Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Penerapan dan Pengaruh
Definisi penerapan menurut B.N. Marbun dalam Kamus Manajemen
(2003:234) adalah sebagai berikut :
“Penerapan adalah pemanfaatan keterampilan dan pengetahuan baru di
bidang manajemen”.
Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga yang
dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional (2005 :1180) definisi penerapan
adalah sebagai berikut :
1. Proses, cara, perbuatan menerapkan
2. Pemasangan
3. Pemanfaatan
Dari kedua definisi tentang penerapan di atas dapat ditarik kesimpulan,
penerapan adalah suatu proses, cara, atau perbuatan menerapkan melalui pemanfaatan
keterampilan dan pengetahuan baru di bidang manajemen untuk suatu kegunaan
ataupun tujuan khusus.
Sedangkan definisi pengaruh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang
dikeluarkan Departemen Pendidikan Nasional (200 5:849) adalah sebagai berikut :
“Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda)
yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang”.
Sementara definisi pengaruh menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia
(1994:1031) karangan Badudu-Zain adalah sebagai berikut:
1.
Daya yang menyebabkan sesuatu terjadi
2.
Sesuatu yang dapat membentuk, atau mengubah sesuatu yang lain
3.
Tunduk atau mengikuti karena kuasa atau kekuatan orang lain
Dari kedua definisi tentang pengaruh diatas, penulis dapat menyimpulkan
bahwa pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang,benda) yang
dapat menyebabkan sesuatu terja di yang dapat membentuk atau mengubah sesuatu
i
- 12iii –
(watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang) menjadi sesuatu yang lain akibat dari
adanya kuasa atau kekuatan orang lain.
2.2 Tinjauan atas Mutu
2.2.1 Pengertian Mutu
Pada dasarnya pengertian mutu itu melip uti suatu pengertian yang sangat luas
dan memiliki arti yang bermacam -macam. Mutu produk atau jasa merupakan faktor
penting bagi perusahaan untuk dapat menguasai pasar, karena kepekaan konsumen
akan mutu suatu barang semakin meningkat sejalan dengan mening katnya jumlah dan
jenis produk yang tersedia di pasaran. Untuk memperjelas pengertian mutu, berikut
ini terdapat beberapa definisi mutu.
Pengertian mutu (quality) menurut Vincent Gaspersz dalam bukunya “ Total
Quality Management ” (2005:4) adalah:
“Totalitas dari karakteristik suatu produk (barang dan/atau jasa) yang
menunjang
kemampuannya
untuk
memenuhi
kebutuhan
yang
dispesifikasikan”
Goetsch dan Davis dalam buku “ Total Quality Management ” , yang
diterjemahkan oleh
Fandy
Tjiptono dan
Anastasia Diana (2003:4),
menterjemahkan bahwa:
“Mutu merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan”.
Sedangkan menurut ISO 1999:2000 pengertian mutu adalah :
“Derajat atau tingkat karakteristik yang melekat pada produk yang
mencukupi persyaratan atau keinginan”.
Maksud derajat atau tingkat disini berarti selalu ada peningkatan setiap saat,
sedangkan karakteristik pada istilah tersebut berarti hal-hal yang dimiliki produk,
yang dapat terjadi dari berbagai macam atau aspek-aspek daripada produk yang
penting bagi costumer , antara lain:
i
- 13iii –
a. Karakteristik fisik (elektrikal, mekanikal, biologikal), seperti handphone ,
mobil, rumah.
b. Karakteristik perilaku (kejujuran, kesopanan), seperti rumah sakit,
perbankan.
Menurut Dr. Edwards Deming (1986) dalam buku “Bacaan Terpilih Tentang
Total Quality Management ” oleh Soewarso Hardjosoedarmo (2004:49), bahwa
tidaklah mudah untuk mendefinisikan kualitas. Deming mengatakan tentang mutu
sebagai berikut:
“The difficulty in defining quality is to translate future needs of the user
into measurable characteristics, so that a product can be designed and
turned out to give satisfactioan at a price that the user will pay ”.
Dari definisi -definisi di atas, kata mutu memiliki banyak pengertian, tetapi
pada intinya mengacu pada pengertian pokok sebagai berikut:

Mutu meliputi usaha untuk memenuhi
keinginan
memberikan suatu kepuasan yang melebihi harapan
pelanggan
serta
pelanggan
atas
penggunaan produk yang bersangkutan.
 Mutu mencakup produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan.

Mutu akan selalu berubah tergantung pada waktu (dinamis)
2.2.2 Perspektif terhadap Mutu
Menurut David Garvin pendekatan mutu itu dikategorikan menjadi lima
alternatif perspektif mutu dalam buku: “Total Quality Management ”, yang
diterjemahkan oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2003:24), yaitu:
 Transcendental Approach (berdasarkan perasaan), yang berarti bahwa mutu
tidak dapat didefinisikan secara tepat karena hanya dapat dirasakan, diketahui,
atau dilihat. Suatu perusahaan akan mempromosikan produknya dengan
pernyataan seperti tempat belanja yang menyenangkan untuk supermarket,
kelembutan, dan kehalusan kulit untuk sabun mandi dan berbagai hal lainnya.

Product-based Approach (berdasarkan produk), mutu dianggap sebagai
karakteristik atau atribut yang dapat dikuantifikasikan dan dapat diukur. Mutu
i
- 14iii –
suatu produk akan berbeda dengan produk lainnya dilihat dari jumlah unsur atau
atribut yang dimiliki suatu produk (bersifat objektif)

User-based Approach (berdasarkan pengguna), mutu tergantung pada orang
yang memandangnya dimana produk yang berkualitas tinggi adalah produk yang
dapat memenuhi keinginan dan harapan seseorang secara maksimum (bersifat
subjektif).

Manufacturing-based Approach (berdasarkan perusahaan),
mutu di sini
ditentukan berdasarkan standar yang ditetapkan pe rusahaan. Jadi kebijakan
penerapan standar mutu sudah digariskan sebelumnya oleh perusahaan
bersangkutan dan perubahan atas standar mutu hanya terjadi jika disertai
perubahan kebijakan perusahaan tersebut.

Value-based Approach (berdasarkan nilainya), mutu disini dilihat dari
kemampuan dari suatu barang untuk menyediakan produk atau jasa dengan biaya
yang rendah atau harga yang dapat diterima konsumen. Dalam banyak hal, value
based lebih banyak ditentukan oleh persepsi konsumen sendiri (relatif), ada
konsumen yang menganggap bahwa harga yang rendah belum memastikan
kualitas produk tersebut jelek. Dan ada juga konsumen yang berani membeli
dengan harga yang tinggi berarti kualitasnya terjamin. Akan tetapi yang paling
bernilai adalah produk yang paling t epat dibeli (best-buy).
2.2.3 Dimensi Mutu
Menurut Juran (Quality by design ), the new Steps for Planning quality into
goods and services menyatakan bahwa terdapat lima dimensi mutu, yaitu:
1.
Quality of design, yang mencakup konsep desain dan spe sifikasinya.
2.
Quality of conformance, merefleksikan perbandingan antara produk aktual dan
desain yang dimaksudkan, kemampuan untuk memegang toleransi, pelatihan
tenaga kerja dan supervisi serta ketaatan terhadap program pengujian.
3.
Availability, merupakan kebebasan suatu produk terhadap masalah yang
mengganggu dan bisa merefleksikan dengan baik terhadap
(kehandalan) dan maintainability .
i
- 15iii –
reliability
4.
Safety, yang dinilai dengan mengkalkulasi risiko
kecelakaan
karena
bahaya produk yang dihasilkan.
5.
Field Use, yang merupakan suatu kesesuaian dengan kondisi suatu produk
setelah produk tersebut mencapai tangan tersebut dan dipengaruhi oleh
pengemasan, transportasi, dan ketetapan pada pelaporan keuangan.
Sementara menurut David Garvin dalam bukunya Vincent Gaspersz “ Total
Quality Management ” (2005:37), mutu produk mencakup, sebagai berikut :
1. Performansi (performance), berkaitan dengan aspek fungsional dari
produk itu
2. Features, berkaitan dengan pilihan-pilihan dan pengembangannya.
3. Keandalan (reliability), berkaitan dengan tingkat kegagalan dalam
penggunaan produk itu.
4. Serviceability , berkaitan dengan kemudahan dan ongkos perbaikan.
5. Konformansi (conformance), berkaitan dengan tingkat kesesuaian
produk terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya
berdasarkan keinginan pelanggan.
6. Durability, berkaitan dengan daya tahan atau masa pakai produk
itu.
7. Estetika (aesthetics ), berkaitan dengan desain dan pembungkusan
dari produk itu.
8. Kualitas yang dirasakan (perceived quality ) bersifat subjektif,
berkaitan dengan perasaan pelanggan dalam mengkonsumsi produk itu
, seperti meningkatkan harga diri, moral dan lain-lain.
Dari berbagai karakteristik mutu tersebut, yang relevan di sini adalah apa
yang dibu tuhkan dan dikehendaki oleh “ customer”. Menurut Dr. Kaoru Ishikawa
mengatakan bahwa pengertian kualitas tersebut di atas adalah pengertian sempit.
Dalam pengertian yang luas, menurutnya kualitas berarti kualitas kerja, kualitas jasa,
kualitas informasi, kualitas proses, kualitas organisasi, kualitas orang-orang dalam
organisasi, kualitas kehidupan kerja, kualitas kehidupan dan lain -lain. Pokok
persoalannya di sini adalah bahwa “ total quality” adalah fungsi kualitas seluruh
“input” yang diproses untuk mendap atkan nilai tambah dalam organisasi.
2.2.4 Fungsi Mutu
i
- 16iii –
Menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana dalam buku “Total Quality
Management” pada dasarnya terdapat tiga fungsi utama suatu mutu produk, yaitu:
1. Pemeriksaan Mutu (Quality Inspection) yaitu merupakan tindakan untuk
mengetahui apakah produk sesuai dengan yang dimaksud atau tidak.
2. Pengendalian Mutu (Quality Control) yaitu bila suatu produk tidak sesuai
dengan persyaratan pada waktu melalui tahap pemeriksaan mutu maka dilakukan
tindakan pengenda lian terhadap kondisi tadi dengan membawa produk tersebut ke
dalam kondisi yang dimaksud.
3. Pemastian Mutu (Quality Assurance ) yaitu mutu tidak dijamin melalui
pemeriksaan saja, akan tetapi juga memerlukan rancangan yang rasional,
pelaksanaan operasi, dan prosedur pengendalian mutu yang benar. Mutu dapat
dipastikan sedemikian rupa sehingga konsumen yang membeli bebas dari rasa
cemas, dalam jangka panjang tanpa kesulitan.
2.2.5 Sumber Mutu
Menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana dalam bukunya “ Total Quality
Management” (2003:34) terdapat lima sumber mutu yang dapat dijabarkan sebagai
berikut, yaitu:
1. Program, kebijakan, dan sikap yang melibatkan komitmen dari
manajemen puncak
2. Sistem informasi yang menekankan ketepatan, baik pada waktu
maupun detail.
3. Desain produk yang menekankan keandalan dan perjanjian ekstensif
produk sebelum dilepas kepasar.
4. Manajemen vendor yang menekankan kualitas sebagai sasaran
utama.
2.3
Tinjauan atas Total Quality Management
2.3.1 Pengertian Total Quality Management (TQM)
Manajemen Mutu Terpadu atau Total Quality Management (TQM) pada
awalnya diperkenalkan oleh Jepang dengan istilah Total Quality Control (TQC),
sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok antara TQM dan TQC, hanya saja
penelaahannya berbeda , dimana TQC lebih terfokus kepada pengendaliannya
i
- 17iii –
(control) sedangkan TQM berfokus pada manajemennya, sedangkan maksud dan isi
keduanya sama. Jepang sendiri telah membuktikan bahwa mutu merupakan prasyarat
utama agar bisa bersaing dalam dunia bisnis. Hal ini telah dibuktikan dengan
masuknya perusahaan -perusahaan Jepang ke dunia dengan produk yang murah
namun bermutu baik.
Manajemen Mutu Terpadu (TQM) adalah suatu filosofi yang menghendaki
perubahan perilaku pada semua tingkat organisasi dan menaruh perhati an pada
pentingnya kepuasan konsumen, dan pemeriksaan kualitas pada akhir proses, tetapi
lebih menitikberatkan pada proses pembentukan kualitas itu sendiri dengan cara
menghilangkan penyimpangan -penyimpangan yang terjadi selama proses produksi.
Ada beberapa definisi TQM dari para ahli:

Definisi TQM menurut Vincent Gaspersz (2005:6), yaitu:
“TQM is transformation in the way an organization manager. It invoices
focusing management’s energies on the continous improvement of all
operations, functions, and above all, processes, because it’s the result of
these processes that the customers cares about”.

Menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana dalam buku “Total Quality
Management” (2003:4), TQM didefinisikan sebagai berikut:
“Total Quality Management merupakan suatu pendekatan dalam
menjalankan usaha yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing
organisasi melalui perbaikan terus-menerus atas produk, jasa, manusia,
proses, dan lingkungannya”.

Definisi TQM menurut Amin Widjaja Tunggal dalam bukunya “Manajemen
Mutu Terpadu” (2002:9), yaitu:
“Manajemen Mutu Terpadu merupakan suatu pengelolaan organisasi
secara menyeluruh agar organisasi memperoleh keunggulan pada semua
dimensi produk dan jasa yang penting bagi pelanggan dan bahwa mutu
mencakup keseluruhan organisasi pada setiap hal yang dilakukan
organisasi yang pada akhirnya mutu akan didefinisikan pelanggan”.
Dari beberapa definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Total Quality
Management berarti penerapan metode kuantitatif dan pengetahuan kemanusiaan,
menurut pemikiran kesisteman untuk :
i
- 18iii –
Memperbaiki material dan jasa yang menjadi masukkan pada organisasi
Memperbaiki seluruh proses penting dalam organisasi
Memperbaiki upaya guna memenuhi kebutuhan para pemakai produk dan jasa
(customer) pada masa kini dan di waktu yang akan datang
“Total” di sini mempunyai konotasi seluruh sistem, yaitu seluruh “ input”,
seluruh proses dan seluruh “ customer”. Sedangkan “Quality” berarti karakteristik
sesuatu yang memenuhi kebutuhan “ customer” dan “management” berarti proses
untuk menhasilkan “ output” secara baik, dan menghasilkan “ outcome” sesuai
kebutuhan “ customer”.
2.3.2 Unsur-unsur Total Quality Management
Total Quality Management (TQM) adalah sebuah model perbaikan mutu yang
sifatnya terus menerus (continous improvement ). Total Quality Management
mencakup dua komponen, yaitu apa dan bagaimana menjalankan usaha komponen
tersebut. Menurut Goetsch dan Davis dalam buku “Total Quality Management” yang
disusun oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2003:15-18) komponen ini
memiliki sepuluh unsur utama yang masing -masing akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Fokus pada pelanggan,
pada filosofi ini konsumen memegang
peranan penting baik pelanggan internal maupun eksternal. Pelangga n
eksternal menentukan kualitas produk dan jasa yang disampaikan kepada
mereka, sedangkan pelanggan internal merupakan orang yang berada
didalam perusahaan dan mempunyai pengaruh pada kinerja pekerjaan
tersebut.
2. Obsesi terhadap kualitas, dalam organisasi yang menerapkan TQM,
pelanggan internal dan eksternal merupakan penentu akhir dari kualitas,
dengan kualitas yang ditetapkan tersebut, organisasi harus terobsesi untuk
memenuhi atau melebihi apa yang ditentukan tersebut. Hal ini berarti
bahwa semua karyawan pada setiap level berusaha melaksanakan setiap
aspek pekerjaannya berdasarkan perspektif “Bagaimana kita dapat
melakukannya dengan lebih baik?”.
i
- 19iii –
3. Pendekatan ilmiah, dimana pendekatan ilmiah ini sangat diperlukan
dalam penerapan TQM, terutama untuk mendesain pekerjaan dan dalam
proses pengambilan keputusan serta pemecahan masalah yang berkaitan
dengan pekerjaan yang didesain tersebut.
4. Komitmen jangka panjang, dimana Manajemen Mutu Terpadu (TQM)
merupakan suatu paradigma baru dalam melaks anakan bisnis, untuk itu
dibutuhkan budaya perusahaan yang baru pula. Oleh karena itu komitmen
jangka panjang sangat penting guna mengadakan perubahan budaya agar
penerapan Manajemen Mutu Terpadu (TQM) dapat berjalan dengan
sukses.
5. Kerjasama tim (Team-Work), dalam organisasi yang menerapkan TQM,
kerjasama tim, kemitraan dan hubungan dijalin dan dibina baik antara
karyawan perusahaan maupun dengan pemasok, lembaga -lembaga
pemerintah dan masyarakat sekitarnya.
6. Perbaikan sistem secara berkesinambungan, yakni setiap produk dan
jasa dihasilkan dengan memanfaatkan proses -proses tertentu didalam
suatu sistem atau lingkungan. Oleh karena itu sistem yang ada perlu
diperbaiki secara terus menerus agar kualitas yang dihasilkannya dapat
meningkat.
7. Pendidikan dan pelatihan, dimana dalam organisasi yang menerapkan
TQM, pendidikan dan pelatihan merupakan faktor yang fundamental.
Setiap orang diharapkan dan didorong untuk terus belajar. Dalam hal ini
berlaku prinsip bahwa belajar merupakan proses yang ti dak ada akhirnya
dan tidak mengenal batas usia. Dengan belajar, setiap orang dalam
perusahaan dapat meningkatkan keterampilan teknis dan keahlian
profesionalnya.
8. Kebebasan
yang
terkendali,
didalam
TQM
keterlibatan
dan
pemberdayaan karyawan dalam pen gambilan keputusan dan pemecahan
masalah merupakan unsur yang sangat penting, meskipun demikian,
kebebasan yang timbul karena keterlibatan dan pemberdayaan tersebut
i
- 20iii –
merupakan hasil dari pengendalian yang terencana dan terlaksana dengan
baik.
9. Kesatuan tujuan, yaitu supaya TQM dapat diterapkan dengan baik maka
perusahaan harus memiliki kesatuan tujuan, dengan demikian setiap usaha
dapat diarahkan pada tujuan yang sama.
10. Adanya keterlibatan dalam pemberdayaan karyawan, keterlibatan dan
pemberdayaan karyawan merupakan hal yang penting dalam penerapan
TQM usaha untuk melibatkan karyawan membawa dua manfaat utama
yaitu:

Hal ini meningkatkan kemungkinan dihasilkannya keputusan yang baik,
rencana yang lebih baik atau perbaikan yang lebih efektif karena j uga
mencakup pandangan dan pemikiran dari pihak -pihak yang langsung
berhubungan dengan situasi kerja.

Keterlibatan karyawan juga meningkatkan “rasa memiliki” dan
tanggung jawab atas keputusan dengan melibatkan orang-orang yang
harus melaksanakannya.
Sedangkan unsur-unsur filosofi dari Total Quality Management menurut
Amin Widjaja Tunggal dalam buku “Manajemen Mutu Terpadu” (2002 :10) yaitu
sebagai berikut:
 Hubungan antara pemasok dengan pelanggan, sudah merupakan suatu
kenyataan bahwa setiap karyawan yang ada dalam suatu organisasi
merupakan seorang pelanggan. Pelanggan yang demikian tersebut ada
yang bersifat internal seperti para karyawan yang bekerja didepartemen
produksi atau juga yang bersifat eksternal seperti distributor dan
konsumen.
 Orientasi pencegahan, istilah dari “do it right in the first time”
merupakan dasar pemikiran dari kegiatan pencegahan.
 Apabila manajemen memperhatikan dan memberikan perhatian
terhadap motivasi dan kesadaran kerja para karyawan.
i
- 21iii –
 Mutu pada sumber, berarti bahwa setiap karyawan adalah orang yang
penting bertanggungjawab terhadap hasil pekerjan. Pandangan ini
mengubah bentuk tradisional yang ada, dimana hasil pekerjaan dari
seorang karyawan dinilai langsung oleh pengawas dari departemen mutu.
 Perbaikan yang berkesinambungan, merupakan suatu usaha terusmenerus, untuk melakukan perbaikan didalam setiap bagian organisasi.
Perbaikan yang berkesinambungan merupakan suatu filosofi manajemen
yang mendekatkan pada tantangan dari produk, agar dapat memperbaiki
proses tanpa akhir dalam mencapai suatu kemenangan.
2.3.3 Prinsip-prinsip Total Quality Management
Total Quality Management
merupakan suatu konsep yang berupaya
melaksanakan sistem manajemen kelas dunia. Untuk itu diperlukan perubahan besar
dalam budaya dan sistem n ilai suatu organisasi. Menurut Hensler dan Brunell (dalam
Scheuing
dan
Christo pher,
1993:165-166)
didalam
buku
“ Total
Quality
Management” yang disusun oleh Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2003:14), ada
empat prinsip utama dalam Total Quality Management . Keempat prinsip tersebut
adalah sebagai berikut :
1. Kepuasan pelanggan
Dalam Total Quality Management , konsep mengenai kualitas dan pelanggan
diperluas. Kualitas tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi -spesifikasi
tertentu, tetapi ditentukan oleh pelanggan, yang meliputi pelanggan internal dan
pelanggan eksternal. Kebutuhan pelanggan di usahakan untuk dipuaskan dalam
segala aspek, termasuk didalamnya harga, keamanan, dan ketepatan waktu. Oleh
karena itu segala aktivitas perusahaan harus dikoordinasikan untuk memuaskan para
pelanggan.
2. Respek terhadap setiap orang
Dalam perusahaan yang kualitasnya tergolong kelas dunia, setiap karyawan
dipandang individu yang memiliki talenta dan kreativitas yang khas. Dengan
demikian, karyawan merupakan sumbe r daya organisasi yang paling bernilai. Oleh
i
- 22iii –
karena itu, setiap orang dalam organisasi diperlakukan dengan baik dan diberi
kesempatan untuk terlibat dan berpartisipasi dalam tim pengambil keputusan.
3. Manajemen berdasarkan fakta
Perusahaan kelas dunia ber orientasi pada fakta. Maksudnya, bahwa setiap
keputusan selalu didasarkan pada data, bukan sekedar pada perasaan (feeling).
Dengan menggunakan data
maka manajemen dan tim dalam organisasi dapat
memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital, serta manajemen juga dapat
memprediksikan hasil dari setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan.
4. Perbaikan berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses sistematis
dalam melaksanakan perbaikan secara berkesinambungan, yaitu de ngan melakukan
perencanaan yang baik, dan melakukan tindakan korektif terhadap hasil yang
diperoleh.
Prinsip -prinsip TQM merupakan suatu konsep untuk melaksanakan sistem
manajemen kelas dunia yang mempengaruhi budaya organisasi. Budaya TQM dalam
organisasi, yaitu himpunan nilai dan keyakinan akan menjamin bahwa dengan
penyesuaian diri pada perubahan itu, organisasi akan selalu dapat memenuhi
kebutuhan customer , selanjutnya budaya TQM juga menentukan bahwa tujuan yang
harus dicapai organisasi adalah memenu hi kebutuhan customer.
2.3.4 Elemen-Elemen Total Quality Management
Menurut Vincent Gaspersz (2005:26) dalam bukunya “Total Quality
Management”, ada beberapa indikator yang dapat digunakan untuk mengukur
pengaruh TQM.
1. Prinsip Dasar Penerapan TQM
Berikut ini prinsip dasar penerapan TQM yaitu:
a. Hasil kerja perusahaan yang mampu untuk menghasilkan produk bermutu yang
menjadi prioritas utama perusahaan.
b. Mampu menghasilkan produk tepat pada waktunya.
i
- 23iii –
c. Seluruh karyawan dituntut untuk berpartisipasi aktif untuk menjalin kerjasama,
komunikasi , dan koordinasi yang baik antar unit usaha sehingga mempertinggi
semangat kerja karyawan.
2. Penyusunan Program
Seluruh karyawan sebelum melaksanakan kegiatan operasional perusahaannya
menyusun program kerja yang terinci agar kegiatan kerja perusahaan lebih terarah.
3. Prosedur Pelaksanaan
Perusahaan harus selalu menjalankan kegiatan operasionalnya menurut
kebijakan yang ditetapkan perusahaan. Semua kegiatan yang dilaksanakan
perusahaan harus mengi kuti prosedur-prosedur yang disetujui melalui rapat pimpinan
perusahaan.
4. Analisis Pengukuran
Perusahaan harus merencanakan da n menerapkan proses pemantauan,
pengukuran, analisis dan pengembangan yang dibutuhkan untuk :
a. Memperlihatkan kese suaian produk
b. Memastikan kesesuaian manajemen mutu
c. Melakukan peningkatan berkelanjut an yang efektif terhadap sistem manajemen
mutu
Ini harus bergantung pada metode yang berlaku, termasuk teknik statistik dan
jangkauan pemakai annya. Hasil dari analisis pengukuran ini akan menjadi alat
komunikasi informasi dan karenanya perlu diterapkan.
5. Pelaporan Hasil Kerja
Tiap-tiap departemen melaporkan hasil kerjanya kepada pimpinan departemen
secara konsisten sesuai dengan waktu yang ditetapkan.
6. Pengukuran Efektivitas Pendapatan Operasi
Efektivitas dapat dikaitkan dengan kemampuan perusahaan untuk mencapai
hasil yang telah ditetapkan didalam tujuan atau sasaran perusahaan. Oleh karena itu
efektivitas dapat diukur dengan membandingkan angg aran pendapatan (sebagai
tujuan/sasaran perusahaan) dengan pendapatan yang terealisasi sebagai ukuran
i
- 24iii –
kemampuan perusahaan untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan dalam tujuan
perusahaan.
2.3.5 Tujuan Total Quality Management
Menurut Grant, R.M. Shani dan R. Krishnan, dalam buku “ Total Quality
Management” karangan Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana, secara singkat
pelaksanaan Total Quality Management pada suatu organisasi bertujuan untuk:
a. Meningkatkan mutu sumber daya manajemen sehingga mampu da n
terampil
dalam melaksanakan tugasnya dengan baik.
b. Meningkatkan kerjasama atau hubungan antar manusia dan semangat
kerja
dengan karyawan.
c. Meningkatkan produktivitas dan menurunkan biaya.
d. Terlaksananya kebijakan dan sasaran peru sahaan.
Dalam arti sempit, tujuan Total Quality Management adalah untuk perbaikan
mutu produk, jasa dan proses, dimana mutu tersebut diperoleh dengan tingkat biaya
yang paling ekonomis, yang akan berpengaruh ada dua manfaat dari dilaksanakannya
Total Quality Management , yaitu:
 Internal, yaitu bila mutu diperbaiki, akan didapat produktivitas yang lebih tinggi
yang memungkinkan harga yang kompetitif, peningkatan pangsa pasar, dan laba
yang tinggi.

Eksternal, yaitu mutu yang lebih tinggi akan meningkatkan ke puasan konsumen,
loyalitas konsumen, mendapatkan lebih banyak pembeli sehingga akan
meningkatkan pangsa pasar dan laba.
2.3.6 Perbedaan Total Quality Management dengan Metode Manajemen
lainnya
Asal muasal Total Quality Management dan alur pendiriannya berbeda
dengan inovasi manajemen organisasi yang lain yang timbul setelah periode Perang
Dunia II, seperti Management By Objective (MBO), time-based menurut Grant, R.
i
- 25iii –
M., R. Shani, dan R. Krishnan dalam buku “Manajemen Mutu Terpadu” karangan
Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2003:10–12), ada empat perbedaan pokok
antara Total Quality Management dengan metode manajemen lainnya, yaitu:
1. Asal intelektualnya, dimana sebagian besar teori dan teknik manajemen berasal
dari ilmu -ilmu sosial, ilmu ekonomi mikro mer upakan dasar dari sebagian besar
teknik-teknik manajemen keuangan (misalnya analisis discounted cash flow , dan
penilaian sekuritas), ilmu psikologi mendasari teknik pemasaran dan decision
support system , dan sosiologi memberikan dasar konseptual bagi desai n
organisasi. Sementara itu dasar teoritis bagi Total Quality Management adalah
statistika. Inti dari Total Quality Management adalah pengendalian proses
statistikal (SPC/ Statistical Process Control) yang didasarkan pada sampling dan
analisis varians.
2. Sumber inovasinya, dimana bila sebagian besar ide dan teknik manajemen
bersumber dari sekolah bisnis dan perusahaan konsultan manajemen terkemuka,
maka inovasi Total Quality Management sebagian besar dihasilkan oleh para
pioneer yang pada umumnya adalah insinyur teknik industri dan ahli fisika yang
bekerja pada sektor industri dan pemerintah.
3. Asal negara kelahirannya, yaitu kebanyakan konsep dan teknik dalam
manajemen keuangan, pemasaran, manajemen stratejik, dan desain organisasi
berasal dari Amerika Serikat, kemudian tersebar keseluruh dunia. Sebaliknya
Total Quality Management semula berasal dari Amerika Serikat, kemudian lebih
banyak dikembangkan di Jepang dan kemudian berkembang ke Amerika Utara
dan Eropa. Jadi Total Quality Management mengin tegrasikan keterampilan
teknikal dan analisis dari Amerika, keahlian implementasi dan pengorganisasian
Jepang, serta tradisi keahlian dan integritas dari Eropa dan Asia.
4. Proses diseminasi atau penyebarannya, dimana penyebaran sebagian besar
manajeme n modern bersifat hierarkis dan top-down. Yang mempelopori biasanya
adalah perusahaan -perusahaan raksasa seperti: General Electric, IBM, dan
General Motor . Sedangkan gerakan perbaikan kualitas merupakan bottom-up
yang mempelopori perusahaan kecil. Dalam im plementasi Total Quality
i
- 26iii –
Management penggerak utama tidak selalu CEO, tetapi seringkali malah manajer
departemen atau manajer divisi.
Perbedaan mendasar antara TQM dengan beberapa teknik manaje men modern
lainnya, seperti reengineering, rightsizing, restruc turing, dan automation. Berikut
perbedaan antara TQM dan Teknik Manajemen Modern lainnya, menurut buku
“Total Quality Management ” karangan Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana
(2003;13)
Tabel 2.1 Perbedaan Antara TQM dan Teknik Manajemen Lainnya .
ASPEK
TQM
REENGIRIGHTSINEERING
ZING
Fundamental Penentuan
staf
RESTRUCT
-URING
Hubungan
pelaporan
AUTOMATION
Aplikasi
atau
penerapan
teknologi
Organisasi
Sistem
Fungsional
Inkremental
Prosedur
Inkremental
Asumsiasumsi
yang
dipertanyak
an
Lingkup
perubahan
Kebutuhan
dan
keinginan
pelanggan
Bottom-Up
Radikal
Orientasi
Sasaran
perbaikan
Proses
Inkremental
Proses
Dramatis
Penentuan
staf
dan
tanggungjaw
ab kerja
Fungsional
Inkremental
2.3.7 Metode Total Quality Management
Menurut Fandy Tjiptono dan Anast asia Diana dalam buku “Total Quality
Management” (2003:48), pembahasan mengenai metode Total Quality Management
difokuskan pada tiga pakar utama dalam pengembangan Total Quality Management .
Mereka adalah W. Edward Deming, Joseph M. Juran, dan Philip B. Crosby.
Selain mereka masih ada beberapa pakar lainnya, seperti Armand V. Feigenbaum (
yang terkenal dengan konsep Total Quality Control ) dan sejumlah pakar dari Jepang,
diantaranya seperti Shigeo Shingo, Taiichi Ohno (pelopor Just-In-Time/JIT) dan
Kaoru Ishikawa (pemrakarsa Quality Control Circle /QCC), Company Wide Quality
Control (CWQC), dan Ishikawa cause -effect diagram).
2.3.7.1 Metode W. Edwards Deming
i
- 27iii –
Deming mencatat kesuksesan dalam memimpin revolusi kualitas di Jepang,
yaitu dengan memperkenalkan pengguna an teknik pemecahan masalah dan
pengendalian proses statistic ( statistical process control ).
Deming
menganjurkan
penggunaan
statistical
process
control
agar
perusahaan dapat membedakan penyebab sistematis dan penyebab khusus dalam
menangani kualitas. Ia be rkeyakinan bahwa perbedaan atau variasi merupakan suatu
fakta yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan industri.
 Siklus Deming ( Deming Cycle)
Siklus Deming ini dikembangkan untuk menghubungkan antara operasi
dengan kebutuhan pelanggan dan memfokuskan s umber daya semua bagian dalam
perusahaan (riset, desain, operasi, dan pemasaran) dalam suatu kerja sama untuk
memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut buku “ Total Quality Management ” Fandy
Tjiptono dan Anastasia Diana (2003:50), siklus Deming terdiri atas lima komponen
utama yaitu Plan, Do, Check, Act, Analyze yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Mengadakan riset konsumen dan menggunakannya dalam
perencanaan produk (plan)
2. Menghasilkan produk (do).
3. Memeriksa produk apakah telah dihasilkan sesuai dengan rencana
(check).
4. Memasarkan produk tersebut (act).
5. Menganalisis bagaimana produk tersebut diterima di pasar dalam
hal kualitas, biaya, dan kriteria lainnya (analyze).
2.3.7.2 Metode Joseph M. Juran
Juran mendefinisikan kualitas sebagai cocok atau sesua i untuk digunakan
(fitness for use), yang mengandung pengertian bahwa suatu produk atau jasa harus
dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh para pemakainya. Pengertian cocok untuk
digunakan ini, mengandung lima dimensi utama, yaitu kualitas desain, kualitas
kesesuaian, ketersediaan, keamanan, dan field use.
 Juran’s Three Basic Steps to Progress
i
- 28iii –
Menurut Juran, tiga langkah dasar ini merupakan langkah yang harus diambil
perusahaan bila mereka ingin mencapai kualitas tingkat dunia. Ketiga langkah
tersebut terdiri dari:
1. Mencapai perbaikan terstruktur atas dasar kesinambungan yang dikombinasikan
dengan dedikasi dan keadaan yang mendesak.
2. Mengadakan program pelatihan secara luas.
3. Membentuk komitmen dan kepemimpinan pada tingkat manajemen yang lebih
tinggi.
 Juran’s Ten Steps to Quality Improvement
Sepuluh langkah untuk memperbaiki kualitas menurut Juran meliputi:
1. Membentuk kesadaran terhadap kebutuhan akan perbaikan dan peluang untuk
melakukan perbaikan.
2. Menetapkan tujuan perbaikan
3. Mengorganisasika n untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
4. Menyediakan pelatihan
5. Melaksanakan proyek-proyek yang ditujukan untuk pemecahan masalah
6. Melaporkan perkembangan
7. Memberikan penghargaan
8. Mengkomunikasikan hasil -hasil
9. Menyimpan dan mempertahanka n hasil yang dicapai
10. Memelihara momentum dengan melakukan perbaikan dalam sistem regular
perusahaan.
 The Pareto Principle
Juran menerapkan prinsip yang dikemukakan oleh Vilfredo Pareto ke dalam
manajemen. Prinsip ini kadang kala disebut pula kaidah 80 /20, yang bunyinya “ 80%
of the trouble comes from 20% of the problems ”. Menurut prinsip ini, organisasi
harus memusatkan energinya pada penyisihan sumber masalah yang sedikit tetapi
vital (vital few sources ) yang menyebabkan sebagian besar masalah terjadi.
i
- 29iii –
2.3.7.3 Metode Philip B. Crosby
Crosby terkenal dengan anjuran manajemen zero defect dan pencegahan, yang
menentang tingkat kualitas yang dapat diterima secara statistik (acceptable quality
level), Quality Vaccine yang terdiri dari tiga unsur, yaitu determinasi (determination ),
pendidikan ( education ), dan pelaksanaan (education ) dan Crosby’s Fourteen Steps to
Quality Improvement.
 Crosby’s Fourteen Steps to Quality Improvement
Empat belas langkah untuk perbaikan kualitas menurut Crosby terdiri atas:
1. Menje laskan bahwa manajemen bertekad meningkatkan kualitas untuk jangka
panjang
2. Membentuk tim kualitas antar departemen
3. Tujuan kualitas mengidentifikasi sumber terjadinya masalah saat ini dan masalah
potensial
4. Menilai biaya kualitas dan menjelaskan bagaimana b iaya itu digunakan sebagai
alat manajemen
5. Meningkatkan kesadaran akan kualitas dan komitmen pribadi pada semua
karyawan
6. Melakukan tindakan dengan segera untuk memperbaiki masalah -masalah yang
telah diidentifikasi
7. Mengadakan program zero defects
8. Melatih para penyelia untuk bertanggungjawab dalam program kualitas tersebut
9. Mengadakan Zero Defects Day untuk meyakinkan seluruh karyawan akan adanya
arah baru
10. Mendorong individu dan tim untuk membentuk tujuan perbaikan pribadi dan tim
11. Mendorong para karyawan untuk mengungkapkan kepada manajemen apa
hambatan-hambatan yang mereka hadapi dalam upaya mencapai tujuan kualitas
12. Mengakui atau menerima para karyawan yang berpartisipasi
13. Membentuk dewan kualitas untuk mengembangkan komunikasi secara terus
menerus
i
- 30iii –
14. Mengulangi s etiap tahap tersebut karena perbaikan kualitas adalah proses yang
tidak pernah berakhir
Dari uraian pemikiran tiga pakar kualitas di atas, ada sejumlah kesamaan yang
dikemukakan oleh ketiga pakar tersebut:
1. Inspeksi bukanlah jawaban atau kunci untuk mela ksanakan perbaikan kualitas
2. Keterlibatan dan kepemimpinan manajemen puncak sangat penting dan esensial
dalam menciptakan komitmen dan budaya kualitas.
3. Program kualitas membutuhkan usaha dari seluruh bagian atau pihak dalam
organisasi dan merupakan komitmen jangka panjang. Untuk itu dibutuhkan pula
pendidikan dan pelatihan.
4. Kualitas merupakan faktor primer, sementara scheduling merupakan faktor
sekunder.
2.3.8 Implementasi Total Quality Management
Goetsch dan Davis memberikan klasifikasi fase imp lementasi TQM dalam
buku “Total Quality Management” karangan Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana
(2003:343), sebagai berikut:
1.
Fase Persiapan
Fase ini terdiri atas sepuluh langkah, sebelum langkah pertama dimulai, syarat
utama yang harus dipenuhi adalah a danya komitmen penuh dari manajemen puncak
atas waktu dan sumber daya yang dibutuhkan.
Langkah 1: Membentuk Total Quality Steering Committe, eksekutif puncak menjadi
ketua yang menunjuk staf terdekat (bawahan langsungnya) untuk menjadi anggota.
Manajemen d an bawahan harus sepenuhnya mengerti dan yakin, mengapa organisasi
akan mencapai Total Quality, yaitu untuk menjamin kelangsungan hidup organisasi
dalam iklim kompetitif.
Langkah 2: Membentuk tim, Steering committee perlu membentuk tim untuk
kegiatan TQM, biasanya langkah ini membutuhkan konsultan dari luar perusahaan.
Langkah 3: Pelatihan TQM, Steering committee membutuhkan pelatihan yang
berkaitan dengan filosofi, teknik, dan alat-alat TQM sebelum memulai aktivitas
i
- 31iii –
TQM. Pelatihan ini harus diteruskan dal am jangka panjang melalui pengembangan
diri dan mengikuti seminar -seminar yang relevan.
Langkah 4:
Menyusun pernyataan visi organisasi dan prinsip -prinsip organisasi
perusahaan, adalah usaha nyata pertama dalam pelaksanaan TQM. Tujuannya adalah
agar dapat menghasilkan dokumen yang singkat dan bermakna yang mencerminkan
harapan dan aspirasi perusahaan.
Langkah 5: Menyusun tujuan umum berdasarkan visi yang telah ditetapkan, terdiri
dari tujuan strategis dan tujuan taktis.
Langkah 6: Komunikasi dan publikasi, dilakukan antara eksekutif puncak dan
Steering committee . Tujuannya agar semua orang dalam organisasi memahami visi,
prinsip -prinsip sebagai pedoman, tujuan, dan alasan penerapan TQM.
Langkah 7: Identifikasi kekuatan dan kelemahan organisasi, untuk pedoma n dalam
melaksanakan pendekatan terbaik dalam implementasi TQM serta untuk menyoroti
kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki.
Langkah 8: Identifikasi orang-orang kunci yang mungkin mendukung TQM dan
mereka yang mungkin menolak TQM, hal ini bermanfaat d alam pemilihan proyek
awal dan anggota-anggota tim.
Langkah 9: Memperkirakan sikap karyawan, untuk mengetahui apakah perubahan
TQM berjalan dengan efektif atau tidak.
Langkah 10: Mengukur kepuasan pelanggan, dengan melakukan survey pemilihan
pelanggan seca ra acak untuk menentukan tingkat kepuasan pelanggan yang sangat
berguna dalam menilai efektivitas TQM dari sudut pandang pelanggan.
2.
Fase Perencanaan
Langkah 11: Merencanakan pendekatan implementasi TQM, yang bersifat terus
menerus karena pada saat proyek berlangsung, informasi -informasi umpan balik akan
dikembalikan pada langkah ini untuk melakukan perbaikan dengan menggunakan
siklus plan, do, check, act, analyze .
Langkah 12: Identifikasi proyek awal agar dapat memberikan dasar pengalaman
positif untuk beralih ke tantangan berikutnya yang jauh lebih berat. Steering
committee harus terbuka bagi saran-saran dari berbagai sumber.
i
- 32iii –
Langkah 13: Komposisi tim yang akan melaksanakan TQM harus terdiri dari tim
yang bersifat fungsional silang ( Cross-functional) yang terdiri dari wakil-wakil
berbagai departemen atau disiplin ilmu, sesuai dengan proyek yang ditangani.
Langkah 14: Pelatihan tim harus mencakup dasar-dasar TQM dan alat-alat yang
sesuai dengan proyek yang ditangani.
3.
Fase Pelaksanaan
Langkah 15: Penggiatan tim, Steering committee memberikan bimbingan dan
mengaktifkan setiap tim agar mereka menggunakan teknik -teknik TQM yang telah
mereka pelajari dalam mengerjakan proyeknya.
Langkah 16: Umpan balik pada Steering committee , tim proyek memberikan
informasi umpa n balik kepada steering committee mengenai kemajuan dan hasil -hasil
yang telah dicapai. Baik tim maupun steering committee menggunakan siklus
Plan/Do/Check/Act .
Langkah 17: Umpan balik dari pelanggan, tim proyek khusus disebarkan untuk
mengumpulkan informa si umpan balik dari pelanggan eksternal maupun pelanggan
internal. Data yang diperoleh beserta data lainnya mengenai kepuasan pelanggan
(hasil penjualan, data garansi, masukan pelayanan pelanggan, data dari kunjungan
pelanggan, dan lain -lain) dikumpulkan d an diproses secara berkesinambungan.
Langkah 18: Umpan balik dari karyawan, Steering committee dan manajer lainnya
perlu berhubungan dekat dengan karyawan sehingga dapat memperoleh informasi
yang akurat mengenai sikap dan kepuasan mereka. Informasi ini ju ga dibutuhkan
untuk mengevaluasi kemajuan yang dicapai dan menentukan tindakan perbaikan yang
diperlukan.
Langkah 19: Memodifikasi infrastruktur, umpan balik yang diperoleh dari langkah
16, 17, 18 akan dijadikan dasar oleh Steering committee untuk melakukan perubahan
yang diperlukan dalam infrastruktur perusahaan, misalnya pada prosedur dan proses,
struktur organisasi, program pengakuan dan penghargaan prestasi dan lain -lain.
2.3.9 Faktor-Faktor yang Dapat Menyebabkan Kegagalan
Faktor -
i
faktor yang dapat menyebabkan kegagalan Total Quality
- 33iii –
Management adalah sebagai berikut:
1. Delegasi dan kepemimpinan yang tidak baik dari manajemen senior. Inisiatif
upaya perbaikan kualitas secara berkesinambungan sepatutnya dimulai dari pihak
manajemen, dimana mereka har us terlibat secara langsung dalam pelaksanaannya.
Bila tanggung jawab tersebut didelegasikan kepada pihak lain maka peluang
terjadinya kegagalan lebih besar.
2. Team Mania. Organisasi perlu membentuk tim yang melibatkan semua
karyawan. Pertama, penyelia perlu mempelajari cara menjadi pelatih yang efektif,
sedangkan karyawan perlu mempelajari cara menjadi anggota tim yang baik.
Kedua, organisasi harus melakukan perubahan budaya supaya kerjasama tim
tersebut dapat berhasil. Apabila kedua hal tersebut tidak dila kukan sebelum
pembentukkan tim, maka hanya akan timbul masalah bukan pemecahan masalah.
3. Proses
penyebarluasan
(Deployment).
Terdapat
organisasi
yang
mengembangkan inisiatif kualitas tanpa secara berbarengan mengembangkan
rencana untuk menyatukannya dalam k eseluruhan organisasi. Seharusnya
pengembangan inisiatif tersebut juga melibatkan para manajer, serikat pekerja,
pemasok, dan bidang produksi lainnya, karena usaha itu meliputi pemikiran
mengenai struktur, penghargaan, pengembangan keterampilan, pendidikan dan
kesadaran.
4. Menggunakan pendekatan yang terbatas dan dogmatis. Terdapat organisasi
yang hanya menerapkan pendekatan TQM hanya dari satu pakar kualitas, padahal
tidak ada satu pun pendekatan yang sangat sesuai untuk segala situasi. Bahkan
para pakar kualitas mendorong organisasi untuk menyesuaikan program -program
kualitas dengan kebutuhan mereka masing -masing.
5. Harapan yang terlalu berlebihan dan tidak realistis. Penerapan pendekatan
TQM kepada karyawan terkadang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk
sampai terasa pengaruhnya kepada peningkatan kualitas dan daya saing
perusahaan.
Mengirim karyawan untuk mengikuti pelatihan selama
beberapa hari, bukan berarti telah membentuk suatu keterampilan. Masih
i
- 34iii –
dibutuhkan waktu untuk mendidik, mengilhami, dan me mbuat para karyawan
sadar akan pentingnya kualitas.
6. Empowerment yang bersifat prematur. Banyak perusahaan yang kurang
memahami makna dari pemberian empowerment kepada para karyawan. Mereka
mengira bila karyawan telah dilatih dan diberi wewenang baru dalam mengambil
suatu tindakan, maka para karyawan tersebut akan dapat menjadi self-directed dan
memberikan hasil -hasil yang positif. Dalam prakteknya para karyawan seringkali
tidak tahu apa yang harus dikerjakan setelah suatu pekerjaan telah selesai. Mereka
membutuhkan sasaran dan tujuan yang jelas sehingga tidak salah dalam
melakukan sesuatu.
2.4
Tinjauan Atas Pendapatan
2.4.1 Pengertian Pendapatan
Pendapatan adalah salah satu unsur penting dalam laporan keuangan dan
juga merupakan salah satu tolak ukur untuk menilai ke berhasilan manajemen dalam
mengelola perusahaan.
Pengertian pendapatan dalam Kamus Istilah Akuntansi (1999:397) yang
disusun oleh John G. Siegel dan Jae K. Shim yang dialih bahasakan oleh Moh. Kurdi
adalah sebagai berikut:
 “Meningkatnya aktiva organisasi atau menurunnya kewajiban
selama satu periode akuntansi, terutama dari hasil kegiatan operasi
organisasi. Untuk hal ini tidak termasuk penjualan produk
(penjualan), disamping jasa (pelayanan), dan keuntungan dari bunga,
dividen, pendapatan sewa, dan royalti”.
 “Dalam akuntansi pemerintahan, penerimaan kotor dan piutang
pajak, pelanggan, dan lain-lain, tanpa pertimbangan derma dan
jatah”.
Sedangkan arti pendapatan menurut Ahmed Riahi -Belkaoui dalam buku “
Accounting Theory ” (2004:279) mencantumkan bahwa Accounting Terminology
Bulletin No. 2 mendefinisikan pendapatan ( revenue ) sebagai berikut:
“Pendapatan berasal dari penjualan barang dan penyerahan jasa serta
diukur dengan pembebanan yang dikenakan kepada pelanggan, klien,
atau penyewa untuk barang dan jasa yang disediakan bagi mereka”
i
- 35iii –
Menurut Eldon S. Endriksen
(2001:301) dalam bukunya “ Accounting
Theory” mengungkapkan pendapatan sebagai berikut:
“The more traditional definition of revenue is that it represent an inflow of
asset or net asset into the firm as a result of sales of good or service ”.
Sedangkan yang dimaksud pendapatan menurut PSAK No.23
(IAI,
2004:23.2) adalah:
“Arus masuk kas bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas
normal perusahaan selama satu periode bila arus kas masuk itu
mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi
penanaman modal.”
Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa pendapatan
merupakan peningkatan aktiva bruto dari adanya arus masuk kas, piutang, atau
penurunan kewajiban perusahaan yan g timbul dari aktivitas penjualan barang dan
jasa, pemanfaatan sumber daya perusahaan yang menghasilkan bunga, tetapi bukan
penambahan modal baru dari pemiliknya dan bukan merupakan penambahan assets
yang disebabkan bertambahnya pinjaman.
2.4.2 Sumber-Sumber Pendapatan
Menurut Eldon S. Endriksen
(2001:301), dalam bukunya “ Accounting
Theory” menyatakan sumber pendapatan berasal dari:
“In addition to sales and service it include in revenue the sales or resources
other that product such as plant and equipment and investment”
Pendapatan perusahaan pada dasarnya dikelompokkan pada dua sumber yaitu:
1. Pendapatan operasional adalah pendapatan yang berasal dari aktivitas utama
perusahaan dengan jenis usahanya yang berlangsung secara berulang -ulang dan
terus menerus tiap periode.
2. Pendapatan non operasional adalah pendapatan yang bersumber dari luar aktivitas
utama perusahaan dan tidak berhubungan langsung dengan aktivitas utama
perusahaan.
i
- 36iii –
Pendapatan juga mencakup keuntungan dari penjualan atau pertukaran aktiva
(selain sah am yang diperdagangkan) bunga, dan dividen yang diperoleh dari
investasi, dan peningkatan lainnya dalam ekuitas pemilik kecuali yang berasal dari
kontribusi modal dan penyesuaian modal
2.4.3 Pengukuran Pendapatan
Menurut Eldon S. Endriksen
dalam bukunya
“Accounting Theory ”
menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengukur pendapatan adalah dengan
menggunakan nilai tukar (value change ) dari barang dan jasa. Nilai tukar ini
merupakan cash equivalent atau Present Value dari tagihan-tagihan yang diharapkan
akan diterima dari transaksi pendapatan ini. Dalam kebanyakan hal ini adalah harga
yang telah disepakati dengan pelanggan. Akan tetapi suatu cadangan harus dibuat
karena penjual harus menunggu sampai saat uang tunai bisa diperoleh.
Dari pengukuran pendapatan den gan ekuivalen kas atau nilai sekarang dari
uang yang akan diterima jelas bahwa retur penjualan, potongan -potongan (trade
discount ) dan pengurangan-pengurangan ini langsung dilakukan atas pendapatan dan
bukan sebagai beban. Yang sering menimbulkan keraguan adalah perlakuan atas
potongan tunai (cash discount ) dan kerugian-kerugian yang timbul dari tidak
tertagihnya suatu piutang.
Menurut Fees dan Warren (1993:466) mengenai pengukuran pendapatan
dalam bukunya “ Accounting Principle” menyatakan bahwa:
“Revenue is amount of assets received by rendering services to cu stomers or
selling merchandise to them”
2.5
Hubungan Penerapan Total Quality Management dengan Peningkatan
Pendapatan
Semenjak Perang Dunia II perusahaan-perusahaan Jepang telah menyadari
bahwa kunci sukses di masa mendatang adalah kualitas, oleh karena itu mereka
sangat menaruh perhatian terhadap kualitas. Jepang akhirnya menemukan strategi strategi untuk menciptakan revolusi dalam kualitas diantaranya penggunaan
statistical process control yang menjadi dasar sistem Total Quality Control. Berkat
i
- 37iii –
usaha-usaha tersebut, maka pada pertengahan 1970-an kualitas barang-barang
manufaktur Jepang seperti mobil dan produk elektronika, melampaui kualitas yang
dihasilkan para pesaingnya dari barat. Sebagai akibat, ekspor Jepang mengalami
peningkatan drastis sementara ekspor negara-negara barat seperti Amerika
mengalami penurunan drastis. Penyebab atas kegagalan Amerika dalam bersaing
adalah aspek perhatian dan penekanan. Alasan mengapa Amerika unggul pada aspek aspek kuantitatif dari suatu pekerjaan adalah karena aspek-aspek tersebut semenjak
Perang Dunia II sangat diperhatikan, dihargai, dan diberi status lebih baik. Hal ini
menyebabkan industri Amerika kurang memperhatikan masalah kualitas produk.
Total Quality Control yang berawal dari Jepang kemudian merebak ke seluruh
dunia sebagai suatu sistem manajemen proses operasi dan bisnis untuk peningkatan
kualitas produk atau jasa, yang akhirnya menjadi suatu asset global dan disebut
sebagai Total Quality Management .
Penerapan Total Quality Management dalam suatu perusahaan dapat
memberikan beberapa manfaat utama yang dapat meningkatkan pendapatan
perusahaan yang pada gilirannya dapat meningkatkan labanya melalui dua rute. Rute
pertama yaitu rute pasar, perusahaan dapat memperbaiki posisi persaingannya
sehingga pangsa pasarnya semakin besar dan harga jualnya dapat lebih tinggi dan
pendapatan perusahaan semakin meningkat. Kedua hal ini mengarah pada
meningkatnya pendapatan perusahaan, sehingga laba yang diperoleh juga sem akin
besar. Rute kedua, perusahaan dapat meningkatkan output yang bebas dari kerusakan
melalui upaya perbaikan kualitas. Hal ini menyebabkan biaya operasi perusahaan
berkurang. Dengan demikian laba yang diperoleh akan meningkat. Oleh karena itu
diharapkan dengan penerapan Total Quality Management biaya operasi dapat
dikurangi, meningkatkan pangsa pasar, harga yang dicapai dapat lebih tinggi,
sehingga pendapatan perusahaan dapat ditingkatkan.
i
- 38iii –
Download