BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Bisnis Menurut El Sawy (2001

advertisement
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1
Proses Bisnis
Menurut El Sawy (2001, p16), proses bisnis adalah kegiatan kerja yang
terkoordinasi, secara logika berurutan dan sumber daya yang terkait
yang
menghasilkan suatu nilai bagi pelanggan.
Sebuah proses bisnis biasanya mempunyai beberapa properti :
• Customer-facing
Proses bisnis harus bisa menciptakan nilai untuk seseorang, organisasi, dan
proses yang digambarkan sebagai pelanggan dalam proses tersebut. Nilai
keluaran dari proses tersebut dapat digunakan baik oleh pelanggan eksternal
maupun internal. Pelanggan ekternal adalah orang atau entitas diluar dari
organisasi yang membeli produk atau menggunakan jasa dari organisasi.
Pelanggan internal adalah pegawai dari dalam organisasi yang dapat
meningkatkan nilai tambah produk atau jasa bagi pelanggan.
• Cross-functional, cross-departemental, cross-enterprise
Proses bisnis biasanya terjadi diantara beberapa departemen. Proses bisnis juga
tidak dibatasi oleh satu bagian dari organisasi tetapi terjadi diantara beberapa
bagian tersebut.
• Hand-offs
Lepas tangan terjadi ketika sebuah tugas yang sudah selesai diserahkan ke orang
lain untuk melanjutkan tugas selanjutnya yang berurutan. Lepas tangan
9
merupakan element penting dari proses bisnis dan merupakan penyebab dari
kesalahan dan penundaan suatu proses.
• Information flow around the process
Arus informasi dibutuhkan untuk menghasilkan dan memantau proses yang
terjadi.
• Knowledge created around the process
Properti ini melibatkan pengetahuan mengenai proses yang sedang dieksekusi
oleh pihak yamg terlibat.
• Multiple versions rather than one-size-fits all
Proses bisnis mempunyai beberapa versi(disebut juga kasus), salah satu versi
tersebut dijalankan berdasarkan kondisi tertentu. Lebih jauh lagi, setiap versi
tersebut dijalankan beberapa kali.
• Value-adding mix of process
Proses bisnis dibentuk dari nilai tambah, yang bukan nilai tambah, dan yang
tidak bernilai.
• Degree of structure of a process
Proses bisnis mempunyai tingkatan struktur, terdapat struktur yang complex dan
yang sederhana (El Sawy, 2001, p17).
10
2.2
Internet
Internet adalah suatu jaringan komputer global (luas) yang terbentuk dari
jaringan-jaringan komputer lokal dan regional, yang menggunakan jaringan
komunikasi yang ada diseluruh dunia memungkinkan komunikasi data antar
Protocol TCP/IP menjadi standar protokol yang digunakan pada jaringan
Internet, karena TCP/IP dikembangkan untuk dapat diterapkan dihampir segala jenis
platform komputer, biasa dikenal dengan konsep open system.
TCP/IP merupakan cara standar untuk mempaketkan dan mengalamatkan data
komputer (sinyal elektronik) sehingga data tersebut bisa dikirim ke komputer terdekat
atau keliling dunia dan tiba dalam waktu yang cepat tanpa rusak atau hilang
(Anonim1, 2009).
2.2.1
Hyper Text Mark-Up Language (HTML)
HyperText Markup Language (HTML) adalah sebuah bahasa markup
yang digunakan untuk membuat sebuah halaman web dan menampilkan berbagai
informasi di dalam sebuah browser Internet. Bermula dari sebuah bahasa yang
sebelumnya banyak digunakan di dunia penerbitan dan percetakan yang disebut
dengan SGML (Standard Generalized Markup Language), HTML adalah sebuah
standar yang digunakan secara luas untuk menampilkan halaman web.
2.2.2
Personal Home Page (PHP)
PHP (akronim dari PHP Hypertext Preprocessor) yang merupakan bahasa
pemrogramman berbasis web yang memiliki kemampuan untuk memproses data
dinamis (Anonim3, 2009).
11
2.3
e-Business
Menurut O’Brien (2005,p314), e-business adalah penggunaan Internet
dan jaringan serta teknologi informasi lainnya untuk mendukung e-commerce,
komunikasi dan kerjasama perusahaan dan berbagai proses yang dijalankan melalui
Web, baik dalam jaringan perusahaan maupun dalam para pelanggan serta mitra
bisnisnya. E-Business meliputi e-commerce yang melibatkan pembelian dan
penjualan, serta pemasaran dan pelayanan produk, jasa dan informasi melalui
internet dan jaringan lainnya.
Manajemen Rantai Pasokan Pemcarian
Sumber - Proses Mendapatkan
Enterprise Resource Planning (ERP) Proses Bisnis Internal
Manajemen Hubungan Pelanggan
Pemasaran - Penjualan - Layanan
Pelanggan
Gambar 2.1 Arsitektur Aplikasi Perusahaan
(Sumber O’Brien, 2005, p319).
Manajemen Hubungan Kemitraan
Menjual - Distribusi
Karya
wan
Manajemen Pengetahuan Kerja
Sama - Pendukung Keputusan
Pemasok
Mitra
12
2.4
Business Process Redesign
Menurut Hammer dan Champy (1995, p27), definisi dari rekayasa ulang
adalah pemikiran ulang secara fundamental dan perancangan ulang secara radikal
atas proses-proses bisnis untuk mendapatkan perbaikan dramatis dalam hal ukuranukuran kinerja yang penting dan kontemporer, seperti biaya, kualitas, pelayanan
dan kecepatan.
Dalam definisi ini memuat empat kata kunci, yaitu :
•
Fundamental
Dalam melaksanakan rekayasa ulang, masyarakat bisnis harus menanyakan
pertanyaan yang paling dasar tentang perusahaan mereka dan bagaimana cara
kerja perusahaan tersebut.
•
Radikal
Radikal artinya adalah akar dalam rekayasa ulang, perancangan ulang
(redesign) secara radikal berarti mengesampingkan semua struktur dan prosedur
yang ada dan menciptakan cara yang baru dalam menyelesaikan pekerjaan.
Rekayasa
•
Dramatis
Rekayasa ulang bukanlah tentang upaya mencapai peningkatan secara marginal
tetapi tentang pencapaian suatu lompatan besar (Quantum Leaps) dalam hal
kinerja perusahaan.
•
Proses
Berhubungan dengan input dan output dari suatu aktivitas yang bernilai bagi
pelanggan.
13
2.4.1
Pengimplementasian Business Process Redesign dalam e-Business
El Sawy (2001, pp55-56) menjelaskan dalam e-Business, persaingan antar
perusahaan didasarkan pada 3 strategi kemampuan berikut ini :
1. Kemampuan untuk mengkonfigurasikan ulang proses bisnis secara tepat
Perusahaan perlu memikirkan bagaimana efek perubahan akan mempengaruhi
interaksi dengan mitra dan pelanggan sehingga bisa dengan cepat melakukan
konfigurasi ulang pada proses bisnis secara tepat.
2. Kemampuan untuk mengeksekusi proses bisnis secara tepat
Proses bisnis harus lebih fleksibel dengan pengembangan produk baru,
manajemen pemesanan atau layanan konsumen.
3. Kemampuan untuk memahami lebih cepat
Memahami dengan cepat maksudnya adalah memahami perubahan keinginan
konsumen dan kondisi pasar yang kompetitif, menyesuaikan keadaan tersebut
dengan cepat dan memahami bagaimana bekerjasama dengan mitra bisnis agar
lebih baik.
14
2.4.2
Lima Fase Pelaksanaan Business Process Redesign
Menurut El Sawy (2001, pp12-13), aktivitas perancangan ulang (redesign)
dapat dilakukan dalam lima fase, yaitu :
Fase 1 : Pemicu dilaksanakannya perancangan ulang (redesign)
Proyek business process redesign dimulai dari beberapa pemicu yang mungkin
timbul, seperti permasalahan kinerja perusahaan atau strategi perusahaan menuju
bentuk e-Business. Ide perancangan ulang juga bisa datang dari eksekutif puncak
yang mempunyai visi baru dalam mengarahkan perusahaan untuk menciptakan atau
menambahkan nilai (value) perusahaan.
Fase 2 : Mobilisasi proyek Business Process Redesign
Pergerakan proyek Business Process Redesign dilakukuan dengan memilih seorang
pemimpin proyek dan membentuk tim utama untuk melakukan perancangan ulang
(redesign) tersebut. Proses yang perlu dirancang ulang ditentukan terlebih dahulu.
Fase 3 : Percancangan ulang proses
Dalam tahap ini perancangan ulang (redesign) proses bisnis dilakukan dan
dibandingkan hasilnya dengan proses lama untuk melihat bagaimana hasil
perancangan tersebut dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.
Fase 4 : Implementasi dan transformasi organisasi
Implementasi dan transformasi organisasi adalah tahap tersulit yang dilaksanakan
dalam fase pelaksanaan Business Process Redesign. Tahap ini meliputi
perancangan sistem informasi dan modifikasi pada infrastruktur TI serta cara
memperkenalkan dan mengadaptasikan proses baru kedalam perusahaan.
15
Fase 5 : Pengawasan dan pemeliharaan
Kegiatan perancangan ulang adalah usaha yang bersifat jangka panjang, karena itu
perlu diawasi agar proses-proses tersebut bisa dijaga dan dimodifikasi pada
kondisi-kondisi yang mengharuskan.
Fase 1 : Pemicu Perancangan Ulang
(Redesign)
Fase 2 : Mobilisasi Proyek
Fase 3 : Perancangan Ulang Proses
Fase 4 : Implementasi dan
Transformasi Organisasi
Fase 5 : Pengawasan dan Pemeliharaan
Gambar 2.2 Lima Fase Pelaksanaan Business Process Redesign
(Sumber : El Sawy, 2001, p13).
16
2.4.3
Aktivitas dari Business Process Redesign
Tabel 2.1 Fase Kunci dan Aktivitas-Aktivitas dalam Business Process Redesign
(Sumber : El Sawy, 2001, p16)
Phase 1
Phase 2
Phase 3
Pembatasan ruang
lingkup proses
Pemodelan, analisis dan
perancangan ulang
Perencanaan proses dan
integrasi
Proses
•
Target proses
operasionalisasi
• Melanjutkan
pengumpulan data
•
Mendefinisikan batasan
proses
• Proses dasar pemodelan
“As-Is”
•
Mengidentifikasi
masalah kunci dalam
proses
• Analisis dan diagnosa
proses “As-Is”
•
Mendefinisikan
pandangan awal
•
Membuat garis besar
• Analisis alternatif proses
perencanaan
“To-Be” dan memilih
pengumpulan data dan
alternative terbaik
pengumpulan data dasar
• Merencanakan fase
Perencanaan untuk fase
proses intergrasi
perencanaan
•
• Desain dan model
alternatif proses “ToBe”.
• Memberikan model arus
kerja atau kebutuhan
untuk Sistem Informasi
• Menyesuaikan
rancangan proses
• Merencanakan
implementasi proses
Output
•
Laporan proses
pembatasan ruang
linkup
• Software-Based
pemodelan proses
• Perencanaan integrasi
proses
• Laporan proses
perancangan ulang
Pihak yang terlibat
•
Pemilik dan partner
proses
•
Pelanggan dari proses
•
Tim BPR
•
Partisipan proses
•
Tim BPR
• Tim perancang Sistem
Informasi
17
2.4.3.1
Target Perancangan Ulang
Menurut El Sawy (2001. pp82-83), Target perancangan ulang perlu
dibuat untuk mengetahui tujuan dan sasaran dari proses perancangan ulang.
Target perancangan ulang sangat penting karena :
1. Tujuan dan bagian-bagian yang tidak dimengerti dapat diperjelas sebelum
dilakukan perancangan ulang suatu proses.
2. Secara jelas dapat diidentifikasi ukuran keberhasilan yang diperoleh dari
hasil suatu perancangan ulang.
3. Menekankan perancangan ulang pada ukuran keberhasilan yang telah
ditetapkan.
4. Memberikan
mekanisme
penanggulangan
apabila
proyek
BPR
menyimpang dari target yang telah ditentukan.
2.4.3.2
Pembatasan Ruang Lingkup Proses
Menurut El Sawy (2001, p86), Dalam merancang ulang suatu proses
bisnis, mendefinisikan batasan proses sangat penting karena :
1. Memberikan gambaran secara menyeluruh dari ruang lingkup proses
mengenai apa yang harus dilakukan dalam proses.
2. Mengatasi meluasnya permasalahan yang akan diangkat.
3. Mendukung proses perancangan ulang dalam pengumpulan data.
18
Process Redesign Targets “To‐be” process Baseline “as‐is” process Process Name : Process redesign goals
Priority
1. 2. 3. Process performance targets
Cycle time targets Cost tagets Quality targets Knowledge creation targets Measures •
•
•
•
•
•
•
•
Binding management decisions
Gambar 2.3 Target Perancangan Ulang (Sumber : El Sawy, 2001, p84)
Gambar 2.4 Mendefinisikan Ruang Lingkup Proses (Sumber : El Sawy, 2001, p87)
19
2.4.4
Pentingnya Business Process Redesign Dalam Suatu Perusahaan
Perkembangan situasi lingkungan membuat suatu perusahaan harus
mempunyai inovasi, inisiatif untuk memperoleh keuntungan kompetitif serta
proses perusahaan yang berjalan dengan efektif dan efisien. Oleh karena itu
perancangan ulang suatu proses bisnis diperlukan agar perusahaan harus bisa
mengikuti setiap perubahan yang ada.
Perancangan ulang (redesign) proses bisnis bukan hanya kegiatan menata
ulang proses bisnis perusahaan tetapi lebih dari itu, perancangan ulang (redesign)
melibatkan penataan ulang arus informasi yang terjadi di seputar proses bisnis
akibat perancangan ulang (redesign) yang dilakukan.
20
2.5
Object Oriented Analysis and Design (OOAD)
Analisis dan perancangan berorientasi objek (OOAD) adalah pendekatan
dengan menggunakan konsep objek. Whitten (2004, p179) menyatakan bahwa
konsep yang digunakan dalam orientasi objek adalah pembungkusan semua data
yang mendeskripsikan orang, tempat, kejadian dalam suatu wadah, yaitu objek
itu sendiri. Beberapa tipe diagram berbeda yang secara kolektif memodelkan
sebuah sistem informasi atau aplikasi dalam artian objek didefinisikan dengan
Unified Modeling Language (UML).
Mathiassen (2000, p4) menjelaskan bahwa dalam OOAD, blok-blok
pembangun yang paling dasar adalah objek. Selama analisis, objek digunakan
untuk mengorganisasikan pengertian terhadap konteks sistem (system context).
Sedangkan selama perancangan, objek digunakan untuk mengerti dan
mendeskripsikan sistem itu sendiri.
Mathiassen (2000, p4) menjabarkan definisi objek sebagai sebuah entitas
dengan identitas, status, dan perilaku. Dalam analisis, objek adalah abstraksi
sebuah fenomena dalam konteks sistem, misalnya pelanggan. Dalam
perancangan,
objek
adalah
bagian
dari
sistem.
Biasanya
objek-objek
dideskripsikan dalam kelas-kelas. Atau dalam kata lain, kelas adalah kumpulan
objek yang memiliki ciri-ciri yang sama.
Mathiassen (2000, p6) mengatakan bahwa kesuksesan pengembangan
sistem sangat bergantung pada pengertian aplikasi praktikal sistem. Gambar
berikut menunjukan bahwa konteks sistem dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu
pemodelan sistem (problem domain), dan sistem tersebut dioperasikan oleh
21
pengguna (application domain). Jadi, sebuah konteks pada intinya adalah sebuah
ruang lingkup dari sistem.
Gambar 2.5 Sistem Konteks
(Sumber : Mathiassen, 2000, p7).
Problem domain adalah bagian konteks yang diadministrasikan, diawasi,
atau dikontrol oleh sistem. Sedangkan application domain adalah organisasi
yang mengadministrasikan, mengawasi, atau mengontrol problem domain.
Selanjutnya, Mathiassen (2000,p14) menjabarkan bahwa OOAD
memiliki empat aktivitas utama. Keempat aktivitas tersebut adalah analisis
problem domain, analisis application domain, perancangan komponen, dan
perancangan arsitektur. Berikut gambar tentang aktivitas OOAD tersebut.
Sebelum memulai analisis dan perancangan sistem informasi, harus
dilakukan dulu pemilihan sistem (system choice). Subaktivitas dalam pemilihan
sistem adalah berfokus pada situasi yang ada, membuat dan mengevaluasi ide
22
untuk perancangan sistem, dan yang terakhir, definisi sistem diformulasikan dan
dipilih.
Application
Domain Analysis
Problem Domain
Analysis
Requirements
for use
Model
Component Design
Specification of
components
specification
of
architecture
Architectural design
Gambar 2.6 Aktivitas-aktivitas OOAD
(Sumber : Mathiassen, 2000, p15)
Dalam pendeskripsian situasi, pengertian akan situasi pengguna harus
kaya dan banyak. Kita dapat mengerti sudut pandang pengguna tentang situasi
dengan menggunakan rich picture. Rich picture adalah penggambaran informal
yang merepresentasikan pengertian tentang situasi.
Dengan menggunakan deskripsi situasi dan ide, maka definisi sistem
dapat dibuat. Definisi sistem adalah deskripsi singkat dari sebuah sistem
23
terkomputerisasi yang diekspresikan dalam bahasa alami. Definisi sistem yang
dibuat tersebut harus memenuhi kriteria FACTOR. Adapun kriteria-kriteria
FACTOR adalah sebagai berikut :
•
Functionality : Fungsi sistem yang mendukung tugas application domain.
•
Application
domain
:
Bagian
organisasi
yang
mengadministrasi,
mengawasi, atau mengontrol problem domain.
•
Condition : Kondisi dimana sistem akan dikembangkan dan dijalankan.
•
Technology : Teknologi yang digunakan dalam mengembangkan sistem dan
teknologi yang akan dijalankan sistem.
•
Object : Objek-objek yang utama dalam problem domain.
•
Responsibility : Tanggung jawab sistem dalam hubungan dengan
konteksnya.
2.5.1
Analisis Problem Domain
Mathiassen (2000, p45) menjelaskan bahwa analisis problem domain
berfokus pada pertanyaan informasi apakah yang seharusnya dihadapi sistem.
Jawaban pertanyaan ini penting selama aktivitas analisis, hal ini disebabkan model
problem domain menyediakan bahasa untuk mengekspresikan kebutuhan sistem
kemudian, pada perancangan model ini diubah menjadi komponen yang
merepresentasikan status problem domain jadi, model adalah sebuah deskripsi
kelas, objek, struktur, dan perilaku problem domain.
24
Analisis problem-domain memiliki tiga aktivitas utama, yaitu kelas
(class), struktur (structure), dan perilaku (behavior). Analisis dilakukan dengan
menggunakan sistem defiasi yang telah dibuat, dan hasilnya adalah sebuah model
problem domain.
2.5.1.1
Kelas
Kelas adalah sebuah deskripsi koleksi objek yang saling berbagi struktur,
pola perilaku, dan atribut. Untuk memodelkan problem domain, aktivitas dimulai
dengan aktivitas kelas dan pertanyaan penting tentang objek dan kejadian (event)
apa yang harus dimasukkan dan yang tidak dimasukkan ke dalam model
(Mathiassen, 2000, p53).
Tabel 2.2 Contoh Tabel Kejadian
Pelanggan
Asisten
Perjanjian
Memesan
v
v
v
Membatalkan
v
v
v
Dipekerjakan
2.5.1.2
v
Struktur
Aktivitas struktur dalam analisis problem domain berfokus pada
hubungan antara kelas-kelas dan objek-objek. Jika pada aktivitas kelas telah
dipilih kelas-kelas untuk model problem domain dan kelas-kelas tersebut telah
dikarakteristikan dengan kejadian-kejadian, maka pada aktivitas struktur
25
deskripsi tersebut dikembangkan dengan menambahkan hubungan structural
antara kelas-kelas dan objek-objek
Pada struktur antara kelas terdapat dua struktur, yaitu stuktur generalisasi
dan struktur cluster. Generalisasi adalah sebuah kelas umum (superkelas) yang
mendeskripsikan property yang umum dari kelas-kelas spesialisasi (subkelas).
Contohnya superkelas kendaraan penumpang memiliki subkelas taksi dan mobil
pribadi baik taksi maupun mobil pribadi adalah kendaraan penumpang yang
memiliki rangka, mesin, dan lainnya. Cluster adalah koleksi atau kumpulan kelas
yang saling berhubungan. Contohnya generalisasi dan cluster adalah sebagai
berikut.
<<Cluster>>
Cars
<<Cluster>>
People
Owner
Car
Clerk
Engine
Passenger Car
Cylinder
Taxi
Gambar 2.7 Hubungan Cluster dan Generalisasi
(Sumber : Mathiassen, 2000, p75) Struktur antara objek terdiri atas struktur agregasi dan struktur asosiasi.
Agregasi adalah objek-objek superior yang memiliki beberapa objek inferior.
Sedangkan Asosiasi adalah hubungan yang berarti antara objek. Hubungan
26
antara mobil dengan mesin adalah hubungan agregasi sedangkan hubungan
antara mobil dengan pemilik adalah hubungan asosiasi. Berikut contohnya.
Car
1
1
1
1
1
Body
4..*
Engine
Wheel
1
1
1..*
2..*
Cam Shaft
Cylinder
Gambar 2.8 Hubungan Agregasi
(Sumber : Mathiassen, 2000, p76) 2.5.1.3
Perilaku (Behavioral Pattern)
Pada aktivitas perilaku, definisi kelas dalam kelas diagram dikembangkan
lagi dengan menambahkan deskripsi pola perilaku (behavioral pattern) adalah
sebuah deskripsi jejak kejadian (event trace) yang mungkin untuk semua objek di
dalam sebuah kelas. Hasilnya diekspresikan dalam diagram statechart seperti
berikut.
Pelanggan
-Nama
-Alamat
/ membuka_rekening
/ menutup rekening
Terbuka
Gambar 2.9 Diagram Statechart
27
2.5.2
Analisis application domain
Analisis application domain berfokus pada bagaimana sistem akan
digunakan. Application domain adalah organisasi yang mengadministrasi,
mengawasi, dan mengontrol problem domain. Adapun aktivitas-aktivitas dalam
application domain adalah penggunaan (usage), fungsi, dan antarmuka (interface).
Analisis application domain menghasilkan gambaran kebutuhan untuk digunakan.
2.5.2.1
Penggunaan (Usage)
Menganalisis application domain dapat menghasilkan informasi rinci
sangat banyak yang bernilai sedikit pada proses pengembangan. Untuk efisiensi,
hanya difokuskan pada interaksi antara pengguna dengan sistem. Dalam hal ini
digunakan use case. Use case adalah pola interaksi antara sistem dan aktor pada
application domain. Aktor adalah sebuah abstraksi pengguna atau sistem lain
yang berinteraksi dengan sistem.
Hasil dari aktivitas usage adalah use case dan aktor. Sebuah kumpulan
use case yang lengkap adalah semua penggunaan dari sistem. Notasi yang
digunakan adalah sebagai berikut.
Kelompok Use
Case
Use Case
Aktor
Gambar 2.10 Notasi use case
28
Selanjutnya, Whitten (2004, p663) menyatakan bahwa diagram Sequence
adalah diagram UML yang memodelkan logika sebuah use case dengan cara
menggambarkan interaksi pesan diantara objek-objek dalam rangkaian waktu.
Diagram Sequence menggambarkan dengan sangat detail bagaimana sebuah
objek berinteraksi satu sama lain sepanjang waktu.
2.5.2.2
Fungsi (Function)
Fungsi berfokus pada apa yang dapat dilakukan sistem untuk membantu
aktor dalam pekerjaannya. Jadi, fungsi adalah fasilitas untuk membuat model
menjadi berguna untuk aktor, Mathiassen (2000, p138) menjabarkan empat
fungsi yaitu update, signal, read, dan compute.
2.5.2.3
Antarmuka (Interface)
Interface menghubungkan sistem dengan semua aktor yang relevan
dengan sistem. Interface adalah fasilitas yang membuat model sistem dan fungsi
tersedia untuk aktor. Dengan menggunakan diagram kelas, use case, dan daftar
fungsi, analisis antarmuka dilakukan. Hasilya adalah deskripsi antarmuka
(window diagram).
2.6
29
Database
Menurut Whitten (2004, p518), Semua sistem informasi membuat, membaca,
memperbaharui (kadang kadang disingkat CRUD) data. Data disimpan didalam file dan
database. File adalah sebuah kumpulan record yang serupa. Database adalah kumpulan
file yang saling terkait. Kata kuncinya adalah “saling terkait”. Database tidak hanya
merupakan kumpulan file. Record pada setiap file harus memperbolehkan hubunganhubungan untuk mnyimpan file-file lain.
2.6.1
2.6.1.1
Konsep Database untuk Analisa Sistem
Field
Field menjadi umum pada file dan database. Field adalah implementasi
fisik pada sebuah atribut data. Field adalah unit terkecil dari database meaningful
yang telah disimpan pada sebuah file atau database. Ada empat tipe field yang
dapat disimpan : primary key, secondary key, foreign key, dan descriptive field.
1.
Primary Key
Primary key adalah sebuah field yang nilai-nilainya mengidentifikasikan
satu dan hanya satu record pada sebuah file. Selain itu, sebuah primary key
dapat dibuat dengan mengkombinasikan dua atau lebih field (disebut
concatenated key).
2.
Secondary Key
Secondary key adalah sebuah pengidentifikasi alternative pada sebuah
database. Nilai secondary key mungkin mengidentifikasi sebuah record tunggal
atau sebuah subset dari semua record . Sebuah file tunggal pada sebuah database
30
dapat memiliki hanya satu primary key, tetapi juga dapat memiliki beberapa
secondary key. Untuk memfasilitasi pencarian (searching) dan pengurutan
(sorting), maka dibuatlah sebuah index untuk kunci-kunci tersebut.
3.
Foreign Key
Foreign key merupakan pointer ke record-record dari sebuah file lain
pada sebuah database. Foreign key memampukan database terhubung ke recordrecord dari satu tipe ke record-record dari tipe lainnya.
4.
Descriptive Field
Descriptive field adalah semua field lainnya (non key) yang menyimpan
data bisnis.
2.6.1.2
Record
Fields diorganisasikan ke dalam record-record. Record-record menjadi
umum pada file dan database. Record adalah sebuah kumpulan field yang
disusun pada format yang telah ditentukan. Sebagian besar teknologi database
memaksakan struktur record fixed length, artinya setiap instance record
mempunyai field yang sama, jumlah field yang sama, dan ukuran logika yang
sama. Akan tetapi, beberapa sistem database akan mengkompresi field-field dan
nilai-nilai yang tidak berguna untuk menghemat ruang penyimpanan disk.
Struktur record variable length memperbolehkan record-record pada
file yang sama memiliki length yang berbeda. Blocking Factor adalah jumlah
logical record yang tercakup dalam satu operasi read atau write tunggal (dari
31
perspektif komputer). Seorang administrator database yang memiliki kualifikasi
dibolehkan untuk melakukan fine tuned pada blocking factor tersebut untuk
tujuan performa.
2.6.1.3
File dan Tabel
Record-record yang sama diorganisasi menjadi kelompok-kelompok yang
disebut file. Pada sistem database, sebuah file sering disebut table. File adalah
kumpulan dari semua kejadian dari sebuah struktur record yang ditentukan.
Tabel adalah ekuivalen database relational dari sebuah file. Beberapa tipe file
dan tabel konvensional antara lain :
•
Master Files
Master file atau tabel berisi record-record yang secara relatif bersifat
tetap (permanen). Jadi, sekali sebuah record ditambahkan pada sebuah file
master, maka record itu tinggal didalam sebuah sistem secara tak terbatas. Nilainilai field pada sebuah record akan berubah sepanjang waktu, tetapi record
tunggal tidak berubah sampai tak terbatas.
•
Transaction Files
Transaction file berisi record-record yang mendeskripsikan event
(kejadian) bisnis. Data yang mendeskripsikan kejadian-kejadian itu umumnya
memiliki umur hidup tak terbatas. Pada sistem informasi record-record transaksi
sering ditahan online pada beberapa periode waktu. Setelah habis umur hidupnya
file tersebut akan diarsip secara offline.
32
•
Document Files
Document file berisi salinan tersimpan dari data historis untuk
memudahkan pemanggilan dan review ulang tanpa mengeluarkan biaya
tambahan untuk menghasilkan dokumen.
•
Archival Files
Archival file berisi record-record file master dan transaksi yang telah
dihapus dari penyimpanan online. Jadi, record-record jarang dihapus, hanya
dipindah dari penyimpanan online ke penyimpanan offline.
•
Tabel Look-Up Files
Tabel Look-Up file terdiri dari data yang relatif statis yang dapat dipakai
bersama oleh berbagai aplikasi untuk memelihara konsistensi dan peningkatan
performa.
•
Audit Files
Audit file adalah record-record pembaruan khusus untuk file-file yang
lain, khususnya file master dan transaksi.Record ini digunakan dalam kaitannya
dengan file-file archival untuk mengembalikan data yang “hilang”.
33
2.6.1.4
Database
Whitten (2004, p522) menjelaskan database dapat dianggap sebagai satu
set file yang saling berelasi. Artinya record-record pada satu file dapat
diasosiasikan atau dihubungkan dengan record-record pada sebuah file yang
berbeda.
•
Arsitektur Data
Menurut Whitten (2004, p522) arsitektur data bisnis mendefinisikan
bagaimana bisnis itu dapat berkembang dan menggunakan baik file maupun
database untuk menyimpan semua data organisasi, teknologi file dan database
untuk digunakan, dan setup struktur administratif untuk mengelola sumber data.
Operational Database (Database Transactional) dikembangkan untuk
mendukung operasi day-to-day dan pemrosesan transaksi bisnis pada sistem
informasi utama. Akses ke database ini dibatasi untuk program komputer yang
menggunakan DBMS untuk memproses transaksi, memelihara data, dan
membuat laporan-laporan manajemen yang terjadwal secara reguler.
Data warehouse menyimpan data yang diekstrak dari database oprasional.
Alat-alat query dan alat pendukung keputusan yang kemudian digunakan untuk
menghasilkan laporan dan analisis terhadap data warehouse tersebut. Data
warehorse disebut juga data mining.
Untuk mengelola sumber data skala perusahaan perusahaan, seorang staf
spesialis database dapat diberi tugas untuk administrator berikut : Data
34
Administrator bertanggung jawab untuk perancanaan data, definisi, arsitektur,
dan manajemen. Satu atau lebih database administrators (DBA) bertanggung
jawab terhadap teknologi database, desain database, dan konsultasi konstruksi,
keamanan, backup, dan dalam bisnis yang lebih kecil, peran ini dapat
dikombinasikan atau ditetapkan kepada satu atau lebih analisis sistem.
•
Arsitektur Database
Whitten (2004, p524) menjelaskan Database Architecture mengacu pada
teknologi database yang mencakup database engine, database utility, alat CASE
database untuk analisis dan desain, dan alat-alat pengembangan aplikasi
database. Pusat kontrol sebuah arsitektur database adalah sistem manajemen
database itu sendiri.
Database Management System (DBMS) adalah perangkat lunak komputer
khusus yang disediakan dari vendor komputer yang digunakan untuk membuat,
mengakses, mengontrol dan mengelola database. Dari DBMS sering disebut
database engine. Mesin ini merespon perintah khusus untuk membuat struktur
database kemudian membuat, membaca, memperbarui dan menghapus record
pada sebuat database. Sistem manajemen database dibeli dari sebuah vendor
teknologi database seperti Oracle, IBM, Microsoft atau SyBase.
Data Definition Language (DDL) digunakan oleh DBMS untuk
menetapkan secara fisik tipe, record, field dan hubungan struktural. Selain itu,
DDL menentukan view database. View tersebut membatasi bagian dari sebuah
35
database yang dapat digunakan atau diakses oleh para pengguna dan program
yang berbeda.
Programer Aplikasi
Analis Sistem dan
Desainer Database
Alat CASE
Pengguna Akhir
Alat Pengembangan
Aplikasi
PC-DBMS dan
Alat Query
Monitor
Transaction
Processing (TP)
DBMS
Data Definition
Language(DDL)
Property
Language and
Tools
Data
Manipulation
Language(DML)
DATABASE ENGINE
METADATA
USER DATA
Gambar 2.11 Arsitektur Sistem Manajemen Database
(Sumber : Whitten , 2004, p524)
36
Data Maniulation Language (DML) digunakan untuk membuat,
membaca, memperbarui dan menghapus record pada sebuah database dan untuk
menjelajahi diantara record dan tipe record yang berbeda.
Customer
menempatkan
Order
menjual
Ordered Product
terjual
Product
Gambar 2.12 Model Data Logika (sederhana) (Sumber : Whitten , 2004, p525).
•
Sistem Manajemen Database Relasional
Whitten (2004, p525) menjabarkan ada beberapa tipe sistem manajemen
database. Saat ini, sebagian besar sistem manajemen database yang berhasil
didasarkan
pada
teknologi
relasional.
Relational
Databases
mengimplementasikan data pada satu seri tabel dua dimensi yang “dihubungkan”
satu dengan yang lain melalui Foreign key. Setiap tabel (kadang-kadang disebut
relation) terdiri dari kolom bernama column dan sejumlah baris yang tidak
dinamakan.
Triggers adalah program yang di lekatkan pada sebuah tabel yang
diminta secara otomatis melalui pembaruan tabel lain. Stored Procedures adalah
program yang dilekatkan pada sebuah tabel yang dapat di panggil dari program
aplikasi.
37
2.7
Analisi SWOT
Menurut Kotler (1997, pp81-82), Lingkungan yang akan diamati dalam
mencapai tujuan suatu organisasi sehingga bisa memperoleh keuntungan kompetitif
mencakup lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan) dan lingkungan eksternal
(peluang dan ancaman).
1.
Kekuatan (Strength)
Setiap perusahaan harus mengetahui kekuatan yang dimiliki dan dapat
membandingkan kekuatan tersebut dengan kekuatan para pesaing dan selalu
menilai secara berkala.
2.
Kelemahan (Weakness)
Kelemahan atau masalah yang dihadapi oleh perusahaan kadang bisa membuat
gagalnya suatu rencana bisnis dan bukan karena masing-masing bagian tidak
memiliki kekuatan yang dibutuhkan, melainkan bagian-bagian tersebut tidak
bekerjasama sebagai satu tim.
3.
Peluang (Opportunity)
Kesempatan yang dimiliki oleh perusahaan yang dapat membuat keuntungan
kompetitif bagi perusahaan itu sendiri.
4.
Ancaman (Threats)
Sebagian perkembangan dalam lingkungan eksternal merupakan ancaman.
Ancaman lingkungan adalah tantangan akibat kecenderungan yang tidak
menguntungkan atau perkembangan yang akan mengurangi keuntungan
kompetitif dan laba bila tidak dilakukan gerakan pertahanan.
38
Tabel 2.3 Matriks SWOT (Sumber : Rangkuti, 2002, p31)
Strengths (S)
Kekuatan
yang
perusahaan saat ini
Bagaimana
perusahaan
dengan kelemahan dengan
kelemahan yang ada dapat
mencapai kesempatan
Bagaimana
perusahaaan
dengan kekuatan yang ada
merugikan mampu menghadapi ancaman
yang ada
Bagaimana
perusahaan
dengan kelemahan yang
ada saat ini mampu
menghadapi ancaman yang
ada
Kesempatan yang
menguntungkan perusahaaan
Ancaman yang
perusahaan
dimiliki Kelemahan yang ada dalam
perusahaan
Bagaimana
perusahaan
memanfaatkan kekuatan yang
dimiliki untuk mencapai
kesempatan
yang
menguntungkan
Opportunities (O)
Threats (T)
Weakness (W)
Menurut Rangkuti (2002, pp18-19), analisis SWOT adalah identifikasi berbagai
factor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang
(opportunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness)
dan ancaman (threats).
39
2.8
Penyewaan Langsung
Penyewaan langsung dimulai ketika sebuah perusahaan memperoleh manfaat
dari aset yang sebelumnya tidak dimiliki. Pihak lessor biasanya pembuat
(manufacturer) dari aset tersebut atau insitusi keuangan. Pihak penyewa menentukan
hal-hal berikut:
•
Peralatan yang akan disewa.
•
Manufacturer yang mana yang akan menyediakan peralatan tersebut.
•
Pilihan, jaminan, persyaratan pengiriman, perjanjian pemasangan dan jasa yang
harus dibuat.
•
Berapa harga yang akan dibayar untuk aset tersebut.
Pihak lesse kemudian menghubungi institusi keuangan dan membicarakan tentang
syarat penyewaan, kemudian institusi ini (yang kemudian menjadi pihak lessor)
memperoleh aset untuk pihak lesse dan pihak lesse mulai membayar penyewaan.
Pihak lesse bertanggung jawab terhadap pajak, asuransi, dan perawatan (Anonim4,
2004).
2.9
Sistem Informasi Penyewaan Berbasis Web
Sistem informasi penyewaan berbasis web adalah suatu sistem informasi yang
mengorganisasikan serangkaian prosedur dan metode yang dirancang yang
memasukkan, memproses, menghasilkan, menganalisa, menyebarkan informasi guna
memudahkan kegiatan operasional penyewaan melalui web.
Download