BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS 2.1. Pengertian Manajemen Pengertian manajemen banyak dikemukakan oleh para ahli dengan berbagai macam definisi yang mempunyai ragam penekanan yang berbeda. Walaupun demikian, apabila kita telah menelaah definisi manajemen yan telah dikemukakan oleh para ahli tersebut, ternyata saling berkaitan. Anoraga (2012:109) menyebutkan bahwa : ”Manajemen adalah proses yang khas terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, promosi, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian yang masing-masing bidang tersebut digunakan baik ilmu pengetahuan meupun keahlian dan yang diikuti secara berurutan dalam rangka usaha mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan” Sedangkan Hasibuan (2012:1) menyebutkan bahwa : ”Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber aspek-aspek pemasaran dan sumber-sumber lainnya secara efektif untuk mencapai tujuan tertentu” Sehingga dari kedua definisi diatas dapat ditarik kesimpuan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, promosi, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian kegiatan-kegiatan dari suatu organisasi/perusahaan untuk dicapai dari organisasi/perusahaan tersebut. 2.2. Pengertian Pemasaran Pemasaran adalah aktivitas, serangkaian institusi, dan proses menciptakan, mengomunikasikan, menyampaikan, dan mempertukarkan tawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat umum. Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. 10 11 Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang menjadi konsep pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (product), penetapan harga (price), pengiriman barang (place), dan mempromosikan barang (promotion). Seseorang yang bekerja dibidang pemasaran disebut pemasar. Pemasar ini sebaiknya memiliki pengetahuan dalam konsep dan prinsip pemasaran agar kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia terutama pihak konsumen yang dituju. Kotler dan Armstrong (2012:29) yang menyatakan bahwa manajemen pemasaran adalah serangkaian proses yang dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan suatu nilai bagi para pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan mereka agar tercipta suatu nilai dari para pelanggan tersebut. Menurut Buchari Alma (2011;3), memberikan pengertian pemasaran sebagai berikut : “Pemasaran adalah aktivitas yang memfasilitasi dan memperlancar suatu hubungan pertukaran yang saling memuaskan melalui penciptaan, pendistribusian, promosi dan penentuan harga dari barang, jasa, dan ide”. Kotler dan Keller (2012:27), mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu dalam memilih target pasar dan mendapatkan, mempertahankan, dan meningkatkan konsumen dengan membuat, memberikan, dan mengkomunikasikan nilai konsumen yang superior. terdapat tiga fungsi pemasaran, yaitu sebagai berikut : 1. Fungsi Pertukaran, dimana terdiri dari fungsi pembelian dan fungsi penjualan. 2. Fungsi Fisis, yaitu meliputi : fungsi Pengangkutan, fungsi penyimpanan dan fungsi pemrosesan 3. Fungsi Penyediaan Sarana, meliputi informasi pasar, penanggunan risiko, pengumpulan, komunikasi, standardisasi, penyortiran dan pembiayaan. 2.3. Manajemen Pemasaran Pemasaran merupakan aktivitas yang sangat penting bagi perusahaan untuk mencapai tujuannya. Sekarang sudah banyak pesaing yang memiliki produk yang sejenis, perusahaan harus bisa menentukan strategi yang tepat agar 12 perusahaan bisa terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Perusahaan harus melakukan inovasi produk agar produk yang dijual sesuai dengan kebutuhan para konsumen dan dapat memuaskan mereka. Menurut Kotler dan Keller (2012:5) pengertian pemasaran adalah: “Mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial” Sedangkan menurut Maynard dan Beckman yang dikutip oleh Alma (2013:1) Manajemen Pemasaran adalah: “Pemasaran mencakup semua kegiatan usaha yang terlibat dalam aliran barang dan jasa dari produksi fisik untuk konsumsi” Sedangkan menurut Tjiptono (2012:2) pemasaran dapat dikemukakan sebagai berikut: “Pemasaran merupakan sistem sosial efektifitas bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menetapkan harga, mempromosikan dan mendistribusikan produk, jasa, dan gagasan yang mampu memuaskan keinginan pasar dalam rangka mencapai tujuan organisasional”. Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah suatu aktifitas dalam menyampaikan barang atau jasa kepada para konsumen, dimana kegiatan tersebut dapat memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen. 2.4. Pengertian Bauran Pemasaran Pengertian Bauran Pemasaran (Marketing Mix) menurut Kotler dan Armstrong (2012:75) adalah seperangkat alat pemasaran terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran. Menurut Buchari Alma (2011:205) mendefinisikan bauran pemasaran sebagai berikut : “Bauran pemasaran adalah strategi mencampur kegiatankegiatan marketing, agar dicari kombinasi maksimal sehingga mendatangkan hasil paling memuaskan.” 13 Menurut Kotler dan Keller (2012:.47), mendefinisikan bauran pemasaran sebagai seperangkat alat pemasaran perusahaan menggunakan untuk mengejar tujuan pemasarannya di pasar sasaran. 1. Produk (Product) Suatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian, agar produk yang dijual mau dibeli, digunakan atau dikonsumsi yang dapat memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan dari konsumen. 2. Harga (Price) Sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli. 3. Tempat (Place) Tempat diasosiasikan sebagai saluran distribusi yang ditujukan untuk mencapai taget konsumen. Sistem distribusi ini mencakup lokasi, transportasi, pergudangan, dan sebagainya. 4. Promosi (Promotion) Sebagai salah satu cara pemasaran untuk mengkomunikasikan dan menjual suatu produk kepada konsumen yang berpotensi. Menurut Kotler dan Keller (2012:266) promosi adalah unsur utama dalam kampanye pemasaran sebagai kumpulan alat intensif yang sebagian besar berjangka pendek, yang dirancang untuk merangsang pembelian produk atau jasa tertentu dengan lebih cepat dan lebih besar kepada konsumen. Berdasarkan buku Marketing Management (2008:604). Kotler mengartikan promosi sebagai berbagai macam cara yang ditempuh perusahaan dalam rangka menjual produk ke konsumen atau berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. 14 Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa promosi adalah kegiatan perusahaan untuk melakukan komunikasi yang memberi penjelasan yang dapat meyakinkan dan merangsang pembelian produk dan jasa oleh target pasar. 2.5. Produk 2.5.1. Pengertian Produk Dalam mengembangkan sebuah program untuk mencapai pasar yang diinginkan, sebuah perusahaan harus memulai dengan produk atau jasa yang dirancang untuk memuaskan keinginan konsumen. Maka dari itu perusahaan harus berusaha mengambil hati para konsumen untuk memperlancar jalannya produksi. Konsumen biasanya menginginkan produknya dapat membuat hati para konsumen terpuaskan dan mempunyai kualitas produk. Menurut Kotler & Armstrong (2010:248), produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar agar menarik perhatian, akuisisi, penggunaan atau konsumsi yang dapat memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan. Produk mencakup barang-barang yang berwujud (tangible). Produk adalah elemen kunci dalam keseluruhan penawaran pasar. Selain itu produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui hasil produksinya (Tjiptono:2008). Menurut Sumarni dan Soeprihanto (2010:274), “Produk adalah setiap apa saja yang bisa ditawarkan di pasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan”. Produk tidak hanya selalu berupa barang tetapi bisa juga berupa jasa ataupun gabungan dari keduanya (barang dan jasa). Produk menurut Alma (2013:139) adalah: “Produk adalah seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak berwujud termasuk didalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik, nama baik toko yang menjual (pengecer), dan 15 pelayanan pabrik, serta pelayanan pengecer yang diterima oleh pembeli guna memuaskan keinginan”. 2.5.2 Klasifikasi produk Tingkatan produk terdiri dari 3 tingkatan yang ada pada masing-masing tingkatan produk (Kotler & Amstrong 2010:250). 1. Core custumer value, merupakan tingkatan paling dasar ketika mendesain suatu produk maka seorang marketer pertama kali harus mendefinisikan inti, manfaat penyelesaian masalah atau pelayananyang pelanggan lihat. 2. Actual product, pada tingkatan kedua ini marketer harus mengubah manfaat inti menjadi produk aktual. Perlu untuk mengembangkan produk dan fitur layanan, desain dan tingkat kualitas, nama merek, dan kemasan. 3. Augmented product, di tingkat akhir perencanaan produk harus membangun tambahan produk di sekitar manfaat inti dan produk aktual dengan menawarkan tambahan manfaat dan layanan konsumen. 2.6. Pengertian Kualitas Produk Pengertian kualitas produk memiliki inti pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan yang bertujuan untuk mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Kotler dan Armstrong (2012:11), kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal ini termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk, juga atribut produk lainnya. Menurut Kotler dan Keller (2012:164), kualitas produk adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang diinginkan pelanggan. Sedangkan menurut Mowen (2012:61), kualitas produk merupakan proses evaluasi secara keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk. Kualitas produk memiliki suatu ketertarikan bagi konsumen dalam mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia produk. Adanya 16 hubungan timbal balik antara perusahaan dengan konsumen akan memberikan peluang untuk mengetahui dan memahami apa yang menjadi kebutuhan dan harapan yang ada pada persepsi konsumen. Maka, perusahaan penyedia produk dapat memberikan kinerja yang baik untuk mencapai kepuasan konsumen melalui cara memaksimalkan pengalaman yang menyenangkan dan meminimalisir pengalaman yang kurang menyenangkan konsumen dalam mengkonsumsi produk. Apabila kinerja dari suatu produk yang diterima atau dirasakan sesuai dengan harapan konsumen, maka kualitas produk yang diterima atau dirasakan sesuai dengan harapan konsumen. Ada beberapa pendapat mengenai dimensi kualitas produk, antara lain menurut Kotler (2012:203) apabila perusahaan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar maka perusahaan harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing. Oleh karena itu kualitas produk dapat dimasukkan ke dalam sembilan dimensi, yaitu : 1. Bentuk Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainnya berdasarkan bentuk, ukuran, atau struktur fisik produk. 2. Ciri-ciri produk Karakteristik sekunder atau pelengkap yang berguna untuk menambah fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya. 3. Kinerja Berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakterisitik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut. 4. Ketepatan atau kesesuaian Berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan derajat ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik kualitas standar yang telah ditetapkan. 5. Daya Tahan 17 Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan tanpa menimbulkan masalah pada saat penggunaan. 6. Keandalan Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula. 7. Kemudahan Perbaikan Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak. Idealnya produk akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak. 8. Gaya Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap produk. 9. Desain Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi penampilan dan fungsi produk terhadap keinginan konsumen. Menurut Gaspersz dalam Alma (2012:11) dimensi-dimensi kualitas produk terdiri dari: 1. Kinerja Karakteristik operasi pokok dari produk inti. 2. Ciri-ciri Karakteristik sekunder atau pelengkap dari produk. 3. Kehandalan Kemungkinan produk akan mengalami kerusakan atau gagal pakai. 4. Kesesuaian Dengan Spesifikasi Sejauh mana karakteristik desain dan operasi produk memenuhi standarstandar yang telah ditetapkan sebelumnya. 5. Daya tahan Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. 6. Kemudahan Perbaikan Meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi, dan penanganan keluhan yang memuaskan dari produk. 7. Estetika 18 Daya tarik produk terhadap panca indera. Sedangkan menurut Mowen dan Minor dalam Dinawan (2012) memberikan beberapa dimensi dari kualitas produk. Adapun dimensi kualitas produk adalah : 1. Kinerja Kinerja di sini adalah kinerja utama dari karakteristik pengoperasian produk. 2. Reliabilitas atau Keandalan Reliabilitas adalah konsistensi kinerja produk. Bebas dari kerusakan atau tidak berfungsi. 3. Daya Tahan Rentang kehidupan produk / umur pemakaian produk. 4. Keamanan Produk yang tidak aman merupakan produk yang mempunyai kualitas yang kurang / rendah. Dimensi kualitas produk tidak selalu sama untuk setiap jenis industri, dimensi tersebut bergantung pada jenis industri yang akan dinilai. Pada jenis industri yang berbeda kemungkinan memiliki dimensi kualitas yang berbeda pula. Seperti yang terdapat pada produk rumah yang dimiliki oleh Perumahan Sari Wates Residence, dimensi-dimensi yang digunakan adalah dimensi-dimensi yang mampu mengukur kualitas produk yang ditawarkan Perumahan Sari Wates Residence kepada konsumen. Dimensi pada variabel kualitas produk menggunakan acuan yang sudah dikemukakan oleh Kotler (2012:203) yaitu mengenai bentuk produk, ciri-ciri produk, ketetapan atau kesesuaian produk, daya tahan produk, kehandalan yang dimiliki oleh produk dan desain yang dimiliki oleh produk tersebut. 2.7. Minat Beli Kenyataan menunjukkan bahwa mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen tidak mudah. Konsumen bisa mengubah pemikirannya pada detik-detik terakhir. Tentu saja pemasar mengharapkan konsumen bersikap positif yaitu 19 bersedia membeli barang yang ditawarkan. Untuk menarik atau menumbuhkan minat beli konsumen terlebih dahulu pemasar harus memahami bagaimana konsumen berkeputusan. Minat beli adalah perilaku konsumen yang muncul sebagai respon terhadap objek yang menunjukkan keinginan pelanggan untuk melakukan pembelian (Kotler dan Keller :2012). Minat beli atau keputusan pembelian merupakan tindakan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan juga oleh respon kognitif dan afektif dalam pemecahan masalah tentang tujuan konsumen, pengetahuan pilihan alternatif dan kriteria pilihan, serta tingkatan keterlibatan mereka yang digerakkan selama proses pembuatan keputusan. Minat beli konsumen dapat didefinisikan “Schiffman dan Kanuk (2010)” dalam mengatakan minat beli adalah suatu keputusan sebagai pilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Seorang konsumen yang hendak melakukan pilihan maka ia harus memiliki pilihan alternatif. Minat beli (willingness to buy) merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Minat beli konsumen adalah tahap dimana konsumen membentuk pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya melakukan suatu pembelian pada suatu altenatif yang paling disukainya atau proses yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang didasari oleh bermacam pertimbangan (Sukmawati dan Suyono dalam Pramono, 2012 :38). 2.7.1 Komponen-Komponen Minat Beli Konsumen Indikator-indikator dari minat beli konsumen dijelaskan oleh konsumen dari Schiffman dan Kanuk (2010;470). Komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Tertarik untuk mencari informasi mengenai produk 2. Mempertimbangkan untuk membeli 20 3. Tertarik untuk mencoba 4. Ingin mengetahui produk 5. Jadi ingin memiliki produk Berdasarkan teori-teori yang telah dikemukakan di atas mana dimensi operasional variabelnya adalah pencarian informasi, pertimbangan membeli, ingin mengetahui produk, tertarik untuk mencoba. 2.7.2 Tahap-Tahap Minat Beli Tahapan-tahapan produsen dalam menentukan minat beli atau menentukan dorongan konsumen dalam melakukan pembelian terhadap produk atau jasa yang ditawarkan, dapat kita lihat pada konsep atau model AIDA yang dikembangkan oleh Kotler (2012:568) , yaitu: 1. Attention Tahap ini merupakan tahap awal dalam menilai suatu produk atau jasa sesuai dengan kebutuhan calon pelanggan, selain itu calon pelanggan juga mempelajari produk atau jasa yang ditawarkan. 2. Interest Dalam tahap ini calon pelanggan mulai tertarik untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan, setelah mendapatkan informasi yang lebih terperinci mengenai produk atau jasa yang ditawarkan. 3. Desire Calon pelanggan mulai memikirkan serta berdiskusi mengenai produk atau jasa yang ditawarkan, karena hasrat dan keinginan untuk membeli mulai timbul. Dalam tahapan ini calon pelanggan sudah mulai berminat terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Tahap ini ditandai dengan munculnya minat yang kuat dari calon pelanggan untuk membeli dan mencoba produk atau jasa yang ditawarkan. 4. Action Pada tahap ini calon pelanggan telah mempunyai kemantapan yang tinggi 21 untuk membeli atau menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan. Saat ini beberapa ahli ekonomi telah menambah satu huruf lagi ke dalam AIDA, yaitu huruf S yang berarti Satisfaction sehingga menjadi AIDAS, hal ini dikarenakan konsumen yang merasa puas akan melakukan pembelian secara berulang. Selain itu, ada juga yang menambahkan huruf C yang berarti Conviction sehingga menjadi AIDAC, yaitu adanya keyakinan atau kepastian dari konsumen untuk melakukan pembelian. Bila kedua model ini digabungkan maka akan menjadi AIDACS. 2.8 Hubungan Antar Variabel Kualitas Produk (X) dengan Menat Beli Konsumen (Y) Setiap perusahaan berusaha untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen melalui produk yang ditawarkan, sedangkan konsumen mencari manfaat – manfaat tertentu yang ada pada suatu produk. Konsumen melihat setiap produk sebagai kumpulan dari sifat – sifat atau ciri – ciri tertentu yang tercermin dari kualitas yang melekat pada suatu produk. Sebagai dikemukakan oleh Kotler dan Amstrong (2012:158), faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen yaitu berupa stimuli yang berpengaruh menyangkut masalah pemasaran, produk atau yang berada dalam produk termasuk kualitas produk, harga, tempat, promosi, dan rangsangan lain seperti: ekonomi, keuangan, tekhnologi, politik, budaya, dsb. 2.9 Penelitian Sebelumnya Adapun penelitian sebelumnya terkait hubungan variabel kualitas produk dan minat beli konsumen dalam penelitian ini akan terangkum pada tabel berikut: 22 Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu Terkait Hubungan Variabel Kualitas Produk dan Minat Beli Konsumen No Peneliti Judul, Tahun, dan . 1. Variabel Sumber Penelitian Kesimpulan Kualitas • Rizki Pengaruh Ananda Produk terhadap Minat Beli Konsumen Tablet • iPad 2. Kurniasari Apple di Hasil dan Kualitas Variabel kualitas produk Produk Minat Beli Kota terhadap minat beli konsumen sebesar Bandung (2014) Sumber 83,6%, : dipengaruhi oleh http://repository.widyata variabel ma.ac.id lain. Kualitas • Pengaruh Produk dan Pelayanan Kualitas terhadap • Kualitas Produk (X1) sisanya yang Variabel X1 dan X2 berpengaruh Kualitas positif terhadap Y Minat Beli Konsumen Pelayanan dan variabel yang Waroeng Steak (X2) paling Bandung • Minat Beli berpengaruh Dipatiukur (2013) Sumber (Y) dibandingkan :http://repository.widyata variabel lainnya ma.ac.id adalah kualitas produk 3. Kamal Pengaruh kualitas produk • Kualitas Semakin Ghanimata terhadap minat beli kartu produk kualitas perdana Kouta Telkomsel • Minat beli maka di Widyatama Sumber Universitas (2014) : baik produk akan menciptakan minat beli yang 23 http://repository.widyata semakin tinggi ma.ac.id 4 Samsul Arifin Pengaruh kualitas produk • Kualitas Variabel X1 dan dan kualitas pelayanan X2 berpengaruh terhadap konsumen minat beli Alfamart Minimarket Cikutra di Bandung (2012) sumber: http://repository.widyata ma.ac.id Produk (X1) positif terhadap • Kualitas varibael Y dan pelayanan (X2) • Minat (Y) Variabel yang paling dominan beli mempengaruhi adalah kualitas pelayanan 2.7. Kerangka Pemikiran Kabupaten Kota Garut merupakan wilayah yang masih dalam tahap pembangunan yang diperuntukan bagi perkembangan taraf hidup masyarakat di Garut, khususnya dalam pembangunan perumahan-perumahan bagi masyarakat Kabupaten Kota Garut pada umumnya. Perumahan yang menawarkan hunian yang asri dan memiliki pemandangan city view kearah Kabupaten Kota Garut antara lain adalah perumahan Sari Wates Residence dan perumahan Grand View Residence yang berada dikawasan daerah pegunungan didaerah Tanjung Sari Garut, hingga pada saat penelitian ini sedang berlangsung masih dalam tahap pembangunan fase satu hingga fase dua. Perumahan-perumahan tersebut memiliki keunggulan kompetitif dari sudut pandang kualitas produk dari daya tahan yang dipakai, kesesuaian produk dengan spesifikasi yang ditawarkan terhadap konsumen, fitur tambahan yang ditawarkan kepada konsumen, kehandalan produk tersebut apabila telah digunakan, estetika dari produk yang ditawarkan kepada konsumen dan kesan kualitas apabila produk tersebut sudah diputuskan untuk dibeli. 24 Pada pilihan produk yang ditawarkan, dapat terlihat keunggulan kualitas produk dimiliki oleh perumahan Sari Wates Residence dengan kualitas rumah dan fasilitas yang ditawarkan, dibandingkan dengan pesaingnya yang akses jalan masuk kedalam perumahannya berhadapan dengan perumahan Sari Wates Residence yaitu perumahan Grand View Residence. Akan tetapi produk yang ditawarkan oleh perumahan Sari Wates Residence masih kurang mempengaruhi keputusan pembelian oleh para konsumen yang lebih memilih perumahan Grand View Residence, dimana penawaran dari kualitas produk dan fasiltias perumahan yang ditawarkan kepada konsumen masih dibawah dari penawaran yang ditawarkan oleh perumahan Sari Wates Residence. Hal tersebut menjadi menarik untuk diteliti oleh penulis, karena penulis menyadari adanya minat beli yang menjalani adanya proses seperti perhatian konsumen kepada suatu objek, ketertarikan konsumen terhadap suatu objek, hingga menghasilkan minat untuk melakukan tindakan pembelian terhadap rumah dikawasan perumahan Grand View Residence dimana perumahan Sari Wates Residence yang ada didepannya menawarkan produk yang memiliki kualitas dan fasilitas diatas dari perumahan tersebut. Oleh karena itu paradigma dalam penelitian ini dapat dilihat dari gambar berikut ini. 25 KUALITAS PRODUK Kotler (2012:203) • Bentuk produk • Ciri-ciri produk • Kinerja produk • Ketetapan atau kesesuaian produk • Daya tahan produk • Kehandalan produk • Desain produk • • • • MINAT BELI Kotler (2012:568) Attention Interest Desire Action Gambar 3.1. Gambar Kerangka Pemikiran 2.8. Hipotesis Penelitian Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan (Sugiyono 2015;134). Berdasarkan kerangka pemirkiran yang sudah dijabarkan dalam paradigma penelitian, maka hipotesis dalam penelitian ini, yaitu “Kualitas produk berpengaruh terhadap minat beli konsumen (Survey di kawasan Perumahan Sari Wates Residence)”. Dengan asumsi diluar factor X dianggap constant (Cateris Parigus).