dalam kode
simbolik, seperti bahasa isyarat. Dalam hal ini pesan yang dimaksud adalah
bentuk komunikasi seperti informasi, saran atau pendapat.
Komunikasi interpersonal berpusat pada makna yang merupakan jantung
dari komunikasi. Makna adalah signifikansi yang diberikan pada fenomena.
Makna muncul dari interaksi dengan simbol. Sehingga satu komunikator dengan
komunikator lain bisa jadi berbeda dalam menangkap pesan yang dimaknai oleh
masing-masing pihak, karena hal ini juga berkaitan dengan faktor pengalaman
yang dimiliki oleh para komunikator.
G. Metodologi Penelitian
1. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian kali ini menggunakan jenis kualitatif. Kualitatif
ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa,
aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi dan pemikiran manusia
secara individu maupun kelompok. Penelitian kualitatif bersifat induktif.
Artinya, peneliti membiarkan permasalahan-permasalahan muncul dari
data atau dibiarkan terbuka untuk interpretasi. Data dihimpun dengan cara
pengamatan yang seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang
38
mendetail disertai catatan-catatan hasil wawancara yang mendalam, serta
hasil analisis dokumen lain (Ghony dan Almanshur, 2012: 13).
Ghony dan Almanshur juga menyebutkan bahwa penelitian
kualitatif memiliki dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan
mengungkap (to describe and explore); kedua, menggambarkan dan
menjelaskan (to describe and explain). Dengan jenis penelitian ini
nantinya akan menggambarkan bagaimana pola pemanfaatannya oleh
organisasi sosial GERKATIN Solo. Alasan menggunakan jenis penelitian
ini, karena sesuai dengan masalah yang dikaji serta agar bisa mengerti dan
memahami maksud yang disampaikan oleh informan.
Sedangkan
pendekatan
penilitian
ini
menggunakan
studi
fenomenologi. Istilah fenomenologi secara etimologis berasal dari kata
fenomenadan
logos.
Fenomena
berasal
dari
kata
kerja
Yunani
“phainesthai” yang berarti menampak, dan terbentuk dari akar kata
fantasi, fantom, dan fosfor yang artinya sinar atau cahaya. Dari kata itu
terbentuk kata kerja, tampak, terlihat karena bercahaya. Dalam bahasa kita
berarti cahaya. Secara harfiah fenomena diartikan sebagai gejala atau
sesuatu yang menampakkan.
Jika peneliti berupaya menggambarkan fenomena dari suatu
komunitas menurut pandangan mereka sendiri, maka tradisi yang sesuai
dengan penelitian ini adalah fenomenologi. Lebih lanjut dia mengatakan
bahwa fenomenologi menjadikan pengalaman hidup yang sesungguhnya
sebagai dasar dari realita. Dengan mengutip pendapat Richard E.Palmer,
39
Little John lebih jauh menjelaskan bahwa fenomenologi berarti
membiarkan segala sesuatu menjadi nyata sebagaimana aslinya, tanpa
memaksakan kategori-kategori peneliti terhadapnya (Kusworo, 2006:49).
Pendekatan fenomenologis mendeskripsikan pemaknaan umum
dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait
dengan konsep atau fenomena. Tujuan utama dari fenomenologi adalah
untuk merduksi pengalaman individu pada fenomena menjadi deskripsi
tentang esensi atau intisari universal (Creswell, 2015: 105).
2. Subyek Penelitian
Pemahaman mengenai berbagai macam sumber data merupakan
bagian yang sangat penting bagi peneliti. Ketepatan memilih dan
menentukan jenis sumber data akan menentukan ketepatan dan kekayaan
data atau informasi yang diperoleh.
Dari jenis data yang diperlukan untuk menjawab permasalahan
yang telah dirumuskan, jenis data tersebut diantaranya adalah sebagai
berikut (Sutopo, 2002: 49):
a. Data primer yang diperoleh langsung dari informan atau narasumber
dan tidak melalui perantara. Data atau informasi juga diperoleh melalui
pertanyaan tertulis dengan menggunakan kuesioner lisan dengan
menggunakan wawancara. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan
kepada anggota penyandang tuna rungu GERKATIN Solo yang
40
menggunakan Whatsapp untuk berkomunikasi secara interpersonal
dengan penyandang tuna rungu lain dalam satu organisasi.
b. Data sekunder merupakan data yang mendukung keabsahaan dari
penelitain ini. Yang menjadi sumber dari penelitian yang akan
dilakukan adalah segala dokumen yang berhubungan dengan
penggunaan Whatsapp sebagai sarana komunikasi interpersonal, dalam
hal ini anggota GERKATIN Solo. Selain itu peneliti juga mendapatkan
data melalui studi kepustakaan dan studi dokumentasi.
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di kota Solo tepatnya pada anggota (tuna
rungu) organisasi difabel yang terhimpun dalam GERKATIN Solo.
Gerkatin merupakan organisasi difabel nasional yang salah satu DPC nya
berada di Kota Solo. Negara-negara Asia-Afrika mengenal Solo sebagai
kota yang ramah difabel, sehingga anggota yang ada di dalamnya sangat
representatif untuk dijadikan sebagai subyek penelitian. Selain itu untuk
meningkatkan kepedulian pemerintah serta masyarakat terhadap masalah
sosial penyandang tunarungu dengan mengetahui bagaimana penggunaan
media baru, khususnya Whatsapp oleh anggota difabel GERKATIN Solo.
41
4. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh anggota yang terhimpun
dalam GERKATIN Solo. Adapun sampelnya adalah individu yang
memiliki aplikasi Whatsapp, terhubung dengan internet dan tergolong
aktif dalam intensitas penggunaan Whatsapp untuk berkomunikasi secara
interpersonal dengan anggota penyandang tuna rungu lain dan khalayak
umum lainnya.
Dalam hal ini peneliti memilih 7 informan. Tiga yang merupakan
pengurus sekaligus anggota GERKATIN dan 4 lainnya yang terdaftar
sebagai anggota resmi GERKATIN Solo. Adapun informan tersebut
adalah
ketua GERKATIN Solo Periode 2014-2019, pengurus bidang
SDM GERKATIN Solo‟, bendahara GERKATIN Solo, serta empat
anggota GERKATIN dalam grup Whatsapp yang paling aktif dalam grup
chatting, baik hanya sekedar share informasi atau mengomentari anggota
lain dalam grup. Adapun kriteria keaktifan ditentukan informan utama
sebagai ketua GERKATIN Solo.
Ke-tujuh informan tersebut dirasa paling unik dan menarik
dijadikan subyek penelitian dalam rangka menggali informasi yang
berkaitan
dengan
penggunaan
Whatsapp
sebagai
sarana
untuk
berkomunikasi secara interpersonal.
Dari ke tujuh sampel di atas peneliti menganggap sudah
representatif dalam mengungkap bagaimana penggunaan Whatsapp yang
dimanfaatkan oleh anggota penyandang tunarungu GERKATIN Solo.
42
Penelitian kualitatif besarnya sample tidak ditentukan berdasarkan
ketentuan mutlak, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.
5. Teknik Pengambilan Sampel
Dalam teknik pengambilan data, teknik yang dipilih oleh peneliti
adalah purposive sampling dan snowball sampling. Teknik purposive
sampling dilakukan dengan langsung menunjuk orang yang telah masuk
kriteria peneliti untuk dijadikan informan. Pertimbangan peneliti untuk
memilih informan utama dengan teknik purposive sampling yakni peneliti
memiliki keyakinan bahwa informan tersebut memiliki informasi yang
sangat banyak berkaitan dengan penggunaan Whatsapp oleh anggota
tunarungu GERKATIN Solo. Selain itu, pertimbangan selanjutnya adalah
informan sering bersinggungan atau berhubungan dengan para anggota
tunarungu GERKATIN Solo.
Dengan pertimbangan tersebut maka peneliti mengambil sampel
pertama yakni Ketua GERKATIN Solo. Ketua GERKATIN Solo tersebut
Bernama Aprillian Bima Purnanta (20) yang merupakan Mahasiswa FSRD
UNS. Sedangkan setelah menemukan informan utama, dilakukan teknik
sowball sampling yakni dengan menanyakan kepada informan tersebut
selanjutnya siap saja anggota GERKATIN Solo yang memenuhi kriteria
sebagai informan. Begitu selanjutnya sampai menemukan informan akhir
dalam penelitian ini.
43
Sampel kedua dilakukan dengan menggunakan teknik snow ball
sampling. Awalnya peneliti telah menunjuk Bima sebagai informan
pertama. Untuk selanjutnya peneliti meminta rekomendasi kepada
informan pertama intuk menunjuk informan kedua yang masuk ke dalam
kriteria penelitian ini.
Kemudian Aprillian Bima menunjuk Stefanus Indra Adi Kusuma
(26) sebagai informan kedua. Dan Stefanus Indra menunjuk Galih Saputro
(21) untuk menjadi informan ketiga. Keduanya merekomendasikan
Muhammad Effendy Dela Costa (15), Paulus Steven (18), Dwi Fahmi
(17), dan Apri Triyanto (18) sebagai informan selanjutnya. Kesemuanya
merupakan anggota tunarungu GERKATIN Solo.
6. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini hal yang terpenting adalah mengumpulkan
data dari hasil-hasil pengamatan yang didapatkan di lapangan, dan
menyusunnya agar memperoleh data. Penelitian ini menggunakan sumber
data secara lisan maupun tertulis sehingga teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Wawancara
Dalam penelitian kualitatif pada umumnya wawancara tidak
dilakukan secara terstruktur ketat. Wawancara dilakukan dengan
pertanyaan yang bersifat “open-ended”, dan mengarah pada kedalaman
informasi, serta dilakukan dengan cara yang tidak secara formal
44
terstruktur. Wawancara mendalam dapat dilakukan pada waktu dan
kondisi konteks yang dianggap paling tepat guna mendapatkan data
yang rinci, jujur dan mendalam (Sutopo, 2002: 58-59).
Dalam penelitian ini, teknik wawancara yang digunakan adalah
wawancara mendalam (depth interview). Sesuai dengan pengertiannya,
wawancara mendalam bersifat terbuka. Pelaksanaan wawancara tidak
hanya sekali atau dua kali, melainkan berulang-ulang dengan intensitas
yang tinggi (Bungin, 2001:62).
Berkaitan dengan para informan yang mengalami disabiltas,
berupa berkurang atau hilangnya kemampuan mendengar dan berbicara,
maka dalam wawancara, peneliti menggunakan bantuan translator
(penerjemah bahasa isyarat). Penerjemah dalam penelitian ini
merupakan salah satu volunteer yang tergabung dalam DVO (Deaf
Volunteer Organization) Solo. Adapun DVO merupakan organisasi
volunter berdiri sejak 5 Desember 2012 dan bergerak dalam ranah
advokasi para penyandang tunarungu wicara di Solo dan sekitarnya.
Dalam keberjalanan penelitian yang terbatas waktu dan
kemampuan peneliti dalam mendapatkan data lebih mendalam terkait
pemecahan masalah dalam penelitian ini, maka peneliti juga
menggunakan sarana whatsapp chat untuk wawancara dalam rangka
mendapatkan data tambahan dari para informan terkait.
Format umum dalam pengumpulan data online untuk penlitian
kualitatif mencakup data virtual dan wawancara berbasis web via e-
45
mail atau chat rooms berbasis-teks, weblog, dan life-journals (misalnya
catatan harian online), dan internet message board (Garcia dkk., dalam
Creswell, 2015: 221). Creswell menambahkan bahwa pengumpulan
data online memberikan fleksibilitas waktu dan ruang bagi para
partisipan yang memberikan waktu yang lebih longgar untuk
memikirkan dan merespon pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
kepada mereka.
Lebih lanjut, pengumpulan data online membantu menciptakan
lingkungan yang nyaman dan tidak mengancam, dan memberi
kemudahan bagi para partisipan untuk mendiskusikan isu-isu yang
sensitif (Nicholas dkk., dalam Creswell, 2015: 223). Yang lebih
penting, pengumpulan data online memberi alternatif bagi kelompok
yang sulit dijangkau (yang terkait dengan keterbatasan praktis,
kecacatan, ataua hambatan bahasa atau komunikasi) yang mungkin
tersingkir dari penelitian kualitatif (James & Busher, dalam Creswell,
2015: 223).
b. Dokumentasi
Dokumen beragam bentuknya, dari yang tertulis sederhana
sampai yang lebih lengkap, dan bahkan bisa berupa benda-benda lain
(Sutopo, 2002: 69). Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data
yaitu dengan cara melihat dokumen terkait, serta foto-foto dokumentasi
yang relevan dengan tema penelitian ini.
46
Dokumen meliputi beberapa company profile dari lembaga yang
berkaitan yakni GERKATIN Solo, baik yang berada di website
resminya
ataupun
yang
merupakan
dokumen
tulis
lembaga
bersangkutan. Sedangkan foto-foto dokumentasi berupa screenshoot
hasil chatting Whatsapp dari informan yang dipilih oleh peneliti.
7. Validitas Data
Keabsahan data merupakan konsep penting atas konsep kesahihan
(validitas) dan keandalan (reliabilitas), maka untuk menjamin validitas
data, dilakukan dengan teknik triangulasi data. Triangulasi merupakan
teknik
yang
didasari
pola
pikir
fenomenologi
yang
bersifat
multiperspektif. Artinya untuk menarik kesimpulan yang sesuai diperlukan
tidak hanya dari satu cara pandang. Dari bebebarapa cara pandang akan
bisa dipertimbangkan beragam fenomena yang muncul, dan selanjutnya
bisa ditarik simpulan yang lebih mantap dan bisa diterima kebenarannya.
(Sutopo, 2002: 79).
Teknik triangulasi sumber, berarti peneliti dalam memeriksa
keabsahan data dengan cara membandingkan informasi yang diperoleh
peneliti
dari
masing-masing
informan.
Apabila
masih
terjadi
ketidakcocokan jawaban, maka peneliti mengambil informasi dari
informan berikutnya.
Dalam hal ini peneliti mengecek derajat kepercayaan sumber
dengan hasil informasi dari wawancara yang dilakukan dengan beberapa
47
informan. Data wawancara yang didapatkan ketika peneliti melakukan
wawancara dengan para informan yaitu anggota GERKATIN Solo
kemudian dibandingkan dengan data dokumen yang didapat ketika
penelitian ini dilakukan.
8. Teknik Analisa Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan Interactive Model Analysis. Menurut Bogdan dan Biklen
(dalam Moleong, 1989) analisis data merupakan upaya yang dilakukan
dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahmilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari
dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang
dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan pada orang lain.
Menurut Miles & Huberman (1992:16-21) model analisis interaktif terdiri
dari tiga alur, yaitu:
a. Pengumpulan Data
Dalam hal ini peneliti menacatat hal-hal yang diperoleh pada
saat wawancara mendalam dengan pengurus serta anggota organisasi
GERKATIN Solo yang menggunakan Whatsapp. Serta mengumpulkan
dokumen yang berkaitan dengan pola pemanfaatan Whatsapp dalam
anggota organisasi tersebut untuk berkomunikasi.
Dalam hal pengumpulan data, peneliti memfokuskan rumusan
masalah pada penggunaan Whatsapp oleh anggota tunarungu
48
GERKATIN Solo dalam komunikasi interpersonal. Penggunaan yang
dimaksud adalah meliputi data-data yang berkaitan dengan bagaimana
pola dan proses tunarungu dalam berkomunikasi menggunakan
Whatsapp. Lingkup penggunaan dalam penelitian ini meliputi tujuan,
keuntungan dan kendala tunarungu dalam menggunakan Whatsapp,
selain itu ciri-ciri dan bentuk komunikasi interpersonal tunarungu
dalam penggunaan Whatsapp, bagaimana penggunaan simbol dalam
pesan teks Whatsapp serta gambaran miskomunikasi dan bagaimana
penanganannya.
b. Reduksi Data
Reduksi data merupakan komponen pertama dalam analisis yang
merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, dan abstraksi
data dari fieldnote (catatan lapangan). Data yang diperoleh melalui
wawancara tidak semuanya sesuai dengan data yang dibutuhkan,
sehingga peneliti kemudian mencari data yang cocok sesuai dengan
fokus penelitian. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan agar apa yang
disajikan sesuai dengan tujuan penelitian.
c. Sajian Data (Display data)
Sajian data merupakan rakitan organisasi informasi, deskripsi
dalam bentuk narasi yang memungkinkan simpulan penelitian dapat
dilakukan. Sajian data harus mengacu pada rumusan masalah yang
telah dirumuskan sebagai pertanyaan penelitian, sehingga narasi yang
tersaji merupakan deskripsi mengenai kondisi yang rinci untuk
49
menceritakan dan menjawab pertanyaan yang ada. Penyajian data
cenderung mengarah pada penyederhanaan data sehingga mudah
dipahami.
d. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan proses untuk merangkum
data-data yang telah direduksi ataupun yang telah disajikan. Dari awal
pengumpulan data, peneliti harus memahami makna berbagai hal yang
ia temukan dengan melakukan pencatatan peraturan-peraturan, polapola, pernyataan-pernyataan, konfigurasi yang mungkin, arahan
tentang sebab akibat dan berbagai proposisi.
Kesimpulan akhir tidak akan terjadi sampai pada waktu proses
pengumpulan data saja, akan tetapi perlu diverifikasi agar benar-benar
dapat dipertanggung jawabkan hasilnya. Sebelum melakukan inferensi,
peneliti harus mencari pola, hubungan persamaan, dan sebagainya
secara detail untuk kemudian dipelajari, dianalisis, dan kemudian
disimpulkan. Secara skematis proses analisis interaktif dari Miles &
Huberman ini dapat digambarkan dengan gambar berikut:
Gambar 1.3
Model Analisis Interaktif Miles dan Huberman
Sumber: Miles dan Huberman (1992: 20)
50
Dalam penelitian kualitatif, proses analisis dilakukan sejak awal
bersamaan dengan proses pengumpulan data. Atas dasar itu, data akhir dari
penelitian kualitatif sudah tidak lagi berupa data mentah karena sudah
melewati proses analisis yang berkelanjutan, menghasilkan beragam
informasi yang sudah teruji kedalaman serta kemantapannya.
Penjelasan pada gambar 1.3 di atas mengenai model analisis
interaktif Miles dan Huberman, peneliti tetap bergerak di antara tiga
komponen analisis dengan proses pengumpulan data selama kegiatan
pengumpulan data berlangsung. Kemudian setelah pengumpulan data
berakhir, peneliti bergerak di antara tiga komponen analisisnya dengan
menggunakan waktu yang masih tersisa bagi penelitiannya (Sutopo,
2002:119).
Lebih lanjut Sutopo (2002: 119-120) menerangkan bahwa dengan
melihat gambar tersebut maka prosesnya dapat dilihat secara jelas bahwa
pada waktu pengumpulan data, peneliti selalu membuat reduksi data dan
sajian data. Dari sajian data tersebut dilakukan penarikan simpulan
(sementara) dilanjutkan dengan verifikasinya. Bila simpulan dirasa kurang
mantap karena kurangnya rumusan data dalam reduksi maupun sajian
datanya, maka peneliti kembali melakukan kegiatan pengumpulan data
yang sudah berfokus untuk mencari pendukung simpulan yang telah
dikembangkannya dan juga sebagai usaha bagi pendalaman data. Dalam
keadaan ini tampak jelas bahwa penelitian kualitatif prosesnya selalu
berlangsung dalam bentuk siklus.
51
9. Analisis Data Dokumen
Dalama penelitian ini dokumen yang akan dianalisis meliputi dua
macam. Yang pertama adalah dokumen berupa company profile dari
GERKATIN Solo dan selanjutnya adalah dokumentasi foto (hasil
screenshoot chatting via Whatsapp).
Adapun analisis dokumentasi foto yakni peneliti ingin mengatahui
bagaimana penggunaan simbol-simbol berupa bahasa, emoticon dan avatar
yang digunakan oleh para informan. Serta alasan apa saja yang mendasari
para informan untuk menggunakan simbol-simbol tersebut dalam
menggunakan Whatsapp untuk berkomunikasi secara interpersonal dengan
orang lain, baik sesama tunarungu ataupun dengan orang normal
(hearing). Peneliti juga ingin mengetahui bagaimana pertemanan antara
para informan dengan orang lain dalam lingkup komunikasi interpersonal.
Serta tujuan mengapa para informan melakukan chatting (komunikasi
interpersonal) dengan orang lain di instant messenger tersebut.
Dan terakhir peneliti ingin menggali informasi dari para informan
terkait fitur-fitur apa saja dari Whatsapp yang mereka gunakan ketika
chatting dalam rangka memudahkan komunikasi interpersonal di antara
Download