6. Prospek Lahan Rawa Pasang Surut untuk Tanaman Padi

advertisement
PROSPEK LAHAN RAWA PASANG SURUT
UNTUK TANAMAN PADI
Muhammad Alwi
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra)
Jl. Kebun Karet Loktabat Utara Banjarbaru, Kalimantan Selatan
e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Lahan rawa pasang surut di Indonesia memiliki peranan makin penting dan strategis bagi
pengembangan pertanian terutama mendukung ketahanan pangan Nasional. Hal ini
disebabkan oleh potensi serta produktivitas lahan dan teknologi pengelolaannya sudah
tersedia. Luas lahan rawa pasang surut yang berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian
khususnya tanaman padi masih tersedia cukup luas. Berbagai kendala yang dihadapi dalam
usahatani padi di lahan rawa pasang surut antara lain: (1) tingkat kesuburan lahan rendah,
(2) infrastruktur yang masih belum berfungsi secara optimal, (3) tingkat pendidikan petani
masih rendah, (4) indeks panen masih sekali tanam setahun, dan (5) tingginya serangan
organisme pengganggu tanaman. Ke depan kontribusi lahan rawa pasang surut terhadap
produksi padi akan semakin besar mengingat: (1) lahan yang dapat dijadikan sawah masih
luas, (2) peningkatan produktivitas lahan, indeks panen, dan penurunan kehilangan hasil
dapat dilakukan melalui penerapan komponen teknologi usahatani padi mencakup:
penataan lahan dan sistem tata air, jenis komoditas dan varietas toleran, pengelolaan lahan,
ameliorasi dan pemupukan, pengendalian OPT (organisme pengganggu tanaman),
penanganan panen dan pasca panen. Agar tujuan dan sasaran pengembangan usahatani padi
dapat tercapai dengan baik, maka semua upaya hendaknya dilakukan terencana, cermat, dan
hati-hati mengacu pada optimalisasi pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya yang ada.
Menuju tahun 2025 mendatang, Indonesia dituntut untuk mampu mencukupi minimal 95%
dari kebutuhan beras Nasional. Upaya pemenuhan kebutuhan beras Nasional akan ditempuh
melalui dua cara: (1) peningkatan produktivitas padi dengan laju pertumbuhan 1,0-1,5% per
tahun dan (2) peningkatan areal panen padi melalui peningkatan intensitas tanam (IP),
pengembangan di areal baru, termasuk sebagai tanaman sela di lahan perkebunan dan lahan
bukaan baru.
Kata Kunci: Lahan rawa pasang surut, padi, prospek
Pendahuluan
Penduduk Indonesia dalam kurun waktu empat puluh tahun ke depan masih akan
terus bertambah dengan laju pertumbuhan sekitar 1,5% tahun-1, sehingga kebutuhan akan
pangan juga terus meningkat. Agus dan Irawan (2007) memperkirakan pada tahun 2025
Indonesia akan mengimpor beras sekitar 11,4 juta ton jika konversi lahan sawah tetap terjadi
dengan laju 190.000 ha th-1 dan pencetakan sawah baru hanya 100.000 ha th-1. Di luar Jawa
Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”,
Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 45
selama periode 1995-1999 luas lahan sawah meningkat, di Sumatera sekitar 213 ribu ha,
sebaliknya di Sulawesi berkurang sekitar 102 ribu ha dan di Kalimantan 170 ribu ha. Dalam
waktu tiga tahun (periode 1999-2002) peningkatan konversi lahan sawah rata-rata mencapai
187.720 ha th-1 (Sutomo dan Suhariyanto, 2005). Keadaan ini merupakan motivator untuk
mencari pemecahan masalah dalam menangani produksi padi. Salah satunya melalui
perluasan areal pertanian ke lahan sub optimal (lahan rawa pasang surut).
Luas lahan rawa pasang surut di Indonesia sekitar 20,12 juta ha, terdiri dari 2,07 juta
ha lahan potensial, 6,72 juta ha lahan sulfat masam, 10,89 juta ha lahan gambut dan 0,44
juta ha lahan salin. Lahan rawa pasang surut yang berpotensi untuk dijadikan lahan
pertanian sekitar 8.535.708 ha. Dari luasan tersebut, yang sudah direklamasi sekitar
2.833.814 ha dan yang belum direklamasi sekitar 5.701.894 ha. Luas lahan rawa pasang
surut yang sudah dijadikan lahan sawah hingga tahun 2011 baru sekitar 407.594 ha (Ritung,
2011). Berdasarkan data tersebut peluang untuk melaksanakan ekstensifikasi pertanian
khususnya untuk tanaman padi ke lahan rawa pasang surut masih terbuka luas.
Produktivitas lahan sawah di Indonesia menurut data BPS tahun 2011 rata-rata
nasional 5,2 ton GKG ha-1, tertinggi di Jawa 5,5 ton GKG ha-1, Sumatera serta Sulawesi 4,5
ton GKG ha-1, dan Kalimantan 3,5 ton GKG ha-1. Perbedaan produktivitas tersebut
disebabkan berbagai faktor diantaranya: (1) jenis lahan sawah, (2) jenis atau sifat-sifat
tanah, (3) tingkat pengelolaan, dan (4) varietas padi yang ditanam. Demikian pula dengan
jenis atau tipe lahan sawah yang terdiri dari sawah irigasi, sawah tadah hujan , sawah pasang
surut, dan sawah lebak. Potensi hasil gabah yang diperoleh di lahan sawah rawa pasang
surut dengan menerapkan teknologi pengelolaan yang tepat dapat mencapai 4,5-5,5 ton
GKG ha-1.
Kendala yang dihadapi dalam usahatani padi di lahan rawa pasang surut antara lain:
(1) tingkat kesuburan lahan rendah, (2) infrastruktur yang masih belum berfungsi secara
optimal, (3) tingkat pendidikan petani masih rendah, (4) indeks panen masih sekali tanam
setahun, dan (5) tingginya serangan organisme pengganggu tanaman.
Secara umum upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi padi di
lahan rawa pasang surut antara lain melalui: (1) penerapan teknologi yang sudah ada secara
optimal, dan (2) peningkatan luas areal panen melalui peningkatan intensitas tanam dan
pembukaan areal baru.
Makalah ini menyajikan informasi tentang prosfek lahan rawa pasang surut untuk
usahatani padi. Pemahaman yang baik tentang lahan rawa pasang surut sebagai lahan
pertanian dan teknologi pengelolaannya diharapkan dapat meningkatkan produktivitas
lahan, produksi padi, dan ketahanan pangan nasional.
Sumber Daya Lahan
Luas lahan rawa pasang surut di Indonesia sekitar 20,12 juta ha, terdiri dari 2,07 juta
ha lahan potensial, 6,72 juta ha lahan sulfat masam, 10,89 juta ha lahan gambut dan 0,44
juta ha lahan salin. Lahan rawa pasang surut yang berpotensi untuk dijadikan lahan
pertanian sekitar 9,53 juta ha (Alihamsyah, 2002). Menurut Direktorat Rawa dan Pantai
(2006) lahan rawa pasang surut yang potensial untuk lahan pertanian di Indonesia tersebar di
pulau Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua, dan Jawa dengan luas sekitar 8.535.708 ha.
Luas lahan yang telah direklamasi baik oleh pemerintah maupun masyarakat sekitar
2.833.814 ha, sedang yang belum direklamasi seluas 5.701.894 ha, sebagian besar berada di
Papua (Tabel 1). Luas lahan rawa pasang surut yang telah dimanfaatkan untuk sawah
Muhammad Alwi : Prospek Lahan Rawa Pasang Surut Untuk Tanaman Padi | 46
sekitar 830.439 ha yang tersebar di Kalimantan 333.601 ha, Sumatera 485.679 ha, Sulawesi
2.504 ha dan Papua 8.655 ha.
Tabel 1. Luas lahan rawa pasang surut potensial yang sudah dan belum direklamasi, 2006
Luas Lahan Sudah Direklamasi (ha)
Pulau
Kalimantan
Sumatera
Sulawesi
Papua
Jawa
Total
Pemerintah
500.228
814.582
81.922
36.369
1.433.101
Masyarakat
551.980
623.765
101.705
8.655
114.608
1.400.713
Jumlah
1.052.208
1.438.347
183.627
8.655
150.977
2.833.814
Belum
Direklamasi
(ha)
445.630
573.340
459.116
4.208.295
15.513
5.701.894
Total (ha)
1.497.838
2.011.687
642.743
4.216.950
166.490
8.535.708
Lahan sawah adalah suatu tipe penggunaan lahan yang pengelolaannya memerlukan
genangan air. Oleh karena itu, sawah selalu mempunyai permukaan datar atau didatarkan
(dibuat teras), dan dibatasi oleh pematang untuk menahan air genangan. Berdasarkan
sumber air yang digunakan dan keadaan genangannya, sawah dapat dibedakan menjadi
sawah irigasi, sawah tadah hujan, sawah lebak, dan sawah pasang surut. Sawah pasang surut
adalah sawah yang irigasinya tergantung pada gerakan air pasang dan surut serta letaknya di
wilayah datar tidak jauh dari laut. Sumber air sawah pasang surut adalah air tawar dari
sungai yang karena adanya pengaruh pasang dan surut air laut dimanfaatkan untuk mengairi
sawah melalui saluran irigasi dan drainase. Sawah pasang surut umumnya terdapat di sekitar
jalur aliran sungai besar yang dapat di pengaruhi oleh pasang dan surut air laut
(Puslitbangtanak, 2003).
Luas baku lahan sawah pasang surut di Indonesia berdasarkan hasil sensus pertanian
(BPS 2008) adalah sekitar 657.000 hektar. Luas dan sebaran lahan sawah pasang surut di
tiga pulau besar (Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi) masing-masing 324.231, 331.072
dan 1.584 ha. Berdasarkan hasil kesepakatan berbagai instansi/lembaga terkait dengan luas
dan sebaran lahan sawah diantaranya BPN, Kementan, PU, Bakosurtanal, dan Lapan yang
selanjutnya dikoordinasikan oleh BPN, maka disepakati luas baku lahan sawah sawah
pasang surut 407.594 hektar atau 5,03% dari luas lahan sawah di Indonesia (Tabel 2).
Tabel 2.
Luas lahan sawah pasang surut di masing-masing provinsi pada tiga pulau besar
(Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi) tahun 2011
Sumatera
Provinsi
Luas (ha)
NAD
1.250
Sumatera Barat
1.358
Jambi
92.302
Sumatera
108.500
Selatan
Bengkulu
309
Lampung
946
Total
204.666
Kalimantan
Provinsi
Luas (ha)
Kalteng
56.724
Kalsel
125.644
Kalbar
20.532
-
202.900
Sulawesi
Provinsi
Luas (ha)
Sulbar
29
-
29
Sumber: Ritung, 2011
Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”,
Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 47
Luas lahan sawah pasang surut di Indonesia pada tahun 2011 lebih rendah
dibandingkan dengan data pada tahun 2008. Perbedaan tersebut terjadi karena data luas
lahan sawah pasang surut tahun 2011 dihitung berdasarkan hasil pengukuran dan
perhitungan secara spasial, sedangkan data tahun 2008 merupakan hasil sensus yang
diperoleh berdasarkan wawancara atau data tabular. Selain itu, selama slang waktu tiga
tahun telah terjadi pencetakan sawah baru dan alih fungsi lahan sawah untuk non pertanian.
Akhir-akhir ini lahan rawa pasang surut dijadikan sebagai wilayah pengembangan
perkebunan karet dan kelapa sawit. Dalam waktu yang bersamaan banyak juga lahan rawa
pasang surut yang ditinggalkan petani karena mengalami penurunan produktivitas akibat
degradasi lahan. Berdasarkan data diatas, maka luas lahan rawa pasang surut yang masih
tersedia adalah (sudah direklamasi sekitar 2.833.814 ha dan sudah dikembangkan sebagai
lahan sawah 407.594 ha) berarti masih tersisa 2.426.220 ha. untuk pengembangan sawah
baru.
Pembukaan lahan rawa pasang surut dilakukan berkaitan dengan program
transmigrasi yang dimulai tahun 1969 melalui Proyek Pembukaan Persawahan Pasang Surut
(P4S). Pemanfaatan lahan pasang surut untuk pertanian merupakan pilihan yang strategis
untuk mengimbangi penciutan lahan produktif akibat alih fungsi ke sektor nonpertanian.
Ananto et al. (1998) menyatakan bahwa pengembangan lahan rawa pasang surut
memerlukan perencanaan, pengelolaan dan pemanfaatan yang tepat serta penerapan
teknologi yang sesuai, terutama pengelolaan tanah dan air. Melalui upaya seperti itu,
diharapkan lahan rawa pasang surut dapat menjadi lahan pertanian yang produktif,
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pengembangan lahan rawa pasang surut dimulai
dari P4S tahun 1970-an dan dilanjutkan dengan proyek Swamp I, Swamp II, kerja sama
dengan Belanda (LAWOO) tahun 1980-an, Proyek Penelitian Pengembangan Lahan Rawa
Terpadu (ISDP) dan Proyek Pertanian PLG tahun 1990-an, telah menghasilkan berbagai
teknologi pengelolaan lahan (Ananto et al. 2000). Teknologi itu antara lain adalah
pengelolaan tanah, tata air mikro, ameliorasi tanah dan pemupukan, penggunaan varietas
yang adaptif, pengendalian hama dan penyakit, dan model usaha tani. Namun, umumnya
teknologi tersebut tidak dapat diterapkan secara berkelanjutan karena adanya berbagai
kendala, seperti modal petani yang rendah, infrastruktur yang terbatas, kelembagaan
pedesaan yang kurang berkembang, dan kurangnya perhatian pemerintah dalam
pemeliharaan jaringan tata air.
Kegiatan pertama yang dilakukan dalam pembukaan lahan rawa pasang surut di
Indonesia adalah membangun saluran-saluran drainase berdimensi besar. Sebagai contoh,
sistem drainase garpu yang diterapkan di Kalimantan Selatan memiliki panjang saluran
primer 1 sampai 2 km yang bercabang menjadi dua saluran sekunder dengan panjang 8
sampai 12 km. Di ujung saluran sekunder dilengkapi kolam berukuran 300 m x 300 m.
Jarak antara dua saluran sekunder mencapai 3 sampai 4 km. Setiap saluran sekunder
dilengkapi dengan saluran tersier yang berjarak 200 m. Hal ini mengakibatkan terjadinya
drainase yang berlebih (over drain) yang sangat potensial untuk teroksidasinya pirit hingga
menyebabkan tanah menjadi masam.
Perubahan sifat kimia tanah di lahan rawa pasang surut berhubungan erat dengan
dinamika senyawa pirit di dalam tanah (Prasetyo, 2007). Purnomo et al., (1999)
menyatakan bahwa komposisi kimia dari air irigasi pada sistem garpu berubah-ubah baik
secara spasial ataupun temporal. Kemudian Aribawa et al. (1997) memperlihatkan
perubahan sifat kimia yang mencolok dari kualitas air di petakan sawah pada musim
kemarau dan hujan. Perubahan sifat kimia tanah juga dapat dilihat dari jarak antara lahan
dengan sungai atau laut. Perubahan sifat kimia tanah menjadi lebih buruk jika semakin jauh
jaraknya dari sungai atau laut (Priatmadi dan Purnomo, 2000).
Muhammad Alwi : Prospek Lahan Rawa Pasang Surut Untuk Tanaman Padi | 48
Pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut khususnya tanaman padi sering
menghadapi kendala seperti: (1) genangan air dan kondisi fisik lahan, (2) kemasaman tanah
tinggi karena kelarutan aluminium (Al3+), besi ferri (Fe3+), dan sulfat (SO42-) yang tinggi, (3)
ketersediaan unsur hara menurun dan pada kondisi terreduksi sering muncul masalah
keracunan besi ferro (Fe2+), dihidrogen sulfida (H2S), karbon dioksida (CO2), dan asamasam organik.
Keracunan besi pada tanaman padi disebabkan karena tingginya konsentrasi besi
terlarut dalam tanah (200-500 ppm). Kebanyakan tanah mineral kaya akan besi, gejala
keracunan besi dapat dilihat dari jaringan daun yang mengakibatkan penurunan hasil.
Kejadian ini hanya terjadi pada kondisi lahan tergenang, sebagai akibat dari proses reduksi
oleh mikroba yang merubah besi tidak larut (Fe3+) menjadi besi larut (Fe2+) (Beckers dan
Ash, 2005). Dobermann dan Fairhurst (2000); Audebert (2006); Mehbaran et al. (2008)
menyatakan tentang kondisi terjadinya keracunan besi pada tanaman seperti: (1) konsentrasi
Fe2+ yang tinggi dalam larutan tanah karena kondisi reduksi yang kuat pada tanah, (2) status
hara dalam tanah yang rendah dan tidak seimbang, (3) kurangnya oksidasi akar dan
rendahnya daya oksidasi akar (ekslusi Fe2+) oleh akar yang disebabkan karena defisiensi
hara P (fosfor), Ca (kalsium), Mg (magnesium), dan K (kalium), (4) Kurangnya daya
oksidasi akar akibat terjadinya akumulasi bahan-bahan yang menghambat respirasi (H2S,
FeS, dan asam-asam organik), (5) aplikasi bahan organik dalam jumlah besar yang belum
terdekomposisi, dan (6) suplai Fe secara terus-menerus dari air bawah tanah atau rembesan
secara lateral dari tempat yang lebih tingggi.
Berbagai kegagalan dan keberhasilan telah mewarnai kegiatan pengembangan lahan
rawa pasang surut. Terjadinya lahan bongkor misalnya, yaitu lahan yang ditinggalkan petani
karena telah mengalami oksidasi pirit sehingga produksinya sangat rendah, merupakan
akibat dari reklamasi yang kurang tepat. Kegagalan ini dapat menjadi pelajaran dalam
pengembangan lahan sulfat masam di masa yang akan datang. Potensi lahan rawa pasang
surut yang demikian besar dapat dimanfaatkan untuk menunjang pogram peningkatan
ketahanan pangan dan agribisnis yang menjadi program utama sektor pertanian.
Sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pertanian bahwa lahan rawa pasang surut dapat
menjadi basis pengembangan ketahanan pangan untuk kepentingan jangka pendek,
menengah maupun jangka panjang. Oleh karena itu, investasi pemerintah dan swasta dalam
pemanfaatan lahan rawa seyogianya dapat lebih ditingkatkan.
Produktivitas Lahan
Produktivitas lahan rawa pasang surut sangat beragam dan tergantung pada kondisi
tanah, tata air serta penerapan teknologi terutama teknologi pengeloloaan lahan dan varietas
yang ditanam. Berdasarkan tipologi lahan, produktivitas padi sawah eksisting di lahan sulfat
masam potensial berkisar antara 3,2-4,0 t GKG ha-1, di lahan sulfat masam aktual berkisar
2,6-3,5 t GKG ha-1, di lahan gambut berkisar antara 2,7-3,0 t GKG ha-1, dan lahan salin
berkisar antara 2,6-3,9 t GKG ha-1. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi
produksi padi pada masing-masing tipologi lahan berkisar 6,3-7,0 t GKG ha-1, pada lahan
sulfat masam potensial 4,5-6.0 t GKG ha-1, lahan sulfat masam aktual 4,0-5,0 t GKG ha-1
dan lahan gambut serta salin 4,0-4,5 t GKG ha-1. Bahkan dengan pengelolaan lahan yang
baik, ketersediaan infrastruktur dan sarana produksi yang memadai, disertai oleh kebijakan
insentif yang tepat, ternyata lahan rawa pasang surut mampu menghasilkan padi 7- 8 ton
Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”,
Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 49
GKG ha-1 di Telang, Sumatera Selatan dan 5-6 ton GKG ha-1 di Bintang Mas, Kalimantan
Barat (Sutanto, 2009).
Alihamsyah et al. (2002) menyatakan bahwa lahan rawa pasang surut jika
dikembangkan sebagai lahan pertanian hendaknya menggunakan tiga pendekatan, yaitu : (1)
menerapkan teknologi pengelolaan lahan berupa pengelolaan air, tanah, hara dan bahan
amelioran; (2) menggunakan tanaman dan varietas toleran terhadap kondisi lahan dan
preferensi petaninya; dan (3) memadukan keduanya secara serasi. Pendekatan yang pertama
agak mahal dan lebih sulit karena memerlukan tambahan tenaga, sarana dan biaya tapi
hasilnya baik. Sedangkan pendekatan yang kedua lebih mudah dan murah tapi hasilnya suboptimal. Pendekatan yang ketiga adalah alternatif terbaik karena selain dapat memperbaiki
kualitas dan produktivitas lahan juga memberikan hasil yang optimal dengan biaya yang
relatif lebih murah.
Penerapan teknologi pengelolaan sumberdaya di lahan rawa pasang surut secara
parsial, selain memerlukan input dan biaya lebih tinggi, juga dampaknya terhadap
peningkatan produktivitas lahan memakan waktu lama sehingga hasilnya tidak optimal dan
keberlanjutan penerapannya oleh petani sangat rendah. Oleh karena itu, konsepsi dasar
teknologi percepatan peningkatan produktivitas lahan rawa pasang surut yang tepat untuk
dilaksanakan adalah mengacu pada pendekatan pengelolaan sumberdaya terpadu. Konsep
tersebut didasarkan kepada pemaduan secara komplementer antara upaya peningkatan
kualitas lahan sampai tingkat tertentu dengan input serendah mungkin dan penggunaan
tanaman yang toleran pada tingkat kualitas tersebut (Gambar 1). Upaya ini secara tidak
disadari sebenarnya sudah dilakukan oleh petani lokal dengan indigineous knowledge.
Teknologi pengelolaan sumberdaya terpadu adalah memadukan teknologi pengelolaan
sumberdaya yang berupa tanah, air, bahan amelioran, pupuk dan tanaman secara serasi dan
sinergi. Penerapan teknologi tersebut selain dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas
lahan secara lebih cepat, juga dapat meningkatkan efisiensi produksi dengan biaya yang
relatif lebih murah.
Peningkatan kualitas lahan
 meningkatkan pH tanah dan air
 mengurangi elemen toksik
 meningkatkan kesuburan tanah
 mengurangi fluktuasi rejim air
Masalah fisiko-kimia tanah
 pH tanah dan air rendah
 elemen toksik tinggi
 kesuburan tanah rendah
 fluktuasi air (banjir/kering)
Pengelolaan
sumberdaya terpadu
Produktivitas
lahan
meningkat
secara cepat
Penggunaan tanaman toleran
 jenis tanaman
 varietas tanaman
Gambar 1.
Konsep dasar pendekatan terpadu untuk meningkatkan produktivitas lahan
rawa pasang surut
Muhammad Alwi : Prospek Lahan Rawa Pasang Surut Untuk Tanaman Padi | 50
Pembukaan lahan rawa pasang surut beberapa dekade yang lalu akan menstimulasi
perkembangan tanah. Proses tanah utama yang terjadi dan masih berlangsung hingga
sekarang adalah perkembangan fisik, homogenitas, desalinisasi, gleisasi, perkembangan
lapisan coklat dan oksidasi pirit yang berkaitan dengan tanah sulfat masam (Prasetyo, et al.,
1990). Tanah sulfat masam berkembang sebagai akibat drainase bahan induk yang kaya
dengan pirit (FeS2) (Shamsuddin dan Sarwani, 2002). Pirit terakumulasi pada tanah
tergenang yang banyak mengandung bahan organik dan sulfat terlarut yang biasanya berasal
dari air laut. Ketika drainase membawa oksigen melalui tanah tergenang tersebut, maka
pirit akan teroksidasi menjadi asam sulfat. Tanah sulfat masam berkembang jika produksi
asam melebihi kemampuan netralisasi dari bahan induk, sehingga pH tanah turun menjadi
kurang dari 4.
Sekali pirit teroksidasi, oksigen akan masuk ke dalam tanah dan pirit bereaksi
dengan oksigan. Inilah awal rusaknya lahan rawa pasang surut akibat kemasaman tanah
dan air yang meningkat dan munculnya unsur-unsur yang bersifat racun ke lingkungan
perairan. Kandungan besi (Fe2+), aluminium (Al3+), ion hidrogen (H+), dan sulfat (SO42-)
pada lahan yang didrainase lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak didrainase. Hal
ini memberikan implikasi bahwa setelah lahan direklamasi dengan membangun sistem dan
jaringan drainase akan mengakibatkan turunnya kualitas lingkungan tanah dan air.
Konsten et al. (1990) menunjukkan total SO42- yang tercuci (leached) dari lahan yang
didrainase adalah 3,34 mol m-2 tahun-1, sebanding dengan 1,17 mol pirit m-2 tahun-1 atau
140 g pirit m-2 tahun-1. Pada lahan yang tidak didrainase, total SO42- yang tercuci 1,18 mol
pirit m-2 tahun-1 yang sebanding dengan 0,59 mol pirit m-2 tahun-1 atau 71 g pirit m-2 tahun1
.
Penggenangan dan pengeringan tanah menyebabkan perubahan beberapa sifat kimia
tanah antara lain peningkatan pH tanah, ketersediaan P meningkat, dan kadar Fe 2+ makin
berkurang. Perubahan sifat kimia tersebut berpengaruh positif terhadap pertumbuhan
tanaman padi (Luki et al., 1990). Takahashi (1999) menyatakan bahwa pengeringan
menyebabkan oksida besi ferri secara bertahap terkeristalisasi menjadi bentuk besi yang
kurang reaktif. Penggenangan berkala merupakan cara yang paling efektif untuk
menghilangkan pengaruh buruk yang timbul akibat penggenagan seperti: akumulasi CO2,
H2S, asam-asam organik, Fe, dan Mn tereduksi. Kondisi oksidasi dan reduksi secara
bergantian dalam tanah dapat menyebabkan penambahan senyawa-senyawa besi ferro.
Sekarang ini telah ditemukan teknologi percepatan perbaikan lahan rawa pasang
surut sulfat masam yang telah mengalami degradasi akibat kesalahan dalam pengelolaan
lahan. Malaui oksidasi tanah secara intensif dan investasi bakteri Thiobacillus feroxidans,
kemudian diikuti dengan pelindian menggunakan air insitu dengan sistem pompanisasi
dapat mempercepat peningkatan produktivitas lahan. Lahan rawa pasang surut sulfat
masam yang tidak dapat ditanami tanaman jika dibiarkan secara alami akan pengalami
perbaikan produktivitas lahan sehingga dapat ditanami tanaman memerlukan waktu 25-30
tahun. Jika menggunakan teknologi tersebut, maka perbaikan produktivitas lahan dapat
berlangsung lebih cepat yaitu 3-5 tahun.
Indeks Pertanaman
Dari sekitar 407.594 hektar lahan sawah pasang surut yang ditanami padi, hanya 10%
areal ditanami dua kali setahun (IP 200) dan sisanya hanya ditanam sekali setahun (IP 100).
Rendahnya indeks pertanaman (IP) ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (a)
Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”,
Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 51
kondisi lahan yang cukup berat, (b) keterbatasan tenaga kerja, (c) aspek sosial, seperti sikap
atau kebiasaan petani yang cenderung masih subsistem. Secara teknis, hal tersebut
berhubungan erat dengan sulitnya pengelolaan air karena masih sangat terbatasnya
infrastruktur, tingginya tingkat serangan hama-penyakit tanaman, serta penggunaan varietas
padi lokal berumur dalam (panjang).
Inovasi teknologi yang dianggap sesuai dengan dinamika perubahan lingkungan
strategis yang terus dikembangkan sebagai trobosan adalah peningkatan indeks pertanaman.
Di lahan rawa pasang surut umumnya dilakukan IP 100 (padi lokal), hanya sebagian kecil
petani yang telah menerapkan IP 180 (unggul-lokal) atau 200 (unggul-unggul). Beberapa
kendala yang dihadapi dalam meningkatkan IP antara lain (1) tingkat pengetahuan,
ketersediaan tenaga kerja, dan modal yang terbatas, dan (2) kondisi lahan rawa pasang surut
yang bervariasi, sehingga tidak semua lahan memungkinkan untuk detingkatkan IP padinya.
Pola curah hujan diwilayah rawa pasang surut khususnya Kalimantan Tengah
menunjukkan bahwa awal musim hujan dimulai pada Oktober, puncak hujan terjadi pada
Desember hingga Januari, kemudian mulai berkurang dan kemarau umumnya terjadi pada
Agustus hingga September (Gambar 2).
300
18
HH
16
250
14
200
12
150
10
Hari hujan
Jlh. Curah Hujan (mm)
CH
8
100
6
Des
Nov
Okt
Sept
Agu
Juli
Juni
Mei
April
Mart
Feb
4
Jan
50
Bulan
Gambar 2.
Pola curah hujan dan hari hujan di lahan rawa pasang surut Kalimantan
Tengah
Berdasarkan pengkajian dan pengalaman di Teluk Belanti I dan II, Kec. Pandih
Batu, Kab. Pulang Pisau, Kalteng penanaman padi dengan IP 300 telah dilakukan. Lahan
usahatani di lokasi ini termasuk lahan rawa pasang surut dengan jenis tanah potensial dan
tipe luapan air B. Air pasang hanya menggenangi lahan sawah pada saat pasang besar,
sedang pada pasang kecil air hanya masuk ke saluran tersier. Persiapan lahan dilakukan
dengan hand tractor dan pengaturan air dengan sistem pipanisasi. Tanam padi pertama
dimulai pada awal musim hujan (Oktober) secara sebar benih langsung. Hal ini dilakukan
mengingat waktu dan tenaga kerja terbatas. Setelah tanam, dilakukan pemeliharaan meliputi
pemupukan, penyiangan gulma, pengendalian hama dan penyakit. Panen padi pertama
sekitar Januari. Tanam padi kedua dilakukan minggu kedua Pebruari dan panen sekiar
pertengahan Mei. Kemudian tanam padi ketiga dilakukan awal Juni dan panen sekitar awal
September. Hasil panen padi yang dicapai dangan IP 300 tersebut sekitar 3-4 t GKG ha-1
setiap musim tanam. Berdasarkan pengalaman yang dilakukan petani dalam budidaya padi
Muhammad Alwi : Prospek Lahan Rawa Pasang Surut Untuk Tanaman Padi | 52
di lokasi tersebut, terbuka peluang bagi daerah lain di lahan rawa pasang surut dengan tipe
luapan yang sama untuk meningkatkan IP tanaman padi menjadi IP 300.
Hasil proyeksi melalui peningkatan indeks tanam padi dari IP 100 menjadi IP 200 di
lahan rawa pasang surut yang telah dikembangkan sebagai lahan sawah seluas 407.594 ha
dengan target hasi 4,0 t/ha maka diperoleh produksi sebesar 1.630.196 ton gabah. Jika lima
puluh persen saja dari seluruh lahan rawa pasang surut yang telah direklamasi seluas
2.833.814 ha ditanami padi IP 200 dengan target hasil rata-rata 3 t/ha, maka kontribusi lahan
rawa pasang surut terhadap produksi padi nasional adalah 8.501.442 ton gabah. Melalui
perbaikan jaringan infrastruktur sistem pengelolaan air secara makro dan mikro pada
wilayah-wilayah lahan rawa pasang surut yang potensial untuk dijadikan lahan pertanian,
maka peluang pengembangan lahan sawah baru akan semakin terbuka.
Teknologi Tersedia
Pengelolaan tanah dan air (soil and water management) merupakan kunci utama
keberhasilan pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut. Pengelolaan tanah dan
air ini meliputi jaringan tata air makro maupun mikro, penataan lahan, ameliorasi dan
pemupukan. Tata air mikro berfungsi untuk: 1) mencukupi kebutuhan evapotranspirasi
tanaman, 2) mencegah pertumbuhan gulma pada pertanaman padi sawah, 3) mencegah
terbentuknya bahan beracun bagi tanaman melalui penggelontoran dan pencucian, 4)
mengatur tinggi muka air, dan (5) menjaga kualitas air di petakan lahan dan saluran.
Widjaja-Adhi (1995) menganjurkan pembuatan saluran cacing pada petakan dan di
sekeliling petakan lahan. Oleh karena itu, pengelolaan tata air mikro mencakup pengaturan
dan pengelolaan air pada saluran kuarter dan petakan lahan yang sesuai dengan kebutuhan
tanaman selain dapat memperlancar pencucian bahan beracun. Sedangkan pengelolaan air
pada saluran tersier bertujuan untuk: 1) memasukkan air irigasi, 2) mengatur tinggi muka air
pada saluran dan petakan, dan 3) mengatur kualitas air dengan membuang bahan beracun
yang terbentuk di petakan serta mencegah masuknya air asin ke petakan lahan. Sistem
pengelolaan air di tingkat tersier dan mikro bergantung pada tipe luapan air pasang dan
tingkat keracunan. Tata air pada lahan yang bertipe luapan A dan B perlu diatur dalam
sistem aliran satu arah, sedangkan untuk lahan bertipe luapan C dan D, saluran air perlu
ditabat (disekat) dengan stoplog untuk menjaga permukaan air sesuai dengan kebutuhan
tanaman serta memungkinkan air hujan tertampung dalam saluran tersebut.
Penataan lahan dimaksudkan untuk menciptakan kondisi lahan agar sesuai dengan
kebutuhan tanaman yang akan dikembangkan. Penataan lahan perlu memperhatikan
hubungan antara tipologi lahan, tipe luapan, dan pola pemanfaatannya. Pada tipologi sulfat
masam potensial dengan tipe luapan A, penataan lahan sebaiknya untuk sawah, karena pirit
akan lebih stabil (tidak mengalami oksidasi) dan tanaman padi dapat tumbuh dengan baik.
Pada tipe luapan B, pola pemanfaatan lahan dilakukan dengan sistem surjan untuk tanaman
padi, palawija, sayuran atau buah-buahan. Untuk tanah sulfat masam potensial, pengolahan
tanah dan pembuatan guludan sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Tanah
untuk guludan diambil dari lapisan atas untuk menghindari oksidasi pirit. Sistem surjan
merupakan salah satu contoh penataan lahan rawa melalui diversifikasi tanaman. Lebar
guludan dibuat 3−5 m dan tinggi 0,50−0,60 m, sedangkan lebar tabukan 15 m. Setiap hektar
lahan dapat dibuat 6−10 guludan dan 5−9 tabukan. Tabukan ditanami padi sawah,
sedangkan guludan ditanami palawija, sayuran, dan tanaman perkebunan seperti kopi dan
kelapa.
Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”,
Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 53
Produktivitas tanah sulfat masam biasanya rendah karena pH tanah rendah, kelarutan
Fe, Al, dan Mn tinggi serta ketersediaan unsur hara terutama P dan K dan kejenuhan basa
rendah. Oleh karena itu, diperlukan bahan pembenah tanah (amelioran) untuk memperbaiki
kesuburan tanah sehingga produktivitas lahan meningkat. Bahan amelioran yang dapat
digunakan adalah kaptan untuk meningkatkan pH dan rock phosphate (RP) untuk memenuhi
kebutuhan hara P. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan
kebutuhan kapur adalah derajat pelapukan bahan induk, kandungan liat, kandungan bahan
organik, bentuk kemasaman, pH tanah awal, metode kebutuhan kapur, dan waktu (Al-Jabri
2002). Penetapan kebutuhan kapur untuk tanah sulfat masam dapat dilakukan berdasarkan
metode inkubasi dan titrasi. Penetapan kebutuhan kapur dengan metode inkubasi dilakukan
dengan mencampurkan kapur, tanah, dan air dalam beberapa dosis kapur selama beberapa
waktu tertentu, biasanya satu minggu sampai beberapa minggu, lalu kebutuhan kapur
ditentukan pada nilai pH tertentu. Metode inkubasi memiliki kelemahan yaitu terjadi
akumulasi garam (Ca, Mg, dan K) sehubungan dengan aktivitas mikroba sehingga takaran
kapur lebih dari yang seharusnya. Penetapan kebutuhan kapur berdasarkan metode titrasi
dengan NaOH 0,05 N untuk mencapai pH tertentu memerlukan kapur lebih rendah jika
dibandingkan dengan metode inkubasi, serta relatif lambat sehingga tidak sesuai untuk
analisis rutin. Walaupun metode titrasi memerlukan kapur lebih rendah, sebagian besar
kemasaman tanah tidak dinetralisir oleh basa, karena reaksi antara kation-kation asam yang
dapat dititrasi berlangsung sangat lambat. Hasil penelitian di rumah kaca dan di lapangan
menunjukkan penentuan takaran kapur berdasarkan titrasi dan inkubasi dapat diaplikasikan
pada tanah sulfat masam potensial bergambut di Lamunti, Kalimantan Tengah (Suriadikarta
dan Sjamsidi 2001).
Biochar merupakan limbah bahan organik yang diproses melalui pembakaran tidak
sempurna (pyrolisis) dan dapat bertahan lama hingga ratusan tahun. Biochar di dalam tanah
dapat menjadi habitat bagi mikroba tanah, dalam jangka panjang biochar tidak mengganggu
keseimbangan karbon-nitrogen, tetapi mampu menahan dan menjadikan air serta nutrisi
lebih tersedia bagi tanaman. Aplikasi biochar ke dalam tanah merupakan pendekatan baru
untuk menjadi suatu penampung (sink) bagi CO2 atmosfir jangka panjang, mengurangi
emisi gas rumah kaca (GRK), memperbaiki kesuburan tanah dan produksi tanaman
pertanian (Gani, 2010). Hasil penelitian Balittra terbaru menunjukkan bahwa biochar yang
dibuat dari sampah kota dengan kotoran sapi mampu meningkatkan kualitas biochar sebagai
bahan amelioran.
Tanah sulfat masam umumnya memiliki ketersediaan hara P dan K rendah, namun
bila bahan organiknya tinggi maka P dan K biasanya tinggi pula. Pada tanah sulfat masam
aktual, kadar P dan K dalam tanah sangat rendah sehingga pemupukan P dan K sangat
diperlukan. Takaran pupuk P adalah 100 kg TSP/ha atau 125 kg SP-36/ha yang setara
dengan 200 kg RP/ha (Supardi et al. 2000). RP yang bermutu baik untuk tanah sulfat masam
aktual adalah RP Maroko Ground karena mempunyai kandungan Ca yang tinggi yaitu
27,65% dan P2O5 total 28,80% (Suriadikarta dan Sjamsidi 2001). Untuk pupuk K cukup
diberikan 100 kg KCl/ha untuk tanaman padi sawah.
Padi sawah mempunyai daya adaptasi yang lebih baik di lahan pasang surut
khususnya tanah sulfat masam dibandingkan pada tanah gambut dalam. Menurut Suwarno
et al. (2000), sampai saat ini telah dilepas 11 varietas padi yang cocok dengan lahan pasang
surut. Varietas yang sesuai untuk lahan sulfat masam adalah Mahakam, Kapuas, Lematang,
Sei Lilin, Banyuasin, Lalan, Batanghari, Dendang, Margasari, Martapura, Inpara 1 sampai
dengan Inpara 7. Namun hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa varietas Inpara yang
sesuai untuk lahan rawa pasang surut adalah Inpara 2, Inpara 3, dan Inpara 4. Untuk tanah
sulfat masam aktual di mana kadar Al dan Fe sangat tinggi, lebih sesuai ditanam varietas
Muhammad Alwi : Prospek Lahan Rawa Pasang Surut Untuk Tanaman Padi | 54
lokal yang telah adaptif seperti Ceko, Jalawara, Talang, Gelombang, Bayur serta berbagai
varietas Siam.
Dua faktor penyebab utama tingginya intensitas serangan hama dan penyakit
tanaman adalah (1) kedekatan lokasi lahan rawa pasang surut dengan hutan dan (2)
sempitnya areal pertanaman varietas unggul sehingga serangan hama dan penyakit
terkonsentrasi. Pada dasarnya pengendalian hama dan penyakit diarahkan pada strategi
pengelolaan hama terpadu (PHT) melalui penggunaan varietas tahan dan musuh alami,
teknik budidaya yang baik dan sanitasi lingkungan. Penggunaan pestisida kimia dilakukan
sebagai tindakan terakhir. Sebagai contoh, pengendalian hama tikus terpadu yang
strateginya didasarkan pada kombinasi taktik-taktik pengendalian berdasarkan stadia
tanaman padi di lapangan. Untuk keberhasilan pengendalian hama dan penyakit ini
diperlukan partisipasi aktif petani dan dukungan aparat pemerintah serta sarana dan
prasarana penunjang yang memadai.
Gulma di lahan rawa pasang surut memiliki tingkat perkembangan yang cepat dan
dapat menurunkan hasil padi hingga 74,2%. Gulma yang banyak tumbuh di lahan rawa
pasang surut tipe luapan C dan D adalah gulma darat seperti: alang-alang, gerintingan dan
babadotan. Sedangkan pada tipe luapan A adalah gulma air seperti: eceng gondok,
semanggi, jajagoan dan jujuluk. Kemudian pada lahan tipe luapan B adalah gulma darat dan
gulma air (Noor dan Ismail, 1995). Gulma dapat dikendalikan secara manual atau
menggunakan herbisida. Gulma pada pertanaman padi dapat dikendalikan dengan Diuron
80 WP, Metachlor 500 EC, Oxyfluorfen 2EC, Oxadiazon 25 EC. Pemberian herbisida
tersebut masing-masing dengan takaran 0,5; 2,0; dan 2,0 l ha-1 satu hari setelah tanam (HST)
diikuti dengan penyiangan secara manual pada umur tanaman 35 HST dapat memberantas
gulma secara efektif. Hasil penelitian Yusuf et al. (1993) pada padi sawah di lahan gambut
memperlihatkan hasil serupa, yaitu penyiangan dengan herbisida DMA 6 takaran 1,5 l ha-1
diikuti dengan cara manual pada umur tanaman 30 HST memberikan hasil sama dengan
penyiangan secara manual dua kali.
Unsur penunjang bagi keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan teknologi hasil
penelitian oleh petani di lahan rawa pasang surut menurut Alihamsyah (2002) mencakup :
(1) peta dan informasi karakteristik wilayah, (2) kemampuan dan partisipasi masyarakat, (3)
ketersediaan sarana dan prasarana penunjang, (4) kebijaksanaan pemerintah.
Peta dan infromasi karakteristik wilayah diperlukan untuk menentukan pola
pemanfaatan lahan dan perakitan komponen teknologi pengelolaan lahan dan sistem
usahataninya. Peta tersebut minimal memuat informasi penyebaran tipologi lahan dan tipe
luapan serta sifat fisiko-kimia penting tanah dan air termasuk masalah biofisiknya. Apabila
informasi ini tidak tersedia, maka tahap awal perlu dilakukan identifikasi dan karakterisasi
wilayah di calon lokasi atau wilayah pengembangan.
Untuk bisa diadopsi dan diterapkan, teknologi hasil penelitian dan pengkajian
tersebut perlu dimasyarakatkan kepada petani dan penyuluh melalui berbagai cara, antara
lain pelatihan dan pembinaan secara intensif serta percontohan dan kunjungan lapang.
Untuk efisiensi, pelatihan bisa dilakukan secara bertahap. Tahap pertama dilakukan kepada
para penyuluh pertanian dan selanjutnya kepada para petani dan kelompoknya yang
dilakukan oleh para penyuluh yang sudah dilatih disertai dengan berbagai percontohan.
Materi pelatihan tidak hanya aspek teknologi tersebut saja, tetapi termasuk pula
berorganisasi, kedisiplinan dan kekompakan serta kerjasama antar anggota kelompok dalam
berusahatani. Kemampuan masyarakat khususnya petani, bukan hanya pengetahuan tapi
juga permodalan untuk usahataninya. Oleh karena itu, perlu dukungan lembaga perkreditan
atau keuangan yang dapat menyediakan modal usaha bagi petani secara cepat dengan
Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”,
Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 55
prosedur yang sederhana dan mudah. Partisipasi masyarakat diperlukan dalam penerapan
teknologi tidak hanya terbatas pada masyarakat petani dengan kelompoknya, tetapi juga
pihak swasta atau pengusaha dan aparat pemerintah.
Teknologi hasil penelitian baru bisa diterapkan dengan baik oleh petani apabila
tersedia sarana dan prasarana penunjang yang memadai. Penerapan teknologi pengelolaan
air perlu didukung oleh prasarana tata air makro yang sesuai, sedangkan untuk teknologi
varietas, ameliorasi dan pemupukan perlu didukung oleh penyediaan benih bermutu, bahan
ameliorasi dan pupuk yang memadai secara tepat jumlah, jenis dan waktu. Penerapan
teknologi pengolahan tanah dan penanganan panen serta pasca panen memerlukan dukungan
pengembangan alsintan berupa traktor, mesin panen dan perontok serta pengering,
sedangkan penerapan teknologi pengendalian OPT memerlukan selain bahan pengendali
OPT juga peralatan untuk aplikasinya. Tanpa penyediaan sarana dan prasarana yang
memadai secara tepat dan terjangkau, penerapan teknologi hasil penelitian di lahan rawa
tidak akan berjalan dengan baik. Dalam kaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana ini
diperlukan pengembangan kelembagaan agribisnis yang sesuai terutama dengan melibatkan
kelompok atau koperasi petani dan pengusaha swasta lokal.
Dari berbagai pengalaman pengembangan pertanian di daerah rawa menunjukkan
bahwa kebijaksanaan yang perlu diperhatikan oleh pemerintah untuk mendukung
pengembangan teknologi pertanian di lahan rawa secara berkelanjutan mencakup beberapa
hal, terutama : (1) identifikasi dan karakterisasi daerah pengembangan potensial, (2)
rehabilitasi dan peningkatan prasarana jaringan tata air, (3) peningkatan kemampuan petugas
dan petani termasuk fasilitas dan sarana penyuluhan, (4) insentif harga yang layak serta
fasilitas kredit dan permodalan, (5) penyediaan dan deregulasi tata niaga sarana produksi
dan pemasaran hasil, (6) peningkatan atau pengembangan kelembagaan, terutama yang
berakar dari masyarakat termasuk lembaga keuangan pedesaan dan jasa penyewaan alsintan,
(7) pengembangan jaringan perhubungan antar wilayah, dan (8) peningkatan koordinasi dan
keterpaduan kerja antar instansi terkait melalui pendekatan mekanisme fungsional maupun
struktural.
Penutup
1.
Masih terbuka peluang untuk mengembangkan lahan sawah baru di lahan rawa pasang
surut karena luas lahan yang tersedia masih luas (2.426.220 ha). Pengembangan sawah
dapat dilakukan terutama pada lahan rawa pasang surut dengan tipe luapan B dan C.
2.
Melalui perbaikan produktivitas lahan, produksi padi pada masing-masing tipologi
lahan rawa pasang surut masih bisa ditingkatkan menjadi 6,3-7,0 t GKG ha-1, pada
lahan sulfat masam potensial 4,5-6.0 t GKG ha-1, lahan sulfat masam aktual 4,0-5,0 t
GKG ha-1 dan lahan gambut serta salin 4,0-4,5 t GKG ha-1.
3.
Melalui peningkatan peran aparatur pemerintah (penyuluh), pedagang (pengusaha), dan
motivasi petani, serta perbaikan infrastruktur masih terbuka peluang untuk
meningkatkan IP dari 100 menjadi IP 200 bahkan IP 300.
4.
Telah banyak teknologi peningkatan produksi padi di lahan rawa pasang surut
dihasilkan melalui penelitian, tinggal bagaimana teknologi tersebut di adopsi dan
diterapkan oleh petani.
Muhammad Alwi : Prospek Lahan Rawa Pasang Surut Untuk Tanaman Padi | 56
Daftar Pustaka
Agus, F. dan Irawan. 2007. Agricultural land conversion as a threat to food security and
environmental quality. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 25(3):90-98.
Alihamsyah, T. 2002. Optimalisasi Pendayagunaan Lahan Rawa Pasang Surut. 29 hal.
Makalah disajikan pada Seminar Nasional Optimalisasi Pendayagunaan Sumberdaya
Lahan di Cisarua tanggal 6-7 Agustus 2002. Puslitbang Tanah dan Agroklimat.
Al-Jabri, M. 2002. Penetapan Kebutuhan Kapur dan Pupuk Fosfat untuk Tanaman Padi
(Oryza sativa L.) pada Tanah Sulfat Masam Aktual Belawang, Kalimantan Selatan.
Disertasi. Program Pascasarjana. Universitas Padjadjaran, Bandung.
Ananto, E.E., A. Supriyo, Soentoro, Hermanto, Y. Soelaeman, IW. Suastika dan B.
Nuryanto. 2000. Pengembangan Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut Sumatera
Selatan : Mendukung Ketahanan Pangan dan Pengembangan Agribisnis. 18 hal.
P2SLPS2. Badan Litbang Pertanian.
Ananto, E.E., H. Subagyo, I.G. Ismail, U. Kusnadi, T. Alihamsyah, R. Thahir, Hermanto
dan D.K.S. Swastika. 1998. Prospek pengembangan sistem usaha pertanian modern
di lahan pasang surut Sumatera Selatan. 16 hal. P2SLPS2, Badan Litbang Pertanian.
Aribawa, I. B., M. Noor, dan S. Ali. 1997. Pengaruh pemberian kapur, fosfat, dan
residunya terhadap perubahan kualitas tanah, air, dan hasil padi di tanah sulfat
masam. Kalimantan Sciantiae 18:47-57.
Audebert, A. 2006. Iron partitioning as a mechanism for iron toxicity tolerance in low land
rice. In. Audebert, A., L. T. Narteh, D. Killar, and B. Beks. (Ed.). Iron Toxicity in
Rice-Based System in West Africa. Africa Rice Center (WARDA).
Becker, M. and F. Ash. 2005. Iron toxicity in rice condition and management concept.
Journal of Plant Nutrition and Soil Science 168: 558-573.
Biro Pusat Statistik. 2008. Survei Susut Panen MT 2007/2008. Kerjasama BPS, Ditjen
Tanaman Pangan, Badan Pengendalian Bimas, dan Bolog.
Direktorat Rawa dan Pantai. 2006. Pengembangan Daerah Rawa. 172 hal. Direktorat
Rawa dan Pantai, Dirjen Sumberdaya Air. Kementrian Pekerjaan Umum. Jakarta.
Direktorat Jendral Tanaman Pangan. 2007. Kebijakan pengembangan lahan rawa dalam
mendukung ketahanan pangan nasional. Dalam. Prosiding Seminar Nasional
Pertanian Lahan Rawa. 3-4 Agustus 2007. Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah.
Dobermann, A. and T. Fairhurst. 2000. Rice, Nutrient Disorders and Nutrient
Management. Handbook series. Potash and Phosphate Institute (PPI). Potash and
Phosphate Institute of Canada (PPIC) and International Rice Institute.
Gani, A. 2010. Multiguna arang-hayati biochar. Sinar Tani. Edisi 13-19 Oktober 2010.
Konstens, C. J. M., S. Suping, I B. Aribawa, and IPG. Widjaja Adhi. 1990. Chemical
processes in acid sulphate soil in Pulau Petak, South and Central Kalimantan. p. 109135. In. AARD/LAWOO. Paper Workshop on Acid Sulphate Soils In The Humik
Tropics. Bogor.
Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”,
Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 57
Luki, U., R. Syahni, dan R. Rasyidin. 1990. Pengaruh lamanya waktu penggenangan dan
pencucian terhadap beberapa ciri kimia tanah dan pertumbuhan tanaman padi sawah.
p. 439-452. Dalam. Prosiding Pengelolaan Sawah Bukaan Baru Menunjang
Swasembada Pangan dan Program Transmigrasi. Balai Penelitian Tanaman Pangan
Sukarami. Padang.
Mehbaran, P., A. Abdol Zadeh and H. Reza Sadeghipour. 2008. Iron toxicity in rice (Oryza
sativa L.) under different potassium nutrition. Asian J. of Plant Sci. 7:1-9.
Noor, E.S. dan I.G. Ismail. 1995. Gulma dan pengendaliaannya dalam sistem usahatani di
lahan pasang surut. Sistem usaha tani berbasis tanaman pangan: Keunggulan
komparatif dan kompetitif. Risalah Seminar Hasil Penelitian Sistem Usahatani dan
Sosial ekonomi. Bogor, 4-5 Oktober 1994.
Prasetyo, B.H. 2007. Genesis tanah sawah bukaan baru. Hlm 25-52. Dalam Tanah Sawah
Bukaan Baru. ISBN: 978-602-8039-04-8. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan
Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Prasetyo, H., J. A. M. Janssen, dan Alkusuma. 1990. Landscape and soil genesis in Pulau
Petak Kaslimantan. Pp. 18-29. In. Papers workshop on acid sulphate soils in the
humid tropics, 20-22 November 1990. AARD/LAWOO. Bogor.
Priatmadi, B. J. dan E. Purnomo. 2000. Karakterisasi tanah sulfat masam dan zonase
produktivitas padi. J. Tanah Tropika 11:59-68
Purnomo, E., Gelling, S. M., W. T. G. Van Someren. 1999. Spatial and temporal variability
of some chemical composition of tidal swamp irrigation water in acid sulphate soil of
South Kalimantan. J. Tanah Tropika 9:7-14.
Puslitbangtanak. 2003. Arahan Lahan Sawah Utama dan Sekunder Nasional di P. Jawa, P.
Bali, dan P. Lombok. Laporan Akhir Kerjasama antara Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Badan Litbang Pertanian dengan Proyek
Koordinasi Perencanaan Peningkatan Ketahanan Pangan, Biro Perencanaan dan
Keuangan, Sekretariat Jenderal Departemen Pertanian.
Ritung, S. 2011. Karakteristik dan sebaran lahan sawah di Indonesia. Hlm 83-98. Dalam.
Prossiding Seminar Nasional Teknologi Pemupukan dan Pemulihan lahan
Terdegradasi. Balai Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Bogor.
Shamsuddin, J. dan M. Sarwani. 2002. Pyrite in acid sulphate soils: transformation and
inhibition of its oxidation by application of natural materials. 97:1-5. Symposiom
17th WCSS 14-21 August 2002. Thailand.
Supardi, S., D.A. Suriadikarta, dan W. Hartatik. 2000. Prospek P alam sebagai pengganti
SP-36 di lahan sulfat masam. Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan
Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa, Cipayung 25–29 Juli 2000. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat hlm. 433−440.
Suriadikarta, D.A. dan G. Sjamsidi. 2001. Teknologi peningkatan produktivitas tanah sulfat
masam. Laporan akhir. Proyek Sumber Daya Lahan Tanah dan Iklim, Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. hlm. 6−12.
Muhammad Alwi : Prospek Lahan Rawa Pasang Surut Untuk Tanaman Padi | 58
Sutanto, R. H. 2009. Review Hasil Pembahasan Workshop Pengembangan dan
Pengelolaan Rawa dalam Mendukung Upaya Ketahanan Pangan Nasional. 16
Desember 2009, Hotel Nikko Jakarta. 27 hal.
Sutomo, S. dan K. Suhariyanto. 2005. Data Konversi Lahan Pertanian, Hasil Sensus
Pertanian 2003. BPS-Statistics Indonesia.
Suwarno, T. Alihamsyah, dan I.G. Ismail. 2000. Optimasi pemanfaatan lahan rawa pasang
surut dengan penerapan sistem usaha tani terpadu. Prosiding Seminar Nasional
Penelitian dan Pengembangan Pertanian di Lahan Rawa. Cipayung, 25–27 Juli 2000.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. hlm. 176−186.
Takahashi, T., C. Y. Park, H. Nakajima, H. Sekiya, and K. Toriyana. 1999. Ferric ion
transformation in soils with rotation of irrigated rice and effect on soil tillage
properties. Soil Sci. Plant Nutr. 45:163-173.
Yusuf, A., Nusyirwan dan E. Rusdi. 1993. Penyiangan gulma padi sawah secara manual
dan kimiawi di lahan gambut. Dalam Kumpulan Hasil Penelitian Teknologi
Produksi dan Pengembangan Sistem Usahatani di Lahan Rawa. Proyek ISDP.
Badan Litbang Pertanian.
Widjaja-Adhi, IP.G. 1995b. Potensi peluang dan kendala perluasan areal pertanian lahan
rawa di Kalimantan Tengah dan Irian Jaya. Sopeng, 7−8 November 1995. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. hlm. 1−12.
Prosiding Seminar Nasional “Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi”,
Banjarbaru 6-7 Agustus 2014 | 59
Download