Teori Belajar

advertisement
Starlet Gerdi Julian / 15105241034 / juliancreative.blogs.uny.ac.id
Teori Belajar
1. Behaviorisme
Dalam kamus bahasa inggris behavior artinya kelakuan, tindak tanduk atau bertingkah
laku dengan sopan. Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur,
diamati dan dihasilkan oleh respon pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap
rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi
yang diinginkan (Arya, 2010).
Sebagaimana kita ketahui, aliran behavioristik adalah aliran yang menekankan pada
terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Aliran behavioristik dalam aliran
psikologi belajar sangat besar pengaruhnya terhadap arah pengembangan teori dan praktek
pendidikan dan pembelajaran hingga kini.
Dalam Teori Behavioristik pandangan tetang belajar adalah perubahan dalam tingkah
laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Atau dengan kata
lain belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah
laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Beberapa tokoh
teori belajar behaviorisme antara lain adalah Pavlov, Thorndike, Watson, Hull, Edwin
Guthrie dan Skinner. Dari sekian banyak para ahli yang berkarya dalam aliran ini, salah satu
diantaranya akan dijelaskan disini
1
Teori Belajar Behavioristik Menurut Ivan Pavlov
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849, ia meraih penghargaan nobel pada
bidang Physiology or Medicine tahun 1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat
mempengaruhi psikology behavioristik di Amerika. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan
Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme.
Pavlov melakukan suatu eksperimen terhadap anjing. Anjing mengeluarkan air liur
apabila diperlihatkan makanan. air liur yang dikeluarkan oleh anjing merupakan suatu stimulus
yang diasosiasikan dengan makanan. Pavlov juga menggunakan lonceng dahulu sebelum
makanan diberikan. Dengan sendirinya air liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang
demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya membunyikan
lonceng saja saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula. Makanan adalah rangsangan
wajar, sedang lonceng adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian
dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk
timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned
Respons.
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata
individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat
untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari
bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
Berdasarkan eksperimen yang dilakukan Pavlov diperoleh kesimpulanberkenan dengan
beberapa cara perubahan tingkah laku yang dapat digunakan dalam proses
pembelajaran. Misalnya murid dimarahi karena ujian biologinya buruk. Saat murid untuk ujian
kimia dia juga akan menjadi gugup karena kedua pelajaran tersebut saling berkaitan.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus respon atau reaksinya,
mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu
dengan menggunakan pentingnya pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan
semakin kuat bila diberikan reinforcement/penguatan dan akan menghilang bila dikenai
hukuman.Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan
dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan
senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi hadiah atau pujian.
2. Kognitivisme
2
Salah satu aliran yang mempunyai pengaruh terhadap praktik belajar yang dilaksanakan
di sekolah adalah aliran psikologi kognitif. Aliran ini telah memberikan kontribusi terhadap
penggunaan unsur kognitif atau mental dalam proses belajar. Berbeda dengan pandangan aliran
behavioristik yang memandang belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara
stimulus dan respon, aliran kognitif memandang kegiatan belajar bukanlah sekedar stimulus dan
respon yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu, kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan
mental yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar. Oleh karena itu, menurut aliran
kognitif, belajar adalah sebuah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan
menggunakan pengetahuan. Sehingga perilaku yang tampak pada manusia tidak dapat diukur
dan diamati tanpa melibatkan proses mental seperti motivasi, kesengajaan, keyakinan, dan lain
sebagainya (Baharuddin & Wahyuni, 2007: 88).
Menurut perspektif psikologi kognitif, belajar pada asasnya adalah peristiwa mental,
bukan peristiwa behavioral (yang bersifat jasmaniah) meskipun hal-hal yang bersifat behavioral
tampak lebih nyata dalam hampir setiap peristiwa belajar siswa. Secara lahiriah, seorang anak
yang sedang belajar membaca dan menulis, misalnya, tentu menggunakan perangkat jasmaniah
(dalam hal ini mulut dan tangan) untuk mengucapkan kata dan menggoreskan pena. Akan tetapi,
perilaku mengucapkan kata-kata dan menggoreskan pena yang dilakukan anak tersebut bukan
semata-mata respons atas stimulus (rangsangan) yang ada, melainkan yang lebih penting karena
dorongan mental yang diatur oleh otaknya (Syah, 1999: 111).
Pandangan kognitivisme ini membawa kepada sebuah pemahaman bahwa pengetahuan
tidak diperoleh secara pasif oleh seseorang, melainkan melalui tindakan, yakni belajar. Bahkan,
perkembangan kognitif anak bergantung pada seberapa jauh mereka aktif memanipulasi dan
berinteraksi dengan lingkungannya. Selain itu, proses pembelajaran juga sangat berkaitan erat
dengan pembentukan dan penggunaan kemampuan berpikir. Peserta didik akan lebih mudah
mencerna konsep dan ilmu pengetahuan apabila di dalam dirinya sudah ada struktur dan strata
intelektual, sehingga ketika ia berhadapan dengan bahan atau materi pembelajaran, ia mudah
menempatkan, merangkai dan menyusun alur logis, menguraikan dan mengobjeksinya.
Beberapa teori belajar berdasarkan aliran kognitif ini antara teori perkembangan Piaget,
teori belajar bermakna Ausubel, teori penemuan Bruner dan teori kognitif Bandura.
a) Teori Perkembangan Piaget
Kaitannya dengan perkembangan kognitif, seorang
pakar terkemuka dalam disiplin psikologi kognitif dan
psikologi anak, Jean Piaget mengemukakan tahap-tahap yang
harus dilalui seorang anak dalam mencapai tingkatan
perkembangan proses berpikir formal. Teori ini tidak hanya
diterima secara luas dalam bidang psikologi tetapi juga
sangat besar pengaruhnya di bidang pendidikan (Keempat
tahapan itu adalah:
a. Tahap sensori-motor dari lahir hingga 2 tahun. Anak mengalami dunianya melalui
gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek. Seorang anak sedikit demi
sedikit mengembangkan kemampuannya untuk membedakan dirinya dengan benabenda lain.
b. Tahap pra-operasional dari 2 hingga 7 tahun. Anak mulai memiliki kecakapan
motorik. Pada masa ini anak menjadi pusat tunggal yang mencolok dari suatu obyek.
3
Misalnya seorang anak melihat benda cair yang sama banyak tetapi yang sat berada
dalam gelas panjang dan satu lagi berada di cawan datar, dia akan mengatakan bahwa
air di gelas lebih banyak dari pada air di cawan datar.
c. Tahap operasional konkret dari 7 hingga 11 tahun. Anak mulai berpikir secara logis
tentang kejadian-kejadian konkret. Anak sudah dapat membedakan benda yang sama
dalam kondisi yang berbeda.
d. Tahap operasional formal setelah usia 11 tahun. Pada masa ini anak mulai memasuki
dunia “kemungkinan” dari dunia yang sebenarnya atau anak mengalami
perkembangan penalaran abstrak (http://id.wikipedia.org).
Kecepatan perkembangan setiap individu melalui urutan setiap tahap tersebut berbeda
dan tidak ada individu yang melompati salah satu dari tahap tersebut. Tiap tahap ditandai dengan
munculnya kemampuan-kemampuan intelektual baru yang memungkinkan orang memahami
dunia dengan cara yang semakin kompleks (Trianto, 2007b: 22). Hal ini berarti bahwa
perkembangan kognitif seseorang merupakan suatu proses genetik. Artinya, perkembangan
kognitif merupakan proses yang didasarkan atas mekanisme biologis dari perkembangan sistem
syaraf. Semakin bertambah umur seseorang, maka semakin kompleks susunan sel syarafnya dan
semakin meningkat pula kemampuannya (Muhaimin, 2002: 199).
Berdasarkan hal tersebut, Jean Piaget berpandangan bahwa pada dasarnya setiap individu
sejak kecil sudah memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.
Pengetahuan yang dikonstruksi oleh anak sebagai subyek, maka akan menjadi pengetahuan yang
bermakna; sedangkan pengetahuan yang hanya diperoleh melalui proses pemberitahuan tidak
akan menjadi pengetahuan yang bermakna. Pengetahuan tersebut hanya untuk diingat
sementara, setelah itu dilupakan (Sanjaya, 2006: 122).
Kaitannya dengan proses belajar, Piaget membagi proses belajar menjadi tiga tahapan,
yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian)
informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak peserta didik. Akomodasi
adalah proses penyesuaian struktur kognitif dalam situasi yang baru. Sedangkan equilibrasi
adalah proses penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Uraian tersebut di atas memberi sebuah pemahaman bahwa inti dari pemikiran Piaget
tentang proses belajar seseorang adalah mengikuti pola dan tahap-tahap perkembangan tertentu
sesuai dengan umurnya (Muhaimin, 2002: 200).
b) Teori Belajar Bermakna Ausubel
Menurut David P. Ausubel, secara umum kelemahan
teori belajar adalah menekankan pada belajar asosiasi atau
menghafal, dimana materi asosiasi dihafal secara arbitrase.
Padahal, belajar seharusnya merupakan asimilasi yang
bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan
dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki dalam
struktur kognitifnya (Muhaimin, 2002: 201).
Ausubel memisahkan antara belajar bermakna dengan
belajar menghafal. Ketika seorang peserta didik melakukan
belajar dengan menghafal, maka ia akan berusaha menerima dan menguasai bahan yang
diberikan oleh guru atau yang dibaca tanpa makna. Hal ini berbeda dengan belajar bermakna,
dimana dalam belajar bermakna ini terdapat dua komponen penting, yaitu bahan yang dipelajari,
4
dan struktur kognitif yang ada pada individu. Struktur kognitif ini adalah jumlah, kualitas,
kejelasan dan pengorganisasian dari pengetahuan yang sekarang dikuasai oleh individu.
Agar tercipta belajar bermakna, maka bahan yang dipelajari harus bermakna: istilah yang
mempunyai makna, konsep-konsep yang bermakna, atau hubungan antara dua hal atau lebih
yang mempunyai makna. Selain itu, bahan pelajaran hendaknya dihubungkan dengan struktur
kognitifnya secara substansial dan dengan beraturan. Substansial berarti bahan yang
dihubungkan sejenis atau sama substansinya dengan yang ada pada struktur kognitif. Beraturan
berarti mengikuti aturan yang sesuai dengan sifat bahan tersebut (Sukmadinata, 2007: 188)
Selaras dengan uraian tersebut, menurut Reilly dan Lewis, belajar memerlukan
persyaratan tertentu, yaitu (1) isi pembelajaran dipilih berdasarkan potensi yang bermakna dan
diatur sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik serta tingkat pengalaman masa lalu
yang pernah dialaminya; dan (2) diciptakan situasi belajar yang lebih bermakna. Dalam hal ini,
faktor motivasi memegang peranan penting karena peserta didik tidak akan mengasimilasikan isi
pembelajaran yang diberikan atau yang diperoleh apabila peserta didik tidak mempunyai
keinginan dan pengetahuan bagaimana cara melakukan kegiatan belajar (Muhaimin, 2002: 201).
Singkatnya, inti dari teori David P. Ausubel tentang belajar adalah belajar bermakna,
yaitu suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam
struktur kognitif seseorang (Trianto, 2007: 25).
c) Teori Penemuan Bruner
Salah satu teori belajar kognitif yang sangat
berpengaruh adalah teori Jerome Bruner yang dikenal
dengan belajar penemuan (discovery learning). Bruner
menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan
pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan
dengan sendirinya memberi hasil yang paling baik. Berusaha
sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta
pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan
yang benar-benar bermakna (Trianto, 2007: 26)
Menurut Bruner, belajar akan lebih bermakna bagi
peserta didik jika mereka memusatkan perhatiannya untuk memahami struktur materi yang
dipelajari. Untuk memperoleh struktur informasi, peserta didik harus aktif di mana mereka harus
mengidentifikasi sendiri prinsip-prinsip kunci dari pada hanya sekedar menerima penjelasan dari
guru. Oleh karena itu guru harus memunculkan masalah yang mendorong peserta didik untuk
melakukan kegiatan penemuan (Trianto, 2007b: 33).
Selain ide tentang belajar penemuan (discovery learning), Bruner juga berbicara tentang
adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Bruner menyatakan bahwa
perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya
melihat lingkungan. Pertama, tahap enaktif, dimana individu melakukan aktifitas dalam upaya
memahami lingkungannya. Kedua, tahap ekonit, dimana individu melihat dunia melalui gambargambar dan visualisasi verbal.Ketiga, tahap simbolik, dimana individu mempunyai gagasan
abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika berpikirnya. Komunikasi dalam hal ini
dilakukan dengan pertolongan sistem simbol (Muhaimin, 2002: 200).
5
3. Humanistik
Pengertian Belajar Menurut Teori Humanistik. Selain teori belajar behavioristik dan
toeri kognitif, teori belajar humanistik juga penting untuk dipahami. Menurut teori humanistik,
proses belajar harus dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu
sendiri. Oleh sebab itu, teori belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati
bidang kajian filsafat, teori kepribadian, dan psikoterapi, dari pada bidang kajian kajian
psikologi belajar. Teori humanistik sangat mementingkan si yang dipelajari dari pada proses
belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan
untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, serta tentang proses belajar dalam bentuknya
yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada penertian belajar dalam
bentuknya yang paling ideal dari pada pemahaman tentang proses belajar sebagaimana apa
adanya, seperti yang selama ini dikaji oleh teori-teori belajar lainnya.
Dalam pelaksanaannya, teori humanistik ini antara lain tampak juga dalam pendekatan
belajar yang dikemukakan oleh Ausubel. Pandangannya tentang belajar bermakna atau
“Meaningful learning” yang juga tergolong dalam aliran kognitif ini, mengatakan bahwa belajar
merupakanasmilasi bermakna. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Faktor motivasi dan pengalaman emosional sangat
penting dalam peristiwa belajar, sebab tanpa motivasi dan keinginan dari pihak si pelajar, maka
tidak akan terjadi asimilasi pengetahuan baru ke dalam strujtur konitif yang telah dimilikinya.
Teori humanstik berpendapat bahwa belajar apapu dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk
memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri
orang yang belajar secara optimal.
Pemahamanan terhadap belajar yang diidealkan menjadikan teori humanistik dapat
memanfaatkan teori belajar apapun asal tujuannya untuk memanusiakan manusia. Hal ini
menjadikan teori humanistik bersifat elektik. Tidak dapat disangkal lagi bahwa setiap pendirian
atau pendekatan belajar tertentu, akan ada kebaikan dan ada pula kelemahannya. Dalam arti ini
elektisisme bukanlah suatu sistem dengan membiarkan unsur-unsur tersebut dalam keadaan
sebagaimana adanya atau aslinya. Teori humanistik akan memanfaatkan teori-teori apapun, asal
tujuannya tercapai, yatu memanusiakan manusia.
6
Dari penalaran di atas ternyata bahwa perbedaan antara pandangan yang satu dengan
pandangan yang lain sering kali hanya timbul karena perbedaan sudut pandangan semata, atau
kadang-kadang hanya perbedaan aksentuasi. Jadi keterangan atau pandangan yang berbeda-beda
itu hanyalah keterangan mengenai hal yang satu dan sama dipandang dari sudut yang berlainan.
Dengan demikian teori humanistik dengan pandangannyadengan pandangannya elektik
yaitu dengan cara memanfaatkan atau merangkumkan berbagai teori belajar dengan tujuan untuk
memanusiakan manusia bukan saja mungkin untuk dilakukan, tetapi justru harus dilakukan.
Dalam teori Humanistik Guru bertindak sebagai Fasilitator, sehingga disini guru
mempunyai banyak tugas diantaranya :
1) memberi perhatian dan motivasi
2) membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam
kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum
3) Memahami karakteristik siswa
4) mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar
5) Dapat menyesuaikan dirinya bersama siswanya
6) Berbaur dengan siswanya, berkomunikasi dengan sangat baik bersama siswanya
7) Dapat memahami dirinya dan tentunya agar dapat memahami siswanya
8) Dalam penerapan teori belajar humanistik proses lebih diutamakan daripada hasil,
dimana proses dari penerapan teori belajar humanistik antara lain :
a) Merumuskan tujuan belajar yang jelas
b) Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang bersifat
jelas , jujur dan positif.
c) Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk belajar
atas inisiatif sendiri
d) Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses pembelajaran
secara mandiri.
4. Konstruktivisme
7
Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif,
yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan teori behavioristik
yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus dan
respon, sedangkan teori kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia
membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya
sesuai dengan pengalamannya. Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain,
karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan
pengetahuan merupakan proses kognitif dimana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk
mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema yang baru.
Teori konstruktivisme juga mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih
menekankan pada proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi
proses yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses
belajar, hasil belajar, cara belajar, dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata
pikir dan skema berpikir seseorang. Sebagai upaya memperoleh pemahaman atau pengetahuan,
siswa ”mengkonstruksi” atau membangun pemahamannya terhadap fenomena yang ditemui
dengan menggunakan pengalaman, struktur kognitif, dan keyakinan yang dimiliki.
Dengan demikian, belajar menurut teori konstruktivisme bukanlah sekadar menghafal,
akan tetapi proses mengkonstruksi pengetahuan melalui pengalaman. Pengetahuan bukanlah
hasil ”pemberian” dari orang lain seperti guru, akan tetapi hasil dari proses mengkonstruksi yang
dilakukan setiap individu. Pengetahuan hasil dari ”pemberian” tidak akan bermakna. Adapun
pengetahuan yang diperoleh melalui proses mengkonstruksi pengetahuan itu oleh setiap individu
akan memberikan makna mendalam atau lebih dikuasai dan lebih lama tersimpan/diingat dalam
setiap individu.
Adapun tujuan dari teori ini adalah sebagai berikut:
1. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri
pertanyaannya.
3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara
lengkap.
4. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
5. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar
konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori
perkembangan intelektual atau teori perkembangan kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan
dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari
lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan
ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor
anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159)
menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi
adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi
tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988:133). Pengertian tentang akomodasi yang lain
adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan
baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu (Suparno,
1996: 7).
8
Konstruktivisme ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam
mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Konstruktivisme ini oleh
Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993;
Atwel, Bleicher & Cooper, 1998).
Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997), yaitu Zone of Proximal
Development (ZPD) dan Scaffolding.
A) Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan
sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara
mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan
pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama
dengan teman sejawat yang lebih mampu.
B) Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahaptahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan
kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia
dapat melakukannya (Slavin, 1997). Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan
kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat
berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkahlangkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang
memungkinkan siswa itu belajar mandiri.
Pendekatan yang mengacu pada konstruktivisme sosial (filsafat konstruktivis sosial)
disebut pendekatan konstruktivis sosial. Filsafat konstruktivis sosial memandang kebenaran
matematika tidak bersifat absolut dan mengidentifikasi matematika sebagai hasil dari
pemecahan masalah dan pengajuan masalah (problem posing) oleh manusia (Ernest, 1991).
Dalam pembelajaran matematika, Cobb, Yackel dan Wood (1992) menyebutnya dengan
konstruktivisme sosio (socio-constructivism), siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa
lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi
untuk merespon masalah yang diberikan.
Adapun ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah:
1. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam
dunia sebenarnya.
2. Menggalakkan soalan/idea yang dimulakan oleh murid dan menggunakannya sebagai
panduan merancang pengajaran.
3. Menyokong pembelajaran secara koperatif mengambil kira sikap dan pembawaan murid.
4. Mengambil kira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide.
5. Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid.
6. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru.
7. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil
pembelajaran.
8. Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.
9
DAFTAR PUSTAKA
http://ririnayurizki.blogspot.co.id/2013/09/teori-belajar-menurut-aliran.html
http://www.kompasiana.com/akmala-04/teori-belajarkognitivisme_5508eef0a333112a452e39d1
http://www.kompasiana.com/elfa.dianymufida/teori-belajar-behaviorisme-ivanpavlov_54f7603ba3331116368b46c1
http://www.asikbelajar.com/2013/09/Pengertian-Belajar-Menurut-Humanistik.html
http://whendikz.blogspot.co.id/2013/11/resume-teori-belajar-humanistik.html
http://wiare.blogspot.co.id/2013/02/teori-belajar-konstruktivisme.html
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/handout%20%20FILSAFAT,%20TEORI%20PEND%20&%20TEORI%20BELAJAR.pdf
10
Download