BAB II KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, RERANGKA PEMIKIRAN DAN
HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
1.
Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manusia selalu berperan aktif dalam setiap organisasi, karena manusia
menjadi perencana, pelaku dan penentu terwujudnya tujuan organisasi.
Tujuan ini tidak mungkin tercapai tanpa peran aktif karyawan bagaimanapun
canggihnya alat-alat yang dimiliki tidak ada artinya bagi perusahaan jika
peranan aktif sumber daya yang satu ini tidak diikutsertakan, Bambang
Wahyudi (2007).
Manusia sebagai faktor-faktor penggerak yang vital dalam suatu
organisasi haruslah dikelola secara efektif dan efisien agar tujuan perusahaan
lebih mudah untuk dicapai. Akan tetapi posisi manusia harus ditempatkan
sebagai partner bagi perusahaan dan bukan semata hanya sebagai faktor
produksi.
Dalam mengelolah dan mengatur karyawan tidaklah mudah karena
manusia mempunyai pikiran, perasaan, status dan latar belakang yang
berbeda.
Karyawan tidak dapat diatur dan dikuasai sepenuhnya dengan
mudah, berbeda dengan mesin, modal gedung dan lain-lain.
8
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Jelasnya
9
manejemen Sumber Daya Manusia mengatur tenaga kerja yang dimiliki
organisasi yang sedemikian rupa sehingga dapat terwujud tujuan organisasi,
kepuasan karyawan dan masyarakat.
Disadari oleh para manajer dewasa ini, bahwa dalam mengelolah
sumber daya manusia adalah hal yang tidak mudah karena pada dasarnya
manusia bersifat unik, berbeda satu sama lain baik dalam kebutuhan,
keinginan, pemikiran dan perilaku.
untuk dapat
Disinilah timbulnya suatu tantangan
mengelolah dan mengkoordinasikan perbedaan dalam diri
manusia. Maka muncullah suatu ilmu mengenai manajemen sumber daya
manusia yang menitik beratkan pengkajiannya pada pengelolaan manusia
sebagai sumber daya serta berupaya mengkoordinasikan peroalan-persoalan
agar dapat menjalankan peran serta tugasnya secara baik serta dapat
memberikan sumbangan yang optimal bagi organisasi.
Pengertian manajemen banyak dikemukakan oleh para ahli dengan
berbagai definisi yang mempunyai ragam penekanan yang berbeda untuk
mengetahui lebih jelas mengenal Manajemen Sumber Daya Manusia. Berikut
ini penulis mengemukakan pendapat dari beberapa ahli mengenal definisi
Manajemen Sumber Daya Manusia.
Manajemen Sumber Daya Manusia memiliki peran penting untuk
memberdayakan, mengembangkan, dan mempertahankan karyawan dalam
perusahaan agar mampu memberikan kontribusi secara optimal terhadap
pencapaian tujuan perusahaan berdasarkan keahlian, pengetahuan, dan
http://digilib.mercubuana.ac.id/
10
kemampuan yang dimiliki. Seperti beberapa pengertian manajemen sumber
daya manusia dari beberapa ahli. Menurut Bambang Wahyudi (2007),
Sumber Daya Manusia adalah :
a.
Manajemen mengandung pengertian sederhana sebagai suatu proses
pencapaian tujuan yang dilakukan dengan menggunakan bantuan sumber
daya (orang lain) yang tersedia. Bagaimanapun bunyi definisi dari
manajemen secara prinsipharus mengandung tiga unsur pokok yaitu :
- Suatu proses
- Adanya sumber daya manusia
- Adanya tujuan.
b.
Sumber Daya Manusia (human resource) memiliki pengertian sebagai
berikut :
Secara makro, sumber daya manusia merupakan keseluruhan potensi
tenaga
kerja yang terdapat didalam suatu negara, jadi menggambarkan
jumlah
angkatan kerja dari suatu negara atau daerah. Secara mikro, sumber daya
manusia merupakan golongan masyarakat yang memenuhi kebutuhan
hidupnya dengan bekerja pada suatu unit kerja/organisasi baik pemerintah
maupun swasta, Bambang Wahyudi (2007).
http://digilib.mercubuana.ac.id/
11
Dengan demikian bahwa sumber daya manusia adalah salah satu
faktor utama yang dapat menunjang pencapaian tujaun organisasi. Seperti
yang yang di ungkapkan oleh “Edwin B. Flippo” dalam Bambang Wahyudi
(2007) sebagai berikut :“Manajemen sumber daya Manusia adalah merupakan
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan daripada
pengadaan,
pengembangan,
pemberian
balas
jasa,
pengintegrasian,
pemeliharaan dan pemisahan sumber daya manusia ke suatu titik akhir
dimana tujuan-tujuan perorangan dan masyarakat terpenuhi”.
Manajemen sumber daya manusia apabila dilaksanakan dengan baik
akan memberikan kontribusi yang besar dalam usaha mencapai sasaran
organisasi karena setiap perusahaan memerlukan sumber daya untuk
mencapai tujuannya, sumber daya manusia merupakan energi, tenaga,
kekuatan (power) yang diperlukan untuk menciptakan daya, gerakan,
aktivitas, dan tindakan.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
Manajemen Sumber Daya Manusia berkaitan dengan cara pengelolaan
sumber
daya
manusia
dalam
organisasi
dan
lingkungan
yang
mempengaruhinya agar mampu memberikan kontribusi yang optimal bagi
pencapaian tujuan organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini akan sangat
berguna bagi pihak PT. Astra Credit Companies cabang Kwitang, agar lebih
optimal mengelola sumber daya manusia sehingga tujuan organisasi dapat
tercapai.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
12
2.
Pengertian Beban kerja
Beban kerja merupakan suatu yang muncul dari interkasi antara
tuntutan tugas-tugas lingkungan kerja dimana digunakan sebagai tempat
kerja, keterampilan, dan persepsi dari pekerjaan. Beban kerja kadang-kadang
didefinisikan secara operasional pada factor-faktor seperti tuntutan tugas atau
upaya-upaya yang yang dilakukan untuk melakukan pekerjaan. Beban kerja
yang harus dilaksakan pegawai hendaknya merata, sehingga dapat
dihindarkan adanya seorang pegawai yang mempunyai beben kerja terlalu
banyak atau terlalu sedikit. Namun demikian beban kerja yang merata ini
tidak berarti bahwa setiap pegawai dalam organisasi tersebut harus tetap
sama beban kerjanya. Tarwaka (2011)
Sedangkan pendapat lain yang menyatakan pendapat beban kerja yang
menekankan kepada tuntutan tugas yang harus dikerjakan pegawai adalah
dalam buku Tarwaka Beban Kerja (workload) menurut Hart & Staveland
dalam, Tarwaka (2010) bahwa:
“Beban kerja merupakan suatu yang muncul dari interaksi antara
tuntutan tugas-tugas lingkungan kerja dimana digunakan sebagai tempat
kerja, keterampilan dan persepsi dari pekerja. Beban kerja kadang-kadang
didefinsikan secara operasional pada faktor-faktor seperti tuntutan tugas atau
upaya-upaya yang dilakukan untuk melakukan pekerjaan.
Beban kerja yang harus dilaksanakan pegawai hendaknya merata,
sehingga dapat dihindarkan adanya seorang pegawai yang mempunyai beban
http://digilib.mercubuana.ac.id/
13
kerja terlalu banyak atau terlalu sedikit. Namun demikian beban kerja yang
merata ini tidak berarti bahwa setiap pegawai dalam organisasi tersebut harus
tetap sama beban kerjanya.
Sejumlah target pekerjaan atau target hasil yang harus dicapai dalam
satuan waktu tertentu disebut dengan beban kerja. Sedangkan analisis beban
kerja adalah frekuensi rata-rata masing-masing jenis pekerjaan dalam jangka
waktu tertentu dari masing -masing organisasi, misalnya berapa banyaknya
pekerjaan kontrak atau dokumen lainnya yang harus dibuat oleh suatu satuan
organisasi dalam jangka waktu tertentu.
Analisis beban kerja mengidentifikasi baik jumlah pegawai maupun
tipe-tipe pegawai yang diperlukan untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
Langkah pertamanya adalah mengidentifikasi seberapa banyak keluaran
(output) yang hendak dicapai organisasi. Hal ini selanjutnya diterjemahkan ke
dalam jumlah jam kerja karyawan pada setiap kategori pekerjaan yang akan
diperlukan untuk mencapai tingkat keluaran (output) tersebut.
Apabila
keluaran (output) diperkirakan berubah, maka perubahan pekerjaan dapat
diramalkan dengan mengkalkulasi berapa banyak jam kerja karyawan yang
dibutuhkan.
Dari berbagai definisi diatas, dapat diambil kesimpulan, beban kerja
adalah jumlah pekerjaan yang harus diselesaikan oleh seseorang dalam
jangka waktu tertentu. Beban kerja dapat berupa beban fisik maupun mental
dapat dipandang dari sudut obyektif dan subyektif. Pengukuran waktu kerja
http://digilib.mercubuana.ac.id/
14
pada operasi tempat kerja disebut efisien atau tidak biasanya didasarkan atas
lamanya waktu untuk mengerjakan suatu pekerjaan, atau pelayanan.
Pernyataan khusus tentang jumlah waktu yang harus digunakan untuk
melaksanakan kegiatan tertentu dibawah kondisi kerja normal ini sering
disebut tenaga kerja standar.
Analisis beban kerja ini banyak digunakan diantaranya dapat
digunakan dalam penentuan kebutuhan pekerja (man power planning);
analisis ergonomic; analisis keselamatan dan kesehatan kerja (k3); hingga ke
perencanaan pengkajian sebagai berikut :
Gambar 2.1
Analisis Beban kerja
Beban Kerja
Beban kerja
fisik
Pengukuran
kerja
Beban kerja
mental
Beban kerja
fisik
Beban kerja
fisik
Pekerjaan
berulang
(repetitive)
Sumber : Analisis beban kerja
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Pekerjaan
non-repetitif
15
2.1
Dimensi Beban Kerja
Sedangkan menurut Tarwaka (2010) pengukuran kerja bisa dilakukan
melalui pengukuran kerja mental secara subjektif (Subjective Methode) salah
satunya menggunakan teknik Beban Kerja Subjectif dalam performasi kerja
manusia terdiri dari tiga (3) dimensi ukuran beban kerja yang dihubungkan
dengan performasi, yaitu :
1.
Beban waktu (time load) menunjukanjumlah waktu yang tersedia
dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring tugas atau kerja.
2.
Beban usaha mental (mental effort load) yaitu berarti banyaknya
usaha mental dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
3.
Beban
tekanan
Psikologis
(psychological
stress
load)
yang
menunjukan tingkat resiko pekerjaan, kebingungan, dan frustasi.
Berikut tabel skala/rating pengukuran beban kerja pegawai melalui
pengukuran dengan menggunakan dimensi skala rating.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
16
Tabel 2.1
Dimensi Skala Rating
1.
Beban waktu (Time Load)
1. Sering mempunyai waktu luang, interupsi, kelebihan aktivitas tidak sering terjadi
atau tidak sama sekali
2. Kadang-kadang mempunyai waktu luang, interupsi,atau overlap diantara aktivitas
tidak sering terjadi
3. Hampir tidak pernah ada waktu luang, overlap diantara aktivitas sering terjadi atau
terjadi pada semua waktu kerja.
2.
Beban Usaha Mental (mental effort load)
1. Sangat sedikit diperlukan usaha secara mental dengan penuh kesadaran atau sangat
sedikit diperlukan kosentrasi.
- Aktivitas hampir seluruhnya otomatis, memerlukan sedikti perhatian atau sama
sekali tidak ada perhatian
2. Cukup diperlukan usaha secara mental dengan kesadaran atau diperlukan cukup
kosentrasi.
-Kompleksitas pekerjaan adalah cukup tinggi akibat ketidak pastian (uncertainty),
ketidak persahabatan (Unfamiliarty) hal yang tidak dapat diprediksi
(unpredictability).
-Diberikan suatu pertimbangan untuk diberikan perhatian.
3. Sangat diperlukan usaha mental dan konsentrasi tinggi.
3.
Beban tekanan Psikologis (psychological stress load)
1. Sedikit kebingungan, resiko, prustasi, kegelisahan, atau dengan secara mudah
diakomodasikan
2. Stress dengan tingkat sedang akibat kebingungan, resiko, frustasi, kegelisahan,
sebagai beban tambahan.
-Diperlukan kompensasi secara signifikan untuk
yang baik .
mempertahankan performasi
3. Stress dengan tingkat tinggi akibat kebingungan, resiko, frustasi atau kegelisahan.
- Diperlukan determinasi dan pengendalian diri yang tinggi
Sumber : Tarwaka, 2010,Dasar Pengetahuan Ergonom &Aplikasi Di Tempat Kerja
http://digilib.mercubuana.ac.id/
17
Berdasarkan uraian mengenai beban kerja serta metode pengukuran
dari “Tarwaka tersebut diatas maka dalam penelitian ini penulis akan
memfokuskan penelitian mengenai kriteria dari Beban waktu (time load), hal
ini dikarenakan untuk melihat sejauhmana beban kerja yang diberikan
pimpinan terhadap jumlah jam kerja yang efektit dalam menyelesaikan tugas
pekerjaannya. Karena seringkali bahwa kekurangan waktu kerja akan
berdampak pada penambahan jam kerja diluar jam kerja bahkan diluar hari
kerja, sedangkan kelebihan jam kerja akan berdampak pula pada banyaknya
pegawai yang mengganggur pada saat jam kerja aktif, hal tersebut akan
banyak waktu yang terbuang dengan sia-sia yang seharusnya digunakan
untuk menyelesaikan pekerjaan
Alasan lain kurang memfokuskan kepada dua indikator lainya yaitu
Beban Usaha Mental (mental effort load) dan Beban tekanan Psikologis
(psychological stress load) karena kedua indikator tersebut cenderung lebih
bersifat kepada keadaan masing-masing pegawai bukan secara kebutuhan
organisasi. Oleh karena itu peneliti cenderung memfokuskan kepada
penggunaan beban waktu yang berkaitan dengan beban kerja pegawai
dilingkungan PT.ACC.
Selanjutnya komplesitas hubungan antara beban kerja, performasi
tugas, dan beban tugas dapat merujuk pada pendapat “De Waard dalam,
Tarwaka (2010) seperti ;
http://digilib.mercubuana.ac.id/
18
1.
Kinerja yang Optimal (optimal performance). Pada saat tuntutan tugas
dalam keadaan sedang maka pegawai akan mampu melaksanakan
tugas secara mudah dengan beban kerja dan kinerja tetap pada tingkat
optimal. Peningkatan tuntuan tugas yang tidak terlalu besar tidak
menyebabkan
signifikan
pada
pengaruh
kognitif
dan
tidak
mempengaruhi kinerja. Jika terjadi kesalahan atau error pada
pekerjaan maka hal tersebut akan menyebabkan beban kerja kognitif
atau beban fisik maupun beban secara mental.
2.
Peningkatan permintaan beban Kerja (increased workload demand).
Jika tuntutan tugas meningkat waktu luang kerja akan terbatas.
Peningkatan pegawai yang mengalami gangguan kesehatan akan lebih
besar pada saat kondisi kerja sebagai penyebab meningkatnya beban
kerja tidak dikendalikan.
Dengan peningkatan lebih lanjut pada
tuntutan tugas maka kinerja akan mengalami penurunan. Dan pegawai
secara individu tidak cukup mempunyai sumber daya secara mental
untuk dapat mengatasi keadaan tersebut tanpa adanya strategi
perbaikan kerja.
3.
Penurunan permintaan beban kerja (decreased task demand). Ini
Kebalikan dari beban kerja tinggi, jika penurunan tuntutan tugas
pegawai terjadi dan pegawai tidak mampu menyediakan sumber daya
mental yang yang cukup maka kinerja akan mengalami penurunan.
Jika hal tersebut terjadi maka kesalahan atau error akan menjadi
merata pada kinerja yang paling rendah. Dalam kondisi demikian
http://digilib.mercubuana.ac.id/
19
pegawai akan kehilangan kinerja dan akan terjadi banyak kesalahan
sebagai akibat rendahnya tingkat vigillance, Vigillance dalam arti
kemampuan seseorang untuk tetap waspada/fokus terhadap tugas
pekerjaan, Tarwaka (2010).
2.2
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja
Selain adanya dimensi-dimensi beban kerja, juga terdapat faktor
faktor yang mempengaruhi beban kerja pegawai seperti yang diungkapkan
oleh Manuaba dalam, Tarwaka (2010) menyatakan bahwa beban kerja
dipengaruhi faktor – faktor sebagai berikut :
a.
Faktor eksternal yaitu beban yang berasal dari luar tubuh pekerja,
seperti ;
- Tugas-tugas yang dilakukan yang bersifat fisik seperti tata ruang,
tempat kerja, alat
dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja,
sedangkan tugas - ugas yang bersikap mental seperti kompleksitas
pekerjaan, tingkat kesulitan pekerjaan, tanggung jawab pekerjaan.
- Organisasi kerja seperti lamanya waktu kerja, waktu istirahat, kerja
bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, model struktur organisasi,
pelimpahan tugas dan wewenang.
- Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik, lingkungan
kimiawi, lingkungan kerja biologis dan lingkungann kerja psikologis.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
20
b.
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri
akibat dari reaksi beban kerja eksternal. Reaksi tubuh disebut Strain ,
berat ringannya strain dapat dinilai baik secara obyektif maupun
subyektif. Faktor internal meliputi faktor somatis (jenis kelamin,
umur, ukuran tubuh, status gizi, kondisi kesehatan), faktor psikis
(motivasi, persepsi, kepercayaan, keinginan dan kepentingan.
2.3
Pengaruh Beban Kerja Terhadap Produktivitas Kerja
Beban kerja akan mempengaruhi produktivitas kerja karyawan hal ini
seperti di kemukakan oleh Sudiharto (2006) Beban kerja merupakan salah
satu unsur yang harus diperhatikan bagi seorang tenaga kerja untuk
mendapatkan keserasian dan produktivitas kerja yang tinggi selain unsure
beban tambahan akibat lingkungan kerja. Yang di kekukakan Sudiharto dapat
disimpulakn bahwa perlu sekali perusahaan memperhatikan setiap beban
kerja karyawannya agar para karyawan mendapatkan produktivitas kerja dan
bisa memajukan perusahaan itu sendiri
3.
Pengertian Stress Kerja
Dalam menjalankan pekerjaan seorang pekerja dapat mengalami
stress kerja. Beban kerja yang berlebihan serta waktu mengakibatkan
karyawan menjadi stress. Greenberg dalam Kristanto mendefinisikan stress
kerja sebagai kombinasi antara sumber-sumber stress pada pekerjaan,
karakteristik individual,dan stresor organisas di luar organisasi. David dan
Newstrom mendefinisikan stress kerja sebagai suatu kondisi yang
http://digilib.mercubuana.ac.id/
21
mempengaruhi emosi, proses pikiran, dan kondisi fisik seseorang sementara,
Robbins (2007) mendefinisikan stress kerja sebagai kondisi yang dinamis
dimana seorang dikonforrasikan dengan kesempatan, hambatan, atau tuntutan
yang berhubungan dengan apa yang diinginkannya dan untuk itu
keberhasilannya ternyata tidak pasti.
Pengaruh stress kerja tidak selalu negatif atau dengan kata lain stress
kerja juga dapat memberikan dampak yang menguntungkan bagi perusahaan.
Pada taraf tress tertentu stress diharapkan dapat memacu karyawan untuk
dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Pekerjaan yang
berada dalam kondisi stress kerja akan menunjukan perubahan perilaku.
Perubahan tersebut terjadi sebagai bentuk usaha mengatasi stress kerja yang
dialami. Robbins membagi tiga jenis konsekuensi yang ditimbulkan oleh
stress kerja.
1. Gejala fisiologis
Stress menciptakan penyakit-penyakit dalam tubuh yang ditandai
dengan peningkatan teanan darah, sakit kepala, jantung berdebar,
bahkan hingga sakit jantung.
2. Gejala psikologis
Gejala yang ditunjukkan adalah ketegangan, kecemasan, mudah
marah, kebosanan, suka menunda dan lain sebagainya. Keadaan stress
seperti ini dapat memacu ketidakpuasaan.
3. Gejala prilaku
http://digilib.mercubuana.ac.id/
22
Stress yang dikatkan dengan perilaku dapat mencangkup dalam
perubahan dalam produktifitas, absensi, dan tingkat keluarnya
karyawan. Dampak lain yang ditimbulkan adalah perubahan dalam
kebiasaan sehari-hari seperti makan, konsumsi alkohol, ganguan tidur
dan lainnya.
Berdasarkan pengertian yang diungkapkan diatas maka dapat ditarik
sebuah kesimpulan bahwa stress
kerja merupakan suatu kondisi dimana
seorang karyawan mengalami ganguan psikologis maupun fisik dalam
menghadapi suatu permasalahan
atau pekerjaan yang berakibat merusak
kinerja karyawan pada tingkat stress yang tinggi namun, pada tingkat tertentu
dapat meningkatkan kinerja karyawan. Pada prakteknya jika stress yang
dialami oleh karyawan tidak segera teratasi maka berdampak buruk terhadap
karyawan tersebut. Karyawan yang berada dalam kondisi stress akan memicu
terjadinya burn out yang merupakan kondisi awal kemunculan kelelahan
emosional.
3.1
Sumber-Sumber Stress Kerja
Kebeadaan stress kerja yang dialami oleh karyawan tentu saja tidak
dapat dipisahkan dari sumber-sumber penyebab stress kerja tersebut. Robbins
(2007 ) menyatakan sumber-sumber stress kerja yang dialami oleh seorang
karyawan setidaknya ada 3 (tiga) seperti :
http://digilib.mercubuana.ac.id/
23
a. Tuntutan tugas, Merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan
seseorang. Faktor ini mencangkup desain pekerjaan individual itu
(otonomi,keragaman tugas,tinggak otomatisasi), kondisi kerja, dan
tata letak fisik. Makin banyak kesaling-tergantungan antara tugas
seseorang dengan tugas orang lain, maka makin potensial untuk
terjadi stress. Pekerjaan dimana suhu, kebisingan, atau kondisi kerja
yang berbahaya dan sangat tidak diinginkan dapat menimbulkan
kecemasan. Demikian juga bekerja dalam suatu kamar yang berjubel
atau dalam lokasi yang dimana terjadi ganguan terus menerus. Secara
lebih spesifik, tuntutan masih dipengauhi oleh beberapa variabel yang
meliputi :
1. Ketersediaan sistem informasi
2. Kelancaran pekerjaan
3. Wewenang untuk melaksakan pekerjaan
4. Peralatan yang digunakan dalam menunjang pekerjaan
5.
Banyaknya pekerjaan yang harus dilaksanakan.
b. Tuntutan peran, yaitu stress kerja yang berhubungan dengan tekanan
yang diberikan pada seseorang sebagai suatu fungsi dari peran tertentu
yang dimainkan dalam organisasi tertentu. Konflik peran menciptakan
dengan harapan-harapan yang hampir pasti tidak dapat diwujudkan
atau dipuaskan. Jika hal sampai terjadi pada karyawan maka dapat
http://digilib.mercubuana.ac.id/
24
dipastikan karyawan akan mengalami ketidakjelasan mengenai apa
yang harus dikerjakan. Yang meliputi variabel tersebut terdiri dari :
1. Kesiapan karyawan dalam melaksanakan tugas atau
pekerjaan.
2. Perbedaan antara atasan dengan karyawan berkaitan
dengan tugas yang harus dilaksanakan.
3. Keterbatasan waktu dalam melaksanakan pekerjaan.
4. Beban pekerjaan yang berat.
c. Tuntutan pribadi, yaitu stress kerja yang
dengan tekanan yang
diciptakan oleh karyawan lain. Kurangnya dukungan sosial dari
rekan-rekan kerja dan hubungan antar pribadi yang buruk dapat
menimbulkan stress yang cukup besar, terutama diantara karyawan
dengan kebutuhan sosial yang tinggi. Yang
meliputi variaberl
tersebut terdiri dari :
1. Hubungan dengan supervisordan sesama karyawan
2. Hubungan dengan keluarga
3. Hubungan yang dilakukan supervisor (atasan)
4. Keahlian pengawas dalam mengatasi masalah.
3.2
Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Stres Kerja
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stres kerja disebut juga
sebagai sumber stres atau stressor. Sumber stress kerja atau diebut sebagai
http://digilib.mercubuana.ac.id/
25
stressor adalah “suatu kondisi,situasi atau peristiwa yang dapat menyebabkan
stres”. Menurut Wijono (2010) sumber stres dikelompokkan menjadi dua
yaitu:
1. Faktor-faktor pekerjaan
Sumber tres yang disebabkan karena faktor-faktor pekerjaan yang
dimaksud adalah sebagai permasalahan yang terjadi dalam
pekerjaan individu tersebut, mulai dari tuntutan pekerjaan, kondisi
ruangan, waktu bekerja dan lainnya.
Ada lima faktor yang
menyebabkan stress dalam organisasi, yaitu:
a) Faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang
individu, yang dimaksudkan disini adalah tugas utama yang
dijalani individu yang berperan sebagai sumber stres kerja.
b). Stres peran, adalah bagaimana individu memahami perannya
dan penyesuaian diri atas perannya tersebut.
c). Peluang partisipasi, adanya partisipsi dari diri individu untuk
ikut serta dalam mengenalikan lingkungan kerjanya seperti
partisipasi dalam pengambilan keputusan memiliki korelasi atau
hubungan dengan stres individu.
d). Tanggung jawab, faktor ini menunjukan bagaimana tanggung
jawab yang dimiliki oleh individu terhadap pekerjaan dapat
mempengaruhi stres kerja.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
26
e). Faktor-faktor organisasi, faktor ini menunjukkan bahwa
dengan adanya organisasi tersebutjuga dapat menimbulkan stres
pada individu.
2.
Faktor-faktor di luar pekerjaan
a). Perubahan-perubahn struktur kehidupan, merupakan peristiwaperistiwa kehidupan yang dialami individu seperti penggertian
suami atau istri, percraian dan hal yang lainnya yang dapat
mempengaruhi dan menyebabkan stres pada individu.
b). Dukungan sosial, merupakan bagaimana lingkunag social
memberikan dukungan dan adanya komunikasi yang positif
terhadap individu.
c). Locus of control,
merupakan bagaimana individu tersebut
memiliki
bahwa
keyakinan
mereka
dapat
mempengaruhi
lingkungan kerja.
d). Kepribadian individu, kepribadian yang dimaksudkan disini
adalah kepribadian tipe A dan Tipe B atau introvert dan ekstrovert
yang masing-masing memiliki cara yang berbeda dalam
menghadapi setiap permasalahan yang dialami dilingkungan kerja
individu.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
27
e). Harga diri, yang dimaksud adalah ketika individu mengahapi
tuntutan-tuntutan pekerjaan apakah dia merasa mampu dan
memiliki kemampuan untuk mengatasinya atau tidak.
f). Fleksibilitas, bagaiman individu menyesuaikan diri dengan
tuntutan pekerjaannya.
g). Kemampuan,
adalah
suatu
aspek
yang
juga
dapat
mempengaruhi individu dalam memberikan respon terhadap
situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan kerjanya.
3.3
Pengaruh Stres Kerja Terhadap Produktivitas Kerja
Robbin dan Judge (2008) stress kerja dengan tingkat tertentu akan
menstimulasi tubuh untuk dapat meningkatkan kemampuannya untuk beraksi.
Karyawan atau individu kemudian sering melakukan tugas merka dengan
lebih baik, lebih intensif, atau lebih cepat. Stres kerja dengan kata lain pada
taraf tertentu akan mampu meningkatkan produktivitas karyawan namun bila
dibiarkan berlarut dapat menurunkan tingkat produktivitas kerja. Sedangkan
menurut Ardana (2009) menyatakan bahwa salah satu alasan mengapa stress
perlu untuk dipahami adalah stes hubungan erat dengan produktivitas.
Karyawan yang mengalami stress kerja tidak dapat bekerja secara optimal
http://digilib.mercubuana.ac.id/
28
sehingga akan memberikan dampak yang negative pada hasil kerjanya
dengan kata lain karyawan tidak dapat mengoptimalkan hasil kerjanya.
2.
PengertianProduktivitas Kerja
Menurut Ilmu Ekonomi, Nasution (2010) produktivitas adalah
nisbah atau rasio antara hasil kegiatan (output/keluaran) dengan segala
pengobanan/biaya untuk mewujudkan hasil (input/masukan).
Adapun hubungan di antara jumlah produk yang diproduksi dan
jumlah sumber daya yang diperlukan. Sedangkan menurut Rome
Conference European Productivity Agency tahun 1958 dalam buku (
Ahmad Tohardi,2005 ) menyebutkan bahwa:
a.
Produktivas adalah derajat efisiensi dan efektivitas dari pengguna
elemen produksi.
b.
Di atas semua, produktivitas sikap mental yang selalu mencari
perbaikan apa yang telah ada.
Suatu keyakinan bahwa seseoranng
dapat melakukan pekerjaaan lebih baik hari ini dari pada hari kemarin
dan hari esok lebih baik dari pada hari ini. Selanjutnya produktivitas
adalah sikap mental yang mementingkan usaha yang terus menerus
untuk menyesuaikan aktivitas ekonomi terhadap kondisi
yang
berubah.
c.
Produksi dan produktivitas merupakan dua pengertian yang berbeda.
Peningkatan produksi menunjukkan pertambahan jumlah hasil yang
http://digilib.mercubuana.ac.id/
29
dicapai, sedangkan peningkatan produktivitas mengandung pengertian
pertambahan hasil dan perbaikan cara produksi. Peningkatan produksi
tidak selalu diisebabkan oleh peningkatan produktivitas, karena
produksi dapat saja meningkat walaupun produktivitasnya tetap
menurun.
Sedangkan menurut
Payman J Simanjuntak (2009) produktivitas
merupakan perbandingan antara hasil yang dicapai (keluaran) dengan
keseluruhan sumber daya (masukan) yang terdiri dari beberapa faktor, sumber
daya manusia yang merupakan sasaran strategis karena peningkatan
produktivitas tergantung pada kemampuan tenaga manusia. Adapun cara
pengukuran produktivitas secara umum dengan rumus :
Produktivitas = Output / Input
Dari rumus tersebut dapat disimpulkan bahwa perbaikan produktivitas hanya
terjadi jika :

Output naik dan input turun

Output naik dan input tetap

Output naik dan input naik dengan kenaikan output lebih besar dari
kenaikan input

Output tetap dan input turun

Output turun dan input turun dengan penurunan input lebih besar dari
penurunan output.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
30
Untuk lebih lengkap dan dapat digunakan sebagai perbandingan untuk
memahami produktivitas ini, kita lihat isi piagam Produktivitas Oslo tahun
1984 yang berbunyi :
a.
Produktivitas adalah konsep yang universal, dimaksudkan untuk
menyediakan semakin banyak barang dan jasa untuk kebutuhan
semakin banyak orang dengan menggunakan sedikit mungkin sumber
daya. Produktivitas didasarkan pada pendekatan multidisipliner yang
secara efektif merumuskan tujuan, rencana, pemgembangan dan
pelaksanaan cara-cara yang produktif dengan mengunakan sumber
daya secara efisien namun tetap mempertahankan kualitas.
b.
Produktivitas berbeda di masing-masing Negara, sesuai dengan
kondisi, potensi, dan kekurangan, serta harapan-harapan yang di
miliki oleh. Negara-negara yang bersangkutan dalam jangka pendek
dan jangka panjang, namun masing-masing Negara dapat mempunyai
kesamaan dalam pelaksanaan, pendidikan, pelayanan masyarakat dan
komunikasi.
4.1
Sumber-Sumber Produktivitas Kerja
Sumber produktivitas kerja adalah manusia sebagai tenaga kerja,
baik secara individual maupun secara kelompok, yang sepenuhnya
terarah pada upaya mencari cara yang memungkinkan manusia
http://digilib.mercubuana.ac.id/
31
meningkatkan produktivitasnya dalam bekerja, terutama berkenaan
dengan peningkatan kualitas dalam melaksakan pekerjaanya. Sumber
produktivitas kerja tersebut adalah :
a. Penggunaan pikiran
Produktivitas kerja dikatakan tinggi jika untuk memperoleh hasil
yang maksimal dipergunakan cara kerja yang paling mudah,
dalam arti tidak memerlukan banyak pikiran yang rumit dan sulit.
b. Penggunaan tenaga jasmani/fisik
Produktivitas kerja dikatakan tinggi bilamana dalam mengerjakan
sesuatu diperoleh hasil yang jumlanya terbanyak dan mutunya
terbaik.
c. Penggunaan waktu
Produktivitas dari segi waktu, berkenaan dengan cepat atau
lambatnya mecapai suatu hasil dalam bekerja.
d. Penggunaan ruangan
Suatu pekerjaan dikatakan produktif bila menggunakan ruang
yang luasnya wajar, sehingga tidak memerlukan mobilitas yang
jauh.
e. Penggunaan material/bahan dan uang
Suatu
pekerjaan
dikatakan
produktif,
jika
penggunaan
material/bahan baku dan peralatan lainnya tidak terlalu banyak
yang terbuang dan harganya tidak terlalu mahal, tanpa mengurangi
http://digilib.mercubuana.ac.id/
32
mutu hasil yang dicapai, dan pekerjaan tersebut dikatakan hemat
(Sedarmayanti,2004).
4.2
Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja
Terdapat beberapa factor lain yang mempengaruhi produktivitas kerja
karyawan antara lain sebagai berikut :
1.
Kuantitatif Kerja
Kuantitatis kerja merupakan hasil kerja karyawan dalam suatu organisasi atau
perusahaan yang diukur melalui seberapa banyak jumlah produk atau jasa
yang dihasilkan.
2.
Kualitatif Kerja
Kualitas kerja yang merupakan penilaian atau pengukuran hasil kerja yang
tidak hanyak dilihat dari besaran jumlah namun dari segi mutu atau kualitas
produk manapun jasa yang dihasilkan.
3.
Waktu Kerja atau Kedisiplinan
Waktu kerja atau kedisiplinan dapat dilihat dari sejauh mana karyawan
berupaya untuk selalu mematuhi dan mentaati kesepakatan atau ketentuan
yang telah disepakati bersama, semakin tinggi tingkat kedisiplinan karyawan
maka akan lebih banyak pekerjaan atau produk yang diselesaikan.
4.
Inisiatif
Semakin tinggi tingkat inisiatif seorang karyawan aka mempercepat atau
meningkan produktifitas kerja karyawan.
Karyawan akan lebih banyak
http://digilib.mercubuana.ac.id/
33
memiliki cara yang beragam untuk menyelesaikan pekerjaannya bahkan
untuk pekerjaan baru sekalipun.
5.
Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja yang baik akan selalu memberikan motifasi karyawan agar
senang bekerja menuju produktifitas kerja guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.
6.
F
asilitas Kerja
Apaila fasilitas yang digunakan mendukung maka akan memungkinkan
ketepatan dalam memproses suatu pekerjaan akan lebih cepat dan bermutu.
7.
T
ekanan Kerja
Tekan
kerja
ini
dapat
mengakibatkan
karyawan
mengalami
ketidakstabilan dalam mengendalikan dirinya sendiri sehingga dapat
mengakibtakan produktifitas menurun.
8.
T
ingkat Penghasilan
Apabila tingkat penghasilan memadai maka dapat menimbulkan
konsentrasi kerja dan kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan produktivitas.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
34
5. PENELITIAN TERDAHULU
“Beban kerja merupakan salah satu unsur yang harus diperhatikan
bagi seorang tenaga kerja untuk mendapatkan keserasian dan produktivitas
kerja yang tinggi selain unsur beban tambahan akibat lingkungan kerja dan
stres kerja”. Ada beberapa penemuan penelitian terdahulu yang berkaitan
dengan judul penulis seperti :
Tabel 2.2
Hasil Penelitian Terdahulu
No.
1
Penulis
Novera (2010)
Judul
Analisis
Beban
Kesimpulan
Kerja
dan
Kebutuhan Karyawan Bagian
Beban kerja yang dimiliki bagian
administrasi yang berlebihan
Administrasi
2
3
Dwi
Pengaruh
Stres
Puspita Sari
terhadap
Produktivitas
(2007)
Kerja Karyawan
kerja terhadap produktifitas kerja
Pengaruh Stres kerjaan Beban
Adanya pengaruh besar stress dan
Kerja Terhadap kinerja Kerja
beban kerja terhadap produktifitas kerja
Dhini
Eka
Rama
Dhania (2010)
Kerja
Adanya
pengaruh
positif dan
signifikan antar pengaruh stress
Sumber : Kumpulan tesis dan jurnal 2005-2012
Simpulan yang di dapat dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa
faktor-faktor karakteristik pekerjaan yang meliputi beban dan stress kerja
secara bersama-sama terbukti mempunyai pengaruh yang bermakna terhadap
produktivitas kerja karyawan .
http://digilib.mercubuana.ac.id/
35
B.
RERANGKA PEMIKIRAN
Menurut Sekaran Sugiyono (2011) mengemukakan bahwa “Kerangka
berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan
dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai hal yang penting jadi
dengan demikian maka kerangka berpikir adalah sebuah pemahaman yang
melandasi pemahaman-pemahaman yang lainnya, sebuah pemahaman yang
paling mendasar dan menjadi pondasi bagi setiap pemikiran atau suatu bentuk
proses dari keseluruhan dari penelitian yang akan dilakukan.”
Gambar 2.2
Rerangka Pemikiran
Beban Kerja
Produkivitas Kerja
(variabel X1)
(variabel Y)
1. Kerja Fisik
2. Kerja Mental
3. Pengukuran Kerja
Stres Kerja
(variabel X2)
H2
1. Kuantitatif
2. Kualitatif
3. Waktu &
Kedisiplinan
4. Inisiatif
5. Linkungan
6. Fasilitas
7. Tekanan
8. Tingkat penghasilan
H3
1. Pekerjaan
2. Di luar pekerjaan
3. Pribadi
H1
http://digilib.mercubuana.ac.id/
36
“Pengaruh Beban Kerja dan Stress Kerja Terhadap Produktivitas kerja
Karyawan PT. Astra Credit Companies
A. HIPOTESIS
Pengertian Hipotesis Penelitian Menurut Sugiyono (2009), hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana
rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
Dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada
teori. Hipotesis dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan
jawaban sementara atas masalah yang dirumuskan.
H1:
Beban kerja dan stress kerja berpengaruh terhadap produktifitas kerja
karyawan
H2:
Beban kerja berpengaruh terhadap produktifitas kerja karyawan.
H3 : Stres kerja berpengaruh terhadap produktifitas kerja karyawan.
http://digilib.mercubuana.ac.id/
Download