Konsumsi Minyak Sawit Mentah Meningkatkan Kadar Protein CD4

advertisement
5
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Minyak Sawit Mentah
CPO (crude palm oil) atau lebih dikenal dengan minyak sawit mentah
(MSMn) diperoleh dari bagian mesokarp buah kelapa sawit (SNI 2006). MSMn
didapatkan setelah melalui beberapa tahapan proses, yaitu perebusan, perontokan,
pelumatan, ekstraksi dan purifikasi (Yuliawan 1997). Proses perebusan buah sawit
bertujuan untuk menghentikan aktivitas enzim lipase, memudahkan pelepasan
buah dari tandan dan inti dari cangkang serta memperlunak buah sawit sehingga
dapat memudahkan proses ekstraksi. Buah yang sudah direbus kemudian
dirontokkan dari tandannya dan dipisahkan bagian intinya. Selanjutnya dilakukan
pelumatan untuk memudahkan proses ekstraksi. Ekstraksi dapat dilakukan dengan
bermacam cara, diantaranya dengan pengepresan mekanik, ekstraksi dengan
pelarut ataupun menggunakan Supercritical Fluid Extraction (Muchtadi 1992).
Tahapan selanjutnya yaitu dilakukan purifikasi atau pemurnian yang bertujan
untuk memisahkan minyak sawit dari bahan-bahan pengotor (sisa tandan, air atau
pasir) (Yuliawan 1997).
Minyak sawit mentah terdiri dari komponen trigliserida, digliserida,
monogliserida, asam lemak bebas, dan komponen minor. Trigliserida merupakan
komponen yang terdapat dalam jumlah besar pada minyak sawit, yaitu sekitar
95%. Trigliserida dalam minyak sawit mengandung asam lemak jenuh dan tidak
jenuh dengan komposisi yang berimbang. Asam lemak jenuh meliputi asam laurat
(C12:0), asam miristat (C14:0), asam palmitat (C16:0), dan asam stearat (C18:0),
sedangkan asam lemak tidak jenuhnya meliputi asam oleat (C18:1), asam linoleat
(C18:2), dan asam linolenat (C18:3). Pada Tabel 1 dapat dilihat komposisi asam
lemak yang terdapat dalam CPO. Asam lemak dalam minyak sawit juga dapat
dibedakan menjadi asam lemak esensial dan asam lemak non-esensial. Asam
lemak esensial adalah asam lemak yang tidak dapat disintesis dalam tubuh, yakni
linoleat (omega-6) dan linolenat (omega-3), sedangkan asam lemak yang dapat
disintesis oleh tubuh disebut asam lemak non-esensial. Dengan demikian, minyak
sawit didominasi oleh asam lemak non-esensial dan hanya mengandung asam
lemak esensial dalam jumlah kecil (Sundram et al. 2003).
6
Tabel 1 Komposisi asam lemak MSMn
Asam Lemak
Atom C
Asam laurat
C12:0
Asam miristat
C14:0
Asam palmitat
C16:0
Asam palmitoleat
C16:1
Asam stearat
C18:0
Asam oleat
C18:1
Asam linoleat
C18:2
Asam linolenat
C18:3
Asam arakidat
C20:0
Sumber: Sundram et al. 2003
Komposisi (%)
0-1
0,9-1,5
39,2-45,8
0-0,4
3,7-5,1
37,4-44,1
8,7-12,5
0-0,6
0-0,4
Menurut Ketaren (2005), wujud minyak dan lemak tergantung komposisi
asam lemak penyusunnya. Minyak yang berwujud padat pada suhu kamar karena
banyak mengandung asam lemak jenuh, misalnya asam palmitat dan stearat yang
mempunyai titik cair tinggi pada suhu kamar. Minyak kelapa sawit adalah lemak
semi padat yang mempunyai komposisi yang tetap. Kandungan asam palmitat
yang tinggi membuat minyak sawit mentah lebih tahan terhadap oksidasi
(ketengikan) bila dibandingkan dengan jenis minyak yang lain.
Komponen non-gliserida yang terkandung di dalam minyak sawit
diantaranya asam lemak bebas, cemaran logam, air, dan komponen minor.
Kandungan komponen minor dalam minyak sawit mentah sebesar ± 1 %.
Komponen minor tersebut diantaranya karotenoid, tokoferol, tokotrienol, sterol,
fosfolipid, skualen dan tripterpenil dan hidrokarbon alifatik (Nagendran et al.
2000). Komponen minor senyawa-senyawa yang terkandung dalam CPO dapat
dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Komponen minor pada MSMn
Komponen
Karotenoid
Tokoferol dan tokotrienol
Sterol
Fosfolipid
Triterpen alkohol
Metil sterol
Skualen
Alkohol alifatik
Hidrokarbon alifatik
Sumber: Choo et al. 1994
Konsentrasi (ppm)
500-700
600-1000
326-527
5-130
40-80
40-80
200-500
100-200
50
7
Minyak sawit mentah mempunyai kandungan β-karoten 15 kali dari wortel
dan 44 kali dari sayuran (Scrimshaw 2000). Minyak sawit mentah mengandung
pigmen karotenoid 500-700 ppm dimana sekitar 50% adalah β-karoten
(Stuijvenberg dan Benade 2000). Ooi et al. (1994) menyatakan bahwa minyak
sawit mentah (CPO) mengandung karotenoid dalam jumlah besar, yaitu sekitar
500-700 ppm. Karotenoid utama yang terdapat dalam minyak sawit adalah α dan
β-karoten, yaitu sebesar 80% dari total karotenoid, dan sisanya berupa γ-karoten,
likopen serta santofil dalam jumlah kecil.
Komponen lain yang kadarnya relatif rendah dalam minyak sawit adalah
sterol dengan kadar sekitar 300 ppm. Kadar sterol dalam minyak sawit terdiri atas
sitosterol, campesterol, stigmasterol, dan kolesterol dalam jumlah sedikit. Dalam
CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit mentah, kadar sterol berkisar antara
360-620 ppm, sedangkan kadar kolesterol hanya sekitar 10 ppm saja atau sebesar
0,001 % dari CPO. Persentase kadar kolesterol tersebut sangat rendah. Dengan
demikian, isu yang menyatakan bahwa minyak sawit berbahaya untuk kesehatan
dalam kaitannya dengan kandungan kolesterol yang tinggi, tidak dapat dibuktikan.
Winarno (1999) menyatakan bahwa kandungan kolesterol dalam satu butir telur
setara dengan kolesterol dalam 29 liter minyak sawit.
2.2. Manfaat Minyak Sawit Mentah
Bila ditinjau dari segi historik, minyak sawit merah bukanlah hal yang
baru. Minyak sawit merah telah menjadi bagian dari masyarakat tradisional sejak
5000 tahun silam, dipercaya sebagai makanan bernutrisi tinggi dan obat yang
mujarab. Saat ini manfaat dari minyak sawit merah sudah mulai diakui para ahli
kesehatan untuk mencegah malnutrisi dan defisiensi vitamin A (Fife 2010).
Minyak sawit merah (MSM) atau RPO (red palm oil) merupakan MSMn
yang telah mengalami proses fraksinasi. Fraksi olein merupakan fraksi yang lebih
dikenal sebagai MSM. Namun tidak ada perbedaan yang cukup signifikan antara
kualitas MSM dengan MSMn. Pada Tabel 3 dapat dilihat karakteristik kualitas
MSMn dan MSM.
8
Tabeel 3 Karakteeristik kualittas MSMn dan
d MSM
Sam
mpel
AL
LB (%) BP
B (mekv/k
kg) Karo
oten (ppm) Tokoferool (ppm)
MSM
M
3,53
2,32
643
8669
MSM
Mn
3,53
0,44
514
8664
Sumbber: Choo et
e al. 1993
Keterangan: AL
LB (asam lem
mak bebas), BP (bilang
gan peroksida)
Minyak sawit meraah memilikki warna yaang sangat merah sebaagai akibat
adannya kandunggan karotennoid, termasuk β-karotten, yang sangat
s
tingggi. Minyak
sawitt merah diiperoleh tannpa melaluui proses pemucatan
p
dengan tujuan untuk
mem
mpertahankaan kadar kaarotenoid yang
y
terkan
ndung didaalamnya. Paada proses
pemuurnian konnvensional, kandungaan β-karoteen akan hilang
h
dalaam proses
bleacching atau pemucatan.
p
Oleh karenna itu, dalam
m proses pem
murnian minyak sawit
meraah dimana kandungan
k
β
β-karoten
diipertahankaan, tahap pem
mucatan dihhilangkan.
Gam
mbar 1 Hiraarki keterseddiaan hayati β–karoten
n dalam berbbagai sumbeer pangan
Sumber: Underwood
U
2000
Beta-karroten yang berasal daari minyak sawit merrah memiliiki tingkat
penyyerapan (biooavailibilityy) yang paling tinggi bila dibandinngkan denggan sumber
panggan alami laainnya (Gam
mbar 1). Raoo (2000) meenyatakan bahwa
b
β–kaaroten pada
minyyak sawit merah
m
memiiliki tingkatt penyerapaan sebesar 98%.
9
Jumlaah tersebut
meruupakan yangg paling tinnggi bila dibbandingkan dengan sum
mber β–karroten alami
lainnnya. Namunn ada juga beberapa hasil penellitian yang menyebutkkan bahwa
tingkkat penyeraapan β–karooten adalahh sekitar 80
0% (You et
e al. 2002)). Menurut
Com
mbs (1992), karoten dallam minyakk sawit merrah terdapaat dalam benntuk bebas
9
dan dalam minyak yang merupakan medium pelarutnya. Sedangkan di dalam
sayuran dan buah-buahan, karoten biasanya membentuk kompleks dengan protein
atau teresterifikasi dengan asam lemak sehingga karoten di dalam minyak sawit
merah lebih mudah diserap oleh tubuh.
Minyak sawit merah lebih dianjurkan sebagai minyak makan untuk
menumis sayuran, daging dan bumbu. Minyak sawit merah juga baik digunakan
sebagai minyak salad, yaitu minyak yang langsung dikonsumsi bersama makanan
tanpa melalui proses pemanasan. Selain itu, minyak sawit merah juga dapat
digunakan sebagai bahan fortifikasi makanan untuk produk pangan berbasis
minyak/lemak, seperti margarin dan selai kacang (Andarwulan et al. 2003).
Contoh aplikasi lain dari penggunaan minyak sawit merah adalah sebagai pangan
fungsional atau sebagai sumber provitamin A, pengganti lemak hewani dan
substrat untuk nutrasetikal (Unnithan dan Foo 2001). Minyak sawit merah tidak
dianjurkan digunakan sebagai minyak goreng, karena karotenoid yang terkandung
di dalamnya dapat rusak pada suhu tinggi (Jensen et al. 1992).
Antioksidan lain yang juga terdapat dalam minyak sawit merah, selain βkaroten, adalah tokoferol dan tokotrienol. Ketiga senyawa tersebut merupakan
antioksidan alami yang dapat merangsang sistem imun tubuh untuk melawan
radikal bebas dan sel-sel asing dari bakteri maupun virus yang dapat mengganggu
kesehatan (Szydlowska et al. 2011).
Minyak sawit merah telah digunakan sebagai sumber provitamin A di
negara Brazil, Malaysia dan India. Konsumsi minyak sawit merah dapat
mengurangi resiko terkena bintik bitot pada mata, meningkatkan kadar β-karoten
dalam darah serta meningkatkan status vitamin A pada anak-anak dan wanita
(Nestel dan Nalubola 2003).
Penelitian yang menggunakan minyak sawit merah untuk meningkatkan
status kesehatan telah banyak dilakukan, hasilnya yaitu dapat menurunkan
biosintesis kolesterol, mencegah agregasi platelet, menurunkan tekanan darah,
menurunkan resiko penyakit aterosklerosis, meningkatkan HDL dan menurunkan
LDL dalam dalam darah (Sarojini et al. 1999; Mukherjee dan Mitra 2009). Selain
itu, minyak sawit merah dapat menurunkan protein C-reaktif (CRP) yang
merupakan protein yang dihasilkan bila ada luka dan infeksi (Zakaria et al. 2011).
10
Anggraeni (2012) menyatakan bahwa konsumsi minyak sawit mentah dapat
meningkatkan jumlah sel natural killer dan menurunkan enzim COX-2 yang
merupakan enzim penanda terjadinya inflamasi.
2.3. β-Karoten
Karotenoid merupakan kumpulan senyawa yang memberi warna kuning
sampai merah pada tanaman dan buah-buahan. Ada lebih dari 500 jenis
karotenoid yang ada di alam, tetapi hanya beberapa yang dapat berfungsi sebagai
provitamin A, yaitu α-karoten, β-karoten dan γ-karoten. Secara ideal, satu unit βkaroten di dalam saluran pencernaan, tepatnya pada usus halus, dapat diubah
menjadi dua unit vitamin A atau retinol. Karotenoid dalam minyak sawit
mengandung 37% α-karoten dan 50% β-karoten (Scrimshaw 2000) sehingga
potensinya sebagai sumber vitamin A sangatlah tinggi (Zakaria et al. 2000).
Beta karoten merupakan salah satu pigmen alami yang memiliki warna
kuning-kemerahan, biasanya terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Beta
karoten diketahui memiliki aktifitas provitamin A yang tinggi karena 1 molekul
beta karoten setara dengan 2 molekul retinol atau vitamin A (Choo 1997). Pada
Gambar 2 dapat dilihat struktur kimia dari β-karoten,
Gambar 2 Struktur β-karoten (C40H56 ; Molar Mass 536.9 g/mol)
Sumber: Ophardt 2003
Berdasarkan studi secara epidemiologis, laboratorium, dan uji klinis, βkaroten memiliki peranan penting dalam pencegahan kanker. Beberapa hasil
penelitian menunjukkan kemampuan β-karoten dalam menstimulasi fungsi imun
pada tubuh hewan dan manusia, baik secara in vitro maupun in vivo. Manfaat βkaroten ini telah dibuktikan pada subjek imunokompeten yang mengalami
peningkatan jumlah sel NK (Natural Killer) dan ekspresi dari aktivasi marker
11
seperti antigen Ia, reseptor interleukin-2 dan reseptor transferrin. Penelitian yang
lain menunjukkan bahwa subjek normal yang mengonsumsi β-karoten dengan
dosis tinggi mengalami peningkatan jumlah limfositnya (Garewal et al. 1992).
Beta-karoten merupakan komponen yang banyak terdapat di sayuran.
Beta-karoten dapat dimetabolisme sebagai retinol atau vitamin A. Pada Gambar 3
dapat dilihat metabolisme β–karoten pada tubuh manusia. Retinol berperan
penting dalam pertumbuhan sel, diferensiasi dan regulasi gen serta berperan
dalam mencukupi kebutuhan nutrisi sel-sel modulator dan sistem imun (Garcia et
al. 2003). Retinol dapat meningkatkan diferensiasi limfosit dan meningkatkan
respon limfosit terhadap mitogen serta dapat menstimulasi produksi antibodi
secara in vivo dan in vitro (Ballow et al. 1996).
Gambar 3 Metabolisme β-karoten di dalam tubuh manusia
Sumber: Olson 1989
Klaui dan Baernfeind (1981) melaporkan bahwa penyerapan karoten
bervariasi tergantung pada jumlah yang dikonsumsi, sumber karoten dan kondisi
antar individu. Efisiensi penyerapan lebih tinggi jika jumlah karoten yang
12
dikonsumsi sedikit dan penyerapan karoten yang terdapat pada minyak atau lemak
jauh lebih baik bila dibandingkan dengan karoten yang terdapat pada sayuran.
Konsumsi β-karoten tidak menimbulkan efek toksik bagi tubuh. Konversi
β-karoten menjadi vitamin A tidak berkontribusi terhadap toksisitas vitamin A,
walaupun β-karoten yang diserap oleh tubuh jumlahnya tinggi. Satu-satunya
pengaruh yang terlihat jika mengonsumsi β-karoten dosis tinggi adalah dapat
menyebabkan
warna
kekuningan
pada
kulit,
atau
disebut
dengan
hiperkarotenemia. Namun, warna kuning tersebut perlahan akan hilang jika
konsumsi β-karoten dihentikan atau diturunkan dosisnya (Olson 1999; Hathcock
2004).
Ada beberapa hasil penelitian yang menyebutkan bahwa perokok yang
mengonsumsi β-karoten akan meningkatkan resiko menderita kanker paru-paru,
baik β-karoten yang dikonsumsi secara tunggal maupun yang dikonsumsi bersama
dengan α-tokoferol dan retinol (Albanes et al. 1994; Omen et al. 1994). Namun
jenis β-karoten yang digunakan adalah β-karoten sintetik yang 100% merupakan
β-karoten berbentuk trans. Menurut Iwasaki dan Murakosi (1992), bentuk trans
dari karoten mempunyai derajat aktivitas vitamin A yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan bentuk cis. Menurut Challem (1997), kedua jenis isomer
pada β-karoten memiliki aktivitas yang berbeda di dalam tubuh. Minyak sawit
mengandung 60% β-karoten yang terdiri dari isomer cis dan trans (Murray dan
Pizzorno 2008). Sampai saat ini belum ada data yang menyebutkan bahwa
konsumsi β-karoten alami dapat menimbulkan dampak yang toksik. Oleh karena
itu, konsumsi β-karoten alami lebih aman bila dibandingkan dengan β-karoten
sintetik.
β-karoten merupakan antioksidan yang larut lemak dan dapat menyerap
singlet oxygen radical serta dapat menurunkan jumlah radikal bebas yang
menginduksi kerusakkan lipoperoksidasi pada penderita HIV (Favier et al. 1994).
Penurunan jumlah β-karoten dan karotenoid lain (termasuk lutein dan likopen)
dalam serum dan plasma telah ditemukan pada pasien penderita positif HIV dan
AIDS.
13
Beta-karoten akan tetap stabil selama kurang lebih 9 bulan di dalam
minyak sawit merah jika disimpan pada suhu 30°C dan akan stabil lebih dari 1
tahun jika disimpan pada suhu 10°C (Choo et al. 1993).
2.4. Sistem Imun Sel T CD4 dan Sel T CD8
Sistem yang berfungsi melindungi tubuh manusia dari unsur-unsur patogen
disebut sistem imun. Sistem imun terdiri dari komponen genetik, molekuler dan
seluler yang berinteraksi secara luas dalam merespon antigen endogenus dan
eksogenus. Salah satu jenis sel yang berfungsi dalam merespon antigen adalah sel
darah putih (Baratawidjaja 2000).
Sel limfosit merupakan sel dengan inti yang besar dan bulat serta memiliki
sedikit plasma. Pada manusia diperkirakan sekitar 3.5×1010 limfosit setiap hari
masuk ke dalam sirkulasi darah. Menurut Guyton (1987), persentase limfosit di
dalam darah putih adalah sekitar 30%. Limfosit mampu bertahan hidup selama
bertahun-tahun. Menurut Sheeler dan Bianchi (1982), sel limfosit berperan dalam
sistem perlindungan tubuh dengan mensintesis dan mensekresi antibodi atau
immunoglobulin ke dalam jaringan darah sebagai respon terhadap keberadaan
benda asing. Sel limfosit selain dalam darah, terdapat pula pada organ limfoid
seperti limpa, kelenjar limfe dan timus (Baratawidjaja 2000).
Sistem imun pada manusia terdapat dalam sel darah putih, tepatnya pada
limfosit. Di dalam limfosit terdapat sel T yang berperan penting terhadap
kekebalan selular. Sel T mampu membedakan jenis sel asing dengan kemampuan
berevolusi sepanjang waktu demi peningkatan kekebalan setiap kali tubuh
terpapar oleh sel asing. Ada beberapa jenis sel T, diantaranya adalah sel T CD4
dan sel T CD8. Sel T CD4 merupakan jenis sel T helper yang disintesis di dalam
kelenjar timus, sel ini akan terbawa oleh sirkulasi darah hingga masuk ke dalam
limpa dan bermigrasi ke dalam jaringan limfatik, kemudian bermigrasi kembali ke
dalam sirkulasi darah, hingga suatu saat terjadi stimulasi oleh antigen tertentu
dengat ikatan pada molekul MHC kelas II. Sedangkan sel T CD8 merupakan sel T
sitotoksik yang dapat menghancurkan sel tumor, dan sel yang terinfeksi virus serta
dapat pula menyerang sel dan jaringan yang ditransplantasikan. Sel T CD8
14
memiliki glikoprotein CD8 pada permukaan sel yang mengikat antigen MHC
kelas I (Roitt 2001).
Gambar 4 Letak CD4 dan CD8 dalam sel T
Sumber: Roitt 2001
Sel limfosit T atau sel T merupakan 65-80% dari jumlah limfosit yang ada
dalam sirkulasi darah. Dalam perkembangannya di timus, sel T mengekspresikan
berbagai macam antigen permukaan seperti CD4 dan CD8. Namun dalam
perkembangan selanjutnya, sebagian antigen itu menghilang dan sebagian lagi
menetap menandai subset sel T (Kresno 1991).
Sel yang kehilangan antigen CD4 tetapi tetap menunjukkan antigen CD8
akan menjadi sel T suppresor (Ts) dan sel T cytotoxic (Tc). Sedangkan sel yang
kehilangan CD8 tetapi tetap menunjukkan CD4 akan menjadi sel T helper (Th).
Berdasarkan antigen permukaannya, maka sel Ts dan Tc lebih dikenal sebagai
CD8+, sedangkan sel Th lebih dikenal sebagai CD4+ (Kresno 1991). Semua subset
sel T ditandai oleh molekul protein CD3 (Roitt 2001).
CD8 merupakan sel Ts (T-suppresor), yaitu sel penekan, yang mengakhiri
tanggapan kekebalan atau proses inflamasi. Sel CD8 juga merupakan sel Tc (Tcytotoxic), yaitu sel pembunuh, karena sel tersebut membunuh sel-sel yang telah
termutasi (sel kanker) dan sel-sel yang telah terinfeksi virus (Ajani et al. 1998).
Mekanisme pembunuhan sel yang terinfeksi virus oleh sel Tc dapat dilihat pada
Gambar 5.
15
Gambar 5 Mekanisme pembunuhan sel terinveksi virus oleh sel Tc
Sumber: Roitt 2001
Sel CD4 dapat dibedakan dari sel CD8 berdasarkan protein tertentu yang
ada di permukaan sel. Sel CD4 adalah sel-T yang mempunyai protein CD4 pada
permukaannya. Protein itu bekerja sebagai ‘reseptor’ untuk HIV. HIV mengikat
pada reseptor CD4 itu seperti kunci dengan gembok (Roitt 2001). CD4 berfungsi
sebagai surface reseptor untuk penyakit HIV (Human Immunodeficiency Virus).
HIV hidup dan berkembangbiak di dalam sel Th dan mengakibatkan hancurnya
sel-sel tersebut. Virus dapat mengikat penanda permukaan CD4 sehingga sel
tersebut dapat dibunuh dan akibatnya jumlah sel Th berkurang.
CD4 yang merupakan penanda permukaan sel Th adalah rantai protein
glikosilat tunggal dengan berat molekul sekitar 55-62 kDA. Ada 2 jenis sel Th
yang dikelompokkan berdasarkan fungsinya, yaitu sel Th1 yang berfungsi untuk
produksi IL-2 dan IFNγ yang berkaitan dengan fungsi sitotoksisitas (aktivasi
makrofag) dan inflamasi lokal. Aktivasi makrofag oleh sel Th dapat dilihat pada
Gambar 6. Sel Th yang lainnya adalah sel Th2 yang berfungsi untuk produksi IL4, IL-5, IL-6 dan IL-10 yang dapat memberikan sinyal positif pada sel B sehingga
sel B dapat menghasilkan antibodi.
16
Gambar 6 Aktivasi makrofag oleh sel Th
Sumber: Roitt 2001
CD4 merupakan protein penanda sel Th yang dapat meningkatkan aktivasi
dan maturasi sel B dan sel T sitotoksik serta dapat mengatur reaksi peradangan
menahun yang spesifik terhadap antigen melalui stimulasi makrofag. Molekul
CD4 membentuk ikatan tambahan dengan MHC kelas II pada antigen.
Kadar normal CD4 dalam darah orang dewasa berkisar 500-1500 sel/mm3
darah atau sekitar 20-40% dari jumlah total limfosit. Ada juga yang menyebutkan
jumlahnya sekitar 31-61% dari jumlah total limfosit. Sedangkan kadar normal
CD8 dalam darah orang dewasa berkisar 375-1100 sel/mm3 darah atau sekitar 1839% dari jumlah total limfosit (Kurniati 1995; WHO 2008).
CD4 dan CD8 mempunyai peran yang saling melengkapi satu sama lain.
CD4 menghasilkan sitokin yang dapat mengaktifkan makrofag dan meningkatkan
IL2 untuk mengaktifkan CD8, yang akhirnya dapat menghancurkan sel yang
terinfeksi (Roitt 2001).
Rendahnya konsentrasi vitamin A dan β-karoten dalam serum penderita
HIV/AIDS
(human
immunodeficiency
virus/
acquired
immunodeficiency
syndrome) berkaitan dengan menurunnya kadar limfost CD4 dan dapat
meningkatkan kematian (Ajani et al. 1998).
Sebanyak 180 mg (300.000 IU) β-karoten telah diberikan kepada 17
volunter yang mengidap HIV, dan hasilnya dapat meningkatkan jumlah sel CD4
sebanyak 30% setelah hari ke-14 (Alexander et al. 1985). Ini merupakan
penelitian
pertama
yang
menduga
kemampuan
β-karoten
untuk
dapat
meningkatkan sel CD4 dan menjadi pelopor dilakukannya penelitian-penelitian
17
lebih lanjut tentang suplementasi β-karoten pada pasien pengidap HIV/AIDS
(Patrick 1999).
2.5. Program SawitA
Program SawitA merupakan program terapan yang akan menghasilkan
produk baru berbasis minyak sawit merah (MSM) yang secara alamiah
mengandung provitamin A dan vitamin E yang sangat tinggi. Produk minyak
sawit diintroduksikan kepada masyarakat dilengkapi dengan informasi mengenai
manfaat dan cara penggunaan produk tersebut.
Program SawitA merupakan program coorporate social responsibility
agribusiness and food dari PT Smart Tbk yang bekerjasama dengan Fakultas
Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor sebagai pelaksana program.
Kegiatan ini bekerjasama dengan Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan
Kabupaten Bogor dan Lembaga Desa terkait, khususnya Posyandu. Produk yang
dihasilkan telah didaftarkan untuk mendapatkan nomor registrasi produk industri
(P-IRT) dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Pelaksanaan kegiatan program di
desa dilakukan oleh mahasiswa sebagai fasilitator dibantu dengan kader posyandu
setempat.
Kegiatan ini sangat penting karena akan melibatkan berbagai instansi
nasional dan internasional seperti Kementerian Kesehatan, Pemerintah Daerah,
World Food Programme (WFP), UNICEF, PT Kalbe Farma, Masyarakat
Perkelapa Sawitan Indonesia (MAKSI), Millenium Development Goal (MDG)
Indonesia. Pada tahap pertama, program ini dilaksanakan di Kabupaten Bogor
yang diharapkan dapat menjadi model untuk penerapan pada KabupatenKabupaten lainnya di seluruh Indonesia.
Proses produksi dilakukan di Technopark Fakultas Teknologi Pertanian
IPB yang didukung oleh tenaga alumni Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
IPB yang akan terlibat secara profesional dibawah arahan staf Departemen Ilmu
dan Teknologi Pangan IPB.
Pasokan minyak sawit mentah (MSMn) didapatkan langsung dari PT
Smart Tbk, kemudian MSMn ini sebagian langsung dikemas di dalam botol dan
dapat digunakan sebagai minyak tumis, sedangkan sebagian lagi akan diproses
18
menjadi minyak sawit merah (MSM). MSM merupakan MSMn yang mengalami
netralisasi, filtrasi dan deodorisasi. Untuk memastikan keamanan produk SawitA
yang hendak didistribusikan kepada responden, maka sebelumnya telah dilakukan
analisis kandungan logam berat dan bilangan peroksida dalam MSMn dan MSM.
Tabel 4 Hasil analisis logam berat MSMn dan MSM yang diproduksi di
Technopark
Satuan
Hasil
Pemeriksaan
MSMn MSM
Timbal (Pb)
mg/kg
<0.030 <0.030
Air Raksa (Hg)
mg/kg
<0.001 <0.001
Cadmium (Cd)
mg/kg
<0.005 <0.005
Crom Heksavalent
(Cr6+)
mg/kg
<0.011 <0.011
Crom Total (Cr)
mg/kg
<0.011 <0.011
Arsen (As)
mg/kg
<0.002 <0.002
Tembaga (Cu)
mg/kg
<0.015 <0.015
Kadar Air
% b.b
Parameter
1.85
1.03
Metode
APHA ed. 21th 3111
B, 2005
APHA ed. 21th 3111
B, 2005
APHA ed. 21th 3111
B, 2005
APHA ed. 21th 3500
Cr B, 2005
APHA ed. 21th 3111
B, 2005
APHA ed. 21th 3111
B, 2005
APHA ed. 21th 3111
B, 2005
SNI 19-7030-2004
Batas max.
(sesuai SNI
7387: 2009)
0,1
0,03
0,2
0,1
0,1
-
Sumber: Zakaria et al. 2011
Hasil analisis seperti yang disajikan pada Tabel 4 menunjukkan bahwa
kadar logam berat MSMn dan MSM yang diproduksi jauh lebih rendah dari yang
disarankan oleh SNI 7387-2009 mengenai batasan maksimum cemaran logam
berat dalam pangan. Dengan demikian produk MSMn dan MSM yang diproduksi
di Technopark dengan bahan baku MSA dari PT Smart Tbk dapat dinyatakan
aman untuk dikonsumsi. Selain itu, keamanan produk juga ditunjang oleh kadar
bilangan peroksida yang dianalisis yang menunjukkan hasil nol atau tidak
terdeteksi. Tidak terdeteksinya bilangan peroksida ini disebabkan karena di dalam
MSMn terkandung karotenoid dan tokoferol-tokotrienol (yang berperan sebagai
antioksidan) dalam jumlah yang sangat tinggi sehingga dapat menghambat
terjadinya proses oksidasi (Ping dan May 2000).
Produk SawitA yang dihasilkan dibagikan secara gratis kepada responden
peserta kegiatan dengan dilengkapi informasi dan penyuluhan pada setiap
19
Posyandu atau pada saat pertemuan massal berupa pelatihan temu-muka.
Pemberian brosur dan komik edukasi (Lampiran 2 dan 3) juga dilakukan untuk
mempermudah penyerapan materi yang disampaikan oleh fasilitator.
Gambar 7 Produk minyak sawit mentah
Responden yang terlibat dalam kegiatan program sebanyak 2142 orang,
yang berasal dari 10 Desa yang tersebar di Kecamatan Dramaga, yaitu Desa
Babakan, Ciherang, Cikarawang, Dramaga, Neglasari, Petir, Purwasari, Sinarsari,
Sukadamai, dan Sukawening. Program SawitA melibatkan 37 orang mahasiswa
dan 79 kader posyandu sebagai fasilitator. Masing-masing fasilitator mahasiswa
bertanggung jawab terhadap minimal 50 orang responden (Zakaria et al. 2011).
Download