skripsi perhitungan kapasitas dan tekanan kerja kompresor udara

advertisement
SKRIPSI
PERHITUNGAN KAPASITAS DAN TEKANAN KERJA
KOMPRESOR UDARA PADA SHEET METAL SHOP
DI SMK PENERBANGAN DIRGHANTARA
KECAMATAN LEGOK, TANGERANG
Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat
Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1)
Disusun Oleh :
Nama
NIM
Program Studi
: Ego Widoro
: 0130312-040
: Teknik Mesin
PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
JAKARTA
2007
LEMBAR PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini,
Nama
:
Ego Widoro
N.I.M
:
0130312 - 040
Program Studi :
Teknik Mesin
Fakultas
:
Teknik Industri
Judul Skripsi :
PERHITUNGAN KAPASITAS DAN TEKANAN
KERJA KOMPRESOR UDARA PADA SHEET METAL SHOP DI SMK
PENERBANGAN DIRGHANTARA
Dengan ini menyatakan bahwa hasil penulisan Skripsi yang telah saya buat ini
merupakan hasil karya sendiri dan benar keasliannya. Apabila ternyata di kemudian
hari penulisan Skripsi ini merupakan hasil plagiat atau penjiplakan terhadap karya
orang lain, maka saya bersedia mempertanggungjawabkan sekaligus bersedia
menerima sanksi berdasarkan aturan tata tertib di Universitas Mercu Buana.
Demikian, pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak
dipaksakan.
Penulis,
Ego Widoro
i
LEMBAR PENGESAHAN
PERHITUNGAN KAPASITAS DAN TEKANAN KERJA
KOMPRESOR UDARA PADA SHEET METAL SHOP
DI SMK PENERBANGAN DIRGHANTARA
KECAMATAN LEGOK, TANGERANG
Disusun Oleh :
Nama
N.I.M
Program Studi
Fakultas
:
:
:
:
Ego Widoro
0130312 - 040
Teknik Mesin
Teknik Industri
Mengetahui
Koordinator TA / KaProdi
Pembimbing
(Dr. Mardani, ST. M.Eng.)
(Ir. Ruli Nutranta, M.Eng.)
ii
ABSTRAKSI
Dalam skripsi ini penulis menganalisa Perhitungan Kapasitas dan Tekanan
Kerja Kompesor Udara pada Sheet Metal Shop di SMK Penerbangan
Dirghantara Kecamatan Legok, Tangerang. Pekerjaan – pekerjaan praktikum di
Sheet Metal Shop sebagian menggunakan peralatan yang menggunakan udara
bertekanan (air pressure) sebagai tenaga penggeraknya, sehingga dibutuhkan
kapasitas dan tekanan kerja kompresor yang cukup agar peralatan tersebut dapat
beroperasi dengan baik.
Kapasitas kompresor udara yang dibutuhkan dihitung dengan cara
menjumlahkan jumlah udara yang dikeluarkan oleh kompresor untuk mengerakkan
peralatan udara tekan dengan jumlah udara keluar dari sistem udara tekan karena
kebocoran yang diijinkan. Kapasitas kompresor untuk Sheet Metal Shop dengan
kapasitas 15 orang pada SMK Penerbangan Dirghantara direkomendasikan minimal
sebesar 0,03201m3/dtk (atau setara dengan 68 CFM; 1921 liter/menit; 116 m3/hour).
Tekanan kerja kompresor udara dihitung dengan cara menjumlahkan tekanan
kerja alat udara tekan dengan kerugian tekanan yang terjadi pada jaringan pipa. Ada
dua jaringan pipa yang ditawarkan kepada pihak SMK Penerbangan yang dapat
menjadi pilihan sesuai dengan luas ruangan yaiu jaringan pipa 1 dan jaringan pipa 2.
Tekanan kerja kompresor untuk Sheet Metal Shop dengan tekanan kerja alat udara
tekan sebesar 6,2 Bar pada SMK Penerbangan Dirghantara direkomendasikan
minimal sebesar 7,6 Bar (atau setara dengan 111 psi) untuk jaringan pipa 1 dan 7,8
Bar (setara dengan 114 psi) untuk jaringan pipa 2.
iii
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih maha penyayang.
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, nikmat dan hidayah-Nya, sehingga berkat pertolongan-Nya penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi dengan judul “PERHITUNGAN KAPASITAS DAN TEKANAN
KERJA KOMPRESOR UDARA PADA SHEET METAL SHOP DI SMK
PENERBANGAN DIRGHANTARA” ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
kelulusan penulis dalam mengikuti program pendidikan Strata I Jurusan Teknik
Mesin, Fakultas Teknik Industri di Universitas Mercu Buana.
Selama penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah memberikan perhatian,
bantuan dan dorongan semangat kepada penulis, yang tentunya sangat bermanfat dan
mendukung penulis. Untuk semua itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Ir. H. Suharyadi, MS. selaku Rektor Universitas Mercu Buana.
2. Bapak Ir. Yuriadi Kusuma, M.Eng. selaku Dekan Fakultas Teknik Industri
3. Ir. Ruli Nutranta, M.Eng. selaku Ketua Program Studi Teknik Mesin
4. Dr. Mardani, ST. M.Eng. selaku pembimbing
5. H. Djamidin selaku Kepala SMK Penerbangan Dirghantara beserta staff
6. Ibu tersayang, Istri tercinta, Kakak dan adik yang selalu memberikan
dorongan semangat serta doanya
7. Rekan - rekan mahasiswa jurusan teknik mesin PKSM angkatan IV
iv
8. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Semoga apa yang telah diberikan kepada penulis diterima oleh Allah SWT.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan skripsi ini masih
banyak terdapat kekurangan mengingat terbatasnya kemampuan penulis maka kritik
dan saran tetap penulis harapkan, tetapi penulis berusaha secara maksimal untuk
memberikan yang terbaik dalam penulisan ini dan semoga apa yang penulis uraikan
dalam skripsi ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Jakarta,
Mei 2007
Penulis
v
DAFTAR ISI
LEMBAR PERNYATAAN.........................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN.........................................................................................ii
ABSTRAKSI...............................................................................................................iii
KATA PENGANTAR................................................................................................iv
DAFTAR ISI...............................................................................................................vi
DAFTAR ISTILAH....................................................................................................ix
DAFTAR NOTASI...................................................................................................xiii
DAFTAR GAMBAR.................................................................................................xv
DAFTAR TABEL.....................................................................................................xvi
DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................................xvii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................1
1.2 Identifikasi Masalah.....................................................................................3
1.3 pembatasan Masalah.. ................................................................................ 4
1.4 Perumusan Masalah.....................................................................................4
1.5 Metodologi Penulisan..................................................................................5
1.6 Sistematika Penulisan..................................................................................5
1.7 Tujuan Penulisan.........................................................................................6
1.8 Manfaat Penulisan.......................................................................................6
vi
BAB II LANDASAN TEORI
2.1 Sheet Metal Shop.........................................................................................8
2.1.1 Peralatan di Sheet metal Shop............................................................8
2.1.2 Peralatan Sheet Metal Shop dengan tenaga penggerak
udara tekan........................................................................................11
2.1.3 Tata Ruang Sheet metal Shop...........................................................13
2.1.4 Jaringan Pipa Sheet metal Shop........................................................15
2.2 Meja Kerja pada Sheet metal Shop............................................................15
2.2.1 Area Permukaan Kerja......................................................................16
2.2.2 Persyaratan Jarak di Dalam Tempat Kerja.......................................17
2.2.3 Tinggi Permukaan Kerja...................................................................19
2.3 Konsumsi Udara........................................................................................20
2.4 Debit Aliran...............................................................................................21
2.5 Kapasitas Kompresor................................................................................22
2.6 Kebocoran pada Jaringan Pipa Udara Tekan.............................................23
2.7 Kerugian – Kerugian yang Terjadi pada Aliran Udara..............................24
2.7.1 Kerugian Aliran karena Gesekan......................................................24
2.7.2 Faktor gesekan ( f )..........................................................................25
2.7.3 Angka Reynolds ( R )........................................................................26
2.7.4. Kerugian – Kerugian Kecil Lainnya................................................27
vii
2.8 Pipa Seri.....................................................................................................28
2.9 Tinggi Tekan (Head).................................................................................29
2.10 Total Tinggi Tekan sebuah Kompresor..................................................29
BAB III PROSEDUR PRAKTIK SHEET METAL SHOP
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Kapasitas Kompresor.................................................................................33
4.1.1Kapasitas Kompresor Sesuai dengan Konsumsi Udara Puncak........34
4.1.2 Pengaruh Kebocoran pada Kapasitas Kompresor.............................34
4.2 Tekanan Kerja Kompresor.........................................................................35
4.2.1 Disain Bentuk Jaringan Pipa Sistem Udara Bertekanan Sheet
Metal Shop........................................................................................36
4.2.2 Kerugian Jaringan Pipa karena Gesekan..........................................48
4.2.3 Head Mesin Pneumatika...................................................................65
4.2.4 Tekanan Kerja Kompresor................................................................65
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.....................................................................67
5.1 Kesimpulan................................................................................................67
5.2 Saran..........................................................................................................67
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................69
LAMPIRAN – LAMPIRAN.....................................................................................70
viii
DAFTAR ISTILAH
Peserta didik
: Anggota Masyarakat ysng berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses
pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang
dan jenis pendidikan tertentu.
Sistem pendididkan nasional
: Keseluruhan komponen pendidikan yang
saling terkait secara terpadu untuk mencapai
tujuan pendidikan nasional
Satuan pendidikan
: Kelompok layanan pendidikan yang
menyelenggarakan
pendidikan
pada
jalur
formal, nonformal dan informal pada setiap
jenjang dan jenis pendidikan
CASR
: Peraturan Keselamatan penerbangan Sipil
AMO
: Organisasi perawatan pesawat udara yang
telah mendapat ijn dan diakui oleh pemerintah
untuk melaksanakan perawatan.
AMTO
: Organisasi pelatihan perawatan pesawat udara
yang telah mendapat ijin dan diakui oleh
pemerintah
ix
Sheet Metal
: Lembaran Logam, jenis lembaran logam yang
banyak dipakai di pesawat adalah aluminium,
baja dan titanium
Rivet
: Paku keling, salah satu jenis pengikat tetap
(sekali pakai)
Bolt
: Baut, salah satu jenis pengikat yang
menggunakan ulir sebagai media pengikatnya
dan berpasangan dengan mur
Screw
: Sekrup, salah satu jenis pengikat yang
menggunakan ulir sebagai media pengikatnya,
tidak berpasangan dengan mur dan membuat
ulir sendiri pada material yang diikat
Adhesive
: Perekat
Joint
: Sambungan, sambungan pada sheet metal
menggunakan rivet sebagai pengikatnya
Forming
: Membentuk, membentuk sheet metal meliputi,
Stretching, Shrinking, Folding, Crimping,
Bumping
Layout process
: Proses membuat pola pada benda kerja sesuai
dengan gambar teknik
Drilling process
: Proses memotong material untuk membuat
lubang berbentuk lingkarang
x
Deburring process
: Proses membersihkan lubang hasil drilling
dari sisa – sisa potongan yang belum terlepas
(burr)
Riveting process
: Proses pemasangan rivet
Inspection
: Pemeriksaan
Stretching
: Meregang, memanjangkan salah satu sisi
sheet
metal
sehingga
mudah
dibentuk
Contohnya: pada bagian luar bengkokan.
Shrinking
: Menekan atau memendekkan salah satu sisi
sheet
metal
sehingga
mudah
dibentuk
Contohnya: pada bagian dalam bengkokan
Bumping
: Pembentukan logam lunak menggunakan palu
Crimping
: Membuat lipatan kecil atau lipatan
bergelombang
Folding
: Membuaat lipatan pada lembaran atau pelat
logam
Human factor
: Pendekatan dari aplikasi sistematik dari
informasi relefan tentang kapabilitas, batas –
batas kemampuan, karakteristik, kelakuan dan
motivasi.
Area permukaan kerja (APK)
: Area horizontal yang dapat dijangkau oleh
manusia dewasa
xi
Area permukaan kerja normal
: Area yang dapat dijangkau dengan baik
dengan siku dari lengan bawah saat lengan
atas menggantung dalam posisi alami pada
side tubuh manusia
Area permukaan kerja maksimum
: Area yang dapat dijangkau oleh pemanjangan
lengan dari pundak
Peserta praktik
: Siswa atau peserta didik yang sedang
melaksanakan praktik
xii
DAFTAR NOTASI
A
=
Luas penampang (m2)
A1
=
Luas penampang titik 1 (m2)
A2
=
Luas penampang titik 2 (m2)
D
=
Diameter Pipa (m)
f
=
Faktor gesekan
hf
=
Kerugian karena gesekan (m)
hL1
=
Kerugian pipa 1 (karena gesekan dan fitting/kerugian kecil)
=
hf 1 + Le1 (m)
=
Kerugian pipa 2 (karena gesekan dan fitting/kerugian kecil)
=
hf 2 + Le 2 (m)
hLtotal
=
Kerugian Total (m)
htotal
=
Tinggi tekan total kompresor (m)
H
=
Tinggi Tekan (m)
H alat
=
Tinggi tekan alat (m)
K
=
Koefisien kerugian
L
=
Panjang Pipa (m)
Le
=
Kerugian kecil (m)
Q
=
Debit (m3/dtk)
hL2
xiii
R
=
Angka Reynolds
ν
=
Viscositas kinematik (m2/dtk)
V
=
Keceatan aliran (m/dtk)
V1
=
Kecepatan aliran titik 1 (m/dtk)
V2
=
Kecepatan aliran titik 2(m/dtk)
∈
=
Tingkat Kekasaran (mm)
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Pneumatic Hand drill dan Pneumatic Hand Riveting
………......…...12
Gambar 2.2 Pneumatic Hand drill dan Pneumatic Hand riveting terpasang
dan dilepas dari jaringan pipa.................................................................13
Gambar 2.3 Tata ruang Sheet Metal Shop...................................................................14
Gambar 2.4 Jaringan Pipa .....................................……………………….………….15
Gambar 2.5 Area Permukaan Kerja Orang Dewasa…………………………………16
Gambar 2.6 Area Permukaan Kerja Orang Dewasa……………………………...….18
Gambar 2.7 Tinggi Permukaan Kerja…………………………………..……………19
Gambar 4.1 Tata Letak Meja Kerja………………………………………………….38
Gambar 4.2 Labar Meja Kerja……………………………………………………….39
Gambar 4.3 Panjang Meja Kerja……………………………………………………..40
Gambar 4.4 Tinggi Meja Kerja……………………………………………………....41
Gambar 4.5 Jarak Antara Dua Meja………………………………………..………..42
Gambar 4.6 Ukuran Rencana Jaringan Pipa 1………...…………...…………...……43
Gambar 4.7 Ukuran Rencana Jaringan Pipa 2………………………...……………..46
Gambar 4.8 Rencana Jaringan Pipa 1……………………………...…………...……48
Gambar 4.9 Rencana Jaringan Pipa 2…………………………….…...……………..49
Catatan : Gambar 2.1 menunjukkan tabel yang terletak pada Bab II dengan urutan
tabel No 1
xv
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Peralatan Tangan yang dipakai untuk perawatan dan perbaikan
konstruksi rangka pesawat terbang di Sheet Metal Shop.............................9
Tabel 2.2 Peralatan Lantai yang dipakai untuk perawatan dan perbaikan
konstruksi rangka pesawat terbang di Sheet Metal Shop...........................11
Tabel 2.3 Area Permukaan Kerja Orang Dewasa……………………………………17
Tabel 2.4 Area Permukaan Kerja Orang Dewasa………………………………...….18
Tabel 2.5 Tinggi Meja Kerja…………………………………………………...…….20
Tabel 2.6 Spesifikasi alat pneumatika ..………………………………………..……21
Tabel 2.7 Tingkat Kekasaran……………………………………………...…………25
Tabel 2.8 Sifat Udara pada Tekanan Atmosfir………………………………...…….26
Tabel 2.9 K Penyusutan Tiba – Tiba………………………………………………..27
Tabel 2.10 K Jenis Kerugian……………….……………………………………….28
Catatan : Tabel 2.1 menunjukkan tabel yang terletak pada Bab II dengan urutan tabel
No 1
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1. SURAT KETERANGAN...............................................................70
LAMPIRAN 2. EOTO RUANGAN SHEET METAL SHOP...............................71
LAMPIRAN 3. FOTO JARINGAN PIPA SHEET METAL SHOP.....................72
LAMPIRAN 4. POSISI BADAN KETIKA MENGEBOR DENGAN
PNEUMATIC HAND DRILL.......................................................73
LAMPIRAN 5. SPESIFIKASI KOMPRESOR UDARA 1....................................74
LAMPIRAN 6. SPESIFIKASI KOMPRESOR UDARA 2....................................75
LAMPIRAN 7. SPESIFIKASI KOMPRESOR UDARA 3....................................76
LAMPIRAN 5. TABEL KONVERSI......................................................................77
xvii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengembangan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; berakhlak mulia; sehat;
berilmu; cakap; kreatif; mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis
serta bertanggung jawab telah menjadi tujuan sistem pendidikan nasional1,
sehingga penyelenggaraan pendidikan di Indonesia harus dapat mewujudkan
tujuan tersebut.
Salah satu perangkat penyelenggaraan pendidikan untuk mencapai
tujuan pendidikan nasional adalah adanya kurikulum yang merupakan rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang
digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu2. Pengembangan kurikulum agar lebih
efektif untuk mencapai tujuan harus disesuaikan dengan tuntutan dunia kerja3,
karena dengan demikian kualifikasi dan kompetensi lulusan sebagai calon
tenaga kerja yang terampil akan diterima di dunia kerja.
Perangkat penyelenggaraan pendidikan yang lain yang harus
disediakan oleh satuan pendidikan adalah sarana dan prasarana pendidikan
yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan
1
Undang – Undang Republik Indonesia no. 10 tentang Sistem Pendidikan Nasional. (Jakarta:
Dewan Perwakilam Rakyat dan Presiden Republik Indonesia, 2003) Pasal 3.
2
Ibid, Pasal 1
3
Ibid, Pasal 36
2
perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosial dan
kejiwaan peserta didik4.
Untuk menghasilkan lulusan sebagai calon tenaga kerja yang terampil
dan dapat diterima di dunia kerja pada bidang perawatan pesawat terbang
khususnya teknisi perawatan pesawat terbang di Indonesia penyelenggaraan
pendidikan dan pelatihannya telah diatur dalam Civil Aviation Safety
Regulation (CASR) atau Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil (PKPS)
part 147 tentang Aircraft Maintenance Training Organization atau Organisasi
Pelatihan Perawatan Pesawat Terbang yang dikeluarkan oleh Direktorat
Jendral Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan.
Salah satu sarana atau fasilitas yang harus disediakan oleh satuan
pendidikan untuk memenuhi kurikulum sesuai dengan CASR part 147 adalah
Sheet Metal Shop atau Bengkel Logam Pelat yaitu; bengkel praktik untuk
membentuk ketrampilan dasar perawatan rangka pesawat terbang. Pekerjaan–
pekerjaan praktik di Sheet Metal Shop banyak menggunakan peralatan yang
sebagian menggunakan udara bertekanan (air pressure) sebagai tenaga
penggeraknya, sehingga dibutuhkan kapasitas dan tekanan kerja kompresor
yang cukup.
Untuk memenuhi sarana pendidikan berupa Sheet Metal Shop sesuai
dengan CASR part 147 tersebut, SMK Penerbangan Dirghantara yang
beralamat di Komplek STPI kecamatan Legok, kabupaten Tangerang akan
membangun Sheet Metal Shop untuk kegiatan pratikum peserta didiknya,
4
Ibid, Pasal 45
3
sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Tertarik dengan hal tersebut maka
penulis mencoba membantu satuan pendidikan khususnya SMK Penerbangan
Dirghantara untuk menyelesaikan pembangunan Sheet Metal Shop melalui
skripsi yang berjudul: PERHITUNGAN KAPASITAS DAN TEKANAN
KERJA KOMPRESOR UDARA PADA SHEET METAL SHOP DI SMK
PENERBANGAN DIRGHANTARA
1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan maka penulis
mengidentifikasikan pada:
1. Apa pentingnya kapasitas langkah apa saja yang harus dilakukan
dalam penyelenggaraan pendidikan agar dapat mewujudkan tujuan
pendidikan nasional?
2. Bagaimana menyusun kurikulum yang sesuai dengan tuntutan
dunia kerja?
3. Seberapa
penting
pelaksanaan
CASR
part
147
dalam
penyelengaraan pendidikan bidang perawatan pesawat terbang?
4. Bagaimana menghitung kapasitas dan tekanan kerja kompresor
yang dibutuhkan pada Sheet Metal Shop?
5. Bagaimana meningkatkan kesadaran moral satuan pendidikan
untuk melengkapi sarana dan prasarana pendidikan?
4
1.3 Pembatasan Masalah
Dari beberapa permasalahan yang mungkin akan ditemui dalam
penulisan ini maka penulis membatasi hanya pada permasalahan “Bagaimana
menghitung kapasitas dan tekanan kerja kompresor yang dibutuhkan pada
Sheet Metal Shop?” Mengingat begitu banyak model kompresor yang ada di
pasaran, maka penulis membatasi juga hanya pada proses penghitungan
kapasitas dan tekanan kerja kompresor yang dibutuhkan dan tidak menentukan
atau mencari jenis kompresor dan komponen lainnya yang paling tepat serta
karena belum adanya rencana luas ruangan yang digunakan maka penulis
hanya membatasi pada kapasitas Sheet Metal Shop untuk 15 orang.
1.4 Perumusan Masalah
Dari pembatasan masalah di atas maka penulis merumuskan masalah
sebagai berikut:
1. Apa Sheet Metal Shop yang dimaksud?
2. Bagaimana menghitung konsumsi udara untuk mengoperasikan
peralatan?
3. Bagaimana menghitung kerugian-kerugian yang terjadi pada
saluran pipa udara bertekanan?
4. Bagaimana menghitung kapasitas dan tekanan kerja kompresor
yang dibutuhkan?
5
1.5 Metodologi Penulisan
Dalam menyusun penulisan metodologi penulisan yang penulis
lakukan adalah:
1. Observasi langsung ke lokasi rencana pembangunan Sheet Metal
Shop di SMK Penerbangan Dirghantara dan Sheet Metal Shop
yang sudah ada.
2. Menggunakan studi literatur dalam menghitung kebutuhan tekanan
kompresor pada Sheet Metal Shop dan menggunakan teori – teori
yang telah dipelajari pada perkuliahan sebelumnya.
3. Melakukan wawancara langsung kepada pihak - pihak yang
berkompeten dalam hal penulisan ini.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika dalam penulisan ini dibagi dalam beberapa bab, dan bab
terdiri dari bagian – bagian. Hal ini dimaksudkan agar mempermudah dalam
penulisan dan mempermudah memahaminya. Sistematikanya adalah sebagai
berikut:
BAB I
: PENDAHULUAN
Latar
Belakang,
Identifikasi
Masalah,
Pembatasan
Masalah, Perumusan Masalah, Metodologi Penulisan,
Sistematika Penulisan, Tujuan Penulisan, dan Manfaat
Penulisan
6
BAB II
: LANDASAN TEORI
Tinjauan Teori
BAB III
: PROSEDUR PRAKTIK SHEET METAL SHOP
BAB IV
: PEMBAHASAN
BAB V
: KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan, Saran
1.7 Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan ini adalah:
1. Mengetahuhi besar tekanan kompresor yang dibutuhkan untuk
melakukan pekerjaan pratikum pada sebuah Sheet Metal Shop
untuk kapasitas shop 15 orang.
2. Mengetahui besar kapasitas kompresor yang dibutuhkan pada
sebuah Sheet Metal Shop untuk kapasitas shop 15 orang.
1.8 Manfaat Penulisan
Penulisan yang penulis lakukan diharapkan berguna bagi:
1. Penulis, yaitu; Sebagai penerapan ilmu yang penulis dapatkan di
kelas mengenai keilmuan pada jurusan teknik mesin dan sebagai
persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan S I Teknik Mesin di
Universitas Mercu Buana.
7
2. Masyarakat, yaitu; Bermanfaat sebagai bahan pertimbangan dan
informasi bagi pihak SMK Penerbangan Dirghantara untuk
membangun Sheet Metal Shop dan menambah wawasan mengenai
aplikasi keilmuan teknik mesin dalam sebuah analisis bagi
pembacanya.
8
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sheet Metal Shop
Pesawat terbang terbentuk dari tiga unit utama, yaitu mesin pendorong,
rangka dan sistem. Setiap unit memiliki dan membutuhkan pengerjaan
perawatan untuk suatu periode penggunaan dan perbaikan untuk suatu
kerusakan yang berbeda – beda.
Badan, sayap utama, sayap penstabil dan permukaan kemudi terbang
adalah komponen rangka pesawat yang konstruksinya terbuat dari lembaran
logam (sheet metal) alumunium atau material lainnya yang disambung
menggunakan paku keling (rivet), baut (bolt), sekrup (screw) atau perekat
khusus (adhesive) membentuk konstruksi rangka pesawat.5
Pengerjaan khusus dalam perawatan dan perbaikan konstruksi rangka
pesawat tersebut di atas dilakukan dalam sebuah bengkel (shop) yang disebut
dengan Sheet Metal Shop.
2.1.1 Peralatan di Sheet Metal Shop
Agar dapat menunjang pelaksanaan perawatan dan perbaikan
komponen – komponen konstruksi rangka pesawat terbang, Sheet Metal
Shop harus dilengkapi dengan peralatan yang memadai. Peralatan pada
5
Flight Standard National Field Office, Federal Aviation Administration AIRFRAME
HANDBOOK (Oklahoma: Flight Standard National Field Office, Federal Aviation
Administration, 1972) hal. 146
9
Sheet Metal Shop dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu peralatan
tangan dan peralatan lantai.6
1. Peralatan Tangan
Peralatan tangan Sheet Metal Shop adalah peralatan yang
dipakai untuk pengerjaan perawatan dan perbaikan konstruksi rangka
pesawat terbang yang dioperasikan menggunakan tangan dan dapat
dipindahkan dengan mudah. Macam – macam peralatan tangan
tersebut dapat dilihat pada tabel 2.1 di bawah ini
Tabel 2.1 Peralatan Tangan yang dipakai untuk perawatan dan perbaikan
konstruksi rangka pesawat terbang di Sheet Metal Shop.
No
Nama Alat
1
Steel Rule
2
Drill
Fungsi
Pengukuran, membuat pola
pada Sheet Metal
Melubangi Sheet Metal
Tenaga Penggerak
-
Pengerak Drill, Reamer,
3
Pneumatic Hand Drill
Router,
Microstop
Udara bertekanan
Countersink Cutters.
4
5
6
Deburring Tools
Microstop
Membersihkan
lubang
hasil pengeboran
Countersink Membuat bentuk kerucut
Cutters
6
Cleco Clamps
7
Cleco Clamps Pliers
pada bagian atas lubang
Meluruskan lubang pada
dua Sheet Metal
Melepas dan
memasang
Tangan
-
Tangan
Bonacci Nick, AIRCRAFT SHEET METAL (Casper, A Plubication of IAP, Inc, 1987) hal.7
10
Cleco Clamps
8
Pneumatic Hand Rivet
Memasang paku keling
9
Rivet Cutters
Pemotong Rivet
Udara bertekanan
Tangan
Menahan bagian belakang
10
paku keling pada proses
Bucking Bar
-
pemasangan
Mengikis
11
Sheet
metal
untuk mendapatkan ukuran
Hand File
Tangan
dan bentuk yang sesuai
12
Hand Shears
Memotong Sheet Metal
Tangan
13
Nibblers
Memotong Sheet Metal
Tangan
14
Chassis Punches
15
Reames
16
Router
Membuat
lubang
yang
berdiameter kecil
Tangan
Memperbesar lubang yang
presisi
Memperbesar lubang
Menentukan
titik
-
pusat
lubang pada Sheet Metal
17
Hole Finder/Duplicator
dengan lubang pada Sheet
-
Metal yang lainnya sebagai
patokan
(Sumber :Aircraft Sheet Metal, A Publication of IAP, Inc)
2. Peralatan Lantai
Peralatan lantai Sheet Metal Shop adalah peralatan yang
dipakai untuk pengerjaan perawatan dan perbaikan konstruksi rangka
pesawat terbang yang diikat pada lantai atau meja dan tidak dapat
11
dipindahkan dengan mudah. Macam – macam peralatan lantai
tersebut dapat dilihat pada tabel 2.2 di bawah ini
Tabel 2.2 Peralatan Lantai yang dipakai untuk perawatan dan perbaikan
konstruksi rangka pesawat terbang di Sheet Metal Shop.
No
Nama Alat
Fungsi
Tenaga Penggerak
Tangan dan kaki /
1
Squaring Shears
Memotong Sheet Metal
2
Bending Brakes
Membengkok Sheet Metal
3
Slip Roller
Membuat
bentuk
kurva
Sheet Metal
Menggerakkan
4
hidrolika
Drill Press
Tangan
Tangan
Drill,
reamer, routers, Microstop
Listrik
countersink cutters
5
Combination Bend Saw
6
Electric Grinders
Membengkok
dan
memotong Sheet Metal
Mengasah Drill
Listrik
Listrik
(Sumber:Aircraft Sheet Metal, A Publication of IAP, Inc)
2.1.2 Peralatan Sheet Metal Shop dengan tenaga penggerak udara tekan
Dari Tabel 2.1 dan Tabel 2.2 di atas ada dua jenis alat yang
menggunakan
udara
bertekanan
sebagai
tenaga
penggeraknya,
spesifikasi kedua alat tangan tersebut akan digunakan untuk menghitung
kapasitas kompresor dan kebutuhan tekanan kompresor di sebuah Sheet
Metal Shop. Bentuk fisik kedua alat tersebut dapat dilihat pada gambar
2.1 dibawah ini:
12
Pneumatic hand drill
Pneumatic hand riveting
Gambar 2.1 Pneumatic Hand drill dan Pneumatic Hand riveting
Pada Gambar 2.1 di atas merupakan gambar Pneumatic Hand
drill dan Pneumatic Hand rivet ketika dilepas dari jaringan pipa udara
tekan. Pada jaringan pipa udara tekan dilengkapi dengan katup yang
akan tertutup ketika kedua alat ini tidak terpasang pada katup dan akan
terbuka ketika kedua alat ini terpasang pada katup. Hal tersebut
memungkinkan kedua alat ini bisa dilepas dari jaringan pipa udara tekan
tanpa mengosongkan udara tekan pada jaringan pipa terlebih dahulu
(lihat gambar 2.2)
13
mesin pneumatika dilepas
dari jaringan pipa
mesin pneumatika terpasang
pada jaringan pipa
Gambar 2.2 Pneumatic Hand drill dan Pneumatic Hand riveting
terpasang dan dilepas dari jaringan pipa
2.1.3 Tata Ruang Sheet Metal Shop
Sheet Metal Shop harus memiliki luas ruangan yang cukup untuk
menempatkan peralatan dan perlengkapan perbaikan Sheet Metal,
sehingga dibutuhkan tata ruang yang tepat agar proses pratikum dapat
berjalan dengan baik, terutama jika ruangan yang tersedia terbatas.
Pengaruh tata ruang terhadap kapasitas dan tekanan kerja kompresor
yang menjadi pembahasan dalam penulisan ini adalah tata ruang Sheet
Metal Shop menentukan panjang dan bentuk jaringan pipa udara tekan
yang mempengaruhi total kerugian saluran pipa dan tata ruang
menentukan kapasitas Sheet Metal Shop sehingga mempengarui
konsumsi udara bertekanan.
Tata ruang terutama tata letak meja perlu diperhatikan terhadap
kecelakaan karena faktor manusia (Human Factor), contoh tata letak
Sheet Metal Shop dapat dilihat pada gambar dibawah ini
14
5 '- 0 "
2 6 '- 0 "
9
8
5 '- 0 "
10
11
8
2
20'-0"
20'-0"
1
4
7
5
1
3 1 '- 0 "
6
3
Gambar 2.3 Tata ruang Sheet Metal Shop
(Sumber : Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia)
Gambar 2.3 adalah contoh tata ruang Sheet Metal Shop yang ada
pada Sekolah Tinggi penerbangan Indonesia. Keterangan Gambar 2.3:
1.
Meja Kerja
2.
Almari
3.
Almari
4.
Meja Instruktur praktik
5.
Tungku pemanas listrik dan bak pendingin
6.
Almari pendingin
7.
Squaring Shears
8.
Throatless Squaring Shears
9.
Slip Roller
10. Bending Brakes
11. Rak peralatan tangan
15
2.1.4 Jaringan Pipa Sheet Metal Shop
Pekerjaan – pekerjaan di dalam Sheet Metal Shop banyak
dikerjakan diatas meja kerja, pendistribusian udara bertekanan melalui
jaringan pipa besi yang kemudian dihubungkan melalui pipa fleksibel,
selanjutnya disalurkan kepada mesin pneumatika melalui sebuah katup
gerbang sehingga memungkinkan mesin pneumatika dapat dipasang dan
dilepas tanpa harus merusaknya.tampak pada gambar 2.4 di bawah ini:
Pipa baja
Pipa Fleksibel
Gambar 2.4 Jaringan pipa
2.2 Meja Kerja pada Sheet Metal Shop
Ukuran dan tata letak meja kerja yang memperhatikan kecelakaan
akibat human factor memerlukan ukuran yang tepat sehingga tidak ada
interferensi antara peserta praktik yang satu dengan yang lain. Dalam tiga
dimensi jangkauan tempat kerja, disain khusus perlu dibuat untuk beberapa
16
kegunaan tempat kerja, termasuk lokasi dan disain permukaan kerja yang
disediakan seperti meja kerja, almari, meja dan panel pengontrol.7
2.2.1 Area Permukaan Kerja
Untuk mendapatkan ukuran dan tata ruang yang aman
dibutuhkan ukuran area pekerjaan manuasia pada suatu tempat yang
merupakan area yang masih dapat dijangkau oleh manusia tersebut dan
sudah distandarkan. Area pekerjaan manusia dapat dilihat pada gambar
di bawah ini:
Gambar 2.5 Area permukaan Kerja Orang Dewasa
(Sumber: Human Factors In Engineering and Design, McGraw-Hill
International)
7
Sanders Mark S. dan Mc Cormick Ernest J. HUMAN FACTORS IN ENGINEERING AND
DESIGN (Singapore McGraw-Hill 1993) hal. 431
17
Dari Gambar 2.5 maka didapatkan data tentang area permukaan
kerja seperti pada tabel 2.3 berikut:
Tabel 2.3 Area permukaan Kerja Orang Dewasa
No.
Area Permukaan Kerja (APK)
Dalam inchi
Dalam cm
15.5
39,4
1
APK Normal depan
2
APK Maksimum depan
20
50,8
3
APK Maksimum kanan - kiri
59
150
4
APK Normal kanan - kiri
47
119,4
(Sumber: Human Factors In Engineering and Design, McGraw-Hill
International)
2.2.2. Persyaratan Jarak di Dalam Tempat Kerja
Selain area permukaan kerja dibutuhkan pula persyaratan jarak
yang ideal untuk mendapatkan tata letak meja kerja yang tidak
mengganggu mobilitas peserta praktik, hal ini merupakan sebuah
keharusan karena sesuatu saat ketika melakukan pekerjaan peserta
praktik akan berjalan dan berpindah tempat di dalam tempat praktik
sebagai contoh adalah ketika akan mengambil sesuatu yang berada jauh
dari posisi praktik yang telah ditentukan. Jarak di dalam tempat kerja
dapat dilihat pada gambar 2.6 berikut
18
A
B
C
D
Gambar 2.6 Area permukaan Kerja Orang Dewasa
(Sumber: Human Factors In Engineering and Design – McGraw-Hill
International)
Dari Gambar 2.6 maka didapatkan data tentang jarak di dalam
tempat kerja seperti pada tabel 2.4 berikut:
Tabel 2.4 Jarak di Dalam Tempat Kerja Orang Dewasa
Dalam Inchi
Normal Spesial
54
60
Dalam cm
Normal Spesial
137
152
No
Gambar
1
A
Min
42
2
B
30
36
36
76
92
92
3
C
27
36
40
69
92
102
4
D
36
40
44
92
102
112
Min
107
(Sumber: Human Factors In Engineering and Design, McGraw-Hill
International)
19
2.2.3 Tinggi Permukaan Kerja (Berdiri)
Pekerjaan – pekerjaan di atas meja kerja membutuhkan tinggi
meja kerja yang sesuai dengan jenis pekerjaan untuk mendapatkan
kondisi yang nyaman bagi pekerja atau peserta praktik, sehingga
memudahkan pekerja atau peserta praktik untuk melaksanakan
pekerjaannya. Tinggi meja kerja yang direkomendasikan dapat dilihat
pada gambar berikut.
Gambar 2.7 Tinggi Permukaan Kerja
(Sumber: Human Factors In Engineering and Design, McGraw-Hill
International)
Gambar 2.7 adalah gambar tinggi permukaan kerja yang
merupakan hubungan antara tinggi siku orang dewasa dengan jenis
pekerjaan, sedangkan tinggi meja kerja yang sudah distandarkan dapat
dilihat pada tabel 2.5 berikut:
20
Tabel 2.5 Tinggi Meja Kerja
Pekerjaan
Kerja Teliti
Kerja Ringan
Kerja Berat
Laki -laki
Tinggi Tetap
Inchi
cm
49,5
126
Tinggi dapat diatur
Inchi
cm
42 - 49,5 107 - 126
Perempuan
45,5
116
37 - 45,5
94 - 116
Laki -laki
42
107
34,5 - 42
88 - 107
Perempuan
38
96
32 - 38
81 - 96
Laki -laki
39
99
31,5 - 39
80 - 99
Perempuan
35
89
29 - 35
14 - 89
Jenis kelamin
(Sumber: Human Factors In Engineering and Design, McGraw-Hill
International)
2.3 Konsumsi Udara
Pada sebuah fluida yang mengalir terdapat energi bersih yang
dilakukan oleh elemen fluida terhadap lingkungannya selagi fluida tersebut
mengalir.8 Kerja aliran inilah yang memutar rotor pada mesin bor pneumatika
dan mengerakan peralatan – peralatan pneumatika Sheet Metal Shop lainnya.
Karena kerja aliran akan ada jika ada aliran dan aliran fluida yang telah
melakukan kerja dibuang ke udara bebas maka ada sejumlah udara yang
terpakai dan terbuang dari sumber aliran yang kemudian penulis namakan
dengan “konsumsi udara”.
8
Streeter Victor L. and Wylie E. Benjamin dialihbahasakan oleh Arko Prijono, M.S.E
MEKANIKA FLUIDA (Jakarta; Erlangga, 1999) hal. 101
21
Setiap peralatan pneumatika pada Sheet Metal Shop yang diputar atau
digeerakkan oleh kerja aliran memiliki konsumsi udara yang berbeda – beda
sesuai dengan berat tidaknya kerja yang dilakukan. Daftar spesifikasi
peralatan pneumatika pada Sheet Metal Shop dapat dilihat pada tabel 2.4
berikut:
Tabel 2.6 Spesifikasi alat pneumatika
No
1
Nama Alat
Pneumatic Hand Drill
Tekanan kerja
Konsumsi udara
Ukuran pipa fleksibel yang direkomendasikan
2
6,2 Bar
0.0018816 m3/dtk
7,9375 mm
Pneumatic Hand Rivet
Tekanan kerja
Konsumsi udara
Ukuran pipa fleksibel yang direkomendasikan
6,2 – 8,3 Bar
0.0019404 m3/dtk
7,9375 mm
(Sumber: Snap-on march 1980, april 1981 catalog)
2.4 Debit Aliran
Pada aliran fluida memiliki kecepatan dan melalui sebuah penampang,
hal ini dianmakan dengan debit aliran, demikian halnya dengan konsumsi
udara yang merupakan aliran fluida yang memiliki kecepatan dan melalui
22
sebuah penampang yang kemudian aliran tersebut dibuang ke udara bebas
maka konsumsi udara adalah debit aliran pada sebuah nosel. Debit aliran dapat
dinyatakan dengan
Q = A × V …………………………………..…………………(2.4.1) 9
Dimana:
Q
= Debit (m3/dtk)
A
= Luas penampang (m2)
V
= Keceatan aliran (m/dtk)
Jika aliran fluida melalui 2 titik penampang maka berlaku persamaan
kontinuitas :
Q = A1 × V1 = A2 × V2 ………………………………………….(2.4.2)10
Dimana:
A1
= Luas penampang titik 1 (m2)
V1
= Keceatan aliran titik 1 (m/dtk)
A2
= Luas penampang titik 2 (m2)
V2
= Keceatan aliran titik 2(m/dtk)
2.5 Kapasitas Kompresor
Kapasitas kompresor adalah debit penuh aliran gas yang ditekan dan
dialirkan pada kondisi suhu total, tekanan total, dan diatur pada saluran masuk
kompresor. Debit aliran yang sebenarnya, bukan merupakan nilai volume
aliran yang tercantum pada data alat, yang disebut juga pengiriman udara
bebas/ free air delivery (FAD) yaitu udara pada kondisi atmosfir di lokasi
9
Ibid hal. 103
Ibid hal. 103
10
23
tertentu. FAD tidak sama untuk setiap lokasi sebab ketinggian, barometer, dan
suhu dapat berbeda untuk lokasi dan waktu yang berbeda11.
2.6 Kebocoran pada Jaringan Pipa Udara Tekan
Kebocoran dapat menjadi sumber yang signifikan dari energi yang
terbuang dalam sistim udara bertekanan di industri, kadang-kadang
memboroskan 20 hingga 30 persen dari kapasitas kompresor. Sebuah
kompresor yang tidak terawat dengan baik mungkin akan memiliki laju
kebocoran setara 20 persen dari kapasitas produksi udara bertekanan total.12
Pendeteksian dan perbaikan kebocoran secara pro-aktif dapat
mengurangi kebocoran kurang dari 10 persen dari keluaran kompresor.
Disamping sebagai sumber pemborosan energi, kebocoran dapat juga
berkontribusi terhadap kehilangan operasi lainnya. Kebocoran menyebabkan
penurunan tekanan sistim, yang dapat membuat fungsi peralatan udara jadi
kurang efisien, memberi pengaruh yang merugikan terhadap produksi.
Lagipula, dengan memaksakan peralatan bekerja lebih lama, kebocoran akan
memperpendek umur hampir seluruh peralatan sistim (termasuk paket
kompresor itu sendiri). 13
Kebocoran akan dinyatakan dalam istilah persentase kehilangan dari
kapasitas kompresor. Persentase kehilangan kebocoran harus kurang dari 10
persen dalam sistim yang terawat dengan baik. Sistim yang perawatannya
11
United Nations Environment Programme (National Productivity Council, India. 2006) hal.8.
Ibid hal. 10
13
Ibid hal. 11
12
24
buruk dapat memiliki kehilangan setinggi 20 hingga 30 persen dari daya dan
kapasitas udaranya.14
2.7 Kerugian – Kerugian yang terjadi pada aliran udara
Aliran udara pada saluran pipa rentan terhadap kerugian – kerugian
yang dapat menyebabkan turunnya debit aliran dan tekanan. Setidaknya ada
dua jenis kerugian pada aliran udara yaitu; kerugian karena faktor gesekan
antara aliran udara dengan dinding pipa dan kerugian karena adanya
penyempitan dan perluasan penampang dan sambungan – sambungan lain
dalam jaringan pipa.
2.7.1 Kerugian Aliran Karena gesekan
Kerugian aliran karena gesekan dalam panjang pipa yang
mempunyai garis tengah dan kecepatan rata – rata dinyatakan dengan
persamaan Darcy-Weisbach
hf = f
L ×V 2
…………………….……………………..(2.7.1)15
D × 2g
Dimana:
14
hf
= Kerugian karena gesekan (m)
f
= Faktor gesekan
L
= Panjang Pipa (m)
D
= Diameter Pipa (m)
Ibid hal 12
Streeter Victor L. and Wylie E. Benjamin dialihbahasakan oleh Arko Prijono, M.S.E
MEKANIKA FLUIDA (Jakarta; Erlangga, 1999) hal. 202
15
25
2.7.2 Faktor gesekan ( f )
Faktor gesekan ( f ) adalah faktor tanpa dimensi yang diperlukan
untuk membuat persamaan tersebut memberikan harga kerugian yang
benar. Untuk f dengan nilai R = 5000 − 10 8 dan
∈
= 10 − 2 − 10 −6 dapat
D
digunakan persamaan berikut:
f =
1,325
[ln(∈ / 3,7 D + 5,74 / R )]
0.9
Dimana:
2
…………………………..(2.7.2)16
∈
= Tingkat Kekasaran (mm)
R
= Angka Reynolds
Tingkat kekasaran ( ∈ ) untuk jenis pipa tertentu dapat dilihat
pada tabel 2.7 berikut:
Tabel 2.7 Tingkat Kekasaran
No
1
Jenis Pipa
Baja dikeling
∈ , feet
0.003 – 0,03
∈ , mm
0,9 – 9,0
2
Beton
0,001 – 0,01
0,3 – 3,0
3
Papan kayu
00006-0,003
0,18 – 0,9
4
Besi tuang
0,00085
0,25
5
Besi digalbani
0,0005
0,15
6
Besi tuang beraspal besi/baja
0,0004
0,12
7
Tempa dagangan
0,00015
0,046
8
Tabung tarikan
0,000005
0,0015
(Sumber: Mekanika Fluida – Erlangga hal. 205)
16
Ibid hal.206
26
2.7.3 Angka Reynolds ( R )
Angka Reynolds ( R ) adalah angka tanpa dimensi untuk
menentukan kecenderungan aliran menjadi laminar atau turbulen.
Reynolds menemukan bahwa aliran selalu menjadi laminar bila
kecepatannya diturunkan sedemikian hinga nilai R < 2000 , Inilah nilai
R kritis bawah untuk aliran dalam praktek.17 Jika pada sebuah kasus
diketahui nilai debit ( Q ) maka angka Reynolds dapat dihitung
mengguanakan persamaan berikut:
R=
4Q
………………………………………….(2.7.3)18
π × D ×ν
ν = Viscositas kinematik (m2/dtk)
Dimana:
Nilai “ν “ udara pada temperature tertentu dapat dilihat pada tabel 2.8
berikut:
Tabel 2.8 Sifat Udara pada Tekanan Atmosfir
No
1
2
3
4
5
6
7
8
Suhu ( C)
Kerapatan ( ρ )
kg/m3
- 17,8
- 6,7
4,4
15,6
20
26,7
37,8
48,9
1,382
1,326
1,276
1,222
1,202
1,176
1,135
1,109
0
Viscositas
Viscositas
(µ )
dinamik
kinematik (ν )
2
m /dtk
Pa dtk
−5
1,57 × 10 −5
1,171 × 10
1,263
1,68
1,356
1,73
1,468
1,79
1,486
1,80
1,570
1,84
1,672
1,90
−5
1,95 × 10 −5
1,756 × 10
(Sumber: Mekanika Fluida dan Hidraulika Edisi ke-2 (SI metric),
Erlangga hal. 256)
17
18
Ibid hal. 177
Ibid hal. 206
27
2.7.4 Kerugian – Kerugian Kecil Lainnya.
Kerugian yang terjadi dalam jalur pipa karena belokan, siku,
sambungan, katup dan lainnya disebut dengan kerugian kecil (minor
losses). Kerugian tinggi tekan sebanding dengan kuadrat kecepatan Hal
ini pada pokoknya benar untuk kerugian dalam aliran turbulen. Suatu
cara yang mudah untuk menyatakan kerugian kecil ( Le ) dalam aliran
ialah dengan sarana koefisien K , yang biasanya ditentukan dengan
experiment.19
Le = K
V2
………………….…….……………………(2.7.1)20
2g
Dimana:
Le
= Kerugian kecil
K
= Koefisien kerugian
Nilai – nilai K untuk setiap jenis kerugian dapat dilihat pada
tabel 2.9 dan tabel 2.10 berikut:
Tabel 2.9 K Penyusutan Tiba - Tiba
No.
d1 d 2
K
No.
d1 d 2
K
1.
1,2
0,08
6
2,5
0,41
2
1,4
0,17
7
3,0
0,43
3
1,6
0,26
8
4,0
0,45
4
1,8
0,34
9
5,0
0,46
5
2,0
0,37
(Sumber: Mekanika Fluida dan Hidraulika Edisi ke-2 SI metric,
Erlangga hal. 260)
19
20
Ibid hal. 210
Ibid hal. 210
28
Tabel 2.10 K Jenis Kerugian
No
Jenis kerugian
K
1
Katup Bola (terbuka penuh)
10,0
2
Katup Sudut (terbuka penuh)
5,0
3
Katup searah ayun (terbuka penuh)
2,5
4
Katup gerbang (terbuka penuh)
0,19
5
Belokan balik berdekatan
2,2
6
T standar
7
Siku standar
0,9
8
Siku lekuk menengah
0,75
9
Siku lekuk panjang
0,60
1,50 – 2,0
(Sumber: Mekanika Fluida , Erlangga hal. 212)
2.8 Pipa Seri
Jika dua atau lebih pipa di hubungkan seri memiliki debit aliran yang
sama pada setiap pipa. Total kerugian adalah jumlah seluruh kerugian yang
terjadi pada tiap – tiap pipa dan fitting21. Hal itu dapat ditulis:
Q = Q1 = Q2 = Q3 ......................................................................(2.8.1)22
hLtotal = hL1 + hL2 + hL3 ..............................................................(2.8.2)23
Diamana: hLtotal = Kerugian Total (m)
21
Jain A. K. FLUID MECHANIC (Delhi; Khana Publishers, 1976) hal. 565
Ibid hal. 565
23
Ibid hal. 565
22
29
hL1
= Kerugian pipa 1 (gesekan dan fitting)
= hf1 + Le1 (m)
2.9 Tinggi Tekan (Head)
Head atau tinggi tekan digunakan untuk menyatakan tinggi suatu
kolom fluida homogen yang akan menghasilkan suatu kekuatan tekanan
tertentu.24
H =
P
…………………………………………………..(2.9.1)25
ρ×g
Dimana:
H
= Tinggi Tekan (m)
2.10 Total Tinggi Tekan sebuah Kompresor
Tinggi tekan yang dibutuhkan sebuah kompresor untuk menggerakan
sesuatu alat tidak hanya sebesar kebutuhan tinggi tekan alat tersebut, tetapi
juga dibutuhkan untuk melawan kerugian – kerugian yang terjadi pada pipa
distribusi antara kompresor dan alat tersebut. Total tinggi tekan kompresor
adalah:
htotal = H alat + hLtotal ...................................................................(2.10.1)26
Dimana :
htotal
= Tinggi tekan total kompresor (m)
H alat
= Tinggi tekan alat (m)
hLtotal = Kerugian Total (m)
24
Giles Ranald V. B.S., M.S., in CE. dialihbahasakan oleh Ir. Herman Widodo Soemitro
MEKANIKA FLUIDA dan HIDRAULIKA edisi kedua (SI Metrik) (Jakarta; Erlangga, 1993)
hal. 5
25
26
Ibid hal. 5
Jain A. K. FLUID MECHANIC (Delhi; Khana Publishers, 1976) hal. 560
30
BAB III
PROSEDUR PRAKTIK SHEET METAL SHOP
Sebagaimana telah dijelaskan pada latar belakang tulisan ini, bahwa untuk
mempersiapkan lulusan sebagai calon tenaga kerja yang terampil dan dapat
diterima di dunia kerja pada bidang perawatan pesawat terbang khususnya teknisi
perawatan pesawat terbang penyelenggara pendidikan harus menyediakan sarana
atau fasilitas yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Tidak terkecuali fasilitas
Sheet Metal Shop, pekerjaan – pekerjaan praktik pada Sheet Metal Shop yang
disediakan oleh penyelenggara pendidikan harus merupakan
pekerjaan –
pekerjaan untuk membentuk ketrampilan dasar perawatan dan perbaikan
konstruksi pesawat terbang yang dilakukan pada Sheet Metal Shop milik sebuah
Organisasi Perawatan Pesawat Terbang atau Approved Maintenance Organization
(AMO).
Sesuai dengan namanya pekerjaan pada Sheet Metal Shop yang disediakan
oleh satuan pendidikan terkait, merupakan pembentukan ketrampilan dasar bagi
peserta didik dalam pengerjaan perawatan dan perbaikan rangka pesawat terbang.
Pekerjan – pekerjan pada Sheet Metal Shop yang dimaksud dapat dibagi
menjadi dua kelompok pekerjaan dasar yaitu ikatan (joint) dan membentuk
(forming) Sheet Metal.
31
Joint adalah proses pekerjaan untuk menyambung atau mengikat Sheet
Metal. Semua ikatan menggunakan pengikat berupa Rivet, Bolt dan pengikat
khusus, tahapan pengerjaan seperti dibawah ini27 :
1. Membuat pola sesuai dengan gambar yang telah ditentukan (Layout
process)
2. Pemasangan pengikat, meliputi: pengeboran sesuai pola yang sudah
dibuat dengan diameter bor sesuai dengan diameter rivet yang akan
dipakai (Drilling Process), Membersikan lubang yang telah dibuat
(Deburring
Process)
dan
Pemasangan
Pengikat
(Riveting
Process/Fastening Process)
3. Pemeriksaan (Inspection)
Forming adalah pekerjaan membentuk Sheet Metal sesuai dengan bentuk
yang diinginkan, pekerjaan – pekerjaan yang dilakukan dalam proses Forming
antara lain membengkokkan (Bending), meregangkan (Streching), mengerutkan
(Shrinking), Membentuk Sheet Metal dengan proses pukulan palu (Bumping),
Membentuk Sheet Metal menjadi bergelombang (Crimping), Melipat Sheet Metal
(Folding) dan lain - lain28.
Dari dua kelompok pekerjaan dasar tersebut di atas kemudian akan di
kombinasikan melalui proses analisis dan disesuaikan dengan pedoman perawatan
dari pabrik pesawat terbang untuk diterapkan pada proses perawatan dan
perbaikan rangka pesawat.
27
Bonacci Nick, AIRCRAFT SHEET METAL (Casper, A Plubication of IAP, Inc, 1987) hal.27
Flight Standard National Field Office, Federal Aviation Administration AIRFRAME
HANDBOOK (Oklahoma: Flight Standard National Field Office, Federal Aviation
Administration, 1972) hal. 146
28
32
Pekerjaan – pekerjaan tersebut ada yang dapat dilakukan di dalam ruangan
dan ada pula yang harus dikerjakan di luar ruangan. Pekerjaan di dalam ruangan
dilaksanakan di dalam Sheet Metal Shop yang akan dibahas pada tulisan ini.
33
BAB IV
PEMBAHASAN
Sesuai dengan rencana pembangunan fasilitas Sheet Metal Shop di SMK
Penerbangan Dirghantara, SMK Penerbangan Dirghantara berencana membangun
Sheet Metal Shop dengan dua pilihan kapasitas, yang pertama untuk kapasitas 15
orang, yaitu untuk satu kelas berjumlah 30 siswa akan diberlakukan pergantian
waktu praktik untuk dua kelompok praktik yang berjumlah 15 orang, yang kedua
Sheet Metal Shop untuk kapasitas 30 orang, yaitu tidak ada pembagian kelompok
untuk kelas yang berjumlah 30 orang. Sesuai dengan pembatasan masalah pada
tulisan ini, maka dalam pembahasan bab ini penulis akan membahas hanya untuk
kapasitas 15 orang.
4.1 Kapasitas Kompresor
Kapasitas kompresor adalah debit penuh aliran gas yang ditekan dan
dialirkan pada kondisi suhu total, tekanan total, dan diatur pada saluran masuk
kompresor. Karena debit aliran sama dengan konsumsi udara maka kebutuhan
kapasitas kompresor adalah kebutuhan konsumsi udara puncak; yaitu
konsumsi udara dimana seluruh mesin bor pneumatika atau mesin pemasang
paku keling pneumatika beroperasi, sehingga berapapun jumlah mesin
pneumatika beroperasi kapasitas kompresor masih menyukupi untuk
mendistribusikan udara bertekanan ke seluruh mesin pneumatika yang
beroperasi.
34
4.1.1 Kapasitas Kompresor Sesuai dengan Konsumsi Udara Puncak
Berdasarkan tabel 2.3, mesin pneumatika yang membutuhkan
konsumsi udara terbesar adalah mesin pemasang paku keling yaitu
sebesar 0.00194 m3/dtk, hal ini dibutuhkan untuk mendapatkan konsumsi
udara puncak. Kapasitas kompresor sesuai dengan konsumsi udara
puncak adalah sebesar :
konsumsiudarapuncak = jumlah mesin × konsumsiudara
konsumsiudarapuncak = 15 × 0.00194 m3/dtk
konsumsiudarapuncak = 0.0291 m3/dtk
Kapasitas kompresor = konsumsiudarapuncak
Kapasitas kompresor = 0.0291 m3/dtk
4.1.2 Pengaruh Kebocoran pada Kapasitas Kompresor
Kapasitas kompresor tidak hanya dipengaruhi oleh konsumsi
udara mesin yang dipakai tetapi dipengaruhi juga oleh kebocoran yang
terjadi pada sistem udara bertekanan seperti Sheet Metal Shop, karena
kebocoran sebagai sumber pemborosan energi, berkontribusi terhadap
kehilangan operasi, menyebabkan penurunan tekanan sistim yang dapat
membuat fungsi peralatan udara jadi kurang efisien dan memberi
pengaruh yang merugikan terhadap produksi. Sehingga kapasitas
kompresor yang dibutuhkan merupakan hasil penjumlahan dari
konsumsi udara puncak dan kebocoran sistem udara bertekanan pada
35
Sheet Metal Shop sehingga kinerja alat lebih efisien karena energinya
tidak hilang oleh kebocoran yang terjadi.
Persentase kehilangan kebocoran pada sistem udara tekan harus
kurang dari 10 % dalam sistim yang terawat dengan baik. Sheet Metal
Shop
merupakan sistem udara bertekanan sehingga persentase
kehilangan pada Sheet Metal Shop tidak boleh lebih dari 10 %.
Besarnya kapasitas kompresor hasil perhitungan diatas belum
termasuk di dalamnya kehilangan energi yang disebabkan oleh
kebocoran sistem udara bertekanan pada Sheet Metal Shop. Karena
kehilangan tersebut tidak boleh lebih dari 10 % maka,
Kapasitas kompresortotal > konsumsiudarapuncak + (10% × konsumsiudarapuncak )
Kapasitas kompresortotal > 0.0291 + (10% × 0.0291)
Kapasitas kompresortotal > 0.0291 + (0.00291)
Kapasitas kompresortotal > 0.03201 m3/dtk
4.2 Tekanan Kerja Kompresor
Sistem udara bertekanan separti pada Sheet Metal Shop akan
mendistribusikan udara bertekanan pada mesin pneumatika sebagai sumber
energi
penggeraknya,
sehingga
dibutuhkan
jarigan
pipa
untuk
mendistribuskannya. Aliran fluida dalam hal ini adalah udara dalam jaringan
pipa dari sumber udara bertekanan yaitu kompresor ke mesin – mesin
pneumatika memiliki kelemahan yaitu kerugian – kerugian tinggi tekan
36
sehingga tekanan aliran udara pada mesin pneumatika akan lebih rendah
dibandingkan tekanan aliran udara, sedangkan setiap mesin pneumatika
memiliki tekanan kerja yang telah ditentukan oleh pabrik pembuat sehingga
mesin dapat bekerja dengan baik jika tekanan kerjanya terpenuhi. Kerugian –
kerugian yang terjadi ini tidak dapat dihilangkan sehingga dibutuhkan
perhitungan untuk mendapatkan harga tekanan kompresor yang tepat agar
tekanan kerja mesin pneumatika dapat terpenuhi walaupun kerugian tinggi
tekan tetap terjadi pada aliran fluida dalam jaringan pipa.
Dalam menghitung tekanan kerja kompresor terlebih dahulu penulis
akan menghitung kerugian – kerugian yang terjadi pada jaringan pipa dan
karena belum ada rencana bentuk jaringan pipa yang dipakai oleh SMK
Penerbangan Dirghantara penulis mencoba untuk membantu untuk membuat
disain rencana jaringan pipa pada Sheet Metal Shop yang berkapasitas 15
orang.
4.2.1 Disain Bentuk Jaringan Pipa Sistem Udara Tekan Sheet Metal Shop
Pada bab 2 landasan teori telah dijelaskan bahwa pelaksanaan
praktik di Sheet Metal Shop dilaksanakan di suatu ruangan yang
memiliki sistim udara bertekanan yang dididtribusikan ke setiap peserta
praktik untuk menggerakkan mesin pneumatika, yang mana setiap
peserta praktik akan diberikan satu pipa fleksibel yang dilengkapi
dengan katup gerbang keluaran sehingga mesin dapat dilepas dari
jaringan pipa dan disimpan. Disain bentuk jaringan pipa sistem udara
37
bertekanan pada Sheet Metal Shop dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain:
1. Tata letak meja kerja
2. Disain ukuran meja kerja
3. Jarak antara dua meja kerja
1. Tata Letak Meja Kerja
Salah satu faktor yang mempengaruhi jaringan pipa sistem
udara bertekanan pada Sheet Metal Shop adalah tata letak meja kerja,
sedangkan tata letak sangat dipengaruhi oleh kapasitas, hal tersebut
berpengaruh pada panjang, lebar dan luas ruangan Sheet Metal Shop.
Dikarenakan belum ada rencana ukuran panjang, lebar dan luas
ruangan pada rencana pembangunan Sheet Metal Shop oleh SMK
Penerbangan Dirghantara maka akan didapatkan bentuk dan tata
letak meja kerja yang beragam, contoh bentuk dan tata letak yang
mungkin menjadi pilihan dapat dilihat pada gambar 4.1 dibawah ini :
38
(A)
(C)
(B)
Meja
Kerja
Dinding
Peserta
Praktiuk
(D)
Gambar 4.1 Tata Letak Meja Kerja
Gambar 4.1 adalah contoh tata letak meja kerja untuk Sheet
Metal Shop dengan kapasitas 15. Tata letak meja kerja pada gambar
4.1(A) sangat cocok untuk bentuk ruangan yang panjang dengan
lebar ruangan yang sempit tetapi ruangan menjadi tidak nyaman
karena ruangan yang sempit serta kinerja para peserta didik lebih
sulit dipantau. Gambar 4.1 (B) dan (C) memiliki karakteristik bentuk
dan ukuran ruangan yang hampir sama tetapi tata letak meja kerja
(C) lebih komunikatif karena peserta didik bekerja dengan
berhadapan dan pengawasan oleh guru praktik lebih mudah. Gambar
4.1 (D) membutuhkan jaringan pipa yang lebih sulit dibandingkan
39
dengan gambar (C) karena meja kerja yang terpisah dan tepat untuk
ruangan yang lebih lebar, sehingga dengan alasan tersebut penulis
memilih tata letak meja kerja gambar 4.1 (C) atau (D) sebagai pilihan
pada pembahasan tekanan kerja kompresor dalam Sheet Metal Shop
dengan kapasitas 15 orang.
2. Disain Ukuran Meja Kerja
Faktor selanjutnya adalah meja kerja, Panjang meja kerja
ditentukan oleh jarak area permukaan kerja normal kiri dan kanan
serta jumlah pekerja dalam satu deret. Lebar meja kerja ditentukan
oleh area permukaan kerja maksimum depan. Tinggi meja kerja
ditentukan oleh jenis pekerjaan yang dilakukan. Lebar meja kerja
dapat dilihat pada gambar 4.2 berikut:
50,8 cm
101,6 cm
Meja Kerja
50,8 cm
Peserta didik
(praktik)
Gambar 4.2 Lebar Meja Kerja
40
Pada gambar 4.2 Jarak area permukaan kerja maksimum
depan yang penulis pakai pada disain ukuran meja kerja sebesar 50,8
cm adalah jangkauan tangan terjauh manusia dewasa ketika berdiri
tegak (lihat tabel 2.3 dan gambar 2.5) sehingga diharapkan ketika
peserta
didik
sedang
melaksanakan
praktik
tidak
sampai
mengganggu dan membahanyakan peserta praktik yang ada
didepannya.
Panjang meja kerja sangat tergantung pada jumlah peserta
praktik sepanjang meja, makin banyak peserta praktik dalam satu
baris meja maka akan semakin panjang meja kerja yang harus dibuat,
sedangkan makin panjang meja maka akan makin panjang pipa pada
sistem udara bertekanan yang dipakai dan makin luas ruangan yang
dibutuhkan, sehingga untuk menentukan panjang meja penulis
berusaha untuk menghemat ukurannya tetapi tetap menggunakan
kaidah – kaidah keamanan. Panjang meja kerja dapat dilihat pada
gambar 4.3 berikut:
Meja Kerja
Peserta
Praktik
8 x 119.4 cm
955.2 cm
Gambar 4.3 Panjang Meja Kerja
41
Pada gambar 4.3 penulis menggunakan area permukaan kerja
normal kanan dan kiri manusia dewasa yang menjadi standar daerah
yang masih dapat dijangkau oleh seseorang dalam kondisi normal
(lihat tabel 2.3 dan gambar 2.5), yaitu 119.4 cm. Karena satu deret
meja kerja berjumlah 8 orang maka total panjangnya adalah:
Panjang meja = Jumlah perDeret × AreaPermukaanKerja kanan&kiri
Panjang meja = 8 × 119,4
Panjang meja = 955,2 cm
Tinggi meja kerja sangat tergantung pada jenis pekerjaan
karena jenis pekerjan membutuhkan kondisi yang berbeda – beda,
untuk pekerjaan – pekerjaan berat membutuhkan kekuatan yang lebih
besar. Pekerjaan praktik yang dilakukan pada Sheet Metal Shop
merupakan pekerjaan – pekerjaan berat sehingga posisi meja kerja
yang paling tepat untuk pekerjaan – pekerjaan berat adalah di bawah
siku orang dewasa yang kemudian distandarkan menjadi 99 cm dari
lantai seperti pada gambar 4.4
99 cm
Gambar 4.4 Tinggi Meja Kerja
42
3. Jarak antara Dua Meja Kerja
Pada tata letak meja gambar 4.1 (D) diperlukan jarak yang
tepat antara kedua meja kerja sehingga memungkinkan dilalui oleh
dua orang yang bersimpangan dari dua arah dengan aman tanpa
terganggu atau menggangu peserta didik yang sedang bekerja
sehingga mobilitas di dalam Shop tidak tergangggu. Ada dua unsur
jarak untuk memenuhi alasan diatas, yang pertama adalah jarak dua
orang yang bersimpangan, yang kedua area permukaan kerja (lihat
gambar 4.5)
Meja Kerja
Peserta
Praktik
50.8 cm
107 cm 208.6 cm
50.8 cm
Gambar 4.5 Jarak antara dua meja
43
Jarak meja = (2 × AreaPermukaanKerja) + Jarak persimpangan
Jarak meja = (2 × 50,8) + 107
Jarak meja = 208,6 cm
Tata letak dan ukuran meja kerja merupakan dasar untuk
membuat jaringan pipa di Sheet Metal Shop, karena udara bertekanan
akan didistribusikan ke seluruh posisi peserta praktik, dari tata letak dan
ukuran meja kerja yang telah dibahas sebelumnya dihasilkan jaringan
pipa sistem udara tekan seperti pada gambar 4.6 berikut :
119,4 cm
119,4 cm
400 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
835,8 cm
Tampak atas
Pipa fleksibel
Meja kerja
Percabangan
40 cm
Lantai
Jaringan Pipa
Tampak depan
Gambar 4.6 Ukuran Rencana Jaringan Pipa 1
44
Telah dibahas sebelumnya pada pembahasan tentang tata letak
dan ukuran meja kerja bahwa satu deret meja kerja berjumlah 8 peserta
praktik
dan
saling
berhadapan
antara
dua
sisi
meja,
untuk
mendistribusikan ke seluruh posisi peserta praktik jaringan pipa gambar
4.1 (C) dibuat seperti pada gambar 4.6 selanjutnya diberi nama jaringan
pipa 1. Pada gambar tampak atas, pendistribusian udara bertekanan
disesuaikan dengan area permukaan kerja yang telah dibahas
sebelumnya dan ditambah dengan panjang pipa menuju kompresor yang
merupakan panjang asumsi penulis karena lokasi kompresor belum
diketahui (disesuaikan dengan ruangan)
PanjangPipa distribusi = Jarak peserta Pr aktikum + Panjang kekompresor (asumsi )
PanjangPipa distribusi = (7 × 119,4) + 400
PanjangPipa distribusi = (835,8) + 400
PanjangPipa distribusi = 1235,8 cm
Dengan alasan keamanan, kerapian dan disesuaikan dengan
bentuk Pneumatic Hand Drill dan Pneumatic Hand Rivet (lihat gambar
2.1) jaringan pipa diletakkan pada lorong – lorong di bawah lantai
seperti tampak pada gambar 4.6 tampak depan, untuk mendistribusikan
udara bertekanan dibuat percabangan ke atas. Panjang pipa perpanjangan
40 cm adalah asumsi penulis karena panjangnya menyesuaikan dengan
kedalaman lorong dan tinggi pipa yang tampak di atas lantai. Demikian
45
juga untuk panjang pipa fleksibel yang penulis pakai adalah 3 m setelah
penulis melakukan peragaan langsung untuk mendapatkan panjang pipa
yang cukup, dalam arti tidak terlalu panjang dan tidak terlalu pendek
sehingga mengganggu peserta praktik untuk melaksanakan praktik di
Sheet Metal Shop.
Jaringan pipa untuk tata letak gambar 4.1 (D) memiliki jarak
antara pipa percabangan ke atas yang satu dengan yang lain sama seperti
dengan jaringan pipa 1. Sama halnya jaringan pipa untuk tata letak
gambar 4.1 (C) bentuk jaringan pipa gambar 4.1 (D) menyesuaikan
dengan tata letak meja kerja, bentuk jaringan pipa tersebut dapat dilihat
pada gambar 4.7 selanjutnya diberi nama jaringan pipa 2
46
155,1 cm
800
600cm
cm
155,1 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
835,8
358,2cm
cm
Tampak Atas
Tampak Depan
Gambar 4.7 Ukuran Rencana Jaringan Pipa 2
119,4 cm
47
Sesuai dengan gambar 4.1 (D) tiap deret pada tiap meja
berjumlah 4 peserta praktik dan saling berhadapan antara dua sisi meja.
Pada gambar 4.6 tampak atas, pendistribusian udara bertekanan
disesuaikan dengan area permukaan kerja yang telah dibahas
sebelumnya, sedangkan jarak antara dua pipa yang sejajar merupakan
penjumlahan dari setengah lebar meja kerja, area permukaan kerja depan
dan jarak dua orang yang sedang bersimpangan dari dua arah. Panjang
pipa menuju kompresor merupakan panjang asumsi penulis karena lokasi
kompresor belum diketahui (disesuaikan dengan ruangan).
PanjangPipa paralel = (2 × AreaPermukaanKerja) +
Persimpangan + (2 × 1 / 2 MejaKerja)
PanjangPipa pararel = (2 × 50,8) + 107 + (2 × 50,8)
PanjangPipa pararel = 310,2 cm
PanjangPipatotal = (6 × AreaPermukaanKerja) +
PanjangPipa pararel + PanjangPipa kekompresor (asumsi )
PanjangPipatotal = (2 × 119,4) + 310,2 + 600
PanjangPipatotal = 1626,6 cm
Gambar 4.6 tampak depan memiliki bentuk yang sama dengan
jaringan pipa untuk tata letak gambar 4.1 (C) setiap mejanya sehingga
tidak perlu dibahas.
48
4.2.2 Kerugian Jaringan Pipa
Kondisi aliran udara yang terjadi pada tiap – tiap bagian
jaringan pipa akan berbeda – beda tergantung pada debit bagian tersebut,
untuk memudahkan dalam menghitung kerugian jaringan pipa karena
gesekan maka tiap bagian pada jaringan pipa diberi kode seperti gambar
4.7 dan 4.8 di bawah ini
400 cm
I
119,4 cm
H
119,4 cm
G
119,4 cm
F
119,4 cm
E
119,4 cm
835,8 cm
D
119,4 cm
C
119,4 cm
Tampak atas
Pipa fleksibel
Meja kerja
40Acm
Lantai
Jaringan Pipa
Tampak depan
Gambar 4.8 Rencana Jaringan Pipa 1
B
49
Ocm
155,1
800
P cm
155,1
Ocm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
119,4 cm
N
M cmL
835,8
K
119,4 cm
Tampak Atas
J
Tampak Depan
Gambar 4.9 Rencana Jaringan Pipa 2
119,4 cm
50
1. Distribusi Debit Jaringan Pipa 1
Distribusi debit pada jaringan pipa 1 dengan asumsi semua
mesin pneumatika dioperasikan oleh setiap peserta praktik adalah
sebagai berikut:
QPipafleksibel = konsumsiUdara
QPipafleksibel = 0,00194 m3/dtk
Q A = 2 × QPipafleksibel = 0,00388 m3/dtk
QB = Q A = 0,00388 m3/dtk
QC = 2 × Q A = 0,00776 m3/dtk
QD = 3 × Q A = 0,01164 m3/dtk
QE = 4 × Q A = 0,01552 m3/dtk
QF = 5 × Q A = 0,0194 m3/dtk
QG = 6 × Q A = 0,0233 m3/dtk
QH = 7 × Q A = 0,0272 m3/dtk
QI = 15 × QPipafleksibel = 0,0291 m3/dtk
2. Distribusi Debit Jaringan Pipa 2
Distribusi debit pada jaringan pipa 2 dengan asumsi semua
mesin pneumatika dioperasikan oleh setiap peserta prektikum adalah
sebagai berikut:
51
QPipafleksibel = konsumsiUdara
QPipafleksibel = 0,00194 m3/dtk
Q J = Q A = 2 × QPipafleksibel = 0,00388 m3/dtk
QK = Q J = Q N = Q A 0,00388 m3/dtk
QL = 2 × Q K = QM = QC = 0,00776 m3/dtk
QO = 4 × QK = QE = 0,01552 m3/dtk
QP = 15 × QPipafleksibel = 0,0291 m3/dtk
3. Distribusi Kecepatan Jaringan Pipa 1
Distribusi kecepatan pada jaringan pipa 1 dengan asumsi
semua mesin pneumatika dioperasikan oleh setiap peserta prektikum
adalah sebagai berikut:
Q = A ×V
VPipaflexibel =
VA =
0,00194
= 39,192 m/dtk
π 4 × 0,00794 2
0,00388
= 15,276 m/dtk
π 4 × 0,018 2
VB = V A
VC =
0,00776
= 30,511 m/dtk
π 4 × 0,018 2
VD =
0,01164
= 45,827 m/dtk
π 4 × 0,018 2
52
VE =
0,01552
= 61,102 m/dtk
π 4 × 0,018 2
VF =
0,0194
= 76,378 m/dtk
π 4 × 0,018 2
VG =
0,0233
= 91,653 m/dtk
π 4 × 0,018 2
VH =
0,0272
= 107,087 m/dtk
π 4 × 0,018 2
VI =
0,0291
= 114,567 m/dtk
π 4 × 0,018 2
4. Distribusi Kecepatan Jaringan Pipa 2
Distribusi kecepatan pada jaringan pipa 2 dengan asumsi
semua mesin pneumatika dioperasikan oleh setiap peserta praktik
adalah sebagai berikut:
Q = A ×V
VPipaflexibel =
VJ = V A
0,00194
= 39,192 m/dtk
π 4 × 0,00794 2
0,00388
= 15,276 m/dtk
π 4 × 0,018 2
VK = V J = V N = V A = 15,276 m/dtk
VL = VM = VC
0,00776
= 30,511 m/dtk
π 4 × 0,018 2
53
VO = VE =
0,01552
= 61,102 m/dtk
π 4 × 0,018 2
VP = VI =
0,0291
= 114,567 m/dtk
π 4 × 0,018 2
5. Distribusi Kerugian karena Gesekan Jaringan Pipa 1
Distribusi Kerugian karena gesekan pada jaringan pipa 1
dengan asumsi semua mesin pneumatika dioperasikan oleh setiap
peserta praktik adalah sebagai berikut:
R=
f =
4×Q
π × D ×ν
1,325
[ln(∈ / 3,7 × D + 5,74 / R )]
hf = f
0,9
2
L ×V 2
D × 2g
Kerugian karena gesekan ( hf ) pada pipa fleksibel:
R Pipafleksibel =
f Pipafleksibel =
4 × 0,00194
= 19831
π × 0,0079375 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,0015 / 3,7 × 7,9375 + 5,74 / 19831 )]
f Pipafleksibel = 0,0543
0,9
2
54
L = 15 × 3 = 45 m
hf Pipafleksibel = 0,0543 ×
45 × 39,192 2
= 7673 m
3,14 × 0,00794 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian A:
RA =
fA =
4 × 0,00388
= 17490
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 17490 )]
0,9
2
f A = 0,0458
L = 8 × 0,40 = 3,2 m
hf A = 0,0458 ×
3,2 × 15,276 2
= 31 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian B:
R B = R A = 17490
f B = f A = 0,0458
hf B = 0,0458 ×
1,194 × 15,276 2
= 12 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian C:
RC =
4 × 0,00776
= 34980
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
55
fC =
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 34980 )]
0,9
2
f C = 0,0443
hf C = 0,0443 ×
1,194 × 30,5512
= 45 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian D:
RD =
fD =
4 × 0,01164
= 54470
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 54470 )]
0,9
2
f D = 0,0437
hf D = 0,0437 ×
1,194 × 45,827 2
= 99 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian E:
RE =
fE =
4 × 0,01552
= 69960
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 69960 )]
0 ,9
2
f E = 0,0435
hf E = 0,0435 ×
1,194 × 61,102 2
= 175 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
56
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian F:
RF =
fF =
4 × 0,0194
= 87450
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 87450 )]
0 ,9
2
f F = 0,0433
hf F = 0,0433 ×
1,194 × 76,3782
= 272 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian G:
RG =
fG =
4 × 0,0233
= 105030
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 105030 )]
0 ,9
2
f G = 0,0432
hf G = 0,0432 ×
1,194 × 91,6532
= 391 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian H:
RH =
fH =
4 × 0,0272
= 122610
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 122610 )]
0,9
2
57
f H = 0,0431
hf H = 0,0431 ×
1,194 × 106 2
= 521 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian I:
RI =
fI =
4 × 0,0291
= 131175
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 131175 )]
0,9
2
f I = 0,0430
hf I = 0,0430 ×
4 × 114,567 2
= 2036 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Sehingga kerugian karena gesekan ( hf ) aliran udara jaringan
pipa 1 adalah:
hf total = hf Pipafleksibel + hf A + hf B + hf C + hf D + hf E + hf F + hf G
+ hf H + hf I
hf total = 7673 + 31 + 12 + 45 + 99 + 175 + 272 + 391 + 521 + 2036
hf total = 11255 m
58
6. Distribusi Kerugian karena Gesekan Jaringan Pipa 2
Distribusi Kerugian karena gesekan pada jaringan pipa 2
dengan asumsi semua mesin pneumatika dioperasikan oleh setiap
peserta praktik adalah sebagai berikut:
R=
f =
4×Q
π × D ×ν
1,325
[ln(∈ / 3,7 × D + 5,74 / R )]
hf = f
0,9
2
L ×V 2
D × 2g
Kerugian karena gesekan ( hf ) pada pipa fleksibel:
R Pipafleksibel =
f Pipafleksibel =
4 × 0,00194
= 19831
π × 0,0079375 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,0015 / 3,7 × 7,9375 + 5,74 / 19831 )]
0,9
2
f Pipafleksibel = 0,0543
L = 15 × 3 = 45 m
hf Pipafleksibel = 0,0543 ×
45 × 39,192 2
= 7673 m
3,14 × 0,00794 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian J
RJ = R A =
4 × 0,00388
= 17490
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
59
fJ = fA =
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 17490 )]
0 ,9
2
f J = f A = 0,0458
L = 8 × 0,40 = 3,2 m
hf J = hf A = 0,0458 ×
3,2 × 15,276 2
= 31 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian K dan N:
R K = R N = R A = 17490
f K = f N = f A = 0,0458
hf K = f N = hf B = 0,0458 ×
1,194 × 15,276 2
= 12 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian L dan M:
R L = RM = RC =
f L = fM = fC =
4 × 0,00776
= 34980
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 34980 )]
0,9
2
f L = f M = f C = 0,0443
hf L = hf M = 0,0443 ×
0,597 × 30,5512
= 22 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
60
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian O:
RO = RE =
fO = f E =
4 × 0,01552
= 69960
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 69960 )]
0,9
2
f O = f E = 0,0435
hf O = 0,0435 ×
1,551 × 61,102 2
= 227 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Kerugian kerena gesekan ( hf ) pada bagian I:
RP = RI =
fP = fI =
4 × 0,0291
= 131175
π × 0,018 × 1,570 × 10 −5
1,325
[ln(0,25 / 3,7 × 18 + 5,74 / 131175 )]
0,9
2
f P = f I = 0,0430
hf P = 0,0430 ×
6 × 114,567 2
= 3054 m
3,14 × 0,018 × 2 × 9,81
Sehingga kerugian karena gesekan ( hf ) aliran udara jaringan
pipa 2 adalah:
hf total = hf Pipafleksibel + 2 × (hf K + hf L + hf M + hf N + hf O ) + hf P
hf total = 7673 + 2 × (31 + 22 + 12 + 12 + 22 + 227) + 3054
hf total = 11376 m
61
7. Distribusi Kerugian – Kerugian Kecil Jaringan Pipa I
Distribusi kerugian – kerugian kecil pada jaringan pipa 1
dengan asumsi semua mesin pneumatika dioperasikan oleh setiap
peserta praktik adalah sebagai berikut:
Kerugian pada katup gerbang yang dipasang pada ujung pipa
fleksibel.
Le Katup gerbang = 15 × K
V22
2g
Le Katup gerbang = 15 × 0,19
39,192 2
= 223 m
2 × 9,81
Kerugian pada adaptor pipa antara pipa besi berdiameter 18 mm
dengan pipa fleksibel berdiameter 7,9 mm
d1 18
=
= 2,27 = K = 0,41
d 2 7,9
Le Penyempi tan = 15 × K
V22
2g
Le Penyempi tan = 15 × (0,41 ×
39,192 2
) = 481 m
2 × 9,81
Kerugian kecil pada sambungan T (A – pipa fleksibel)
Le SambunganTA− fleksibel = 8 × K
V22
2g
Le SambunganT A− fleksibel = 8 × (2 ×
15,276 2
) = 48 m
2 × 9,81
62
Kerugian kecil pada sambungan T (A – B)
Le SambunganT A− B
V22
= 8× K
2g
Le SambunganT A− B = 8 × (2 ×
15,276 2
) = 48 m
2 × 9,81
Sehingga kerugian – kerugian kecil ( Le ) aliran udara jaringan
pipa 1 adalah:
LeTotal = Le Katup gerbang + Le Penyempi tan + LeT A− fleksibel + LeT A− B
LeTotal = 223 + 481 + 48 + 48 = 800 m
8. Distribusi Kerugian – Kerugian Kecil Jaringan Pipa 2
Distribusi kerugian – kerugian kecil pada jaringan pipa 2
dengan asumsi semua mesin pneumatika dioperasikan oleh setiap
peserta praktik adalah sebagai berikut:
Kerugian pada katup gerbang yang dipasang pada ujung pipa
fleksibel.
Le Katup gerbang = 15 × K
V22
2g
Le Katup gerbang = 15 × 0,19
39,192 2
= 223 m
2 × 9,81
63
Kerugian pada adaptor pipa antara pipa besi berdiameter 18 mm
dengan pipa fleksibel berdiameter 7,9 mm
d1 18
=
= 2,27 = K = 0,41
d 2 7,9
V22
Le Penyempi tan = 15 × K
2g
Le Penyempi tan = 15 × (0,41 ×
39,192 2
) = 481 m
2 × 9,81
Kerugian kecil pada sambungan T (J – pipa fleksibel)
Le SambunganTJ − fleksibel
V22
= 8× K
2g
Le SambunganTJ − fleksibel = 8 × (2 ×
15,276 2
) = 48 m
2 × 9,81
Kerugian kecil pada sambungan T (J – K)
Le SambunganTJ − K = 8 × K
V22
2g
Le SambunganTJ − K = 8 × (2 ×
15,276 2
) = 48 m
2 × 9,81
64
Kerugian kecil pada sambungan T (O – LM)
Le SambunganTO − LM
V22
= 2× K
2g
Le SambunganTO − LM = 2 × (2 ×
30,5112
) = 190 m
2 × 9,81
Kerugian kecil pada sambungan T (O – P)
Le SambunganTO − LM
V22
= 2× K
2g
Le SambunganTO − LM = 2 × (2 ×
61,120 2
) = 761 m
2 × 9,81
Sehingga kerugian – kerugian kecil ( Le ) aliran udara jaringan
pipa 2 adalah:
LeTotal = Le Katup gerbang + Le Penyempi tan + LeTJ − fleksibel + LeTJ − K
+ LeTO − LM + LeTO − P
LeTotal = 223 + 481 + 48 + 48 + 190 + 761 = 1703 m
9. Kerugian Total Jaringan Pipa
Kerugian total pada jaringan pipa 1 adalah:
hLtotal = hfTotall + LeTotal
htotal = 11255 + 800 = 12055 m
65
Kerugian total pada jaringan pipa 2 adalah:
hLtotal = hfTotall + LeTotal
hLtotal = 11376 + 1703 = 13079 m
4.2.3 Head mesin pneumatika
Head mesin pneumatika untuk menghitung tekanan kerja
kompresor yang penulis pakai adalah tekanan kerja minimum mesin
pneumatika yaitu 6,2 Bar atau 620.000 pa, tekanan atmosfir bumi adalah
101300 pa dengan temperatur ruangan 27ºC
H =
P
ρ×g
ρudara (27 0 ) = 1,176
H=
620000
= 53742 m
1,176 × 9,81
4.2.4 Tekanan Kerja Kompresor
Tekanan kompresor yang tepat adalah tekanan kerja mesin
pneumatika dapat terpenuhi walaupun kerugian tinggi tekan tetap terjadi
pada aliran fluida dalam jaringan pipa. Sehingga tekanan kerja
kompresor adalah penjumlahan antara tekanan kerja mesin pneumatika
dan kerugian – kerugian yang terjadi.
66
htotal = H + hLtotal
Tekanan kerja kompresor jaringan pipa 1
hTotal = 53742 + 12055 = 65797 m
Pkompresor = 65797 × (1,176 × 9,81) = 759071 Pa ≈ 7,6 Bar
Tekanan kerja kompresor jaringan pipa 2
hTotal = 53742 + 13079 = 66821 m
Pkompresor = 66821 × (1,176 × 9,81) = 77088 Pa ≈ 7,8 Bar
67
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil Perhitungan pada bab IV pembahasan maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa:
1. Untuk Sheet Metal Shop dengan kapasitas daya tampung 15 orang
peserta praktik maka kapasitas kompresor minimum yang
dibutuhkan adalah sebesar 0,03201 m3/dtk atau setara dengan 68
CFM; 1921 liter/menit; 116 m3/jam (dengan asumsi seluruh peserta
praktik mengoperasikan mesin pneumatika).
2. Untuk Sheet Metal Shop dengan untuk Sheet Metal Shop dengan
tekanan kerja alat udara tekan sebesar 6,2 Bar, tekanan kerja
kompresor udara yang dibutuhkan (dengan asumsi seluruh peserta
praktik mengoperasikan mesin pneumatika) minimal sebesar 7,6
Bar (setara dengan 111 psi) untuk jaringan pipa 1 dan 7,8 Bar
(setara dengan 114 psi) untuk jaringan pipa 2.
5.2 Saran
Bagi pengguna aplikasi perhitungan pada tulisan ini terutama pihak
SMK Penerbangan Dirghantara penulis menyarankan bahwa:
1. Kapasitas kompresor hasil perhitungan penulis adalah kapasitas
kompresor untuk kapasitas daya tampung
Sheet Metal Shop
68
sebanyak 15 orang peserta praktik dengan asumsi seluruh peserta
praktik mengoperasikan mesin pneumatika, sehingga jika mesin
pneumatika yang dioperasikan kurang atau lebih dari 15 buah maka
perlu dihitung kembali kapasitas kompresor sesuai dengan banyak
mesin pneumatika yang dioperasikan untuk mendapatkan hasil
yang akurat.
2. Tekanan kerja kompresor hasil perhitungan penulis adalah Tekanan
kerja kompresor untuk kapasitas daya tampung Sheet Metal Shop
sebanyak 15 orang peserta praktik dengan asumsi seluruh peserta
praktik mengoperasikan mesin pneumatika dan tekanan kerja alat
udara tekan sebesar 6,2 Bar sehingga jika mesin pneumatika yang
dioperasikan kurang atau lebih dari 15 buah dan tekanan kerja alat
udara tekan berbeda, maka perlu dihitung kembali tekanan kerja
kompresor sesuai dengan banyak mesin pneumatika yang
dioperasikan untuk mendapatkan hasil yang akurat.
69
DAFTAR PUSTAKA
1. Airframe Handbook. 1972. Oklahoma: Flight Standard National Field Office,
Federal Aviation Administration.
2. Bonacci Nick, Aircraft Sheet. 1987. Casper: A Plubication of IAP, Inc
3. Giles Ranald V. B.S., M.S., in CE. dialihbahasakan oleh Herman Widodo
Soemitro Mekanika Fluida dan Hidraulika. 1993. Jakarta; Erlangga
4. Jain A. K. Fluid Mechanic. 1976. Delhi; Khana Publishers
5. Sanders Mark S. and McCormick Ernest J. Human Factors in Engineering
and Design. 1993. Singapore: McGraw-Hill
6. Streeter Victor L. dan Wylie E. Benjamin dialihbahasakan oleh Arko Prijono.
Mekanika Fluida. 1999. Jakarta; Erlangga
7. Undang – Undang Republik Indonesia no. 10 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. 2003. Jakarta: Dewan Perwakilam Rakyat dan Presiden Republik
Indonesia
8. United Nations Environment Programme. 2006. India: National Productivity
Council.
Download