Gerakan air laut - SMA MTA Surakarta

advertisement
Lautan di Dunia
•
•
•
•
1. Samudera Pasifik
2. Samudera Atlantik
3. Samudera Hindia
4. Samudera Artik
Lautan di Dunia
KLASIFIKASI LAUT Menurut Terjadinya
• 1. Laut Transgresna : Laut Genangan, terjadi karena perubahan
permukaan Laut pada jaman Glasial.
– Contoh : Dangkalan Sunda ( L. Jawa, L Natuna, Sel Malaka, Sel
SUnda
– Contoh : Dangkalan Sahul ( L Arafuru)
– Contoh : Laut Utara
• 2. Laut Ingresi: Laut dalam dimana dasar laut mengalami
pemerosotan akibat tenaga tektonik.
– Contoh: Laut Jepang, Laut Sulawesi, Laut Banda
3. Laut Regresi : Laut yang mengalami Penyempitan akibat
pendangkalan
Contoh : Laut Jawa, Selat malaka
Samudera
Pasifik
Paparan
Sunda
Samudera
Hindia
Paparan Sahul
KEPULAUAN INDONESIA
Klasifikasi Laut di Dunia Menurut Letaknya
1.Laut Tepi, yaitu laut yang terdapat di
tepi/pinggir benua, contoh
laut jepang, Laut Kuning, Laut Utara, Laut Arab
2.Laut
ditengah
Pedalaman,
benua seperti
yaitu
laut
laut hitam, laut
yang
terdapat
Mati, laut kaspia.
3. Laut pertengahan, yaitu laut yang terapit oleh
dua pulau/benua atau lebih seperti laut-laut di
Indonesia, Laut Mediterania, Laut Merah.
Klasifikasi Laut menurut Zona
Kedalamannya/kemampuan cahaya matahari
menembus dasar laut,
– Wilayah laut pasang surut (litoral)
– Wilayah laut dangkal(Neritis)
– Wilayah laut dalam (batyal)
– Wilayah laut sangat dalam (abysal)
Zona Laut
1. Morfologi dasar laut dibedakan menjadi:
•
Tepi benua (continental margin); morfologi yang
terletak dekat pantai yang benuanya menurun ke
cekungan dasar laut. Morfologi ini dapat dibedakan
menjadi tiga wilayah, yaitu:
a. Paparan benua (continental shelf), daerah yang
mempunyai lereng landai (kemiringan kuranng
dari 1) dan berbatasan langsung dengan daratan.
Bagian ini biasanya memiliki kedalaman
maksimum antara 100 – 200 meter dan lebar.
b. Lereng benua (continental slope)
Merupakan bagian dasar laut yang
menurun tajam dan curam ke arah dasar
laut sampai kedalaman antara 50 – 70 km.
antara 200-3000 meter dengan kemiringan
antara 3 sampai dengan 6.
c. Continental rise
Merupakan daerah yang mempunyai lereng
yang perlahan-lahan menjadi dasar lautan.
Dasar laut dalam (deep sea
bottom)
Merupakan morfologi dasar laut yang meiliki
kedalaman antara 3.000-6.000 meter dan
meliputi lebih dari 75 % daerah dasar laut.
Bentukan yang ada ada daerah ini antara
lain:
•
•
•
•
•
Abysal plain (dataran abisal)
Trog (palung)
Punggungan samudera(oceanic ridge)
Gunung laut (seamount)
Punggung bukit ( abysal hill)
Gerakan air laut
• Berdasarkan penyebabnya/material yang
mengalam pergerakan, gerakan air laut
dapat disebabkan oleh angin, suhu dan gaya
tarik antara bulan dan matahari..
Berdasarkan material yang mengalami
gerakan , gerakan air laut dapat dibedakan
atas gerakan air laut yang disertai masa
airnya.
• Secara umum , gerakan air laut meliputi
gelombang, arus dan pasang surut.
• Gelombang; merupakan gerakan naik
turunnya air laut yang tidak disertai
perpindahan massa airnya. Pada umumnya,
gelombang laut dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain:
– kecepatan angin
– lama angin bertiup
– luas daerah tempat angin bertup
- kedalaman air laut dan Kekuatan Gempa
Gelombang Laut
tsu
nami
: pelabuhan
: ombak
Arus Laut
•
•
Arus; merupakan gerakan massa air laut dari
suatu tempat ke tempat lain dengan disertai
perpindahan massa airnya
Berdasarkan suhunya, arus laut dapat dibedakan
sebagai berikut:
–
–
Arus panas, yaitu arus dengan suhu air yang lebih
panas daripada suhu air laut yang didatanginya
Arus dingin, yaitu arus dengan suhu air lebih dingin
daripada suhu air laut yang didatanginya.
• Arus Laut yang Membentuk Pusaran
• Dikenal dengan sebutan Samudera bermuda
Berdasarkan faktor penyebabnya, arus dapat
dibedakan sebagai berikut:
1) Arus tetap
2) Arus kompensasi
3) Arus setengah tahunan (musiman)
4) Arus vertikal
5) Arus atas dan arus bawah
Segitiga Bermuda
• Berdasarkan Penyebabnya:
•
•
•
•
Arus laut yang disebabkan oleh Angin.
Arus Laut yang disebabkan oleh Pasang-surut.
Arus Laut yang disebabkan beda tinggi permukaan Air laut
Arus laut yang disebabkan oleh pengaruh daratan dan
Lautan
• Arus Laut yang disebabkan perbedaan kadar garam.
• Berdasarkan letaknya :
1) arus bawah, yaitu arus yang bergerak di
bawah permukaan air laut
2) arus atas, yaitu arus yang bergerak di
permukaan air laut.
Gambar: Arus laut dunia di
beberapa Samudera
Pasang Surut Air laut, terjadi akibat
adanya gaya tarik bulan dan
matahari, seperti gambar di bawah ini
Kualitas air laut
•
•
•
Kualitas air laut dapat dilihat berdasarkan
parameter temperatur, salinitas dan kecerahan
(warna) air laut.
Temperatur air laut
Temperatur air laut ditentukan oleh radiasi
matahari. Karena itulah, temperatur air laut
cenderung berkurang sesuai dengan perubahan
kedalaman dan juga semakin berkurang apabila
semakin jauh dari ekuator.
2. Salinitas (kadar garam)
Salinitas adalah jumlah garam – garam
yang terkandung dalam setiap satu
kilogram air laut yang dinyatakan dengan
prose (%) atau promil. Salinitas di setiap
laut berbeda-beda.
• Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan
kadar garam di setiap perairan laut adalah
sebagai berikut :
– Kadar penguapan
– Curah hujan
– Banyak sedikitnya air tawar yang masuk ke laut
– Banyak sedikitnya cairan es yang masuk ke
dalam laut
– Arus laut.
3. Kecerahan (warna) air laut
Warna air laut bergantung kepada zat
terlarut yang ada di dalamnya. Zat ini dapat
berupa : endapan dan organisme yang
hidup di dasar laut dan pengaruh
gelombang elektromagnetik dari matahari.
Warna air laut antara lain :
• Biru : disebabkan oleh sinar matahri yang
bergelombang pendek (biru) dipantulkan
lebih banyak daripada sinar lain
• Kuning : di dasar laut terdapat lumpur kuning
yang diangkut Sungai Kuning (hoang-Ho)dari
daratan Indo China.
• Hijau: terdapatnya lumpur hijau
• Putih: terdapat es
• Ungu: adanya organisme yang mngeluarkan
sinar-sinar fosfor
• Hitam: adanya lumpu tanah chernozem
• Merah: terdapatnya binatang-binatang kecil
berwarna merah.
1. Patahan dasar laut atau dasar samudera
dapat membentuk sebuah….
A. Palung (trench)
B. lubuk
C. Guyot
D. Ambang laut
E. Gunung laut
2. Laut yang banyak mengandung sedimentasi
tanah Loss akan berwarna ….
A.Merah
B. Kuning
C. Merah
D. Hitam
E. Biru
3. Air laut akan engalami pasang setiap
harinya pada jam ….
A.6.00 dan 18.00
B. 12.00 dan 24.00
C. 6.00 dan 24.00
D. 24.00 dan 6.00
E. 18.00 dan 24.00
4. Air laut akan engalami pasang setiap
harinya pada jam ….
A.6.00 dan 18.00
B. 12.00 dan 24.00
C. 6.00 dan 24.00
D. 24.00 dan 6.00
E. 18.00 dan 24.00
5. Mana yang BUKAN ciri akan terjadinya
tsunami ?
A. Munculnya awan gempa bumi
B. Air laut surut secara drastis
C. Diawali gempa bumi
D. Binatang berperilaku aneh
E. Orang berteriak minta tolong
GEOMORFOLOGI INDONESIA
BENTUK GEOMORFOLOGI DASAR LAUT PADA
TEPIAN LEMPENG AKTIF DI LEPAS PANTAI BARAT
SUMATERA DAN SELATAN JAWA, INDONESIA
• Tatanan tektonik sebelah barat Sumatera dan selatan
Jawa, didominasi oleh pergerakan ke utara dari
tepian aktif lempeng samudera Hindia dan lempeng
benua Australia terhadap lempengan Sunda dengan
kecepatan sekitar 6-7 cm/tahun.
• Komponen gerakan lempengan yang relatif tegak
lurus terhadap arah batas lempeng sebagian besar
membentuk sesar-sesar naik di sepanjang zona
subduksi Sumatera dan Java, sedangkan komponen
lempeng yang parallel terhadap batas lempeng
didominasi oleh terbentuknya sesar-sesar geser
pada zona sesar.
Bidang kontak antara 2 blok
disebut sesar.
SESAR NAIK
Diagram blok sesar mendatar
• Kajian tepian tektonik aktif difokuskan untuk
mengidentifikasi bentuk geomorfologi dasar laut dari
masing-masing segmen lempeng.
• Empat bentuk morfologi utama dapat diidentifikasi,
seperti:
• zona subduksi,
• palung laut,
• prisma akresi, dan
• cekungan busur muka.
Gambaran bentuk geomorfologi dasar laut ini kemungkinan
merupakan contoh morfologi dasar laut yang terbaik di
dunia.
• Batas-batas bentuk geomorfologi dasar laut
ini sangat jelas terlihat pada rekaman
seismic dan citra. Makin kearah selatan,
dasar laut makin banyak mengalami
pensesaran normal. Sesar-sesar ini
nampaknya lebih intensif makin jauh dari
palung laut. Pada sumbu palung, bentuk
kerak samudera telah banyak mengalami
pensesaran dan membentuk pola-pola horst
dan graben secara luas.
. TATANAN GEOLOGI KELAUTAN
INDONESIA
• Tatanan geologi kelautan Indonesia merupakan bagian yang sangat
unik dalam tatanan kelautan dunia, karena berada pada pertemuan
paling tidak tiga lempeng tektonik: Lempeng Samudera Pasifik,
Lempeng Benua Australia-Lempeng Samudera India serta Lempeng
Benua Asia.
• Berdasarkan karakteristik geologi dan kedudukan fisiografi regional,
wilayah laut Indonesia dibagi menjadi zona dalam (inboard) dan luar
(outboard) yang menempati regim zona tambahan (contiguous), Zona
Ekonomi Eksklusif dan Landan Kontinen. Bagian barat zona dalam
ditempati oleh Paparan Sunda (Sunda Shelf) yang merupakan subsistem dari lempeng benua Eurasia, dicirikan oleh kedalaman dasar laut
maksimum 200 m yang terletak pada bagian dalam gugusan pulaupulau utama yaitu Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.
• Bagian tengah zona dalam merupakan zona transisi dari sistem paparan
bagian barat dan sistim laut dalam di bagian timur. Kedalaman laut pada
zona transisi ini mencapai lebih dari 3.000 meter yaitu laut Bali, Laut
Flores dan Selat Makasar. Bagian paling timur zona dalam adalah zona
sistem laut Banda yang merupakan cekungan tepian (marginal basin)
dicirikan oleh kedalaman laut yang mencapai lebih dari 6.000 m dan
adanya beberapa keratan daratan (landmass sliver) yang berasal dari
tepian benua Australia (Australian continental margin) seperti pulau
Timor dan Wetar (Curray et al, 1982, Katili, 2008).
•
•
Zona bagian luar ditempati oleh sistem Samudera Hindia, Laut Pasifik, Laut Timor, laut
Arafura, laut Filipina Barat, laut Sulawesi dan laut Cina Selatan. Menurut Hamilton (1979),
kerumitan dari tatanan fisiografi dan geologi wilayah laut Nusantara ini disebabkan oleh
adanya interaksi lempeng-lempeng kerak bumi Eurasia (utara), Hindia-Australia (selatan),
Pasifik-Filipina Barat (timur) dan Laut Sulawesi (utara).
Proses geodinamika global (More et al, 1980), selanjutnya berperan dalam membentuk
tatanan tepian pulau-pulau Nusantara tipe konvergen aktif (Indonesia maritime continental
active margin), dimana bagian luar Nusantara merupakan perwujudan dari zona
penunjaman (subduksi) dan atau tumbukan (kolisi) terhadap bagian dalam Nusantara,
yang akhirnya membentuk fisiografi perairan Indonesia (Gambar 1).
Gambar 1. Fisiografi perairan Indonesia akibat
proses tektonik
•
•
. MODEL TEKTONIK TEPIAN
LEMPENG AKTIF
Lempeng samudera bergerak menunjam lempeng benua membentuk zona penunjaman
aktif, sehingga wilayah perairan Indonesia di bagian barat Sumatera dan selatan Jawa
disamping mempunyai potensi aspek geologi dan sumberdaya mineral juga berpotensi
terjadinya bencana geologi (gempabumi, tsunami, longsoran pantai dan gawir laut).
Di bagian tengah kerak samudera India ini terbentuk suatu jalur lurus yang disebut Mid
Oceanic Ridge (Pematang Tengah Samudra), sedangkan dibagian timurnya atau sebalah
barat terbentuk jalur punggungan lurus utara – selatan yang disebut Ninety East
Ridge (letaknya hampir berimpit dengan bujur 90 timur) merupakan daerah mineralisasi
(Usman, 2006). Bagian yang dalam membentuk cekungan kerak samudera yang terisi
oleh sedimen yang berasal dari dataran India membentuk Bengal Fan hingga ke perairan
Nias dengan ketebalan sedimen antara 2.000 – 3.000 meter (Ginco, 1999). Daerah
Pematang Tengah Samudra pada Lempeng Indo-Australia merupakan implikasi dari
proses Sea Floor Spereading (Pemekaran Lantai Samudera) yang mencapai puncaknya
pada Miosen Akhir dengan kecepatan 6-7 cm/tahun, sebelumnya pada Oligosen awal
hanya 5 cm/tahun (Katili, 2008).
Gambar 2. Memperlihatkan bentuk ideal geomorfologi pada tepian lempeng aktif adalah
• mengikuti proses-proses penunjaman yaitu
palung samudera (trench), prisma akresi
(accretionary prism), punggungan busur
muka (forearc ridge), cekungan busur muka
(forearc basin), busur gunungapi (volcanic
arc), dan cekungan busur belakang (backarc
basin). Busur gunungapi dan cekungan
busur belakang lazimnya berada di bagian
daratan atau kontinen (Lubis et al, 2007).
•
Gambar 2. Komponen tektonik ideal pada penunjaman
tepian lempeng aktif (Hamilton, 1979)
• Hasil identifikasi bentuk dasar laut dari beberapa lintasan
seismik, citra seabeam dan foto dasar laut maka dapat
dikenali beberapa bentuk geomorfologi utama yang umum
terdapat pada kawasan subduksi lempeng aktif. Empat
bentuk morfologi utama dapat diidentifikasi, yaitu zona
subduksi, palung laut, prisma akresi, dan cekungan
busur muka. Gambaran bentuk geomorfologi dasar laut ini
kemungkinan merupakan contoh morfologi dasar laut yang
terbaik di dunia karena batas-batasnya yang jelas dan
mudah dikenali.
SATUAN GEOMORFOLOGI TEPIAN
LEMPENG AKTIF
1. Geomorfologi Zona Subduksi
2. Geomorfologi Palung Laut
3. Geomorfologi Prisma Akresi
4. Geomorfologi Cekungan Busur Muka
1. Geomorfologi Zona
Subduksi
• Lempeng Samudera India merupakan kerak yang
tipis yang ditutupi laut dengan kedalaman antara
1.000 – 5.000 meter. Lempeng Samudera dan
lempeng benua (Continental Crust) dipisahkan oleh
Subduction Zone (Zona Penunjaman) dengan
kedalaman antara 6.000-7.000 meter yang
membujur dari barat Sumatera, selatan Jawa
hingga Laut Banda bagian barat yang disebut Java
Trench (Parit Jawa).
• Geomorfologi zona subduksi ini merupakan
gabungan yang erat antara proses-proses yang
terjadi pada tepian kerak samudera, tepian kerak
benua dan proses penunjaman itu sendiri. Sebagai
konsekuansi dari tepian aktif, maka banyak proses
tektonik yang mungkin terjadi diantaranya, sesarsesar mendatar, sesar-sesar normal yang biasanya
membentuk horst dan graben, serta kemunginan
aktivitas gunung api (hot spot?).
• Salah satu diantaranya adalah terbentuknya
gunungapi (submarine volcano atau seamount?) di
luar busur volkanik. Indikasi adanya gunungapi
atau tinggian seperti yang ditemukan Tim ekspedisi
CGG Veritas (BPPT-LIPI-PPPGL-Berlin University)
pada bulan Mei 2009 yang lalu sebenarnya bukan
merupakan gunungapi baru. Beberapa peta
batimetri dan citra satelit telah mencantumkan
adanya tinggian tersebut, hanya sampai saat ini
belum diberikan nama resmi (toponimi) yang tepat
(PPPGL, 2008).
submarine volcano atau
seamount
• Lintasan survei deep-seismic CGGV-04 telah mendeteksi
adanya puncak gunung bawah laut pada posisi koordinat
4°21.758 LU, 99°25,002 BT. Puncak gunung bawah laut ini
berada pada kedalaman 1.285 m dengan dasar atau kaki
gunung pada kedalaman 5.902 m. Hasil interpretasi data
memperlihatkan bahwa gunung bawah laut ini memiliki
ketinggian 4.617 m dan Lebar kaki gunung sekitar 50 km.
Lokasi gunung bawah laut yang terdeteksi ini berada pada
jarak 320 km sebelah barat dari Kota Bengkulu (Gambar 3).
Namun demikian, berdasarkan konsepsi tektonik,
gunungapi di Lantai Samudera tidak seberbahaya
dibandingkan gunungapi yang terbentuk di tepian benua
aktif.
Gambar 3. Gambaran geomorfologi pada zona
subduksi dan kenampakan seamount di kerak
samudera India, sumbu palung laut dan
prisma akresi di lepas pantai Bengkulu.
2. Geomorfologi Palung Laut
• Palung laut merupakan bentuk paritan memanjang
dengan kedalaman mencapai lebih dari 6.500
meter. Umumnya palung laut ini merupakan batas
antara kerak samudera India dengan tepian
benua Eurasia sebagai bentuk penunjaman yang
menghasilkan celah memanjang tegak lurus
terhadap arah penunjaman (Gambar 4).
Gambar 4. Satuan geomorfologi palung
samudra di sebelah selatan Jawa (PPPGL,
2008).
•
•
Beberapa patahan yang muncul di sekitar palung laut ini dapat reaktif kembali
seperti yang diperlihatkan oleh hasil plot pusat-pusat gempa di sepanjang lepas
pantai pulau Sumatera dan Jawa. Sesar mendatar Mentawai yang ditemukan
pada Ekspedisi Mentawai Indonesia-Prancis tahun 1990-an terindikasi sebagai
sesar mendatar yang berpasangan namun di berarapa bagian memperihatkan
bentuk sesar naik. Hal ini merupakan salah satu sebab makin meningkatnya
tekanan kompresif dan seismisitas yang menimbulkan kegempaan.
Di bagian barat pulau Sumatera, pergerakan lempeng samudera India
mengalibatkan terangkatnya sedimen (seabed) di kerak samudera dan prismaprisma akresi yang merupakan bagian terluar dari kontinen. Sesar-sesar normal
yang terbentuk di daerah bagian dalam yang memisahkan prisma akresi dengan
busur kepulauan (island arc) mengakibatkan peningkatan pasokan sedimen
yang lebih besar (Lubis et al, 2007). Demikian pula akibat terjadinya
pengangkatan tersebut maka morfologi palung laut di kawasan ini
memperlihatkan bentuk lereng yang terjal dan sempit dibandingkan dengan
palung yang terbentuk di kawasan timur Indonesia.
3. Geomorfologi Prisma Akresi
• Pembentukan prisma akresi di dasar laut dikontrol oleh
aktifitas tektonik sesar-sesar naik (thrusting) yang
mengakibatkan proses pengangkatan (uplifting). Proses
ini terjadi karena konsekuensi dari proses tumbukan
antar segmen kontinen yang menyebabkan bagian
tepian lempeng daerah tumbukan tersebut mengalami
proses pengangkatan. Proses ini umumnya terjadi di
kawasan barat Indonesia yaitu di samudra Hindia.
• Pulau-pulau prisma akresi merupakan prisma akresi yang
terangkat sampai ke permukaan laut sebagai konsekuensi
desakan lempeng Samudera Hindia ke arah utara dengan
kecepatan 6-7 cm/tahun terhadap lempeng Benua AsiaEropa sebagai benua pasif menerima tekanan (Hamilton,
1979). Oleh sebab itulah pengangkatan dan sesar-sesar
naik di beberapa tempat, seperti yang terjadi di Kep.
Mentawai, Enggano, Nias, sampai Simelueu yang terangkat
membentuk gugusan pulau-pulau memanjang parallel
terhadap arah zona subduksi (Lubis, 2009).
•
Prisma akresi merupakan wilayah yang paling rawan terhadap kegempaan
karena pusat-pusat gempa berada di bawahnya. Batuan prisma akresi
memiliki ke-khasan tersendiri yaitu ditemukannya batuan campur-aduk
(melange, ofiolit) yang umumnya berupa batuan Skist berumur muda.
Sejarah kegempaan di kawasan ini membuktikan bahwa episentrum
gempa-gempa kuat umumnya terletak pada prisma akresi ini karena
merupakan gempa dangkal (kedalaman < 30 Km). Gempa kuat yang
pernah tercatat mencapai skala 9 Richter pada tagl 26 Desember 2004.
Beberapa ahli geologi juga masih mengkhawatirkan suatu saat akan
terulang gempa sebesar ini di kawasan barat Bengkulu, karena prisma
akresi di kawasan ini masih belum melepaskan energi kegempaan (locked
zone) sementara kawasan disekitarnya sudah terpicu dan melepaskan
energi melalui serangkaian gempa-gempa sedang-kuat.
• Di Sumatera ditemukan dua prisma akresi, yaitu accretionary wedge
1 di bagian luar & accretionary wedge 2 di bagian dalam outer arc
high yang memisahkan prisma akresi dengan cekungan busur
muka (Mentawai forearc asin). Adanya outer arc high yang
memisahkan dua prisma akresi tersebut mengalibatkan sedimen
yang berasal dari daratan induknya tidak dapat menerus ke bagian
barat tetapi terendapkan di cekungan busur muka.
• Gambar 5. memperlihatkan prisma akresi yang naik ke
permukaan laut membentuk pulau-pulau prisma akresi di
lepas pantai Aceh, sedangkan contoh prisma akresi yang
belum naik ke permukaan laut diperlihatkan pada Gambar
6. yaitu prisma akresi di lepas pantai selatan Jawa.
• Selain itu proses pembentukan lainnya yang lazim terjadi di
kawasan ini adalah aktifnya patahan (sesar) dan amblasan
(subsidensi) di sekitar pantai sehingga pulau-pulau akresi
yang terbentuk terpisah dari daratan utamanya (Cruise
Report SO00-2, 2009).
Gambar 5. Geomorfologi prisma akresi yang naik
kepermukaan sebagai pulau prisma akresi di lepas
pantai sebelah barat Aceh.
Gambar 6. Geomorfologi prisma akresi di
selatan Jawa yang belum muncul ke
permukaan laut
4. Geomorfologi Cekungan Busur
Muka
• Survey kemitraan Indonesia-Jerman Sonne Cruise
186-2 SeaCause-II dilaksanakan pada tahun 2006
di perairan barat Aceh sampai ke wilayah Landas
Kontinen di luar 200 mil. Hasil interpretasi lintasanlintasan seismik yang memotong cekungan
Simeulue yaitu lintasan 135-139 memperlihatkan
indikasi cekungan busur muka Simelue merupakan
cekungan a-symetri laut dalam dengan
kedalaman laut antara 1.000-1.500m, makin ke
barat ketebalan sedimen makin tebal mencapai
5.000m lebih.
• Di sisi barat cekungan ini ditemukan sesar-sesar mendatar (kelanjutan
Sesar Mentawai?) yang mengontrol aktifnya sesar-sesar tumbuh
(growth fault) sehingga mengakibatkan deformasi struktur batuan
sedimen pada tepian cekungan. Berdasarkan seismik stratigrafi, umur
sedimen pengisi cekungan ini relatif muda (Miocene) sehingga kurang
memungkinkan terjadi pematangan sebagai source rock (IPA, 2002).
Selain itu, tingkat pematangan (maturitas) batuan reservoar relatif
rendah karena laju pengendapan yg relatif cepat di laut dalam, demikian
pula dengan pengaruh proses pematangan diagenesa volkanisme di
bagian timur yang jaraknya terlalu jauh.
• Salah satu contoh terbaik terbentuknya cekungan busur muka adalah
cekungan Lombok yang telah teridentifikasi memiliki komponen toponimi
yang lengkap, seperti koordinat (x,y,z), batas-batas cekungan, luas,
kedalaman, dsb. (Gambar 7).
Gambar 7. Geomorfologi cekungan Lombok sebagai
cekungan busur muka (PPPGL, 2008)
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil re-interpretasi rekaman seismic, citra seabeam, serta data
batimetrik dari beberapa lintasan yang memotong zona subduksi pada
system tektonik tepian lempeng aktif, dapat dikemukakan beberapa
kesimpulan, diantaranya:
• Batas penunjaman lempeng samudera India dengan lempeng Eurasia
secara tegas membentuk satuan geomorfologi palung samudera dengan
kedalaman antara 6.000-7.000 meter yang arahnya tegak lurus terhadap
arah penunjaman.
• Sebagai konsekuensi logis penunjaman lempeng samudera yang
mempunyai densitas lebih tinggi dibandingkan lempeng benua maka
terbentuk satuan geomorfologi prisma akresi yang merupakan proses
campur-aduk dimana terjadi deformasi dasar laut secara besar-besaran.
Proses geologi yang umum terjadi adalah perlipatandan sesar-sesar naik
yang disertai dengan proses pengangkatan. Sesar-sesar normal dan
mendatar banyak dijumpai pada daerah yang jauh dari palung samudera
terutama pada punggungan dan tepian cekungan.
• Cekungan busur muka terbentuk antara punggungan busur muka dan busur
gunungapi dimana proses sedimentasi dominan berasal dari bagian
kontinen, sehingga umumnya membentuk geomorfologi cekungan
memanjang a-symetri.
• Gambaran geomorfologi dasar laut di tepian lempeng aktif di barat
Sumatera dan selatan Jawa memperlihatkan batas satuan yang jelas dan
Terima Kasih
Download