peraturan pemerintah republik indonesia nomor 39 tahun 2008

advertisement
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 39 TAHUN 2008
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 73 TAHUN
1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
Naskah Peraturan ini telah diketik ulang, bila ada keraguan mengenai isinya harap merujuk kepada teks aslinya.
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 39 TAHUN 2008
TENTANG
PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 73 TAHUN
1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang: a. bahwa dalam rangka menghadapi dan mengantisipasi perkembangan yang
terjadi dalam industri perasuransian nasional, perlu dilakukan penyesuaian
terhadap ketentuan penyelenggaraan usaha perasuransian;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a,
perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Perubahan Kedua atas
Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha
Perasuransian;
Mengingat:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 13, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3467);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha
Perasuransian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 120,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3506) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1999 tentang
Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perasuransian (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 1999 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3861);
MEMUTUSKAN :
Menetapkan :
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS
PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG
PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN.
Pasal I
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang
Penyelenggaraan Usaha Perasuransian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992
Nomor 120, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3506) sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 3861), diubah sebagai berikut :
18_PP-39-2008.doc8 – 2
1. Ketentuan Pasal 1 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
1. Perusahaan Perasuransian adalah Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, dan
Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi.
2. Perusahaan Asuransi adalah Perusahaan Asuransi Kerugian dan Perusahaan Asuransi
Jiwa.
3. Perusahaan Reasuransi adalah perusahaan yang memberikan jasa dalam
pertanggungan ulang terhadap risiko yang dihadapi oleh Perusahaan Asuransi.
4. Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi adalah Perusahaan Pialang Asuransi,
Perusahaan Pialang Reasuransi, Perusahaan Agen Asuransi, Perusahaan Penilai
Kerugian Asuransi, dan Perusahaan Konsultan Aktuaria.
5. Unit Syariah adalah unit kerja di kantor pusat Perusahaan Asuransi atau Perusahaan
Reasuransi yang berfungsi sebagai kantor induk dari kantor cabang dan/atau kantor
pemasaran yang menjalankan usaha berdasarkan prinsip syariah.
6. Retensi Sendiri adalah bagian dari jumlah uang pertanggungan untuk setiap risiko yang
menjadi tanggungan sendiri tanpa dukungan reasuransi.
7. Pengurus adalah direksi untuk perseroan terbatas atau persero atau yang setara dengan
itu untuk koperasi clan usaha bersama.
8. Menteri adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia.
2. Di antara Pasal 2 dan Pasal 3 disisipkan 2 (dua) pasal, yakni Pasal 2A dan Pasal 2B
sehingga berbunyi sebagai berikut :
Pasal 2A
(1) Perusahaan Asuransi hanya dapat menyelenggarakan usaha di bidang asuransi
kerugian atau, asuransi jiwa.
(2) Perusahaan Asuransi sebagaimana dimaksud pads ayat (1) dapat menyelenggarakan
seluruh usahanya berdasarkan prinsip syariah.
(3) Perusahaan Asuransi sebagaimana dimaksud pada. ayat (1) dapat menyelenggarakan
sebagian usahanya berdasarkan prinsip syariah dengan membentuk Unit Syariah.
Pasal 2B
(1) Perusahaan Reasuransi hanya dapat menyelenggarakan usaha pertanggungan ulang
untuk risiko yang dihadapi perusahaan asuransi kerugian dan/atau perusahaan asuransi
jiwa.
(2) Perusahaan Reasuransi sebagaimana, dimaksud pads ayat (1) dapat menyelenggarakan
seluruh usahanya berdasarkan prinsip syariah.
(3) Perusahaan Reasuransi sebagaimana dimaksud pads ayat (1) dapat menyelenggarakan
sebagian usahanya berdasarkan prinsip syariah dengan membentuk Unit Syariah.
3. Ketentuan Pasal 3 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
Pasal 3
(1) Perusahaan Perasuransian dalam melaksanakan kegiatan usahanya harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut :
a. dalam anggaran dasar dinyatakan bahwa maksud dan tujuan pendirian
perusahaan hanya untuk menjalankan satu jenis usaha perasuransian;
b. permodalan sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan;
c. susunan organisasi perusahaan paling sedikit meliputi fungsi :
18_PP-39-2008.doc8 – 3
1. bagi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, yaitu fungsi
pengelolaan risiko, fungsi pengelolaan keuangan, dan fungsi pelayanan;
2. bagi Perusahaan Pialang Asuransi dan Perusahaan Pialang Reasuransi,
yaitu fungsi pengelolaan keuangan dan fungsi pelayanan;
3. bagi Perusahaan Agen Asuransi, Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi,
dan Perusahaan Konsultan Aktuaria, yaitu fungsi teknis sesuai dengan
bidang jasa yang diselenggarakannya.
d. mempekerjakan tenaga ahli sesuai dengan bidang usahanya dalam jumlah yang
cukup untuk mengelola kegiatan usahanya;
e. untuk Perusahaan Asuransi, memiliki komisaris independen yang :
1. tugas pokoknya adalah untuk menyuarakan kepentingan pemegang
polis;
2. bukan merupakan afiliasi dari pemegang saham, direksi, atau komisaris;
dan
3. menjabat sebagai komisaris independen paling banyak pada 2 (dua)
Perusahaan Asuransi.
f.
untuk Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang
menyelenggarakan seluruh atau sebagian usahanya berdasarkan prinsip
syariah, memiliki dewan pengawas syariah; dan
g. melaksanakan pengelolaan Perusahaan Perasuransian berdasarkan prinsip tata
kelola perusahaan yang baik.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan organisasi perusahaan, tenaga ahli, komisaris
independen, dewan pengawas syariah dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Menteri.
4. Ketentuan Pasal 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
Pasal 6
(1) Modal disetor minimum bagi pendirian Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi,
Perusahaan Pialang Asuransi dan Perusahaan Pialang Reasuransi adalah sebagai
berikut :
a. Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah), bagi Perusahaan Asuransi;
b. Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah), bagi Perusahaan. Reasuransi;
c. Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah), bagi Perusahaan Pialang Asuransi dan
Perusahaan Pialang Reasuransi.
(2) Modal disetor minimum bagi pendirian Perusahaan Asuransi dan Perusahaan
Reasuransi yang menyelenggarakan seluruh kegiatan usahanya berdasarkan prinsip
syariah adalah sebagai berikut :
a. Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah), bagi Perusahaan Asuransi;
b. Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah), bagi Perusahaan Reasuransi.
(3) Modal disetor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dan setiap
penambahannya harus dalam bentuk tunai.
(4) Pada saat pendirian perusahaan, kepemilikan saham pihak asing melalui penyertaan
langsung dalam Perusahaan Perasuransian paling banyak 80% (delapan puluh persen).
5. Di antara Pasal 6 dan Pasal 7 disisipkan 7 (tujuh) pasal, yakni Pasal 6A, Pasal 6B, Pasal 6C,
Pasal 6D, Pasal 6E, Pasal 6F, dan Pasal 6G sehingga berbunyi sebagai berikut :
18_PP-39-2008.doc8 – 4
Pasal 6A
(1) Perusahaan Perasuransian harus memiliki modal sendiri paling sedikit sebesar modal
disetor minimum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2).
(2) Modal sendiri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penjumlahan dari modal
disetor, agio, saham, saldo laba, cadangan umum, cadangan tujuan, kenaikan atau
penurunan nilai surat berharga dan selisih penilaian aktiva tetap.
Pasal 6B
(1) Perusahaan Asuransi harus memiliki modal sendiri sebagaimana dimaksud dalam Pasal
6A ayat (1) dengan tahapan sebagai berikut :
a. paling sedikit sebesar Rp40.000.000.000,00 (empat puluh miliar rupiah) paling
lambat tanggal 31 Desember 2008;
b. paling sedikit sebesar Rp70.000.000.000,00 (tujuh puluh miliar rupiah) paling
lambat tanggal 31 Desember 2009;
c. paling sedikit sebesar Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah) paling
lambat tanggal 31 Desember 2010.
(2) Perusahaan Reasuransi harus memiliki modal sendiri sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 6A ayat (1) dengan tahapan sebagai berikut :
a. paling sedikit sebesar Rp100.000.000.000,00 (seratus miliar rupiah) paling
lambat tanggal 31 Desember 2008;
b. paling sedikit sebesar Rp150.000.000.000,00 (seratus lima puluh lima miliar
rupiah) paling lambat tanggal 31 Desember 2009;
c. paling sedikit sebesar Rp200.000.000.000,00 (dua rates miliar rupiah) paling
lambat tanggal 31 Desember 2010.
Pasal 6C
(1) Perusahaan Asuransi yang menyelenggarakan seluruh usahanya berdasarkan prinsip
syariah harus memiliki modal sendiri paling sedikit Rp50.000.000.000,00 (lima puluh
miliar rupiah) paling lambat tanggal 31 Desember 2008.
(2) Perusahaan Pialang Asuransi dan Perusahaan Pialang Reasuransi harus memiliki modal
sendiri paling sedikit Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) paling lambat tanggal 31
Desember 2008.
Pasal 6D
Modal kerja minimum Unit Syariah dari Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi
adalah sebagai berikut :
a. sebesar Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah) bagi Unit Syariah dari
Perusahaan Asuransi;
b. sebesar Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) bagi Unit Syariah dari
Perusahaan Reasuransi.
Pasal 6E
(1) Perusahaan Asuransi yang memiliki Unit Syariah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
6D huruf a, harus menyesuaikan modal kerja dari Unit Syariah dimaksud dengan
tahapan sebagai berikut :
a. paling sedikit sebesar Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) paling lambat
tanggal 31 Desember 2008;
18_PP-39-2008.doc8 – 5
b. paling sedikit sebesar Rp12.500.000.000,00 (dua belas miliar lima ratus juta
rupiah) paling lambat tanggal 31 Desember 2009;
c. paling sedikit sebesar Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah) paling
lambat tanggal 31 Desember 2010.
(2) Perusahaan Reasuransi yang memiliki Unit Syariah sebagaimana dimaksud dalam Pasal
6D huruf b, harus menyesuaikan modal kerja dari Unit Syariah dimaksud dengan
tahapan sebagai berikut :
a. paling sedikit sebesar Rp12.500.000.000,00 (dua belas miliar lima ratus juta
rupiah) paling lambat tanggal 31 Desember 2008;
b. paling sedikit sebesar Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah) paling
lambat tanggal 31 Desember 2009;
c. paling sedikit sebesar Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) paling
lambat tanggal 31 Desember 2010.
Pasal 6F
(1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang memiliki Unit Syariah harus
memenuhi modal sendiri dalam jumlah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1)
huruf a dan huruf b ditambah modal kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6D huruf
a dan huruf b.
(2) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang memiliki Unit Syariah dapat
membuka kantor cabang dan/atau kantor pemasaran syariah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kelembagaan, syarat, dan tata cara pendirian kantor
cabang dan/atau kantor pemasaran syariah diatur dalam Peraturan Menteri.
Pasal 6G
(1) Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Pialang Asuransi, dan
Perusahaan Pialang Rasuransi yang belum memenuhi ketentuan permodalan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6B, Pasal 6C, dan Pasal 6E harus menyampaikan
rencana kerja untuk memenuhi ketentuan pentahapan permodalan paling lambat tanggal
30 September tahun berjalan.
(2) Rencana kerja yang disampaikan Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi,
Perusahaan Pialang Asuransi, dan Perusahaan Pialang Reasuransi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus selesai dilaksanakan paling lambat tanggal 31 Maret tahun
berikutnya.
(3) Menteri mengevaluasi rencana kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Menteri mencabut izin usaha Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi,
Perusahaan Pialang Asuransi, dan Perusahaan Pialang Reasuransi yang tidak
menyampaikan rencana kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan tetap
memperhatikan tahapan pengenaan sanksi.
(5) Dalam hal Menteri menyimpulkan bahwa Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi,
Perusahaan Pialang Asuransi, dan Perusahaan Pialang Reasuransi tidak memenuhi
rencana kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3), Menteri mencabut izin
usaha Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, Perusahaan Pialang Asuransi,
dan Perusahaan Pialang Reasuransi yang bersangkutan dengan tetap memperhatikan
tahapan pengenaan sanksi.
6. Ketentuan Pasal 7 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
18_PP-39-2008.doc8 – 6
Pasal 7
(1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus memiliki dana jaminan
sekurang-kurangnya 20% (dua puluh persen) dari modal disetor minimum yang
dipersyaratkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dan ayat (2) atau 20%
(dua puluh persen) dari modal sendiri minimum yang dipersyaratkan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 6A ayat (1).
(2) Dana jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan jaminan terakhir dalam
rangka melindungi kepentingan pemegang polis.
(3) Dana jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat ditempatkan dalam
bentuk :
a. deposito berjangka dengan perpanjangan otomatis pada bank umum di
Indonesia yang bukan afiliasi dari Perusahaan Asuransi atau Perusahaan
Reasuransi yang bersangkutan; dan/atau
b. surat utang atau surat berharga lain yang diterbitkan oleh Pemerintah.
(4) Besar dana jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) harus
disesuaikan dengan perkembangan volume usaha yang besarnya ditetapkan oleh
Menteri.
(5) Dana jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) dapat dicairkan atau
dijual hanya atas persetujuan Menteri atau Pejabat yang mendapat pendelegasian untuk
itu berdasarkan permintaan :
a. likuidator dalam hal perusahaan dilikuidasi;
b. perusahaan yang bersangkutan dalam hal izin usahanya dicabut atas
permintaan perusahaan yang bersangkutan dengan ketentuan kewajibannya
telah diselesaikan;
c. perusahaan yang bersangkutan dalam hal jumlah dana jaminan yang dimiliki
perusahaan yang bersangkutan telah melebihi ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3); atau
d. perusahaan yang bersangkutan dalam hal akan melakukan pemindahan atau
penggantian dana jaminan, setelah terlebih dahulu menempatkan dana jaminan
dalam jumlah yang sekurang-kurangnya sama dengan jumlah dana jaminan
yang akan dipindahkan atau diganti.
(6) Ketentuan lebih lanjut mengenai jumlah dan tata cara penempatan dana jaminan diatur
dalam Peraturan Menteri.
7.
Ketentuan Pasal 10 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
Pasal 10
(1) Perusahaan Perasuransian harus menjalankan kegiatan usaha perasuransian secara
terus menerus sejak diperolehnya izin usaha.
(2) Perusahaan Perasuransian dinilai tidak menjalankan kegiatan usaha perasuransian
secara terus menerus apabila dalam jangka waktu 6 (enam) bulan tidak memenuhi
kriteria yang ditetapkan.
(3) Menteri mencabut izin usaha Perusahaan Perasuransian apabila perusahaan tidak
menjalankan kegiatan usaha perasuransian sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Pencabutan izin usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3) memperhatikan tahapan
pengenaan sanksi.
18_PP-39-2008.doc8 – 7
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria tidak menjalankan kegiatan usaha secara terus
menerus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri.
8. Ketentuan Pasal 10A diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
Pasal 10A
Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dimungkinkan untuk melakukan
perubahan kepemilikan melampaui batas kepemilikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6
ayat (4) dengan ketentuan jumlah modal yang telah disetor oleh pihak Indonesia harus tetap
dipertahankan.
9. Di antara Pasal 10A dan Pasal 11 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 10B sehingga
berbunyi sebagai berikut :
Pasal 10B
(1) Setiap rencana perubahan kepemilikan Perusahaan Perasuransian harus memperoleh
persetujuan Menteri.
(2) Dalam hal perubahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan perubahan
kepemilikan yang mengakibatkan terdapatnya penyertaan langsung oleh pihak asing di
dalam Perusahaan Perasuransian tersebut, maka pihak asing tersebut harus merupakan
Perusahaan Perasuransian yang memiliki usaha sejenis atau perusahaan induk yang
salah satu anak perusahaannya bergerak di bidang usaha perasuransian yang sejenis.
(3) Ketentuan mengenai Perusahaan Perasuransian yang memiliki usaha sejenis dan
kepemilikan perusahaan induk atas anak perusahaan yang bergerak di bidang usaha
perasuransian yang sejenis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus tetap dipenuhi
selama pihak asing tersebut memiliki penyertaan pada Perusahaan Perasuransian.
(4) Perubahan kepemilikan Perusahaan Perasuransian melalui transaksi di bursa efek
dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sepanjang tidak
menyebabkan perubahan pengendalian pada Perusahaan Perasuransian tersebut.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara dan persyaratan perubahan kepemilikan
Perusahaan Perasuransian diatur dalam Peraturan Menteri.
10. Di antara Pasal 11 dan Pasal 12 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 11A sehingga
berbunyi sebagai berikut :
Pasal 11A
(1) Dalam hal Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi mengalami permasalahan
kondisi keuangan, Menteri dapat memerintahkan Perusahaan Asuransi atau Perusahaan
Reasuransi yang bersangkutan untuk melakukan pengalihan portofolio pertanggungan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai kriteria permasalahan kondisi keuangan dan tata cara,
pengalihan portofolio pertanggungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam
Peraturan Menteri.
11. Di antara Pasal 13 dan Pasal 14 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 13A sehingga
berbunyi sebagai berikut :
18_PP-39-2008.doc8 – 8
Pasal 13A
(1) Perusahaan Perasuransian dilarang memberikan pinjaman kepada atau menempatkan
kekayaan pada pemegang saham dan afiliasinya.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku dalam hal pinjaman atau
penempatan kekayaan tersebut memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 11.
(3) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi dilarang melakukan segala bentuk
pengalihan modal disetor kepada pemegang saham atau pihak lainnya.
12. Ketentuan Pasal 38 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut :
Pasal 38
(1) Selain dikenakan sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, terhadap :
a. Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi yang tidak menyampaikan
laporan keuangan tahunan, laporan auditor independen, atau laporan
operasional tahunan, sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan, dikenakan
denda administratif sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk setiap hari
keterlambatan untuk setiap laporan tersebut;
b. Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi yang tidak menyampaikan laporan
keuangan tahunan, laporan auditor independen, atau laporan operasional
tahunan, sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan, dikenakan denda
administratif sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk setiap hari
keterlambatan untuk setiap laporan tersebut.
(2) Denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak :
a. Rp360.000.000,00 (tiga ratus enam puluh juta rupiah) untuk setiap laporan yang
terlambat disampaikan oleh Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi;
b. Rp180.000.000,00 (seratus delapan puluh juta rupiah) untuk setiap laporan yang
terlambat disampaikan oleh Perusahaan Penunjang Usaha Asuransi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengenaan, penagihan, dan pembayaran
denda administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan
Menteri.
13. Ketentuan Pasal 40 dihapus.
Pasal II
(1) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, izin pembukaan kantor cabang
dengan prinsip syariah yang dimiliki Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Reasuransi
yang telah ada dinyatakan berlaku sebagai izin untuk Unit Syariah.
(2) Pada saat Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku, untuk Perusahaan Asuransi dan
Perusahaan Reasuransi yang telah memiliki izin usaha :
a. modal dalam perhitungan dana jaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (1), sampai dengan tanggal 31 Desember 2008, adalah modal disetor
minimum yang dipersyaratkan dalam Peraturan Pemerintah tentang
Penyelenggaraan Usaha Perasuransian yang mendasari pendirian Perusahaan
Asuransi dan Perusahaan Reasuransi tersebut.
b. modal dalam perhitungan dana jaminan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7
ayat (1), setelah batas waktu sebagaimana dimaksud dalam huruf a lewat,
adalah modal sendiri minimum sesuai dengan pentahapan pemenuhan
permodalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6B dan Pasal 6E.
(3) Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Pemerintah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
18_PP-39-2008.doc8 – 9
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 19 Mei 2008
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 19 Mei 2008
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ANDI MATTALATTA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2008 NOMOR 79
18_PP-39-2008.doc8 – 10
Download