BAB I PENDAHULUAN - Widyatama Repository

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Krisis multidimensi yang saat ini sedang terjadi membawa iklim buruk
terhadap perekonomian Indonesia khususnya sektor perbankan. Kondisi seperti ini
pernah dialami Indonesia pada tahun 1997-1998 dimana beberapa bank
mengalami likuidasi. Pada saat ini kiblat perekonomian dunia adalah Amerika,
maka pada saat perekonomian Amerika turun, salah satunya dikarenakan kredit
macet pada sektor properti (Tempo, September 2008) yang kemudian disusul
dengan runtuhnya Lehman Brother. Hal ini membuat perekonomian dunia ikut
terguncang tak terkecuali Indonesia.
Bank merupakan suatu lembaga yang berperan sebagai perantara keuangan
(financial intermediary) antara pihak-pihak yang memiliki dana (surplus unit)
dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana (deficit unit) serta sebagai lembaga
yang berfungsi memperlancar aliran lalu lintas pembayaran. Di bidang bisnis,
perbankan Indonesia dihadapkan pada masalah-masalah ketidakpastian, baik
mengenai tingkat bunga, nilai tukar, maupun tingkat kompetisi di berbagai macam
bidang. Sistem moneter Indonesia telah diarahkan pada operasi pasar terbuka. Hal
ini berarti bahwa semua ketidakpastian tersebut ditentukan oleh mekanisme pasar.
Di lain pihak, penguasa moneter memiliki kekuatan kendali untuk mengamankan
kepentingan masyarakat umum dan kepentingan ekonomi moneter secara lebih
luas. Di samping itu bank juga sebagai suatu industri yang dalam kegiatan
usahanya mengandalkan kepercayaan masyarakat sehingga seharusnya tingkat
kesehatan bank perlu dipelihara.
Kestabilan
lembaga
perbankan
perlu
diperhatikan
dalam
suatu
perekonomian. Kestabilan ini tidak saja dilihat dari jumlah uang yang beredar
namun juga dilihat dari jumlah bank yang ada sebagai perangkat penyelenggaraan
keuangan.
Adapun pengertian bank menurut Undang-Undang No.7 tahun 1992
yang disempurnakan menjadi Undang-Undang No.10 tahun 1998 sebagai
Bab I Pendahuluan
2
berikut, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan /
atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.
Melihat fungsi bank sebagai lembaga yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan dan kemudian menyalurkannya kepada
masyarakat yang membutuhkan dana dalam bentuk kredit. Maka kredit adalah
bagian terbesar dari aset yang dimilki oleh bank itu sendiri.
Pada dasarnya semua bisnis tidak dapat terlepas dari risiko kegagalan.
Demikian pula dengan sektor perbankan. Pemberian kredit yang dilakukan oleh
bank mengandung risiko yaitu berupa tidak lancarnya pembayaran kembali kredit
atau dengan kata lain disebut dengan kredit bermasalah (Non Performing LoanNPL) sehingga akan mempengaruhi kinerja bank. Kredit bermasalah yang terjadi
pada bank tersebut dapat diturunkan dengan cara ekspansi atau restrukturisasi.
Dalam Seminar Restrukturisasi Perbankan di Jakarta pada tahun 1998
disimpulkan beberapa penyebab menurunnya kinerja bank, diantaranya semakin
meningkatnya kredit bermasalah perbankan, dampak likuidasi bank-bank 1
November 1997 yang mengakibatkan turunnya kepercayaan masyarakat terhadap
perbankan dan pemerintah yang memicu penarikan dana secara besar-besaran,
semakin turunnya permodalan bank-bank, manajemen tidak professional.
Tingkat kesehatan bank dapat dinilai dari beberapa indikator. Salah satu
sumber utama indikator yang dijadikan dasar penilaian adalah laporan keuangan
bank yang bersangkutan. Berdasarkan laporan keuangan itu akan dapat dihitung
sejumlah rasio keuangan yang lazim dijadikan dasar penilaian tingkat kesehatan
bank. Analisis rasio keuangan memungkinkan manajemen untuk mengidentifikasi
perubahan-perubahan pokok pada kecenderungan jumlah dan hubungan serta
alasan perubahan tersebut. Hasil analisis laporan keuangan akan membantu
menginterpretasikan berbagai hubungan kunci serta kecenderungan yang dapat
memberikan dasar pertimbangan mengenai potensi keberhasilan perusahaan
dimasa yang akan datang.
Bab I Pendahuluan
3
Masalah likuiditas pada sejumlah bank di Indonesia terjadi karena bankbank tersebut tidak memenuhi kriteria sebagai bank yang sehat. Salah satu
masalah yang dihadapi sejumlah bank tersebut adalah masalah disiplin dalam
menjalankan manajemen perbankan, khusunya manajemen aktiva dan hutang
(Asset Liability Management). Hal ini menyebabkan asset yang dimiliki bankbank tersebut tidak mencukupi untuk memenuhi kewajibannya baik jangka
pendek maupun jangka panjang, sehingga timbulah permasalahan pada likuiditas
bank teresebut.
Bagi sebuah bank, Asset Liability Management (ALMA) memegang
peranan yang sangat penting dalam menentukan kegiatan operasional bank untuk
menghasilkan output atau hasil dalam bentuk produk perbankan maupun jasa-jasa
perbankan yang dibutuhkan nasabah sesuai dengan target yang telah ditentukan.
Asset Liablity Management yang tidak tepat dalam pengelolaannya akan
mengakibatkan tingkat Profitabilitas yang menurun yang dapat mengakibatkan
menurunnya rasio Return On Asset sebagai tingkat pengukuran profitabilitas
sebuah bank. Dapat diartikan bahwa sebuah bank dapat mengelola assetnya secara
efektif dan optimal maka bank tersebut dapat memenuhi kewajibannya. Tingginya
kemampuan ALMA dapat menampilkan tingkat kinerja bank yang sangat baik
(Djinarto, 2002:2).
Adapun konsep Asset Liability Management yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu konsep Manajemen Asset dan Manajemen Liability, dimana
konsep-konsep tersebut menyajikan dan menghitung bagaimana sebuah bank
dapat mengelola assetnya agar dapat memenuhi kewajibannya baik jangka pendek
maupun jangka panjang. Asset Liability Management disebut juga sebagai risk
management karena dalam implementasinya lebih menitik beratkan pada
pengendalian risiko seperti risiko likuiditas, risiko tingkat suku bunga, risiko nilai
tukar, risiko tingkat kemacetan pinjaman.
Saat sistem deregulasi perbankan di Indonesia mengarah pada keadaankeadaan dengan tingkat risiko yang semakin meningkat, persaingan memperoleh
dana juga semakin ketat, dan kebutuhan asset liability management yang semakin
kompleks. Dengan keunggulan sumber dayanya, sebuah bank akan mampu
Bab I Pendahuluan
4
bersaing di bidang lending maupun funding dapat dilakukan oleh salah satu
departemen tersebut melalui asset liability management.
Melalui asset liability management, suatu bank dapat menetapkan strategi
yang tepat untuk lending maupun funding agar dapat dihasilkan keputusan yang
tepat untuk lending dan funding sehingga dapat terhindar dari risiko kerugian.
Dengan manajemen luiditas dan manajemen gap yang terdapat dalam strategi
lendig dan funding yang tepat, sebuah
bank dapat memaksimumkan
profitabilitasnya dan menghindarkan bank tersebut dari risiko kerugian. Dalam
mengukur profitabilitas, sebuah bank dapat menggunakan beberapa indikator,
antara lain ROA, ROE, NPM dan rasio biaya operasional. Namun Bank Indonesia
lebih mementingkan penilaian tingkat profitabilitas berdasarkan besarnya ROA.
Hal ini dikarenakan Bank Indonesia sebagai Pembina dan pengawas perbankan
lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset yang
dananya sebagian besar berasal dari dana simpanan masyarakat. Atau dengan kata
lain
ALMA
dapat
membantu
sebuah
bank
dalam
memaksimumkan
profitabilitasnya yang salah satu indikatornya adalah ROA. Jadi semakin besar
ROA maka semakin baik pengelolaan ALMA pada bank tersebut.
Kutipan dari Kontan (Mei:2009) Bank Indonesia (BI) menerbitkan daftar
10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan nilai aset, lima bank diantaranya yaitu
Mandiri, BRI, BCA, BNI dan Danamon. Kelima bank tersebut adalah motor
utama perbankan nasional karena menguasai pangsa pasar (share) sekitar 50%
dari total aset perbankan Indonesia. PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk. (BRI),
misalnya, nangkring di posisi kedua menggeser posisi PT Bank Central Asia, Tbk.
(BCA). Sebelumnya, BCA selalu menduduki peringkat kedua. Namun pada akhir
Maret 2009, aset BRI melonjak melebihi BCA.
PT. Bank Rakyat Indonesia salah satu bank milik pemerintah yang sempat
identik dengan ’wong cilik’ dan ’bank ndeso’ ini menorehkan prestasi yang cukup
atraktif selama beberapa tahun terakhir. Walhasil hampir semua indikator kinerja
BRI menunjukkan prestasi yang sangat cantik, dan mulai ’menyerbu’ nasabah di
perkotaan serta melakukan ekspansi bisnis korporat. Berhasil mencatatkan laba
bersih Rp 1,72 triliun pada kuartal pertama 2009 (Kontan, Mei;2009). Artinya,
Bab I Pendahuluan
5
laba bersih BBRI naik 22,02% dibandingkan periode yang sama setahun lalu,
yaitu Rp 1,41 triliun. Selain itu, BBRI berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit
(outstanding) sebesar Rp 165,23 triliun hingga kuartal pertama 2009, atau
meningkat 39,51% ketimbang periode yang sama setahun lalu. Kutipan dari
Kontan (Mei;2009) Managing Direktur BRI Sulaiman Arif Arianto di Jakarta
menyatakan
keberhasilan
BRI
tidak
terlepas
dari
komitmen
terhadap
pengembangan Usaha mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Kutipan dari
Sakariza Qori Hermawan (Maret:2009) seorang pengamat perbankan dan
ekonomi, BRI tumbuh dengan mantap dibanding 4 bank lainnya yang
berfluktuasi. Kontributor utama laba BRI adalah tingginya pendapatan bunga
bersih (NII = Net Interest Income). Tingginya NII BRI antara lain disebabkan
oleh ekspansi kredit yang mencapai 41,5%, dana murah (CASA = Current
Account Saving Account) yang mencapai 64%, serta yield kredit BRI yang relatif
tinggi. NII BRI yang tertinggi tersebut dicerminkan oleh NIM BRI yang tertinggi
dibanding 4 bank besar lainnya (Danamon, BCA, BNI, Mandiri,).
PT. Bank Central Asia adalah bank swasta nasional terbesar, sudah
menunjukkan kinerja yang jauh melesat dibandingkan satu dasawarsa yang lalu.
Bank yang identik dengan transactional banking ini memiliki indikator kinerja
yang menonjol selama 2008 baik dari sisi fundamental maupun profitabilitas. Dari
sisi fundamental, CAR BCA adalah yang tertinggi diantara 4 bank lainnya (BRI,
Mandiri, BNI, Danamon) yaitu sebesar 15,8%. Selain itu, coverage ratio BCA
meningkat signifikan yang semula 252% pada 2007 menjadi 407% pada 2008,
sehingga semakin jauh meninggalkan 4 bank lainnya. Dengan demikian BCA
mempunyai potensi yang cukup besar untuk melakukan ekspansi bisnis pada
2009, karena secara fundamental BCA mempunyai ‘bumper’ yang cukup kuat jika
kondisi semakin memburuk. Dan dikutip dari laporan BCA triwulan 1 2009, BCA
berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp. 1,6 triliun , meningkat 41,8% dari
periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,2 triliun. Portofolio kredit
tercatat sebesar Rp 107,3 triliun pada akhir Maret 2009, dan hasilnya rasio kredit
terhadap dana pihak ketiga (LDR) membaik menjadi 51,2% pada akhir Maret
Bab I Pendahuluan
6
2009. Asset Liability Management dapat membantu kedua bank tersebut agar tetap
bertahan sebagai bank dengan tingkat kesehatan bank yang baik.
Dalam menjalankan usaha menghimpun dana dari masyarakat dan
menyalurkan kembali kepada masyarakat kedua bank tersebut harus berhati-hati
agar pendapatan yang diterima dari menyalurkan dana kemasyarakat lebih besar
dari beban bunga yang harus dibayar kepada masyarakat yang menanamkan
uangnya di kedua bank tersebut. Untuk kepentingan ini kedua bank memiliki
suatu komite yang bertugas untuk mengatur strategi dalam pengelolaan harta dan
kewajiban. Komite ini dikenal dengan nama ALCO (Asset Liability Committee)
Berdasarkan fenomena tersebut, penulis bermaksud ingin meneliti dari
kedua bank tersebut manakah yang lebih efektif dalam pengelolaan Asset Liability
Managementnya. Oleh karena itu penulis bermaksud menuangkannya dalam
skripsi dengan judul “Analisis Perbandingan Kinerja Pengelolaan Asset
Liability Management antara PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dengan PT.
Bank Central Asia, Tbk.”.
1.2
Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang maka permasalahan yang akan
diteliti dalam pemelitian ini adalah:
1.
Bagaimana pengelolaan manajemen likuiditas pada PT. Bank Rakyat
Indonesia dan PT. Bank Central Asia
2.
Bagaimana posisi gap management pada PT. Bank Rakyat Indonesia, dan
PT. Bank Central Asia
3.
Adakah perbedaan pengelolaan asset liabilities management antara PT.
Bank Rakyat Indonesia dan PT. Bank Central Asia
1.3
Maksud dan Tujuan Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulis bermaksud untuk memperoleh
data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun skripsi yang merupakan
salah satu prasyarat yang harus dipenuhi oleh penulis dalam memperoleh gelar
Bab I Pendahuluan
7
Sarjana Ekonomi Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Manajemen
Universitas Widyatama Bandung.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.
Mengetahui dan menganalisis pengelolaan Liquidity Management pada
PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk. dan PT. Bank Central Asia, Tbk.
2.
Mengetahui dan menganalisa posisi Gap Management pada PT. Bank
Rakyat Indonesia, Tbk. dan PT. Bank Central Asia, Tbk.
3.
Mengetahui ada tidaknya perbedaan pengelolaan
asset liabilities
management antara PT. Bank Rakyat Indonesia dan PT. Bank Central Asia
1.4
Kegunaan Penelitian
Secara umum penelitian dapat memberikan suatu wawasan baru dalam
pengelolaan Asset Liability Management perbankan, sehingga profitabilitas dan
kinerja manajemen dapat dipertahankan serta ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Hal ini sangat berguna terutama dalam menghadapi situasi ekonomi yang tidak
menentu dimana harga dan tingkat bunga cenderung naik turun dalam waktu
sekejap. Pengelolaan asset dan liability yang baik memungkinkan bank bertahan
dalam kondisi terburuk dan memudahkan manajemen dalam pengambilan
keputusan.
Dalam melakukan penelitian ini, penulis berharap agar hasil penelitian
yang dilakukan dapat bermanfaat bagi :
1.
Penulis
Penelitian ini bagi penulis merupakan sarana belajar untuk mengetahui
sejauhmana teori yang diperoleh dapat diterapkan dalam praktek juga
menambah pengetahuan penulis khususnya mengenai pengelolaan asset
dan liability di dunia perbankan.
2.
Bagi Pihak Bank
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pihak Bank itu
sendiri sampai sejauhmana optimalisasi perusahaan dalam menetapkan
tingkat kesehatan bank sehingga dapat dijadikan bahan masukan dan
Bab I Pendahuluan
8
pertimbangan yang berarti dalam membuat keputusan pendanaan di
periode yang akan datang.
3.
Bagi Pihak Lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi yang
membacanya dan dapat dijadikan sebagai dasar unutk penelitian
selanjutnya yang lebih mendalam mengenai masalah yang dibahas.
1.5
Kerangka Pemikiran
Peranan perbankan dalam memajukan perekonomian sangatlah besar.
Hampir semua sektor yang berhubungan dengan berbagai kegiatan perekonomian
selalu membutuhkan jasa bank. Bank merupakan lembaga keuangan yang
menghimpun dana dari masyarakat kemudian menyalurkannya kembali dan
tersebut ke masyarakat biasa dalam bentuk pinjaman atau kredit.
Hal ini ditegaskan dalam Undang-undang Perbankan No. 10 tahun
1998 yang menyebutkan bahwa, bank adalah badan usaha yang menghimpun dana
dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dalam bentuk kredit
dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak.
Kegiatan penghimpunan dan penyaluran dana merupakan kegiatan pokok
perbankan. Pengertian penghimpunan dana maksudnya adalah mengumpulkan
atau mencari dana (uang) dengan cara membeli dari masyarakat luas dalam
bentuk simpanan giro, tabungan, dan deposito, kegiatan penghimpunan dana ini
dalam perbankan dikenal dengan istilah funding. Sedangkan pengertian
menyalurkan dana adalah melemparkan kembali dana yang diperoleh lewat
simpanan giro, tabungan, dan deposito ke masyarakat dalam bentuk pinjaman
(kredit), kegiatan penyaluran dana ini juga dikenal dengan istilah lending. Untuk
menunjang kegiatan utama bank menghimpun dana dan menyalurkan dana, bank
memerlukan sumber dana dan alokasi dana yang tepat.
Pengertian sumber dana bank menurut Kasmir (2000;45) adalah usaha
bank dalam menghimpun dana dari masyarakat, sedangkan untuk biaya
operasinya dana dapat juga diperoleh dari modal sendiri.
Bab I Pendahuluan
9
Sumber dana bank berasal dari berbagai pihak, antara lain :
1.
Dana pihak kesatu, yang terdiri atas modal sendiri, modal disetor,
cadangan-cadangan, dan laba yang ditahan.
2.
Dana pihak kedua, adalah dana-dana pinjaman yang berasal dari pihak
luar, yang terdiri atas call money, overnight call money, pinjaman biasa
antar bank, pinjaman dari lembaga keuangan bukan bank, dan pinjaman
dari bank sentral (BI).
3.
Dana pihak ketiga (dana yang berasal dari masyarakat) yang terdiri atas
tabungan (saving), giro (demand deposits), dan deposito (time deposit).
Dari dana yang berhasil dihimpun bank akan melakukan strategi alokasi
dana dengan memperhatikan kebijaksanaan yang telah ditentukan. Alokasi dana
oleh suatu bank umum dilakukan dengan mempertimbangkan sumber dana yang
diperolehnya, terdiri atas dua pendekatan, yaitu pool of fund approach dan assets
allocation approach.
Kedua pendekan tersebut menurut Dendawijaya (2005;54) sebagai
berikut, Pool of fund approach adalah alokasi dana bank dengan tidak
memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan sumber dana, seperti sifat, jangka
waktunya dan tingkat harga perolehannya. Sedangkan Asset allocation approach
adalah penempatan dana ke berbagai aktiva dengan mencocokan masing-masing
sumber dana terhadap alokasi dana yang sesuai dengan sifat, jangka waktu, dan
tingkat harga perolehan dana tersebut.
Dalam mengelola sumber dan alokasi dana bank diperoleh suatu
manajemen yang baik, agar bank dapat menghasilakn tingkat profitabilitas yang
tinggi serta dapat menjaga posisi likuiditas agar tetap aman. Manajemen ini
meliputi manajemen assets dan manajemen liability (asset liability management).
Menurut Bambang Djisarto (2001;8) adalah, ”salah satu tujuan kebijakan
asset liability management adalah untuk mengatasi tolak ukur earning dan
performance yang salah satu aspeknya adalah return on asset”.
Menurut Rose (2005;196) definisi Asset liability management adalah
control of bank’s sensitivity to change in market interest rates to limit lasses in its
net income or equity, dan menurut Selamet Riyadi (2006;21) adalah asset dan
Bab I Pendahuluan
10
Liability management pada dasarnya merupakan suatu proses planning,
organizing,
actuating,
dan
controlling
untuk
mendapatkan
penetapan
kebijaksanaan di bidang pengelolaan permodalan, pemupukan dana, dan
pengunaan dana yang satu sama lain saling berkait dalam mencapai tingkat laba
yang optimal dengan risiko yang telah diperhitungkan.
Dilihat secara sempit, ruang lingkup asset dan liability management yaitu
asset management, liability management, dan capital management (selamet
Riyadi, 2006;21), ”manajemen pasiva (liability mangement) adalah usaha untuk
mendapatkan dana untuk memenuhi kebutuhan operasioanal bank, baik melalui
penghimpuanan dana pihak ketiga (masyarakat), dana pihak kedua yang dapat
dihimpun melalui pasar uang atau pasar modal, maupun yang berasal dari pihak
pertama (pemilik) melalui pasar modal.
Pengertian
liability
management
menurut
Rose
(2005;196)
mengemukakan ”liability management is strategy to control bank’s liabilities
(ususaly through changes in interest rate offered) to provide the bank with
liquidity and meet other goals”.
Asset liability management (ALMA) akan selalu berhadapan dengan risiko
perubahan tingkat bunga di pasar. Fluktuasi tingkat bunga telah mendorong manajemen
bank untuk memberikan pelatihan yang lebih besar kepada pengelola risiko suku bunga.
Kepekaan asset dan liability terhadap risiko perubahan suku bunga merupakan penyebab
terpengaruhnya pendapatan bunga bank.
Menurut Dahlan Siamat yang dikutip oleh Selamet Riyadi (2006;65)
mengemukakan pengertian dari Liquidity Management adalah suatu proses
dimana bank berusaha mengembangkan sumber-sumber dana yang non tradisional
melalui pinjaman di pasar uang atau dengan menerbitkan instrumen utang untuk
digunakan secara menguntungkan terutama untuk memenuhi permintaan kredit.
Secara umum tujuan utama liquidity management adalah menjaga posisi bank
sesuai dengan ketentuan berlaku (ketentuan Bank Indonesia sebesar 5% reserve
requirement), mengurangi idle fund seminimum mungkin, dan menjaga alat-alat
likuid yang ada sesuai dengan kebutuhan cash flow dan hal-hal tak terduga.
Bab I Pendahuluan
11
Dalam neraca suatu bank terdapat beberapa pos yang peka terhadap
perubahan tingkat bunga. Pos-pos tersebut berada disisi asset dan liability (Rate
Sensitive Asset/RSA dan Rate Sensitive Liability/RSL). Jika pos-pos tersebut tidak
dikelola dengan baik, pendapatan neto bunga, net interes income (NII) akan
menurun.
Asset liability management (ALMA) akan selalu berhadapan dengan risiko
perubahan tingkat bunga di pasar. Fluktuasi tingkat bunga telah mendorong
manajemen bank untuk memberikan pelatihan yang lebih besar kepada pengelola
risiko suku bunga. Kepekaan asset dan liability terhadap risiko perubahan suku
bunga merupakan penyebab terpengaruhnya pendapatan bunga bank.
Gap adalah perbedaan atau selisih secara antara asset yang sensitif
terhadap suku bunga (Rate Sensitive Assets/RSA) dengan liability yang sensitif
terhadap suku bunga (Rate Sensitive Liability/RSL).
Pada dasarnya secara garis besar asset dan liability management dapat
dibagi dalam 4 macam, yaitu manajemen likuiditas, manajemen gap, manajemen
valuta asing, manajemen investasi dan pendapatan.
Penelitian ini pernah dilakukan oleh Ratih Kusumaning Esti (2004) yang
melakukan penelitian asset liability management pada PT. Bank Negara Indonesia
dalam tingkat bunga yang berfluktuasi (1997-2001), dalam penelitiannya bahwa
terdapat pengaruh fluktuasi tingkat bunga terhadap aset dan liabilitas bank BNI,
dan diketahui pula bahwa interest expenses Bank BNI lebih sensitif terhadap
fluktuasi tingkat bunga, dan disimpulkan bahwa posisi funds gap BNI pada
periode 1997 - 2001 adalah negatif funds gap. Amelia Katrin (2007) meneliti
manajemen likuiditas dan manajemen gap serta seberapa besar pengaruh Asset
Liability Mangement terhadap tingkat profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia.
Dalam penelitian ini penulis memfokuskan penelitiannya pada manajemen
likuiditas dan manajemen
gap yang menentukan berhasil tidaknya pihak
manajemen dalam mengelola Asset Liability Management perusahaan, dan
membandingkan antara bank swasta dan pemerintah berdasarkan nilai aset yang
dimiliki. Hal ini dikarenakan manajemen likuiditas dan manajemen gap sudah
Bab I Pendahuluan
12
dapat mewakili manajemen valuta asing serta manajemen investasi dan
pendapatan dilihat dari indikator-indikator yang mendukung seperti suku bunga.
Dengan demikian perbedaan kedua penelitian tersebut di atas dengan
penelitian ini adalah objek penelitian yang dipilih adalah Bank Rakyat Indonesia
sebagai bank milik pemerintah dan Bank Central Asia sebagai bank swasta.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disusun suatu bagan kerangka pemikiran
sebagai berikut :
Bab I Pendahuluan
1.6
14
Hipotesis
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka penulis mencoba untuk
menetapkan hipotesis yang akan diteliti dan diuji kebenarannya sebagai berikut :
”Terdapat perbedaan yang signifikan asset liability management antara PT.
Bank Rakyat Indonesia dan PT. Bank Cantral Asia".
1.7
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah termasuk metode
deskriptif, yaitu suatu metode dalam meneliti suatu kelompok manusia, suatu
objek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran ataupun peristiwa dimasa
sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi,
gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki, seperti yang dikutip
dalam buku Moh. Nazir (2003:54). Selain menggunakan penelitian deskriptif,
penelitian ini menggunakan metode penelitian komparatif yaitu penelitian yang
dilakukan untuk membandingkan pengaruh sebab akibat dengan menganalisa
faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya fenomena tertentu, seperti
yang dikutip dari buku Moh. Nazir (2003:59)
1.8
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan secara tidak langsung ke perusahaan yaitu melalui
penelitian ke pojok bursa ITB untuk mendapatkan laporan tahunan (annual report)
perusahaan guna memperoleh data primer berupa laporan keuangan selama 4
tahun yaitu periode 2005 – 2008.
Download