modul 2 reskino - Universitas Mercu Buana

advertisement
MODUL 2 RESKINO
ETIKA PROFESIONAL
Setiap bidang profesi layaknya memiliki aturan-aturan khusus yang dikenal dengan istilah “Kode
Etik Profesi”. Dalam bidang akuntansi sendiri, salah satu profesi yang ada yaitu Akuntan Publik.
Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai jasa bagi masyarakat, yaitu jasa assurance, jasa
atestasi, dan jasa nonassurance. Jasa assurance adalah jasa profesional independen yang
meningkatkan mutu informasi bagi pengambil keputusan. Jasa atestasi terdiri dari audit,
pemeriksaan (examination), review, dan prosedur yang disepakati (agreed upon procedure).
Jasa atestasi adalah suatu pernyataan pendapat, pertimbangan orang yang independen dan
kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai dalam semua hal yang material, dengan
kriteria yang telah ditetapkan. Jasa nonassurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan
publik yang di dalamnya ia tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan
temuan, atau bentuk lain keyakinan. Contoh jasa nonassurance yang dihasilkan oleh profesi
akuntan publik adalah jasa kompilasi, jasa perpajakan, jasa konsultasi.
Sebenarnya selama ini belum ada aturan baku yang membahas mengenai kode etik
untuk profesi Akuntan Publik. Namun demikian, baru-baru ini salah satu badan yang memiliki
fungsi untuk menyusun dan mengembangkan standar profesi dan kode etik profesi akuntan
publik yang berkualitas dengan mengacu pada standar internasional yaitu Institut Akuntan
Publik Indonesia (IAPI) telah mengembangkan dan menetapkan suatu standar profesi dan kode
etik profesi yang berkualitas.
Etika secara garis besar dapat didefinisikan sebagai rangkaian prinsip atau nilai-nilai
moral. Perilaku beretika wajib hukumnya supaya masyarakat dapat berjalan secara teratur. Kita
dapat beragumentasi bahwa etika adalah sejenis perekat yang dapat mengikat erat
masyarakat.
Kode Etik ini menetapkan prinsip dasar dan aturan etika profesi yang harus diterapkan
oleh setiap individu dalam kantor akuntan publik (KAP) atau Jaringan KAP, baik yang
merupakan anggota IAPI maupun yang bukan merupakan anggota IAPI, yang memberikan jasa
profesional yang meliputi jasa assurance dan jasa selain assurance seperti yang tercantum
dalam standar profesi dan kode etik profesi. Untuk tujuan Kode Etik ini, individu tersebut di atas
selanjutnya disebut ”Praktisi”. Anggota IAPI yang tidak berada dalam KAP atau Jaringan KAP
dan tidak memberikan jasa profesional seperti tersebut di atas tetap harus mematuhi dan
menerapkan Bagian A dari Kode Etik ini. Suatu KAP atau Jaringan KAP tidak boleh
‘12
1
Auditing I
Reskino, SE. Ak. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan Elearning
Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id
MODUL 2 RESKINO
2. apabila Akuntan Publik tidak dapat bertindak independen terhadap pemberi penugasan
(klien), maka dilarang untuk memberikan jasa.
3. Akuntan Publik juga dilarang merangkap jabatan yang tidak diperbolehkan oleh ketentuan
perundang-undangan / organisasi profesi seperti sebagai pejabat negara, pimpinan atau
pegawai pada instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Usaha
Milik Daerah (BUMD) atau swasta, atau badan hukum lainnya, kecuali yang diperbolehkan
seperti jabatan sebagai dosen perguruan tinggi yang tidak menduduki jabatan struktural dan
atau komisaris atau komite yang bertanggung jawab kepada komisaris atau pimpinan usaha
konsultansi manajemen. Sedangkan, KAP harus menjauhi
Ada 4 larangan yaitu,
1. memberikan jasa kepada suatu pihak, apabila KAP tidak dapat bertindak independen.
2. memberikan jasa audit umum (general audit) atas laporan keuangan untuk klien yang
sama berturut-turut untuk kurun waktu lebih dari 5 (lima) tahun.
3. memberikan jasa yang tidak berkaitan dengan akuntansi, keuangan dan manajemen.
4. mempekerjakan atau menggunakan jasa Pihak Terasosiasi yang menolak atau tidak
bersedia memberikan keterangan yang diperlukan dalam rangka pemeriksaan terhadap
Akuntan Publik dan KAP.
A.
Prinsip-Prinsip Etika Profesional
Berikut adalah enam nilai dasar etika menurut Josephson
Institute terkait dengan
perilaku etis :
1. Keterpercayaan (trutworthiness) mencakup kejujuran, integritas, reliabilitas, dan loyalitas.
Kejujuran menuntut hak baik untuk mengemukakan hal yang sebenarnya. Integritas
berarti bahwa seseorang bertindak sesuai dengan kata hatinya, dalam situasi seperti
apapun. Reliabilitas berarti melakukan semua upaya yang pantas untuk memenuhi
komitmennya. Loyalitas adalah pertanggungjawaban untuk mengembangkan dan
melindungi berbagai kepentingan masyarakat dan organisasi tertentu.
2. Penghargaan (respect) mencakup gagasan – gagasan seperti kesopanan (civility),
kesopansantunan (courtesy), harga diri, toleransi, dan penerimaan.
3. Pertanggungjawaban (responsibiliti) berarati bertanggung jawab atas tindakan seseorang
serta melakukan pengendalian diri.
‘12
3
Auditing I
Reskino, SE. Ak. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan Elearning
Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id
MODUL 2 RESKINO
Profesi akuntan publik bertanggung jawab untuk menaikkan tingkat keandalan laporan
keuangan perusahaan-perusahaan, sehingga masyarakat keuangan memperoleh informasi
keuangan yang andal sebagai dasar untuk memutuskan alokasi sumber-sumber ekonomi.
B.
Peraturan Etika Profesional
Kebutuhan akan interpretasi peraturan etika yang dipublikasikan timbul ketika terdapat
beragam pertanyaan dari para praktisi tentang suatu peraturan spesifik. Dividi profesional
AICPA menyiapkan setiap interpretasi berdasarkan pada konsensus komite yang anggota
utamanya terdiri dari para praktisi akuntan publik.
Kaidah adalah rangkaian penjelasan oleh komite eksekutif pada divisi etika profesinal
tentang situasi spesifik yang nyata (Specific Factual Circumstances). Banyak kaidah etika
dipublikasikan dalam versi lengkap dari Kode Etik Profesional AICPA. Peraturan etika yang
terdapat dalam Kode Etik Profesi AICPA diterapkan bagi semua anggota AICPA atas semua
jasa yang mereka sediakan baik bila anggota tersebut berpraktek maupun tidak berprakek
sebagai akuntan Publik, kecuali jika dinyatakan secara khusus dalam kode etik tersebut.
Setiap peraturan diterapkan untuk jasa-jasa atestasi dan kecuali jika dinyatakan
sebaliknya, setiap peraturan pun berlaku bagi semua jenis jasa yang disediakan oleh kantor
Akuntan Publik seperti jasa perpajakan dan manajemen.
Hanya terdapat dua peraturan yang dikecualikan bagi jasa-jasa non atestasi tertentu :
1. Peraturan 101- Indepedensi. Peraturan ini menyatakan bahwa independensi hanya
dipersyaratkan jika AICPA telah menyusun ketentuan independensi melalui badan
penyusun peraturan yang berada dibawahnya, seperti misalnya Dewan Standar Auditing.
AICPA mensyaratkan independensi hanya untuk penugasan atestasi.
2. Peraturan 203- Prinsip-prinsip Akuntansi. Peraturan ini hanya diterapkan pada saat
menerbitkan suatu pendapat audit atau suatu pendapat dari jasa review atas laporan
keuangan.
C.
Peraturan Etika Lainnya
Walaupun indepoendensi adalah kritis untuk kepercayaan publik pada akuntan publik,
adalah juga penting bahwa auditor menganut peraturan etika lainnya.
Integritas dan Obyaktivitas. Integritas berarti tidak memihak dalam melakukan semua jasa.
‘12
5
Auditing I
Reskino, SE. Ak. M.Si
Pusat Bahan Ajar dan Elearning
Universitas Mercu Buana http://www.mercubuana.ac.id
Download