Gereja Sesudah Jaman Para Rasul I

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
PERTEMUAN III
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN
PROTESTAN
POKOK BAHASAN :
Gereja Sesudah Jaman Para Rasul I
Fakultas
Program Studi
Psikologi
Psikologi
Tatap Muka
Pertemuan
03
Kode MK
Disusun Oleh
90039
Drs. Sugeng Baskoro, M.M.
Abstract
Kompetensi
Dinamika gereja sesudah jaman
para
rasul
awal
serta
perjuangannya
Mahasiswa mampu
memahami
perkembangan gereja awal terutama
masa para rasul
Gereja Sesudah Jaman Para Rasul I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gereja di segala abad dan tempat menghadapi berbagai tantangan dan
pertanyaan, baik yang bersifat klasik maupun yang baru sejalan dengan perkembangan
zaman dan konteksnya. Terhadap semua itu gereja harus memberi jawab, jawaban itu
harus bersumber dari dan didasarkan pada Firman Tuhan di dalam Alkitab sebagai
satu-satunya sumber ajaran dan norma yang benar. Dalam kepercayaan Iman Kristen,
Yesus Kristus adalah Kepala Gereja. Persekutuan orang-orang yang percaya kepada
Yesus Kristus disebut Gereja. Gereja didirikan oleh-Nya, sementara Roh Kudus-Nya
tentu berkarya dalam mengembangkan serta memelihara gereja di dunia. Tanda
penyertaan Tuhan bagi gereja-Nya nampak pada saat Ia berjanji bahwa Ia akan
menyertai kita sampai akhir zaman (Matius 28:20b).
Dalam menjalankan misinya bagi dunia, gereja diperlengkapi dengan berbagai
karunia melalui umat yang Tuhan tempatkan dalam gereja untuk menjadi para pelayanNya. Dalam panggilan misinya bagi dunia, gereja mengalami berbagai tantangan dan
hambatan, namun dalam keadaan demikian, gereja terus bertumbuh dan semakin
bertumbuh. Untuk mengetahuinya dengan lebih baik, kita akan menelusuri hakikat
gereja, serta sejarah tentang perkembangan gereja setelah zaman para rasul pada
tahap - tahap yang akan dijelaskan kemudian.
B. Pengertian Gereja
Istilah gereja yang kita sering sebut, berasal dan bahasa Portugis, “Igreya”, yang
berarti kawanan domba yang dikumpulkan oleh gembala. Dalam pemakaiannya saat
ini, kata Igreya merupakan bentuk terjemahan dan bahasa Yunani, “Kyriake”, sebutan
bagi orang-orang yang menjadi milik Tuhan. Artinya, mereka yang percaya dalam iman
yang sungguh kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Istilah Kyriake baru dipakai
setelah zaman para rasul untuk memaknai Gereja dalam arti lembaga yang dekat
dengan segala macam peraturan. Itu berarti, dalam Perjanjian Baru sendiri, istilah itu
belum ada. Untuk menyebut persekutuan orang-orang beriman, Perjanjian Baru
menggunakan istilah “Ekklesia”. Istilah ini dapat diartikan sebagai perkumpulan yang
dihadiri oleh orang-orang yang dipanggil untuk berkumpul bersama. Dalam sudut
pandang teologis, istilah Ekklesia sering dimaknai sebagai orang-orang yang dipanggil
keluar dan dunia. Bukankah Gereja justru harus ada di dalam dunia untuk menjalankan
misinya bagi dunia? Dipanggil keluar dan dunia dapat dimaknai sebagai bagaimana
seorang hidup dalam kekudusan, tidak tercemar, hidup sebagai manusia baru dan
sebagai anak-anak terang (Galatia 3:26, Efesus 4:17-5:21). Itulah gereja yang
sesungguhnya. Sementara itu, dalam bahasa Ibrani, kata yang sejajar. dengan Ekklesia
adalah “Kahaal” yang berarti umat yang berkumpul untuk berbakti. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa gereja adalah suatu persekutuan atau perkumpulan orangorang yang beriman kepada Yesus Kristus dalam karya Roh Kudus.
Oleh karena itu, Gereja adalah persekutuan orang-orang yang beriman, di dalam
gereja tidak ada lagi pemisahan berdasarkan status atau derajat, tidak ada lagi
perbedaan suku, negara atau pun ras, tidak ada lagi diskriminasi antara perempuan
dan laki-laki sebab semua yang menjadi bagian dari gereja, yang dibaptis di dalam
nama Kristus, telah dengan sendirinya mengakui Kristus adalah Kepala Gereja dan di
dalam Dia, semua manusia sama dan tidak ada perbedaan (Galatia 3:27-28).
Demikianlah, Gereja tidak bisa dipahami hanya terbatas pada bangunan, tetapi Gereja
terdiri dari manusia, umat kepunyaan Allah dalam Yesus Kristus. Gereja adalah tubuhNya yang memenuhi semua dan segala sesuatu (Efesus 1:23).
Dalam pemahaman umat Tuhan, kata “Kepala” memiliki dua pengertian.
Pertama adalah, Kepala Suku atau Pemimpin. Dan kedua adalah, Awal atau Pemulaan,
yang banyak diterjemahkan menunjuk pada pemimpin atau penguasa. Pengertian awal
atau permulaan mengandung arti representasi atau unsur perwakilan. Artinya orang
yang menjadi pemimpin mewakili yang dipimpin karena orang-orang yang dipimpin
telah dengan sendirinya digambarkan dalam diri seorang pemimpin. Pemahaman
teologis dalam kaitannya dengan Gereja adalah bahwa apabila jemaat dipandang
sebagai tubuh Kristus, itu berarti bahwa jemaat diwakili di dalam Kristus atau dalam
keberadaan Kristus sebagai wujud manusia yang memiliki tubuh.
Berbagai perbedaan yang menyatu ini juga sering digambarkan oleh Paulus
dengan ungkapan banyak anggota tetapi satu tubuh, namun semua anggota
mempunyai tugas yang sama (Roma 12:4). Oleh karenanya dalam gereja terdapat
berbagai karunia yang berbeda-beda, dan semua diperhambakan kepada satu
kesatuan sebab tidak ada anggota yang mampu berdiri sendiri dan yang memiliki tujuan
pada dirinya sendiri.
C. Gereja Didirikan Oleh Yesus Kristus
Banyak hal yang terjadi dalam sejarah Gereja pada abad pertama. Namun
sebelum membahas hal itu, kita harus mengingat kembali awal mulanya Gereja berdiri.
Ketika membaca Alkitab, kita menemukan bahwa Tuhan Yesus mengatakan, “Dan Aku
pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan
mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Tuhan
Yesus mendirikan Gereja-Nya di dunia ini dan mengatakan bahwa alam maut tidak
akan menguasainya. Apakah arti perkataan Tuhan Yesus ini? Hal ini adalah jaminan
yang diberikan kepada Gereja-Nya dan memang jaminan ini sudah dibuktikan
kebenarannya di sepanjang sejarah Gereja pada satu abad pertama. Begitu banyak hal
yang terjadi dan kalau dilihat dari kacamata dunia, seharusnya Gereja tidak dapat
bertahan sama sekali.
Dikatakan bahwa Gereja pada abad pertama berdiri menghadapi begitu banyak
tantangan, yaitu serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja,
penolakan-penolakan dari agama-agama lain, perpecahan di dalam Gereja sendiri, dan
tekanan serta penganiayaan dari politik atau negara. Namun sejarah mencatat bahwa
ketika Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus mengalami tantangan-tantangan ini,
Gereja terus dipelihara oleh Tuhan sendiri sehingga bukan saja bisa bertahan tetapi
malah berkembang dengan pesat. Apakah yang menyebabkan hal ini bisa terjadi?
Orang dunia banyak menanyakan apa rahasia di balik hal ini? Mari kita mempelajarinya
dengan saksama sehingga kita, sebagai Gereja di abad ke-21, juga dapat meneruskan
perjuangan Gereja yang sudah dimulai dengan sangat baik di dalam pemeliharaan
Tuhan. Hal ini diperlukan demi melanjutkan sejarah Gereja sampai pada generasi yang
akan datang sehingga kita dipakai Tuhan menjadi mata rantai yang meneruskan
pekerjaan Tuhan melalui Gereja-Nya dan bukan menjadi pemutus rantai sejarah Gereja
Tuhan.
PERKEMBANGAN GEREJA MULA-MULA DAN SESUDAH ZAMAN PARA RASUL
A. Gereja pada Abad Pertama
Sejarah dapat mengajarkan begitu banyak hal kepada manusia, baik melalui halhal baik dan indah maupun tidak baik dan bencana sekalipun. Ada satu macam sejarah
yang sangat penting yang harus dipelajari oleh seluruh umat Tuhan, yaitu sejarah
Gereja. Melalui sejarah Gereja, Allah menyatakan diri sebagai Allah yang memegang
kuasa atas seluruh sejarah. Gereja pada abad pertama biasa disebut sebagai Gereja
pada zaman rasul-rasul (Apostolic Age). Hal ini dimulai dari hari Pentakosta (setelah
kenaikan Tuhan Yesus) sampai pada kematian rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes.
Periode Apostolik ini berlangsung kurang lebih 70 tahun, dari kira-kira tahun 30-100 M.
Tempat berlangsungnya adalah di tanah Palestina dan secara bertahap meluas ke
daerah Siria, Asia Minor, Yunani, dan Italia dengan gereja yang pusat terdapat di kota
Yerusalem, Antiokhia, dan Roma. Perkembangan Gereja ini merupakan hasil
perjuangan para Rasul yang diwakili oleh Rasul Petrus yang banyak mempertobatkan
orang Yahudi dan Rasul Paulus yang banyak mempertobatkan orang-orang nonYahudi. Rasul-rasul lain pun tentu saja turut berbagian dalam memberitakan Injil Yesus
Kristus ke seluruh dunia.
Namun di tengah-tengah kisah perkembangan Gereja Mula-mula ini, ada beberapa hal
yang disayangkan terjadi seperti perpecahan di dalam gereja di Korintus. Hal ini terjadi
karena adanya beberapa orang yang mengagung-agungkan orang-orang yang
memberitakan Injil dan melayani jemaat di sana sehingga muncul golongan-golongan di
antara jemaat. Selain itu, Gereja juga mengalami serangan dari ajaran-ajaran sesat
yang menyusup ke dalam Gereja. Paulus dan Yohanes adalah rasul yang dengan
sangat jelas berjuang melawan ajaran sesat ini. Paulus mencatat hal ini di dalam
suratnya kepada jemaat Galatia yang mencampuradukkan Injil Yesus Kristus dengan
tradisi Yahudi. Sedangkan Rasul Yohanes berperang melawan ajaran Gnostik yang
mulai muncul di akhir abad pertama. Selain itu Gereja juga mengalami penolakan dari
agama-agama lain yang sudah ada pada zaman itu. Namun, satu tantangan yang
sangat berpengaruh terhadap Gereja adalah tekanan dan penganiayaan dari politik.
Di dalam Kisah Para Rasul, kita melihat bahwa para rasul sering kali diadili
secara tidak adil, dihukum penjara, cambuk, dan sebagainya. Dicatat mulai dari pasal 5
bahwa para pemimpin agama Yahudi merasa iri dengan perkembangan kekristenan
saat itu dan akhirnya memasukkan rasul-rasul ke penjara. Ini diperkirakan terjadi pada
tahun 30-40 M. Dimulai dari periode inilah penganiayaan kepada Gereja Mula-mula
banyak sekali terjadi. Para Rasul adalah sekelompok orang Kristen yang mengalami
penganiayaan terlebih dahulu. Kira-kira sepuluh tahun kemudian baru dimulailah
penganiayaan terhadap jemaat Kristen.
Mari kita merefleksikan hidup kita dan kembali belajar dari Gereja di abad
pertama yang mendapatkan kekuatan untuk bertahan serta berkembang dalam
pengenalan akan Tuhan Yesus yang benar. Mari kembali kepada panggilan kita
sebagai Gereja milik Kristus yang sudah didirikan di atas dasar batu karang yang teguh,
sehingga kita bisa meneruskan mata rantai Gereja Tuhan kepada generasi berikutnya.
Teladan yang diberikan oleh Gereja Mula-mula harus kita ikuti dan kembangkan supaya
Gereja bisa menyatakan terang Injil Kristus kepada seluruh dunia. Maka kita harus
bertekun di dalam pembelajaran Firman Tuhan dan bertekun dalam ibadah serta doa
kepada Tuhan untuk memberikan kita kekuatan untuk tetap setia kepada-Nya. Kiranya
Tuhan memberikan Anugerah-Nya kepada kita supaya dapat hidup sebagai Gereja
yang mampu meneruskan apa yang sudah dimulai dengan baik oleh Gereja di abad
pertama.
B. Perkembangan Gereja Sesudah Zaman Para Rasul
Pada masa sesudah rasul-rasul (kira-kira 70 sampai 140 Masehi) terjadilah
perubahan-perubahan besar dalam Gereja Kristen yang muda itu, baik secara
lahiriah, maupun secara batiniah. Sangat cepat Gereja itu
berkembang ke
mana-mana. Selain dari apa yang dapat dibaca dalam kitab Kisah Para Rasul
tentang
pekerjaan
Paulus
itu,
sebenarnya
bagaimana
cara
berkembangnya
Gereja
itu
tanah
Siria,
kurang
Asia
diketahui.
Kecil,
Segera
dan
Yunani,
terdapat
tetapi
jemaat-jemaat
juga
di
Mesir,
Kristen
di
Mesopotamia,
Italia dan di tempat-tempat yang lebih jauh lagi. Pada masa Paulus jemaat
di Roma sudah besar. Rasul Petrus pun pernah bekerja di sana dan di sana
pulalah
ia
mati
syahid.
Pusat
Gereja
Kristen
pada
waktu
itu
masih
di
negeri-negeri sekitar pantai Timur Laut Tengah. Perkembangan Gereja yang
sepesat itu diakibatkan oleh rajinnya semua orang percaya dalam bersaksi
tentang Nama Yesus Kristus.
Walaupun demikian, Gereja Masehi itu lama tinggal "kecil" dan lemah saja,
kalau
melihat
tetapi
meski
akan
bilangannya
kecil
dan
kedudukannya
di
hina
yang
antara
penduduk
sekalipun,
tinggi.
dari
kafir
yang
permulaannya
Jemaat-jemaat
Kristen
banyak
Gereja
bukan
itu,
sadar
memandang
kepada kelompoknya sendiri saja, melainkan mereka merasa dirinya terhisap
kepada
suatu
menganggap
persekutuan
dirinya
menyelamatkan
dunia,
Kristen
sebagai
Israel
yang
tujuan
yang
luas
dan
ciptaan
rohani
am
Allah,
dan
("katolik").
alat
benar,
yang
Tuhan
Gereja
untuk
bertentangan
dengan kaum Yahudi yang durhaka itu dan umat Tuhan yang baru dari zaman
akhir.
Bagaimanapun secara batiniah tampak perubahan. Mula-mula kaum Kristen
sungguh-sungguh
sangka
mereka
mereka
terpaksa
karena
Tuhan
menanti-nantikan
akan
terjadi
melengkapi
belum
juga
kedatangan
dengan
diri
segera.
untuk
datang.
Yesus
Oleh
hidup
sebab
Akan
kembali
tetapi
terus-menerus
itu
perlulah
yang
pada
lama-kelamaan
di
dunia
Gereja
ini,
diberi
susunan yang lebih teratur dan kokoh. Setelah zaman para rasul, kita juga dapat
melihat bagaimana gereja bertumbuh dalam karya Roh Kudus. Pertumbuhan gereja
pada saat itu tidak hanya terbatas pada hal-hal spiritual saja, tetapi juga terangkum
dalam tiga hal berikut.:
A. Kuantitas
Dalam perkembangannya, setelah zaman para rasul, pertumbuhan gereja
secara kuantitas (jumlah) mengalami perkembangan yang luar biasa. Antiokhia yang
pada waktu itu merupakan pusat pekabaran Injil oleh karya Roh Kudus dijadikan alat
perpanjangan tangan bagi terbentuknya gereja di tempat-tempat lain, bahkan sampai di
India. Gereja menyadari panggilannya di tengah dunia untuk menjadi saksi Allah.
Karena itu, gereja terus bertumbuh dan semakin banyak orang yang menjadi bagian di
dalamnya.
B. Manajemen Gereja
Sebetulnya
Perjanjian
Baru
mengajarkan
kepada
tiap-tiap
orang
yang
percaya bahwa ia adalah seorang imam, sehingga untuk menghadap Allah, tak
perlu
seorang
pengantara,
selain
daripada
Yesus
Kristus.
Inilah
"imamat
am dari semua orang percaya". Akan tetapi sekarang pangkat atau jabatan
mulai
diutamakan
'klerus',
segolongan
dalam
Gereja.
imam
yang
Terbentuklah
suatu
mengetahui
segala
kaum
pejabat
seluk-beluk
atau
agama
Kristen, sehingga dapat menguasai orang banyak, yaitu anggota Gereja yang
biasa, yang bukan klerus. Mereka itu takluk kepada pimpinan imam-imam.
Pejabat-pejabat
memerintahkan,
jemaat
menurut
saja.
Klerus
itu
berkuasa
karena jabatannya dipandang ilahi asalnya, bukan lagi karena pekabarannya
dan
pekerjaannya
sendiri.
Inilah
bibit
"pemerintahan
imam"
atau
'hierarkhia' dari Gereja Romawi di kemudian hari.
Dan segi organisatoris, gereja juga mengalami perkembangan. Kita mengetahui
kondisi gereja-gereja awal yang hanya terbatas pada perkumpulan—perkumpulan
untuk beribadat. Mereka juga menyadari bahwa gereja bisa bertahan jika didukung oleh
manajemen pelayanan yang baik. Mereka sadar bahwa hanya berkumpul saja tidaklah
cukup untuk mewartakan kebenaran Injil Tuhan di dunia. Harus ada pembagian tugas
atau manajemen pelayanan gereja. Manajemen sederhana gereja pada waktu itu
nampak dalam beberapa jabatan gerejawi antara lain :
1. Episkopos/uskup, artinya penilik jemaat. Dalam pemahaman kita kini, mereka
bisa disebut sebagai pendeta jemaat atau bapak gembala.
2. Penatua atau presbiter. Umumnya, mereka dipercaya memimpin bagian
gereja yang lebih kedil.
3. Diaken atau syamas. Mereka membantu tugas episkopos dan penatua dalam
hal pelayanan kepada orang miskin dan menjaga rurnah kebaktian.
C. Tata Ibadat atau Liturgi Kebaktian
Dan kesaksian Alkitab dalam Kisah Para Rasul 16:40 dan Roma 16:5, kita
mengetahui bahwa pada awalnya, orang-orang Kristen pertama tidak mempunyai
gedung gereja untuk beribadah. Mereka hanya tersebar di rumah-rumah anggota gereja
untuk melaksanakan ibadah. Sekitar tahun 200, di sebuah desa bernama Edessa di
wilayah Mesopotamia, gereja pertama dibangun. Mereka menjalankan ibadah pada hari
Minggu dengan pemahaman bahwa Tuhan Yesus dibangkitkan pada hari ketiga tepat
pada hari Minggu, maka jemaat Kristen berkumpul pada hari Minggu (dari kata
'dominggo', artinya Tuhan, bahasa Portugis).
Menurut kebiasaan zaman itu selalu diadakan "perjamuan bersama" dalam
perkumpulan itu. Kisah Para Rasul 2:46, "Dengan bertekun dan dengan sehati mereka
berkumpul
tiap-tiap
hari
dalam
Bait
Allah.
Mereka
memecahkan
roti
di
rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira
dan dengan tulus hati”, waktu itu Jemaat berdoa, menyanyi dan mendengarkan
pembacaan dan penjelasan Alkitab atau Firman Tuhan. Awalnya, dalam kebaktian
gereja belum ada tata ibadah atau liturgi sehingga terjadi kekacauan dalam ibadat (1
Korintus 14). Dan lambat-laun kebaktian dilangsungkan dengan memakai tatacara atau
'liturgia' yang lengkap.
Bagian pertama terdiri atas doa, nyanyian, pembacaan Firman Tuhan dan
khotbah, sesudah itu jemaat duduk dan makan bersama-sama. Sajian itu dapat dibawa
sendiri, masing-masing yang dibawa menurut kesanggupannya. Hidangan itu dianggap
sebagai lanjutan perjamuan Yesus dengan murid-murid-Nya. Jemaat yakin bahwa
Yesus hadir di dalam roti dan anggur itu, sesuai dengan janji-Nya pada perjamuan yang
terakhir. Pemimpin kebaktian mengucapkan syukur atas roti dan cawan; sebab itu
dalam Gereja Lama Perjamuan itu disebut juga “Eukharistia” (yang artinya pengucapan
syukur). Dalam perkembangannya, kebaktian Gereja menggunakan liturgi atau tata
ibadat, bahkan liturgi itu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan gereja itu sendiri atau
dapat dirancang berdasarkan hak- hak khusus Gereja.
C. Pertumbuhan Gereja Zaman Rasul – Rasul Dan Gereja Masa Kini
Dalam Pertumbuhan Gereja ada dua arah yang kita harapkan dapat tercapai ,
yaitu pertumbuhan secara kualitas juga pertumbuhan secara kuantitas. Apabila Gereja
hanya mementingkan pertumbuhan secara kualitas tanpa pertumbuhan secara
kuantitas bagaimana kita menggenapkan Firman Tuhan agar kita bisa menjadi saksi di
Yerusalem , Yudea , Samaria dan sampai ke ujung bumi ,tetapi apabila kita hanya
mementingkan Pertumbuhan secara kuantitas tanpa memperhatikan kualitas jemaat ,
maka Gereja akan menjadi Gereja yang duniawi , yang tidak mungkin akan memimpin
umat di dalamnya sampai pada keselamatan di Surga , sehingga pengorbanan Tuhan
Yesus diatas kayu salib pun akan menjadi sia–sia. Pada zaman Rasul – Rasul ada tiga
perkara yang mempengaruhi Gereja pada masa itu :
1.
Peran doa yang sehati , Mereka semua bertekun dengan sehati dalam
doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan
saudara-saudara Yesus ( Kis 1:14 ).Tuhan Yesus sendiri menyatakan , Dan lagi Aku
berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun
juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di
mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah
mereka."(Matius18:19–20). Pada saat itu ada lebih kurang 120 orang yang berkumpul
untuk berdoa tetapi secara hati mereka telah menjadi satu , yang mereka harapkan
adalah janji Bapa , agar mereka diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat Maha
tinggi ( Luk 24 : 49 ).Melalui doa yang bersatu hati Roh Kudus dicurahkan ( Kis 2 : 1 – 4
) dan kemuliaan Tuhan melalui pernyataan MujizatNya dinyatakan di tengah –tengah
umatNya ( Kis 2 : 43 ).
2.
Peran serta Roh Kudus , Rasul – Rasul berkumpul di Yerusalem yaitu
untuk menantikan janji Tuhan mengenai pencurahan Roh Kudus , tanpa Roh Kudus
murid – murid saat Tuhan Yesus ditangkap dan disalibkan , mereka seperti domba yang
kehilangan gembala , bahkan mereka menjadi kecil hati dan menjadi penakut , bahkan
Rasul Petrus yang menyatakan rela dipenjara bahkan rela mati bersama – sama
dengan Kristus , telah menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali , tetapi apa yang
terjadi sesudah hari Pentakosta , saat Roh Kudus dicurahkan ,dipelopori oleh Rasul
Petrus , Rasul – rasul bangkit dan mejadi saksi – saksi Tuhan yang berani , dan melalui
kuasa Roh Kudus yang bekerja dalam diri Rasul Petrus , Ia berkhotbah pada hari
Pentakosta , dalam satu hari saja, ada 3000 orang yang bertobat dan dibaptis , bukan
itu saja oleh Kuasa Roh Kudus yang bekerja ditengah – tengah mereka , Rasul – rasul
menyatakan Kuasa Tuhan melalui pernyataan tanda heran dan Mujizat – mujizat yang
luarbiasa.
3.
Peran dari tenaga kerja yang bekerja sama dengan Allah.Sesudah Yudas
Iskariot mengkhianati dan menjual Tuhan Yesus , dalam penyesalannya saat Ia melihat
Tuhan Yesus ditangkap dan akan disalibkan , Ia mengembalikan uang hasil penjualan
Tuhan Yesus dan kemudian ia menggantung dirinya sendiri , dan untuk menggenapkan
bilangan Rasul – rasul yang berjumlah 12 orang itu , maka dipilihlah Matias sebagai
pengganti Yudas Iskariot.
Dalam kitab Amsal ada pernyataan , Kalau tidak ada lembu, juga tidak ada
gandum, tetapi dengan kekuatan sapi banyaklah hasil ( Amsal 14 : 4 ) ,Dalam besarnya
jumlah rakyat terletak kemegahan raja, tetapi tanpa rakyat runtuhlah pemerintah.(
Amsal 14 : 28 ). Dengan adanya 12 Rasul Tuhan bersama – sama dengan murid –
murid Tuhan pada saat itu , mereka telah menjadi suatu Laskar yang luar biasa untuk
memenangkan banyak jiwa bagi Kerajaan Allah.
KESIMPULAN
Gereja adalah persekutuan orang-orang yang beriman, di dalam gereja tidak ada
lagi pemisahan berdasarkan status atau derajat, tidak ada lagi perbedaan suku, negara
atau pun ras, tidak ada lagi diskriminasi antara perempuan dan laki-laki sebab semua
yang menjadi bagian dari gereja, yang dibaptis di dalam nama Bapa, Putra dan Roh
Kudus, telah dengan sendirinya mengakui Kristus adalah Kepala Gereja dan di dalam
Dia, semua manusia sama dan tidak ada perbedaan.
Bagaimana Gereja Mula-Mula sering terjadi penganiayaan terhadap para Rasul
yang sedang memberitakan Injil, tetapi mereka tetap memperjuangkan Injil agar
manusia bisa diselamatkan. Namun, satu tantangan yang sangat berpengaruh terhadap
Gereja masa itu adalah tekanan dan penganiayaan dari politik. Dan Gereja juga
mengalami penolakan dari agama- agama lain pada zaman itu.
Pada masa sesudah Rasul-Rasul terjadilah perubahan-perubahan besar dalam
Gereja Kristen yang muda, baik secara lahiriah, maupun secara batiniah. Sangat cepat
Gereja itu berkembang ke mana-mana. Setelah zaman para Rasul, kita juga dapat
melihat bagaimana gereja bertumbuh dalam karya Roh Kudus. Pertumbuhan gereja
pada saat itu tidak hanya terbatas pada hal-hal spiritual saja, tetapi juga pada kuantitas,
manajamen dan tata ibadah.
Gereja pada masa kini mendambakan pertumbuhan yang luar biasa seperti yang
telah terjadi pada Gereja zaman Rasuli , maka seluruh Hamba Tuhan , Pekerja Kudus
dan seluruh jemaat , harus membangun Kesatuan hati , mengejar kepenuhan Roh
Kudus dan tekun berdoa , agar Kuasa , kemuliaan dan mujizat Tuhan dinyatakan di
tengah – tengah GerejaNya , juga kita harus peka terhadap panggilan Tuhan dan
bersedia dibentuk untuk menjadi laskar yang kuat untuk membangun Kerajaan Allah di
bumi seperti di Surga. Dan selalu berlandaskan akan “FIRMAN TUHAN”
DAFTAR PUSTAKA
Chandra Kencana, Aries “Artikel Sejarah Gereja: Pembelajaran dari Gereja Mula-Mula”
http://www.buletinpillar.org (Diakses Februari 2013)
Khotbah Kristen “Pertumbuhan Gereja Zaman Rasul – rasul dan Gereja Masa Kini”
http://sermonword.blogspot.com (diakses 16 Desember 2008)
Download