Hubungan antara Self-Efficacy dengan Perilaku

advertisement
UNIVERSITAS AIRLANGGA
DIREKTORAT PENDIDIKAN
Tim Pengembangan Jurnal Universitas Airlangga
Kampus C Mulyorejo Surabaya
page 1 / 4
UNIVERSITAS AIRLANGGA
DIREKTORAT PENDIDIKAN
Tim Pengembangan Jurnal Universitas Airlangga
Kampus C Mulyorejo Surabaya
EDITORIAL BOARD
Susunan Dewan Redaksi
Pengarah/ Advisor Seger Handoyo Ilham Nur Alfian Samian Endah Mastuti Mitra Bestari/ Reviewers
Fendy Suhariadi (UNAIR) MMW. Tairas (UNAIR) Suryanto (UNAIR) Pimpinan Redaksi/ Chief Editor
Herison P. Purba Redaksi Pelaksana/ Managing Editor Ike Herdiana Hamidah Cholichul Hadi Dewi
Retno Suminar Alamat Redaksi Departemen Psikologi Kepribadian dan Sosial Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga Jl. Airlangga 4-6, Surabaya 60286 Telp. + 6231-5032770/ Faks.
+6231-5025910 email: [email protected]
page 2 / 4
UNIVERSITAS AIRLANGGA
DIREKTORAT PENDIDIKAN
Tim Pengembangan Jurnal Universitas Airlangga
Kampus C Mulyorejo Surabaya
Table of Contents
No
Title
Page
1
Hubungan antara Self Efficacy dengan Kecemasan pada Remaja yang Putus Sekolah 60 - 66
2
Stress dan Coping Stress Ibu yang Memiliki Anak dengan Kelainan Hydrocephalus
67 - 71
3
Studi Perbandingan Kemampuan Working Memory pada Pecandu Ganja dan Non
Pecandu Ganja
Hubungan Antara Persepsi Dukungan Sosial dengan Tingkat Kecemasan pada
Penderita Leukemia
Hubungan antara Self-Efficacy dengan Perilaku Sehat pada Penderita
Jantung Koroner
72 - 78
4
5
79 - 84
85 - 89
page 3 / 4
UNIVERSITAS AIRLANGGA
DIREKTORAT PENDIDIKAN
Tim Pengembangan Jurnal Universitas Airlangga
Kampus C Mulyorejo Surabaya
Vol. 3 - No. 2 / 2014-08
TOC : 5, and page : 85 - 89
Hubungan antara Self-Efficacy dengan Perilaku Sehat pada Penderita Jantung Koroner
Hubungan antara Self-Efficacy dengan Perilaku Sehat pada Penderita Jantung Koroner
Author :
Yovi Hendiarto | [email protected]
Fakultas Psikologi
Hamidah | [email protected]
Fakultas Psikologi
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara self-efficacy dengan
perilaku sehat pada penderita jantung koroner. Penelitian dilakukan pada 51 dewasa madya usia
40-65 tahun dengan penyakit jantung koroner yang sedang melakukan pengobatan rawat jalan di
Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah
purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang disusun sendiri oleh
penulis, berupa skala self-efficacy dan skala perilaku sehat. Reliabilitas skala self-efficay adalah
0,842, dan reliabilitas skala perilaku sehat adalah 0,876. Analisis data dilakukan dengan teknik
statistik korelasi Spearman rho dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows. Berdasarkan hasil
analisis data diperoleh nilai korelasi antara self-efficay dengan perilaku sehat sebesar 0,748 dengan
taraf signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya
hubungan yang positif antara self-efficacy dengan perilaku sehat pada penderita jantung koroner.
Keyword : Self-Efficacy, Perilaku, Sehat, Dewasa, Madya, Jantung, Koroner,
Daftar Pustaka :
1. Ashaye, M. O., & Giles, H. W., (2003). Are heart disease patients more likely to have healthy
lifestyle behaviors? Results from the 2000 Behavioral Risk Factor Surveillance Survey.. Vol. 10,
207-212. : Europan Journal of Cardiovaskular Risk
Copy alamat URL di bawah ini untuk download fullpaper :
journal.unair.ac.id/filerPDF/jpkk51cd6bdad2full.pdf
page 4 / 4
Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)
Hubungan antara Self-Efficacy dengan Perilaku Sehat pada
Penderita Jantung Koroner
Yovi Hendiarto
Hamidah
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
Abstract.
This research aims to determine whether there is a relationship between self-efficacy and health
behavior in coronary heart disease patients. The study was conducted on 51middle adulthood
aged 40-65 years with coronary heart disease who are conducting outpatient treatment at
Surabaya Hajj General Hospital. The sampling technique used in this study is purposive sampling. Data collection tool using a questionnaire compiled by the author, a self-efficacy scale
and the health behavior scale. Reliability of self-efficacy scale is 0.842, and reliability of health
behaviors scale is 0.876. Data analysis was performed using the Spearman rho statistical correlation with SPSS 16.0 for windows Based the analysis of the research data obtained by the
correlation between self-efficacy with health behavior of 0,748 with significance level of 0,000
(p < 0,05). This indicates that there is a significant correlation between self-efficacy with health
behavior in coronary heart disease patients. The results of this study indicate that there is a
positive relationship between self-efficacy with health behaviors in patients with coronary heart
disease.
Key word: Self-Efficacy; Health Behavior; Middle Adulthood; Coronary Heart Disease
Abstrak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara self-efficacy dengan
perilaku sehat pada penderita jantung koroner. Penelitian dilakukan pada 51 dewasa madya
usia 40-65 tahun dengan penyakit jantung koroner yang sedang melakukan pengobatan rawat
jalan di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian
ini adalah purposive sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner yang disusun
sendiri oleh penulis, berupa skala self-efficacy dan skala perilaku sehat. Reliabilitas skala selfefficay adalah 0,842, dan reliabilitas skala perilaku sehat adalah 0,876. Analisis data dilakukan
dengan teknik statistik korelasi Spearman rho dengan bantuan program SPSS 16.0 for windows.
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai korelasi antara self-efficay dengan perilaku sehat
sebesar 0,748 dengan taraf signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang positif antara self-efficacy dengan perilaku sehat pada
penderita jantung koroner.
Kata kunci: Self-Efficacy; Perilaku Sehat; Dewasa Madya; Jantung Koroner
Korespondensi:
Yovi Hendiarto, e-mail: [email protected]
Hamidah, e-mail: [email protected]
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Jl. Dharmawangsa Dalam Selatan Surabaya 60286
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Vol. 03 No. 02, Agustus 2014
85
Hubungan antara Self-Efficacy dengan Perilaku Sehat pada Penderita Jantung Koroner
PENDAHULUAN
Berdasarkan laporan dari World Health
Organization (WHO) pada tahun 2005, dari 58
juta kematian di dunia, 17,5 juta (30%) diantaranya disebabkan oleh penyakit jantung dan pembuluh darah, terutama oleh serangan jantung sebanyak 7,6 juta jiwa dan stroke 5,7 juta jiwa. Kematian
akibat penyakit jantung dan pembuluh darah di
dunia diperkirakan pada tahun 2015 akan meningkat menjadi 20 juta jiwa (Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 2009).
Masa dewasa madya adalah masa terjadinya peningkatan penyakit kronis termasuk penyakit jantung koroner (Santrock, 2011).
Tingkat kolesterol dalam darah meningkat selama bertahun-tahun dan di usia dewasa madya
mulai menumpuk pada dinding arteri yang dapat
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular
(Betensky, Contrada, & Leventhal, 2009, dalam
Santrock, 2011). Kematian akibat penyakit jantung
koroner di Indonesia sendiri banyak di dominasi
pada orang usia 45 sampai 65 tahun. Berdasarkan Rikesdas tahun 2007, bahwa jumlah kematian pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah
perkotaan akibat penyakit jantung koroner per
1000 penduduk Indonesia sebesar 8,7%, sedangkan di pedesaan mencapai 8,8%. Sementara itu
pada usia 55-64 tahun angka kematian diderah
perkotaan sebesar 5,8% sedangkan di daerah
pedesaan sebesar 5,7% (Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, 2009).
Penyakit jantung koroner yang ada di
negara berkembang secara historis lebih sering
terjadi pada kelompok sosial ekonomi yang lebih
terdidik dan lebih tinggi (WHO, dalam Mackay,
& Mensah, 2010). Tantangan yang dihadapi pada
saat ini adalah penyakit jantung tidak lagi mengenal kelompok status sosial ekonomi masyarakat.
Penderita jantung koroner pada sekarang ini juga
banyak yang berasal dari kalangan sosial ekonomi
menengah kebawah yang tergolong dari masyarakat miskin, tidak mampu, dan kurang mampu
yang kemungkinan diakibatkan oleh perilaku
yang tidak sehat (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2009).
Berdasarkan Glantz, dkk (2007) penderita jantung koroner harus merubah perilaku
mereka menjadi perilaku yang lebih sehat agar
dapat mengurangi penderitaan yang mereka rasakan, mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk
86
berobat dan juga dapat mengurangi resiko kematian. Berdasarkan Schroder, & Schwarzer (2004)
perilaku sehat harus diterapkan pada kehidupan
para penderita jantung koroner agar dapat memperbaiki kondisi pada jantung mereka, mengurangi meningkatnya resiko penyakit yang menjadi
lebih parah dan keberhasilan jangka panjang dari
operasi jantung yang kemungkinan dilakukan.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya,
penderita jantung koroner seharusnya merubah
perilakunya menjadi perilaku yang lebih sehat
agar kondisi kesehatan mereka menjadi lebih baik,
akan tetapi berdasarkan Schroder, & Schwarzer
(2004) bahwa banyak penderita jantung koroner,
yang juga mempunyai informasi atau telah mengetahui bahwa adanya pengaruh dari pola hidup
terhadap kesehatan mereka, namun mereka tetap
saja melanjutkan dengan gaya hidup tidak sehat
sampai mereka memiliki bukti yang jelas bahwa
hidup yang mereka jalani tersebut benar-benar
beresiko dan banyak dari mereka menunjukkan
bahwa mereka mengalami kesulitan mengontrol
pola makan yang tidak sehat dan kurangnya aktivitas fisik.
Penelitian yang dilakukan oleh Ghiles, &
Ashaye (2003) menemukan hal yang seupa, bahwa penderita jantung koroner memiliki perilaku
tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak memiliki penyakit jantung koroner, meskipun mereka mempunyai sakit jantung akan tetapi hanya
sedikit sekali mereka yang dengan penyakit jantung koroner ini melakukan atau merubah gaya
hidupnya kearah perilaku hidup yang lebih sehat, artinya meskipun memiliki penyakit jantung
koroner mereka tidak lebih melakukan perilaku
hidup sehat daripada orang yang tidak memiliki
penyakit jantung koroner.
Berdasarkan Sarafino & Smith (2011) hal
yang paling terpenting yang harus dimiliki oleh
individu untuk dapat melaksanakan perilaku sehat adalah self-efficacy. Seorang individu memerlukan cukup self-efficacy untuk melaksanakan
perubahan dalam hidupnya, tanpa self-efficacy,
motivasi mereka untuk berubah akan terhambat. Bandura (1998) mendefinisikan self-efficacy
sebagai keyakinan individu dalam mengatur dan
melaksanakan program tindakan yang diperlukan untuk menghasilkan tingkatan pencapaian
tertentu. Self-efficacy mengatur motivasi dengan
menentukan tujuan yang orang tetapkan untuk
diri mereka sendiri, kekuatan komitmen mereka
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Vol. 03 No. 02, Agustus 2014
Yovi Hendiarto, Hamidah
dan hasil yang mereka harapkan dari usaha yang
telah mereka lakukan (Bandura, 1998). Semakin
kuat self-efficacy dirasakan dan ditanamkan, semakin besar orang-orang untuk mendapatkan
dan mempertahankan upaya yang diperlukan untuk mengadopsi, mempertahankan dan meningkatkan perilaku kesehatan (Bandura, 1998).
Penelitian membuktikan bahwa adanya
hubungan self-efficacy dengan perilaku sehat
seseorang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Schwarzer & Renner (2000), Strachan &
Brawley (2009), Ayyote dkk (2010), menyimpulkan bahwa adanya hubungan antara self-efficacy
dengan perilaku sehat. Mereka menyatakan bahwa individu yang mempunyai self-efficacy yang
tinggi cenderung mempunyai perilaku yang lebih
sehat, dan sebaliknya individu yang mempunyai
self-efficacy yang rendah lebih cenderung mempunyai perilaku yang tidak sehat.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan tipe penelitian kuantitatif yang bersifat eksplanatif (Eksplanatory research). Explanatory research ini bertujuan untuk, menguji prinsip atau prediksi suatu
teori, menguraikan dan memperkaya penjelasan
suatu teori, memperluas teori untuk isu atau topik
baru, mendukung atau menolak penjelasan atau
prediksi, menghubungkan isu dan topik dengan
prinsip umum, menentukan beberapa penjelasan
yang terbaik (Neuman, 2007).
Subyek dalam penelitian ini adalah 51
orang dewasa madya yang menderita jantung koroner yang sedang melakukan rawat jalan di RSU
Haji Surabaya. Teknik sampling yang digunakan
dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling, dengan teknik penentual sampel yang digunakan adalah purposive sampling (Winarsunu,
2006).
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan skala psikologis dengan
dua alat ukur skala yaitu skala self-efficacy dan
skala perilaku sehat. uji validitas dalam penelitian
ini menggunakan bantuan professional judgement dan uji reliabitas dalam penelitian ini diukur
dengan menggunakan Alpha Cronbach, yang dihitung dengan menggunakan bantuan SPSS 16.0
for Windows dan didapat reliabilitas skala selfefficacy sebesar 0,842 dan reliabitas skala perilaku
sehat sebesar 0,873. Hasil tersebut menunjukkan
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Vol. 03 No. 02, Agustus 2014
bahwa kedua alat ukur ini reliabel.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan hasil uji asumsi sebelumnya yaitu uji normalitas didapatkan hasil bahwa
bentuk distribusi datanya tidak normal. Sehingga
uji korelasi yang dilakukan adalah statistik nonparametrik. Teknik uji korelasi yang digunakan
adalah spearman rho. Berdasarkan tabel uji korelasi menggunakan spearman rho Sig (2-tailed),
taraf signifikansinya sebesar 0,748 atau lebih besar
dari 0,05 dengan demikian Ha diterima. Artinya,
ada hubungan yang signifikan antara self-efficacy
dengan perilaku sehat pada penderita jantung koroner.
PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara self-efficacy
dengan perilaku sehat pada penderita jantung
koroner. Hasil analisis korelasi dengan teknik
sperman-rho menunjukkan adanya hubungan
yang signifikan antara variabel self-efficacy dengan perilaku sehat. Hal ini diketahui dari nilai
signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari
probabilitas 0,05 (p < 0,05) serta nilai koefisien
korelasi antara kedua variabel yaitu 0.748 yang
artinya memiliki tingkat korelasi besar menurut
Cohen (1998 dalam Pallant 2007). Hal ini mendukung terbuktinya hipotesis kerja (Ha) yaitu “ada
hubungan yang signifikan antara self-efficacy dan
perilaku sehat pada penderita jantung koroner “.
Nilai positif pada skor koefisien korelasi
antara 2 variabel menunjukkan bahwa jika selfefficacy seseorang tinggi maka tingkat perilaku
sehat juga akan tinggi, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Schwarzer & Renner
(2000), Strachan & Brawley (2009), Ayyote dkk
(2010), bahwa adanya hubungan antara self-efficacy dengan perilaku sehat. Mereka menyatakan
bahwa individu yang mempunyai self-efficacy
yang tinggi cenderung mempunyai perilaku sehat, dan sebaliknya individu yang mempunyai
self-efficacy yang rendah lebih cenderung mempunyai perilaku yang tidak sehat. Bandura (1998)
menyatakan bahwa semakin kuat self-efficacy
dirasakan dan ditanamkan, semakin besar orangorang untuk mendapatkan dan mempertahankan
87
Hubungan antara Self-Efficacy dengan Perilaku Sehat pada Penderita Jantung Koroner
upaya yang diperlukan untuk mengadopsi, mempertahankan dan meningkatkan perilaku sehat. Penelitan ini membuktikan bahwa jika penderita
jantung koroner mempunyai self-efficacy yang
tinggi maka penderita jantung koroner mempunyai perilaku yang sehat.
Berdasarkan proses kognitif, self-efficacy
mampu untuk mengatur kognitif manusia (Bandura, 2002). Kognitif adalah salah satu faktor yang
dapat mempengaruhi perilaku sehat. Individu
yang ingin merubah perilaku mereka menjadi
perilaku sehat harus mempunyai daya kognitif
untuk membuat rencana-rencana dalam melaksanakan perilaku sehat (Sarafino & Smith, 2011).
Kuatnya self-efficacy yang dirasakan akan membuat seseorang menetapkan tujuan yang terbaik
dan akan berusaha untuk tetap berkomitmen pada
tujuan tersebut. Self-efficacy mempengaruhi individu dalam berpikir untuk membuat rencana yang
teratur dan strategis untuk mencapai tujuan mereka, dan berusaha untuk mengejar segala tantangan-tantangan (Bandura, 2002). Berdasarkan teori
dari Bandura (2002) tersebut jika dikaitkan dengan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa
penderita jantung koroner yang mempunyai selfefficacy tinggi mampu untuk berkomitmen untuk
mencapai tujuan mereka dan mampu untuk membuat rencana yang strategis untuk dapat melaksanana perilaku sehat.
Berdasarkan proses motivasi, self-efficacy
adalah kunci utama dalam mengatur motivasi
manusia yang akan mempengaruhi setiap fase
perubahan dalam diri mereka Bandura (1998). Semakin kuat self-efficacy dirasakan dan ditanamkan, semakin besar individu termotivasi untuk
merubah dan mempertahankan upaya yang diperlukan untuk mengadopsi, mempertahankan dan
meningkatkan perilaku sehat. B e r d a s a r k a n
hasil penelitian ini penderita jantung koroner
yang mempunyai self-efficacy yang tinggi mempunyai motivasi untuk merubah perilaku mereka
menjadi perilaku yang lebih sehat, mampu untuk
mempertahankan upaya-upaya untuk melaksanakan dan meningkatkan perilaku sehat mereka. Penderita jantung koroner yang mempunyai
self-efficacy yang tinggi mampu untuk mengontrol
perilaku perilaku sehat mereka, dan mampu untuk mengembalikan kontrol perilaku sehat mereka setelah terjadinya kemunduran dalam perilaku
sehat mereka.
Berdasarkan proses afektif, self-effica88
cy dapat mempengaruhi kemampuan manusia
dalam mengatasi atau mengontrol stressor yang
dapat berpengaruh pada tingkat kecemasan pada
dirinya. Individu yang percaya akan kemampuan
mereka dalam mengatasi stressor tidak akan
mempengaruhi pola pikir mereka. Invidu yang
tidak percaya akan kemampuannya dalam mengatasi stressor dapat mengakibatkan munculnya
kecemasan. Berdasarkan Sarafino & Smith (2011)
orang yang sakit dan mengkonsumsi obat-obatan
tertentu akan mempengaruhi kondisi emosi seseorang yang berpengaruh pada perilaku sehat.
Kondisi sakit seperti jantung koroner dapat mengakibatkan seorang individu mengalami stress.
Berdasarkan hasil dari penelitian ini para penderita jantung koroner yang mempunyai self-efficacy yang tinggi mampu untuk mengatasi stress
yang dapat berpengaruh terhadap perilaku sehat
mereka dan mereka mampu untuk mengatasi segala hambatan-hambatan dalam melaksanakan
perilaku sehat. Mereka mempunyai keberanian
untuk bertindak mengatasi hambatan dalam
melaksanakan perilaku sehat.
Berdasarkan proses seleksi, self-efficacy
dapat membentuk kehidupan seseorang dengan
mempengaruhi aktivitas dan lingkungan yang
mereka pilih. Perilaku dibentuk dari pemilihan
sebuah lingkungan yang mana tumbuh sebuah
potensi dan gaya hidup tertentu. Individu yang
mempunyai self-efficacy yang tinggi mampu untuk menentukan pilihan yang mereka pilih untuk
menentukan kehidupan mereka (Bandura, 2002).
Berdasarkan hasil penelitian ini penderita jantung koroner yang mempunyai self-efficacy tinggi
mampu melakukan seleksi-seleksi dari lingkungan mereka dengan mentukan perilaku mereka
yang dapat meningkatkan perilaku sehat mereka.
SIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan yang didapat dari penelitian
ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy dan perilaku sehat pada penderita
jantung koroner. Hubungan ini nilainya positif
yang artinya semakin tinggi self-efficacy pada penderita jantung koroner maka semakin tinggi pula
tingkat perilaku sehat.
Penderita jantung koroner seharusnya
meningkatkan perilaku sehatnya agar kondisi
kesehatan jantung mereka dapat menjadi lebih
baik dan stabil antara dengan cara mengkonsumJurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Vol. 03 No. 02, Agustus 2014
Yovi Hendiarto, Hamidah
si makanan sehat, membatasai mengkonsumsi
makanan yang berkolestrol, mengandung banyak
garam dan gula, segera melakukan tindakan ketika
merasakan rasa sakit di dalam tubuhnya, menjaga
aktivitas mereka dan mematuhi saran-saran yang
diberikan oleh dokter, sehingga dapat mengurangi
biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan, mengurangi resiko serangan jantung, dan juga kematian. Penderita jantung koroner diharapkan untuk
dapat meningkatkan relasi dan komunikasi dengan sesama penderita jantung koroner agar dapat
saling berbagi ilmu dan pengalaman kehidupan
antar sesama penderita jantung koroner.
PUSTAKA ACUAN
Ashaye, M. O., & Giles, H. W. (2003). Are heart disease patients more likely to have healthy lifestyle behaviors? Results from the 2000 Behavioral Risk Factor Surveillance Survey. Europan Journal of Cardiovaskular Risk, 10, 207-212.
Ayyote, J. B., Margrett, J. A., & Patrick, J. H. (2010). Physical Activity in Middle-aged and Young-old
Bandura, A. (1998). Health promotion from the perspective of social cognitive theory. Psychology and Health, 13, 623-649.
Bandura, A. (2002). Self-efficacy In Changing Society. Cambridge: Cambridge University Press.
Glanz, K., Rimer, B. K., & Viswanath, K. (2008). Health Behavior and Health Education: Theory Re
search and Practice. Jossey-Bass: San Fransisco.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2009). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tentang Pedoman Pengendalian Jantung dan Pembuluh Darah
Mackay, J., & Mensah, J. A. (2004). The Atlas of Heart Disease and Stroke. World Health Organization.
Neuman, W. L. (2007). Social research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. Boston: Al
lyn and Bacon.
Pallant, J. (2007). SPSS: Survival manual (3th ed.). Sydney: Allen & Unwin.
Santrock, J. W. (2011). Life-Span Development (13th editon). New York : McGraw-Hil.
Sarafino, E.P., & Smith, T. W. (2011). Health Psychology: Biopsycossocial Interaction. John Willey and Sons.
Schwarzer, R., & Renner, B. (2000). Social-Cognitive Predictors of Health Behavior: Action Self-Efficacy and Coping Self-Efficacy. Health Psychology, 19, 487-495.
Schroder, K. E. E., & Swharzer, R. (2004). Habitual self-control and the management of health behavior among heart patients. Social Science & Medicine, 60, 859–875.
Strachan, M. S., & Brawley, R. L. (2009). Healthy-eater identiy and self-efficacy predict healthy eating behavior. Journal of Health Psychology, 14, 684-695.
Winarsunu, T. (2006). Statistik Dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang; UMM Press.
Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental
Vol. 03 No. 02, Agustus 2014
89
Download