Teori etika - Universitas Mercu Buana

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Kode Etik
Teori etika
Fakultas
Program Studi
Psikologi
Psikologi
Tatap Muka
02
Kode MK
Disusun Oleh
B51611EL
Amy MArdhatillah
Abstract
Kompetensi
Pembahasan mengenai teori etika dan
penjelasan meta etika
Memahami apa itu teori etika dan meta
etika
Pendahuluan
Pengertian etika
Etika sering disebut dengan istilah etik atau ethics (bahasa ingris),mengandung
banyak penegrtian. Dari segi etimologi (asal kata), istilah etika berasal dari kata latin
(ethicus) dan dalam bahasa yunani disebut ethicos yang berarti kebiasaan. Dengan
demikian menurut pengerian yang asli, yang dikatakan baik itu apabila sesuia dengan
masyarakat. Kemudian lambat laun pengertian ini berubah,bahwa etika adalah suatu ilmu
yang membicarakan masalah perbuatan atau tingkah laku manusia. Mana yang dapat dinilai
baik dan mana yang dapat dinilai tidak baik.
Etika juga disebut ilmu normative yang dengan sendirinya berisi ketentuan ketentuan
(norma-norma) dan nilai nilai yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari hari.
Etika merupakan cabang filsafat,yang mempelajari pandangan-pandangan dan
persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan, dan kadang-kadang
orang memakai istilah filsafat etika, filsafat moral atau filsafat susila. Dengan demikian dapat
dikatan etika adalah penyelidikan filosofis menegenai kewajiban-kewajiban manusia dan hal
hal yang baik dan buruk. Etika adalah penyelidikan filsafat bidang moral. Etika tidak
membahas keadaan manusia,melainkan membahas bagaimana manusia itu seharusnya
bertingkah laku benar. Etika juga merupakan filsafat praktis manusia. Etika adalah cabang
dari aksiologi yaitu ilmu tentang nilai yang menitikberatkan pada pencarian salah dan benar
atau dalam pengertian lain tentang moral dan immoral.
Etika dapat berfungsi sebagai:
•
Sarana untuk memperoleh orientasi kritis berhadapan dengan
perbagai moralitas yang membingungkan.
•
Etika ingin menampilkan ketrampilan intelektual yaitu ketrampilan
untuk berargumentasi secara rasional dan kritis.
•
Orientasi etis ini diperlukan dalam mengabil sikap yang wajar dalam
suasana pluralisme
2016
2
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Sistematika etika
Secara umum, menurut Keraf dalam buku yang ditulis oleh Rismawaty (2008), etika
dapat dibagi dua bagian, yaitu:
1. Etika umum:
Membahas kondisi dasar bagaimana manusia bertindak eti, dalam mengambil
keputusan etis dan teori etika serta mengacu pada prinip moral dasar yang menjadi
pegangan dalam bertindak dan tolak ukur atau pedoman untuk menilai baik atau
buruknya suatu tindakan yang dilakukan seseorang atau kelompok.
2. Etika khusus:
Penerapan prinsip-prinsip moral dalam bidang khusu, yaitui bagaimana mengambil
keputusan dan bertindak dalam kehidupan sehari hari pada proses dan fungsional
dari suatu organisasi, atau dapat juga sebagai seorang professional untuk bertindak
etis yang berlandaskan teori teori etika dan prinsip prinsip moral dasar.
Etika khusus dibagi menjadi dua bagian, yaitu antara lain:

Etika individual menyangkut kewajiban dan perilaku manusia terhadap dirinya
sendiri untuk mencapai kesusian kehidupan pribadi,kebersihan hati nurani
dan berakhlak luhur.

Etika sosial berbicara mengenai kewajiba, sikap dan perilaku sebagai
anggota masyarakat yang berkaitan dengan nilai-nilai sopan santun, tata
karma dan salaing menghormati, yaitu bagaimana saling berinteraksi yang
menyangkut hubungan manusia dengan manusia, baik secara perorangan
dan langsung maupun secara bersama sam atau kelompok dalam bentuk
kelembagaan masyarakt dan organisasi formal lainnya.
2016
3
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Macam-macam etika
Etika dapat dibedakn menjadi tiga macam:

Etika sebagai ilmu, yang merupakan kumpulan tentang kebajikan tentang
penilaian dari perbuatan seseorang

Etika dalam arti perbuatan, yaitu perbuatan kebajikan. Misalnya seseorang
dikatan etis ababila orang tersebut telah berbuat kebajikan.

Etika sebagai filsafat, yang mempelajari pandangan-pandangan persoalanpersoalana yang berhubungan dengan masalah kesusilaan.
Ragam lain dari etika idalah:

Deskriptive ethics:
gambaran atau lukisan tentang etika

Normative ethics:
norma-norma tertentu tentang etika agar seseorang dapat dikatakan bermoral

Philosophy ethics:
Etika ebagai filsafat yang menyelidiki kebenaran.
Menurut
Louis
O.
Katt
Soff
dalam
bukunya
berjudul Elements
of
Philosophy diterbitkan tahun 1953, bahwa etika merupakan cabang aksiologi yang pada
pokoknya mempersoalkan tentang predikat baik dan buruk. Definisi etika ditinjau
berdasarkan pengertian terbagi menjadi tiga bagian yaitu:
Etika Deskriptif
Etika yang menelaah secara kritis dan rasional tentang sikap dan perilaku manusia serta
apa yang dikejar oleh setiap orang dalam hidupnya sebagai sesuatu yang bernilai. Artinya
etika deskriptif tersebut berbicara mengenai fakta secara apa adanya, yakni mengenai nilai
dan perilaku manusia sebagai suatu fakta yang terkait dengan situasi dan realitas yang
membudaya. Dapat disimpulkan bahwa tentang kenyataan dalam penghayatan nilai atau
2016
4
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
tanpa nilai dalam suatu masyarakat yang dikaitkan dengan kondisi tertentu memungkinkan
manusia dapat bertindak secara etis.
Etika deskriptif menurut pendapat Katt Soff bahwa etika bersangkutan dengan nilai dan ilmu
pengetahuan yang membicarakan masalah baik dan buruknya tingkah laku manusia dalam
kehidupan bermasyarakat. Etika bersangkutan dengan pencatatan terhadap corak-corak
predikat serta tanggapan-tanggapan kesusilaan yang dapat ditemukan dalam masyarakat.
Sehingga ilmu ini hanya bersifat pemaparan atau penggambaran saja.
Etika deskriptif dapat disimpulkan sebagai bentuk implementasi perbuatan serta perilaku
yang diterapkan setiap manusia merupakan landasan pergaulan kehidupan antar manusia
dalam ruang lingkup lingkungan masyarakat.
Etika normatif
Etika sering dipandang sebagai suatu ilmu yang mengadakan ukuran-ukuran atau
norma-norma yang dapat dipakai untuk menanggapi atau menilai perbuatan dan tingkah
laku seseorang dalam bermasyarakat. Etika normatif ini berusaha mencari ukuran umum
bagi baik dan buruknya tingkah laku.
. Untuk dapat memahami pengertian etika dan mengerti mana perbuatan yang boleh
dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan menurut etika, sebagaimana diutarakan
Franz Magnis Suseno (1997:19) dalam buku etika dasar yang menyebutkan terdapat
beberapa jenis norma.
Norma adalah peraturan atau pedoman hidup tentang bagaiaman seyogyanya
manusia harus bertingkah laku dan berbuat dalam masyarakat. Norma dalam masyarakat
dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Norma teknis dan norma permainan hanya berlaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu
atau untuk kegiatan-kegiatan sementara dan terbatas. Contoh :
-
Peraturan dalam olahraga
-
Peraturan dalam perusahaan yang hanya berlaku terbatas bagi mereka yang bekerja di
perusahaan tersebut.
2. Norma berlaku umum dalam masyarakat dapat dibedakan
1. Norma kepercayaan / keagamaan
Dasar norma ini adalah kitab suci. Tujuannya yaitu agar manusia mempunyai keimanan,
yang akan mendapatkan sanksi baik di dunia maupun diakhirat :
·
Jangan berbuat kejahatan
·
Berbuatlah kebaikan
2016
5
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2. Norma moral
Norma moral berhubungan dengan manusia sebagai pribadi. Pendukung dari norma
yang dimaksud adalah hati nurani manusia. Hati nurani sangat berperan dalam perilaku
lahiriah manusia. Pelanggaran terhadap norma ini adalah penyesalan, karena tidak ada
kekuasaan dari luar diri manusia yang mengancam. Tujuannya adalah penyempurnaan
manusia sebagai manusia. Contoh : setiap manusia harus menegakan kejujuran.
3. Norma sopan santun
Norma sopan santun didasarkan atas kebiasaan, kesopanan, kepantasan atau
kepatutan yang berlaku dalam masyarakat. Tujuannya untuk kesempurnaan manusia
sebagai masyarakat yaitu :
·
Kedamaian
·
Ketertiban
·
Keamanan
Dalam kehidupan bersama antar manusia, ancaman dari pelanggaran kaidah yang
dimaksud tersebut berupa penghinaan, pencemoohan dari masyarakat. Seringkali sangsi
tidak dalam bentuk lisan atau diucapkan, melainkan hanya dengan perbuatan. Contoh :
·
Menghormati orang yang lebih tua
·
Menghormati pimpinan
4. Norma hukum
Norma
hukum
pelaksanaannya
dapat
dituntut
dan
dipaksakan.
Sedangkan
pelanggarannya ditindak dengan pasti oleh penguasa yang sah dalam masyarakat,
landasan dasarnya adalah peraturan perundang-undangan, yang dapat dipastikan mulai
kapan berlakunya. Contoh : penyebaran paham tertentu yang dilarang berdasarkan
peraturan pemerintah.
Etika normatif ditinjau berdasarkan dari teori terdiri dari dua yaitu :
a. Teori deontologis
Deontologis berasal dari bahasa Yunani Deon artinya kewajiban. Artinya etika deontologi
menekankan kewajiban manusia untuk bertindak secara baik, suatu tindakan itu baik bukan
dinilai dari tindakan tersebut, melainkan berdasarkan tindakan itu sendiri sebagai baik pada
dirinya, motivasi, kemauan dengan niat baik dan dilaksanakan berdasarkan kewajiban dan
bernilai moral.
2016
6
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
b. Teori teleologis
Teleologis bahasa Yunani dengan kata Telos berarti tujuan yaitu menjelaskan bahwa
benar salahnya tindakan tersebut justru tergantung dari tujuan yang hendak dicapai atau
berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Suatu tindakan dinilai baik
kalau berakibat atau bertujuan mencapai sesuatu yang baik pula (Sony, 1993 : 29-30).
Etika teleologis terdapat dua aliran teleologisme yaitu sebagai berikut :
1. Egoisme
Artinya pandangan bahwa tindakan setiap orang bertujuan untuk mengejar kepentingan
atau memajukan dirinya sendiri atau menekankan kepentingan dan kebahagiaan untuk
pribadi berdasarkan hal yang menyenangkan dan atau hal yang mendatangkan
kebahagiaan bagi dirinya sendiri.
2. Utilitarianisme
Menilai perbuatan baik buruknya suatu tindakan atau kegiatan berdasarkan tujuan atau
akibat dari tindak tersebut bagi kepentingan orang banyak atau dinilai baik karena dapat
memberikan kegunaan atau manfaat perorangan bagi banyak orang.
Etika kefilsafatan
Analisis tentang apa yang orang maksudkan bilamana mempergunakan predikat-predikat
kesusilaan. Apa yang disebut perbuatan etis, tidak etis dan sebagainya. Analisis ini
diperoleh dengan mengadakan penyelidikan tentang penggunaan yang sesungguhnya dari
predikat-predikat yang terdapat dalam pernyataan. Secara lebih jelas kefilsafatan
mempersoalkan tentang arti-arti yang dikandung oleh istilah-istilah kesusilaan yang
dipergunakan oleh orang dalam membuat tanggapan-tanggapan kesusilaan.
2016
7
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Teori etika
Teori etika adalah disiplin ilmu berhubungan dengan kajian secara kritis tentang adat
kebiasaan, nilai-nilai, dan norma perilaku manusia yang dianggap baik atau tidak baik.
Dalam etika masih dijumpai banyak teori yang mencoba untuk menjelaskan suatu tindakan,
sifat, atau objek perilaku yang sama dari sudut pandang atau perspektif yang berlainan.
Berikut ini beberapa teori etika:
1. Egoisme Rachels (2004) memperkenalkan dua konsep yang berhubungan dengan
egoisme. Pertama, egoisme psikologis, adalah suatu teori yang menjelaskan bahwa semua
tindakan manusia dimotivasi oleh kepentingan berkutat diri (self servis). Menurut teori ini,
orang bolah saja yakin ada tindakan mereka yang bersifat luhur dan suka berkorban, namun
semua tindakan yang terkesan luhur dan/ atau tindakan yang suka berkorban tersebut
hanyalah sebuah ilusi. Pada kenyataannya, setiap orang hanya peduli pada dirinya sendiri.
Menurut teori ini, tidak ada tindakan yang sesungguhnya bersifat altruisme, yaitu suatu
tindakan yang peduli pada orang lain atau mengutamakan kepentingan orang lain dengan
mengorbankan kepentingan pribadi.
Kedua, egoisme etis, adalah tindakan yang dilandasi oleh kepentingan diri sendiri (selfinterest). Tindakan berkutat diri ditandai dengan ciri mengabaikan atau merugikan
kepentingan orang lain, sedangkan tindakan mementingkan diri sendiri tidak selalu
merugikan kepentingan orang lain.
Berikut adalah pokok-pokok pandangan egoisme etis:

Egoisme etis tidak mengatakan bahwa orang harus membela kepentingannya sendiri
maupun kepentingan orang lain.

Egoisme etis hanya berkeyakinan bahwa satu-satunya tuga adalah kepentingan diri.

Meski egois etis berkeyakinan bahwa satu-satunya tugas adalah membela
kepentingan diri, tetapi egoisme etis juga tidak mengatakan bahwa anda harus
menghindari tindakan menolong orang lain

Menurut paham egoisme etis, tindakan menolong orang lain dianggap sebagai
tindakan untuk menolong diri sendiri karena mungkin saja kepentingan orang lain
tersebut bertautan dengan kepentingan diri sehingga dalam menolong orang lain
sebenarnya juga dalam rangka memenuhi kepentingan diri.
2016
8
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Inti dari paham egoisme etis adalah apabila ada tindakan yang menguntungkan
orang lain, maka keuntungan bagi orang lain ini bukanlah alasan yang membuat
tindakan itu benar. Yang membuat tindakan itu benar adalah kenyataan bahwa
tindakan itu menguntungkan diri sendiri.
2. Utilitarianisme
Menurut teori ini, suatu tindakan dikatakan baik jika membawa manfaat bagi
sebanyak mungkin anggota masyarakat (the greatest happiness of the greatest number).
Paham utilitarianisme sebagai berikut:
(1) Ukuran baik tidaknya suatu tindakan dilihat dari akibat, konsekuensi, atau tujuan
dari tindakan itu, apakah memberi manfaat atau tidak.
(2) dalam mengukur akibat dari suatu tindakan, satu-satunya parameter yang
penting adalah jumlah kebahagiaan atau jumlah ketidakbahagiaan,
(3) kesejahteraan setiap orang sama pentingnya.
Perbedaan paham utilitarianisme dengan paham egoisme etis terletak pada siapa
yang memperoleh manfaat. Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu,
sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut pandang kepentingan orang banyak
(kepentingan orang banyak).
Kritik terhadap teori utilitarianisme:
a. Utilitarianisme hanya menekankan tujuan/mnfaat pada pencapaian kebahagiaan
duniawi dan mengabaikan aspek rohani.
b. Utilitarianisme mengorbankan prinsip keadilan dan hak individu /minoritas demi
keuntungan mayoritas orang banyak.
3. Deontologi Paradigma
Teori deontologi berbeda dengan paham egoisme dan utilitarianisme, yang keduanya samasama menilai baik buruknya suatu tindakan memberikan manfaat entah untuk individu
(egoisme) atau untuk banyak orang/kelompok masyarakat (utilitarianisme), maka tindakan
itu dikatakan etis. Sebaliknya, jika akibat suatu tindakan merugikan individu atau sebagian
besar kelompok masyarakat, maka tindakan tersebut dikatakan tidak etis. Teori yang menilai
suatu tindakan berdasarkan hasil, konsekuensi, atau tujuan dari tindakan tersebut disebut
2016
9
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
teori teleologi Sangat berbeda dengan paham teleologi yang menilai etis atau tidaknya suatu
tindakan berdasarkan hasil, tujuan, atau konsekuensi dari tindakan tersebut, paham
deontologi justru mengatakan bahwa etis tidaknya suatu tindakan tidak ada kaitannya sama
sekali dengan tujuan, konsekuensi, atau akibat dari tindakan tersebut. Konsekuensi suatu
tindakan tidak boleh menjadi pertimbangan untuk menilai etis atau tidaknya suatu tindakan.
Imanuel Kant berpendapat bahwa kewajiban moral harus dilaksanakan demi kewajiban itu
sendiri, bukan karena keinginan untuk memperoleh tujuan kebahagiaan, bukan juga karena
kewajiban moral iu diperintahkan oleh Tuhan. Moralitas hendaknya bersifat otonom dan
harus berpusat pada pengertian manusia berdasarkan akal sehat yang dimiliki manusia itu
sendiri, yang berarti kewajiban moral mutlak itu bersifat rasional. Walaupun teori deontologi
tidak lagi mengkaitkan kriteria kebaikan moral dengan tujuan tindakan sebagaimana teori
egoisme dan tlitarianisme, namun teori ini juga mendapat kritikan tajam terutama dari kaum
agamawan. Kant mencoba membangun teorinya hanya berlandaskan pemikiran rasional
dengan berangkat dari asumsi bahwa karena manusia bermartabat, maka setiap perlakuan
manusia terhadap manusia lainnya harus dilandasi oleh kewajiban moral universal. Tidak
ada tujuan lain selain mematuhi kewajiban moral demi kewajiban itu sendiri.
4. Teori Hak
Suatu tindakan atau perbuatan dianggap baik bila perbuatan atau tindakan tersebut sesuai
dengan HAM. Menurut Bentens (2000), teori hak merupakan suatu aspek dari deontologi
(teori kewajiban) karena hak tidak dapat dipisahkan dengan kewajiban. Bila suatu tindakan
merupakan hak bagi seseorang, maka sebenarnya tindakan yang sama merupakan
kewajiban bagi orang lain. Teori hak sebenarnya didsarkan atas asumsi bahwa manusia
mempunyai martabat dan semua manusia mempunyai martabat yang sama. Hak asasi
manusia didasarkan atas beberapa sumber otoritas, yaitu a. Hak hukum (legal right), adalah
hak yang didasarkan atas sistem/yurisdiksi hukum suatu negara, di mana sumber hukum
tertinggi suatu negara adalah Undang-Undang Dasar negara yang bersangkutan. b. Hak
moral atau kemanusiaan (moral, human right), dihubungkan dengan pribadi manusia secara
individu, atau dalam beberapa kasus dihubungkan dengan kelompok bukan dengan
masyarakat dalam arti luas. Hak moral berkaitan dengan kepentingan individu sepanjang
kepentingan individu itu tidak melanggar hak-hak orang lain c. Hak kontraktual (contractual
right), mengikat individu-individu yang membuat kesepakatan/kontrak bersama dalam wujud
hak dan kewajiban masing-masing kontrak. Teori hak atau yang lebih dikenal dengan
prinsip-prinsip HAM mulai banyak mendapat dukungan masyarakat dunia termasuk dari
PBB. Piagam PBB sendiri merupakan salah satu ETIKA BISNIS Page 5 sumber hukum
penting untuk penegakan HAM. Dalam Piagam PBB disebutkan ketentuan umum tentang
2016
10
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
hak dan kemerdekaan setiap orang. PBB telah mendeklarasikan prinsip-prinsip HAM
universal pada tahun 1948, yang lebih dikenal dengan nama Universal Declaration of
Human Rights. (UdoHR). Diaharapkan semua negara di dunia dapat menggunakan UdoHR
sebagai dasar bagi penegakan HAM dan pembuatan berbagai undang-undang/peraturan
yang berkaitan dengan penegakan HAM. Pada intinya dalam UdoHR diatur hak-hak
kemanusiaan, antara lain mengenai kehidupan, kebebasan dan keamanan, kebebasan dari
penahanan,
peangkapan
dan
pengasingan
sewenang-wenang,
hak
memperoleh
memperoleh peradilan umum yang bebas, independen dan tidak memihak, kebebasan
dalam mengeluarkan pendapat, menganut agama, menentukan sesuatu yang baik atau
buruk menurut nuraninya, serta kebebasan untuk berkelompok secara damai.
5. Teori Keutamaan (Virtue Theory) Teori keutamaan berangkat dari manusianya (Bertens,
2000). Teori keutamaan tidak menanyakan tindakan mana yang etis dan tindakan mana
yang tidak etis. Teori ini tidak lagi mempertanyakan suatu tindakan, tetapi berangkat dari
pertanyaan mengenai sifat-sifat atau karakter yang harus dimiliki oleh seseorang agar bisa
disebut sebagai manusia utama, dan sifat-sifat atau karakter yang mencerminkan manusia
hina. Karakter/sifat utama dapat didefinisikan sebagai disposisi sifat/watak yang telah
melekat/dimiliki oleh seseorang dan memungkinkan dia untuk selalu bertingkah laku yang
secara moral dinilai baik. Mereka yang selalu melakukan tingkah laku buruk secar amoral
disebut manusia hina. Bertens (200) memberikan contoh sifat keutamaan, antara lain:
kebijaksanaan, keadilan, dan kerendahan hati. Sedangkan untuk pelaku bisnis, sifat utama
yang perlu dimiliki antara lain: kejujuran, kewajaran (fairness), kepercayaan dan keuletan. 6.
Teori Etika Teonom Sebagaimana dianut oleh semua penganut agama di dunia bahwa ada
tujuan akhir yang ingin dicapai umat manusia selain tujuan yang bersifat duniawi, yaitu untuk
memperoleh kebahagiaan surgawi. Teori etika teonom dilandasi oleh filsafat kristen, yang
mengatakan bahwa karakter moral manusia ditentukan secara hakiki oleh kesesuaian
hubungannya dengan kehendak Allah. Perilaku manusia secara moral dianggap baik jika
sepadan dengan kehendak Allah, dan perilaku manusia dianggap tidak baik bila tidak
mengikuti aturan/perintah Allah sebagaiman dituangkan dalam kitab suci.
6 Sebagaimana teori etika yang memperkenalkan konsep kewajiban tak bersyarat
diperlukan untuk mencapai tujuan tertinggi yang bersifat mutlak. Kelemahan teori etika Kant
teletak pada pengabaian adanya tujuan mutlak, tujuan tertinggi yang harus dicapai umat
manusia, walaupun ia memperkenalkan etika kewajiban mutlak. Moralitas dikatakan bersifat
mutlak hanya bila moralitas itu dikatakan dengan tujuan tertinggi umat manusia. Segala
sesuatu yang bersifat mutlak tidak dapat diperdebatkan dengan pendekatan rasional karena
semua yang bersifat mutlak melampaui tingkat kecerdasan rasional yang dimiliki manusia.
2016
11
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kesimpulan
Etika adalah disiplin ilmu yang mempelajari kebiasaan untuk menentukan hal yang
baik dan buruk. Etika dapat berupa perilaku, ilmu pengetahuan dan juga filosofi. Oleh karena
itu etika dapat dibagi menajadi etika deskriptif dan normative. Etika deskriptif hanya
pemaparan hal yang baik dan buruk sedangkan etika normative adalah etika yang
berdasarkan norma norma yang berlaku. Teori etika secara umum dapat dibagi menjaid dua
konsenkuensialist dan deontology. Konsenkwensialis ada lah teori yang mendasarkan
perbuatan baik dan buruk berdasarkan konsekwensi dari sebuah perilaku dan juga tujuan
untuk melakukan perilaku. Sedangkan deontology adalah teoti yang tidak melihat perilaku
baik dan buruk berdasarkan konsekwensinya namun perilaku yang baik dan buruk adalah
karena nilai moral dan otoritas agama.
2016
12
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
American
Psychology
Association
code
of
conduct
retrieved
from
www.apa.org/ethics/code/principles.
http://www.psychwiki.com/wiki/Why_is_it_important_to_follow_APA%27s_Ethical_Principles
Rismawaty. Kepribadian dan Etika Profesi, Graha Ilmu, 2008.
Kode Etik Psikologi Indonesia. Juni 2010. http://himps.or.id/
2016
13
Kode Etik Psikologi
Setiawati Intan Savitri S.P, M.Si
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download