97 BAB XV DIABETES MELLITUS Defenisi Sindroma klinik akibat

advertisement
BAB XV
DIABETES MELLITUS
Defenisi
Sindroma klinik akibat hiperglikemia kronik karena defisiensi insulin absolut atau
relatif dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein serta penyulit
makro/mikro vaskular
Etiologi
1. SEL BETA PANKREAS: kerusakan sel beta pankreas menyebabkan defisiensi
insulin. Biasanya karena proses otoimun.
2. RESEPTOR INSULIN : afinitas (kemampuan) mengikat insulin menurun
3. PASCA RESEPTOR INSULIN: gangguan sistem enzim intraselular metabolisme
glukosa menjadi glikogen (glikogenesis)
4.
ANTAGONIS INSULIN : insulin auto antibody dan COUNTER REGULATORY
HORMONES ( hormon antagonis insulin:
kortisol, epinefrin, glukagon, growth
hormone, tiroid )dapat menghambat kerja insulin
Kriteria Diabetes Mellitus
Berdasarkan ADA (American Diabetes Association) 2010 diagnosis laboratorium diabetes
mellitus adalah:
1. Glukosa darah puasa > 126 mg/dL (> 7 mmol/L)
2. Glukosa darah 2 jam pasca beban glukosa > 200 mg/dL (> 11 mmol/L)
3. HbA1c > 6.5%
Note: 1 mmol/L glukosa = 18 mg/dL glukosa
GANGGUAN TOLERANSI GLUKOSA (PREDIABETES)
1. Glukosa Darah puasa >100-125mg/dL
2. Glukosa darah 2 jam pasca beban glukosa >140-199 mg/dL
3. Hb A1c >5.6-6.5%
NORMAL
1. Glukosa darah puasa < 100mg/dL
2. Glukposa darah 2 jam pasca beban glukosa <140mg/dL
3. HbA1c <5.6%
97
HbA1c (GLYCATED HEMOGLOBIN)
Adalah produk ikatan glukosa dengan N terminal valin dari hemoglobin (proses
glikasi) yang irreversible yg dipengaruhi umur eritrosit.
Pemeriksaan HbA1c selain untuk diagnostik DM juga digunakan untuk memantau
kendali glukosa penderita DM jangka panjang karena perubahan HbA1c memerlukan waktu
minimal 60 hari (sesuai half life eritrosit). Target pengendalian glukosa darah adalah HbA1c
<7%
HbA1c dapat dipengaruhi oleh :
1. Proses hemolitik
2. Anemia
3. Hemoglobinopati
4. Uremia (proses karbamilasi dpt menghambat proses glikasi)
5. Transfusi
Klasifikasi Diabetes
1. DM tipe-1: terjadi defisiensi insulin yang absolut karena kerusakan sel beta pankreas,
tersering akibat proses otoimun. Biasanya usia muda/anak
Diagnosis otoimun DM tipe-1:
a. Islet Cell Antibody (ICA) positif
b. GADA (Glutamic Acid Decarboxylase Antibody) positif
c. Anti Insulin Antibody positif, Kadar insulin serum/ C-peptida sangat rendah
2. DM tipe-2 : terjadi akibat defisiensi insulin relatif (resistensi insulin) karena
gangguan reseptor insulin dan pasca reseptor insulin (sistem enzim), Kadar insulin
serum biasanya normal/ hiperinsulinemia. Usia dewasa >40 thn.
3. Endokrinopati : hiperkortisol, hiperepinefrin, hiperglukagon, hipergrowth hormone,
hipertiroid
4. Pasca pankreatektomi, pankreatitis
5. Sindroma Turner, Klinefelter
Gambaran Klinik
Gambaran klinik berupa penurunan berat badan, poliuri, polidipsi, polifagi. Penyulit berupa
aterosklerosis,nefropati, retinopati, gangren, katarak, gangguan koagulasi, mudah infeksi.
Manajemen Pemeriksaan Laboratorium
1. Glukosa darah puasa
2. Glukosa darah 2 jam sesudah makan
98
3. HbA1c (tiap 3-6 bulan) atau glycated albumin (fruktosamin)
4. Urinalisis
5. Mikroalbuminuria (untuk diagnosis dini nefropati diabetik)
6. Profil lemak
7. Tes fungsi ginjal
8. Elektrolit
9. Analisis gas darah
Penyulit Metabolik
1. Ketoasidosis diabetik (terutama pada DM tipe 1): pH darah menurun, bikarbonas
menurun
2. Hyperglycemia Hyperosmolar Syndrome (pada DM tipe 2): hiperglisemia berat > 600
mg/dL dan osmolaritas > 320 mOsmol/L
3. Hipoglisemia
DAFTAR PUSTAKA
Inzucchi SE. The Diabetes Mellitus Manual, 6th ed. Mc Graw Hill, Singapore, 2005
Sam E, Meeran K. Endocrinology and Diabetes, 1st ed. Wiley-Blackwell, Singapore, 2009.
99
Download