BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN
DAN HIPOTESIS
2.1.
Pengertian Manajemen
Pengertian manajemen banyak dikemukakan oleh para ahli dengan
berbagai macam definisi yang mempunyai ragam penekanan yang berbeda.
Walaupun demikian, apabila kita telah menelaah definisi manajemen yan telah
dikemukakan oleh para ahli tersebut, ternyata saling berkaitan. Anoraga
(2012:109) menyebutkan bahwa :
”Manajemen adalah proses yang khas terdiri dari tindakan-tindakan
perencanaan, promosi, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian
yang masing-masing bidang tersebut digunakan baik ilmu pengetahuan
meupun keahlian dan yang diikuti secara berurutan dalam rangka usaha
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan”
Sedangkan Hasibuan (2012:1) menyebutkan bahwa :
”Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber
aspek-aspek pemasaran dan sumber-sumber lainnya secara efektif untuk
mencapai tujuan tertentu”
Sehingga dari kedua definisi diatas dapat ditarik kesimpuan bahwa
manajemen adalah proses perencanaan, promosi, pengorganisasian, pelaksanaan,
dan pengendalian kegiatan-kegiatan dari suatu organisasi/perusahaan untuk
dicapai dari organisasi/perusahaan tersebut.
2.2.
Pengertian Pemasaran
Pemasaran adalah aktivitas, serangkaian institusi, dan proses menciptakan,
mengomunikasikan, menyampaikan, dan mempertukarkan tawaran yang bernilai
bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat umum. Pemasaran dimulai dengan
pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan
manusia.
10
11
Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang
menjadi konsep pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (product), penetapan
harga (price), pengiriman barang (place), dan mempromosikan barang
(promotion). Seseorang yang bekerja dibidang pemasaran disebut pemasar.
Pemasar ini sebaiknya memiliki pengetahuan dalam konsep dan prinsip
pemasaran agar kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan manusia terutama pihak konsumen yang dituju.
Kotler dan Armstrong (2012:29) yang menyatakan bahwa manajemen
pemasaran adalah serangkaian proses yang dilakukan oleh perusahaan untuk
menciptakan suatu nilai bagi para pelanggan dan membangun hubungan yang kuat
dengan mereka agar tercipta suatu nilai dari para pelanggan tersebut. Menurut
Buchari Alma (2011;3), memberikan pengertian pemasaran sebagai berikut :
“Pemasaran adalah aktivitas yang memfasilitasi dan memperlancar suatu
hubungan pertukaran yang saling memuaskan melalui penciptaan, pendistribusian,
promosi dan penentuan harga dari barang, jasa, dan ide”. Kotler dan Keller
(2012:27), mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu dalam
memilih target pasar dan mendapatkan, mempertahankan, dan meningkatkan
konsumen dengan membuat, memberikan, dan mengkomunikasikan nilai
konsumen yang superior. terdapat tiga fungsi pemasaran, yaitu sebagai berikut :
1. Fungsi Pertukaran, dimana terdiri dari fungsi pembelian dan fungsi
penjualan.
2. Fungsi Fisis, yaitu meliputi : fungsi Pengangkutan, fungsi penyimpanan
dan fungsi pemrosesan
3. Fungsi Penyediaan Sarana, meliputi informasi pasar, penanggunan risiko,
pengumpulan, komunikasi, standardisasi, penyortiran dan pembiayaan.
2.3.
Manajemen Pemasaran
Pemasaran merupakan aktivitas yang sangat penting bagi perusahaan
untuk mencapai tujuannya. Sekarang sudah banyak pesaing yang memiliki produk
yang sejenis, perusahaan harus bisa menentukan strategi yang tepat agar
12
perusahaan bisa terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman.
Perusahaan harus melakukan inovasi produk agar produk yang dijual sesuai
dengan kebutuhan para konsumen dan dapat memuaskan mereka. Menurut Kotler
dan Keller (2012:5) pengertian pemasaran adalah:
“Mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial”
Sedangkan menurut Maynard dan Beckman yang dikutip oleh Alma (2013:1)
Manajemen Pemasaran adalah:
“Pemasaran mencakup semua kegiatan usaha yang terlibat dalam aliran
barang dan jasa dari produksi fisik untuk konsumsi”
Sedangkan menurut Tjiptono (2012:2) pemasaran dapat dikemukakan
sebagai berikut:
“Pemasaran merupakan sistem sosial efektifitas bisnis yang dirancang
untuk merencanakan, menetapkan harga, mempromosikan dan
mendistribusikan produk, jasa, dan gagasan yang mampu memuaskan
keinginan pasar dalam rangka mencapai tujuan organisasional”.
Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemasaran
adalah suatu aktifitas dalam menyampaikan barang atau jasa kepada para
konsumen, dimana kegiatan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan
konsumen.
2.4.
Pengertian Bauran Pemasaran
Pengertian Bauran Pemasaran (Marketing Mix) menurut Kotler dan
Armstrong (2012:75) adalah seperangkat alat pemasaran terkontrol yang
dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar
sasaran. Menurut Buchari Alma (2011:205) mendefinisikan bauran pemasaran
sebagai berikut : “Bauran pemasaran adalah strategi mencampur kegiatankegiatan marketing, agar dicari kombinasi maksimal sehingga mendatangkan hasil
paling memuaskan.”
13
Menurut Kotler dan Keller (2012:.47), mendefinisikan bauran pemasaran
sebagai seperangkat alat pemasaran perusahaan menggunakan untuk mengejar
tujuan pemasarannya di pasar sasaran.
1. Produk (Product)
Suatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian,
agar produk yang dijual mau dibeli, digunakan atau dikonsumsi yang dapat
memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan dari konsumen.
2. Harga (Price)
Sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki
atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli
dan penjual melalui tawar menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk satu
harga yang sama terhadap semua pembeli.
3. Tempat (Place)
Tempat diasosiasikan sebagai saluran distribusi yang ditujukan untuk
mencapai taget konsumen. Sistem distribusi ini mencakup lokasi,
transportasi, pergudangan, dan sebagainya.
4. Promosi (Promotion)
Sebagai salah satu cara pemasaran untuk mengkomunikasikan dan menjual
suatu produk kepada konsumen yang berpotensi.
Menurut Kotler dan Keller (2012:266) promosi adalah unsur utama dalam
kampanye pemasaran sebagai kumpulan alat intensif yang sebagian besar
berjangka pendek, yang dirancang untuk merangsang pembelian produk atau
jasa tertentu dengan lebih cepat dan lebih besar kepada konsumen.
Berdasarkan buku Marketing Management (2008:604). Kotler mengartikan
promosi sebagai berbagai macam cara yang ditempuh perusahaan dalam
rangka menjual produk ke konsumen atau berbagai kegiatan perusahaan untuk
mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran.
14
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa promosi adalah
kegiatan perusahaan untuk melakukan komunikasi yang memberi penjelasan
yang dapat meyakinkan dan merangsang pembelian produk dan jasa oleh
target pasar.
2.5.
Produk
2.5.1. Pengertian Produk
Dalam mengembangkan sebuah program untuk mencapai pasar yang
diinginkan, sebuah perusahaan harus memulai dengan produk atau jasa yang
dirancang untuk memuaskan keinginan konsumen. Maka dari itu perusahaan
harus berusaha mengambil hati para konsumen untuk memperlancar jalannya
produksi. Konsumen biasanya menginginkan produknya dapat membuat hati para
konsumen terpuaskan dan mempunyai kualitas produk.
Menurut Kotler & Armstrong (2010:248), produk adalah segala sesuatu
yang dapat ditawarkan kepada pasar agar menarik perhatian, akuisisi, penggunaan
atau konsumsi yang dapat memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan. Produk
mencakup barang-barang yang berwujud (tangible).
Produk adalah elemen kunci dalam keseluruhan penawaran pasar. Selain
itu produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan
oleh produsen melalui hasil produksinya (Tjiptono:2008).
Menurut Sumarni dan Soeprihanto (2010:274), “Produk adalah setiap apa
saja yang bisa ditawarkan di pasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan,
pemakaian atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan”.
Produk tidak hanya selalu berupa barang tetapi bisa juga berupa jasa ataupun
gabungan dari keduanya (barang dan jasa).
Produk menurut Alma (2013:139) adalah: “Produk adalah seperangkat
atribut baik berwujud maupun tidak berwujud termasuk didalamnya masalah
warna, harga, nama baik pabrik, nama baik toko yang menjual (pengecer), dan
15
pelayanan pabrik, serta pelayanan pengecer yang diterima oleh pembeli guna
memuaskan keinginan”.
2.5.2
Klasifikasi produk
Tingkatan produk terdiri dari 3 tingkatan yang ada pada masing-masing
tingkatan produk (Kotler & Amstrong 2010:250).
1. Core custumer value, merupakan tingkatan paling dasar ketika mendesain
suatu produk maka seorang marketer pertama kali harus mendefinisikan inti,
manfaat penyelesaian masalah atau pelayananyang pelanggan lihat.
2. Actual product, pada tingkatan kedua ini marketer harus mengubah manfaat
inti menjadi produk aktual. Perlu untuk mengembangkan produk dan fitur
layanan, desain dan tingkat kualitas, nama merek, dan kemasan.
3. Augmented product, di tingkat akhir perencanaan produk harus membangun
tambahan produk di sekitar manfaat inti dan produk aktual dengan
menawarkan tambahan manfaat dan layanan konsumen.
2.6.
Pengertian Kualitas Produk
Pengertian kualitas produk memiliki inti pada upaya pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan yang bertujuan untuk mengimbangi harapan
pelanggan. Menurut Kotler dan Armstrong (2012:11), kualitas produk adalah
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk
keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan
reparasi produk, juga atribut produk lainnya. Menurut Kotler dan Keller
(2012:164), kualitas produk adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan
hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang diinginkan
pelanggan. Sedangkan menurut Mowen (2012:61), kualitas produk merupakan
proses evaluasi secara keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu
produk.
Kualitas produk memiliki suatu ketertarikan bagi konsumen dalam
mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia produk. Adanya
16
hubungan timbal balik antara perusahaan dengan konsumen akan memberikan
peluang untuk mengetahui dan memahami apa yang menjadi kebutuhan dan
harapan yang ada pada persepsi konsumen. Maka, perusahaan penyedia produk
dapat memberikan kinerja yang baik untuk mencapai kepuasan konsumen melalui
cara memaksimalkan pengalaman yang menyenangkan dan meminimalisir
pengalaman yang kurang menyenangkan konsumen dalam mengkonsumsi produk.
Apabila kinerja dari suatu produk yang diterima atau dirasakan sesuai dengan
harapan konsumen, maka kualitas produk yang diterima atau dirasakan sesuai
dengan harapan konsumen.
Ada beberapa pendapat mengenai dimensi kualitas produk, antara lain
menurut
Kotler
(2012:203)
apabila
perusahaan
ingin
mempertahankan
keunggulan kompetitifnya dalam pasar maka perusahaan harus mengerti aspek
dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan produk yang
dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing. Oleh karena itu kualitas
produk dapat dimasukkan ke dalam sembilan dimensi, yaitu :
1.
Bentuk
Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan
bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk.
2.
Ciri-ciri produk
Karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah fungsi
dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya.
3.
Kinerja
Berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakterisitik
utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut.
4.
Ketepatan atau kesesuaian
Berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan
sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan
derajat ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik
kualitas standar yang telah ditetapkan.
5.
Daya Tahan
17
Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan tanpa
menimbulkan masalah pada saat penggunaan.
6.
Keandalan
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil
menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu
dan dalam kondisi tertentu pula.
7. Kemudahan Perbaikan
Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak. Idealnya
produk akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak.
8.
Gaya
Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap produk.
9.
Desain
Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi penampilan dan
fungsi produk terhadap keinginan konsumen.
Menurut Gaspersz dalam Alma (2012:11) dimensi-dimensi kualitas
produk terdiri dari:
1.
Kinerja
Karakteristik operasi pokok dari produk inti.
2.
Ciri-ciri
Karakteristik sekunder atau pelengkap dari produk.
3.
Kehandalan
Kemungkinan produk akan mengalami kerusakan atau gagal pakai.
4.
Kesesuaian Dengan Spesifikasi
Sejauh mana karakteristik desain dan operasi produk memenuhi standarstandar yang telah ditetapkan sebelumnya.
5.
Daya tahan
Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan.
6.
Kemudahan Perbaikan
Meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi, dan
penanganan keluhan yang memuaskan dari produk.
7.
Estetika
18
Daya tarik produk terhadap panca indera.
Sedangkan menurut Mowen dan Minor dalam Dinawan (2012)
memberikan beberapa dimensi dari kualitas produk. Adapun dimensi kualitas
produk adalah :
1.
Kinerja
Kinerja di sini adalah kinerja utama dari karakteristik pengoperasian produk.
2.
Reliabilitas atau Keandalan
Reliabilitas adalah konsistensi kinerja produk. Bebas dari kerusakan atau
tidak berfungsi.
3.
Daya Tahan
Rentang kehidupan produk / umur pemakaian produk.
4.
Keamanan
Produk yang tidak aman merupakan produk yang mempunyai kualitas yang
kurang / rendah.
Dimensi kualitas produk tidak selalu sama untuk setiap jenis industri,
dimensi tersebut bergantung pada jenis industri yang akan dinilai. Pada jenis
industri yang berbeda kemungkinan memiliki dimensi kualitas yang berbeda pula.
Seperti yang terdapat pada produk rumah yang dimiliki oleh Perumahan Sari
Wates Residence, dimensi-dimensi yang digunakan adalah dimensi-dimensi yang
mampu mengukur kualitas produk yang ditawarkan Perumahan Sari Wates
Residence
kepada
konsumen.
Dimensi
pada
variabel
kualitas
produk
menggunakan acuan yang sudah dikemukakan oleh Kotler (2012:203) yaitu
mengenai bentuk produk, ciri-ciri produk, ketetapan atau kesesuaian produk, daya
tahan produk, kehandalan yang dimiliki oleh produk dan desain yang dimiliki oleh
produk tersebut.
2.7.
Minat Beli
Kenyataan menunjukkan bahwa mengetahui kebutuhan dan keinginan
konsumen tidak mudah. Konsumen bisa mengubah pemikirannya pada detik-detik
terakhir. Tentu saja pemasar mengharapkan konsumen bersikap positif yaitu
19
bersedia membeli barang yang ditawarkan. Untuk menarik atau menumbuhkan
minat beli konsumen terlebih dahulu pemasar harus memahami bagaimana
konsumen berkeputusan.
Minat beli adalah perilaku konsumen yang muncul sebagai respon
terhadap objek yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan
pembelian (Kotler dan Keller :2012). Minat beli atau keputusan pembelian
merupakan tindakan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan juga
oleh respon kognitif dan afektif dalam pemecahan masalah tentang tujuan
konsumen, pengetahuan pilihan alternatif dan kriteria pilihan, serta tingkatan
keterlibatan mereka yang digerakkan selama proses pembuatan keputusan.
Minat beli konsumen dapat didefinisikan “Schiffman dan Kanuk (2010)”
dalam mengatakan minat beli adalah suatu keputusan sebagai pilihan suatu
tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Seorang konsumen yang hendak
melakukan pilihan maka ia harus memiliki pilihan alternatif.
Minat beli (willingness to buy) merupakan bagian dari komponen perilaku
dalam sikap mengkonsumsi. Minat beli konsumen adalah tahap dimana konsumen
membentuk pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam
perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya melakukan suatu pembelian pada
suatu altenatif yang paling disukainya atau proses yang dilalui konsumen untuk
membeli suatu barang atau jasa yang didasari oleh bermacam pertimbangan
(Sukmawati dan Suyono dalam Pramono, 2012 :38).
2.7.1
Komponen-Komponen Minat Beli Konsumen
Indikator-indikator dari minat beli konsumen dijelaskan oleh konsumen
dari Schiffman dan Kanuk (2010;470). Komponen-komponen tersebut adalah
sebagai berikut:
1. Tertarik untuk mencari informasi mengenai produk
2. Mempertimbangkan untuk membeli
20
3. Tertarik untuk mencoba
4. Ingin mengetahui produk
5. Jadi ingin memiliki produk
Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan di atas mana dimensi
operasional variabelnya adalah pencarian informasi, pertimbangan membeli, ingin
mengetahui produk, tertarik untuk mencoba.
2.7.2
Tahap-Tahap Minat Beli
Tahapan-tahapan produsen dalam menentukan minat beli atau menentukan
dorongan konsumen dalam melakukan pembelian terhadap produk atau jasa yang
ditawarkan, dapat kita lihat pada konsep atau model AIDA yang dikembangkan
oleh Kotler (2012:568) , yaitu:
1. Attention
Tahap ini merupakan tahap awal dalam menilai suatu produk atau jasa sesuai
dengan kebutuhan calon pelanggan, selain itu calon pelanggan juga
mempelajari produk atau jasa yang ditawarkan.
2. Interest
Dalam tahap ini calon pelanggan mulai tertarik untuk membeli produk atau
jasa yang ditawarkan, setelah mendapatkan informasi yang lebih terperinci
mengenai produk atau jasa yang ditawarkan.
3. Desire
Calon pelanggan mulai memikirkan serta berdiskusi mengenai produk atau
jasa yang ditawarkan, karena hasrat dan keinginan untuk membeli mulai
timbul. Dalam tahapan ini calon pelanggan sudah mulai berminat terhadap
produk atau jasa yang ditawarkan. Tahap ini ditandai dengan munculnya
minat yang kuat dari calon pelanggan untuk membeli dan mencoba produk
atau jasa yang ditawarkan.
4. Action
Pada tahap ini calon pelanggan telah mempunyai kemantapan yang tinggi
21
untuk membeli atau menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan.
Saat ini beberapa ahli ekonomi telah menambah satu huruf lagi ke dalam
AIDA, yaitu huruf S yang berarti Satisfaction sehingga menjadi AIDAS, hal ini
dikarenakan konsumen yang merasa puas akan melakukan pembelian secara
berulang. Selain itu, ada juga yang menambahkan huruf C yang berarti Conviction
sehingga menjadi AIDAC, yaitu adanya keyakinan atau kepastian dari konsumen
untuk melakukan pembelian. Bila kedua model ini digabungkan maka akan
menjadi AIDACS.
2.8
Hubungan Antar Variabel Kualitas Produk (X) dengan Menat Beli
Konsumen (Y)
Setiap perusahaan berusaha untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan
konsumen melalui produk yang ditawarkan, sedangkan konsumen mencari
manfaat – manfaat tertentu yang ada pada suatu produk. Konsumen melihat setiap
produk sebagai kumpulan dari sifat – sifat atau ciri – ciri tertentu yang tercermin
dari kualitas yang melekat pada suatu produk.
Sebagai dikemukakan oleh Kotler dan Amstrong (2012:158), faktor yang
mempengaruhi minat beli konsumen yaitu berupa stimuli yang berpengaruh
menyangkut masalah pemasaran, produk atau yang berada dalam produk termasuk
kualitas produk, harga, tempat, promosi, dan rangsangan lain seperti: ekonomi,
keuangan, tekhnologi, politik, budaya, dsb.
2.9
Penelitian Sebelumnya
Adapun penelitian sebelumnya terkait hubungan variabel kualitas produk
dan minat beli konsumen dalam penelitian ini akan terangkum pada tabel berikut:
22
Tabel 2.1.
Penelitian Terdahulu Terkait
Hubungan Variabel Kualitas Produk dan Minat Beli Konsumen
No
Peneliti
Judul, Tahun, dan
.
1.
Variabel
Sumber Penelitian
Kesimpulan
Kualitas •
Rizki
Pengaruh
Ananda
Produk terhadap Minat
Beli Konsumen Tablet •
iPad
2.
Kurniasari
Apple
di
Hasil dan
Kualitas
Variabel kualitas
produk
Produk
Minat Beli
Kota
terhadap
minat
beli
konsumen sebesar
Bandung (2014) Sumber
83,6%,
:
dipengaruhi oleh
http://repository.widyata
variabel
ma.ac.id
lain.
Kualitas •
Pengaruh
Produk
dan
Pelayanan
Kualitas
terhadap •
Kualitas
Produk (X1)
sisanya
yang
Variabel X1 dan
X2
berpengaruh
Kualitas
positif terhadap Y
Minat Beli Konsumen
Pelayanan
dan variabel yang
Waroeng
Steak
(X2)
paling
Bandung •
Minat
Beli berpengaruh
Dipatiukur
(2013)
Sumber
(Y)
dibandingkan
:http://repository.widyata
variabel
lainnya
ma.ac.id
adalah
kualitas
produk
3.
Kamal
Pengaruh kualitas produk •
Kualitas
Semakin
Ghanimata
terhadap minat beli kartu
produk
kualitas
perdana Kouta Telkomsel •
Minat beli
maka
di
Widyatama
Sumber
Universitas
(2014)
:
baik
produk
akan
menciptakan
minat beli yang
23
http://repository.widyata
semakin tinggi
ma.ac.id
4
Samsul
Arifin
Pengaruh kualitas produk • Kualitas
Variabel X1 dan
dan kualitas pelayanan
X2 berpengaruh
terhadap
konsumen
minat
beli
Alfamart
Minimarket Cikutra di
Bandung (2012) sumber:
http://repository.widyata
ma.ac.id
Produk (X1)
positif terhadap
• Kualitas
varibael Y dan
pelayanan
(X2)
• Minat
(Y)
Variabel yang
paling dominan
beli mempengaruhi
adalah kualitas
pelayanan
2.7.
Kerangka Pemikiran
Kabupaten Kota Garut merupakan wilayah yang masih dalam tahap
pembangunan yang diperuntukan bagi perkembangan taraf hidup masyarakat di
Garut, khususnya dalam pembangunan perumahan-perumahan bagi masyarakat
Kabupaten Kota Garut pada umumnya. Perumahan yang menawarkan hunian
yang asri dan memiliki pemandangan city view kearah Kabupaten Kota Garut
antara lain adalah perumahan Sari Wates Residence dan perumahan Grand View
Residence yang berada dikawasan daerah pegunungan didaerah Tanjung Sari
Garut, hingga pada saat penelitian ini sedang berlangsung masih dalam tahap
pembangunan fase satu hingga fase dua. Perumahan-perumahan tersebut memiliki
keunggulan kompetitif dari sudut pandang kualitas produk dari daya tahan yang
dipakai, kesesuaian produk dengan spesifikasi yang ditawarkan terhadap
konsumen, fitur tambahan yang ditawarkan kepada konsumen, kehandalan produk
tersebut apabila telah digunakan, estetika dari produk yang ditawarkan kepada
konsumen dan kesan kualitas apabila produk tersebut sudah diputuskan untuk
dibeli.
24
Pada pilihan produk yang ditawarkan, dapat terlihat keunggulan kualitas
produk dimiliki oleh perumahan Sari Wates Residence dengan kualitas rumah dan
fasilitas yang ditawarkan, dibandingkan dengan pesaingnya yang akses jalan
masuk kedalam perumahannya berhadapan dengan perumahan Sari Wates
Residence yaitu perumahan Grand View Residence. Akan tetapi produk yang
ditawarkan oleh perumahan Sari Wates Residence masih kurang mempengaruhi
keputusan pembelian oleh para konsumen yang lebih memilih perumahan Grand
View Residence, dimana penawaran dari kualitas produk dan fasiltias perumahan
yang ditawarkan kepada konsumen masih dibawah dari penawaran yang
ditawarkan oleh perumahan Sari Wates Residence. Hal tersebut menjadi menarik
untuk diteliti oleh penulis, karena penulis menyadari adanya minat beli yang
menjalani adanya proses seperti perhatian konsumen kepada suatu objek,
ketertarikan konsumen terhadap suatu objek, hingga menghasilkan minat untuk
melakukan tindakan pembelian terhadap rumah dikawasan perumahan Grand
View Residence dimana perumahan Sari Wates Residence yang ada didepannya
menawarkan produk yang memiliki kualitas dan fasilitas diatas dari perumahan
tersebut.
Oleh karena itu paradigma dalam penelitian ini dapat dilihat dari gambar
berikut ini.
25
KUALITAS PRODUK
Kotler (2012:203)
• Bentuk produk
• Ciri-ciri produk
• Kinerja produk
• Ketetapan atau
kesesuaian produk
• Daya tahan produk
• Kehandalan produk
• Desain produk
•
•
•
•
MINAT BELI
Kotler (2012:568)
Attention
Interest
Desire
Action
Gambar 3.1.
Gambar Kerangka Pemikiran
2.8.
Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pernyataan (Sugiyono 2015;134). Berdasarkan kerangka pemirkiran yang
sudah dijabarkan dalam paradigma penelitian, maka hipotesis dalam penelitian
ini, yaitu “Kualitas produk berpengaruh terhadap minat beli konsumen (Survey di
kawasan Perumahan Sari Wates Residence)”. Dengan asumsi diluar factor X
dianggap constant (Cateris Parigus).
Download