BAB III SAJIAN DAN ANALISIS DATA Pada bab analisis data ini

advertisement
44
BAB III
SAJIAN DAN ANALISIS DATA
Pada bab analisis data ini akan menjelaskan bagaimana wacana
tentang penyebab global warming yang terdapat dalam Film Senandung
Bumi. Film Senandung Bumi menarik untuk diteliti lebih jauh karena
memberikan suatu kesadaran pentingnya menjaga bumi ini. Film ini
merupakan film yang digunakan pemerintah untuk memberikan informasi
kepada masyarakat tentang bahaya dari global warming.
Oleh karena itu peneliti tertarik untuk menganalisis wacana penyebab
global
warming
dan
makna
dari
wacana
global
warming
yang
direpresentasikan dalam Film Senandung Bumi. Maka dari itu penulis akan
menggunakan dialog (audio) dan gambar (visual) dalam film menjadi bahan
utama analisis teks. Penelitian ini menggunakan model analisis M.A.K
Halliday. Menurut M.A.K Halliday, teks dan konteks merupakan dua aspek
penting untuk memahami suatu wacana yang didasarkan pada tiga jenis
analisis, yaitu pelibat wacana (tenor of discourse), medan wacana (field of
discourse) dan mode wacana (mode of discourse). Pelibat wacana merujuk
pada pelaku yang terlibat dalam penciptaan teks atau pembicaraan, serta
peran dan hubungan diantara mereka. Medan wacana merujuk pada sesuatu
hal yang sedang terjadi atau dibicarakan, di mana peristiwa para pelaku
terlibat terjadi, serta praktik-praktik yang terlihat di dalam teks. Sedangkan
mode wacana menunjuk pada makna tekstual berupa saluran bahasa
45
(lisan/tertulis), peran bahasa, tipe interaksi maupun pengaruh dari bahasa itu.
Unsur-unsur makna itu (medan, pelibat, mode) semuanya terjalin dalam
struktur wacana. Tidak dapat mengambil satu kata atau frasa dan
mengatakannya
hanya
mempunyai
makna
pengalaman
atau
hanya
mempunyai makna antar pelibat. Ketiganya bersifat dialektis, dimana teks
menciptakan konteks atau sebaliknya, konteks menciptakan teks (Halliday,
M.A.K dan Ruqiya Hasan, 1992 : 53).
Setelah penulis melihat dengan tuntas Film Senandung Bumi dengan
memperhatikan dialog, gambar, serta tokoh yang terdapat pada film, penulis
menyimpulkan terdapat dua hal penting yaitu wacana penyebab global
warming dan makna dari wacana global warming. Penyebab global warming
dan maupun global warming dalam Film Senandung Bumi didasarkan pada
UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Tahun 1992 atau
lebih dikenal dengan Deklarasi Rio yang kemudian dilanjutkan dengan
diadakannya Conference of Parties to UNFCCC yang kemudian pada 11
Desember 1997 menghasilkan Kyoto Protocol. Menurut para ahli penyebab
utama gobal warming disebabkan oleh :
1. Efek rumah kaca yaitu merupakan proses pemanasan permukaan suatu
benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi
dan keadaan atmosfernya.
2. Pemborosan energi listrik, energi listrik sebagian besar kita gunakan
adalah hasil pembakaran dari pembakaran minyak bumi dan batu bara,
dimana hasil pembakaran tersebut menghasilkan karbondioksida.
46
3. Pengrusakan / penggundulan hutan, hutan berfungsi dalam menyerap
karbon dioksida dan mengeluarkan oksigen, jika hutan rusak akibat dari
penebangan dan pembakaran, maka yang terjadi adalah jumlah karbon
dioksida yang diserap oleh hutan sedikit, dan semakin banyak karbon yang
berkumpul di atmosfer yang menyebabkan terjadinya pemanasan global.
4. Polusi kendaraan berbahan bakar fosil, polusi yang dihasilkan kendaraan
berbahan bakar bensin seperti motor, mobil dan kendaraan lainnya dimana
dari hasil pembuangannya menghasilkan gas karbon dioksida yang
berlebihan. Gas karbon dioksida merupakan penyebab utama terjadinya
pemanasan global karena karbon dioksida adalah gas yang memerangkap
panas sehingga tidak dapat keluar ke angkasa.
5. Polusi udara dari industri dan pabrik, semakin banyak industri dan pabrik
yang berkembang, semakin cepat terjadinya pemanasan global. Disisi
positifnya memang industri dan pabrik bisa memberikan peluang untuk
mensejahterakan rakyat, namun disisi lain kerugian asap yang dihasilkan
dari industri dan pabrik sangat merugikan eksitensi bumi.
6. Efek umpan balik, efek dari penguatan iklim dipersulit oleh berbagai
macam proses umpan balik, dimana saat CO2
disuntikkan ke dalam
atmosfer menyebabkan pemanasan atmosfer dan permukaan bumi,
sehingga mengakibatkan lebih banyak uap air yang diuapkan ke atmosfer.
7. Variasi sinar matahari, variasi dalam
output
sinar matahari, yang
diperkuat oleh umpan balik awan, dapat memberikan kontribusi pada
pemanasan seperti yang sekarang terjadi.
47
Dari beberapa penyebab pemanasan global tersebut, penulis tidak
akan menjelaskan semuanya sebab hanya ada beberapa penyebab saja yang
ditampilkan dalam Film Senandung Bumi. Dalam penelitian analisis wacana
penyebab global warming dalam Film Senandung Bumi, penulis akan
menerangkan topik utama untuk setiap elemennya yang didukung oleh
subtopik satu dan subtopik lainnya yang saling mendukung terbentuknya
topik utama. Subtopik ini berdasarkan dari serangkaian fakta yang
ditampilkan melalui pelibat dan medan wacana, yang nantinya akan
membentuk teks yang koheren dalam satu mode wacana.
I. Wacana Penyebab Global Warming
1. Efek Rumah Kaca
a. Keterangan
Efek rumah kaca merupakan proses pemanasan permukaan suatu
benda langit (terutama planet atau satelit) yang disebabkan oleh komposisi
dan keadaan atmosfernya. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya
konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer.
Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran
bahan bakar minyak, batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang
melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya.1
Energi yang masuk ke bumi:
1
http://www.plimbi.com/article/127791/efek-rumah-kaca. diakses pada tanggal 19 Maret 2015.
48

25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer

25% diserap awan

45% diserap permukaan bumi

10% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diserap dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi
inframerah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar
inframerah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas
lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal,
efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu
antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda. Selain gas CO2,
yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah belerang dioksida, nitrogen
monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa
organik seperti gas metana dan klorofluorokarbon (CFC). Gas-gas tersebut
memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca. Bila
kecenderungan peningkatan gas rumah kaca tetap seperti sekarang akan
menyebabkan peningkatan pemanasan global antara 1,5-4,5 °C sekitar tahun
2030.2
b. Penyajian Dalam Film
- Deskripsi visual scene : Naya, Sarah dan Tasya sedang berada di kantin
sekolah untuk membahas science project mereka.
2
Ibid.
49
Visual
Scene 15 Shot 5
Scene 15 Shot 7
Scene 15 Shot 9
Scene 15 Shot 12
Verbal
Naya : Ada sesuatu yang lu
berdua harus lihat.
Sarah : Apaan nih?
Naya : Ini ide brilian untuk
science project kita!
Sarah : Haah, seriusan?
Naya : Tunggu lu denger gua
dulu! Daripada kita
bikin pipa kaya ide lu
yang kemarin itu,
kenapa kita ga bikin
ini aja? Meningkatnya
rata-rata suhu dipermukaan bumi yang
akhirnya menyebabkan kekeringan dimana-mana.
Sarah : (mengangguk).
Tasya : (mengangguk).
Naya : Gua rasa sih banyak
dari kita yang kayanya kurang paham
deh soal hal itu. Yaa
nggak? Terus
lu
berdua tahu kan efek
rumah kaca?
Sarah : Yaaa, tau!
Tasya : (mengangguk).
Naya : Kenapa kita nggak
jelasin itu aja buat
science project kita?
50
i.
Pelibat wacana :
a. Naya adalah seorang pelajar SMA yang sedang memberikan penjelasan
untuk tugas science project untuk ekstrakulikuler di sekolahnya.
b. Sarah dan Tasya adalah teman sekelas Naya yang satu kelompok dalam
tugas science project.
ii.
Medan wacana :
Seting terjadi di dalam kantin sekolah pada saat waktu istirahat yang
dimanfaatkan Naya untuk menjelaskan kepada teman-temannya tentang
idenya untuk tugas science project mereka (scene 15 shot5). Adapun wacana
penyebab global warming yaitu efek rumah kaca disampaikan oleh tokoh
Naya pada scene 15 shot 7 dan scene 15 shot 9 adalah :
- Naya memberikan penjelasan kepada temannya untuk membuat science
project tentang efek rumah kaca.
Wacana penyebab global warming yaitu efek rumah kaca terlihat pada
perkataan tokoh Naya, yaitu :
“Daripada kita bikin pipa kaya ide lu yang kemarin itu, kenapa kita ga
bikin ini aja? Meningkatnya rata-rata suhu dipermukaan bumi yang
akhirnya menyebabkan kekeringan dimana-mana.”
Kemudian hal itu dipertegas dengan visualisasi pada scene 15 shot 9,
disitu Naya menunjuk Sarah dengan pulpen dan berkata :
”Terus, lu berdua tahu kan tentang efek rumah kaca?”
Melalui dialog tersebut sudah jelas jika tokoh Naya menjelaskan apa
yang dimaksud dengan meningkatnya rata-rata suhu di permukaan bumi
51
adalah efek rumah kaca. Dalam hal ini kekeringan yang dimaksud terjadi
karena adanya pemanasan global akibat dari adanya efek rumah kaca.
iii.
Mode wacana :
Mode wacana tentang efek rumah kaca tampak pada perkataan yang
diucapkan oleh tokoh Naya kepada teman-temannya. Apa yang dia ucapkan
memberikan suatu gambaran tentang terjadinya efek rumah kaca. Naya
menjelaskan kepada teman-temannya bahwa suhu rata-rata di permukaan
bumi naik dan menyebabkan kekeringan di mana-mana.
Menurut Joseph Fourier efek rumah kaca adalah permukaan benda
langit yang mengalami proses pemanasan (dalam hal ini adalah planet dan
juga satelit bukan satelit buatan) yang disebabkan karena komposisi
atmosfernya dan keadaan atmosfernya. Efek rumah kaca dibagi menjadi dua
hal yaitu efek rumah kaca secara alami dan efek rumah kaca secara buatan
yakni akibat kegiatan manusia yang menyebabkan efek rumah kaca.3
Sebenarnya efek rumah kaca bukanlah sesuatu yang buruk, justru
dengan efek ini memberikan kesempatan adanya kehidupan di bumi. Jika
tidak ada efek rumah kaca maka suhu rata-rata permukaan bumi bukanlah 15°
C seperti sekarang tetapi –18° C. Yang menjadi masalah adalah jumlah gas
rumah kaca ini bertambah secara berlebihan sehingga bisa mengakibatkan
kerusakan lingkungan secara global. Gas rumah kaca yang bertambah secara
berlebihan ini akan menahan lebih banyak radiasi dari pada yang dibutuhkan
oleh kehidupan di bumi sehingga bumi semakin panas. Seperti yang
3
http://www.pengertianilmu.com/2015/03/normal-0-false-false-false-en-us-x-none8.html. diakses
pada tanggal 19 April 2015.
52
diucapkan oleh tokoh Naya, meningkatnya suhu rata-rata di permukaan bumi
menyebabkan kekeringan. Meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi
adalah bumi mengalami proses pemanasan yang disebabkan karena
komposisi atmosfernya dan keadaan atmosfernya.
Kemudian hal tersebut dipertegas bahwa atmosfer terdiri dari berbagai
macam gas. Gas rumah kaca yang menumpuk di atmosfer berlaku seperti tirai
yang memerangkap pancaran radiasi panas bumi. Seperti kaca, ia mudah
ditembus oleh sinar tampak, tapi mengurung gelombang panjang. Dalam
konteks rumah kaca secara harfiah, radiasi gelombang panjang yang terpancar
itu tak bisa keluar karena tak mampu menembus atap dan dinding kaca. Ia
berputar-putar di dalam dan sebagian terserap molekul oleh gas-gas rumah
kaca (CO2, N2O) dan membuat suhu udara lebih panas.4 Suhu panas tersebut
yang di jelaskan oleh Naya sebagai penyebab kekeringan yang tentu saja
berbeda dengan panas dari musim kemarau. Dari dialog tersebut yang
diucapkan oleh Naya merepresentasikan bentuk wacana penyebab global
warming yaitu efek rumah kaca. Dengan mengetahui hal tersebut proses
tersebut, wacana efek rumah kaca mempunyai makna bahwa dengan
memahami tentang proses terjadinya efek rumah kaca dapat merubah kita
menjadi lebih peduli terhadap bumi ini.
- Deskripsi visual scene : Naya, Sarah dan Tasya memberikan presentasi
untuk science project mereka kepada teman-temannya dan gurunya di dalam
ruang science.
4
Budi Susila Duarsa, Artha. 2008. Dampak Pemanasan Global Terhadap Resiko Terjadinya
Malaria. Jurnal Kesehatan Masyarakat Andalas Vol. 2 No. 2 Maret 2008. Hal 181
53
Visual
Verbal
Sarah :
Scene 16 Shot 1
Scene 16 Shot 3
Scene 16 shot 6
Scene 16 Shot 10
Nah, jadi pemanasan
global itu terjadi
karena adanya efek
rumah kaca. Untuk
lebih jelasnya, bakalan kita jelasin
dengan pembuatan
mesin popcorn ini.
Emisi gas CO2,
metana dan beberapa macam gas
lainnya yang disebabkan oleh penggunaan BBM, listrik
yang dibangkitkan
oleh fosil dan juga
sampah menyebabkan terjadinya penumpukan pada atmosfer kita. Sehingga akan seperti
kaca yang ada di
meja ini.
Naya : Yaa, sebenarnya efek
rumah kaca itu
terjadi secara alami.
Tapi semakin lama
gas di atmosfer
semakin tebal. Nah,
itu juga menyebabkan bagian dari
sinar matahari yang
seharusnya dipantulkan ke angkasa
justru tertahan dan
terpantul balik ke
bumi. Nah, ini dia
yang disebut dengan
efek rumah kaca.
Dengan meningkatnya aktivitas manusia, apalagi sejak
ada revolusi indus-
54
Scene 16 Shot 15
Scene 16 Shot 19
Scene 16 Shot 21
Scene 16 Shot 23
tri, jumlah gas rumah kaca menjadi
semakin banyak. Itu
kenapa sekarang bumi menjadi semakin
panas.
Sarah: Demikian presentasi
darikami,
semoga
bermanfaat. Terima
kasih.
Guru Sci.Club : Benar sekali
apa yang disampaikan
Naya
dan
teman-teman. Nah,
kalau kalian merasa
semakin hari suhu
semakin panas, itu
sebenarnya kalian
mirip dengan popcorn-popcorn
ini.
Kalian bisa merasakan pemanasan
global di sekitar
kalian. Tanda-tandanya
antara
lain
kenaikan suhu permukaan bumi, kenaikan tinggi muka
air laut sehingga
pulau-pulau
kecil
bisa tenggelam dan
contoh lain adalah
mencairnya es di
kutub utara dan
kutub selatan. Naya
dan
teman-teman
menarik sekali presentasi dari kalian.
55
i.
Pelibat wacana :
a. Naya, Sarah dan Tasya adalah tokoh yang memberikan presentasi kepada
teman-temannya mengenai pemanasan global yang disebabkan oleh efek
rumah kaca.
b. Guru Science Club adalah tokoh yang memberikan penjelasan tambahan
mengenai efek rumah kaca dan memberikan penjelasan tambahan.
c. Murid lainnya yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler science club
yang mendengarkan penjelasan mengenai efek rumah kaca.
ii. Medan wacana :
Setting terjadi di dalam ruang ekstrakulikuler science club ketika
Naya, Sarah dan Tasya memberikan presentasi wacana penyebab global
warming yaitu efek rumah kaca (scene 16 shot 1). Presentasi tersebut
ditujukan kepada teman-teman kegiatan ekstrakulikuler (scene 16 shot 1) dan
guru science club-nya (scene 16 shot 19). Adapun wacana bentuk efek rumah
kaca melalui tokoh Sarah pada scene 16 shot 1 adalah terdapat dialog dari
Sarah yang menegaskan bahwa pemanasan global terjadi karena efek rumah
kaca yaitu :
“Nah, jadi pemanasan global itu terjadi karena adanya efek rumah
kaca.”
Kemudian wacana efek rumah kaca juga divisualisasikan pada scene
16 shot 10 yaitu dengan memakai alat peraga berupa mesin pembuat popcorn.
Mesin pembuat popcorn tersebut ditutup oleh kotak kaca yang meperagakan
sebagai bumi dan atmosfernya yang disinari oleh matahari, dalam hal ini
56
matahari diganti oleh lampu sebagai peraganya. Saat popcorn dipanaskan
maka timbul asap yang
memenuhi kotak kaca, asap disini digambarkan
sebagai gas-gas yang ada di atmosfer. Saat disinari, cahaya yang seharusnya
dipantulkan oleh bumi (mesin popcorn) keluar atmosfer (kotak kaca) menjadi
terhambat karena asap. Hal tersebut dipertegas pada dialog Naya yang
terdapat pada scene 16 shot 15 yaitu :
“Yaa, sebenarnya efek rumah kaca itu terjadi secara alami. Tapi
semakin lama gas di atmosfer semakin tebal. Nah, itu juga
menyebabkan bagian dari sinar matahari yang seharusnya dipantulkan ke angkasa justru tertahan dan terpantul balik ke bumi. Nah,
ini dia yang disebut dengan efek rumah kaca.”
Pernyataan dari tokoh Sarah dan Naya tersebut juga dibenarkan oleh
Guru science club-nya, hal itu ditunjukkan pada scene 16 shot 19 dan 23.
Kemudian juga divisualisasikan pada scene 16 shot 21, pada scene tersebut
terdapat popcorn yang sudah matang dan popcorn diibaratkan sebagai
manusia. Hal itu dipertegas pada dialog tokoh Guru science club pada scene
16 shot 19 yaitu :
“Nah, kalau kalian merasa semakin hari suhu semakin panas, itu
sebenarnya kalian mirip dengan popcorn-popcorn ini.”
Melalui dialog tersebut sangat jelas bagaimana efek rumah kaca
diperagakan oleh mesin pembuat popcorn tersebut seperti yang terjadi pada
keadaan efek rumah kaca yang sebenarnya.
iii.
Mode wacana :
Di bawah ini adalah mode wacana efek rumah kaca yang akan
mengikat bentuk-bentuk wacana diatas. Seperti bentuk wacana efek rumah
kaca yang ditunjukkan oleh tokoh Naya, Sarah dan Tasya yang menjelaskan
57
terjadinya efek rumah kaca dengan menggunakan alat peraga berupa mesin
pembuat popcorn, lampu dan kotak kaca. Alat-alat tersebut menggambarkan
dengan jelas bagaimana ketika saat mesin popcorn dipanaskan kemudian
menimbulkan asap yang memenuhi kotak kaca dan pada saat yang sama sinar
lampu menyinari kotak tersebut. Dengan adanya asap tersebut sinar lampu
yang seharusnya memantul kembali keatas menjadi terhambat. Kemudian
melalui tokoh Guru science club yang mendukung dan membenarkan tokoh
Naya juga memberi penjelasan bahwa popcorn-popcorn tersebut seperti
orang-orang yang merasakan suhu panas karena naiknya suhu permukaan
bumi. Jadi efek tersebut dapat langsung dirasakan langsung pada saat ini.
Lama sebelum manusia mempengaruhi lapisan ozon, ahli fisika
Inggris John Tyndall menemukan sesuatu yang tidak biasa mengenai
karbondioksida; gas tersebut tembus cahaya namun menghalangi panas. Sifat
inilah yang menjadi penyebab efek rumah kaca, suatu fenomena yang
menciptakan perubahan-perubahan lingkungan terbesar yang pernah dipicu
oleh manusia.5 Efek rumah kaca menurut H. J. Mukono biasa juga disebut
sebagai the greenhouse effect yang berpengaruh terhadap kehidupan di bumi
yang memerlukan energi dan radiasi panas matahari. Radiasi panas
bergelombang pendek (0,3 sampai dengan 3 um) yang ditangkap dan diserap
oleh atmosfer bumi, menjadi penyebab suhu di atmosfer bumi meningkat.
Sebagian radiasi panas ini akan diteruskan ke ruang angkasa dan sebagian
akan diserap oleh permukan bumi. Radiasi dengan panjang gelombang 3
5
Burnie, David, Bengkel Ilmu : Ekologi, Jakarta, Erlangga, 2005, Hal. 146
58
sampai dengan 100 um selain akan menyebabkan pemanasan atmosfer bumi,
akan diserap juga oleh permukaan bumi6. Dalam hal ini asap yang
menghalangi sinar lampu yang menyebabkan tertahannya panas di dalam
kotak kaca adalah karbondioksida sehingga terjadi efek rumah kaca.
Melalui tokoh Naya juga diketahui bahwa sebenarnya efek rumah
kaca terjadi secara alami maupun karena aktivitas manusia. Emisi gas
karbondioksida, metana dan beberapa gas lainnya yang menyebabkan efek
rumah kaca disebut sebagai gas rumah kaca. Hal ini didukung oleh Perpres
No 61 Tahun 2011 Pasal 1 ayat 3 yang berbunyi :
“Gas rumah kaca yang selanjutnya disebut GRK adalah gas yang
terkandung di atmosfer baik alami maupun antropogenik, yang
menyerap dan memancarkan kembali radiasi inframerah.”
Selain itu hal tersebut juga dipertegas pada Laporan Penilaian
Keempat IPCC (Intergovermental Panel on Climate Change) menyatakan
bahwa :
“Sebagian besar peningkatan suhu rata-rata yang diamati pada global
sejak pertengahan abad ke-20 sangat mungkin disebabkan oleh
peningkatan pada konsentrasi gas rumah kaca antropogenik.”7
Yang dimaksud antropogenik adalah kerusakan karena aktivitas
manusia. Aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya efek rumah kaca
terjadi sejak adanya revolusi industri, sejarah mencatat awal revolusi industri
yang pertama dalam pertengahan abad 18 di Inggris. Sejak akhir abad 19,
rata-rata suhu di permukaan bumi telah meningkat sekitar satu derajat
6
http://www.pengertianpakar.com/2015/04/pengertian-dan-proses-terjadinya-efek.html. Diakses
pada tanggal 2 Agustus 2015.
7
J. Ring, Michael. 2012. Causes of the Global Warming Observed since the 19th Century.
Atmospheric and Climate Sciences Journal Vol. 2 No. 4 October 2012. Hal 401
59
Fahrenheit (0,6 derajat Celcius). Sedangkan kombinasi suhu laut dan daratan
pada tahun 2000 adalah sebesar 0,29° C di atas rata-rata pada tahun 19611990.8 Dalam hal ini efek rumah kaca sudah terjadi dan setiap tahunnya
semakin meningkat. Dengan mengetahui hal tersebut, wacana efek rumah
kaca mempunyai makna bahwa efek rumah terjadi karena aktivitas manusia
maka kita mulai sekarang harus mengubah semua tindakan yang dapat
menyebabkan efek rumah kaca untuk menghambat terjadinya pemanasan
global.
2. Pemborosan Energi Listrik
a. Keterangan
Penggunaan energi listrik yang sebagian besar kita gunakan adalah
hasil pembakaran dari pembakaran minyak bumi dan batu bara, dimana hasil
pembakaran tersebut menghasilkan karbondioksida. Pada dasarnya yang
menjadi masalah adalah dalam menghasilkan listrik bagi kebutuhan manusia
di bumi. Beberapa negara besar yang memproduksi listrik dengan batubara
dalam presentase besar adalah Amerika, Australia, dan Cina. Bayangkan saja
untuk pembangkit listrik ini dapat membuang energi dua kali lipat dari energi
yang dihasilkan. Misalnya energi yang dihasilkan adalah 1000 watt, namun
hanya 350 watt yang dihasilkan. Sedangkan 650 sisanya terbuang sia-sia.
Yang perlu diketahui setiap 1000 Mega Watt yang dihasilkan oleh
pembangkit listrik bertenaga batubara menghasilkan emisi 5,6 juta ton
8
Eko Cahyono, Waluyo. Pengaruh Pemanasan Global Terhadap Muka Bumi. Jurnal Berita
Dirgantara Vol. 8 No. 2 Juni Oktober 2007. Hal 28
60
karbondioksida per-tahun.9 Selain itu, karena batu bara hampir murni karbon,
efek dari pembakaran batu bara yaitu menggabungkan oksigen menghasilkan
karbondioksida yang pada akhirnya menimbulkan polusi udara dan
berpengaruh besar terhadap pemanasan global.10
b. Penyajian Dalam Film
- Deskripsi visual scene : Naya dan keluarganya yang sedang sarapan pagi
sebelum berangkat ke sekolah. Kemudian dilanjutkan pada scene saat
Naya dan Gilang di sekolah.
Visual
Verbal
Scene 7 Shot 2
Scene 7 Shot 3
9
http://siklus.lmb.its.ac.id/?p=166. Diakses pada tanggal 12 Agustus 2014
http://4muda.com/hemat-listrik-kurangi-global-warming/. Diakses pada tanggal 14 Agustus
2014.
10
61
Scene 7 Shot 5
Scene 7 Shot 6
I have to know all the
meanings of life (backsound
film)
Scene 13 shot 3
Scene 13 Shot 4
62
Scene 21 Shot 4
It’s Time To Act. Matikan
Lampu dan Lihat Perubahan
Yang Bisa kamu Buat.
Scene 21 Shot 5
Scene 21 Shot 10
Scene 21 Shot 11
63
i.
Pelibat wacana :
a. Naya adalah tokoh yang selalu menghidupkan lampu ketika sarapan pagi
bersama ayah, ibu dan kakaknya. Selain itu dia juga selalu
menghidupkan lampu kelas saat sudah sampai di sekolah. Tetapi
akhirnya dia sadar dan mengubah kebiasaannya.
b. Kakak Naya adalah tokoh yang selalu mematikan lampu di ruang makan
sesaat setelah Naya menghidupkannya.
c. Gilang adalah tokoh yang selalu mematikan lampu di ruang kelas.
ii. Medan wacana :
Pada scene kali ini Sutradara ingin menunjukkan wacana pemborosan
listrik dengan menggunakan adegan tanpa dialog. Adapun yang ditampilkan
adalah berupa lirik backsound dan dialog-dialog yang tidak mendukung
adegan namun ada suatu tulisan / pesan yang ada dalam scene mendukung
adegan . Adegan yang ditunjukkan menampilkan wacana pemborosan listrik
dengan detail, hal itu terlihat dari beberapa adegan yang di close up. Selain itu
scene adegan yang ditampilkan terdapat perbedaan dalam hal waktu shot-nya.
Setting terjadi di ruang makan keluarga ketika Naya dan keluarganya
sedang sarapan pagi (scene 7 shot 2). Wacana pemborosan listrik terlihat
ketika Naya berdiri untuk menghidupkan lampu di ruang makan tersebut yang
sebelumnya mati (scene 7 shot 2 dan shot 3). Jika di lihat pada scene tersebut
sebenarnya ruang makan tersebut sudah cukup terang dan tidak memerlukan
64
cahaya tambahan lagi. Lalu tiba-tiba datang Kakak Naya yang langsung
mematikan lampu tersebut (scene 7 shot 5 dan shot 6).
Kemudian setting kedua berada di sekolah yang tepatnya berada di
ruang kelas. Wacana pemborosan listrik tampak pada visualisasi ketika lampu
ruang kelas yang dibiarkan tetap menyala padahal ruang kelas tersebut
masing kosong belum ada murid yang datang (scene 13 shot 3). Kemudian
datang tokoh Gilang yang yang segera mematikan lampu tersebut (scene 13
shot 4). Selain itu wacana pemborosan listrik kembali terlihat di ruang kelas
dengan lampu yang dibiarkan menyala padahal kelas masih dalam keadaan
kosong (scene 21 shot 4). Hingga Naya datang dan melihat adanya suatu
pesan yang berupa tulisan menempel di bawah sakelar lampu yaitu :
“It’s Time To Act. Matikan lampu dan lihat perubahan yang bisa kamu
buat.”
Setelah membaca tulisan tersebut lalu Naya segera mematikan lampu di ruang
kelasnya (scene 21 shot 5).
Wacana pemborosan listrik juga tampak terlihat pada lampu yang
dibiarkan menyala di lorong sekolah padahal suasana di sekitarnya sudah
terlihat terang oleh sinar matahari ( scene 21 shot 10). Kemudian Naya yang
saat itu melewatinya langsung mematikan lampu tersebut.
iii. Mode wacana :
Di bawah ini adalah mode wacana yang menunjukkan pemborosan
listrik melalui tokoh Naya. Listrik bagi masyarakat dunia seperti juga bagi
bangsa Indonesia telah menjadi kebutuhan vital masyarakat modern dan juga
bahan bakar roda pembangunan. Listrik, bahkan, dijadikan tolok ukur
65
majunya suatu peradaban. Hanya saja, penyediaan dan pemanfaatan listrik di
Indonesia masih banyak bergantung pada energi fosil terutama minyak bumi
dan produk turunannya. Di sisi lingkungan, ketergantungan terhadap minyak
bumi ataupun energi fosil lainnya telah memberikan dampak buruk, terutama
dari emisi karbon yang dikeluarkan, baik dari proses penyediaan maupun
pemanfaatannya.
Dalam Peraturan Presiden No. 5 Tahun 2006 Tentang Kebijakan
Energi Nasional mengamanatkan pengurangan minyak bumi dalam porto
folio energi primer nasional pada tahun 2025 dan pemanfaatan sumber energi
yang lebih bersih ditingkatkan. Sedangkan pemanfaatan sumber energi bersih
adalah pemanfaatan energi yang bisa memenuhi kebutuhan saat ini dan
generasi mendatang tanpa terancam kelestariannya. Energi bersih adalah
teknologi yang menghasilkan gas rumah kaca dalam level yang sangat rendah
atau mendekati nol jika dibandingkan dengan teknologi lain.
Selain itu dalam Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 Pasal 7 Ayat
juga menerangkan bahwa :
“Konservasi energi adalah penggunaan energi secara efisien dan
rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang memang benarbenar diperlukan.”
Sedangkan efisiensi energi bisa diartikan sebagai upaya untuk mengurangi
konsumsi energi yang dibutuhkan dalam menghasilkan suatu jenis produk
maupun jasa tanpa mengurangi kualitas dari produk dan jasa yang dihasilkan.
Hampir 40 persen emisi karbon dihasilkan oleh sektor ketenagalistrikan.
Semakin tinggi konsumsi listrik maka semakin tinggi pula emisi karbon yang
66
dihasilkan dari pembangkit listrik, karena 60 persen menggunakan bahan
bakar fosil.11
Dalam undang-undang tersebut menganjurkan agar tidak melakukan
pemborosan energi, dalam kasus Naya pemborosan yang dilakukan adalah
pemborosan energi listrik yang juga menambah konsumsi bahan bakar dari
pembangkit listrik. Undang-Undang Energi Nomor 30 Tahun 2007 telah
mengamanatkan bahwa konservasi energi merupakan tanggung jawab semua
elemen, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengusaha, maupun
masyarakat. Sesungguhnya, program efisiensi dan konservasi energi sudah
ada sejak lama, yaitu sejak Kebijakan Umum Bidang Energi 1981 sampai
dengan Kebijakan Energi Nasional yang ditetapkan berdasarkan Peraturan
Presiden Nomor 5 Tahun 2006.12
Bidang energi, termasuk tenaga listrik dan transportasi, merupakan
salah satu penyumbang emisi karbondioksida yang cukup besar dengan
kecenderungan peningkatan yang cukup signifikan dari tahun ke tahun.13
Sekitar 78% konsumsi energi nasional diserap oleh Pulau Jawa dan Bali,
23% terkonsentrasi di DKI Jakarta dan Tangerang. Dari 23% tersebut 33%
adalah sektor rumah tangga yang paling banyak menghabiskan energi listrik,
kedua industri dengan 30%, disusul bisnis dan gedung komersiil 30%, gedung
pemerintahan 3% dan 4% oleh fasilitas publik dan sosial. Di Jakarta,
11
http://bplh.bandungkab.go.id/artikel-detail/hemat-listrik-saat-menggunakan-komputer . Diakses
pada tanggal 27 Juli 2015.
12
http://lipsus.kompas.com/jalanjalan/read/2010/03/27/03480934/.quot.Earth.Hour.quot...Satu..Jam
.demi.Bumi. Diakses pada tanggal 28 Desember 2015.
13
Bappenas, Rencana Aksi Nasional Penurunan Gas Rumah Kaca, Jakarta : Bappenas, 2010., Hal
37.
67
mematikan lampu satu jam bisa menghemat 170 Megawatt listrik atau setara
151 ton gas karbondioksida.14 Dengan mengetahui hal tersebut, wacana
pemborosan energi listrik mempunyai makna bahwa kita mulai sekarang
harus mengubah kebiasaan yang selama ini kita anggap sepele yaitu tidak
mematikan lampu yang tidak dipakai. Dengan mematikan lampu, kita telah
membantu mengurangi emisi karbondioksida di atmosfer.
3. Pengrusakan / Penggundulan Hutan
a. Keterangan
Faktor lain yang menyebabkan terjadinya pemanasan global adalah
adanya kerusakan hutan atau deforestasi, akibat dibukanya lahan hutan baik
untuk tempat pemukiman, untuk ladang pertanian maupun kegiatan ekonomi
lainnya. Menurut laporan Bank Dunia, dewasa ini tiap tahun 10 sampai 20
juta hektar hutan tropis hancur. Sedangkan di Indonesia setiap tahun sekitar
600 ribu sampai 2,5 juta hektar hutan tropis musnah. Hal tersebut sangat
mengkhawatirkan, mengingat hutan tropis dianggap sebagai paru-paru bumi
yang mampu mensirkulasi dan mentrasformasi karbondioksida menjadi
oksigen.15
Hutan sebagai paru-paru dunia ditebang semena-mena untuk tujuan
ekonomi sesaat. Pada sisi lain, negara industri secara khusus mempersoalkan
penggunaan teknologi yang masih konvensional, pembangunan yang
14
http://sains.kompas.com/read/2012/03/30/12593234/Besok.Malam..Matikan.Lampu.Satu.Jam.
Diakses pada tanggal 18 September 2014.
15
Riyanto. 2007. Strategi Mengatasi Pemanasan Global (Global Warming). Jurnal Ilmiah
Manajemen Unimus Vol. 3 No. 2 Agustus 2007. Hal 71.
68
menggebu-gebu dan banyaknya kendaraan bermotor dengan sistem
pembakarannya kadaluarsa dan rusak menyebabkan emisi gas karbondioksida
di negara-negara berkembang sangat besar.16 Hingga saat ini kesadaran untuk
mencegah deforestasi masih sangat minim. Reboisasi untuk mengimbangi
deforestasi juga masih sangat minim, di saat pohon yang baru ditanam masih
berusia muda di saat yang sama juga pohon-pohon besar ditebang. Tentu saja
pohon
muda
tidak
sebanding
daya
serap
karbondioksidanya
jika
dibandingkan pohon besar yang mempunyai banyak cabang dan daun.
b. Penyajian Dalam Film
- Deskripsi visual :
Naya dan Gilang yang sedang berada di ruang
laboratorium kimia sedang membahas tentang deforestasi.
Visual
Scene 18 Shot 5
Scene 18 Shot 7
16
Ibid, Hal 69.
Verbal
Gilang : Mereka lagi galang
aksi penyelamatan
satwa akibat deforestasi, penebangan hutan liar.
Naya : Memangnya kenapa
harus diselametin?
Gilang : Yaa, haruslah. Tumbuhan dan khususnya hutan satusatunya
makhluk
hidup di dunia yang
bisa mengubah karbondioksida menjadi
oksigen.
Kebayangkan kalau
ga ada. Selain itu
mereka bisa menjadi
tempat tinggal flora
dan fauna. Aksi ini
69
Scene 18 Shot 9
itu ga gampang.
Mereka
butuh
banyak dana dan
dukungan
dari
orang-orang sekitar.
Naya : Yaa, lagian kalau
menurut gue sih,
banyak dari kita
yang ga tahu soal
ini, lebih tepatnya
ga sadar.
Scene 18 Shot 12
Scene 18 shot 16
i.
Pelibat wacana :
a. Naya adalah tokoh yang mendengarkan penjelasan tentang deforestasi
dari Gilang.
b. Gilang adalah tokoh yang menjelaskan kepada Naya tentang temannya
yang seorang aktivis lingkungan yang sedang menggalang bantuan untuk
masalah deforestasi.
70
ii.
Medan wacana :
Setting terjadi di dalam ruang laboratorium kimia pada saat praktek
pelajaran kimia. Adapun wacana penyebab pemanasan global yaitu
penggundulan / pengrusakan hutan melalui dialog dari tokoh Gilang pada
scene 18 shot 5 yaitu :
“Mereka lagi galang aksi penyelamatan satwa akibat deforestasi,
penebangan hutan liar.”
Selain itu wacana pengrusakan hutan juga tampak pada visualisasi scene 18
shot 12 ketika Gilang memberi penjelasan kepada Naya mengenai pentingnya
untuk menyelamatkan hutan dari penebangan liar. Wacana tersebut diperkuat
oleh perkataan dari Gilang yaitu :
“Tumbuhan dan khususnya hutan satu-satunya makhluk hidup di
dunia yang bisa mengubah karbondioksida menjadi oksigen.
Kebayang kan kalau ga ada. Selain itu mereka bisa menjadi tempat
tinggal flora dan fauna.”
Melalui dialog tersebut, sangat jelas bahwa penting sekali manfaat
hutan selain sebagai tempat tinggal flora dan fauna. Apabila hutan menjadi
gundul tentu saja karbondioksida yang berasal dari hasil pembakaran bahan
bakar fosil akan semakin menumpuk di atmosfer dan menghalangi sinar
matahari terpantul kembali yang akhirnya menyebabkan pemanasan global.
Namun sayangnya banyak yang belum sadar betapa pentingnya manfaat dari
hutan (scene 18 shot 16).
iii. Mode wacana :
Di bawah ini adalah mode wacana pengrusakan hutan atau deforestasi
melalui dialog dari tokoh Gilang. Deforestasi menurut Peraturan Menteri
Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.30/Menhut-II/2009 Tentang Tata
71
Cara Pengurangan Emisi Dari Deforestasi dan Degradasi Hutan pada Pasal 1
Ayat 10 yang berbunyi :
“Deforestasi adalah perubahan secara permanen dari areal berhutan
menjadi tidak berhutan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia.”
Melalui definisi tersebut diketahui bahwa deforestasi diakibatkan oleh
kegiatan manusia. Seperti yang dikatakan oleh Gilang, deforestasi akibat
penebangan hutan liar. Deforestasi berkontribusi sebesar 5,8 miliar ton gas
karbon dioksida (CO2) atau setara dengan 18 persen dari emisi gas rumah
kaca dunia ke atmosfer setiap tahunnya, lebih besar daripada emisi sektor
transportasi global.
Di Indonesia, deforestasi masih tetap menjadi ancaman, menurut data
laju deforestasi
periode 2003-2006 yang dikeluarkan oleh Departemen
Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar pertahun.
Bahkan kalau menilik data yang dikeluarkan oleh State of the World’s Forests
2007 yang dikeluarkan The UN Food & Agriculture Organization (FAO),
angka deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 1,8 juta hektar/tahun.
Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record
memberikan „gelar kehormatan‟ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya
rusak hutan tercepat di dunia17.
Sesuai Kesepakatan dalam Konferensi Para Pihak Kerangka Konvensi
PBB tentang Perubahan Iklim (COP-UNFCCC) ke-16 di Cancun, negara
berkembang didorong untuk melaksanakan mitigasi perubahan iklim melalui
satu atau lebih dari lima kegiatan REDD+ yaitu :
17
http://alamendah.org/2010/03/09/kerusakan-hutan-deforestasi-di-indonesia/. Diakses pada
tanggal 25 Desember 2015.
72
-
pengurangan Emisi dari deforestasi
-
pengurangan emisi dari degradasi hutan
-
konservasi cadangan karbon
-
pengelolaan hutan lestari
-
dan peningkatan cadangan karbon hutan.18
Selain itu wacana pengrusakan hutan yang menyebabkan emisi gas
karbondioksida menjadi meningkat diperjelas oleh Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 62 tahun 2013 Tentang Badan Pengelola
Penurunan Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi, Degradasi Hutan dan Lahan
Gambut pada Pasal 1 Ayat 1 yang berbunyi :
“Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dari Deforestasi, Degradasi
Hutan dan Lahan Gambut (Reduction Emissions from Deforestation
and Forest Degradation) yang selanjutnya disebut REDD+ adalah
upaya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca dari deforestasi...”
Gas rumah kaca merupakan kumpulan dari berbagai macam gas yang
memenuhi atmosfer yang menyerap dan memancarkan kembali radiasi
inframerah, contohnya adalah karbondioksida. Gas karbondioksida yang
memenuhi atmosfer inilah menyebabkan sinar matahari tidak dapat
dipantulkan kembali ke angkasa. Melalui tokoh Gilang, memberikan contoh
bahwa dengan adanya deforestasi maka emisi karbondioksida yang
seharusnya diubah menjadi oksigen oleh pohon akhirnya menumpuk.
Pembukaan lahan dan deforestasi memberikan kontribusi pada
penumpukan CO2 dan mengurangi tingkat penyerapan CO2 dari atmosfer
karena menghilangnya vegetasi pohon dan tumbuhan lainnya atau kontribusi
18
http://www.reddplus.go.id/berita/berita-redd/2468. Diakses pada tanggal 25 Desember 2015.
73
lewat dekomposisi dari tumbuhan mati. Pohon-pohon
pada
dasarnya
berfungsi sebagai penyerap CO2 dan mengubahnya menjadi oksigen melalui
proses fotosintetis (P. Michael Todaro, 2000 : 519). Belum lagi jika terjadi
kebakaran hutan, maka karbondioksida yang dihasilkan semakin banyak
karena hasil dari asap kebakaran tersebut. Dengan mengetahui hal tersebut,
wacana pengrusakan / penggundulan hutan mempunyai makna bahwa yang
selama tidak peduli dan tidak menjaga kelestarian hutan bahkan cenderung
merusak hanya untuk kepentingan materi harus mau mengubah pandangan
tersebut. Hutan harus selalu kita jaga kelestariannya, sebab pohon satusatunya makhluk hidup yang dapat mengubah karbondioksida menjadi
oksigen.
4. Polusi Kendaraan Berbahan Bakar Fosil
a. Keterangan
Polusi yang dihasilkan kendaraan berbahan bakar bensin seperti
motor, mobil dan kendaraan lainnya dimana dari hasil pembuangannya
menghasilkan gas karbondioksida yang berlebihan. Banyaknya penggunaan
kendaraan
bermotor
dengan
mengesampingkan
perhatian
terhadap
dampaknya bagi lingkungan secara perlahan namun pasti pada akhirnya akan
merugikan lingkungan tempat tinggal manusia dan kehidupannya. Para ahli
lingkungan telah menemukan indikasi adanya dampak yang terbesar bagi
lingkungan dan dunia secara global akibat polusi dari asap kendaraan
74
bermotor yang telah berkembang pesat ini. Dampak negatif ini adalah
terjadinya pemanasan di dunia yang sering disebut sebagai pemanasan global.
Seperti kita ketahui bersama, kota yang padat penduduk tentu saja
mempunyai lalu lintas yang padat kendaraan. Pada saat terjadi macet, maka
konsentrasi gas karbondioksida yang dihasilkan akan semakin banyak.
b. Penyajian Dalam Film
- Deskripsi visual :
Naya dan Gilang sedang membahas tentang jejak
karbon dari buah jeruk lokal dan jeruk impor ketika proses pengiriman.
Verbal
Scene 23 Shot 4
Scene 23 Shot 7
Visual
Gilang : Apa perbedaannya jeruk gue sama jeruk
lu?
Naya : Jeruk lu ijo, jeruk gue
orange. Terus jeruk
lu dari Pontianak,
jeruk gua keren dari
China.
Gilang : Nay, walaupun ini
adalah hal kecil, tapi
kita harus mikirin
hal yang kaya gini.
Lu pernah bayangin
ga, berapa banyak
karbondioksida yang
terlepas dari jeruk lu
itu?
Naya : Jeruk mana ada sih
yang ngeluarin karbondioksida?
Gilang : Nay, kalau jeruk gua
untuk bisa sampai
kesini dia naik kapal
laut dari Pontianak,
udah gitu naik truk
sampai Jakarta, langsung dari kebunnya. Kalau jeruk
75
Scene 23 Shot 10
Naya :
lu, dari kebunnya
naik truk, habis naik
truk ke pesawat, dari
pesawat naik truk
lagi sampai Jakarta.
Bahan bakarnya lebih banyak kan?
Jadi, jejak karbonnya lebih banyak
mana?
Hmm... punya gue.
Scene 23 Shot 12
Scene 23 Shot 15
i.
Pelibat wacana :
a. Naya adalah tokoh yang mendengarkan penjelasan dari Gilang mengenai
perbedaan jejak karbondioksida dengan membandingkan jeruk lokal
dengan jeruk import.
b. Gilang adalah tokoh yang memberikan penjelasan kepada Naya dengan
detail perbedaan jejak karbondioksida antara jeruk lokal dan jeruk
import.
76
ii. Medan wacana :
Setting terjadi di luar kelas ketika jam pelajaran sekolah telah selesai.
Adapun wacana penyebab pemanasan global yaitu polusi udara kendaraan
berbahan bakar fosil ditunjukkan oleh pernyataan Gilang saat menanyakan
besarnya jumlah karbondioksida yang dihasilkan dengan membandingkan
proses pengiriman jeruk lokal Pontianak dan jeruk import dari China sampai
ke Jakarta (scene 23 shot 4).
Hal tersebut diperjelas dengan dialog dari tokoh Gilang kepada Naya
(scene 23 shot 7) yaitu :
“Lu pernah bayangin ga, berapa banyak karbondioksida yang terlepas
dari jeruk lu itu?”
Kemudian wacana polusi udara kendaraan berbahan bakar fosil juga
ditunjukkan oleh penjelasan dari pertanyaan tersebut oleh Gilang kepada
Naya (scene 23 shot 10 dan 12) yaitu :
“Nay, kalau jeruk gua untuk bisa sampai kesini dia naik kapal laut
dari Pontianak, udah gitu naik truk sampai Jakarta, langsung dari kebunnya. Kalau jeruk lu, dari kebunnya naik truk, habis naik truk ke
pesawat, dari pesawat naik truk lagi sampai Jakarta. Bahan bakarnya
lebih banyak kan? Jadi, jejak karbon-nya lebih banyak mana?”
Dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bahan bakar yang
digunakan untuk mengirim jeruk import untuk sampai ke Jakarta lebih
banyak dan tentu saja emisi karbondioksidanya lebih banyak. Di sini
Sutradara ingin menunjukkan bahwa yang dianggap sepele ternyata juga
berpengaruh besar pada pemanasan global.
77
iii. Mode wacana :
Di bawah ini adalah mode wacana polusi udara kendaraan berbahan
bakar fosil melalui dialog dari tokoh Gilang. Semakin banyak kendaraan
bermotor dan alat-alat industri yang mengeluarkan gas yang mencemarkan
lingkungan akan semakin parah pula pencemaran udara yang terjadi. Menurut
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 Tentang
Pengendalian Pencemaran Udara Pasal 1 Ayat 1 yang berbunyi :
“Pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkrnnya zat, energi,
dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan
manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu
yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya”
Kemudian pada ayat 9, 11 dan 12 menerangkan bahwa emisi karbondioksida
yang dimasukkan ke dalam udara ambien berasal dari sumber bergerak
maupun sumber tidak bergerak, dalam hal ini kendaraan bermotor adalah
merupakan sumber bergerak. Sampai saat ini kendaraan bermotor sebagian
besar masih menggunakan bahan bakar fosil.
Campuran bahan dan udara yang ideal adalah 15 kg udara dengan 1 kg
bensin atau 900 liter udara dengan 1 liter bensin. Tetapi dalam prakteknya,
pembakaran pada kendaraan bermotor tidak akan pernah sempurna, maka
pada gas buang sisa hasil pembakaran selalu terdapat sisa oksigen dan bahan
bakar dan hasil gas buang yang lainnya adalah gas karbon monoksida (CO)
dan karbon dioksida (CO2). Data mengungkapkan bahwa 60% pencemaran
78
udara di Jakarta disebabkan karena benda bergerak atau transportasi umum
yang berbahan bakar solar terutama berasal dari metromini.19
Menurut Bappenas emisi gas rumah kaca yang dihasilkan bidang
transportasi tahun 2009 mencapai sekitar 67 juta ton CO2 dan setiap tahunnya
tumbuh dengan laju sekitar 8-12%. Emisi gas rumah kaca ini umumnya
dihasilkan dari moda transportasi jalan, khususnya di daerah perkotaan seperti
Jabodetabek, Surabaya, Medan, Bandung dan Semarang yang memiliki
tingkat pertumbuhan kendaraan bermotor yang tinggi20.
Dari pernyataan Gilang menunjukkan bahwa karbondioksida dari
kendaraan bermotor menyumbang emisi karbondioksida yang banyak.
Dengan hanya membandingkan hal yang dianggap kecil, yaitu proses
pengiriman buah jeruk lokal dan import yang tentu saja buah import lebih
banyak menghasilkan karbondioksidanya pada saat pengiriman karena
melalui jarak yang lebih jauh.
Lalu bagaimana dengan proses transportasi yang lainnya, dan itu
terjadi di seluruh dunia. Kota-kota besar merupakan penyumbang emisi
terbesar dan sampai sekarang belum ada peraturan yang membatasi jumlah
kendaraan
bermotor.
Sebenarnya
kendaraan
bermotor
memberikan
keuntungan yang sangat besar bila dilihat dari sisi ekonomi sebab dapat
memperlancar dan mempercepat akses transportasi, namun jika dilihat dari
sisi lingkungan efek asap pembakarannya menyebabkan kerugian sangat
besar. Apalagi sampai sekarang masih jarang kendaraan yang menggunakan
19
http://pollutiononmyearth.weebly.com/pencemaran-udara.html. Diakses pada tanggal 31
Desember 2015.
20
Bappenas. Opcit hal 39.
79
energi alternatif pengganti bahan bakar fosil yang diproduksi massal. Sampai
saat ini sebagian besar produsen-produsen otomotif masih membuat mesin
dengan berbahan bakar bensin, solar dan lain-lain.
II. Makna Wacana Global Warming
Global Warming atau pemanasan global sudah terjadi di dunia ini.
Kita sebagai manusia diberi dua pilihan yaitu mempercepat atau
menghambat. Jika ingin memperparah, hal tersebut amat sangat mudah
karena pada dasarnya semua yang kita lakukan tanpa kita sadari telah
memperparah pemanasan global.
Pemanasan global membawa dampak ke seluruh permukaan bumi dan
tidak memandang apakah itu negara maju, negara berkembang atau negara
miskin, semuanya terkena dampaknya. Hingga akhirnya badan dunia yang
kita kenal sebagai PBB akhirnya turun tangan untuk „mengatasi‟ masalah ini
dengan membentuk United Nations Framework Convention on Climate
Change (UNFCC) pada tahun 1992. Mengatasi masalah ini dalam arti hanya
memperlambat karena pemanasan global memang sudah terjadi. Lalu apakah
UNFCC tersebut berguna sebagaimana mestinya? Tentu saja tidak akan
berguna jika kita sebagai manusia tidak ikut membantu atau sadar tentang
bahayanya pemanasan global.
Banyak diantara kita manusia yang skeptis atau tidak peduli tentang
bahayanya pemanasan global. Mereka menganggap bahwa naiknya suhu
permukaan bumi yang hanya beberapa derajat tidak terlalu berpengaruh pada
80
kehidupan. Namun mereka tidak menyadari bahwa naiknya suhu permukaan
bumi akan terus bertambah. Mungkin seratus atau seribu tahun lagi, suhu
permukaan bumi tidak seperti ini, yang pasti akan bertambah panas. Tentu
saja kita tidak akan merasakannya tetapi yang merasakannya adalah anak
cucu kita. Lalu apakah kita mau jika anak cucu kita menderita? Tentu saja
tidak.
Disinilah peran pemerintah benar-benar dibutuhkan, tanpa dukungan
pemerintah pemanasan global akan bertambah parah. Pemerintah bisa
membuat undang-undang untuk mengatur tentang hal-hal yang dapat
menyebabkan pemanasan global. Selain itu juga bisa melakukan kampanye
untuk menyadarkan masyarakat.
Pemerintah Indonesia sendiri telah mempunyai badan untuk
„mengatasi‟ pemanasan global yaitu Dewan Nasional Perubahan Iklim
(DNPI). Sebagai contoh yang telah dilakukan oleh DNPI adalah membuat
film tentang pemanasan global yang berjudul Senandung Bumi yang
disutradarai oleh Kamila Andini. Dalam film tersebut digambarkan wacanawacana yang menjadi penyebab pemanasan global. Disini peran Sutradara
Kamila Andini sangat penting untuk menyampaikan pesan mengenai
pemanasan global. Dari contoh wacana-wacana penyebab pemanasan global
yang ditampilkan di film tersebut, dapat diketahui bagaimana pemanasan
global terjadi seperti yang telah disajikan di atas.
DNPI dan Kamila Andini dalam hal ini ingin berkomunikasi melalui
film untuk mendorong masyarakat untuk menyadari tentang pemanasan
81
global. Tentu saja setiap orang yang menonton akan menangkap makna atau
pesan yang berbeda-beda dalam memahami dan menyadari pemanasan
global. Seperti yang diperankan oleh masing-masing tokoh dalam film
tersebut yang memaknai pemanasan global dengan cara yang berbeda-beda.
Tokoh Naya dalam film tersebut, dia menciptakan lagu dalam
memahami pemanasan global. Lagu yang di ciptakan tersebut menggunakan
lirik yang berhubungan dengan pemanasan global yang mungkin akan
membawa sebuah perubahan bagi yang mendengarkan lagunya. Kemudian
tokoh Gilang, dia membuat gambar atau tulisan yang menyajikan tentang
gambaran pemanasan global. Gambar atau tulisan tersebut dapat membawa
suatu perubahan bagi yang melihatnya dalam memahami dan menyadari
pemanasan global. Seperti Naya yang menjadi berubah dalam memahami
pemanasan global setelah sering melihat gambar maupun tulisan dari Gilang.
Makna dari wacana pemanasan global yang terkandung dari Film
Senandung Bumi ini adalah perubahan. Seperti perubahan yang dilakukan
oleh Naya dalam film tersebut adalah Naya selalu mematikan lampu yang
sedang tidak digunakan untuk mengurangi emisi karbondioksida dan Naya
yang sebelumnya meminta untuk dibelikan mobil akhirnya meminta untuk
dibelikan sepeda dengan maksud untuk mengurangi polusi. Lalu bagaimana
dengan kita? Tentu saja kita harus berubah dalam memahami dan menyadari
tentang pemanasan global, merubah semua tindakan yang selama ini tanpa
kita sadari dapat menyebabkan pemanasan global, merubah kita untuk lebih
peduli terhadap kelestarian hutan. Serta merubah kita dari ketergantungan
82
memakai bahan bakar fosil dengan menemukan, membuat dan menggunakan
bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan memberi perubahan
ke arah yang lebih baik untuk bumi ini.
Benang Merah Penelitian
Pemanasan global merupakan kejadian yang tidak bisa dianggap
sepele sebab setiap harinya semakin bertambah parah. Banyak dari kita yang
belum sadar akan bahayanya dan tidak menganggap penting. Namun
kenyataannya pemanasan global telah merubah bumi ini. Seluruh permukaan
bumi merasakan dampak dari pemanasan global, mulai dari belahan bumi
utara sampai belahan bumi selatan.
Es di kutub yang dikenal sebagai es abadi pada kenyataannya sedikit
demi sedikit mulai mencair. Jika hal tersebut terjadi secara terus menerus
maka permukaan air laut akan meningkat dan tentu saja pulau-pulau kecil
akan tenggelam. Kita tentu tahu bahwa Indonesia mempunyai dua musim
dalam satu tahun yaitu musim hujan dan kemarau. Musim hujan yang
biasanya dimulai pada bulan Oktober – Maret tetapi sekarang hal tersebut
tidak bisa menjadi tolok ukur lagi karena kenyataannya musim hujan selalu
datang terlambat, hal tersebut terjadi karena pemanasan global.
Lalu bagaimana cara untuk mengatasi pemanasan global? Badan dunia
atau yang kita kenal sebagai PBB telah turun tangan dengan membentuk
United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC) pada
tahun 1992. Apakah dengan PBB turun tangan hal tersebut dapat diatasi?
83
Tentu saja semuanya tergantung dari peran tiap-tiap negara dan penduduknya
untuk
mengatasi
pemanasan
global,
mengatasi
dalam
arti
hanya
memperlambat. Pemerintah Indonesia sendiri mempunyai badan yang
menangani pemanasan global yaitu Dewan Nasional Perubahan Iklim
(DNPI). Selain membuat undang-undang tentang pemanasan global, disinilah
peran pemerintah benar-benar dibutuhkan untuk menyadarkan masyarakat
terhadap bahayanya pemanasan global.
Dengan demikian maka masyarakat akan tahu apa saja yang menjadi
penyebab dari pemanasan global. Maka DNPI dalam hal ini berperan penting
untuk menyampaikannya kepada masyarakat. Kemudian muncul pertanyaan
bagaimana DNPI menyampaikan penyebab dari pemanasan global sehingga
mudah diterima dan dimengerti oleh masyarakat. Wacana tersebut meliputi
apa saja penyebab dari pemanasan global dan makna dari pemanasan global
tersebut. Wacana ini terdapat dalam film Senandung Bumi yang dibuat oleh
DNPI dan disutradarai oleh Kamila Andini.
Film ini bercerita tentang tokoh Naya yang seorang siswi SMA yang
berkeinginan untuk membuat lagu tentang alam dan bumi. Namun Naya tidak
tahu lagu tentang alam dan bumi itu seperti apa, sehingga dia bertanya kepada
temannya yaitu Sarah dan Tasya tetapi teman-temannya juga tidak tahu.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan Gilang yaitu teman baru dikelasnya.
Dari pertemuan dengan Gilang inilah Naya akhirnya tahu tentang penyebab
pemanasan global dan mendapat inspirasi untuk lagu tersebut.
84
Lalu apa sajakah penyebab pemanasan global itu? Menurut para ahli,
pemanasan global disebabkan oleh tujuh hal. Namun dalam film ini hanya
menampilkan empat hal saja, jika mengingat bahwa ini hanya merupakan film
pendek sehingga tidak semua penyebab bisa ditampilkan. Penyebab
pemanasan global yang ada di film ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh
para ahli. Hal ini menunjukkan bahwa tokoh-tokoh di film tersebut
menyampaikan pesan kepada masyarakat tentang penyebab pemanasan
global. Untuk mendukung hal tersebut, terdapat bukti-bukti berupa potonganpotongan scene adegan film seperti yang telah ditampilkan di atas.
Penyebab pemanasan global yang ada di film ini ditampilkan secara
sederhana dan mudah dimengerti. Dalam film ini komunikasi terjadi antara
DNPI dan sutradara Kamila Andini sebagai penyampai pesan dan penonton
sebagai penerima pesan. Segmen penonton adalah remaja jika melihat film
tersebut berseting di sebuah SMA.
DNPI sadar bahwa remaja merupakan generasi penerus bangsa yang
akan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik atau sebaliknya. Maka
melalui proses komunikasi dari film Senandung Bumi, DNPI telah
menginformasikan pesan kepada remaja penyebab pemanasan global dan
mempengaruhi untuk menjaga bumi ini dari pemanasan global sekaligus
menghibur remaja dengan menonton film tersebut.
Pesan tentang penyebab pemanasan global yang disampaikan oleh
DNPI ini kemudian diteliti menggunakan analisis wacana. Analisis ini secara
jelas menampilkan bahwa pesan yang disampaikan DNPI untuk menjelaskan
85
bahayanya pemanasan global. Pesan tersebut berisi tentang perubahan,
bagaimana sejak dini harus mau mengubah kebiasaan yang selama ini kita
anggap sepele tanpa tahu akibatnya sangat besar untuk bumi ini.
Download